• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi P"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah (LAKIP) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 dapat diselesaikan dengan

baik, sebagaimana diamanatkan dalam Tap MPR Nomor : XI/MPR/1998 tentang

Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme,

Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang

bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dan Instruksi Presiden Nomor

7 Tahun 1999 tentang Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Penyusunan LAKIP Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ini berpedoman

pada Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor : 589/IX/6/Y/1999

tentang Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah,

Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor : 239/IX/6/8/2003 tentang

Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah, dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan

Penetapan Kinerja Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Secara substantif LAKIP Kabupaten Banyuwangi merupakan sarana

pelaporan kinerja dalam rangka mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja

Instansi Pemerintah yang menginformasikan tentang penyelenggaraan

pemerintahan, pelaksanaan kebijakan, serta pencapaian sasaran dalam

mewujudkan tujuan, misi dan visi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Selain itu, LAKIP Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 merupakan media

pertanggungjawaban kinerja yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010 – 2015,

hal ini sebagai perwujudan penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan

akuntabel, serta menciptakan Good Governance dan Clean Government. Hasil

pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten

Banyuwangi tidak terlepas dari kerjasama dan kerja keras semua pihak yakni

masyarakat, swasta dan aparat pemerintah daerah, baik dalam perumusan

(2)

Akhir kata, semoga Laporan Akuntabilitas Kinerja ini bermanfaat dan dapat

digunakan sebagai bahan tambahan masukan bagi pengelolaan dan penataan serta

peningkatan kinerja dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan

pelayanan terhadap masyarakat.

Banyuwangi, Maret 2013

(3)

IKHTISAR EKSEKUTIF

Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, Pemerintah Kabupaten

Banyuwangi berupaya menyelenggarakan pemerintahan dengan berprinsip pada

pemerintahan yang baik (good governance) dan berorientasi kepada hasil (result

oriented government) sesuai dengan kewenangannya. Oleh karena itu, manajemen

pemerintahan yang perlu diimplementasikan adalah akuntabilitas kinerja.

Akuntabilitas kinerja setidaknya harus memuat visi, misi, tujuan dan sasaran yang

memiliki arah dan tolok ukur yang jelas atas rumusan perencanaan strategis

organisasi sehingga gambaran hasil yang ingin dicapai dalam bentuk sasaran dapat

terukur, dapat diuji dan diandalkan.

Tahun 2012 merupakan tahun kedua dalam upaya pencapaian tujuan dan

sasaran RPJMD 2010-2015, secara umum pencapaian sasaran melalui

indikator-indikator sasaran menunjukkan keberhasilan untuk mewujudkan misi dan tujuan

sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor

7 Tahun 2011 tentang RPJMD Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010-2015.

Dalam Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tersebut untuk mewujudkan

Visi telah ditetapkan 9 Misi yang diinstisarikan menjadi 5 Misi, 7 Tujuan dan 42

Sasaran. Berdasarkan Rencana Kerja dan Penetapan Kinerja tahun 2012, telah

ditetapkan 38 (tiga puluh delapan sasaran), dengan indikator sasaran sebanyak 275 (dua ratus tujuh puluh lima) indikator sasaran, dengan rincian sebagai berikut :

 Misi I terdiri dari 1 tujuan, 4 sasaran dan 36 indikator sasaran;

 Misi II terdiri dari 1 tujuan, 13 sasaran dan 75 indikator sasaran;

 Misi III terdiri dari 2 tujuan, 8 sasaran dan 48 indikator sasaran;

 Misi IV terdiri dari 2 tujuan, 7 sasaran dan 73 indikator sasaran;

 Misi V terdiri dari 1 tujuan, 6 sasaran dan 43 indikator sasaran.

Capaian sasaran pada Misi pertama, sebanyak 34 indikator sasaran atau

94,04 % kategori baik sekali, 1 indikator sasaran atau 2,78 % kategori baik dan 1

(4)

Capaian Misi kedua, sebanyak 57 indikator sasaran atau 76 % kategori baik

sekali, 17 indikator sasaran atau 22,67 % kategori baik, 1 indikator sasaran atau 1,33

% kategori cukup.

Capaian Misi ketiga sebanyak 43 indikator sasaran atau 89,58 % kategori

baik sekali, 3 indikator sasaran atau 6,25 % kategori baik, 2 indikator sasaran atau

4,17 % masih kurang.

Capaian Misi keempat sebanyak 62 indikator sasaran atau 84,93 % kategori

baik sekali, 6 indikator sasaran atau 8,22 % kategori baik, 1 indikator sasaran atau

1,37 % kategori cukup dan 4 indikator sasaran atau 5,48 % masih kurang.

Sedangkan Misi kelima sebanyak 34 indikator sasaran atau 79,07 %

kategori baik sekali, 3 indikator sasaran atau 6,98 % kategori baik, 2 indikator

sasaran atau 4,65 % kategori cukup dan 4 indikator sasaran atau 9,30 % masih

kurang

Berkenaan dengan ketercapaian indikator sasaran terhadap target yang

telah ditetapkan diperoleh 91 indikator sasaran atau 33,09 % telah sesuai dengan

target, 63 indikator sasaran atau 22,91 % belum mencapai target dan 121 indikator

sasaran atau 40 % telah melampaui target. Tingkat ketercapaian indikator sasaran

dirinci sebagai berikut :

 Misi pertama dengan 36 indikator sasaran diperoleh 20 indikator sasaran atau

55,56 % telah sesuai target, 5 indikator sasaran atau 13,89 % tidak mencapai

target dan 11 indikator sasaran atau 30,56 % telah melampaui target.

 Misi kedua dengan 75 indikator sasaran diperoleh 10 indikator sasaran atau

13,33 % telah sesuai dengan target, 24 indikator sasaran atau 32 % tidak

mencapai target dan 41 indikator sasaran atau 54,67 % telah melampaui

target.

 Misi ketiga dengan 48 indikator sasaran diperoleh 14 indikator sasaran atau

29,17 % telah sesuai dengan target, 7 indikator sasaran atau 14,58 % tidak

mencapai target dan 27 indikator sasaran atau 56,25 % telah melampaui

target.

 Misi keempat dengan 73 indikator sasaran diperoleh 30 indikator sasaran atau

(5)

mencapai target dan 25 indikator sasaran atau 34,25 % telah melampaui

target.

 Misi kelima dengan 43 indikator sasaran diperoleh 17 indikator sasaran atau

39,53 % telah sesuai dengan target, 9 indikator sasaran atau 20,93 % tidak

mencapai target dan 17 indikator sasaran atau 39,63 % telah melampaui

target.

Selanjutnya, hasil analisis pencapaian sasaran terhadap 38 sasaran

mencakup 275 indikator sasaran diketahui sebanyak 37 (tiga puluh tujuh) sasaran

atau sebanyak 97,37 % dikategorikan baik sekali dan 1 (satu) sasaran atau 2,63 %

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i-ii IKHTISAR EKSEKUTIF ... iii-v

DAFTAR ISI ... vi DAFTAR TABEL ... vii-x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ... 1-5 1.2. Bidang Kewenangan ... 5-6 1.3. Pertumbuhan Ekonomi/PDRB ... 6-9

1.4. Aspek Strategis Kabupaten Banyuwangi ... 9-16

1.5. Struktur Organisasi Perangkat Daerah ... 16-17

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN RENCANA KINERJA

2.1. Rencana Strategis Tahun 2010 – 2015 ... 18 a. Visi ... 18-20 b. Misi ... 20-22 c. Tujuan ... 22 d. Sasaran ... 22-32 e. Indikator Kinerja Utama ... 33-41

f. Prioritas Pembangunan Daerah Tahun 2010 – 2015 ... 41-43

2.2. Rencana Kinerja ... 43-44 2.3. Penetapan Kinerja ... 44-55

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. Pengukuran Kinerja ... 56-65 3.2. Analisis Capaian Kinerja ... 65-106 3.3. Akuntabilitas Keuangan ... 106-116

