• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

9

2.1 Partisipasi Anggaran

2.1.1 Pengertian Partisipasi

Pengertian partisipasi yg telah dirumuskan ke dalam banyak definisi oleh para ahli dan praktisi dibidang ilmu sosial dan kemasyarakatan umumnya memiliki pokok pikiran yang sama. Meskipun konsep yang digunakan untuk menjelaskan hal ini berbeda-beda karena menggunakan atau disesuaikan dengan latarbelakang yang berhubungan dengan permasalahan yang mengiringinya namun definisi-definisi tersebut akan selalu menyangkut individu atau kelompok individu yang secara sukarela terlibat, baik langsung ataupun tidak, didalam suatu kegiatan pembangunan.

Partisipasi bila dilihat dari asal katanya, berasal dari kata bahasa Inggris

“participation” yang berarti pengambilan bagian serta pengikutsertaan. Lebih jauh, Sumaryadi (2010), mendefinisikan partisipasi sebagai berikut;

“Peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil -hasil pembangunan.”

Sedangkan Djalal dan Supriadi (2001), mendefinisikan partisipasi sebagai berikut;

“Partisipasi dapat juga berarti bahwa pembuat keputusan menyarankan kelompok atau masyarakat ikut terlibat dalam bentuk penyampaian saran dan pendapat, barang, keterampilan, bahan dan jasa.”

(2)

Sementara Tilaar (2009), mendefinisikan partisipasi adalah sebagai berikut :

“Partisipasi adalah sebagai wujud dari keinginan untuk mengembangkan demokrasi melalui proses desentralisasi dimana diupayakan antara lain perlunya perencanaan dari bawah (bottom-up) dengan mengikutsertakan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan masyarakatnya.”

Definisi-definisi diatas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan partisipasi adalah peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembuatan keputusan. Peran serta tersebut dapat berupa penyampaian saran atau pendapat, memberikan keterampilan-keterampilan tertentu, hingga memberikan barang serta jasa demi tercapainya suatu tujuan dalam pembangunan yang dilakukan bersama-sama.

2.1.2 Pengertian Anggaran

Anggaran merupakan rencana jangka pendek (biasanya satu tahun pembukuan) perusahaan untuk melaksanakan sebagian rencana jangka panjang yang berisi langkah-langkah strategik untuk mewujudkan suatu objektifitas tertentu serta taksiran sumber daya yang diperlukan.

Menurut Supriyono (1999) mendefinisikan anggaran adalah sebagai berikut :

“Suatu rencana terinci yang dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantitatif untuk menunjukkan bagaimana sumber-sumber akan diperoleh dan digunakan selama jangka waktu tertentu, umumnya satu tahun. Setelah kegiatan dalam anggaran diimplementasikan, hasilnya akan dibandingkan dengan anggarannya sehingga dapat diketahui penyimpangan yang timbul.”

(3)

Penganggaran disebut juga sebagai perencanaan laba yang digambarkan secara kuantitatif dalam bentuk keuangan dan dalam bentuk kuantitatif lainnya (Supriyono, 1999). Laba yang ingin dicapai perusahaan ditentukan pada saat penganggaran. Penyusunan anggaran yang dilakukan oleh manajer puncak sangat menentukan perilaku bawahannya sehingga dalam penyusunan anggaran diperlukan perhatian yang lebih terhadap perilaku-perilaku yang berhubungan dengan anggaran agar dapat memotivasi para manajer tingkat menengah dan bawah dalam mencapai tujuan organisasi melalui anggaran (Sumarno, 2005).

Anggaran yang dibuat oleh perusahaan merupakan perencanaan aktivitas jangka pendek secara kuantitatif yang digunakan untuk menunjukkan perolehan dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi sebagai alat manajemen untuk perencanaan, pengendalian serta penilaian kinerja manajemen dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

2.1.2.1 Fungsi Anggaran

Anggaran yang dibuat oleh perusahaan akan sangat berguna dalam pencapaian laba yang diinginkan oleh perusahaan. Rencana yang telah dibuat sering kali tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan, maka dari itu anggaran dibuat untuk menanggulangi masalah tersebut. Anggaran dalam pelaksanaannya memiliki beberapa fungsi seperti yang diungkapkan oleh Supriyono (1999). Fungsi anggaran tersebut diantaranya adalah fungsi perencanaan, koordinasi, komunikasi, motivasi, pengendalian dan evalusasi.

(4)

Fungsi perencanaan merupakan langkah awal dimana anggaran dapat membantu perusahaan atau organisasi menentukan tujuan dari perusahaan pada akhirnya. Selain itu dalam fungsi ini perusahaan ikut membuat rancangan , meneliti, dan mempelajari hambatan atau masalah yang akan dihadapi agar dalam pelaksanaannya dapat sesuai dengan yang diinginkan. Setelah rencana dibuat maka hal selanjutnya yang menjadi tantangan adalah dalam segi pelaksanaannya.

Fungsi koordinasi mengambil alih hal tersebut karena fungsi ini berguna untuk menyelaraskan tindakan dari berbagi unit atau segmen yang bersangkutan agar dapat bekerjasama dengan baik agar tujuan yang telah dibuat dapat tercapai (Haruman dan Rahayu, 2007).

Kerjasama yang baik tidak akan terbentuk bilamana komunikasi antar unit atau segmen dalam perusahaan tidak baik. Maka dari itu fungsi komunikasi sangat lah penting dalam kegiatan perusahaan. Fungsi komunikasi membantu para unit atau segmen dalam perusahaan dalam penyampaian informasi yang berhubungan dengan tujuan, strategi, kebijakan, rencana, pelaksanaan dan penyimpangan yang timbul (Supriyono, 2002).

