SWASTA PENYEDIA SARANA BUDIDAYA
4.3 Kinerja Revitalisasi (Produktivitas) Usaha Budidaya Udang, Faktor-faktor yang Mempengaruhi, dan Penentu Keputusan Pembudidaya
4.3.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Program Revitalisasi Tambak Udang di Lokasi Penelitian
4.3.1.1 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Lampung
4.3 Kinerja Revitalisasi (Produktivitas) Usaha Budidaya Udang, Faktor-faktor yang Mempengaruhi, dan Penentu Keputusan Pembudidaya
4.3.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Program Revitalisasi Tambak Udang di Lokasi Penelitian
Berdasarkan model pola kemitraan Model pada Revitalisasi Tambak Melalui Kegiatan Demfarm yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 9, maka sesuai dengan roadmap-nya program revitalisasi tambak udang di Indonesia telah dilaksanakan di 5 (lima) wilayah yang menjadi lokasi penelitian terpilih, yaitu Kabupaten Indramayu (Provinsi Jawa Barat) pada tahun 2012 dan pada tahun 2013 di Kabupaten Brebes (Provinsi Jawa Tengah), Kabupaten Gresik (Privinsi Jawa Timur), Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur (Provinsi Lampung), dan Kabupaten Takalar (Provinsi Sulawesi Selatan). Pelaksanaan program revitalisasi di lima lokasi penelitian tersebut dijelaskan sebagai berikut.
4.3.1.1 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Lampung
Kegiatan revitalisasi tambak udang melalui Demfarm di Provinsi Lampung telah dilakukan sejak tahun 2013 hingga sekarang.Lokasi penerima program tahun 2013 tersebar di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur.Selanjutnya pada tahun 2014 bertambah 1 lokasi, yaitu Kabupaten Tulang Bawang. Bantuan yang diberikan berupa plastik mulsa (10 roll/ha), kincir (16 kincir/ha), pompa (1 pompa/ha), dan genset (1 genset/ha). Tabel 17 menunjukkan pelaksanaan demfarm di Provinsi Lampung tahun 2014.
Tabel 17. Pelaksanaan Demfarm di Provinsi Lampung Tahun 2014
Kabupaten Penerima Bantuan Luas Lahan Produksi
Kabupaten Pesawaran Pokdakan Tegal Alur 8 Ha 67,49 ton Kabupaten Lampung Selatan 1. Pokdakan Berkah Windu 1,5 Ha 11,9 ton 2. Pokdakan Windu Abadi
4,0 Ha Belum ada produksi karena adanya keterlambatan menemukan mitra untuk membiayai tambak Kabupaten Lampung
Timur
1. Pokdakan Mina Lestari
1,5 Ha 13,6 ton (ada gejala WSSV)
2. Pokdakan Sumber Rejeki
3,0 Ha 400 kg (adanya penyakit)
105 Demfarm Kabupaten Pesawaran : terdiri dari 1 kalster atau 1 kelompok yaitu Pokdakan Tegal Alur dengan luas lahan 8 Ha yang berlokasi di Desa Durian Kecamatan Padang Cermin. Tebar Perdana telah dilakukan pada tanggal 15 Januari 2014. Tebar perdana dilakukan pada 4 petak dengan luas 2,5 ha dengan jumlah benur yang ditebar sebanyak 1,7 juta benur dengan ukuran benur PL 11- 13, dengan kepadatan 60 ekor/m2dengan ketinggian air tambak sekitar 150 cm. Kemudian dilakukan panen perdana pada tanggal 18-21 April 2014 dari 4 petak tambak tersebut diperoleh jumlah panen sebesar 21,37 ton dengan rata2 per Ha sekitar 9-10 ton. Tebar tahap kedua dilakukan bulan Juni pada 8 kolam dan panen dilakukan secara parsial dengan total panen 46,12 ton.
Informasi dari Dinas KP Provinsi Lampung menunjukkan bahwa kelompok yang berhasil dalam implementasi program revitalisasi adalah petambak yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan. Berdasarkan data yang diperoleh, program revitalisasi udang di Lampung Selatan telah dilaksanakan sejak tahun 2013 untuk 2 kelompok, tahun 2014 untuk 1 kelompok dan tahun 2015 untuk 2 kelompok. Program revitalisasi ini menunjukkan keberhasilan dengan meningkatnya produksi udang vanamae yang mencapai 8 kali lipat, yaitu dari 500 kw sebelum tahun 2013 menjadi 6,8 ton pada tahun 2015.
