• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH kewibaan pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MAKALAH kewibaan pendidikan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

KEWIBAWAAN PENDIDIKAN

Disusun Oleh : Elin Nurparida

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamua’laikum Wr.Wb.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya,maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sehingga makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan. Makalah ini membahas tentang Kewibawaan Pendidikan.

Sistematika dalam makalah ini disajikan dalam bentuk sistematika yang telah disesuaikan dengan Dosen yang bersangkutan dengan mata kuliah ini.

Penulis menyadari dengan sangat bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, mohon segala kritik dan saran untuk menjadi perbaikan sehingga bisa menyusun makalah yang lebih baik.

Penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bisa memenuhi tugas mata kuliah ilmu pendidikan dan bisa bermanfaat bagi pembacanya.

Wassalamua’laikum Wr.Wb.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul...i

Kata Pengantar...iii

Daftar Isi...iv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah ...2

C. Tujuan Masalah ...2

D. Manfaat ...2

BAB II PEMBAHASAN...3

A. Sifat-Sifat Manusia...3

B. Kewibaan Dalam Pendidikan...5

1. Kewibaan Pendidikan ...6

2. Kewibaan Keluarga ...7

BAB III PENUTUP... 12

A. Kesimpulan... 12

B. Saran... 12

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Di dalam berbagai pustaka, karakter manusia dibagi atas banyak jenis (ada yang empat, ada yang sepuluh, ada yang seratus, dan lain-lain), sebagaimana kecerdasan manusia (ada yang membagi dengan satu, dua, empat, delapan, dan lain-lain). Hal itu bisa dimaklumi, karena (selalu) di antara dua perbedaan yang nyata, terdapat sekian banyak perbedaan yang dapat mendekati keduanya. Karenanya, di antara dua karakter manusia, yaitu baik dan buruk, terdapat banyak karakter lain yang mendekati keduanya. Di antara sekian banyak jenis karakter manusia, ada banyak pula yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang yang dapat dibagi menjadi dua hal utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi antara lain, kondisi fisik, tingkat pendidikan, tingkat pergaulan, dan tingkat keimanan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi, antara lain, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan kerja, dan sosok panutan.

Tuhan sendiri telah memperingatkan sifat-sifat dasar yang buruk yang dimiliki manusia, antara lain: zalim dan tidak pandai bersyukur, ingkar akan kebesaran Tuhan, sombong dan sewenang-wenang, condong mengikuti hawa nafsunya, boros dan berlebih-lebihan, aniaya diri, tergesa-gesa, dan taklid buta (berbuat sesuatu tanpa pengetahuan). Memang, sifat atau karakter manusia bisa ditinjau dari banyak segi. Di internet, banyak sekali literatur yang meninjau sifat manusia dari berbagai segi, misalkan dari tanggal lahir, dari shio, dari golongan darah, dari cara berbicara, dari nama, bahkan dari cara dia mengupil atau (maaf), dari kentutnya.

Berbicara tentang sifat-sifat manusia, ini tidak terlepas dari manusia sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Dimana di dalamnya terdapat pergaulan dan interaksi serta komunikasi dalam kehidupan setiap manusia. Dalam pergaulan manusia terdapat kewibawaan, ketakutan dan kewibawaan dalam pendidikan.

(5)

membangun peradaban, membangun masa depan bangsa. Karena itu, untuk meningkatkan harkat dan martabat sebuah bangsa pada era global ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan meningkatkan kualitas pendidikan.

Dengan meningkatkan kualitas pendidikan maka akan tercipta kesatuan utuh dalam rencana dan gerak langkah pembangunan bangsa di masa depan. Sebab, kualitas pendidikan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Kualitas pendidikan mesti bersandar pada segenap aspek yang terdapat dalam diri manusia atau warga negara. Dan yang penting disadari ialah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses, sesuatu yang terus diperjuangkan perbaikan dan kemajuannya. Meminjam ungkapan Mendiknas, pendidikan Indonesia adalah sebuah proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Berbicara tentang pendidikan, kita tidak bisa lepas daripada tenaga pendidik itu sendiri. Agar bisa menjadi tenaga pendidik yang baik dan profesional. Di samping mempunyai atau memiliki ilmu dan seni dalam mendidik, seorang pendidik itu harus memiliki wibawa (gezag). Di dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pergaulan dan wibawa (gezag) di dalam pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas lebih jauh, antara lain:

1. Apa-apa saja sifat-sifat manusia dan pergaulan manusia sebagai makhluk sosial? 2. Bagaimana kewibawaan (Gezag) dalam pendidikan ?

C. Tujuan

Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sifat-sifat manusia dan pergaulan manusia sebagai makhluk sosial

2. Untuk mengetahui bagaimana kewibawaan (Gezag) dalam pendidikan

D. Manfaat

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Sifat-Sifat Manusia

Syekh Al Kholil ibn Ahmad membagi karakter manusia menjadi empat macam. Pertama, rojulun yadri wa yadri annahu yadri fabidzalika ‘alimun tattabi’uhu, yaitu manusia yang mengerti dan dirinya mengerti kalau ia mengerti. Ia adalah manusia yang memiliki ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ciri manusia seperti ini adalah selalu bekerja dengan landasan istiqomah dan ikhlas. Kedua, rojulun yadri wa la yadri annahu yadri, fabidzalika naimun fa aiqidzuhu, manusia yang mengerti namun tidak mengerti kalau dirinya mengerti, seperti orang yang sedang tidur. Manusia yang berkarakter seperti ini adalah manusia yang tidak konsisten dengan apa yang diucapkan atau yang dipahaminya. Kata-katanya (yang baik) tidak sama dengan perilakunya (yang buruk). Umar ibn al Khottob pernah berkata ” aqwa ma akhofu ‘inda hadzihi ummati minal dajjal al munafiq al ‘alim“ yang artinya: ”yang paling saya takuti pada ummat ini daripada dajjal adalah orang munafik yang pintar atau alim, ” atau secara mudah dapat dikatakan sebagai ”orang yang berbuat jahat dengan memelintir dalil agama.”

Karakter ketiga adalah rojulun la yadri wa yadri annahu la yadri, fa bidzalika mustarsyidun fa arsyiduhu. Manusia yang tidak mengerti namun ia tahu kalau dirinya tidak mengerti. Manusia model ini relatif baik, karena orang-orang yang selalu ingin belajar untuk lebih mengerti adalah manusia yang memiliki sifat selalu ingin memperbaiki diri. Inilah orang-orang yang cerdas-al kayyis- yaitu orang-orang yang tidak melakukan sesuatu perbuatan kecuali telah jelas halal atau haramnya. Manusia model ini adalah manusia yang selalu terikat dengan syara’. Apa yang dimakan, dipakai dan yang dijkerjakan selalu terukur dan berlandaskan pada hukum Tuhan.

(7)

Sedangkan menurut Florence Littauer, empat sifat manusia adalah kolerik, sanguinis, melankolik, dan plegmatis. Manusia yang memiliki sifat kolerik adalah manusia yang memiliki motivasi diri yang kuat, kreatif, pekerja keras, dan semua yang dilakukannya dilandasi oleh keyakinan dirinya yang kuat. Ia akan bertekad menyelesaikan pekerjaannya dengan caranya sendiri (my way), namun ia tidak ingin diatur orang lain. Sedangkan sifat sanguinis adalah orang yang ingin batinnya selalu bahagia sampai-sampai segala tugas yang harus dikerjakannya, akan dikerjakan jika ia bisa bahagia dengan pekerjaan itu (fun away). Jangan coba-coba memberinya pekerjaan yang dia tidak sukai, karena ia sulit sekali menerima tantangan baru, dan biasa kerja tanpa rencana dan tanpa target penyelesaian. Ia biasa ingin tampil lebih menonjol dari yang lainnya, baik dari suaranya, pakaiannya, atau apapun yang bisa menarik perhatian orang lain.

