• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PG PAUD UNTIRTA 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSIDING SEMINAR NASIONAL PG PAUD UNTIRTA 2019"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

PROSIDING SEMINAR NASIONAL

PG PAUD UNTIRTA

2019

Penasihat:

Dr. H. Aceng Hasani, M.Pd.

Ketua:

Atin Fatimah, M.Pd.

Sekretaris:

dr. Tricahyani E.Y., M.PH., Sp.EM.

Bendara:

Laily Rosidah, M.Pd.

Narasumber Seminar:

Dr. Cepi Riyana, M.Pd.

(Universitas Pendidikan Indonesia) Dr. Hapidin, M.Pd.

(Universitas Negeri Jakarta) Tim Prosiding:

Ratih Kusumawardani, M.Pd.

Kristiana Maryani, M.Pd.

Reviewer:

Ila Rosmilawati, Ph.D Yuli Kurniawati, Ph.D

Kesekretariatan:

1. Dr. Luluk Asmawati, M.Pd.

2. Rr. Dina Kusuma Wardani, M.Pd.

Cover dan Tata Letak:

Desma Yuliadi Saputra, S.Pd.

JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

PERMAINAN TRADISIONAL

VS

DIGITAL

(3)

iii Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

Kata Pengantar

S

alah satu misi pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi anak bangsa sejak usia dini. Misi ini memberikan pandangan bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia seutuhnya sebagai manusia yang berkarakteristik personal dan mampu memahami dinamika psikososial dan lingkungan kulturalnya.

Maka proses pendidikan harus mencakup (1) Penumbuhkembangan keimanan dan ketakwaan, (2) Pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadian, (3)Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, (4) Pengem- bangan penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni, serta (5) Pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani.

Tujuan paling utama program PAUD adalah untuk meningkatkan kapasitas anak dalam berkembang dan belajar. Kegiatan PAUD, baik dalam program pengajaran, penelitian, maupun pengabdian diarahkan untuk mendukung dan memberikan layanan pada praktisi, akademisi, maupun anak-anak agar dapat mengembangkan kapasitasnya dan menggunakan komunikasi massa untuk meningkatkan penge- tahuan dan kemampuan praktikal.

Berdasarkan hasil curah pendapat dalam seminar nasional PGPAUD yang diselenggarakan kedua kalinya oleh Jurusan PGPAUD di Serang pada bulan Agustus 2019 dengan bertajuk “Permainan Tradisional Vs Digital” disepakati bahwa stimulasi untuk peningkatan kapasitas anak dalam berkembang dan belajar dapat ditempuh melalui multi metode dengan tidak menanggalkan identitas budaya setempat sebagai bagian dari upaya filtrasi budaya. Demi tujuan dan komitmen tersebut, maka Jurusan S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa memandang perlu meng- adakan kegiatan seminar nasional di mana dalam momentum ini berkumpul semua pihak terkait pendidikan anak usia dini, mulai dari akademisi, praktisi (para penge- lola lembaga PAUD dan pendidik anak usia dini, baik guru, pengasuh, maupun orang tua) untuk mendapatkan hasil dari desiminasi penelitian guna menuju profesionalitas dalam pendidikan anak usia dini.

(4)

iv Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

Seminar ini telah diikuti oleh berbagai unsur yang semuanya memiliki komitmen yang sama yakni profesionalisme dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini yang kelak akan tampil di masa yang akan datang sebagai generasi penerus pemimpin-pemimpin bangsa yang akan mengukir prestasi bagi Bangsa Indonesia.

Seminar nasional ini dapat berlangsung berkat dukungan dari berbagai pihak. Kami ucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan seluruh panitia yang telah mendukung acara ini.

Terkhusus kepada seluruh penulis yang telah berkontribusi pada prosiding ini, kami ucapkan terima kasih. Semoga prosiding seminar nasional 2 PGPAUD 2019 dengan tajuk “Permainan Tradisional Vs Digital” ini dapat bermanfaat bagi penelitian dan pengembangan pendidikan anak usia dini di masa yang akan datang.

Ketua Jurusan PG PAUD FKIP Untirta

Atin Fatimah

(5)

Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 v

63 73 21 31 41 51

PELAKSANAAN PENDIDIKAN INKLUSI DI PAUD BINA BANGSA ISLAMIC SCHOOL KOTA SERANG Aas Asmawati

PENGARUH MANAJEMEN SARANA PRASARANA PENDIDIKAN TERHADAP KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN Amalia Sahara, Cucu Atikah, dan Reza Mauldy Raharja

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 4-5 TAHUN MELALUI MEDIA CERITA BERGAMBAR Aninda Kusuma Wardhany

MENINGKATKAN KECERDASAN KINESTETIK MELALUI KEGIATAN SENAM IRAMA Anisa Qurotul Aeni, Alis Triena Permanasari, dan Siti Khosiah

PERAN GURU DALAM MENGOPTIMALKAN KEDISIPLINAN ANAK USIA 4-5 TAHUN Anna Karina PENINGKATAN KREATIVITAS MELALUI KEGIATAN BERMAIN SAINS

Annisa Nabila MENINGKATKAN KONSENTRASI ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI METODE BERCERITA DENGAN BERBAGAI MEDIA

Asry Pratiwi

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN OLAH TUBUH Dea Elma Pavitta

MENGEMBANGKAN ALAT PERMAINAN TRADISIONAL ENGKLEK UNTUK MENINGKATKAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 4-5 TAHUN DI PAUD MUTIARA HATI TAHUN AJARAN 2017/2018 Dwi Istati Rahayu, Nurhasanah, dan Baiq Nunike Resti Aulia

DAFTAR ISI

1 9

79

(6)

vi Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

PENERAPAN PEMBELAJARAN TERPADU MODEL WEBBED PADA ANAK USIA TAMAN KANAK-KANAK

Eem Khujaemah

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MELALUI MEDIA CLAY PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN Elma Tresia

