i
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2015
LAPORAN TEKNIS
KEGIATAN PENELITIAN
KAJIAN EKONOMI REVITALISASI
INDUSTRI BUDIDAYA UDANG
ii
KAJIAN EKONOMI REVITALISASI
INDUSTRI BUDIDAYA UDANG
TIM PENELITI:
Dr. Ir. Tajerin, MM., ME.
Estu Sri Luhur, SE
Mira, Spi, MT., MSc.
Noviardy
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI
KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Satuan Kerja (Satker) : Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Judul Kegiatan : Kajian Ekonomi Revitalisasi Industri Budidaya Udang
Status : Baru
Pagu Anggaran : Rp. 181.037.000,-
Tahun Anggaran : 2015
Sumber Anggaran : APBN, DIPA Satker Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Tahun 2015 Penanggung Jawab Output : Dr. Ir. Tajerin, M.M., M.E.
NIP. 19640326 199303 1 003 Penanggungjawab Pelaksana
Output
: Dr. Ir. Tajerin, M.M., M.E. NIP. 19640326 199303 1 003
Jakarta, 2015
Penanggung Jawab Output/Penanggung Jawab Pelaksana Output
Dr. Ir. Tajerin, M.M., M.E. NIP. 19640326 199303 1 002
Mengetahui/Menyetujui: Kepala Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Ir. Tukul Rameyo Adi, M.T. NIP. 1964126 199303 1 002
iii
COPY
RENCANA OPERASIONAL KEGIATAN PENELITIAN (ROKP)
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI
KELAUTAN DAN PERIKANAN
1. Judul Kegiatan : Kajian Ekonomi Revitalisasi Industri
Budidaya Udang
2. Sumber dan Tahun Anggaran : APBN 2015
3. Status Penelitian : Baru
4. Program : Penelitian dan Pengembangan IPTEK
Kelautan dan Perikanan
a. Komoditas : Perikanan (Udang)
b. Bidang/Masalah Kegiatan : Kedaulatan Pangan
Pengembangan Ekonomi Maritim Penguatan Jati Diri Bangsa Pemberantasan Ikan Liar
c. Penelitian Pengembangan : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan d. Manajemen Penelitian : Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi
Kelautan dan Perikanan e. Isu Strategis Pengembangan KP
2015 – 2019
:
Pengembangan Produk Perikanan untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Nasional Peningkatan Daya Saing dan Nilai Tambah Produk Kelautan dan Perikanan Pendayagunaan Potensi Ekonomi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Pengelolaam Sumberdaya KP secara berkelanjutan
Peningkatan Kesejahteraan Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan Pengembangan SDM dan IPTEK KP
f. Dukungan terhadap Indikator Kinerja BSC
:
Nilai Indeks Kesejahteraan Masyarakat KP Pertumbuhan PDB Perikanan (%)
Jumlah WPP yang Terpetakan Potensi di Bidang Sumberdaya Sosial Ekonomi KP untuk Pengembangan Ekonomi Maritim dan Kelautan yang Berkelanjutan Jumlah Rekomendasi Kebijakan yang Diusulkan untuk dijadikan Bahan Kebijakan (buah)
Jumlah Pengguna Hasil IPTEK Litbang di Bidang Sumberdaya Sosial Ekonomi KP (kelompk)
Jumlah Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Kelautan dan Perikanan: 1 (satu) buah
Jumlah Data dan Informasi Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan: 1 (satu) buah
Karya Tulis Ilmiah Bidang Penelitian Sosial Ekonomi: 1 (satu) buah
Jumlah Model Kelembagaan Penyebaran IPTEK dan Pemberdayaan Masyarakat Jumlah Model Kebijakan Sosial Ekonomi Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan
5. Judul Rekomendasi
Kebijakan
: Kebijakan Percepatan Revitalisasi Industri Udang Indonesia
6. Lokasi Kegiatan : DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
iv
7. Peneliti yang terlibat :
No. Nama Pendidikan/
Jabatan Fungsional
Disiplin Ilmu
Tugas (Institusi) Alokasi Waktu (OB)
1. Dr. Ir. Tajerin, MM., ME. S3/Peneliti Utama Ekonomi Penanggung jawab 6 2. Estu Sri Luhur, SE. S1/Peneliti Muda Ekonomi Anggota 6 3. Mira, SPi, MT., MSc. S2/Peneliti Madya Ekonomi Anggota 6 4. Noviardy SUPM/Fungsional
Umum
Perikanan PUMK 4
8. Tujuan :
(1) Menelaah dinamika produktivitas budidaya tambak udang di Indonesia periode 1989—2013 dan mengkaji peran berbagai kebijakan (termasuk kebijakan revitalisasi budidaya tambak udang) terkait dengan produktivitas tambak udang di Indonesia.
(2) Mengukur kinerja revitalisasi usaha budidaya udang (produktivitas) dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya serta faktor penentu keputusan pembudidaya revitalisasi kegiatan usaha budidaya udang.
(3) Merumuskan rekomendasi kebijakan percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia.
9. Latar Belakang
Program revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia merupakan bagian dari program besar “Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan” (RPPK) yang telah dicanangkan Presiden R.I. pada tanggal 11 Juni 2005. Program besar ini diimplemetasikan menggunakan strategi umum untuk: (1) Meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan (pembudidaya tambak), dan petani hutan; (2) Meningkatkan daya saing produk pertanian, perikanan dan kehutanan; dan (3) Menjaga kelestarian sumberdaya pertanian, perikananan dan kehutanan (Pusdatin - KKP., 2005).
Pada awal direncanakannya program revitalisasi perikanan di Indonesia (tahun 2005), dijalankan dengan misi utama berupa “percepatan implementasi pembangunan perikanan untuk mengatasi pemulihan ekonomi menuju Indonesia yang lebih sejahtera melalui pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan secara optimal, berkelanjutan dan berkeadilan. Tujuan revitalisasi perikanan (termasuk industri budidaya udang) adalah meningkatkan kesejahteraan nnelayan, pembudidaya ikan (udang) dan masyarakat pesisir lainnya serta pelaku ekonomi perikanan/kelautan, menyediakan lapangan kerja, kesempatan berusaha, serta meningkatkan konsumsi dan menyediakan bahan baku industri di dalam negeri dan penerimaan devisa, serta meningkatkanan penerimaan negara/daerah melalui hasil perikanan. termasuk dari hasil budidaya udang.
Program revitaslisasi perikanan dikembangkan mencakup revitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang ada berupa berbagai kegiatan usaha di bidang penangkapan ikan, budidaya perikanan, dan mengoptimalisasikan operasioanl unit usaha pengolahan ikan dalam negeri, termasuk juga menciptakann sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru berupa pemanfaatan peluang usaha perikanan yang masih memiliki prospek yang baik. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009, pemerintah telah menjalankan program jangka menengah revitalisasi perikanan berupa: (1) Pengembangan industri perikanan terpadu; (2) Pengembangan Prasarana Pelabuhan; dan (3) Pengembangan prasarana budidaya perikanan; serta (4) Peningkatan partisipasi Indonesia dalam perikanan regional.
Salah satu langkah operasional yang dilakukan dalam rangkaa mendukung revitalisasi perikanan adalah “Pengembangan Komoditas Udang” sebagai bentuk dari langkah-langkah dalam operasionalisasi revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, yang tahap awalnya telah diimplementasikan para kurun waktu 2005-2009 adalah
(Pusdatin-v KKP, 2005): Melakukan impor indusk dan benih udang vaname SPF (
Spesifik Pathogen
Free
)
; (2) Melakukan domestikasi dan pemuliaan udang vaname menjadi induk SPF dan SPR, sehingga mengurangi ketergantungan dari impor; (3) Membangun National Backyard Hatchery (NBH) udang; (4) Melakukan revitalisasi backyard hatchery udang; (5) Menerapkan sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan udang; (6) Mengembangkan laboratorium lingkungan dan penyakit; (7) Menyediakan sarana dan prasarana budidaya tambak udang; dan (8) Membantu penguatan permodalan bagi pembudidaya udang.Revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia sangat terkait erat dengan posisi komoditas udang di Indonesia yang merupakan komoditas unggulan di sektor perikanan yang dihasilkan dari kegiatan budidaya. Di samping itu, juga karena kegiatan usaha budidaya udang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perolehan devisa, pendapatan pembudidaya, menciptakan lapangan kerja dan peluang berusaha. Revitalisasi tersebut juga sangat penting, terutama karena peran kegiatan budidaya udang ke depan yang semakin besar, sementara kegiatan penangkapan udang terus semakin berkurang. Kemudian juga karena perusahaan yang terlibat adalah perusahaan skala kecil, menengah, dan besar; dan pasar utama komoditas udang adalah pasar ekpor dengan permintaan yang masih tetap tinggi. Dengan demikian, revitalisasi industri budidaya udang akan mencakup revitalisasi pada level produksi, pengolahan dan pemasaran/perdagaangan melalui pelibatan usaha skala kecil, menengah dan besar.