Adapun sifat melankolik adalah orang suka kerja dengan teratur, rapi, tekun, serius, dan sistematis dengan prinsip kerja best way. Sayangnya, orang seperti ini menginginkan anak buahnya juga memiliki sifat yang sama, dan ia akan mudah tersinggung bila ada orang lain yang menyalahi prinsip hidupnya ini. Sedangkan sifat plegmatis adalah orang yang memiliki sifat yang murah senyum, tulus, dan nyaris tidak pernah marah. Orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri, dan tidak ambisius. Orang ini bersifat terbuka atas saran maupun kritik orang lain, meskipun kadang saran dan kritik itu tidak serta-merta dijalankannya. Prinsip kerja orang seperti ini adalah mendapatkan cara mudah (easy way) untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Sifat seseorang tidaklah bersifat mutlak, paten, atau pasti. Banyak kondisi yang dapat mempengaruhi sifat dasar manusia, seperti tekanan mental atau batin (misalkan karena dikejar deadline, musibah keluarga, dan sebagainya), kondisi sosial-ekonomi (seperti kemapanan, penerimaan dari lingkungan, dan sebagainya), dan yang tak kalah pentingnya adalah hubungan dengan Tuhannya (habluminallah), semakin dekat hubungan seseorang dengan Tuhannya, maka orang itu pasti selalu ingin berbuat yang terbaik, selalu berusaha menjadi orang yang (memiliki sifat) yang terbaik, dan memiliki satu keinginan utama, yaitu Tuhan selalu tersenyum untuknya.

(8)

dari segi umurnya, pergaulan dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu; antara orang tua dengan orang tua, antara orang tua dengan anak, serta antara anak dengan anak. Dalam setiap pergaulan itu disengaja maupun tiddak disengaja terjadilah pengaruh mempengaruhi antara orang tua yang satu mempengaruhi orang tua yang lain, orang tua mempengaruhi anak tetapi sebaliknya juga anak mempengaruhi orang tua serta anak mempengaruhi anak yang lain. B. Kewibawaan (Gezag) dalam Pendidikan

1. Pengertian Kewibawaan (Gezag)

Gezag berasal dari kata zeggen yang berarti “berkata”. Siapa yang “perkataannya” mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang itu.

(9)

Tetapi anak itu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya, bahkan sebaliknya. Anak-anak mau mengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut; jadi bukan karena insaf atau percaya kepadanya.

Dari contoh di atas dapat kita mengatakan, bahwa Bapak Budi lebih berwibawa, lebih mempunyai kewibawaan atau gezag daripada Bapak Salim. Anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap Bapak Budi. Segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh Bapak Budi, lebih meresap dan lebih mudah serta dengan senang

menjalankan daripada Bapak Salim. Atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh Bapak Budi lebih dipatuhi oleh anak-anak.

2. Kewibawaan dan Ketakutan

a. Kepatuhan yang dihasilkan oleh rasa takut adalah kepatuhan yang terpaksa, suatu kepatuhan yang tidak secara suka rela. Ini adalah kepatuhan palsu.

b. Kepatuhan yang dihasilkan oleh kewibawaan, adalah kepatuhan yang suka rela tanpa rasa terpaksa. Ini adalah kepatuhan sejati. Bahasa Jawa: Nungkul Karonoraris

3. Kewibawaan Orang Tua dan Kewibawaan Guru

a. Orang tua (ayah dan ibu) adalah pendidik yang terutama dan yang sudah semestinya. Merekalah pendidik asli, yang menerima tugasnya dari kodrat, dari Tuhan untuk mendidik anaknya. Karena itu sudah semestinya mereka mempunyai kewibawaan terhadap anak-anaknya. Adapun kewibawaan orang tua itu terdiri dari 2 sifat :

1) Kewibawaan Pendidikan

Ini berarti bahwa dengan kewibawaannya itu orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup terus, dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa. Adapun nasihat-nasihat yang dimintanya atau

(10)

2) Kewibawaan Keluarga

Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga. Tiap-tiap keluarga merupakan “masyarakat kecil”, yang sudah tentu dalam “masyarakat” itu harus ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh kepada peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga itu. Dengan demikian orang tua sebagai kepala keluarga dan dalam hubungan kekeluargaannya mempunyai wibawa terhadap anggota-anggota

keluarganya. Kewibawaan keluarga itu bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga. Tiap anggota keluarga harus tunduk kepada kewibawaan keluarga, selama ia menjadi anggota keluarga itu. Soal sudah dewasa atau belum, itu bukan soal yang penting lagi.

b. Kewibawaan guru atau pendidik (yang bukan orang tua) menerima jabatannya sebagai pendidik bukan dari kodrat (dari Tuhan), melainkan ia menerima jabatan itu dari pemerintah. Ia ditunjuk, ditetapkan, dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara atau masyarakat. Maka dari itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua. c. Kewibawaan guru atau pendidik juga ada 2 sifat :

1) Kewibawaan Pendidikan

Sama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua, guru atau pendidik karena jabatan berkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik, telah diserahi sebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Selain itu, guru atau pendidik karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka.

(11)

di sanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepala sekolah kewibawaan ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahnya.

3. Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan

Pendidikan itu terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak. Sebab pergaulan antara orang dewasa sesamanya, orang menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruh-pengaruh pergaulan itu.

Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan, karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan.

Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari si anak, yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain; mau menjalankan suruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.

Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju ke kedewasaan si anak: untuk menolong si anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri. Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata: a) Sikap menurut atau mengikut (volagen), yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menuruti yang sebenarnya. b) Sikap tunduk atau patuh (), yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu. Dalam hal yang terakhir inilah tampak fungsi wibawa pendidikan, yaitu membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya.

4. Kewibawaan dalam Masyarakat dan Kewibawaan dalam Pendidikan

(12)

a. Kewibawaan dalam Masyarakat

1) Dalam masyarakat harus ada wibawa, supaya dapat tercapai maksud masyarakat itu, yaitu: kesejahteraan umum. Di dalam negara (yang berdasar demokrasi) ada 3 badan yang memegang kewibawaan, yaitu badan kekuasaan legisltif, eksekutif dan yudisial. Anggota-anggota masyarakat adalah orang-orang yang telah “dewasa”, yang berarti bahwa mereka sudah seharusnya mempunyai cukup kesadaran akan keharusan dan faedahnya kewajiban-kewajiban itu mengurangi kebebasan mereka. Jadi mempunyai pengertian tentang norma-norma atau ukuran hidup.

2) Masyarakat menurut atau patuh kepada pendukung-pendukung kekuasaan pemerintah itu bukan karena sempurnanya kepribadiannya, tetapi hanya karena orang-orang itu telah mendapat pengangkatannya untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kita menurut kepada seorang bupati; dan sebagai bupati ia berhak mengeluarkan peraturan-peratutan dan melaksanakannya, dengan sendirinya dalam batas-batas kekuasaannya saja.

3) Sebaliknya, pemerintah meminta kita semua mentaati segala peraturannya. Bagaimana kebatinan kita (masing-masing orang) yang sebenarnya – setuju atau tidak, mengeritik atau tidak – pemerintah tidak mengindahkannya, asal kita taat kepada apa yang diperintahkannya. Jadi kekuasaan pemerintah hanya mengenai perbuatan-perbuatan kita yang lahir; selama perbuatan-perbuatan kita yang lahir ini sesuai dengan peraturan-peraturan, kita adalah warga negara yang baik, dan kita telah memenuhi kewajiban kita.

4) Kewibawaan dan pelaksanaan kewibawaan dalam masyarakat tidak menjadi berkurang, melainkan tetap stabil, karena tujuannya ialah hendak mengatur perputaran masyarakat yang baik. Selama kita hidup dalam masyarakat, kita tetap taat

di bawah kewibawaannya dan negara tetap akan melaksanakan kewibawaannya di atas kita.

b. Kewibawaan dalam Pendidikan

1) Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri si pendidik sendir. Justru karena wibawa itu mempunyai tujuan untuk membawa si anak ke tingkat kedewasaannya, yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma, maka menjadi syaratlah bahwa si pendidik memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri.

(13)

2) Dalam pendidikan, pertama-tama yang kita tuju ialah bahwa si anak dengan sepenuh kepercayaannya menyerahkan dirinya kepada pendidiknya (orang tuanya), dan dengan demikian mencapai peryesuaian batin. Bila tidak, kita tidak akan dapat mencapai tingkatan di atas dresur, yang berarti si anak hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja, dan kita tidak dapat mencapai: si anak itu mengenal nilai-nilai, dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai itu.