BAB IV PENUTUP ... 117-121

LAMPIRAN :

1. Rencana Kinerja Tahunan (RKT) 2012 2. Penetapan Kinerja Tahun 2012

(7)

Daftar Tabel vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. PDRB ADHK dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten

Banyuwangi Tahun 2009 – 2012 ... 7

Tabel 1.2. Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ... 12

Tabel 1.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ... 13

Tabel 1.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ... 14

Tabel 1.5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ... 14

Tabel 2.1. Hubungan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah Kabupaten Banyuwangi ... 31

Tabel 2.2 Prioritas Pembangunan Daerah ... 42

Tabel 3.1. Persentase Kategori Pencapaian Indikator Sasaran ... 59

Tabel 3.2. Ketercapaian Indikator Sasaran terhadap Target ... 59

Tabel 3.3. Pencapaian Target Misi ... 65

Tabel 3.4. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 1 Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan Bersih ... 65

Tabel 3.5. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 2 Meningkatnya Kualitas Sdm Aparatur Pemerintah Daerah Yang Ditandai oleh Meningkatnya Etos Kerja Dan Budaya Kerja Pegawai . 67 Tabel 3.6. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 3 Menguatnya Kapasitas Kelembagaan Melalui Regulasi Yang Konprehensif Dan Berkeadilan ... 68

Tabel 3.7. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 4 Meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum ... 68

Tabel 3.8. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 5 Menurunnya buta aksara ... 69

(8)

Daftar Tabel viii

Tabel 3.10. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 7 Meningkatnya

kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan ... 71

Tabel 3.11. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 8 Meningkatnya

Meningkatnya usia harapan hidup ... 73

Tabel 3.12. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 9 Menurunnya angka

kematian bayi ...

74

Tabel 3.13. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 10 Menurunnya

angka kematian ibu melahirkan ... 74

Tabel 3.14. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 11 Menurunnya anak

balita dibawah garis merah ... 75

Tabel 3.15. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 12 Menurunnya

prevalensi gizi kurang pada balita ... 75

Tabel 3.16. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 14 Meningkatnya

peserta KB aktif ... 76

Tabel 3.17. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 13 Meningkatnya

cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan ... 76

Tabel 3.18. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 15 Tersedianya obat

dan perbekalan kesehatan yang aman, bermutu dan

bermanfaat serta terjangkau oleh masyarakat ... 77

Tabel 3.19. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 16 Tersedianya

tenaga kesehatan yang cukup, berkualitas dan profesional .. 78

Tabel 3.20. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 17

Terberdayakannya masyarakat melalui keterlibatan di dalam

pelayanan kesehatan, seperti terlibat dalam Posyandu,

Polindes, dan Pos Siaga serta Poskestren ... 81

Tabel 3.21. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 18 Meningkatnya

daya saing daerah dan kemandirian ekonomi berbasis

pertanian ... 81

Tabel 3.22. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 19 Meningkatkan

industri olahan dan kreatif berbasis pertanian ... 84

Tabel 3.23. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 20

Termanfaatkannya fungsi ekologi, ekonomi dan sosial hutan

85

Tabel 3.24. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 21 Meningkatnya

(9)

Daftar Tabel ix

Tabel 3.25. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 22 Meningkatnya

pemanfaatan potensi pariwisata seperti Kawah Ijen, Pantai

Plengkung, Sukamade dan lainnya ... 86

Tabel 3.26. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 23 Meningkatnya

profesionalisme pengelolaan koperasi dan UMKM ... 87

Tabel 3.27. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 24 Meningkatnya

jejaring antar daerah, provinsi dan pusat serta jejaring

pelaku ekonomi ... 88

Tabel 3.28. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 25 Tersusunnya

regulasi yang berhubungan dengan kompetisi kegiatan

ekonomi di daerah ... 88

Tabel 3.29. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 26 Meningkatnya

sarana informasi dan alat transportasi ... 90

Tabel 3.30. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 27 Meningkatnya

kualitas dan kuantitas jalan dan sarana serta prasarana

yang menghubungkan daerah-daerah tujuan wisata ... 91

Tabel 3.31. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 28 Meningkatnya

sarana dan prasarana penunjang pertanian ... 91

Tabel 3.32. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 29 Meningkatnya

kuantitas dan kualitas jalan dan sarana serta prasarana

yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi ... 93

Tabel 3.33. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 30 Meningkatnya

prasarana dan sarana pendidikan dan kesehatan dalam

jumlah kualitas yang memadai ... 94

Tabel 3.34. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 31 Tersusunnya

dan tertatanya RTRW Kabupaten Banyuwangi secara

terpadu dan konprehensif ...

97

Tabel 3.35. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 32 Meningkatnya

jumlah jalan poros desa

97

Tabel 3.36. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 33 Menurunnya

tingkat pengangguran ... 98

Tabel 3.37. Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 34 Menurunnya

angka kemiskinan ... 99

Tabel 3.38 Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 35 Meningkatnya

(10)

Daftar Tabel x

pengarusutamaan gender ... 100

Tabel 3.39 Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 36 Meningkatnya

jaminan dan perlindungan sosial masyarakat ... 102

Tabel 3.40 Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 37 Meningkatnya

peranan kelompok-kelompok dalam masyarakat di dalam

berbagai kegiatan pembangunan ... 103

Tabel 3.41 Analisis Pencapaian Sasaran Strategis 38 Meningkatnya

upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal ... 104

Tabel 3.42. Perkembangan PAD Kabupaten Banyuwangi ... 109

Tabel 3.43. Perkembangan Dana Perimbangan Kabupaten Banyuwangi

Tahun 2010-2012 ... 110

Tabel 3.44. Perkembangan Dana Perimbangan Kabupaten Banyuwangi

Tahun 2010-2012 ... 111

Tabel 3.45. Perkembangan Belanja Daerah Kabupaten Banyuwangi

Tahun 2010-2012 ... 112

Tabel 3.46. Perkembangan Pembiayaan Kabupaten Banyuwangi Tahun

2010-2012 ... 113

Tabel 3.47 Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2012 ... 114

(11)

Daftar Gambar xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Luas Kabupaten Banyuwangi Dibedakan Menurut

Penggunaannya ... 10

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Semangat Reformasi Birokrasi di lingkungan pemerintahan, telah

menumbuhkembangkan perubahan etos kerja yang lebih dinamis dan strategis

menuju kearah yang lebih baik. Semangat reformasi birokrasi telah mewarnai

pendayagunaan aparatur dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan

berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik (Good Governance) dengan

memperhatikan tujuan terciptanya pemerintahan yang bersih dan optimalisasi

pelayanan publik.

Agar Good Governance dapat menjadi kenyataan dan berjalan dengan

baik, maka dibutuhkan komitmen dan keterlibatan semua pihak yaitu :

Pemerintah, Swasta dan Masyarakat. Good Governance yang efektif menuntut

adanya koordinasi yang baik, serta integritas, profesional, etos kerja dan moral

yang tinggi, dengan demikian konsep Good Governance dalam penyelenggaraan

pemerintahan merupakan tantangan tersendiri.

Terwujudnya pemerintahan yang baik diera reformasi ini, merupakan

prasyarat bagi setiap instansi pemerintah untuk mewujudkan aspirasi masyarakat

dalam mencapai tujuan serta cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk itu, pengembangan dan penetapan sistem pertanggungjawaban yang

tepat, jelas, terukur dan legitimate sangat diperlukan, sehingga penyelenggaraan

pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdayaguna,

berhasilguna, bersih dan bertanggungjawab serta bebas dari korupsi, kolusi dan

nepotisme. Selain itu, diperlukan adanya mekanisme untuk meregulasi

akuntabilitas pada setiap tingkatan instansi pemerintahan.

