PENGARUH IKLIM BELAJAR DI KELAS TERHADAP KEAKTIFAN BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN FIKIH
DI MTS NEGERI 1 POLEWALI MANDAR
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Agama Islam
pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar
Oleh:
NURHUMAIRAH DAINUR NIM: 20100114064
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2022
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bersangkutan di bawah ini:
Nama : Nurhumairah Dainur
NIM : 20100114064
Tempat/Tgl. Lahir : Tinambung, 17 Mei 1996 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan
Alamat : Jl. Salemba No. 21 B Kompleks Cokonuri Makassar Judul : “Pengaruh Iklim Belajar di Kelas Terhadap Keaktifan
Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar”
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat oleh orang lain seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Makassar, 25 Februari 2021 Penyusun,
Nurhumairah Dainur NIM 20100114064
iii
PENGESAHAN SKRIPSI
iv
KATA PENGANTAR
ميحرلا نحمرلا الله مسب
هلا ىلعو دممح نا ديس ينلسرلماو ءايبنلاا فرشا ىلع ملاّسلاو ةلاّصلاو ينلماعلا ّبر لله دملحا ينعجما هباحصاو
Puji dan syukur atas kehadirat Allah swt.yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, serta nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga skripsi yang berjudul “Pengaruh Iklim Belajar di Kelas terhadap Keaktifan Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar”, dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad saw., para sahabatnya, serta orang-orang yang senantiasa berjuang di jalan-Nya.
Penyusunan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Iklim Belajar di Kelas Terhadap Keaktifan Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar”, telah mengalami masa proses yang panjang dalam penyelesaiannya. Dalam masa tersebut, penyusun banyak mendapat bantuan, dukungan, motivasi serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga terutama orang tua tercinta, ayahanda alm. M. Dainur Bahmid dan ibunda Hj. Raehanun yang telah memberikan doa dan dukungan moril kepada penulis agar sukses dalam menggapai cita-cita. Begitu pula penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. H. Hamdan Juhannis M.A., Ph.D., Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Wahyuddin Naro, M.Hum., Wakil Rektor II, Prof. Dr. H. Darussalam Syamsuddin, M.Ag.,
v
Wakil Rektor III, dan Dr. H. Kamaluddin Abu Nawas, M.Ag.,Wakil Rektor IV UIN Alauddin Makassar.
2. Dr. H.A. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Dr. M. Sabir U, M.Ag., Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. M. Rusdi, M.Ag., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Dr. H. Ilyas, M.Pd., M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, beserta seluruh stafnya atas segala pelayanan yang diberikan kepada penyusun.
3. Dr. H. Syamsuri, S.S., M.A. dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I., Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam, karena izin, pelayanan, kesempatan, fasilitas, dukungan dan motivasi yang diberikan kepada penyusun sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
4. Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I. selaku Pembimbing I, dan Dr. Abudzar Al-Qifari, S.Pd.I., M.Pd.I. selaku Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, kritikan, dan saran yang berarti bagi perampungan skripsi ini.
5. Drs. Mappasiara, M.Pd.I. Dosen Punguji I, dan, Muhammad Iqbal, S.H.I., M.H.I., Dosen Penguji II, yang telah menguji penelitian ini.
6. Bapak dan ibu dosen Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang telah mendidik dan membimbing selama proses perkuliahan.
7. Kepala Sekolah MTs Negeri 1 Polewali Mandar beserta guru-guru, peserta didik, dan staf yang telah mengizinkan untuk meneliti di sekolah ini dan membantu penulis dalam memberikan data-data tentang topik penelitian.
8. Saudara-saudaraku Nurma’rifah Dainur, Nurfauziah Dainur, Ayu Nurmawaddah Dainur, Nurul Mujahidah Dainur, Ashhabul Kahfi Dainur, Najiba Akhiriah Dainur, serta ipar-iparku Muhammad Rusdi Alimuddin, Zulkifli Siddiq, Muhammad Syahran yang selalu memberikan motivasi
vi
kepada penulis selama menempuh pendidikan dan ponakan-ponakan lucu Muhammad Athallah Zahdan, Muhammad Athallah Zidane, Riani Tabina Maritza yang selalu menghibur.
9. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih juga kepada sahabat-sahabat atas segala kebaikan dan kebersamaan Miftahul Jannah, Ida Mawadda Rasyid, Fatmawati, Nur Intan Purnamasari, dan Musmuliadi.
10. Seluruh kawan-kawan seperjuangan PAI 3-4 angkatan 2014, yang setia menemani penulis dalam setiap aktivitas juga kepada seluruh teman-teman PAI angkatan 2014.
11. Semua pihak, kakak-kakak, teman-teman, adik-adik, dan semua yang mengenal penulis yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu. penulis ucapkan terima kasih banyak.
Sekali lagi, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan yang namanya tidak sempat disebutkan di sini. Kepada Allah jualah penulis bermohon agar semua yang terlibat dalam proses ini diberikan pahala yang berlipat ganda dan semoga segala bantuan yang diberikan itu dicatat sebagai ibadah di sisi-Nya.
Akhirnya semoga skripsi ini memberi manfaat bagi penulis dan semua pembaca.
Amin ya Rabb al-Alamin.
Makassar, 25 Februari 2022 Penulis,
Nurhumairah Dainur NIM 20100114064
vii DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
ABSTRAK ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1-10 A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Hipotesis Penelitian ... 5
D. Definisi Operasional Variabel ... 5
E. Kajian Pustaka ... 6
F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 11-28 A. Iklim Belajar di Kelas ... 11
B. Keaktifan Belajar ... 23
C. Pembelajaran Fikih ... 24
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 28-38 A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 28
B. Populasi dan Sampel... 29
C. Metode Pengumpulan Data ... 31
D. Instrumen Penelitian ... 32
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38-55 A. Hasil Penelitian ... 38
B. Pembahasan ... 51
BAB V PENUTUP ... 55-57 A. Kesimpulan ... 55
B. Implikasi ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 57
RIWAYAT HIDUP ... 79
viii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN A. Transliterasi Arab-Latin
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Konsonan
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
ا Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan
ب Ba b Be
ت Ta t Te
ث s\a ṡ es (dengan titik di atas)
ج Jim j Je
ح h}a ḥ ha (dengan titik di bawah)
خ Kha kh ka dan ha
د Dal d De
ذ z\al ż zet (dengan titik di atas)
ر Ra r Er
ز Zai z Zet
س Sin s Es
ش Syin sy es dan ye
ص s}ad ṣ es (dengan titik di bawah)
ض d{ad ḍ de (dengan titik di bawah)
ط t}a ṭ te (dengan titik di bawah)
ظ z}a ẓ zet (dengan titik di bawah)
ع ‘ain ‘ apostrof terbalik
غ Gain g Ge
ف Fa f Ef
ق Qaf q Qi
ك Kaf k Ka
ل Lam l El
م Mim m Em
ن Nun n En
و Wau w We
ه Ha h Ha
ء hamzah ’ Apostrof
ي Ya y Ye
ix 2. Vokal
Vokal bahasa arab seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong atau vokal rangkap atau diftong.