Hasil evaluasi program revitalisasi industri udang di Indonesia yang dilakukan oleh Ditjen Perikanan Budidaya pada tahun 2010 menyatakan bahwa sebagian sasaran yang telah ditentukan masih belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan, seperti terkait dengan capaian produksi,baik yang dilakukan melalui intensifikisasi, ekstensifikasi dan diversifikasi budidaya tambak udang di Indonesia. Oleh karena itu, program revitalisasi industri budidaya udang kemudian terus dilanjutkan kembali pada tahun 2012 yang diintegrasikan ke dalam program Industrialisasi Perikanan, khusunya yang dilakukan dengan lebih mengoptimalkan segala sumberdaya yang dimiliki Indonesia (Ditjen Perikanan Budidaya – KKP, 2012).
Pertambakan di Indonesia pernah mengalami kejayaan dalam produksi udang pada era tahun 1990-an, dengan menerapkan teknologi ekstensif, semi- intensif dan intensif. Dengan timbulnya berbagai masalah, seperti penurunan daya dukung lingkungan, serangan penyakit udang, dan menurunnya mutu induk/benih udang, mengakibatkan kegagalan pada produksi udang. Rendahnya tingkat produktivitas perikanan budidaya udang di Indonesia saat ini masih dapat ditingkatkan, seperti dengan melakukan revitalisasi melalui perencanaan zonasi kawasan pesisir, sehingga akan tercipta keseimbangan tata ruang kawasan perikanan yang mampu mendukung keberlanjutan perikanan budidaya. Secara ideal, kegiatan perikanan budidaya haruslah dikembangkan secara berkelanjutan. Dalam artian, kegiatan budidaya tersebut haruslah menghasilkan produktivitas yang sebanding dengan upaya, tidak menciptakan konflik sosial, serta selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya.
Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali produksi udang di Indonesia, perlu dilakukan upaya-upaya khusus, antara lain melalui “Revitalisasi Industri Budidaya Udang”, terutama pada kegiatan budidaya udang di tambak-tambak yang idle atau yang beroperasi tetapi tidak secara optimal. Ditjen Perikanan Budidaya (2014), menyatakan bahwa program revitalisasi udang dimulai sejak Mei 2012 dan telah menghasilkan sekitar 390 ton udang. Selain itu juga, program ini telah menghasilkan sekitar 125 hektar tambak baru. Program revitalisasi udang vaname akan diperluas wilayahnya, tidak hanya terbatas di Jawa Barat, tetapi juga ke Jawa tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Utara. Pemerintah menargetkan dari sekitar 2.000 hektar bisa menghasilkan antara 11-12 ton per hektarnya, khususnya melalui dukungan teknologi dalam menghasilkan udang-udang yang berkualitas. Lebih lanjut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (2014) menjelaskan untuk anggaran yang disediakan pada program revitalisasi di 2013 mencapai Rp260 miliar dengan area cakupan mencapai 2.000 hektar. Sementara itu, pada 2012 anggarannya mencapai Rp225 miliar dan telah menghasilkan sekitar 1.000 hektar
vi di 5 kabupaten antara lain, Kerawang, Cirebon, Indramayu, Subang dan Serang. (http://www.neraca.co.id/industri/27307/Revitalisasi-Udang-Vaname-Akan-Diperluas--).
Masyarakat Akuakultur Indonesia – MAI (2014), menyatakan bahwa langkah pemerintah untuk melakukan proses revitalisasi tambak di beberapa daerah di Pantura hingga Jawa Timur harus berstrategi, jangan karena mengejar target penggenjotan jumlah produksi semata. Pemerintah seharusnya memperhatikan berbagai kemungkinan yang akan terjadi apabila revitalisasi dilakukan. Jangan hanya karena dikebut jumlah produksi semata hingga mengabaikan lingkungan. Aspek daya dukung lingkungan di sekitar Pantai Utara Jawa sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah, jika tidak ingin gagal di tengah jalan. Belum lagi tingkat kepadatan udang yang juga harus diperhatikan. “Maksimum kepadatan 60ekor per m2 . Sehingga produktivitas bisa mencapai 7-10 ton per panen. Sementara implementasi program revitalisasi yang dilakukan saat ini, tampaknya dilakukan “jor-joran” hingga ada tambak dengan kepadatan tanam sekitar 200 ekor per m2. Belum lagi masalah jadwal yang harus dipercepat secara tidak wajar oleh pemerintah. Seperti pada pelaksanaan program revitalisasi yang tahun sebelumnya (2012-2013). Proses pencanangan revitalisasi tambak baru digulirkan semenjak Oktober 2012, sedangkan target harus bisa dipenuhi di awal 2013 mendatang. Dari sisi jadwal, hal ini tidak mungkin karena harus dilakukan selama 1,5 bulan. Padahal seperti udang vaname dipanen paling cepat 4 bulan untuk bisa mencapai ukuran konsumsi ( http://regional.kompasiana.com/2012/12/11/revitalisasi-tambak-pantura-jangan-karena-asal-kebut-produksi--). Beberapa permasalahan tersebut, tampaknya sangat terkait erat dengan kondisi yang berkembang pada saat itu, dapat saja menyangkut hal-hal yang bersifat kebijakan tertentu atau kepentingan yang politis, atau pun hal lainnya.
Untuk itu, penelitian ini direncanakan akan dilakukan dengan tujuan mengkaji revitaliasi industri budidaya udang di Indonesia. Diharapkan dari hasil penelitian ini, akan dapat digunakan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia.
10. Perkiraan Keluaran
Perkiraan keluaran yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan penelitian ini adalah: (1) Tersedianya data dan informasi mengenai
dinamika produktivitas budidaya udang
di Indonesia, meliputi aspek produksi, pengolahan dan pemasaran/perdagangan
udang, serta memperhatikan pelibatan usaha budidaya tambak udang skala kecil
(tambak berteknologi tradisional), menengah (tambak berteknologi semi
intensif) dan besar (tambak berteknologi intensif)
;(2) Tersedianya data dan informasi mengenai
kinerja revitalisasi usaha budidaya udang
(produktivitas) dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta faktor penentu
keputusan pembudidaya merevitalisasi kegiatan usaha budidaya udang
;(3)
Tersedianya 1 (satu) buah Karya Tulis Ilmiah (KTI), 1 (satu) paket Data dan Informasi, serta 1 (satu) buah Rekomendasi Kebijakan terkait dengan kebijakan percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia.11. Metodologi Penelitian
11.1 Kerangka Pemikian
Sub sektor perikanan budidaya saat ini telah menjadi barometer utama alam menopang terwujudnya ketahanan pangan nasional, khususnya dari protein ikani. Isu ketahanan pangan saat ini telah menjadi isu strategis bukan hanya pada tataran nasional tapi telah menjadi isu global seiring dari semakin pesatnya pertumbuhan penduduk dunia yang akan memicu ketergantungan terhadap kebutuhan pangdan dan gizi yang aman dikonsumsi. Khusus untuk komoditas udang Indonesia, perannya tidak hanya terbatas pada dukungannnya terhadap ketahanan pangan, namun juga perannya sebagai komoditas penghasil devisa sangat penting bagi Indonesia, khususnya berkaitan dengan beberapa nilai strategis yang dimilikinya, seperti: potensi perikanan budidaya tambak udang yang sangat
vii besar, penguasaan teknologi yang tinggi, kontribusinya terhadap perekonomian nasional (pertumbuhan ekonomi nasional, kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja), peran budidaya tambak udang pada tataran pemasaran/perdagangan di tingkat regional ASEAN dan global.
Dalam dinamikanya, peran industri budidaya udang di Indonesia, pernah mengalami masa-masa kejayaannya, khususnya yang pada udang windunya yang memiliki pangsa pasar terbesar di dunia sehingga menjadinya Indonesia sebagai pemimpin pasar (market leader), namun kemudian seiring dengan meningkatkan tekanan akibat mewabahnya penyakit udang khususnya white spot telah menjadikan industri udang Indonesia memasuki era kejatuhannya. Menyikapi kejatuhan peran udang windu dari hasil budidaya tambak udang ini, pemerintah mulai menggalakkan program revitalisasi industri budidaya udang baik mencakup aspek teknis maupun non teknis, seperti terkait dengan masalah perbenihan, lahan tambak, infrastruktur, kelembagaan dan pasar.
