• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jakarta: Gramedia, 2011, Gusti A. B. Menoh. Religiusitas Bangsa sebagai Hasil Penalaran Agama-Agama di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jakarta: Gramedia, 2011, Gusti A. B. Menoh. Religiusitas Bangsa sebagai Hasil Penalaran Agama-Agama di"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1. Pendahuluan

Indonesia adalah suatu kenyataan tipikal. Terdapat keragaman kelompok etnik, suku, dan agama baik agama-agama dunia maupun agama-agama lokal dengan konsep ketuhanannya yang beragam dan pada saat yang sama mempunyai komitmen untuk hidup bersama dalam keberagaman. Kenyataan tipikal Indonesia menunjukan dua wajah itu sekaligus yang tidak dapat dilepas-pisahkan, yakni realitas keberagaman dan komitmen hidup bersama dalam keberagaman tersebut. Peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dapat disebut sebagai deklarasi menandai munculnya tekad komitmen untuk hidup bersama, yang mewujud menjadi nyata pada 17 Agustus 1945 dengan hadirnya Negara-bangsa baru yakni Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika dapat disebut sebagai simbol komitmen hidup bersama dalam keberagaman.

Komitmen hidup bersama dalam keberagaman di Indonesia tidak lepas dari perlunya pengakuan dan perlakuan yang sama dari dan antar-beragam pihak. Itu menjadi syarat agar hidup bersama dapat terjadi dan dalam konteks itulah konsensus- konsensus boleh berlangsung. Secara historis komitmen hidup bersama dalam keberagaman menghasilkan teks-teks keindonesiaan yang ideal yakni Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Keduanya merupakan hasil penalaran publik para pendiri bangsa, dengan beragam latar belakang mereka masing-masing, yang melakukan diskusi terbuka, berdebat, saling mendengar dan masing-masing pihak bersedia memperluas pandangannya, terutama di bidang keagamaan tetapi tidak terbatas di sana melainkan juga bidang-bidang lainnya, guna meraih konsensus bersama.1 Yudi Latif menegaskan bahwa Pancasila merupakan karya bersama dengan fase-fase yang dilewatinya mulai dari fase pembuahan yang terjadi pada tahun 1920an, fase perumusan pada tahun 1945 mulai dari sidang BPUPKI sampai penggodokannya, dan fase pengesahan pada 18 Agustus 1945.2 Pancasila adalah tonggak yang di dalamnya terdapat kesediaan saling menerima dan mau untuk hidup bersama dalam perbedaan

1 Gusti A. B. Menoh. Religiusitas Bangsa sebagai Hasil Penalaran Agama-Agama di Indonesia: Diteropong dari Pespektif Filsafat Politik Jurgen Habermas. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. II, no. 1 (April 2014), 85.

2 Lihat Yudi Latif. Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila.

Jakarta: Gramedia, 2011, 2-40.

(2)

2

identitas masing-masing. Menurut Franz Magnis Suseno, Pancasila mau menjamin bahwa semua orang Indonesia, dalam keutuhan identitas agama, etnik dan budaya mereka, sepenuhnya menjadi warga Negara Indonesia, dan sepenuhnya ikut memiliki Indonesia. Baginya, Pancasila menjamin sesuatu yang di banyak Negara lain tidak berhasil dicapai yakni bahwa identitas Indonesia tidak melindas, melainkan melindungi dan mengangkat identitas keagamaan, budaya dan etnis ratusan komunitas yang beragam itu. Menjadi orang Indonesia tidak berarti harus kurang menjadi orang sesuai dalam komunitas masing-masing etnis.3 Dalam bahasa Soekarno yang didirikan adalah Negara semua buat semua, yang didasarkan atas hal disetujui dan disepakati oleh semua pihak.4

Agama menjadi salah satu faktor penentu dalam menjalani kehidupan bersama dalam keberagaman di Indonesia. Hal ini terjadi karena agama melingkupi dan memberikan pengaruh yang signifikan bagi kehidupan seseorang. Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada masalah hubungan secara pribadi seseorang dengan Tuhan dalam ritual-ritual keagamaan yang dijalankan, akan tetapi lebih jauh dari pada itu, agama berpengaruh dalam masalah keluarga, sosial, ekonomi, pendidikan, sampai pada persoalan politik dan kenegaraan. Di dalam agama seseorang berkewajiban untuk merealisasikan ajaran agamanya dalam semua aspek kehidupannya atau di dalam laku hidup kesehariannya. Agama dengan posisi atau statusnya yang demikian itu apabila dipraktikan dalam realitas sosial yang multi-agama menjadi tantangan. Keberagaman agama pada satu sisi bila terkelola dengan baik dapat turut berkontribusi dalam mengusahakan terciptanya kehidupan yang harmonis tetapi di sisi yang lain, keragaman agama dapat menghasilkan perbedaan pandangan terhadap sesuatu hal yang bekembang menjadi konflik antar-agama dan diskriminasi berbasis agama yang berdampak pada disintegrasi sosial. Agama lalu menjadi sumber konflik.

Teks-teks keagamaan memberi dasar yang menginspirasi dan melegitimasi perilaku serta tindakan-tindakan manusia (orang beragama). Teks-teks keagamaan

3 Franz Magnis Suseno. Beragama dalam Damai. Dalam ”Agama, Politik Identitas dan Keberpihakan Negara. ed. Jimmy M. I. Sormin, dkk. Jakarta: ICRP, 2020, 2-3

4 Saafroedin Bahar,, dkk. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jakarta:

Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995. 71

(3)

3

sarat dengan keberagaman termasuk di dalamnya teks-teks yang mengeksklusi manusia dengan agama dan keyakinan berbeda yang menimbulkan polemik. Oleh karena itu, penggunaan teks keagamaan oleh pembacanya bersifat selektif.5 Teks yang dipandang cocok dan sesuai akan dipilih untuk digunakan. Menjadi wajar jika suatu pandangan dan sikap terhadap agama-agama lain mulai dari yang paling tertutup sampai yang paling terbuka mendapat landasan teologisnya dalam kitab suci.

Tidak jarang terjadi polemik karena masalah penafsiran dan penggunaan suatu teks.

Masalah mendasar dari suatu teks adalah ketika teks melegitimasi manusia mengeksklusi dan memarginalkan sesamanya. Teks-teks “eksklusif” tidak menjadi masalah ketika manusia menjalani hidup terisolasi tanpa relasi dengan manusia lainnya yang berbeda agama dan keyakinannya. Dalam dunia, dan secara khusus Indonesia dengan tingkat pluralitas agama yang tinggi hal tersebut menjadi masalah terutama dalam hubungan antaragama. Penafsiran terhadap teks-teks yang demikian itu menjadi rumit. Bagi mereka yang terdorong memandang dan bersikap terbuka akan mengembangkan model-model penafsiran yang dianggap memadai dan mendukung dalam memahami teks yang demikian.6

Pembacaan dan penafsiran terhadap teks keagamaan dipengaruhi oleh pemahaman terhadap Tuhan. Satu hal yang paling berpengaruh berkaitan dengan teks kitab suci adalah teks diyakini berasal dari Tuhan terutama dalam tradisi agama- agama Abrahamik. Pembacaan kritis terhadap teks kitab suci termasuk teks-teks polemis dapat terjadi utamanya berkaitan dengan teks yang dianggap tidak sepenuhnya bersifat ilahi. Dari hasil pembacaan terhadap teks, sangat mungkin suatu teks tidak dipakai apalagi jika suatu teks itu mengeksklusi. Pada titik tertentu, hal ini dianggap bertentangan dengan keyakinan bahwa teks merupakan wahyu yang sepenuhnya berasal dari Tuhan. Pengabaian terhadap suatu teks, secara khusus teks yang dipandang mengeksklusi dapat berarti penolakan serta pengingkaran terhadap Tuhan atau paling kurang dianggap memakai teks sesuai dengan kepentingan dan

5 Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme. Bandung: Mizan, 2014, 113.

6 Lihat John Titaley, Menuju Teologi Agama-Agama yang Kontekstual. Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 2001, 12-23. Lihat juga Mun’im Sirry. Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Qur’an terhadap Agama Lain. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.

(4)

4

kebutuhannya bukan teks sebagaimana adanya.7 Oleh karena itu, selain perlunya pemahaman dan pembacaan secara baru terhadap teks ada hal lain yang perlu dilakukan yakni merefleksikan kembali pemahaman manusia terhadap Tuhan yang darinya teks-teks diyakini berasal. Teks-teks itu cantolannya pada Tuhan yang sejak awal diyakini telah berpihak pada kelompok manusia tertentu.

