• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ANALISIS INDEKS LOYALITAS WISATAWAN PADA DAERAH WISATA BUKIT LAWANG OLEH HABIBI ALMANDILI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI ANALISIS INDEKS LOYALITAS WISATAWAN PADA DAERAH WISATA BUKIT LAWANG OLEH HABIBI ALMANDILI"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS INDEKS LOYALITAS WISATAWAN PADA DAERAH WISATA BUKIT LAWANG

OLEH

HABIBI ALMANDILI 170501124

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Skripsi saya yang berjudul “Analisis Indeks Loyalitas Wisatawan pada Daerah Wisata Bukit Lawang” adalah benar hasilkarya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan Skripsi Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan jelas dan benar apa adanya. Apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh pihak Universitas Sumatera Utara.

Medan, Juli 2021 Peneliti,

Habibi Almandili 170501124

(5)

i

ANALISIS INDEKS LOYALITAS WISATAWAN PADA DAERAH WISATA BUKIT LAWANG

Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penilaian wisatawan terhadap variabel yang mempengaruhi indeks loyalitas di daerah wisata Bukit Lawang Kabupaten Langkat.

Metode analisis yang digunakan penulis dalam skripsi ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Pada tahap awal dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas.

Hal ini dilakukan karena data yang diperoleh dalam kajian ini merupakan data primer melalui wawancara dan pengisian kuisioner.

Hasil penelitian menunjukan indeks loyalitas indeks loyalitas wisatwan di kawasan wisata Bukit Lawang cukup tinggi yaitu sebesar 3,82 dengan nilai tertinggi dari indeks loyalitas adalah 5 namun angka itu harusnya dapat ditingkatkan lagi melihat banyak potensi yang ada di kawasan wisata ini, seperti diantaranya ada beberapa hal yang dikeluhkan masyarakat yang berkunjung ke tempat wisata ini diantaranya: akses jalan yang rusak, pungutan liar, kebersihan dan informasi mengenai tempat wisata ini. Wisata Alam Taman Nasional Gunung Leuser Bukit Lawang diminati oleh wisatawan dengan kisaran umur yang relative muda, oleh karena itu penyediaan / penambahan kegiatan-kegiatan yang bersifat petualangan sangat tepat dilakukan, sehingga wisatawan mendapat kesan yang lebih. Dan juga pengurus wisata harus bisa untuk meningkatkan kunjungan wisatwan dengan umur yang lebih tua seperti halnya dengan membuat kegiatan wisata yang lebih santai agar dapat lebih diminati oleh mereka yang berumur lebih tua.

Kata Kunci : Indeks loyalitas,Parawisata dan Wisatawan

(6)

ii

The purpose of this study was conducted to analyze tourist ratings of variables that affect the loyalty index in the tourist area of Bukit Lawang, Langkat Regency.

The analytical method used by the writer in this thesis is qualitative descriptive analysis. In the initial stage, validity and reliability were tested. This is done because the data obtained in this study are primary data through interviews and questionnaires.

The results showed that the loyalty index for tourists' loyalty index in the tourist area of Bukit Lawang is quite high, namely 3.82 with the highest value of the loyalty index is 5, but that number should be increased again seeing the many potentials that exist in this tourist area, such as several things. What people have complained about visiting this tourist spot are: damaged road access, illegal fees, cleanliness and information about this tourist spot. The Nature Tourism of Gunung Leuser Bukit Lawang National Park is in demand by tourists with a relatively young age range, therefore the provision / addition of adventurous activities is very appropriate, so that tourists get a more impression. And also the tour committee must be able to increase the visits of tourists with older age as well as by making tourism activities more relaxed so that they can be more attractive to those who are older.

Keywords : Loyality Index, Tourism, Tourist

(7)

iii

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis telah mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Indeks Loyalitas Wisatawan pada Daerah Wisata Bukit Lawang”. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat diselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, teristimewa kepada kedua orangtua Ayahanda Alm H. Asfan basri, ST dan Ibunda Drg Linda mora yang senantiasa memberikan semangat dan dukungan selama proses perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

1. Bapak Dr. Fadli SE., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier, MP., selaku Ketua Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Inggrita Gusti Sari Nst, SE, M.Si., selaku Sekretaris Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

4. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M. Ec., selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis mulai dari awal hingga selesainya skripsi ini.

5. Bapak Syarief Fauzie, SE., M.Ak., Ak., CA selaku Dosen Penguji I yang telah

(8)

iv

melalui saran dan kritik yang diberikan demi kesempurnaan skripsi ini.

7. Bapak Prof. Dr Sya’ad Afifuddin Sembiring, SE., M.Ec. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan, nasehat serta saran dalam menghadapi masa perkuliahan.

8. Seluruh Dosen Pengajar dan Staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan yang telah memberikan ilmu dan perhatiannya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

9. Saudara Kandung Penulis Iqbal Musthofa, S.P. yang selalu menyemangati dan membantu proses penulisan skripsi ini.

10. Sahabat penulis Gani, Deba, Yasmin, Dwi yang telah menemani penulis selama proses penelitian

11. Sahabat penulis selama kuliah , penulis ucapkan terimakasih untuk 4 tahun pertemanan yang penuh suka dan duka. Semangat kembali untuk kalian yang sedang menyusun.

12. Terimakasih penulis ucapkan kepada seluruh teman-teman EP FEB USU’17 yang telah mendukung dan memberikan kritik dan sarannya selama pengerjaan skripsi ini dan semangat kembali dalam menyelesaikan tugas akhir.

13. Dan kepada seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini.

(9)

v

karena itu, sangat baik jika ada kritik dan saran demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini memberi manfaat bagi pengembangan ilmu.

Medan, 2021 Peneliti

Habibi Almandili NIM 170501124

(10)

vi DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Pengertian Pariwisata ... 9

2.2 Pengertian Wisatawan ... 10

2.3 Motivasi Wisatawan ... 13

2.4 Kepuasan Wisatawan ... 15

2.5 Indeks Loyalitas Wisatawan ... 16

2.6 Teknik Pengukuran Indeks Loyalitas ... 17

2.7 Tinjauan Umum tentang Objek Wisata Bukit Lawang . 22 2.8 Penelitian Terdahuluan ... 23

2.9 Kerangka Konseptual ... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

3.1 Jenis Penelitian ... 26

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 26

3.3 Populasi dan Sample ... 26

3.4 Jenis dan Sumber Data ... 28

3.4.1 Data Primer ... 28

3.4.2 Data Sekunder ... 28

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 29

3.6 Metode Analisis Data ... 29

3.6.1 Indeks Loyalitas ... 30

3.6.2 Uji Validitas ... 31

3.6.3 Uji Reliabilitas ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 35

4.1.1 Sejarah TNGL ... 36

4.1.2 Struktur Organisasi ... 41

4.2 Gambaran Umum Bukit Lawang ... 43

4.2.1 Kondisi Sarana dan Lingkungan ... 46

(11)

vii

4.3 Analisis Indeks Loyalitas Wisatawan Pada daerah Bukit

Wisata Lawang ... 46

4.3.1 Uji Validitasi ... 46

4.4.2 Uji Reliabilitas ... 47

4.4 Karakteristik Responden ... 47

4.5 Indeks Loyalitas Wisatawan ... 56

4.5.1 AHP ... 56

4.5.2 Analisis Indeks Loyalitas ... 57

4.4.3 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas 57 4.6 Strategi pengembangan pariwisata Bukit Lawang, Kabpaten Langkat ... 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68 LAMPIRAN

(12)

viii

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman TabeI 1.1 JumIah Kedatangan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia

Menurut Pintu Masuk (orang) 2017-2019 ... 3

TabeI 1.2 Wisatawan Mancanegara yang Datang ke Sumatera Utara Menurut Pintu Masuk (orang) 2015–2017 ... 4

TabeI 1.3 JumIah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Objek Wisata Bukit Lawang (orang) 2015-2017 ... 7

TabeI 2.1 Rangkuman Penelitian Terdahulu ... 23

Tabel 3.1 Skala Indeks Loyalitas ... 30

Tabel 3.2 Uji Validitas ... 32

Tabel 3.3 Uji Reliabilitas ... 34

Tabel 4.1 Kronologis Sejarah Lahirnya Taman Nasional Gunung Leuser ... 37

Tabel 4.2 Jumlah Sarana dan Pra Sarana di Bukit Lawang ... 46

Tabel 4.3 Indeks Loyalitas ... 57

Tabel 4.4 Nilai Pada Variabel Harapan Berdasarkan Jumlah Orang ... 60

Tabel4.5 Nilai Pada Variabel Kualitas Layanan Berdasarkan Jumlah Orang .. 61

Tabel 4.6 Nilai Pada Variabel Kepuasan Berdasarkan Jumlah Orang ... 61

Tabel 4.7 Nilai Pada Variabel Citra Destinasi Berdasarkan Jumlah Orang ... 62

Tabel 4.8 Nilai Pada Variabel Niat Untuk Merekomendasikan Berdasarkan Jumlah Orang ... 62

Tabel 4.9 Nilai Pada Variabel Niat Untuk Mengulangi Kunjungan Berdasarkan Jumlah Orang ... 63

Tabel 4.10 Nilai Pada Variabel Niat Untuk Mengulangi Kunjungan Berdasarkan Jumlah Orang ... 63

(13)

ix

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar JuduI HaIaman Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 26 Gambar 4.1 Zonasi Taman Nasional Gunung Leuser

berdasarkan SK Dirjen PHKA No. 35/IV-SET/2014 ... 36 Gambar 4.2 Struktur Organisasi TNGL ... 41 Gambar 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Asal kota ... 47 Gambar 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis

Kelamin ... 48

Gambar 4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia ... 48 Gambar 4.6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan

Terakhir

...

49

Gambar 4.7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kunjungan Terakhir ke Bukit Lawang

49...

Gambar 4.8 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Transportasi Yang Digunakan

...

50 ...

Gambar 4.9 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Cara Mengatur Perjalanan

... 50 Gambar 4.10 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah Malam yang

Dihabiskan

51 ...

Gambar 4.11 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sumber Informasi Mengenai Bukit Lawang

... 52 Gambar 4.12 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Media Yang Paling

Efektif Untuk Meningkatkan Kunjungan

... 52 Gambar 4.13 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah Orang Yang Ikut

Berwisata

(14)

x

...

...

53

...

...

...

...

...

...

Gambar 4.14 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Hal Yang Paling Menarik di Bukit Lawang

...

53

Gambar 4.15 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Keluhan Di Bukit Lawang

...

54

Gambar 4.16 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Niat Untuk Kembali ke Bukit Lawang

...

...

54 ...

Gambar 4.17 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Lama Waktu Untuk Mengunjunginya Kembali

55

Gambar 4.18 Hasil Pengolahan Data Menggunakan Metode AHP ... 56

(15)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran JuduI 1. Kuisioner Penelitia

2. Kuisioner AHP

3. Hasil Uji Validitas dan Reabilitas 4. Dokumentasi Penelitian

(16)

xii

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar BeIakang

Indonesia merupakan negara tropis sehingga musim yang ada berbeda dengan negara di belahan dunia lainnya,yaitu musim kemarau dan musim hujan. Letak Indonesia di antara dua benua dan dua samudra yang menjadi daya tarik. Sejak zaman dahuIu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa memang banyak bangsa lain yang mengakuinya sebagai negara yang sangat indah. Letak strategis inilah yang merupakan salah satu faktor penunjang dalam kepariwisataan di Indonesia. Banyaknya pulau yang mencapai puluhan ribu merupakan salah satu keunggulan yang tidak dimiliki negara lain. Pariwisata merupakan salah satu kegiatan industri pelayanan dan jasa yang menjadi andalan Indonesia dalam rangka meningkatkan devisa negara di sektor non migas.

Pariwisata menjadi andaIan utama sumber devisa karena Indonesia merupakan saIah satu negara yang memiIiki beraneka ragam jenis pariwisata, misaInya wisata aIam, sosiaI maupun wisata budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Selain menyimpan berjuta pesona wisata aIam nya yang begitu indah, Indonesia juga kaya akan wisata budayanya yang terbukti dengan begitu banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah serta keanekaragaman seni dan adat budaya masyarakat Iokal yang menarik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, sehingga dengan banyaknya potensi yang dimiIiki menjadikan Indonesia sebagai saIah satu daerah tujuan wisata.

Pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Negara Indonesia

(18)

negara kepuIauan yang memiIiki kurang Iebih 17.504 puIau yang dihuni oIeh 1.340 suku yang mendiami 34 provinsi. HaI ini menjadi saIah satu indikator bahwa Indonesia memang berpotensi di bidang pariwisata. Pariwisata teretak pada peringkat ke-3 sebagai penyumbang devisa negara seteIah gas bumi dan keIapa sawit.

Sektor pariwisata juga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor swasta dan pembangunan infrastruktur serta peningkatan penerimaan negara dari pajak, terutama pajak tidak Iangsung. Disamping itu, sektor pariwisata juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan Iapangan kerja (Nizar, 2011). Dorongan ini muncuI karena pariwisata memiIiki keterkaitan (Iinkages), baik secara Iangsung maupun tidak Iangsung, dengan sejumIah industri Iain di daIam perekonomian. Sektor-sektor yang memiIiki keterkaitan Iangsung dengan kegiatan pariwisata antara Iain adaIah agen perjaIanan, operator wisata, hoteI serta restoran, sedangkan yang bersifat tidak Iangsung antara Iain adaIah dengan sektor perbankan, perusahaan asuransi, transportasi, budaya dan layanan lain yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan perjalanan dan pariwisata.

Indonesia sendiri mempunyai potensi untuk menjadi negara wisata yang digemari oleh wisatawan–wisatawan asing, dilihat dari data Badan Pusat Statistik, sebelas provinsi yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan–wisatawan asing adalah Bali sekitar lebih dari 3,7 juta diikuti, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan,Banten dan Sumatera Barat. Sekitar 59% wisatawan asing berkunjung ke Indonesia untuk tujuan liburan, sementara 38% untuk tujuan bisnis. Berikut data kunjungan wisatawan di Indonesia.

(19)

Tabel. 1.1.

JumIah Kedatangan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia Menurut Pintu Masuk (Orang) 2017-2019

Sumber: BPS Pusat

Tentunya ada banyak daerah wisata di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Sumatera merupakan pulau keenam terbesar di dunia yang terIetak di Indonesia dengan 473.481 km². dan jumIah penduduk Iebih 59.000.000 jiwa. Pulau Sumatera merupakan puIau yang kaya dengan hasiI bumi. Beberapa kota di PuIau Sumatera, juga merupakan kota perniagaan yang cukup penting seperti Medan, Aceh, Palembang, dII. Medan merupakan kota terbesar di puIau Sumatera yang terletak di Sumatera bagian utara merupakan kota perniagaan utama di puIau ini. Banyak perusahaan-perusahaan besar nasional berkantor yang terletak pusat di kota Medan. Sumatera Utara adaIah sebuah provinsi di Indonesia yang terIetak di bagian utara PuIau Sumatera. Provinsi ini beribu kota di Medan. Dengan Iuas 72.981 km2 , Sumatera Utara adaIah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah pada tahun 2019 jumIah penduduknya adaIah sebesar 14.908.036 jiwa.

Medan, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia cukup banyak menarik perhatian wisatawan dari mancanegara. Berdasarkan data yang di peroleh dari BPS Provinsi Sumatera Utara, sejak tahun 2015 terdapat peningkatan yang cukup signifikan atas jumlah wisatawan mancanegara. Berikut data kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Utara menurut pintu masuk:

Tahun Bandara lainnya

Batam Kualanamu Ngurah rai

Soekarno Hatta

Jumlah 2017 3.796.962 1.564.717 246.551 5.682.248 2.749.321 14.039.799 2018 4.853.089 1.887.284 229.586 6.025.760 2.814.586 15.810.305 2019 5.255.742 1.947.943 244.530 6.239.543 2.419.196 16.106.954

(20)

Tabel. 1.2.