Konsep dasar akuntabilitas didasarkan pada tingkatan responsibilitas

manajerial pada setiap lingkungan dalam organisasi. Masing-masing individu

pada setiap lingkungan organisasi bertanggungjawab atas kegiatan yang

dilaksanakan di unit kerjanya kepada atasan langsungnya. Konsep inilah yang

membedakan adanya kegiatan yang terkendali (Controllable Activities) dengan

(13)

terkendali merupakan kegiatan yang secara nyata dapat dikendalikan oleh

seseorang atau suatu pihak. Ini berarti, kegiatan tersebut benar-benar

direncanakan, dilaksanakan dan dinilai/dievaluasi hasilnya oleh pihak yang

berwenang.

Akuntabilitas didefinisikan sebagai suatu perwujudan kewajiban untuk

mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan organisasi dalam

mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan pada Perencanaan Strategis

melalui media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik. Dalam

dunia birokrasi, akuntabilitas instansi pemerintah merupakan perwujudan

kewajiban instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan

atau kegagalan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan.

Sejalan dengan hal tersebut, telah ditetapkan TAP MPR Nomor

XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi,

Kolusi dan Nepotisme, dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang

Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Sebagai tindak lanjut dari 2 (dua) produk hukum tersebut diterbitkan Instruksi

Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

(AKIP).

Sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1999

tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah setiap instansi pemerintah

diminta untuk menyampaikan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

(LAKIP) sebagai perwujudan kewajiban suatu Instansi Pemerintah untuk

mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan tugas pokok

dan fungsi organisasi serta pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan

kebijakan yang percayakan dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran yang

telah ditetapkan melalui alat pertanggunggunawaban secara periodik setiap akhir

tahun anggaran berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai.

Selain itu, LAKIP berperan sebagai alat kendali, alat penilai kinerja dan

alat pendorong terwujudnya Good Governance. Dalam perspektif yang lebih luas,

maka LAKIP berfungsi sebagai media pertanggungjawaban kepada publik.

Selanjutnya, bertitik tolak dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Daerah (RPJMD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010 – 2015, Rencana Kerja

(14)

7 Tahun 1999 tentang Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan

Kinerja Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, bahwa penyusunan

LAKIP Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 berisi ikhtisar pencapaian sasaran

sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja dan dokumen

perencanaan. Pencapaian sasaran tersebut disajikan berupa informasi mengenai

pencapaian sasaran RPJMD, realisasi pencapaian indikator sasaran disertai

dengan penjelasan yang memadai atas pencapaian kinerja Pemerintah

Kabupaten Banyuwangi yang menjadi laporan kemajuan penyelenggaraan

pemerintahan. Realisasi yang dilaporkan dalam LAKIP ini merupakan hasil

kegiatan tahun 2012.

a. Maksud dan Tujuan

Penyusunan LAKIP Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ini

dimaksudkan sebagai wujud pertanggungjawaban pelaksanaan

Pemerintahan Daerah Tahun 2012. Adapun tujuannya adalah untuk :

a. Memberikan informasi mengenai capaian kinerja Pemerintah Kabupaten

Banyuwangi selama Tahun Anggaran 2012;

b. Bahan evaluasi kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk

perbaikan ditahun-tahun berikutnya.

b. Dasar Hukum

Dasar hukum penyusunan LAKIP Kabupaten Banyuwangi Tahun

2012 sebagai berikut :

1. TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang

Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;

2. Undang - Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan

Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;

3. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437),

sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang - Undang

(15)

2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4844);

4. Undang - Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang

Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

6. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 tentang

Penyelenggaraan Pendayagunaan Aparatur Negara;

7. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007;

9. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor

239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

10. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor

Kep/135/M.PAN/9/2004 tentang Pedoman Umum Evaluasi Laporan

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

11.Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi

Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan

Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah;

12.Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 7 Tahun 2007 tentang

Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana diubah

dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 4 Tahun 2009

tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi

Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan

Daerah;

13.Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 7 Tahun 2008 tentang

Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Banyuwangi;

14.Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 6 Tahun 2011 tentang

(16)

15.Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 7 Tahun 2011 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten

Banyuwangi Tahun 2010 – 2015;

16.Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 25 Tahun 2011 tentang

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Banyuwangi

Tahun Anggaran 2012;

17.Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 9 Tahun 2012 tentang

Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten

Banyuwangi Tahun Anggaran 2012.

1.2. Bidang Kewenangan

Sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah, Pasal 14 bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan

pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota meliputi :

a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;

b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;

c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;

d. penyediaan sarana dan prasarana umum;

e. penanganan bidang kesehatan;

f. penyelenggaraan pendidikan;

g. penanggulangan masalah sosial;

h. pelayanan bidang ketenagakerjaan;

i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;

j. pengendalian lingkungan hidup;

k. pelayanan pertanahan;

l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;

m.pelayanan administrasi umum pemerintahan;

n. pelayanan administrasi penanaman modal;

o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan

p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Sedangkan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan

meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan

(17)

Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Pemerintan Nomor 3 Tahun 2007 tentang

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan

Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada

Masyarakat, dan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,

dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, disebutkan bahwa urusan wajib yang

dilaksanakan meliputi : pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pekerjaan umum,

penataan ruang, perencanaan pembangunan, perumahan, kepemudaan dan

olahraga, penanaman modal, koperasi dan usaha kecil dan menengah,

kependudukan dan catatan sipil, ketenagakerjaan, ketahanan pangan,

pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, keluarga berencana dan

keluarga sejahtera, perhubungan, komunikasi dan informatika, pertanahan,

kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah, pemerintahan umum,

administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian,

pemberdayaan masyarakat dan desa, sosial, kebudayaan, statistik, kearsipan; dan

perpustakaan.

Sedangkan urusan pilihan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah

berdasarkan Peraturan Pemerintan Nomor 3 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah

Nomor 38 Tahun 2007, meliputi : kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan,

energi dan sumber daya mineral, pariwisata, industri, perdagangan; dan

ketransmigrasian.

1.3. Pertumbuhan Ekonomi / PDRB

Kondisi perekonomian daerah secara makro di Kabupaten Banyuwangi

dari tahun 2009 hingga 2010 menunjukkan pergerakan yang stabil. Hal ini dapat

ditunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari tahun 2009

sebesar 5,39 persen menjadi 6,81 persen tahun 2010. Pertumbuhan ini antara

lain disebabkan intervensi pemulihan ekonomi nasional oleh Pemerintah Pusat,

dengan pengelolaan arus modal (capital inflow), nilai tukar (exchange rate),

menjaga laju inflasi di level regional, serta promosi investasi secara pesat pada

tahun 2010. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi dapat mengalami recovery

sehingga tahun 2010 mencapai sebesar 6,1 persen, lebih tinggi dari sasaran

(18)

Adapun pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten

Banyuwangi diprediksi stabil pada posisi 6,08-6,27 persen. Pertumbuhan ini

diprediksi merupakan kondisi stabilitas pergerakan ekonomi yang didukung

dengan peningkatan daya beli masyarakat, perluasan investasi, stimulasi belanja

pemerintah dan surplus perdagangan dalam daerah.