Pandangan manusia tentang Tuhan bersifat relasional. Konsepsi manusia terhadap Tuhan bukan pertama-tama Tuhan pada diri-Nya sendiri melainkan suatu proposisi kreativitas manusia atas pengalaman eksistensial terhadap Tuhan yang selalu dalam relasinya dengan dirinya, sesamanya dan dunianya. Meskipun Karen Armstrong menulis tentang Sejarah Tuhan tetapi yang dituliskan merupakan konsepsi manusia tentang Tuhan yakni pemikiran dan pengalaman terhadap Tuhan selama 4000 tahun dalam komunitas Yahudi, Kristen dan Islam. Baginya gagasan tentang Tuhan memiliki sejarah karena gagasan-gagasan itu selalu mempunyai arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di berbagai periode waktu. Gagasan tentang Tuhan tidak mempunyai makna yang objektif yang persis sama di dalam setiap sejarah manusia. Tidak dapat diandaikan bahwa Adam, Abraham, Musa, Daud, dan yang sesudahnya mempunyai pengalaman dan karenanya mempunyai gagasan yang sama tentang Tuhan. Gagasan tentang Tuhan yang dibentuk manusia pada suatu generasi bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi lain. Ketika suatu konsepsi tentang Tuhan tidak lagi mempunyai makna atau relevansi ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan oleh suatu teologi baru.8

Realitas keberagaman, secara khusus dalam konteks Indonesia dengan tingkat pluralitas agama yang tinggi membuat diskursus ketuhanan menjadi penting. Telah disadari sejak awal bahwa pemahaman termasuk di dalamnya perbedaan pemahaman tentang Tuhan berpengaruh terhadap praktik hidup bersama. Soekarno secara khusus menyinggung terkait kehidupan bersama dalam keberagaman agama dalam pidatonya

7 Lihat Sumanto Al Qurtuby. Dekonstruksi Teks dan Transformasi Agama. Semarang: eLSA Press, 2020, 60; Caprili C. Guanga, Misiologi Regnosentris Paul Knitter: Sebuah Kritik dan Koreksi.

Jurnal Teologi dan Pelayanan, 5/1 (April 2004); Elisabeth Lukman, Tinjauan terhadap Kristologi Korelasional Paul F. Knitter dari Perspektif Eksklusivisme. Malang: Sekolah Tinggi Teologi SAAT, 2014.

8 Karen Armstrong. Sejarah Tuhan: Kisah 4000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama- Agama Manusia. Bandung: Mizan, 2000, 21-23.

(5)

5

tentang Pancasila pada 1 Juni 1945. Berhadapan dengan keragaman komunitas keagamaan dengan konsep ketuhanan yang berbeda-beda dan keinginan untuk hidup bersama, Soekarno menawarkan konstruksi gagasan ketuhanan yang berkebudayaan sebagai prinsip penting bagi berdirinya Indonesia. Memperhatikan pluralitas agama, Pancasila menekankan ketuhanan yang terbuka di sila pertamanya. Menampung di dalamnya keberagaman dalam hal agama dan ketuhanan. Yudi Latif menjelaskan bahwa Tuhan yang berbeda bisa melahirkan keragaman komunitas moral yang menyulitkan integrasi nasional. Mengatasi hal tersebut, di dalam Pancasila ketuhanan tidak berhenti pada Tuhan kelompok tertentu melainkan lebih jauh menuju pada Tuhan yang universal.9 Di sisi lain, dalam Pembukaan UUD 1945 terutama pada alinea ketiga, terdapat penegasan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa yang merupakan suatu pernyataan bersama sebagai bangsa Indonesia secara menyeluruh bukan berdasarkan kelompok tertentu.

Menelusuri lebih jauh Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 membuka suatu kemungkinan baru bagi diskursus ketuhanan, yakni diskursus Ketuhanan Indonesia sebagai suatu konsep ketuhanan dalam konteks kebangsaan yang belum cukup diperhatikan agama-agama di Indonesia. Diskursus ketuhanan dalam konteks kebangsaan cenderung diarahkan pada pembahasan konsep ketuhanan agama-agama dalam keterkaitannya dengan Pancasila. Bahwa setiap konsep ketuhanan agama- agama tidak bertentangan dengan Pancasila; Pancasila sangat inklusif dan memberikan kebebasan bagi warga negaranya untuk ber-Tuhan sebebas-bebasnya.

Sampai kini selalu saja ada masalah terkait ketuhanan dalam agama-agama yang dikaitkan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa di sila pertama Pancasila.10 Di sisi lain, juga masih cukup dominan pada pemahaman internal agama masing-masing dengan konsep ketuhanannya. Agama-agama mencoba membahas konsepnya tentang Tuhan

9 Yudi Latif. Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun untuk Pembudayaan. Edisi Komprehensif. Bandung: Mizan, 2020, 156.

10 Lihat Syaiful Arif. Pancasila, Esa dan Ketuhanan Kita. Kompas, Oktober 21, 2017, diakses Agustus 28, 2020, https://www.kompas.id/baca/opini/2017/10/21/pancasila-esa-dan-ketuhanan-kita/.

Lihat juga, Aloysius Budi Kurniawan. Konsep Keesaan Tuhan Menyatukan. Kompas, Januari 30, 2020, diakses Agustus 28, 2020, https://www.kompas.id/baca/dikbud/2020/01/30/konsep-keesaan- tuhan-menyatukan/

(6)

6

yang dikaitkan langsung dengan realitas keberagaman agama.11 Terdapat juga usaha untuk mencari titik-titik kesamaan konsep ketuhanan dengan agama tertentu.

Misalnya penggunaan kata Allah dalam agama Kristen dan Islam untuk menyebut Yang Ilahi, yang diandaikan dapat memunculkan pendekatan-pendekatan yang bermanfaat dan bermakna dalam relasi antaragama terkhususnya bagi agama Kristen dan Islam.12

Sampai kini belum ada suatu konsep holistik dan sistematis tentang Tuhan yang dipahami sebagai orang Indonesia. Bahwa Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 menegaskan tentang ketuhanan, tetapi belum ada suatu konstruksi secara utuh pemahaman tentang ketuhanan itu. Yewangoe berpendapat bahwa Tuhan mengizinkan diri-Nya dialami. Akan tetapi, dengan mengatakan itu ia tidak mendeskripsikan lebih jauh bagaimana manusia mengalami dan karenanya memahami Tuhan yang mengizinkan diri-Nya dialami sebagai orang Indonesia. Ia lebih memilih jalan memahami Tuhan yang menyatakan diri itu sebagai orang Kristen yang tinggal di Indonesia. Oleh karena itu, ia lebih cenderung pada konsepsi kekristenan tentang Tuhan dan lebih jauh mengenai kesamaan konsep ketuhanan dengan agama lain.13 Hal ini sejalan dengan judul bukunya yang tidak menggunakan kata Tuhan melainkan kata Allah yang memang lebih dekat dengan Kristen dan juga Islam. Dapat dikatakan bahwa agama-agama masih terlalu terikat dengan konsepnya tentang Tuhan sehingga belum memungkinkan bagi dikonstruksinya gagasan Ketuhanan Indonesia itu walaupun pada dasarnya sangat memungkinkan. Melihat upaya agama-agama di Indonesia merelevansikan konsep ketuhanan agama-agama dalam konteks tertentu, mencari titik-titik kesamaan konsep ketuhanan, menunjukan kemungkinan terjadinya perubahan secara konseptual tentang Tuhan itu.

11 Lihat, Joas Adiprasetya. An Imaginative Glimbs: Trinitas dan Agama-Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018; Lihat juga, Ebenhaizer I. N Timo. Allah Menahan Diri, Tetapi Pantang Berdiam Diri: Suatu Upaya Berdogmatika Kontekstual di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015; dan, Aku Memahami Yang Aku Imani: Memahami Allah Tritunggal, Roh Kudus dan Karunia-Karunia Roh Secara Bertanggungjawab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

12 A. A Yewangoe. Allah Mengizinkan Manusia Mengalami Diri-Nya: Pengalaman dengan Allah dalam Konteks Indonesia yang Berpancasila. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018, 12-15.

