• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PENDANAAN INDUSTRI PERTAHANAN DAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA. Yusman Efendi, Ruslan Arief

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODEL PENDANAAN INDUSTRI PERTAHANAN DAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA. Yusman Efendi, Ruslan Arief"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PENDANAAN INDUSTRI PERTAHANAN DAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA

Yusman Efendi, Ruslan Arief

[email protected], [email protected]

Abstrak

Sebagai negara kepulauan posisi strategis Indonesia memiliki implikasi terhadap pengembangan kekuatan pertahanan guna menghadapi dinamisnya perubahan lingkungan strategis baik dalam tataran regional maupun secara global. Naiknya anggaran pertahanan negara-negara di Kawasan telah memberikan tantangan tersendiri bagi Indonesia seperti apa perencanaan kekuatan yang diharapkan oleh negara kepulauan terbesar di dunia ini.

Kebijakan pemerintah dalam bidang industri pertahanan merupakan langkah strategis guna membangun kekuatan pertahanan di Kawasan yang secara langsung berimplikasi secara global terhadap perimbangan kekuatan. Industri pertahanan memiliki peranan yang sangat signifikan dihadapkan dengan perkembangan teknologi dewasa ini. Oleh karena itu, kebijakan terkait penganggaran dalam mewadahi kepentingan pembangunan kekuatan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus diatur sedemikian rupa sehingga arah perencanaan pembangunan kekuatan dapat terwadahi secara maksimal dan tepat guna. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh serta memiliki keterkaitan dalam rangka membangun kekuatan pertahanan sebuah negara dalam hubungannya dengan kebijakan industri pertahanan adalah sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia bersifat linear terhadap pembangunan kekuatan pertahanan. Oleh karena itu peningkatan kekuatan pertahanan selalu diikuti dengan peningkatan sumber daya manusia. Dalam tataran kebijakan, pemerintah memiliki peran yang sangat penting terhadap upaya alokasi pendanaan anggaran pertahanan guna mewujudkan sebuah Angkatan perang yang memiliki daya pukul yang besar.

Kata kunci: kebijakan, penganggaran dan sumber daya manusia Abstrack

As an archipelagic country, strategic position of Indonesian territory has an implication toward it defense power development in dealing with a dynamic changing of strategic environment not only in regional site but also global international vicinity. A rising defense budgeting of nations in regional area has brought a significant challenging to Indonesia related to its defense power planning. Indonesian government policy especially in term of defense industry has judged as strategic step to develop its defense power in regional area, which has a direct implication, In the global level related to defense balancing policy.

Defense industry has a significant role in dealing with current technology development.

Therefore, policy tied to defense budgeting to allocate defense power development interest should be arranged until defense power planning could be maximally allocated and on target.

One of the factors that bring a significant impact in term of building a country defense power related to its defense industry policy is human resource. Rising human resource give an impact linearly toward defense power development. So, defense power development always followed by human resource improvement. In the strategic level policy, Indonesian government has an important role toward defense budgeting allocation effort to embody the strong Indonesian armed forces.

Keywords: Policy, Defense Budgeting, Human Resource

(2)

LATAR BELAKANG

Pengelolaan industri strategis dan industri pertahanan di banyak negara hampir selalu dihadapkan pada tiga permasalahan utama, yakni: Pertama, pengembangan teknologi pertahanan yang bergantung pada dua skema, yakni skema penguatan penelitan dan pengembangan industri pertahanannya, dan melalui skema offset dan transfer teknologi. Kedua, pendanaan industri pertahanan dengan berbagai model pendanaan, dan yang ketiga permasalahan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) industri pertahanan. Ketiganya berkaitan satu dengan yang lain dalam menyokong kebutuhan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dalam negerinya atau tengah beranjak menjadi pengekspor persenjataan dan alat perang.

Sumber daya manusia (SDM) yang unggul sebagaimana menurut Jeffrey Pfefter merupakan SDM yang mampu mengembangkan diri secara proaktif yang mau belajar, mau bekerja keras dengan penuh semangat, dan mau bekerja sama.1Dalam era globalisasi sekarang ini dan semakin terbukanya pasar dunia, Indonesia dihadapkan pada persaingan yang semakin luas dan berat.

Ketidakmampuan dalam meningkatkan kualitas SDM baik di daerah maupun secara

1 Stev Koresy Rumagit, (2013). Kekerasan Dan Diskriminasi Antarumat Beragama Di Indonesia, Jurnal Lex Administratum, Vol.I/No.2/Jan-Mr

nasional dapat menyebabkan semakin terpuruknya posisi Indonesia dalam kancah persaingan global. Pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas memiliki suatu tujuan yaitu untuk meningkatkan produktivitas supaya dapat berperan memaksimalkan pembangunan nasional

Membangun sebuah sistem pertahanan nasional yang kuat, paling tidak membutuhkan pertimbangan pada empat hal berikut: faktor geografis Negara yang bersangkutan, sumber daya nasional sebuah negara, analisis terhadap kemungkinan ancaman yang akan muncul, dan perkembangan teknologi informasi2

