4
A.Tinjauan Pustaka 1. Pemberdayaan Masyarakat
a) Pengertian
Menurut Christenson, James A, et al (1989), pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Sedangkan menurut Salam (2008), pemberdayaan merupakan terjemahan dari bahasa inggris yaitu empowerment, yang secara harfiah berarti pemberkuasaan. Pemberkuasaan itu sendiri dapat dipahami sebagai upaya memberikan atau meningkatkan kekuasaan (power) kepada pihak yang lemah atau kurang beruntung (disadventaged). Pemberdayaan merupakan upaya untuk membangun eksistensi seseorang dalam kehidupannya dengan memberi dorongan agar memiliki kemampuan/keberdayaan.
Menurut Ife (1996) dalam Haryanti (2012), pemberdayaan masyarakat adalah konsep untuk meningkatkan kapasitas masyarakat (to take increase their capacity) sehingga dapat menentukan masa depannya sendiri sesuai dengan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Konsep ini memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan.
b) Tujuan
Menurut Suharto (2005), pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai tujuan maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebagai sebuah proses.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, menurut Wrihatnolo, Randy dan Riant Nugroho Dwidjowijoto (2007) tujuan dari pemberdayaan masyarakat adalah untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang lemah atau tidak beruntung. Dalam Purbasari (2014), mengartikan orang-orang yang lemah dan tidak beruntung ini bukan hanya dilihat dari perekonomiannya saja tapi lemah dan tidak beruntung dapat dilihat dari berbagai ragam, seperti lemah dan tidak beruntung dalam kreativitas, lemah dan tidak beruntung dalam segi sosial, dan lemah dan tidak beruntung dalam ilmu. Dalam hal ini masyarakat harus difasilitasi agar memiliki kekuasaan atau mempunyai keilmuan yang bisa memberdayakan dirinya baik yang bersifat fisik, sosial, dan ekonomi.
Kristiadi (dalam Wrihatnolo, 2007) melihat bahwa ujung dari pemberdayaan masyarakat harus membuat masyarakat menjadi swadiri, swadana, dan swasembada.
1) Swadiri : yaitu mampu mengurusi dirinya sendiri. 2) Swadana : yaitu mampu membiayai keperluan sendiri
3) Swasembada : yaitu mampu memenuhi kebutuhannya sendiri secara berkelanjutan.
c) Proses Pemberdayaan Masyarakat
Sebagai suatu proses, pemberdayaan merupakan proses yang berkesinambungan sepanjang hidup seseorang (on going) dan sepanjang komunitas itu masih ingin melakukan perubahan dan perbaikan, dan tidak hanya terpaku pada suatu program saja. Sebagai suatu program, pemberdayaan dilihat dari tapahan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya.
Tahapan pemberdayaan merupakan salah satu langkah dimana lembaga melakukan kegiatan pemberdayaan terhadap komunitas atau masyarakat disekitarnya. Tahapan pemberdayaan masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Nana Mintarti (dalam Habibah, 2009) yaitu sebagai berikut.
1) Penyadaran
Dimana kegiatan penyadaran yang dilakukan meliputi proses pengenalan potensi diri dan lingkungan serta membantu komunitas untuk merefleksikan dan memproyeksikan keadaan dirinya, baik dalam berinteraksi dengan
kekuatan-kekuatan domistik maupun kekuatan global dalam bentuk informasi, teknologi, modal sosial, budaya dan peluang politik.
2) Pengorganisasian
Tahapan ini merupakan tahapan dimana suatu organisasi dan kelembagaan harus berawal dari prakasa masyarakat secara sukarela serta diadakannya suatu penguatan organisasi.
3) Kaderisasi
Suatu tahapan dimana suatu organisasi mempersiapkan kader-kader pengembangan keswadayaan lokal yang akan mengambil alih tugas pendampingan setelah program berakhir. Kader-kader dipillih secara partisipatif oleh masyarakat.
4) Dukungan Teknis
Dukungan teknis ini diberikan pada proses produksi yang mencakup dukungan untuk memperbaiki proses atau teknologi yang sedang digunakan. 5) Pengelolaan Sistem
Tahapan dimana organisasi membantu kliennya dalam upaya memperlancar upaya masyarakat memperoleh kebutuhan, baik secara individu maupun kelompok.
Sedangkan menurut Adi (2002) dalam Aryenti dan Sri Darwanti (2012), dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat memerlukan tahapan-tahapan yang harus dilalui, yaitu sebagai berikut.