13 Yewangoe, Allah, ix-xiv, 2-16.

(7)

7

John Titaley adalah teolog yang menempatkan Indonesia sebagai dasar dalam membangun teologinya dan menegaskan keindonesiaan harus menjadi konteks kehidupan beragama. Ia memberikan perhatian serius terhadap Ketuhanan Indonesia dengan menekankan pada kehadiran dan karya Tuhan di Indonesia. Menurutnya, Yang Sakral turut berkarya di Indonesia, tidak berbeda dengan yang terjadi di belahan dunia manapun termasuk yang dikisahkan dalam kitab suci. Yang Sakral tidak dapat dibatasi oleh pengetahuan dan budaya manusia yang hanya berkarya dalam tempat, peradaban, kelompok, budaya, agama dan waktu tertentu saja melainkan masih dan terus berkarya dalam sejarah manusia, termasuk di dalam sejarah manusia Indonesia yang terdiri dari berbagai bangsa, budaya dan agama.14 Yang Sakral yang masih dan terus berkarya itu oleh manusia Indonesia, disebut dengan nama Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan Yang Maha Kuasa itu adalah Tuhan untuk semua manusia Indonesia yang beragam agamanya dan tidak mengistimewakan manusia berdasarkan agama tertentu. Semuanya sama-sama berdiri setara di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan manusia Indonesia. Gagasan ketuhanan versi Indonesia ini secara budayawi berbeda dengan gagasan ketuhanan dalam tradisi Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan tradisi keagamaan lainnya, termasuk tradisi pribumi dari masyarakat,15 yang perlu dipahami dalam perpektif Indonesia sendiri, bukan dari perspektif masing-masing agama secara sendiri-sendiri.16 Tuhan versi Indonesia ini, bagi John Titaley, memberikan peluang besar bagi manusia di dunia dengan pemahaman terhadap Tuhan secara berbeda untuk terbuka satu terhadap yang lainnya17 sehingga memberi kesempatan terbuka untuk membangun perikemanusiaan yang seimbang dalam masyarakat Indonesia.18

Keberadaan Indonesia, dengan kenyataan tipikalnya membuka kemungkinan bagi terjadinya transformasi ketuhanan dan mendorong konsep ketuhanan secara baru

14 John A Titaley, Berada Dari Ada Walau Tak Ada: Indonesia Sebagai Konteks Kehidupan Beragama. Semarang, eLSA, 2020, 51. Lihat juga, John Titaley, Agama dan Ajaran tentang Tuhan.

Dalam Buku Ajar Agama, ed. Mariska Lauterboom, dkk. Salatiga: UKSW, 2015, 28.

15 John A Titaley, Religiositas di Alinea Tiga: Pluralisme, Nasionalisme dan Transformasi Agama-Agama. Salatiga: UKSW, 2013, 159.

16 Titaley, Berada, 57.

17 Titaley, Agama, 28.

18 Titaley, Religiositas, 159.

(8)

8

harus ada. John Titaley menunjukan itu dengan mengangkat dan membuka jalan bagi diskursus konsep Ketuhanan Indonesia. Melalui pemikiran John Titaley akan dikemukakan bahwa diskursus ketuhanan di Indonesia tidak hanya berhenti pada apa yang selama ini dilakukan, tetapi lebih jauh sampai pada titik bahwa ada konsepsi Ketuhanan Indonesia, suatu konsep Tuhan yang berbeda dengan konsep lainnya, yang perlu dibahas dan dikembangkan. Konsepsi tersebut berdampak besar dalam konteks pluralitas agama di Indonesia karena realitas itu sepenuhnya dikehendaki Tuhan Yang Maha Kuasa dan lebih jauh di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa itu manusia Indonesia dengan agamanya masing-masing berdiri sama dan setara, tidak ada yang diistimewakan dan menjadi anak emas daripada yang lainnya, yang darinya agama- agama di Indonesia (manusia Indonesia) terpanggil dan bertanggung jawab untuk mengusahakan terciptanya kehidupan yang terbuka dan harmonis.19

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas maka rumusan masalah dalam tulisan ini adalah: Bagaimana konsep ketuhanan Indonesia dalam gagasan John Titaley? Bagaimana relevansi konsep ketuhanan Indonesia dalam gagasan John Titaley di tengah realitas pluralitas agama Indonesia?

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan konsep Ketuhanan Indonesia dalam gagasan John Titaley sekaligus mendeskripsikan relevansi konsep tersebut dalam konteks pluralitas agama di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk beberapa hal. Pertama, diharapkan bermanfaat dalam diskursus ketuhanan di Indonesia terutama dalam pengembangan konsep Ketuhanan Indonesia yang dibangun berdasarkan perspektif Indonesia daripada sekedar perspektif masing-masing agama. Kedua, diharapkan berguna untuk merefleksikan kehadiran dan karya Tuhan dalam konteks Indonesia dengan pluralitas agamanya yang membawa implikasi positif pada relasi antar-warga masyarakat dengan mendorong terciptanya kehidupan yang terbuka dan harmonis dalam realitas keberagaman agama.

Penelitian ini bersifat historis-faktual yang berkaitan langsung dengan tokoh dan pemikirannya dan deskriptif-analitis untuk menjelaskan dan memberikan

19 Titaley, Menuju, 23; Buku Ajar, 27

(9)

9

gambaran secara utuh dan sistematis pemikiran tokoh yang selanjutnya direlevansikan dengan realitas keberagaman agama di Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan. Pendekatan kualitatif dipakai untuk menemukan makna atau pemahaman yang mendalam tentang suatu masalah yang dihadapi, yang tampak dalam data kualitatif baik berupa kata, gambar, fakta maupun gejala dari realitas tertentu.20 Studi kepustakaan digunakan untuk menelusuri tulisan-tulisan yang berkaitan dengan pemikiran tokoh. Studi keputakaan mendasarkan dirinya pada berbagai sumber pustaka acuan yang dibaca, dicatat dan diolah sebagai bahan penelitian.21 Tulisan-tulisan yang dihasilkan tokoh seperti buku, jurnal, artikel atau yang lainnya dijadikan sebagai data utama dalam penelitian ini. Data pendukungnya ialah buku, jurnal, artikel atau yang lainnya, yang dibuat oleh orang tertentu berkaitan dengan tokoh. Selain itu juga akan dilakukan wawancara dan diskusi dengan John Titaley sebagai tokoh yang diteliti gagasannya dalam penelitian ini.

Penjelasan dalam tulisan ini akan dibagi ke dalam beberapa bagian. Bagian pertama, pendahuluan. Bagian kedua, konsep ketuhanan Indonesia dalam gagasan John Titaley. Bagian ketiga, pluralitas agama di Indonesia. Bagian keempat, relevansi gagasan John Titaley di tengah pluralitas agama di Indoneisa. Bagian kelima, kesimpulan dan penutup.

2. Ketuhanan Indonesia dalam Gagasan John Titaley 2.1.Sekilas Tentang John Titaley22

John Titaley adalah adalah sosok pendeta, teolog dan pemikir Kristen yang memiliki pandangan humanis-progresif23 dan yang sangat kritis terhadap teks, tradisi

20 Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan. Jakarta:

Kencana, 2014, 43.

21 Mestika, Zed. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004, 3.

22 Sebagian besar uraian ini didasarkan pada buku Menuju Teologi Agama-Agama yang Kontekstual

23 Sumanto Al Qurtuby bependapat bahwa John Titaley mewakili atau mereprensetasikan genre sebagai seorang sarjana atau teolog liberal-progresif, pluralis-inklusif dan humanis. Ini terbedakan dari genre fanatik-konservatif yang bersifat ekslusif; genre agama filosofis yang merasionalkan dan mengilmiahkan kekristenan yang ujungnya menampilkan dan memamerkan keunggulan agamanya; genre aktivis-praktis yang menghindari perdebatan teologis-keagamaan; genre

(10)

10

dan wacana keagamaan, khususnya Yahudi dan Kristen. Ia terlibat dalam dalam proses diseminasi wacana keagamaan yang inklusif-transformatif yang dilakukan baik di bangku perkuliahan maupun dalam kehidupan berjemaat. Konsentrasi John Titaley merujuk pada upayanya untuk menjadikan Indonesia sebagai konteks dalam berteologi24 dan beragama.

John Titaley dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan. Ia dilahirkan di Sorong-Papua pada 19 Juni 1950 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya Robert Titaley, adalah seorang pendeta di Gereja Protestan Maluku yang berasal dari negeri (kampong atau desa) Ouw, Maluku Tengah, yang ditugaskan di Papua.

Ayahnya meninggal pada usianya yang baru 14 tahun. Ibunya Lien Tho, seorang keturunan tionghoa yang digambarkannya sebagai seorang yang tidak pernah merasa rendah diri dan merasa asing sebagai seorang “non-pribumi” di Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan SD di Saparua, SMP di Ambon, dan SMA di Surabaya.

Pada tahun 1970 ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga-Jawa Tengah.

Pada tahun 1981 John Titaley menikah dengan Ida Imam, seorang perempuan dari keluarga Islam-Jawa. Menurutnya, di dalam keluarga itu ia diterima secara terbuka dan dengan keyakinan penuh walaupun ia adalah orang asing baik dari segi suku maupun agama. Ia dianggap sebagai anak yang dikasihi ibu mertuanya, yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri, sama seperti anak-anaknya yang lain tanpa membeda-bedakan. Keterbukaan seperti itu memperkuat keyakinannya bahwa sangat mungkin tercipta suatu masyarakat yang majemuk yang saling menghargai keragaman yang ada tanpa harus mengakibatkan terjadinya perbedaan perlakuan satu dengan yang lainnya.

Pada tahun 1991 ia lulus dari Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, Amerika Serikat dengan disertasi “A Sociohistorical Analysis of the Pancasila as Indonesia's State Ideology in the Light of the Royal Ideology in the Davidic State”.

politis-pragmatis yang mementingkan untuk menggelembungkan jemaat dan gerejanya meskipun dilakukan dengan cara-cara yang tidak mengindahkan etika profetis, nilai kekristenan dan ajaran kitab keagamaan (Titaley, Berada, VII-XV)

24 Titaley, Berada, V

(11)

11

Sejak tahun 1978 sampai 2017 (39 tahun) ia bekerja sebagai dosen pada Fakultas Teologi UKSW. Ia juga pernah menjadi dosen luar biasa pada Program Pascasarjana Teologi UKDW dan Program Pascasarjana Studi Perbandingan Agama UGM di Yogyakarta.

Pada tahun 2001 ia diangkat sebagai profesor Teologi dan menyampaikan pidatonya yang berjudul: Menuju Teologi Agama-agama yang Kontekstual. Pada tahun 2017, setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Rektor UKSW periode ke-3, ia pindah ke Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Ambon. Di sana ia ikut ambil bagian sebagai penggagas berdirinya program doktoral Agama dan Kebangsaan. Menurutnya, kehidupan suatu bangsa dipandu oleh kebangsaannya, yakni cita-cita sebagai suatu bangsa dan cita-cita itu selalu ada hubungannya dengan agama.25

2.2. Indonesia: Fenomena Baru yang Berada dari Ada walau Tak Ada John Titaley memandang Indonesia dengan pendekatan yang khas. Ia mengusulkan agar Indonesia tidak dibaca secara Common Sense melainkan harus diinterpretasi dari segi maknanya. Ia menegaskan bahwa Indonesia mempunyai makna yang sangat besar bagi kemanusiaan tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi bagi dunia. Menurutnya, Indonesia adalah fenomena baru. Indonesia sebagai fenomena baru tidak hanya dipakai menunjuk pada Indonesia sebagai entitas atau negara-bangsa yang baru hadir pada 17 Agustus 1945 melainkan juga sebagai cara berpikir. Baginya, Indonesia sebagai fenomena baru harus menjadi titik tolak dalam memahami Indonesia. Di dalam tesis Indonesia sebagai fenomena baru itu terkandung di dalamnya sekaligus makna dari hadirnya Indonesia.

Sebelum 17 Agustus 1945 Indonesia tidak ada. Kehidupan pra-Indonesia adalah kehidupan yang bebas dan otonom tanpa keterkaitan satu dengan yang lainnya dan hanya disatukan dalam batas-batas administratif pemerintah Kolonial Hindia- Belanda. Bagi John Titaley, beberapa kondisi pada masa lampau seperti Majapahit

25Tewuh, Joshua B. Berteologi Dalam Konteks Pra Indonesia & Sesudah Jadi Indonesia, Bahasan Apik dan Cerdas Prof. JT. 2020.

(12)

12

atau Sriwijaya yang dirujuk sebagai gambaran Indonesia oleh beberapa tokoh tidak dapat dijadikan padanan bagi Indonesia. Bahkan batas-batas teritorial yang ditetapkan pemerintah Kolonial Hindia-Belandapun tidak dapat dikatakan sebagai Indonesia.

Baru disebut Indonesia ketika masing-masing entitas menyatakan diri untuk hidup bersama dan menegaskan kebangsaan mereka adalah kebangsaan Indonesia.

Indonesia sebagai fenomena baru tidaklah baru sepenuhnya. Ia adalah kenyataan baru yang hadir dari sesuatu yang telah lama eksis. Dalam bahasa John Titaley, Indonesia itu berada dari Ada walau Tak Ada. Berada dari Ada karena entitas- entitas yang membentuk Indonesia adalah entitas yang telah eksis jauh sebelum 17 Agustus 1945, sedangkan Tak Ada karena Indonesia tidak mempunyai padanan apapun sebelum 17 Agustus 1945 dan ia tidaklah sama atau disamakan dengan Ada.

Ketidaksamaan itu pertama-tama merujuk pada nilai-nilai ideal keindonesiaan yakni kemerdekaan, perikemanusiaan, keadilan, kerja keras, intevensi Tuhan, yang seluruhnya bersumber dari kesederajatan kemanusiaan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.26 Bagi John Titaley, nilai-nilai ideal yang ada dalam Indonesia tidak cukup atau sulit dijamin di dalam realitas Ada terutama nilai kemerdekaan dan kesetaraan kemanusiaan.27 Kehidupan pra-Indonesia adalah kehidupan dengan fenomena foedalistik dan eksklusif yang sangat kental sehingga kedudukan setiap manusia di dalamnya tidaklah sama dan itu sangatlah berbeda dalam fenomena Indonesia yang memperlakukan sesamanya secara setara.28

Menurut John Titaley, sebagai manusia Indonesia terdapat di dalam dirinya dua identitas yang tidak dapat dilepas-pisahkan satu sama lain. Identitas pertama disebutnya sebagai identitas primordial. Di dalamnya ada agama, suku, bahasa, dan seterusnya, yang telah melekat pada manusia pra-Indonesia. Itulah identitas yang telah ada lama dan melekat pada masing-masing individu dan kelompok. Identitas lainnya adalah identitas sebagai bangsa yang baru ada, yakni bangsa Indonesia yang disebutnya sebagai identitas nasional. Keduanya harus dijaga. Memperhatikan hanya

26Titaley, John. Nilai-Nilai Dasar yang Terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Salatiga;

Teologi UKSW, 1999,

27Titaley, Nilai-Nilai, 23

28Titaley, Nilai-Nilai, 21

(13)

13

salah satunya saja akan menghancurkan Indonesia. Dalam konteks ini, identitas nasional tidak boleh menindas identitas primordial tetapi pada saat yang sama identitas primordial tidak dapat dipaksakan menjadi identitas nasional. Ketika itu terjadi, Indonesia sudah bukan Indonesia lagi.29 Oleh karena itu, bagi John Titaley kedua identitas itu menjadi tantangan dan perlu dijaga keseimbangannya dalam suatu hubungan yang dialektis.30

Gagasan John Titaley tentang identitas primordial tidak hanya merujuk pada yang “pribumi” tetapi juga yang “keturunan” seperti keturunan Cina, Arab, Belanda, dan sebagainya. Ketika menjadi Indonesia, “pribumi” dan “keturunan” itu disebut sebagai orang Indonesia. Semuanya adalah Indonesia asli. Mereka yang disebut keturunan sama pribuminya, sama aslinya dengan manusia lain di Indonesia. Sebab Indonesia tidak ada sebelumnya. Ia baru hadir ketika dikehendaki kehadirannya oleh mereka yang disebut “pribumi” dan “keturunan”. Implikasinya, semua yang mendirikan Indonesia termasuk yang “keturunan” memiliki Indonesia, sama dan setara dengan yang lainnya.31

Bagi John Titaley fenomena Indonesia adalah karya Tuhan dalam sejarah. Di sini ia tidak hanya membaca Indonesia sebagai suatu peristiwa politis tetapi juga teologis. Ada maksud Tuhan dari hadirnya Indonesia. Baginya, kehadiran Indonesia membawa angin segar ketika dunia dilanda berbagai pertikaian terutama atas nama agama. Sebab di Indonesia setiap agama hadir dan hidup bersama. Di tempat asal agama-agama dunia, mereka adalah anak emas. Namun di Indonesia, mereka bukanlah anak emas lagi. Mereka hidup berdampingan dengan anak-anak emas lainnya. Semuanya adalah anak emas. Mereka berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, mempunyai kelemahan sekaligus kelebihan masing-masing. Di atas kekurangan dan kelebihan itu, mereka berupaya memahami maksud Tuhan atas kehadiran mereka secara terus-menerus.32

29Titaley, Menuju, 24-25

30Titaley, Menuju, 29

31Titaley, Menuju, 30

32Titaley, Menuju, 23; Religiusitas, 124, 168

(14)

14

2.3.Ketuhanan Indonesia: Tuhan Yang Maha Kuasa yang Ketuhanannya Maha Esa

Menurut John Titaley, kata Tuhan adalah kata khas yang digunakan di Indonesia untuk menyebut Yang Ilahi. Kata “Tuhan” berasal dari kata “tuan” yang pada awalnya digunakan dalam terjemahan Alkitab untuk penyebutan terhadap Yesus.33 Namun ia mengalami perkembangan makna sehingga kata “Tuhan”

menunjuk pada sapaan terhadap Yang Ilahi yang penggunannya menjadi umum dan menyeluruh tidak hanya oleh kekristenan saja. Penggunaan yang semakin luas itu misalnya ditegaskan di dalam ruang BPUPKI ketika I Gusti Ketut Pudja, yang adalah salah satu anggota BPUPKI berlatar belakang Hindu-Bali, mengusulkan agar kata

“Allah” yang lebih dekat dengan Islam dan Kristen, diganti dengan kata “Tuhan”.

Dapat diandaikan bahwa ia menghendaki agar UUD 1945 bisa menaungi keberagaman agama di Indonesia.34

Kata Tuhan adalah identitas keindonesiaan yang disepakati untuk mengatasi sekian nama.35 Menurut John Titaley, Soekarno ketika menyampaikan pidato menggunakan kata Ketuhanan dari kata dasar Tuhan. Ketika kata Tuhan ditambahkan awalan “ke” dan akhiran “an” membuat kata benda menjadi kata sifat. Soekarno sebagai muslim kalau harus menggunakan kata benda, maka logisnya menyebut Allah swt. Jika itu yang terjadi, maka berarti bahwa ilah dari satu agama akan menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia yang beragama sangat beragam. Indonesia bukan lagi semua buat semua, tetapi semua buat satu atau satu buat semua.36 Justru dalam keberagaman mereka menggunakan kata Tuhan. Kalau saja masih digunakan kata Allah, maka nama itu lebih cocok bagi bangsa Indonesia yang beragama Islam saja dan juga Kristen. Bagi John Titaley, dengan menggunakan “ketuhanan” maka hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan tidak bisa dikaitkan dengan salah satu agama baik agama dunia maupun agama-agama suku di Indonesia. Bahkan kata “Tuhan” sebagai

33Munsyi, Alif Danya. 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Jakarta: Pustaka Firdaius, 1996. 112-115

34Tedi Kholiludin. Pancasila dan Transformasi Religiusitas Sipil di Indonesia. Disertasi:

Doktor Sosiologi Agama Program Pascasarjana Fakultas Teologi UKSW, 2015. 121

35Tedi Kholiludin, Pancasila, 124

36Titaley, Berada, 145

(15)

15

nama bukanlah nama ilah dari salah satu agama baik agama dunia maupun agama suku.37 Dalam konteks itu, John Titaley menegaskan bahwa kata Tuhan telah memasukan seluruh rakyat Indonesia dalam satu identitas bersama yaitu Indonesia yang setara.38 Melalui religiositas yang terkandung dalam kata “Tuhan” dan bukan kata “Allah”, ada kesempatan terbuka untuk membangun peri kemanusiaan yang seimbang di dalam masyarakat Indonesia.39

John Titaley berbicara tentang Tuhan dengan kesadaran bahwa Tuhan terlibat dalam sejarah. Sejarah yang dimaksudkan John Titaley tidak hanya menunjuk pada tempat dan waktu tertentu saja pada masa lampau melainkan mencakup tempat secara keseluruhan dan setiap waktu dalam sejarah baik dulu, kini dan nanti. Dalam konteks itu John Titaley menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya berkarya pada kurun waktu tertentu dalam sejarah, dibakukan dalam kitab suci, dan berhenti sampai di situ.

Baginya, Tuhan melampauinya dan masih terus berkarya di dalam sejarah. Kitab suci yang adalah rujukan penting dalam pemahaman tentang Tuhan merupakan budaya manusia yang dihasilkan dalam waktu yang jauh kemudian. Kitab suci tidak ada sejak awalnya. Kitab suci adalah bentuk budaya manusia yakni kumpulan pengetahuan dan tulisan yang manusia ciptakan untuk menyatakan sesuatu secara bersama. Kitab suci hanya dokumen tertulis yang dibuat manusia atas ajaran agama atau pemahaman manusia sendiri terhadap keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Akan tetapi itu tidak berarti bahwa sebelum adanya kitab suci Tuhan tidaklah ada. Tuhan telah ada sebelum kitab suci. Ketika kitab suci ada Tuhan tetap berkarya, yang dalam banyak hal tidak dituliskan dalam kitab suci. Tuhan sudah ada jauh bersama dengan kenyataan langit dan bumi beserta segala isinya termasuk manusia.40 Di sisi lain, John Titaley juga menegaskan bahwa Tuhan berkarya tidak berhenti pada satu kelompok manusia dengan latar belakang budaya tertentu. Tuhan masih terus berkarya dalam sejarah di abad XXI, termasuk sejarah Indonesia.41

37Wawancara dengan John Titaley pada 30 November 2021

38Titaley, Buku Ajar, 23

39Titaley, Religiositas, 159

40Titaley, Buku Ajar, 18-19

41John Titaley, Berada, 51

(16)

16

John Titaley juga menyadari keterbatasan manusia dalam memahami Tuhan.

Tuhan yang berkarya dalam sejarah juga sekaligus Tuhan yang misterius. Dalam konteks itu, John Titaley menegaskan bahwa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh pengetahuan dan budaya manusia karena Tuhan itu misterius, tak teraba, tak terduga, tak terkirakan, tak terkatakan. Tuhan yang misterius itu membuat pemahaman manusia sangatlah interpretarif. Keterbatasan tersebutlah yang membuat manusia membuat simbol-simbol, salah satunya bahasa, dalam rangka pemahaman bersama terhadap Tuhan. Bagi John Titaley, keterbatasan tersebut tidak membuat manusia tidak bisa mengenal dan berbicara tentang Tuhan. Menurutnya manusia selalu berupaya mengenal dan berbicara tentang Tuhan sebab manusia meyakini bahwa hidupnya tidaklah terlepas dari keberadaan Tuhan.42

Diilhami pandangan John Hick, John Titaley membedakan Tuhan absolut (alam) dan Tuhan budaya.43 Tuhan absolut adalah Tuhan pada diri-Nya sendiri yang tidak mungkin diketahui manusia. Tuhan terlalu agung untuk diketahui. Jikapun dapat sampai pada pemahaman tentang Tuhan itu, maka pemahamannya tidak pernah utuh.

Menurut John Titaley, pemahaman terhadap Tuhan sangat dibatasi oleh pengetahuan manusia. Pengetahuan tentang Tuhan itu bersifat sangat budayawi sehingga sebutan dan pemahaman manusia juga bersifat budayawi. John Titaley menjelaskan, jika Tuhan berhubungan dengan manusia, sudah pasti manusia akan menanggapi hubungan itu dengan keterbatasan simbol-simbol budayanya.44 Dalam konteks itu, selalu saja ada reduksi karena manusia memahami kehendak Tuhan menggunakan bahasa dan simbol-simbol budayanya, bukan simbol-simbol dan bahasa Tuhan.45 Tuhan itu tidak empiris, kehadirannya tidak langsung, keberadaan-Nya hanya bisa dirasakan, disadari dan diyakini yang terjadi tidak secara sama oleh semua orang.46 Pemahaman yang terbatas itu tidak salah tetapi tidak sempurna.47 Menurut John

42John Titaley, Buku Ajar, 19

43John Titaley, Berada, XIII

44John Titaley, Religiositas.. 170

45John Titaley, Religiositas, 170

46John Titaley, Berada, 2

47John Titaley, Buku Ajar, 17

(17)

17

Titaley, ada keuntungan dari hal yang demikian yakni bahwa manusia tidak dapat mengklaim dirinya yang paling tahu tentang Tuhan.

Tuhan yang misterius dan yang berkarya dalam sejarah itu juga berkarya dalam sejarah Indonesia. John Titaley sangat menekankan pentingnya pemaknaan terhadap pernyataan alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.48 Menurutnya, pernyataan itu bukanlah pernyataan biasa saja tetapi merupakan suatu pernyataan iman tentang keterlibatan Tuhan di dalam sejarah, di dalam perjuangan manusia Indonesia. Menurut John Titaley, keberadaan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat tidaklah semata-mata usaha manusiawi belaka tetapi berkat adanya keterlibatan Tuhan.49 Kemerdekaan itu bukan rekaan manusia BPUPKI ataupun rekaan para pemuda tetapi terjadi karena keterlibatan Tuhan.50 Ia menegaskan bahwa Tuhan juga telah hadir dalam kehidupan para pendiri bangsa lewat BPUPKI dan PPKI.51

Sebagai bangsa, manusia Indonesia menyapa Yang Ilahi dengan sebutan Tuhan Yang Maha Kuasa. Umumnya, termasuk dalam upacara-upacara dan dokumen-dokumen kenegaraan, orang menyebut Tuhan Yang Maha Esa. Bagi John Titaley, pernyataan itu kurang tepat. Pancasila menggunakan kata sifat (ketuhanan) bukan kata benda (Tuhan). Kata benda itu tidak ada dalam Pancasila tetapi dalam alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Lebih tepat menyebut Tuhan Yang Maha Kuasa (sesuai alinea ketiga Pembukaan UUD 1945) yang Ketuhanannya Maha Esa (sesuai sila pertama Pancasila). Sapaan demikian terbedakan dengan sapaan di dalam tradisi agama-agama. Islam menyebut Allah swt, Aluk Ta Dolo menyebut Puang Matua, di Sumba menyebut Marapu, Kristen menyebut Tritunggal atau Trinitas, Hindu menyebut Shang Widhi Wase, Buddha menyebut Sang Adi Buddha, Konghucu menyebut Thian, dan seterusnya. Bagi John Titaley, perbedaan sapaan itu wajar saja sebab manusia hidup dengan realitas

48Tuhan Yang Maha Kuasa dipakai sesuai dengan konsensus pendiri bangsa sebagaimana tertuang dalam Risalah BPUPKI. Lihat Saafroedin Bahar, Risalah, 419-420.

49John Titaley, Berada, 51

50John Titaley, Religiositas, 56

51John Titaley, Buku Ajar, 22

(18)

18

keberagaman budayanya sehingga respon mereka terhadap Yang Ilahi adalah khas.

Tetapi justru di situlah terletak keunikan keberagaman agama di Indonesia yakni bahwa rakyat Indonesia dengan keragaman agamanya (Konghucu, Islam, Kristen, Buddha, kaharingan, Kejawen, Aluk Ta Dolo, dan sebagainya) bisa secara bersama sebagai bangsa menyapa Yang Ilahi dengan satu nama yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.52

Tuhan yang bagaimana yang dimaksudkan di sana? Dalam gagasan John Titaley, jelas bahwa Tuhan itu adalah Tuhan semua manusia Indonesia yang beragam agamanya. John Titaley menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang beragam agamanya bersama-sama mengakui adanya Tuhan sebagai yang memungkinkan hadirnya bangsa Indonesia. Pengakuan itu sekaligus juga menegaskan bahwa dalam gagasan ketuhanan Indonesia, Tuhan bukan menjadi “milik” pihak tertentu sebab semua manusia Indonesia apapun agamanya, apapun kepercayaannya juga adalah umat Tuhan Yang Maha Kuasa. Penegasan yang demikian berdasar dari keyakinan bahwa bangsa Indonesia dimerdekakan atas berkat dan rahmat Tuhan. Berkat dan rahmat itu terjadi kepada bangsa Indonesia yang beragam agamanya, bukan salah satu.

Ketuhanan Indonesia adalah gagasan yang inklusif. Ia mencakup keberagaman agama-agama di Indonesia. Di sini John Titaley menyadari dua tegangan dalam percakapan ketuhanan Indonesia. Pada satu sisi terdapat agama- agama yang menekankan personalitas Tuhan, tetapi di sisi lain terdapat agama-agama yang menekankan non-personalitas Tuhan. Dalam konteks ini, John Titaley berpendapat bahwa Ketuhanan Indonesia tidak dapat ditarik dan dimasukan menjadi bagian dari salah satu. Ketuhanan Indonesia terbuka untuk diisi dengan gagasan Tuhan yang personal maupun yang non-personal. Tidak diandaikan bahwa Tuhan itu adalah personal saja dengan mengabaikan gagasan non-personalitas Tuhan.

Menekankan sisi personal hanya menunjukan bahwa Tuhan hanya bagian dari agama- agama abrahamik. Akan tetapi jika hanya menekankan non-personalitas Tuhan, ia hanya relevan bagi agama-agama seperti Buddha. Dengan kata lain, Ketuhanan

52John Titaley, Berada, 151

(19)

19

Indonesia adalah ketuhanan yang menyeluruh melampaui yang personal dan non- personal atau merengkuh keduanya. Hal ini sejalan dengan pembagian agama dalam gagasan John Titaley yang terbagi ke dalam dua bagian yakni agama teistik (theistic religion) dan agama non-teistik (nontheistic religion).53 Di sini mungkin dipertanyakan bagaimana posisi ateisme. Berhadapan dengan ini, John Titaley mengatakan bahwa Tuhan juga mencintai mereka. Mereka juga harus dijamin.54

Menurut John Titaley, Ketuhanan Indonesia menempatkan semua manusia dalam posisinya yang setara apapun agamanya. Ia menegaskan bahwa, dalam konteks Indonesia manusia tidak hanya setara di depan hukum tetapi juga di hadapan Tuhan.55 Hal ini berbeda dengan ketuhanan dalam agama-agama. Menurut John Titaley, ketuhanan dalam agama-agama menempatkan manusia lain di luar agamanya dalam posisi yang tidak setara. Misalnya dalam gagasan ketuhanan Kristen, orang-orang Kristen menjadi manusia dengan posisi yang diuntungkan. Namun tidak dengan orang dalam agama lain. Secara struktural mereka berada di posisi bawah.

Hubungannya bersifat dominatif. Ini berbeda dengan Ketuhanan Indonesia yang menempatkan manusia dalam posisinya yang setara apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Menurut John Titaley, Ketuhanan Indonesia secara budayawi berbeda dengan konsep dalam tradisi agama-agama walaupun tidak berlainan.56 Secara budayawi berbeda karena beragam entitas mempunyai konsepnya sendiri-sendiri tentang Tuhan.

Tetapi tidak sepenuhnya berlainan sebab yang ditunjuk dari beragam gagasan itu hanya pada “Sosok” yang sama saja, yang karena keterbatasan manusia maka terdapat keragaman pemahaman tentang “Sosok” itu yang sifatnya budayawi. Dengan mengatakan demikian, John Titaley hendak menegaskan bahwa agama-agama perlu secara bersama-sama bergumul memahami Tuhan dan memahami kehendak Tuhan

53Wawancana dengan John Titaley pada 30 November 2021

54Lebih jauh John Titaley menjelaskan bahwa ateisme juga dapat dipandang sebagai sebentuk agama yang yakin terhadap ketidakberadaan Tuhan dan berani mati untuk itu. Disampaikan oleh John Titaley dalam Kuliah Tamu Program Studi Teologi pada 15 Oktober 2021 dan Wawancara dengan John Titaley pada 30 November 2021

55John Titaley, Buku Ajar, 27

56Titaley, Religiositas, 159

(20)

20

bagi mereka atas hadirnya mereka di Indonesia. Dalam konteks ini, John Titaley mengajukan pertanyaan reflektif bagi manusia Indonesia. Katanya:

Tuhan sudah punya banyak negara Islam, negara Kristen, negara Hindu serta negara sekuler lainnya, akan tetapi dunia ini belum menjadi damai juga.

Bukankah merupakan maksud Tuhan dengan menciptakan Indonesia yang seperti ini agar umat manusia bisa menyadari bahwa ada alternatif dan cara hidup lain yang lebih manusiawi dan dapat menawarkan perdamaian dunia melalui keluhuran peradaban bangsa Indonesia seperti dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini?57

Menurut John Titaley, diskursus tentang ketuhanan Indonesia, harus dipahami dalam perspektif Indonesia, bukan dari perspektif agama-agama secara sendiri- sendiri.58 Ia harus dimulai dari titik tolak keberadaan bangsa Indonesia itu sendiri.

Jika pemahaman ini harus dimulai dengan titik tolak yang lain, maka yang terjadi adalah pengingkaran terhadap keberadaan bangsa Indonesia itu sendiri.59 Pada titik ini John Titaley mengusulkan agar Pancasila harus dibaca dalam keterkaitannya dengan Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945.60 Pancasila yang lepas dibaca dari kedua hal tersebut akan mengaburkan makna yang sesunggguhnya. Makna penting dari Proklamasi adalah pernyataan sebagai bangsa untuk merdeka. Sebagai bangsa dalam arti menyeluruh mencakup beragam entitas yang ada di dalamnya. Ia bukan mewakili golongan tertentu. Bangsa yang merdeka, yang beragam agamanya, pada akhirnya menyapa Yang Ilahi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagaimana jelas dalam alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, yang adalah Tuhan bagi semua manusia Indonesia itu.

3. Pluralitas Agama di Indonesia dan Persoalannya

Gagasan ketuhanan diantaranya berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan beragama di Indonesia. Cara orang memahami agama sangat tergantung

57Titaley, Religiositas, 168

58Titaley, Berada, 57

59Titaley, Religiositas, 52

60Titaley, Nilai-Nilai, 20

(21)

21

pada perspektif mereka mengenai ketuhanan. Soekarno misalnya ketika mengusulkan gagasannya tentang dasar negara mendiskusikan pluralitas agama dalam sila ketuhanan. Ia menegaskan bahwa kehidupan beragama perlu dijalankan tidak berdasarkan pada egosime agama melainkan dilakukan secara berkeadaban dengan sikap beragama yang menghormati satu sama lain. Sikap semacam itu berdasar pada gagasan ketuhanan yang berkebudayaan yang diusulkannya sebagai dasar bersama bagi Indonesia.61

Diskursus terkait agama (ketuhanan) tidak berhenti pada usulan Soekarno.

Sejarah mencatat bahwa sempat muncul apa yang dikenal sebagai 7 kata yakni:

ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 7 kata tersebut ditolak dengan penilaian bahwa itu berpotensi menciptakan dampak negatif terhadap hubungan antaragama di Indonesia.62 Sebagai gantinya yang disepakati bersama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan saat yang bersamaan juga terjadi perubahan pada alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 dari kata Allah menjadi Tuhan.

Pada amandemen UUD 1945 di masa reformasi, isu itu muncul kembali tetapi tidak ada kesepakatan untuk itu. Perdebatan lain juga terkait dengan pasal pasal 29 UUD 1945 tentang “agama dan kepercayaan” yang berpengaruh signifikan terhadap pengakuan agama di Indonesia. Dalam pengakuan itu sarat juga di dalamnya muatan ketuhanannya.

Penjelasan sekilas di atas menggambarkan keharusan keterlibatan negara dalam urusan-urusan keagamaan di Indonesia. Persoalan mengelola realitas pluralitas agama lalu bukan hanya menjadi bagian internal agama-agama saja tetapi juga menjadi bagian negara yang dalam sejarahnya sangat ditentukan oleh perspektif negara tentang agama. Keterlibatan negara soal urusan keagamaan membuat pengaturan terkait agama menjadi tidak terhindarkan. Masalahnya dalam pengaturan agama tersebut tidak luput berbagai persoalan yang berdampak pada kelompok keagamaan tertentu yang tidak dapat mengekspresikan kehidupan beragamanya

61Saafroedin Bahar, dkk. Risalah Sidang… , 80-81

62Samsul Maarif. Pasang Surut Rekognisi Agama Leluhur dalam Politik Agama di Indonesia.

Yogyakaarta: CRCS UGM. 2018, 18.

(22)

22

secara bebas. Hal tersebut misalnya terlihat dalam kaitannya dengan pengakuan agama di Indonesia.

Salah satu persoalan terkait pengakuan agama adalah agama didefinisikan secara eksklusif berdasarkan perspektif agama dominan yang hanya mengakomodasi kelompok warga negara tertentu berdasarkan agama yang dominan, tetapi dijadikan sebagai identitas kewarga-negaran untuk semua.63 Pendefinisian yang eksklusif itu digunakan untuk menentukan kelompok warga negara yang beragama dan tidak beragama atau belum beragama. Dampaknya kelompok-kelompok agama yang tidak sesuai dengan definisi itu tidak dianggap sebagai agama. Pengakuan negara terhadap keenam agama terutama Buddha, Hindu dan Konghucu menggambarkan dengan jelas.64 Ketiga agama itu dipertanyakan sebagai agama karena dianggap tidak memenuhi definisi agama yang “ditetapkan”. Akan tetapi, dengan berbagai penyesuaian akhirnya diakui. Satu hal yang paling umum dari penyesuaian itu adalah konsep ketuhanan. Buddha misalnya sangat tidak menekankan konsep ketuhanan tetapi harus dilakukan untuk mendapatkan pengakuan negara. Konsep ketuhanan itu sekaligus menjadi pembeda antara Buddha di Indonesia dan Buddha di luar Indonesia. Buddha di Indonesia adalah Buddhisme teistik.65

Peristiwa yang sama terjadi pada penganut agama leluhur dan juga beberapa agama di luar agama leluhur yang tidak diakui sebagai agama. Penganut agama leluhur misalnya sepanjang sejarah Indonesia mengalami pasang surut pengakuan negara.66 Samsul Maarif berpendapat bahwa dalam sejarah Indonesia sejak awal penganut agama leluhur didiskreditkan, didiskriminasi dan dikriminalisasi. Mereka dihancurkan dengan berbagai alasan seperti kemajuan, modernitas, pembangunan,

63 Samsul Maarif, Pasang Surut, 2

64 Lihat Syaiful Arif. Konghucu dan Budaya Tionghoa: Pasang Surut Rekognisi. CRCS UGM, Maret 6, 2021, diakses November 20, 2021, https://crcs.ugm.ac.id/konghucu-dan-budaya- tionghoa-pasang-surut-rekognisi/; Krisharyanto Umbu Deta,. Agama Hindu dan Adat Bali: Rekognisi dan Kontestasi.CRCS UGM, Maret 6, 2021, diakses Desember 5, 2021 https://crcs.ugm.ac.id/agama- hindu-dan-adat-bali-rekognisi-dan-kontestasi/

65 Haris Fatwa Dinal Maula. Lika-Liku Agama Buddha Meraih Pengakuan. CRCS UGM, Januari 7, 2021, diakses November 20, 2021 https://crcs.ugm.ac.id/lika-liku-agama-buddha-meraih- pengakuan/

66Lihat juga Samsul Maarif, Pasang Surut ; Lihat Tedi Kholiludin, Agama, Negara dan Hak- Hak Sipil: Analisis terhadap Politik Pengakuan Negara Atas Agama di Indonesia. Tesis: Magister Sosiologi Agama. 2008.

(23)

23

dan seterusnya. Penganut agama leluhur menjadi semacam “bulan-bulanan” dan senantiasa menjadi target penundukan, diskriminasi dan kriminalisasi. Tedi Kholiludin juga menegaskan hal serupa ketika misalnya Penganut Agama Sedulur Sikep dikonsepsikan sebagai masyarakat terbelakang dan tidak mau mengikuti arus perkembangan zaman. Soal perkawinan, penganut agama leluhur dipandang kumpul kebo sehingga sulit mendapatkan akta kelahiran.67 Bagi Samsul Maarif, sekalipun negara telah menerbitkan dan meratifikasi berbagai undang-undang HAM, diskriminasi dan pelanggaran HAM terhadap penganut agama leluhur tetap dilegalkan.68 Baginya, agama resmi negara terlalu suci untuk disetarakan dengan agama leluhur.69

Tahun 2017 menjadi titik baru bagi penganut agama leluhur. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan penganut Agama Leluhur terhadap UU Administrasi Kependudukan yang tidak mengizinkan mereka mencantumkan identitas keagamannya. Dua hal penting ditegaskan melalui putusan MK. Pertama, penganut Agama Leluhur dapat mencantumkan identitas keagamaan mereka dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya yang menegaskan bahwa mereka harus mengosongkan kolom agama baik dalam KTP maupun KK. Kedua, terdapat pengakuan baik secara langsung maupun tidak bahwa ada entitas masyarakat yang tidak memeluk “agama resmi” yang selama ini didiskriminasi. Pengakuan itu sekaligus juga menegaskan posisi setara antara agama dan kepercayaan walau tetap dibedakan.70

Putusan MK merupakan terobosan penting pengakuan negara terhadap agama tetapi tidak berarti menyelesaikan persoalan. Putusan MK juga tidak sesuai dalam pelaksanaannya. Alih-alih penganut agama leluhur mengisi identitas keagamannya di kolom agama, mereka harus mencantumkan di kolom yang disediakan khusus bagi mereka yakni kolom Kepercayaan. Pelaksanaan putusan demikian tidak lepas dari

67Tedi Kholiludin, Agama, Negara, 242

68Lihat juga Tedi Kholiludin, Agama, Negara, 258-260

69Samsul Maarif, Pasang Surut, 4-8

70Zainal Abidin Bagir. Agama dan Kepercayaan. Jurnal Prisma, Vol. 39, no. 1 (2020), 52.

(24)

24

desakan kelompok tertentu yang tidak menerima identitas keagamaan Penganut Agama Leluhur dicantumkan dalam kolom agama. Masih umum pemahaman bahwa yang disebut agama hanya merujuk pada keenam “agama resmi”. Di sisi lain, walau putusan MK mengabulkan permohonan penganut Agama Leluhur, tetapi tetap dinilai bahwa sesungguhnya MK tidak membuat terobosan signifikan terhadap perubahan paradigma negara tentang agama. Alih-alih membongkar atau mengubah paradigma negara tentang agama, MK hanya menegaskan kembali dua entitas yang berbeda yakni agama dan kepercayaan.71

Lebih jauh, putusan MK tidak begitu saja mengubah stigma terhadap penganut agama leluhur yang telah mengakar dalam sejarah Indonesia. Perlakuan diskriminatif tetap diterima oleh penganut agama leluhur. Wahid Foundation menjelaskan bahwa masih kental wacana penyesatan terhadap penganut agama leluhur.72 Pada tahun 2020 terjadi penyegelan pembangunan makam penganut Agama Leluhur Sunda Wiwitan di Jawa Barat. Bukan kali pertama terjadi demikian.73 Padahal dalam konteks gugatan penganut Agama Leluhur, tentu yang diinginkan bukan hanya soal pencantumam di KTP dan KK saja tetapi lebih jauh soal pemenuhan hak sebagai warga negara yakni terjaminnya semua eskpresi keagamaan, termasuk diantaranya hak dimakamkan sesuai keyakinannya.74

Di luar dari persoalan yang telah dijelaskan di atas, kebebasan beragama sampai kini masih menjadi masalah. Wahid Foundation dalam laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) selama satu dekade (2009-2018) menjelaskan bahwa sampai kini persoalan pluralitas agama di Indonesia masih menjadi tantangan.75 Masih cukup banyak pelanggaran terhadap KBB di Indonesia.

Pelanggaran terhadap KBB tersebut tidak hanya dilakukan oleh aktor non-negara tetapi juga aktor negara. Setara Institute dalam laporannya menjelaskan beberapa

71Zainal Abidin Bagir, Agama, 50-52

72Subhi Azhari, Gamal Ferdhi, Kemajuan Tanpa Penyelesaian Akar Masalah: Laporan Tahunan Kebebasan Beragama Berkeyakinan Tahun 2019 di Indonesia. Jakarta: Wahid Foundation.

2020.

73Tedi Kholiludin, Agama, Negara, 238-239

74Tedi Kholiludin, Agama, Negara, 241

75Alamsyah M Djafar, Ringkasan Eksekutif Tawar-Menawar Kebebasan: Satu Dekade Pemantauan Kemerdekaan Beragama Berkeyakinan (KBB) Wahid Foundation. Jakarta: Wahid Foundation, 2020. 1.

(25)

25

pelanggaran yang dilakukan oleh aktor negara antara lain: diskriminasi, kebijakan yang diskriminatif, persengketaan penodaan agama, penangkapan, dan lain-lain. Di sisi lain, yang dilakukan oleh aktor non-negara adalah intoleransi, ujaran kebencian, penolakan pendirian rumah ibadah, penyerangan, pengrusakan tempat ibadah, penolakan kegiatan.76

Wahid Foundation menjelaskan bahwa angka pelanggaran terhadap Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) mengalami penurunan dari tahun ke tahun.77 Akan tetapi, penurunan kasus tersebut tidak diikuti dengan penyelesaian masalah dari akarnya. Menurut Wahid Foundation, kasus-kasus pelanggaran KBB tersebut tidak lepas dari peraturan yang bermasalah yang melanggar atau memicu pelanggaran KBB. Undang Undang No. 1 PNPS/1965 (UU Penodaan Agama) dan Pasal 156a KUHP masih menjadi dua ketentuan utama yang menjadi dasar semua bentuk pelanggaran KBB terkait penodaan agama. Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung tahun 2008 tentang Ahmadiyah juga masih dipakai dalam pembatasan KBB Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Lebih lanjut, aturan-aturan serupa masih terus hendak dilestarikan.78 Salah satu temuan menjelaskan bahwa dalam persoalan KBB telah terjadi pergeseran dengan berkurangnya kekerasan fisik menjadi menggunakan cara-cara non fisik melalui langkah pemidanaan dan ini dimungkinkan melalui berbagai peraturan yang memungkinkan adanya ruang untuk saling melapor.79

Deskripsi di atas sesuai dengan penilaian bahwa putusan MK tidak secara signifikan membongkar paradigma negara terhadap agama. Tedi Kholiludin dengan cukup jelas menjelaskan bagaimana mulai dari Presiden hingga Menteri Agama mempunyai pandangan yang sama tentang agama yang didasarkan sepenuhnya pada UU PPNS 1965 yang tampaknya sampai kini masih dipertahankan. Dalam

76Lihat Kidung Asmara Sigit dan Ismail Hasani, Intoleransi Semasa Pandemi: Laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan 2020. Jakarta: Setara Institute, 2021. 22-76. Lihat juga Ringkasan Eksekutif Mengatasi Intoleransi, Merangkul Keberagaman: Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Setara Institute, 2022.

77Subhi Azhari, Gamal Ferdhi, Kemajuan Tanpa, 35. Lihat juga Ringkasan Eksekutif Mengatasi Intoleransi, 1.

78 Subhi Azhari, Gamal Ferdhi, Kemajuan Tanpa Penyelesaian, 6, 49-50.

79Alamsyah M Djafar, Ringkasan Eksekutif, 7

(26)

26

pernyataan-pernyataan mereka, di satu sisi diakui adanya keberagaman agama dan negara perlu menjamin itu, akan tetapi pada saat yang bersamaan ditegaskan juga bahwa agama yang dianut oleh penduduk di Indonesia adalah keenam agama yang diakui negara.80

Persoalan pluralitas agama sebagaimana digambarkan di atas menunjukkan penerimaan setengah hati keberadaan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Tedi Kholiludin menyebutnya sebagai pluralisme terbatas. Di satu sisi terdapat pengakuan dan penerimaan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa dengan keragaman agamanya, toleransi digaungkan di mana-mana baik oleh pejabat negara, politisi, tokoh agama, dan sebagainya, tetapi pada saat yang bersamaan terjadi pengingkaran terhadap keberagaman tersebut. Setara Institute bahkan menjelaskan bahwa ada satu tren penyeragaman yang ditandai dengan begitu banyaknya kasus penodaan agama maupun juga terkait busana terutama di lingkungan institusi pendidikan.81

Di sisi lain berbagai masalah di atas menggambarkan pemahaman dan sikap keagamaan terhadap pluralitas agama di Indonesia, baik ia sebagai warga negara maupun sebagai pejabat publik. Pemahaman dan sikap keagamaan yang mewarnai berbagai masalah pluralitas agama sepenuhnya bersifat eksklusif dengan menegaskan superioritas dan dominasi terhadap yang lain. Yang lain dipandang tidak sama dan tidak setara. Dalam pengakuan agama misalnya, pendefinisian agama sangatlah berwarna agama Abrahamik. Ada unsur Yang Ilahi yang juga eksklusif, nabi, kitab suci dan yang lainnya, yang lebih cocok pada Kristen dan Islam.82 Sikap semacam itu secara langsung maupun tidak, menghancurkan kemanusiaan yang lain karena dengan pemahaman itu lalu pihak tertentu merasa berwenang untuk bertindak sewenang- wenang terhadap yang lain.83 Orang yang beragama lain bukan hanya tidak dapat mengekspresikan hak-haknya dalam beragama tetapi juga mengalami kesulitan pemenuhan hak-haknya sebagai warga negara dalam berbagai bidang kehidupan.

Berbagai pelangggaran KBB, baik dalam relasi sosial warga masyarakat maupun

80Tedi Kholiludin, Agama, Negara, 230-237

81Ringkasan Eksekutif Mengatasi Intoleransi, Merangkul Keberagaman: Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia Tahun 2021. Jakarta: Setara Institute, 2021. 1.

82John Titaley, Menuju, 32; lihat juga Samsul Maarif, Pasang Surut, 112

83 John Titaley, Menuju, 22

Referensi

Dokumen terkait

Proses pengembangan media pembelajaran video animasi menggunakan SketchUp pada metode pelaksanaan pekerjaan arsitektur konstruksi bangunan gedung bertingkat

kebersihan, 16 september 2015: “Dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih dan indah dari pihak kecamatan sudah menyediakan fasilitas yang memadai secara..

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id.. pemisahan antara harta suami atau harta istri

Adalah amat membimbangkan apabila projek itu dimulakan pelbagai pihak lain akan mengambil peluang melibatkan diri dalam industri pelancongan dan dalam masa yang sama penduduk Orang

Loading frame merupakan sebuah alat yang terbuat dari baja WF 200 yang berfungsi sebagai dudukan hydraulic jack pada saat pengujian kuat geser diagonal dinding pasangan

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj IP) dibuat dalam rangka perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumber daya dan

Hal ini menunjukkan bahwa metode gynogenesis yang telah dilakukan di Balai Benih Ikan (BBI) Punten Batu Ma- lang sudah tepat. Jumlah kromosom dari ketiga macam contoh yang diuji