• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Sosial Ekonomi Petani Kopi di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Sosial Ekonomi Petani Kopi di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA

PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Dampak

Pengertian dampak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengaruh

yang mendatangkan akibat baik positif maupun negatif. Pengaruh adalah daya

yang ada dan timbul dari sesuatu (orang,benda) yang ikut membentuk watak,

kepercayaan atau perbuatan seseorang. Pengaruh adalah suatu keadaan dimana

ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat antara apa yang

mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi (KBBI Online, 2010).

Untuk memperkirakan dampak sementara yang dapat dirasakan oleh petani kopi

di Desa Guru Kinayan, dapat dilihat dari dampak erupsi Merapi. Dampak lain dari

erupsi Merapi adalah masalah sosial ekonomi masyarakat tani. Disamping

kehilangan sanak saudara, harta benda, mereka juga kehilangan mata pencaharian

dari usahataninya (Martini, dkk., 2011).

2.1.2 Bencana Alam

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian

peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,

gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor

(2)

Menurut Priyatin (2011) bencana alam yang menimpa suatu kawasan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar baik dari kerusakan ekosistem,

hilangnya kawasan pemukiman dan lokasi tanah garapan maupun kehilangan

nyawa manusia dan ternak peliharaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana

(BPNB) mengelompokkan bencana alam yang ada di Indonesia menjadi delapan

hal, salah satunya bencana letusan gunung berapi.

Menurut Nugroho dan Wahyunto (2011) pengelolaan bencana alam gunung berapi di lahan pertanian, tidak terpisahkan dengan pengelolaan umum daerah

kawasan bencana. Di daerah seperti kawasan bencana gunung Merapi, lahan

pertanian dan lahan pemukiman merupakan bagian yang paling jelas terkena

dampak suatu kejadian erupsi. Lahan pertanian yang terkena dampak letusan

gunung berapi seperti lahan-lahan disekitar Gunung Merapi dan gunung berapi

lainnya di Indonesia mengalami perubahan sifat kimia, fisika, serta biologi yang

besarnya bergantung pada sifat kimia dan fisika abu yang menimbun, dan

ketebalan timbunan. Oleh karena itu perlu suatu tindakan perbaikan yang

ditujukan untuk (1) Pemulihan kesuburan tanah, seperti (a) pengurangan tebal

timbunan abu yang tidak subur, atau (b) membenamkan dan mengaduk abu

vulkanis yang subur dengan tanah asal pada saat pengolahan tanah (c) pemberian

bahan organik; dan (2) peningkatan produktivitas tanaman hortikultura melalui

(3)

2.1.3 Gunung Sinabung

Gunung Sinabung adalah gunung di Daratan Tinggi Karo, Kabupaten Karo,

Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung dan Sibayak adalah dua gunung berapi aktif

yang berdekatan di Sumatera Utara. Ketinggian Gunung Sinabung 2.460 meter.

Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah

tercatat meletus sejak tahun 1600. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah

3o10” LU, 98o23” BT.

Peristiwa letusan pertama sejak 27 agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap

dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 sekitar pukul 00.15 WIB Gunung

Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi “awas”.

28.000 warga di sekitarnya dari 29 desa dievakuasi dan ditampung di tempat yang

lebih aman. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya

menuju timur laut. Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung

Sinabung (Purba, 2013).

Material Gunung Merapi yang berpengaruh terhadap pertanian berupa (1) abu

vulkanik yang tersembur ke angkasa, lalu terdeposit di lahan pertanian, atau

menutupi pertanaman padi dan palawija dalam berbagai ketebalan dan luasan; (2)

lahar dingin yang secara fisik dapat merusak pertanaman pertanian dengan tingkat

keparahan dari luasan yang berbeda; (3) gas ataupun cairan lahar yang keluar dari

perut gunung, biasanya didominasi oleh sulfur yang ditandai dari baunya yang

menyengat hidung. Di antara ketiga material butir (1) lebih luas dampaknya

(4)

2.1.4 Sosial Ekonomi

Menurut Gregory Grossan (1984), yang dimaksud dengan sistem ekonomi adalah sekumpulan komponen-komponen atau unsur-unsur terdiri atas unit-unit

dan agen-agen ekonomi serta lembaga-lembaga (institusi-institusi) ekonomi, yang

bukan saja saling berhubungan dan berinteraksi, melainkan juga sampai tingkat

tertentu saling menopang dan mempengaruhi. Dengan

demikian,komponen-komponen tersebut memiliki hubungan fungsional yang dapat menjadi alat

koordinasi alokasi sumber daya ekonomi. Perekonomian yang didalamnya

individu-individu dan keluarga-keluarga memiliki kesalingketergantungan disebut

sosial ekonomi (social economy)(Rahardja dan Manurung, 2008).

Sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan

organisasi, karakteristik populasi, adalah faktor-faktor sosial yang menata perilaku

manusia. Dalam organisasi, hubungan antara anggota dengan ketua diatur oleh

sistem peranan dan norma-norma kelompok. Besar-kecilnya organisasi akan

mempengaruhi jaringan komunikasi dan sistem pengambilan keputusan.

Karakteristik populasi seperti usia, kecerdasan, karakteristik biologis,

mempengaruhi pola-pola perilaku anggota-anggota populasi itu. Kelompok orang

tua melahirkan pola perilaku yang pasti berbeda dengan kelompok anak-anak

muda. Dari segi komunikasi, teori penyebaran inovasi (Rogers & Shoemaker,

1971) dan teori kritik (Habernas, 1979) memperlihatkan bagaimana sistem

komunikasi sangat dipengaruhi oleh struktur sosial (Rakhmat, 1992).

Kerugian ekonomi pada usahatani akibat erupsi Merapi dapat berupa kerugian

(5)

harga jual pada kondisi bencana. Kerugian pada tingkat petani mencapai puluhan

juta rupiah, sedangkan tingkat regional mencapai triliunan rupiah (Ilham, 2010).

2.1.5 Penelitian Terdahulu

Bil Bela Ginting (2012)menyoroti masalah dan dampak bencana pasca meletusnya Gunung Sinabung dalam kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi

keluarga di Desa Kutarayat Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, yaitu

dengan cara melihat dan menganalisa data penelitian, yang pada dasarnya

membandingkan keadaan sosial ekonomi masyarakat sebelum dan

sesudah meletusnya Gunung Sinabung di Tanah Karo.Dalam hal ini, dampak

sebelum dan sesudah meletusnya Gunung Sinabung terhadap sosial ekonomi

masyarakat tidak positip, artinya pasca meletusnya Gunung Sinabung

memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penurunan tingkat sosial

ekonomi masyarakat baik dalam tingkat pendapatan atau penghasilan, sumber

pendapatan untuk pendidikan anak, serta kesehatan. Hasil penelitian yang

diperoleh yaitu ”Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara bencana pasca

meletusnya Gunung Sinabung terhadap kehidupan sosial ekonomi di Desa

Kutarayat Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo dan Ho : Tidak terdapat

hubungan yang signifikan antara bencana pasca meletusnya Gunung Sinabung

terhadap kehidupan sosial ekonomi di Desa Kutarayat Kecamatan Naman

Teran Kabupaten Karo” maka Ha diterima dan Ho ditolak setelah diadakan

analisa data melalui uji t. Bencana meletusnya Gunung Sinabung memberikan

dampak yang signifikan terhadap sosial ekonomi di Desa Kutarayat Kecamatan

(6)

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pendapatan dan Sumber Pendapatan

Pendapatan berupa uang adalah segala penghasilan berupa uang yang sifatnya

reguler dan yang diterima biasanya sebagai balas jasa atau kontra prestasi.

Sumber-sumber yang utama adalah gaji dan upah serta lain-lain balas jasa serupa

dari majikan; pendapatan bersih dari usaha sendiri dan pekerjaan bebas;

pendapatan dari penjualan barang yang dipelihara di halaman rumah, hasil

investasi seperti bunga modal, tanah, uang pensiun, jaminan sosial serta

keuntungan sosial (Sumardi dan Evers, 1985).

Selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani

disebut pendapatan bersih usahatani. Pendapatan bersih usahatani mengukur

imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi

kerja, pengelolaan, dan modal sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke

dalam usahatani, oleh karena itu pendapatan bersih merupakan ukuran keuntungan

usahatani yang dapat digunakan untuk membandingkan beberapa penampilan

usahatani. Petani dalam memperoleh pendapatan bersih yang tinggi maka petani

harus mengupayakan penerimaan yang tinggi dan biaya produksi yang rendah,

menggunakan teknologi yang baik, mengupayakan harga input yang rendah, dan

mengatur skala produksi yang efisien. Pendapatan bersih diperoleh dengan

(7)

Pd = TR-TC

Dimana :

Pd = Pendapatan bersih usahatani

TR = Total penerimaan

TC = Total biaya

Total pendapatan merupakan seluruh sumber pendapatan yang diperoleh dari hasil

usahatani kopi, usahatani diluar kopi dan usaha diluar usahatani

(Soekartawi, dkk., 1984).