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ا fath}ah a A
ا Kasrah i I
ا d}ammah u U
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ىَى fath}ah dan ya>’ ai a dan i
وَ ى fath}ah dan wau au a dan u
Contoh: - فْي ك= kaifa - لْو ه= haula 3. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ى ... ا ... fath}ah dan alif atau
ya>’ ā a dan garis di atas
ى kasrah dan ya>’ ī i dan garis di atas و d}ammah dan wau ū u dan garis di atas
Contoh: - تْو يَ , لْي ق ,ى م ر , تا م 4. Ta’marbutah
Transliterasi untuk ta’marbutah ada dua yaitu: ta’marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah dan dammah, transliterasinya adalah [t].
Sedangkan ta’marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].
Kalau pada kata yang berakhir dengan ta’marbutah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta’marbutah itu ditransliterasikan denga ha (h).
Contoh:
لا فط لأاة ضو ر = rauḍah al-aṭfā
x 5. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid () ّ , dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh:
انّبر = rabbanā لّزن = nazzala 6. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf لا(alif lam ma’rifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika diikuti oleh huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar.
Contoh: .ةلزلزْلا , سْمَّشلا 7. Hamzah
Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (’) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Namun bila hamzah terletak di awal kata, tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa tulisan alif.
Contoh: ترمأ ,نورمتأ
8. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasikan adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau yang sering ditulis dalam bahasa Indonesia atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas.
Misalnya kata al-Qur’an (dari kata al-Qur’ān), Alhamdulillah, dan munaqasyah.
9. Lafz al-Jalalah (هالل)
Kata “Allah” yang didahului partikel seperti huruf jarr dan lainnya atau berkedudukan sebagai mudaf ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.
10. Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf
xi
kapital, misalnya digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri dan huruf pertama pada penulisan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al- , baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR). Contoh:
Wa ma> Muh}ammadun illa> rasu>l
Inna awwala baitin wud}i‘alinna>si lallaz\i> bi Bakkata muba>rakan Syahru Ramad}a>n al-laz\i> unzila fi>h al-Qur’a>n
Nas}i>r al-Di>n al-T{u>si>
Abu> Nas}r al-Fara>bi>
Al-Gaza>li>
Al-Munqiz\ min al-D}ala>l
Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibn (anak dari) dan Abu>
(bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi. Contoh:
B. Daftar Singkatan
Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:
swt. = subh}a>nahu> wa ta’a>la>
saw. = s}allalla>hu ‘alaihi wa sallam a.s. =‘alaihi al-sala>m
H = Hijriah
M = Masehi
SM = Sebelum Masehi
l. = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja)
w. = Wafat tahun
QS .../...: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau QS A>li ‘Imran/3: 4
HR = Hadis Riwayat
Abu> al-Wali>d Muh}ammad Ibn Rusyd, ditulis menjadi: Ibn Rusyd, Abu> al-Wali>d Muh}ammad (bukan: Rusyd, Abu> al-Wali>d Muh}ammad Ibn)
Nas}r H{a>mid Abu> Zaid, ditulis menjadi: Abu> Zaid, Nas}r H{a>mid (bukan: Zaid, Nas}r H{ami>d Abu>)
xii ABSTRAK
Nama : Nurhumairah Dainur
NIM : 20100114064
Jurusan/Fakultas : Pendidikan Agama Islam/Tarbiyah dan Keguruan Judul Skripsi : Pengaruh Iklim Belajar di Kelas terhadap Keaktifan
Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui bagaimana iklim belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar. 2) mengetahui bagaimana gambaran keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar. 3) mengetahui apakah terdapat pengaruh iklim belajar terhadap keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar.
Jenis penelitian ini adalah ex-post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik yang berjumlah 276 orang. Sedangkan sampel yaitu berjumlah 65 peserta didik. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan pedoman observasi dan angket.
Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan analisis statistik deksriptif dan analisis statistik inferensial dengan bantuan aplikasi SPSS.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif data peserta didik yang telah dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi tentang iklim belajar peserta didik pada mata pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar diperoleh nilai rata- rata sebesar 74% berada pada kategori sedang. Hasil analisis deskriptif data peserta didik yang telah dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi tentang keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar diperoleh nilai rata-rata sebesar 83% berada pada kategori sedang. Hasil analisis tersebut diperoleh untuk t (0,025: 65) = 1,66 karena = 6,472 > 1,66. Nilai signifikansi < 0,05 (0,000 < 0,05), maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa iklim belajar berpengaruh secara signifikan terhadap keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar.
Suasana kelas yang kondusif ditandai dengan keaktifan peserta didik saat proses belajar mengajar berlangsung dan ketika peserta didik tidak atau kurang aktif saat proses pembelajaran maka akan berpengaruh pada prestasi belajar peserta didik.
Iklim kelas yang dirasakan aman dan nyaman oleh peserta didik akan mendukung peserta didik dalam proses belajar, namun iklim yang terbentuk dalam kelas juga bisa dirasakan mengancam oleh peserta didik dan berakibat pada kurangnya keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Implikasi dari penelitian ini yaitu, skripsi ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam menambah keluasan materi skripsi yang berkaitan dengan iklim belajar di kelas terhadap keaktifan belajar peserta didik.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan. Hal ini harus disadari oleh para guru khususnya guru pendidikan agama. Dalam tugasnya sehari- hari, seorang guru pendidikan agama harus dapat memahami benar tujuan akhir dari pendidikan yang diberikan kepada peserta didik adalah agar peserta didik terampil menyimak, memahami dan mengetahui pentingnya pendidikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Undang-undang RI tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, pada Bab II, Pasal 3 menjelaskan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Beragam faktor ikut serta dalam upaya perbaikan mutu pendidikan. Guru memegang peranan sangat penting dalam perubahan pendidikan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Karena guru berada pada garis depan yang berperan sebagai roda penggerak perubahan pendidikan. Tidak hanya itu, guru juga berperan sangat penting dalam pembentukan keagamaan peserta didik, maka dari itu seorang guru haruslah mengetahui tugasnya dalam proses belajar mengajar.
