PENGANTAR
Puji serta syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan kasih saying-Nya kegiatan Seminar Nasional Ekonomi 2013 dan Call Paper dapat terlaksana dengan baik. Selawat serta salam kepada Rasulullah Muhammad SAW selaku pembawa pembawa ummat manusia dari alam Jahiliyah ke alam yang berilmu pengetahuan.
Seminar Nasional Ekonomi (SNE) 2013 yang mengambil tema “Membangun Negeri Dari Daerah” merupakan yang pertama dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh, kegiatan ini direncanakan akan menjadi agenda tahunan di Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh yang berskala Nasional. Diharapkan dengan adanya kegiatan SNE ini akan memacu pemikiran-pemikiran kritis, logis dan akademis dalam rangka mendorong pembangunan nasional yang partisipatif.
Pemikiran-pemikiran dan hasil kajian dituangkan dalam artikel ilmiah yang dimuat dalam prosiding, yang tentu saja akan sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan maupun pemerintah dalam mengambil kebijakan. Mengingat kegiatan ini akan dilakukan secara berkesinambungan setiap tahunnya, kami juga berharap peserta yang ikut pada tahun pertama ini akan terus berpartisipasi di masa-masa yang akan datang.
Kegiatan ini tidak akan terlaksana tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kami kepada: DR. Apridar, M.Si selaku Rektor Universitas Malikussaleh, Wahyuddin, SE, M.Si. Ak Selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh, DR. Ichsan, MPPM selaku ketua tim pengarah kegiatan, Prof. A. Hadi Arifin, M.Si, DR. Asnawi, M.Si, DR. Tarmizi Abbas, MS, DR.
Ichsan, MPPM, DR. Jullimursyida, DR.Murhaban, M.Si. Ak, DR. Usman Yacob, DR. Fachruzzaman, DR. Tu Bagus Ismail, DR. Syukri Abdullah, Prof. DR. Ramli, DR. Amiruddin selaku reviewer internal dari Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh, , seluruh peserta Call Paper dan pemateri keynote speaker dan peserta seminar, Seluruh Panitia yang telah bekerja maksimal menyukseskan kegiatan seminar dan Call Paper, donator dan pihak-pihak yang telah membantu
maaf tidak semua artikel yang masuk dimuat dalam prosiding terutama pertimbangan tidak relevan dengan tema yang diangkat dalam seminar ini. Demikian juga kami menyampaikan maaf kepada bapak/ibu yang artikelnya telah diterima dan dimuat dalam proseding, tidak mendapat kesempatan untuk presentasi, berhubung adanya keterbatasan waktu. Kami juga memohon maaf kepada semua peserta seminar maupun Call Paper jika tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari panitia.
Akhirnya, kami berharap kegiatan ini akan memberikan manfaat kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya maupun pihak luar yang membaca artikel-artikel ilmiah yang ada dalam prosiding ini.
Lhokseumawe, 26 Nopember 2013 Ketua Panitia
Khairil Anwar, M.Si
DAFTAR ISI Kata Pengantar ~ i
Daftar isi ~ ii
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PANGKAS DI KOTA BANDA ACEH A.Sakir, SE, MM dan Zulkifli, SE, M.Si ~ 1
ANALISIS PENGARUH KEPERCAYAAN MEREK MOBIL TOYOTA AVANZA TERHADAP LOYALITAS PEMBELIAN PELANGGAN ( Studi Perilaku Konsumen di Kota Lhokseumawe)
Adnan ~ 2
DETERMINANT INVESTASI SWASTA DI INDONESIA Adrian Sutawijaya ~ 4
MUNGKINKAH DIRHAM BEREDAR KEMBALI DI ACEH Prof. A. Hadi Arifin ~ 5
PENGARUH INVESTASI DALAM HUMAN CAPITAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Aiyub dan Anwar Puteh ~ 6
PENGARUH KNOWLEDGE MANAGEMEN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PERBANKAN DI LHOKSEUMAWE
Chairil Akhyar ~ 7
PERUBAHAN KEORGANISASIAN DAN PEMBELAJARAN PADA SMK NEGERI I BANDUNG MENUJU SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL Amiruddin ~ 9
PENGARUH KUALITAS JASA DAN KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN KARTU PRABAYAR GSM SIMPATI DI JAKARTA Andy Mulyana, Devi Ayuni ~ 10
POLA SEBARAN KEMISKINAN DI KABUPATEN LEBAK Arief Rahman Susila ~ 11
PENGARUH MODAL USAHA, JAM KERJA, JUMLAH PRODUK DAN PENGALAMAN TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG TIDAK TERKONSENTRASI DI KOTA LHOKSEUMAWE
Azhar ~ 12
IKLIM USAHA INDONESIA: LANGKAH UNTUK PERBAIKAN Cut Afrianandra, Said Muniruddin ~ 13
MURABAHAH SEBAGAI PERSYARATAN PADA PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA BANK SYARIAH MANDIRI CABANG BANDA ACEH Rayyan Firdaus ~ 60
ANALISIS RISIKO PERBANKAN PADA BANK UMUM KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH KRISIS FINANSIAL GLOBAL 2008
Riha Dedi Priantana, Aulia Hidayat ~ 61
PENGARUH PENGALAMAN AUDIT, ORIENTASI ETIKA DAN NILAI ETIKA ORGANISASI DENGAN KOMITMEN PROFESIONAL SEBAGAI VARIABEL INTERVENING TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS INTERNAL AUDITOR
Rini Dwiyani Hadiwidjaja ~ 62
KUALITAS LABA: IMPLIKASI DARI PENGARUH TENURE TERHADAP KUALITAS AUDIT
Rini Indriani, Apterrizko Dwi KusumaPutra ~ 63
ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK DEVISA DI INDONESIA Ristati ~ 64
PENGARUH PROFESIONALITAS, KETAATAN PADA KODE ETIK, DAN PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP PENENTUAN TINGKAT MATERIALITAS
Robinson ~ 65
PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP PERILAKU EKSTRA PERAN KARYAWAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK. CABANG LHOKSEUMAWE)
Sapna Biby,Pipit Sartika ~ 66
ANALISIS POTENSI PENERIMAAN RESTRIBUSI PARKIR (Studi pada Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kota Lhokseumawe)
Saharuddin, SE., ME ~ 67
DEPOSITO INVESTASI MUDHARABAH DALAM DUAL BANKING SYSTEM DI INDONESIA
Siti Maimunah ~ 68
OPTIMALISASI PERANAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI POTONG MENUJU PEMBANGUNAN SWASEMBADA DAGING SAPI 2014 DI PROPINSI ACEH
Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag ~ 69
Proseding Seminar Nasional Ekonomi 2013 “Membangun Negeri dari Daerah” Lhokseumawe, 26-27 Nopember 2013 Fakultas Ekononi Unimal
PENGARUH PROFESIONALITAS, KETAATAN PADA KODE ETIK, DAN PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP PENENTUAN TINGKAT
MATERIALITAS
THE INFLUENCE OF AUDITOR PROFESSIONALISM, ADHERENCE TO A CODE OF ETHICS AND EXPERIENCE OF THE AUDITOR'S ON
CONSIDERATION OF MATERIALITY LEVELS Robinson
Universitas Bengkulu ([email protected])
ABSTRACT
The purpose of this research is the first, provide empirical evidence o f the influence of professionalism auditor against consideration the level of materiality, adherence to a code of ethics to the level of materiality considerations, the level of experience of the auditor's consideration of materiality, and provide empirical evidence of the influence of auditor professionalism, adherence to a code of ethics, and experience of the auditor on consideration of materiality levels.
