• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LAMA DAN SUHU PENYIMPANAN POOLED SERA TERHADAP STABILITAS KADAR GLUKOSA DAN ASAM URAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH LAMA DAN SUHU PENYIMPANAN POOLED SERA TERHADAP STABILITAS KADAR GLUKOSA DAN ASAM URAT"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

*Dosen Pembimbing *Dosen Pembimbing

PENGARUH LAMA DAN SUHU PENYIMPANAN

PENGARUH LAMA DAN SUHU PENYIMPANAN

PO

POO

OLE

LE D SE

D SE RA

RA

TERHADAP STABILITASTERHADAP STABILITAS KADAR GLUKOSA DAN ASAM URAT

KADAR GLUKOSA DAN ASAM URAT

Firda Tri Mahardika, *Dra. Anik Handayati, M.Kes, Sri Wahyuni, S.KM, MM Firda Tri Mahardika, *Dra. Anik Handayati, M.Kes, Sri Wahyuni, S.KM, MM

Program Studi Diploma III Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Program Studi Diploma III Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan Surabaya Kementerian Kesehatan Surabaya

Abstrak Abstrak

Pemantapan mutu yang dilakukan oleh laboratorium kimia klinik meliputi pemantapan mutu internal dan Pemantapan mutu yang dilakukan oleh laboratorium kimia klinik meliputi pemantapan mutu internal dan  pemantapan

 pemantapan mutu mutu eksternal eksternal laboratorium. laboratorium. Pentingnya Pentingnya pemantapan pemantapan mutu mutu internal internal laboratorium laboratorium kimia kimia klinikklinik  bertujuan

 bertujuan untuk untuk mengendalikan mengendalikan hasil hasil pemeriksaan pemeriksaan laboratorium laboratorium serta serta meningkatkan meningkatkan mutu mutu presisi presisi dan dan akurasiakurasi hasil laboratorium sehingga laboratorium memperoleh suatu

hasil laboratorium sehingga laboratorium memperoleh suatu kepercayaan. Salah satu upaya yang dilakukan ialahkepercayaan. Salah satu upaya yang dilakukan ialah dengan mengukur serum kontrol. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan dengan mengukur serum kontrol. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan  pooled sera

 pooled sera terhadap stabilitas kadar glukosa dan asam urat. terhadap stabilitas kadar glukosa dan asam urat.

Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan bahan penelitian serum kumpulan atau

Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan bahan penelitian serum kumpulan atau  pooled  pooled serasera yang yang diukur setiap minggu selama 8 minggu penyimpanan pada

diukur setiap minggu selama 8 minggu penyimpanan pada freezer  freezer  suhu 0 suhu 0oo sampai -10 sampai -10ooC danC dan refrigerator refrigerator suhusuhu 2

2oo-4-4ooCC..Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Dinas Kesehatan Kota Surabaya.Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV yang diperoleh pada kadar glukosa adalah 3,27% dan 3,01% dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV yang diperoleh pada kadar glukosa adalah 3,27% dan 3,01% dan CV kadar asam urat yang diperoleh adalah 11,30% dan 12,67% pada batas CCV 7,7%. Setelah dilakukan uji CV kadar asam urat yang diperoleh adalah 11,30% dan 12,67% pada batas CCV 7,7%. Setelah dilakukan uji statistik dengan analisa regresi didapatkan hasil sig p

statistik dengan analisa regresi didapatkan hasil sig probabilitas (p) 0,113 dan 0,131 yang artinya (p) > α makarobabilitas (p) 0,113 dan 0,131 yang artinya (p) > α maka Ho diterima artinya tidak ada pengaruh penyim

Ho diterima artinya tidak ada pengaruh penyimpanan terhadap kadar glukosa. Sedangkan panan terhadap kadar glukosa. Sedangkan untuk kadar asam uratuntuk kadar asam urat hasil analisa yang diperoleh yaitu sig probabilitas (p) 0,023 dan 0,012 yang meyatakan (p)

hasil analisa yang diperoleh yaitu sig probabilitas (p) 0,023 dan 0,012 yang meyatakan (p) < α maka Ho ditolak< α maka Ho ditolak artinya terdapat pengaruh penyimpanan terhadap kadar asam urat

artinya terdapat pengaruh penyimpanan terhadap kadar asam urat dalamdalam pooled sera. pooled sera. Kata kunci :

Kata kunci : pemantapan mutu internal, pemantapan mutu internal, pooled sera, pooled sera,kadar glukosa, kadar asam urat.kadar glukosa, kadar asam urat. PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah Latar Belakang Masalah

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi kedokteran dan kesehatan, diperlukan teknologi kedokteran dan kesehatan, diperlukan  pula

 pula peningkatan peningkatan kemampuan kemampuan manajemen,manajemen, kepemimpinan dan pengorganisasian kesehatan. kepemimpinan dan pengorganisasian kesehatan. Menjelang abad ke-21, mutu pelayanan kesehatan Menjelang abad ke-21, mutu pelayanan kesehatan dituntut semakin bagus. Pendekatan mutu dituntut semakin bagus. Pendekatan mutu  pelayanan

 pelayanan kesehatan kesehatan dan dan kepuasan kepuasan pelanggan pelanggan atauatau  pasien

 pasien menjadi menjadi salah salah satu satu strategi strategi penting penting yangyang tidak bisa diabaikan oleh para penentu kebijakan tidak bisa diabaikan oleh para penentu kebijakan dibidang kedokteran dan kesehatan. Dengan dibidang kedokteran dan kesehatan. Dengan  pendekatan

 pendekatan manajemen manajemen Mutu Mutu Paripurna Paripurna atauatau TotalTotal Quality Management 

Quality Management , seluruh petugas kesehatan,, seluruh petugas kesehatan, mulai dari pimpinan, pejabat fungsional, tenaga mulai dari pimpinan, pejabat fungsional, tenaga medis, paramedis, pejabat struktural dan petugas medis, paramedis, pejabat struktural dan petugas  pelaksana

 pelaksana lini lini depan, depan, menjadi menjadi sangat sangat penting penting dandan diperlukan partisipasinya dalam peningkatan mutu diperlukan partisipasinya dalam peningkatan mutu  pelayanan kesehatan

 pelayanan kesehatan yang seharusnya yang seharusnya dilaksanakandilaksanakan secara terpadu, berkelanjutan dan menyeluruh secara terpadu, berkelanjutan dan menyeluruh (Wijono, 1999).

(Wijono, 1999).

Pelayanan laboratorium merupakan bagian Pelayanan laboratorium merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diperlukan integral dari pelayanan kesehatan yang diperlukan untuk menunjang upaya peningkatan kesehatan, untuk menunjang upaya peningkatan kesehatan,  pencegahan

 pencegahan dan dan pengobatan pengobatan penyakit, penyakit, sertaserta  pemulihan

 pemulihan kesehatan. kesehatan. Sebagai Sebagai komponen komponen pentingpenting dalam pelayanan kesehatan, hasil pemeriksaan dalam pelayanan kesehatan, hasil pemeriksaan laboratorium digunakan untuk penetapan diagnosis, laboratorium digunakan untuk penetapan diagnosis,  pemberian

 pemberian pengobatan pengobatan dan dan pemantauan pemantauan hasilhasil  pengobatan, serta penentuan prognosis. Oleh karena  pengobatan, serta penentuan prognosis. Oleh karena itu hasil pemeriksaan laboratorium harus selalu itu hasil pemeriksaan laboratorium harus selalu terjamin mutunya (DEPKES, 2004).

terjamin mutunya (DEPKES, 2004).

Upaya untuk dapat meyakinkan bahwa Upaya untuk dapat meyakinkan bahwa laboratorium memiliki kemampuan teknis dalam laboratorium memiliki kemampuan teknis dalam menghasilkan data

menghasilkan data hasil uji yang hasil uji yang akurat dan hanakurat dan handaldal sehingga mampu menetapkan manajemen mutu sehingga mampu menetapkan manajemen mutu laboratorium sebagai hasil analisis laboratorium laboratorium sebagai hasil analisis laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu kegiatan terpenting dalam meningkatkan mutu kegiatan terpenting dalam meningkatkan mutu laboratorium yaitu melakukan pemantapan mutu laboratorium yaitu melakukan pemantapan mutu atau

atauquality controlquality control(Kahar, 2005).(Kahar, 2005).

Pemantapan mutu yang dilakukan oleh Pemantapan mutu yang dilakukan oleh laboratorium meliputi pemantapan mutu eksternal laboratorium meliputi pemantapan mutu eksternal dan pemantapan mutu internal laboratorium. dan pemantapan mutu internal laboratorium. Pemantapan mutu internal laboratorium dilakukan Pemantapan mutu internal laboratorium dilakukan oleh laboratorium kimia klinik sendiri dengan oleh laboratorium kimia klinik sendiri dengan tujuan mengendalikan hasil pemeriksaan tujuan mengendalikan hasil pemeriksaan laboratorium tiap hari dan untuk mengetahui laboratorium tiap hari dan untuk mengetahui  penyimpangan

 penyimpangan hasil hasil laboratorium laboratorium agar agar segerasegera diperbaiki. Manfaat melakukan kegiatan diperbaiki. Manfaat melakukan kegiatan  pemantapan

 pemantapan mutu mutu internal internal laboratorium laboratorium antara antara lainlain meningkatkan mutu presisi maupun akurasi hasil meningkatkan mutu presisi maupun akurasi hasil laboratorium, kepercayaan dokter terhadap hasil laboratorium, kepercayaan dokter terhadap hasil laboratorium akan meningkat.

laboratorium akan meningkat.

Pemantapan mutu internal laboratorium Pemantapan mutu internal laboratorium kimia klinik dilakukan dengan melakukan kimia klinik dilakukan dengan melakukan  pemeriksaan

 pemeriksaan serum serum kontrol kontrol yang yang bertujuan bertujuan untukuntuk menguji atau menilai validitas hasil pemeriksaan menguji atau menilai validitas hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil yang dikeluarkan laboratorium dan hasil yang dikeluarkan laboratorium sesuai dengan kriteria hasil laboratorium sesuai dengan kriteria hasil  pemeriksaan.

 pemeriksaan. Serum Serum kontrol kontrol yang yang tersedia tersedia atauatau sudah jadi baik

sudah jadi baik assayedassayed maupunmaupun unassayedunassayed  berbentuk

 berbentuk cair, cair, padat padat atau atau liofilisat liofilisat dan dan menurutmenurut sumbernya serum kontrol dapat berasal dari sumbernya serum kontrol dapat berasal dari

(2)

 binatang, manusia atau merupakan bahan kimia murni atau yang biasa disebut sebagai larutan  spikes.

Menurut pembuatannya, terdapat dua jenis serum kontrol yang tersedia yaitu serum komersial dan home made sera atau serum kontrol buatan sendiri. Serum kontrol yang terbuat dari serum disebut dengan kumpulan serum atau pooled sera. Keuntungan dari penggunaan pooled sera sebagai serum kontrol diantaranya mudah didapat, murah dan bahan berasal dari manusia. Untuk dapat mewakili kondisi pada manusia yang sebenarnya sebaiknya pemeriksaan serum kontrol laboratorium terbuat dari serum manusia dan  pooled sera ini dapat digunakan sebagai alternatif serum kontrol  pada suatu laboratorium karena proses  pembuatannya memerlukan biaya yang relatif murah. Sementara serum komersial yang tersedia  baik yang berasal dari bovine maupun human sera

harganya mahal.

Serum kumpulan atau pooled sera dapat dibuat sendiri oleh laboratorium kimia kilinik dan dapat digunakan sebagai bahan kontrol setelah diketahui stabilitas pooled sera. Untuk mengetahui stabilitas pooled sera maka perlu diperhatikan juga dalam penyimpanan  pooled sera  sesuai dengan  prosedur agar diketahui dengan tepat kestabilan serum kumpulan sebagai bahan kontrol laboratorium.

Parameter yang digunakan untuk menguji stabilitas pooled seraadalah glukosa dan asam urat. Pemilihan parameter glukosa dikarenakan ada kecenderungan penurunan stabilitas akibat glikolisis. Kedua pemeriksaan ini sering dilakukan di laboratorium, biasanya stabilitasnya rendah dan  pelaksanaannya mudah.

Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh lama dan suhu penyimpanan terhadap stabilitas kadar glukosa dan asam urat dalam pooled sera. Rumusan Masalah

“Apakah ada pengaruh lama dan suhu

 penyimpanan dalam  freezer   dan refrigerator  terhadap kadar glukosa dan asam urat dalam pooled  sera?”.

Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Stabilitas  pooled sera dianalisis dengan  parameter glukosa darah dan asam urat.

2.  Pooled sera yang telah dibuat disimpan pada  freezer   dan refrigerator   dengan waktu  penyimpanan sampai 8 minggu.

Tujuan Penelitian

Mengetahui pengaruh lama dan suhu  penyimpanan pooled sera  terhadap stabilitas kadar

glukosa dan asam urat. TINJAUAN PUSTAKA

Mutu Pemeriksaan Laboratorium

Dalam upaya mencapai tujuan laboratorium klinik, yakni tercapainya pemeriksaan yang bermutu, diperlukan strategi dan perencanaan manajemen mutu. Salah satu pendekatan mutu yang digunakan adalah Quality Management Science yang disingkat QMS memperkenalkan suatu model yang dikenal dengan  Five-Q. Westgard (2000) menyatakan Five-Q meliputi :

1) Quality Planning (QP)

Pada saat akan menentukan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan di laboratorium, perlu merencanakan dan memilih jenis metode, reagen,  bahan, alat, sumber daya manusia dan kemampuan

yang dimiliki laboratorium.

2) Quality Laboratory Practice (QLP)

Membuat pedoman, petunjuk dan prosedur tetap yang merupakan acuan setiap pemeriksaan laboratorium. Standar acuan ini digunakan menghindari atau mengurangi terjadinya variasi yang akan mempengaruhi mutu pemeriksaan.

3) Quality Control (QC)

Pengawasan sistematis periodik terhadap : alat, metode, dan reagen. QC lebih berfungsi untuk mengawasi, mendeteksi persoalan dan membuat koreksi sebelum hasil dikeluarkan. Quality control  adalah bagian dari quality assurance  dan quality assurance  merupakan bagian dari total quality management .

4) Quality Assurance (QA)

Mengukur kinerja pada tiap tahap siklus tes laboratorium : praanalitik, analitik dan  pascaanalitik. Jadi, QA merupakan pengamatan keseluruhan input-proses-output dan atau outcome, dan menjamin pelayanan dalam kualitas tinggi dan memenuhi kepuasan pelanggan. Tujuan QA adalah untuk mengembangkan produksi hasil yang dapat diterima secara konsisten, jadi lebih berfungsi untuk mencegah kesalahan terjadi atau antisipasi eror.

5) Quality Improvement (QI)

Dengan melakukan QI, penyimpangan yang mungkin terjadi akan dapat dicegah dan diperbaiki selama proses pemeriksaan berlangsung yang diketahui dari quality control dan quality assessment. Masalah yang telah dipecahkan, hasilnya akan digunakan sebagai dasar proses quality planning dan quality process laboratory  berikutnya.

Pemantapan mutu laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil

(3)

 pemeriksaan laboratorium. Pemantapan mutu merupakan suatu upaya untuk meminimalkan atau  pencegahan kesalahan semaksimal mungkin mulai

dari kesalahan praanalitik, analitik dan  pascaanalitik.

Perhatian utama untuk mutu laboratorium klinik adalah akurasi, kebenaran data, dan tepat waktu, karakteristik yang lainnya tetap penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan (Nufitria, 2013). Menurut Hadi (2000) dalam kaitannya dengan mutu laboratorium data hasil uji tersebut dapat memuaskan pelanggan dengan mempertimbangkan aspek-aspek teknis sehingga ketepatan dan ketelitian yang tinggi dapat dicapai dan data tersebut harus terdokumentasi dengan baik sehingga dapat dipertahankan secara ilmiah.

Kegiatan pemantapan mutu meliputi komponen-komponen : Pemantapan Mutu Eksternal yang disingkat PME, Pemantapan Mutu Internal yang disingkat PMI, Verifikasi, Audit, Validasi hasil, Pendidikan dan latihan (Nufitria, 2013).

Bentuk-Bentuk Kesalahan 1. Kesalahan Kasar

Kesalahan ini umumnya terjadi pada tahap  pra maupun pascaanalitik. Kesalahan ini hanya dapat dihindari dengan sistem kerja yang baik, kesadaran petugas laboratorium, keterangan yang  jelas kepada dokter, perawat dan penderita.

2. Kesalahan Acak

Penyebab terjadinya kesalahan acak adalah kepekaan suhu, arus atau tegangan listrik, waktu inkubasi, proses pemeriksaan, cara pemipetan dan lain-lain. Kesalahan ini menyebabkan presisi hasil  pemeriksaan yang kurang baik. Kesalahan ini tidak dapat dihilangkan, hanya dapat dikurangi dengan  pemeriksaan yang teliti, penggunaan alat dan

reagensia yang lebih baik dan prosedur  pemeriksaan yang benar.

3. Kesalahan Sistematik

Kesalahan sistematik menyebabkan akurasi hasil pemeriksaan kurang baik. Penyebab terjadinya adalah metode pemeriksaan yang dipakai, pipet yang sudah tidak akurat, reagensia yang rusak atau salah dalam melarutkannya, serta  panjang gelombang yang tidak tepat. Kesalahan akan menunjukkan adanya kecenderungan tertentu (Pertiwi, 2010).

Ketelitian dan Ketepatan Pemeriksaan 1 Pemantapan Ketelitian (Precision Control)

Ketelitian atau presisi adalah keterdekatan hasil pemeriksaan diantara replikat-replikat yang  berasal dari suatu sampel. Ketelitian terutama dipengaruhi oleh kesalahan acak yang tidak dapat dihindari. Impresisi yaitu penyimpangan dari hasil  pemeriksaan terhadap nilai rata-rata yang

dinyatakan dengan Standar Deviasi yang disingkat SD dan Koefisien Variasi yang disingkat KV, semakin kecil SD semakin baik. Hal ini dapat disebut dengan reprodusibilitas atau terdapat ulangan yang baik. Pemantapan ketelitian adalah untuk mengenali kemungkinan adanya standar deviasi akibat kesalahan acak yang terjadi dalam suatu proses analisa sampel pasien (Speicher, 1996).

2 Pemantapan Ketepatan (Accuracy Control)

Ketepatan atau akurasi yaitu keterdekatan hasil pemeriksaan terhadap “Target Value” atau nilai sebenarnya. Penyimpangan dari nilai benar  biasanya disebabkan oleh kesalahan sistematik antara lain larutan standard dan spesifitas analitik. Hal yang mempengaruhi impresisi juga akan mempengaruhi inakurasi. Pemantapan ketepatan dilakukan untuk mengenali kemungkinan adanya deviasi akibat kesalahan sistematik dalam proses analisa sampel pasien (Speicher, 1996).

Tinjauan Glukosa

Glukosa terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka. Insulin dan glukagon, dua hormon ini  berasal dari kelenjar pankreas, dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Insulin diperlukan untuk  permeabilitas membrane sel terhadap glukosa dan untuk transportasi glukosa ke dalam sel. Tanpa insulin, glukosa tidak dapat memasuki sel. Glukagon menstimulasi glikogenolisis atau  pengubahan glikogen cadangan menjadi glukosa

yang berlangsung di dalam hati. Tinjauan Asam Urat

Asam urat adalah produk akhir dari metabolisme purin. Purin yang terdiri dari adenine dan guanine merupakan bagian asam nukleat (Sacher, 2004). Pergantian purin dalam tubuh  berlangsung dan menghasilkan banyak asam urat walaupun tidak adanya input makanan yang mengandung asam urat (Sutedjo, 2008).

Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuhnya karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan purin. Tubuh menyediakan 85 % senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari, sehingga kebutuhan purin dari makanan hanya 15 %.

Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang dilakukan pada  penelitian ini adalah penelitian eksperimental

Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Surabaya.

(4)

Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini adalah sebanyak 28 mahasiswa yang diambil secara random sampling  dari populasi. Sampel yang diambil yakni darah sebanyak 3cc yang kemudian dipisahkan dengan serumnya untuk diambil sebagai bahan penelitian. Variabel Penelitian

Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama penyimpanan pooled sera yang disimpan pada  freezer   suhu 0o  sampai -10oC dan disimpan dalam

refrigerator  suhu 2o-4oC. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah stabilitas serum yang diketahui dengan mengukur kadar glukosa dan asam urat dalam  pooled sera.

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN Tabel Data Hasil Pemeriksaan, Mean, SD dan

CV Kadar Glukosa dan Asam urat Waktu

Pemeriksaan

Parameter Glukosa Parameter Asam Urat

F reezer R efrigerator F reezer R efrig erator

Rata-rata Minggu ke-0 78 3,4 Minggu Ke-1 77 80,5 3,23 3,15 Minggu Ke-2 84 82 3,29 3,51 Minggu ke-3 83 83 3,01 2,92 Minggu Ke-4 82,5 81,5 4,04 3,96 Minggu Ke-5 79 78,5 4,03 3,95 Minggu Ke-6 82 77 3,93 4,17 Minggu Ke-7 84 76,5 4,04 4,2 Minggu Ke-8 83 77,5 3,89 4,05 Rata-rata (mg/dL) 81,38889 79,38889 3,651111 3,701111 Standar Deviasi 2,66667 2,395018 0,412718 0,469107 CV (%) 3,276451 3,016818 11,30309 12,67475 Pemantapan mutu eksternal atau yang  biasa disingkat dengan PME untuk kimia klinik memiliki batas Chosen Coefficient of Variation atau yang disingkat dengan CCV. CCV merupakan skala atau satuan yang menjadi patokan untuk menentukan sejauh mana hasil pemeriksaan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Menurut Program Pemantapan Mutu WHO atau  International External Quality Assessment Scheme disingkat dengan IEQAS, menetapkan CCV masing-masing parameter pemeriksaan kimia klinik. CCV untuk parameter pemeriksaan glukosa dan asam urat adalah sebesar 7,7%.

Hasil perhitungan CV yang didapat pada kadar glukosa dan asam urat yang disimpan dalam  freezer suhu 0o sampai -10oC dan refrigerator suhu

2o-4oC menunjukkan hasil yang berbeda pada kadar glukosa dan asam urat. Pada kadar glukosa  perhitungan CV yang didapat memperoleh hasil sebesar 3,27% dan 3,01%. Kedua angka ini belum

melewati batas CCV atau masih dalam rentang  batas CCV dan dikatakan stabil. Sedangkan pada hasil perhitungan CV untuk kadar asam urat yang disimpan dalam freezer suhu 0o  sampai -10oC dan refrigeratorsuhu 2o-4oC menunjukkan hasil sebesar 11,30% dan 12,67%. Hal ini dikatakan telah melewati batas CCV untuk parameter pemeriksaan asam urat.

Analisa Data

1. Uji Normalitas Data

Uji Normalitas data yang digunakan adalah analisa statistik uji One-sample  Kolmogorov-Smirnov Tes, didapatkan nilai signifikan (2-tailed) glukosa yang disimpan pada  freezer suhu 0osampai -10oC adalah 0,590 dan nilai signifikan (2-tailed) glukosa yang disimpan pada refrigerator suhu 2o-4oC adalah 0,863, sedangkan nilai signifikan (2-tailed) asam urat yang disimpan  pada freezer  suhu 0osampai -10oC adalah 0,508 dan nilai signifikan (2-tailed) asam urat yang disimpan  pada refrigerator   suhu 2o-4oC adalah 0,588. Maka dapat disimpulkan bahwa data pemeriksaan kadar glukosa dan asam urat dalam  pooled sera  yang disimpan pada freezer   suhu 0o sampai -10oC dan refrigerator   suhu 2o-4oC mempunyai nilai signifikan (2-tailed) > α maka Ho diterima, hal ini  berarti data berdistribusi normal sehingga dapat

dilanjutkan dengan analisa Regresi. 2. Analisis Regresi

Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan  pooled sera terhadap stabilitas kadar glukosa dan asam urat ini menggunakan analisis regresi. Pada analisa regresi untuk kadar glukosa yang disimpan dalam freezer suhu 0o sampai -10oC menunjukkan hasil signifikan  probabilitas (p) 0,113 dan signifikan probabilitas (p) pada glukosa yang disimpan pada refrigerator suhu 2o-4oC adalah 0,131. Hasil ini menunjukkan nilai signifikan probabilitas (p) > α maka Ho yang diterima yang artinya tidak ada pengaruh  penyimpanan pooled sera terhadap stabilitas kadar

glukosa.

Pada analisa regresi untuk parameter  pemeriksaan asam urat menghasilkan nilai signifikan probabilitas (p) 0,023 untuk penyimpana dalam  freezer   suhu 0o  sampai -10oC dan nilai signifikan probabilitas (p) 0,012 pada penyimpanan refrigeratorsuhu 2o-4oC.Kedua hal ini menyatakan nilai signifika probabilitas (p) < α maka Ho ditolak yang artinya ada pengaruh penyimpanan  pooled  seraterhadap stabilitas kadar asam urat.

Stabilitas kadar glukosa dan asam urat dalam  pooled sera dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pengaruh penyimpanan, suhu  penyimpanan, homogenasi sebelum pemeriksaan dan glikolisis untuk parameter pemeriksaan

(5)

glukosa. Faktor lain yang mempengaruhi  pengukuran kadar glukosa dan asam urat adalah kekeruhan, karena kekeruhan pada serum dapat mempengaruhi absorbansi pengukuran. Proses  pembuatan serum kumpulan atau pooled sera dapat  pula mempengaruhi hasil pemeriksaan kadar glukosa dan asam urat. Sentrifugasi yang kurang serta adanya kontaminasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari namun dapat ditekan seminimal mungkin.

Hasil yang ditunjukkan berdasarkan  perhitungan CV terhadap CCV bahwa kadar glukosa dikatakan masih stabil karena masih dalam  batas CCV, sedangkan pada asam urat telah melewati batas CCV untuk parameter pemeriksaan asam urat. Namun pada perhitungan statistik menggunakan analisa regresi menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh penyimpanan kadar glukosa dalam  pooled sera, sedangkan pada asam urat terdapat pengaruh penyimpanan.

Hasil pengukuran pada kadar glukosa dan asam urat baik yang disimpan pada freezer suhu 0o sampai -10oC maupun refrigerator   suhu 2o-4oC menunjukkan kestabilan hasil pemeriksaan namun terdapat peningkatan maupun penurunan setiap minggunya dikarenakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan kadar glukosa dan asam urat dalam pooled sera yang didapat mengalami  penurunan atau peningkatan juga dapat dikarenakan oleh pergantian reagen yang baru. Khusus pada kadar glukosa, disamping pengaruh glikolisis, terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil  pemeriksaan kadar glukosa maupun asam urat adalah faktor yang berasal dari petugas laboratorium seperti homogenasi yang kurang sebelum pemeriksaan dilakukan maupun suhu serum yang belum menunjukkan suhu ruang. Variasi hasil yang tinggi menyebabkan tingginya nilai SD maupun CV pada perhitungan kadar glukosa maupun asam urat, sehingga pada  pengukuran kadar glukosa dan asam urat dalam

 pooled sera  ini kemungkinan hasil pemeriksaan yang diperoleh menunjukkan variasi hasil  pemeriksaan atau pembuatan  pooled sera yang

kurang representatif.

KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan :

1. Kadar rata-rata glukosa dalam  pooled sera yang disimpan dalam freezer suhu 0o  sampai -10oC dan

refrigerator suhu 2o-4oC adalah 81,38 mg/dL dan 79,38 mg/dL, SD 0,41 dan 0,46, serta CV sebesar 3,27% dan 3,01%.

2. Kadar rata-rata asam urat dalam pooled sera yang disimpan dalam freezer   suhu 0o  sampai -10oC dan

refrigerator suhu 2o-4oC adalah 3,65 mg/dL dan

3,70 mg/dL, SD 2,66 dan 2,39, serta CV sebesar 11,30% dan 12,67%.

3. Tidak terdapat pengaruh penyimpanan terhadap kadar glukosa dalam  pooled sera yang disimpan  pada freezersuhu 0o sampai -10oC dan refrigerator 

suhu 2o-4oC.

4. Terdapat pengaruh penyimpanan terhadap kadar asam urat dalam pooled sera yang disimpan pada

 freezer suhu 0o sampai -10oC dan refrigeratorsuhu 2o-4oC.

Saran

1. Bagi petugas atau pelaksana laboratorium, sebaiknya memperhatikan faktor-faktor praanalitik sebelum melakukan pemeriksaan kimia klinik salah satunya faktor homogenasi sampel dan suhu sampel sebelum dilakukan pemeriksaan karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.

2. Bagi peneliti selanjutnya, dapat melanjutkan  penelitian ini dengan parameter pemeriksaan kimia klinik yang lain atau dengan penambahan ethilen glycol sebagai pengawet dalam pembuatan pooled  sera untuk serum kontrol.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cheesbrough, Monica.  District Laboratory  Practice in Tropical Countries second edition.

diakses pada tanggal 3 Februari 2014.

2. DEPKES RI. 2004.  Pedoman Praktik  Laboratorium Kesehatan Yang Benar. Jakarta

: Departemen Kesehatan

3. DEPKES RI. 2008.  Pedoman Praktik  Laboratorium Kesehatan Yang Benar. Jakarta

: Departemen Kesehatan.

4. Donosepoetro, Marsetio., Suhendra B.,  Nurwan. 1995.  Pengantar Pemantapan  Kualitas Laboratorium Klinik. Jakarta :

Boehringer Mannhein.

5. Hadi, Anwar. 2000. Sistem Manajemen Mutu  Laboratorium. Jakarta : PT Gramedia Pustaka

Utama.

6. Kahar, Hartono. 2005.  Peningkatan Mutu  Pemeriksaan di Laboratorium Rumah Sakit.

Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

7. Kee, Joyce LeFever. 2008.  Pedoman  Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik.

Jakarta : EGC.

8.  Nufitria, Efita. 2013. Uji Ketepatan dan  Ketelitian dan Ketelitian Pemeriksaan

 Eritrosit, Leukosit, Hematokrit di

 Laboratorium Klinik Assutuyah Pati.

Semarang : Universitas Muhammadiyah Semarang.

9. Pertiwi, Danis. 2010.  Pemantapan Mutu  Laboratorium Bidang Kimia Klinik vol.

(6)

 XLVIII No.122. Semarang : Universitas Islam Tulungagung (UNISSULA).

10. Riyono. 2007.  Pengendalian Mutu

 Laboratorium Kimia Klinik Dilihat dari Aspek  Mutu Hasil Analisis Laboratorium. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol.7 No.2. STIE AUB Surakarta.

11. Sacher, Ronald A. 2004. Tinjauan Klinis  Hasil Pemeriksaan Laboratorium edisi II .

Jakarta: EGC.

12. Speicher, Carl E., Jack W. Smith. 1996.

 Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif (Choosing Effective Laboratory Tests). Jakarta : EGC.

13. Stanbio Laboratory. Glucose Liquicolor (oxidase) Procedure No. 1070.

14. Sutedjo, AY. 2008.  Mengenal Penyakit  Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium.

Jakarta: Penerbit Amara Books.

15. Syifak. 2013.  Hubungan Pemantapan Mutu terhadap Hasil Analisis Laboratorium Kimia  Klinik dengan Parameter Kolesterol dan SGPT. Semarang : Universitas Muhammaditah Semarang.

16. Syukri, Maimun. 2007.  Asam Urat dan  Hiperurisemia. Universitas Sumatera Utara:

Majalah Kedokteran Nusantara..

17. Westgard JO.  Basic Planning for Quality.

Madison, WI : Westgard QC, 2000, 272 pp. 18. Wijono, Djoko. 1999.  Manajemen Mutu

 Pelayanan Kesehatan. Surabaya : Airlangga University Press.

Gambar

Tabel Data Hasil Pemeriksaan, Mean, SD dan CV Kadar Glukosa dan Asam urat

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian air rebusan daun sirsak ( Annona muricata Linn.) terhadap kadar asam urat, kolesterol, dan glukosa darah

Dengan segala kemampuan dan keterbatasan sehingga penulisan skripsi yang berjudul” Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat Pada Pekerja Kantor Di Kecamatan Salem

Hasil : Hasil penelitian kadar asam urat sebelum dilakukan terapi bekam di Puskesmas Keling I Kecamatan Keling Kabupaten Jepara rata-rata 9,42, kadar asam urat

Seperti yang telah dijelaskan bahwa karakteristik subyek penelitian seluruhnya adalah pasien yang melakukan pemeriksaan kadar asam urat dan kristal asam urat pada

Dengan segala kemampuan dan keterbatasan sehingga penulisan skripsi yang berjudul” Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat Pada Pekerja Kantor Di Kecamatan Salem

Gambaran kesehatan nilai glukosa darah, nilai asam urat, dan nilai kolesterol dari 55 peserta yaitu rata-rata kadar glukosa darah pada perempuan lebih tinggi

Kadar asam urat serum tidak hemolisis masih dalam batas normal, untuk asam urat dengan sampel hemolisis terjadi penurunan karena ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya

Pengertian Asam Urat Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh.. Meningkatnya kadar asam urat