KREATIVITAS SENI RUPA ANAK DALAM KEGIATAN MOZAIK DI TK AL HUSNA BURING KOTA MALANG

Emmalia Marta Hapsari dan Wuri Astuti

MODEL BIMBINGAN MELALUI PERMAINAN SOSIODRAMA UNTUK MENGEMBANGKAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK Evi Afiati

EFEKTIVITAS PARENTING DALAM PENINGKATAN PROSES STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK DI PAUD/TK KOTA MATARAM TAHUN 2017

Fahruddin, Muazar Habibi, Nurhasanah, dan Ika Rahmayani

PENGARUH GIZI SEIMBANG TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA 4-5 TAHUN

Fida Fitria Ahadiyani

MENINGKATKAN KEMAMPUAN EMOSIONAL

ANAK USIA 4-5 TAHUN ME-LALUI BERMAIN KONTUKTIF Fitri Haryati

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN TERHADAP KEDISIPLINAN ANAK USIA 5-6 TAHUN Gita Kurniawati

PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK USIA DINI Kristiana Maryani

MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI KARAKTER MELALUI UPACARA BENDERA

Kristina Uli

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS

MELALUI KEGIATAN ME-WARNAI DENGAN TEKNIK GRADASI Misshita Dwita

95

103

113

119

133

147

161

173

181

189

199

(7)

vii Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI METODE BERMAIN PERAN

PADA ANAK KELOMPOK B Nani Yulia

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI ANAK USIA 4-6 TAHUN Nia Prasetyaningsih

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERCERITA MELALUI MEDIA CERITA BERGAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN Nina Rakhmawati, Luluk Asmawati, dan Laily Rosidah

PENINGKATAN KEMANDIRIAN MELALUI METODE BERCERITA Nopiana

PENERAPAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN DI TAMAN PENITIPAN ANAK Noviyana Furyanti

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI MEDIA KARTU GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI PAUD SMART KECAMATAN SERANG, KOTA SERANG-BANTEN Nunu Astuti

MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI METODE PROYEK DI PAUD AL-HUDA KOTA SERANG Nurul Ashila Tri Utami

PEMBELAJARAN ENTREPRENEURSHIP ANAK USIA DINI DI TK KHALIFAH 2 SERANG Nurul Fathia

KREATIVITAS GURU DALAM MENCIPTAKAN PERMAINAN KREATIF UNTUK ANAK USIA DINI Nuryati

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK KELOMPOK B MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL Ridha Indah Fajarwati

MENINGKATKAN KOSAKATA MELALUI MEDIA GAMBAR Rifkiyanti Azizah

219

229

239

251

263

275

283

293

305

315

207

(8)

viii Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

SMARTPHONE: ANAK ATAU ORANGTUA YANG SESUNGGUHNYA TIDAK DAPAT TERLEPAS DARINYA?

Rina Windiarti

PENGARUH METODE BERNYANYI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 4 – 5 TAHUN

Riska Novianti

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN PENGOLAHAN BAHAN BEKAS

Siska Fahrunisa Aulia

PENGARUH PERMAINAN PUZZLE

TERHADAP KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA Siti Maprudoh

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA PERMULAAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN BERMAIN BALOK Siti Marifah

PENGARUH PENDEKATAN BCCT (BEYOND CENTRE AND CIRCLE TIME) TERHADAP KREATIVITAS GURU DI KECAMATAN CIBEBER

KOTA CILEGON BANTEN Siti Nur Asiyah

MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FUN COOKING

Siti Nuraeni dan Tricahyani Endah Yuniarti

PENGUASAAN BAHASA LISAN ANAK USIA 4 TAHUN Siti Nurhayati

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA ANAK

Siti Nurlaeli

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL INDONESIA Siti Restu Utami Fatmawati

PENGARUH MODEL ACTIVE LEARNING TERHADAP PENGEMBANGAN ENTREPRENEURSHIP ANAK USIA DINI Siti Rokimah dan Fadlullah

345

355

363

377

385

393

401

409

417

325

335

(9)

ix Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK DI SENTRA BALOK

Sri Purwatih dan Fahmi

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN KLASIFIKASI Sri Wahyuningsih dan Isti Rusdiyani

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN SAINS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN BERMAIN KREATIF Sulastina dan Ratih Kusumawardani

MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI BERMAIN LEGO PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK TUNAS MERAK PANDEGLANG Upiah dan Atin Fatimah

PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 0-24 BULAN Wiwin Supriatin

PENTINGNYA KETERAMPILAN GURU DALAM MENGELOLA KELAS Yonia Ilma Insyira

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI PEMBIASAAN DI TK ISLAM TIRTAYASA Yoyoh Khumaeroh

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI MEDIA LEGO HURUF Zahrotul Uyun dan Tri Sayekti

453

459

467

477

485

427

435

443

(10)

x Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

(11)

293 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

KREATIVITAS GURU DALAM MENCIPTAKAN PERMAINAN KREATIF UNTUK ANAK USIA DINI

Nuryati

PRODI PG PAUD STKIP Situs Banten Jl. Bhayangkara Cipocok Jaya Serang - Banten

[email protected]

ABSTRACT

This article is a refinement of the previous author’s article in a study with the theme of Traditional Game Collaboration with Modern Games which is motivated by the lack of creativity of teachers, especially early childhood education teachers caused by lack of understanding and inadequate educational qualifications. Early childhood is said to be the creative period and it is believed that the creativity shown by children is an original form of creativity with the frequency of appearance as if uncontrollably.

Sports education for early childhood must be packaged through an interesting game that can lead to creativity and can develop all aspects of child development.

Seeing how important this is, the creativity of a teacher is very important, so the writer seeks to foster that creativity for prospective PAUD teachers by creating a creative game for young children by collaborating between traditional games with modern games. The methodology used is analytical descriptive which is to reveal various current events that have a positive impact on improving professional competence of teachers in Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini in Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten, and in Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Situs Banten.

Keywords: Teacher creativity, creative play.