Program revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, pada awalnya digulirkan dengan melalui program besar yang menjadi payungnya, yaitu “Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan” (RPPK) yang telah dicanangkan Presiden R.I. pada tanggal11 Juni 2005, pada pada tahap awal telah diimplementasikan pada tahun 2005 – 2009; dan kemudian program ini dilanjutkan dengan diintegrasikan dalam Program Industrialisasi Kelautan dan Perikanan, yang mulai dilaksanakan pada tahun 2012 dan terus berlangsung hingga saat ini.
Program revitalisasi industri budidaya udang tersebut masih perlu terus ditingkatkan kinerjanya, terutama karena program ini masih banyak menghadapi berbagai kendala dan hambatan di lapangan, baik yang menyangkut aspek teknis maupun non teknis. Dari aspek teknis, program revitalisasi tersebut diduga masih menghadapi hambatan, seperti menyangkut: (1) Masalah perbenihan (penyediaan dan teknologi); (2) Lahan pertambakan (produktivitas, dan lahan idle); dan (3) Kualitas dan kuantitas Infrastruktur. Sementara dari aspek non teknis (aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan serta pasar) diantaranya menyangkut: (1) Kualitas SDM dan kemampuan manajerial yang masih rendah yang dapat mempengaruhi produktivitas aspek teknis operasional, kelembagaan, dan pengelolaan, (2) keterbatasan akses dalam perolehan input teknologi dan modal usaha yang dapat mempengaruhi produktivitas usaha, dan (3) Rendahnya aspek pengelolaan data dan pengawasan. Di samping kendala, revitalisasi budidaya udang di Indonesia juga diduga menghadapi hambatan, seperti: (1) Banyaknya tekanan konflik kepentingan terutama dari sektor non perikanan, terutama sektor industri/manufaktur, dan perumahan; (2) Tingginya harga input produksi (pakan); (3) Implementasi kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang kurang tepat sasaran, dan (4) Rendahnya investasi; dan (5) Regulasi permodalan yang tidak berpihak.
Data dan informasi mengenai dinamika ekonomi dari kesejarahan per-udang-an di Indonesia dan faktor-faktor yang menjadi kendala dan hambatan dalam menentukan keberhasilan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, dapat sangat berguna dalam melakukan perumusan rekomendasi kebijakan, strategi dan rencana aksi percepatan revitalisi industri budidaya udang di Indonesia. Melalui rekomendasi kebijakan, strategi dan rencana aksi tersebut, diharapkan implementasi program revitalisasi budidaya udang ke depan akan berjalan lebih efektif dan sesuai dengan sasaran yang diharapkan.
Proses penelitian revitalisasi industri budidaya udang berkaitan dan perolehan data dan informasi mengenai dinamika ekonomi dari kesejarahan per-udang-an di Indonesia dan faktor-faktor yang menjadi kendala dan hambatan dalam menentukan keberhasilan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, serta perumusan rekomendasi kebijakan, strategi dan rencana aksi percepatan revitalisi industri budidaya udang di Indonesia, secara skematis tertera pada kerangka pemikiran penelitian revitalisasi industri budidaya udang, seperti tertera pada Gambar 1.
viii Model pendekatan penelitian revitalisasi industri budidaya udang ini merupakan penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatif serta dengan pemilihan lokasi secara purposive (sengaja) yakni di beberapa wilayah yang menjadi prioritas program revitalisasi industri budidaya udang, yaitu: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Lampung.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Revitalisasi Industri Budidaya Udang
11.3 Metoda Analisa Data
Pendekatan yang digunakan: (1) Pendekatan Sejarah melalui Interupted Time Series Analysis (ITSA); (2) Pendekatan Ekonometrika Model Pilihan Kualitatif; dan (3)
Perc ep at an R ev ita lis as i In du stri B u didaya Uda n g Program Revitalisasi Industri Budidaya Udang
Formulasi Rekomendasi Kebijakan dan Strategi serta Rencana Aksi Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang
Faktor-faktor Penentu Revitalisasi Industri Budidaya
Udang Indonesia Kendala
- Perbenihan (penyediaan dan teknologi)
- Lahan pertambakan (produktivitas dan lahan idle)
- Rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur pertambakan
- Rendahnya kualitas SDM dan kemampuan manajerial
- Rendahnya akses perolahan teknologi dan permodalan
- Rendahnya pengawasan
Implementasi Program Revitalisasi Industri Budidaya Udang
Hambatan:
- Tekanan konflik kepentingan sektor non perikanan
- Tingginya harga input produksi (pakan)
- Kebijakan yang tidak tepat sasaran dan tidak kondusif
- Rendahnya investasi
- Regulasi permodalan yang tidak berpihak
Tujuan:
Mendukung Ketahanan Pangan Nasional dan Global Meningkatkan Kontribusi terhadap Perekonomian
Meningkatkan Kesejahteraan Petambak Udang Meningkatkan Daya Saing Udang Menjaga Pelestarian Sumberdaya
Dinamika Per-Udang-an Indonesia M en ga m bil Pe laja ran P e n ti n g (Les so n Le arn ed ) Udan g
ix Pendekatan Analisis Prospektif. Masing-masing pendekatan analisis tersebut diringkas diringkas sebagaimana terlihat pada Tabel 1 dan dijelaskan pada uraian berikut.
ix Tabel 1. Tahap-Tahap Analisis Data yang Dilakukan Sesuai dengan Tujuan Penelitian
No Tujuan Topik data Jenis data Sumber data
Metode pengambilan
data
Metode analisis
1
Mengetahui dinamika
ekonomi politik per-
udang-an di Indonesia
pada era kejayaan,
keterpurukan, dan
kebangkitan.
Perkembangan produksi, pengolahan dan
pemasaran/perdagangan serta hal-halnya yang berkaitan dengan aspek teknis dan
permasalahannya. Primer dan Sekunder - Pembudidaya - Pengolah - Pemasar - Dinas KP - Ditjen/Dinas terkait Pengamatan Survey Pendekatan Sejarah dengan menggunakan model ITSA (Interpreted Time Seires Analysis) melalui studi pusataka dan desk study
2 Menganalisis faktor-faktor yang menentukan
keberhasilan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia
, khususnya
terkait dengan aspek teknis
(perbenihan, pertambakan
dan infrastruktur) dan non
teknis (sosial-ekonomi dan
kelembagaan).
Produksi tambak udang, level teknologi, kualitas benih/induk, harga udang, infrastruktur, permodalan, keamanan, produktivitas lahan, tenaga kerja, dan peubah lainnya terkait dengan revitalisasi budidaya udang
Primer dan Sekunder - Pembudidaya - Pengolah - Pemasar - Dinas KP - Ditjen/Dinas terkait Pengamatan Survey Pendekatan Model Regresi Pilihan Respons Kualitatif yang meliputi Model Peluang Linier, Model Probit, Model Logit, dan Model Tobit.
3 Merumuskan rekomendasi kebijakan, strategi dan rencana aksi dalam rangka mempercepat revitalisi industri budidaya udang di Indonesia
Data dan informasi dari hasil tujuan 1 dan 2. Primer dan Sekunder - Pembudidaya - Pengolah - Pemasar - Dinas KP - Ditjen/Dinas terkait Sintesa dari hasil tujuan 1 dan 2, serta Pendekatan Brainstorming, FGD Analisis Prospektif berdasarkan hasil hasil sintesa temuan dari tujuan 1 dan 2, kemudian dilakukan brainstorming dan diskusi kelompok terfokus.
x
11.4 Waktu dan Lokasi Penelitian
Kegiatan ini akan dilakukan selama satu tahun sejak Januari 2015 sampai dengan Desember 2015. Lokasi kegiatan mencakup wilayah-wilayah prioritas program revitalisasi industri budidaya udang, yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Lampung.
11.5 Data yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder terkait dengan aspek produk, pengolahan dan pemasaran/perdagangan udang baik yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan di Wilayah Penelitian maupun dari Statistik perikanan budidaya udang (Ditjen Perikanan Budidaya, KKP). Data primer yang dikumpulkan dianataranya berupa data yang berkaitan dengan persepsi pembudidaya mengenai perkembangan produksi, pengolahan, pemsaran/perdagangan, dan kelembagaan (permodalan dan produksi). Data sekunder yang dikumpulkan data menyangkut perkembangan aspek produksi tambak udang termasuk teknologi dan produktivitas, pengolahan dan pemasaran/perdagangan ekspor dan impor serta domestik, aspek kelembagaan, infrastruktur, dan berbagai kebijakan yang terkait dengan program revitalisasi industri budidaya udang baik secara langsung maupun tidak langsung
11.6 Teknik Pengumpulan Data dan Penentuan Responden
Pada penelitian ini metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dari sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011). Teknik ini digunakan untuk menggali data kepada narasumber atau responden dengan pertimbangan yaitu orang yang paham atau mengetahui informasi terkait program revitalisasi industri budiadaya udang di Indonesia baik provinsi maupun kabupaten/kota, Bappeda, Pelabuhan Perikanan, pelaku usaha dan tokoh nelayan. Metode pengumpulan data dengan pengamatan, wawancara dengan menggunakan kuesioner, dan dokumentasi.
12 Rencana Anggaran Belanja (RAB):
MA Rincian Komposisi Pembiayaan Jumlah (Rp) Jumlah (%)
521211 Belanja Bahan 17.735.000 13%
521213 Honor Output Kegiatan 2.400.000 2% 521811 Belanja Barang untuk Persediaan Barang
Konsumsi 13.000.000 6%
522141 Belanja Sewa 14.700.000 11%
522151 Belanja Jasa Profesi 16.300.000 12% 524111 Belanja Perjalanan Biasa 110.902.000 56%
xi
13 RENCANA PENYERAPAN ANGGARAN DAN REALISASI FISIK (PER BULAN DAN PER BELANJA)
Rencana Penyerapan Anggaran Kegiatan
MA TAHAPAN BULAN KE-( Rp.000)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Total Penyerapan Anggaran/Bulan/Rp(000) 0 600 11,203 15,425 15,413 22,118 12,458 24,793 15,214 23,859 23,659 8,883 A. Persiapan, Studi Pustaka, Prasurvey dan Koordinasi Pemantapan Pelaksanaan Kegiatan
521211 Belanja Bahan 0 240 240 240 240 240 240 240 240 240 240 240
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang
Konsumsi 0 363 363 363 363 363 363 363 363 363 363 363
522114 Belanja Sewa 0 0 700 0 0 0 0 0 0 0 0 0
522115 Belanja Jasa Profesi 0 0 3,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0
524111 Belanja perjalanan biasa 0 0 6,900 0 0 0 0 0 0 0 0 0
B. Pengumpulan Data Primer,Sekunder, dan FGD di Lapangan
521211 Belanja Bahan 0 0 0 1,500 620 1,980 620 1,980 175 0 0 0
521213 Honor Output Kegiatan 0 0 0 800 0 800 0 800 0 0 0 0
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang Konsumsi
0 0 0
800 800 800 800 800 0 0 0 0
522114 Belanja Sewa 0 0 0 0 3,500 3,500 0 3,500 0 3,500 0 0
522115 Belanja Jasa Profesi 0 0 0 0 900 1,500 0 1,900 0 0 0 0
524111 Belanja perjalanan biasa 0 0 0 11.722 9.690 13.635 10.435 15.210 14.436 14.436 14.436 0 C.Pengolahan Data, Analisis Data, Penyusunan Laporan dan Dokumen Capaian Output
521211 Belanja Bahan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,320 2,620 0
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang Konsumsi
0 0 0 0 0 0 0 0 0
1,500 1,500 0
522115 Belanja Jasa Profesi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1,500 4,500 0
524111 Belanja perjalanan biasa 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
D. Seminar dan Sosialisasi Hasil Dengan Stakeholder
521211 Belanja Bahan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3,280
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang Konsumsi
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2,000
xii
Rencana Realisasi Fisik
MA TAHAPAN BULAN KE-( %)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
REALISASI FISIK/BLN/% 0% 4% 12% 22% 35% 49% 58% 72% 74% 82% 92% 100%
A. Persiapan, Studi Pustaka, Prasurvey dan Koordinasi Pemantapan Pelaksanaan Kegiatan
521211 Belanja Bahan 0% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2%
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang
Konsumsi 0% 2% 2% 2% 5% 5% 8% 5% 3% 4% 3% 3%
522114 Belanja Sewa 0% 0% 2% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
522115 Belanja Jasa Profesi 0% 0% 3% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
524111 Belanja perjalanan biasa 0% 0% 3% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
B. Pengumpulan Data Primer,Sekunder, dan FGD di Lapangan
521211 Belanja Bahan 0% 0% 0% 2% 2% 7% 9% 12% 7% 0% 0% 0%
521213 Honor Output Kegiatan 0% 0% 0% 1% 6% 8% 0% 5% 0% 0% 0% 0%
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang Konsumsi
0% 0% 0%
5% 5% 2% 15% 7% 0% 0% 0% 0%
522114 Belanja Sewa 0% 0% 0% 0% 5% 7% 0% 4% 0% 6% 0% 0%
522115 Belanja Jasa Profesi 0% 0% 0% 0% 5% 5% 0% 5% 0% 0% 0% 0%
524111 Belanja perjalanan biasa 0% 0% 0% 10% 5% 10% 17% 14% 11% 11% 11% 0%
C.Pengolahan Data, Analisis Data, Penyusunan Laporan dan Dokumen Capaian Output
521211 Belanja Bahan 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 5% 3% 0%
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang Konsumsi
0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
4% 4% 0%
522115 Belanja Jasa Profesi 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 3% 3% 0%
524111 Belanja perjalanan biasa 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
D. Seminar dan Sosialisasi Hasil Dengan Stakeholder
521211 Belanja Bahan 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 4%
521811 Belanja Barang Untuk Persediaan Barang Konsumsi
0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
3%
xiv
14 DAFTAR PUSTAKA
Bourgeois, R and F. Jesus. 2004. Participatory Proepective Analysis, Exploring and Anticipating Chalanges with Stakeholders. Center for Alleviation of Poverty through Secondary Crops Development in Asia and The Pacific and French Agricultural Research center for International development. Monograph (46): 1-29.
Durance, P., and M. Godet. 2010. Scenaerion Building: Uses and Abuses. Technol.Forecast.Sos. Change, 77: 1488-1492.
Eriyatno. 1999. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Jilid 1. Edisi Ketuga, IPB Press.
Geoffrey, M., D.DeMatteo, D.Festinger. 2005. Essentials of Research Design and Methodology. New Jersey: John Willey and Sons.
Husaini, U dan Akbar P.S. 2009.Metode Penelitian Sosial. Bumi Aksara. Jakarta
Gottschalk, L. 1975/ Pengantar Metode Sejarah. Universitas Indonesia. Jakarta.
Gujarati, D.N. 2004. Baasic Econometrica. Fourth Edition. New York: The McGraw-Hill Company.
Juanda, B. 2009. Ekonometrika: Permodelan dan Pendugaan. IPB Press. Bogor.
Kholistianingsih dan Hardiansyah. 2005. Jenis-jenis Penelitian Secara Umum dan Pendekatannya. Yogyakarta: JurusanTeknik Elektro UGM. Diunduh dari
websitehttp://te.ugm.ac.id/ ~risanuri/v01/wp-content/uploads/2011/05/final-hardi-dan-kholis.pdfpada tanggal 2 Maret 2015.
Mangkusubroto, K. dan Trisnadi C.L. 1985. Analisis Keputusan Pendekatan Sistem dan Manajemen Usaha dan Proyek. Ganesa Exacta. Bandung. 271 hlm.
Marzuki, 2002. Metodoligi Riset, Fakultas Ekonomi UII. Yogyakarta.
Nazir, M.. 2003. Metode Ilmiah. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta. Tiara Wacana.
Ramsay, C.R., L. Matowe, R. Grilli, J.M. Grimshaw, and R.E. Thomas. 2003. Interrupted Time Series Designs in Health Technology Assesment: Lessons From Two
Systematic Reviews of BeahviourChange Strategies. International Journal of Health Technology Assesment in Health Care; 19: 613-23.
Syamsudin, H. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Sugiyono, 2011.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Alfabeta.Bandung.
Wagner, A.K., S.B. Soumerai, F. Zhang and D. Ross-Degnan. 2002. Segmented Regression Analysis Of Interrupted Time Series Studies In Medication Use Research. Journal of Clinical Pharmacy and Therapeutics (2002) 27, 299–309.
Widarjono, A. Ekonometrika: Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisis Kedua. Penerbit Ekonisia. Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta.
xvi
RINGKASAN
Budidaya udang Indonesia mengalami kejayaan pada era tahun 1990-an, namun mengalami kemunduran pada awal era 2000-an. Faktor penyebabnya antara lain masalah penurunan daya dukung lingkungan, serangan penyakit, dan menurunnya mutu induk/benih udang. Untuk membangkitkan kembali produksi udang, dilakukan program “Revitalisasi Industri Budidaya Udang”, terutama pada kegiatan budidaya udang di tambak-tambak yang idle. Program revitalisasi ini dilaksanakan pada periode 2005—2009 dan dimulai kembali sejak Mei 2012 dan telah menghasilkan sekitar 390 ton udang. Selain itu juga, program ini telah menghasilkan sekitar 125 hektar tambak baru. Program revitalisasi udang vaname akan diperluas wilayahnya, tidak hanya terbatas di Jawa Barat, tetapi juga ke Jawa tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Utara. Pemerintah menargetkan dari sekitar 2.000 hektar bisa menghasilkan antara 11-12 ton per hektarnya, khususnya melalui dukungan teknologi dalam menghasilkan udang-udang yang berkualitas. Anggaran pada program revitalisasi di 2013 mencapai Rp260 miliar dengan area cakupan mencapai 2.000 hektar. Sementara itu, pada 2012 anggarannya mencapai Rp225 miliar dan telah menghasilkan sekitar 1.000 hektar di 5 kabupaten antara lain, Kerawang, Cirebon, Indramayu, Subang dan Serang. Untuk itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) Mengetahui dinamika per- udang-an Indonesia pada era kejayaan, keterpurukan dan kebangkitan; 2) Menganalisis faktor penentu keberhasilan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia; 3) Merumuskan kebijakan, strategi dan rencana aksi percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada Januari— Desember 2015 dengan memilih lokasi penelitian di wilayah prioritas program revitalisasi industri budidaya udang, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Lampung. Pendekatan yang digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, wawancara, dan FGD. Metode analisis data menggunakan: (1) Pendekatan Sejarah dan Interupted Time Series Analysis (ITSA); (2) Pendekatan Ekonometrika Model Pilihan Kualitatif; dan (3) Pendekatan Analisis Prospektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kesejarahannya, ditemukan lima era dinamika produktivitas (indeks Total Factor Productivity – TFP) usaha budidaya udang di Indonesia, yaitu: (a) Era Pra dan Awal Budidaya Udang (1964—1970); (b) Era Perintisan Teknologi Intensif (1971—1981); (c) Era Kejayaan (1982—1995); (d) Era Penurunan Kinerja (1996—1999); dan (e) Era Revitalisasi/Kebangkitan Budidaya Udang (2000 — sekarang).Dinamika kinerja indeks produktivitas (Total Factor Productivity – TFP) usaha budidaya udang di Indonesia selam periode 1989 hingga 2013 mengalami kondisi pasang-surut tetapi masih berada di bawah (belum melampaui) kinerj TFP tahun 1998, serta diwarnai oleh kondisi yang menghambat kinerja indeks TFP tersebut seperti serangan penyakit, dan kondisi yang mendukung seperti intervensi berbagai kebijakan yang terkait. Kemudian, ditemukan pula bahwa Kebijakan penguatan sarana irigasi tambak yang diimplementasi melalui program rehabilitasi dan pembangunan saluran pengairan/irigasi tambak udang sejak tahun 1999 hingga sekarang ternyata memberikan pengaruh yang nyata dalam memperbaiki kinerja produktivitas (indeks TFP) usaha budidaya udang di Indonesia. Sementara, kebijakan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia tahap satu yang diimplementasi pada tahun 2006-2009 maupun tahap dua yang dimplementasi sejak tahun 2012 hingga sekarang ternyata tidak berpengaruh nyata dalam memperbaiki kinierja produktivitas (indeks TFP) usaha budidaya udang di Indonesia.
Di samping itu, hasil penelitian menunjukkan pula bahwa di tingkat lapang (lokasi penelitian), kinerja TFP (produktivitas) usaha budidaya udang di tingkat lapang bervariasi antar lokasi pengamatan, yaitu berkisar antara 0,81 – 2,67; dengan TFP rata-rata sebesar 1,79 yang tergolong cukup baik karena indeks output 1,79 kali lebih besar dari indeks inputnya. Kemudian faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap TFP (produktivitas) usaha budidaya udang di tingkat lapang adalah: (1) Indeks kualitas benih udang, (2) Indeks kualitas pakan udang, (3) Dummy Kerjasama, (4) Tingkat pengalaman usaha budidaya, (5) Kondisi infrastruktur irigasi, (6) Dummy serangan penyakit, dan (7) Tingkat pendidikan
xvii formal. Sementara keputusan pembudidaya terkait dengan revitalisasi usaha budidaya ditentukan oleh: (1) Kondisi infrastruktur irigasi, (2) Dummy penguasaan teknologi/pendampingan, (3) Kualitas bantuan sarana produksi, (4) Ketersediaan benih udang berkualitas dan terjangkau, (5) Ketersediaan pakan udang berkualitas dan terjangkau, (6) Tingkat pendidikan formal, dan (7) Tingkat pengalaman usaha budidaya udang.
Selain itu, ditemukan sebanyak delapan peubah yang dinilai menjadi faktor yang paling berpengaruh penting dalam menyusun rumusan kebijakan percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, dalam kategori sebagai faktor penggerak/input adalah (1) Peran mitra, (2) Sosialisasi dan monitoring, (3) Kerjasama swasta, dan (4) Ketewrlibatan pemda; dan dalam kategori sebagai faktor penghubung/proses adalah: (1) Pengauatan irigasi, (2) Kawasan budidaya, (3) Kerjasama swasta, dan (4) Perbanyakan wilayah. Berdasarkan kedelapan peubah tersebut direkomendasikan tiga altenatif kebijakan, sebagaimana disampaikan uraian di bawah ini.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, untuk mempercepat capaian kinerja program revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, perlu dilakukan beberapa alternative kebijakan, yaitu: (1) Meningkatkan jumlah wilayah penerima program revitalisasi budidaya udang tambak di Indonesia, yang diikuti dengan mengintensifkan sosialisasi dan monitoring terkait dengan penguasaan teknologi anjuran dan pemanfaatan bantuan program revitalisasi budidaya udang tambak di Indonesia; (2) Meningkatkan dukungan sarana dan prasarana secara lebih baik dan nyata yang diselaraskan dengan program daerah dan disesuaikan dengan kondisi spesifik wilayah untuk menjaga keberlanjutannya; dan (3) Meningkatkan keterlibatan pemerintah daerah, pihak swasta penyedia sarana, pihak mitra dan sektor perbankan untuk lebih berpartisipasi dalam mendorong percepatan industri budidaya udang di Indonesia.
xx
DAFTAR ISI
Halaman:
LEMBAR PENGESAHAN ………... ii
COPY RENCANA OPERASIONAL KEGIATAN PENELITIAN (ROKP) ……. iii
RINGKASAN ………. xvi
DAFTAR ISI ……….. iv
DAFTAR TABEL ……….... v
DAFTAR GAMBAR ………... vi
I. PENDAHULUAN ……….. 1
1.1. Latar Balakang dan Masalah ……….. 1
1.2 Tujuan ………... 1.3. Perkiraan Keluaran ……… 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ……… 4
2.1 Budidaya Perairan (Akuakultur ) ………. 4
2.2 Kebijakan Pemerintah Terkait Peningkatan Produktivitas Tambak Udang ... 12
2.3 Konsep Total Factor Productivity ……….. 13
2.4 Hasil Penelitian Terdahulu ……….. 20
III. METODOLOGI ………... 24
3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian ……… 24
3.2 Metode Pendekatan ………. 27
3.3 Metode Analisis Data ……… 27
3.3.1 Metode Analisis Sejarah dan ITSA ... 29
3.3.2 Metode Analisis Total Factor Productivity (TFP) ……….. 48
3.3.3 Metode Analisis Model Regresi Pilihan Kualitatif ... 52
3.3.3.1 Model Regresi Peluang Linier ... 54
3.3.3.2 Model Regresi Probit ... 59
3.3.3.3 Model Regresi Probit ... 64
3.3.4 Metode Analisis Prospektif ………... 72
3.4 Waktu dan Lokasi Penelitian ……….. 74
3.5 Jenis dan Sumber Data ………. 76
xxi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 79
4.1 Sejarah dan Program Revitalisasi Usaha Budidaya Udang di Indonesia ... 79 4.1.1 Sejarah Budidaya Udang di Indonesia: Analisis Pendekatan Sejarah .. 79 4.1.2 Program Revitalisasi Usaha Budidaya Udang di Indonesia …………. 87 4.2 Dinamika Produktivitas Budidaya Tambak Udang di Indonesia dan Peran
Beberapa Kebijakan yang Mempengaruhinya ... 93
4.2.1 Perkembangan Produksi Udang Indonesia, 1989-2013 ... 93 4.2.2 Telaah Dinamika Produktivitas Budidaya Tambak Udang Indonesia,
1989 – 2013 ... 96
4.2.2.1 Perkembangan Output, 1989-2013 ……… 97 4.2.2.2 Perkembangan Input, 1989-2013 ………. 98 4.2.2.3 Perkembangan Produktivitas (Indeks TFP), 1989-2013 …….. 99 4.2.3 Peran Beberapa Kebijakan yang Mempengaruhi Produktivitas
Budidaya Udang Tambak di Indonesia selama Periode 1989 – 2013:
Aplikasi Model ITSA ……… 101
4.3 Kinerja Revitalisasi (Produktivitas) Usaha Budidaya Udang, Faktor-faktor
yang Mempengaruhi, dan Penentu Keputusan Pembudidaya ... 104 4.3.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Program Revitalisasi Tambak Udang di
Lokasi Penelitian ………... 104
4.3.1.1 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Lampung ... 104 4.3.1.2 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Jawa Barat ... 107 4.3.1.3 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Jawa Tengah .... 110 4.3.1.4 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Jawa Timur ... 113 4.3.1.5 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Sulawesi Selatan 116
4.3.2 Kinerja Program Revitalisasi (Produktivitas) Usaha Budidaya Udang
di Lokasi Penelitian ... 119 4.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Revitalisasi (Produktivitas)
Usaha Budidaya udang di Lokasi Penelitian ... 120
4.3.4 Faktor Penentu Keputusan Pembudidaya Merevitalisasi Usaha
Budidaya udang di Lokasi Penelitian ... 121
4.4 Analisis Prospektif Kebijakan Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya udang di Indonesia ... 122 4.4.1 Penentuan Faktor Kunci ... 122 4.4.2 Analisis Pengaruh Antar-Faktor Kunci ... 124 4.4.3 Penentuan Kondisi (State) Faktor Kunci di Masa Depan ... 128 4.4.4 Pembangunan Skenario untuk Rekomendasi Kebijakan ... 130 4.4.5 Rumusan Kebijakan Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang 132
xxii
V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN ………. 134
5.1 Kesimpulan ……….. 134
5.2 Implikasi Kebijakan ……….. 135
DAFTAR PUSTAKA ……… 137
xxii
DAFTAR TABEL
Judul Tabel: Halaman:
Tabel 1. Pengelompokkan Komoditas Akuakultur Berdasarkan Karakter Morfologi
dan Jenis Habitat ... 8 Tabel 2. Jenis-jenis Akuakultur Berdasar Tingkat Teknologi dan Produksi ... 9 Tabel 3. Batasan Sistem Budidaya Udang di Tambak ... 10 Tabel 4. Total Factor Productivity (TFP) dalam Budidaya Polikultur Ikan Jenis Carp
Tahun 1998-1999 ... 21 Tabel 5. Indeks TFP Interspasial Budidaya Ekstensif Udang pada Tiga Kecamatan, di
Sulawesi Menggunakan Tornqvish Theil Index, 1999 ... 21 Tabel 6. Indeks TFP Interspasial Indeks pada Budidaya Ekstensif Udang Berdasarkan
Sistem Budidaya dari Tiga Kecamatan, di Sulawesi Menggunakan Tornqvish Theil Index, 1999 ... 22 Tabel 7. Tahapan Analisis Data yang Dilakukan Sesuai dengan Tujuan Penelitian ... 28 Tabel 8. Sebaran Peluang bagi Peubah Galat (εi) ... 57 Tabel 9. Hubungan Nilai Indeks Z dan Sebaran Peluang Normal Kumulatif ………… 63 Tabel 10. Nilai-nilai Model Regresi Logistik dengan Peubah Bebas Dikotomi ……… 71 Tabel 11.Road Map Revitalisasi Tambak Udang Tahun 2012—2014 ………. 91 Tabel 12. Peran Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Model Pola Kemitraan pada
Revitalisasi Tambak ……….……… 93
Tabel 13. Produksi Udang dari Hasil BudidayaTambak Indonesia Menurut Varietas, Tahun 1989-2013 (ton) ... 95 Tabel 14. Produksi Udang Hasil Penangkapan Menurut Varietas, Tahun 1989-2013
(ton) ... 96 Tabel 15. Rata-rata Pertumbuhan Output dan Penggunaan Input Budidaya Tambak
Udang Indonesia, Tahun 1989-2013 ... 98 Tabel 16. Hasil Pendugaan Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Total
Factor Productivity Usaha Budidaya Udang di Indonesia ... 102 Tabel 17. Pelaksanaan Demfarm di Provinsi Lampung Tahun 2014 ……….. 104 Tabel 18. Luas dan Produksi Demfarm Tambak Udang di Jawa Barat Tahun 2013... 107 Tabel 19. Luas dan Produksi Demfarm Tambak Udang di Jawa Barat Tahun 2013 .. 108 Tabel 20. Luas dan Produksi Tambak Udang di Kab. Brebes Tahun 2013 ... 110 Tabel 21. Jumlah RTP/Perusahaan Perikanan, Luas Pemeliharaan, Volume dan Nilai
Produksi di Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2014 ... 116
Tabel 22. Luas Tambak Udang Demfarm dari POKDAKAN Penerima Program
xxiii Tabel 23. Luas areal budidaya Tambak di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan
Tahun 2014 ... 117 Tabel 24. Produktivitas Budiadaya Udang Windu dan Udang Vaname di Kabupaten
Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2013 ... 118 Tabel 25. Kisaran Angka Indeks TFP Usaha Budidaya Udang di Lokasi Penelitian
(Tingkat Lapang) ……….. 120
Tabel 26. Hasil Pendugaan Faktor-faktor yang Mempengaruhi TFP Usaha Budidaya
Udang di Tingkat Lapang (2015) ……….. 120 Tabel 27. Hasil Pendugaan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan
Pembudidaya Mengikuti Program Revitalisasi Industri Budidaya Udang di
Tingkat Lapang (2015) ………. 121
Tabel 28. Peubah-peubah yang Terindendifikasi sebagai Faktor Penentu Percepatan
Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia ... 123 Tabel 29. Pilihan Partisipan Secara Konsensus mengenai Peubah-peubah yang Paling
berpengaruh (Penting dan Urgen) terhadap Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia ... 124 Tabel 30. Skor Pengaruh Antar-peubah yang dinilai oleh Partisipan sebagai Penentu
Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia ... 126 Tabel 31. Hasil Perhitungan Indeks Total Pengaruh Global dan Indeks Total
Ketergantungan Global Peubah-peubah dalam Percepatan Revitalisasi
Industri Budidaya Udang di Indonesia ... 127 Tabel 32. Kondisi Spektrum Peubah yang Ditetapkan oleh Partisipan secara
Konsensus ... 129 Tabel 33. Kondisi Peubah yang Ditetapkan oleh Partisipan secara Konsensus ... 130 Tabel 34. Alternatif Pilihan Skenario untuk berbagai Kombinasi Kondisi yang
Mungkin terkait dengan Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang
xxiii
DAFTAR GAMBAR
Judul Gambar: Halaman:
Gambar 1. Perbandingan antara beberapa sistem budidaya ikan ... 10
Gambar 2. Fungsi Produksi yang Menggambarkan TFP ... 15
Gambar 3. Berbagai Alternatif Metode untuk Pengukuran Produktivitas ... 17
Gambar 4. Kerangka Pemikiran Penelitian Revitalisasi Industri Budidaya Udang ... 26
Gambar 5. Hubungan antara Intervensi dengan Outcome berdasarkan Perubahan
Waktu dalam Analisis Interrupted Time Series (ITS) ... 31
Gambar 6. Pengukuran Variablity pada dua interrupted time series hipotetik. Gambar Pertama Menunjukkan series variability yang tinggi, dan Gambar Kedua menujukkan series yang relatif stabil ... 34
Gambar 7. Implementasi Efek Michigan’s dari Pemberlakuan Penggunaan Kursi Pengaman pada Mobil terhadap Cedera Kendaraan Bermotor untuk Usia
0 sampai 3 Tahun ……….. 35
Gambar 8. Proporsi Outlet Tembakau di Masing-masing Empat Komunitas yang Bersedia untuk Menjual Kepada Mereka yang Berusia di Bawah 18
Tahun Setelah Implikasi Program Reward dan Sisanya ……… 37 Gambar 9. Ilustrasi Sampel Berukuran B Kemungkinan Berasal dari Populasi A
daripada Populasi B ... 43 Gambar 10. Sebaran Data dan Garis Regresi Model LPM ... 59
Gambar 11. Fungsi probabilitas Distribusi Kumulatif CDF) ... 60
Gambar 12. Perbedaan Model Probit dengan Model Peluang Linier (LPM) ... 63
Gambar 13. Model Distribusi Normal dan Model Distribusi Logistik ……… 66
Gambar 14. Tingkat Kepentingan Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kinerja Sistem yang Dikaji ...
74 Gambar 15. Model Pola Kemitraan pada Revitalisasi Tambak Melalui Kegiatan
Demfarm ………..
92 Gambar 16. Perkembangan Produksi Udang Indonesia Hasil Budidaya di Tambak
dan Hasil Penangkapan,Tahun 1989-2013 ...
94 Gambar 17. Indeks TFP Budidaya Udang Tambak Indonesia menurut Harga Konstan
Tahun 1989 =100, Selama Era Sisa Kejayaan (1989-1995), Era Penurunan Kinerja (1996-2005), dan Era Kebangkitan/Revitalisasi (2006-2014) ... 100 Gambar 18. Hasil Analisis Pengaruh Langsung antar-peubah dalam Analisis
Prospektif Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia ... 127
xxiv
DAFTAR LAMPIRAN
Judul Lampiran: Halaman:
Lampiran 1. Naskah Karya Tulis Ilmiah (KTI): Dinamika Total Factor Productivity Usaha Budidaya Udang Indonesia Periode 1998-2013 dan Pengaruh
Beberapa Kebijakan Udang ……… 143
Lampiran 2. Naskah Rekomendasi Kebijakan (RK): Mempercepat Revitalisasi Usaha Budidaya Udang di Indonesia melalui Peningkatan
1
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Udang merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Udang menyumbang sekitar 1.8% devisa non-migas dan menyediakan lapangan kerja bagi 1.7 juta orang (International Finance Corporation/IFC, 2007b). Namun demikian, pengembangan udang terkendala rendahnya produktivitas. Studi IFC (2006, 2007a); USAID (2006); dan World Bank (2006) berturut-turut untuk Indonesia, Nigeria, Bangladesh, dan Pakistan, menunjukkan pentingnya peningkatan produktivitas, agar udang dari negara-negara tersebut mampu bersaing di pasar internasional. Senada dengan hal tersebut, Helble dan Okubo (2006) menyatakan bahwa keberhasilan ekspor berkelanjutan hanya dapat dicapai jika produktivitas tinggi.
Guna mendukung peningkatan produktivitas budidaya udang di Indonesia, pemerintah telah mengimplementasi berbagai kebijkan dan program. Salah satunya, adalah kebijakan dan program revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia merupakan bagian dari program besar “Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan” (RPPK) yang telah dicanangkan Presiden R.I. pada tanggal 11 Juni 2005. Program besar ini diimplemetasikan menggunakan strategi umum untuk: (1) Meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan (pembudidaya tambak), dan petani hutan; (2) Meningkatkan daya saing produk pertanian, perikanan dan kehutanan; dan (3) Menjaga kelestarian sumberdaya pertanian, perikananan dan kehutanan (Pusdatin - KKP., 2005).
Pada awal direncanakannya program revitalisasi perikanan di Indonesia (tahun 2005), dijalankan dengan misi utama berupa “percepatan implementasi pembangunan perikanan untuk mengatasi pemulihan ekonomi menuju Indonesia yang lebih sejahtera melalui pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan secara optimal, berkelanjutan dan berkeadilan. Tujuan revitalisasi perikanan (termasuk industri budidaya udang) adalah meningkatkan kesejahteraan nnelayan, pembudidaya ikan (udang) dan masyarakat pesisir lainnya serta pelaku ekonomi perikanan/kelautan, menyediakan lapangan kerja, kesempatan berusaha, serta meningkatkan konsumsi dan menyediakan bahan baku industri di dalam negeri dan penerimaan devisa, serta meningkatkanan penerimaan negara/daerah melalui hasil perikanan. termasuk dari hasil budidaya udang.
Program revitaslisasi perikanan dikembangkan mencakup revitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang ada berupa berbagai kegiatan usaha di bidang penangkapan ikan, budidaya perikanan, dan mengoptimalisasikan operasioanl unit usaha pengolahan ikan dalam negeri, termasuk juga menciptakann sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru berupa pemanfaatan peluang usaha perikanan yang masih memiliki prospek yang baik.
2 Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009, pemerintah telah menjalankan program jangka menengah revitalisasi perikanan berupa: (1) Pengembangan industri perikanan terpadu; (2) Pengembangan Prasarana Pelabuhan; (3) Pengembangan prasarana budidaya perikanan; dan (4) Peningkatan partisipasi Indonesia dalam perikanan regional.
Salah satu langkah operasional yang dilakukan dalam rangkaa mendukung revitalisasi perikanan adalah “Pengembangan Komoditas Udang” sebagai bentuk dari langkah-langkah dalam operasionalisasi revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, yang tahap awalnya telah diimplementasikan para kurun waktu 2005-2009 adalah (Pusdatin-KKP, 2005): Melakukan impor indusk dan benih udang vaname SPF (
Spesifik Pathogen Free
)
; (2) Melakukan domestikasi dan pemuliaan udang vaname menjadi induk SPF dan SPR, sehingga mengurangi ketergantungan dari impor; (3) Membangun National Backyard Hatchery (NBH) udang; (4) Melakukan revitalisasi backyard hatchery udang; (5) Menerapkan sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan udang; (6) Mengembangkan laboratorium lingkungan dan penyakit; (7) Menyediakan sarana dan prasarana budidaya tambak udang; dan (8) Membantu penguatan permodalan bagi pembudidaya udang.Revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia sangat terkait erat dengan posisi komoditas udang di Indonesia yang merupakan komoditas unggulan di sektor perikanan yang dihasilkan dari kegiatan budidaya. Di samping itu, juga karena kegiatan usaha budidaya udang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perolehan devisa, pendapatan pembudidaya, menciptakan lapangan kerja dan peluang berusaha. Revitalisasi tersebut juga sangat penting, terutama karena peran kegiatan budidaya udang ke depan yang semakin besar, sementara kegiatan penangkapan udang terus semakin berkurang. Kemudian juga karena perusahaan yang terlibat adalah perusahaan skala kecil, menengah, dan besar; dan pasar utama komoditas udang adalah pasar ekpor dengan permintaan yang masih tetap tinggi. Dengan demikian, revitalisasi industri budidaya udang akan mencakup revitalisasi pada level produksi, pengolahan dan pemasaran/perdagaangan melalui pelibatan usaha skala kecil, menengah dan besar.
Hasil evaluasi program revitalisasi industri udang di Indonesia yang dilakukan oleh Ditjen Perikanan Budidaya pada tahun 2010 menyatakan bahwa sebagian sasaran yang telah ditentukan masih belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan, seperti terkait dengan capaian produksi, baik yang dilakukan melalui intensifikisasi, ekstensifikasi dan diversifikasi budidaya tambak udang di Indonesia. Oleh karena itu, program revitalisasi industri budidaya udang kemudian terus dilanjutkan kembali pada tahun 2012 yang diintegrasikan ke dalam program Industrialisasi Perikanan, khusunya yang dilakukan dengan lebih mengoptimalkan segala sumberdaya yang dimiliki Indonesia (Ditjen Perikanan Budidaya – KKP, 2012).
3 Pertambakan di Indonesia pernah mengalami kejayaan dalam produksi udang pada era tahun 1990-an, dengan menerapkan teknologi ekstensif, semi- intensif dan intensif. Dengan timbulnya berbagai masalah, seperti penurunan daya dukung lingkungan, serangan penyakit udang, dan menurunnya mutu induk/benih udang, mengakibatkan kegagalan pada produksi udang. Rendahnya tingkat produktivitas perikanan budidaya udang di Indonesia saat ini masih dapat ditingkatkan, seperti dengan melakukan revitalisasi melalui perencanaan zonasi kawasan pesisir, sehingga akan tercipta keseimbangan tata ruang kawasan perikanan yang mampu mendukung keberlanjutan perikanan budidaya. Secara ideal, kegiatan perikanan budidaya haruslah dikembangkan secara berkelanjutan. Dalam artian, kegiatan budidaya tersebut haruslah menghasilkan produktivitas yang sebanding dengan upaya, tidak menciptakan konflik sosial, serta selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya.
Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali produksi udang di Indonesia, perlu dilakukan upaya-upaya khusus, antara lain melalui “Revitalisasi Industri Budidaya Udang”, terutama pada kegiatan budidaya udang di tambak-tambak yang idle atau yang beroperasi tetapi tidak secara optimal. Ditjen Perikanan Budidaya (2014), menyatakan bahwa program revitalisasi udang dimulai sejak Mei 2012 dan telah menghasilkan sekitar 390 ton udang. Selain itu juga, program ini telah menghasilkan sekitar 125 hektar tambak baru. Program revitalisasi udang vaname akan diperluas wilayahnya, tidak hanya terbatas di Jawa Barat, tetapi juga ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Utara. Pemerintah menargetkan dari sekitar 2.000 hektar dan dapat menghasilkan antara 11-12 ton per hektarnya, khususnya melalui dukungan teknologi dalam menghasilkan udang-udang yang berkualitas.
Lebih lanjut Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (2014) menjelaskan untuk anggaran yang disediakan pada program revitalisasi di 2013 mencapai Rp260 miliar dengan area cakupan mencapai 2.000 hektar. Sementara itu, pada 2012 anggarannya mencapai Rp225 miliar dan telah menghasilkan sekitar 1.000 hektar di Jawa barat yang mencakup lima kabupaten, yaitu: Kerawang, Cirebon, Indramayu, Subang dan Serang.
Masyarakat Akuakultur Indonesia – MAI (2012), menyatakan bahwa langkah pemerintah untuk melakukan proses revitalisasi tambak di beberapa daerah di Pantura hingga Jawa Timur harus berstrategi, jangan karena mengejar target penggenjotan jumlah produksi semata. Pemerintah seharusnya memperhatikan berbagai kemungkinan yang akan terjadi apabila revitalisasi dilakukan. Jangan hanya karena dikebut jumlah produksi semata hingga mengabaikan lingkungan. Aspek daya dukung lingkungan di sekitar Pantai Utara Jawa sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah, jika tidak ingin gagal di tengah jalan.
4 Belum lagi tingkat kepadatan udang yang juga harus diperhatikan. “Maksimum kepadatan 60 ekor per m2 . Sehingga produktivitas bisa mencapai 7-10 ton per panen.
Sementara implementasi program revitalisasi yang dilakukan saat ini, tampaknya dilakukan “jor-joran” hingga ada tambak dengan kepadatan tanam sekitar 200 ekor per m2. Belum lagi masalah jadwal yang harus dipercepat secara tidak wajar oleh pemerintah. Seperti pada pelaksanaan program revitalisasi yang tahun sebelumnya (2012-2013). Proses pencanangan revitalisasi tambak baru digulirkan semenjak Oktober 2012, sedangkan target harus bisa dipenuhi di awal 2013 mendatang. Dari sisi jadwal, hal ini tidak mungkin karena harus dilakukan selama 1,5 bulan.
Padahal seperti udang vaname dipanen paling cepat 4 bulan untuk bisa mencapai ukuran konsumsi. Beberapa permasalahan tersebut, tampaknya sangat terkait erat dengan kondisi yang berkembang pada saat itu, dapat saja menyangkut hal-hal yang bersifat kebijakan tertentu atau kepentingan yang bersifat politis, atau pun hal lainnya. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian/kajian ekonomi revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk digunakan sebagai bahan masukan pembuatan kebijakan percepatan revitalisasi industri budiaday udang di Indonesia.
1.2 Tujuan Penelitian
(1) Menelaah dinamika produktivitas budidaya tambak udang di Indonesia selama periode 1989-2013; dan mengkaji peran berbagai kebijakan (termasuk kebijakan revitalisasi budidaya tambak udang) terhadap dinamika produktivitas tambak udang di Indonesia selama periode 1989-2013.
(2) Mengukur kinerja revitalisasi usaha budidaya udang (produktivitas) dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penentu keputusan pembudidaya merevitalisai kegiatan usaha budidaya udang.
(3) Merumuskan rekomendasi kebijakan percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia.
1.3 Perkiraan Keluaran
Perkiraan keluaran yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan penelitian ini adalah: (1) Tersedianya data dan informasi mengenai dinamika produktivitas budidaya tambak
udang di Indonesia selama periode 1998-2013; dan peran berbagai kebijakan terhadap dinamika produktivitas budidaya tambak udang di Indonesia selama periode 1998-2013. (2) Tersedianya data dan informasi mengenai kinerja revitalisasi usaha budidaya udang (produktivitas) dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta faktor penentu keputusan pembudidaya merevitalisai kegiatan usaha budidaya udang.
5 (3) Tersedianya 1 (satu) buah rekomendasi kebijakan, 1 (satu) paket data dan informasi, serta 1 (satu) buah Karya Tulis Ilmiah (KTI) terkait dengan revitalisasi industri udang di Indonesia.
7
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budidaya Perairan (Akuakultur)
Budidaya (Akuakultur) adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit). Akuakultur berasal dari bahasa Inggris aquaculture (aqua = perairan; culture = budidaya) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi budidaya perairan atau budidaya perikanan. Oleh karena itu, akuakultur dapat didefinisikan menjadi campur tangan (upaya-upaya) manusia untuk meningkatkan produktivitas perairan melalui kegiatan budidaya. Kegiatan budidaya yang dimaksud adalah kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak (reproduction), menumbuhkan (growth), serta meningkatkan mutu biota akuatik sehingga diperoleh keuntungan (Effendi 2004).
Lebih lanjut menurut Effendi (2004) menjelaskan bahwa berdasarkan salinitas atau kandungan garam NaCl-nya, perairan di permukaan bumi dibedakan menjadi perairan tawar, perairan payau, dan perairan laut. Semua perairan tersebut dapat dijadikan sumber air bagi kegiatan akuakultur. Oleh karena itu, berdasarkan sumber air yang digunakan untuk kegiatan produksi akuakultur maka dikenal budidaya air tawar (freshwater culture), budidaya air payau (brackishwater culture) dan budidaya laut (mariculture).
Menurut Crespi dan Coche (2008), pengertian akuakultur air tawar adalah budidaya organisme aquatik dimana produk akhir dihasilkan di lingkungan air tawar, tahap awal siklus hidup spesies yang dibudidayakan bisa saja di perairan payau atau laut. Pengertian akuakultur air payau adalah budidaya organisme aquatik dimana produk akhir dihasilkan di lingkungan air payau, tahap awal siklus hidup spesies yang dibudidayakan bisa saja di perairan tawar atau laut. Sedangkan pengertian akuakultur air laut adalah budidaya organisme aquatik dimana produk akhir dihasilkan di lingkungan air laut, tahap awal siklus hidup spesies yang dibudidayakan bisa saja di perairan payau atau tawar.
Pengelompokan komoditas akuakultur berdasakan karakteristik morfologi adalah dengan melihat bentuk dan ciri khas dari tubuh, seperti bersirip, berkarapas, bercangkang, berduri, atau bersel tunggal. Bentuk dan ciri khas dari tubuh biota akuakultur tersebut sangat mudah dan jelas untuk dibedakan. Berdasarkan karakteristik morfologi dan biologi, secara umum komoditas akuakultur dikelompokkan menjadi lima golongan, yaitu ikan, udang, moluska, ekonodermata, dan alga atau rumput laut. Rincian mengenai pengelompokkan komoditas akuakultur berdasarkan karakter morfologi dan jenis habitat dapat dilihat pada Tabel 1.
8 Tabel 1. Pengelompokkan Komoditas Akuakultur Berdasarkan Karakter Morfologi dan Jenis
Habitat
Habitat
Karakter Morfologi
Ikan Udang Moluska
Ekono-dermata Alga
Air Tawar Ikan mas, gurami, nila, mujair, patin, lele, tambakan, tawes, nilem, bawal Udang galah, udang cherax
Kijing - Tanaman Hias
Air Payau Bandeng, belanak
Udang windu, udang vanamei, kepiting bakau
- - -
Air Laut Kerapu, kakap putih, baronang
Lobster Kerang hijau, kerang mutiara, abalone Teripang, bulu babi Euchema cottonii, Gracilaria sp., Chlorella sp. Sumber: Effendi (2004)
Tingkat teknologi budidaya dalam akuakultur berbeda-beda. Perbedaan tingkat teknologi ini akan berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas yang dihasilkan oleh suatu usaha. Berdasarkan tingkat teknologi dan produksi yang dihasilkan, kegiatan akuakultur dapat dibedakan menjadi akuakultur yang ekstensif atau tradisional, akuakultur yang semi intensif, akuakultur intensif, dan akuakultur hiper intensif. Pembedaan tersebut berdasarkan seberapa besar intervensi manusia dalam kegiatan perikanan budidaya, seperti dalam pemberian pakan atau pembenihan. Semakin intensif suatu usaha perikanan budidaya maka semakin besar intervensi manusia dalam proses produksinya. Demikian juga produksi yang dihasilkan per unit luasan yang sama akan semakin besar dengan semakin intensifnya sebuah unit usaha perikanan. Pengertian dan perbedaan karakteristik masing-masing kategori tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.