Tercapainya tujuan pendidikan di sekolah membutuhkan iklim belajar yang kondusif dan kreativitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sebagai bagian dari sistem pendidikan di sekolah. Sekolah sebagai suatu organisasi dan
1Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional (Cet. IV; Jakarta:
Sinar Grafika, 2011), h. 6.
lembaga pendidikan yang komponennya terdiri dari peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, membutuhkan suasana yang kondusif sebagai suatu konsensus bersama yang harus diterapkan, dalam rangka mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan di sekolah. Demikian pula peserta didik membutuhkan suasana belajar yang kondusif yang mencerminkan hubungan positif di antara semua elemen sekolah. Belajar merupakan tindakan dan perilaku yang kompleks.2
Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, peserta didik dan guru. Dari segi peserta didik belajar dialami sebagai suatu proses, yakni proses mental dalam menghadapi materi pelajaran yang berupa keadaan, hewan, tumbuhan, manusia dan bahan yang telah terhimpun dalam buku pelajaran. Dari segi guru proses belajar tampak sebagai pelaku belajar tentang sesuatu hal yang dapat mengatur cara pembelajaran yang sesuai dengan fase-fase belajar.
Iklim belajar dapat diartikan sebagai gejala fisik dan psikologis baik personal maupun sosial di sekolah yang membawa pengaruh bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Iklim belajar dapat di ukur melalui persepsi peserta didik terhadap suasana sekolah karena mereka subjek yang benar-benar mengalami dan merasakan suasana sekolah itu dalam waktu yang relatif lama.3
Oleh karena itu iklim belajar yang kurang kondusif dapat memengaruhi kreativitas belajar peserta didik. Dengan terjadinya proses pembelajaran yang kondusif dan suasana belajar yang nyaman sehingga timbul pikiran baru bahwa pembelajaran harus memperhatikan gaya belajar atau learning style yaitu cara peserta didik bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang yang diterimanya dalam proses pembelajaran.
2Ahmad Syafi’i. dkk, “Studi tentang Prestasi Belajar Peserta didik dalam Berbagai Aspek dan Faktor yang Mempengaruhi” Jurnal(Jurnal Komunikasi Pendidikan, Surabaya: UIN Sunan Giri, No. 2/Vol. 2 Juli 2018) , h. 58.
3Hadiyanto, Teori dan Pengembangan Iklim Kelas dan Iklim Sekolah, (Jakarta: Kencana, 2016), h. 2.
3
Iklim kelas adalah suatu kultur yang mempengaruhi suatu proses pembelajaran. Aspek-aspek iklim kelas meliputi suasana hubungan antara personalia di kelas, hubungan guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan orang lain. Melalui iklim kelas yang kondusif, hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, dan suasana lingkungan belajar yang menyenangkan itulah yang dapat mencapai keberhasilan belajar.4
Seorang guru dalam menyampaikan materi perlu memilih metode mana yang sesuai dengan keadaan kelas atau peserta didik sehingga peserta didik merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Hampir semua usaha reformasi di bidang pendidikan seperti penerapan kurikulum dan penerapan metode pengajaran baru pada akhirnya tergantung pada guru, tanpa guru usaha mendorong peserta didik untuk mencapai prestasi belajar yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Guru berperan dalam penyampaian materi dan pengelolaan kelas atau menciptakan iklim kelas yang kondusif bagi peserta didik, guru juga bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran peserta didik di sekolah.5
Keaktifan belajar dipengaruhi oleh peran guru di sekolah. Selain peserta didik, unsur terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru. Guru sebagai pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, moral maupun sosial dan untuk menjalankan peran tersebut seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas yang nantinya akan diajarkan kepada peserta didik. Seorang guru harus mampu menciptakan iklim kelas yang baik bagi peserta didik.
4Dewi Permata Sari, Rusmin dan Deskon, “Pengaruh iklim Kelas terhadap Motivasi
Belajar Peserta Didik di SMAN 3 Tanjung Raja”, (No.1/ Vol 5, 1 Mei 2018).
5Aris Shoimin, Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013 (Cet. I; Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2014), h. 203.
Keaktifan belajar peserta didik merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berpikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Dalam proses belajar mengajar, guru tidak akan mampu menghasilkan proses pembelajaran yang baik apabila tidak didukung oleh keaktifan peserta didik dalam proses belajar. Apabila dalam proses belajar mengajar tidak didukung oleh keaktifan belajar peserta didik, maka dampak yang akan dihasilkan adalah kegagalan dalam pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam proses pembelajaran adalah dengan menerapkan iklim belajar yang baik.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa peserta didik di MTs Negeri 1 Polewali Mandar pada tanggal 15 Maret 2021 mengemukakan bahwa iklim belajar cukup baik, ini dibuktikan dengan adanya antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Peserta didik cukup aktif dalam mengajukan pertanyaan- pertanyaan tentang pelajaran yang kurang dipahami, serta adanya semangat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan adanya suatu kajian tertulis dan inovasi untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran pendidikan agama Islam. Menyadari sangat kompleksnya pendidikan agama Islam terutama di MTs Negeri 1 Polewali Mandar maka pelaksanaan pembelajaran fikih baru dianggap berhasil jika didukung oleh faktor yang berkaitan dengannya seperti faktor lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat), yang sangat berhubungan kepada iklim belajar yang kondusif.
5
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa terpanggil berperan aktif dalam meneliti tentang “Pengaruh Iklim Belajar di Kelas terhadap Keaktifan Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dan penjelasan tentang latar belakang pemikiran tersebut di atas, maka sebagai penulis akan merumuskan beberapa permasalahan pokok sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran iklim belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar?
2. Bagaimana gambaran keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar?
3. Apakah terdapat pengaruh iklim belajar terhadap keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar?
C. Hipotesis Penelitian
Menurut Muhammad Arif Tiro hipotesis adalah pernyataan yang diterima sementara dan masih perlu di uji.6 Adapun Hipotesis dari penelitian ini yaitu ada pengaruh iklim belajar di kelas terhadap keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar.
D. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang variabel-variabel yang berkaitan dengan penelitian. Untuk menghindari terjadinya penafsiran keliru dari pembaca dan agar lebih
6Muhammad Arif Tiro, Dasar-dasar Statistika, (Cet. III; Makassar: State University Of Makassar, 2008), h. 220.
memudahkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam penelitian ini.
peneliti menggunakan dua variabel yaitu:
1. Variabel Independen (bebas)
Iklim belajar kelas adalah kondisi, pengaruh, dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial, dan intelektual yang mempengaruhi peserta didik.
Iklim belajar kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antara peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan memengaruhi proses belajar mengajar.