The results showed that: 1) Professionalism Auditor (X1) had no significant effect on the Consideration of Materiality level, which is indicated by a significance value of 0.154; 2) Adherence to the Code of Ethics (X2) has a significant influence on consideration Materiality level, which indicated by a significance value of 0.008; 3) experience Auditor (X3) have no significant influence on consideration Materiality level, indicated by a significance value of
0.819, and 4) Auditor professionalism, adherence to the Code of Ethics and Auditor experience together has influence consideration of Materiality significant level, which is indicated by the significant value of 0.000.
Keywords: Professionalism, Code of Ethics, Experience, Materiality Levels
DAFTAR PESERTA PANEL PRESENTASI MAKALAH
PARALEL SESI I
Bidang : Ekonomi
Chair/ Moderator : Ibrahim Qamarius, S,E., M.S.M
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
1. E1 Revitalisasi Program Percepatan Pembangunan
Ekonomi Aceh Utara Berbasis Komoditi Unggulan Ramli 2. E1 Ekonomi Politik Media Dan Konvergensi Media Di
Indonesia (Menuju Publik Yang Kritis) Kamaluddin Hasan 3. E1 Pola Sebaran Kemiskinan di Kabupaten Lebak Arief Rahman Susila
4. E1 Analisis Kemiskinan Aceh Fakhruddin
5. E1 Desentralisasi Pengelolaan Sektor Pertanian dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Provinsi
Aceh Asnawi
PARALEL SESI II
Bidang : EKONOMI
Chair/ Moderator :
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
6. E2 Mungkinkah Dinar dan Dirham Beredar Kembali di
Aceh A. Hadi Arifin
7. E2 Analisis Capaian Kepuasan Masyarakat Atas
Layanan Pegawai Pemerintah Kota Lhokseumawe Nasir 8 E2 Deposito Investasi Mudharabah dalam Dual Banking
System di Indonesia Siti Maimunah
9. E2 Input-Output Analysis of the Economy in the Province
of Nanggroe Aceh Darussalam Yulbahri
10. E2 Waqaf Sebagai Salah Satu Sumber Modal Usaha Mukhlis M.Nur
PARALEL SESI III
Bidang : Ekonomi
Chair/ Moderator :
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
11. E3 Analisis Pengaruh Pembatasan Pemakaian BBM Solar terhadap Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Ujong
Blang Kota Lhokseumawe Ikramuddin
12. E3 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Ketimpangan Pendapatan Kabupaten-Kota Di Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam Yurina
13. E3 Analisis Pengaruh Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-
MP) terhadap Peningkatan Pemberdayaan Perempuan Teuku Edyansyah 14. E3 Analisis Kontribusi Sektor Agraris terhadap
Peningkatan Pendapatan Regional di Kabupaten Aceh
Utara Jariah Abubakar
15. E3 Pengaruh Modal dan Jumlah Produk Terhadap Pendapatan pedagnag Tidak Terkonsentras di Kota
Lhokseumawe Azhar
Proseding Seminar Nasional Ekonomi 2013 “Membangun Negeri dari Daerah” Lhokseumawe, 26-27 Nopember 2013 Fakultas Ekononi Unimal
PARALEL SESI 4
Bidang : Ekonomi
Chair/ Moderator : Ibrahim Qamarius, S,E., M.S.M
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
16. E4 Indonesia Business Climate: Gaps To Be Filled Cut Afrianandra 17. E4 Analisis Potensi Penerimaan Restribusi Parkir: Studi
Pada Dinas Perhubungan, Pariwisata Dan
Kebudayaan Pemerintah Kota Lhokseumawe Saharuddin 18. E4 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil Dan
Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Modal
Kabupaten/Kota Di Provinsi Aceh Murtala
PARALEL SESI I
Bidang : Akuntansi
Chair/ Moderator : Husaini, S.E., MBA
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
19. A1 Analisis Ketercapaian Standar Pelayanan Minimal
pada Beberapa Daerah Pemekaran di Provinsi Aceh Nadirsyah 20. A1 Determinant Investasi Swasta di Indonesia Adrian Sutawijaya 21. A1 Analisis Faktor Determinan terhadap Belanja Daerah
dalam Era Otonomi dan Desentralisasi Fiskal Fauziah Aida Fitri
22. A1
Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Variabel Moderator Partisipasi Masyarakat Dan Transparansi Kebijakan Publik
Faisal
23. A1 Kualitas Laba: Implikasi Dari Pengaruh Tenure
terhadap Kualitas Audit Rini Indriani
PARALEL SESI II
Bidang : Akuntansi
Chair/ Moderator :
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
24. A2
Pengaruh Pengendalian Intern, Audit Internal Dan Komitmen Organisasi Terhadap Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik Serta Implikasinya Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Murhaban
25. A2
Effect Of Government Accounting Standards, Management Knowledge About UAPPA-WTP and Availability of Quality Facilities and Infrastructure Financial Statements (Study On Local Government Of Bengkulu City)
Dioghoffar Evani
26. A2
Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Institusional, dan Kepemilikan Publik Terhadap Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Perbankan di Indonesia
Iswadi
27. A2 Analisis Faktor- faktor yang Mempengaruhi
Keberhasilan Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan
Di Kabupaten Aceh Utara M. Haykal
28. A2 Pengaruh Profesionalitas, Kepatuhan Terhadap Kode Etik Dan Pengalaman Auditor Terhadap
Penentuan Tingkat Materialitas Robinson
PARALEL SESI III
Bidang : Akuntansi
Chair/ Moderator :
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
29. A3 Pengaruh Loan Deposit To Ratio dan Non Performing Loan terhadap Tingkat Profitabilitas pada Bank Syariah
Mandiri Husaini
30. A3 Analisis Kinerja Keuangan Bank Devisa Di Indonesia Ristati 31. A3 Pengaruh Net Profit Margin, Operating Profit Margin dan
Size Perusahaan LQ 45 Terhadap Laba Perusahaan
Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia Marzuki
32. A3
Pengaruh Pengalaman Audit, Orientasi Etika Dan Nilai Etika Organisasi Dengan Komitmen Profesional Sebagai Variabel Intervening Terhadap Pengambilan Keputusan Etis Internal
Rini Dwiyani H
33. A3 Analisis Pengaruh Indeks Harga Saham Global terhadap Indeks Harga Saham Gabungan DI Bursa Efek Indonesia
Maya Febrianty Lautania
PARALEL SESI I
Bidang : Manajemen
Chair/ Moderator : Naufal Bachri, S.E., MBA
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
34. M1 Pengaruh Pelatihan terhadap Motivasi Dan Kinerja
Staf Akademik Universitas Terbuka Devi Ayuni
35. M1 Pengaruh Kualitas Jasa dan Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan Kartu Prabayar GSM
Simpati di Jakarta Andy Mulyana
36. M1 Analisis Pengaruh Kepercayaan Merek Mobil Toyota Avanza terhadap Loyalitas Pembelian Pelanggan:
Studi Perilaku Konsumen Di Kota Lhokseumawe Adnan 37. M1 Analisis Risiko Perbankan Pada Bank Umum
Konvensional Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Sebelum Dan Setelah Krisis Finansial Global 2008 Riha Dedi Priantana 38. M1 Implementasi Kebijakan Pelayanan Parkir di Kota
Lhokseumawe Sutriani
PARALEL SESI II
Bidang : Manajemen
Chair/ Moderator : Likdanawati, SE, M.Si
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
39 M2 Pengaruh Komitmen Organisasi Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Karyawan PT. Bank
Aceh Cabang Lhokseumawe Edi Suhaimi
40. M2 Measuring the Factors that Improve the Performance
of Small Businesses in Kota Lhokseumawe Naufal Bachri 41. M2 Pengaruh Knowledge Management terhadap Kinerja
Karyawan Perbankan di Lhokseumawe Khairil Achyar
42. M2
Pengaruh Karakteristik Nasabah, Jaminan Nasabah, dan Modal Usaha Nasabah terhadap Efektifitas Penyaluran Kredit pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Lhokseumawe
Jummaini
43. M2 Pengaruh SBI, Inflasi dan PDRB Terhadap Tabungan
Di Lhokseumawe Ghazali Syamni
Proseding Seminar Nasional Ekonomi 2013 “Membangun Negeri dari Daerah” Lhokseumawe, 26-27 Nopember 2013 Fakultas Ekononi Unimal
PARALEL SESI III
Bidang : Manajemen
Chair/ Moderator :
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
44.
M3
Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Loyalitas Pelanggan Warung Kopi Canden di Kota
Lhoksukon Likdanawati
45. M3 Analisis Marketing Appeals dan Source Of Message terhadap Penerimaan Publik pada Iklan Pembatasan
Transaksi Tunai Ibrahim Q
46. M3 Pengaruh Profitabilitas Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Struktur Modal Perusahaan Sektor
Konsumsi Di Bursa Efek Indonesia Nazir
47. M3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Semangat Kerja
Karyawan Outsourcing Pt.Arun NGL Lhokseumawe Khairawati 48. M3 Pengaruh Investasi dalam Human Capital terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Aiyub
PARALEL SESI IV
Bidang : Manajemen
Chair/ Moderator : Naufal Bachri, S.E., MBA
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
49. M4 Analisa Brand Equity Universitas Terbuka: Studi Kasus UPBJJ-
UT BOGOR Deni Surapto
50. M4 Bisnis Online untuk Meningkatkan Daya Saing Usaha Mikro
Kecil Menengah Sokiyono
51. M4 Analisis Kinerja Rantai Pasok Komoditi Kopi Gayo Rahmat Pramulya 52. M4 Pemanfaatan Sosial Media Facebook untuk Bisnis Online Wiwin Siswantini
PARALEL SESI V
Bidang : Manajemen
Chair/ Moderator : Husaini, S.E., MBA
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
53. M5 Corporate Governance, Enterprise Risk Management Dan Nilai Perusahaan: Bukti Empiris Pada
Perusahaan Perbankan Di Indonesia Husaini
54. M5
Pegaruh Sarana Pendidikan Terhadap Pengembangan Sumber Daya Manusia Di Daya Terpadu Almadinatuddiniah Syamsuddhuha Cot Murong Kabupaten Aceh Utara
Nurmala
55. M5
Persepsi Konsumen Dalam Menilai Pengaruh Merek Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Produk Teh Botol (Sosro) di Kota Lhokseumawe:
Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unimal
Khairina
56. M5
Pengaruh Karakteristik Individu dan Kepuasan Kerja Terhadap Perilaku Ekstra Peran Karyawan dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Lhokseumawe)
Sapna Biby
PARALEL SESI I
Bidang : UMKM dan Kajian Wanita Chair/ Moderator : Nazir, S.E., M.Si
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
57. U1 Partisipasi Perempuan Dalam Merumuskan Kebijakan Publik Pasca Mou Helsinki Di Provinsi
Aceh Rasyidin
58. U1 Efektifitas Program Simpan Pinjam Perempuan Dalam pengentasan kemiskinan (Suatu Penelitian Di
Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara) Sri Wahyuni, 58. U1 Analisis Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri
Penggilingan Kopi di Kabupaten Aceh Tengah Diana Sapha A.H 59. U1 Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas pada
Kegiatan Sektor Usaha Mikro di Lingkungan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta Fitri Amalia
60. U1 Analisis Perbedaan Antara Permintaan Beras Kualitas Medium Dan Super Oleh Rumah Tangga Di
Kabupaten Bireuen Mukhlis
PARALEL SESI II
Bidang : UMKM dan Kajian Wanita Chair/ Moderator :
Ruang :
No. Kode Judul Penulis Pertama
61. U2 Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Produksi
Industry Kreatif Di Propinsi Aceh Suriani
62. U2 Model dan Karakteristik Pertumbuhan Ekonomi Aceh
Pasca Konflik dan Tsunami - Wahyuddin
63. U2 Analisis Kelayakan Usaha Pangkas di Kota Banda
Aceh A.Sakir & Zulkifli
64. U2 Willingness To Pay Premi Perlindungan Kesehatan di
Kota Banda Aceh Ikhsan
65. U2 Pemanfaat Secara Ekonomi Limbah Kayu Seumantok Sebagai Agregat Kasar Pada Campuran
Beton Sri Indah Setiyaningsih
PENGARUH PROFESIONALITAS, KETAATAN PADA KODE ETIK, DAN PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP PENENTUAN TINGKAT
MATERIALITAS
THE INFLUENCE OF AUDITOR PROFESSIONALISM, ADHERENCE TO A CODE OF ETHICS AND EXPERIENCE OF THE AUDITOR'S ON
CONSIDERATION OF MATERIALITY LEVELS
Hendra Taroman Robinson Universitas Bengkulu ([email protected])
ABSTRACT
The purpose of this research is the first, provide empirical evidence o f the influence of professionalism auditor against consideration the level of materiality, adherence to a code of ethics to the level of materiality considerations, the level of experience of the auditor's consideration of materiality, and provide empirical evidence of the influence of auditor professionalism, adherence to a code of ethics, and experience of the auditor on consideration of materiality levels.
The results showed that: 1) Professionalism Auditor (X1) had no significant effect on the Consideration of Materiality level, which is indicated by a significance value of 0.154; 2) Adherence to the Code of Ethics (X2) has a significant influence on consideration Materiality level, which indicated by a significance value of 0.008; 3) experience Auditor (X3) have no significant influence on consideration Materiality level, indicated by a significance value of 0.819, and 4) Auditor professionalism, adherence to the Code of Ethics and Auditor experience together has influence consideration of Materiality significant level, which is indicated by the significant value of 0.000.
Keywords: Professionalism, Code of Ethics, Experience, Materiality Levels
2 Audit yang dilakukan pada sektor publik
berbeda dengan yang dilakukan pada sektor swasta. Latar belakang institusional dan hukum yang berbeda yang membedakan audit sektor publik dengan sektor swasta, dimana audit sektor publik mempunyai prosedur dan tanggung jawab yang berbeda serta peran yang lebih luas dibandingkan audit sektor swasta (Jones. R,1996:205: Rubin, 1998: 129) dalam Wilopo (2001:27). Hal ini dapat diketahui bahwa auditor pemerintah dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya memeriksa dan menilai kewajaran laporan keuangan sektor publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur pemerintah terhadap undang-undang dan peraturan yang berlaku. Disamping itu juga memeriksa dan menilai sifat ekonomis, efisiensi dan efektifitas dari semua pekerjaan dan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah.
Dengan demikian, bila kualitas audit sektor publik rendah, maka akan mengakibatkan risiko tuntutan terhadap pejabat pemerintah (Elder, 1997) dan akan muncul kecurangan, korupsi, kolusi seperti yang terjadi di Indonesia sampai saat ini (Wilopo 2001:28). Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) terhadap semua Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) maupun Laporan Keuangan
tahap pemberian opini akuntan, artinya bahwa apakah laporan keuangan disusun sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) (PP No.71 Tahun 2010), bukan pada kinerja keuangan. Oleh sebab itu harus hati-hati di dalam memaknai sebuah opini akuntan bukan opini kinerja keuangan, kadang hal ini menjadi sebuah informasi yang ‘terdistorsi’ antara opini akuntan terbaik dengan opini kinerja keuangan terbaik.
Masyarakat pada umumnya berpandangan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) menggambarkan kondisi tata kelola keuangan entitas yang mendapatkan bersifat ‘bebas korupsi’. Ketika suatu entitas mendapat opini WTP, dan kemudian terjadi kasus korupsi di entitas tersebut, masyarakat meragukan pemberian opini WTP tersebut.
Dikalangan pejabat pemerintah pun berbeda-beda di dalam memandang opini WTP yang diberikan BPK kepada entitas terhadap laporan keuangan. Banyak mempertanyakan kenapa suatu entitas tertentu mendapat opini WTP, pada hal kinerjanya buruk. Entitas di pemerintahan yang menyatakan bahwa jika instansinya mendapat opini WTP, maka bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Walau ada perbedaan persepsi
mengenai opini WTP, tetapi wajar saja jika entitas yang diperiksa memasang target untuk meraih opini WTP dalam laporan keuangan. Opini WTP memang bukanlah segala-galanya dalam menciptakan aparatur yang bersih. Namun opini WTP merupakan salah satu indikatornya. Laporan keuangan entitas bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan SAP yang berpegangan pada prinsip akuntabilitas dan transparansi (Warta BPK).
Dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara memuat persyaratan profesional pemeriksa, mutu pelaksanaan pemeriksaan, dan persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional.
Pelaksanaan pemeriksaan yang didasarkan pada standar pemeriksaan akan meningkatkan kredibilitas informasi yang dilaporkan atau diperoleh dari entitas yang diperiksa melalui pengumpulan dan pungujian bukti secara obyektif. Profesionalisme
juga menjadi syarat utama bagi para auditor eksternal. Sebab dengan profesionalisme yang tinggi kebebasan auditor akan semakin terjamin. Untuk menjalankan perannya yang menuntut tanggung jawab yang semakin luas, auditor eksternal harus memiliki wawasan yang luas tentang
kompleksitas organisasi modern.
Gambaran profesionalisme seorang auditor menurut Hall (1968) dalam Herawati dan Susanto, (2009) tercermin dalam lima hal yaitu : pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian,
kepercayaan terhadap peraturan profesi dan hubungan dengan rekan seprofesi.
Ketika manajemen atau subyek audit menawarkan sebuah imbalan atau tekanan kepada auditor untuk menghasilkan laporan audit yang diinginkan oleh manajemen maka menjadi dilema etika. Dilema etis dalam setting auditing terjadi ketika auditor dan auditee tidak sepakat terhadap beberapa aspek fungsi dan tujuan pemeriksaan.
Auditee dapat mempengaruhi proses audit yang dilakukan auditor, yaitu dengan menekan auditor melakukan tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Dalam hal ini auditor dihadapkan pada pilihan-pilihan keputusan yang saling bertentangan terkait dengan aktivitas pemeriksaannya.
Merebaknya “malpraktik bisnis” dan kurangnya independensi menyebabkan kepercayaan para pengguna laporan auditan terhadap akuntan menjadi menurun. Ketika independensi dan objektivitas terabaikan perdagangan opini auditor menjadi hal yang “wajar” (Anni, 2004).
4 yang baik tentunya hal yang
dipertimbangkan salah satunya adalah tingkat materialitas. Tingkat materialitas yang ditetapkan oleh auditor mempunyai peranan terhadap hasil pemeriksaan.
Penetapan materialitas membantu auditor merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Jika auditor menetapkan jumlah yang rendah, maka akan lebih banyak bahan bukti yang harus dikumpulkan.
Pertimbangan auditor tentang materialitas adalah suatu masalah kebijakan profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang kebutuhan yang beralasan dari laporan keuangan. Tingkat materialitas suatu laporan keuangan tidak akan sama, tergantung pada ukuran laporan keuangan tersebut. Selain itu tingkat materialitas tergantung pada dua aspek yaitu aspek kondisional dan aspek situasional. Materialitas pada tingkat laporan keuangan adalah besarnya keseluruhan salah saji minimum dalam suatu laporan keuangan yang cukup penting sehingga membuat laporan keuangan menjadi tidak disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam konteks ini, salah saji bisa diakibatkan oleh penerapan akuntansi secara keliru, tidak sesuai dengan fakta atau karena
2001 dalam Martiyani, 2010:20).
Penelitian ini dimotivasi karena masih banyaknya pemegang kepentingan yang mempertanyakan hasil audit yang membuat Opini pada Laporan Hasil Pemeriksaan BPK. Dimana selama ini banyak entitas Pemerintah mendapatkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian namun masih banyak ditemukannya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan.
Banyak kasus korupsi terhadap entitas yang mendapatkan Opini wajar tanpa pengecualian tersebut.
Berdasarkan pokok permasalahan yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian adalah memberikan bukti empiris:
1) Pengaruh profesionalisme auditor terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
2) Pengaruh ketaatan terhadap kode etik terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
3) Pengaruh pengalaman auditor terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
4) Pengaruh profesionalisme auditor, ketaatan terhadap kode etik, dan pengalaman auditor secara simultan terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
RERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Materialitas
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, yang mungkin dapat mengakibatkan perubahan pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut (Sukrisno 1996 dalam Yanuar 2008:18). Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apa bila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut. Definisi materialitas tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Keadaan yang melingkupi yang harus dipertimbangkan pemeriksa dalam menetapkan materialitas di antaranya adalah sifat dan jumlah pos dalam laporan keuangan yang diperiksa.
Sebagai contoh, suatu jumlah yang
material bagi laporan keuangan suatu entitas mungkin tidak material bagi laporan keuangan entitas lain dengan ukuran dan sifat yang berbeda. Begitu juga, jumlah yang material bagi laporan keuangan entitas tertentu kemungkinan berubah dari satu periode ke periode yang lain.
Pertimbangan pemeriksa tentang materialitas merupakan pertimbangan yang bersifat professional dan dipengaruhi oleh persepsi yang wajar tentang keandalan dan kepercayaan atas laporan keuangan yang diperiksa.
Materialitas mengandung unsur subjektivitas tergantung pada sudut pandang, waktu, dan kondisi pihak yang berkepentingan. Namun, penilaian subjektivitas yang sama dari banyak pihak dapat mengarah pada suatu objektivitas.
Konsep materialitas dapat dikelompokkan menjadi (keputusan BPK No.05/k/I- XIII.2/5/2008):
a) Materialitas kuantitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kuantitatif tertentu seperti nilai uang, jumlah waktu, frekuensi maupun jumlah unit.
6 yang menggunakan ukuran
kualitatif yang lebih ditentukan pada pertimbangan professional.
Pertimbangan professional tersebut didasarkan pada cara pandang, pengetahuan, dan pengalaman pada situasi dan kondisi tertentu.
Dalam menentukan materialitas, tidak terdapat kriteria yang baku, tetapi ada faktor yang harus dipertimbangkan pemeriksa dalam menentukan materialitas, yaitu (keputusan BPK No.05/k/I-XIII.2/5/2008):
a) Tingkat kepentingan para pihak terkait terhadap objek yang diperiksa, misalnya pada objek laporan keuangan pemerintah, pengguna laporan keuangan memiliki kepentingan yang tinggi terhadap masalah legalitas dan ketaatan pada ketentuan yang berlaku.
b) Batasan materialitas untuk penugasan pemeriksaan, misalnya batasan materialitas pemeriksaan laporan keuangan pemerintah pusat cenderung konservatif karena sektor publik lebih mementingkan pengujian terhadap legalitas, ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku.
Dalam penelitian ini konsep profesionalisme yang digunakan adalah konsep untuk mengukur bagaimana para profesional memandang profesi mereka yang tercermin dalam sikap dan perilaku mereka. Dengan anggapan bahwa sikap dan perilaku mempunyai hubungan timbal balik. Perilaku profesionalisme merupakan cermin dari sikap profesionalisme, demikian pula sebaliknya sikap profesional tercermin dari perilaku yang profesional.
Hall (Syahrir 2002 : 7) mengembangkan konsep profesionalisme dari level individual yang digunakan untuk profesionalisme eksternal auditor, meliputi lima dimensi:
a) Pengabdian pada profesi (dedication), yang tercermin dalam dedikasi profesional melalui penggunaan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Sikap ini adalah ekspresi dari penyerahandiri secara total terhadap pekerjaan.
Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan hidup dan bukan sekadar sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Penyerahan diri secara total merupakan komitmen pribadi, dan sebagai kompensasi utama yang
diharapkan adalah kepuasan rohaniah dan kemudian kepuasan material.
b) Kewajiban sosial (Social obligation), yaitu pandangan tentang pentingnya peran profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat ataupun oleh profesional karena adanya pekerjaan tersebut.
c) Kemandirian (autonomy
demands), yaitu suatu pandangan bahwa seorang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak yang lain.
d) Keyakinan terhadap peraturan profesi (belief in self-regulation), yaitu suatu keyakinan bahwa yang berwenang untuk menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, dan bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
e) Hubungan dengan sesama profesi (professional community affiliation), berarti menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan.
Melalui ikatan profesi ini para profesional membangun kesadaran profesinya.
Dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara sesuai Peraturan BPK-RI No.1 Tahun 2007 pada pernyataan standar umum pertama menyatakan Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan. Dengan pernyataan Standar ini semua organisasi pemeriksa bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap pemeriksaan dilaksanakan oleh pemeriksa yang secara kolektif memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Standar umum kedua menyatakan dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya. Standar umum ketiga menyatakan dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan, pemeriksa wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Standar umum keempat menyatakan bahwa setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus
8 (pengendalian mutu ekstern)
Kode Etik
Etika secara umum didefinisikan sebagai nilai-nilai tingkah laku atau aturan-aturan tingkah laku yang diterima dan digunakan oleh suatu golongan tertentu atau individu (Sukamto 1991 dalam Suraida 2005: 118).
Definisi etika secara umum adalah “a set of moral principles or value. Prinsip- prinsip etika tersebut (yang dikutip dari The Yosephine Institute for teh Advancement of Ethics) adalah honesty, integrity, promise keeping, loyalty, fairness, caring for others, responsible citizenship, pursuit of excellent and accountability (Arrens & Loebecke 2003).
Etika pemeriksa pada BPK RI mengacu pada Peraturan BPK RI No.2 Tahun 2007 tentang Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.
a) Dimana pasal 2 menyatakan bahwa setiap Anggota BPK dan Pemeriksa wajib: mematuhi peraturan perundang- undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. Mengutamakan kepentingan negara atas kepentingan pribadi atau golongan. Menjunjung tinggi independensi, integritas dan profesionalitas. Menjunjung tinggi
kredibilitas BPK.
b) Pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa untuk menjamin independensi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa wajib: bersikap netral dan tidak memihak. Menghindari terjadinya benturan kepentingan dalam melaksanakan kewajiban profesionalnya.
Menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi independensi.
Mempertimbangkan informasi, pandangan dan tanggapan dari pihak yang diperiksa dalam menyusun opini atau laporan pemeriksaan. Bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri. Ayat (2) menyatakan bahwa untuk menjamin independensi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa dilarang:
merangkap jabatan dalam lingkungan lembaga negara yang lain, badan-badan lain yang mengelola keuangan negara, dan perusahaan swasta nasional atau asing.
Menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menyebabkan orang lain meragukan independensinya. Tunduk pada intimidasi atau tekanan orang lain. Membocorkan informasi yang diperolehnya dari auditee.
Dipengaruhi oleh prasangka, interpretasi atau kepentingan tertentu, baik kepentingan pribadi pemeriksa sendiri maupun pihak- pihak lainnya yang berkepentingandengan
hasil pemeriksaan.
c) Pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa untuk menjamin integritas dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa wajib: bersikap tegas dalam menerapkan prinsip, nilai, dan keputusan. Bersikap tegas untuk mengemukakan dan/ atau melakukan hal-hal yang menurut pertimbangan dan keyakinannya perlu dilakukan.
Bersikap jujur dan terus terang tanpa harus mengorbankan rahasia pihak yang diperiksa. Ayat (2) menyatakan untuk menjamin integritas dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa dilarang: menerima pemberian dalam bentuk apapun baik langsung maupun tidak langsung yang diduga atau patut diduga dapat mempengaruhi pelaksanaan tugas dan wewenangnya.
Menyalahgunakan wewenangnya sebagai pemeriksa guna memperkaya atau menguntungkan diri sendiri atau pihak lain.
d) Pasal 8 ayat (1) menyatakan bahwa untuk menjunjung profesionalisme dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa wajib:
menerapkan prinsip kehati-hatian, ketelitian dan kecermatan. Menyimpan rahasia negara atau rahasia jabatan
mengemukakannya kepada pejabat yang berwenang. Menghindari pemanfaatan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan atau jabatannya untuk kepentingan pribadi, golongan, atau pihak lain. Menghidari perbuatan di luar tugas dan
wewenangnya. Mempunyai
komitmen tinggi untuk bekerja
sesuai dengan standar
pemeriksa keuangan negara.
Memutakhirkan, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam rangka melaksanakan tugas pemeriksaan.
Menghormati dan mempercayai serta saling membantu diantara pemeriksa sehingga dapat bekerjasama dengan baik dalam pelaksanaan tugas. Saling berkomunikasi dan mendiskusikan permasalahan yang timbul dalam menjalankan tugas pemeriksaan.
Menggunakan sumber daya publik secara efisien, efektif dan ekonomis. Ayat (2) menyatakan untuk menjunjung profesionalisme dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa dilarang:
menerima tugas yang bukan merupakan kompetensinya.
Mengungkapkan informasi yang terdapat dalam proses pemeriksaan kepad pihak- pihak lain, baik lisan
10 kepentingan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Mengungkapkan laporan hasil pemeriksaan atau substansi hasil pemeriksaan kepada media massa kecuali atas ijin atau perintah ketua atau wakil ketua atau Anggota BPK.
Mendiskusikan pekerjaannya dengan auditee diluar kantor BPK atau kantor auditee.
Pengalaman Auditor
Pengalaman auditor adalah pengalaman dalam melakukan audit laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu, banyaknya penugasan maupun jenis-jenis pemeriksaan yang pernah ditangani. Alasan yang paling umum dalam mendiagnosis suatu masalah adalah ketidak mampuan menghasilkan dugaan yang tepat. Libby dan Frederick (1990) dalam (Suraida 2005:119) menemukan bahwa makin banyak pengalaman auditor makin dapat menghasilkan berbagai macam dugaan dalam menjelaskan temuan audit.
Definisi lain menyebutkan bahwa pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non
proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Suatu pembelajaran juga mencakup perubahan yang relatif dari perilaku yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktik (Knoers dan Haditono 1999 dalam Asih 2006: 12).
Pengalaman merupakan atribut yang penting bagi auditor, terbukti dengan tingkat kesalahan yang dibuat auditor, auditor yang sudah berpengalaman biasanya lebih dapat mengingat kesalahan atau kekeliruan yang tidak lazim/wajar dan lebih selektif terhadap informasi- inforamsi yang relevan dibandingkandengan auditor yang kurang berpengalaman (Meidawati 2001 dalam Asih 2006: 13).
Purnamasari (2005: 15), memberikan kesimpulan bahwa seorang pegawai yang memiliki pengalaman kerja yang tinggi akan memiliki keunggulan dalam beberapa hal diantaranya mendeteksi kesalahan dari penyebab munculnya kesalahan. Berbagai macam pengalaman yang dimiliki individu akan menpengaruhi pelaksanaan suatu tugas.
Seseorang yang berpengalaman memiliki cara berpikir yang lebih terperinci, lengkap dan sophisicated dibandingkan
seseorang yang belum berpengalaman (Taylor dan Tood 1995 dalam Asih, 2006:13)
Sebagai seorang akuntan yang profesional, harus menjalani pelatihan yang cukup. Pelatihan disini dapat berupa kegiatan –kegiatan seperti seminar, simposium, lokakarya, dan kegiatan penunjang keterampilan yang lain. Selain kegiatan-kegiatan tersebut, pengarahanyang diberikan oleh auditor senior kepada auditor yunior juga bisa dianggap sebagai salah satu bentuk pelatihan karena kegiatan ini dapat meningkatkan kerja auditor. melalui program pelatihan dan praktik-praktik audit yang dilakukan para auditor juga mengalami proses sosialisasi agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan situasi yang akan ia temui, struktur pengetahuan auditor yang berhubungan dengan pendeteksian kekeliruan mungkin akan berkembang dengan adanya program pelatihan auditor ataupun dengan bertambahnya pengalaman auditor.
Penelitian Terdahulu
Penelitian oleh Syafina (2009) meneliti tentang Pengaruh Profesionalisme dan Pengalaman Auditor BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara terhadap tingkat
materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan pemerintah. Penelitian Herawaty dan Susanto (2008) meneliti tentang profesionalisme, pengetahuan akuntan publik dalam mendeteksi kekeliruan, etika profesi terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Penelitian Suraida (2005) meneliti tentang Uji Model Etika, Kompetensi, Pengalaman Audit dan Resiko Audit terhadap Skeptisisme Profesional Auditor.
Perumusan Hipotesis
a. Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.
H1 : Profesionalisme Auditor memiliki pengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
b. Pengaruh ketaatan terhadap Kode Etik terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas
H2 : ketaatan terhadap kode etik memiliki pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat
Materialitas.
c. Pengaruh Pengalaman Auditor terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas H3: Pengalaman Auditor memiliki
pengaruh terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.
d. Pengaruh Profesionalisme Auditor, Ketaatan terhadap Kode etik, Pengalaman Auditor terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas.
12 Auditor secara simultan memiliki
pengaruh terhadap
Pertimbangan Tingkat Materialitas.
Metode Riset Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan sebab akibat dengan cara tertentu berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada, kemudian mencari kembali faktor yang diduga menjadi penyebabnya, melalui pengumpulan data dengan melakukan perbandingan diantara data yang terkumpul/diteliti (Sumarni dan Wahyuni 2006:53)
Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2002:72) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono 2002:73) . Sampel
auditor pemerintah yang bekerja pada BPK-RI Perwakilan Provinsi Bengkulu yang bertugas antara Januari sampai dengan Maret 2013.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang menggambarkan keadaan sebenarnya dari obyek penelitian.
Kegiatan ini dilakukan dengan mempelajari secara langsung tentang BPK RI. Data primer berupa kuesioner, yang diberikan langsung kepada responden.
Definisi dan Pengukuran Variabel Materialitas
Variabel dependen dalam penelitian ini Pertimbangan Tingkat Materialitas, yaitu pertimbangan auditor atas besarnya penghilangan atau salah saji informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pertimbangan pihak yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut yang dilihat berdasarkan pengetahuan tentang tingkat materialitas, seberapa penting tingkat materialitas, resiko audit, tingkat materialitas antar pemerintah dan urutan tingkat materialitas dalam rencana audit.
Profesionalisme Auditor
Profesionalisme auditor merupakan sikap dan perilaku auditor dalam menjalankan profesinya dengan kesungguhan dan tanggung jawab agar mencapai kinerja tugas sebagaimana yang diatur oleh organisasi profesi, meliputi pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan profesi dan hubungan dengan rekan seprofesi.
Ketaatan terhdap Kode Etik
Kode Etik adalah nilai-nilai tingkah laku atau aturan-aturan tingkah laku yang diterima dan digunakan oleh organisasi BPK RI yang meliputi Integritas, independensi, dan profesional.
Pengalaman Auditor
Pengalaman Auditor adalah pengalaman dalam melakukan audit laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu, banyaknya penugasan maupun jenis-jenis pemeriksaan yang pernah ditangani.
Pengukuran Variabel Penelitian
Pertimbangan tingkat materialitas dan profesionalisme auditor dengan indikator yang mengacu pada instrumen penelitian Novanda (2012).
Sedangkan kode etik dengan indikator yang mengacu pada instrumen
penelitian Putri (2011) dan pengalaman auditor dengan indikator yang mengacu pada instrumen penelitian Khairiah (2009).
Variabel pertimbangan tingkat materialitas, profesionalisme auditor, dan ketaatan terhadap kode etik diukur dengan skala ordinal menggunakan modifikasi skala likert, yaitu Sangat Setuju (SS) di beri skor 5, Setuju (S) di beri skor 4, Netral (N) di beri skor 3, Tidak Setuju (TS) di beri skor 2 dan Sangat Tidak Setuju (STS) di beri skor 1. Variabel pengalaman auditor diukur dengan skala interval.
Analisis dan Pembahasan Statistik Deskriptif
Gambaran mengenai variabel- variabel penelitian dalam penelitian ini seperti profesionalisme auditor, Ketaatan terhadap kode etika, dan pengalaman auditor maka digunakan tabel statistik deskriptif yang menunjukkan angka kisaran teoritis, kisaran sesungguhnya, median, rata-rata (mean) dan standar deviasi jawaban responden pada masing-masing variabel terlihat memberikan informasi yang menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian ini, yaitu materialitas,
14 kategori tinggi. Hal ini ditunjukkan
dengan nilai rata-rata aktual seluruh variabel yang lebih tinggi daripada nilai rata-rata teoritis tiap variabel. Berarti sebagian besar responden memberikan jawaban pada setiap item pertanyaan dengan skala besar. (Tabel 4.1, Lampiran I)
Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas ini menggunakan konsistensi interkorelasi yaitu teknik Cronbach’s Alpha (α). Pengukuran koefisiensi alpha (α) ini dapat digunakan untuk menganalisis multipoint-scaled items. Apabila nilai cronbach alpha dari hasil pengujian > 0.60 maka dapat dikatakan bahwa konstruk atau variabel adalah reliabel (Nunnaly, 1969 dalam Ghozali,
2005). bahwa untuk variabel Profesionalisme memiliki nilai cronbach alpha sebesar 0,877, hal ini berarti untuk variabel profesionalisme datanya reliabel karena 0,877 > 0,60. Untuk variabel lainnya seperti materialitas, Ketaatan terhadap kode etik dan pengalaman juga datanya bersifat reliabel karena nilai dari cronbach alpha lebih besar dari 0,60.
Uji validitas yang digunakan adalah dengan menghitung korelasi antara skor masing- masing butir pertanyaan dengan total skor setiap konstruknya (Ghozali, 2005). Pengujian ini menggunakan metode pearson correlation. Apabila korelasi antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor tiap konstruknya signifikansi pada level 0.01 maka pertanyaan tersebut dikatakan valid (Ghozali 2005). Dari hasil uji validitas data pada tabel 4.6 terlihat bahwa untuk nilai signifikansi semua variabel berada < 0.01, oleh karena itu semua item pertanyaan yang terdapat dalam penelitian ini bersifat valid.
Uji Normalitas
Uji normalitas akan terpenuhi apabila sampel yang digunakan berjumlah lebih dari atau sama dengan 30. Untuk mengetahui normalitas distribusi data dapat dilakukan dengan menggunakan analisis statistik, yakni dengan kolmogorov-smirnov test. Jika nilai signifikansi dari pengujian one sample kolmogorov-smirnov test > 0.05 maka data mempunyai distribusi normal (Ghozali 2005). Dari hasil uji normalitas terlihat bahwa nilai dari asymp sig lebih besar dari 0.05, sehingga data dalam
penelitian ini berdistribusi secara normal.
Uji Multikolinieritas
Indikasi ada tidaknya multikorinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflantion factor (VIF). Apabila nilai tolerance < 0.10 dan nilai VIF > 10, maka terjadi multikorinearitas antara variabel independennya. Sebaliknya, multikorinearitas tidak akan terjadi apabila nilai tolerance > 0.10 dan niali VIF < 10 (Ghozali 2005). bahwa untuk variabel profesionalisme memiliki nilai tolerance sebesar 0,569 dimana nilai tolerance ini lebih dari 0.10 dan nilai VIF nya sebesar 1,756 < 10, sehingga untuk variabel profesionalisme terbebas dari masalah multikolinearitas. Untuk variabel ketaatan terhadap kode etik memiliki nilai tolerance sebesar 0,573 > 0.10 dan nilai VIF sebesar 1,573 < 10, sehingga untuk
variabel ketaatan terhadap kode etik juga terbebas dari masalah multikolinearitas.
Variabel pengalaman yang memiliki nilai tolerance sebesar 0,864 > 0.10 dan nilai VIF sebesar 1,157 <
10, sehingga untuk variabel kode etik juga terbebas dari masalah multikolinearitas Uji Linieritas
mengetahui apakah dalam model regresi mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya. Antara profesionalisme auditor dengan pertimbangan tingkat materialitas mempunyai nilai signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari tingkat kepercayaan sebesar 5%, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang linier, antara ketaatan terhadap kode etik dengan pertimbangan tingkat materialitas mempunyai nilai signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari tingkat kepercayaan sebesar 5%, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang linier, hubungan antara pengalaman auditor dengan pertimbangan tingkat materialitas mempunyai nilai signifikan sebesar 0,129 lebih besar dari tingkat kepercayaan sebesar 5%, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang linier.
Pengujian Hipotesis
Berdasarkan hasil uji hipotesis sederhana hanya satu variabel yang mempengaruhi pertimbangan tingkat materialitas dari tiga variabel yang diteliti, namun secara simultan ketiga variabel tersebut mempengaruhi pertimbangan tingkat materialitas. (Tabel 4.2, Lampiran I)
Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan
16 antara profesionalisme auditor dengan
pertimbangan dengan tingkat materialitas.
Hal ini disebabkan karena entitas LKPD merupakan sektor publik dengan ketentuan pengelolaan yang sama untuk semua entitas maka BPK RI menetapkan nilai risiko pemeriksaan yang dapat diterima (Accepteble Audit Risk) yang sama untuk semua entitas LKPD yaitu sebesar 5%. Namum demikian, pemeriksa dapat memberikan pertimbangan lain untuk menurunkan besaran AAR dengan pertimbangan faktor-faktor antara lain : kondisi geografis, nilai aset dan anggaran yang tidak di kelola, jumlah satuan kerja (Satker), hasil pemeriksaan sebelumnya, integritas manajemen dan
sistem informasi yang
digunakan.(panduan pemeriksaan LKPD edisi tahun 2013).
Berdasarkan jawaban responden terhadap pernyataan profesionalisme auditor secara umum responden menjawab setuju (61,4%) dan sangat setuju (23,1%), namum masih terdapat banyak jawaban responden yang netral (N) pada keyakinan terhadap profesi pada item 11 dimana jawaban responden menunjukkan 24 responden menjawab netral dari 43 responden. Namun pada pernyataan kewajiban sosial item ke 6 sebanyak 32 dari 43 responden menjawab
Berdasarkan jawaban responden terhadap pernyataan tentang ketaatan terhadap kode etik menunjukkan sebagian besar responden menjawab setuju (58%) dan sangat setuju (25,4%), hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden setuju untuk menerapkan ketaatan terhadap kode etik dalam melakukan audit. Hal ini juga ditunjukan oleh jawaban responden untuk pernyataan independensi item ke 2 dimana sebanyak 32 dari 43 responden menjawab setuju, dan pada pernyataan integritas item ke 6 dimana sebanyak 33 dari 43 responden menjawab setuju.
Berdasarkan jawaban responden terhadap pernyataan tentang pengalaman auditor sebanyak 21 dari 43 responden mengarah pada jawaban 3 yaitu masa kerja 3 s,d 5 tahun, menjadi ketua tim jawaban responden sebanyak 29 dari 43 responden mengarah pada jawaban 1 yaitu belum pernah menjadi ketua tim, menjadi ketua sub tim jawaban responden sebanyak 34 dari 43 responden mengarah pada jawaban 1 yaitu belum pernah menjadi ketua sub tim, jumlah unit kerja yang diaudit dalam LKPD jawaban responden sebanyak 40 dari 43 responden mengarah pada jawaban 5 yaitu lebih dari
4 SKPD. Dengan demikian pengalaman auditor BPK RI Perwakilan Bengkulu masih sangat sedikit dalam hal melakukan audit.
Berdasarkan uji regresi secara simultan, pertimbangan tingkat materialitas suatu laporan keuangan dipengaruhi oleh profesionalisme auditor, ketaatan terhadap kode etik dan pengalaman auditor. namun, pengaruh tersebut hanya sebesar 39,4% sedangkan sisanya sebesar 60,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. (Tabel 4.3, Lampiran I)
PENUTUP
Kesimpulan
Profesionalisme Auditor di BPK tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas, pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat materialitas dan dipengaruhi oleh faktor lainnya di luar penelitian ini.
Pengalaman auditor di BPK tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas, hal ini disebabkan karena auditor BPK biasanya menggunakan judgement auditor dimana hal ini terjadi jika ditemukan permasalahan tentang tingkat materialitas
maka akan dibuat kebijakan untuk menyamakan persepsi. Profesionalisme auditor, ketaatan terhadap kode etik dan pengalaman auditor secara bersama- sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Implikasi Hasil Penelitian
Penenlitian ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan pada BPK RI sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pola mutasi yang tepat agar pemerataan auditor yang berpengalaman pada setiap kantor perwakilan sehingga dapat menghasilkan kualitas laporan hasil pemeriksaan yang sama pada setiap kantor perwakilan.
Saran
Bagi auditor, perlu meningkatkan pengetahuan tambahan yang dapat membentuk sikap profesionalisme yang dapat mendukung pertimbangan auditor dalam menentukan tingkat materialitas suatu laporan keuangan pemerintah daerah. Dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, seorang auditor harus tetap taat terhadap kode etik yang sudah ditetapkan oleh BPK RI, termasuk tidak bertindak menurut keinginan pribadi.
Berdasarkan hasil penelitian pengalaman auditor rata-rata masih
18 sehingga pelaksanaan pemeriksaan dapat
terencana dengan baik dan dapat memberikan perbaikan kepada pemerintah daerah itu sendiri. Sehingga dapat menambah pengalaman yang akan mendampak pada sikap profesional untuk mengambil keputusan dalam menentukan tingkat materialitas dalam laporan.
Auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bengkulu, memperbanyak pengalaman pemeriksaan dengan tidak hanya pemeriksaan laporan keuangan pemerintah daerah tapi juga pemeriksaan laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah, Bank Pembangunan Daerah dan Lainnya. Dengan demikian, auditor semakin berpengalaman dalam melakukan audit dan menentukan tingkat risiko audit pada setiap akun, sehingga dapat menentukan tingkat materialitas yang tepat. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan bisa menambahkan variabel lain seperti opini tahun sebelumnya, informasi dari media masa, dan risiko terjadinya tindakan kecurangan (Fraud) yang diduga mempengaruhi tingkat pertimbangan materialitas.
Daftar Pustaka
Asih. (2006). Pengaruh Pengalaman Terhadap Peningkatan Keahlian Auditor dalam Bidang
Hastuti, dkk. (2003). Hubungan antara Profesionalisme dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan.
Prosiding Simposium Nasional Akuntansi. OKtober. Hal 1206- 1220
Herawati dan Susanto (2009). Pengaruh Profesionalisme, Pengetahuan mendeteksi kekeliruan dan etika profesi terhadap pertimbangan Tingkat Materialitas Akuntan Publik. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 11 No.1
Ifada dan M. Ja’far. (2005). Pengaruh Sikap Profesionalisme Internal Auditor Terhadap Peranan Internal Auditor dalam Pengungkapan Temuan Audit.
Jurnal Bisnis, Manajemen dan Ekonomi. Vol.7 No.3.
Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No.05/K/I- XIII.2/5/2008 Tentang petunjuk teknis penetapan batas materialitas pemeriksaan keuangan.
Lestari dan Dwi. (2003). Hubungan antara Profesionalisme Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan.
Jurnal Bisnis, Manajemen dan Ekonomi. Vol.2 No.1
Martiyani. (2010). Pengaruh Profesionalisme Auditor dan Kualitas Audit terhadap tingkat Materialitas dalam dalam Pemeriksaan Laporan Keuangan. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Universitas Pembangunan Nasional’Veteran”
Surabaya Jawa Timur.
Mardiasmo. (2001). Pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan
kinerja pemerintah dalam pelaksanaan otonomi daerah. Jurnal bisnis dan akuntansi. Sekolah tinggi ilmu ekonomi Trisakti. Jakarta. Edisi Agusutus.
Noveria. (2006). Pengaruh
Profesionalisme Auditor Internal terhadap Work Outcome Auditor Internal. Skripsi. Tidak dipublikasikan.
UNPAD Bandung.
Novanda (2012). Pengaruh
profesionalisme auditor, etika profesi dan pengalaman audit terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Skripsi. UNY Yogyakarta.
Rifqi Muhammad (2008). Analisis hubungan antara profesionalisme auditor dengan pertimbangan tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan.
Jurnal penelitian dan pengabdian.
DPPM UII. YOGYAKARTA.
Santoso. (2000). Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sugiyono. (2001). Metode Penelitian Bisnis. Bandung. CV. Alfabeta Sugiyono. (2002). Statistik Untuk
Penelitian. Bandung : CV Alfabeta Sumarni dan Wahyuni. (2006).
Metodologi Penelitian Bisnis.
Yogyakarta: Andi Offset. Suraida.
(2005). Uji Model Etika, Kompetensi, Pengalaman Audit dan Resiko Audit
Terhadap Skeptisme Profesional Auditor.
Jurnal Akuntansi. Th IX/02/Mei.
Syahrir. (2002). Analisis hubungan antara
dengan kinerja, kepuasan kerja, komitmen, dan keinginan berpindah. Tesis. FE UGM.
Yogyakarta.
Syafina. (2009). Profesionalisme dan
Pengalaman auditor BPK
Perwakilan Provinsi Sumatera Utara terhadap tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan pemerintah. Tesis.
Tidak dipublikasikan.USU Medan.
Peraturan BPK-RI Nomor 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara. Peraturan BPK- RI Nomor 02 Tahun 2007 tentang Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia.
Purnamasari. (2005). Pengaruh pengalaman kerja terhadap hubungan pertisipasi dengan efektivitas sistem informasi. Jurnal riset akuntansi keuangan. Vol.1 No.3.
Wilopo (2001). Faktor-faktor yang menentukan kualitas audit pada sektor publik atau pemerintah.
Ventura. Volume 4. No.1, Juni. Hal.
27-32.
Yanuar (2008). Pengaruh profesionalisme auditor dan pengalaman auditor terhadap tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan (studi kasus pada auditor BPK Yogyakarta) skripsi. Tidak dipublikasikan
20 Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Variabel Rentang
Teoritis
Rata-rata Teoritis
Standar devasi
Rentang Aktual
Rata-rata Aktual
Materialitas 12-60 36 3.81290 43-59 47.4419
Profesionalisme 15-75 45 5.95042 49-73 59.2093
Ketaatan terhadap Kode_Etik
13-65 39
5.73714 37-64
51.8837
Pengalaman 9-45 27 5.26233 23-44 31.3023
Tabel 4.2
Hasil Pengujian Hipotesis 1, 2 dan 3
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant)
Total_Profesionalisme Ketaatan terhadap Kode_Etik Total_Pengalaman
23.263 5.139 4.527 .000
.154 .106 .241 1.459 .153
.303 .109 .456 2.773 .008
-.022 .097 -.031 -.230 .819
a. Dependent Variable: Materialitas
Tabel 4.3
Hasil pengujian hipotesis 4
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression Residual Total
240.762 3 80.254 8.463 .000a
369.842 39 9.483
610.605 42
a. Predictors: (Constant), Total_Pengalaman, ketaatan terhadap Kode_Etik, Total_Profesionalisme