(12)

294 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 ABSTRAK

Artikel ini merupakan penyempurnaan dari artikel penulis sebelumnya dalam sebuah penelitian yang bertemakan Kolaborasi Permainan Tradisional Dengan Permainan Modern yang dilatarbelakangi oleh rendahnya kreativitas guru, khususnya guru pendidikan anak usia dini yang disebabkan oleh rendahnya pemahaman serta kualifikasi pendidikan yang belum cukup memadai. Anak usia dini dikatakan sebagai masa kreatif dan diyakini bahwa kreativitas yang ditunjukkan anak merupakan bentuk kreativitas yang orisinal dengan frekuensi kemunculannya seolah tanpa terkendali. Pendidikan olah raga untuk anak usia dini harus dikemas melalui suatu permainan yang menarik dan dapat menimbulkan kreativitas serta dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Melihat betapa pentingnya hal tersebut, maka kreativitas seorang guru sangat penting, maka penulis berupaya menumbuhkan kreativitas tersebut terhadap calon guru PAUD dengan menciptakan sebuah permainan kreatif untuk anak usia dini yaitu dengan mengolaborasikan antara permainan tradisional dengan permainan modern. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif analitis yakni mengungkapkan berbagai kejadian terkini yang berdampak positif terhadap peningkatan kompetensi profesional guru di Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten, dan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Situs Banten.

Kata Kunci: Kreativitas guru, permainan kreatif.

PENDAHULUAN

Perubahan zaman berdampak pada gaya hidup setiap orang. Di antaranya adalah adanya gadget, semua aktivitas dan kebu- tuhan dapat terbantu dengan mudah, efisi- en, dan praktis. Dengan menggunakan apli- kasi yang dapat di unduh kita langsung men- dapatkan informasi, games/permainan, melakukan e-banking, dan semua kebutuh- an yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna gadget tersebut.

Dampak dari perubahan tersebut ten- tunya ada positif atau negatif. Contohnya dengan tergerus zaman permainan tradisio- nal semakin lama semakin punah dan kehi- langan citranya di kalangan anak-anak.

Mereka sama sekali tidak mengenal dengan yang namanya permainan tradisional.

Padahal jika kita kaji, manfaat dari permain- an tersebut sangat banyak sekali, terutama dalam menstimulasi semua aspek perkem- bangan anak. Hal itu terjadi karena adanya gadget, orang tua saat ini memfasilitasi anak-anaknya dengan benda tersebut se- hingga anak tersebut tidak dapat ter-

pisahkan dengan gadget.

Mirisnya anak-anak generasi sekarang ini mungkin tidak mengenal mainan tradi- sional yang sejatinya dulu selalu menjadi hiburan untuk bermain dengan teman sepermainan. Seiring tergerus oleh zaman akhirnya secara perlahan pun permainan tradisional menjadi berkurang dimainkan oleh anak-anak dan cenderung anak zaman sekarang ini lebih tertarik dengan mainan digital yang terdapat pada gadget atau pun dengan play station dan lain sebagainya, Dengan fenomena yang terjadi saat ini pe- nulis tertarik untuk membahas masalah ter- sebut, yaitu dengan membekali mahasiswa Pendidikan Guru PAUD sebagai calon guru pendidikan anak usia dini, dengan mencip- takan suatu permainan yang kreatif yaitu dengan mengolaborasikan permainan tradisional dengan permainan modern untuk anak usia dini. Sehingga anak tidak merasa jenuh dalam melakukan suatu akti- vitas yang berkaitan dalam pengembangan motoriknya, baik itu motoric kasar maupun motoric halusnya.

(13)

295 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 KAJIAN TEORITIS

1. Pengertian Guru

Guru merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan. Karena guru dalam konteks pendidikan memiliki peranan yang sangat penting. Hal ini disebabkan guru- lah yang berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang lang- sung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan, men- didik dengan nilai-nilai positif melalui bim- bingan dan keteladanan. Dalam Undang- Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 pasal 1 ayat (1) dinyatakan bahwa: Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan meng- evaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Undang- undang RI No.14. 2005-01).

Untuk menciptakan sosok manusia pembelajar sepanjang hayat yang mampu dan siap menghadapi tantangan hidup di- perlukan juga guru-guru yang mau meng- ubah sudut pandangnya dari fokus materi kepada fokus hasil pembelajaran secara menyeluruh. Departemen Pendidikan Amerika Serikat menggambarkan bahwa guru yang baik adalah dengan ciri-ciri se- bagai berikut:

1) Guru yang baik adalah guru yang was- pada secara profesional. Ia terus ber- usaha untuk menjadikan masyarakat sekolah menjadi tempat yang paling baik bagi anak-anak muda.

2) Mereka yakin akan nilai atau manfaat pekerjaannya. Mereka terus berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pekerjaannya.

3) Mereka tidak lekas tersinggung oleh larangan-larangan dalam hubungannya dengan kebebasan pribadi yang dike- mukakan oleh beberapa orang untuk menggambarkan profesi keguruan.

Mereka secara psikologis lebih matang

sehingga rangsangan-rangsangan ter- hadap dirinya dapat ditaksir.

4) Mereka memiliki seni dalam hubungan- hubungan manusiawi yang diperoleh dari pengamatannya tentang bekerja- nya psikologi, biologi, dan antropologi kultural di dalam kelas.

5) Mereka berkeinginan untuk tumbuh terus. Mereka sadar bahwa di bawah pengaruhnya, sumber-sumber manu- sia dapat berubah nasib (Kunandar, 2010: 61-62).

2. Kreativitas

Kreativitas merupakan ide atau pikiran manusia yang bersifat inovatif, berdaya guna, dan dapat dimengerti, sehingga hasil pikiran anak yang baru merupakan bentuk kreativitas dari individu anak. (Lawrence dalam Suratno, 2003: 24). Kreatif merupa- kan suatu sifat yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai kreativitas. Hal ini dikare- nakan hanya orang kreatif yang mempunyai ide gagasan kreatif dan orisinal. Orang akan menjadi kreatif apabila distimulasi sejak dini. Anak dikatakan kreatif apabila mampu menghasilkan produk secara kreif serta tidak tergantung dengan orang lain yang berarti bahwa dalam memuaskan diri bukan karena tekanan dari luar.