Tujuan perusahaan yang ingin dicapai diakhir sangat terikat pada kinerja karyawan dalam pelaksanaannya. Kinerja yang diberikan oleh para karyawan sangatlah memiliki pengaruh besar. Prestasi kerja yang diberikan oleh para karyawan akan mempermudah perusahaan dalam mencapai tujuannya. Pemberian motivasi kepada karyawan atau unit adalah salah satu strategi yang digunakan perusahaan agar karyawan dapat bekerja dengan baik dan berprestasi. Pemberian motivasi bagi karyawan dapat berupa pemberian intensif, hadiah berupa uang,

(5)

penghargaan bagi karyawan yang memiliki kinerja baik dan berprestasi (Supriyono, 1999).

Anggaran dapat juga dijadikan sebagai alat pengendali bagi perusahaan karena anggaran adalah sebuah komitmen yang harus dilaksanakan karena telah dibuat dan disetujui oleh semua unit, karyawan, dan segmen yang ikut serta dalam penyusunan anggaran. Fungsi pengendalian juga membantu perusahaan dalam mengawasi kegiatan dan pengeluaran yang dilakukan perusahaan. Fungsi pengendalian dapat mengatur pelaksanaan perusahaan dan bilamana terjadi kesalahan maka fungsi evaluasi mengambil alih hal tersebut. Fungsi evaluasi dibuat agar kesalahan dalam pelaksanaan tidak terulang kembali. Fungsi evaluasi dibuat untuk memperkecil kemungkinan kegagalan target tujuan yang akan dicapai perusahaan karena hambatan atau masalah yang diterima perusahaan (Haruman dan Rahayu, 2007).

Berdasarkan fungsi-fungsi diatas dapat dijelaskan bahwa seluruh fungsi anggaran yang ada bersifat positif guna untuk menyelaraskan tujuan yang telah dibentuk dan mengendalikan anggaran yang ada dalam lingkungan yang sering kali tidak dapat diprediksi. Anggaran yang baik akan terbentuk jika fungsi-fungsi yang ada dapat berjalan dengan baik dan tujuan perusahaan atau organisasi pun dapat tercapai pada akhirnya.

(6)

2.1.3 Partisipasi Anggaran

Partisipasi anggaran dapat terbentuk dari komukasi dan kinerja para unit perusahaan. Keikutsertaan para unit dalam penyusunan anggaran akan berpengaruh terhadap tercapainya sasaran anggaran yang dinginkan. Seperti yang telah dituturkan oleh Mulyadi (2011:187) sebagai berikut:

“Partisipasi dalam penyusunan anggaran berarti keikutsertaan operating managers dalam memutuskan bersama dengan komite anggaran mengenai rangkaian kegiatan di masa yang datang yang akan di tempuh oleh operating managers tersebut dalam pencapaian sasaran anggaran.”

Komunikasi dan kerjasama antara manager puncak dan bawahan yang baik akan membuat segala kendala atau masalah yang dihadapi perusahaan akan lebih mudah dihadapi. Penyampaian informasi antara atasan terhadap bawahan atau bawahan terhadap atasan tanpa ada kesenjangan dpat membantu perusahaan dalam mencapai target yang dinginkan. Menurut Chong dan Sharon (2003) menjelaskan sebagai berikut:

“Partisipasi penganggaran menyediakan kesempatan bawahan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan atasannya sehingga dapat membantu mencapai bahkan mempengaruhi target anggaran yang ingin mereka peroleh.”

Keterlibatan dan keikutsertaan manajer puncak dan bawahan dalam penyusunan target anggaran sangatlah penting. Kebutuhan akan keikutsertaan seluruh unit dalam penyusunan anggaran merupakan nilai penting dalam

(7)

terciptanya anggaran yang sesuai dengan yang diinginkan. Kesepakatan yang telah dibuat oleh berbagai unit yang ikut serta dalam penyusunan merupakan tanggung jawab yang harus dapat dicapai untuk peningkatan kinerja perusahaan di masa mendatang sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

2.2 Gaya Kepemimpinan 2.2.1 Pengertian Pemimpin

Pengertian pemimpin menurut para ahli sangatlah beragam, namun seluruh penjelasan yang diberikan dapat disimpulkan bahwa sangatlah penting peran serta seorang pemimpin dalam kehidupan individu ataupun bersosialisasi. Seorang pemimpin dalam perusahaan akan dapat membawa para pengikutnya sesuai dengan yang pemimpin inginkan. Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang ditakuti karena sifat atau perilakunya, namun pemimpin yang baik adalah pemimpin yang disegani karena wibawa dan kebijakannya dalam menuntun bawahannya agar dapat bekerja dengan baik.

Pemimpin secara etimologi berasal dari kata dasar “pimpin” (lead) berarti bimbing atau tuntun, dengan begitu didalamnya terdapat dua pihak yaitu yang dipimpin (rakyat) dan yang memimpin (imam). Setelah ditambah awalan “pe”

menjadi “pemimpin” (leader) berarti orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

Pemimpin adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi individu dan kelompok untuk dapat bekerjasama mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pemimpin yang baik harus dapat memahami dahulu siapa

(8)

bawahan yang dipimpinnya, mengetahui kelemahan dan kelebihan dari para bawahannya dan menerapkan gaya yang sesuai agar mudah diterima dan dilaksanakan oleh para bawahannya. Dengan begitu pemimpin tersebut dapat mengendalikan mereka sepenuhnya untuk bersama-sama mencapai tujuan dan target perusahaan yang dinginkan. Sepeti yang telah diungkapkan oleh Harbani (2008) sebagai berikut:

“Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan kerja sama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.”

