Agama Sebagai Sarana Mengenal Tuhan[1][1]

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Agama Sebagai Sarana Mengenal Tuhan

POKOK GAGASAN

Kerinduan manusia akan Tuhan sudah terukir dalam hati manusia sejak awal eksistensinya. Akal budi dan nurani manusia sebagai sarana yang ditujukan untuk mencari dan mengenal Allah (seperti yang tercantum dalam Kanon 2, Konsili Vatikan 1) selalu menuntun manusia pada kesadaran akan keberadaan Tuhan. Satu Pribadi yang berkuasa, Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu. Walaupun pada kenyataannya, masih ada manusia yang memilih untuk tidak terlalu menghiraukan, bahkan tidak mempercayai keberadaan Tuhan, dan mengedepankan logika/rasionalitas, serta mengandalkan dirinya sendiri dalam menjalani hidupnya.

Kerinduan yang melahirkan kesadaran akan eksistensi-Nya dan mendorong manusia untuk mengenal-Nya sebenarnya dikarenakan sifat religiusitas manusia. Manusia adalah makhluk religius (Katekismus, 28). Manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Dalam kristenitas, manusia dikatakan telah mengenal-Nya, dan terlebih dikenal-Nya sebelum dilahirkan (Mzm. 139:13-16, Yer. 1:5, Yoh.10:14). Manusia dalam nature-nya memiliki sikap keterbukaan kepada kebenaran, keindahan dan pengertian akan kebaikan moral dari hati nuraninya, yang kesemuanya itu mendorongnya untuk mencari dan mengenal-Nya. Dan dalam semuanya itu, ia menemukan tanda-tanda adanya jiwa rohani, jiwa “benih kebakaan yang ada dalam diri kita yang tidak dapat diturunkan nilainya menjadi sekedar barang mati” (Katekismus, 33).

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pencarian manusia akan Allah juga didasari oleh bukti nyata yang telah ditunjukkan oleh Allah sendiri, bahwa Ia memang benar-benar nyata dalam hidup ini, lewat anugerah umum yang telah diberikan-Nya kepada setiap ciptaan-Nya (misalnya: bernafas, menikmati hujan, matahari, dsb). Seperti yang tercantum dalam Roma 1:19-20 yang berbunyi “19

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.20Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Pencarian manusia akan Allah tetap akan terus berlanjut, sampai pada akhirnya manusia menemukan dan mengenal Allah dalam konsep yang sesuai kehendak-Nya, dan bukan berdasarkan subyektivitasnya yang relatif terhadap Pribadi yang samar. St. Agustinus berkata:

(2)

“Engkau menciptakan aku bagi diri-Mu ya Allahku. Hatiku tidak tenang sampai beristirahat di dalam Engkau” Dan pemazmur mengatakan: “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” (Mzm. 42:2-3).

Pencarian akan pribadi Allah inilah yang melahirkan adanya sistem ibadah yang tercipta melalui meditasi atau perenungan yang mendalam yang menghasilkan pewahyuan akan cara atau metode untuk mengenal Allah. Inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya kepercayaan-kepercayaan suku maupun terbentuknya agama, sebagai sarana untuk mengenal Allah.

Definisi agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau juga disebut dengan nama dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepecayaan tersebut. Agama secara khusus digunakan sebagai media dalam proses untuk mengalami pengalaman-pengalaman pribadi yang menjadi poin inti pengenalan akan Tuhan.

Agama sebagai sebuah sarana manusia untuk mengenal Tuhan secara umum memiliki unsur – unsur sebagai berikut.

1. Jemaat : umat yang merasa diikat oleh iman yang sama. Mereka merasa dipersatukan oleh Allah.

2. Tradisi: semua agama mempunyai sejarah, tokoh – tokoh yang diagungkan. Agama mempunyai ajaran tentang keselamatan, moralitas, ibadat termasuk buku – buku suci. 3. Ibadat : merupakan faktor pembeda yang sangat jelas di antara agama – agama. Ada

yang memandang ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan manusia. Ada juga yang memandang ibadat sebagai ungkapan ketakwaan dan saling mengukuhkan dalam iman. Tata cara ibadat dalam masing – masing agama juga berbeda.

4. Tempat ibadat: lokasi yang dikhususkan untuk pertemuan umat beriman dengan Allah.

5. Petugas ibadat: orang yang oleh jemaat tertentu dipandang mempunyai kemampuan, daya kesucian dan diberi kehormatan dan tempat istimewa.

Setiap agama memiliki cara tersendiri untuk memperkenalkan atau menggambarkan Tuhan mereka.

1. Agama Kristen dan Katolik

Dalam seluruh pengajaran kristiani dalam hukum Taurat dan kitab para nabi yang tertuang dalam alkitab, Allah sungguh-sungguh digambarkan sebagai Pribadi yang penuh cinta, bahkan disebutkan bahwa Dialah Cinta itu sendiri (1 Yoh. 4:16) dan menjadikan

(3)

cinta sebagai dasar, inti dan tujuan hidup manusia, dan merupakan hukum dasar dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:37-40). Cinta Allah kepada manusia adalah cinta yang dijanjikan tanpa syarat. Cinta yang murni, kekal dan tidak pernah berubah, tidak tergantung dari sikap bebas manusia. Alkitab memberikan gambaran kasih Allah yang salah satunya terlihat dalam cerita “Anak yang hilang” (Luk. 15:11-32). Allah digambarkan sebagai Bapa yang mencintai sang anak yang walau dengan kehendaknya sendiri menjauh dari-Nya. Dia selalu menunggu dan mengharapkan anak itu (yang adalah gambaran dari kita, para pendosa) untuk berbalik kepada-Nya. Karena Dia menghendaki bahwa semua manusia menjadi selamat (1 Tim. 2:4). Di sini Yesus menggambarkan bahwa cinta Allah kepada manusia adalah tetap, terlepas dari keputusan manusia untuk menolak atau menerima-Nya.

2. Agama Hindu

Dalam agama Hindu pada umumnya, konsep yang dipakai adalah monoteisme. Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang berarti "tak ada duanya". Jadi, Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman.

Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun juga tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta. Segala sesuatu yang ada di alam semesta tunduk kepada Brahman tanpa kecuali. Dalam konsep tersebut, posisi para dewa disetarakan dengan malaikat dan tidak dipuja sebagai Tuhan, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara Tuhan kepada umatnya. Contoh dewa-dewi misalnya: Wisnu, Brahma, Siwa, Laksmi, Parwati, Saraswati, dan lain-lain.

3. Agama Islam

Islam (Arab: al-islām, الإسلام : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang

mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan". Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme.

4. Agama Buddha

Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep Ketuhanan Yang Maha Esa menurut agama Buddha adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang (dalam bahasa Pali) yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak

(4)

Diciptakan dan Yang Mutlak".Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati di mana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran dan realitas sebenar-benarnya.

REALITA DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA

1. Atheisme. Atheisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi. Pada kebudayaan Barat, atheis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai atheis, manakala 11,9% mengaku sebagai non-theis. Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai atheis, agnostik, ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia).

2. Munculnya berbagai aliran sesat dalam kehidupan beragama.

• Dalam Agama Kristen, terdapat beberapa aliran sesat, di antaranya Saksi Saksi Yehuwa (mereka menggunakan Alkitab Terjemahan Dunia Baru di mana ada beberapa bagian ditambahkan atau bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci diterjemahkan untuk disesuaikan dengan doktrin mereka, mereka juga tidak mengakui akan adanya Tritunggal Maha Kudus); suku Mormon (mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Lucifer yang dilahirkan karena hubungan antara Allah (Adam yang sudah dipermuliakan) dengan Maria dan mengajarkan praktek poligami); gereja setan (ajarannya sangat bertentangan dengan ajaran kristiani, menganut aliran satanisme, okultisme, dan memuja Lucifer), dll.

3. Seks pranikah (berzinah). Melakukan hubungan seks sebelum menikah, tentu saja

dilarang oleh tiap-tiap agama. Namun, hal ini tetap saja menjadi fenomena yang sulit dihindarkan dalam kehidupan masyarakat luas. Masih banyak yang menjual diri demi hidup enak dan nyaman, masih banyak pula pemuda-pemudi yang hanyut dalam

(5)

nafsu sesaat dalam masa pacaran. Hal ini bukannya mereka tidak tahu bahwa dalam agama, perbuatan seperti ini dilarang keras. Namun, masih ada saja praktek-praktek yang terjadi dalam masyarakat.

