kerja praktek pt. vale BAB II

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN OBYEK KERJA PRAKTIK

A. Deskripsi Umum dan Organisasi Obyek Kerja Praktik 1. Sejarah Perusahaan

Tahun 1968, pada bulan Januari, Inco terpilih dari enam perusahaan untuk merundingkan sebuah kontrak karya pada tanggal 25 Juli 1968. Akta pendirian disahkan dan didaftarkan sebagai sebuah perusahaan baru yaitu PT.Internasional Nickel Indonesia (INCO),Tbk secara resmi pada tanggal 27 Juli 1969 dan kontrak karya tersebut ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia beserta Direksi PT. Vale Indonesia, pada tahun 1970, contoh bijih dari Sulawesi dalam jumlah besar pertama sebanyak 50 ton dikirim ke fasilitas riset Inco Kanada di Port Colborne, Ontario. Sebuah pabrik produksi pelebur dibuat dalam skala kecil menunjukkan bahwa bahan dari Sorowako dapat diolah dengan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1971, eksplorasi yang dilakukan telah cukup membuktikan bahwa endapan laterit disekitar Sorowako mampu mendukung pabrik nikel yang besar, kemudian pada tahun 1973, pembangunan 1 unit jaringan pengolahan pyrometalurgi mulai dilakukan di kawasan Sorowako. Selanjutnya di tahun 1974, sebagai reaksi atas lonjakan harga minyak yang pertama maka diambillah keputusan untuk mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Pada 1978, tanggal 1 April PT. INCO mulai berproduksi secara komersial. Tahun 1988, Inco Limited menjual 20% dari saham PT.INCO yang dimilikinya kepada Sumitomo Metal Mining Co,Ltd dari Jepang. Kemudian pada tahun 1990, pada tanggal 16 Mei, Inco Limited menjual 20% dari saham PT.INCO yang dimilikinya kepada public dan dicatatkan pada bursa efek di Indonesia tetapi Inco Limited tetap memiliki 58,19% saham PT. INCO. Pada 1996-1999, Proyek Ekspansi Jaringan ke empat termasuk Balambano yang berkapasitas 93 MW untuk meningkatkannya menjadi 150 juta pound/tahun. Di tahun 2000, PT. Inco meningkatkan produksi 30% menjadi 130,9 pound nikel dalam bentuk matte. Sejalan dengan rencana Perseroan untuk mencapai kapasitas yang diperluas sebesar 150 juta pound produksi per tahun. Tahun 2003-2004, dimana tahun 2003 PT.Inco membangun daerah penambangan yang baru yaitu di Petea (sebelah timur Danau Matano yang berdekatan dengan wilayah timur penambangan bijih (ore body) PT.Inco) dan membangun bendungan ketiga di Karebbe, Sungai Larona untuk meningkatkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dari 275 MW ke 365 MW.Pada tahun 2005, berhasil memasang teknologi Bag House System di Tanur Listrik No # 4 sehingga mampu mengurangi emisi debu tanur listrik hingga berada dibawah ambang batas ketentuan pemerintah dan direncanakan tahun 2008 semua tanur listrik akan dilengkapi dengan alat ini. Akhirnya pada 24 januari 2012 peresmian menjadi PT Vale Indonesia Tbk.

2. Visi, Misi, dan Nilai PT. Vale Indonesia Tbk.

Visi PT Vale Indonesia,Tbk

Visi PT Vale Indonesia adalah menjadi perusahaan nikel terkemuka dunia menetapkan standar – standar keunggulan yang tinggi dalam produk – produk

(2)

pertambangan, pengolahan, dan pemasaran yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan berkontribusi terhadap perbaikan kualitas kehidupan.

Misi PT.Vale Indonesia,Tbk

Misi PT Vale Indonesia,Tbk meningkatkan produksi nikel bagi dunia secara bertanggung jawab.Nilai Utama PT Vale Indonesia adalah karyawan, keamanan dan kesehatan, tanggung jawab sosial dan lingkungan, etika dan ketaatan, keunggulan prestasi, kewirausahaan, bersama kita lebih baik.

Nilai PT. Vale Indonesia,Tbk

a. Kehidupan adalah hal yang terpenting b. Menghargai karyawan

c. Menjaga kelestarian bumi d. Melakukan hal yang benar

e. Bersama-sama menjadi lebih baik f. Mewujudkan tujuan

(3)

PRESIDENT & CEO

CHIEF OPERATING OFFICER

SNR GM.

ENG.TECH.DEV SNR GM OF MINES & EXPLORATION GM OF MINE PRODUCTION PETEA AND SERVE

MGR OF MINE PRODUCTION PETEA MGR OF MINE REHABILITATION MINE ENVIRONMENT ENGINEER REHABILITATION ENGINEER LAND PREPARATION AND CLEARING SUPERVISOR LAND

PREP. AND TOP SOIL Asst. Mine engineer Coord. revegetation foreman operator MGR OF MINE TRAINING SAFETY MGR OF ORE HANDLING &MINE SERVE GM OF MINE GEOLOGY GM OF MINE PRODUCTION SOROWAKO GM OF MINE ENGINEER GM OF MINE EXPLORATION GM MINE BUSINEES & IMPROVMENT SNR GM OF UTILITIES & MAINTENANCE SNR GM OPERATION EXCELLENCE SNR GM OF

PROCESS PLANT GM EHS CHIEF FINANCE DIRECTOR DIRECTOR OF HR &COORPORATE SERVICE DIRECTOR OF PROJECT PORTOFOLIO DIRECTOR OF EXTERNAL RELATIONS DIRECTOR OF LEGAL & SECRETARY 3. Struktur Organisasi

(4)

4. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang digunakan selama melakukan proses kerja praktik ialah Alat Pelindung Diri (APD), pH-meter, botol sampel ukuran 1 L, buku lapangan, kertas lakmus, mobil khusus untuk daerah tambang, larutan aquades untuk penetralan, kolam pengendapan, alat ukur flow otomatis, spektrofotometer dan sarana kompleks yang menunjang untuk pengolahan limbah.

5. Produk

Proses produksi nikel dalam matte dijalankan melalui mekanisme Sistem Produksi Vale atau Vale Production System (VPS). Mekanisme ini menjadikan produksi dilakuan dalam sistem terpadu yang merupakan standarisasi di empat bidang utama: karyawan, operasi, perawatan dan manajemen; serta tiga bidang pendukung: kesehatan, keselamatan, serta lingkungan hidup.

Ditahun 2012, harga tunai nikel di LME berada lebih rendah 23% dibandingkan 2011, dan merupakan penurunan rata-rata tahunan yang pertama sejak 2009. Walaupun permintaan terus meningkat, harga nikel mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global maupun pasokan nikel yang terus meningkat.

Pencapaian Produksi Nikel

Produksi Nikel 2011 2012 2013

Produksi Nikel 66,900 70,717 75.802

Harga realisasi rata-rata per ton (Dollar per ton)

18,296 13,552

Pendapatan 1,242,555 967,327

6 Pemasaran

PT. Vale Indonesia Tbk menyediakan pasokan jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan konsumen, yakni Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mininng Co. Ltd (SMM). Sesuai dengan perjanjian penjualan maka 80% dari produksi PT. Vale Indonesia Tbk. di beli oleh VCL dan 20% oleh SMM.

Keberadaan perjanjian penjualan dengan VCL dan SMM, menjadikan PT. Vale Indonesia Tbk tidak perlu melakukan komunikasi pemasaran termasuk promosi. Kekhususan pasar tersebut juga menjadikan Perseroan tidak menghadapi persaingan usaha dengan produsen nikel lain di Indonesia.

8 Penghargaan dan Sertifikasi Perusahaan tahun 2012 a. Penghargaan Perusaahaan

No Nama Penghargaan Kategori Lembaga Pemberi

1 The Sustainable Business Award

 Best Mining an Metals Company in Indonesia

 Best Company for Water Management

Kadin (Indonesia Chamber of Commerce and Industry) and Singapore-Based Global Initiatives and Climate Business

2 Pekan Lingkungan

Indonesia XVI 2012

Stand Terbaik Kategori Lingkungan

Kementerian Lingkungan Hidup

(5)

Rescue Challenge (IFRC) XV

Ketinggian

 Medali Perunggu Kategori Penyelamatan dalam Struktur Bangunan Rubuh

Challenge

4 Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan

Biru Kementerian Lingkungan

Hidup

B. Data Teknis dan Kemajuan Kegiatan PT. Vale Indonesia Tbk. 1. Kondisi Lingkungan

Luas wilayah kontrak karya PT. Vale Indonesia Tbk hingga akhir 2012 mencapai 190.510 hektar, dengan cakupan terbesar adalah wilayah tambang di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, seluas 118.387,4 hektar. Dari luasan tersebut, 72.437 hektar merupakan kawasan hutan lindung dan 2.139,8 hektar adalah kawasan hutan konservasi, yang pemanfaatannya telah mendapat izin berdasarkan keputusan Presiden (Keppres) No. 41/2004 Tentang Perizinan atau Perjanjian di Bidang Pertambangan yang berada di kawasan Hutan.

PT. Vale Indonesia Tbk secara berkesinambungan berupaya meminimalkan penurunan kualitas (degradasi) lingkungan, melalui pelaksanaan praktik-praktik pengelolaan lingkungan yang didasarkan pada standar ISO 140001 dan terangkum dalam Vale Environmental Management System (EMS).

Dalam pelaksanaannya, PT. Vale Indonesia Tbk mempertimbangkan kondisi yang dihadapi dalam menentukan prioritas kegiatan yang dilaksanakan. Untuk tahun 2012, PT. Vale Indonesia Tbk melanjutkan berbagai upaya untuk memenuhi standar baku mutu emisi sulfur (SO2) di pabrik pengolahan, perbaikan dan penambahan kolam pengendapan unuk

mengurangi padatan tersuspensi (TSS), perbaikan fasilitas penanganan chromium serta pelaksanaan reklamasi di area pascatambang. PT. Vale Indonesia Tbk juga tidak mengabaikan potensi ancaman lain terhadap lingkungan dan melakukan penanggulangan sesuai pemetaan yang sudah dilakukan.

2. Limbah yang dihasilkan a. Limbah cair

1. Effluent dari proses produksi di pabrik pengolahan, dikelola dengan cara mencampurnya dengan debu dan dimanfaatkan kembali sebagai umpan ditanur pengering melalui mekanisme tertutup.

2. Minyak hasil dari bengkel perawatan kendaraan, dikelola dengan cara memanfaatkan kembali sebahai bahan pembakaran di tanur pengering sehingga tidak mencemari lapisan permukaan tanah.

3. Air limbah cucian kendaraan operasional tambang mengandung konsentrasi Cr

+6 , diatasi dengan menetralkan konsentrasi Cr+6 melalui kolan pengendapan

(6)

4. Air limpasan dari penimbunan sulfur dan batubara dikelola melaui instalasi pengolahan air limbah yang ada di Pelabuhan Balantang.

b. Limbah padat

1. Terak (slag) merupakan limbah padat hasil tanur listrik dan tanur pengurai yang bersuhu 1.500oC, ditampung dalam pot khusus dan diangkut menggunakan kendaraan haul master ke tempat penimbunan (slag dump). Selanjutnya slag ini dimanfaatkan oleh PT. Vale Indonesia Tbk sebagai material jalan tambang di lokasi penambangan.

2. Ban bekas, sebagian dimanfaatkan kembali melalui proses vulkanisir dan digunakan sebagai penghalang jalan miring di lokasi tambang, dan sisanya diserahakan kepada pihak ketiga berizin untuk dikelola.

3. Limbah domestik, dikelola dengan cara ditimbun pada lokasi yang telah ditetapkan

c. Limbah emisi cerobong pabrik, dikelola melalui instalasi fasilitas injeksi sulfur padat padat dilokasi tanur reduksi, penyelesaian studi pola penyebaran SO2, serta

pemantauan emisi SO2 secara online udara sekitar di tiga lokasi meliputi pabrik

pengolahan, komplek perkantoran Enggano, dan area pemukiman old camp. Sementara dalam program jangka panjang, proyek konversi bahan bakar diketiga pengering rotary dari HSFO menjadi batubara dijadwalkan selasai di tahun 2013 dan dapat membantu pemenuhan baku mutu emisi SO2.

PT. Vale Indonesia Tbk juga telah melengkapi cerobong asap di setiap unit pengolahan nikel dengan sistem penangkap debu, meliputi electrostatic

presipitator (ESP) di tanur pengering dan tanur reduksi serta baghouse system di

unit tanur peleburan. Partikel debu yang tertangkap unit penangkap debu selanjutnya dimanfaatkan kembali sebgai material dalam proses produksi.

d. Limbah B3 seperti material terkontaminasi oli/minyak, bahan kimia kadaluarsa, dan aki bekas dikirim ke Pusat Pengolahan Limbah Industri (PPLI) untuk diolah lebih lanjut.

3. Proses Produksi

Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT Vale Indonesia dilakukan dengan

Open Cast Mining tetapi dilakukan dalam pengawasan Grade Control dalam hal kualitas

ore. Kegiatan penambangan nikel PT. Vale Indonesia dilakukan pada Pegunungan Verbeek, Sulawesi Selatan yaitu di bukit-bukit dengan ketinggian antara 500 – 700 m dari permukaan laut.

1 Proses Pengeboran

Kegiatan ini bertujuan untuk pembuatan lubang ledak dan gambaran tentang sampel material sehingga bisa mendapatkan gambaran tentang lapisan yang akan ditambang.

 Pemboran dan uji sample (Test Pit) - Area East Block (interval 25 x 25) - Area West Block (interval 50 x 50)

(7)

2 Proses Pembersihan Lahan ( Land Clearing )

Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan dari semak-semak dan pepohonan tempat-tempat yang memungkinkan untuk dikembangkan. Alat berat yang dioperasikan untuk pekerjaan ini adalah Bulldozer.

3 Proses Pengupasan Lapisan Tanah Penutup ( Stripping ).

Setelah tahap pembersihan, maka kegiatan dilanjutkan dengan pengupasan dan

pengangkutan tanah penutup (Overburden) diangkut ke disposal area (tempat yang sengaja disediakan untuk menampung OB dan reject rock dari screening station) yang kemudian akan digunakan untuk menutupi daerah pasca tambang sebagai dasar bagi tanaman penghijauan dalam revegetasi.

Alat berat yang dioperasikan untuk kegiatan ini adalah Bulldozer dan Front Shovel/ Back Hoe sebagai alat gali muat. Sedangkan pengangkutan dipergunakan alat angkut Dump Truck.

4 Proses Pemuatan ( Loading )

Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memuat ore yang telah digali kedalam alat angkut Dump Truck. Alat berat yang dioperasikan untuk kegiatan ini adalah Bulldozer yang dikombinasikan dengan Front Shovel/Back Hoe. Dimana waktu edar alat muat Front Shovel tersebut dimulai saat Shovel menyentuh material, waktu menggali material, waktu angkat bucket dan swing berisi, waktu mengarahkan bucket dan tumpah isi bucket, waktu swing kosong sampai menyentuh material kembali. Proses terus berlanjut sampai Dump Truck penuh.

5 Proses Pengangkutan ( Hauling )

Setelah kegiatan pemuatan selesai maka dilanjutkan dengan kegiatan pengangkutan. Pengangkutan ore hasil penambangan dapat dilakukan dengan alat angkut Dump Truck dari lokasi penambangan “Face” ke lokasi penyaringan “Screening Station”.

Ore Mining biasa disebut Run of Mine (ROM) yang berasal dari Face, sebelum

diangkut ke tempat penimbunan bijih atau “Stock pile” dilakukan penyaringan terlebih dahulu dengan maksud untuk memisahkannya dari bongkahan-bongkahan yang terikat dalam pemuatan, agar diperoleh ukuran yang sesuai dengan kebutuhan pabrik pengolahan. Hasil dari kegiatan penyaringan ini dikenal sebagai “Screen Station Product (SSP)”.

6 Proses Screening Station

Produk hasil dari screening station disebut screening station product (SSP) yang berupa ore basah yang disebut wet ore stockpile (WOS). WOS akan diproses oleh bagian

processing, yang nantinya akan menghasilkan product yang disebut nikel matte (80%) dan

menghasilkan buangan (reject rock), yang nantinya akan dibawa ke disposal. - Area East block, ukuran reject rock-nya : +18” dan +6”

(8)

Screening Station

Urutan kerja pada Screening Station di blok East dan blok West

Selesai pengupasan tanah penutup selanjutnya dilakukan penggalian terhadap ore. Penggalian ore ini dilakukan oleh shovel ataupun backhoe yang kemudian dimuat kedalam dump truck (777C/D).Dump truck kemudian akan membawa ore tersebut ke screening station. Umumnya batuan yang berasal dari blok west ditaruh ke screening station #2, #5 dan #8 sedangkan batuan yang berasal dari blok timur dibawa ke screening station #9.

(9)

Namun karena ternyata terdapat juga jenis batuan type west di blok east maka terkadang ada juga batuan yang mengandung ore tersebut dibawa ke screening station #8 atau #5.

Kegiatan penambangan berakhir sampai ore berada di stock pile, untuk kegiatan selanjutnya dilakukan oleh pihak pabrik sampai akhirnya ore tersebut menjadi nickel matte. Pada tahap di screening station terdapat perbedaan antara screening station di blok barat dengan screening station di blok timur. Pada screening station di blok barat terdapat penyaring dengan ukuran batuan yang dapat lewat sebesar : 18 inchi, 4 inchi, dan 2 inchi.

Sedangkan pada screening station untuk blok timur terdapat penyaring dengan ukuran batuan yang dapat lewat sebesar : 18 inchi dan 6 inchi yang kemudian masuk ke

crusher untuk mendapatkan batuan yang berukuran 4 inchi. Pada blok barat batuan yang

diambil untuk proses selanjutnya adalah yang berukuran lebih kecil dari 2 inchi sedangkan untuk blok timur adalah yang berukuran lebih kecil dari 4 inchi

Bijih yang berasal dari screening station merupakan bijih basah yang kemudian selanjutnya ditaruh kedalam stock pile. Bijih basah ini biasanya dibiarkan selama 4 – 6 minggu. Hal ini berguna untuk mengeluarkan kadar air dalam ore tanpa mengeluarkan cost, karena apa bila dikeringkan pada dryer maka biayanya akan lebih mahal. Karena pengeringan pada stock pile ini tidak mengurangi seluruh kandungan air, maka ore tersebut dibawa ke dryer moisture untuk menghilangkan kandungan airnya. Selanjutnya bijih kering tersebut di bawa ke stock pile untuk bijih kering. Bijih kering ini dibawa ke proses berikutnya yaitu kiln. Pada kiln terjadi proses reduksi.

Perbedaan yang paling menonjol di Soroako dibandingkan dengan tambang-tambang nikel laterit di daerah lain adalah dua jenis endapan yang disebut endapan blok timur (east

block) dan blok barat (west block). Sebenarnya mine planner membuat rencana

penambangan juga dipengaruhi oleh kepentingan pada proses. Semula yang ditambang adalah blok barat karena kadar nikelnya terlalu tinggi. Tetapi karena ternyata pada proses kiln, west blok memiliki batuan yang terlalu basa akibat nilai silica berbanding dengan magnesium (S/M) yang terlalu tinggi maka kondisi didalam tanur kental akibatnya Si dan Fe yang akan direduksi susah dikeluarkan. Sebenarnya kekentalan ini dapat ditanggulangi dengan menaikkan suhu tanur tetapi akibatnya dinding tanur akan semakin tipis. Akibatnya digunakan east blok yang memiliki kadar ni yang lebih rendah, tetapi juga memiliki S/M yang rendah sebagai faktor koreksi di alam tanur.

Sebaliknya bila pada proses kiln yang digunakan hanya east blok maka kondisi di tanur terlalu encer. Akibatnya proses pemisahan sulit terjadi. Solusi yang digunakan adalah 60 west berbanding dengan 40 east.

Tahap berikutnya yaitu furnace. Pada tahap ini terjadi peleburan. Suhu yang biasa digunakan pada furnace adalah 15000 C. Selanjutnya hasil dari furnace dibawa ke converter. Guna converter ini yaitu untuk menjamin fleksibilitas maksimum dalam memilih bentuk produk akhir. Pengeringan lebih lanjut dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi kadar air pada ore sebelum di paketkan. Adapun urutan keseluruhan yang terjadi pada proses pengolahan adalah sebagai berikut :

(10)

Diagram Proses Penambangan Nikel

(11)

C. Gambar kerja kuantitas dan Penjadwalan Obyek kerja praktik 1. Gambaran Kerja tiap Departemen

a. Engineering Technology Development and Support.

Merupakan departemen baru di PT. Vale Indonesia, dimana departemen ini terbagi beberapa bagian yaitu :

1. MEM (Mobile Equipment Maintenance)

Bagian ini bertanggung jawab atas ketersediaan :

 Kendaraan dan alat-alat berat tambang, alat angkut logistik dan pabrik pengolahan.

 Kendaraan ringan untuk angkutan karyawan.

 Alat penunjang kerja lainnya seperti lampu penerang di tambang, mesin diesel penggerak berukuran kecil di daerah tambang dan bengkel-bengkel.

Support Services

Construction Services

Engineering Services b. Objek Eksploration

Fungsi utama dari departemen ini adalah melakukan penambangan bijih untuk menyediakan bijih nikel dengan kadar tertentu. Dalam operasinya, departemen ini dibagi atas beberapa bagian, yaitu :

- Mine Operation

Bertanggung jawab terhadap operasi tambang.

- Mine Geology

Melaksanakan semua program geologi yang mencakup pengontrolan kadar nikel baik sebelum, selama maupun sesudah penambangan. Melakukan penaksiran cadangan nikel dan berbagai penelitian.

- Mine Engineering

Membuat perencanaan, penambangan dan perhitungan keperluan tambang di masa depan.

- Mine Coastal Exploration

Bagian ini melakukan eksplorasi untuk penelitian cadangan bijih nikel guna keperluan penambangan di masa depan.

c. Utilities

Utilities mempunyai tugas utama yaitu menyediakan/menyuplai kebutuhan

proses di pabrik atau sebagai penunjang pokok bagi berlangsungnya operasi pabrik. Kebutuhan pabrik tersebut berupa :

- Uap - Udara - Air

- tenaga listrik

Departemen ini terbagi atas dua bagian yaitu :

- Utilities Production Support

- Hydro and Auxiliary Plant.

(12)

Kegiatan dari departemen ini adalah melakukan pengolahan bijih nikel laterit menjadi nikel sulfida berkadar 78%-80%. Process Plant terbagi atas :

- Ore Preparation

Bertanggung jawab untuk mengangkut bijih nikel yang dihasilkan oleh

mining dari stockpile ke dryer (tanur pengering) untuk dikurangi kadar

airnya. Bijih nikel yang telah berkurang kadar airnya ini (bijih kering) akan disimpan di DOS (Dried Ore Storage).

- Reduction kiln dan CTS, furnace, converter

Reduction kiln & CTS bertanggung jawab untuk mereduksi bijih nikel di

tanur putar (kiln) menjadi calcine yang tereduksi. Furnace bertanggung jawab melakukan proses peleburan terhadap calcine dan dilakukan pemisahan antara bagian yang kaya nikel berdasarkan perbedaan berat jenis. Produk dari furnace disebut EFM (electric furnace matte).

Converter bertugas untuk melakukan pemurnian sehingga kadar

nikelnya meningkat dari 25% menjadi ±78%, nikel sulfida ini kemudian digranulasi dan menjadi produk akhir.

- Process Technology

Bertanggung jawab akan pengawasan teknologi pabrik pengolahan yang meliputi pengendalian nikel sulfida yang akan dikirim ke konsumen. Pengawasan ini menggunakan proses pyrometallurgy serta mengontrol hasil limbah cair, padat dan gas serendah mungkin. Proses teknologi juga membuat perencanaan produksi untuk penjadwalan pengolahan dan panambangan.

- Process Plant Maintenance (PPM) & Process Plant Engineering (PPE)

PPM & PPE bertanggung jawab untuk pemeliharaan mesin dan peralatan pabrik sehingga tercapai kesinambungan operasi pengolahan meliputi segi mekanis, listrik, instrumen elektronis dari semua peralatan pabrik pengolahan.

e. Supply Chain Management Department (SCM)

Departemen ini bertanggung jawab terhadap pengadaan kebutuhan perusahaan baik berupa jasa maupun barang, pengadaan tersebut bisa saja berasal dari dalam maupun luar negeri. Departemen ini meliputi :

- Logistic

- Warehouse & Inventory Mgt

- Procurement

- Shipping & Traffic Specialist. f. External Relation Department

Departemen ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjalin hubungan komunikasi ke dalam, yaitu karyawan pada pusat kegiatan operasional di Sorowako dan ke luar, yaitu hubungan dengan pemerintahan pada daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Departemen ini dibagi kedalam 3 sub bagian yaitu :

- Government Relation

- Community Relation

- Corporate Communication

Government dan public affairs representative ini merupakan

perwakilan perusahaan yang berkedudukan di ibukota provinsi Sulawesi Selatan, Makassar yang bertanggung jawab terhadap hubungan dengan pemerintah dan masyarakat sekitar di tingkat provinsi.

g. Human Resource Organzation and Development Department

Departemen ini bertanggung jawab terhadap administrasi kepegawaian dan hubungan industri serta pelatihan dan pengembangan karyawan.

(13)

0.44%

66.69% 21.69%

9.18% 2.23%

Tenaga Asing Non Staff Staff Senior Staff & Manajer Manajemen

Departemen ini terbagi atas :

- Human Resources Organizing and Development

- Human Resources and Services

- Environment, Health and Safe

h. Departemen Penunjang

- Medical Services

Bagian ini memberikan pelayanan kesehatan terhadap karyawan, keluarga karyawan dan masyarakat setempat meliputi perawatan medis, pemeriksaan kesehatan tahunan karyawan dan keluarganya.

- Security

Bagian ini bertanggung jawab terhadap keamanan untuk daerah tambang, pabrik, PLTA Larona I & II, pelabuhan Balantang, fasilitas tangki bahan bakar di Tanjung Mangkasa, fasilitas kebutuhan pabrik dan keamanan fasilitas kota Sorowako

- Information Technology

Bagian ini bertanggung jawab terhadap penyediaan dan pengolahan informasi kepegawaian, keuangan, logistik, produksi dan pengendalian sistem komputer di pabrik pengolahan tambang dan sistem komputer di pembangkit tenaga listrik.

2. Tenaga Kerja

Karyawan merupakan aset yang terpenting bagi PT Vale Indonesia Tbk dalam menjalankan roda organisasi. Dalam kaitannya dengan penerimaan karyawan yang bekerja di PT Vale Indonesia Tbk, perusahaan memiliki kebijakan internal yang menganut prinsip dari dalam ke luar. Artinya dalam penerimaan karyawan sesuai dengan urutan prioritas internal karyawan PT Vale Indonesia Tbk, wilayah Sorowako dan sekitarnya, wilayah propinsi, nasional dan internasional.

(14)

Hingga akhir Desember 2013, karyawan PT. Vale Indonesia Tbk terdiri dari 2.114 karyawan non staff, 690 karyawan staff, 292 karyawan senior staff dan 71 karyawan di level manajemen. Sedangkan jumlah tenaga asing hingga akhir Desember 2013 berjumlah 14 orang (0,44%). Sedangkan jumlah karyawan kontraktor yang bekerja selama kuartal keempat tahun 2013 sebanyak 5.271 karyawan.

D. Gambaran Jenis Pekerjaan Selama Kerja Praktik Pada saat kerja praktik adapun yang dilakukan ialah : 1. Observasi pengambilan air sampel pada Complaince Point

2. Observasi pengambilan air sampel di Pengolahan limbah cair Cr+6 (Chromium Hexavalent) yang menuju danau Mahalona dan air sampel di pengolahan limbah cair Nikel Soluble.

3. Pengujian kualitas air sampel di lakukan di laboratorium lingkungan.

4. Pengambilan sampel dilakukan pada daerah Mining (tambang) dan Process Plant (pabrik)

5. Pengambilan sampel di lakukan setiap hari. E. Spesifikasi Teknis dan Acuan Kontrol Kualitas

Baku mutu air limbah bagi usaha atau kegiatan pertambangan bijih nikel menurut Per Men LH No. 09 Tahun 2006 tentang Baku mutu Air Limbah Bagi Usaha atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel

Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan pH - 6-9 6-9 TSS mg/L 200 100 Cu* mg/L 2 2 Cd* mg/L 0,05 0,05 Zn* mg/L 5 5 Pb* mg/L 0,1 0,1 Ni* mg/L 0,5 0,5 Cr(+6)* mg/L 0,1 0,1 Cr total mg/L 0,5 0,5 Fe* mg/L 5 5 Co* mg/L 0,4 0,4 Keterangan :

 * = sebagai konsentrasi ion logam terlarut

 **

= sesuai dengan SNI dan perubahannya

 Untuk memenuhi baku mutu air limbah tersebut, kadar parameter air limbah tidak diperbolehkan dicapai dengan cara pengenceran dengan air secara langsung diambil dari sumber air.

(15)

F. Konsep Teoritis/Empirik yang relevan dengan Kegiatan Kerja Praktik a. Tinjauan Chromium Hexavalen

Krom merupakan logam dengan tiga keadaan valensi yaitu Cr (II), Cr (III), Cr (VI). Chrom valensi 6, Cr (VI) lebih berbahaya dibandingkan dengan Cr (II) dan Cr (III). Cr (VI) ini baik dalam bentuk kromat maupun dikromat dapat menyebabkan kanker kulit dan saluran pencernaan (Sugiharto, 1987).

Beberapa jenis logam termasuk Chrom biasanya dipergunakan untuk kehidupan biologis, misalnya pada pertumbuhan algae. Apabila tidak ada logam ini pertumbuhannya akan terhambat. Bila jumlahnya berlebihan akan mempengaruhi kegunaannya karena timbulnya daya racun yang dimiliki.

a.1. Karakteristik Chrom

Kromium adalah 21 paling banyak unsur dalam kerak bumi dengan konsentrasi rata-rata 100 ppm. Senyawa Kromium terdapat di dalam lingkungan, karena erosi dari batuan yang mengandung kromium dan dapat didistribusikan oleh letusan gunung berapi. Rentang konsentrasi dalam tanah adalah antara 1 dan 3000 mg / kg, dalam air laut 5-800 μg / liter, dan di sungai dan danau 26 μg / liter dengan 5,2 mg / liter. Hubungan antara Cr (III) dan Cr (VI) sangat tergantung pada pH dan oksidatif sifat lokasi, tetapi dalam banyak kasus, Cr (III) adalah spesies dominan, meskipun di beberapa daerah di tanah air dapat mengandung sampai 39 μg dari total kromium dari 30 μg yang hadir sebagai Cr (VI).

a.2. Kegunaan Chrom

Khrom digunakan untuk mengeraskan baja, pembuatan baja tahan karat dan membentuk banyak alloy (logam campuran) yang berguna. Kebanyakan digunakan dalam proses pelapisan logam untuk menghasilkan permukaan logam yang keras dan indah dan juga dapat mencegah korosi. Khrom memberikan warna hijau emerald pada kaca.

Industri refraktori menggunakan khromit untuk membentuk batu bata, karena khromit memiliki titik cair yang tinggi, pemuaian yang relatif rendah dan kestabilan struktur kristal. Beberapa senyawa kromium digunakan sebagai katalis. Misalnya Phillips katalis untuk produksi polietilen adalah campuran dari kromium dan silikon dioksida atau campuran dari krom dan titanium dan aluminium oksida. Kromium (IV) oksida (CrO 2) merupakan sebuah magnet senyawa

Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat. Dengan sifat ini, kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen bangunan, komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor, maupun sebagai pelapis perhiasan seperti emas, emas yang dilapisi oleh kromium ini lebih dikenal dengan sebutan emas putih.

Perpaduan Kromium dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan karat. Kromium (IV) oksida digunakan untuk pembuatan pita magnetik digunakan dalam performa tinggi dan standar kaset audio.

Asam kromat adalah agen oksidator yang kuat dan merupakan senyawa yang bermanfaat untuk membersihkan gelas laboratorium dari setiap senyawa organik. Hal ini disiapkan dengan melarutkan kalium dikromat dalam asam sulfat pekat, yang kemudian digunakan untuk mencuci aparat. Natrium dikromat kadang-kadang digunakan karena lebih

(16)

tinggi kelarutan (5 g/100 ml vs 20 g/100 ml masing-masing). Kalium dikromat merupakan zat kimia reagen, digunakan dalam membersihkan gelas laboratorium dan sebagai agen titrating.

a.3. Dampak Chrom bagi kesehatan dan Lingkungan a.3.1. Dampak bagi kesehatan

Logam krom (Cr) adalah salah satu jenis polutan logam berat yang bersifat toksik, dalam tubuh logam krom biasanya berada dalam keadaan sebagai ion Cr3+. Krom dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati (liver) dan ginjal. Jika kontak dengan kulit menyebabkan iritasi dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi kadar pencemar pada perairan biasanya dilakukan melalui kombinasi proses biologi, fisika dan kimia. Pada proses fisika, dilakukan dengan mengalirkan air yang tercemar ke dalam bak penampung yang telah diisi campuran pasir, kerikil serta ijuk. Hal ini lebih ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran kasar dan penyisihan lumpur. Pada proses kimia, dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan kimia untuk mengendapkan zat pencemar misalnya persenyawaan karbonat.

Kromium (III) adalah esensial bagi manusia dan kekurangan dapat menyebabkan kondisi jantung, gangguan dari metabolisme dan diabetes. Tapi terlalu banyak penyerapan kromium (III) dapat menyebabkan efek kesehatan juga, misalnya ruam kulit.

Kromium (VI) adalah bahaya bagi kesehatan manusia, terutama bagi orang-orang yang bekerja di industri baja dan tekstil. Orang yang merokok tembakau juga memiliki kesempatan yang lebih tinggi terpapar kromium

Kromium (VI) diketahui menyebabkan berbagai efek kesehatan. sebuah senyawa dalam produk kulit, dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti ruam kulit. Pada saat bernapas ada krom (VI) dapat menyebabkan iritasi dan hidung mimisan. Masalah kesehatan lainnya yang disebabkan oleh kromium (VI) adalah:

- kulit ruam

- sakit perut dan bisul - Masalah pernapasan

- Sistem kekebalan yang lemah - Ginjal dan kerusakan hati - Perubahan materi genetik - Kanker paru-paru

- Kematian

Bahaya kesehatan yang berkaitan dengan kromium bergantung pada keadaan oksidasi. Bentuk logam (krom sebagaimana yang ada dalam produk ini) adalah toksisitas rendah. Bentuk yang hexavalent beracun. Efek samping dari bentuk hexavalent pada kulit mungkin termasuk dermatitis, dan reaksi alergi kulit. Gejala pernafasan termasuk batuk, sesak napas, dan hidung gatal.

a.3.2. Dampak bagi Lingkungan

Ada beberapa jenis kromium yang berbeda dalam efek pada organisme. Kromium memasuki udara, air dan tanah di krom (III) dan kromium (VI) bentuk melalui proses-proses alam dan aktivitas manusia.

Kegiatan utama manusia yang meningkatkan konsentrasi kromium (III) yang meracuni kulit dan manufaktur tekstil. Kegiatan utama manusia yang meningkatkan kromium (VI) konsentrasi kimia, kulit dan manufaktur tekstil, elektro lukisan dan kromium (VI) aplikasi dalam industri. Aplikasi ini terutama akan meningkatkan konsentrasi kromium dalam air.

(17)

Melalui kromium pembakaran batubara juga akan berakhir di udara dan melalui pembuangan limbah kromium akan berakhir di tanah.

Sebagian besar kromium di udara pada akhirnya akan menetap dan berakhir di perairan atau tanah. Kromium dalam tanah sangat melekat pada partikel tanah dan sebagai hasilnya tidak akan bergerak menuju tanah. Kromium dalam air akan menyerap pada endapan dan menjadi tak bergerak.Hanya sebagian kecil dari kromium yang berakhir di air pada akhirnya akan larut.

Kromium (III) merupakan unsur penting untuk organisme yang dapat mengganggu metabolisme gula dan menyebabkan kondisi hati, ketika dosis harian terlalu rendah. Kromium (VI) adalah terutama racun bagi organisme.Dapat mengubah bahan genetik dan menyebabkan kanker.

Tanaman mengandung sistem yang mengatur kromium-uptake harus cukup rendah tidak menimbulkan bahaya. Tetapi ketika jumlah kromium dalam tanah meningkat, hal ini masih dapat mengarah pada konsentrasi yang lebih tinggi dalam tanaman. Peningkatan keasaman tanah juga dapat mempengaruhi pengambilan kromium oleh tanaman. Tanaman biasanya hanya menyerap kromium (III). Ini mungkin merupakan jenis penting kromium, tetapi ketika konsentrasi melebihi nilai tertentu, efek negatif masih dapat terjadi.

Kromium tidak diketahui terakumulasi dalam tubuh ikan, tetapi konsentrasi tinggi kromium, karena pembuangan produk-produk logam di permukaan air, dapat merusak insang ikan yang berenang di dekat titik pembuangan.

Pada hewan, kromium dapat menyebabkan masalah pernapasan, kemampuan yang lebih rendah untuk melawan penyakit, cacat lahir, infertilitas dan pembentukan tumor.

b. Pengurangan Kadar Chromium Hexavalen yang menuju badan air

Dengan semakin pesatnya perkembangan industri dan semakin ketatnya peraturan mengenai limbah industri serta tuntutan untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan, maka teknologi pengolahan limbah yang efektif dan efisien menjadi sangat penting. Salah satu limbah yang berbahaya adalah limbah logam berat Chromium (VI) yang biasanya berasal dari industri pelapisan logam (electroplating), industri cat/pigmen dan industri penyamakan kulit (leather tanning). Limbah Cr(VI) menjadi populer karena sifat alam dalam 2 bentuk oksida, yaitu oksida Cr(III) dan Cr(VI). Uniknya, hanya Cr(VI) yang bersifat karsinogenik sedangkan Cr(III) tidak. Tingkat toksisitas Cr(III) hanya sekitar 1/100 kalinya Cr(VI). Bahkan dari penelitian lebih lanjut, ternyata Cr(III) merupakan suatu jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh manusia dengan kadar sekitar 50-200 μg/hari. Cr(VI) mudah larut dalam air dan membentuk divalent oxyanion yaitu cromate (CrO42-) dan dichromate (Cr2O72-),

sedangkan Chromium trivalent/Cr(III) mudah diendapkan atau diabsorbsi oleh senyawa-senyawa organik dan anorganik pada pH netral atau alkalin. Dengan demikian Cr(VI) harus direduksi menjadi Cr(III) untuk menurunkan tingkat toksisitasnya. Beberapa upaya pengolahan limbah Cr(VI) yang telah dilakukan seperti reduksi kimia, ion exchange, adsorpsi dengan batu bara atau karbon aktif dan reduksi dengan bantuan bakteri memiliki kelemahan yaitu diperlukannya energi yang sangat tinggi dan/atau bahan kimia yang sangat banyak.

Kandungan Chrom pada limbah industri pelapisan logam bervariasi dari 15 – 300 ppm, tergantung dari jenis dan cara prosesnya. (Djarwanti, 1985)

Cr (VI) dapat direduksi menjadi Cr (III) dengan menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang sering digunakan adalah belerang dioksida (SO2), Ferro Sulfat (FeSO4) dan

Natrium bisulfit (NaHSO3).

Reaksi reduksi dengan menggunakan SO2 adalah sebagai berikut :

2 SO2 + O2 + 2 H2O 2 H2SO4

3 SO2 + Cr2O72- + 2 H+ Cr2(SO4)3 + H2O

Reaksi reduksi menggunakan NaHSO3 adalah sebagai berikut :

(18)

Reaksi dengan FeSO4 adalah sebagai berikut :

2 H2CrO4 + 6 FeSO4 + 6 H2SO4 Cr2(SO4)3 + 3 Fe2(SO4)3 + 8 H2O

Dalam proses reduksi dengan menggunakan bahan kimia, reaksi berjalan dengan baik pada pH 1 – 2.

Endapan yang terbentuk lebih banyak apabila digunakan FeSO4 dibandingkan

dengan SO2 dan NaHSO3 sebagai bahan pereduksi.

Pada proses reduksi krom akan terjadi reaksi redoks. Jika FeSO4 dipakai rebagai reduktor maka Fe (II) akan teroksidasi menjadi Fe (III), sedangkan Cr(VI) tereduksi menjadi Cr(III). Reduksi Cr(VI) menjadi Cr(III) ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari coklat kemerahan(orange) menjadi hijau. Dalam proses reduksi yang perlu diperhatikan adalah faktor pH, karena reduksi krom sangat efektif dalam suasana asam (pH 1 - 2).

Menurut Qin G dkk (2005), penghilangan Cr(VI) dengan mereduksi menjadi Cr(III) menggunakan ion Fe(II) sering digunakan pada industri pengolahan krom untuk jarak konsentrasi dalam satuan miligram/liter. Bahkan baru-baru ini juga telah dilakukan penelitian untuk teknik pengolahan air minum pada kadar 100 g/L.

Proses pertukaran ion (ion exchange) hanya digunakan pada industri-industri pelapisan logam dengan menggunakan kromat tinggi sehingga ekonomis bila air buangan digunakan kembali. Keuntungan dari proses ini adalah air bisa didapatkan kembali dan tidak menghasilkan lumpur krom yang harus ditangani lebih lanjut (Djarwanti, 1985).

c. Analisa Chrom dengan metode ICP

Inductively Couple plasma merupakan spektroskopi nyala untuk menganalisa unsur logam dalam suatu bahan.Bahan yang akan dianalisa harus berwujud larutan yang homogen.Ada sekitar 80 unsur yang dapat dianalisa dengan menggunakan alat ini.Kelebihan alat ini adalah sangat selektif dan dapat digunakan untuk mengukur beberapa unsur sekaligus didalam sampel pada saat pengukuran.

Instrumen ICP-MS mengukur sebagian besarunsur-unsur dalam tabel periodik. Unsur-unsur ditampilkan dalam warna dapat dianalisis dengan ICP-MS dengan deteksi limitsa pada atau di bawah kisaran pptb. Elemen yang ada di putih yang baik tidak diukur dengan ICP-MS (sisi kanan atas) atau tidak memiliki isotop alami. Kebanyakan analisis dilakukan pada ICP-MS instrumentasi kuantitatif, namun juga dapat berfungsi sebagai sangat baik kuantitatif instrumen. Dengan menggunakan paket perangkat lunak semi-kuantitatif, suatu sampel dapat dianalisis untuk 80 elemen dalam tiga menit, menyediakan semi-kuantitatif data yang biasanya dalam ± 30% dari nilai kuantitatif. Untuk alasan yang sering melibatkan kesehatan manusia, mengetahui komposisi isotop sampel dapat sangat penting. Dari tiga teknik yang disebutkan ke titik ini, hanya ICP-MS digunakan secara rutin untuk menentukan komposisi isotop.

Prinsip Kerja ICP-MS

Sampel dimasukkan ke dalam plasma argon sebagai tetesan aerosol. Plasma mengering aerosol, memisahkan yang mol-ecules, dan kemudian menghapus elektron dari komponen, sehingga membentuk ion bermuatan tunggal, yang diarahkan ke sebuah perangkat yang dikenal sebagai penyaringan massa spektrometer massa. Paling komersial ICP-MS sistem menggunakan spektrometer massa quadrupole yang cepat memindai rentang massa. Pada waktu tertentu, hanya satu massa-untuk-biaya rasio akan diizinkan untuk melewati spektrometer massa dari pintu masuk ke keluar.

Setelah keluar dari spektrometer massa, ion pemogokan dynode pertama dari sebuah pengganda elektron, yang berfungsi sebagai detektor. Dampak dari ion melepaskan kaskade

(19)

elektron, yang diperkuat sampai mereka menjadi pulsa terukur. Perangkat lunak ini membandingkan intensitas dari pulsa diukur kepada mereka dari standar, yang membentuk kurva kalibrasi, untuk menentukan konsentrasi elemen.

Untuk setiap elemen yang diukur, itu biasanya diperlukan untuk mengukur hanya satu isotop, karena rasio isotop, atau kelimpahan alam, adalah tetap di alam. Ini dapat membantu untuk merujuk kembali pada Gambar 1 di mana Anda akan melihat bargraph sederhana untuk setiap elemen. The bar menggambarkan jumlah dan kelimpahan relatif dari isotop alami untuk elemen, yang kadang-kadang disebut sebagai sidik jari isotop elemen. Jika Anda perhatikan, sebelumnya dalam ayat ini, kata "biasanya" dipakai karena ada unsur yang tidak mengikuti aturan kelimpahan alam: timbal (Pb). Memimpin alami berasal dari dua sumber - beberapa yang ditempatkan di sini ketika bumi lahir dan beberapa adalah hasil dari peluruhan bahan radioaktif. Hal ini menciptakan situasi di mana rasio isotop timbal dapat bervariasi tergantung pada sumber memimpin. Untuk memastikan bahwa weaccurately mengukur konsentrasi timbal dalam sampel, maka perlu untuk jumlah beberapa isotop yang tersedia.

ICP-MS dapat digunakan untuk mengukur isotop dari setiap elemen individu; kemampuan ini membawa nilai ke laboratorium tertarik pada salah satu isotop unsur tertentu atau dalam rasio antara dua isotop unsur.

ICP-MS terdiri dari komponen sebagai berikut:

• Contoh sistem pengenalan - terdiri dari nebulizer dan ruang semprot dan menyediakan sarana sampel masuk ke instrumen

• ICP obor dan kumparan RF - menghasilkan plasma argon, yang berfungsi sebagai sumber ion ICP-MS

• Antarmuka - link tekanan atmosfer ICP sumber ion untuk spektrometer massa vakum tinggi

• Sistem Vacuum - menyediakan vakum tinggi untuk optik ion, quadrupole, dan detektor • Tabrakan sel / reaksi - mendahului spektrometer massa dan digunakan untuk

menghilangkan gangguan yang dapat menurunkan deteksi batas tercapai. Hal ini dimungkinkan untuk memiliki sel yang dapat digunakan baik dalam sel tabrakan dan mode reaksi sel, yang disebut sebagai sel yang universal

• Ion optik - panduan ion-ion yang diinginkan ke quadrupole sementara memastikan bahwa spesies netral dan foton dibuang dari berkas ion

• Massa spektrometer - bertindak sebagai filter untuk memilah ion massa oleh massa-untuk-biaya rasio (m / z)

• Detektor - jumlah ion individu yang keluar quadrupole

• Penanganan data dan pengendali sistem - mengendalikan semua aspek kontrol instrumen dan data penanganan untuk mendapatkan akhir konsentrasi.

analisis kuantitatif

ICP-MS secara akurat menentukan berapa banyak elemen tertentu dalam bahan yang dianalisis. Dalam analisis kuantitatif yang khas, konsentrasi setiap elemen ditentukan dengan membandingkan jumlah diukur untuk isotop yang dipilih kekurva kalibrasi eksternal yang dihasilkan untuk elemen itu.

Standar kalibrasi cair disusun dengan cara yang sama seperti yang digunakan dalam AA dan ICP-OES analisis. Standar-standar ini dianalisis untuk menetapkan kurva kalibrasi. yang tidak diketahui sampel kemudian jalankan, dan intensitas sinyal dibandingkan dengan kurva kalibrasi untuk menentukan konsentrasi yang tidak diketahui.

(20)

d. Jenis-jenis limbah industri

Secara lengkap kita akan mengenal berbagai jenis limbah dari bentuknya diantaranya bisa berupa limbah padat, limbah cair dan limbah gas maupun partikel. Lebih jelasnya terurai di bawah ini …

d.1. Jenis Limbah Padat

Limbah padat adalah limbah yang berbentuk padat yang mana ada yang mudah terurai seperti limbah organis semisal sampah daun dan limbah padat yang tak mudah terurai seperti plastik, kaca dan sebagainya.

d.2. Jenis Limbah Cair

Limbah cair adalah limbah yang berupa cairan dan biasanya jenis limbah cair ini sangat riskan mencemari lingkungan sehingga dikenal sebagai entitas pencemar air dan tanah. Untuk skala industri limbah cair umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik dan bahan buangan anorganik sisa dari hasil produksi sedang limbah yang biasa dihasilkan oleh rumah tangga / domestik dapat berupa air kotor dari pemakian mandi, cuci dan toilet.

d.3. Jenis Limbah Gas dan Partikel

Limbah gas dan partikel merupakan limbah yang biasa terdapat di udara. Untuk kategori limbah ini banyak dihasilkan oleh industri dan pabrik besar. Jenis limbah partikel bisa berupa asap, kabut maupun debu sedang untuk gas apabila kandungannya dalam udara telah melebihi batas maksimum dapat diartikan sebagai limbah suatu missal CO2 yang berlebihan dari hasil pembakaran pabrik dan industri

d.4. Jenis Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Yang terakhir dan harus digaris bawahi adalah jenis limbah B3 yang mana limbah ini merupakan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Bila suatu limbah memenuhi salah satu karakter yang mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif maka limbah ini masuk dalam jenis limbah B3 yang harus cepat ditangani.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :