Budidaya udang adalah kegiatan pemeliharaan/pembesaran udang secara khusus dengan penebaran benur ditambak air payau yang terdapat di hamparan pesisir. Sampai dengan tahun 60-an hanya ada 4 negara di dunia yang memiliki areal tambak cukup luas, yaitu: Filipina, Indonesia, Taiwan dan Thailand. Masing-masing dengan luas 166.000 Ha, 165.000 Ha, 27.600 Ha dan 20.000 Ha (Ling, 1970). Di Indonesia sendiri sampai dengan tahun 60-an masih terpusat di Jawa, Sulawesi Selatan dan Aceh.
Tambak tersebut dibangun di wilayah lahan pasang surut (Zona Internidal) karena untuk pengairannya tergantung penuh pada pergerakan air pasang surut.Komoditi budidaya hanyalah ikan banding (ditambah ikan belanak di Taiwan dan Ikan Kakap di Thailand). Adapun udang yang terdapat didalam tambak hanya berasal dari alam yang masuk sendiri kedalam tambak bersama arus air pasang tinggi.
Hasil udang yang diperoleh pemilik tambak dianggap hanya sebagai hasil sampingan (hasil panen utama adalah bandengnya) dan menjadi hak pendega, yaitu karyawan yang mengurus tambak. Penebaran benur (benih udang) secara khusus kedalam tambak untuk dipelihara secara terkendali baru dimulai setelah petambak Sulawesi Selatan diajari untuk mengenal benur udang dan membudidayakannya didalam tambak.
Guna menyimak perkembangan budidaya udang di Indonesia secara utuh. Berikut adalah informasi yang disampaikan oleh Bapak Alie Pornomo (Alm) mengenai catatan secara kronologis yang pernah disampaikan saat Simposium Akuakultur Tahun 2001 di Semarang.
(1) Era Pra dan Awal Budidaya Udang di Tambak
Sampai dengan awal Tahun 1964 tambak di Indonesia hanya digunakan untuk budidaya ikan bandeng. Kemudian pada kurun waktu tahun 1964-1970 merupakan masa pengenalan benur dan budidaya udang teknologi tradisional/ekstensif. Pengenalan morofologi benur alam (terutama udang windu P. monodon dan udang putih P. marguiensis), teknik merawat dan pengangkutan serta pembesarannya didalam tambak (teknologi ekstensif secara mono atau polikultur dengan bandeng) di Sulawesi Selatan (Bulukumba, Jeneponto, pangkep dan Pinrang) (Poernomo, 1968).
Pendederan dan aklimatisasi benur didalam keramba jarring apung didalam tambak atau didalam bak-bak semen didarat berkembang pesat di daerah pertambakan di Sulawesi
80 Selatan yang jauh dari sumber benur (Pangkep, Maros, Barru). Setelah tahun 70-an pembudidayaan udang windu teknologi ekstensif berkembang ke Jawa, Kalimantan (Balikpapan) dan Sumatera (Aceh). Khususnya di Banda Aceh, disamping budidaya udang windu juga dibudidayakan udang putih (P. indicus) karena kelimpahan benur alam jenis udang ini diperairan pantai aceh (Poernomo, 1979).
Budidaya udang windu teknologi ekstensif dengan kepadatan tebar 20.000-30.000 ekor benur/Ha (monokultur) tanpa pakan dapat menghasilkan 3-4 kwintal/Ha/siklus size 30 (hanya mengandalkan pakan alami dengan pemupukan. Disini masih banyak petani menerapkan polikultur dengan banding.
1970 : Dibangun hatchery udang pertama dan RCU Jepara
Setelah penelitian berhasil memijahkan induk udang matang telur dari laut, dibangun hatchery pertama di Makassar (Berita Buana, 1970 Harian Kami, 1970) dan menyusul dibangunnya hatchery ke-2 di Jepara, Jawa Tengah akhir tahun 1970. Mengingat besarnya potensi budidaya udang di Indonesia pada masa mendatang maka penulis waktu itu menyarankan kepada Pemerintah untuk dibangun RCU (Reseacrh Center Udang) di lokasi yang sama di Jepara yang kemudian disebut BPAP (Balai Pengembangan Budidaya Air Payau) dan pada tahun 2003 berubah menjadi BBPBAP (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau) untuk mendukung percepatan pembangunan budidaya udang di Indonesia.