4. Lupa kepada Tuhan. Sering kali kita para manusia melupakan Tuhan setelah permohonan kita dikabulkan.sering sekali kita merasa bisa menghadapi persoalan hidup tanpa bantuan Tuhan, padahal kita para manusia tidak memiliki kekuatan jika harus menghadai persoalan hidup, namun banyak orang yang menganggap dirinya lebih hebat dari Tuhan.

5. Berjudi. Dalam agama manapun perjudian sangat ditentang keras. Hal ini

dikarenakan perjudian dianggap merupakan perilaku yang mengutamakan keinginan duniawi seperti serakah akan uang dan melupakan Tuhan. Sayangnya hal ini masih sering terjadi di masyarakat sekitar kita.

REFLEKSI KELOMPOK :

Ternyata masih banyak orang di dunia ini yang tidak percaya akan kehadiran Tuhan dan menganut atheisme. Karena akal pikirannya terlalu rasional dan berdasarkan logika semata, sehingga mereka tidak mempercayai keberadaan Tuhan yang telah menciptakan dunia ini. Mungkin menurut para atheis, dunia ini memang sudah terbentuk karena adanya sistem tata surya itu sendiri. Namun, jika mereka tahu bahwa kursi saja dibuat oleh manusia. Mengapa mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan yang telah menciptakan dunia ini? Hal ini yang seharusnya menjadi perenungan bagi semua orang, bahwa tanpa Tuhan, manusia bukan apa-apa.

Tidak berhenti pada atheisme saja, sebagai manusia yang telah mengenal adanya agama dan Tuhan, tetap saja muncul berbagai aliran sesat dari berbagai agama. Hal ini tentu saja karena manusia tetap berpegang kepada rasionalitas akal pikirannya saja, mengukur segala sesuatu dari hal yang sanggup dicapai oleh pikirannya sebagai manusia. Padahal jelas-jelas kita tahu bahwa kekuasaan Tuhan adalah tidak terbatas dan kuasa kita sebagai manusia sangatlah terbatas. Dari ukuran ini saja, jika kita mampu berserah sepenuhnya kepada Tuhan, dan beragama dengan menggunakan hati, memaksimalkan iman kita sepenuhnya untuk menanggapi wahyu Tuhan, tanpa tingginya akal rasional yang kita gunakan, permasalahan tentang berbagai aliran sesat dalam tiap agama tidak perlu terjadi. Bahkan, ada yang sampai memutar balikkan fakta tentang pokok-pokok ajaran yang tercantum dalam agama. Hal ini tentu saja menjadi perdebatan yang sulit untuk dihindari.

(6)

Walau banyak orang yang beragama dan menjadikannya sebagai sarana untuk mengenal Tuhan lebih dekat, dalam kenyataannya masih banyak orang yang tidak benar-benar mengenal Tuhan. Mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi mereka sehingga banyak melakukan perbuatan dosa, seperti malas pergi ke tempat ibadah, berzinah, berjudi, dsb. Hal itu tidak terjadi sesekali melainkan sering terjadi. Banyak orang yang melanggar perintah atau ajaran agamanya dengan berbagai alasan sehingga agama sebagai sarana mengenal Tuhan terkadang hanya dipakai sebagai status belaka.

Kita sebagai manusia sebaiknya membuka diri terhadap panggilan Allah dengan segenap hati tanpa mengutamakan akal pikiran kita sebagai manusia, karena kehidupan beragama adalah masalah hati. Akal pikiran boleh dipakai asal itu sesuai dengan ajaran agama kita (misalnya untuk membedakan yang baik dan buruk). Kita juga harus mematuhi semua perintah atau ajaran agama dengan benar dan dengan sepenuh hati bukan dalam keadaan terpaksa atau karena suruhan orang lain. Dengan menaati ajaran-ajaran agama kita dapat mengenal Tuhan kita dengan lebih mendalam, tentang apa yang sebenarnya Ia mau untuk kita lakukan dan tidak.

Intinya, setiap agama membawa pengenalan akan Tuhan lewat metode yang berbeda-beda. Namun, pokok tujuannya adalah satu, yaitu bagaimana lewat agama, kita tahu Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang bagaimana dan sebagai umat beragama, tindakan kita sehari-hari harus seperti apa. Agama berfungsi sebagai penghubung atau jembatan antara manusia dengan Allah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :