• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GROWTH MINDSET TERHADAP KETERLIBATAN AKADEMIK PADA MAHASISWA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH GROWTH MINDSET TERHADAP KETERLIBATAN AKADEMIK PADA MAHASISWA SKRIPSI"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GROWTH MINDSET TERHADAP KETERLIBATAN AKADEMIK PADA MAHASISWA

SKRIPSI

Oleh:

M. ARIEF FIRNANDA 201810230311076

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2022

(2)

i

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

(6)

iii DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

ABSTRAK ... 1

PENDAHULUAN ... 2

KAJIAN TEORI ... 4

Keterlibatan Akademik ... 4

Growth Mindset ... 5

Pengaruh Growth Mindset Terhadap Keterlibatan Akademik pada Mahasiswa ... 6

Kerangka Berpikir ... 7

Hipotesis ... 7

METODE PENELITIAN ... 8

Rancangan Penelitian ... 8

Responden Penelitian ... 8

Variabel dan Instrumen Penelitian ... 8

Prosedur dan Analisa Data Penelitian ... 9

HASIL PENELITIAN ... 9

DISKUSI ... 11

SIMPULAN DAN IMPLIKASI... 14

REFERENSI ... 15

LAMPIRAN ... 17

(7)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Karakteristik Responden ... 8

Tabel 2. Indeks Daya Beda Item dan Reliabilitas Instrumen Alat Ukur ... 9

Tabel 3. Deskripsi Tingkat Variabel Penelitian ... 10

Tabel 4. Data Deskriptif dan Kategorisasi ... 10

Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana ... 11

Tabel 6. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 11

(8)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Skala dan Blueprint Keterlibatan Akademik ... 17

Lampiran 2. Skala dan Blueprint Growth Mindset ... 20

Lampiran 3. Tabulasi Data Skala Keterlibatan Akademik ... 23

Lampiran 4. Tabulasi Data Skala Growth Mindset ... 31

Lampiran 5. Data Demografis Subjek ... 35

Lampiran 6. Data Mean dan Standard Deviation ... 35

Lampiran 7. Reliabilitas Skala Keterlibatan Akademik ... 35

Lampiran 8. Reliabilitas Skala Growth Mindset ... 35

Lampiran 9. Indeks Daya Beda Item Skala Keterlibatan Akademik ... 36

Lampiran 10. Indeks Daya Beda Item Skala Growth Mindset ... 36

Lampiran 11. Uji Validitas Skala Keterlibatan Akademik ... 37

Lampiran 12. Uji Validitas Skala Growth Mindset ... 44

Lampiran 13. Uji Normalitas ... 47

Lampiran 14. Uji Linearitas ... 47

Lampiran 15. Uji Regresi Linear Sederhana ... 47

Lampiran 16. Uji Verifikasi ... 48

Lampiran 17. Uji Plagiasi ... 49

(9)

1

PENGARUH GROWTH MINDSET TERHADAP KETERLIBATAN AKADEMIK PADA MAHASISWA

M. Arief Firnanda

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang [email protected]

ABSTRAK

Keterlibatan akademik adalah konstruksi kompleks yang penting dalam mempromosikan berbagai hasil positif bagi pendidikan. Dengan demikian, mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan akademik untuk memastikan proses pembelajaran dapat berjalan efektif menjadi penting untuk dilakukan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keterlibatan akademik adalah mindset. Individu yang memiliki growth mindset menyadari bahwa mereka bisa menjadi lebih pintar melalui kerja keras dan dedikasi serta cenderung melihat kegagalan sebagai motivasi. Tujuan penelitian ini untuk menguji secara empiris pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan responden penelitian sebanyak 204 mahasiswa S1 yang sedang aktif melakukan perkuliahan. Adapun skala yang digunakan pada variabel growth mindset adalah skala Growth Mindset Scale dan skala keterlibatan akademik yaitu The Student Engagement in School Questionnaire. Analisis data penelitian ini menggunakan uji analisis regresi linear yang mempunyai hasil dengan nilai beta (β) sebesar 0,622 dengan nilai signifikansi 0,000 (p <

0,05). Secara statistik ada konstribusi positif yang signifikan growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa sebesar 38,7%.

Kata kunci: growth mindset, keterlibatan akademik, mahasiswa.

Academic engagement is a complex construct that is important in promoting positive outcomes for education. Thus, it is important to explore the factors that influence academic engagement to ensure the learning process can run effectively. One of the factors that influence academic engagement is mindset. Individuals who have a growth mindset realize that they can become smarter through hard work and dedication and tend to see failure as motivation. The purpose of this study was to empirically examine the effect of growth mindset on academic engagement in college students. This research uses quantitative methods with 204 undergraduate students who are actively conducting lectures. The scale used in the growth mindset variable is the Growth Mindset Scale and the academic engagement scale, namely The Student Engagement in School Questionnaire. Analysis of the data in this study used linear regression analysis which resulted in a beta value (β) of 0.622 with a significance value of 0.000 (p <0.05). Statistically there is a significant positive contribution of growth mindset to academic involvement in college students of 38.7%.

Keywords: growth mindset, academic engagement, college student

(10)

2

PENDAHULUAN

Perilaku yang memperlihatkan kurangnya partisipasi dalam kegiatan belajar seperti mengobrol, bosan, tidur di dalam kelas dan terlambat masuk ke dalam kelas hingga membolos serta mengerjakan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran, merupakan bentuk dari rendahnya keterlibatan akademik. Hal tersebut dapat terjadi karena individu menarik diri secara emosi dan kognitif selama pembelajaran (Fredricks et al., 2004). Padahal keberhasilan individu dalam memahami materi dan mencapai keberhasilan di perkuliahan sangat ditentukan oleh keaktifan serta keterlibatan dalam proses pembelajaran.

Hasil studi awal yang dilakukan Fatimah, (2021) terhadap 120 mahasiswa yang berada di semester 5 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang ditemukan hasil bahwa 65% mahasiswa memiliki keterlibatan akademik yang rendah, 20% mahasiswa memiliki keterlibatan akademik yang sedang dan hanya 15% mahasiswa yang memiliki keterlibatan akademik yang tinggi. Fenomena ini masih sering belum disadari dan diperhatikan sepenuhnya oleh berbagai pihak seperti dosen dan mahasiswa sendiri sebagai individu yang paling bertanggung jawab terhadap studinya. Jika rendahnya keterlibatan akademik ini tidak segera ditangani, maka akan berdampak buruk bagi kualitas akademik mahasiswa.

Menurut Fredricks et al., (2004) keterlibatan akademik berarti perasaan keterikatan atau keterlibatan pada kegiatan dan tugas-tugas akademik, menciptakan ikatan dengan pendidik, teman sekelas, akademisi, atau sekolah yang ditunjukkan melalui tingkah laku, kognitif serta emosi yang positif. Keterlibatan akademik tidak hanya membutuhkan keaktifan saja, namun juga rasa memiliki. Individu yang memiliki keterlibatan besar pada institusi pendidikan memberikan dampak positif berupa suasana pembelajaran di kelas yang interaktif dan kondusif, proses sosialisasi dengan teman sebaya yang dapat berjalan lancar, penyerapan materi perkuliahan yang baik serta hasil akhir pembelajaran yang memuaskan sehingga ketika kegiatan pembelajaran sedang berlangsung diharapkan setiap individu mampu mengembangkan kemampuan yang dimiliki (Sari, 2018).

Keterlibatan akademik adalah keadaan pikiran yang positif dan memuaskan, serta terkait dengan sebuah suasana pembelajaran yang dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan bergairah (Schaufeli et al., 2002). Secara khusus, semangat digambarkan sebagai tingkat energi dan ketahanan mental yang tinggi saat belajar; dedikasi mengacu pada rasa penting, antusiasme, inspirasi, kebanggaan, dan tantangan; bergairah berarti konsentrasi dan kebahagiaan ketika melakukan tugas-tugas yang diberikan. Keterlibatan akademik merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas pembelajaran. Mahasiswa yang memiliki keterlibatan akademik yang tinggi, dapat mengikuti perkuliahan dengan penuh semangat, memiliki dedikasi yang tinggi terhadap tugas-tugas akademik, dan disertai perasaan senang ketika mengerjakannya.

Para pendidik dan peneliti telah menaruh fokus mereka terhadap penelitian terkait konsep keterlibatan akademik, karena banyak penelitian yang dilakukan sebelumnya mengungkapkan hasil bahwa keterlibatan akademik mempunyai korelasi yang tinggi dengan berbagai hasil perkembangan dalam proses pembelajaran. Salah satunya dengan penelitian yang dilakukan oleh Finn (1993) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara keterlibatan akademik dan kesuksesan akademik, dimana semakin tinggi keterlibatan akademik yang dimiliki oleh individu, individu tersebut akan semakin mampu mengatasi tuntutan dan hambatan dalam melaksanakan pembelajaran sehingga menjadi lebih berprestasi.

(11)

3

Dalam pembelajaran di kelas, salah satu faktor ideal yang mempengaruhi tingginya tingkat keterlibatan akademik adalah pola pikir yang dimiliki individu. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi dampak pola pikir dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah temuan baru dari Center for Community College Student Engagement menunjukkan bahwa pola pikir memainkan peran penting dalam keterlibatan akademik. Individu yang memiliki pola pikir berkembang akan lebih produktif terlibat dalam pembelajaran sehingga memiliki IPK yang lebih tinggi. Bahkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Zhao et al., (2021) menemukan bahwa growth mindset secara positif terkait dengan keterlibatan akademik dan secara negatif terkait dengan dampak stress yang dirasakan ketika pandemi COVID-19 sedang berlangsung. Hasil penelitian ini menjadi temuan penting untuk mempromosikan dan dapat memajukan pemahaman tentang mekanisme yang mendasari hubungan antara growth mindset serta keterlibatan akademik mahasiswa selama pandemi COVID-19.

Terdapat dua tipe mindset, yaitu fixed mindset dan growth mindset. Growth mindset melibatkan semangat untuk belajar, berkembang dan memperbaiki diri secara konsisten dan membuat individu mampu mengatasi tantangan atau kendala melalui daya tahan serta usaha yang gigih. Sedangkan fixed mindset dicirikan oleh keyakinan bahwa kemampuan, kepribadian, dan bakat merupakan hal yang menetap serta pada dasarnya tidak dapat diubah (Bernecker & Job, 2019).

Bagi individu yang memiliki fixed mindset, kelas dipandang sebagai tempat untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki, namun juga mereka memandang kelas sebagai tempat yang menakutkan sebab dapat menyebabkan mereka merasa tidak cukup pintar untuk mampu memahami materi atau mengerjakan tugas yang sulit. Sedangkan individu yang memiliki growth mindset, memandang kelas sebagai sebuah tempat yang menyenangkan untuk berkembang dan mencoba berbagai hal-hal baru serta cenderung lebih tangguh ketika dihadapkan pada situasi yang menantang (Spitzer & Aronson, 2015). Pada akhirnya yang mengantarkan individu menggapai prestasi adalah motivasi dan komitmen yang berkelanjutan, dibarengi dengan lingkungan yang mendukung (Dweck, 2006).

Pola pikir sendiri memegang peranan yang penting dalam lingkup akademik. Hal ini berdampak pada bagaimana mereka memandang kelas dan menjalani kegiatan selama di perguruan tinggi. Growth mindset juga dikenal sebagai prediktor pencapaian akademik karena selain mengerahkan lebih banyak upaya, individu yang memiliki pola pikir ini juga dicirikan selalu mencoba strategi baru dan mencari bantuan saat dibutuhkan (Claro et al., 2016).

Selanjutnya studi yang pernah dilakukan dalam bidang akademik, telah menunjukan bahwa growth mindset berhubungan positif dengan self-efficacy dan kinerja akademik sehingga mampu mendorong individu untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi (Diao et al., 2020). Dapat disimpulkan bahwa growth mindset berkaitan erat dengan proses pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa individu yang memiliki keterlibatan akademik yang tinggi akan memiliki proses pembelajaran yang lebih baik sehingga mampu mencapai keberhasilan akademik. Sedangkan individu yang memiliki keterlibatan akademik yang rendah akan memiliki kinerja akademik yang kurang optimal dan cenderung bermasalah dengan perilakunya di kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang mempengaruhi keterlibatan akademik adalah mindset. Individu yangmemiliki growth mindset memandang kelas sebagai sebuah tempat yang menyenangkan untuk berkembang dan mencoba berbagai hal baru baik di dalam kelas maupun di luar kelas serta cenderung lebih tangguh ketika dihadapkan pada situasi yang menantang seperti mengerjakan tugas atau ujian

(12)

4

yang sulit. Penelitian ini dilakukan untuk menguji secara empiris pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa. Sedangkan manfaat dari penelitian adalah agar dapat menjadikan growth mindset sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan keterlibatan akademik pada mahasiswa. Sehingga dari hasil penelitian ini dapat memperbarui referensi dan dijadikan evaluasi dalam proses pembelajaran.

KAJIAN TEORI Keterlibatan Akademik

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Fredricks et al., (2004) melihat keterlibatan akademik sebagai perasaan keterikatan atau keterlibatan pada kegiatan dan tugas-tugas akademik, menciptakan ikatan dengan pendidik, teman sekelas, akademisi, atau sekolah yang ditunjukkan melalui tingkah laku, kognitif serta emosi yang positif. Sedangkan menurut Schaufeli et al., (2002) keterlibatan akademik adalah keadaan pikiran yang positif dan memuaskan, serta terkait dengan sebuah suasana pembelajaran yang dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan bergairah.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi keterlibatan akademik yaitu dalam tingkat sekolah, konteks sekolah, karakteristik tugas dan kebutuhan individu (Fredricks et al., 2004). Tingkat sekolah, meliputi kepatuhan individu terhadap peraturan, tujuan institusi pendidikan yang jelas dan konsisten, serta kegiatan akademik yang dapat mengembangkan kompetensi. Lalu dalam konteks kelas terdiri atas dukungan pendidik, teman sebaya, struktur kelas, dukungan kemandirian individu dan karakteristik tugas. Selanjutnya kebutuhan individual, meliputi kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, kebutuhan untuk mandiri, dan kebutuhan untuk berkompetisi.

Jika ditinjau secara teoritis beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa growth mindset juga memiliki peranan dalam keterlibatan akademik. Growth mindset dapat meningkatkan sense of control individu, merangsang minat dan harapan ketika belajar serta membantu mempertahankan keterlibatan akademik (Schmidt et al., 2017). Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian khusus tentang keterlibatan akademik yang dilakukan oleh Lin- Siegler et al., (2016) menunjukan hasil bahwa growth mindset dapat mengubah keyakinan dan motivasi individu sehingga meningkatkan keterlibatan akademik. Apabila dibandingkan dengan faktor lain, growth mindset terbukti dapat meredam maupun memperburuk efek kerugian ekonomi pada tingkat sistemik yang dapat mempengaruhi keterlibatan akademik (Claro et al., 2016). Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa growth mindset adalah prediktor kesuksesan yang kuat dan menunjukkan hubungan positif dengan pencapaian di semua strata sosial ekonomi.

Keterlibatan akademik mencakup lima aspek (Hart et al., 2008) yaitu keterlibatan afektif terhadap minat belajar, keterlibatan afektif terhadap sekolah, keterlibatan kognitif, keterlibatan perilaku dalam usaha dan ketekunan serta keterlibatan perilaku dalam kegiatan ekstrakurikuler. Keterlibatan afektif menggambarkan emosi positif selama proses pembelajaran maupun ketika mendapatkan pekerjaan atau tugas-tugas. Dimensi ini ditandai dengan kondisi perasaan yang antusias, nyaman, senang, dan puas dalam selama kegiatan akademik. Keterlibatan kognitif menjelaskan persepsi dan keyakinan individu terhadap diri sendiri, institusi pendidikan, pendidik dan teman sebaya serta menunjukkan bahwa individu hadir bukan hanya raganya tapi juga pikirannya. Dimensi ini menunjukkan bagaimana strategi dan usaha yang dibutuhkan dalam menguasai serta memahami suatu materi sehingga memiliki kesediaan untuk berusaha melebihi standar yang sudah ditetapkan. Keterlibatan perilaku meliputi kualitas motivasi yang terlihat selama proses kegiatan pembelajaran yang

(13)

5

terjadi di dalam kelas maupun kegiatan diluar kelas. Dimensi ini melihat tingkah laku yang penuh dengan usaha, ketekunan, intensitas, dan keteguhan hati menjalankan kegiatan akademik.

Growth Mindset

Menurut Bernecker & Job, (2019) mindset merupakan keyakinan individu tentang sifat atribut manusia, seperti kecerdasan atau kepribadian. Mindset membentuk proses pembuatan makna dan memunculkan tujuan, serta perilaku yang berbeda bagi tiap-tiap individu. Selain itu mindset juga berdampak pada pembelajaran, kinerja dan motivasi yang dimiliki individu (Yeager & Dweck, 2012). Dweck (2006) membagi mindset menjadi dua macam mindset, yaitu: growth mindset (pola pikir berkembang) dan fixed mindset (pola pikir tetap).

Fixed mindset didasarkan pada kepercayaan bahwa atribut yang dimiliki individu sudah ditentukan sejak awal secara genetik sehingga ada batasan yang tidak bisa ditembus oleh usaha (Dweck, 2006). Keyakinan tersebut membuat individu memiliki penilaian bahwa berusaha mengubah kondisi atau melewati tantangan tidak akan mempengaruhi apapun sehingga cenderung memilih untuk menyerah. Ketika dihadapkan pada keadaan atau situasi yang sulit dalam lingkup akademik, individu dengan fixed mindset menganggapnya sebagai sebuah ancaman karena merasa akan mengungkapkan kekurangan yang dimiliki, sehingga cenderung mengerjakan tugas yang mudah agar dapat menjamin kesuksesan mereka.

Sedangkan growth mindset didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas yang dimiliki individu seperti intelegensi dan berbagai potensi lain merupakan sesuatu yang dapat diubah melalui upaya-upaya tertentu (Dweck, 2006). Kepercayaan ini membuat individu akan terus berusaha dan belajar karena percaya bahwa kerja keras yang dilakukan dapat meningkatkan kemampuan. Individu dengan growth mindset mengartikan tantangan akademik yang ditemui sebagai kesempatan dalam meningkatkan kemampuan dan cenderung melihat kegagalan sebagai motivasi sehingga lebih memilih tugas-tugas yang sulit untuk dikerjakan.

Berdasarkan penjelasan diatas fixed mindset dan growth mindset dapat dibedakan melalui keyakinan terhadap intelegensi, bakat dan sifat, pengambilan sikap terhadap kendala dan tantangan, usaha yang dilakukan, penerimaan terhadap kritik dan saran, kemauan menemukan pelajaran dan inspirasi dari pengalaman orang lain. Selain itu bersama dengan grit, growth mindset merupakan gagasan sentral dalam dunia psikologi positif yang merupakan disiplin ilmu yang berfokus pada eksplorasi faktor-faktor yang memfasilitasi kesejahteraan individu, terutama dalam dunia pendidikan.

Growth mindset menurut Chen et al., (2021) memiliki 6 dimensi yaitu motivasi, sikap, kegigihan, tantangan, kesulitan, pola pikir positif. Motivasi berarti dorongan dari dalam diri individu untuk mempelajari hal-hal baru. Sikap mewakili keyakinan terhadap IQ, bakat, prestasi dan bekerja secara keras. Tantangan mewakili pemikiran individu ketika menghadapi kendala atau masalah dan perubahan baru. Kegigihan menandakan sikap tekun dan rajin yang ada dalam diri individu. Kesulitan menunjukkan bahwa respon ketidaknyamanan yang dirasakan individu ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Pola pikir positif menunjukkan kepercayaan diri dan keterbukaan dengan keyakinan yang kuat terhadap diri sendiri dalam semua jenis keadaan.

(14)

6

Pengaruh Growth Mindset Terhadap Keterlibatan Akademik pada Mahasiswa

Dalam kajian literatur, beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan keterlibatan akademik yang rendah mengakibatkan dampak buruk bagi individu yang terlepas dari sekolah. Ketika individu tidak menggunakan waktu di luar perkuliahan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dapat menurunkan prestasi akademik dan menyebabkan beragam perilaku negatif seperti mengalami masalah kesehatan mental yaitu gangguan kecemasan dan simtom depresi, merokok dan mabuk (Bond et al., 2007) penggunaan narkoba hingga melakukan aktivitas seksual secara dini (Schaufeli et al., 2002) serta pada dapat berakibat drop out.

Padahal keberhasilan individu dalam mencapai prestasi akademik ditentukan oleh keterlibatan selama dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Finn (1993) menemukan hubungan yang signifikan antara keterlibatan akademik dan prestasi akademik, dimana semakin tinggi keterlibatan akademik seorang mahasiswa, maka mereka akan mampu mengatasi kendala dan tuntutan selama proses pembelajaran sehingga lebih optimal dalam berprestasi. Dengan demikian, mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan akademik untuk memastikan proses pembelajaran dapat berjalan efektif menjadi penting untuk dilakukan.

Temuan baru dari Center for Community College Student Engagement menunjukkan bahwa growth mindset memainkan peran penting dalam keterlibatan akademik. Individu yang memiliki pola pikir berkembang akan lebih produktif terlibat dalam pembelajaran sehingga memiliki IPK yang lebih tinggi. Pola pikir yang dimiliki mahasiswa berdampak pada cara mereka belajar memahami kegagalan dan kemampuannya menghadapi kesulitan. Kesadaran individu dalam mengambil risiko, tantangan dan bekerja keras merupakan sebuah pola pikir yang mendasar bagi orang yang memiliki growth mindset (Dweck, 2006). Ketika individu dihadapkan pada situasi yang sulit atau menantang, semakin tinggi tingkat growth mindset yang dimiliki, semakin banyak nilai yang bisa dijadikan pelajaran dan individu juga cenderung menghabiskan waktu serta usaha untuk terus memperbaiki situasi yang sedang dihadapi. Namun growth mindset juga tidak hanya meningkatkan usaha, energi, dan ketekunan individu untuk menyelesaikan tugas belajar tetapi juga mendorong untuk mencapai prestasi akademik (Yeager et al., 2019).

Dweck (2006) menyatakan bahwa mahasiswa yang percaya bahwa kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan akan lebih unggul daripada mahasiswa yang meyakini bahwa kemampuannya sudah menetap atau tidak bisa lagi berkembang. Sejumlah besar studi empiris telah menunjukkan bahwa ketika individu yang berpikir bahwa kecerdasan dapat diubah cenderung membuat lebih banyak upaya ketika menghadapi kesulitan akademik karena percaya bahwa mengerahkan upaya adalah proses meningkatkan kemampuan mereka dan mempertajam keterampilan belajar mereka, yang berkontribusi pada resiliensi mereka di bidang akademik, tidak peduli pada mahasiswa berprestasi tinggi atau rendah (Dweck, 2006).

Individu dengan mindset berkembang percaya bahwa mereka dapat menjadi mahasiswa yang lebih baik dengan mempelajari hal-hal baru dan mengerjakan pekerjaan atau tugas-tugas sulit.

Dengan demikian, memahami pola pikir ini dapat membantu individu dalam membuka jalan baru untuk meningkatkan keberhasilan di bidang akademik.

(15)

7 Kerangka Berpikir

Hipotesis

Adanya pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa.

Growth mindset berkaitan erat dengan proses pembelajaran dan dapat digunakan sebagai salah satu srategi dalam meningkatkan keterlibatan akademik pada mahasiswa.