2. Variabel Dependen (terikat)
Keaktifan belajar adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan peserta didik secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
E. Kajian Pustaka
Penelusuran pada berbagai sumber dalam banyak literatur, jurnal, hasil studi dan penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa variabel yang diteliti telah mendapat perhatian oleh banyak kalangan. Beberapa di antaranya dikemukakan relevansinya dengan penelitian ini yaitu sebagai berikut:
Penelitian yang dilakukan oleh Ria Husna tentang “Pengaruh Iklim Kelas dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta didik pada Pelajaran Ekonomi pada SMA”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis data terdapat pengaruh iklim kelas dan minat belajar terhadap hasil belajar, besarnya pengaruh tersebut sebesar 15,3 %. Tingkat iklim kelas peserta didik kelas XI IPS SMA Muhammadiyah 1 Pontianak dalam kondisi baik dengan persentase 55 %
7
sedangkan tingkat minat belajar peserta didik kelas XI IPS SMA muhammadiyah 1 pontianak dalam kondisi tinggi dengan persentase sebesar 51%.7
Penelitian yang dilakukan oleh Juliyana Ratnasari tentang “Pengaruh Iklim Kelas dan Lingkungan Keluarga terhadap Motivasi Belajar Peserta didik Kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran pada Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Administrasi Perkantoran di SMKN PGRI 2 Salatiga”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis regresi linear berganda diperoleh persamaan:
Y=0,655 + 0,552X1 + 0,468X2. Uji F diperoleh Fhitung= 12,601, sehingga H3 diterima. Secara parsial (uji t) variabel iklim kelas (X1) diperoleh t hitung = 3,718, sehingga H1 diterima. Variabel lingkungan keluarga (X2) diperoleh t hitung=
2,133, sehingga H2 diterima. Secara simultan (R2) iklim kelas dan lingkungan keluarga berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik sebesar 19,8%.
Besarnya kontrubusi secara parsial (r2) yang diberikan variabel iklim kelas terhadap motivasi belajar sebesar 13,03%, sedangakan variabel lingkungan keluarga terhadap motivasi belajar sebesar 4,70%.8
Penelitian yang dilakukan oleh Rofiatul Jannah tentang “Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Hasil Belajar Peserta didik Kelas XI Akuntansi”. Hasil analisis data menunjukkan bahwa iklim sekolah masuk dalam kategori baik yaitu 72,88%.
Untuk hasil belajar pada mata pelajaran sistem akuntansi juga termasuk dalam kategori baik yang dapat di lihat dari nilai rata-rata rapor peserta didik kelas XI AK semester ganjil sebesar 77,44. Sedangkan dari hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pengaruh iklim sekolah terhadap hasil belajar peserta didik pada mata
7Ria Husna, “Pengaruh iklim Kelas dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta didik pada Pelajaran Ekonomi pada SMA”, Skripsi (Pontianak: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak, 2013).
8Juliyana Ratnasari, “Pengaruh Iklim Kelas dan Lingkungan Keluarga terhadap Motivasi Belajar Peserta didik Kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran pada Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Administrasi Perkantoran di Smk Pgri 2 Salatiga” Skripsi (Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, 2014).
pelajaran sistem akuntansi sebesar 33,2%, sedangkan sisanya sebesar 66,8% di pengaruhi oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.9
Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Azis, Nuraini Asriati, Warneri tentang “Pengaruh Iklim Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta didik Kelas XI Akuntansi Di Smkn 3 Pontianak”. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dan hasil yang telah diperoleh, maka secara umum peneliti dapat menyimpulkan hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Iklim Belajar di SMK Negeri 3 Pontianak, untuk iklim belajar termasuk dalam kategori baik yang dapat dilihat dari hasil penelitian iklim belajar yaitu 72,88% atau 43 dari 59 responden yang memilih jawaban dalam kategori baik. (2) Hasil belajar peserta didik kelas XI AK pada materi sistem akuntansi di SMK Negeri 3 Pontianak,untuk hasil belajar (variabel Y) peserta didik kelas XI AK pada materi sistem akuntansi di SMK Negeri 3 Pontianak termasuk dalam katagori baik. (3) Besarnya pengaruh iklim belajar (X) terhadap hasil belajar peserta didik (Y) kelas XI AK pada mata pelajaran sistem akuntansi di SMK Negeri 3 Pontianak sebesar 33,2% dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,425 dan tingkat interpretasi hubungan sedang.10
Penelitian yang dilakukan oleh Oskar Gandra tentang “Pengaruh Iklim Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VIII A Mata Pelajaran IPS Terpadu Di SMP Negeri 2 Noyan Kabupaten Sanggau”. Hasil penelitian bahwa penciptaan iklim belajar yang kondusif terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII A SMP Negeri 2 Noyam Kabupaten Sanggau berjalan baik.
Penciptaan iklim kelas yang kondusif dalam penelitian ini adalah layanan belajar
9Rofiatul Jannah “Pengaruh Iklim Sekolah Terhadap Hasil Belajar Peserta didik Kelas XI Akuntansi”. Skripsi (Pontianak: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak, 2015).
10Abdul Azis, Nuraini Asriati, Warneri “Pengaruh Iklim Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta didik Kelas XI Akuntansi Di SMKN 3 Pontianak” Jurnal (Pontianak: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak, 2019).
9
yang dilakukan guru IPS Terpadu kelas VIII A SMP Negerti 2 Noyan Kabupaten Sanggau kepada siswa, seperti: pengembangan layanan belajar, pengelolaan siswa, dan pengelolaan fisik. Besarnya pengaruh antara penciptaan iklim kelas yang kondusif dan hasil belajar siswa diperoleh sebesar 0,219 atau 21,9%, sedangkan sisanya sebesar 0,781 atau 78,1% dipengaruhi atau disebabkan oleh factor-faktor yang tidak diteliti.
F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitpian
Pada prinsipnya tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan di atas. Secara operasional tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui bagaimana iklim belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar.
b. Untuk mengetahui agaimana gambaran keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar.
c. Untuk mengetahui pakah terdapat pengaruh iklim belajar terhadap keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih di MTs Negeri 1 Polewali Mandar.
2. Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini:
a. Kegunaan ilmiah, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi proses pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam.
b. Kegunaan praktis 1) Guru
Sebagai bahan masukan bagi guru dalam proses pengembangan pembelajaran agama Islam di sekolah.
2) Peserta didik
Sebagai pengembangan wawasan, pengetahuan, meningkatkan kemampuan menganalisis dan membentuk kepercayaan diri.
3) Peneliti selanjutnya
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak-pihak yang ingin mengambil manfaat pada karya tulis ilmiah ini.
11 BAB II
TINJAUAN TEORETIS
A. Iklim Belajar di Kelas
Iklim kelas adalah kondisi tempat dimana peserta didik dan guru berinteraksi satu sama lain dengan menggunakan beberapa sumber informasi dalam usaha pencarian ilmu dalam aktifitas belajar.1 Ada beberapa istilah yang digunakan secara bergantian dengan kata climate, yang diterjemahkan dengan iklim, seperti feel, atmosphere, tone, dan environment. Dalam konteks ini, istilah iklim kelas digunakan untuk mewakili kata-kata tersebut di atas dan kata-kata lain seperti learning environment, group climate dan classroom environment.