Seorang pemimpin harus dapat mengatur, menunjukan, mengorganisir dan mengontrol usaha atau upaya para bawahannya melalui prestise, kuasaan atau posisi. Gaya atau cara yang dilakukan oleh pemimpin harus tepat sesuai dengan yang diinginkan oleh para bawahannya sehingga para bawahannya dapat dengan sukarela menerima dan menuruti apapun yang diinginkan oleh seorang pemimpin tersebut. Dengan begitu pencapaian tujuan dan target yang diinginkan akan lebih mudah di capai. Seperti yang telah diungkapkan oleh Kartono (2010) yaitu sebagai berikut :

“Pemimpin adalah seseorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.”

(9)

Pemimpin dengan gaya dan cara yang tepat mampu membuat para bawahannya segan dan patuh akan perintah yang disampaikan. Pemimpin yang disegani oleh para bawahannya akan dapat dengan mudah mengarahkan dan membimbing mereka kepada kinerja maksimal yang mereka miliki untuk pencapai tujuan perusahaan di akhir.

2.2.2 Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan menggerakkan atau memotivasi sejumlah orang agar secara serentak melakukan kegiatan yang sama dan terarah pada pencapaian tujuannya. Kepemimpinan juga merupakan proses menggerakkan grup atau kelompok dalam arah yang sama tanpa paksaan.

Menurut Slamet (2002:29) menyatakan kepemimpinan adalah sebagai berikut :

“Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk memengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu”.

Sedangkan menurut Samsudin (2006) menyatakan kepemimpinan adalah sebagai berikut :

“Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan dan menggerakkan orang lain agar mau bekerja sama di bawah kepemimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai suatu tujuan tertentu.”

(10)

Pemimpin berdasarkan penjelasan di atas pada hakikatnya merupakan seorang yang mempunyai kemampuan untuk menggerakkan orang lain sekaligus mampu mempengaruhi orang tersebut untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Kepemimpinan dari seorang pemimpin harus dapat efektif dan profesional dalam pengelolaan organisasi atau unit kerja yang dipimpin untuk dapat mencapai tujuan perusahaan.

2.2.3 Fungsi Kepemimpinan

Fungsi kepemimpinan dalam suatu organisasi memiliki pengaruh yang sangat vital terhadap kelangsungan perusahaan. Fungsi kepemimpinan berdampak langsung terhadap kinerja bawahan yang dipimpinnya. Pemimpin yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik maka dapat mengontrol dan mengatur bawahannya untuk memiliki kinerja yang baik. Seorang pemimpin harus dapat menyatu selaras dengan bawahannya, bekerjasama dengan baik di dalam organisasi perusahaan bersama para bawahannya. Seperti yang telah dijelaskan oleh Rivai (2004) sebagai berikut:

“kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok atau organisasi masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar situasi itu.”

Fungsi dari seorang pemimpin sangatlah beragam, namun semua fungsi tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai tujuan bersama sesuai dengan target perusahaan secara maksimal. Menurut Rivai (2004), kepemimpinan memiliki beberapa fungsi diantaranya:

(11)

1) Fungsi instruktif

Fungsi Intruktif dari seorang pemimpin dapat diartikan bahwa seorang pemimpin harus berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah (Rivai, 2011).

Fungsi intruktif yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan dapat membantu para bawahannya dalam melaksanakan tugas – tugas mereka sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Dengan karyawan dapat melaksanakan tugas – tugasnya dengan benar dan baik maka peningkatan kinerja karyawan pun dapat dicapai dan perusahaan pun akan lebih mudah meraih tujuan yang diinginkan.

2) Fungsi konsultatif

Fungsi konsultatif yang dilakukan seorang pemimpin dapat meminimalisir kesenjangan akan informasi diantara atasan dan bawahan (Sugiono, 2006).

Komunikasi dua arah yang tercipta antara pemimpin dan bawahan tanpa adanya kesenjangan akan mempermudah dalam pengambilan keputusan bagi setiap masalah yang dihadapi oleh perusahaan.

Atasan dan bawahan akan dapat bertukar pikiran mengenai kendala yang menghambat kegiatan yang sedang berlangsung di perusahaan. Para bawahan yang melaksanakan kegiatan perusahaan secara langsung setiap saatnya akan lebih mengetahui tentang apa yang menjadi masalah dan kendala bagi perusahaan.

Informasi tersebut sangatlah dibutuhkan oleh seorang pemimpin atau manajer

(12)

dalam pengambilan keputusan yang tepat dan evaluasi yang dapat dilakukan untuk peningkatan kinerja manajerial perusahaaan kedepannya.

3) Fungsi partisipasi

Fungsi partisipasi adalah seorang pemimpin berusaha mengaktifkan orang- orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya (Rivai, 2011). Hal tersebut dilakukan karena para bawahan merupakan penggerak dari berjalannya kegiatan perusahaan dan juga para bawahan adalah sumber informasi dari kegiatan – kegiatan yang berlangsung di perusahaan.

Bawahan yang aktif dan turut serta dalam pengambilan keputusan akan membantu pimpinannya dalam menentukan keputusan akhir yang terbaik bagi perusahaannya. Begitu juga dengan pelaksanaannya, para bawahan dituntut untuk aktif dalam setiap kegiatan yang berlangsung sesuai dengan tugas dan posisi mereka di dalam perusahaan. Dengan adanya keikutsertaan setiap bawahan dalam proses pengambilan keputusan dan proses kegiatan yang berlangsung akan membawa dampak positif bagi kinerja manajerial yang ada di dalam perusahaan.

4) Fungsi delegasi

Fungsi delegasi yang dilaksanakan membuat pemimpin menentukan apakah keputusan yang diambil ditentukan oleh dirinya sendiri atau diserahkan kepada para bawawahannya (Rivai, 2011). Persamaan tujuan yang tercipta antara pemimpin, bawahan dan perusahaan merupakan salah satu alasan oleh siapa keputusan dapat di tentukan. Seorang pemimpin ataupun bawahan yang menentukan keputusan haruslah merupakan keputusan yang terbaik bagi

(13)

perusahaan. Keputusan yang tepat dari setiap masalah atau kendala yang dihadapi perusahaan akan membuat kinerja perusahaan akan berkembang kedepannya.

5) Fungsi pengendalian

Seorang pemimpin dalam fungsi pengendalian adalah pemimpin harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif (Rivai, 2011). Seorang pemimpin harus dapat mengendalikan, mengarahkan dan membantu para bawahannya dalam melaksanakan tugas - tugas mereka agar sesuai dengan kewajiban dan posisi mereka.

Kefektifan aktifitas yang dilakukan bawahan akan tercipta jika seorang pemimpin dapat terus mengkoordinasi bawahannya untuk melaksanakan tugas mereka tanpa ada penyimpangan yang merugikan perusahaan. Penyimpangan dari tugas para bawahan akan membuat perusahaan mengalami keterhambatan dalam proses kegiatannya. Jika hal tersebut dapat dikendalikan maka akan meningkatkan kinerja karyawan yang membuat perusahaan dengan mudah mencapai tujuan yang diinginkan pada akhirnya.

Fungsi – fungsi diatas dijadikan tolak ukur dari penilaian kinerja manajerial karena menurut penulis fungsi – fungsi tersebut berkaitan langsung dengan peranan seorang pemimpin dalam pelaksanaan kegiatan secara langsung di dalam perusahaan. Tindakan dari seorang pemimpin dalam fungsi – fungsinya merupakan peran serta pemimpin yang bertujuan untuk dapat mengendalikan bawahannya guna meningkatkan kinerja perusahaan. Dengan meningkatnya kinerja maka tujuan yang diinginkan akan dapat diraih pada akhirnya.

(14)

2.3 Kinerja Manajerial 2.3.1 Pengertian Kinerja

Pada era global saat ini perusahaan dituntut harus dapat bersaing ketat dengan para pesaingnya. Perusahaan harus dapat mempertahankan kelangsungannya di dalam persaingan tersebut. Perusahaan yang baik sering kali dinilai dari besar tidaknya laba yang didapat dan bagus tidaknya kinerja yang terjadi didalamnya. Oleh sebab itu kinerja perusahaan sangat diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan saat ini.

Istilah kinerja merupakan terjemahan dari performance yang sering diartikan oleh para cendekiawan sebagai “penampilan”, “unjuk kerja”, atau

“prestasi” (Keban, 2004). Secara etimologis, kinerja adalah sebuah kata yang dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “kerja” yang menerjemahkan kata dari bahasa asing prestasi, bisa pula berarti hasil kerja. Terdapat beberapa definisi kinerja yang telah dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut :

Menurut Rivai dan Basri (2005) mendefinsikan kinerja adalah sebagai berikut :

“Kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil yang seperti diharapkan.”

(15)

Sedangkan menurut Bernardin dan Russel (1993) dalam Keban (2004) mendefinsikan kinerja adalah sebagai berikut :

“The record of outcomes produced on a specified job function or activity during a specified time period.”

Aspek yang ditekankan oleh kedua pengarang tersebut dalam penjelasanan diatas adalah catatan tentang outcome atau hasil akhir yang diperoleh setelah suatu pekerjaan atau aktivitas dijalankan selama kurun waktu tertentu. Hasil akhir yang diharapkan perusahaan sangatlah bergantung kepada kinerja yang diberikan oleh setiap unit yang ikut serta dalam proses kegiatan perusahaan. Oleh sebab itu setiap unit di tuntut untuk memiliki kinerja yang baik di dalam perusahaan agar perusahaan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

2.3.2 Pengertian Kinerja Manajerial

Kinerja manajerial adalah sebuah aktivitas yang dilakukan manajerial perusahaan. Aktivitas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, laporan pertanggungjawaban, pembinaan, dan pengawasan. Keefektifan dari aktivitas tersebut sangatlah diharapkan oleh perusahaan-perusahaan saat ini.

Integrasi yang sistematis dari kinerja manajerial perusahaan dari usaha, pengawasan evaluasi keuangan dan kinerja pegawai yang ada pada perusahaan dapat membantu perusahaan dalam pencapaian tujuan di akhir.

Terdapat beberapa definisi kinerja yang telah dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut :

(16)

Menurut Russel (1994) dalam Veronica (2010) mendefinsikan kinerja manajerial adalah sebagai berikut :

“Kinerja manajerial didefinisikan sebagai integrasi sistematis yang meliputi usaha, pengawasan evaluasi keuangan dan kinerja pegawai dalam kerangka eksplisit yang berhubungan dengan tujuan perusahaan”.

Sedangkan Menurut Riyadi (2000) dalam Muslimin (2007) mendefinsikan kinerja manajerial adalah sebagai berikut :

“Kinerja manajerial merupakan kinerja manajer dalam kegiatan-kegiatan manajerial yang meliputi : perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staf, negosiasi, dan perwakilan atau representasi.”

Kinerja manajerial bersifat lebih abstrak dan komplek dibandingkan kinerja karyawan pada umumnya. Oleh karena itu menilai kinerja manajer sebaiknya dilakukan sendiri oleh manajer yang bersangkutan (Veronica, 2010).

2.3.2.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Manajerial

Kinerja manajerial merupakan suatu hubungan yang teratur dari setiap kegiatan yang dilakukan perusahaan. Hubungan yang teratur dari usaha, pengawasan evaluasi keuangan dan kinerja pegawai tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengetahuan dan Kemampuan dari segi teknis, konseptual, dan interpersonal yang dimiliki perusahaan merupakan modal utama perusahaan untuk perkembangan kedepannya. Menurut Rivai (2011) mengungkapkannya sebagai berikut:

(17)

1. Kemampuan teknis

Kemampuan teknis adalah kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik, dan peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas serta pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya.

2. Kemampuan konseptual

Kemampuan konseptual adalah kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing- masing ke dalam bidang opersioanla perusahaan secara menyeluruh, yang pada intinya individual tersebut memahami tugas, fungsi serta tanggung jawabnya sebagai seorang karyawan.

3. Kemampuan hubungan interpersonal

Kemampuan hubungan interpersonal adalah antara lain kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, memotivasi karyawan, melakukan negosiasi, dan lain-lain.

Seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja manajerial meliputi seluruh kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk mengelola setiap unit didalamnya untuk memperoleh kinerja yang baik bagi perusahaan. Kinerja karyawan yang baik maka akan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dan membuat perusahaan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

(18)

2.3.2.2 Penilaian Kinerja Manajerial

Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Kurnianingsih dan Indriantoro (2003) dalam penelitiannya mengungkapkan dimensi untuk mengukur penilaian kinerja manajerial yang meliputi 8 (delapan) dimensi kegiatan sebagai berikut :

1. Kinerja Perencanaan (Planning) 2. Kinerja Investigasi (Investigating)

3. Kinerja Pengkoordinasian (Coordinating) 4. Kinerja Evaluasi (Evaluation)

5. Kinerja Pengawasan (Monitoring) 6. Kinerja Pengaturan Staf (Staffing) 7. Kinerja Negosiasi (Negotiating) 8. Kinerja Perwakilan (Representating)

Berikut penjelasan kegiatan–kegiatan manajerial tersebut diatas, sebagai berikut :

1. Kinerja Perencanaan (Planning)

Kemampuan dalam menentukan kebijakan dan sekumpulan kegiatan untuk selanjutnya dilaksanakan merupakan poin penting dari kinerja perencanaan.

Kegiatan yang dilaksanakan harus mempertimbangkan kondisi waktu sekarang dan yang akan datang. Tujuan dari kinerja perencanaan ini adalah untuk menjadi pedoman dan tata cara pelaksanaan tujuan, kebijakan, prosedur, penganggaran dan program kerja sehingga terlaksana sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan (Kurnianingsih dan Indriantoro, 2003).

(19)

Kinerja perencaaan memberikan dampak yang baik bagi perusahaan dalam meraih tujuannya karena dalam kinerja ini perusahaan akan menentukan apa yang harus dilakukan, bagaimana cara untuk melakukannya dan dampak apa saja yang ditimbulkan. Dengan begitu perusahaan akan lebih mudah meraih tujuan yang diinginkannya karena perusahaan telah memikirkan terlebih dahulu hasil dan resiko yang akan diterima.

2. Kinerja Investigasi

Kinerja investigasi meliputi kemampuan dalam mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan dan rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan, serta analisis pekerja. Kegiatan-kegiatan bertujuan sebagai tolak ukur perusahaan dalam penilaian terhadap pekerjaan yang telah dilakukan (Mahoney, 1963).

Kinerja investigasi yang dilakukan oleh perusahaan akan membuat perusahaan dapat meningkatkan produktivitasnya melalui pengalaman – pengalaman dan informasi yang dimiliki. Informasi dan pengalaman yang di kumpulkan dan didapat oleh perusahaan akan membantu perusahaan mengevaluasi kegiatan mereka untuk dapat meminimalisir kejadian – kejadian yang tidak dinginkan. Dengan begitu perusahaan akan dapat berjalan sesuai dengan rencana semula yang diinginkan hingga akhir dan tujuan pun dapat tercapai.

(20)

3. Kinerja Koordinasi

Kinerja koordinasi menitikberatkan kemampuan dalam tukar menukar informasi dengan orang di bagian organisasi lain. Hal tersebut bertujuan untuk mengaitkan dan menyesuaikan program, memberitahukannya kepada bagian lain, dan hubungannya dengan manajer lain (Kurnianingsih dan Indriantoro, 2003).

Keragaman informasi yang dimiliki oleh karyawan – karyawan dan divisi – divisi yang ada dalam perusahaan sering kali menjadi kendala dalam pelaksaaan program dan persamaan tujuan untuk perusahaaan. Oleh sebab itu koordinasi yang baik akan dapat menghilangkan kesenjangan tersebut dan membuat para karyawan dan divisi – divisi yang ada dapat bekerjasama dengan baik untuk kemajuan perusahaan.

4. Kinerja evaluasi

Kinerja evaluasi yang meliputi penilaian karyawan, penilaian laporan keuangan dan pemeriksaaan produk (Kurnianingsih dan Indriantoro, 2003).

Kinerja evaluasi ini dibuat agar perusahaan dapat menghindari hal – hal tidak diinginkan terjadi. Evaluasi yang dibuat berdasarkan informasi ataupun pengalaman membuat perusahaan dapat berjaga-jaga agar kejadian yang merugikan dapat dihindari.

Kinerja evaluasi melalui kegiatan maupun laporan membantu perusahaan dalam menentukan bagaimana langkah kedepannya agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Dengan mengevaluasi hasil kerja sebelumnya, perusahaan dapat menentukan hal apa yang perlu untuk dilakukan agar meningkatnya produktivitas dan hal apa yang harus dihindari karena merugikan bagi perusahaan.

(21)

5. Kinerja pengawasan

Kinerja pengawasan meliputi kemampuan mengarahkan, memimpin, melatih dan mengembangkan bawahannya agar dapat sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan (Kurnianingsih dan Indriantoro, 2003). Dalam pelaksanaanya sering kali penyimpangan yang dilakukan oleh bawahan dapat terjadi. Oleh sebab itu kinerja pengawasan berperan untuk meminimalisir kejadian tersebut.

Perusahaan melakukan pengawasan agar kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh para karyawannya dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

Tindakan pengawasan yang dilakukan oleh perusahaan berupa arahan dan pelatihan akan berdampak langsung pada hasil yang ingin dicapai oleh perusahaan dimasa depan.

6. Kinerja pengaturan staf

Kinerja pengaturan staf yang dimaksud adalah kemampuan untuk mempertahankan angkatan kerja yang ada pada bagian anda, melakukan perekrutan pegawai, mewawancarai mereka dan memilih pegawai baru, menempatkan pada bagian yang sesuai, mempromosikan dan memutasi pegawai (Kurnianingsih dan Indriantoro, 2003). Karyawan merupakan modal utama bagi perusahaan dalam melaksanakan proses kegiatannya. Maka dari itu pemilihan staf dan penempatan yang tepat merupakan hal yang sangat berpengaruh pada hasil yang akan dicapai diakhir oleh perusahaan.

(22)

7. Kinerja negoisasi

Kinerja negoisasi yaitu kemampuan dalam melakukan pembelian, penjualan atau melakukan kontrak untuk barang dan jasa, menghubungi pemasok dan melakukan tawar menawar dengan penjual, serta tawar menawar secara kelompok (Kurnianingsih dan Indriantoro, 2003). Bukan hanya individu manusia, perusahaan pun tidak dapat berdiri sendiri tanpa ada bantuan atau kerjasama dengan pihak lain. Oleh sebab itu kinerja negosiasi dibutuhkan untuk dapat memilih apa yang dibutuhkan dan dengan pihak mana perusahaan akan bekerja sama.

Pemilihan pihak yang tepat untuk bekerjasama merupakan salah satu faktor penentu perusahaan untuk berkembang. Berkembangnya perusahaan sangat diharapkan perusahaan untuk meraih tujuan yang ingin dicapainya kedepan.

8. Kinerja representasi

Kinerja representasi yang dimaksud adalah kemampuan dalam menghadiri pertemuan-pertemuan dengan perusahaan lain, pertemuan dengan perkumpulan bisnis, pidato untuk acara-acara kemasyarakatan, pendekatan kemasyarakatan, serta kemampuan dalam mempromosikan tujuan utama perusahaan. Kinerja tersebut dapat membantu perusahaan dalam mengembangkan perusahaan melalui interaksi dan kerjasama dengan perusahaan lain.

Oleh karena itu, kemampuan - kemampuan diatas dapat menjadi sarana dari penilaian kinerja manajerial perusahaan. Pengaruh besar dari kemampuan- kemampuan tersebut membuat perusahaan harus mampu menguasainya agar dapat

(23)

meningkatkan kinerja manajerialnya yang berdampak pada produktivitas yang diinginkan dalam perkembangan perusahaannya kedepan.

2.4 Kerangka Pemikiran 2.4.1 Hipotesis Penelitian

Pengguna layanan seluler yang semakin bertambah setiap tahunnya menjadi salah satu penyebab ketatnya persaingan perusahaan-perusahaan perusahaan penyedia jasa layanan komunikasi ini. Mengantisipasi era persaingan yang sangat ketat tersebut, banyak perusahaan mulai menata ulang strategi persaingannya pada tingkat global untuk memberikan pelayanan dengan kinerja terbaik mereka. Salah satu strategi perencanaan yang digunakan adalah dalam bentuk anggaran. Anggaran dapat menjadi suatu alat perencanaan, pengendalian dan motivasi kinerja yang dapat membantu meningkatkan sikap dan kinerja manajerial perusahaan (Kenis 1979).

Anggaran menjadi alat perencanaan dimana perencanaan berguna untuk melihat ke masa depan, yang menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan tertentu dan alat pengendalian dimana pengendalian melihat kebelakang, yaitu menilai apa yang dihasilkan dan membandingankannya dengan rencana yang telah disusun (Hansen dan Mowen, 2000). Sedangkan anggaran sebagai alat motivasi yang berfungsi untuk mendorong para manajer untuk mencapai tujuan perusahaannya (Kenis 1979).

Oleh sebab itu anggaran dapat membantu perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan dan juga untuk mencapai tujuan perusahaan mereka.

(24)

Alat penting dalam fungsi perencanaan dan pengendalian perusahaan adalah anggaran. Anggaran adalah salah satu langkah awal perusahaan untuk menerjemahkan keseluruhan strategi ke dalam rencana dan tujuan jangka pendek dan jangka panjang (Hansen dan Mowen, 2004). Suatu anggaran disusun untuk membantu manajemen mengkomunikasikan tujuan organisasi semua manajer pada unit organisasi dibawahnya, untuk mengkoordinasi kegiatan, dan untuk mengevaluasi prestasi para manajer tersebut (Supriyono, 1999).

Para manajer yang ikut serta dalam proses penyusunan anggaran akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target anggaran tersebut. Semakin tinggi tingkat keterlibatan manajer dalam proses penyusunan anggaran, akan semakin meningkatkan kinerja (Indriantoro, 1993). Manajer yang di libatkan dalam proses penganggaran berati manajer dimotivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Oleh sebab itu partisipasi dalam penyusunaan anggaran menjadi sangat berpengaruh terhadap kinerja manajerial.

Partisipasi anggaran (budgeting partisipation) pada dasarnya adalah pendekatan penganggaran yang memungkinkan para manajer yang akan bertanggung jawab atas kinerja anggaran, untuk berpartisipasi dalam pengembangan anggaran, partisipasi anggaran mengkomunikasikan rasa tanggung jawab pada para manajer tingkat bawah dan mendorong kreatifitas (Hansen dan Mowen, 2004).

Gaya kepemimpinan merupakan salah satu dari beberapa aspek perilaku yang penting dalam penyusunan anggaran (Welsch et al, 2000). Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada

(25)

saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku dengan orang lain seperti yang ia lihat (Thoha, 2008). Seorang manajer dengan gaya kepemimpinan yang baik di dalam perusahaan dapat mempengaruhi bawahannya untuk bersama-sama meningkatkan kinerja mereka untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai dengan yang diharapkan. Seorang manajer juga harus mampu mengarahkan dan mendorong semangat kerja para bawahannya sehingga tercipta motivasi positif yang akan menimbulkan niat dan usaha atau kinerja yang maksimal.

2.4.2 Penelitian Terdahulu

Untuk mengadakan penelitian, tidak terlepas dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan tujuan untuk memperkuat hasil dari penelitian yang sedang dilakukan, selain itu juga bertujuan untuk membandingkan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Berikut ringkasan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan penelitian :

(26)

Tabel 2.1

Review Penelitian Terdahulu No Peneliti Judul

Penelitian Hasil Penelitiann Persamaan Perbedaaa n 1. Sumarno

(2005)

Pengaruh komitmen organisasi dan gaya kepemimpi nan terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dan Kinerja manajerial.

Hasil penelitian adalah

(1) terdapat pengaruh

dan hubungan negatif yang

signifikan antara kinerja manajerial dan partisipasi anggaran,

(2) pengaruh komitmen

organisasi terhadap

hubungan kinerja manajerial dan partisipasi

anggaran adalah positif

dan signifikan, dan

(3) pengaruh gaya kepemimpinan terhadap

hubungan antara partisipiasi

anggaran dan kinerja manajerial adalah tidak signifikan.

Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunak an variabel gaya

kepemimpin an,

partisipasi anggaran, dan kinerja manajerial.

Perbedaaan dengan penelitian ini adalah pada

penelitian sebelumnya menggunak an

komitmen organisasai dan gaya kepeimpina n berperan sebagai variabel moderating .

Sedangkan dalam penelitian ini tidak menggunak an variabel komitmen organisasi dan gaya kepemimpi nan berperan sebagai variabel independen .

(27)

No Peneliti Judul

Penelitian Hasil Penelitiann Persamaan Perbedaaa n 2. Nurcahyani

(2010)

Pengaruh partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial melalui komitmen organisasi dan persepsi inovasi sebagai variabel intervening.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh

langsung partisipasi

anggaran terhadap kinerja

manajerial.

Partisipasi anggaran juga berpengaruh secara signifikan terhadap

komitmen

organisasi dan persepsi inovasi.

Namun, partisipasi

anggaran tidak berpengaruh

secara tidak langsung terhadap kinerja manajerial melalui variabel intervening

komitmen

organisasi dan persepsi

inovasi.

Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunak an variabel partisipasi anggaran dan kinerja manajerial.

Perbedaaan dengan penelitian ini adalah pada

penelitian sebelumnya menggunak an variabel komitmen organisasi dan persepsi inovasi sebagai variabel intervening , sedangkan dalam penelitian ini tidak menggunak an variabel tersebut.

(28)

No Peneliti Judul

Penelitian Hasil Penelitiann Persamaan Perbedaaa n 3. Akbar

(2013)

Pengaruh partisipasi anggaran terhadap senjangan anggaran dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi anggaran

memberikan

pengaruh positif dan signifikan terhadap

senjangan anggaran, komitmen organisasi memberikan

pengaruh positif dan signifikan terhadap

senjangan

anggaran, dan moderasi interaksi antara partisipasi anggaran dengan komitmen

organisasi berpengaruh

negatif dan signifikan

terhadap senjangan anggaran.

Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunak an variabel partisipasi anggaran.

Perbedaaan dengan penelitian ini adalah pada

penelitian sebelumnya menggunak an variabel senjangan anggaran sebagai varieabel dependen dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating .

(29)

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai pengaruh partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial dan hasil penelitiannya tidak konsisten.

Milani (1975) dan Kenis (1979), menemukan bahwa partisipasi anggaran mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap kinerja manajerial.

Sinambela (2003) menyatakan bahwa hubungan partisipasi anggaran dalam penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial mempunyai hubungan yang kuat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Supriyono dan Syakhroza (2003), Akbar (2013) dan Fahmi (2013) menyimpulkan hasil bahwa partisipasi anggaran mempunya hubungan positif dan signifikan dengan kinerja manajerial.

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai gaya kepemimpinan.

Menurut Sumarno (2005) dalam penelitiannya mengenai pengaruh komitmen organisasi dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja manajerial menyatakan bahwa terdapat pengaruh dan hubungan negatif yang signifikan antara kedua variabel tersebut terhadap kinerja manajerial. Alwi dan Sudarman (2010), Budi Santosa (2012) dan Lila Tintami (2012) menemukan hasil bahwa terdapat pengaruh dan hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel tersebut terhadap kinerja manajerial.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja manajerial. Menurut Riska (2014) menyebutkan bahwa partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja manajerial. Sedangkan Fahmi (2013) menyebutkan bahwa partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan secara simultan berpengaruh terhadap senjangan anggaran, dimana senjangan anggaran

(30)

tersebut akan berdampak pada kinerja manajerial. Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sinaga (2009) yang menemukan hubungan yang negatif antara partisipasi anggaran dengan kinerja manajerial.

2.4.3 Pengaruh Partisipasi Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial

Di Indonesia, hubungan antara partisipasi anggaran dengan kinerja manajer mempunyai hubungan positif secara signifikan (Supriyono, 2004).

Partisipasi dapat meningkatkan kinerja karena partisipasi memungkinkan bawahan mengkomunikasikan apa yang mereka butuhkan kepada atasannya.

Dalam penyusunan anggaran diperlukan komunikasi antara atasan dan bawahan untuk saling memberikan informasi disamping dapat memberikan kesempatan memasukkan informasi lokal karena bawahan lebih mengetahui kondisi langsung pada bagiannya. Partisipasi dapat memungkinkan bawahan untuk memilih.