3) Wibawa dan pelaksanaan wibawa dalam masyarakat tetap, akan tetapi dalam pendidikan akan selalu menjadi berkurang, dan akhirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan. Ini tidak berarti bahwa si anak (yang telah dewasa itu) tidak lagiperlu mengakui adanya kewibawaan; sebaliknya dengan kesukarelaan dan keikhlasan sendirilah si anak mengakui adanya wibawa negara, Tuhan, dan berusaha hidup sesuai dengan kewibawaan itu. Itulah arti “kedewasaan” yang tepat.

5. Kewibawaan dan Identifikasi

Di atas telah dikatakan bahwa tujuan dari wibawa dalam pendidikan itu ialah, dengan wibawa itu di pendidik hendak berusaha membawa anak itu ke arah kedewasaannya. Ini berarti, secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma (seperti norma-norma kesusilaan, keindahan, ketuhanan dan sebagainya) dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya.

(14)

b. Si anak mengidentifikasi dirinya terhadap pendidiknya. Identifikasi anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh, tentu saja berlain-lainan menurut perkembangan umurnya, menurut pengalamannya. Pada anak dua kemungkinan cara mengidentifikasi itu :

1) Ia menurut dengan sempurna, tidak menentang; perintah dan larangan dilakukan secara pasif saja. Bahanyanya ialah, di dlam diri anak itu tidak tumbuh kesadaran akan norma-norma sehingga karena itu ia tidak akan mungkin sampai pada tingkatan “penentuan sendiri” (mandiri). 2) Karena ikatan dengan sang pemegang-wibawa (pendidik) terlalu kuat-erat sehingga merintangi perkembangan “Aku” anak itu. Tetapi ikatan yang sangat erat itu dapat juga menimbulkan usaha yang sangat aktif untuk mencapai persamaan dengan pendidiknya: “berbuat seperti apa yang diharapkan dari pendidiknya” atau “si anak ingin menjadi sang pemegang-wibawa” itu. Di sini pun masih ada pula bahayanya, yaitu menututnya itu tidak

(15)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan antara lain :

1. Sifat-sifat manusia sebagai makhluk individu, sosial, makhluk yang tidak berdiri sendiri tetapi juga bergantung pada Tuhan, badani n rohani serta pergaulan antara orang tua dengan orang tua, antara orang tua dengan anak serta antara anak dengan anak.

2. a.Wibawa adalah gezag, yang terdapat pada seseorang, wibawa itu tidak di miliki oleh semua orang tetapi hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Wibawa atau gezag bisa saja ada pada seseorang mungkin melalui tutur katanya, perbuatannya tingkah laku dan ilmu pengetahuannya.

b.Orang tua adalah pendidik yang utama mereka adalah pendidikan asli, yang menerima tugas dari Tuhan Yang Maha Esa untuk mendidik anak-anaknya oleh karena itu orang tua harus mempunyai wibawa terhadap seluruh keluarganya.

c.Fungsi kewibawaan dalam pendidikan ialah membuat si anak mendapat nilai-nilai dan norma-norma hidup.

d.Indentifikasi pada diri pribadi pendidiknya, dengan demikian kemudian ternyata nilai-nilai dan norma-normanya, kelak dia lebih melepaskan diri dari di sipendidiknya dan lebih lagi mewujudkan dirinya kepada nilai-nilai dan norma itu.

B. Saran

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. Sifat-Sifat Manusia: http://ugm-club.blogspot.com/2007/07/ karakter-manusia.html ,diakses pada tanggal 22 April 2011 hari Jumat pukul 11.00 Wita.

Anonim, 2010. Kewibawaan dalam Pendidikan: http.www.Mujahiddesa blogspot. com.

Referensi

Dokumen terkait

 Pengertian idelogi menurut Padmo wahyono yaitu “suatu kelanjutan atau konsekuensi daripada pandangan hidup bangsa, falsafah hidup bangsa dan akan berupa seperangkat tata nilai yang

Yang ketiga, karena sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang positif sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan nilai serta norma

Madani menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yg ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yg berperadaban. Kehidupan

Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap

Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan

Pembukaan UUD 1945yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, bahkan hal ini menjadi rangkaian kesatuan nilai dan norma yang terpadu.Batang Tubuh UUD 1945 terdiri

Pendidikan politik merupakan suatu proses dialogis antara pemberi dan penerima pesan, melalui pesan ini para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma,

Secara sederhana sosialisasi adalah sebagai sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan cara individu mempelajari hidup, norma, dan nilai