Iklim kelas adalah suatu kultur yang memengaruhi suatu proses pembelajaran. Aspek-aspek iklim kelas meliputi suasana hubungan antara personalia di kelas, hubungan guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan orang lain. Melalui iklim kelas yang kondusif, hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, dan suasana lingkungan belajar yang menyenangkan itulah yang dapat mencapai keberhasilan belajar.
Iklim kelas menurut Bloom menyatakan bahwa iklim kelas adalah kondisi, pengaruh, dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial dan intelektual yang mempengaruhi peserta didik. Sedangkan menurut Moos mengatakan iklim kelas menggambarkan fitur utama dari atmosfer, etos atau lingkungan pembelajaran, dimana peserta didik memperoleh (atau tidak memperoleh) pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dianggap relevan dengan
1Ichwani Siti Utami dan Ratna Atiah, “Pengaruh Iklim Kelasterhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas VIII pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Pamulang: Universitas Pamulang, No. 1/Vol. 4 Jauari 2017.
pendidikan dan perkembangan sosial. Sedangkan menurut Tarmidi menyatakan bahwa iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antara peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses belajar mengajar.2
Iklim kelas merupakan bagian dari sekolah atau institusi yang dapat memengaruhi minat belajar. Terciptanya suasana belajar yang kondusif dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Iklim kelas merupakan kualitas lingkungan kelas yang terus menerus dialami oleh guru yang memengaruhi tingkah laku peserta didik dalam menciptakan proses pembelajaran yang kondusif.
Menurut Stockard dan Mayberry (dikutip oleh Pita Arianti) bahwa iklim sekolah, moral yang tinggi, perlakuan terhadap peserta didik yang positif, penyertaan aktifitas peserta didik yang tinggi dan hubungan sosial yang positif ternyata memiliki korelasi yang kuat dengan hasil-hasil akademik peserta didik.3 Iklim kelas yang tidak kondusif akan berdampak negatif terhadap proses pembelajaran dan sulitnya tercapai tujuan pembelajaran, peserta didik akan merasa gelisah, resah, bosan dan jenuh. Sebaliknya dengan iklim kelas yang kondusif dan menarik dapat dengan mudah mencapai tujuan pembelajaran, dan proses pembelajaran yang dilakukan menyenangkan bagi peserta didik.
Iklim kelas adalah suasana dan kondisi kelas dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. Iklim kelas merupakan suasana yang ditandai oleh adanya pola interaksi atau komunikasi antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan peserta didik. Tugas guru yang paling utama
2Itto Noesyia Nasution dan Auliya Syaf, “Hubungan iklim kelas terhadap Motivasi belajar peserta didik SMK Abdurrab”, Psychopolytan (Jurnal Psikologi), Vol 1, No 2, Februari 2018, 102.
3Pita Arianti, Pengaruh iklim kelas terhadap motivasi belajar mahapeserta didik (survey pada maha peserta didik jurusan administrasi pendidikan FIP UPI), Repository.upi.edu, 2014, 3
13
adalah mengkondisikan lingkungan belajar mengajar agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.4
Kelas adalah lingkungan sosial bagi peserta didik, dimana di dalam kelas terjadi proses interaksi baik peserta didik dengan peserta didik maupun peserta didik dengan guru. Didalam kelas juga terjadi kontak secara fisik dimana peserta didik pun akan berhubungan dengan segala fasilitas yang ada di dalam kelas. Oleh karena itu kelas harus di desain sedemikian oleh guru sehingga kelas merupakan lingkungan yang menyenangkan bagi peserta didik dalam tugas dan peranannya di dalam kelas sebagai peserta didik dan tugas serta peranannya dalam perkembangan fisik maupun emosionalnya.5
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu proses interaksi belajar antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid lainnya. Berhasil tidaknya suatu interaksi proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari guru sendiri, peserta didik, fasilitas penunjang maupun suasana interaksi pembelajaran tersebut. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa iklim kelas merupakan suasana pembelajaran yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik di dalam kelas yang mempengaruhi proses belajar mengajar Pada iklim kelas yang positif, peserta didik akan merasa nyaman ketika memasuki ruang kelas, mereka mengetahui bahwa akan ada yang memperdulikan dan menghargai mereka, dan mereka percaya bahwa akan mempelajari sesuatu yang berharga. Namun sebaliknya, pada iklim kelas negatif, peserta didik akan
4Ria Husna, “Pengaruh iklim Kelas dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta didik pada Pelajaran Ekonomi pada SMA”, h. 58.
5Ade Rukamana dan Suryana, Pengelolaan Kelas (Bandung: UPI Press, 2006), h. 73.
merasa takut apabila berada didalam kelas dan ragu apakah mereka akan mendapat pengalaman yang berharga.6
Iklim dapat didefinisikan sebagai kondisi, pengaruh, dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial, dan intelektual yang memengaruhi peserta didik. Iklim kelas adalah organisasi sosial informal dan aktifitas guru kelas yang secara spontan memengaruhi tingkah laku. Iklim merupakan kualitas dari lingkungan (kelas) yang terus menerus dialami oleh guru-guru, memengaruhi tingkah laku, dan berdasar pada persepsi kolektif tingkah laku mereka.7 Artinya, masing- masing kelas mempunyai ciri (kepribadian) yang tidak sama dengan kelas- kelas yang lain, meskipun kelas itu dibangun dengan fisik dan bentuk atau arsitektur yang sama.
Selain itu iklim kelas seperti halnya manusia, ada yang sangat berorientasi pada tugas, demokratis, formal, terbuka, atau tertutup. Dengan berdasar pada beberapa pengertian iklim dan iklim kelas di atas, maka dapat dipahami bahwa iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan memengaruhi proses pembelajaran.
Situasi di sini dapat dipahami sebagai beberapa skala (scales) yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan istilah seperti kekompakan (cohesiveness), kepuasan (satisfaction), kecepatan (speed), formalitas (formality), kesulitan (difficulty), dan demokrasi (democracy) dari kelas.
6Dewi Permata Sari, Rusmin dan Deskon, “Pengaruh iklim Kelas Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Di SMAN 3 Tanjung Raja” , No.1/ Vol 5, 1 Mei 2018.
7Hadiyanto, Teori dan Pengembangan Iklim Kelas dan Iklim Sekolah, (Jakarta: Kencana, 2016) h. 2.