Perkembangan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi dapat

ditunjukkan oleh perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Angka Dasar

Harga Konstan (PDRB ADHK). Sejak tahun 2010, PDRB ADHK Kabupaten

Banyuwangi mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2010 sebesar

Rp 11,082 triliun, meningkat menjadi Rp 11,77 triliun pada tahun 2011 dan

diprediksi pada tahun 2012 meningkat menjadi . Secara rinci dapat dilihat pada

tabel berikut :

Tabel 1.1

PDRB ADHK dan Pertumbuhan Ekonomi

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009 - 2012

No

. Sektor

Realisasi Kondisi

Prediksi 2012

2009 2010 2011

1 Pertanian 5.134.326,25 5.450.548,92 5.774.827 6.144.416

2 Pertambangan &

Penggalian 426.031,59 452.270,83 482.773 513.670

3 Industri Pengolahan 588.452,20 624.694,90 657.300 699.367

4 Listrik, Gas dan Air

Minum 65.685,97 69.731,56 74.436 79.200

5 Bangunan 33.470,68 35.532,13 37.758 40.175

6 Perdagangan,

Restoran & Hotel 2.511.102,45 2.665.761,00 2.873.804 3.057.728

7 Pengangkutan &

Komunikasi 451.014,23 478.792,15 506.246 538.646

8 Bank dan Lembaga

Keuangan 671.011,14 712.338,65 744.334

791.971

9 Jasa-Jasa 558.234,84 592.616,47 625.667 665.709

Total 10.439.329,31 11.082.286,61 11.777.146 12.530.883

Pertumbuhan Ekonomi 6,04 persen 6,81 persen 6,27 persen 6,20 - 6,40 persen

Sumber: RKPD Kabupaten Banyuwangi 2012

Pertumbuhan ekonomi yang stabil tersebut terutama ditopang oleh sektor

perdagangan, hotel dan restoran yang mampu tumbuh rata-rata diatas 7% setiap

tahunnya. Pada tahun 2009, sektor ini memberikan kontribusi pada total PDRB

(19)

rupiah, 2,8 triliun rupiah pada tahun 2011 dan pada tahun 2012 diprediksi

mencapai 3,0 triliun rupiah.

Sementara sektor paling besar yang menopang tetap pada sektor

pertanian yang mempunyai kontribusi paling besar sejak beberapa tahun terakhir.

Namun demikian sektor ini tumbuh berada dibawah pertumbuhan ekonomi

kabupaten. Meskipun pertumbuhannya tidak signifikan namun sektor ini tetap

menjadi sektor paling dominan dengan angka tiap tahunnya mendekati 50% atau

separo nilai PDRB total Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2010 sektor ini

menyumbang sebesar 5,4 triliun rupiah, pada tahun 2011 sebesar 5,7 triliun

rupiah, pada tahun 2012 diprediksikan sebesar 6,1 triliun rupiah.

Berdasarkan prediksi PDRB di atas maka diperkirakan stabilitas ekonomi

di Kabupaten Banyuwangi dalam tahun 2012 tetap dijaga dan mulai

menunjukkan kondisi peningkatan. Perkembangan diharapkan terjadi dengan

jumlah barang dan jasa yang secara fisik dihasilkan bertambah besar

dibandingkan dengan tahun 2011. Pertumbuhan yang meningkat pada tahun

2012 diharapkan menumbuhkan sektor modern seperti jasa dan manufaktur

namun tetap harus dipastikan pertumbuhan juga terjadi di sektor-sektor dimana

orang miskin bekerja.

Peningkatan PDRB di Kabupaten Banyuwangi disebabkan peningkatan

konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, investasi, dan perdagangan antar

daerah. Di sektor investasi pada tahun 2009 terdapat penurunan modal asing

sebesar US $ 300.000 dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp. 130,38

miliar. Meskipun berbagai kemajuan pembangunan daerah telah dicapai pada

tahun 2010 dan pada tahun 2011 serta diprekdisikan naik pada tahun 2012,

namun masih banyak permasalahan yang harus dipecahkan dalam

pembangunan agar berbagai sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD

2010-2015 yang bermuara pada tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat.

Kemajuan perekonomian memang sudah sangat baik. Pertumbuhan

ekonomi yang sudah dicapai terus meningkat dan cukup tinggi. Namun demikian

penyumbang dari pertumbuhan ekonomi masih terpusat pada sektor-sektor dan

wilayah-wilayah tertentu. Manfaat dari pertumbuhan ekonomi masih belum

(20)

ekonomi yang berkeadilan merupakan suatu tantangan yang harus dapat

dicarikan jalan keluarnya.

1.4. Aspek Strategis Kabupaten Banyuwangi

1. Kondisi Geografis

Secara geografis, Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung timur

Pulau Jawa. Wilayah daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan

yang merupakan daerah penghasil produk perkebunan dan dataran rendah

dengan berbagai potensi produk hasil pertanian serta daerah sekitar garis

pantai yang membujur dari arah utara ke selatan yang merupakan daerah

penghasil berbagai biota laut.

Topografi wilayah daratan Kabupaten Banyuwangi bagian barat dan

utara pada umumnya merupakan pegunungan dan bagian selatan sebagian

besar merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan rata-rata pada wilayah

bagian barat dan utara 400, dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila

dibanding dengan bagian wilayah lainnya. Daratan yang datar sebagaian besar

mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 150, dengan rata-rata curah hujan

cukup memadai untuk ketersediaan budidaya pertanian.

Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten paling luas se-Jawa

Timur, dengan luas wilayah 5.782,50 km2. Wilayah Kabupaten Banyuwangi

sebagian besar masih merupakan daerah kawasan hutan, karena besaran

wilayah yang termasuk kawasan hutan lebih banyak kalau dibandingkan

kawasan-kawasan lainnya. Area kawasan hutan mencapai 183.396,34 ha atau

sekitar 31,72 persen; daerah persawahan sekitar 66.152 ha atau 11,44 persen

dan perkebunan dengan luas sekitar 82.143,63 ha atau 14,21 persen;

sedangkan yang dimanfaatkan sebagai daerah permukiman mencapai luas

sekitar 127.454,22 ha atau 22,04 persen. Sisanya telah dipergunakan oleh

penduduk Kabupaten Banyuwangi dengan berbagai manfaat yang ada, seperti

jalan, ladang dan lain-lainnya.

Berdasarkan data statistik, potensi lahan pertanian di Kabupaten

Banyuwangi berada dalam peringkat ketiga setelah Kabupaten Malang dan

Kabupaten Jember. Tidaklah mengherankan kalau Kabupaten Banyuwangi

menjadi salah satu lumbung pangan di Provinsi Jawa Timur. Disamping potensi

(21)

tanaman perkebunan dan kehutanan, serta memiliki potensi untuk

dikembangkan sebagai daerah penghasil ternak yang merupakan sumber

pertumbuhan baru perekonomian rakyat. Dengan bentangan pantai yang cukup

panjang, dalam perspektif ke depan, pengembangan sumberdaya kelautan

dapat dilakukan dengan berbagai upaya intensifikasi dan diversifikasi

pengelolaan kawasan pantai dan wilayah perairan laut.

Gambar 1.1

Luas Kabupaten Banyuwangi

Dibedakan Menurut Penggunaannya

Sumber : Banyuwangi Dalam Angka 2012

Kabupaten Banyuwangi memiliki panjang garis pantai sekitar 175,8 km, serta

jumlah pulau sebanyak 15 buah. Seluruh wilayah tersebut telah memberikan manfaat

besar bagi kemajuan ekonomi penduduk Kabupaten Banyuwangi. Dataran rendah

yang terbentang luas dari selatan hingga utara di mana di dalamnya terdapat banyak

sungai yang selalu mengalir di sepanjang tahun. Di Kabupaten Banyuwangi tercatat

35 DAS, sehingga disamping dapat mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga

berpengaruh positif terhadap tingkat kesuburan tanah.

Berdasarkan garis batas koordinatnya, posisi Kabupaten Banyuwangi terletak

antara 7o

, 43 – 80o

,46 Lintang Selatan dan 113o

,53 - 114o

,38 Bujur Timur.

Hutan (31,72 %) Sawah (11,44 %) Lain-lain (17,59 %) Ladang (2,80 %)

(22)

Wilayah Kabupaten Banyuwangi mempunyai ketinggian antara 25 – 100 meter di

atas permukaan air laut. Secara administratif Kabupaten Banyuwangi mempunyai

batas daerah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso.

b. Sebelah Timur : Selat Bali.

c. Sebelah Selatan : Samudera Indonesia.

d. Sebelah Barat : Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso.

Gambar 1.2

Peta Administrasi Kabupaten Banyuwangi

Wilayah Administrasi Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi terbagi atas 24

Kecamatan, 189 Desa dan 28 Kelurahan, dengan rincian sebagai berikut :

P. Watupagar P. Karangbolong P. Lutung P. Mustika P. Merah P. Bedil P. Kalong

P. Watulayar

(23)

Tabel 1.2

Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012

No. Kecamatan

Jumlah

Desa Kelurahan

1. Pesanggaran 5 -

2. Siliragung 5 -

3. Bangorejo 7 -

4. Purwoharjo 8 -

5. Tegaldlimo 9 -

6. Muncar 10 -

7. Cluring 9 -

8. Gambiran 6 -

9. Tegalsari 6 -

10. Glenmore 7 -

11. Kalibaru 6 -

12. Genteng 5 -

13. Srono 10 -

14. Rogojampi 18 -

15. Kabat 16 -

16. Singojuruh 11 -

17. Sempu 7 -

18. Songgon 9 -

19. Glagah 8 2

20. Licin 8 -

21. Banyuwangi - 18

22. Giri 2 4

23. Kalipuro 5 4

24. Wongsorejo 12 -

JUMLAH 189 28

(24)

2. Kondisi Demografis

Jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2012 mencapai

1.614.416 jiwa, dengan rincian jumlah penduduk laki – laki 799.441 jiwa dan

jumlah penduduk perempuan 814.975 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk rata –

rata 279,168 jiwa/km².

Tabel 1.3

Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012

No Kelompok Umur / Tahun Jumlah Prosentase 1 0 - 4 103.993 6,44 2 5 - 9 130.447 8,08 3 10 - 14 132.583 8,21 4 15 - 19 144.092 8,93 5 20 - 24 130.801 8,10 6 25 - 29 152.531 9,45 7 30 - 34 150.440 9,32 8 35 - 39 152.781 9,46 9 40 - 44 145.787 9,03 10 45 - 49 140.428 8,70 11 50 - 59 70.122 4,34 12 60 - 64 60.881 3,77 13 65 - 69 54.412 3,37 14 70 - 74 30.110 1,87 15 > 75 15.008 0,93 JUMLAH 1.614.416 100

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Banyuwangi

Penduduk Kabupaten Banyuwangi sebagian besar bermata pencaharian

bidang Pertanian / Perkebunan yang mendominasi keseluruhan jumlah

penduduk yaitu mencapai 28,06 %. Secara terperinci jumlah penduduk yang

(25)

Tabel 1.4

Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012

No Mata Pencaharian Jumlah Prosentase

1. Belum / Tidak Bekerja 275.106 27,02 2. Mengurus Rumah Tangga 122.259 12,01 3. Pelajar / Mahasiswa 234.622 23,04 4. Pensiunan 7.030 0,69 5. Pegawai Negeri Sipil 12.233 1,20 6. TNI 1.306 0,13 7. POLRI 1.200 0,12 8. Perdagangan 44.915 4,41 9. Pertanian / Perkebunan 285.668 28,06 10. Peternakan 607 0,06 11. Nelayan / Perikanan 11.385 1,12 12. Lainya 21.773 2,14 JUMLAH 1.018.104 100

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Banyuwangi

Sedangkan menurut kelompok tingkat pendidikan masih didominasi

oleh kelompok pendidikan tingkat SD / Sederajat yaitu sebesar 493.677 atau

31,29 % dari jumlah penduduk tahun 2011 sebesar 1.577.823 jiwa, secara rinci

dapat diuraikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 1.5

Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012

No Tingkat Pendidikan Jumlah Prosentase

1. Belum / Tidak Sekolah 309.707 19,63 2. Tidak Tamat SD 282.532 17,91 3. SD / Sederajat 493.677 31,29 4. SLTP / Sederajat 258.551 16,39 5. SLTA / Sederajat 195.787 12,41 6. Diploma I / II 5.736 0,36 7. Diploma III 6.604 0,42 8. Strata I 24.280 1,54 9. Strata II 900 0,06 10. Strata III 49 0,00 Jumlah 1.577.823 100

(26)

Potensi penduduk tersebut, diharapkan mampu memiliki daya dukung

terhadap pelaksanaan program dalam pembangunan yang ditujukan dalam

upaya pencapaian visi dan misi Kabupaten Banyuwangi.

Berdasarkan visi dan misi Kabupaten Banyuwangi, bahwa tujuan utama

dari pembangunan di Kabupaten Banyuwangi adalah untuk meningkatkan

kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat Banyuwangi. Tidak hanya

sejahtera melainkan juga mandiri dan berakhlak. Semua itu dilakukan melalui

dua pilar pokok yaitu peningkatan perekonomian dan kualitas sumber daya

manusia. Untuk mencapai kesejahteraan semacam itu, digunakan 4 (empat)

strategi pembangunan secara umum yaitu : pro growth, pro jop dan pro poor, pro environtment.

1. Pro Growth berarti pembangunan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan.

Strategi pertumbuhan tetap digunakan dengan tujuan untuk memperbesar

produk domestik. Namun demikian strategi pertumbuhan dilaksanakan secara

bersamaan dengan strategi pemerataan pembangunan melalui startegi jalur

ganda (dua track strategi). Strategis pertumbuhan dapat dilihat dari

meningkatnya PDRB dan pendapatan per kapita penduduk, namun disisi lain

terjadi ketimpangan antar wilayah dan antar penduduk. Ketimpangan ini terjadi

karena gagalnya asumsi trickle down effect sebagai mekanisme pemerataan

dalam strategi pertumbuhan ekonomi. Strategi pro growth dilaksanakan

dengan tidak mengabaikan aspek keadilan dan pemenuhan hak-hak dasar

rakyat baik dalam bidang soial ekonomi dan politik sehingga dicapai

kesejahteraan yang berkeadilan.Upaya yang dilakukan melalui sejumlah

instrumen yaitu peningkatan investasi, penciptaan iklim usaha yang kondusif,

pembangunan infrastruktur, dan pemberdayaan koperasi dan UMKM.

2. Pro job berarti pembangunan diarahkan untuk mendorong terbukanya peluang

kerja bagi angkatan kerja, khususnya tenaga terdidik (bagi lulusan sekolah

setingkat SLTA dan Perguruan Tinggi) dan tenaga terlatih. Strategi yang

dilakukan meliputi tiga langkah : 1) Perluasan kesempatan kerja berarti

mendorong berkembangnya sektor riil di Kabupaten Banyuwangi terutama

sektor pertanian, perdagangan dan jasa, industri berbasis pertanian dan

pariwisata; 2) Peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja yang

(27)

Menjaga iklim ketenagakerjaan melalui penataan hubungan industrial dan

perlindungan tenaga kerja.

3. Pro poor berarti pembangunan yang memiliki dimensi keberpihakan kepada

kelompok-kelompok masyarakat yang tidak beruntung atau termarjinalkan.

Strategi yang dilakukan meliputi tiga klaster sesuai dengan tingkat

kemiskinannya, yaitu : 1) Mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin,

yang diarahkan pada rumah tangga sangat miskin, miskin, dan hampir miskin;

2) Meningkatkan pendapatan dan taraf hidup kelompok masyarakat melalui

usaha dan bekerja bersama untuk mencapai keberdayaan dan

kemandiriannya; 3) Membuka akses permodalan bagi pelaku usaha mikro

dan kecil.

4. Pro environtment, diarahkan pada pengelolaan sumber daya alam yang

mengikuti prisip pengelolaan yang lestari terhadap lingkungan, sehingga tidak

mengakibatkan terjadinya pencemaran tanah, air, dan udara yang pada

gilirannya mengalami degradasi yang berakibat pada timbulnya bencana.

1.5. Struktur Organisasi Perangkat Daerah

Struktur Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Banyuwangi mengacu

pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat

Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang

Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah, yang telah

ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang

Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Banyuwangi.

Adapun Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Banyuwangi

berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 adalah sebagai berikut :

1. Sekretariat Daerah;

2. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

3. Dinas Daerah (16 Dinas) : Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olah Raga,

Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Peternakan, Dinas

Pekerjaan Umum Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang, Dinas Pekerjaan

(28)

Perdagangan dan Pertambangan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil,

Menengah, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Dinas Sosial,

Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas

Kelautan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil dan Dinas Pendapatan.

4. Lembaga Teknis Daerah :

-Inspektorat;

-(8 Badan) : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan

Kepegawaian dan Diklat, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah,

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan

Pemerintahan Desa, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga

Berencana, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, Badan Lingkungan Hidup;

-Kantor (2 Kantor) : Kantor Ketahanan Pangan, dan Kantor Perpustakaan,

Arsip dan Dokumentasi;

-RSUD (2 RSUD) : RSUD Blambangan dan RSUD Genteng

5. Kecamatan (24 Kecamatan) : Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Licin,

Banyuwangi, Kabat, Rpgojampi, Songgon, Singojuruh, Sempu, Genteng,

Glenmore, Kalibaru, Tegalsari, Srono, Muncar, Tegaldlimo, Purwoharjo,

Bangorejo, Cluring, Gambiran, Pesanggaran dan Siliragung;

6. Kelurahan (28) : Pakis, Sobo, Kebalenan, Penganjuran, Tukangkayu,

Kertosari, Karangrejo, Kepatihan, Panderejo, Singonegaran, Temenggungan,

Kampungmelayu, Kampungmandar, Lateng, Singotrunan, Pengantigan,

Sumberejo, Tamanbaru, Kalipuro, Klatak, Gombengsari, Bulusan, Banjarsari,

Bakungan, Boyolangu, Mojopanggung, Penataban dan Giri.

Khusus Satuan Polisi Pamong Praja dan Badan Penanggulangan Bencana

Daerah diatur dalam Perda tersendiri, yaitu :

-Satuan Polisi Pamong Praja berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2008 tentang

Organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Banyuwangi;

-Badan Penanggulangan Bencana Daerah berdasarkan Perda Nomor 16 Tahun

2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana

(29)

BAB II

PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

2.1. Rencana Strategis Tahun 2010 - 2015

Dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP),

perencanaan strategis merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh

instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan lingkungan strategis baik

lokal, nasional maupun global dan tetap berada dalam tatanan Sistem

Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pendekatan

perencanaan strategis yang jelas dan sinergis, instansi pemerintah lebih dapat

menyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang, dan kendala yang

dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas kinerjanya.

RPJMD Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010-2015 merupakan Dokumen

perencanaan strategis yang disusun dan dirumuskan setiap lima tahun

(perencanaan jangka menengah) yang menggambarkan visi, misi, tujuan,

sasaran, strategi dan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah.

RPJMD secara sistematis mengedepankan isu-isu lokal, yang diterjemahkan

kedalam bentuk strategi kebijakan dan rencana pembangunan yang terarah,

efektif dan berkesinambungan sehingga dapat diimplementasikan secara

bertahap sesuai dengan skala prioritas dan kemampuan anggaran pembiayaan.

a. Visi

Visi berkaitan pandangan ke depan menyangkut kemana instansi

Pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara

konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi merupakan

rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode

perencanaan, untuk mewujudkan sasaran yang akan dicapai dalam jangka

waktu tertentu. Jadi visi adalah suatu gambaran tentang keadaan masa

depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan instansi

(30)

Berdasarkan kondisi Kabupaten Banyuwangi dewasa ini, serta

peluang, tantangan dan isu strategis yang akan dihadapi dalam 5 tahun

mendatang, pasangan H. ABDULLAH AZWAR ANAS (Bupati) – YUSUF

WIDYATMOKO (Wakil Bupati) membuat Visi Kabupaten Banyuwangi tahun 2010-2015 sebagai berikut :

TERWUJUDNYA MASYARAKAT BANYUWANGI YANG MANDIRI,

SEJAHTERA DAN BERAKHLAK MULIA MELALUI PENINGKATAN

PEREKONOMIAN DAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA .

Penjelasan dari Visi sebagai berikut:

1) Kemandirian Daerah adalah kemampuan nyata pemerintah daerah dan

masyarakatnya dalam mengatur dan mengurus kepentingan

daerah/rumah tangganya sendiri menurut prakarsa dan aspirasi

masyarakatnya, termasuk di dalamnya upaya yang sungguh-sungguh

agar secara bertahap bisa mengurangi ketergantungan terhadap

pihak-pihak lain (luar) tanpa kehilangan adanya kerjasama dengan

daerah-daerah lain yang saling menguntungkan.

2) Kesejahteraan Masyarakat yang Berakhlak Mulia, ditandai oleh semakin

meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat, dan

adanya perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar pokok

manusia, seperti pangan, papan, sandang, kesehatan, pendidikan dan

lapangan kerja, yang didukung oleh infrastruktur fisik, sosial budaya

ekonomi yang memadai. Peningkatan kualitas kehidupan ini akan lebih

difokuskan pada upaya pengentasan masyarakat miskin sehingga

secara simultan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara

keseluruhan, serta adanya iklim berusaha dan berkegiatan ekonomi

yang sehat untuk kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

3) Perlu ditekankan disini bahwa kemajuan-kemajuan yang ingin diraih

tidak hanya sekedar kemajuan di bidang fisik dan ekonomi saja.

Kemajuan-kemajuan itu juga berkaitan dengan dimensi mental –

spiritual, keagamaan, kebudayaan dan non fisik, agar kehidupan

masyarakat benar-benar sejahtera lahir dan batin serta berakhlak mulia.

4) Peningkatan perekonomian diarahkan untuk meningkatkan

pertumbuhan perekonomian rakyat dengan mendorong secara

(31)

industri, perdagangan dan jasa, lembaga keuangan dan koperasi, serta

pariwisata yang didukung oleh infrastruktur fisik dan non-fisik yang

memadai.

5) Untuk mempercepat program-program tersebut perlu ditingkatkan

pelayanan publik melalui optimalisasi kinerja instansi Pemerintah

Daerah yang efektif, terpadu dan berkesinambungan.

Visi Kabupaten Banyuwangi tersebut berpedoman pada Visi

Pembangunan Kabupaten Banyuwangi yang termuat dalam Rencana Jangka

Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2005-2025, yaitu :

KABUPATEN BANYUWANGI YANG RELIGIUS, SEJAHTERA DAN

MANDIRI BERBASIS AGROBISNIS DAN EKOWISATA TERPADU , dengan

Misinya :

1. Mewujudkan masyarakat Kabupaten Banyuwangi yang religius, dan

menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal;

2. Mewujudkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;

3. Mewujudkan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan SDM berasas

pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;

4. Mewujudkan peningkatan pembangunan insfrastruktur sosial dan ekonomi

yang berkelanjutan;

5. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, profesional, dan

bertanggung jawab;

6. Mewujudkan Kabupaten Banyuwangi yang mandiri berbasis agribisnis

terpadu;

7. Mewujudkan Kabupaten Banyuwangi yang mandiri berbasi ekowisata

terpadu.

b. Misi

Misi adalah perwujudan dari keinginan menyatukan langkah dan gerak

dalam mencapai visi yang telah ditetapkan. Untuk mewujudkan Visi pasangan

H. ABDULLAH AZWAR ANAS (Bupati) – YUSUF WIDYATMOKO (Wakil

(32)

1) Mewujudkan pemerintahan yang efektif, bersih dan demokratis melalui

penyelenggaraan pemerintahan yang profesional, aspiratif, partisipatif dan

transparan.