Industri pertahanan dalam negeri menjadi salah satu ujung tombak upaya sebuah negara dalam mengembangkan sistem pertahanan secara mandiri. Hal ini terkait dengan terpenuhinya kebutuhan baik dalam konteks penyediaan kualitas maupun kuantitas alutsistayang sesuai dengan karakteristik kewilayahan serta menghilangkan ketergantungan secara politis terhadap negara lain. Pembinaan industri pertahanan domestik telah terbukti dapat menjadi tulang punggung bagi pembangunan sistem pertahanan dan modernisasi alutsista China dan India yang saat ini tumbuh menjadi kekuatan militer besar di Asia. Berkaca kepada hal tersebut,

2Jerry Indrawan, “Perubahan Paradigma Pertahanan Indonesia Dari Pertahanan Teritorial Menjadi Pertahanan Maritim: Sebuah Usulan”, Jurnal Pertahanan Vol 4 No 5 Agustus 2015, hal. 93

(3)

Indonesia yang saat ini tengah mengakselerasi program untuk memenuhi kebutuhan minimum kekuatan militernya mengeluarkan dasar hukum bagi pengembanganindustri pertahanan dalam negeri melalui Undang-UndangNomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan3

Apabila industri pertahanan membutuhkan komponen dan peralatan produksi yang belum dapat dipenuhi di dalam negeri, Pemerintah pun dapat memberikan insentif fiskal, termasuk pembebasan bea masuk dan pajak, terhadap komponen dan peralatan produksi yang diimpor. Permasalahannya adalah karena kebijakan tersebut tidak berada di bawah kontrol langsung dari pengambil kebijakan pertahanan dan melibatkan banyak pemangku kebijakan (stakeholder) lain. Sehingga, perlu upaya koordinasi dan sinkornisasi untuk menyamakan persepsi semua pemangku kepentingan terhadpa kebijakan pengembangan industri pertahanan. Mekanisme untuk menyelesaikan kemungkinan perbedaan pandangan dalam pemberian fasilitas pendanaan bagi industri pertahanan adalah menyelesaikan peraturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Industri Pertahanan, agar mekanisme

3Angga Nurdin Rachmat, “Tantangan dan Peluang Perkembangan Teknologi Pertahanan Global Bagi Pembangunan Kekuatan Pertahanan Indonesia”, Jurnal Pertahanan Vol 5 No 1, Juni 2017, hal. 205

pemberian fasilitas memiliki regulasi yang jelas dan pasti bagi semua pihak.4

Pada konteks Indonesia, tiga permasalahan tersebut secara bertahap tengah diurai agar mudah menyelesaikannya. Meski harus diakui bahwa tiga permasalahan tersebut masih menjadikan Indonesia terbelenggu untuk bisa menjadi negara yang dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan Alutsistanya. Anggaran yang terbatas untuk penguatan penelitian dan pengembangan (Litbang) mengerucutkan pilihan Indonesia untuk menempuh cara offset dan transfer teknologi.5 Pilihan ini bisa saja menjadi hal yang realistis karena keterbatasan anggaran untuk Litbang bidang pertahanan yang melibatkan unsur militer, universitas, lembaga pengkajian dan swasta relatif terbatas.6 Meski secara legal, dengan terbitnya UU No. 16/2012 tentang Industri Pertahanan yang mengatur bahwa pengelola industri pertahanan menyediakan sekurang-kurangnya 5% dari laba bersih untuk kepentingan Litbang bidang pertahanan. Namun harus diakui bahwa kondisi tersebut belum sepenuhnya mengikat pengelola industri pertahanan,

4 Pasal 50 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012

5Lebih lanjut tentang Mekanisme Offset dan transfer tekhnologi, lihat Muradi, “Praktik praktik Defence Offset di Indonesia”, Journal Analysis CSIS, September, 2009.

6Lebih lanjut tentang masalah Penelitian dan Pengembangan Industri Pertahanan, Lihat Karim Silmy, Membangun Kemandirian Industri Pertahanan, (Jakarta:

Kepustakaan Populer Gramedia, 2014), khususnya Bab 7.

Lihat juga F. Harry Sampurno-Kuffal, Keruntuhan Industri Strategis Indonesia, (Jakarta: Khazanah Bahari, 2011), khususnya Bab 4.

(4)

karena keterbatasan pasar dan keberlanjutan industry yang ada.7 Pasar yang terbatas tersebut membuat persaingan industri pertahanan juga dituntut untuk mampu menciptakan pasar sendiri dengan berbagai cara, yang mana salah satunya menawarkan skema offset dan transfer teknologi ke negara dengan kualifikasi dan potensi pasar yang lebih terbuka.

RUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan dalam penulisan karya Ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peningkatan SDM industri pertahanan?