Tindakan memilih tersebut dapat membangun komitmen dan dianggap sebagai tanggung jawab atas apa yang telah dipilih (Greenberg dan Folger, 1983 dalam Arief Wasisto dan Sholihin, 2004).

Pendekatan anggaran yang partisipatif (participative budgeting) untuk menghasilkan suatu anggaran yang efektif menjadi faktor yang amat menentukan.

Paticipative budgets yaitu semua level manajemen terlibat aktif dalam proses perencanaan dan penyusunan anggaran. Informasi-informasi berkenaan dengan tujuan dan aktivitas penyusunan anggaran diusulkan atau berasal dari para manajer level bawah menuju ke para manajer level menengah dan puncak.

Pendekatan ini sering disebutkan dengan pendekatan “bottom-up.” Partisipasi

(31)

anggaran akan meningkatkan motivasi, kerjasama dan kinerja manajer-manajer untuk mencapai target anggaran yang telah mereka buat. Manajer yang memiliki partisipasi anggaran yang tinggi akan lebih memahami tujuan anggaran. Karena kinerja manajer akan dinilai berdasarkan target anggaran yang bisa dicapai, manajer akan bersungguh-sungguh dalam penyusunan anggaran dan menyebabkan meningkatnya kinerja manajer tersebut (Nurcahyani, 2010).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat hipotesis yang terbentuk adalah sebagai berikut :

H1 : Partisipasi anggaran berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

Gambar 2.1

2.4.4 Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Manajerial

Proses penyusunan anggaran merupakan proses penetapan peran (role setting), yang setiap manajer dalam jenjang organisasi diberi peran tertentu untuk melaksanakan kegiatan dalam pencapaian sasaran yang ditetapkan dalam anggaran. Dalam penyusunan anggaran salah satu dari beberapa aspek perilaku yang penting ialah gaya kepemimpinan (Welsch et al, 2000).

Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku dengan orang lain seperti yang ia lihat (Thoha, 2008). Seorang manajer dengan gaya kepemimpinan yang baik di dalam perusahaan dapat mempengaruhi bawahannya untuk bersama-sama meningkatkan kinerja mereka untuk mencapai tujuan

Partisipasi  Anggaran 

Kinerja 

Manajerial 

(32)

perusahaan sesuai dengan yang diharapkan. Seorang manajer juga harus mampu mengarahkan dan mendorong semangat kerja para bawahannya sehingga tercipta motivasi positif yang akan menimbulkan niat dan usaha atau kinerja yang maksimal.

Kinerja kelompok atau individu yang efektif bergantung pada padanan yang tepat antara gaya interaksi dari si pemimpin dengan bawahannya, serta sampai tingkat mana situasi memberikan kendali dan pengaruh kepada pemimpin (Amrul dan Nasir, 2002). Semakin tinggi gaya kepemimpinan, maka akan meningkatkan kinerja manajerial.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat hipotesis yang terbentuk adalah sebagai berikut :

H2 : Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

Gambar 2.2

2.4.5 Hubungan Partisipasi Anggaran dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Manajerial

Partisipasi anggaran yang dilakukan oleh perusahaan dapat membantu perusahaan dalam pencapaian target anggaran perusahaan. Dengan tercapai hal tersebut maka kinerja perusahaaan dapat dikatakan meningkat karena tercapainya target anggaran merupakan tujuan dari perusahaan (Mulyadi, 2001).

Gaya  Kepemimpinan 

Kinerja 

Manajerial 

(33)

Partisipasi anggaran yang dilakukan perusahaan dalam pelaksanaannya tidak lepas dari pengaruh seorang pemimpin. Seorang manajer dalam perusahaan harus dapat mengatur dan membawa bawahannya sesuai dengan yang diinginkan.

Gaya dan cara kepemimpinan dari seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja para bawahannya. Gaya kepemimpinan yang tepat dapat mempengaruhi bawahannya untuk memiliki kinerja yang baik dalam kegiatan di perusahaan sehingga kinerja perusahaan pun dapat meningkat (Kartono, 2008).

Partisipasi anggaran yang dilakukan untuk pencapaian target anggaran dan gaya kepemimpinan yang tepat dari seorang manajer bagi para bawahannya akan menciptakan peningkatan kinerja manajerial sehingga produktivitas bagi perusahaan akan meningkat di masa sekarang dan akan datang.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat hipotesis yang terbentuk adalah sebagai berikut :

H3 : Partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

Gambar 2.3

PARTISIPASI  ANGGARAN 

KINERJA  MANAJERIAL 

GAYA  KEPEMIMPINAN 

Referensi

Dokumen terkait

MoU antara Pemerintah Kabupaten Jombang dengan Yayasan Kesejahteraan Warga Kesehatan Kabupaten Mojokerto tentang Kerjasama Penggunaan Wilayah Kabupaten Jombang

PPKA Bodogol atau yang dikenal dengan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol adalah sebuah lembaga konservasi alam di daerah Lido Sukabumi dan masih merupakan bagian dari

Ketika merujuk pada realitas, sistem politik adalah sebuah derivasi atas kebijakan negara yang mana merupakan manifestasi dari kekuatan dominan yang ada dalam

[r]

Berdasarkan analisis data penelitian yang telah dilakukan tentang Pengaruh susunan lamina komposit berpenguat serat E-glass dan serat Carbon terhadap kekuatan tarik

Tegasnya, Syaykh Abd Aziz bin Abd Salam telah memberi suatu sumbangan yang besar terhadap metodologi pentafsiran kepada pengajian tafsir di Malaysia.. Sumbangan

Bahan organik dapat menjadi parameter penilaian tingkat kesuburan suatu perairan.Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui konsentrasi dan distribusiKarbon Organik Total (KOT)