Kreativitas yang ditunjukkan anak me- rupakan bentuk kreativitas yang orisinal dengan frekuensi kemunculannya seolah tanpa terkendali. (Sujiono, 2005:134). Moti- vasi dalam diri atau intrinsik tercipta dengan sendirinya dan mendorong timbulnya krea- tivitas, dan itu akan berlangsung dalam kon- disi mental tertentu. (Suratno, 1990: 10).

Kreativitas dapat dibedakan menjadi tiga pengertian, yaitu: Pertama, kemampuan untuk membuat kondisi baru, berdasarkan data, informasi, dan unsur-unsur yang ada (daya cipta). Kedua, kemampuan meng- gunakan data atau informasi yang tersedia.

Ketiga, kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, kemurnian (orisi-

(14)

296 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 nal) dalam mengembangkan dan memper- kaya gagasan. Secara khusus, kreativitas berkarya senirupa diartikan sebagai ke- mampuan menemukan, mencipta, mem- buat, merancang ulang, dan memadukan suatu gagasan baru maupun lama menjadi kombinasi baru yang divisualkan ke dalam komposisi suatu karya senirupa dengan didukung kemampuan terampil yang dimilikinya (Dirjen Dikti, 2005: 11).

Kreativitas adalah suatu kemampuan yang ditandai dengan empat aspek kreativi- tas: kelancaran (fluency), keluwesan (flex- ibility), keaslian (originality), dan elaborasi (elaboration).

Guru yang kreatif dalam berpikir ber- beda dengan orang yang tidak kreatif. Ber- dasarkan berbagai definisi tentang krea- tivitas yang dikemukakan para ahli, Rhodes menyebutkan empat ciri kreativitas sebagai

“Four P’s Creativity” atau empat P, yaitu:

1) Person, merupakan keunikan individu dalam pikiran dan ungkapnya.

2) Process, yaitu kelancaran, fleksibilitas dan orisionalitas dalam berpikir.

3) Press, merupakan situasi kehidupan dan lingkungan sosial yang memberi kemudahan dan dorongan untuk me- nampilkan tindakan kreatif.

4) Product, diartikan sebagai kemampuan dalam menghasilkan karya yang baru dan orisinil dan bermakna (Sugihartono, dkk.; 2007: 14-15).

Berdasarkan dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan di atas dapat diartikan bahwa kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru, meme- cahkan masalah, dan ide serta mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan. Krea- tivitas dalam bidang seni dimaknai sebagai berkarya yaitu suatu kemampuan untuk mewujudkan karya seni sebagai hasil krea- tivitasnya. Dalam hal ini adalah kreativitas mahasiswa sebagai calon guru PAUD dalam menciptakan permainan krea-tif untuk anak

usia dini dengan mengolabo-rasikan per- mainan tradisional dengan modern.

3. Permainan Tradisional

Permainan tradisional menurut James Danandjaja (1987) adalah salah satu bentuk yang berupa permainan anak-anak, yang beredar secara lisan di antara anggota kolek- tif tertentu, berbentuk tradisional dan di- warisi turun-temurun serta banyak mem- punyai variasi. Sifat atau ciri dari permainan tradisional anak sudah tua usianya, tidak diketahui asal usulnya, siapa penciptanya dan dari mana asalnya. Biasanya disebarkan dari mulut ke mulut dan kadang-kadang mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Jika dilihat dari akar katanya, permainan tradisional tidak lain adalah kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pe- warisan dari generasi terdahulu yang di- lakukan anak-anak dengan tujuan mendapat kegembiraan.

Permainan tradisional dimainkan oleh anak-anak jaman dulu. Kebanyakan per- mainan ini dilakukan dengan cara kelom- pok. Kehidupan masyarakat di masa lalu yang bisa dibilang tidak mengenal dunia luar dan lebih mengarahkan dan menuntun mereka pada kegiatan sosial dan kebersa- maan yang tinggi. Pada dasarnya permainan tradisional mempunyai ciri-ciri dari asal daerahnya sesuai dengan tradisi yang ada.

Oleh sebab itu, sebenarnya dalam permain- an tradisional terdapat unsur-unsur seperti permainan rakyat yang sudah masuk ke dalamnya. Selain itu juga permainan tradi- sional memiliki banyak manfaat dan sangat baik bagi perkembangan dan pertumbuhan anak, baik itu secara fisik ataupun mental.

Permainan tradisional juga dapat melatih otak kanan dan otak kiri si anak sehingga antar kecerdasan intelektual dan kecerdas- an emosional mampu berjalan dengan se- imbang.

(15)

297 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 4. Manfaat permainan tradisional

Permainan tradisional anak-anak da- hulu, saya rasa lebih banyak manfaatnya ke- timbang permainan modern saat ini, misal- nya:

a. Permainan tradisional membuat anak menjadi lebih sederhana, mau ber- usaha dalam meraih sesuatu

b. Permainan tradisional melatih sikap anak menjadi mental yang sportif, misalnya seorang anak mau mengakui kesalahan saat ia melanggar aturan main

c. Permainan tradisional lebih menye- hatkan, melatih fisik dan ketangkasan.

Karena biasanya permainan tradisional yang dilakukan di luar rumah membuat si anak lebih aktif bergerak dan ber- keringat.

d. Permainan tradisional membuat anak lebih mudah bergaul, karena permain- an tradisional lebih seru dimainkan secara beregu atau berkelompok.

e. Permainan tradisional membuat anak lebih percaya diri karena setiap anak dan regunya pasti pernah merasakan menjadi pemenang dan bagi yang kalah biasanya akan lebih berusaha di per- mainan selanjutnya.

f. Permainan tradisional lebih memicu kreativitas seorang anak. Misalnya se- orang anak dapat membuat permainan dari bahan-bahan yang kurang nilai guna seperti kulit jeruk bali yang dibuat menjadi mobil-mobilan, kayu yang di- buat menjadi tongkat pemukul bola, batu yang dibuat menjadi biji dalam permainan congklak.

5. Permainan Modern

Permainan modern ialah permainan yang berasal dari industri atau umumnya menggunakan teknologi dalam pembuatan serta permainannya. Permainan jenis ini menghadirkan bentuk permainan seperti

video game, baik itu dalam console maupun komputer. Ada banyak jenis console game yang memberikan kemajuan teknologi, dalam segi tampilan gambar maupun cara memainkan yang beragam, sehingga me- narik perhatian kita untuk memainkannya.

Pabrikan video game pun senantiasa me- manjakan kita dengan kemajuan teknologi yang semakin mengagumkan. Bahkan jenis game online yang sedang tren saat ini telah menjadi favorit hampir di seluruh dunia. Per- mainan modern ini merupakan gaya baru, di mana permainan ini dimainkan berdasarkan peraturan baru yang tentunya memiliki simulasi yang canggih dan terkini.

6. Dampak Permainan Modern Bagi Anak Hal yang paling sederhana ialah anak jadi malas belajar. Dari segi kesehatan apa- bila kita terlalu lama duduk dan bermain mata dapat lelah atau rusak, tubuh pun akan mengalami gangguan karena kita tidak banyak bergerak. Selain itu terlalu sering bermain video game membuat kita lupa untuk bermain di luar, berbagi keceriaan dengan teman bermain di alam terbuka. Hal ini dapat mengurangi rasa persaudaraan dan toleransi kita sesama teman, padahal banyak manfaat dan pelajaran yang dapat kita ambil dengan bermain bersama teman.

Permainan modern yang menghadirkan ilusi virtual, ternyata telah membunuh rasa kemanusiaan anak-anak. Kebersamaan, kasih-sayang, jiwa sosial yang mereka temui dalam permainan tradisional, akhirnya di- hancurkan oleh permainan industri modern.

Anak-anak menjadi egois, introvert dan akhirnya saling curiga.

7. Kolaborasi Permainan Tradisional Dengan Permainan Modern

Yaitu dengan menggabungkan antara permainan tradisio-nal dengan permainan modern.

(16)

298 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 a. Permainan Engklek dengan Permainan

Menyusun Balok

Permainan engklek (bahasa Jawa) me- rupakan permainan tradisional lompat- lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan membuat gambar kotak - kotak kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak be- rikutnya. Permainan engklek biasa dimain- kan oleh 2 sampai 5 anak perempuan dan dilakukan di halaman. Namun, sebelum kita memulai permainan ini kita harus menggam- bar kotak-kotak di pelataran semen, aspal atau tanah, menggambar 5 segi empat dempet vertikal kemudian di sebelah kanan dan kiri diberi lagi sebuah segi empat.

Permainan ini mempunyai banyak nama atau istilah lain. Ada yang menyebut- nya teklek ciplak gunung, demprak dan masih banyak lagi. Istilah yang disebutkan memang beragam, tetapi permainan yang dimainkan tetap sama. Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indone- sia, baik di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi dengan nama yang berbeda – beda tentunya. Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari ‘’zondag- maandag’’ yang berasal dari Belanda dan menyebar ke nusantara pada jaman kolo- nial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.

Cara bermainnya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki di setiap petak-petak yang telah digambarkan se- belumnya di tanah. Untuk dapat bermain setiap anak harus mempunyai kereweng atau gacuk yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai atau pun batu yang datar. Kreweng/gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar di tanah, petak yang ada gacuk-nya tidak boleh diinjak/

ditempati oleh setiap pemain, jadi para pe- main harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah disediakan

jika melebihi maka dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan gacuk dengan cara membelakangi engklek-nya, jika pas pada petak yang dikehendaki maka petak itu akan menjadi “sawah”nya, artinya dipetak ter- sebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak tersebut dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh meng- injak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki “sawah” paling banyak ada- lah pemenangnya. Pemainan ini sangat seru karena bisanya paling sering kesalahan yang dilakukan adalah saat kita melempar gacuk tapi tidak pas di kotaknya atau me- leset dari tempatnya.

Manfaat yang diperoleh dari permain- an engklek ini adalah kemampuan fisik anak menjadi kuat karena dalam permainan engklek anak diharuskan untuk melompat – lompat. mengasah kemampuan bersosia- lisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan, dapat menaati aturan-aturan permainan yang telah disepakati bersama, mengembangkan kecerdasan logika anak.

Permainan engklek melatih anak untuk ber- hitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya, dan anak menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasa- nya dibuat langsung oleh para pemainnya.

Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.

Bermain Balok susun merupakan salah satu alat bermain konstruksi yang berman- faat untuk anak. Tidak hanya untuk aspek kognitif, motorik, tetapi juga untuk mening- katkan kecerdasan emosi anak. Balok terdiri dari berbagai bentuk, ada yang berbentuk segitiga, segiempat, lingkaran, dengan berbagai warna yang menarik balok dapat di mainkan sendiri oleh anak, maupun ber- kelompok dengan teman-temannya.

(17)

299 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 b. Permainan bakiak, lompat tali, berlari

zigzag, dan menyusun puzzle

Permainan Bakiak ceria adalah per- mainan tradisional penggabungan antara permainan tradisional dan permainan modern. Penggabungan permainan terse- but di antaranya menggabungkan permain- an bakiak, lompat tali, lari zig-zag dan me- nyusun puzzle. Di mana dalam permainan ini dapat mengembangkan berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan anak.

Permainan ini dapat dilakukan untuk ber- bagai usia antara 4 tahun sampai orang de- wasa. Dan permainan ini dapat dilakukan dengan kelompok atau individu, setiap kelompok terdiri dari 3 orang atau lebih.

Lompat tali adalah suatu permainan tra- disional yang menyerupai tali yang disusun dari karet gelang, ini merupakan permainan yang terbilang sangat populer sekitar tahun 70-an sampai 80-an, menjadi favorit saat

‘keluar main’ di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sederhana tapi bermanfaat, bisa dijadikan sarana bermain sekaligus olahraga. Tali yang digunakan terbuat dari jalinan karet gelang yang banyak terdapat di sekitar kita.

Lari zig-zag atau (lari belak-belok) yaitu lari yang dilakukan dengan zig-zag di antara beberapa titik (jarak titik 1-2 meter). Man- faat lari zig-zag untuk memperkuat otot kaki, meningkatkan kapasitas pernapasan, memberikan keseimbangan dan koordinasi saraf dan otot, meningkatkan kecepatan dan memberikan stabilitas, serta mening- katkan jangkauan gerak dan fleksibilitas kaki dan pinggul.

c. Permainan Gobak sodor dengan permainan kelereng dan Puzzle Permainan gobak sodor terkenal di wilayah pulau jawa barat. Banyak orang yang mengatakan bahwa permainan ini berasal dari daerah Yogyakarta. Nama gobak sodor berasal dari kata gobak dan sodor. Gobak arti- nya bergerak dengan bebas, sedangkan

sodor artinya tombak. Gobak sodor adalah permainan yang menuntut ketangkasan yang menyentuh badan lawan atau meng- hindar dari kejaran lawan. Garis-garis pen- jagaan dibuat dengan kapur seperti lapang- an bulu tangkis, bedanya tidak ada garis yang rangkap. Gobak sodor sendiri terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga atau lima orang. Kelompok pertama sebagai pe- nyerang, kelompok kedua sebagai penjaga.

Permainan kelereng merupakan jenis per- mainan rakyat yang banyak digemari mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Kelereng merupakan mainan yang ber- bentuk bulat kecil. Manfaat permainan ke- lereng di antaranya adalah melatih emosi, melatih kemampuan berpikir, melatih ke- mampuan motorik, melatih kesabaran, dan melatih ketelitian dan kecermatan. Per- mainan sepak bola merupakan permainan yang menggunakan bola yang terbuat dari bahan kulit. Permainan sepak bola adalah suatu permainan bola yang dilakukan dengan jalan menyepak dan bertujuan untuk menendang bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawang sendiri agar tidak kemasukan bola.

Kata puzzle berasal dari bahasa Inggris

= teka-teki atau bongkar pasang, puzzle adalah media yang dimainkan dengan cara bongkar pasang. Umumnya sisi edukasi per- mainan puzzle ini berfungsi untuk melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran, melatih koordinasi mata dan tangan, melatih logika dan memperkuat daya ingat, mengenalkan anak pada konsep hubungan dengan memilih gambar/bentuk, dapat melatih berpikir matematis (menggunakan otak kiri) serta melatih motorik halus anak dalam menyusun puzzle

d. Permainan ular naga dengan bowling Ular naga adalah permainan yang sangat menyenangkan. Instrumen permainan ini sangatlah mudah, hanya dengan mengum- pulkan beberapa anak-anak untuk dijadikan

(18)

300 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 sebagai ular naganya. Permainan ini juga sangat simpel, sebelum bermain anak-anak mencari lapangan atau halaman rumah yang sedikit luas untuk tempat arena naga dan anggotanya. Permainan ini berasal dari 6-11 orang yang mana anak-anak akan ber- baris sambil berpegangan baju bagian bela- kang milik teman yang di depannya seperti layaknya membuntut. Dalam permainan ini anak yang paling besar atau yang paling tinggi menjadi induk atau gerbang, berdiri saling berhadapan sambil menyatukan kedua tangan setinggi mungkin, mereka se- bagai pintu masuknya naga yang diperankan oleh induk naga beserta anggotanya.

Permainan bowling adalah jenis per- mainan yang dimainkan dengan menggelin- dingkan bola menggunakan satu tangan.

Bola boling akan digelindingkan ke botol yang berjumlah 7 buah yang telah disusun menjadi bentuk sejajar. Manfaat Permainan Bola Bowling yaitu membuat otot anak men- jadi lentur dan menjadi lebih kuat, dapat memperlancar sirkulasi darah anak dan meningkatkan koordinasi motorik anak.

e. Permainan gobak sodor dan Smart Run Permainan gobak sodor terkenal di wilayah pulau Jawa Barat. Banyak orang yang mengatakan bahwa permainan ini berasal dari daerah Yogyakarta. Nama gobak sodor berasal dari kata gobak dan sodor. Gobak artinya bergerak dengan bebas, sedangkan sodor artinya tombak. Gobak sodor adalah permainan yang menuntut ketangkasan yang menyentuh badan lawan atau meng- hindar dari kejaran lawan. Garis-garis pen- jagaan dibuat dengan kapur seperti lapang- an bulu tangkis, bedanya tidak ada garis yang rangkap. Gobak sodor sendiri terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga atau lima orang. Kelompok pertama sebagai pe- nyerang, kelompok kedua sebagai penjaga.

Permainan kelereng merupakan jenis per- mainan rakyat yang banyak digemari mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Permainan gobak sodor adalah jenis permainan tradisional yang banyak di- minati oleh anak dan para remaja. Karena permainan ini tidak membahayakan anak dan permainan ini sangat mudah untuk anak-anak. Adapun permainan ini jika di- mainkan oleh anak usia dini, maka permain- an disesuaikan dengan kondisi anak, artinya anak hanya melewati satu garis penjagaan yang dibuat dengan kapur dan di jaga hanya oleh satu orang saja. Hal ini agar anak dapat melewati permainan enggan mudah, man- faatnya adalah melatih kerja sama, melatih kepemimpinan.