2. Bagaimana model pembiayaan industri pertahanan akan berkorelasi dengan peningkatan kualitas SDM industri pertahanan.

TUJUAN

Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk:

1. Mendeskripsikan peningkatan SDM industri pertahanan.

2. Mendeskripsikan model pembiayaan industri pertahanan akan berkorelasi dengan peningkatan kualitas SDM industri pertahanan

7 Lihat misalnya Sinar Harapan, “Menuju Kemandirian

Industri Pertahanan Nasional”

http://sinarharapan.co/news/read/140916033/menuju- kemandirian-industri-pertahanan-nasional, 16 September 2014, diunduh pada 1 Frebuari 2022

Problematika Peningkatan SDM Industri Pertahanan

Selama ini masalah peningkatan SDM industri pertahanan dilakukan dengan langkah-langkah yang bersifat konvensional dan cenderung satu arah, bahkan jika dua arah negara yang membutuhkan peningkatan SDM bidang industri pertahanannnya harus membayar mahal.

Baik dalam bentuk transfer teknologi atau pembelian paten produk industri pertahanan dengan skema offset maupun memproduksi bersama. Dalam tataran tersebut hanya dapat dilakukan oleh negara dengan kebijakan anggaran pertahanan yang relatif mapan. Selama ini suatu negara dianggap memiliki anggaran kurang lebih 2% dari GDP dianggap memiliki potensi untuk pengembangan industri pertahanan, atau setidaknya dapat membeli produk industri militer secara periodik. Angka 2% dari GDP adalah ambang kewajaran anggaran pertahanan suatu negara, sehingga potensi untuk meningkatkan anggaran tersebut dengan berbagai alasan, salah satunya pengembangan industri pertahanan dan atau ancaman atas kedaulatan negara meningkat.8

Sementara negara dihadapkan pada tiga peran yang melekat sekaligus, yang mana dalam perspektif Heidenkamp, Louth

8 Lihat misalnya Jacques. S Gansler, Democracy’s Arsenal: Creating a Twenty-First-Century, (Massachusetts: MIT Press, 2013), terutama Bab 3.

(5)

dan juga Taylor sebagai Triptych.9 Tiga peran pemerintah tersebut adalah sebagai pelanggan atau pembeli (costumer), penyokong anggaran (sponsor), dan juga sebagai pembuat kebijakan bidang pertahanan (regulator). Tiga peran yang melekat pada negara ini membuat industri pertahanan membutuhkan pengembangan pasar yang dapat menjamin dan menjaga agar industri pertahanan suatu negara dapat tetap menjaga produksi dan SDM yang menjalankannya.

Keterbatasan anggaran pertahanan suatu negara membuat situasi pengembangan SDM industri pertahanan dihadapkan pada kondisi yang sulit. Negara pada akhirnya akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan postur pertahanannya dari pada langkah untuk pengembangan industri pertahanan. Hampir sulit ditemukan negara dengan anggaran pertahanan yang terbatas berupaya meningkatkan SDM industri pertahanannya, jikapun ada lebih banyak untuk kebutuhan pemeliharan semata terkait dengan keberadaan industri pertahanan.10 Namun demikian, kebijakan negara terkait dengan pengembangan industri pertahanan tetap dibutuhkan sebagai langkah untuk menyokong

9Henrik Heidenkamp, John Louth dan Trevor Taylor, The Defense Industrial Triptych: Government as Customer, Sponsor and Regulator, (Essex: Royal United Services Institute for Defense and Security Studies, 2013), terutama Bab 1 dan Bab 2. Lihat juga Karim, op. cit., hlm.

152-154.

10 Lihat misalnya Douglas R. Rohi, “Profit Performance in the Defense Industry”, Journal of Political Economy, Vol.

81, No. 3, Mei-Juni 1973.

kebutuhan postur pertahanan dan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista).

Dengan kata lain, seberapapun kecilnya anggaran pertahanan suatu negara, keberadaan industri pertahanan tetap dibutuhkan sebagai bagian dari skema pemeliharan dan juga secara bertahap seiring dengan peningkatan kebutuhan postur pertahanan dan ancaman kedaulatan negara, maka keberadaan industri pertahanan menjadi penting untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan Alutsista negara maupun untuk membuka pasar baru bagi Alutsista yang dihasilkan.11

Keberadaan industri pertahanan juga bergantung pada posisi suatu negara di dalam kancah regional dan global. Sejumlah negara yang memiliki aliansi strategis kemiliteran tidak terlalu memfokuskan pengembangan industri pertahanannya kecuali sekedar untuk memelihara Alutsistanya dan atau menjadi pemain baru sebagai produsen Alutsista jika dimungkinkan. Namun demikian, secara praktis, sejumlah negara yang memiliki aliansi strategisnya juga berkembang pesat menjadi produsen Alutsista, yang mana pengembangannya ditengarai adanya kemudahan transfer teknologi dari negara yang tergabung dalam aliansi tersebut.12

11 Steve Mills, Scott Fouse & Allen Green, “Creating and Sustaining and Effective Government Defense Industry Partnership”, Publication of The Defense Acquisition University, September 2013, hlm. 297-311.

12 James Hasik, Arms and Innovation: Enterpreneurship and Alliances in the Twenty-First Century Defense

(6)

Kebijakan negara terkait dengan pengembangan industri pertahanannya adalah komitmen untuk pengembangan penelitian dan pengembangan. UU No.

16/2012 tentang Industri Pertahanan menyatakan 5% dari keuntungan bersih industri pertahanan dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan (Litbang).

Akan tetapi, keterbatasan anggaran dan pengawasan yang tidak ketat untuk memastikan agar anggaran Litbang dapat dioptimalkan menjadi tantangan tersendiri.

Hal ini mengindikasikan pada akhirnya anggaran Litbang menjadi beban negara.

Sebagaimana diketahui bahwa bila mengacu pada standarisasi anggaran Litbang, maka negara setidaknya menganggarkan 0,2% dari PDB, bandingkan misalnya dengan anggaran pertahanan Indonesia yang bahkan belum mencapai angka 1 % dari PDB, tepatnya 0,9% dari PDB. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa proses menuju kemandirian industri pertahanan dengan SDM yang mumpuni baru sebatas pada harapan dan keinginan, belum menjadi tekad yang luar biasa.13 Indikasi yang memperkuat penegasan tersebut adalah bahwa anggaran untuk Litbang dan penguatan SDM masih terbatas pada

Industry, (Chicago: University of Chicago Press, 2008), terutama Bab 1 dan 2.

13 Stephanie G. Neuman, “Power, Influence, and Hierarchy: Defense Industries in A Unipolar World”, Journal of Defence and Peace Economics, Columbia University, New York. Vol. 21 Issue: 1, April 2010, hlm.

105-134.

praktik konvensional transfer teknologi dan kehendak dari individu dalam pengembangan diri, baik melalui skema beasiswa luar negeri maupun bentuk pembiayaan pendidikan berbasis kompetensi.14 Tak heran apabila kemudian, banyak dari SDM yang memiliki kualifikasi handal lebih memilih berkarir di luar Indonesia, karena ketersediaan anggaran dan terkait dengan kesejahteraan.

Minimnya anggarn Litbang membuat akses SDM industri pertahanan relatif terbatas. Situasi ini pada akhirnya bergantung pada kebijakan masing-masing pengelola industri pertahanan sendiri, apakah kemudahan akses untuk pengembangan diri tersebut dapat dilakukan secara berkesinambungan, meski pemesana atas produk yang dihasilkan tidak cukup baik. Pengalaman PT. Dirgantara Indonesia menjadi catatan serius, bagaimana langkah manajemen yang merumahkan ribuan pegawainya mencerminkan sehat tidaknya pengelolaan industri pertahanan. Eksodus sejumlah eks pegawai PT. DI ke sejumlah industri pertahanan di Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat mengindikasikan bahwa SDM industry pertahanan membutuhkan keberlangsungan pengembangan diri dan kesejahteraan yang memadai, agar SDM

14 Stephanie G. Neuman, “Power, Influence, and Hierarchy: Defense Industries in A Unipolar World”, Journal of Defence and Peace Economics, Columbia University, New York. Vol. 21 Issue: 1, April 2010, hlm.

105-134.

(7)

yang ada dapat bekerja dengan efektif tanpa tergantung dan diganggu oleh hal yang tidak prinsip, yang berkaitan dengan pengembangan diri dalam industri pertahanan15

Sebagaimana penjelasan di awal, sebagai penyokong anggaran utama industri pertahanan, pemerintah memang dihadapkan pada dilema yang tidak beujung pada langkah untuk memastikan industri pertahanannya dapat tetap beroperasi dengan SDM yang baik. Keterbatasan anggaran pertahanan mengindikasikan juga minimnya dukungan fasilitas dan kesejahteraan bagi SDM industri pertahanan.

Ceruk pasar yang terbatas dengan produk yang dihasilkan dengan peruntukan yang terbatas pula membuat pengembangan SDM dan industri pertahanan berada dalam posisi yang tidak prioritas. Sejumlah langkah dilakukan misalnya dengan penambahan anggaran untuk industri pertahanan dari skema penganggaran lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh Presiden Soeharto yang mengalihkan dan menggunakan dana reboisasi hutan untuk pendanaan pengembangan pesawat CN 235 dan produk hasil produksi bersama antara IPTN, nama lain dari PT. DI dengan Casa, Spanyol dan kemudian pengembangan

15 John R. Harbison, et al., US Defense Industry Under Siege: An Agenda for Change, (New York: Booz, Allen and Hamilton, 2000), hlm. 4-9.

pesawat buatan anak bangsa N-250.16 Langkah Presiden Soeharto kala itu adalah bagian dari skema penyokong anggaran pemerintah untuk pengembangan SDM dan produk industri pertahanan udara, yang mana ketika itu putera terbaik bangsa, B.J.

Habibie melakukannya dengan baik.

Dengan kata lain, memerlukan waktu yang tidak singkat apabila penganggaran bidang industri pertahanan bergantung pada skema penganggaran pertahanan yang ada.

Dibutuhkan model pendanaan yang lebih terukur namun cepat dalam pendanaan industri pertahanan tersebut, dengan tetap memperhatikan sumber pendanaan yang dapat dipertanggungjawabkan ke publik.

Artinya seberapapun yang dibutuhkan dalam pengembangan pemdanaan industri pertahanan, akan dapat dilakukan dengan terukur dan cepat selama kemudian kebijakan yang dibuat negara serta para pemangku kepentingan terkait dengan industri pertahanan berada dalam irama yang sama.

Sebab sebagaimana penjelasan di awal, permasalahan terbesar dalam pengembangan industri pertahanan adalah bagaimana pengembangan teknologi pertahanan dikelola dengan baik, pendanaan industri pertahanan yang berkelanjutan, serta pengembangan kualitas SDM yang

16Mengenal Industri Pertahanan Indonesia”, Koran Sindo, http://www.koran-sindo.com/read/938863/149/mengenal- industri-pertahanan-indonesia-1418873129, diunduh pada 1 Frebuari 2022

(8)

berkorelasi dengan terciptanya produk industri pertahanan yang mampu mengambil ceruk pasar Alutsista. Secara bertahap permasalahan tersebut akan dapat diselesaikan secara bertahap manakala pendanaan industri pertahanan dapat terukur dan cepat terealisasi dengan berbagai model pendanaan yang tidak bergantung penuh pada penganggaran reguler pemerintah. Kebutuhan anggaran untuk membangun kekuatan militer yang Tangguh melalui peningkatan anggaran pertahanan untuk membiayai Perang Dingin dan Perang Korea, menyebabkan perkembangan pesat industry pertahanan.

Tahun-tahun awal perkembangan industry pertahanan ditandai dengan perubahan dan ekspansi yang dinamis, termasuk banyak perusahaan yang masuk dan keluar.

Hambatan untuk masuk relative lebih rendah dibandingkan dengan industry lain karena tuntutan kebutuhan penyediaan teknologi dengan standar tertentu.

Perusahaan yang memutuskan untuk masuk dan keluar dari bisnis pertahanan sering melakukannya secara sukarela.

Pengelolaan industri strategis dan industri pertahanan di banyak Negara hampir selalu dihadapkan pada tiga permasalahan utama, yakni: Pertama, pengembangan teknologi pertahanan yang bergantung pada dua skema, yakni skema penguatan penelitan dan pengembangan industri pertahanannya, dan melalui skema

offsetdan transfer teknologi. Kedua, pendanaan industry pertahanan dengan berbagai model pendanaan, dan yang ketiga permasalahan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) industri pertahanan. Ketiganya berkaitan satu dengan yang lain dalam menyokong kebutuhan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dalam negerinya atau tengah beranjak menjadi pengekspor persenjataan dan alat perang17

Model Pendanaan Industri Pertahanan Pendanaan industri pertahanan yang berkelanjutan akan mempengaruhi kualitas SDM industri pertahanan secara berkesinambungan pula. Pasar yang terbatas dengan rezi m senjata dunia yang melakukan monopoli secara terbuka membuat pilihan atas pendanaan industri pertahanan menjadi sangat terbatas pada skema offset dan transfer teknologi. Di luar hal tersebut, negara-negara dengan pendanaan yang terbatas pada bidang pertahanan hanya akan sepenuhnya industri pertahanannya terbatas pada pemeliharaan Alutsista yang dibeli dari negara kedua atau negara ketiga tanpa memiliki kesempatan untuk melakukan produksi dari industri pertahanannya tersebut.

Berkaca pada penjelasan di awal, maka kesempatan untuk membangun industri pertahanan hanya dapat dilakukan dengan

17 Muradi, “Model Pendanaan Industri Pertahanan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia,”

Jurnal Pertahanan Vol 05 No 2, Agustus 2015, hal. 213

(9)

dua opsi, yakni: mendesak pemerintah untuk mengucurkan anggaran yang bisa jadi tidak terbatas untuk pengembangan industri pertahanannya, yang mana sasaran utamanya adalah penguatan Litbang untuk pengembangan produk Alutsista yang telah diperoleh dari skema offset dan transfer teknologi. Yang kedua adalah menstimulasi pendanaan non-pertahanan yang dapat digunakan untuk pengembangan industri pertahanan. Bisa dengan menggunak an skema anggaran negara yang ada tapi bukan diperuntukan bagi anggaran pertahanan. Yang kedua bisab menggandeng sektor swasta dan pemangku kepentingan baik dalam maupun luar negeri untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negeri secara berkelanjutan.

Dengan dua opsi tersebut, ada enam model pendanaan industri pertahanan dengan tetap menekankan pada keterlibatan empat pemangku kepentingan bidang industri pertahanan, yakni:

Pemerintah, BUMN, sektor swasta, perusahaan multi nasional bidang pertahanan. Adapun enam model tersebut antara lain: Model pertama, pendanaan penuh dari negara. Model pendanaan industri pertahanan ini memang ideal, karena prinsip Triptych sebagaimana penjelasan di awal mewajibkan negara untuk sepenuhnya membiayai

pengembangan industri pertahanan.18 Pada model ini mengandung tiga persyaratan utama, yakni:

1. Negara harus meningkatkan secara massif penganggaran pertahanan negara dengan minimal 2% dari PDB atau lebih, tergantung bagaimana negara melihat ancaman dan kebutuhan akan modernisasi postur pertahanannya.

2. Selain menganggarkan 5% dari laba bersih industri pertahanannya, negara juga diwajibkan menganggarkan 0,2%

dari PDB untuk Litbang, dan hal tersebut berlaku untuk anggaran pertahanan pula.

3. Negara memastikan setiap pembelian Alutsista juga mewajibkan skema offset dan transfer teknologi agar negara tersebut secara perlahan dapat secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan Alutsista dalam negerinya. Pada model ini juga dibutuhkan perencanaan panjang, yang mana antara pemerintah dengan kemhan dan militernya dapat bisa sinergis dalam membuat kebijakan bidang pertahanan. Artinya sedapat mungkin meminimalisir perubahan dan koreksi terkait dengan perencanaan bidang pertahanan yang berkorelasi

18Henrik Heidenkamp, John Louth dan Trevor Taylor, op.cit. Terutama Bab 1 dan Bab 2.

(10)

dengan pengembangan industri pertahanannya.19

Model kedua, kolaborasi pendanaan negara dengan swasta. Pada model ini kolaborasi antara negara dengan swasta bisa dapat dilakukan pada empat hal, yakni:

1. Pengembangan bersama produk industri pertahanan dengan skema hasil offset dan transfer teknologi.

2. Pengembangan Litbang industri pertahanan.

3. Pengerjaan sejumlah pemesanan Alutsista yang didapat perusahaan industri pertahanan oleh swasta dengan standarisasi yang telah ditentukan.

4. Kepemilikan saham terbatas, yang mana kepemilikannya tetap oleh negara, sehingga mekanisme 51%

kepemilikan saham industri pertahanan tetap dimiliki oleh negara.20

Model ketiga, pendanaan gotong royong antara negara, BUMN dan perbankan nasional. Pada model ini, kebijakan memaksa negara dibutuhkan untuk menyokong industri pertahanan. Namun demikian, pendanaan gotong royong ini lebih banyak menitikberatkan pada pengerjaan pemesanan Alutsista dari negara lain. Keterbatasan anggaran pada pengerjaan pemesanan ini berimplikasi

19John R. Harbison, et al., op.cit., hlm. 7-14.

20Richard. A. Bitzinger, (ed), The Modern Defense Industry:

Political, Economic, and Technological Issues, (New York:

Praeger, 2009). Lihat misalnya Bab 1.

pada pembatasan produksi, artinya pendanaan gotong royong adalah bagian dari pengelolaan pemesanan Alutsista oleh perusahaan industri pertahanan agar tetap berproduksi.

Kebijakan memaksa dari pemerintah ini untuk menekan BUMN dan perbankan nasional menyuntikkan dananya agar produksi industri pertahanan bisa tetap berjalan. Memang harus diakui bahwa investasi dalam industri pertahanan adalah investasi jangka panjang, sehingga negara butuh membuat kebijakan yang memaksa BUMN dan perbankan nasional untuk menyisihkan sebagian modalnya untuk menyokong industri pertahanan agar tetap berproduksi.

Model keempat, menstimulasi perusahaan swasta nasional untuk mengembangkan divisi industri strategis dan pertahanannya. Langkah ini juga bagian dari melepaskan monopoli negara dalam pengelolaan dan pengembangan industri pertahanannya. Namun demikian, proses penjualan produk tersebut tetap harus melalui negara. Model ini mensyaratkan pengawasan yang ketat dengan standarisasi yang dikelola oleh negara.

Selain itu juga, negara harus memastikan bahwa perusah aan swasta yang mengembangkan divisi strategis dan pertahanannya bersih dari kemungkinan pencurian data rahasia milik negara, yang bisa jadi dibagi ke perusahaan swasta

(11)

tersebut untuk mempercepat pengembangan divisi strategis dan pertahanannya.21

Model kelima, Pendanaan penuh swasta. Pada model ini bisa saja dilakukan dengan tiga skema, yakni:

1. Membentuk holding company bidang strategis dan pertahanan yang murni dikelola swasta dengan supervisi dari negara.

2. Pemerintah melakukan kajian untuk memilih sejumlah pihak swasta untuk mendanai penuh modal industri pertahanan.

3. Negara menyerahkan sepenuhnya pengelolaan industri pertahanan dengan tetap melakukan pengawasan dan supervisi. Pada skema ketiga ini, bagian dari langkah untuk tetap memastikan industri pertahanan tetap beroperasi, karena negara tidak lagi memiliki anggaran yang cukup untuk menyokongnya.22

Model keenam, mengundang kerja sama dengan industri pertahanan luar negeri. Model ini memang jalan tercepat untuk pendanaan yang berkelanjutan, transfer teknologi yang berproses, serta pemasaran produk yang terukur. Langkah ini banyak dipilih oleh sejumlah negara karena banyak menguntungkan industri

21 Deborah A. Avant, The Market for Force: The Consequences of Privating Security, (Cambridge:

Cambridge University Press, 2005).

22 Deborah A. Avant, The Market for Force: The Consequences of Privating Security, (Cambridge:

Cambridge University Press, 2005).

pertahanan dalam negeri. Ketersediaan pasar dan kepastian transfer teknologi memungkinkan industri pertahanan dalam negeri dapat secara fokus untuk pengembangan produk dan peningkatan kualitas SDM agar mampu mengerjakan dan mengintegrasikan produk yang ada dengan standarisasi yang diinginkan oleh perusahaan multi nasional bidang pertahanan.23

Enam model pendanaan industri pertahanan tersebut sesungguhnya telah dipraktikkan dengan sejumlah varian dan karakteristik pengembangannya. Penekanan bahwa memastikan modal industri pertahanan akan meningkatkan kualitas SDM dari industri pertahanan tersebut menjadi pijakan bagi sejumlah negara yang berupaya untuk memandirikan diri atas kebutuhan untuk pemenuhan Alutsista dalam negeri dan kebutuhan untuk pasar sekawasan dan regional.24 Secara ideal tentu saja model pendanaan bagi industri pertahanan sepenuhnya harus berasal dari negara, dengan tingkat keberlangsungan yang harus terjaga. Model pendanaan yang bersumber dari negara ini juga akan memastikan SDM yang ada di dalamnya dapat bekerja dengan fokus dan mendapatkan akses untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap dinamika industri pertahanan yang bergerak

23 Lihat misalnya James Hasik, op.cit., terutama Bab 3.

Lihat juga Jacques. S. Gansler, op.cit. Terutama Bab 3.

24 Lihat misalnya James Hasik, op.cit., terutama Bab 3.

Lihat juga Jacques. S. Gansler, op.cit. Terutama Bab 3

(12)

sangat cepat. Dengan kata lain, jika Negara belum cukup mampu menyokong industri pertahanannya, maka pilihan atas model pendanaan lainnya akan mengurangi kontrol negara atas dinamika industri pertahan an yang ada25.

Terdapat beberapa BUMN yang posisinya harus menjadi pemandu utama.

BUMN yang sudah ada, seperti PT Dirgantara Indonesia (DI), dapat menjadi lead integrator untuk pesawat tempur, pesawat terbang, atau helikopter. Dengan demikian, BUMN tersebut akan menjadi pemadu utama cluster indstri pertahanan sub-cluster pesawat terbang, baik fixed-wing maupun rotary, baik tempur maupun angkut.

Sedangkan, PT Pindad akan menjadi pemadu utama untuk produk senjata dan kendaraan tempur. Pindad akan menjadi lead integrator cluster industry pertahanan sub-cluster kendaraan tempur dan senjata.

Adapun PT PAL menjadi pemimpin untuk cluster industri pertahanan kapal kombatan, sub-cluster kapal perang atas air dan kapal selam.26 Industri komponen utama/penunjang boleh BUMN, tapi boleh Badan Usaha Milik Swasta (BUMS). Industri komponen utama/penunjang memproduksi komponen utama tau mengintegrasikan komponen atau suku cadang dengan bahan baku

25 Lihat misalnya Paul. R. Verkuil, Outsourcing Sovereignty: Why Privatization of Government Functions Threatens Democracy and What we Can Do About It, (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), khususnya Bab 1

26 Silmy Karim, Membangun Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia (Jakarta :Kepustakaan Populer Utama, 2014), hal 235

menjadi komponen utama alat peralatan pertahanan keamanan (alpalhankam) atau platform sistem alutsista. Sedangkan industri komponen/pendukung (perbekalan) memproduksi suku cadang untuk alat utama sistem senjata, suku cadang untuk komponen utama, dan/atau yang menghasilkan produk perbekalan

Dengan demikian Industri pertahanan nasional harus mampu mengambil manfaat dari program pengadaan sarana pertahanan di Kemhan. Perlu ada consensus nasional yang berpihak kepada pengembangan kapasitas industri pertahanan nasional agar dapat memiliki kompetensi inti yang kompetitif di level regional dan global.

Konsensus ini diwujudkan dalam optimalisasi kerjasama antar lembaga terkait langsung dengan pengadaan alutsista, khususnya Kementerian Pertahanan, TNI, dan pihak-pihak produsen di dalam negeri dalam rangka membangun sarana pertahanan berbasis industry pertahanan dalam negeri.27

KESIMPULAN

1. Negara yang telah mampu memastikan penganggaran industri pertahanannya setidaknya akan mampu menjawab tiga permasalahan utama dalam pengelolaan industri pertahanannya. Hal yang terpenting dalam penganggaran industri pertahanan

27 Ian Montratama, “Strategi Optimalisasi Pengadaan Sarana Pertahanan Bagi Industri Pertahanan Indonesia,”

Jurnal Pertahanan Vol 04 No 3, Desember 2014, hal. 79

(13)

adalah berkorelasi pada peningkatan kualitas SDM dari industri pertahanan.

Pilihan model pendanaan industri pertahanan suatu negara akan sangat bergantung pada kebijakan pertahanan yang dibuat oleh negara tersebut.

2. Semakin kuatnya kontrol negara atas pendanaan industri pertahanan akan berkorelasi pada kemampuan industri pertahanannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebaliknya, menyerahkan pendanaan pada pihak swasta juga menggambarkan bahwa produk industri pertahanan hanya akan dipandang sebagai produk ekonomi yang menitikberatkan pada keuntungan dan keberlangsungan perusahaan dari industri pertahanan dan atau yang memiliki divisi strategis dan pertahanannya. Sementara pilihan untuk berbagi sokongan anggaran industri pertahanan antara negara dengan swasta, perusahaan pertahanan luar negeri ataupun BUMN dan perbankan nasional adalah juga bagian dari keinginan negara untuk mengontrol industri pertahanan dengan skema pendanaan yang berbagi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Avant, Deborah. A. 2005. The Market for Force: The Consequences of Privating Security. Cambridge: Cambridge University Press.

Bitzinger, Richard. A. (ed). 2009. The Modern Defense Industry: Political, Economic, and Technological Issues.

New York: Praeger.

Gansler, Jacques. S. 2013. Democracy’s Arsenal: Creating a Twenty-First- Century. Massachusetts: MIT Press.

Heidenkamp, Henrik, John Louth dan Trevor Taylor. 2013. The Defense Industrial Triptych: Government as Customer, Sponsor and Regulator.

Essex: Royal United Services Institute for Defense and Security Studies.

Hasik, James. 2008. Arms and Innovation:

Enterpreneurship and Alliances in the Twenty-First Century Defense Industry.

Chicago: University of Chicago Press.

Harbison, John R. et al. 2000. US Defense Industry Under Siege: An Agenda for Change. New York: Booz, Allen and Hamilton.

Silmy, Karim. 2014. Membangun Kemandirian Industri Pertahanan.

Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

(14)

Sampurno-Kuffal, F. Harry 2011.

Keruntuhan Industri Strategis Indonesia. Jakarta: Khazanah Bahari.

Singer, P.W. 2007. Corporate warriors: The Rise of Privatised Military Industry. New York: Cornell University Press.

Verkuil, Paul. R. 2007. Outsourcing Sovereignty: Why Privatization of Government Functions

Threatens Democracy and What we Can Do About It. Cambridge: Cambridge University Press.

Jurnal

Muradi. 2009. “Praktik-praktik Defence Offset di Indonesia”. Journal Analysis CSIS. September. Mills, Steve, Scott Fouse & Allen Green. 2013. “Creating and Sustaining and Effective Government Defense Industry Partnership”, Publication of The Defense Acquisition University.

September.

Neuman, Stephanie G. 2010. “Power, Influence, and Hierarchy: Defense Industries in A Unipolar World”. Journal of Defence and Peace Economics.

Columbia University, New York. Vol.

21 Issue: 1. April.

Rohi, Douglas R. 1973. “Profit Performance in the Defense Industry”. Journal of

Political Economy. Vol. 81. No. 3. Mei- Juni.

Website

Koran Sindo, “Mengenal Industri Pertahanan Indonesia”, http://www.

Koran-sindo.com/read/938863/149/

mengenal-industri-pertahanan-indonesia 1418873129, diunduh pada 1 Februari 2022.

Sinar Harapan, “Menuju Kemandirian Industri Pertahanan Nasional”

http://sinarharapan.co/news/read/14091 6033/menuju-kemandirian-industri- pertahanan-nasional, 16 September 2014, diunduh pada 1 Februari 20

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Azhar Susanto (2013:72) dalam bukunya yang berjudul Sistem Informasi Akuntansi, adalah kumpulan atau group dari sub/sistem/bagian/komponen apapun baik

Selain itu, dibutuhkan juga beberapa perangkat keras (hardware) lainnya untuk mendukung dalam perakitan sistem pengontrol lampu menggunakan Raspberry Pi 3, dapat

Dari latar belakang di atas berdasarkan judul yang diangkat “Pengaruh Tingkat Kecerdasan Emosional dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Keliling dan

Dengan menerapkan teori kognitif ini maka pendidik dapat memaksimalkan ingatan yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengingat semua materi-materi yang diberikan

 Melakukan gerakan pemanasan yang berorientasi pada kegiatan inti  Mendemonstrasikan materi inti yang akan dilakukan/dipelajari.. B Kegiatan

Hasil dari kegiatan pengabdian di tahun pertama pada kelompok peternak lebah Minteng Sanda adalah Kelompok ini, sudah dapat membudidayakan lebah tigona dengan

Seperti halnya dalam model berkelanjutan, dua dari faktor kontekstual adalah terkait tata kelola (kepentingan pemerintah dalam partisipasi inklusif dan dalam memastikan

Waktu yang dipergunakan untuk Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Sayuran Tomat dengan Menggunakan Metode Forward Chaining ini dimulai dari pertengahan bulan April