15
1. Iklim Kelas Peserta Didik yang Kondusif
Seorang peserta didik melakukan atau tidak melakukan sesuatu bisa saja dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia berada atau belajar. Seorang peserta didik bisa terlatih mengemukakan pendapat kepada orang lain dengan baik, mungkin gurunya memotivasi untuk melakukan itu. Demikian juga sebaliknya, dia tidak bisa atau tidak pernah mengemukakan dengan baik karena gurunya tidak pernah memberikan kesempatan kepada peserta didiknya.8
Tinjauan tentang iklim kelas terbagi dalam beberapa suasana. Nasution menyatakan bahwa ada tiga jenis suasana yang dihadapi peserta didik dalam proses pembelajaran di sekolah berdasarkan sikap guru terhadap anak dalam mengajarkan materi pelajaran.9
a. Suasana kelas dengan sikap guru yang otoriter
Suasana dengan sikap guru yang otoriter, terjadi apabila guru menggunakan kekuatannya untuk mencapai tujuan tanpa lebih jauh mempertimbangkan akibat bagi anak, khususnya perkembangan pribadinya. Dengan hukuman dan ancaman anak dipaksa untuk menguasai bahan pelajaran yang dianggap perlu untuk ujian dan masa depan.
b. Suasana kelas dengan sikap guru yang permisif
Suasana dengan sikap guru yang permisif ditandai dengan membiarkan anak berkembang dalam kebebasan tanpa banyak tekanan frustasi, larangan, perintah atau paksaan. Pelajaran selalu dibuat menyenangkan. Guru tidak menonjolkan dirinya dan berada dibelakang untuk memberi bantuan bila dibutuhkan. Sikap ini menguatamakan perkembangan pribadi anak khususnya dalam aspek emosional,
8Hadiyanto, Teori dan Pengembangan Iklim Kelas dan Iklim Sekolah, h. 15
9Novan Ardy Wiyani, Manajemen Kelas (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2013), h. 187.
agar anak bebas dari kegoncangan jiwa dan menjadi anak yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
c. Suasana kelas dengan sikap guru yang riil
Suasana kelas dengan sikap guru yang riil ditandai dengan adanya kebebasan anak disertai dengan pengendalian. Anak-anak diberi kesempatan yang cukup untuk bermain bebas tanpa diawasi atau diatur dengan ketat. Dilain pihak anak diberi tugas sesuai petunjuk dan pengawasan guru.10
Ciri-ciri kelas yang memiliki iklim yang baik menurut Moedjiarto adalah sebagai berikut:11
a. Suasana pembelajaran dikelas tenang, jauh dari kegaduhan dan kekacauan.
b. Adanya hubungan yang akrab, penuh pengertian, dan rasa kekeluargaan antara civitas sekolah.
c. Di sekolah tampak adanya sikap mendahulukan kepentingan sekolah dan kepentingan banyak, sedangkan kepentingan pribadi mendapatkan tempat yang paling belakang.
d. Semua kegiatan sekolah diatur dengan tertib, dilaksanakan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan merata.
e. Peserta didik mendapat perlakuan adil, tidak dibeda-bedakan antara yang miskin dan kaya, pandai dan lamban berpikir, semuanya mendapat kesempatan yang sama untuk berprestasi sebaik-baiknya.
f. Di dalam kelas dapat dilihat adanya aktivitas belajar mengajar yang tinggi.
g. Peserta didik aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran yang kurang di pahami, sedangkan guru dengan senang hati senantiasa bersedia
10Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 119-120.
11Moedjiarto, Sekolah Unggulan Pendidikan Partisipator dengan Pendekatan Sistem, (Surabaya: Duta Graha Pustaka, 2002), h. 36.
17
menjawabnya. Untuk pertanyaan yang tidak bisa dijawab, dengan bijaksana guru meminta waktu untuk mencari data dan informasi lebih lanjut.
h. Peserta didik saling menghargai satu sama lainnya, dan terhadap gurunya peserta didik memiliki rasa hormat yang tinggi.
i. Meja dan kursi serta perlengkapan lainnya, yang terdapat di kelas senantiasa ditata dengan rapi dan dijaga kebersihannya.
j. Peserta didik ikut merawat kebersihan perabot sekolah dan kebersihan ruang kelas yang penugasannya dilakukan secara bergilir.
Selanjutnya kelas yang baik dapat ditandai dengan adanya kondisi kelas yang menggambarkan kelas yang baik dan menyenangkan, diantaranya:12
a. Kelas itu harus rapi, bersih, sehat dan tidak lembab.
b. Kelas harus memiliki atau memperoleh cahaya yang cukup untuk menerangi.
c. Sirkulasi udara dari dalam dan luar kelas cukup baik.
d. Perabot dalam keadaan baik, jumlah yang cukup dan tertata rapi.
e. Jumlah peserta didik tidak melebihi dari 40 anak.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kelas yang kondusif adalah dengan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik yang baik, peserta didik dengan peserta didik, fasilitas di dalam kelas memadai, dan semua peserta didik mendapat memperlakukan adil dari guru. Sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan kondusif.
Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dapat mendukung terciptanya iklim belajar yang kondusif yaitu:
a. kehangatan dan keantusiasan b. tantangan
12Mukhtar dan Iskandar, Desain Pembelajaran Berhasil Teknologi dan Komunikasi (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), h. 76.
c. bervariasi d. keluwesan
e. Penekananan pada hal-hal yang positif f. Penanaman disiplin
Kehangatan dan keantusiasan guru dapat mempermudah terciptanya iklim kelas yang menyenangkan yang merupakan salah satu syarat bagi kegiatan belajar mengajar yang optimal. Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan yang menantang akan meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar, dan interaksi belajar mengajar yang bervariasi merupakan kunci tercapainya pengelolaan kelas yang efektif yang sekaligus dapat menghindari kejenuhan. Keluesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan peserta didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.13
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan peserta didik secara efektif di dalam proses pembelajaran.
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian peserta didik pada hal-hal yang negatif.
Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku peserta didik yang positif dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.
13Anurrahman, Belajar dan Pembelajaran (Cet. IV; Bandung: Alfabeta, 2010), h. 140.
19
Pengembangan disiplin diri sendiri oleh peserta didik merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Untuk itu, guru harus selalu mendorong peserta didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi contoh atau teladan tentang pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.
Iklim kelas yang dapat mendorong proses pembelajaran yang efektif, yaitu menyenangkan, mengasikkan, mencerdaskan, menguatkan, menghidupkan, dan memberi kebebasan. Menyenangkan terkait dengan aspek afektif (perasaan). Guru harus berani mengubah iklim dari suka ke bisa. Guru harus memiliki jiwa pendidik;
bersikap ramah, suka tersenyum, berkomunikasi dengan santun dan patut, adil terhadap semua peserta didik, dan senanatiasa sabar menghadapi berbagai ulah dan perilaku peserta didiknya. Mengasyikkan terkait dengan perilaku (learning to do).14
Guru hendaknya dapat mengundang peserta didik pada suatu kondisi pembelajaran yang disukai dan menantang peserta didik untuk berkreasi secara aktif. Untuk itu, guru harus menciptakan kegiatan belajar yang kreatif melalui tema- tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Rancangan pembelajaran terpadu dengan materi pembelajaran yang kontekstual harus dikembangkan secara terus menerus dengan baik oleh guru.
Mencerdaskan bukan hanya terkait dengan aspek kognitif, melainkan juga dengan kecerdasan majemuk (multiple intelegency).
Pemberdayaan otak kiri dan otak kanan harus dicermati dalam proses pembelajaran. Pilihlah tema yang dapat mengajak anak bukan hanya sekadar berpikir, melainkan juga dapat merasa dan bertindak untuk menyelesaikan tugas- tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana
14Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru (Cet. 6;
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2016), h. 224.
guru dapat mengalirkan pendidikan normatif ke dalam mata pelajaran sehingga menjadi aktif dalam keseharian anak.
Inilah yang merupakan tujuan utama dari fundamen pendidikan kecakapan hidup (life skill). Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif produktif. ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
Prakarsa anak untuk belajar akan mati bila kepadanya dihadapkan pada berbagai macam aturan yang tidak ada kaitannya dengan belajar, sebagaimana ditemukan dalam paradigma behavioristik. Banyaknya aturan yang seringkali dibuat oleh guru dan harus ditaati oleh anak akan menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan sekaligus diselimuti rasa bersalah. Lebih jauh lagi, anak-anak akan kehilangan kebebasan berbuat dan melakukan kontrol diri (kontrol diri, dalam hal ini, bisa menjadi modal awal penumbuhan penghargaan pada keragaman).
2. Meningkatkan Kualitas Iklim Kelas
Untuk meningkatkan kualitias iklim kelas, seorang guru harus mengembangkan berbagai perlakuan yaitu:
a. Guru harus mampu menciptakan situasi kelas yang tenang, bersih, tidak stress, dan sangat mendukung untuk pelaksanaan proses pembelajaran.
b. Guru harus menyediakan peluang bagi para peserta didik untuk mengakses seluruh bahan dan sumber informasi untuk belajar
c. Gunakan model cooperative learning (belajar secara kooperatif) melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, debat, atau bermain peran.
21
d. Hubungkan informasi baru pada sesuatu yang sudah diketahui oleh peserta didik, sehingga mudah untuk mereka pahami.
e. Dorong peserta didik untuk mengerjakan tugas-tugas penulisan makalahnya dan dalam kajian yang mendalam.
f. Guru harus memiliki catatan-catatan kemajuan dari semua proses pembelajaran peserta didik, termasuk tugas-tugas individual dan kelompok mereka dalam bentuk portofolio.
Iklim kelas membawa dampak terhadap perkembangan anak. Nasution meneliti mengenai perbedaan iklim demokratis dan otokrasi dalam pembelajaran.
Ia menyimpulkan bahwa:
a. Iklim autokrasi lebih banyak dikeluarkan kecaman tajam bersifat pribadi, sedangkan dalam iklim demokrasi terdapat suasana kerja sama, pujian terhadap sesama teman, saran-saran konstruktif, dan kesediaan menerima buah pikiran orang lain.
b. Iklim autokrasi lebih ditonjolkan diri sendiri, soal ’aku’, sedangkan dalam iklim demokrasi adalah suasana ke-’kita’-an.
c. Suasana auktokrasi, adanya pimpinan yang kuat menghalangi orang lain untuk memegang pimpinan, sedangkan dalam iklim demokrasi beda status sosial pimpinan dan yang dipimpin kecil sekali sehingga pada suatu saat setiap orang mudah memegang kepemimpinan dalam hal ia memiliki kelebihan.
d. Individualitas muris berkembang dalam iklim demokrasi sedangkan perkembangan tertekan dalam iklim otokrasi.
e. Dalam iklim autokrasi tindakan kelompok bukan tertuju kepada pemimpin melainkan terhadap salah seorang anak didik sebab anak didik mudah dijadikan kambing hitam, secara potensial setiap anak didik dapat menjadi saingan atau lawan anak didik lainnya.
Terciptanya iklim kelas yang kondusif akan meningkatkan proses pembelajaran yang baik peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran yang aman menyenangkan yang pada akhirnya akan menimbulkan minat yang tinggi dalam belajar sehingga dengan terciptanya iklim belajar yang kondusif diharapkan peserta didik dapat mencapai prestasi belajar yang baik.
3. Indikator Iklim Kelas
Menurut Moos terada 4 aspek yang dapat dijadikan indikator iklim kelas, yaitu:
a. Dimensi hubungan
Dimensi ini untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan peserta didik di kelas, sejauh mana peserta didik saling mendukung dan membantu, sejauh mana peserta didik mengekspresikan kemampuan mereka.
b. Dimensi pertumbuhan dan perkembangan
Dimensi ini bertujuan untuk membicarakan tujuan utama kelas dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
c. Dimensi perubahan
Dimensi ini membicarakan sejauh mana iklim kelas mendukung harapan dan memperbaiki kontrol.
d. Dimensi lingkungan fisik
Dimensi ini untuk mengetahui sejauh mana iklim kelas memberikan kenyamanan dan keamanan dalam memengaruhi proses belajar mengajar di kelas.15
15Hadiyanto, Teori dan Pengembangan Iklim Kelas dan Iklim Sekolah, h. 15
23
B. Keaktifan Belajar
1. Pengertian Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar dari kata aktif yang berarti giat, yang memiliki kecenderungan bekerja atau berusaha. Sedangkan, keaktifan adalah kegiatan atau kesibukan. Aktivitas belajar merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Belajar memerlukan aktivitas, sebab pada prinsinya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, sehingga melakukan kegiatan. Belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiaatif harus datang dari siswa itu sendiri.
Belajar adalah berbuat sekaligus merupakan proses yang membuat anak didik harus aktif. Begitu juga menurut Mc Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial”16 Keaktifan belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa selama belajar disekolah, yang menyangkut ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Keaktifan belajar peserta didik merupakan hal utama yang perlu ditinjau mengingat mereka adalah subjek utama dalam pembelajaran, sehingga amat perlu untuk meninjau apa saja yang termasuk aktivitas belajarnya17
Pada proses pembelajaran, prinsip keaktifan belajar bagi siswa dapat mewujudkan perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, membuat karya tulis, dan sebagainya. Siswa memiliki bermacam-macam aktivitas dalam belajarnya. Siswa dalam kondisi belajar dapat diamati dan dicermati melalui indikator aktivitas yang dilakukan,
16Dimyati dan Mudjono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), h.
.45.
17Sunardi Nasir, dan Santi Anggereni, Efektifitas Penggunaan SPLD (Served Product Learning and Discussion) Menggunakan Media Sosial Oline Facebook Terhadap Keaktifan Belajar Peserta Didik, (Jurnal Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makasar, Vol, 5, 2017), h. 37.
yaitu perhatian fokus, antusias, bertanya, menjawab, berkomentar, presentasi, diskusi, mencoba, menduga, atau menemukan. Sebaliknya siswa dalam kondisi tidak belajar adalah kontradiksi dari aktivitas tersebut, mereka hanya berdiam diri, beraktivitas tak relevan, pasif, atau menghindar.18
2. Indikator Keaktifan Belajar
Menurut nana sudjana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dalam:
a. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
b. Terlibat dalam pemecahan masalah.
c. Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.
d. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
e. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
f. Memulai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperoleh.
g. Melatih dirinya dalam memecahkan soal atau masalah.
h. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperoleh dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.19
C. Pembelajaran Fikih 1. Pengertian Fikih
Kata fiqih secara arti kata berarti: “paham yang mendalam”. Semua kata
“fa qa ha” yang terdapat dalam al-Quran mengandung arti ini. Umpamanya firman Allah dalam QS al-Taubah/9: 122, yaitu:
18Herman Suherman, Hakikat Pembelajaran, Educare Journal, vol. 4, No. 2. 2007.
19Nana, Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), h. 22.
25
ًۗ ةَّف ۤاَك ا وُرِف نَ يِل َن وُ نِم ؤُم لا َناَك اَمَو مُهَم وَ ق ا وُرِذ نُ يِلَو ِن يِّدلا ِفِ ا وُهَّقَفَ تَ يِّل ٌةَفِٕى ۤاَط مُه نِّم ٍةَق رِف ِّلُك نِم َرَفَ ن َلا وَلَ ف
َعَل مِه يَلِا آْ وُعَجَر اَذِا َن وُرَذ َيَ مُهَّل
ࣖ ﴿ ١٢٢ ﴾
Terjemahnya:
Dan tidak sepatuknya orang-orang mukmin itu pergi (ke medan perang).
Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.20
Bila “paham” dapat digunakan untuk hal-hal yang bersifat lahiriah, maka fikih berarti paham yang menyampaikan ilmu zhahir kepada ilmu batin. Karena itulah al-Tirmizi menyebutkan “fiqih tentang sesuatu” berarti mengetahui batinnya sampai kepada kedalamnya.21 Dapat dipahami bahwa fikih adalah pemahaman yang mendalam.
Menurut pengertian fuqaha (ahli hukum Islam). Fiqih merupakan pengertian zhanni tentang hukum syariat yang berhubungan dengan tingkah laku manusia. Orang yang ahli fikih disebut faqih, jamaknya faqaha, sebagaimana yang banyak ilmunya disebut ulama, sedangkan jika seorang diri disubut dengan ‘alim.22 Dengan demikian dapat kita pahami bahwa yang dimaksud dengan fuqaha adalah orang-orang paham akan ilmu fikih dalam Islam. Peranan mereka amat penting karena daat memberikan arahan, pencerahan dan bimbingan kepada umat sehingga berada dalam kebaikan dan kebenaran.
Dengan fungsinya yang demikian itu tidak mengherankan jika termasuk ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak-anak dari sejak di bangku taman kanak-kanak seseorang sudah mulai diajari berdoa, berwudhu, salat, dan sebagainya, dilanjutkan sampai ke tingkat dewasa di perguruan tinggi, para
20Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh (Ed. I Cet. III; Jakarta: Prenadamedia Group, 2010), h. 4.
21Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh , h. 5.
22Beni Ahmad Saebani, Ilmu Ushul Fiqh (Cet. I ; Pustaka Setia, 2008), h. 37.
mahasiswa mempelajari fiqih secara lebih luas lagi, yaitu hanya menyangkut fiqih ibadah, tetapi juga fiqih muamalah seperti jual beli, perdagangan, sewa menyewa, gadai menggadai, dan perseroan dilanjutkan dengan fiqih junayat yanng berkaitan dengan peradilan tindak pidana, masalah rumah tangga, penceraian, sampai dengan masalah perjanjian, eperangan, pemerintah, dan sebagainya.23
Melihat beberapa aspek kajian fikih dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dipahami berama bahwa ilmu fikih amat sangat penting untuk dipelajari, oleh sebab itu, keberadaan para fuqaha sangat dibutuhkan untuk memberikan penjelasan yaang rinci.
2. Tujuan Pembelajaran Fikih
Pembelajaran fiqih dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan belajar mengajar antara guru dan peserta didik, yang bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas berfikir peserta didik dalam bidang syari’at Islam dari segi ibadah dan muamalah, baik dalam konteks asal hukumnya maupun praktiknya, sehingga peserta didik dapat menguasai materi tersebut dan terjadi perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap serta tingkah laku peserta didik ke arah kedewasaan yang sesuai dengan syari’at Islam dengan menggunakan cara-cara dan alat-alat komunikasi pembelajaran.
Pembelajaran fikih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik untuk dapat memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara kaffah. Pelajaran ini bertujuan membekali peserta didik agar dapat:
1) Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam
23Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Cet. XXI; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2014), h. 296.
27
mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah yang diatur dalam fikih ibadah dan hubungan manusia dengan sesama yang diatur dalam fikih muamalah.
2) Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial.
Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.24
3) Ruang lingkup Fikih
Mata pelajaran fikih meliputi ketentuan pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah swt. dan hubungan manusia dengan sesama. Adapun ruang lingkup mata pelajaran fikih di Madrasah Tsanawiyah meliputi:
a) Aspek fikih ibadah meliputi: ketentuan dan tatacara taharah, salat fardu, salat sunnah, dan salat dalam keadaan darurat, sujud, azan dan iqamah, berzikir berdoa dan setelah salat, puasa, zakat, haji dan umrah, kurban dan akikah, makanan, perawatan jenazah, dan ziarah kubur.
b) Aspek fikih muamalah meliputi: ketentuan dan hukum jual beli, qirad, riba, pinjam-meminjam, utang piutang, gadai, dan agunan/jaminan serta upah.25
24Lampiran Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah, h. 46
25Lampiran Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia, h. 48.
28 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Jenis penelitian ini menggunakan metode ex-post facto. Penelitian ex-post facto merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini keterikatan antar variabel bebas dengan variabel terikat sudah terjadi secara alami, penelitian ini dilakukan untuk mengungkap kembali apa yang menjadi faktor penyebabnya.1
Berdasarkan jenisnya, pendekatan kuantitatif dengan metode ex-post facto untuk mengumpulkan data yang bersifat angka-angka (kuantitatif) untuk diolah dan dianalisis baik dengan statistik deskriptif maupun statistik inferensial. Hasil uji statistik digunakan untuk menjawab rumusan masalah atau menarik kesimpulan.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri 1 Polewali Mandar. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2020/2021. Sebab peneliti menginginkan penelitian ini pada semester ganjil.
1Sudaryono, Metodologi Penelitian (Cet.I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017), h.86.