Pada saat tingkat income masyarakat sangat rendah pada umumnya pengeluaran

rumah tangga lebih besar dari pendapatannya sehingga pengeluaran konsumsi

tidak hanya dibiayai oleh pendapatannya saja tetapi juga menggunakan

sumber-sumber lain seperti tabungan dari wakil sebelumnya menjual harta kekayaan

rumah tangga atau meminjam. Selanjutnya pada suatu tingkat income yang cukup

tinggi, konsumsi rumah tangga akan sama besar dengan income-nya. Bila income

kemudian meningkat lagi pada saat itu pengeluaran rumah tangga dapat

menabung kelebihan income yang tidak digunakan untuk konsumsi

(Herlambang, dkk., 2001).

Mosher (1987), berpendapat bahwa tolak ukur yang penting dalam melihat kesejahteraan petani adalah pendapatan rumah tangga, sebab beberapa aspek dari

kesejahteraan tergantung pada tingkat pendapatan petani. Besarnya pendapatan

petani sendiri akan mempengaruhi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu

pangan, sandang, papan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. Tingkat pendapatan

(8)

rumah tangga. Umumnya pendapatan rumah tangga di pedesaan tidak berasal dari

satu sumber, tetapi berasal dari dua atau lebih sumber pendapatan.

Pendapatan rumah tangga petani tidak hanya dari usahatani tetapi juga dari luar

usahatani untuk mencukupi kebutuhannya. Berbagai sumber pendapatan dapat

digolongkan sebagai sumber pendapatan pokok dan sumber pendapatan tambahan

berdasarkan besarnya pendapatan(Nurmanaf, 1985).

Sistem nilai budaya dan sikap merupakan faktor sosial masyarakat yang dapat

menyebabkan timbulnya pola-pola berfikir tertentu pada suatu masyarakat.

Pola-pola berfikir ini dapat berubah dan kemudian mempengaruhi tindakan serta

kelakuan mereka, baik dalam kehidpan sehari-hari, maupun dalam membuat

keputusan-keputusan yang penting dalam hidup (Koentjaraningrat, 1983).

Diduga ada beberapa sikap mental korban erupsi Gunung Sinabung yang

terpengaruh sebagai dampak bencana erupsi Gunung Sinabung. Untuk melihat

permasalahan secara utuh perlu diungkap beberapa pertanyaan yang cukup

mendasar yaitu orientasi nilai budaya sikap mental petani kopi korban erupsi

Gunung Sinabung. Variabel-variabel yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah

pendidikan, sumber pangan, perumahan, dan kepemilikan lahan.

2.2.2 Pendidikan

Untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan Sumber Daya Manusia dapat

diawali dengan peningkatan pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal

maupun non formal. Konsep pengembangan Sumber Daya Manusia melalui dua

(9)

dari pendidikan TK sampai pada perguruan tinggi. Jalur ini menyediakan

pengetahuan dasar yang bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan lain di

dalam kehidupan sehari-hari, baik di sektor formal maupun informal.

Bagi mereka yang hanya menamatkan pendidikan rendah banyak mengalami

kesulitan bekerja, tetapi tidak demikian untuk lulusan di pendidikan tinggi. Di

tingkat yang lebih tinggi proses pendidikan diberikan pada pengembangan aspek

kognisi atau kemampuan berpikir konseptual. Untuk tingkat ini peserta

pendidikan dapat berasal dari karyawan, organisasi tertentu, yang memperoleh

beasiswa. Setelah lulus diharapkan dapat memiliki bekal yang lebih baik untuk

menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi di tempat bekerja (organisasi).

Kedua adalah jalur pendidikan non formal yaitu melalui pelatihan yang dapat

mengembangkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap

(attitude) dalam bekerja untuk mengembangkan usaha taninya.