2) Meningkatkan kebersamaan dan kerjasama antara pemerintah, pelaku

usaha dan kelompok-kelompok masyarakat untuk mempercepat

peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3) Membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan

mengoptimalkan sumberdaya daerah yang berpijak pada pemberdayaan

masyarakat, berkelanjutan dan aspek kelestarian lingkungan.

4) Meningkatkan sumber-sumber pendanaan dan ketepatan alokasi investasi

pembangunan melalui penciptaan iklim yang kondusif untuk

pengembangan usaha dan penciptaan lapangan kerja.

5) Mengoptimalkan ketepatan alokasi dan distribusi sumber-sumber daerah,

khususnya APBD, untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

6) Meningkatkan kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

7) Meningkatkan kualitas pelayanan bidang kesehatan, pendidikan dan

sosial dasar lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta kearifan lokal.

8) Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana publik dengan

memperhatikan kelestarian lingkungan.

9) Mendorong terciptanya ketentraman dan ketertiban dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui pembuatan peraturan

daerah, penegakan peraturan dan pelaksanaan hukum yang berkeadilan.

Dari sembilan misi diatas dapat diintisarikan menjadi beberapa poin

penting yang saling berkaitan satu sama lain dalam upaya mewujudkan visi

yang telah ditetapkan. Intisari Misi adalah sebagai berikut:

1) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean

governance).

2) Mewujudkan Aksesibilitas dan Kualitas Pelayanan bidang Pendidikan,

kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.

3) Mewujudkan daya saing ekonomi daerah melalui pertumbuhan ekonomi

yang berkualitas dan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

(33)

5) Mewujudkan kesejahateraan masyarakat melalui optimalisasi

sumberdaya daerah berbasis pemberdayaan masyarakat,

pembangunan berkelanjutan, berkeadilan dan berwawasan lingkungan.

c. Tujuan

Tujuan merupakan implementasi dari pernyataan misi yang telah

ditentukan. Untuk mencapai visi dan misi telah ditetapkan 7 (tujuh) tujuan,

yaitu sebagai berikut :

1) Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih melalui

harmonisasi kebijakan yang komprehensif dan berkeadilan.

2) Meningkatkan pelayanan publik yang berkualitas, merata dan terjangkau

bagi seluruh masyarakat.

3) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi berkualitas dan merata dalam

upaya mewujudkan kemadirian ekonomi masyarakat.

4) Meningkatkan pembangunan ekonomi terintegrasi.

5) Meningkatkan ketersediaan infrastruktur publik.

6) Menurunkan kesenjangan antar wilayah khususnya dalam hal

ketersediaan sarana dan prasarana fisik.

7) Meningkatkan kesejahteraan melalui optimalisasi sumberdaya daerah

berbasis pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutan dan

berwawasan lingkungan.

d. Sasaran

Sasaran merupakan gambaran yang diinginkan melalui tindakan -

tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Sasaran merupakan

penjabaran dari tujuan organisasi.

Berdasarkan tujuan di atas, sasaran-sasaran strategis yang akan

dicapai Pemerintah Kabupaten Banyuwangi selama periode RPJMD disertai

indikator kinerja, dimana indikator kinerja ini sebagai alat ukur keberhasilan

(34)

. MISI I :

Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik dan Bersih (Good and Clean Governance Tujuan 1 :

Meningkatkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan Bersih melalui Harmonisasi Kebijakan Yang Komprehensif dan Berkeadilan

SASARAN INDIKATOR KINERJA

Sasaran Strategis 1 : Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih

Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk

Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Pengelolaan arsip secara baku

Peningkatan SDM pengelola kearsipan Tersimpannya arsip inaktif dan statis Cakupan patroli petugas Satpol PP

Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten

Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK)

Cakupan sarana prasarana perkantoran pemerintahan desa yang baik

Sistim Informasi Manajemen Pemda Rasio bayi berAkte Kelahiran Rasio pasangan berAkte Nikah

Kepemilikan KTP

Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk Ketersediaan database kependudukan skala provinsi Penerapan KTP nasional berbasis NIK

Tersedianya dokumen perencanaan : RPJPD yang telah ditetapkan dengan Perda

Tersedianya dokumen perencanaan : RPJMD yang telah ditetapkan dengan Perda / Perkada

Tersedianya dokumen perencanaan : RKPD yang telah ditetapkan dengan Perkada

Penjabaran program RPJMD kedalam RKPD Buku "Kabupaten dalam Angka"

Buku "PDRB Kabupaten" Sasaran Strategis 2 :

Meningkatnya kualitas SDM aparatur pemerintah daerah yang ditandai oleh

meningkatnya etos kerja dan budaya kerja pegawai

Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat

Sasaran Strategis 3 : Menguatnya kapasitas kelembagaan melalui regulasi yang konprehensif dan berkeadilan

Jenis, kelas, dan jumlah restoran

Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel Lahan bersertifikat

Penyelesaian kasus tanah Sasaran Strategis 4 :

Meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum

Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP Kegiatan pembinaan politik daerah

Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk

Penegakan PERDA

Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di Kabupaten

Angka kriminalitas

Jumlah demo

(35)

MISI II :

Mewujudkan Aksesibilitas dan Kualitas Pelayanan Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Kebutuhan Dasar Lainnya

Tujuan 2 :

Meningkatkan Pelayanan Publik yang Berkualitas, Merata dan Terjangkau Bagi Seluruh Masyarakat

SASARAN INDIKATOR KINERJA

Sasaran Strategis 5 : Menurunnya angka buta aksara

Angka melek huruf (AMH) Angka rata-rata lama sekolah Angka partisipasi kasar SD/MI Angka partisipasi kasar SLTP Angka partisipasi kasar SLTA Angka Partisipasi Murni :

Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Sasaran Strategis 6 :

Meningkatnya angka partisipasi pendidikan

Pendidikan Dasar : Angka partisipasi sekolah

Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah Rasio guru/murid

Rasio guru/murid per kelas rata-rata

Pendidikan Menengah Pertama : (SLTP/MTs) : Angka partisipasi sekolah

Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio guru terhadap murid

Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata Pendidikan Menengah Atas : (SMA/SMK/MA) : Angka partisipasi sekolah

Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Rasio guru terhadap murid

Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) :

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Angka Kelulusan :

Angka Kelulusan (AL) SD/MI Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA

Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

Sasaran Strategis 7 : Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan

Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI

Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Jumlah perpustakaan

Jumlah pengunjung perpustakaan pertahun Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Sasaran Strategis 8 :

Meningkatnya kesadaran moral peserta didik

-

Sasaran Strategis 9 :

Menurunnya angka kejahatan bersumber dekadensi moral

-

Sasaran Strategis 9 : Meningkatnya usia harapan hidup

Angka usia harapan hidup

Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Cakupan kunjungan bayi

(36)

BTO (Bed Turn Over) TOI ( Turn Over Interval) Angka Kematian > 48 jam (GDR) Angka Kematian < 48 jam (NDR) Sasaran Strategis 10

Menurunnya angka kematian bayi

Angka kelangsungan hidup bayi (kematian bayi per 1000 kelahiran)