(2) Era Perintisan Budidaya Udang Teknologi Intensif (Tahun 1974-1980)
Pada Tahun 1974 telah dimulai pengembangan budidaya udang teknologi intensif dan semi intensif dengan menggunakan kincir dan pakan pellet dimulai di RCU Jepara, dan dilakukannya Proyek Pengembangan Tambak USAID di Aceh. Namun sejak diinstruksikan oleh ahli-ahli (staf pengajar Auburn University) dalam proyek bantuan USAID, terjadi malapetaka pertambakan di Aceh sebagai akibat dari gerakan pembatan jalur mangrove didalam areal pertambakan. Alasan utama para ahli tersebut adalah produktivitas tambak Aceh rendah disebabkan karena pohon bakau yang ditanam di sepanjang tanggul dan saluran menghabiskan unsur hara dari pupuk yang diaplikasikan untuk menumbuhkan makanan alami didalam tambak.
Rupanya para ahli tersebut khilaf karena tidak menyimak hal yang lebih penting, bahwa Jalur mangrove tersebut sangat vital fungsinya sebagai wind breaker bagi wilayah pertambakan di Aceh karena anginnya sangat luar biasa besarnya. Tidak menyadari bahwa mangrove bakau sebenarnya diperlukan untuk memperbaiki lingkungan wilayah tambak karena fungsinya antara lain menyerap zat-zat polutan dan mengandung bakteri yang bermanfaat bagi keseimbangan lingkungan. Sebegitu jauh belum ada penelitian khusus
81 tentang seberapa hebat akar bakau menyerap unsure hara dari pupuk yang diaplikasikan dibagian tengah atau pelataran tambak waktu air dangkal.
Kemudian pada tahun 1975 ditemukan teknologi Ablasi Mata untuk Pematangan Telur Induk Udang. Penelitian di RCU Jepara berhasil mematangkan telur induk udang dengan teknik ablasi mata (alikunki dkk, 2975 dan Poernomo, Hamami, 1983). Taiwan dan Filipina setalah membaca bulletin RCU, 1975 atau mengetahui keberhasilan Jepara tersebut langsung menanganinya dengan sangat intensif (di Tungkang Marine Laboratory (TML), Taiwan dan Seafdec, Filipina), sehingga mereka berhasil mengkomersilkan lebih dahulu teknologi tersebut. Dari perjalanan tersebut Alie Pornomo dimintai oleh Dr. Liao, Dir TML penulis yang pada waktu (1983) kebetulan berada di Taiwan, diminta untuk mengajarkan teknik ablasi pada staf peneliti Tungkang Marine Laboratory, Tungkang Taiwan.
Selanjutnya antara kurun waktu tahun 1979-1980 telah dibangun Hatchery Swasta Pertama (PT Benur Unggul) yang dibangun di Desa Temporah/Banyuglugur Besuki, Jawa Timur disusul oleh hatchery swasta di Sinjai Sulawesi Selatan dan Kepulauan Seribu, Jakarta. Tepat diakhir tahun 1980 telah berhasil dilakukan perbaikan Teknologi Ablasi Mata induk udang dari laut untuk produksi benur udang windu dengan perbaikan mutu pakan, lingkungan di Sub Balai Penelitian Perikanan Laut Ancol (Poernomo, Hamami, 1983) dan BBAP Jepara yang dikutip dari
:
http://duniaperikanan.wordpress.com/2009/10/15/sejarah-budidaya-udang-di Indonesia/.(3) Era Kejayaan (Pemantapan dan Komersialisasi) Budidaya Udang Indonesia (Tahun 1982-1995)
Pada periode antara 1982 hingga 1983, di Indonesia telah ditemukan Teknologi Reklamasi Tanah Sulfat Masam. Teknologi perbaikan atau reklamasi tanah sulfat masam (pyrite) yang menjadi kendala tambak udang ditemukan dam dimasyarakatkan (Poernomo dan Singh, 1982; Singh dan Poernomo, 1983; Poernomo, 1983; Kompas, 1982; dan Suara Merdeka, 1982). Tambak yang dibangun di lahan zona intertidal umumnya mengandungi senyawa pyrit antara 0,5-2% dan pada daerah tertentu dapat mencapai >5%. Lahan tambak dengan kandungan pyrit tinggi seperti di daerah Bone Palopo, Malili, Mamuju (Sulawesi Selatan) dan Kalimantan Timur yang belum direklamasi produktivitasnya sangat rendah.
Kemudian pada tahun 1984-1985, mulai dilakukan program komersialisasi Budidaya Udang Intensif. Pengembangan budidaya udang teknologi intensif dimulai di Jawa Timur yang terpusat di Banyuwangi dan Situbondo (Jawa Timur) di Tangerang dan Serang (Jawa Barat) serta Denpasar (Bali) yang mencapai puncaknya pada tahun 1987-1990. Diluar Jawa, kecuali Bali dan Lampung (DCD, 1989) pada waktu itu belum ada tambak udang intensif.
82 Selanjutnya pada tahun 1985, mulai dibangun usaha budidaya udang dengan menggunakan pola Tambak Inti Rakyat (TIR). Seperti Tambak Pandu Inti Rakyat (TIR) yang berlokasi di Desa Cipucuk, Kabupaten Karawang seluas 250 Ha lengkap dengan cold
storage, pabrik pakan dan pelatihan teknisi. Tambak pola TIR yang lain juga dibangun oleh
swasta di Desa Jawai, Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), di Teluk Waworada, Kab. Bima (NTB), Desa Pejarakan Buleleng (Bali), di Muara Sungai Bodri Kendal (Jateng), Takesung (Kal Sel), di Seram (Maluku), Tanjung Arus, Bulongan (Kal Tim).Tambak-tambak tersebut yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta umumnya kurang berhasil karena masalah manajemen usaha dan manajemen budidaya.
Kemudian pada tahun 1989 mulai dibangun Tambak Inti Rakyat (TIR) Raksasa PT. Dipasena Citra Darmaja/DCD seluas >5.000 Ha di Desa Mesuji/Rawa Jitu, Kab. Lampung Utara, kemudian menyusul tambak TIR. Selanjutnya diikuti dengan pembangunan TIR raksasa berikutnya, yaitu PT. Bratasena seluas 10.000 Ha yang dibangun di Muara Way Seputih, Kec.Seputih Surabaya Kab. Lampung Tengah. Unit ketiga dari pembangunan tambak raksasa non TIR oleh PT Wahyuni Mandira seluas >10.000 Ha yang mulai dibangun pada tahun 1999 disebelah utara sungai Mesuji, Propinsi Sumatera Selatan. Ketiga unit tambak raksasa tersebut terletak dalam satu hamparan pantai yang bertetangga dalam lingkup garis pantai sekitar 100 Km. Namun karena desain tata letak ruang dan konstruksinya sudah mengikuti prasyarat kaidah budidaya, maka secara teknis, produktivitas tambak-tambak tersebut cukup stabil.
Menurut Dahuri (2012), budidaya tambak udang merupakan salah satu usaha perikanan yang paling potensial untuk mendorong kinerja perekonomian nasional, karena lima alasan, yaitu:
(1) Permintaan udang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, terus mengalami peningkatan.Harganya pun relatif stabil, bahkan cenderung semakin mahal.Sampai sekarang, udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang termahal, lebih dari US$ 5 per kg harga di lokasi tambak (on farm). Dari total nilai ekspor perikanan tahun 2011 sebesar US$ 3,1 miliar, lebih dari setengahnya (US$ 1,7 miliar) berasal dari udang.
(2) Indonesia memiliki areal lahan pesisir yang cocok untuk usaha budidaya tambak udang, terluas di dunia, sekitar 1,24 juta ha. Artinya, Indonesia secara potensial memiliki kapasita produksi udang tambak yang terbesar di dunia.
(3) Udang tambak dapat diproduksi secara masal, ukuran dan kualitas (dengan teknologi) bisa diatur menjadi relatif seragam dan baik, dan waktu produksi bisa diatur secara reguler.Dengan perkataan lain, udang memenuhi segenap persyaratan untuk
83 (4) Dapat menyerap banyak tenaga kerja dan menghasilkan multiplier effects yang besar
dan luas.
(5) Sejak Program Udang Nasional pada 1982 sampai 1995 dengan tingkat produksi rata-rata 250.000 ton/tahun, Indonesia pernah menjadi produsen dan sekaligus pengekspor udang tambak terbesar di dunia. Artinya, masyarakat sudah memiliki kapasitas dan tradisi untuk melaksanakan usaha budidaya udang.
(4) Era Penurunan Kinerja Budidaya Udang Indonesia (Tahun 1996-1999)
Posisi Indonesia sebagai produsen dan pengekspor udang tambak terbesar di dunia yang pernah dialami pada periode 1982 hingga 1995, ternyata tidak berjalan baik untuk periode selanjutnya. Hal ini karena perilaku para pembudidaya yang kurang disiplin dan taat azas dalam menerapkan “Cara Budidaya Udang Yang Baik” (Best Aquaculture Practices) dan abai melakukan pemuliaan genetik (genetic improvement) bibit dan benih udang. Akibatnya, setelah mencapai produksi udang tertinggi (300.000 ton) pada 1995, produksi udang nasional turun drastis menjadi hanya sekitar 150.000 ton pada tahun 1996 sampai 1999 lantaran serangan wabah penyakit (MBV, white spot, dan lainnya).
Kondisi penurunan kinerja budidaya udang tersebut diperparah oleh terjadinya kasus yang menimpa PT. Dipasena sebagai tambak udang raksasa dan pensuplai udang terbesar di Indonesia hingga mencapai hampir separuhnya, ternyata berhenti beroperasi pada tahun 1999 dan berakhir dengan penyerahan penuh tambak-tambak kepada plasma terletak pada masalah manajemen sosial. Tetapi dampak negatif dari dikuasainya penuh tambak-tambak oleh petambak mantan plasma, menjadikan produktivitas tambaknya menurun sangat drastis. Hal ini antara lain disebabkan karena tidak ada yang bertanggung jawab merawat saluran primer dan sekunder, kemampuan permodalan, dan koordinasi antar petambak. Seharusnya paling tidak saluran primer harus bisa diurus oleh pemerintah, karena petambak jelas tidak akan mampu merawatnya apalagi dalam kondisi hamparan tambak raksasa.
Berdasarkan hasil kajian Fadilasari (2012) yang disampaikan dalam buku berjudul: “Dipasena: Kemitraan, Konflik, dan Perlawanan Petani Udang”.disebutkan bahwa pada era 1990-an Dipasena adalah sebuah nama besar. Kala itu, Dipasena adalah sebuah impian tentang kehidupan sejahtera dari tambak yang berada di Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, seluas 16.250 hektare. Sebelum konflik meletus, tak kurang dari 9.033 petambak plasma dan 11 ribu karyawan menggantungkan hidup dari Dipasena ini. Pada 1997, citra Indonesia terangkat karena menjadi produsen udang terbesar kedua di dunia. Kontribusi nyata telah dilakukan PT Dipasena Citra Dermaja—milik pengusaha Sjamsul Nursalim—mengangkat nama Indonesia di mata pelaku bisnis internasional melalui panen perdana udang tahun 1990.
84 Mengutip data Bank Indonesia, Fadilasari, penulis buku ini, mencatat devisa negara yang disumbangkan Dipasena mencapai 3 juta dolar AS. Tahun 1991, Dipasena mampu membukukan sebesar 10 juta dolar AS.Lalu, 30 juta dolar AS pada 1992.Puncaknya pada 1995 hingga 1998 menghasilkan 167 juta dolar AS.Atas keberhasilannya dalam ekspor udang ini, Dipasena pernah meraih Eksport Primanyarta pada 1995, 1996, dan 1997. Rawajitu, tempat Dipasena membangun bisnis tambak udang tahun 1989, telah menjadi magnet bagi banyak orang yang berharap dapat memperbaiki nasib. Maka ada kisah seorang Syukri J. Bintoro yang meninggalkan profesi gurunya untuk memburu impian di sebuah perusahaan dengan gaji besar, tetapi ternyata ia hanya menjadi petani udang. Abdu Syukur yang melamar bekerja sebenarnya sudah merasa ada keanehan sistem kerja di Dipasena, tetapi harapan mendapatkan penghasilan yang lebih baik mendorongnya meneruskan bekerja di perusahaan ini. Betapa bahagianya Albert M. Limbong ketika dinyatakan diterima menjadi petambak di Bumi Dipasena sampai kemudian ia mulai merasakan adanya keanehan dan kemudian perusahaan ini mulai limbung. Demikian pula yang dialami Maryono dan Nafian Faiz; awal yang begitu menggoda, tetapi kenyataannya hanya kamuflase.Pamor Dipasena mulai pudar.
Sejak 2000, perusahaan ini mulai tak terdengar lagi. Tambak udang itu kolaps. Perusahaan sudah tak memproduksi dan mengekspor udang lagi. Ribuan plasma yang masih tersisa, bertambak sendiri-sendiri dan menyatakan putus hubungan dengan inti. Di satu sisi pertambakan mandiri itu sangat menguntungkan para petambak, tetapi di sisi lain pertambakan menjadi rusak parah. Pada saat bersamaan, aset Dipasena diambil alih pemerintah untuk menutupi utang Sjamsul Nursalim.
Hal tersebut menggambarkan secara dramatis tentang tumbuh-kembangnya, masa-masa kejayaan, bagaimana konflik mulai menggerogoti, hingga runtuhnya sebuah kerajaan bisnis udang bernama Dipasena. Bagian pertama—seperti dikutip pada bagian awal resensi ini—menampilkan beberapa pengalaman sosok di yang menjadi korban kisah sukses dan tenggelamnya Dipasena. Bagian kedua hingga bagian ketujuh bercerita tentang Dipasena mulai dari berdiri, masa jaya hingga hancurnya. Mulailah babak baru ketika (bagian ketujuh) Dipasena direkapitalisasi dan tender ulang (bagian kedelapan). Lalu ada revitalisasi Dipasena (bagian kesembilan dan kesepuluh) yang malah melahirkan kekisruhan baru (bagian kesebelas) dan kerunyaman baru (bagian kedua belas). Alternatif solusi bagi penyelesaian kasus Dipasena dapat dilakukan dengan kembali membangun kemitraan yang tetap harus berlandaskan hak asasi manusia (HAM).
85 (5) Era Revitalisasi Budidaya Udang Indonesia (Tahun 2005-Hingga Sekarang)
Upaya untuk mengembalikan kejayaan tambak udang yang sudah dimulai sejak beridirnya DKP/KKP pada awal 2000 harus lebih ditingkatkan dan disempurnakan melalui: (1) revitalisasi tambak-tambak mangkrak(iddle), yang jumlahnya mencapai 200.000 ha yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, khususnya di Pantura, Lampung, Sulawesi Selatan, dan NTB; (2) peningkatan produktivitas dan efisiensi semua unit usaha tambak udang yang kini masih berlangsung (survive); dan (3) pembukaan lahan usaha tambak udang yang baru (ekstensifikasi).
Terkait dengan program revitalisasi, KKP tahun ini mentargetkan revitalisasi tambak udang seluas 82.870 ha yang tersebar pada 22 kabupaten di sepanjang Pantura (Provinsi Banten sampai Jatim). Dari luasan itu diharapkan dapat dihasilkan 102.000 ton udang per tahun. Selanjutnya, hingga 2014 areal tambak di seluruh wilayah Nusantara yang akan direvitalisasi ditargetkan seluas 135.213 ha dengan produksi 210.000 ton udang/tahun. Pada tahun 2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah merealisasikan program revitalisasi tambak udang sekitar 90% dari target. Peride selanjutnya (2014), pemerintah telah membangun 540 hektare (Ha) tambak udang di seluruh Indonesia. "Harapannya bisa lebih karena prospeknya bagus. Tambak udang yang sudah beroperasi umumnya sudah melakukan tabur benih udang vaname. Tahun 2014 KKP telah menunjuk 27 kabupaten untuk program revitalisasi tambak udang.Alokasi terbesar berada di Jawa Tengah dengan target tambak udang seluas 180 Ha diikuti Jawa Timur 160 Ha, Sulawesi Selatan 80 Ha, Lampung 60 Ha, NTB 40 Ha, dan Sumatera Utara 20 Ha. Dengan luasan tambak percontohan 540 Ha, pemerintah memproyeksikan dapat menghasilkan 8.100 ton udang. Sementara nilai dari produksi ini ditaksir mencapai Rp 648 miliar per musim atau Rp 1,94 triliun per tahun dengan cara panen parsial.
Adapun komponen program revitalisasi tambak udang tersebut meliputi: (1) perbaikan dan peningkatan prasarana dan sarana budidaya (terutama irigasi primer, sekunder, dan tersier); (2) pendalaman kolam tambak; (3) perbaikan teknologi budidaya (penggunaan benur bebas penyakit dan plastik mulsa); dan (4) peningkatan akses pembudidaya kepada permodalan, termasuk penjaminan dari asuransi Jamkrindo (Jaminan Kredit Indonesia).
Lebih lanjut Dahuri (2012) menyampaikan bahwa komponen program revitalisasi tambak udang diatas hanyalah sebagian dari sekian banyak faktor (variables) yang menentukan keberhasilan usaha tambak udang. Oleh sebab itu, komponen program revitalisasi yang telah disusun KKP tersebut perlu dilengkapi dengan kebijakan dan program sebagai berikut.
(1) Penataan ulang tata ruang wilayah pesisir agar kondusif bagi tumbuh kembangnya usaha budidaya tambak udang; dan pengendalian pencemaran, baik yang berasal dari
86 kegiatan manusia dan pembangunan yang terdapat wilayah pesisir maupun di wilayah hulu (upland areas).
(2) Penerapan Good Aquaculture Practices (penggunaan benur unggul, pakan berkualitas, pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan kualitas air dan tanah, pond engineering yang benar, dan biosecurity) secara disiplin dan konsisten di seluruh unit usaha budidaya tambak udang.
(3) Pemerintah bekerjsama dengan swasta harus mampu menyediakan sarana produksi budidaya (khususnya benur, pakan, BBM) berkualitas dengan harga relatif murah atau sama dengan di negara-negara pesaing (Thailand, Vietnam, India, dan China). Keempat, infrastruktur jalan yang menghubungkan sentra produksi tambak ke kawasan industri pengolahan, pasar domestik, dan pelabuhan ekspor harus diperbaiki atau dibangun baru.Demikian juga halnya dengan jaringan listrik, telkom, dan air bersih.
(4) Pemerintah bekerjasama dengan swasta harus terus menerus secara kreatif dan inovatif memperdalam dan mengembangkan pasar baru, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
(5) Peningkatan kapasitas teknologi budidaya, manajemen, dan etos kerja para pembudidaya tambak udang melalui program DIKLATLUH secara benar, sistematis, dan berkelanjutan.
(6) Dengan difasilitasi KKP, seluruh stakeholders budidaya tambak udang harus bekerja sama secara sinergis untuk mewujudkan ’Indonesia Aquaculture Incorporated’.
Pemerintah dalam hal ini melalui Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengucurkan pendanaan Rp125 miliar untuk progam revitalisasi tambak udang bersertifikasi atau demfarm pada tahun 2013 lalu. Pola kemitraan ini dibangun khusus untuk para pembudidaya bersertifikasi di 28 kabupaten di enam provinsi.
Dirjen Perikanan Budidaya KKP menyatakan bahwa udang merupakan komoditas unggulan baik dari sisi ekspor maupun perikanan budidaya nasional. Karenanya, intervensi pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) dibutuhkan untuk keberlangsungan peningkatan produksi usaha perikanan. Selain itu, juga untuk menjamin kepastian bagi industrialisasi perikanan budidaya. Anggaran sebesar Rp125 miliar tersebut telah digunakan untuk daerah pertambakan percontohan di enam provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Lampung dan Sumatera Utara di 28 kabupaten. Total luas pertambakan yang akan digarap sebesar 504 hektare. Jadi, setiap kabupaten, ada tambak demfarm sekitar 20 ha. Khususkan kepada tambak semi intensif dan intensif, anggaran tersebut telah dibelanjakan modal bagi sarana produksi petambak seperti
87 kincir, plastik mulsa, pompa mesin, genset. Sementara, mitra petambak yakni pengusaha diharuskan menyediakan pendanaan, benih dan ketersediaan pakan.
Hal utama yang membedakan dengan revitalisasi tambak pada tahun lalu, kali ini kita mendapat dukungan aktif dari perbankan di antaranya Bank BNI, BRI, BTN dan BPD, ujarnya. Keseriusan perbankan nasional mendukung usaha budidaya perikanan itu dibuktikan dengan pagu kredit yang disalurkan sebesar Rp30 miliar, selama semester pertama 2013 ini. Plafon ini terus meningkat seiring pengoperasian kegiatan tambak.
Untuk itu, pemerintah bersama pihak perbankan tengah melakukan ground check lokasi calon denfarm. Kementerian Pekerjaan Umum sudah menyatakan komitmennya memperbaiki irigasi sekunder dan ketersediaan pasokan listrik akan diupayakan Perusahaan Listrik Negara. Di samping itu, kerja sama dengan Badan Pertahanan Nasional (BPN) juga dilakukan untuk mempermudah para petambak memperoleh sertifikasi lahan. Sertifikasi lahan ini akan digunakan para pembudidaya sebagai agunan untuk mendapatkan kredit dari perbankan.
Kebutuhan investasi tambak udang intesif tergolong tinggi, yaitu setiap 1 Ha bisa membutuhkan biaya antara Rp350 sampai Rp500 juta termasuk biaya rehabilitasi atau ekuivalen ongkos biaya produksi udang vanamae sebesar Rp33.000 atau 35.000 per kilogram. Tetapi potensi produksinya bisa menghasilkan hingga 10 ton per ha, dengan waktu produksi selama empat bulan.
Data KKP menyebutkan, total produksi udang nasional tahun 2012 sebesar 457.600 ton dari tahun sebelumnya 400.385 ton. Tahun ini, KKP mematok tinggi udang nasional yakni hingga 608.000 ton. Selain itu, tahun 2012, kontribusi udang untuk pasar ekspor sebesar 38 persen dari total ekspor perikanan sebesar 3,9 miliar dolar AS. Tahun ini, kontribusi udang diharapkan meningkat mencapai 40 persen dari total nilai ekspor perikanan yang ditargetkan mencapai 5 miliar dolar AS.
4.1.2 Program Revitalisasi Usaha Budidaya Udang di Indonesia
Revitalisasi merupakan upaya untuk menghidupkan kembali suatu kawasan atau bagian kotayang mengalami kemunduran dan degradasi. Proses revitalisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek fisik dan ekonomi dari kawasan tersebut. Revitalisasi fisik merupakan strategi jangka pendek yang dimaksudkan untuk mendorong terjadinya peningkatan kegiatan ekonomi jangka panjang. Revitalisasi fisik diyakini dapat meningkatkan kondisi fisik, namun tidak untuk jangka panjang.Untuk itu, tetap diperlukan perbaikan dan peningkatan aktivitas ekonomi (economic revitalization) yang merujuk pada aspek sosial budaya serta aspek lingkungan (environmental objectives). Hal tersebut mutlak diperlukan karena melalui pemanfaatan yang produktif, diharapkan akan terbentuk sebuah
88 mekanisme perawatan dan kontrol yang langgeng terhadap keberadaan fasilitas dan infrastruktur.
Salah satu sektor yang melakukan revitalisasi adalah sektor perikanan budidaya yang dilakukan dalam 2 tahap, yaitu Tahap 1 dilaksanakan pada tahun 2006—2009 dan Tahap 2 dilakukan pada tahun 2012—2014.