1) Tahap persiapan, persiapan tenaga dan persiapan lapangan
2) Tahap pengkajian, baik secara individual maupun kelompok-kelompok masyarakat
3) Tahap perencanaan alternatif pembuatan program
4) Tahap pemformulasian rencana aksi, cara atau langkah mencapai tujuan 5) Tahap pelaksanaan program, implementasi kegiatan lapangan
6) Tahap evaluasi, penilaian dan pengawasan 7) Tahap terminasi, mengakhiri suatu kegiatan.
2. Pengelolaan Sampah a. Definisi
Dalam Guerrero, Lilliana Abarca, Ger Maas, William Hogland (2013), perkotaan, biasanya bertanggung jawab untuk mengelola sampah di daerahnya yang memiliki tantangan untuk menyediakan sistem yang efektif dan efisien untuk masyarakat. Namun, mereka sering menghadapi masalah di luar kemampuannya untuk mengatasi hal tersebut (Sujauddin et al., 2008) terutama karena kurangnya organisasi, sumber daya keuangan, kompleksitas dan sistem multi dimensi (Burnley, 2007).
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga pasal 1 ayat 3 yaitu pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Tujuan pengaturan pengelolaan sampah dalam pasal 2 yaitu sebagai berikut.
1) Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat 2) Menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Dalam Wahyuni (2010), secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Pengumpulan diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya. Pada tahapan ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah, bak sampah, peti kemas sampah, gerobak dorong maupun tempat pembuangan sementara (TPS/Dipo). Untuk melakukan pengumpulan, umumnya melibatkan sejumlah tenaga yang mengumpulkan sampah setiap periode waktu tertentu.
Dalam Marshall (2013), pengelolaan sampah yang efektif harus sepenuhnya dianut oleh pemerintah daerah dan masyarakat lingkup dan melampaui metode tradisional yang memerlukan konsultasi 'expert' untuk menguraikan solusi sebelum keterlibatan publik (Henry dkk, 2006;. Morrissey dan Browne, 2004). Elemen kunci untuk keberhasilan program ini partisipasi masyarakat dan pemberdayaan, transparansi keputusan, jaringan, kerjasama dan tindakan kolektif, komunikasi dan aksesibilitas informasi (Carabias et al, 1999;.. Zarate et al, 2008).
b. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Dalam Ayuba (2012), pengelolaan sampah kota adalah tantangan global terutama dalam mengembangkan negara, karena efek yang merugikan lingkungan (Zamorano et al, 2009;. Jalil, 2010;. Adekunle et al, 2011). Kota akan selalu berhubungan erat dengan perkembangan lahan, baik dalam kota itu sendiri maupun pada daerah yang berbatasan atau daerah sekitarnya. Selain itu lahan juga berhubungan erat dengan manusia dan lingkungan (Setyawati, 2008). Perkembangan dan pertumbuhan kota tidak akan berdampak negatif pada lingkungan apabila kondisi lingkungan dan kepadatan penduduk dapat seimbang.
Dalam Artiningsih (2008), pertambahan jumlah penduduk di perkotaan yang pesat berdampak terhadap peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diikuti oleh perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah mengakibatkan permasalahan sampah menjadi komplek, antara lain sampah tidak terangkut dan terjadi pembuangan sampah liar, sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit, kota kotor, bau tidak sedap, mengurangi daya tampung sungai dan lain-lain.
Dalam Eugene (2011), salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi daerah perkotaan adalah masalah sanitasi dan pengelolaan sampah. Mayoritas zat penyusun sampah meliputi kertas, sayuran, plastik, logam, tekstil, karet, peralatan, baterai dan kaca (USEPA, 2008). Sebuah sistem pengelolaan sampah yang khas di negara-negara berkembang menunjukkan sejumlah masalah yang meliputi proses pengelolaan sampah yang kurang baik dan tidak teratur, pengembangbiakan lalat dan hama. Pertumbuhan penduduk yang cepat menguasai kapasitas paling pemerintah kota untuk menyediakan bahkan layanan yang paling dasar.
Dalam booklet Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta (2012), dalam berbagai aspek pembangunan, masyarakat selalu menjadi unsur yang utama karena pembangunan ditujukan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Oleh karena itu masyarakat seharusnya tidak hanya menjadi objek tetapi harus menjadi subjek yang dilibatkan agar masyarakat bisa menentukan nasibnya sendiri.
Begitu pula dalam hal pengelolaan sampah. Dalam pengelolaan sampah, peran masyarakat menjadi penting karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut.
1) Masyarakat merupakan penghasil sampah yang cukup besar karena makin berkembangnya komplek hunian baru (permukiman) yang ada di Kota Jakarta sehingga sampah domestik rumah tangga juga makin bertambah. Berdasarkan data dari ISSDP (2010), masyarakat adalah penghasil sampah terbesar yaitu sebesar 60% dari sampah perkotaan.
2) Masyarakat seharusnya bisa mandiri dalam pengelolaan sampah untuk mendukung terciptanya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sehingga tidak selamanya menjadi beban pemerintah kota;
3) Dengan keterbatasan lahan perkotaan maka perlu dipikirkan agar konsep zero waste dapat diterapkan oleh masyarakat agar masalah lahan untuk TPA mendapatkan solusinya.
Selama ini, sebagian besar masalah persampahan bagi masyarakat Kota Surakarta masih dilayani oleh Pemerintah Kota. Di area permukiman, petugas akan mengambil sampah dari tiap-tiap rumah secara rutin dan menitipkannya di TPS yang ada di sekitar permukiman sampai Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk mengangkutnya ke TPA.
Petugas sampah bisa saja dikelola oleh pemerintah setempat (RT, RW, Kelurahan), Dinas Kebersihan atau bisa pula dilakukan oleh sektor swasta. Bila dilihat dari tingginya prosentase masyarakat yang masih dilayani dalam pengelolaan sampahnya, maka dapat disimpulkan bahwa peran masyarakat dalam pengelolaan sampah masih sangat minim.
Belum lagi tidak sedikit masyarakat yang masih membuang sampah tidak pada tempat yang seharusnya, tetapi malah membuang sampah ke sungai atau tempat-tempat yang bukan merupakan TPS atau TPA (misalnya di pinggir jalan atau ruang terbuka hijau/taman).
Selain mencemari lingkungan dan berakibat buruk pada kesehatan, sampah memberi dampak banjir khususnya pada saat musim penghujan, terutama bila sampah menyumbat saluran drainase atau menyebabkan sungai yang meluap karena dipenuhi oleh sampah.
3. Sampah
a. Pengertian Sampah
Dalam Johari (2014), sampah adalah barang yang telah menjadi tidak ada atau berkurangnya nilai pada barang tersebut dan direncanakan akan dibuang. Dan dalam Artiningsih (2008), pengertian sampah adalah suatu yang tidak dikehendaki lagi oleh yang punya dan bersifat padat. Sementara didalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan.
Berdasarkan difinisi diatas, maka dapat dipahami sampah adalah :
1) Sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki pengelolaan yang cepat. Gas-gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas metan dan H2S yang bersifat racun bagi tubuh.
2) Sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik, logam, gelas karet dan lain-lain.
3) Sampah berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau sampah. 4) Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah sampah
karena sifatnya, jumlahnya, konsentrasinya atau karena sifat kimia, fisika dan mikrobiologinya dapat meningkatkan mortalitas dan mobilitas secara bermakna atau menyebabkan penyakit reversible atau berpotensi irreversible atau sakit berat yang pulih.
5) Menimbulkan bahaya sekarang maupun yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah dengan baik.
b. Sumber Sampah
Menurut Gelbert M, Prihanto D dan Suprihatin A. (1996), sumber-sumber timbulan sampah adalah yaitu sebagai berikut.
1) Sampah dari pemukiman penduduk
Pada suatu pemukiman biasanya sampah dihasilkan oleh suatu keluarga yang tinggal disuatu bangunan atau asrama. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung organik, seperti sisa makanan atau sampah yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya.
2) Sampah dari tempat – tempat umum dan perdagangan
Tempat-tempat umum adalah tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan melakukan kegiatan. Tempat–tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar. Jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa–sisa makanan, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng- kaleng serta sampah lainnya.
3) Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah
Yang dimaksud di sini misalnya tempat hiburan umum, pantai, masjid, Rumah Sakit, bioskop, perkantoran, dan sarana pemerintah lainnya yang menghasilkan sampah kering dan sampah basah.
4) Sampah dari industri
Dalam pengertian ini termasuk pabrik – pabrik sumber alam perusahaan kayu dan lain – lain, kegiatan industri, baik yang termasuk distribusi ataupun proses suatu bahan mentah. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering abu, sisa – sisa makanan, sisa bahan bangunan 5) Sampah Pertanian
Sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang daerah pertanian, misalnya sampah dari kebun, kandang, ladang atau sawah yang dihasilkan berupa bahan makanan pupuk maupun bahan pembasmi serangga tanaman. c. Jenis-Jenis Sampah
Menurut Daniel (2009) terdapat tiga jenis sampah, di antaranya :
1) Sampah organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah/biologis, seperti sisa makanan dan guguran daun. Sampah jenis ini juga biasa disebut sampah basah.
2) Sampah anorganik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis. Proses penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut di tempat khusus, misalnya plastik, kaleng dan styrofoam. Sampah jenis ini juga biasa disebut sampah kering.
3) Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah limbah dari bahan-bahan berbahaya dan beracun seperti limbah Rumah Sakit, limbah pabrik dan lain-lain.
Sementara Alex (2012) lebih menjelaskan jenis-jenis sampah lebih rinci sebagai berikut.
1) Berdasarkan Sumbernya
a) Sampah alam adalah sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah.
b) Sampah manusia adalah hasil-hasil dari pencernaan manusia, seperti feses dan urin.
c) Sampah rumah tangga adalah sampah dari kegiatan di dalam rumah tangga, sampah yang dihasilkan oleh kebanyakan rumah tangga adalah kertas dan plastik.
d) Sampah konsumsi adalah sampah yang dihasilkan oleh manusia dari proses penggunaan barang seperti kulit makanan dan sisa makanan.
e) Sampah perkantoran adalah sampah yang berasal dari lingkungan perkantoran dan pusat perbelanjaan seperti sampah organik, kertas, tekstil, plastik dan logam.
f) Sampah industri adalah sampah yang berasal dari daerah industri yang terdiri dari sampah umum dan limbah berbahaya cair atau padat.
g) Sampah nuklir adalah sampah yang dihasilkan dari fusi dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia.
2) Berdasarkan Jenisnya
a) Sampah organik adalah buangan sisa makanan misalnya daging, buah, sayuran dan sebagainya.
b) Sampah anorganik adalah sisa material sintetis seperti plastik, logam, kaca, keramik dan sebagainya.
3) Berdasarkan Bentuknya
a) Sampah padat yaitu segala bahan buangan selain kotoran manusia, urin dan sampah cair.
b) Sampah cair yaitu bahan cairan yang telah digunakan lalu tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
4) Pengelolaan Sampah di Negara Berkembang
Menurut Asi dan Günter Busch (2011), sebuah sistem pengelolaan limbah yang khas di negara berkembang dapat digambarkan oleh unsur-unsur berikut.
a) Rumah Tangga limbah
b) Reuse dan pengomposan di tingkat Rumah Tangga
c) Pengumpulan sampah primer dan transportasi ke Tempat Pembuangan Sementara
d) Pengumpulan sampah sekunder dan pengankutan sampah ke lokasi Tempat Pembuangan Akhir
e) Pembuangan sampah secara open dumping d. Bank Sampah
1. Pengertian
Menurut Wintoko (2012), Bank sampah adalah sebuah yayasan yang awalnya dibina di daerah Yogyakarta, dan kini sudah diadopsi di kota-kota seluruh Indonesia. Bank sampah adalah strategi untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat “berkawan‟ dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi, bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diintegrasikan dengan gerakan 4R sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau, dan sehat.
Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah yang dikumpulkan.
2. Tujuan
Menurut Wintoko (2012), tujuan didirikannya bank sampah tentu saja menerima penyimpanan sampah masyarakat sekitar, dan menjadikan sampah tersebut uang. Jumlah sampah yang masuk dengan uang yang diterima tentu akan berbeda jauh. Kalau sampah yang masuk banyak, jangan harap uang yang masuk sebanyak sampah yang disetorkan.
Bank sampah bertujuan menjaga lingkungan, sisanya agar masyarakat mampu memberdayakan barang bekas menjadi sesuatu yang bisa dijadikan uang. Kinerjanya lebih pada sampah di sekitar masyarakat dipilah-pilah, lantas ditimbang.
Tujuan didirikannya bank sampah adalah untuk mengubah barang bekas menjadi barang yang berguna dan menghasilkan uang. Namun tidak hanya sekedar itu saja, adanya bank sampah juga untuk menjaga lingkungan agar lebih bersih, rapi, dan indah. Bank sampah tidak hanya mengubah sampah menjadi uang saja, namun lebih jauh dari itu bank sampah memberdayakan mayarakat agar lebih mandiri dan dapat mengembangkan ide dan kreativitas dalam mengolah dan mendaur ulang sampah.
3. Peran Bank Sampah
Menurut Wintoko (2012), bank sampah ini fungsinya bukan melulu menumpuk sampah, namun bank ini menyalurkan sampah yang didapat sesuai dengan kebutuhan. Peran bank sampah dalam kehidupan masyarakat memiliki misi misi tertentu, yaitu mengelola sampah hingga memiliki nilai ekonomi tinggi, mendirikan bank sampah melalui kemitraan yang sinergi dan menguntungkan, melahirkan pengusaha Indonesia baru bidang lingkungan, menghidupkan kembali PKK dilingkungan sekitar, dan menyediakan wadah kreativitas untuk masyarakat sekitar.
Bank sampah sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat, bank sampah juga memberikan pelatihan dan pengajaran kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa melakukan kegiatan daur ulang dan bahkan bisa mendirikan bank sampah di lingkungan tempat tinggalnya, sehingga keberadaan bank sampah semakin banyak dan bisa megelola lingkungan dengan baik secara mandiri.
4. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Dalam booklet Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta (2012), kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah suatu usaha awal untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, membuka wawasan, mengubah cara berpikir masyarakat dan mengembangkan potensi yang ada dalam masyarakat untuk mengelola sampah yang dihasilkannya agar berdaya guna,
sehingga sampah tidak menjadi persoalan bagi pemerintah dan masyarakat perkotaan.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat harus dikembalikan kepada masyarakat yang bersangkutan untuk menyadari keberadaan lingkungannya, melihat permasalahan sampah yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya, dan akhirnya memutuskan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki permasalahan sampah yang ada.
Pemerintah dan lembaga masyarakat yang ada dapat saja menjadi promotor atau pendamping agar masyarakat dapat dibantu dalam usaha mempersiapkan pemberdayaan ini. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa inisiatif kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah ini datang dari keinginan masyarakat sendiri yang menginginkan suatu perubahan yang positif dalam pengelolaan sampah di lingkungannya.
Ada berbagai bentuk kegiatan pengelolaan sampah yang dapat dilakukan, seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos, sampah organik menjadi energi listrik, pengolahan sampah anorganik menjadi produk daur ulang dan lain sebagainya. Dengan semakin majunya teknologi, tidak menutup kemungkinan sampah diolah menjadi produk-produk bermanfaat lainnya. Apapun bentuk kegiatan yang dipilih atau akan dilakukan,masyarakat harus menyesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas yang ada di masyarakat.
5. Asas Lingkungan
Pengelolaan sampah termasuk ke dalam 2 asas lingkungan yaitu :
a. Asas kedua yang diambil dari hukum termodinamika yang mana energi tidak pernah hilang, hanya berubah satu bentuk ke bentuk yang lain.
b. Asas keempat yaitu asas penjenuhan yang menyatakan bahwa kemampuan lingkungan dalam menyongkong suatu materi ada batasnya atau kemampuan lingkungan untuk menyongkong pencemar ada batasnya (Setyono, 2015).
Jika kedua asas tersebut diaplikasikan ke dalam pengelolaan sampah bahwasannya sampah yang dibuang bukanlah suatu hal yang tidak mengandung komponen penting. Misalnya sampah organik jika dikelola dapat menjadi pupuk kompos. Lingkungan tidak selamanya dapat menyongkong kehidupan manusia. Terdapat batasan dimana bahan pencemar berada dalam lingkungan. Oleh sebab itu,
sampah adalah bagian dari lingkungan. Apabila tidak ditangani dengan cara yang tepat maka akan menimbulkan bencana lingkungan.
6. Peraturan Pemerintah Kota Surakarta tentang Pengelolaan Sampah
Pengaturan tentang pengelolaan sampah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2008. Undang-Undang-undang ini mengatur bahwa tujuan dari pengelolaan sampah adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan dan menjadikan sampah sebagai sumber daya. Selain itu, hal penting yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 ini adalah adanya larangan bagi masyarakat untuk melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di Tempat Pemrosesan Akhir.
Sejalan dengan tujuan pelaksanaan Proyek ini, Pemerintah Kota Surakarta melakukan upaya untuk menutup Tempat Pemrosesan Akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka dengan melakukan pengelolaan sampah yang menggunakan teknologi tertentu agar dapat menjadi sumber daya energi.
Peraturan Pemerintah Kota Surakarta dalam hal Pengelolaan Sampah mengacu pada Peraturan Daerah Kota Surakarta No. 3 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Sampah. Kewajiban dalam pengelolaan sampah telah disebutkan dalam pasal 17 bahwa setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan/atau sampah sejenis sampah rumah tangga wajib melakukan pengurangan dan/atau penanganan sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.
7. Implementasi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat dilihat sebagai pendekatan baru untuk pengelolaan sampah. Dalam model pengelolaan sampah berbasis masyarakat dipandang sebagai pengelola yang aktif yang mampu secara efektif mengelola sampah yang diberikan kapasitas dan pengetahuan untuk melakukannya.
a) Studi Kasus di Perumahan Pondok Pekayon Indah Jakarta
Perumahan Pondok Pekayon Indah Jakarta, menjadi salah satu pantauan penilaian program Adipura tingkat nasional karena dinilai telah secaraproaktif melakukan kegiatan peningkatan lingkungan, khususnya proses pembuatan kompos kawasan dan penghijauan. Kapasitas produksi kompos minimum sebesar 2.000 kg/bulan dengan menggunakan bahan baku 6.000kg sampah organik. Bahan baku yang digunakan berasal dari timbulan sampah 600 KK di 4 (empat) RW
dengan laju timbulan sampah 1/3 kg/hari/KK. Biaya operasional perbulan unit pengelolaan kompos ini mencapai Rp 1.500.000. Kompos yang diproduksi dijual kemasyarakat sekitar dengan harga Rp 2.500 per 2 ( dua ) kilogram dan untuk produk daur ulang dengan kisaran harga RP 10.000 –Rp 100.000. Warga didorong untuk berpartisipasi secara aktif dengan memberikan intensif 10% dari hasil penjualan kompos (Departemen Pekerjaan Umum, 2007).
b) Pengelolaan Sampah Mandiri di Surabaya
Pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang sakti Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala Rumah Tangga. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik. Bakteri yang terdapat dalam stater kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Koji Takakura dari Jepang. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistem pengolahan sampah organik (Departemen Pekerjaan Umum, 2007).
B.Penelitian yang Relevan
Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti lain sebelumnya yang mana penelitiannya tersebut terdapat kesamaan variabel penelitian dengan penelitian yang dilakukan peneliti saat ini, yang disajikan pada tabel 1 sebagai berikut.
Tabel 1. Daftar Penelitian yang Relevan
No. Nama Peneliti Judul Lokasi Metode Hasil
1. Agil Zegha Prasetya (2010) Kajian Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Terpadu di Kampung Menoreh Kota Semarang
Kampung Menoreh Semarang Deskriptif Kualitatif Kondisi dan upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat 2. Fatmawati Mohamad, Dharma Cakrawartana Sutra dan Endang Kusnawati(2012)
Pemberdayaan
Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Dukuh Mrican Sleman Yogyakarta Dukuh Mrican, Sleman, Yogyakarta Kuantitatif-kualitatif Intervensi kepada masyarakat untuk mengetahui teknik dan mempertahankan pengelolaan sampah yang baik 3. Nurul Purbasari
(2014)
Pemberdayaan
Masyarakat Melalui Kegiatan Daur Ulang Sampah Plastik (Studi Kasus Pada Komunitas Bank Sampah Poklili Perumahan Griya Lembah
Depok Kecamatan
Sukmajaya Kota Depok)
Perumahan Griya Lembah, Kota Depok Deskriptif Kualitatif Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui kegiatan daur ulang sampah plastik 4. Endah Tri Wahyuni (2014) Optimalisasi Pengelolaan Sampah Melalui Partisipasi Masyarakat dan Kajian Extended Producer Responsibility (EPR) Di Kabupaten Magetan Magetan Deskriptif Kualitatif Mengurangi sampah kemasan yang masuk ke TPA melalui EPR
C.Kerangka Berpikir
Berdasarkan dari landasan teori di atas, maka dirumuskan suatu kerangka berpikir yang tersaji pada gambar 1 sebagai barikut.
Gambar 1. Kerangka Berpikir
D.Hipotesis
Dengan memperhatikan permasalahan dan kerangka berpikir di atas, maka perumusan hipotesis sebagai berikut :
1. Sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kota Surakarta adalah melakukan pemilahan sampah ketika membuang ke tempat sampah.
2. Model pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan mendirikan bank sampah di setiap kelurahan
Mayoritas masyarakat belum mengetahui cara mengelola sampah dengan benar Jumlah sampah di Kota Surakarta 265 ton setiap harinya dan mayoritas sampah
berasal dari Rumah Tangga dan pasar
Sehingga terjadi penumpukan sampah di beberapa tempat
Dibutuhkan suatu pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dan strategi