BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Dampak
Pengertian dampak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengaruh
yang mendatangkan akibat baik positif maupun negatif. Pengaruh adalah daya
yang ada dan timbul dari sesuatu (orang,benda) yang ikut membentuk watak,
kepercayaan atau perbuatan seseorang. Pengaruh adalah suatu keadaan dimana
ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat antara apa yang
mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi (KBBI Online, 2010).
Untuk memperkirakan dampak sementara yang dapat dirasakan oleh petani kopi
di Desa Guru Kinayan, dapat dilihat dari dampak erupsi Merapi. Dampak lain dari
erupsi Merapi adalah masalah sosial ekonomi masyarakat tani. Disamping
kehilangan sanak saudara, harta benda, mereka juga kehilangan mata pencaharian
dari usahataninya (Martini, dkk., 2011).
2.1.2 Bencana Alam
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor
Menurut Priyatin (2011) bencana alam yang menimpa suatu kawasan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar baik dari kerusakan ekosistem,
hilangnya kawasan pemukiman dan lokasi tanah garapan maupun kehilangan
nyawa manusia dan ternak peliharaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BPNB) mengelompokkan bencana alam yang ada di Indonesia menjadi delapan
hal, salah satunya bencana letusan gunung berapi.
Menurut Nugroho dan Wahyunto (2011) pengelolaan bencana alam gunung berapi di lahan pertanian, tidak terpisahkan dengan pengelolaan umum daerah
kawasan bencana. Di daerah seperti kawasan bencana gunung Merapi, lahan
pertanian dan lahan pemukiman merupakan bagian yang paling jelas terkena
dampak suatu kejadian erupsi. Lahan pertanian yang terkena dampak letusan
gunung berapi seperti lahan-lahan disekitar Gunung Merapi dan gunung berapi
lainnya di Indonesia mengalami perubahan sifat kimia, fisika, serta biologi yang
besarnya bergantung pada sifat kimia dan fisika abu yang menimbun, dan
ketebalan timbunan. Oleh karena itu perlu suatu tindakan perbaikan yang
ditujukan untuk (1) Pemulihan kesuburan tanah, seperti (a) pengurangan tebal
timbunan abu yang tidak subur, atau (b) membenamkan dan mengaduk abu
vulkanis yang subur dengan tanah asal pada saat pengolahan tanah (c) pemberian
bahan organik; dan (2) peningkatan produktivitas tanaman hortikultura melalui
2.1.3 Gunung Sinabung
Gunung Sinabung adalah gunung di Daratan Tinggi Karo, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung dan Sibayak adalah dua gunung berapi aktif
yang berdekatan di Sumatera Utara. Ketinggian Gunung Sinabung 2.460 meter.
Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah
tercatat meletus sejak tahun 1600. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah
3o10” LU, 98o23” BT.
Peristiwa letusan pertama sejak 27 agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap
dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 sekitar pukul 00.15 WIB Gunung
Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi “awas”.
28.000 warga di sekitarnya dari 29 desa dievakuasi dan ditampung di tempat yang
lebih aman. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya
menuju timur laut. Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung
Sinabung (Purba, 2013).
Material Gunung Merapi yang berpengaruh terhadap pertanian berupa (1) abu
vulkanik yang tersembur ke angkasa, lalu terdeposit di lahan pertanian, atau
menutupi pertanaman padi dan palawija dalam berbagai ketebalan dan luasan; (2)
lahar dingin yang secara fisik dapat merusak pertanaman pertanian dengan tingkat
keparahan dari luasan yang berbeda; (3) gas ataupun cairan lahar yang keluar dari
perut gunung, biasanya didominasi oleh sulfur yang ditandai dari baunya yang
menyengat hidung. Di antara ketiga material butir (1) lebih luas dampaknya
2.1.4 Sosial Ekonomi
Menurut Gregory Grossan (1984), yang dimaksud dengan sistem ekonomi adalah sekumpulan komponen-komponen atau unsur-unsur terdiri atas unit-unit
dan agen-agen ekonomi serta lembaga-lembaga (institusi-institusi) ekonomi, yang
bukan saja saling berhubungan dan berinteraksi, melainkan juga sampai tingkat
tertentu saling menopang dan mempengaruhi. Dengan
demikian,komponen-komponen tersebut memiliki hubungan fungsional yang dapat menjadi alat
koordinasi alokasi sumber daya ekonomi. Perekonomian yang didalamnya
individu-individu dan keluarga-keluarga memiliki kesalingketergantungan disebut
sosial ekonomi (social economy)(Rahardja dan Manurung, 2008).
Sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan
organisasi, karakteristik populasi, adalah faktor-faktor sosial yang menata perilaku
manusia. Dalam organisasi, hubungan antara anggota dengan ketua diatur oleh
sistem peranan dan norma-norma kelompok. Besar-kecilnya organisasi akan
mempengaruhi jaringan komunikasi dan sistem pengambilan keputusan.
Karakteristik populasi seperti usia, kecerdasan, karakteristik biologis,
mempengaruhi pola-pola perilaku anggota-anggota populasi itu. Kelompok orang
tua melahirkan pola perilaku yang pasti berbeda dengan kelompok anak-anak
muda. Dari segi komunikasi, teori penyebaran inovasi (Rogers & Shoemaker,
1971) dan teori kritik (Habernas, 1979) memperlihatkan bagaimana sistem
komunikasi sangat dipengaruhi oleh struktur sosial (Rakhmat, 1992).
Kerugian ekonomi pada usahatani akibat erupsi Merapi dapat berupa kerugian
harga jual pada kondisi bencana. Kerugian pada tingkat petani mencapai puluhan
juta rupiah, sedangkan tingkat regional mencapai triliunan rupiah (Ilham, 2010).
2.1.5 Penelitian Terdahulu
Bil Bela Ginting (2012)menyoroti masalah dan dampak bencana pasca meletusnya Gunung Sinabung dalam kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi
keluarga di Desa Kutarayat Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, yaitu
dengan cara melihat dan menganalisa data penelitian, yang pada dasarnya
membandingkan keadaan sosial ekonomi masyarakat sebelum dan
sesudah meletusnya Gunung Sinabung di Tanah Karo.Dalam hal ini, dampak
sebelum dan sesudah meletusnya Gunung Sinabung terhadap sosial ekonomi
masyarakat tidak positip, artinya pasca meletusnya Gunung Sinabung
memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penurunan tingkat sosial
ekonomi masyarakat baik dalam tingkat pendapatan atau penghasilan, sumber
pendapatan untuk pendidikan anak, serta kesehatan. Hasil penelitian yang
diperoleh yaitu ”Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara bencana pasca
meletusnya Gunung Sinabung terhadap kehidupan sosial ekonomi di Desa
Kutarayat Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo dan Ho : Tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara bencana pasca meletusnya Gunung Sinabung
terhadap kehidupan sosial ekonomi di Desa Kutarayat Kecamatan Naman
Teran Kabupaten Karo” maka Ha diterima dan Ho ditolak setelah diadakan
analisa data melalui uji t. Bencana meletusnya Gunung Sinabung memberikan
dampak yang signifikan terhadap sosial ekonomi di Desa Kutarayat Kecamatan
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Pendapatan dan Sumber Pendapatan
Pendapatan berupa uang adalah segala penghasilan berupa uang yang sifatnya
reguler dan yang diterima biasanya sebagai balas jasa atau kontra prestasi.
Sumber-sumber yang utama adalah gaji dan upah serta lain-lain balas jasa serupa
dari majikan; pendapatan bersih dari usaha sendiri dan pekerjaan bebas;
pendapatan dari penjualan barang yang dipelihara di halaman rumah, hasil
investasi seperti bunga modal, tanah, uang pensiun, jaminan sosial serta
keuntungan sosial (Sumardi dan Evers, 1985).
Selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani
disebut pendapatan bersih usahatani. Pendapatan bersih usahatani mengukur
imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi
kerja, pengelolaan, dan modal sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke
dalam usahatani, oleh karena itu pendapatan bersih merupakan ukuran keuntungan
usahatani yang dapat digunakan untuk membandingkan beberapa penampilan
usahatani. Petani dalam memperoleh pendapatan bersih yang tinggi maka petani
harus mengupayakan penerimaan yang tinggi dan biaya produksi yang rendah,
menggunakan teknologi yang baik, mengupayakan harga input yang rendah, dan
mengatur skala produksi yang efisien. Pendapatan bersih diperoleh dengan
Pd = TR-TC
Dimana :
Pd = Pendapatan bersih usahatani
TR = Total penerimaan
TC = Total biaya
Total pendapatan merupakan seluruh sumber pendapatan yang diperoleh dari hasil
usahatani kopi, usahatani diluar kopi dan usaha diluar usahatani
(Soekartawi, dkk., 1984).
Pada saat tingkat income masyarakat sangat rendah pada umumnya pengeluaran
rumah tangga lebih besar dari pendapatannya sehingga pengeluaran konsumsi
tidak hanya dibiayai oleh pendapatannya saja tetapi juga menggunakan
sumber-sumber lain seperti tabungan dari wakil sebelumnya menjual harta kekayaan
rumah tangga atau meminjam. Selanjutnya pada suatu tingkat income yang cukup
tinggi, konsumsi rumah tangga akan sama besar dengan income-nya. Bila income
kemudian meningkat lagi pada saat itu pengeluaran rumah tangga dapat
menabung kelebihan income yang tidak digunakan untuk konsumsi
(Herlambang, dkk., 2001).
Mosher (1987), berpendapat bahwa tolak ukur yang penting dalam melihat kesejahteraan petani adalah pendapatan rumah tangga, sebab beberapa aspek dari
kesejahteraan tergantung pada tingkat pendapatan petani. Besarnya pendapatan
petani sendiri akan mempengaruhi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu
pangan, sandang, papan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. Tingkat pendapatan
rumah tangga. Umumnya pendapatan rumah tangga di pedesaan tidak berasal dari
satu sumber, tetapi berasal dari dua atau lebih sumber pendapatan.
Pendapatan rumah tangga petani tidak hanya dari usahatani tetapi juga dari luar
usahatani untuk mencukupi kebutuhannya. Berbagai sumber pendapatan dapat
digolongkan sebagai sumber pendapatan pokok dan sumber pendapatan tambahan
berdasarkan besarnya pendapatan(Nurmanaf, 1985).
Sistem nilai budaya dan sikap merupakan faktor sosial masyarakat yang dapat
menyebabkan timbulnya pola-pola berfikir tertentu pada suatu masyarakat.
Pola-pola berfikir ini dapat berubah dan kemudian mempengaruhi tindakan serta
kelakuan mereka, baik dalam kehidpan sehari-hari, maupun dalam membuat
keputusan-keputusan yang penting dalam hidup (Koentjaraningrat, 1983).
Diduga ada beberapa sikap mental korban erupsi Gunung Sinabung yang
terpengaruh sebagai dampak bencana erupsi Gunung Sinabung. Untuk melihat
permasalahan secara utuh perlu diungkap beberapa pertanyaan yang cukup
mendasar yaitu orientasi nilai budaya sikap mental petani kopi korban erupsi
Gunung Sinabung. Variabel-variabel yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah
pendidikan, sumber pangan, perumahan, dan kepemilikan lahan.
2.2.2 Pendidikan
Untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan Sumber Daya Manusia dapat
diawali dengan peningkatan pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal
maupun non formal. Konsep pengembangan Sumber Daya Manusia melalui dua
dari pendidikan TK sampai pada perguruan tinggi. Jalur ini menyediakan
pengetahuan dasar yang bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan lain di
dalam kehidupan sehari-hari, baik di sektor formal maupun informal.
Bagi mereka yang hanya menamatkan pendidikan rendah banyak mengalami
kesulitan bekerja, tetapi tidak demikian untuk lulusan di pendidikan tinggi. Di
tingkat yang lebih tinggi proses pendidikan diberikan pada pengembangan aspek
kognisi atau kemampuan berpikir konseptual. Untuk tingkat ini peserta
pendidikan dapat berasal dari karyawan, organisasi tertentu, yang memperoleh
beasiswa. Setelah lulus diharapkan dapat memiliki bekal yang lebih baik untuk
menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi di tempat bekerja (organisasi).