Sedangkan permainan Smart Run me- rupakan permainan modern yang dapat menstimulasi kognitif anak. Permainan ini dapat dimainkan oleh anak dari usia empat tahun sampai tujuh tahun. Adapun man- faatnya adalah mengasah kemampuan otak anak, menjaga kesehatan jantung anak, me- latih ketepatan dan kecepatan. Permainan ini dapat dimainkan lebih dari dua sampai lima anak. Hal tersebut dengan tujuan me- latih kerja sama, ketangkasan, mengem- bangkan motorik kasar, dapat mengelola emosi, Ketelitian, sosialisasi, intelektual, dan dapat mengembangkan aspek moral.

Cara bermainnya adalah anak akan me- lewati anak yang jaga gawang atau pintu masuk (gobak sodor) menuju permainan Smart Run yaitu dengan melompati media yang sudah disediakan seperti kertas atau batu sebanyak tiga lompatan, kemudian anak mengambil bendera warna-warni, anak berlari sejauh satu sampai dua meter kemudian memasukkan bendera tersebut ke dalam botol.

f. Permainan Menyusun Balok, Engklek dan Memasukan Bola Ke dalam Keran- jang

Permainan Menyusun Balok merupa- kan salah satu permainan modern yang di- sediakan dan biasa digunakan di PAUD. Me- lalui permainan ini anak-anak dapat belajar

(19)

301 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 banyak hal. Misalnya mengenal bentuk,

ukuran, konsep ruang, klasifikasi, team work, mengembangkan imajinasi, melatih kesabaran, mengembangkan rasa percaya diri anak, secara sosial anak belajar berbagi.

Cara bermainnya anak di instruksikan untuk mengambil potongan-potongan balok, ke- mudian anak di arahkan untuk menyusun balok tersebut.

Permainan engklek adalah permainan tradisional di Indonesia. Permainan ini sangat baik untuk anak-anak dikarenakan anak akan belajar bersosialisasi dan juga baik untuk kesehatan karena permainan ini cukup banyak gerakan sehingga mengu- rangi peningkatan obesitas pada anak. Cara bermainnya yang pertama kita menggam- bar beberapa kotak di tanah, kemudian ada 1 kotak yang dibagi dua. Lalu anak-anak me- lempar gacon/batu ke salah satu kotak, ke- mudian anak berjalan/meloncat di atas kotak dengan 1 kaki untuk mengambil batu tersebut dengan tidak menyentuh garis atau dengan 2 kaki. Setelah batu terambil dan kembali ke tempat semula maka per- mainan telah selesai.

Permainan mengambil bola dan mem- bawanya lalu memasukkan bola ke dalam keranjang merupakan permainan tradisio- nal dan bisa juga disebut permainan mod- ern, melalui permainan ini anak dapat melatih motorik kasar dan halus dan melatih kecepatan gerak. Cara bermainnya anak ber- lari untuk mengambil bola kemudian anak berlari lagi menuju keranjang dan memasuk- kannya ke dalam keranjang.

g. Permainan rangku alu dengan bola basket

Permainan rangku alu merupakan per- mainan tradisional yang menggunakan bambu sebagai alat permainannya. Rangku alu tidak hanya sekedar permainan biasa, permainan ini dikenal dengan nama rangku alu yaitu dari Nusa Tenggara Timur dalam masyarakat Manggarai. Permainan rangku

alu dilakukan untuk merayakan hasil panen perkebunan dan pertanian yang biasanya jatuh pada bulan Juni hingga Juli tiap tahun- nya.

Bola basket adalah olahraga bola ber- kelompok yang terdiri atas dua tim berang- gotakan masing-masing 5 orang yang saling bertanding mencetak point dengan mema- sukkan bola ke dalam keranjang lawan. Lari zig-zag adalah latihan mengubah arah gerak tubuh dengan arah berkelok-kelok, cara melakukannya dengan lari sekencang mungkin dengan lintasan berkelok.

h. Permainan Engkle dan Adventure Games Engkle merupakan permainan tradisio- nal yang sering dimainkan anak-anak yang berumur 5-12 tahun. Permainan ini dapat dimainkan dengan beberapa anak biasanya mencapai 5 anak dengan menunggu giliran masing-masing. Permainan engkle bisa di- mainkan pada waktu pagi dan sore hari, tempat bermain engkle biasanya di halam- an rumah dan membutuhkan lahan yang luas.

Permainan engkle sangat baik untuk pertumbuhan anak. Anak menjadi sehat karena dalam bermain harus selalu aktif bergerak, juga dapat mengasah kejelian saat melempar batu dan belajar menjaga keseimbangan saat melompat, dan bisa bersosialiasasi dengan kawan saat bermain juga dapat menumbuhkan rasa kebersama- an dan keceriaan. Manfaat Permainan Engkle yaitu melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus di- lewatinya, mengembangkan kecerdasan logika anak.

Adventure Game (Permainan Petua- langan) dalam game petualangan (Adven- ture Game) permainan dituntut kemampu- an berpikir untuk menganalisa tempat se- cara visual, memecahkan teka-teki maupun menyimpulkan rangkaian peristiwa dan percakapan karakter, menggunakan benda- benda yang tepat dan diletakkan di tempat

(20)

302 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 yang dituju. Dalam permainan ini anak di- tuntut untuk bisa mengumpulkan item ter- tentu yang sudah ditentukan sebanyak mungkin. Manfaat Adventure game ini bisa membuat kita untuk lebih tekun dan ber- konsentrasi dalam melihat situasi sekitar, dapat membantu perkembangan anak dalam segi motorik kasar yaitu dalam ber- lari, mengasah kejeliaan anak dalam men- cari item-item tersebut.

i. Permainan Engrang batok, menara gelang dan bola basket

Engrang batok merupakan permainan tradisional yang menggunakan batok ke- lapa, tentunya batok kelapa tersebut di- ambil yang sudah tua dan dikeringkan serta dicat agar menarik bagi anak. Menara ge- lang adalah permainan modern yang yang terbuat dari plastik berbentuk lingkaran se- perti donat atau gelang dan berwarna- warni. Sedangkan bola basket seperti pada umumnya permainan bola yang dimainkan dengan cara memasukkan bola ke dalam keranjang. Pada umumnya permainan bola basket dimainkan oleh para anak remaja.