Sasaran Strategis 11

Menurunnya jumlah kematian maternal

-

Sasaran Strategis 13 Menurunnya angka kematian ibu melahirkan

Angka kematian ibu melahirkan (per 100.000 kelahiran hidup) Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani

Sasaran Strategis 14 Menurunnya anak balita dibawah garis merah

Persentase balita gizi buruk

Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Sasaran Strategis 15

Menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita

Rasio posyandu per satuan balita

Sasaran Strategis 16 Meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

Sasaran Strategis 17

Meningkatnya peserta KB aktif

Rata-rata jumlah anak per keluarga Rasio akseptor KB

Cakupan peserta KB aktif

Keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I Sasaran Strategis 18

Tersedianya obat dan perbekalan kesehatan yang aman, bermutu dan

bermanfaat serta terjangkau oleh masyarakat

Cakupan puskesmas

Cakupan pembantu puskesmas

Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per 30.000 penduduk Rasio Rumah Sakit per 10.000 penduduk

Sasaran Strategis 19 Tersedianya berbagai kebijakan, pedoman dan akses sistem informasi kesehatan (SIK) daerah di seluruh institusi pelayanan kesehatan

-

Sasaran Strategis 20 Tersedianya tenaga kesehatan yang cukup, berkualitas dan profesional

Rasio dokter per satuan penduduk

Rasio tenaga kefarmasian per 100.000 penduduk Rasio tenaga ahli gizi per 100.000 penduduk Jumlah Rumah Sakit

Jumlah Puskemas, Pustu, Pusling Jumlah Tenaga Medis

Keperawatan (perawat dan bidan) Kefarmasian (apoteker dan ahli farmasi)

Tenaga kesehatan

Sanitarian

Ahli gizi

Rasio tenaga medis per 1000 penduduk

Rasio tenaga keperawatan per 100.000 penduduk Rasio tenaga Kesehatan per 1000 penduduk Sasaran Strategis 21 :

Terberdayakannya masyarakat melalui keterlibatan di dalam pelayanan kesehatan, seperti terlibat dalam Posyandu, Polindes, dan Pos Siaga serta Poskestren

(37)

MISI III :

Mewujudkan Daya Saing Ekonomi Daerah melalui Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas dan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Tujuan 3 :

Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas dan Merata Dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Eonomi Masyarakat

SASARAN INDIKATOR KINERJA

Sasaran Strategis 22 : Meningkatnya daya saing daerah dan kemandirian ekonomi berbasis pertanian

Produksi daging (Ton/Th) Produksi telor (Ton/Th) Produksi susu (ton/Th)

Mortalitas ternak (angka kematian ternak) Kejadian penyakit

Jumlah Puskewan

Kontribusi sektor peternakan terhadap PDRB Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB

Produktifitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar Kontribusi sektor pertanian / perkebunan terhadap PDRB

Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB Nilai tukar petani

Gabah Beras (Ton)

Kesediaan pangan utama Produksi perikanan Konsumsi ikan

Sasaran Strategis 23 : Meningkatkan industri olahan dan kreatif berbasis pertanian

Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Ekspor bersih perdagangan

Kontribusi sektor industri terhadap PDRB

Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor industri Pertumbuhan industri

Sasaran Strategis 24 : Termanfaatkannya fungsi ekologi, ekonomi dan sosial hutan

Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan kawasan hutan

Sasaran Strategis 25 : Meningkatnya investasi di daerah baik PMA maupun PMDN

Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN / PMA) Rasio daya serap tenaga kerja

Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB

Kenaikan / penurunan nilai realisasi PMDN (milyar rupiah) Sasaran Strategis 26 :

Meningkatnya pemanfaatan potensi pariwisata seperti Kawah Ijen, Pantai Plengkung, Sukamade dan lainnya

Kunjungan wisata domistik Kunjungan wisata mancanegara

Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB

Sasaran Strategis 27 : Meningkatnya profesionalisme pengelolaan koperasi dan UMKM

Prosentase koperasi aktif (melaksanakan RAT) Jumlah UKM non BPR/LKM UKM

(38)

MISI III :

Mewujudkan Daya Saing Ekonomi Daerah melalui Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas dan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Tujuan 4 :

Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Terintegrasi SASARAN INDIKATOR KINERJA

Sasaran Strategis 28 : Meningkatnya jejaring antar daerah, provinsi dan pusat serta jejaring pelaku ekonomi

Jenis dan jumlah bank dan cabang

Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang

Sasaran Strategis 29 : Tersusunnya regulasi yang berhubungan dengan

kompetisi kegiatan ekonomi di daerah

Lama proses perjinan Penyelesaian ijin lokasi

Sistem Informasi Pelayanan Perijinan dan Adiministrasi Pemerintah Pajak daerah (milyar RP)

Retribusi Daerah (milyar RP) Macam pajak daerah Macam retribusi daerah

Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha

Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Perda ekonomi kerakyatan

MISI IV :

Meningkatnya Kuantitas dan Kualitas Infranstruktur Publik Tujuan 5 :

Meningkatkan Ketersediaan Infrastruktur Publik SASARAN INDIKATOR KINERJA

Sasaran Strategis 30 : Meningkatnya sarana

informasi dan alat transportasi

Jumlah jaringan komunikasi Jumlah surat kabar nasional / lokal Jumlah penyiaran radio/TV lokal Jumlah penyiaran TV lokal Web site milik pemerintah daerah

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Jumlah arus penumpang angkutan umum

Rasio ijin trayek

Jumlah uji kir angkutan umum

Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis

Angkutan darat

Kepemilikan KIR angkutan umum

Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) Biaya pengujian kelayakan angkutan umum Pemasangan Rambu-rambu

Sasaran Strategis 31: Meningkatnya kualitas dan kuantitas jalan dan sarana serta prasarana yang menghubungkan daerah-daerah tujuan wisata

Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik

Sasaran Strategis 32 : Meningkatnya sarana dan prasarana penunjang pertanian

Rasio jaringan irigasi dan luas daerah irigasi

Rasio ketersediaan air dan kebutuhan air untuk irigasi dan lain keperluan

Rasio ketersediaan air pada musim hujan dan musim kemarau (degradasi DAS)

Rasio pemanfaatan air tanah dan air permukaan

Rasio bangunan pengamanan pantai dengan panjang pantai yang terkenan abrasi

Gambar

Tabel 1.1
Gambar 1.1 Luas Kabupaten Banyuwangi
Gambar 1.2 Peta Administrasi Kabupaten Banyuwangi
Tabel 1.2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dan sasaran strategis agar dapat diukur maka perlu ditetapkan indikator kinerja utama, sesuai Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor

Sasaran strategis meningkatkan kontribusi unit inkubator bisnis memiliki indikator kinerja yaitu jumlah tenant yang sesuai dengan target. Capaian kinerja pada

Pencapaian sasaran strategis dengan indikator kinerja utama (IKU) merupakan dampak dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat Industri kimia hulu pada

Laporan kinerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali tahun 2018 menyajikan tingkat pencapaian 1 SK (Sasaran Strategis yaitu Peningkatan penelitian, pengembangan

Indikator Kinerja Utama yang berkaitan dengan Tersedianya Data Potensi PAD sebagai Informasi yang Akuntabelsecara umum pencapaian sasaran strategis mengalami

Berdasarkan hasi pengukuran evaluasi dan analisis pencapaian sasaran strategik yang telah melalui proses penyesuian dan penajaman terhadap sasaran yang didukung indikator

Sepuluh Sasaran Strategis yang tertuang dalam RENSTRA BAPETEN tersebut adalah : (1) Meningkatnya ketersediaan peraturan yang dapat diimplementasikan, yang harmonis dengan

Berdasarkan hasil pengukuran, tingkat pencapaian sasaran strategis Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Payakumbuh tahun 2018 dengan indikator sasaran