Latihan pada umumnya cenderung lebih menitikberatkan pada pembiasaan

gerakan koordinasi motorik daripada pemahaman teoritis. Mereka yang telah

menempuh pelatihan penguasaan keahlian tertentu yang dapat mempermudah

menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pengembangan pertanian maupun

memasuki dunia kerja dengan pendapatan yang lebih baik. Tentu hal ini akan

meningkatkan kemampuan ekonomi yang pada gilirannya memperbesar peluang

(10)

Gambar 1. Bagan pendidikan dan pelatihan

Pendidikan dan sistem ekonomi terdapat hubungan dua arah. Dalam masyarakat

yang memiliki taraf kehidupan ekonomi yang baik, potensi pengembangan

pendidikan itu lebih besar karena orang-orang telah lebih siap dan lebih banyak

dana tersedia. Pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan merupakan

komponen-komponen utama dari definisi operasional dari status kelas sosial atau status sosial

(11)

2.2.3 Sumber Pangan

Pangan adalah makanan sehari-hari untuk pertumbuhan dan kesehatan

jasmaniah/rohaniah dalam membentuk keluarga yang sehat, cerdas dan kuat.

Makanan sehari-hari yang sehat, murah, dan bergizi serta pengolahan yang sesuai

dengan kegunaannya, sangat penting.

Kecukupan pangan merupakan salah satu syarat mutlak dalam menjamin

terdapatnya gizi yang cukup. Gizi merupakan modal pokok yang memiliki

dampak ekonomi maupun sosial yang luas, dalam pelaksanaan pembangunan

nasional. Kekurangan sumber pangan tenaga dalam makanan (nasi, jagung, sagu,

ketela, dan sebagainya) akan langsung menyebabkan menurunnya daya kerja

seseorang. Dengan mendapatkan sumber tenaga yang cukup, seorang buruh atau

petani dengan wajar dapat bekerja 8 jam sehari dengan baik. Kekurangan sumber

tenaga dan sumber protein dalam jangka waktu yang lama, lebih-lebih apabila hal

ini terjadi pada janin yang masih dalam kandungan, jika bayi itu lahir kecerdasan

dan aktivitas otak akan menurun dari yang seharusnya dimiliki oleh bayi itu.

Kemampuan otak dalam menyerap hal-hal baru/teknologi baru menjadi lamban.

Memperkenalkan cara kerja yang baru, harus beberapa kali dijelaskan, ajakan

untuk mengubah sesuatu yang telah terbiasa dikerjakan, harus beberapa kali

dicontohkan, dan sebagainya (Sudjana, 2005).

2.2.4 Perumahan

Rumah adalah bagian yang utuh dari permukiman, dan bukan hasil fisik semata,

melainkan merupakan suatu proses yang terus berkembang dan terkait dengan

(12)

dari rumah adalah dampak terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya

(Turner, 1972).

Menurut Turner (1972), terdapat tiga fungsi yang terkandung dalam rumah, yaitu:

1) Rumah sebagai penunjang identitas keluarga, yang diwujudkan dalam

kualitas hunian atau perlindungan yang diberikan rumah. Kebutuhan tempat

tinggal dimaksudkan agar penghuni mempunyai tepat tinggal atau berteduh

secukupnya untuk melindungi keluarga dari iklim setempat.

2) Rumah sebagai penunjang kesempatan keluarga untuk berkembang dalam

kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi atau fungsi pengembangan keluarga.

Fungsi ini diwujudkan dalam lokasi tempat rumah itu didirikan. Kebutuhan

berupa akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan

kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber penghasilan.

3) Rumah sebagai penunjang rasa aman dalam arti terjaminnya kehidupan

keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah, jaminan keamanan

lingkungan perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan berupa

kepemilikan rumah dan lahan. Rumah sebagai kebutuhan dasar manusia,

perwujudannya bervariasi menurut siapa penghuni atau pemiliknya.

Saat bencana Merapi setidaknya ada tiga faktor utama yang dihadapi petani, yaitu

kondisi tempat tinggal yang rusak, lahan usaha yang rusak dan tidak berproduksi

dan berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga dan kelembagaan usaha tidak

(13)

Kerusakan atau kerugian yang dialami petani menimbulkan berbagai

permasalahan yang penting segera ditangani, terutama perubahan ekonomi, pola

hidup berubah sehingga penanganan dan pendekatan bukan saja secara akademik

tetapi secara kultural dalam relokasi korban/berpindah pemukiman maupun

peralihan sistem usahatani, dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan

(Tan, 2010).