Individu yang memiliki growth mindset menyadari bahwa mereka bisa menjadi lebih pintar melalui kerja keras dan dedikasi mencoba berbagai hal baru serta melihat kegagalan sebagai motivasi sehingga lebih memilih tugas-tugas yang sulit untuk dikerjakan.

Individu yang memiliki keterlibatan akademik yang rendah akan memiliki kinerja akademik yang kurang optimal dan kurang bisa mengatasi hambatan hingga dapat berujung drop out.

Keberhasilan individu dalam memahami materi dan mencapai keberhasilan di perkuliahan ditentukan oleh keterlibatan dalam proses pembelajaran di kelas.

(16)

8

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non eksperimen dengan desain asosiatif kausal. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel atau lebih yang bersifat sebab akibat (Sugiyono, 2017). Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui gambaran pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa.

Responden Penelitian

Pengambilan data subjek untuk penelitian ini menggunakan non probability sampling dengan menggunakan teknik accidental sampling, yaitu teknik pengambilan data yang dilakukan seadanya atau kebetulan karena berdasarkan anggota populasi yang ditemui oleh peneliti dan bersedia menjadi responden (Sugiyono, 2017). Adapun kriteria subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa atau mahasiswi S1 yang masih aktif melaksanakan perkuliahan.

Tabel 1. Karakteristik Responden

Kategori Frekuensi Presentase

Jenis Kelamin

Laki-Laki 31 15.2 %

Perempuan 173 84.8 %

Umur

18 – 20 Tahun 59 28,9 %

21 – 23 Tahun 143 70,1 %

>24 Tahun 2 1 %

Semester

Semester 2 17 8,3 %

Semester 4 26 12,7 %

Semester 6 48 23,5 %

Semester 8 108 52,9 %

> Semester 10 5 2,5 %

Dalam penelitian ini didapatkan 204 sampel data yang dapat diolah dan dianalisis.

Berdasarkan tabel 1 sebagian besar responden penelitian merupakan perempuan dengan frekuensi sebanyak 173 subjek. Mayoritas responden berusia 21 – 23 tahun sebanyak 143 subjek dan juga sedang melaksanakan kuliah pada semester 8 sebanyak 108 subjek.

Variabel dan Instrumen Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah growth mindset sebagai variabel bebas (X) dan keterlibatan akademik sebagai variabel terikat (Y).

Growth mindset merupakan cara berpikir dan keyakinan bahwa kemampuan yang dimiliki setiap individu bersifat lunak dan dapat ditingkatkan melalui latihan atau kerja keras secara terus menerus. Dalam penelitian ini digunakan Growth Mindset Scale yang disusun oleh Chen et al., (2021) berdasarkan kerangka teori growth mindset yang dikembangkan oleh Dweck, (2006). Instrumen ini memiliki 18 item yang terdiri dari 6 dimensi yaitu motivasi, sikap, kegigihan, tantangan, kesulitan, dan pola pikir positif. Instrumen ini merupakan skala jenis Likert dengan empat opsi pilihan jawaban, yaitu sangat tidak sesuai (1) sampai dengan sangat sesuai (4).

(17)

9

Selanjutnya, keterlibatan akademik adalah keaktifan dalam berbagai proses akademis yang dapat dilihat melalui aspek afektif, kognitif, dan perilaku yang bertujuan untuk mengoptimalkan pengalaman serta hasil pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas sehingga dapat mengembangkan sikap positif terhadap pembelajaran. Dalam penelitian ini digunakan The Student Engagement in School Questionnaire (SESQ) yang disusun oleh Hart et al., (2008) yang telah diterjemahkan dan digunakan oleh Sari, (2018). SESQ memiliki 33 item yang tersusun atas lima aspek yaitu keterlibatan afektif terhadap minat belajar, keterlibatan afektif terhadap sekolah, keterlibatan kognitif, keterlibatan perilaku dalam usaha dan ketekunan serta keterlibatan perilaku dalam kegiatan ekstrakurikuler. Instrumen ini merupakan skala jenis Likert dengan empat opsi pilihan jawaban, yaitu sangat tidak sesuai (1) sampai dengan sangat sesuai (4).

Tabel 2. Indeks Daya Beda Item dan Reliabilitas Instrumen Alat Ukur

Alat Ukur Item Indeks Daya Beda Item Indeks Reliabilitas

Growth Mindset Scale 18 Item 0,152 – 0,603 0,835

The Student Engagement in

School Questionnaire 33 Item 0,213 – 0,584 0,902

Tabel 2 menunjukan skala Growth Mindset pada peneltian ini mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,835 sedangkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chen et al., (2021) memiliki nilai indeks reliabilitas sebesar 0,911. Selanjutnya pada skala The Student Engagement in School Questionnaire pada penelitian ini mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,902 sedangkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sari, (2018) memiliki nilai indeks reliabilitas sebesar 0,85.

Prosedur dan Analisa Data Penelitian

Prosedur dalam penelitian ini dilakukan melalui 3 tahapan. Tahap pertama yaitu tahap persiapan. Pada tahap ini peneliti melakukan kajian teoritis terhadap fenomena permasalahan yang diangkat menjadi tema penelitian, lalu menentukan kriteria subjek dan mempersiapkan instrumen alat ukur penelitian. Selanjutnya merupakan tahap pelaksanaan, yaitu menyebarkan instrumen alat ukur penelitian melalui google form.

Tahap terakhir adalah tahap analisis data, yaitu melakukan analisa data yang telah terkumpul dari penyebaran instrumen alat ukur penelitian sebelumnya. Proses analisis data dibantu dengan menggunakan software IBM SPSS Statistics 25 dengan melalui uji analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa. Selanjutnya peneliti melaksanakan diskusi terkait hasil analisis data agar mampu menghasilkan kesimpulan.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk menguji secara empiris pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik. Adapun kriteria subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa atau mahasiswi S1 yang masih aktif melaksanakan perkuliahan. Setelah peneliti melakukan penyebaran data, terkumpul sebanyak 204 data sampel yang dapat diolah dan dianalisis dalam penelitian ini. Berikut adalah hasil deskripsi variabel keterlibatan akademik dan growth mindset:

(18)

10 Tabel 3. Deskripsi Tingkat Variabel Penelitian

Minimum Maksimum Mean Empirik

Mean Hipotetik

SD Empirik

SD Hipotetik Keterlibatan

Akademik 65 129 102,35 82,5 11,52 16,5

Growth

Mindset 41 69 59,42 45 6,30 9

Bila dilihat tabel diatas, ditemukan nilai mean empirik keterlibatan akademik (𝑥̅= 102,35) lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean hipotetik (μ = 82,5), yang berarti mahasiswa dinyatakan mempunyai keterlibatan akademik cenderung tinggi. Selanjutnya, hasil perbandingan dari variabel growth mindset mempunyai mean empirik (𝑥̅= 59,42) lebih tinggi dibandingkan mean hipotetik (μ = 45), yang berarti mahasiswa memiliki tingkat growth mindset cenderung tinggi.

Tabel 4. Data Deskriptif dan Kategorisasi

Variabel Kategori Frekuensi Presentase

Keterlibatan Akademik

Rendah 0 0 %

Sedang 86 42,1 %

Tinggi 118 57,9 %

Growth Mindset

Rendah 0 0 %

Sedang 48 23,6 %

Tinggi 156 76,4 %

Pernyataan pada tabel 3 diperkuat dengan hasil kategorisasi data pada tabel 4. Tabel 4 menyajikan data deskripsi dan kategorisasi skor dari dua variabel penelitian, dimana variabel keterlibatan akademik mendapatkan hasil sebesar 57,9 % atau 118 mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini memiliki tingkat keterlibatan akademik yang tinggi.

Sedangkan gambaran growth mindset menunjukan hasil bahwa 76,4% atau 156 mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki tingkat growth mindset yang tinggi.

Selanjutnya adalah melakukan uji normalitas data pada kedua variabel penelitian guna melihat persebaran data sampel menggunakan nilai Z-skewness dan Z-kurtosis. Dari hasil uji normalitas pada variabel keterlibatan akademik didapatkan nilai Z-skewness sebesar - 0,054/0,170 = -0,318 dan Z-kurtosis adalah -0,304/0,339 = -0,895. Sedangkan pada variabel growth mindset didapatkan nilai Z-skewness sebesar -0,201/0,170 = -1,183 dan Z-kurtosis adalah -0,615/0,339 = -1,814. Nilai Z yang telah didapatkan tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai Z untuk taraf signifikansi 5%, yaitu 1,96. Maka berdasarkan hal tersebut kedua variabel data dikatakan normal karena nilai Z-skewness dan Z-kurtosis berada diantara -1,96 hingga 1,96. Berikutnya peneliti melakukan uji linearitas pada kedua variabel untuk melihat hubungan linear antara keterlibatan akademik dan growth mindset. Uji linearitas yang dilakukan pada kedua variabel dilihat melalui Deviation from Linearity memperoleh nilai F hitung sebesar 1,526 dengan nilai signifikansi sebesar 0,056 (p > 0,05) sehingga variabel growth mindset mempunyai hubungan hubungan yang linear dengan keterlibatan akademik.

Selanjutnya melakukan uji analisis regresi sederhana. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

(19)

11 Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana

Unstandarized Coefficient

Standarized

Coefficient t p F R

B SE β

Constant 34,838 6,016 5,791 0,000

127,336 0,622 0,387 Growth Mindset 1,136 0,101 0,622 11,284 0,000

Pada tabel 5, diketahui bahwa dari analisis uji regresi linear sederhana yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai beta (β) sebesar 0,622 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh positif yang signifikan growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa. Selain itu sumbangan efektif dari nilai R² sebesar 0,387 yang dapat diartikan variabel growth mindset dapat mempengaruhi keterlibatan akademik sebesar 38,7%. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis penelitian ini diterima.

Terakhir dilakukan uji analisis berganda untuk melihat aspek growth mindset mana yang paling mempengaruhi keterlibatan akademik. berikut merupakan hasilnya:

Tabel 6. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Unstandarized

Coefficient

Standarized

Coefficient t p

B SE β

Constant 37,772 5,730 6,592 0,000

Motivasi 1,610 0,963 0,125 1,672 0,096

Sikap 1,332 0,367 0,207 3,634 0,000

Tantangan 2,499 0,376 0,451 6,653 0,000

Kegigihan -0,876 0,861 -0,078 -1,018 0,310

Kesulitan 1,435 0,512 0,182 2,804 0,006

Pola Pikir Positif -0,039 0,281 0,008 -0,139 0,889 Hasil analisis yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa sikap (β = 0,207), tantangan (β = 0,451), kesulitan (β = 0,182) mampu memprediksi keterlibatan akademik karena nilai signifikansi tidak lebih dari 0,05. Sedangkan ditemukan motivasi (β = 0,125), kegigihan (β = - 0,078) dan pola pikir positif (β = 0,008) tidak secara signifikan mampu memprediksi keterlibatan akademik. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam penelitian kali ini tantangan merupakan aspek growth mindset yang paling mempengaruhi keterlibatan akademik pada mahasiswa.

DISKUSI

Penelitian ini dilakukan untuk menguji secara empiris pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa. Untuk menguji hipotesis, dilakukan uji regresi linear sederhana yang menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa sebesar (β) 0,622 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hal tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi skor growth mindset, maka akan ada pengaruh peningkatan juga terhadap skor keterlibatan akademik pada mahasiswa.

Secara statistik besarnya pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa sebesar 38,7%.

(20)

12

Hasil penelitian ini juga menjelaskan bahwa hanya aspek sikap, tantangan dan kesulitan saja yang mampu secara signifikan mempengaruhi keterlibatan akademik. Kesulitan menjadi prediktor paling rendah dalam memprediksi keterlibatan akademik dengan nilai beta (β) sebesar 0,182 dan nilai signifikansi 0,006 (p < 0.05) sedangkan tantangan menjadi prediktor yang paling kuat dalam memprediksi keterlibatan akademik dengan nilai beta (β) sebesar 0,451 serta nilai signifikansi 0,000 (p < 0.05). Tantangan menandakan pemikiran individu ketika menghadapi kendala atau masalah dan perubahan baru. Dalam growth mindset tantangan merupakan atribut yang dapat mejelaskan bahwa kualitas intrinsik perilaku belajar di otak manusia diperoleh melalui pengalaman yang penting untuk menjalani kehidupan yang sukses (Chen et al., 2021). Selain itu, hubungan mahasiswa dengan dosen dan orang lain dapat menjadi lebih baik apabila individu memiliki efikasi diri yang tinggi karena dapat memicu semangat serta kemajuan mereka (Dweck, 2006). Hal tersebut disebabkan oleh kepercayaan diri individu dalam menerima tantangan dan memperhatikan proses. Kedua hal tersebut penting bagi individu yang memiliki growth mindset.

Dalam dimensi keterlibatan akademik, sebagian besar responden penelitian memiliki tingkat keterlibatan kognitif yang tinggi dibandingkan dimensi lain. Dimensi ini menjelaskan mengenai persepsi dan keyakinan individu terhadap diri sendiri, institusi pendidikan, pendidik dan teman sebaya serta menunjukkan bahwa individu hadir bukan hanya raganya tapi juga pikirannya serta mengarahkan strategi belajar dalam kegiatan akademik maupun non- akademik (Hart et al., 2008). Hal ini menjelaskan bahwa mayoritas responden mahasiswa bersedia membuat rencana dan meluangkan waktu untuk menguasai serta memahami suatu materi perkuliahan agar mampu melebihi standar yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Sedangkan motivasi menjadi dimensi growth mindset terbanyak yang dimiliki responden dengan kategori tinggi. Dimensi ini berkaitan dengan dorongan dari dalam diri untuk mempelajari hal-hal baru (Chen et al., 2021). Hal tersebut menggambarkan bahwa mayoritas responden mempunyai keyakinan diri terhadap kemampuan yang dimiliki sehingga mampu bergerak dengan sendirinya untuk segera menyelesaikan tugas akademik. Selain itu, individu yang memiliki motivasi intrinsik yang tinggi akan senantiasa berusaha dalam mengatasi hambatan dan kendala yang ditemui sehingga mampu mencapai prestasi akademik. Individu akan memiliki motivasi yang lebih tinggi apabila lebih terfokus learning goal yang mementingkan pada proses dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dibandingkan dengan performance goal yang menekankan pada penilaian positif atau pujian terhadap kemampuan mereka (Dweck, 2006).

Hasil penelitian ini memperkuat temuan dari hasil penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Schmidt et al, (2017) yang menyebutkan bahwa growth mindset dapat meningkatkan sense of control, merangsang minat dan harapan ketika belajar, sehingga mampu mempertahankan keterlibatan akademik. Schmidt berpendapat bahwa growth mindset atau keyakinan individu terhadap kemampuan dalam diri tidak hanya memfasilitasi kinerja dan keterlibatan akademik saja. Namun juga berkaitan dengan upaya dan regulasi diri selama pembelajaran serta orientasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena hal tersebut individu mampu secara mandiri melakukan pengelolaan dan pengaturan terhadap berbagai hal yang dapat mengarahkan perilaku, motivasi serta pikiran untuk menggapai tujuan yang diinginkan.

Selanjutnya hasil penelitian ini juga selaras dengan penelitian terbaru yang dilakukan oleh Zhao et al., (2021) mengenai keterlibatan akademik selama pandemi COVID-19 sedang berlangsung. Zhao menemukan bahwa growth mindset secara positif terkait dengan

(21)

13

keterlibatan akademik dan secara negatif terkait dengan dampak stress yang dirasakan ketika pandemi. Growth mindset mempengaruhi keterlibatan akademik melalui perannya sebagai mediasi dari dampak stress yang dirasakan oleh mahasiswa. Mahasiswa dengan growth mindset cenderung melaporkan dampak stress yang dirasakan terkait pandemi COVID-19 menurun, sehingga meningkatkan keterlibatan akademik mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu dengan growth mindset akan secara aktif mengeluarkan lebih banyak waktu, menunjukkan upaya yang gigih dan adaptif untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik, menunjukkan minat yang konsisten dalam pembelajaran, sehingga mampu mempertahankan kondisi belajar yang positif meskipun berada dalam kondisi yang kesulitan.

Keterlibatan akademik sendiri dapat ditingkatkan dengan meningkatkan tantangan, memberikan instruksi yang jelas dari pendidik, lingkungan pembelajaran yang nyaman dan perasaan positif mahasiswa terhadap institusi pendidikan sehingga mahasiswa memiliki kesadaran dan berinisiatif untuk belajar lebih tekun (Fredricks et al., 2004). Dalam kondisi pandemi, untuk membuat keterlibatan akademik atau keadaan emosional yang positif dapat berlangsung secara berkelanjutan saat belajar, growth mindset dapat diajarkan sebagai salah satu usaha pencegahan stres akademik yang dirasakan selama pandemi COVID-19 (Mosanya, 2021). Growth mindset terbukti mendukung kesejahteraan akademik dan prestasi melalui peranannya membangun resiliensi selama masa isolasi sosial yang penuh tekanan terkait dengan langkah-langkah yang dilakukan untuk memerangi penyebaran COVID-19.

Berikutnya Yeager et al., (2019) menyatakan bahwa individu dengan growth mindset terbukti menurunkan stress dan kecemasan akademik serta cenderung lebih tangguh ketika menghadapi transisi sekolah yang menantang. Mekanisme yang mendasari growth mindset yang mengarah pada prestasi akademik bergantung kepada keyakinan tentang upaya, atribusi dan usaha individu ketika dihadapkan kemunduran, serta strategi belajar dalam menghadapi kesulitan akademik, yang merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan resiliensi (Yeager

& Dweck, 2012).

Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zeng et al., (2016) yang menyebutkan bahwa resiliensi bertindak sebagai mediator antara growth mindset dengan keterlibatan akademik dan psychological well-being. Individu dengan growth mindset lebih mungkin untuk bangkit kembali dari kemunduran pembelajaran dan pada waktunya terlibat dalam tugas akademik mereka. Ketika individu percaya bahwa kecerdasan dan kemampuan mereka dapat ditingkatkan, hal tersebut berfungsi sebagai faktor pelindung yang memungkinkan individu untuk secara adaptif mengatasi lingkungan belajar yang sangat kompetitif dan penuh dengan tekanan serta meningkatkan emosi yang sedang dirasakan melalui koping yang positif. Selain itu juga, individu akan mampu secara efektif melewati kesulitan dan hambatan akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, individu dengan growth mindset memiliki prestasi akademik dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik serta lebih mungkin untuk terlibat dalam kegiatan akademik, daripada individu yang berpikir kecerdasannya tetap atau tidak dapat diubah.

Yeager & Dweck, (2012) mengungkapkan bahwa mahasiswa dengan growth mindset cenderung menganggap kehidupan akademik mereka mengenai belajar, bertumbuh, dan berkembang. Sedangkan dalam menafsirkan kemunduran, tantangan, kegagalan merupakan sebuah pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kemampuan, kecerdasan, serta pengalaman diri. Sedangkan mahasiswa dengan fixed mindset ketika menghadapi kegagalan akademik dalam konteks kompetitif dapat menyebabkan mereka merasa tidak berdaya dan berpikir bahwa tidak memiliki cukup kemampuan untuk berhasil.

(22)

14

Terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan peneliti selanjutnya yakni memperluas kriteria responden seperti karakteristik pendidik, status pernikahan, status ekonomi dan melakukan pengelompokan usia, jenis kelamin, kriteria tempat tinggal serta latar belakang budaya responden. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat mengkaji kembali kedua variabel ini secara lebih mendalam, seperti mengembangkan intervensi atau merancang pelatihan untuk meningkatkan growth mindset dan keterlibatan akademik pada mahasiswa. Terakhir penelitian berikutnya juga dapat menambahkan variabel lain yang lebih bervariasi selain growth mindset sehingga dapat dilakukan perbandingan antar variabel dan menggunakan instrumen penelitian yang sesuai dengan kondisi atau keadaan yang sedang terjadi dilapangan.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

Dari penelitian yang telah dilakukan kepada 204 responden diketahui bahwa hipotesis penelitian ini diterima karena nilai beta (β) sebesar 0,622 dengan nilai signifikansi 0,000 (p <

0,05) dengan arah pengaruh yang positif. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi skor growth mindset, maka akan ada pengaruh peningkatan juga terhadap skor keterlibatan akademik pada mahasiswa. Secara statistik besarnya pengaruh growth mindset terhadap keterlibatan akademik pada mahasiswa sebesar 38,7%.

Implikasi dari penelitian ini adalah mahasiswa, orang tua, pendidik, pimpinan institusi dan pengambil keputusan harus memperkuat pembentukan dan lebih menghargai nilai growth mindset serta tidak hanya fokus pada prestasi akademik saja, tetapi juga memperhatikan pengaruh faktor non-intelijen lain yang dapat mempengaruhi hasil akademik dalam jangka panjang.

(23)

15 REFERENSI

Bernecker, K., & Job, V. (2019). Mindset Theory. Social Psychology in Action.

https://doi.org/10.1007/978-3-030-13788-5

Bond, L., Butler, H., Thomas, L., Carlin, J., Glover, S., Bowes, G., & Patton, G. (2007).

Social and School Connectedness in Early Secondary School as Predictors of Late Teenage Substance Use, Mental Health, and Academic Outcomes. Journal of Adolescent Health, 40(4), 357.e9-357.e18. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2006.10.013

Center for Community College Student Engagement. 2019. “A Mind at Work: Maximizing the Relationship between Mindset and Student Success.” The University of Texas at Austin, College of Education, Department of Educational Leadership and Policy, Program in Higher Education Leadership, Austin, TX.

Chen, S., Ding, Y., & Liu, X. (2021). Development of the growth mindset scale: evidence of structural validity, measurement model, direct and indirect effects in Chinese samples.

Current Psychology. https://doi.org/10.1007/s12144-021-01532-x

Claro, S., Paunesku, D., & Dweck, C. S. (2016). Growth mindset tempers the effects of poverty on academic achievement. Proceedings of the National Academy of Sciences of

the United States of America, 113(31), 8664–8668.

https://doi.org/10.1073/pnas.1608207113

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House.

Fatimah, S., Eva, N., & Farida, I. A. (2021). Flow sebagai prediktor keterlibatan akademik pada mahasiswa: Systematic Review dan Meta-Analysis. In Seminar Nasional Psikologi UM (Vol. 1, No. 1, pp. 394-405)

Finn, J. D. (1993). School Engagement & Students at Risk.

Fredricks, J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59–109.

https://doi.org/10.3102/00346543074001059

Hart, S. R., Stewart, K., & Jimerson, S. R. (2008). The Student Engagement in Schools Questionnaire ( SESQ ) and the Teacher Engagement Report Form-New ( TERF-N ):

Examining the Preliminary Evidence. Contemporary School Psychology, 67–79.

Lin-Siegler, X., Ahn, J. N., Chen, J., Fang, F. F. A., & Luna-Lucero, M. (2016). Even einstein struggled: Effects of learning about great scientists’ struggles on high school students’

motivation to learn science. Journal of Educational Psychology, 108(3), 314–328.

https://doi.org/10.1037/edu0000092

Mosanya, M. (2021). Buffering Academic Stress during the COVID-19 Pandemic Related Social Isolation: Grit and Growth Mindset as Protective Factors against the Impact of Loneliness. International Journal of Applied Positive Psychology, 6(2), 159–174.

https://doi.org/10.1007/s41042-020-00043-7

(24)

16

Sari, I. K. (2018). Keterlibatan siswa di sekolah sebagai variabel moderator pada hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi akademik siswa smp muhammadiyah di kota malang (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang).

Schaufeli, W. B., Martínez, I. M., Pinto, A. M., Salanova, M., & Barker, A. B. (2002).

Burnout and engagement in university students a cross-national study. Journal of Cross- Cultural Psychology, 33(5), 464–481. https://doi.org/10.1177/0022022102033005003 Schmidt, J. A., Shumow, L., & Kackar-Cam, H. Z. (2017). Does Mindset Intervention Predict

Students’ Daily Experience in Classrooms? A Comparison of Seventh and Ninth Graders’ Trajectories. Journal of Youth and Adolescence, 46(3), 582–602.

https://doi.org/10.1007/s10964-016-0489-z

Spitzer, B., & Aronson, J. (2015). Minding and mending the gap: Social psychological interventions to reduce educational disparities. British Journal of Educational Psychology, 85(1), 1–18. https://doi.org/10.1111/bjep.12067

Sugiyono (2017). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Yeager, David S., Hanselman, P., Walton, G. M., Murray, J. S., Crosnoe, R., Muller, C., Tipton, E., Schneider, B., Hulleman, C. S., Hinojosa, C. P., Paunesku, D., Romero, C., Flint, K., Roberts, A., Trott, J., Iachan, R., Buontempo, J., Yang, S. M., Carvalho, C. M.,

… Dweck, C. S. (2019). A national experiment reveals where a growth mindset improves achievement. Nature, 573(7774), 364–369. https://doi.org/10.1038/s41586- 019-1466-y

Yeager, David Scott, & Dweck, C. S. (2012). Mindsets That Promote Resilience: When Students Believe That Personal Characteristics Can Be Developed. Educational Psychologist, 47(4), 302–314. https://doi.org/10.1080/00461520.2012.722805

Zeng, G., Hou, H., Peng, K., & Lundy, T. J. (2016). Effect of Growth Mindset on School Engagement and Psychological Well-Being of Chinese Primary and Middle School Students : The Mediating Role of Resilience. Frontiers in Psychology, 7(November), 1–

8. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2016.01873

Zhao, H., Xiong, J., Zhang, Z., & Qi, C. (2021). Growth Mindset and College Students’

Learning Engagement During the COVID-19 Pandemic: A Serial Mediation Model.

Frontiers in Psychology, 12, 224. https://doi.org/10.3389/FPSYG.2021.621094/BIBTEX

(25)

17 LAMPIRAN Lampiran 1. Skala dan Blueprint Keterlibatan Akademik

The Student Engagement in School Questionnaire

PENGANTAR Dengan Hormat,

Perkenalkan saya M. Arief Firnanda (201810230311076) merupakan Mahasiswa Semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, saat ini sedang melakukan penelitian skripsi. Sehubungan dengan hal tersebut, saya mengharapakan ketersediaan dari Anda untuk membantu memberikan data penelitian dengan cara mengisi skala yang telah saya sediakan.

Skala berisikan kumpulan pernyataan dengan jumlah 33 butir soal, pilihlah pernyataan yang paling sesuai dengan diri anda.

Saya mengharapkan Anda tidak ragu dan jujur dalam memberikan informasi dalam bentuk jawaban atas pernyataan yang disediakan. Sebagai peneliti, saya terikat kode etik psikologi yang menyatakan bahwa saya berkewajiban menjaga kerahasiaan informasi dan data responden serta hanya berhak menggunakan data untuk kepentingan penelitian saja. Sebelum Anda memulai, mohon untuk memeriksa soal terlebih dahulu, dan ketika telah menyelesaikan menjawab agar memeriksa kembali jawaban yang Anda berikan agar tidak ada bagian yang terlewatkan.

Atas ketersediaan Anda dalam membantu kelancaran penelitian ini, kami ucapkan terima kasih. semoga Anda selalu dilimpahi kebaikan dan jangan lupa tetap selalu menjaga kesehatan.

IDENTITAS DIRI Nama/Inisial : Jenis Kelamin :

Usia :

Jurusan :

Semester :

Asal Universitas : PETUNJUK PENGISIAN

• Pada lembar ini terdapat beberapa pernyataan yang harus Anda isi. Kemudian Anda diminta untuk menjawab seluruh pernyataan yang ada dengan jujur dan sebenar- benarnya.

• Pilihlah salah satu jawaban yang benar-benar menggambarkan keadaan diri / mendekati diri Anda kuisioner ini memiliki 4 pilihan sebagai berikut:

STS : Sangat Tidak Sesuai TS : Tidak Sesuai

S : Sesuai

SS : Sangat Sesuai CONTOH PENGISIAN

No. Pernyataan STS TS S SS

1 Saya sangat tertarik dengan proses belajar x

(26)

18 ITEM

No. Pernyataan STS TS S SS

1 Saya sangat tertarik dengan proses belajar

2 Saya berusaha keras untuk melakukan hal yang terbaik di kampus

3 Saya merasa perkuliahan di kampus sangat menarik 4 Saya berusaha semaksimal mungkin di kelas

5 Saya menyukai hal-hal yang saya pelajari di kuliah 6 Saya selalu berpartisipasi dalam kegiatan kelas 7 Saya menikmati belajar hal-hal yang baru di kelas 8 Saya selalu memerhatikan pelajaran di kelas 9 Saya merasa bahwa belajar itu membosankan

10 Ketika di kelas, saya berpura-pura seperti sedang belajar 11 Saya menyukai kampus saya

12 Saya hanya berusaha seperlunya untuk menyelesaikan kuliah 13 Saya bangga menjadi bagian dari kampus

14 Saya sering melamun saat berada di kelas

15 Hampir setiap pagi, saya merasa tidak sabar untuk berkuliah 16 Ketika ada permasalahan yang sulit dipahami, saya akan terus

mempelajarinya hingga memahami 17 Saya senang berada di kampus

18 Ketika ada persoalan yang sulit saat mengerjakan tugas, saya akan terus berusaha mengerjakannya hingga selesai

19 Saya aktif terlibat dalam kegiatan kampus

20 Saya dengan suka rela membantu kegiatan kampus

21 Saya terlibat aktif di dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler di kampus

22 Saat belajar saya, saya mencoba untuk memahami materi lebih baik dengan cara menghubungkannya pada hal-hal yang sudah saya ketahui

23 Saat belajar, sara mempelajari bagaimana sebuah informasi dapat menjadi sesuatu yang berguna dalam kehidupan nyata 24 Saat mempelajari informasi baru, saya mencoba memahami

ide-ide baru dengan penalaran sendiri

25 Saat belajar, saya mencoba menghubungkan materi tersebut dengan pengalaman saya sendiri

26 Saya membuat contoh sendiri agar dapat memahami pentingnya konsep materi yang saya pelajari di kuliah 27 Ketika mempelajari materi untuk perkuliahan, saya mencoba

memahami kesesuaianya dengan hal-hal lain yang sudah saya ketahui

28 Ketika mempelajari materi untuk perkuliahan, saya sering menghubungkannya dengan hal-hal yang sama atau serupa dengan yang diajarkan di kelas-kelas lain

29 Saya mencoba untuk mengetahui persamaaan dan perbedaan hal-hal yang saya pelajari untuk perkuliahan dengan yang sudah saya ketahui sebelumnya

(27)

19

30 Saya mencoba memahami bahwa hal-hal yang saya pelajari di kelas cocok satu sama lain

31 Saya mencoba memasangkan apa yang sudah saya ketahui dengan apa yang sedang saya coba pelajari di kelas

32 Saya mencoba memahami semua topik dan memutuskan apa yang harus saya pelajari dari hal tersebut, bukan sekedar membacanya secara keseluruhan

33 Ketika belajar, saya mencoba menggabungkan beberapa potongan informasi yang berbeda dari tiap pelajaran dengan cara-cara yang baru

BLUEPRINT

No Dimensi Item

Total Favorable Unfavorable

1 Keterlibatan afektif terhadap

minat belajar 1,3,5,7 9 5

2 Keterlibatan afektif terhadap

sekolah 11,13,15,17 - 4

3 Keterlibatan perilaku dalam usaha

dan ketekunan 2,4,6,8,16,18 10,12,14 9

4 Keterlibatan perilaku dalam

aktivitas ekstrakurikuler 19,20,21 - 3

5 Keterlibatan kognitif 22,23,24,25,26,27,

28,29,30,31,32,33 - 12

Total 29 4 33

PANDUAN SKORING

• Untuk item dengan kunci +, jawaban “sangat tidak sesuai” diberi skor 1. “tidak sesuai” diberi skor 2, “sesuai” diberi skor 3, “sangat sesuai” diberi skor 4.

• Untuk item dengan kunci -, jawaban “sangat tidak sesuai” diberi skor 4. “tidak sesuai”

diberi skor 3, “sesuai” diberi skor 2, “sangat sesuai” diberi skor 1.

• Setelah skor diberikan untuk semua item dalam skala, jumlahkan skor item untuk mendapatkan skor skala total pada masing-masing dimensi atau dapat juga langsung dijumlahkan untuk mendapatkan skor keterlibatan akademik.

(28)

20 Lampiran 2. Skala dan Blueprint Growth Mindset

Growth Mindset Scale

PENGANTAR Dengan Hormat,

Perkenalkan saya M. Arief Firnanda (201810230311076) merupakan Mahasiswa Semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, saat ini sedang melakukan penelitian skripsi. Sehubungan dengan hal tersebut, saya mengharapakan ketersediaan dari Anda untuk membantu memberikan data penelitian dengan cara mengisi skala yang telah saya sediakan.

Skala berisikan kumpulan pernyataan dengan jumlah 18 butir soal, pilihlah pernyataan yang paling sesuai dengan diri anda.

Saya mengharapkan Anda tidak ragu dan jujur dalam memberikan informasi dalam bentuk jawaban atas pernyataan yang disediakan. Sebagai peneliti, saya terikat kode etik psikologi yang menyatakan bahwa saya berkewajiban menjaga kerahasiaan informasi dan data responden serta hanya berhak menggunakan data untuk kepentingan penelitian saja. Sebelum Anda memulai, mohon untuk memeriksa soal terlebih dahulu, dan ketika telah menyelesaikan menjawab agar memeriksa kembali jawaban yang Anda berikan agar tidak ada bagian yang terlewatkan.

Atas ketersediaan Anda dalam membantu kelancaran penelitian ini, kami ucapkan terima kasih. semoga Anda selalu dilimpahi kebaikan dan jangan lupa tetap selalu menjaga kesehatan.

IDENTITAS DIRI Nama/Inisial : Jenis Kelamin :

Usia :

Jurusan :

Semester :

Asal Universitas : PETUNJUK PENGISIAN

• Pada lembar ini terdapat beberapa pernyataan yang harus Anda isi. Kemudian Anda diminta untuk menjawab seluruh pernyataan yang ada dengan jujur dan sebenar- benarnya.

• Pilihlah salah satu jawaban yang benar-benar menggambarkan keadaan diri / mendekati diri Anda kuisioner ini memiliki 4 pilihan sebagai berikut:

STS : Sangat Tidak Sesuai TS : Tidak Sesuai

S : Sesuai

SS : Sangat Sesuai CONTOH PENGISIAN

No. Pernyataan STS TS S SS

1 IQ dan bakat dapat ditingkatkan dengan belajar keras

(29)

21 ITEM

No. Pernyataan STS TS S SS

1 Belajar bertujuan untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan, memperluas wawasan, memuaskan rasa ingin tahu, dan meningkatkan kemampuan

2 Tidak peduli seberapa pintar saya, saya dapat meningkatkan IQ saya dengan belajar secara keras dan membuat diri saya lebih pintar

3 Selama saya belajar secara keras dan terus berusaha, saya bisa meningkatkan IQ saya dan membuat diri saya lebih pintar

4 IQ dan bakat dapat ditingkatkan dengan belajar keras

5 Saya ingin terus menerima tantangan untuk meningkatkan diri saya

6 Saya tidak suka tantangan. Sulit bagi saya untuk melampaui level saya saat ini. IQ saya konstan

7 Saya sangat ingin tahu, dan berani mencoba hal-hal baru terus-menerus, serta akan memulai lagi jika saya gagal

8 Saya bersedia untuk menantang kesulitan. Saya tidak takut gagal. Saya tidak peduli dengan pilihan orang lain. Saya akan gigih dalam mencari solusi untuk masalah

9 Ketika menghadapi kesulitan, saya percaya bahwa saya akan mampu bekerja tanpa lelah untuk menyelesaikan dan memecahkan masalah

10 Selama saya gigih, cukup berusaha, dan mencoba segala macam metode, tujuan saya akan tercapai

11 Orang berbakat sering kali berhasil tanpa berusaha

12 Usaha pasti akan membawa hasil positif dan keuntungan tak terduga

13 Jika seseorang mengkritik saya, saya akan menganalisis dan merenungkannya dengan serius

14 Saya bersedia menerima kritik dari orang lain, dan saya akan belajar darinya

15 Kritik orang lain salah dan tidak berguna, serta mereka tidak suka orang lain mengkritik diri mereka sendiri

16 Ketika pasangan saya berhasil, saya akan berpikir, menganalisa kondisi dan alasan kesuksesannya, serta belajar darinya secara aktif

17 Ketika pasangan saya berhasil, saya akan merasa terancam, dan saya akan merasa tidak senang dengan sedikit cemburu 18 Jika saya berhasil, itu terutama akibat dari kerja keras,

mengerahkan potensi, minat dan pencarian diri sendiri, serta saya akan terus mengejar tujuan yang lebih tinggi

BLUEPRINT

No Dimensi Item

Total Favorable Unfavorable

1 Motivasi 1,18 - 2

(30)

22

2 Sikap 2,3,4 - 3

3 Tantangan 5,7,8,9 - 4

4 Kegigihan 10,12 - 2

5 Kesulitan 13,14,16 - 3

6 Pola pikir positif - 6,11,15,17 4

Total 13 5 18

PANDUAN SKORING

• Untuk item dengan kunci +, jawaban “sangat tidak sesuai” diberi skor 1. “tidak sesuai” diberi skor 2, “sesuai” diberi skor 3, “sangat sesuai” diberi skor 4.

• Untuk item dengan kunci -, jawaban “sangat tidak sesuai” diberi skor 4. “tidak sesuai” diberi skor 3, “sesuai” diberi skor 2, “sangat sesuai” diberi skor 1.

• Setelah skor diberikan untuk semua item dalam skala, jumlahkan skor item untuk mendapatkan skor skala total pada masing-masing dimensi atau dapat juga langsung dijumlahkan untuk mendapatkan keterlibatan siswa.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

titik-titik, kadang juga belajar di rumah ibu guru” (Wawancara.. Guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran luring selama pandemi mulai dari kegiatan persiapan pra

Dalam perjalanan penelitian ini, penulis menyadari bahawa keberhasilan penulisan skirpsi ini tidak terlepas dari campur tangan pihak-pihak yang senantiasa memberikan

Dari 41 kasus peresepan antibiotika diperoleh 0 peresepan antibiotika termasuk kategori VI data lengkap, 0 kategori V peresepan antibiotika tanpa indikasi, 14 kategori IVA ada

Dari uraian data pada hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran fisika modern berorientasi kemampuan berpikir dalam penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan

Menimbang, bahwa apabila bukti P-5 tersebut dihubungkan dengan bukti P-4 berupa foto copy Akta Jual Beli Nomor 13/PPAT/TBS/2008 tanggal 15 Agustus 2008 maka

• Kajian Landskap Politik Negeri Selangor 2015 merupakan kajian yang ke-23 dilakukan sejak mengetuai UMcedel dan kini di Institut Darul Ehsan (IDE) melibatkan temubual secara

* Pastikan calon menyebut perkataan pembangunan bidang sukan negara sekurang-kurangnya sekali dalam penulisan. 21 Jenayah indeks dapat dikurangkan dengan meningkatkan

Dalam kimia fisik, mineralogi, dan teknik material, diagram fase adalah sejenis grafik  Dalam kimia fisik, mineralogi, dan teknik material, diagram fase adalah sejenis grafik  yang