Demfarm Kabupaten Lampung Selatan : terdiri dari 2 klaster atau 2 kelompok yaitu Pokdakan Berkah Windu dan Pokdakan Windu Abadi dengan luas lahan masing-masing 10 ha yang berlokasi di Kecamatan Pematang Pasir. Pokdakan Berkah Windu memiliki kolam budidaya yang berjumlah 22 kolam. Tebar perdana dilakukan pada tanggal 3 Mei 2014. Tebar dilakukan pada 5 petak tambak luas masing-masing 3000 m2 dengan padat tebar masing-masing kolam 60-80 ekor/m2. Panen telah dilakukan secara parsial yaitu pada tanggal 15 Juli - 22 Agustus 2014 dengan jumlah panen sebanyak 11,9 ton yang berasal dari 5 kolam. Saat ini masih dalam proses budidaya sebanyak 8 kolam umur 60 hari, dalam tahap persiapan tebar 4 kolam, dan dalam tahap istirahat setelah panen sebanyak 5 kolam.
Pokdakan Windu Abadi saat ini memiliki 9 kolam budidaya masing-masing sekitar 1 Ha. Tebar perdana pada tanggal 24 Desember 2014 pada 4 kolam dengan kepadatan tebar 50 emor/m2. Sebanyak 5 kolam sedang dalam tahap persiapan untuk tebar. Rencana tebar 5 kolam tersebut akan dilakukan pada bulan Maret 2014. Kelompok Windu Abadi mengalami keterlambatan proses budidaya karena adanya keterlambatan menemukan mitra yang cocok untuk membiayai tambak tersebut.
Demfarm Kabupaten Lampung Timur : terdiri dari 2 klaster atau 2 kelompok, yaitu Pokdakan Mina Lestari dan Pokdakan Sumber Rejeki dengan luas lahan masing-masing 10 Ha. Pokdakan Mina Lestari berlokasi di Desa Sri Minosari Kecamatan Labuhan Maringgai. Tebar Perdana Pokdakan Mina Lesatri telah dilakukan pada tanggal 11 April 2014. Tebar perdana dilakukan pada petakan yang ditebar benur sebanyak 3 petak dengan luas 1,5 ha
106 dengan jumlah benur yang ditebar sebanyak 900.000 ekor benur dengan ukuran benur PL 11- 13, dengan kepadatan 60 ekor/m2, dan ketinggian air tambak sekitar 150 cm. Karena ditemui adanya gejala WSSV maka kemudian dilakukan panen secara parsial sebanyak 3 kali yaitu pada tanggal 28 Juli, 2 Agustus, dan 4 Agustus 2014 dari 3 petak tambak tersebut diperoleh jumlah panen sebesar 13,6 ton sedangkan jumlah udang yang tidak terjual karena penyakit dan busuk sebanyak 3 ton.
Pokdakan Sumber Rejeki berlokasi di Desa Bandar Negeri Kecamatan Labuhan Maringgai telah melakukan tebar perdana mulai dari tanggal 11 Juli 2014 pada 6 kolam dengan luas kolam sekitar 5000 m2 dan jumlah benur sebanyak 150rb benur/kolam serta ketinggian air tambak 125 cm. Tambak mengalami panen sedikit, yaitu hanya sebanyak 4 kw saja karena adanya penyakit yang menyerang kolam tersebut.
Pengumpulan data primer dilakukan dengan mewawancarai pembudidaya udang yang menerima program demfarm.Responden berlokasi di Kecamatan Ketapang, Kecamatan Labuhan Maringgai dan Kabupaten Pesawaran sebagai lokasi penerima program revitalisasi sejak tahun 2013—2015. Program revitalisasi diakui oleh pembudidaya mampu meningkatkan produksi dan produktivitas udang vanamae yang dibudidayakannya.Meskipun begitu kendala permodalan masih menjadi kendala utama karena program revitalisasi yang diberikan tetap memerlukan modal cukup besar yang harus dikeluarkan pembudidaya.
Namun demikian, hasil produksi cukup menjanjikan sehingga beberapa kelompok yang awalnya tidak mau menerima bantuan demfarm justru minta diberikan bantuan.Akan tetapi, ada pula kelompok yang awalnya menjalankan program revitalisasi tidak meneruskan program tersebut (kelompok di Kecamatan Labuhan Maringgai). Hal ini disebabkan oleh mundurnya mitra usaha yang awalnya bekerja sama dalam usaha budidaya tambak udangnya. Keluarnya mitra tersebut secara signifikan mempengaruhi pembudidaya dalam menjalankan usahanya dengan teknologi semi intensif seperti yang disyaratkan dalam program revitalisasi.
Terkait mitra dan modal tersebut, secara garis besar memang menjadi faktor penentu keberhasilan program karena pembudidaya penerima bantuan memang awalnya adalah pembudidaya yang melakukan usaha budidaya secara tradisional. Dengan penggunaan teknologi maka usaha budidaya udang dilakukan secara semi intensif yang memerlukan pendampingan dalam penggunaan teknologi dan juga dukungan modal yang besar. Program revitalisasi berusaha mengantisipasi kendala tersebut sehingga program tersebut menggandeng mitra untuk bekerja sama dengan pembudidaya udang. Dengan demikian, keberadaan mitra sangat penting bagi keberlanjutan usaha budidaya udang di lokasi.
107 4.3.1.2 Pelaksanaan Program Revitalisasi di Provinsi Jawa Barat
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Provinsi Jawa Barat diketahui bahwa luas tambak demfarm udang, Kabupaten Subang dan Cirebon merupakan lokasi yang memiliki luas lahan demfarm terbesar, masing-masing seluas 360 Ha dan 245 Ha. Namun demikian, justru Kabupaten Indramayu yang tercatat menghasilkan produksi udang terbesar yaitu 2.640,50 ton dengan luas demfarm tambak udang 126 Ha (lihat Tabel 18). Hal ini disebabkan oleh kurang berhasilnya program demfarm udang di Cirebon, misalnya, karena penyakit udang yang menyerang sehingga hasil produksi yang dihasilkan hanya sebanyak 50 ton pada tahun 2013. Sementara itu, kegiatan demfarm di Indramayu makin berkembang karena keberhasilan tersebut diikuti oleh pelaku usaha budidaya lainnya yang masih menggunakan teknologi tradisional.
Tabel 18. Luas dan Produksi Demfarm Tambak Udang di Jawa Barat Tahun 2013 No. Kabupaten Jumlah
Kluster
Luas Tambak
(Ha) Produksi (Ton)
1. Cirebon 6 245 50,00
2. Indramayu 5 126 2.640,50
3. Subang 13 360 2.473,50
4. Karawang 3 60 40,00
Total 27 791 5.204,00
Sumber: Diskanlut Provinsi Jawa Barat, 2014
Informasi Diskanlut Provinsi Jawa Barat juga menunjukkan program demfarm di Indramayu telah berhasil meningkatkan produksi dan animo masyarakat pembudidaya untuk mengembangkan usahanya sehingga luas lahan tambak meningkat hampir 300%, yaitu dari 126 Ha menjadi sekitar 600 Ha. Keberhasilan program demfarm ini diakui juga karena masyarakat perikanan Indramayu telah menjadi pembudidaya udang sejak lama sehingga lebih “tahan banting” dengan dinamika udang yang sangat tinggi fluktuasinya. Dengan kata lain, pembudidaya udang Indramayu berani mengambil resiko (risk taker) dalam menjalankan usahanya. Selanjutnya, program demfarm udang seluas 126 Ha yang telah dilaksanakan pada tahun 2012 diberikan kepada 6 POKDAKAN, yaitu: kelompok Vaname Jaya 1, Vaname Jaya 2, Vaname Jaya 3, Mina Lestari, Mina Sekar Tanjung, dan Vaname Durma Jaya. (lihat Tabel 19).
108 Tabel 19. Luas dan Produksi Demfarm Tambak Udang di Jawa Barat Tahun 2013
No. Nama Kelompok Desa/Kecamatan Jumlah Anggota
Luas Tambak (Ha)
1. Vaname Jaya 1 Lamaran Tarung / Cantigi 11 36
2. Vaname Jaya 2 Pagirikan / Pasekan 10 20
3. Vaname Jaya 3 Singaraja/ Indramayu 10 20
4. Mina Lestari Krangkeng /Krangkeng 10 20
5. Mina Sekar Tanjung Luwunggesik /Krangkeng 10 20
6. Vaname Durma Jaya Pangkalan / Losarang 10 10
Total 126
Sumber: Diskanlut Kabupaten Indramayu, 2014
Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapang, diakui bahwa program revitalisasi melalui demfarm yang berasal dari APBN hanya berjalan selama satu tahun sehingga pada tahun-tahun berikutnya, bantuan demfarm ini tetap dilaksanakan dengan menggunakan dana dari Tugas Perbantuan dan APBD. Akibatnya, saat ini luas lahan tambak udang terus bertambah yang sudah mencapai 600 Ha karena masyarakat pembudidaya lain tertarik membuka lahan melihat keberhasilan pembudidaya demfarm.
Keberhasilan program demfarm membuat para pembudidaya tambak udang mengajukan proposal untuk mendapatkan bantuan demfarm.Untuk itu, pemerintah daerah mengalokasikan bantuan dalam anggaran APBD dan Tugas Perbantuan (TP) pada tahun 2014 hingga sekarang karena program Demfarm hanya diberikan pada tahun 2012.Namun demikian, diakui bahwa pada awal penyaluran bantuan demfarm ini ada tiga sikap yang ditunjukkan oleh para pembudidaya, yaitu menerima dengan mantap, menerima dengan ragu-ragu dan juga menolak bantuan. Hal ini disebabkan oleh waktu penyaluran bantuan yang hanya dalam waktu 2 bulan sehingga ada beberapa pokdakan yang tidak sanggup menyiapkan lahan untuk menjalankan program demfarm. Namun demikian, saat ini kelompok yang menolak tersebut justru meminta diikutkan dalam program Demfarm tahun ini.
Penelusuran data primer menunjukkan bahwa sikap ragu-ragu dan menolak ini disebabkan karena pendeknya waktu yang diberikan pemerintah untuk melaksanakan program revitalisasi ini, yaitu hanya dalam waktu 2 bulan. Kendala lainnya adalah faktor cuaca dimana pada saat program demfarm dijalankan kondisi tambak sangat berangin sehingga plastik mulsa yang dipasang lepas karena terbang terbawa angin sehingga beberapa kelompok mengundurkan diri dari keikutsertaannya.Sementara itu, kelompok yang ragu-ragu cenderung karena tidak percaya ada bantuan dari pemerintah. Diakui bahwa produksi awal dikatakan gagal karena hasilnya tidak sesuai dengan perhitungan sehingga usaha hanya balik modal (break even point—BEP). Namun demikian, saat ini para pembudidaya mampu
109 berusaha secara mandiri dengan melihat bertambahnya luas areal tambak yang diusahakan dengan sumber modal dari kredit bank.
Demfarm dinilai mampu membawa mitra yang memang dibutuhkan oleh para pelaku usaha dalam melakukan usaha budidaya udang. Mitra tersebut sangat besar perannya dalam menyediakan input produksi, seperti pakan, benur, pupuk, obat-obatan, dan vitamin oleh pabrik pakan. Mitra tersebut juga kelonggaran pembayaran secara kredit dalam 1 bulan ke depan sehingga pelaku usaha lebih mudah memperoleh input produksi. Mitra lainnya yang juga penting keberadaannya adalah bank sebagai lembaga keuangan yang menyediakan kredit lunak sebagai modal usaha budidaya udang.Berdasarkan informasi dari pelaku usaha, BRI merupakan bank yang selama ini memfasilitasi kebutuhan kredit masyarakat perikanan. Selain mitra-mitra tersebut, fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan juga disediakan oleh pemerintah dengan menggandeng instansi pemerintah terkait, misalnya akses jalan dan jembatan produksi oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU), akses listrik (PLN), saluran irigasi primer dan sekunder (Dinas PU), dan eskavator untuk mempersiapkan lahan tambak (Dinas KP).
Hasil survey menunjukkan bahwa masih ada beberapa kendala yang dijumpai oleh para pelaku usaha budidaya udang di Kabupaten Indramayu. Adapun kendala yang dihadapi adalah sebagai berikut:
(1) Mesin genset yang diberikan pada awal bantuan cenderung tidak bertahan lama karena mesin menggunakan mesin yang kurang bagus mutunya (merk Domfeng). Akibatnya, mesin genset tersebut hanya dapat digunakan untuk satu siklus pemeliharaan saja. Sarannya, sebaiknya diberikan mesin genset yang biasa saja seperti yang selama ini digunakan oleh pembudidaya.
(2) Akses jembatan produksi masih kurang bagus sehingga cukup menghambat kegiatan usaha. Demikikian juga halnya dengan akses irigasi primer dan sekunder karena dangkalnya saluran sehingga volume air tidak/belum optimal.
(3) Ketersediaan benur sangat bergantung pada pabrik pakan sehingga harga dan mutu benur ditentukan secara pihak dari pabrik pakan sehingga pembudidaya tidak memiliki daya tawar (bargaining power). Akibatnya tidak ada jaminan yang menguntungkan pembudidaya jika benur yang diberikan bermutu rendah atau benur dengan harga tinggi. (4) Penyakit udang masih menghantui pembudidaya udang karena sampai saat ini belum ada terobosan dari berbagai pihak dalam mengatasi penyakit udang tersebut sehingga produksi udang akan terganggu.
Harga udang saat ini cenderung menurun karena masuknya stok udang dari perusahaan luar daerah (Lampung) karena diduga adanya kebijakan pembatasan/ kuota
110 ekspor udang. Akibatnya, perusahaan tersebut melempar produknya ke pasar lokal Indramayu sehingga stok udang di Indramayu meningkat yang pada akhirnya mendorong harga udang ke level yang lebih rendah.