2.2.5 Kepemilikan Lahan

Dengan lahan yang sempit produksi pertanian akan tidak mampu untuk

mencukupi biaya hidup keluarga tani. Tanah yang sempit menyebabkan biaya

produksi terlalu tinggi (high cost) dibanding dengan per satuan tanah yang luas,

baik ditinjau dari segi tenaga kerja, penggunaan bibit, pemupukan, biaya

penanggulangan hama dan penyakit maupun biaya peralatan dengan daya manfaat

rendah.

Tanah yang sempit menyebabkan efisiensi penggunaan mekanisasi pengolahan

tanah tidak efektif. Banyaknya pematang, salah satu faktor mengurangi lahan

efektif. Dapat dibayangkan dengan luasan 1000 m2, dengan lebar pematang 40 cm, kali panjang luasan tanah 1000 m2 dengan pematang dapat mencapai 240 m Sehingga luas tanah untuk pematang mencapai 96 m2 sendiri yang tidak berfungsi sebagai lahan penghasil produk pertanian.

Selain tersebut diatas kehilangan produksi dapat mencapai 20% sehingga biaya

produksi bila dikurangi dengan hasil panen yang dicapai rata-rata 4,53 ton/Ha,

(14)

2.3 Kerangka Pemikiran

Erupsi Gunung Sinabung memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap

kehidupan masyarakat di Kabupaten Karo, terutama para masyarakat yang

menggantungkan hidupnya pada Sumber Daya Alam (SDA) yaitu petani. Desa

Gurukinayan adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Payung yang

potensi terbesarnya adalah usaha tani kopi. Usaha tani kopi sangat dipengaruhi

oleh lahan, tenaga kerja, pupuk, dan alat mesin pertanian guna menghasilkan

produktivitas dan pendapatan yang tinggi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup

petani kopi dan keluarganya. Erupsi Gunung Sinabung sangat mempengaruhi

faktor-faktor usaha tani kopi sehingga menyebabkan adanya perubahanyang nyata

terhadap pendapatan petani kopi dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Perubahan lain yang akan diteliti adalah bagaimana orientasi nilai budaya dan

sikap mental petani kopi terhadap hakekat pendidikan, sumber pangan,

perumahan, dan kepemilikan lahan.

Sebagai akhir dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana dampak erupsi

Gunung Sinabung terhadap pendapatan dan perubahan orientasi nilai budaya dan

sikap mental petani kopi di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, Kabupaten

(15)

Secara sistematis berikut ini digambarkan skema kerangka pemikiran sebagai

berikut:

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Keterangan :

: Menyatakan Pengaruh

: Menyatakan Hubungan

Kepemilikan Lahan Perumahan

Sumber Pangan Pendidikan

Erupsi Gunung Sinabung

Petani Kopi Desa Gurukinayan

Sosial Ekonomi Keluarga

Orientasi Nilai Budaya dan Sikap Mental

Sebelum Erupsi Sesudah Erupsi

(16)

2.4Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori yang sudah diuraikan, maka diajukan hipotesis untuk

diuji sebagai berikut :

1) Terdapat perbedaan yang nyata pendapatan usahatani kopi petani kopi

sebelum dan sesudah erupsia Gunung Sinabung.

2) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental

keluarga petani kopi terhadaphakekatpendidikan sebelum dan sesudah erupsi

Gunung Sinabung.

3) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan

sikapmentalkeluarga petani kopi terhadaphakekat sumber pangan sebelum

dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.

4) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental

keluarga petani kopi terhadaphakekat perumahan sebelum dan sesudah erupsi

Gunung Sinabung.

5) Terdapat perbedaan yang nyataorientasi nilai budaya dan sikap mental nyata

keluarga petani kopi terhadaphakekat kepemilikan lahan sebelum dan sesudah

Gambar

Gambar 1. Bagan pendidikan dan pelatihan
Gambar 2. Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Two types of damage cost have been estimated: (1) the treatment or prevention costs (those incurred to clean up the environment and restore human health to comply with legislation or

Jln. 37 Mataram-NTB Telp. ” yang diusulkan dalam skim penelitian yang dibiayai dengan dana PNBP Universitas Mataram tahun anggaran .../Swadana *) bersifat original

Himpunan Peraturan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2016 1... Himpunan Peraturan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Tahun

[r]

[r]

Herminarto Sofiian rozin,

[r]

Kelompok Kerja (Pokja) 3 Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tahun Anggaran 2016 akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan Pascakualifikasi