Kedua adalah jalur pendidikan non formal yaitu melalui pelatihan yang dapat
mengembangkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap
(attitude) dalam bekerja untuk mengembangkan usaha taninya.
Latihan pada umumnya cenderung lebih menitikberatkan pada pembiasaan
gerakan koordinasi motorik daripada pemahaman teoritis. Mereka yang telah
menempuh pelatihan penguasaan keahlian tertentu yang dapat mempermudah
menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pengembangan pertanian maupun
memasuki dunia kerja dengan pendapatan yang lebih baik. Tentu hal ini akan
meningkatkan kemampuan ekonomi yang pada gilirannya memperbesar peluang
Gambar 1. Bagan pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan sistem ekonomi terdapat hubungan dua arah. Dalam masyarakat
yang memiliki taraf kehidupan ekonomi yang baik, potensi pengembangan
pendidikan itu lebih besar karena orang-orang telah lebih siap dan lebih banyak
dana tersedia. Pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan merupakan
komponen-komponen utama dari definisi operasional dari status kelas sosial atau status sosial
2.2.3 Sumber Pangan
Pangan adalah makanan sehari-hari untuk pertumbuhan dan kesehatan
jasmaniah/rohaniah dalam membentuk keluarga yang sehat, cerdas dan kuat.
Makanan sehari-hari yang sehat, murah, dan bergizi serta pengolahan yang sesuai
dengan kegunaannya, sangat penting.
Kecukupan pangan merupakan salah satu syarat mutlak dalam menjamin
terdapatnya gizi yang cukup. Gizi merupakan modal pokok yang memiliki
dampak ekonomi maupun sosial yang luas, dalam pelaksanaan pembangunan
nasional. Kekurangan sumber pangan tenaga dalam makanan (nasi, jagung, sagu,
ketela, dan sebagainya) akan langsung menyebabkan menurunnya daya kerja
seseorang. Dengan mendapatkan sumber tenaga yang cukup, seorang buruh atau
petani dengan wajar dapat bekerja 8 jam sehari dengan baik. Kekurangan sumber
tenaga dan sumber protein dalam jangka waktu yang lama, lebih-lebih apabila hal
ini terjadi pada janin yang masih dalam kandungan, jika bayi itu lahir kecerdasan
dan aktivitas otak akan menurun dari yang seharusnya dimiliki oleh bayi itu.
Kemampuan otak dalam menyerap hal-hal baru/teknologi baru menjadi lamban.
Memperkenalkan cara kerja yang baru, harus beberapa kali dijelaskan, ajakan
untuk mengubah sesuatu yang telah terbiasa dikerjakan, harus beberapa kali
dicontohkan, dan sebagainya (Sudjana, 2005).
2.2.4 Perumahan
Rumah adalah bagian yang utuh dari permukiman, dan bukan hasil fisik semata,
melainkan merupakan suatu proses yang terus berkembang dan terkait dengan
dari rumah adalah dampak terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya
(Turner, 1972).
Menurut Turner (1972), terdapat tiga fungsi yang terkandung dalam rumah, yaitu:
1) Rumah sebagai penunjang identitas keluarga, yang diwujudkan dalam
kualitas hunian atau perlindungan yang diberikan rumah. Kebutuhan tempat
tinggal dimaksudkan agar penghuni mempunyai tepat tinggal atau berteduh
secukupnya untuk melindungi keluarga dari iklim setempat.
2) Rumah sebagai penunjang kesempatan keluarga untuk berkembang dalam
kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi atau fungsi pengembangan keluarga.
Fungsi ini diwujudkan dalam lokasi tempat rumah itu didirikan. Kebutuhan
berupa akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan
kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber penghasilan.
3) Rumah sebagai penunjang rasa aman dalam arti terjaminnya kehidupan
keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah, jaminan keamanan
lingkungan perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan berupa
kepemilikan rumah dan lahan. Rumah sebagai kebutuhan dasar manusia,
perwujudannya bervariasi menurut siapa penghuni atau pemiliknya.
Saat bencana Merapi setidaknya ada tiga faktor utama yang dihadapi petani, yaitu
kondisi tempat tinggal yang rusak, lahan usaha yang rusak dan tidak berproduksi
dan berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga dan kelembagaan usaha tidak
Kerusakan atau kerugian yang dialami petani menimbulkan berbagai
permasalahan yang penting segera ditangani, terutama perubahan ekonomi, pola
hidup berubah sehingga penanganan dan pendekatan bukan saja secara akademik
tetapi secara kultural dalam relokasi korban/berpindah pemukiman maupun
peralihan sistem usahatani, dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan
(Tan, 2010).
2.2.5 Kepemilikan Lahan
Dengan lahan yang sempit produksi pertanian akan tidak mampu untuk
mencukupi biaya hidup keluarga tani. Tanah yang sempit menyebabkan biaya
produksi terlalu tinggi (high cost) dibanding dengan per satuan tanah yang luas,
baik ditinjau dari segi tenaga kerja, penggunaan bibit, pemupukan, biaya
penanggulangan hama dan penyakit maupun biaya peralatan dengan daya manfaat
rendah.
Tanah yang sempit menyebabkan efisiensi penggunaan mekanisasi pengolahan
tanah tidak efektif. Banyaknya pematang, salah satu faktor mengurangi lahan
efektif. Dapat dibayangkan dengan luasan 1000 m2, dengan lebar pematang 40 cm, kali panjang luasan tanah 1000 m2 dengan pematang dapat mencapai 240 m Sehingga luas tanah untuk pematang mencapai 96 m2 sendiri yang tidak berfungsi sebagai lahan penghasil produk pertanian.
Selain tersebut diatas kehilangan produksi dapat mencapai 20% sehingga biaya
produksi bila dikurangi dengan hasil panen yang dicapai rata-rata 4,53 ton/Ha,
2.3 Kerangka Pemikiran
Erupsi Gunung Sinabung memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap
kehidupan masyarakat di Kabupaten Karo, terutama para masyarakat yang
menggantungkan hidupnya pada Sumber Daya Alam (SDA) yaitu petani. Desa
Gurukinayan adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Payung yang
potensi terbesarnya adalah usaha tani kopi. Usaha tani kopi sangat dipengaruhi
oleh lahan, tenaga kerja, pupuk, dan alat mesin pertanian guna menghasilkan
produktivitas dan pendapatan yang tinggi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup
petani kopi dan keluarganya. Erupsi Gunung Sinabung sangat mempengaruhi
faktor-faktor usaha tani kopi sehingga menyebabkan adanya perubahanyang nyata
terhadap pendapatan petani kopi dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Perubahan lain yang akan diteliti adalah bagaimana orientasi nilai budaya dan
sikap mental petani kopi terhadap hakekat pendidikan, sumber pangan,
perumahan, dan kepemilikan lahan.
Sebagai akhir dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana dampak erupsi
Gunung Sinabung terhadap pendapatan dan perubahan orientasi nilai budaya dan
sikap mental petani kopi di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, Kabupaten
Secara sistematis berikut ini digambarkan skema kerangka pemikiran sebagai
berikut:
Gambar 2. Kerangka Pemikiran Keterangan :
: Menyatakan Pengaruh
: Menyatakan Hubungan
Kepemilikan Lahan Perumahan
Sumber Pangan Pendidikan
Erupsi Gunung Sinabung
Petani Kopi Desa Gurukinayan
Sosial Ekonomi Keluarga
Orientasi Nilai Budaya dan Sikap Mental
Sebelum Erupsi Sesudah Erupsi
2.4Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori yang sudah diuraikan, maka diajukan hipotesis untuk
diuji sebagai berikut :
1) Terdapat perbedaan yang nyata pendapatan usahatani kopi petani kopi
sebelum dan sesudah erupsia Gunung Sinabung.
2) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental
keluarga petani kopi terhadaphakekatpendidikan sebelum dan sesudah erupsi
Gunung Sinabung.
3) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan
sikapmentalkeluarga petani kopi terhadaphakekat sumber pangan sebelum
dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.
4) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental
keluarga petani kopi terhadaphakekat perumahan sebelum dan sesudah erupsi
Gunung Sinabung.
5) Terdapat perbedaan yang nyataorientasi nilai budaya dan sikap mental nyata
keluarga petani kopi terhadaphakekat kepemilikan lahan sebelum dan sesudah