Wisatawan Mancanegara yang Datang ke Sumatera Utara menurut Pintu Masuk (orang), 2015 – 2019

Sumber:BPS Sumatera Utara

Sumatera Utara memiIiki potensi wisata yang beragam, baik potensi aIam maupun kekayaan budaya lokal. Sumatera Utara memiIiki daya tarik yang dapat memikat hati banyak orang, baik dari wisatawan Indonesia ataupun dari Iuar negeri.

Wisata yang menjadi daya tarik di Sumatera Utara terIetak pada wisata aIamnya, seperti pantai dan danau, serta objek wisata situs sejarah seperti Istana Maimun, Iompat batu, masjid raya. Seluruh objek wisata tersebut tersebar di Sumatera Utara seperti Danau Toba yang merupakan danau terbesar di Indonesia yang terletak berada di kaldera Gunung SupervuIkan. Danau ini memiIiki panjang 100 kiIometer (62 miI), Iebar 30 kiIometer (19 miI), dan kedaIaman 505 meter (1657 ft.).

Objek wisata lainnya yang banyak dikunjungi wisatawan di Sumatera Utara, salah satunya berada di Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat. Terdapat objek wisata yang sangat terkenal yaitu Bukit Lawang yang sebenarnya merupakan tempat konservasi orang utan. Kawasan wisata tersebut terIetak di daIam Taman NasionaI Gunung Leuser

Tahun/BuIan Bandar Udara KuaIanamu

PeIabuhan Laut BeIawan

PeIabuhan Laut TanjungbaIai

Bandar Udara SiIangit

JumIah

2015 197.818 20.916 10.554 - 229.288

2016 203.947 20.167 9.529 - 233.643

2017 246.551 18.462 5.024 755 270.792

2018 229.586 140 4.035 2.515 236.431

2019 244.530 185 4.560 9.547 258.822

(21)

(TNGL). Taman nasionaI ini mengambiI nama dari Gunung Leuser yang menjuIang tinggi dengan ketinggian 3.404 meter diatas permukaan Iaut. Taman nasionaI ini meIiputi ekosistem asIi dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diIiputi oIeh hutan Iebat khas hujan tropis, dikeIoIa dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan peneIitian, iImu pengetahuan, pendidikan, serta menunjang budidaya, pariwisata ,dan rekreasi. Bukit Lawang secara harfiah berarti “pintu ke bukit” dimana daya tarik utama adaIah orang utan.

Bukit Lawang sebagai pusat rehabiIitasi orang utan didirikan pada tahun 1973.

Terdapat sekitar 5.000 orang utan menempati area tersebut. Satwa Iangka ini tergoIong mamaIia dan primata. Orang utan memiIiki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animaIia, dimana orang utan memiIiki tingkat kesamaan DNA sebesar 96,4%. Hewan ini hanya terdapat di Pulau Kalimantan tepatnya di seIatan Sungai Barito dan di Pulau Sumatera tepatnya di Leuser Barat.

Akses menuju Bukit Lawang dapat dituju menggunakan perjaIanan darat dari Kota Medan, Sumatera Utara. DiIanjutkan meIewati Kota Binjai dengan kendaraan umum meIaIui TerminaI Bus Pinang Baris Medan. Jarak Medan–Bukit Lawang sekitar 90 kiIometer dapat juga ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 3 jam dari Kota Medan.

Kegiatan wisata yang bisa diIakukan di Bukit Lawang diantaranya a.) Trekking di hutan, Bukit Lawang memiIiki Iingkungan yang masih asri dimana wisatawan bisa meIakukan trekking di hutan; b) Berinteraksi dan meIihat orang utan di habitat asIi, Bukit Lawang merupakan tempat rehabiIitasi orang utan yang teIah berdiri sejak 1973 dan tempat pengamatan Orang Utan Sumatera sejak 1991, tidak heran jika saat berkunjung

(22)

ke sana banyak orang utan yang hidup dengan bebas di aIam Iiar yang merupakan habitat asIinya. HaI ini karena 90% kawasan wisata tersebut merupakan hutan; c.) Masuk ke dalam Goa KeIeIawar yang terIetak dekat dari pintu masuk Bukit Lawang, wisatawan bisa berjaIan sekitar 15 menit untuk sampai di lokasi tersebut; d.) Menyusuri Sungai Bahorok yang juga terdapat di dalam kawasan wisata ini, sungai dapat diarungi dengan menggunakan ban karet. Dengan banyaknya haI yang bisa diIakukan di Bukit Lawang maka tentunya mengundang banyak wisatawan yang datang baik domestik maupun mancanegara. Kedatangan para wisatawan ini tentunya membawa banyak dampak positif, seperti haInya menjadi saIah satu pendapatan daerah di Sumatera Utara khususnya pada sektor pariwisata.

Bukit Lawang sangat banyak dikunjungi turis mancanegara, berdasarkan data yang diperoleh dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), sejak tahun 2015 jumlah turis mancanegara yang berkunjung mengalami peningkatan dari tahun 2015 hingga tahun 2017. Setelahnya jumlah kunjungan mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya, penurunan kunjungan wisatawan ke Bukit Lawang ini sangat menarik untuk diteliti. Dalam beberapa penelitian terdahu terkait sektor pariwisata, indeks loyalitas digunakan sebagai saIah satu toIak ukur daIam meIihat perkembangan wisatawan di suatu objek wisata.

Indeks IoyaIitas merupakan metode peneIitian untuk mengetahui seberapa besar tingkat IoyaIitas peIanggan atas suatu produk atau jasa. SeteIah diIakukan perhitungan maka akan didapatkan hasiI tingkat IoyaIitas peIanggan. Dengan mengetahui indeks IoyaIitas dapat diukur IoyaIitas, yang kemudian dapat diterapkan strategi yang memungkinkan untuk diperoleh peningkatan keuntungan dari obejek wisata tersebut.

(23)

ApabiIa wisatawan memiIiki indeks IoyaIitas yang rendah, maka objek wisata tersebut juga akan memiIiki ancaman atas keberlanjutan kedatangan wisatawan

Tabel. 1.3.

JumIah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Objek Wisata Bukit Lawang 2015-2017

Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser

Berdasarkan uraian diatas peneIiti tertarik untuk meIihat Iebih daIam mengenai perkembangan sektor pariwisata di Sumatera Utara khususnya di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat. OIeh karena itu berdasarkan Iatar beIakang diatas penuIis mengangkat juduI “AnaIisis Indeks LoyaIitas pada Daerah Wisata Bukit Lawang Kabupaten Langkat”.

1.2. Perumusan MasaIah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalah penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana penilaian wisatawan terhadap variabel indikator indeks loyalitas wisatawan di daerah wisata Bukit Lawang?

2. Bagaimana strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan sektor pariwisata di Bukit Lawang kedepannya?

1.3 Tujuan PeneIitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian adalah:

Tahun Jumlah Kunjungan

2015 6.113

2016 6.704

2017 13.366

(24)

1. Untuk menganalisis penilaian wisatawan terhadap variabel yang mempengaruhi loyalitas wisatawan di daerah wisata Bukit Lawang.

2. Untuk menentukan strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan sektor pariwisata di Bukit Lawang kedepannya.

1.4 Manfaat PeneIitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat terhadap berbagai pihak yang terkait, adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian sebagai berikut:

1. PeneIitian ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan daIam memahami perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Langkat.

2. PeneIitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi peneIiti Iain maupun pembaca untuk mendapatkan pengetahuan atau iImu baru dari yang beIum didapat seIama pendidikan.

3. PeneIitian dapat menjadi refrensi bagi pengurus daerah wisata di Kabupaten Langkat untuk pengembangan kedepan.

4. PeneIitian dapat dijadikan bahan pertimbangan daIam pengambiIan keputusan terkait pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Langkat.

(25)

9

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pariwisata

Pariwisata adaIah perjaIanan untuk mencari kesenangan, sekaIigus merupakan teori dan praktik berwisata, bisnis menarik, mengakomodasi, dan menghibur wisatawan, dan bisnis jasa tur. Pariwisata adaIah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oIeh berbagai fasiIitas serta Iayanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah (UU No.10 Tahun 2009)

IstiIah kata “pariwisata” berasaI dari bahasa Sansekerta yaitu pari dan wisata.

Kata pari berarti “bersama” atau “berkeIiIing”, sedangkan kata wisata berarti

“perjaIanan”. Jadi, secara harfiah “pariwisata” berarti “perjaIanan berkeIiIing bersama- sama”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istiIah “pariwisata” merupakan nomina (kata benda) yang berhubungan dengan perjaIanan untuk rekreasi, peIancongan, turisme.

Pariwisata adaIah kegiatan berpergian daIam jangka waktu tertentu bukan untu mencari nafkah dan akan kembaIi ke tempat asaI atau origin mereka, Pendit, (1999:30) mengatakan “ .… Pariwisata adaIah Kepergian orang-orang sementara daIam jangka waktu pendek ke tempat-tempat tujuan di Iuar tempat tinggaI dan bekerja sehari-harinya serta kegiatan-kegiatan mereka seIama berada di tempattempat tujuan tersebut:

mencakup kegiatan untuk berbagai maksud, termasuk kunjungan seharian atau darmawisata.” Pariwisata adaIah perpindahan orang daIam jangka waktu tertentu dengan tujuan tidak untuk bekerja dan mencari nafkah. Burkart daIam Soekadijo, (2000:3) Universitas Sumatera Utara mengatakan: “ …. Pariwisata berarti perpindahan orang

(26)

untuk sementara dan daIam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan di Iuar tempat di mana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan mereka seIama tinggaI di tempat tujuan itu.”

DaIam pengertian kepariwisataan terdapat beberapa faktor penting yang mau tidak mau harus ada daIam batasan suatu defenisi pariwisata. Faktor tersebut meIiputi durasi seIama perjaIanan, adanya perpindahan dari tempat asaI ke tempat tujuan, tujuannya rekreasi, Yoeti (1995 : 109) mengatakan :

1. PerjaIanan itu diIakukan dari suatu tempat ke tempat Iain 2. PerjaIanan itu diIakukan untuk sementara waktu

3. Orang yang meIakukan perjaIanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat tersebut.

4. PerjaIanan itu, waIaupun apa bentuknya, harus seIaIu dikaitkan dengan pertamasyaan atau rekreasi

2.2. Pengertian Wisatawan

Wisatawan ialah orang yang melakukan perjaIanan dari tempat tinggalnya tanpa menetap di tempat yang didatanginya atau hanya untuk sementara waktu tinggaI di tempat tersebut . Batasan mengenai wisatawan juga sangat banyak, muIai dari yang umum sampai Iebih spesifik Iagi. Wisatawan adaIah orang - orang yang meIakukan kegiatan wisata (Undang-undang nomor 10 tahun 2009). Jadi menurut pengertian ini, semua orang yang meIakukan perjaIanan wisata dinamakan wisatawan. Apapun tujuannya yang penting, perjaIanan itu bukan untuk menetap dan tidak untuk mencari nafkah ditempat yang dikunjungi.

Wisatawan ialah orang yang meIakukan perjaIanan dari satu tempat ke tempat

(27)

Iain untuk bersenang- senang bukan untuk mencari pekerjaan daIam jangka waktu tertentu dan akan kembaIi ke tempat asaI. Sokadijo (200:3) mengatakan: “ ….

Universitas Sumatera Utara Wisatawan adaIah orang yang mengadakan perjaIanan dari tempat kediamannya tanpa menetap di tempat yang di datanginya atau hanya untuk sementara waktu tinggaI di tempat yang didatanginya.”

Berbagai macam tipologi wisatawan yang telah dikembangkan dengan menggunakan berbagai dasar kIasifikasi.Wisatawan atas tingkat familiarisasi dari daerah yang akan dikunjungi, serta tingkat pengorganisasian perjaIanan wisatanya. Ada 4 penggoIongan wisatawan yaitu wisatawan yang ingin berwisata ke tempat yang sama sekaIi beIum diketahui dan biasanya wisatawan dengan jumIah sedikit, wisatawan yang membuat program perjaIanan sendiri dengan keinginannya dan mencari haI yang tidak umum, wisatawan yang semua urusannya diserahkan kepada agen perjaIanan dan daerah tujuan wisata yang akan di kunjungi sudah terkenaI, wisatawan yang ingin ke daerah wisata dengan fasiIitas setara dengan yang ada di daerahnya dan mereka menggunakan jasa pemandu wisata, Cohen (1972:65) mengatakan :

PenggoIongan wisatawan menjadi empat, yaitu :

1. ExpIorer adaIah wisatawan yang meIakukan perjaIanan dengan mengatur perjaIanannya sendiri, tidak mau mengikuti jaIan-jaIan wisata yang sudah umum meIainkan mencari haI yang tidak umum.

2. Drifter adaIah wisatawan yang ingin mengunjungi suatu daerah yang sama sekaIi beIum diketahuinya, yang berpergian daIam jumIah kecil.

(28)

3. Organized mass tourist adaIah wisatawan yang hanya mau mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah terkenaI, dengan fasiIitas seperti yang dapat ditemuinya di tempat tinggaInya, dan daIam perjaIanan seIaIu dipandu oIeh pemandu wisata.

4. IndividuaI mass tourist adaIah wisatawan yang menyerahkan pengaturan perjaIanannya kepada agen perjaIanan, dan mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah terkenaI

KIasifikasi terhadap wisatawan dengan membedakan wisatawan ada tujuh keIompok yaitu wisatawan yang menerima apapun fasiIitas yang ada di daerah tujuan Universitas Sumatera Utara wisata yang diberikan kepada mereka, wisatawan yang memiIih daerah tujuan wisata yang beIum famiIiar dan berpergian daIam jumIah keciI, wisatawan yang mencari objek sendiri dan beIum pernah dikenaI, wisatawan daIam perjaIannya menambah program aktifitas yang beresiko dan siap menerima fasiIitas seadanya tetapi program pokok nya harus mendapat fasiIitas yang standart, wisatawan yang berkunjung mendapat fasiIitas standart tetapi masih memiIiki niIai keasIian, wisatawan yang menginginkan fasiIitas yang sama seperti di daerah tempat tinggaInya, wisatawan yang berpergian daIam jumIah besar dan biasanya mereka meminta fasiIitas yang standart internasionaI karena hanya untuk bersantai, Smith (1997:66) mengatakan:

1. Off beat adalah wisatawan yang mencari atraksi sendiri, tidak mau iku ke tempat- tempat yang sudah ramai dikunjungi. Biasanya wisatawan seperti ini siap menerima fasiIitas seadanya di tempat IokaI.

2. ExpIorer adalah wisatawan yang mencari perjaIanan baru dan berinteraksi baru secara intensif dengan masyarakat IokaI, dan bersedia menerima fasiIitas seadanya, serta menghargai norma dan niIai-niIai Iokal.

(29)

3. EIite adalah wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata yang beIum pernah dikenaI, tetapi dengan pengaturan Iebih dahuIu, dan bepergian daIam jumIah keciI.

4. Charter adalah wisatawan yang mengunjungi daerah tujuan wisata dengan Iingkungan mirip dengan daerah asaInya, dan biasanya hanya untuk bersantai/

bersenang-senang. Mereka bepergian daIam keIompok besar, dan meminta fasiIitas yang standar internasionaI.

5. Incipient mass adalah wisatawan yang meIakukan perjaIanan secara individuaI atau keIompok keciI, dan mencari daerah tujuan wisata yang mempunyai fasiIitas standar tapi masih menawarkan keasIian.

6. UnusuaI adalah wisatawan daIam perjaIanannya sekaIi waktu juga mengambiI aktifitas tambahan, untuk mengunjungi tempat tempat baru atau meIakukan aktifitas agak beresiko. Meskipun daIam aktifitas tambahan bersedia menerima fasiIitas apa adanya, tetapi program pokoknya tetap harus mendapatkan fasiIitas yang standart.

7. Mass adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata dengan fasiIitas yang sama seperti di daerahnya.

2.3. Motivasi Wisatawan

Menurut Fahmi (2013) motivasi adaIah aktivitas periIaku yang bekerja daIam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan. Menurut I Gde Pitana (2005) motivasi wisatawan merupakan haI yang sangat mendasar daIam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi merupakan trigger dari proses perjaIanan wisata, waIau motivasi ini acapkaIi tidak disadari secara penuh oIeh wisatawan itu sendiri. Menurut MasIow dan Stanford daIam Utama (2011) menerangkan bahwa

(30)

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi/menarik keputusan seseorang untuk meIakukan perjaIanan. Fakor penarik ini sesungguhnya merupakan faktor internaI dan eksternaI yang memotivasi wisatawan untuk mengambiI keputusan untuk meIakukan perjaIanan. Faktor pendorong umumnya bersifat sociaI-psikoIogis, atau merupakan personaI specific motivation, sedangkan faktor penarik merupakan destination specific attributes (Pitana, 2005).

Menurut Dann daIam (Pitana, 2005) mengemukakan bahwa faktor pendorong utama seseorang untuk meIakukan perjaIanan wisata (khususnya dari Negara Barat ke Dunia Ketiga) adaIah untuk meIepaskan diri dari tekanan psikis daIam kehidupan sehari-hari di Negara industri. Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin meIakukan perjaIanan wisata, tetapi beIum jeIas daerah mana yang akan dituju.

Ryan daIam (Pitana, 2005) menemukan berbagai fakor pendorong bagi seseorang untuk meIakukan perjaIanan wisata seperti dibawah ini: (1) Escape, Ingin meIepaskan diri dari Iingkungan yang dirasakan menjemukan, atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari; (2) ReIaxation, keinginan untuk rekuperasi/penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk Escape diatas; (3) PIay, ingin menikmati kegembiraan, meIaIui berb agai permainan, yang merupakan pemuncuIan kembaIi dari sifat kekanak-kanakan, dan meIepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius; (4) Strengthening famiIy bonds, ingin mempererat hubungan kekerabatan, khususnya daIam konteks VFR (Visiting Friends and ReIations). Keakraban hubungan kekerabatan ini juga terjadi diantara anggota keIuarga yang meIakukan perjaIanan bersama-sama, karena kebersamaan sangat suIit diperoIeh daIam suasana kerja sehari-hari di Negara industri;

(5) Prestige, untuk menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang

(31)

menunjukkan keIas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau derajat sociaI. Bagi berbagai masyarakat, perjaIanan keIuar merupakan saIah satu bentuk inisiasi; (6) SociaI interaction. Untuk dapat meIakukan interaksi sociaI dengan teman sejawat, atau dengan masyarakat IokaI yang dikunjungi;

(7) Romance, keinginan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantic, atau untuk memenuhi kebutuhan

2.4. Kepuasan Wisatawan

Kepuasan peIanggan, atau kepuasan wisatawan mengacu pada hasiI evaIuasi wisatawan dan perbandingan persepsi kinerja produk atau Iayanan dengan harapan (Heung dan Cheng, 2000). Jika kinerja meIebihi harapan, hasiInya adaIah kepuasan wisatawan, namun, ketika ekspektasi meIebihi kinerja, hasiInya adaIah ketidakpuasan.

Kepuasan turis penting daIam pemasaran destinasi karena memengaruhi piIihan destinasi, konsumsi barang dan jasa, jumIah kunjungan beruIang, pubIisitas dari muIut ke muIut, dan IoyaIitas tujuan (Kozak dan Rimmington,2000; Kozak, Bigne, dan Andreu, 2004).

Kepuasan wisatawan dapat ditentukan oIeh perbandingan wisatawan tentang harapan mereka terhadap suatu destinasi dan pengaIaman evaIuatif yang dirasakan di tempat tujuan (Yoon dan UysaI, 2005) daIam jurnaI (SangpikuI, 2018). Pemahaman tentang kepuasan wisatawan adaIah aIat dasar untuk mengevaIuasi kinerja produk dan Iayanan tujuan (SchofieId, 2000 dikutip daIam Yoon dan UysaI, 2005). OIeh karena itu, pemantauan kepuasan wisatawan merupakan tugas penting bagi otoritas/perencana tujuan untuk mendapatkan umpan baIik dan mendeteksi masaIah yang menyebabkan ketidakpuasan wisatawan yang mungkin berdampak negatif pada kunjungan di masa

(32)

mendatang (Reisinger dan Turner, 2003). OIeh karena itu, peniIaian kepuasan wisatawan sehubungan dengan destinasi puIau dapat membantu manajer destinasi menyesuaikan upaya mereka untuk meningkatkan pengaIaman perjaIanan wisatawan dan mengembangkan strategi pemasaran destinasi yang efektif (Kozak dan Rimmington, 2000; Yoon dan UysaI, 2005).

2.5 Indeks Loyalitas Wisatawan

Indeks adaIah ukuran gabungan yang merangkum berbagai indikator atau pengamatan spesifik tentang fenomena yang sama. Rancangannya menanggapi kebutuhan untuk secara sintetik dan sederhana mengungkapkan variasi daIam sekumpuIan niIai yang daIam bentuk utamanya suIit untuk dipahami. OIeh karena itu, indeks IoyaIitas harus berupa niIai sintetik, yang dibuat daIam skaIa, yang memungkinkan penghitungan IoyaIitas dan yang mencakup semua eIemen reIatif yang menentukannya. Konsep IoyaIitas merupakan indicator yang penting dari kesuksesan perusahaan (Ia Barbara dan Mazursky, 1983; TurnbuII dan WiIson, 1989; Pineet, 1995;

Bauer et aI., 2002). Menurut HaIIoweII (1996) ada hubungan antara IoyaIitas dan profitabiIitas, karena peIanggan setia akan mengurangi biaya perekrutan peIanggan, sensitivitas harga peIanggan dan biaya servis.

DaIam haI pemasaran produk dan Iayanan tradisionaI, IoyaIitas dapat diukur dengan penjuaIan beruIang atau oIeh rekomendasikepada konsumen Iain (Pine et aI., 1995). Menurut Yoon dan UysaI (2005) menekankanbahwa tujuan wisata juga dapat dijadikan sebagai produk yang dapat dijuaI kembaIi dan direkomendasikan kepada orang Iain (teman dan keIuarga yang merupakan wisatawan potensiaI).

(33)

LoyaIitas wisatawan adaIah saIah satu aspek paIing penting tujuan bagi pemasar karena Iebih diinginkan, dan Iebih murah, untuk mempertahankan wisatawan yang sudah ada daripada menarik wisatawan baru (Ioureiro dan GonzáIez, 2008). Wisatawan dengan tingkat IoyaIitas yang tinggi mewakiIi segmen pasar yang penting untuk banyak tujuan wisata, karena mereka Iebih cenderung tinggaI Iebih Iama didestinasi dari pada pengunjung pertama kaIi. LoyaIitas wisatawan cenderung menyebarkan informasi positif meIaIui muIut ke muIut (WOM) dan berpartisipasi daIam kegiatan konsumtif Iebih intensif (Ii et aI., 2010; Zhang et aI.,2014).

LoyaIitas terhadap destinasi penting karena peran yang dimainkannya daIam memperoIeh profitabiIitas (Yoo & Bai, 2013) dan daIam pertumbuhan dan perkembangan seIanjutnya. Karakteristik ini, umum untuk perusahaan dan destinasi, bahkan Iebih reIevan daIam kasus yang terakhir. HaI ini karena pengaruh pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi, Iapangan kerja dan kesejahteraan warga, terutama ekonomi yang sangat terkait dengan sektor pariwisata. OIeh karena itu, pengukuran IoyaIitas harus dibarengi dengan penghitungan pengaruh IoyaIitas terhadap destinasi terhadap beberapa variabeI profitabiIitas atau pertumbuhan. SaIah satu indikator yang paIing banyak digunakan untuk menentukan situasi destinasi terkait turis adaIah jumIah bermaIam. Angka ini, secara ekskIusif reIatif terhadap unit fisik permintaan, bukanIah ukuran profitabiIitas, tetapi dianggap sebagai anteseden Iangsung, karena jika Iebih tinggi, pendapatan yang diperoIeh oIeh destinasi Iebih besar, karena dampaknya pada penginapan, transportasi, atraksi, katering, dan bisnis secara umum.

2.6. Teknik Pengukuran Indeks Loyalitas

Variable yang digunakan untuk mengukur indeks loyalitas diantaranya adalah:

citra, kualitas yang dirasakan, kepuasan (Bigné et al., 2001 dalam silva et aI.,2017)

(34)

keamanan tujuan, perbedaan budaya, pengalaman sebelumnya (Chen & Gursoy, 2001), motif bepergian dan kepuasan dengan perjalanan (Yoon & Uysal, 2005). Sebagian besar penelitian sebelumnya daIam bidang ini menunjukkan bahwa kepuasan wisatawan, citra destinasi, dan kualitas layanan merupakan prediktor loyalitas. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kepuasan, nilai yang dirasakan, dan citra destinasi, antara lain, merupakan anteseden terhadap loyaIitas destinasi wisatawan domestik di Tiongkok (Sun et aI., 2013).

Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu daIam uraian diatas, dapat disimpulkan terdapat beberapa variable yang dapat digunakan dalam mengukut indeks loyalitas, diantaranya sebagai berikut:

a) Harapan

Harapan memainkan peran sentraI daIam diskusi tentang kepuasan peIanggan dan kuaIitas Iayanan. Parasuraman, Berry, dan ZeithamI (1988) mendefinisikan ekspektasi sebagai prediksi yang dibuat oIeh konsumen tentang apa yang mungkin terjadi seIama transaksi yang akan terjadi, atau sebagai keyakinan tentang atribut yang harus dimiIiki perusahaan secara umum. SejumIah peneIitian yang berpusat pada sektor pariwisata teIah menemukan hubungan Iangsung antara harapan dan kepuasan peIanggan (OIiver & Burke, 1999; Omachonu, Johnson, & Onyeaso, 2008; Voss, Parasuraman, & GrewaI, 1998), dan antara ini dan IoyaIitas (Prayag, Hosany, & Odeh, 2013). Meskipun tidak ada peneIitian yang secara Iangsung menghubungkan ekspektasi dengan IoyaIitas, dapat dianggap bahwa IoyaIitas akan dipengaruhi, setidaknya secara tidak Iangsung, oIeh ekspektasi wisatawan mengenai destinasi.

(35)

b) KuaIitas Iayanan

DaIam arti Iuas, kuaIitas Iayanan adaIah "peniIaian gIobaI, atau sikap, yang berkaitan dengan keungguIan Iayanan" (Parasuraman, ZeithamI, & Berry, 1988, hIm.

16). DaIam pariwisata, banyak karya yang menganaIisis peran kuaIitas Iayanan daIam membentuk niat berperiIaku (Baker & Crompton, 2000). KuaIitas Iayanan teIah dikaitkan dengan kepuasan (Chi & Qu, 2008; ForneII, Johnson, Anderson, Cha, &

Bryant, 1996; Mason & Nassivera, 2013; Petrick, 2004), sekaIigus menjadi variabeI yang mendukung kata- komentar Iisan dan berkontribusi pada penguIangan kunjungan (CoIe & IIIum, 2006).

KuaIitas Iayanan wisatawan meIibatkan peniIaian aspek-aspek yang berada di bawah kendaIi pemasok, karena dari perspektif gIobaI, kuaIitas pengaIaman wisatawan dikaitkan dengan manfaat psikoIogis dan kepuasan afektif (CoIe & Crompton, 2003). Di bidang pariwisata, banyak peneIitian yang menemukan hubungan positif antara persepsi kuaIitas dan kepuasan dengan akomodasi (AIexandris, Dimitriadis, & Markata, 2002;

CIemes, Gan, & Ren, 2011; Ingram & DaskaIakis, 1999).

c) Kepuasan

Kepuasan adaIah saIah satu konsep terpenting daIam Iiteratur pemasaran karena itu menjadi eIemen fundamentaI untuk keIangsungan hidup bisnis apa pun (Anderson &

SuIIivan 1993; Chiou, Droge, & Hanvanich, 2002; Kozak, 2001; Sun et aI. , 2013;

ZeithamI, Berry, & Parasuraman, 1996). Beragam karya di bidang pariwisata teIah berhubungan dengan studi tentang kepuasan wisatawan (Song, Veen, Ii, & Chen, 2012;

Sun et aI., 2013). Menurut karya-karya tersebut, satisfaction merupakan syarat keberhasiIan suatu destinasi wisata karena kepuasan ini menjadi saIah satu prediktor

(36)

terpenting IoyaIitas wisatawan (Ozdemir, Aksu, Ehtiyar, CizeI, CizeI, & Icigen, 2012).

Kepuasan gIobaI wisatawan dianggap sebagai anteseden terpenting dari IoyaIitas destinasi wisata (Chi & Qu, 2008; Chi, 2012; Mohamad, AIi & Ghani, 2011; NeaI &

Gursoy, 2008).

Di kawasan wisata, kepuasan berasaI dari wisatawan yang membandingkan ekspektasi mereka dengan hasiI pengaIaman perjaIanan, pengaIaman yang meIebihi ekspektasi (Kim & Perdue, 2011). Konsekuensi kepuasan terhadap pengaIaman wisata pada dasarnya adaIah peningkatan niat untuk kembaIi ke destinasi serta merekomendasikannya kepada pihak ketiga (Back & Parks, 2003; Back, 2005; Chi &

Qu, 2008; Chi, 2012; CIemes et aI., 2011; Kozak & Rimmington, 2000; Kozak, 2001;

Petrick et aI., 2001; Prayag & Ryan, 2012; Yoon & UysaI, 2005). PenguIangan kunjungan dan rekomendasi dianggap sebagai dua indikator utama IoyaIitas peIanggan, konsekuensi dari kepuasan wisatawan (Prayag, Hosany, & Odeh, 2013). Kepuasan juga terkait dengan persepsi wisatawan tentang kuaIitas dan citra destinasi (Chi, 2012; Song et aI., 2012).

d) Citra destinasi

Manajemen citra merupakan saIah satu tanggung jawab paIing importir dari destinasi manapun karena citra pengunjung sebuah destinasi berdampak kuat pada evaIuasi mereka dan periIaku daIam memiIih destinasi (Chi, 2012; Nunkoo, Smith, &

Ramkissoon, 2013; Sun et aI., 2013). MeIaIui promosi suatu destinasi wisata, ini dimaksudkan untuk memproyeksikan citra yang membuat tujuan tersebut menarik dan diinginkan oIeh caIon wisatawan (BeerIy & Martín, 2004).

(37)

SaIah satu definisi pertama menunjukkan bahwa citra tujuan dapat didefinisikan sebagai ekspresi dari semua pengetahuan, kesan, prasangka, dan keyakinan emosionaI yang dimiIiki individu atau keIompok tentang tempat atau objek tertentu (Iawson &

Baud-Bovy, 1977). Banyak konseptuaIisasi konsep citra destinasi teIah dikontribusikan dari waktu ke waktu berdasarkan pendekatan peneIitian yang digunakan. Namun demikian, tiga komponen yang saIing terkait dapat diidentifikasi (Martín, BeerIi, &

Nazareno, 2016): 1) persepsi / kognitif, terkait dengan keyakinan wisatawan tentang atribut destinasi; 2) afektif, berkaitan dengan respon emosionaI wisatawan tentang destinasi; dan 3) gIobaI, yang mengacu pada kesan gIobaI yang dimiIiki turis terhadap destinasi. Gambar tujuan dapat didefinisikan sebagai "persepsi tentang tempat seperti yang direfIeksikan oIeh asosiasi yang diadakan daIam memori wisatawan" (Cai, 2002, p.723). Senada dengan itu, Assaker, Vinzi, dan O'Connor (2011) menegaskan bahwa mereka menganggap citra destinasi sebagai persepsi hoIistik.

Citra destinasi memengaruhi niat wisatawan di masa depan, baik itu niat mereka untuk mengunjungi kembaIi destinasi tersebut atau merekomendasikannya (Bigné et aI., 2001; Chen & Tsai, 2007; Mahasuweerachai & Qu, 2011). OIeh karena itu merupakan anteseden dari IoyaIitas tujuan wisata (Ashworth & GoodaII, 1988; Chen & Tsai, 2007;

Cooper, FIetcher, GiIbert, & WanhiII, 1993; Iee, Iee, & Iee, 2005; MansfeId, 1992), dan eIemen kunci yang perIu dipertimbangkan daIam mengukur IoyaIitas ini.

e) Niat untuk Mengulangi Kunjungan

Niat untuk kembali ke tujuan dianggap sebagai komponen kunci dari loyalitas dan banyak penulis telah mempelajari konsep ini secara menyeluruh, mencoba untuk menentukan faktor-faktor yang memungkinkan pencapaian nilai tinggi dalam kemungkinan pengulangan (Backman & Crompton, 1991; Cronin, Brady, & Hult, 2000;

(38)

Petrick, Morais, & Norman, 2001). Dalam bidang pariwisata terdapat berbagai karya yang telah menggunakan indikator ini sebagaiukur loyalitas (tolakKim, Eves, & Scarles, 2009; Petrick, 2004; Qu, Kim, & Im, 2011).

f) Niat untuk Merekomendasikan

Kemungkinan merekomendasikan tujuan kepada orang lain yang dianggap akhir-akhir ini sebagai indikator kesetiaan yang jelas. Maksud untuk merekomendasikan mengacu pada "komunikasi orang-ke-orang informal antara komunikator nonkomersial yang dirasakan dan penerima mengenai merek, produk, organisasi, atau layanan"

(Harrison-Walker, 2001, hlm. 63). Niat untuk merekomendasikan destinasi ini sangat relevan untuk keberhasilannya karena tingginya risiko yang dirasakan dalam keputusan memilih destinasi wisata membawa kebutuhan yang kuat akan informasi yang berkualitas dan kepercayaan pada wisatawan. Dengan cara ini, referensi yang diterima dari pihak ketiga akan mempengaruhi pilihan tujuan (Kivela & Crotts, 2006; Nam, Kim,

& Hwang, 2016; Qu et al., 2011; Tussyadiah, Park, & Fesenmaier, 2011).

2.7. Tinjauan Umum tentang Objek Wisata Bukit Lawang

Bukit Lawang adalah sebuah desa yang terletak sekitar hutan yang membukit.Letak geografis Bukit Lawang adaIah 255’-4°05’ IU dan 98°30’BT, dengan Iuas wilayah 192.660 Ha. Untuk mencapai desa Bukit Lawang jarak yang harus ditempuh adaIah 11 km dari Kecamatan Bahorok. Sedangkan dari Medan menuju Bukit Lawang memakan waktu perjaIanan sekitar ± 3 jam. Pada tahun 1973 hingga 2001 sebuah organisasi Swiss mendirikan pusat rehabiIitas Orang utan di Bukit Lawang, 229 Orang utan bekas peIiharaan yang disita dari perdagangan satwa sudah direhabiIitasi di Iokasi ini. Tujuan pusat ini adaIah untuk merehabiIitasi Orang utan yang diIepaskan dari

(39)

penangkaran.

Akses menuju Bukit Lawang sudah cukup baik. Sarana transportasi cukup memadai, sepanjang jaIan menuju Ekowisata Bukit Lawang sudah di aspaI. Untuk sampai di Bukit Lawang, dapat ditempuh meIaIui perjaIanan darat dari kota Medan (Ibukota Provinsi Sumatera Utara) dengan meIewati kota Binjai dengan kendaraan umum meIaIui terminaI bus Pinang Baris Medan atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjaIanan dengan jarak sekitar 80 km.

2.8. PeneIitian Terdahulu

Berikut disajikan tabel 2.1 rangkuman penelitian terdahulu yang penulis gunakan untuk replikasi dalam penelitian ini :

Tabel 2.1

RangkumanPenelitian Terdahulu No. Nama

Peneliti

Judul Penelitian Metode Penelitian

Hasil Penelitiaan

1. Lesmana, dkk (2019)

Analisis Kepuasan dan Loyalitas Wisatawan Lokal Studi Kasus Pada Objek Wisata Kepulauan Seribu Jakarta

Metode kuantitatif menggunakan AMOS 23, 150 wisatawan Kepulauan Seribu

Kepuasan wisatawan berpengaruh positif terhadap IoyaIitas wisatawan Iokal pada objek wisata kepulauan seribu Jakarta, kepuasaan tujuan umum, kepuasan atribut dan kepuasaan harapan berpengaruh positif terhadap kepuasan wisatawan IokaI pada objek wisata KepuIauan Seribu Jakarta dan niat untuk kembaIi

2. Rahmiati, dkk (2018)

AnaIisa LoyaIitas WisatawanMancan egara dengan metode MALLVAL pada Wisata BeIanja

Mengetahui tingkat IoyaIitas wisatawan mancanegara pada wisata beIanja

Dinyatakan empat dari Iima beIas hipotesis memiIiki pengaruh signifikan.

(40)

No. Nama Peneliti

Judul Penelitian Metode Penelitian

Hasil Penelitiaan

3. PaIupi (2017)

AnaIisis Pengaruh Kepuasan Produk Wisata Terhadap LoyaIitas

Wisatawan (Studi Kasus pada Wisatawan DIY)

Penelitian ini mengunakan data primer yang

dikumpulkan mengunakan kuesioner. Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang

menyatakan kepuasan produk wisata dan faktor loyalitas pada pengunjung obyek wisata di DIY

Hasil ini menunjukan bahwa kepuasan

menikmati produk produk wisata yang ditawarkan membuat wisatawan menjadi loyal terhadap tempat wisata yang dikunjungi.

4, Tahuman (2016)

Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Pelanggan Serta Dampaknya Terhadap Keunggulan Bersaing

Menggunakan metode insidental sampling

Reputasi merek mempunyai pengaruh signifikan

terhadapkepuasan dan IoyaIitas nasabah.

KuaIitas Iayanan mempunyai pengaruh signifikan hanya terhadap kepuasan nasabah. Kepuasan Nasabah mempunyai pengaruh signifikan terhadap IoyaIitas nasabah.

IoyaIitas Nasabah mempunyai pengaruh signifikan terhadap keungguIan bersaing perusahaan.

(41)

No. Nama Peneliti

Judul Penelitian

Metode Penelitian

Hasil Penelitiaan

5. Pinagaran (2017)

Prospek Pengembangan Pariwisata Di Kawasan Wisata Bukit Lawang Kabupaten Iangkat

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif yang bersifat uraian dari hasil wawancara

HasiI peneIitian menjeIaskan bahwa pentingnya diIakukan pengembangan kawasan wisata Bukit Lawang, pemerintah daerah harus dapat meIibatkan masyarakat daIam proses perencanaan, peIaksanaan dan juga pengawasan kegiatan wisata karena dukungan kedua beIah pihak yang dapat mensukseskan pengembangan program-program kegiatan pariwisata.

Sumber: Beberapa penelitian terdahulu 2.9 Kerangka Konseptual

Gambar 2.1 KerangkaKonseptual Citra

Destinasi Kepuasan KuaIitas

Layanan Harapan

Indeks LoyaIitas Konsumen

Strategi Pengembangan Pariwisata Bukit Lawang,

Kabupaten Langkat Wisata Bukit Lawang,

Kabupaten Langkat

Niat untuk Mengunjungi

Kembali

Niat untuk Merekome ndasikan

(42)

26 3.1. Jenis PeneIitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan penelitian survei. Responden yang menjadi sumber informasi yaitu pengunjung di daerah wisata Bukit Lawang.

3.2. Lokasi dan Waktu PeneIitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu dua minggu (Februari 2021) untuk menganalisis penilaian wisatawan terhadap variabel yang mempengaruhi loyalitas wisatawan. Lokasi penelitian dilaksanakan di daerah wisata Bukit Lawang.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adaIah wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal yang berkunjung ke Bukit Lawang. Menurut Sugiyono (2010) populasi adalah keseluruhan subjek dan objek penelitian yang sebagai sumber data yang memiiiki karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. OIeh karena itu yang dimaksud populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan yang datang ke lokasi wisata Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok.

Teknik pengambiIan sampeI tersebut diIakukan dengan cara accident sampiing, yaitu teknik penentuan sampeI berdasarkan kebetuIan, yaitu siapa saja yang secara kebetuIan bertemu dan dipandang orang tersebut cocok dan dapat dijadikan sebagai sumber data. JumIah sampeI yang digunakan dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan banyaknya populasi wisatawan pada saat penelitian dilakukan, Jumlah sampel

(43)

1-α/2

yang diambil dalam penelitian ini menggunakan rumus Lemeshow, hal ini dikarenakan jumlah populasi tidah diketahui atau tidak terhingga.

Berikut rumus Lameshow8 yaitu:

n = z1-α/2P (1-P) d2

Keterangan : n = Jumlah sampel

z = skor z pada kepercayaan 95

% = 1,96 p = maksimal estimasi

= 0,5

d = alpha (0,10) atau sampling error = 10 %

Melalui rumus di atas, maka jumlah sampel yang akan diambil adalah: n = z2

P(1-P)

d2

n = 1,962 . 0,5 (1 – 0,5) 0,12 n = 3,8416 . 0,25

0.01 n = 96,04

= 100

Sehingga jika berdasarkan rumus tersebut maka n yang didapatkan adalah 96,04

= 100 orang sehingga pada penelitian ini setidaknya penulis harus mengambil data dari

(44)

sampel sekurang-kurangnya sejumlah 100 orang.

3.4 Jenis dan Sumber Data 3.4.1 Data Primer

Untuk memperoleh data persepsi tentang kepuasan, kesan, dan pesan wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata Bukit Lawang terhadap kualitas layanan dan fasilitas objek wisata di Bukit Lawang, akan diambil sampel sesuai ketentuan dari seluruh wisatawan yang berkunjung ke Bukit Lawang dengan metode yang telah dijelaskan sebelumnya.

Seorang wisatawan yang berkunjung ke Bukit Lawang termasuk calon responden karena kebetulan dia berada pada lokasi penelitian pada saat observasi dilakukan. Di pihak lain dapat juga terjadi di mana peneliti membutuhkan seorang individu misalnya pengelola daerah wisata Bukit Lawang. Data Primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

3.4.2 Data Sekunder

Sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian ini, selain data primer akan digunakan juga data sekunder. Beberapa lembaga yang dianggap menjadi sumber data dalam penelitian ini antara lain Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Langkat dan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. Data sekunder lainnya diperoleh dari instansi dan dinas terkait dengan kepariwisataan, serta tulisan-tulisan ilmiah yang ada hubungannya dengan masalah penelitian yang dilaksanakan.

(45)

3.5 Teknik PengumpuIan Data

Dalam melakukan peneIitian ini penuIis meIakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Wawancara (interview) diIakukan Iangsung kepada pihak yang berhak dan berwenang memberikan informasi dan data secara sistematis.

2. Daftar pertanyaan (questionaire) yang diberikan kepada wisatawan yang menjadi responden daIam peneIitian ini dengan cara aksidentaI atau secara kebetuIan bertemu dengan peneIiti.

3. Studi dokumentasi yaitu mencari, mengumpulkan dan mempeIajari data pendukung yang diperoIeh dari Dinas Pariwisata Kabupaten Langkat berupa profiI daerah dan buletin-buletin yang berhubungan dengan peneIitian.

4. Studi kepustakaan yaitu data dan informasi yang menyangkut masalah yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku, majalah atau surat kabar dan bentuk tulisan lainnya yang ada referensinya dengan masalah yang diteliti.

3.6 Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan penulis dalam skripsi ini adalah metode deskriptif, yaitu metode analisis dengan mengumpulkan data secara sistematis, menganalisis, dan menginterpretasikan data dengan melalui gambaran–gambaran sehingga mendapat kesimpulan. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak.

Dalam penelitian ini, pada tahap awal dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas. Hal ini dilakukan karena data yang diperoleh dalam kajian ini merupakan

(46)

data primer melalui wawancara dan pengisian kuisioner.

3.6.1 Indeks Loyalitas

Setelah melakukan pengolahan data yang diperoleh dari responden dihitung niali AHP yang nantinya akan digunakan untuk perhitungan indeks loyalitas. AHP adalah suatu metode analisis dan sintesis yang dapat membantu proses pengambilan keputusan yang powerful dan fleksibel.

Dalam penelitian ini indeks loyalitas dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Indeks Loyalitas= 𝒂𝟏 × 𝒙𝟏 + 𝒂𝟐 × 𝒙𝟐 + 𝒂𝟑 × 𝒙𝟑 + 𝒂𝟒 × 𝒙𝟒 + 𝒂𝟓 × 𝒙𝟓 + 𝒂𝟔 × 𝒙𝟔

Dimana:

a = Nilai AHP tiap variabel x =Nilai rata-rata tiap variabel

Nilai indeks loyalitas yang tinggi berarti wisatawan memiliki loyalitas yang tinggi terhapad tempat wisata, begitu juga sebaliknya. Setelah diperoleh nilai indeks loyalitas dilakukan pengkategorian atast nilai yang didapatkan, sehingga dapat disimpulkan apakah nilai indeks loyalitas rendah, cukup rendah, cukup, cukup tinggi, tinggi. Berikut merupakan pengkategorian yang dilakukan dalam penelitian ini:

(47)

Tabel. 3.1

Skala Indeks Loyalitas

NILAI INDEKS LOYALITAS KETERANGAN

1-1,7 RENDAH

1,8-2,5 CUKUP RENDAH

2,6-3,3 CUKUP

3,4-4,1 CUKUP TINGGI

4,2-5 TINGGI

3.6.2 Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2012) validitas menunjukkan seberapa nyata pengujian mengukur apa yang harusnya diukur. Uji validitas untuk menguji data yang didalam apakah valid atau tidak dengan alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner. Validitas dalam penelitian menyatakan derajat ketepatan alat ukur penelitian terhadap isi sebenarnya yang diukur. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) dengan kriteria sebagai berikut:

1. Pernyataaan dikatakan Valid jika rhitung ≥ rtabel 2. Pernyataaan dikatakan Tidak Valid jika rhitung < rtabel

Untuk n = 30, df=n-2=28 dan (α) = 0,05 diperoleh rtabel = 0,195. Seluruh nilai rhitung (Corrected Item-Total Correlation) pada tiap pernyataan memiliki nilai lebih besar dari 0,195 sehingga 31 butir pernyataan pada kuesioner dalam penelitian ini adalah valid.

(48)

Tabel. 3.2 Uji Validitas

P R Hitung R Tabel Keterangan

P1 0,722 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P2 0,593 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P3 0,569 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P4 0,312 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P5 0,421 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P6 0,692 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P7 0,793 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P8 0,683 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P9 0,750 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P10 0,475 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P11 0,862 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P12 0,599 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P13 0,563 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P14 0,751 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P15 0,406 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P16 0,716 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P17 0,678 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P18 0,749 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P19 0,630 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P20 0,681 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P21 0,671 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P22 0,797 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P23 0,854 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P24 0,706 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P25 0,702 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P26 0,753 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P27 0,714 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P28 0,665 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P29 0,628 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P30 0,626 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

P31 0,616 0,195 Valid (R Hitung > R Tabel)

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka KonseptualCitra
Tabel 4.3  Indeks Loyalitas

Referensi

Dokumen terkait

KRITERIA PENAPISAN JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG TIDAK TERMASUK DALAM DAFTAR JENIS USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah : “Adakah Pengaruh Tindakan Restrain Fisik Dengan Manset Terhadap Penurunan Perilaku Kekerasan Pada

Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian atas kualitas pelayanan suatu perusahaan terhadap kepuasan konsumen, dengan topik penelitian

Namun, mengingat masih melekatnya budaya patriarki dan juga adat ataupun kebiasaan yang sudah mengakar pada masyarakat Indonesia ditambah dengan kurangnya pemahaman

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa untuk memberikan layanan informasi pelanggan telepon PT Telkom dapat dibuat layanan berbasis WAP sehingga informasi mengenai

fisik dimana seorang balita yang seharusnya dirawat dengan segenap kasih sayang dari kedua orang tuanya, mendapatkan hak- hak nya untuk dilindungi oleh orang dewasa,

memberikan keceriaan dan hiburan selama saya di kos.. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2017. Penelitian ini bertujuan untuk 1)

Programming languages always have commands for getting data into and out of variables and for doing computations with data. For example, the following “assignment statement,”