Namun bisa juga dimainkan oleh anak-anak, hanya saja dimainkan lebih sederhana yaitu hanya memasukan bola ke dalam keranjang.

Adapun langkah-langkah bermainnya adalah yang pertama anak bermain engrang batok dari garis start sampai garis yang sudah ditentukan, kemudian anak menyu- sun menara gelang yang sudah disusun berdasarkan warna dan ukuran. Anak me- masukkan gelang-gelang tersebut ke ba- tang menara, setelah selesai anak meng- ambil bola kemudian memasukkannya ke dalam keranjang.

PENUTUP

Permainan kreatif di sini adalah per- mainan yang diciptakan oleh mahasiswa se- bagai calon guru PAUD yang dikemas me- lalui pengolaborasian dari permainan tradi- sional dengan permainan modern. Kolabo-

rasi permainan tersebut merupakan bentuk dari kreativitas mahasiswa yang dipersiap- kan sebagai calon guru pendidikan anak usia dini yang berkompeten, memiliki daya berpikir dan kreativitas yang tinggi, karena pada dasarnya dunia anak adalah bermain.

Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk lebih kreatif agar tercipta peserta didik yang sehat, ceria, kreatif dan imajinatif.

Maka di sinilah peran guru dan orang tua yang harus lebih mengedukasi anak- anak dalam menggunakan gadget yang mereka miliki, pendekatan secara baik dan benar harus dilakukan. Di antaranya adalah dengan menciptakan suatu permainan yang menarik untuk anak usia dini, bukan dengan cara melarangnya bermain tapi lebih kepada pendekatan secara personal dan kreativitas seorang guru itu lebih penting. Karena se- orang anak akan lebih mudah jika ia diberikan pengertian ketimbang harus mengikuti ke- hendak dan larangan. Bermain bersama anak saat waktu luang dan memperkenalkan per- mainan tradisional dengan mengolaborasi- kan permainan tradisional dengan permain- an modern dapat menjadi alternatif solusi.

Agar sang anak merasakan bagaimana sen- sasi bermain yang berbeda, yang lebih seru tentunya dibandingkan dengan gadget.

DAFTAR PUSTAKA

Admin .November 23, 2012. “Permainan Tradisional vs. Permainan Modern”.

http://maricari.com/permainan-mod- ern-vs-permainan-tradisional/ (1/12/

2014)

Depdiknas Dirjen Dikti. (2005). Pengem- bangan Kreativitas Senirupa Anak TK.

Ihromi, T.O. 2006. Pokok-Pokok Antropologi Budaya(Edisi ke-12). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Jakarta.

Kunandar. 2010. Guru Profesional Imple- mentasi Kurikulum T ingkat Satuan Pendidikan ( KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

(21)

303 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019 M. Sajoto. 1995. Peningkatan dan Pembina-

an Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta: Gemilang Press.

Masitoh, dkk. 2005. Pendekatan Belajar Aktif Ditaman Kanak-Kanak. Jakarta:

Departeman Pendidikan Nasional.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

Sahman, S. Hibanna. 2002. Konsep Dasar Ke- pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta:

PGTKI Press.

Sarjan, Ali. Maret, 2014. “Permainan Tradi- sional di Tengah Game Modern”.http:/

/budaya.kampung-media.com/2014/

0 3/04/p e rm ai na n- t radi si o na l- di - tengah-game-modern-1405(10/01/

2015)

September, 2014. “Olahraga dan Kesehatan (Permainan Tradisional)”. http://www.

slideshare.net/mithys/permainan- tradisional-39639830(10/01/2015) Soekanto, Soejono. 1990. Sosiologi Suatu

Pengantar(Edisi ke-4). Jakarta: Rajawali Pers

Sugihartono. et. all. 2007. Psikologi Pen- didikan. Yogyakarta: UNY Press.

Suratno. (2005). Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini. Jakarta:

Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan dosen.

Zulkifli. 2002. Model Pengembangan Moto- rik Anak Prasekolah. Jakarta: Ditjen Olahraga Depdiknas.

(22)

304 Seminar Nasional PGPAUD UNTIRTA 2019

Referensi

Dokumen terkait

(1) Verifikasi atau Penelusuran Teknis Produk Pertambangan hasil pengolahan dan/atau pemurnian yang tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II sebagaimana dimaksud

Ryhmän tavoitteena voi olla esimerkiksi saada ja antaa vertaistukea toisille samankaltaisessa elämäntilanteessa oleville, jakaa tietoa ja kokemuksia toistensa kanssa.. Tavoitteena

Menurut Hurlock (1981) pada saat diakui bahwa anak-anak perlu menampilkan perilaku disiplin bila ingin bahagia dan diterima di masyarakat. Melalui tindakan disiplin,

ƒ Kebutuhan sistem adalah data-data atribut penilai kualitas biodiesel yang diperoleh dari hasil pengukuran laboratorium dan pengamatan di industri mulai dari kandungan asam

Biaya yang dikeluarkan di bidang pendidikan sebagai bentuk investasi pada jangka waktu tertentu, di masa yang akan datang harus dapat menghasilkan keun- tungan

Bebe- rapa keuntungan yang diperoleh dari uji meng- gunakan bulu babi adalah: (a) biologi dan seja- rah hidup sepsies utama telah banyak didoku- mentasikan; (b) bulu babi dewasa

tentang masukan atas kendala yang dihadapi oleh Unit Kerja Dokumentasi dan Publikasi di Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dalam melakukan

Berdasarkan tingkat kemiripan maka dilakukan pemetaan posisi kamera ponsel samsung terhadap ponsel kamera merek lain dengan menggunakan metode multidimensional scaling