• Tidak ada hasil yang ditemukan

SWASTA PENYEDIA SARANA BUDIDAYA

PERSENTASE LUASAN (%)

4.4.1 Penentuan Faktor Kunci

Pelaksanaan penentuan faktor kunci, dalam hal ini dilakukan melalui aktivitas pertemuan yang melibatkan para partisipan yang diminta untuk mengidentifikasi variable kunci yang dianggap paling berpengaruh terhadap percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia. Aktivitas ini dilakukan secara bebas, yaitu masing-masing partisipan memberikan pilihanya terhadap setiap variabel yang paling berpengaruh dari hasil analisis tujuan 1 dan tujuan 2 dari penelitian ini, khususnya yang dipandang penting dan urgen atau berpengaruh nyata dalam pendugaan secara statistik. Berdasarkan hasil analisis untuk tujuan 1 dan tujuan 2 serta ditambahkan beberapa variabel dari masukan partisipan, teridentifikasi sebanyak sebanyak 31 peubah yang akan diajukan dalam penentuan faktor kunci.

Dengan menerapkan aturan sederhana analisis kandungan (content analysis) dari opini partisipan serta relevansinya (Bourgeois dan Jesus, 2014), dalam proses ini terdapat beberapa peubah yang dibuang (karena dianggap relative kurang penting dibanding peubah tertentu lainnya), sehingga pada akhirnya dari semula sebanyak 32 peubah dalam proses ini secara konsensus didapatkan sebanyak 12 peubah yang dianggap paling berpengaruh terhadap percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia, seperti disajikan pada Tabel 28 mengenai hasil indentifikasi faktor penentu percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia dan Tabel 29 mengenai hasil konsensus pilihan partisipan terhadap faktor penentu terpilih.

123 Tabel 28. Peubah-peubah yang Terindendifikasi sebagai Faktor Penentu Percepatan

Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia No. Kategori Faktor No. Peubah

1. Penentu Produktivitas (TFP) Usaha Budidaya Udang Nasional

1.1 Intensitas serangan penyakit pada udang windu 1.2 Sistem penanggulangan penyakit udang nasional 1.3 Kebijakan/program rehabilitasi dan pembangunan

saluran irigasi tambak

1.4 Kebijakan/program revitalisasi budidaya udang nasional

1.5 Introduksi varietas udang tahan penyakit (vaname) 1.6 Sistem perbenihan udang nasional

1.7 Dukungan permodalan usaha dari perbankan 1.8 Efisiensi biaya usaha budidaya udang nasional 2. Penentu

Produktivitas (TFP) Usaha Budidaya Udang di Tingkat Lapang

2.1 Indeks kualitas benih udang 2.2 Indeks kualitas pakan udang 2.3 Indeks infrastruktur irigasi 2.4 Pendidikan formal

2.5 Pengalaman usaha

2.6 Dummy serangan penyakit

2.7 Dummy kerjasama dengan pihak swasta penyedia

sarpras 3. Penentu Sikap/ Keputusan Pembudidaya dalam Merespons Program Revitalisasi Usaha Budidaya Udang

3.1 Ketersediaan benih udang berkualitas dan terjangkau 3.2 Ketersediaan pakan udang berkualitas dan terjangkau 3.3 Tingkat pendidikan formal

3.4 Tingkat pengalaman usaha budidaya udang 3.5 Kondisi infrastruktur irigasi

3.6 Dummy penguasaan teknologi melalui pendampingan

3.7 Kualitas fisik bantuan sarana produksi budidaya udang 4. Penentu Lainnya

bersumber dari Masukan/ Pendapat Partisipan

4.1 Insitensitas sosialisasi dan monitoring 4.2 Keselarasan dengan program daerah 4.3 Keterlibatan pemerintah daerah

4.4 Kesesuaian bantuan dengan kondisi spesifik wilayah 4.5 Peran serta pihak mitra dalam pengadaaan sarana dan

prasarana budidaya

4.6 Pengembangan sistem budidaya ramah lingkungan berprodutivitas tinggi

4.7 Jumlah pembudidaya penerima program

4.8 Perbanyakan Jumlah wilayah penerima program 4.9 Jumlah bantuan sarana produksi budidaya udang 4.10 Perluasan revitalisasi berbasis kawasan budidaya

124 Tabel 29. Pilihan Partisipan Secara Konsensus mengenai Peubah-peubah yang Paling berpengaruh (Penting dan Urgen) terhadap Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia

No. Peubah (Deskripsi) Peubah (Ringkas)

1 Sistem penanggulangan penyakit udang nasional Penggulangan penyakit 2 Kebijakan/program rehabilitasi dan pembangunan

saluran irigasi tambak

Penguatan irigasi 3 Dukungan permodalan usaha dari perbankan Dukungan permodalan 4 Efisiensi biaya usaha budidaya udang nasional Efisiensi biaya

5 Ketersediaan benih udang berkualitas dan terjangkau Ketersediaan benih 6 Ketersediaan pakan udang berkualitas dan terjangkau Ketersediaan pakan 7 Penguasaan teknologi melalui pendampingan Pendampingan teknologi 8 Kerjasama dengan pihak swasta penyedia sarpras Kerjasama swasta 9 Kualitas fisik bantuan sarana produksi budidaya udang Kualitas fisik bantuan 10 Insitensitas sosialisasi dan monitoring Sosialisasi dan monitoring 11 Keterlibatan pemerintah daerah Keterlibatan pemda 12 Peran serta pihak mitra dalam pengadaaan sarana dan

prasarana budidaya terutama listrik dan jalan produksi

Peranserta mitra 13 Perbanyakan Jumlah wilayah penerima program Perbanyakan wilayah 14 Perluasan revitalisasi berbasis kawasan budidaya Kawasan budidaya

Sumber: Hasil pilihan partisipan dan peneliti berdasarkan Tabel 28 (2015)

Peubah-peubah yang terdaftar pada Tabel 29 merupakan sebanyak 14 peubah yang dipilih oleh partisipan melalui hasil diskusi dan konsensus, namun dalam hal ini belum diketahui peubah mana yang paling menentukan dalam percepatan revitalisasi industri budidaya udang di Indonesia. Di samping itu, pengaruh antar-peubah juga belum dapat digambarkan, sehingga semua peubah memiliki kepentingan dan kekuatan yang sama terhadap sistem.

Kemudian, untuk kepentingan penyusunan rekomendasi kebijakan, strategi dan rencana aksi, perlu diketahui perbedaan tingkat pengaruh peubah terhadap sistem yang dikaji. Dengan demikian dapat ditentukan peubah yang perlu diintervensi sebagai titik masuk (entry

point) bagi perencanaan yang efektif (Godet dan Roubelat, 1996; Bourgeois dan Jesus,

2004; Gray dan Hatchard, 2008; Godet, 2010). 4.4.2 Analisis Pengaruh Antar-Faktor Kunci

Berdasarkan sebanyak 14 peubah yang dianggap paling berpengaruh terhadap percepatan revitalisasi industri budidaya udang Indonesia seperti tertera pada Tabel 29, para partisipan kembali diskusi dan secara konsensus memberikan skor pada pengaruh silang antar-peubah. Proses ini dilakukan melalui analisis struktural dan kerja kelompok yang dituangkan ke dalam bentuk matriks pengaruh/ketergantungan langsung (influence/dependence, I/D) setiap peubah yang satu dengan variable lainnya dengan

125 menggunakan pendekatan valuasi konsensual (concensual), dengan bantuan perangkat lunak excel dari Bougeois dan Jesus (2004).

Analisis struktural berbasis pada analisis pengaruh langsung, sebagai suatu cara untuk mengelompokkan peubah. Secara praktis, di samping analisis pengaruh langsung juga terdapat analisis pengaruh tidak langsung; dan analisis pengaruh total (pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung). Perbandingan antara garfik pengaruh langsung dan tidak langsung (Gambar 18), digunakan untuk mengenali peubah yang kuat secara tidak langsung. Interpretasi didasarkan pada peubah yang bertambah kuat secara prograsif dengan adanya pertimbangan terhadap pengaruh tidak langsung, yaitu bahwa jika kekuatan globalnya dan/atau rangking-nya meningkat, atau mereka cenderung bergerak kea rah atas grafik, maka mereka merupakan variable yang dapat muncul setelah waktu yang cukup lama. Peubah ini harus dianggap sebagai variable yang memiliki posisi penting pada sistem di masa depan. Secara khusus, peubah yang berlokasi di kanan-atas dan bergerak secara progresif ke arah kiri-atas grafik, dapat menjadi variable penggerak di masa depan. Karena peubah yang berlokasi di kanan-atas juga dianggap sebagai jaminan, maka pengendalian terhadap peubah ini menjadi penting (Bourgeois dan Jesus, 2004).

Dalam penelitian ini analisis hanya difokuskan pada analisis pengaruh langsung saja, hal ini dikarenakan dalam penelitian ini dianggap tidak terdapat pengaruh tidak langsung (meskipun dalam kenyataannya bisa ada/terjadi); dan lazimnya hasil analisis langsung akan jauh lebih besar dibandingkan hasil analisis tidak langsung.

Selanjutnya nilai yang telah didiskusikan dan disepakati oleh partisipan, langsung dimasukkan ke dalam matriks I/D. Nilai skor pengaruh silang hasil kesepakatan, secara lengkap disajikan pad Tabel 30. Adapun hasil analisis pengaruh antar-peubah dalam bentuk grafik seperti disajikan pada Gambar 18.

126 Tabel 30. Skor Pengaruh Antar-peubah yang dinilai oleh Partisipan sebagai Penentu Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia

127 Sumber: Data primer diolah (2015)

Gambar 18. Hasil Analisis Pengaruh Langsung antar-peubah dalam Analisis Prospektif Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia

Tabel 31. Hasil Perhitungan Indeks Total Pengaruh Global dan Indeks Total Ketergantungan Global Peubah-peubah dalam Percepatan Revitalisasi Industri Budidaya Udang di Indonesia

No Faktor TPG TKG ITPG ITKG

1 Penggulangan penyakit 19 11 0.7180 0.42 2 Penguatan irigasi 31 33 1.1715 1.25 3 Dukungan permodalan 27 29 1.0203 1.10 4 Efisiensi biaya 17 30 0.6424 1.13 5 Ketersediaan benih 14 21 0.5291 0.79 6 Ketersediaan pakan 21 23 0.7936 0.87 7 Kualitas fisik bantuan 23 28 0.8692 1.06 8 Pendampingan teknologi 24 27 0.9070 1.02 9 Kerjasama swasta 28 20 1.0581 0.76 10 Sosialisasi dan monitoring 30 19 1.1337 0.72 11 Keterlibatan pemda 24 22 0.9070 0.83 12 Peranserta mitra 32 22 1.2093 0.83 13 Perbanyakan wilayah 25 27 0.9448 1.02 14 Kawasan budidaya 29 32 1.0959 1.21 Jumlah 344 344 13.0000 13.0000 rata-rata 25 25 0.9286 0.9286 Sumber: Pengolahan data primer (2015)

In d eks To ta l Pen ga ru h G lo b al ( TPG )

128 Garfik pangaruh langsung pada Gambar 18 menunjukkan pancaran peubah di dalam ruang empat-kuadran yang dibatasi oleh dua sumbu yang dihitung berdasarkan penilaian indeks Total Pengaruh Global (TPG) dan indeks Total Ketergantungan Global (TKG) pada Tabel . Penggambaran tersebut didasarkan pada nilai-nilai I/D terboboti pada masing-masing peubah, yang dihitung dari dari tabel pengaruh dan ketergantungan. Secara teoritis, interpretasi hasil meliputi: posisi peubah; bentuk distribusi peubah; dan interpretasi hasil langsung dan tidak langsung-nya (Bourgeois dan Jesus, 20004).

Masing-masing kuadran berhubungan dengan karakteristik khusus dari peubah. Kuadran I (kiri atas) merupakan wilayah peubah penggerak (driving factors). Kuadran II (kanan atas) merupakan wilayah peubah kontrol (leverage factors), yang bercirikan pengaruh dan juga ketergantungan kuat, beberapa peubah dalam kuadran ini dapat juga digolongkan sebagai peubah kuat. Kaudran III (kanan bawah) merupakan wilayah peubah keluaran (output factors), yang bersifat sangat tergantung dan hanya sedikit pengaruh. Kaudran IV (kiri bawah) merupakan wilayah peubah marjinal (marginal factors), kelompok ini akan langsung dikeluarkan dari analisis. Selain keempat kaudran, juga terdapat area abu-abu yang mungkin didapati sekelompok peubah, yang peranannya di dalam sistem tidak dapat didefinisikan secara jelas.

Dari presentasi hasil analisis pengaruh silang antar-peubah yang disajikan pada Gambar 18, terpilih sebanyak delapan peubah yang dapat dikatakan sebagai peubah paling berpengaruh, karena terdapat pada Kuadran I (sebagai faktor penggerak/ input), yaitu: Peran mitra, Sosialisasi dan monitoring, dan Kerjasama swasta; dan Kuadran II (sebagai faktor penghubung/proses), yaitu: Penguatan irigasi, Kawasan budidaya, dan Dukungan permodalan; serta peubah yang mendekati Kuadran I dan Kuandaran II, yaitu Keterlibatan Pemda, dan Perbanyakan wilayah . Dari hasil analisis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sebanyak delapan peubah terpilih sebagai peubah yang paling berpengaruh (Godet dan Roubelat, 1996; Bourgeois dan Jesus, 2004).