Analisis Keuntungan
Usahatani
Pertemuan 11
Indah Nurhidayati
Usahatani merupakan usaha yang kompleks.
Selain bertindak sebagai juru tani, petani juga bertindak sebagai investor, manajer, dan karyawan.
Petani juga melakukan usahatani dengan berbagai tujuan seperti konsumsi,
melestarikan cara hidup, pendapatan, dan sebagainya.
Diantara tujuan usahatani tersebut, petani menghadapi permasalahan utama terkait pendapatan.
Hal ini terjadi karena petani kesulitan dalam memperhitungkan keadaan keuangan usahatani yang dilakukannya, dampaknya petani kesulitan menentukan apakah usahataninya berhasil atau tidak.
Keberhasilan usahatani akan menghasilkan cukup pendapatan, yang berguna untuk:
a. Membayar biaya semua alat-alat yang diperlukan
b. Membayar modal yang dipergunakan, baik modal internal maupun modal eksternal
c. Membayar upah tenaga petani dan keluarga secara layak
d. Membayar tenaga petani sebagai manajer e. Tetap produktif seperti kondisi semula
Tujuan Analisis Usahatani
1. Mengetahui keunggulan komparatif usahatani
2. Mengetahui kenaikan hasil yang semakin menurun 3. Mengetahui pengeluaran/ biaya usahatani
4. Mengetahui biaya yang diluangkan (opportunity cost) 5. Mengetahui pemilikan cabang usaha/ macam
tanaman lain apa yang dapat diusahakan
Keragaan usahatani dilihat dari berbagai aspek, karena setiap macam tipe usahatani pada tiap skala dan lokasi berbeda satu sama lain
Tujuan Lain Analisis Usahatani
• Menggambarkan keadaan keuangan suatu kegiatan usahatani
• Menggambarkan keadaan yang akan datang dari suatu perencanaan atau tindakan.
Manfaat Analisis Usahatani
a. Membantu petani dalam pengambilan keputusan, terkait:
Penggunaan teknologi baru
Menyusun rencana yang akan datang
b. Bahan pertimbangan penentuan kebijakan pemerintah, dalam hal:
Harga produk
Harga sarana produksi, dan lainnya
Yang perlu diperhatikan, bahwa keragaan usahatani harus dilihat dari berbagai aspek, karena setiap
tipe usahatani pada tiap skala dan
lokasi berbeda satu sama lain.
Biaya merupakan nilai dari semua masukan ekonomi yang diperlukan yang dapat diperkirakan dan yang dapat diukur untuk menghasilkan sesuatu produk.
Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap
Biaya tetap (fixed cost/ FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus menerus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh banyak atau sedikit atau biaya yang tidak tergantung secara langsung dengan tingkat produksi dalam jangka pendek. Misalnya pajak, penyusutan alat, bunga modal investasi sendiri , bunga pinjaman, sewa tanah.
FC = (Harga Input Tetap Per Unit) x (Jumlah Input Tetap)
Penyusutan dapat diperoleh dengan metode garis lurus, dengan rumus
Penyusutan = Nilai Awal (Harga Perolehan) – Nilai Sisa Dibagi Umur Ekonomis
Contoh Soal
Harga perolehan Spryer Rp 100.000,00 dengan umur ekonomis 3 tahun dan nilai sisa Rp 5.000,00.
Berapakah penyusutannya?
Penyusutan
Bunga Modal Sendiri
Besarnya modal sendiri diperoleh dari besarnya modal baik untuk operasional usahatani maupun modal yang berupa investasi dikalikan tingkat suku bunga yang berlaku.
Bunga Modal Sendiri = Nilai Modal Sendiri x Suku Bunga Bank yang Berlaku
Contoh Soal
Seorang petani memiliki modal sendiri berupa tanah senilai Rp 10.000.000,00 dan alat-alat senilai Rp 6.000.000,00.
Jika diketahui bunga bank untuk kredit sebesar 12% per tahun. Berapakah bunga modal per bulan?
Biaya Tidak Tetap
Merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi komoditas pertanian yang diproduksi atau biaya yang secara langsung tergantung pada tingkat output. Yang termasuk kedalam biaya ini, adalah biaya bahan baku (seperti bibit, pupuk, pakan ternak, dan bahan bakar), biaya tenaga kerja langsung, dan sebagainya.
VC = (Harga Input Variabel Per Unit) x (Jumlah Input Variabel)
Biaya Yang Dibayarkan
Biaya yang Dibayarkan atau Biaya Eksplisit adalah biaya yang dikeluarkan dalam bentuk uang atau benda dalam aktivitas usahatani. Yang termasuk dalam biaya ini misalnya biaya untuk bibit, pupuk, pestisida, tenaga kerja luar, pajak, bunga pinjaman, dan lain-lain
Biaya Yang Tidak Dibayarkan
Biaya yang Tidak Dibayarkan atau Biaya Implisit adalah biaya yang tidak dibayarkan meskipun sebenarnya merupakan biaya usahatani. Misalnya biaya tenaga kerja keluarga, penyusutan, bunga modal sendiri, dan sebagainya.
Biaya Alat-alat Luar
yaitu semua biaya yang dipergunakan untuk menghasilkan penerimaan kecuali upah tenaga kerja keluarga, bunga seluruh aktiva, biaya kegiatan petani sendiri (seperti biaya saprodi, tenaga kerja luar, pajak, penyusutan alat, dan sebagainya)
Biaya Mengusahakan (Farm Expences)
yaitu biaya alat-alat luar ditambah dengan upah tenaga keluarga
Biaya Menghasilkan
yaitu biaya mengusahakan ditambahkan dengan bunga modal sendiri
Biaya Usahatani dipengaruhi oleh : 1. Struktur tanah
2. Topografi tanah
3. Jenis dan varietas tanaman
4. Tingkat teknologi yang digunakan
Nilai Hasil Usahatani 3 komponen : 1. Nilai hasil usahatani yang dijual
2. Nilai hasil usahatani yang dikonsumsi
3. Kenaikan nilai inventaris : (nilai akhir tahun – nilai awal)
Penerimaan/ Pendapatan Kotor
Adalah keseluruhan nilai hasil yang dipeoleh dari semua cabang usahatani dan sumber dalam usahatani yang diperhitungkan dari hasil penjualan, pertukaran, atau penaksiran kembali dalam satu periode waktu. Penerimaan usahatani diperoleh dari perkalian anatar produksi yang dihasilkan dengan harga jual.
Analisis penerimaan dilakukan dengan analisis parsial dan analisis keseluruhan.
TR = Y x Py
dimana TR = total penerimaan
Y = produksi yang diperoleh dalam usahatani Py = harga Y
Contoh Soal
Keluarga Pak Ardi memiliki hasil usahatani sebagai berikut:
Padi sejumlah 2.500 kg dengan harga jual Rp 3.500,00 per kg
Wortel sejumlah 500 kg dengan harga jual Rp 1.200,00 per kg
Telur ayam buras sejumlah 1 kg dengan harga jual Rp 20.000,00 per kg
Tanah dengan harga awal Rp 2.000.000,00, namun pada saat analisis harganya menjadi Rp 2.500.000,00
Berapakah penerimaan usahatani padi Pak Ardi?
Berapakah penerimaan usahatani keluarga Pak Ardi?
Penerimaan – Biaya = Pendapatan Usahatani Usahatani Usahatani
Dialokasikan pada berbagai kebutuhan
Mengelola Usahatani Konsumsi (kebutuhan hidup) +
Sisa Pendapatan Kegunaan Potensial :
1. Tabungan
2. Dana utk kegiatan sektor lain
Pendapatan Usahatani
Secara matematis, pendapatan usahatani ditulis dengan rumus berikut
𝜋 = 𝑌. 𝑃𝑦 − 𝑥𝑖 . 𝑃𝑥𝑖 − 𝐵𝑇𝑇
dimana π = pendapatan (rupiah) Y = jumlah produksi (kg)
Py = harga hasil produksi (rupiah)
xi = faktor produksi (i = 1, 2, 3, ..., n) Pxi = harga faktor produksi ke-i (rupiah) BTT = biaya tetap total (rupiah)
Macam-macam Hubungan Biaya Dan Pendapatan
a. Pendapatan Petani (Family Farm Income) = penerimaan usahatani – (biaya alat-alat luar + bunga modal dari luar)
b. Pendapatan Bersih (Net Income) = penerimaan usahatani – biaya mengusahakan (farm expences yang diperoleh dari biaya alat-alat luar + upah tenaga keluarga)
c. Keuntungan Pengusaha/ Pengelola (Profit) = penerimaan usahatani – biaya menghasilkan (biaya mengusahakan + bunga modal yang dipergunakan)
d. Pendapatan diperoleh dari penerimaan – biaya eksplisit
e. Keuntungan diperoleh dari penerimaan – (biaya eksplisit + biaya implisit)
Faktor-faktor Yang Berpengaruh Pada Pendapatan
a. Tingkat harga
b. Keadaan istimewa bencana alam c. Besarnya usahatani
d. Tinginya produksi
e. Efisiensi penggunaan tenaga kerja, alat-alat pertanian, dan modal f. Pembagian cabang usahatani
g. Cara-cara pemasaran
Keberhasilan usahatani dapat diperoleh apabila petani menguasai faktor-faktor tersebut dan pemerintah menciptakan kondisi sehingga petani menguasai faktor- faktor tersebut.
Contoh Soal
Berikut ini adalah data usahatani wortel pada lahan 2.000 m2per musim tanam (3 bulan).Uraian Jumlah Harga/unit (Rp) Biaya(Rp)
Tenaga kerja luar keluarga (HKP) 129 17.000
Pupuk organik (kg) 2.000 750
Pupuk anorganik:
- Urea (kg) - ZA (kg) - SP 36 (kg) - KCL (kg)
150 42 92 18
1.800 1.600 2.000 2.200
Pestisida (lt) 3 75.000
Benih (kg) 20 25.000
Pupuk daun (lt) 0,02 50.000
Ponska (kg) 5 2.000
Kapur pertanian (kg) 4 6.000
Irigasi 23.500
Penyusutan alat 20.000
Pajak tanah 50.000
Tenaga kerja dalam keluarga yang digunakan sebanyak 30 HKP. Modal yang dimiliki berupa tanah dengan nilai Rp 15.000.000,00 dan peralatan senilai Rp 8.000.000,00 dan tingkat suku bunga bank 11 persen per tahun. Hitunglah:
a. Biaya eksplisit b. Biaya implisit
c. biaya alat-alat luar d. biaya mengusahakan e. Biaya menghasilkan
Rasio Keuntungan Terhadap Biaya
Suatu usahatani memiliki indikator untuk menentukan keberlanjutan usahatani tersebut. Indikator tersebut menjelaskan berapa persen yang diperoleh petani dalam pengembalian penggunaan sumberdaya yang digunakan, baik tenaga kerja, modal, maupun lahan. Indikator ini berupa revenue cost ratio (R/C rasio) dan benefit cost ratio (B/C rasio). R/C rasio merupakan sebuah nilai yang diperoleh dari pembagian antara penerimaan usahatani dengan biaya total usahatani.
Rasio Keuntungan Terhadap Biaya
𝑅 𝐶 = 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛𝑖 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛𝑖
Nilai R/C yang lebih kecil dari 1 mengartikan bahwa penerimaan lebih kecil dari biaya atau usahatani mengalami kerugian.
Jika R/C sama dengan 1, artinya penerimaan yang diterima hanya mampu menutupi biaya yang dikeluarkan atau usahatani tidak untung dan tidak rugi.
Jika R/C lebih besar dari 1, artinya usahatani menguntungkan.
Rasio Keuntungan Terhadap Biaya
Benefit cost ratio merupakan perbandingan antara keuntungan usahatani dengan biaya usahatani.
Nilai B/C bisa negatif atau positif. B/C yang bernilai negatif artinya usahatani mengalami kerugian secara ekonomi.
Sebaliknya, B/C yang postif menunjukkan bahwa usatani menguntungkan.
𝐵 𝐶 = 𝐾𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛𝑖 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑡𝑎𝑛𝑖
Analisis Risiko Usahatani (Coeffiicient of Variation)
Coeffiicient of Variation atau metode koefisien variasi (CV) digunakan untuk mengalisis risiko suatu usahatani.
Koefisien variasi diperoleh dari rasio standar deviasi dengan nilai yang diharapkan atau expected return.
Nilai CV berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi petani, artinya semakin kecil nilai koefisien variasi, maka semakin rendah risiko yang dihadapi dari suatu usahatani.
Begitu pula sebaliknya, semakin besar nilai CV yang didapat maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung petani.
Analisis Risiko Usahatani (Coeffiicient of Variation)
𝐶𝑉 = 𝜎
𝑖𝜇
dimana CV = koefisien variasi 𝜎𝑖 = simpangan baku
𝜇 = rata-rata hasil (misalnya ton/ha)
Kriteria pengambilan keputusan
a. Apabila nilai CV ≤ 1 maka produksi usahatani yang dianalisis memiliki risiko kecil
b. Apabila nilai CV > 1 maka produksi usahatani yang dianalisis memiliki risiko besar
Contoh
Hasil penilaian risiko produksi bawang merah diluar musim atau off season di Desa Petak Kecamatan Bogor Kabupaten Nganjuk menggunakan metode koefisien variasi diperoleh nilai sebesar 1,01. Interpretasikan nilai CV tersebut!
Jawab
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, nilai CV > 1 atau 1,01 > 1 menunjukkan bahwa risiko produksi yang dihadapi petani bawang merah di Desa Petak yang melakukan usahatani bawang merah diluar musim atau off-season adalah tergolong tinggi. Nilai coefficient variation sebesar 1,01 ini memiliki arti bahwa risiko produksi yang dihadapi petani bawang merah di Desa Petak saat melakukan usahatani di musim penghujan atau off-season adalah sebesar 101% dari nilai produksi yang diperoleh petani.