• Tidak ada hasil yang ditemukan

Revitalisasi Tambak Udang Tahun 2006—2009

Pada bulan Juni 2005, Presiden Susilo Bambang Yodhoyono membuat sebuah momentum percepatan pembangunan perikanan melalui pencanangan sebuah program lintas departemen bertajuk Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Revitalisasi perikanan ditetapkan sebagai salah satu dari bagian Triple Track Strategy Kabinet Indonesia Bersatu yang diterapkan dalam rangka pengurangan kemiskinan dan penganggguran serta peningkatan daya saing ekonomi nasional melalui pembangunan perikanan untuk mengatasi pemulihan perekonomian melalui pemanfaatan sumberdaya secara optimal dan berkelanjutan (Purnomo et.al, 2011).

Target penurunan kemiskinan dari 16,6 % tahun 2004 menjadi 8,2 % tahun 2009 dan penurunan pengangguran terbuka dari dari 9,7 % tahun 2004 menjadi 5,1% tahun 2009, mengharuskan dilakukannya berbagai usaha pembangunan ekonomi untuk mencapai antara lain pertumbuhan ekonomi rata-rata hingga 6,6 % per tahun. Disamping itu rasio investasi terhadap GDP harus naik dari 16,0 % pada tahun 2004 menjadi 24,4 % pada tahun 2009; dan rata-rata pertumbuhan pertanian, perikanan dan kehutanan mencapai 3,5 %/ tahun (Anonim, 2014).

RPPK yang telah dicanangkan Presiden RI pada tanggal 11 Juni 2005 ini merupakan strategi umum untuk (1) meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan petani hutan; (2) meningkatkan daya saing produk pertanian, perikanan dan kehutanan; serta (3) menjaga kelestarian sumberdaya pertanian, perikanan dan kehutanan (Pusdatin, 2006).

Tujuan RPPK adalah meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan dan nelayan, meningkatkan daya saing produk perikanan, menjaga kelestarian sumber daya perikanan serta mengurangi kemiskinan. Selaras dengan tujuan RPPK maka road map RPB dimaksudkan untuk (i) membangkitkan usaha akuakultur dengan beberapa komoditas unggulan pada lahan budidaya yang terbengkalai, (ii) menyediakan lapangan kerja dan peluang usaha, sebagai efek ganda (multiplier effect) dari berkembangnya usaha akuakultur, dan (iii) mendorong penerapan teknologi budidaya yang ramah lingkungan untuk mengatasi kualitas perairan yang menurun akibat intensifikasi (Pusdatin, 2006).

Program Revitalisasi Perikanan Budidaya (RPB) merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 yang dicanangkan melalui Strategi Revitalisasi Pertanian, Perikanan

89 dan Kehutanan (RPPK) oleh Presiden RI pada tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat (Ministry of Marine Affairs and Fisheries, 2005).

Dokumen RPB ini menyajikan upaya revitalisasi yang akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang mencakup strategi, kebijakan operasional dan rencana tindak dua komoditas utama, yakni udang (vaname dan windu) dan rumput laut (Eucheuma dan Gracilaria ), serta delapan komoditas unggulan lainnya, yakni nila, kerapu, bandeng, patin, lele, gurame, abalone dan ikan hias.

Strategi yang ditempuh dalam RPB ini adalah pengembangan kawasan secara bertahap, penerapan budidaya yang berkelanjutan, pendekatan bisnis agribisnis dan pembinaan secara intensif. Sedangkan kebijakan operasional yang dilakukan secara umum yaitu: (i) memanfaatkan dan mengoptimalkan tambak-tambak dan kolam; (ii) optimalisasi dan pemberdayaan unit-unit pembenihan (panti benih, UPR dan HSRT); (iii) memfasilitasi terjalinnya kemitraan; (iv) melakukan impor induk udang vaname Specific Pathogen Free (SPF) serta domestikasi induk oleh National Shrimph Broodstock Center (NSBC) untuk menghasilkan induk Specific Pathogen Resistant (SPR); (v) penerapan standar dan sertifikasi serta pengawasan mutu benih; (vi) melakukan pembinaan secara intensif melalui diseminasi dan penyediaan dempond. Desiminasi dilakukan dengan memanfaatkan penyuluh perikanan dan tenaga teknis lapangan yang ada, pendampingan teknologi oleh UPT Pusat/Daerah dan rekrutmen tenaga pendamping teknologi sesuai dengan kebutuhan; (vii) koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penataan ruang, permodalan, pengembangan pasar, pengendalian lingkungan, keamanan dan lainnya.

Udang merupakan komoditas yang dihasilkan melalui kegiatan budidaya unggulan. Perikanan budidaya mampu memberikan kontribusi cukup besar dalam perolehan devisa, pendapatan pembudidaya, menciptakan lapangan kerja dan peluang berusaha. Peran kegiatan budidaya akan semakin besar, sementara kegiatan penangkapan akan semakin berkurang. Perusahaan yang terlibat adalah perusahaan skala kecil (rakyat), menengah dan besar (industri). Pasar utama komoditas udang adalah pasar ekspor karena sampai saat ini permintaan udang untuk pasar luar negeri masih tetap tinggi. Dengan demikian, revitalisasi perikanan udang adalah revitalisasi produksi, pengolahan, dan pemasaran melalui pelibatan usaha skala rakyat dan industri.

Untuk itu, kebiijakan pengembangan perikanan budidaya dilakukan melalui (1) Peningkatan produksi perikanan budidaya untuk ekspor; (2) Peningkatan produksi perikanan budidaya untuk konsumsi ikan masyarakat; dan (3) Perlindungan dan rehabilitasi sumberdaya perikanan budidaya.

Sasaran revitalisasi tambak udang pada tahun 2005 diharapkan dapat mencapai produksi sebesar 300.000 ton yakni melalui (1) Pemanfaatan tambak udang ekstensif seluar

90 140.000 ha (40% dari luas tambak ekstensif) dengan jenis udang vaname dengan sasaran produksi 600—1500kg/ha/tahun; (2) Revitalisasi tambak udang intensif seluas 8000 ha dengan sasaran produksi 20—30 ton/ha/tahun dengan jenis udang vaname. Peningkatan produksi perikanan budidaya tersebut dilakukan melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi budidaya perikanan.

Untuk mendukung revitalisasi tambak udang, maka langkah operasional yang dilakukan adalah sebagai berikut:

(1) Melakukan impor induk dan benih udang vaname SPF;

(2) Melakukan domestikasi dan pemuliaan udang vaname menjadi induk SPF dan SPR sehingga mengurangi ketergantungan dari impor;

(3) Membangun Nasional Broodstock Center; (4) Melakukan revitalisasi backyard hatchery udang;

(5) Menerapkan sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan udang; (6) Mengembangkan laboratorium lingkungan dan penyakit; (7) Menyediakan sarana dan prasaranan budidaya;

(8) Membantu penguatan permodalan bagi pembudidaya udang.

Rencana kegiatan dalam rangka revitalisasi tambak udang tahun 2006 antara lain adalah (1) Pemuliaan induk udang melalui breeding program; (2) Pembangunan Balai Benih Ikan Pantai dan pengembangan Balai Benih Udang; (3) Sertifikasi sistem mutu perbenihan dan pembudidayaan; (4) Revitalisasi backyard hatchery; (5) Pengendalian distribusi induk dan benih; (6) Pengendalian peredaran dan penggunaan saran produksi (pakan, obat-obatan, pestisida); dan (7) Pembangunan Pos Kesehatan Ikan dan Lingkungan.

Sasaran produksi untuk usaha budidaya udang ditargetkan sebesar 540.000 ton pada akhir tahun 2009, melibatkan 27 provinsi pada lahan seluas 156.300 ha, yang terdiri dari tambak udang windu seluas 42.800 Ha dan tambak udang vaname seluas 113.500 ha. Produksi masing-masing ditargetkan sebesar 46.600 dan 193.400 ton. Kebutuhan modal usaha untuk udang windu dan vaname masing-masing sebesar Rp. 1,11 triliun dan Rp. 2,97 triliun, serta total serapan tenaga kerja sebesar 985.000 orang.

Guna mendukung proses produksi, diperlukan tambahan sarana dan prasarana. Untuk komoditas udang diperlukan panti benih sebanyak 10 unit dan HSRT sebanyak 1.000 unit, serta saluran tambak yang mampu melayani luasan tambak 19.000 ha. Unit pengolahan udang yang telah beroperasi hingga tahun 2004 sebanyak 159 unit dengan kapasitas 2.700 ton/hari, dengan kapasitas gudang simpan sebesar 31.800 ton. Dengan demikian, hasil produksi udang hingga tahun 2009 diperkirakan masih dapat tertampung pada jumlah unit pengolahan udang dan kapasitas terpasang yang telah tersedia. Untuk rumput laut Eucheuma sp secara bertahap dilakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah dalam bentuk

91

semi refined carrageenan (SRC) atau disebut alkali treated carrageenan (ATC). Jumlah

yang diolah diproyeksikan sebesar 5% sampai 13% dari total produksi, yang harus difasilitasi dengan penyediaan unit pengolahan.

Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan revitalisasi perikanan budidaya sebesar Rp. 13,41 triliun, yang terdiri dari investasi pemerintah sebesar Rp 3,06 triliun dan modal usaha sebesar Rp 10,35 triliun. Investasi pemerintah dialokasikan dalam bentuk pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tambak, optimalisasi balai benih, optimalisasi laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan, pengembangan kawasan percontohan, penataan kelembagaan, pengembangan unit pelayanan pengembangan, pendampingan dan simulasi modal kerja untuk UPR atau HSRT. Modal usaha dari masyarakat, termasuk di dalamnya investasi pihak swasta, dukungan modal perbankan yang dapat langsung dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.