USAHA BENGKEL MOBIL
POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
USAHA BENGKEL MOBIL
USAHA BENGKEL MOBIL
KATA PENGANTAR
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis. Namun demikian, UMKM masih memiliki kendala, baik untuk mendapatkan pembiayaan maupun untuk mengembangkan usahanya. Dari sisi pembiayaan, masih banyak pelaku UMKM yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses kredit dari bank, baik karena kendala teknis, misalnya tidak mempunyai/tidak cukup agunan, maupun kendala non teknis, misalnya keterbatasan akses informasi ke perbankan. Dari sisi pengembangan usaha, pelaku UMKM masih memiliki keterbatasan informasi mengenai pola pembiayaan untuk komoditas tertentu. Di sisi lain, ternyata perbankan juga membutuhkan informasi tentang komoditas yang potensial untuk dibiayai.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka menyediakan rujukan bagi perbankan untuk meningkatkan pembiayaan terhadap UMKM serta menyediakan informasi dan pengetahuan bagi UMKM yang bermaksud mengembangkan usahanya, maka menjadi kebutuhan untuk penyediaan informasi pola pembiayaan untuk komoditi potensial tersebut dalam bentuk model/pola pembiayaan komoditas (lending model). Sampai saat ini, Bank Indonesia telah menghasilkan 88 judul buku pola pembiayaan komoditi pertanian, industri dan perdagangan dengan sistem pembiayaan konvensional dan 21 judul dengan sistem syariah. Dalam upaya menyebarluaskan lending model tersebut kepada masyarakat maka buku pola pembiayaan ini telah dimasukkan dalam website Sistem Informasi Terpadu Pengembangan UKM (SI-PUK) yang terintegrasi dalam Data dan Informasi Bisnis Indonesia (DIBI) dan dapat diakses melalui internet di alamat www.bi.go.id.
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah bersedia membantu dan bekerjasama serta memberikan masukan selama penyusunan
buku lending model. Bagi pembaca yang ingin memberikan kritik, saran dan masukan bagi kesempurnaan buku ini atau ingin mengajukan pertanyaan terkait dengan buku ini dapat menghubungi:
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Biro Pengembangan UMKM
Tim Penelitian dan Pengembangan Perkreditan dan UMKM Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta Pusat
Telp. (021) 381.8922 atau 381.7794 Fax. (021) 351.8951
Besar harapan kami bahwa buku ini dapat melengkapi informasi tentang pola pembiayaan komoditi potensial bagi perbankan dan sekaligus memperluas replikasi pembiayaan terhadap UMKM pada komoditi tersebut.
RINGKASAN POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL
BENGKEL MOBIL
SKENARIO 1
No Unsur Pembiayaan Uraian
1 Jenis usaha Usaha Bengkel Mobil (UBM)
2 Lokasi usaha Jakarta Utara
3 Dana yang digunakan Investasi : Rp.1.259.000.000
Modal Kerja : Rp. 440.200.000
Total : Rp.1.699.200.000
4 Sumber dana
a. Modal Sendiri Rp. 1.549.200.000
b. Kredit Modal Kerja: Rp. 150.000.000
Suku Bunga : 26,5%
Jangka Waktu : 5 tahun
5 Periode pembayaran kredit
Angsuran bunga dibayarkan setiap bulan, angsuran pokok pada akhir tahun ke 5, tetapi dievaluasi setiap tahun
6 Kelayakan usaha
A Periode proyek 5 tahun
B Produk Pelayanan jasa bengkel
C Skala proyek Pendapatan kotor per tahun : Rp 1.010.700.000
D Teknologi Bengkel dengan peralatan standard yang mutakhir
E Pemasaran Produk Konsumen langsung, perusahaan swasta dan perkantoran pemerintah
7 Kriteria kelayakan usaha
NPV Rp. 718.629.458
IRR 34,02%
Net B/C Ratio 1,57
Pay Back Period 3,19 tahun (39 bulan)
BEP Penjualan rata-rata Rp. 683.598.100
No Unsur Pembiayaan Uraian
8 Analisis sensitivitas (1) Biaya variabel
a Biaya variabel naik 5% - Tidak peka
NPV Rp. 715.652.977 (-0,4%)
IRR 33,94% (-0,2%)
Net B/C Ratio 1,57(tetap)
Pay Back Period 39 bulan (tetap)
Penilaian Layak
b Biaya variabel naik 10% - Tidak peka
NPV Rp. 712.676.495 (-0,8%)
IRR 33,86% (-0,5%)
Net B/C Ratio 1,57(tetap)
Pay Back Period 39 bulan (tetap)
Penilaian Layak
(2) Pendapatan
a Pendapatan turun 5% - Peka
NPV Rp. 545.38.711 (-23,7%)
IRR 29,34% (-13,7%)
Net B/C Ratio 1,43 (-8,9%)
Pay Back Period 44 (lebih lama 5 bulan)
Penilaian Masih Layak
b Pendapatan turun 20% - Ambang kritis
NPV Rp. 24.666.470
IRR 14,72
Net B/C Ratio 1,02
Pay Back Period 60
No Unsur Pembiayaan Uraian (3) Biaya variabel dan pendapatan
Biaya variabel naik 5% dan pendapatan turun 5% - Peka
NPV Rp. 542.162.223 (-24,6%)
IRR 29,26% (-14,0%)
Net B/C Ratio 1,43 (-8,9%)
Pay Back Period 44 (lebih lama 5 bulan)
Penilaian Masih Layak
Biaya variabel naik 10% dan pendapatan turun 5% - Peka
NPV Rp. 539.185.748 (-25,0%)
IRR 29,18% (-14,2%)
Net B/C Ratio 1,43 (-8,9%)
Pay Back Period 44 (lebih lama 5 bulan)
SKENARIO 2
No Unsur Pembiayaan Uraian
1 Jenis Usaha Usaha Bengkel Mobil (UBM)
2 Lokasi Usaha DKI Jakarta Utara
3 Dana yang digunakan Investasi awal : Rp.1.259.000.000
Investasi perluasan usaha (thn 3) Rp.1.250.000.000 Modal Kerja : Rp. 440.200.000 Total : Rp.2.949.200.000 4 Sumber dana a. Modal Sendiri Rp. 2.449.200.000 b. Kredit Investasi: Rp. 500.000.000 Suku Bunga : 18%
Jangka Waktu : 5 tahun
5 Periode pembayaran kredit
Angsuran bunga dibayarkan setiap bulan, angsuran pokok dibayarkan setelah masa grasi 6 bulan
6 Kelayakan usaha
A Periode proyek 7 tahun
B Produk Pelayanan jasa bengkel
C Skala proyek
Pendapatan kotor per tahun : Rp. 1.010.700.000 tahun 1, berkembang menjadi Rp. 2.021.400.000 tahun 7
D Teknologi Bengkel dengan peralatan standard yang mutakhir
E Pemasaran Produk Konsumen langsung, perusahaan swasta dan perkantoran pemerintah
7 Kriteria kelayakan usaha
NPV Rp. 867.507.061
IRR 29,32%
Net B/C Ratio 1,69
Pay Back Period 61 bulan
BEP Penjualan rata-rata Rp. 1.003.042.857
No Unsur Pembiayaan Uraian
8 Analisis sensitivitas (1) Biaya variabel
a Biaya variabel naik 5% - Tidak peka
NPV Rp. 858.078.719 (-1,1%)
IRR 29,16% (-0,5%)
Net B/C Ratio 1,68 (-0,6%)
Pay Back Period 62 bulan (lebih lama 1 bulan)
Penilaian Layak
b Biaya variabel naik 10% - Tidak peka
NPV Rp. 853.364.548 (-1,6%)
IRR 29,08% (-0,8%)
Net B/C Ratio 1,68(-0,6%)
Pay Back Period 62 bulan(lebih lama 1 bulan)
Penilaian Layak
(2) Pendapatan
a Pendapatan turun 10% - Peka
NPV Rp. 317.955.463 (-63,3%)
IRR 19,79% (-32,5%)
Net B/C Ratio 1,25 (-26,0%)
Pay Back Period 75 bulan (lebih lama 14 bulan)
Penilaian Masih Layak
b Pendapatan turun 15% - Ambang kritis
NPV Rp. 43.179.664
IRR 14,8%
Net B/C Ratio 1,03
Pay Back Period 82 bulan
No Unsur Pembiayaan Uraian (3) Biaya variabel dan pendapatan
Biaya variabel naik 5% dan pendapatan turun 10% - Peka
NPV Rp. 308.527.122 (-64,4%)
IRR 19,62% (-33,1%)
Net B/C Ratio 1,25 (-26,0%)
Pay Back Period 76 bulan (lebih lama 15 bulan)
Penilaian Masih Layak
Biaya variabel naik 10% dan pendapatan turun 10% - Peka
NPV Rp. 303.812.951 (-64,9%)
IRR 19,54% (-33,4%)
Net B/C Ratio 1,24 (-26,6%)
Pay Back Period 76 bulan (lebih lama 15 bulan)
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR ………... i
RINGKASAN ……….. ii
DAFTAR ISI ……… viii
DAFTAR GAMBAR ………... xi
DAFTAR PHOTO ………... xi
DAFTAR TABEL ………... xii
BAB I PENDAHULUAN ………... 15
BAB II PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN 19 2.1 Profil Usaha ………...……... 19
2.2 Pola Pembiayaan Bank ………...…... 20
BAB III ASPEK PASAR DAN PEMASARAN 23 3.1 Aspek Pasar ………... 23
3.1.1 Permintaan ………...…... 23
3.1.2 Penawaran ………...…... 25
3.1.3 Analisis Persaingan dan Peluang Pasar ... 25
3.2 Aspek Pemasaran ………...…...
27
3.2.1 Harga ………...……... 27
3.2.2 Jalur Pemasaran dan Promosi ..……... 28
3.2.3 Kendala Pemasaran ………...………... 29
BAB IV ASPEK TEKNIS PELAYANAN JASA BENGKEL 4.1 Lokasi Usaha ………... 31
4.3 Bahan Penunjang dan Suku Cadang ………... 34
4.4 Tenaga Kerja ………... 34
4.5. Teknologi ………... 36
4.6 Proses Pelayanan Jasa .………... 36
4.7 Jumlah, Jenis dan Mutu Pelayanan Jasa ... 36
4.8 Produksi Optimum ………... 38
4.9 Kendala Pelayanan Jasa ………... 38
BAB V ASPEK KEUANGAN 5.1 Pemilihan Pola Usaha ………... 41
5.2 Skenario 1: Kredit Modal Kerja ………... 41
5.2.1 Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan .. 41
5.2.2 Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional ………... 42
5.2.3 Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja ... 44
5.2.4 Produksi Jasa dan Pendapatan ……... 46
5.2.5 Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Even Point ... 47
5.2.6 Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek ... 48
5.2.7 Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha……... 49
5.2.8 Hambatan dan Kendala ……... 52
5.3 Skenario 2: Kredit Investasi untuk Perluasan Usaha ... 52
5.3.1 Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan .. 52
5.3.2 Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional ………... 53
5.3.3 Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja ... 54
5.3.5 Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Even Point…. 56 5.3.6 Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek ... 57 5.3.7 Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha …... 58 5.3.8 Hambatan dan Kendala ……... 60
BAB VI ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN DAMPAK LINGKUNGAN
6.1 Aspek Ekonomi dan Sosial ………...……... 61 6.2 Aspek Dampak Lingkungan ………...……... 62
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan ………... 65 7.2 Saran ………...…... 67
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
4.1 Tata letak bangunan bengkel mobil ... 35
4.2 Diagram alir pelayanan jasa bengkel mobil ... 37
6.1 Skema penanganan limbah air pencucian mobil ... 62
DAFTAR PHOTO
Photo Hal 1.1 Usaha Bengkel Mobil skala kecil menengah ………....…… 153.1 Dua UBM bersebelahan tidak mendatangkan dampak pendapatan yang buruk bagi UBM ………... 27
4.1 Jalur kerja untuk spooring ... 32
4.2 Lift cuci (kiri) dan reparasi (kanan) untuk mengangkat mobil ... 32
4.3 Ruang penjualan suku cadang ... 33
6.1 Bak pengendapan pasir dan pasir yang telah dikarungkan ... 62
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
3.1 Pertumbuhan jumlah mobil penumpang di Indonesia ... 23
3.2 Jenis dan frekuensi kebutuhan pelayanan jasa UBM oleh konsumen 24 3.3 Pertumbuhan jumlah unit UBM di DKI Jakarta Utara ... 25
3.4 Jenis dan harga pelayanan jasa UBM ………... 28
4.1 Jenis peralatan standar yang diperlukan UBM ... 33
4.2 Jumlah dan jenis tenaga kerja serta pendidikannya …………... 35
4.3 Rincian luasan komposisi bangunan bengkel ………...…. 36
4.4 Jumlah dan jenis pelayanan jasa UBM ... 38
5.1 Asumsi untuk Analisis Keuangan : Skenario 1 ………... 42
5.2 Komposisi Biaya Investasi : Skenario 1 ………... 43
5.3 Komponen Biaya Operasional (Rp) : Skenario 1 ... 44
5.4 Komponen dan Struktur Biaya Proyek : Skenario 1 ... 45
5.5 Perhitungan Angsuran Bunga dan Kredit : Skenario 1 ... 45
5.6 Proyeksi Produksi Jasa dan Pendapatan : Skenario 1 ………... 46
5.7 Proyeksi Pendapatan dan Laba Rugi Usaha (juta Rp) : Skenario 1 ... 47
5.8 Rata-rata Laba Rugi dan BEP Usaha : Skenario 1 ………...………... 48
5.9 Kelayakan UBM : Skenario 1 ... 48
5.10 Analisis Sensitivitas Biaya Variabel Naik : Skenario 1 ... 49
5.11 Analisis Sensitivitas Pendapatan Turun : Skenario 1 ..………... 50
5.12 Analisis Sensitivitas Kombinasi : Skenario 1 ………... 51
5.13 Asumsi untuk Analisis Keuangan : Skenario 2 ... 53
5.14 Komposisi Biaya Investasi : Skenario 2 ... 53
Tabel Hal
5.16 Perhitungan Angsuran Bunga dan Kredit : Skenario 2 ... 55
5.17 Proyeksi Pendapatan : Skenario 2 ... 56
5.18 Proyeksi Pendapatan dan Laba Rugi Isaha (Rp Juta) : Skenario 2... 56
5.19 Rata-rata Laba Rugi dan BEP Usaha : Skenario 2 ………... 57
5.20 Kelayakan UBM : Skenario 2 ... 57
5.21 Analisis Sensitivitas Biaya Variabel Naik : Skenario 2 ... 58
5.22 Analisis Sensitivitas Pendapatan Turun : Skenario 2 ... 59
BAB I
PENDAHULUAN
Pola pembiayaan usaha bengkel mobil (UBM) ditujukan untuk bengkel mobil penumpang (passenger car) dan tidak termasuk bengkel kendaraan umum seperti bus dan angkutan kota, serta tidak termasuk pula bengkel kendaraan angkutan barang seperti mobil boks, truk dan truk gandengan. Ditinjau dari aspek pengelolaan, UBM yang dikaji untuk pola pembiayaan ini adalah UBM perorangan (individual) dan tidak termasuk UBM dealer merk kendaraan tertentu seperti Auto 2000, Honda dan BMW.
Skala usaha yang diliput oleh kajian pola pembiayaan UBM adalah skala kecil dan menengah yang merupakan bengkel dengan aneka pelayanan seperti pencucian mobil, ganti oli, tune-up, penambalan dan ganti ban, serta perbaikan ringan, dan pengecatan mobil (Photo 1.1). Pola pembiayaan UBM ini tidak ditujukan untuk bengkel skala mikro yang membatasi pelayanan untuk satu jenis saja misalnya tambal ban atau dua jenis saja seperti pencucian mobil dan ganti aki.
UBM perlu pula dibedakan dari toko suku cadang yang terkadang memasangkan suku cadang yang ringan seperti penyapu kaca depan (windshield wiper), dealer aki yang melakukan pula ganti aki dan oli, atau toko asesori yang memasangkan asesori mobil dan terkadang mengerjakan pula pekerjaan bengkel ringan. Sebaliknya, UBM pada umumnya memiliki pula persediaan suku cadang yang sering dibutuhkan konsumen, seperti penyapu kaca depan, saringan bahan bakar, saringan udara, tali kipas, dan aki untuk menunjang pelayanannya sekaligus meningkatkan pendapatan. Di samping itu, biasanya UBM mempunyai jejaring dengan toko suku cadang untuk mendapatkan akses yang lancar apabila membutuhkan suku cadang yang tidak terlalu sering diperlukan konsumen.
Jumlah mobil penumpang di Indonesia terus meningkat dari 3.261.807 buah dalam tahun 2001 menjadi 6.228.772 buah dalam tahun 2007 (BPS, 2008) atau dengan tingkat pertumbuhan sebesar rata-rata 13% per tahun. Di Jakarta, jumlah mobil penumpang adalah sekitar 40% dari populasi mobil di Indonesia atau berkisar 2.400.000 buah dalam tahun 2008. Jumlah mobil penumpang di wilayah Jakarta Utara tidak diketahui, tetapi jumlah UBM menurut keterangan data dari Suku Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jakarta Utara (2008) tumbuh dari 100 unit dalam tahun 2004 menjadi 180 unit dalam tahun 2008.
Apabila diperkirakan jumlah mobil penumpang di Jakarta Utara seperlima dari jumlah mobil penumpang di DKI Jakarta yang terbagi ke dalam lima wilayah yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat, maka jumlah mobil di Jakarta Utara diduga 480.000 buah. Dengan demikian secara teoretis, setiap UBM di Jakarta Utara mempunyai peluang untuk melayani kebutuhan 2.600 buah mobil.
UBM dapat disimpulkan merupakan usaha yang menarik ditinjau dari pasar dan permintaan pasar. UBM akan terus berkembang selama terjadi peningkatan jumlah penjualan mobil penumpang dan jumlah populasi mobil penumpang yang masih beroperasi di jalan. Apabila UBM difokuskan pada mobil penumpang, maka tingkat prospek UBM mobil penumpang lebih tinggi dari UBM kendaraan umum dan angkutan karena UBM mobil penumpang melayani golongan menengah ke atas yang mampu membeli mobil pribadi, dan konsekuensinya akan membutuhkan perawatan
dan perbaikan mobil milik pribadi mereka secara periodik selama mobil tersebut masih digunakan. Peningkatan jumlah pembelian mobil penumpang dan jumlah populasi mobil penumpang yang beroperasi di jalan akan mendorong pula peningkatan volume penjualan jasa tiap-tiap UBM, namun perlu disadari bahwa hal tersebut mendorong pula tumbuhnya UBM baru. Selama jumlah mobil yang membutuhkan jasa pelayanan melebihi kapasitas total dari jumlah UBM yang beroperasi maka UBM masih merupakan usaha yang layak.
PENDAHULUAN
USAHA BENGKEL MOBIL
BAB II
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
2.1. Profil UsahaUsaha Bengkel Mobil (UBM) adalah usaha yang melayani jasa untuk perawatan dan perbaikan (maintenance and repair) mobil penumpang. Jasa perawatan dan perbaikan termasuk antara lain pencucian, ganti oli, ganti suku cadang, penambalan dan ganti ban, pemeriksaan dan ganti aki, serta perbaikan dan pengecatan badan mobil. Skala UBM adalah usaha kecil dengan omzet lebih kecil atau sama dengan Rp 2,5 milyar/tahun.
Lokasi UBM umumnya di kawasan bisnis atau di kompleks perumahan (real estate) dengan tidak mengganggu ketentraman lingkungan terutama tetangga yang bersebelahan.
Konsumen adalah pemilik mobil penumpang, perusahaan dan kantor dinas pemerintah yang pada umumnya berlangganan dengan UBM. Pemilik mobil penumpang yang merawat dan memperbaiki mobil secara periodik biasanya termasuk golongan ekonomi menengah atas. Di wilayah Jakarta Utara pertumbuhan Usaha Bengkel Mobil (UBM) selama 5 tahun terakhir dapat digambarkan sebagai berikut 100 UBM pada tahun 2004, 110 UBM tahun 2005, 120 UBM tahun 2006, 140 UBM tahun 2007 dan 180 UBM tahun 2008 (Suku Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jakarta Utara, 2008).
Usaha Bengkel Mobil di wilayah Jakarta Utara umumnya merupakan usaha milik perorangan berbentuk PT atau CV yang dapat merupakan cabang usaha dari usaha induk seperti cabang usaha dari pengecer suku cadang, usaha baru yang berdiri sendiri, atau usaha lama warisan keluarga. Mesin dan peralatan bengkel tersedia di pasar di Jakarta. Pemasok mesin dan peralatan biasanya dapat pula menyediakan jasa untuk memasang mesin dan peralatan tersebut di UBM yang bersangkutan misalnya mesin dan peralatan untuk pencucian mobil. Teknologi utama yang dibutuhkan UBM adalah keterampilan karyawan UBM yang diperoleh dari pengalaman SDM dari
pekerjaan sebelumnya serta pelatihan pendidikan berjenjang yang banyak diberikan melalui ASBEKINDO (Asosiasi Bengkel Kendaraan Indonesia) oleh perusahaan suku cadang, agen (dealer) mobil, serta agen (dealer) oli dan pelumas.
Kepemilikan lahan untuk tempat usaha atau bangunan bengkel yang representatif merupakan modal awal, walaupun beberapa UBM mengawali usaha dengan penyewaan tempat usaha. Penyewaan tempat usaha untuk UBM memperhatikan kriteria seperti lokasi di kawasan bisnis, lokasi perumahan yang tidak mengganggu lingkungan, ijin untuk memasang mesin dan peralatan yang berpeluang mengubah fondasi bangunan, serta keamanan lingkungan.
2.2. Pola Pembiayaan
Pola pembiayaan UBM untuk investasi awal dalam bentuk pembelian tanah, pendirian bangunan dan pengadaan peralatan bengkel pada saat ini berasal dari pengusaha sendiri atau keluarga pengusaha. Pola pembiayaan dari bank terdiri dari dua skenario yaitu Skenario 1 Kredit Modal Kerja, dan Skenario 2 Kredit Investasi untuk Perluasan Usaha.
2.2.1. Skenario 1 : Kredit Modal Kerja
Kredit Modal Kerja diberikan dalam bentuk plafon dana yang ditempatkan di rekening giro nasabah dan dievaluasi tiap tahun berdasarkan arus uang di rekening giro tersebut. Selama arus uang dianggap layak, kredit dapat diteruskan ke tahun berikutnya. Jumlah kredit berkisar antara Rp 150 – Rp 300 juta dan ditentukan juga berdasarkan arus uang di rekening giro tersebut.
UBM membayar bunga bulanan pada tingkat bunga sebesar 26,5%/tahun. Pinjaman pokok dikembalikan sekaligus pada tahun terakhir sesuai perjanjian misalnya akhir tahun ke 5, dengan syarat hasil evaluasi tahunan UBM menunjukkan kinerja keuangan yang baik. Semua transaksi UBM diwajibkan melalui rekening giro di bank yang memberikan kredit.
2.2.2. Skenario 2 : Kredit Investasi untuk Perluasan Usaha
Kredit Investasi untuk Perluasan Usaha diberikan berdasarkan evaluasi rencana pengembangan usaha yang akan dilakukan dan nilai agunan yang akan diberikan. Umumnya bank memberikan batas maksimum kredit investasi senilai 70-75% harga taksiran aset (tanah dan bangunan) yang dijadikan agunan oleh nasabah. Jumlah kredit yang diberikan dapat berkisar antara Rp 500 juta – Rp 1 milyar melalui skema kredit yang tersedia di bank pemberi kredit. Tingkat suku bunga yang dikenakan adalah 18%/tahun. Pembayaran kredit berlangsung secara konvensional yaitu angsuran bunga dan angsuran pokok (setelah masa grasi/grace period) setiap bulan.
Kedua kredit ini hanya diberikan kepada UBM yang telah beroperasi dua tahun, dinilai layak (feasible) dan bankable, serta memenuhi syarat 5K yang umum diterapkan oleh bank yaitu karakter, kapital, kapasitas, kondisi, dan kolateral (agunan). Nilai agunan dapat diperoleh dari hasil evaluasi lembaga appraisal yang diakui bank atau berdasarkan evaluasi oleh bank sendiri. Meskipun persyaratan yang dikemukakan merupakan prosedur standar, kelonggaran dapat diperoleh oleh calon nasabah apabila sejarah hubungan nasabah dengan bank seperti kepemilikan deposito, kepemilikan rekening giro dan keadaan arus uang di rekening giro tersebut berjalan dengan baik.
USAHA BENGKEL MOBIL
BAB III
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
3.1. Aspek Pasar3.1.1. Permintaan
Permintaan pelayanan jasa UBM terkait dengan jumlah mobil penumpang yang ada. Data yang diperoleh adalah data mobil penumpang di Indonesia (Tabel 3.1), meskipun demikian diketahui bahwa dari jumlah tersebut 40% berada di Jakarta.
Tabel 3.1. Pertumbuhan Jumlah Mobil Penumpang di Indonesia
Tahun Jumlah Mobil Penumpang
2001 3.261.807 2002 3.403.433 2003 3.885.228 2004 4.464.281 2005 5.494.034 2006 5.813.014 2007 6.228.772
Jumlah penjualan mobil penumpang meningkat 48% dalam Januari – Agustus 2008 (411 984) dibandingkan Januari – Agustus 2007 (277 272)
Sumber : BPS (2008)
Jumlah mobil penumpang selalu tumbuh dengan peningkatan rata-rata sebesar 13% per tahun dalam kurun waktu dari tahun 2001 – 2007. Meskipun demikian pertumbuhan meningkat lebih tinggi dari 13% per tahun mulai tahun 2003 sampai 2005 yaitu berturut-turut 14%, 15% dan 23% per tahun. Kemudian turun menjadi 6% per tahun dalam tahun 2006 tetapi naik lagi sejak tahun 2007. Kenaikan dalam tahun 2008 dalam bentuk penjualan mobil penumpang diduga lebih tinggi 50% dari kenaikan 2007.
Dari hasil pendapatan dan jumlah klien yang memakai jasa UBM ternyata bahwa kenaikan harga energi tidak berimbas pada penurunan permintaan jasa perawatan dan perbaikan mobil,
Tabel 3.2. Jenis dan Frekuensi Kebutuhan Pelayanan Jasa UBM Oleh Konsumen
No Jenis Pelayanan Jumlah Pelayanan Berkala Minimal
1 Pencucian mobil 2 minggu sekali
2 Spooring dan balancing Tiap 5000 km atau 3 bulan
3 Ganti oli Tiap 5000 km atau 3 bulan
4 Ganti saringan oli Tiap 10.000 km atau 6 bulan
5 Busi Tiap 20.000 km atau 12 bulan
6 Ganti saringan bensin Tiap 80.000 km atau 24 bulan
7 Ganti saringan solar Tiap ketika lampu peringatan menyala atau 12 bulan
8 Ganti saringan udara Mobil bensin tiap 40.000 km atau 24 bulan, mobil diesel tiap 30.000 km atau 18 bulan
9 Pemeriksaan aki dan ganti aki Pemeriksaan tiap bulan, ganti aki paling lambat 70.000 km atau 42 bulan
10 Ganti oli gigi manual differensial, ganti oli transmisi Tiap 40.000 km atau 24 bulan
11
Tune-up chasis dan bodi: pedal rem dan rem parkir, pelapis sepatu rem dan tromol rem, pad rem dan piringan rem, minyak rem, minyak kopling, minyak power steering, roda kemudi, tekanan ban, lampu dan wiper, sedimenter air
Tiap 10.000 km atau 6 bulan
12
Tune-up 2: tali kipas, sistem pendingin dan pemanas, cairan pendingin mesin, pipa
gas buang, refrigeran, suspensi depan dan
belakang
Tiap 20.000 km atau 12 bulan
13 Pengujian emisi gas buang Tiap 6 bulan untuk mobil tua (ketentuan pemerintah)
14 Jasa insidental : las ketok, cat duko Tiap terjadi kecelakaan ringan atau berat
Sebaliknya peningkatan penjualan modil penumpang mendorong peningkatan permintaan jasa perawatan dan perbaikan mobil penumpang. Di samping jumlah mobil, penawaran dalam hal UBM perlu dianalisis dari sisi jenis dan jumlah pelayanan
USAHA BENGKEL MOBIL
jasa berkala yang dibutuhkan oleh konsumen. Tabel 3.2 menggambarkan jenis dan jumlah pelayanan jasa berkala UBM yang dibutuhkan oleh konsumen.
3.1.2. Penawaran
Data dari Suku Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jakarta Utara (Tabel 3.3) pada tahun 2008 menunjukkan bahwa kapasitas 180 unit UBM dengan jumlah tenaga kerja 1.500 orang mampu melayani 360.000 buah mobil penumpang.
Tabel 3.3. Pertumbuhan Jumlah Unit UBM di Jakarta Utara
Tahun Jumlah unit UBM Kapasitas pelayanan, x 1000 buah mobil
2004 100 200
2005 110 220
2006 120 240
2007 140 280
2008 180 360
Sumber : Suku Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jakarta Utara
Peningkatan jumlah unit UBM terjadi rata-rata 10% per tahun dari tahun 2004 – 2006, kemudian melonjak menjadi 20% pada tahun 2007 dan 30% pada tahun 2008. Hal ini didorong oleh pertumbuhan jumlah mobil penumpang yang mempunyai kecenderungan terus meningkat rata-rata 13% per tahun dari tahun 2001 sampai tahun 2007 (Tabel 3.1).
3.1.3. Analisis Persaingan dan Peluang Pasar
Persaingan yang terjadi antara UBM terutama dalam hal memuaskan
pelanggan, karena para UBM umumnya telah mempunyai pelanggan tetap.
Upaya yang dilakukan pengusaha adalah menjaga mutu pelayanan jasa
sehingga pelanggan puas dan tidak pindah ke UBM lain. Ketersediaan ruang
yang nyaman untuk pelanggan yang menunggu perawatan dan perbaikan
mobil mereka merupakan model yang akhir-akhir ini dikembangkan untuk
memuaskan pelanggan.
Usaha yang dilakukan UBM untuk menjaga mutu pelayanan adalah
dengan mendidik keterampilan karyawan dan staf manajemen mereka
melalui pelatihan berjenjang yang sering ditawarkan oleh konsultan otomotif
(Hanindo), dan dalam jumlah terbatas oleh dealer merk kendaraan tertentu
serta dinas pemerintah. Jenis pelatihan yang diberikan lembaga-lembaga
tersebut antara lain adalah kepemimpinan,
customer services,
bengkel
berkualitas, emisi gas buang, teknis dasar bengkel. Di samping itu sudah
merupakan hal yang umum bahwa UBM melakukan komputerisasi pada
pelayanan jasa yang membantu usaha dalam kepemilikan data base yang
menunjang: sejarah perawatan dan perbaikan setiap mobil agar konsumen
tidak merasa dicurangi (ganti suku cadang yang sama berkali-kali sebelum
waktunya), inventori stok, rekaman data pemasukan pendapatan dan
pengeluaran bahan penunjang serta suku cadang.
Peluang pasar masih terbuka karena jumlah kapasitas mobil
penumpang yang membutuhkan pelayanan jasa diduga 2.660 buah per
UBM di DKI Jakarta (1/5 dari 40% dari 6 juta mobil penumpang di Indonesia
dibagi dengan 180 UBM), sedangkan rata-rata kapasitas pelayanan UBM di
DKI Jakara adalah 2.000 buah mobil penumpang. Di samping itu pelanggan
dapat pula berasal dari daerah lain di luar Jakarta Utara, seperti Jakarta Pusat,
Jakarta Timur, Jakarta Barat dan wilayah sekitar Jakarta seperti Tangerang
dan Bekasi.
Antar UBM tidak selalu terjadi persaingan, sebaliknya dapat pula
bekerjasama terutama dalam hal UBM tidak memiliki semua fasilitas dan
mesin bengkel yang lengkap. Sebagai contoh untuk spooring UBM yang
tidak memiliki fasilitas tersebut dapat mengirimkan ke UBM lain yang
memiliki dengan mendapatkan pembagian keuntungan. Keberadaan UBM
lain dengan lokasi bersebelahan (Photo 3.1) tidak mendatangkan dampak
yang buruk bagi UBM bersangkutan karena masing-masing UBM memiliki
pelanggan tetap. Di samping itu seperti yang telah diuraikan sebelumnya,
kapasitas dari jumlah bengkel yang ada di DKI Jakarta masih berada di
bawah kapasitas jumlah mobil penumpang yang perlu dilayani.
USAHA BENGKEL MOBIL
Photo 3.1. Dua UBM Bersebelahan Tidak Mendatangkan
Dampak Pendapatan yang Buruk Bagi UBM
3.2. Aspek Pemasaran3.2.1. Harga
Penentuan harga pelayanan jasa terutama memperhatikan harga standar yang umum di pasaran seperti harga pencucian mobil, jumlah waktu pengerjaan seperti untuk pemeriksaan dan penggantian suku cadang, mutu bahan penunjang (oli) dan merk suku cadang (saringan oli, saringan udara, wiper, aki) yang diminta konsumen, serta jasa tambahan yang diminta konsumen (pemakaian shampoo dalam pencucian mobil). Bengkel yang telah lama beroperasi dan memiliki tenaga teknisi yang terampil serta diakui konsumen dapat mengenakan harga pelayanan jasa di atas harga pasar, namun harga bahan penunjang dan suku cadang biasanya dipasang serendah mungkin untuk menarik pelanggan.
Jenis dan harga pelayanan jasa diuraikan dalam Tabel 3.4. Harga suku cadang dan bahan penunjang mengikuti daftar harga dari agen dan distributor. Keuntungan rata-rata yang diambil UBM adalah sebesar 15% dari harga barang.
Tabel 3.4. Jenis dan Harga Pelayanan Jasa UBM
No Jenis Pelayanan Jasa Satuan Harga Rp/satuan
1 Spooring Unit 125,000
2 Balancing Unit 80,000
3 Pencucian mobil Unit 25,000
4 Perawatan mobil Unit 100,000
5 Perbaikan mobil Unit 100,000
6 Ganti oli Unit 15,000
7 Uji emisi Unit 350,000
8
Pendapatan dari penjualan bahan penunjang dan suku cadang
15% dari nilai penjualan rata-rata : Rp 900 juta/tahun
3.2.2. Jalur Pemasaran dan Promosi
Pemasaran umumnya dilakukan ke perusahaan swasta dan kantor pemerintah dengan memberikan diskon sebesar 10% untuk semua pelayanan, di samping menunggu pelanggan perorangan. Pada bulan-bulan tertentu, misalnya bulan yang dianggap kurang pengunjung yang jauh dari hari raya dan hari libur sekolah dilakukan diskon untuk pelayanan jasa tertentu bagi pelanggan perorangan yang besarnya dapat mencapai 50% seperti diskon tune-up komponen dasar mesin 50% dalam bulan April, dan diskon servis rem 50% dalam bulan Mei. UBM mencetak pula brosur sampai berjumlah 3.000 lembar per tahun yang disebarkan dalam kesempatan pameran otomotif, di plaza dan di lingkungan perumahan.
Komposisi pelanggan UBM pada saat ini adalah pelanggan perorangan sebesar 50%, pelanggan perusahaan swasta sebesar 40%, dan pelanggan kantor pemerintah sebesar 10%.
USAHA BENGKEL MOBIL
3.2.3. Kendala Pemasaran
Secara umum, UBM tidak menghadapi kendala pemasaran yang nyata walaupun terjadi peningkatan harga bahan bakar minyak dan suku cadang. Hal ini disebabkan mobil penumpang membutuhkan perawatan dan perbaikan berkala agar tidak menimbulkan kerusakan dengan biaya yang lebih besar, sedangkan pemilik mobil penumpang adalah golongan menengah atas atau perusahaan dan perkantoran pemerintah yang mampu membiayai jasa perawatan dan perbaikan mobil.
Apabila pelanggan memilih menggunakan suku cadang yang lebih murah karena memperhitungkan keadaan keuangan mereka, hal ini bahkan akan menambah frekuensi kedatangan pelanggan tersebut akibat mutu suku cadang dengan harga murah lebih cepat aus. Pembayaran dilakukan secara tunai untuk pelanggan perorangan dan bulanan untuk perusahaan dan perkantoran pemerintah. Selama ini, tidak ada permasalahan pembayaran perusahaan dan perkantoran pemerintah, karena mereka membutuhkan pelayanan kendaraan mereka setiap bulan. Penundaan pembayaran dapat mengakibatkan penghentian pelayanan jasa oleh UBM, dan berakibat pada biaya yang lebih besar bagi pelanggan sebab tertundanya perawatan dan perbaikan akan meningkatkan biaya di kemudian hari.
USAHA BENGKEL MOBIL
BAB IV
ASPEK TEKNIS PELAYANAN JASA BENGKEL
4.1. Lokasi UsahaLokasi UBM berorientasi pada pelanggan sehingga kawasan bisnis dan kawasan perumahan golongan menengah atas merupakan kawasan yang ideal karena mempunyai populasi sasaran pelanggan UBM yang tinggi. Bengkel UBM perlu mudah dijangkau dan berada di tepi jalan raya agar mudah terlihat dan mobil dapat masuk ke area kerja UBM dengan lancar (Photo 1.1 dan 3.1). Kawasan bisnis dan kawasan golongan menengah atas pada umumnya menyediakan akses jalan raya, listrik, air dan jaringan telkom yang diperlukan oleh UBM. Persyaratan lain adalah tidak mengganggu tetangga sekitar baik untuk polusi suara, maupun polusi limbah bengkel padat, cair maupun gas.
Lokasi usaha yang berdekatan dengan UBM lain tidak merupakan masalah selama UBM dapat memberikan jasa pelayanan teknis bengkel yang memuaskan pelanggan (Gambar 3.1). Pelanggan akan lari ke UBM lain walaupun sarana dan akses lengkap apabila pelayanan teknis bengkel tidak memuaskan.
4.2. Fasilitas Dan Peralatan Pelayanan Jasa
Ruangan bengkel perlu memenuhi persyaratan standar bengkel kerja seperti pencahayaan yang cukup, lantai dibuat dari beton yang mampu menahan beban kendaraan dan tidak mudah licin apabila terkena minyak dan oli. Di samping itu, perlu dibuat jalur kerja khusus untuk spooring (Photo 4.1), atau jalur kerja dengan saluran bawah lantai untuk perbaikan bagian bawah mobil atau sebagai pilihan memiliki lift cuci dan reparasi untuk mengangkat mobil (Photo 4.2).
Photo 4.1. Jalur Kerja untuk Spooring
Ruangan bengkel terbagi menjadi bagian administrasi dan keuangan tempat penerimaan pelanggan dan pembuatan data base pelanggan, jalur kerja perawatan dan perbaikan termasuk spooring dan balancing, jalur pencucian mobil, ruangan penyimpan dan penjualan suku cadang (Photo 4.3), ruangan penyimpan dan penjualan bahan penunjang seperti minyak dan oli, ruang tunggu pelanggan, serta toilet dan loker karyawan.
USAHA BENGKEL MOBIL
Photo 4.3. Ruang Penjualan Suku Cadang
Peralatan standar yang banyak digunakan oleh UBM dirinci dalam Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Jenis Peralatan Standar yang Diperlukan UBM
No Jenis Peralatan 1 Lift cuci 2 Mesin semprot 3 Lift reparasi 4 Mesin balancing 5 Lift spooring 6 Mesin spooring 7 ATF changer 8 Tyre changer 9 Scanner engine 10 Injector cleaner 11 Kompresor 12 Tool kit 13 Genset
4.3. Bahan Penunjang Dan Suku Cadang
Bahan penunjang UBM adalah berbagai jenis oli yaitu oli transmisi manual dan oli gigi differential dari berbagai merk, berbagai jenis minyak yaitu minyak kopling, minyak rem, dan minyak power steering, dan refrigeran pengisi AC. Di samping itu terdapat pula bahan penunjang habis pakai seperti rinso dan shampoo untuk bahan pencucian mobil, timah balancing untuk balancing, serta amplas untuk pengerjaan bengkel.
Suku cadang disediakan pula oleh bengkel. Penjualan suku cadang dapat membantu mendatangkan pendapatan bengkel karena menghasilkan keuntungan yang berkisar antara 10 – 20%. Suku cadang yang khas adalah antara lain velg ban dan ban mobil (Gambar 4.1). Suku cadang yang umum adalah windshield wiper, tali kipas, kanvas rem, sepatu rem, kopling, kaca spion, dan aki.
4.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang diperlukan dalam UBM sebanyak 17 orang dengan upah di tambah bonus Rp 1.200.000 – Rp 3.300.000 per bulan (Tabel 4.2), terdiri dari 1 orang manager dengan upah dan bonus sebesar Rp 3.300.000 per bulan, 2 orang service adviser masing-masing Rp 2.800.000 per bulan, 2 orang foreman masing-masing Rp 1.900.000 per bulan, 8 orang mekanik masing-masing Rp 1.350.000 per bulan, 2 orang tenaga administrasi untuk mengawasi dan bertanggung jawab terhadap keuangan umum dan data base dengan upah Rp 1.650.000 per bulan dan 2 orang customer service untuk menerima pelanggan dengan upah Rp 1.200.000 per bulan. Atas dasar pertimbangan gaji yang diterima, pada umumnya tenaga kerja tersebut disarankan berasal dari daerah sekitar lokasi usaha dan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pemilik.
USAHA BENGKEL MOBIL Jalan Raya Toilet dan Loker Ruang Tunggu Ruang Kantor Kasir Toko Suku Cadang Gudang 4 m 11 m 20 m
Jalur kerja (termasuk spooring dan balancing)
Bak penanganan limbah (2 m x 6 m) 3 m 5 m 3 m 3 m 3 m 3 m
Gambar 4.1. Tata Letak Bengkel Mobil
Tabel 4.2. Jumlah dan Jenis Tenaga Kerja Serta Pendidikannya
No Jenis Jumlah Pendidikan Upah + Bonus, (Rp/bln)
1 Manager 1 STM 3.000.000 + 300.000 2 Service Adviser 2 STM 2.500.000 + 300.000 3 Foreman 2 STM 1.700.000 + 200.000
4 Mekanik 8 STM 1.200.000 + 150.000
5 Administrasi 2 Akademi, SMEA 1.500.000 + 150.000
6 Customer Service 2 SMA, SMEA 1.200.000
Semua karyawan kecuali tenaga administrasi dan customer service diikutkan pelatihan yang diselenggarakan oleh konsultan otomotif untuk bengkel otomotif seperti pelatihan kepemimpinan khusus untuk manager, bengkel berkualitas dan teknik dasar bengkel. ASPEK TEKNIS PELAYANAN JASA BENGKEL
4.5. Teknologi
Teknologi untuk bengkel adalah pengetahuan teknik bengkel mobil seperti sistem mesin mobil penumpang, teknik bongkar pasang, perawatan dan perbaikan, penggantian oli mesin, mesin AC, spooring dan balancing, penggantian dan penambalan ban mobil, pengujian emisi gas buang dan pencucian mobil.
Tata letak bengkel diuraikan dalam Tabel 4.3 dan Gambar 4.4. Bangunan bengkel dibuat secara terbuka di sisi depan tempat jalur kerja perbaikan dan perawatan mobil. Dengan demikian biaya konstruksi bangunan per m2 lebih murah dari biaya bangunan kantor atau perumahan.
Tabel 4.3. Rincian Luasan Komposisi Bangunan Bengkel
No Ruangan Luasan (m2)
1 Kantor 12
2 Ruang Kasir 12
3 Toko Suku Cadang 12
4 Gudang 12
5 Ruang Tunggu Pelanggan 20
6 Toilet dan Loker 12
7 Jalur kerja perawatan dan perbaikan 220
Jumlah 300
4.6. Proses Pelayanan Jasa
Mobil pelanggan yang datang untuk mendapatkan perawatan dan perbaikan mengikuti jalur pelayanan jasa seperti pada Gambar 4.5.
4.7. Jumlah, Jenis dan Mutu Pelayanan Jasa
Jumlah dan jenis pelayanan jasa dirinci dalam Tabel 4.4. Jumlah pelayanan jasa yang diberikan sebenarnya berfluktuasi dari bulan ke bulan, tetapi dalam hal ini diambil jumlah rata-rata untuk per bulan. Jenis pelayanan terdiri dari 7 kegiatan
USAHA BENGKEL MOBIL
yang sudah dijelaskan sebelumnya. Mutu pelayanan diusahakan standar untuk semua pelanggan. Tetapi bahan pendukung seperti minyak dan oli, serta suku cadang seperti ban mobil, dan pelat kopling dipilih oleh pelanggan sesuai dengan kemampuan keuangan mereka dan bukan ditentukan oleh UBM. Pelanggan yang memiliki kemampuan keuangan yang tinggi akan selalu memilih bahan pendukung yang lebih mahal serta suku cadang asli sesuai dengan merk mobil mereka.
M obil Pelanggan T awar Customer Serv ice
Service A dvis er Mek anik For eman M engatur
pembagian ker ja
M obil selesai dilayani
Service A dvis er membuat WO ( Wor ki ng O rder)
A dministrasi
Gambar 4.2. Diagram Alir Pelayanan Jasa Bengkel Mobil ASPEK TEKNIS PELAYANAN JASA BENGKEL
Tabel 4.4. Jumlah dan Jenis Pelayanan Jasa UBM
No Jenis Pelayanan Jasa Satuan Jumlah
1 Spooring Unit/bulan 65 2 Balancing Unit/bulan 250
3 Pencucian mobil Unit/bulan 300
4 Perawatan mobil Unit/bulan 150
5 Perbaikan mobil Unit/bulan 150
6 Ganti oli Unit/bulan 140
7 Uji emisi Unit/bulan 15
8 Penjualan bahan pendukung dan suku cadang 900 juta/tahunRata-rata Rp
4.8. Produksi Optimum
Produksi optimum dianggap tercapai bila UBM dapat melayani 70% dari kapasitas terpasang 1.500 mobil pelanggan per bulan atau 1.050 mobil per bulan. UBM adalah usaha pelayanan jasa sehingga jumlah pelanggan yang datang akan menentukan volume pendapatan. Disamping itu, kembalinya seorang pelanggan untuk merawat mobilnya secara berkala tergantung pada banyak faktor seperti jumlah pemakaian mobil yang berubah-ubah sepanjang tahun dan keadaan keuangan pelanggan. Oleh karena itu, UBM sebaiknya berusaha memperoleh pelanggan tetap dari perusahaan dan perkantoran yang mencapai 50% volume pelayanan jasa. Namun kebijakan mempunyai langganan perusahaan dan perkantoran menyebabkan pendapatan UBM berkurang 10% dibandingkan dengan pelanggan perorangan.
USAHA BENGKEL MOBIL
4.9. Kendala Pelayanan Jasa
Tidak ada kendala yang berarti untuk UBM kecuali kendala umum yang terjadi pada semua jenis usaha seperti pemasokan listrik PLN yang tidak stabil, tetapi UBM telah menyediakan genset sebagai cadangan energi listrik apabila terjadi pemutusan arus tiba-tiba oleh PLN. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah keterampilan mekanik yang telah dibahas sebelumnya. Untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan mekanik agar pelanggan merasa puas, UBM telah mengikutsertakan karyawan pada pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan.
USAHA BENGKEL MOBIL
BAB V
ASPEK KEUANGAN
Analisis aspek keuangan diperlukan untuk mengetahui kelayakan usaha dari sisi keuangan, terutama kemampuan pengusaha untuk mengembalikan kredit yang diperoleh dari bank. Analisis keuangan ini juga dapat dimanfaatkan pengusaha dalam perencanaan dan pengelolaan UBM.
5.1. Pemilihan Pola Usaha
Pola usaha yang dipilih adalah UBM untuk bengkel mobil penumpang dengan aneka jenis pelayanan jasa untuk perawatan dan perbaikan mobil termasuk pencucian, spooring dan balancing, serta mengikuti program pemerintah sebagai bengkel untuk uji emisi gas buang. Skala usaha UBM adalah usaha kecil dengan omzet lebih kecil atau sama dengan Rp 2,5 Milyar/tahun.
Kapasitas terpasang UBM yang dinilai cukup adalah apabila UBM dapat melayani 1.500 mobil penumpang per bulan. Produksi dianggap optimum apabila UBM melayani 70% dari kapasitas terpasang yaitu sekitar 1.050 mobil penumpang per bulan.
Di samping itu UBM menjual bahan penunjang dan suku cadang yang dibutuhkan pelanggan. Bahan penunjang dan suku cadang diambil dari dealer dan agen distributor, sedangkan promosi usaha dilakukan sendiri melalui penyebaran brosur dan pencarian pelanggan ke perusahaan swasta dan kantor pemerintah.
5.2. Skenario 1 : Kredit Modal Kerja ASPEK TEKNIS PELAYANAN JASA BENGKEL
5.2.1. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan
Untuk analisis kelayakan usaha diperlukan adanya beberapa asumsi mengenai parameter proses pelayanan jasa maupun biaya operasional, sebagaimana terinci dalam Tabel 5.1. Asumsi ini diperoleh berdasarkan kajian terhadap UBM di Jakarta Utara dalam bulan Juli- Agustus 2008.
Penentuan usia proyek selama 5 tahun didasarkan atas pertimbangan investasi peralatan yang digunakan UBM, selain tanah, bangunan dan kendaraan, yang paling sedikit memiliki umur ekonomis selama 5 tahun, sehingga pada saat proyek selesai maka peralatan tersebut mungkin perlu ditambah atau diperbarui. Lampiran 1 memuat rincian asumsi dan parameter analisis keuangan.
Tabel 5.1. Asumsi untuk Analisis Keuangan : Skenario 1
No Asumsi Satuan Nilai/jumlah
1 Periode proyek tahun 5
2 Bulan kerja tahun bulan 12
3 Spooring Rp/bulan 8.125.000
4 Balancing Rp/bulan 20.000.000
5 Pencucian mobil Rp/bulan 7.500.000
6 Perawatan mobil Rp/bulan 15.000.000
7 Perbaikan mobil Rp/bulan 15.000.000
8 Ganti oli Rp/bulan 2.100.000
9 Uji emisi Rp/bulan 5.250.000
10 Pendapatan dari penjualan suku cadang(15% total nilai penjualan) Rp/tahun 135.000.000
11 Suku Bunga per Tahun % 26,5
12 Jumlah Kredit Modal Kerja Rp 150.000.000
13 Jangka Waktu Kredit(dievaluasi setiap tahun) tahun 5
USAHA BENGKEL MOBIL
Komponen biaya dalam analisis kelayakan UBM dibedakan menjadi dua yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah komponen biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dana awal pendirian usaha yang meliputi lahan/areal usaha, bangunan, peralatan dan sarana pengangkutan. Biaya operasional adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses pelayanan jasa.
a. Biaya Investasi
Biaya investasi di luar tanah yang dibutuhkan pada tahap awal UBM (Tabel 5.2) adalah bangunan, peralatan dan prasarana angkutan, dengan total biaya sebesar Rp. 1.259.000.000. Komponen terbesar adalah peralatan bengkel (60,5%) yang terdiri dari lift cuci, mesin semprot, lift reparasi, mesin balancing, lift dan mesin spooring, ATF dan tyre changer, scanner engine, injector cleaner, kompresor, tool kit dan genset.
Investasi yang juga besar adalah pendirian bangunan (35,7%). Pembelian kendaraan berupa 3 buah motor hanya mencapai 3,5% dari jumlah biaya investasi. Rincian biaya investasi dimuat dalam Lampiran 2.
Tabel 5.2. Komposisi Biaya Investasi : Skenario 1
No Komponen Biaya Jumlah Nilai (Rp) Persentase
1 Perijinan 2.500.000 0,3
2 Bangunan (300 m2) 450.000.000 35,7
3 Peralatan bengkel (masing-masing 1 unit) 762.400.000 60,5
a. Lift cuci 35.000.000 b. Mesin semprot 8.400.000 c. Lift reparasi 120.000.000 d. Mesin balancing 60.000.000 e. Lift spooring * 75.000.000 f. Mesin spooring * 125.000.000 g. ATF changer 30.000.000
h. Tyre changer 60.000.000 i. Scanner engine 60.000.000 j. Injector cleaner 45.000.000 k. Kompesor 20.000.000 l. Tool kit 64.000.000 m. Genset 25.000.000 n. Komputer + jaringan 25.000.000
o. Lain-lain (alat pemadam kebakaran dll) 10.000.000
4 Kendaraan motor 3 buah 44.100.000 3,5
Jumlah 1.259.000.000 100,0
* Lift dan mesin spooring tidak perlu dibeli pada tahap awal usaha, tetapi perlu tetap direncanakan karena keberadaannya dapat menarik pelanggan. Kerjasama pelayanan jasa spooring dengan UBM lain dapat mendorong pelanggan pindah ke UBM lain.
b. Biaya Operasional
Biaya operasional UBM meliput biaya tetap dan biaya variabel. Total biaya operasional pertahun sebesar Rp 451.900.000 dengan asumsi bahwa pada dua tahun pertama usaha ini sudah dapat beroperasi dengan volume penjualan yang sama dengan ketiga tahun berikutnya. Biaya operasional tersebut terdiri dari biaya tetap Rp434.560.000 dan biaya variabel Rp 17.340.000. Selengkapnya rincian kebutuhan biaya tetap dan biaya variabel ditampilkan pada Lampiran 3 dan 4.
Tabel 5.3. Komponen Biaya Operasional (Rp) : Skenario 1
No Komponen Biaya Perbulan Pertahun
1 Biaya Variabel 1.445.000 17.340.000.
2 Biaya Tetap* 32.760.000 422.860.000
Jumlah Biaya Operasional 440.200.000
* Jumlah biaya tetap per tahun tidak sama dengan 12 x biaya per Bulan karena dalam biaya tetap terkandung upah karyawan yang memperoleh THR satu bulan gaji.
USAHA BENGKEL MOBIL
Total kebutuhan biaya proyek (untuk investasi dan modal kerja) adalah sebesar Rp 1.699.200.000. Sebesar 8,8% dari total biaya proyek (atau 35,6% dari total biaya operasional) yaitu sebesar Rp 150.000.000 diproyeksikan dapat diperoleh dari bank dalam bentuk kredit modal kerja (Tabel 5.4) dan selebihnya 91,2% baik berupa biaya investasi sebesar Rp 1.259.000.000 maupun biaya operasional sebesar Rp 440.200.000 datang dari modal sendiri.
Modal kerja yang dibutuhkan untuk produksi dan penjualan UBM adalah sebesar Rp 440.200.000 per tahun. Sebesar Rp 150.000.000 (35,6%) diperoleh dari kredit bank dengan jangka waktu pinjaman selama 5 tahun dan suku bunga 26,5% pertahun. Kebutuhan modal kerja tersebut dihitung dari kebutuhan biaya variabel dan biaya tetap selama sekitar 4 bulan yaitu Rp 150.633.333. Penetapan jangka waktu tersebut didasarkan atas perhitungan bahwa pendapatan bersih UBM setelah 4 bulan akan menghasilkan jumlah yang setara yaitu Rp 144.089.167.
Tabel 5.4. Komponen dan Struktur Biaya Proyek: Skenario 1
No Komponen Biaya Proyek Persentase Total Biaya (Rp)
1 Biaya Investasi 1.259.000.000
Kredit
a. 0%
Modal Sendiri
b. 100% 1.259.000.000
2 Biaya Modal Kerja 440.200.000
Kredit
a. 35,6% 150.000.000
Modal Sendiri
b. 64,4% 250.200.000
3 Total Biaya Proyek 1.699.200.000
Kredit
a. 8,8% 150.000.000
Modal Sendiri
b. 91,2% 1.549.200.000
Kewajiban pengusaha dalam melakukan angsuran bunga sebesar 26,5% setahun dilakukan setiap bulan selama jangka waktu kredit. Angsuran pokok dilakukan pada tahun terakhir (tahun ke-5) dengan asumsi hasil evaluasi bank setiap tahun selama 5 tahun memberikan rekomendasi perpanjangan waktu kredit untuk tahun berikutnya. Rekapitulasi jumlah angsuran bunga dan kredit pertahun disajikan pada Tabel 5.5, sedangkan perhitungan jumlah angsuran bunga perbulan dan angsuran ASPEK KEUANGAN
pokok selengkapnya ditampilkan pada Lampiran 5.
Tabel 5.5. Perhitungan Angsuran Bunga dan Kredit : Skenario 1
Tahun Angsuran Pokok Angsuran Bunga Total Angsuran Saldo Awal Saldo Akhir
- - - 150.000.000 150.000.000 1 0 39.750.000 39.750.000 150.000.000 150.000.000 2 0 39.750.000 39.750.000 150.000.000 150.000.000 3 0 39.750.000 39.750.000 150.000.000 150.000.000 4 0 39.750.000 39.750.000 150.000.000 150.000.000 5 150.000.000 39.750.000 189.750.000 150.000.000 0 5.2.4. Produksi Jasa dan Pendapatan
Berdasarkan kapasitas yang ada, produksi jasa UBM per bulan dirinci dalam Tabel 5.6 terdiri dari 7 jenis pelayanan jasa dengan volume pekerjaan yang berbeda-beda. Dalam model ini diasumsikan jumlah volume pekerjaan tiap bulan adalah sama, walaupun sebenarnya berfluktuasi, yaitu rata-rata kegiatan bulanan dari rentang waktu satu tahun. Usaha ini diproyeksikan untuk dapat berproduksi secara optimal mulai tahun pertama hingga akhir tahun kelima (sesuai umur proyek). Pendapatan per bulan dan per tahun diuraikan untuk masing-masing jenis pelayanan jasa.
Tabel 5.6. Proyeksi Produksi Jasa dan Pendapatan : Skenario 1
No ProdukJasa pekerjaan, Volume unit per bln Biaya per satuan (Rp) Pendapatan per bulan (Rp) Pendapatan per tahun (Rp) 1 Spooring 65 125.000 8.125.000 97.500.000 2 Balancing 250 80.000 20.000.000 240.000.000 3 Pencucian mobil 300 25.000 7.500.000 90.000.000 4 Perawatan mobil 150 100.000 15.000.000 180.000.000 5 Perbaikan mobil 150 100.000 15.000.000 180.000.000 6 Ganti oli 140 15.000 2.100.000 25.200.000 7 Uji emisi 15 350.000 5.250.000 63.000.000
USAHA BENGKEL MOBIL
8 Pendapatan dari penjualan barang (15% total penjualan
Rp 900 juta/thn)
135.000.000
Jumlah 1.010.700.000
Di samping ke 7 jenis pelayanan jasa, UBM memperoleh pendapatan yang nyata dari keuntungan penjualan barang yaitu oli dan suku cadang. Jumlah rata-rata penjualan barang dari 3 tahun terakir adalah Rp 900 juta per tahun, sedangkan UBM memperoleh keuntungan sebesar 10 – 20%. Oleh karena itu dalam perhitungan ini diambil nilai 15% dari hasil penjualan barang. Proyeksi produksi jasa dan pendapatan usaha secara lebih rinci dimuat dalam Lampiran 6.
5.2.5. Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Even Point
Hasil proyeksi laba rugi usaha menunjukkan UBM telah menghasilkan laba (setelah pajak) pada tahun pertama (kapasitas 100%) sebesar Rp 298.766.500 dengan nilai profit on sales 29,56% dengan jumlah laba pada tahun kedua, ketiga dan keempat yang tetap sama seperti tahun pertama, tetapi menurun pada tahun kelima yaitu sebesar Rp 171.266.500 pada waktu UBM membayarkan kembali angsuran pokok sebesar Rp 150.000.000 secara sekaligus (Tabel 5.7).
Tabel 5.7. Proyeksi Pendapatan dan Laba Rugi Usaha (Rp 000) : Skenario 1
No Uraian Tahun
1 2 3 4 5
1 Total Penerimaan 1.010.700 1.010.700 1.010.700 1.010.700 1.010.700
2 Total Pengeluaran 659.210 659.210 659.210 659.210 809.210
3 Laba/Rugi Sebelum Pajak 351.490 351.490 351.490 351.490 201.490
4 Pajak (15%) 52.723,5 52.723,5 52.723,5 52.723,5 30.223,5
5 Laba Setelah Pajak 298.766,5 298.766,5 298.766,5 298.766,5 171.266,5
6 Profit on Sales,% 29,56 29,56 29,56 29,56 16,95
7 BEP (Rp) 653.074,4 653.074,4 653.074,4 653.074,4 805.692,8
Tabel 5.8 menunjukkan UBM akan menghasilkan keuntungan bersih rata-rata selama kurun waktu 5 tahun proyek sebesar Rp 273.266.500 per tahun dan profit margin rata-rata 27,04%. Dengan membandingkan pengeluaran untuk biaya tetap terhadap biaya variabel dan total penerimaan, maka BEP usaha ini terjadi pada penjualan senilai Rp 653.074.423 pada tahun ke-1 hingga tahun ke-4 dan sebesar Rp 805.692.809 pada tahun ke-5, dengan BEP rata-rata sebesar Rp. 683.598.100. Proyeksi rugi laba usaha ditampilkan secara lengkap pada Lampiran 7.
Tabel 5.8. Rata-Rata Laba Rugi dan BEP Usaha : Skenario 1
Uraian Nilai
Laba setelah pajak per tahun Rp 273.266.500
Profit Margin 27,04%
BEP : Rupiah Rp 683.598.100
5.2.6. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Untuk aliran kas (cash flow) dalam perhitungan ini dibagi dalam dua aliran, yaitu arus masuk (cash inflow) dan arus keluar (cash outflow). Arus masuk diperoleh dari pendapatan jasa UBM selama satu tahun. Untuk arus keluar meliputi biaya investasi, biaya variabel, biaya tetap, termasuk angsuran pokok, angsuran bunga dan pajak penghasilan.
Evaluasi profitabilitas rencana investasi dilakukan dengan menilai kriteria investasi untuk mengukur kelayakan pendirian industri yaitu meliputi NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), Net B/C Ratio (Net Benefit-Cost Ratio). Dengan menggunakan asumsi yang telah ditetapkan sebelumnya, UBM menghasilkan NPV Rp 718.629.458 pada tingkat bunga 14% dengan nilai IRR adalah 34,02% dan Net B/C Ratio 1,57. Berdasarkan kriteria dan asumsi yang telah ditetapkan ternyata UBM ini layak untuk dilaksanakan dengan Pay Back Period (PBP) selama 3 tahun 3 bulan. Proyeksi arus kas untuk kelayakan industri UBM ditampilkan secara lengkap pada Lampiran 8.
USAHA BENGKEL MOBIL
No Kriteria Nilai KelayakanJustifikasi
1. NPV (Rp) 718.629.458 > 0
2. IRR 34,02 > 14%
3. Net B/C Ratio 1,57 > 1,00
4. Pay Back Period 3,19 tahun(39 bulan) < 5 tahun
5.2.7. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha
Dalam suatu analisis kelayakan suatu proyek, biaya produksi dan pendapatan biasanya akan dijadikan patokan dalam mengukur kelayakan usaha karena kedua hal tersebut merupakan komponen inti dalam suatu kegiatan usaha, terlebih lagi bahwa komponen biaya produksi dan pendapatan juga didasarkan pada asumsi dan proyeksi sehingga memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Untuk mengurangi resiko ini maka diperlukan analisis sensitivitas yang digunakan untuk menguji tingkat sensitivitas proyek terhadap perubahan harga input maupun output. Dalam pola pembiayaan ini digunakan tiga skenario sensitivitas, yaitu:
(1). Kemungkinan 1
Sensitivitas kenaikan biaya variabel dimungkinkan dengan melihat perkembangan ekonomi saat ini dan kenaikan harga BBM sehingga memunculkan asumsi peningkatan biaya produksi/variabel, sedangkan pendapatan dianggap tetap/konstan. Kenaikan biaya operasional terjadi antara lain karena bahan penunjang dan suku cadang maupun upah tenaga kerja mengalami kenaikan. Hasil analisis sensitivitas akibat kenaikan biaya variabel ditampilkan pada Tabel 5.10 serta perhitungan arus kas untuk sensitivitas ini selengkapnya pada Lampiran 9 dan 10.
Tabel 5.10. Analisis Sensitivitas Biaya Variabel Naik : Skenario 1
No Kriteria Naik 5% Naik 10%
1. NPV (Rp) 715.652.977 712.676.495
2. IRR (%) 33,94 33,86
3. Net B/C Ratio 1,57 1,57
4. Pay Back Period (bulan) 39 39
Analisis sensitivitas Kemungkinan 1 dilakukan berdasarkan biaya variabel mengalami kenaikan 5% dan 10% dengan asumsi pendapatan tetap. Ternyata bahwa kenaikan biaya variabel 5% untuk UBM tidak sensitif dan tidak memberikan dampak penurunan yang berarti bagi nilai NPV yaitu 0,4%, sedangkan nilai IRR, B/C ratio dan PBP tidak berubah dibandingkan dengan sebelum kenaikan (Tabel 5.9). Kenaikan biaya variabel 10% juga tidak memberikan dampak nyata dengan hanya menurunkan NPV sebesar 0,8% dan IRR 0,2%, sedangkan B/C Ratio dan PBP tidak berubah. Dengan demikian keduanya tetap menunjukkan bahwa proyek ini masih layak dilaksanakan. Batas toleransi adalah kenaikan biaya variabel 20% yang masih menunjukkan kelayakan usaha.
(2). Kemungkinan 2
Sensitivitas penurunan pendapatan dimungkinkan karena penurunan jumlah pelanggan yang datang dan jenis permintaan jasa dari UBM, sedangkan biaya pengeluaran dianggap tetap/konstan. Hasil analisis sensitivitas akibat penurunan pendapatan ditampilkan pada Tabel 5.11 serta perhitungan arus kas untuk sensitivitas ini selengkapnya pada Lampiran 12 dan 13.
Tabel 5.11. Analisis Sensitivitas Pendapatan Turun : Skenario 1
No Kriteria Turun 5% Turun 20%
1. NPV (Rp) 545.138.711 24.666.470
2. IRR (%) 29,34 14,72
3. Net B/C Ratio 1,43 1,02
4. Pay Back Period (bulan) 44 60
USAHA BENGKEL MOBIL
UBM peka terhadap penurunan pendapatan. Penurunan pendapatan sebesar 5% akan menurunkan NPV, IRR dan B/C Ratio berturut-turut sebesar 23,7%, 13,7% dan 8,9% sedangkan PBP menjadi lebih lama 5 bulan. Pada penurunan pendapatan 20% projek ini menjadi tidak layak dengan nilai NPV hanya mencapai Rp 24.666.470, IRR 14,71%, B/C Ratio 1,02 dan PBP 60 bulan.
(3). Kemungkinan 3
Sensitivitas ini dengan melakukan kombinasi terhadap sensitivitas pada skenario I dan II, yaitu peningkatan biaya variabel dan penurunan pendapatan. Hasil analisis sensitivitas akibat kenaikan biaya variabel dan penurunan pendapatan secara bersamaan ditampilkan pada Tabel 5.12 serta perhitungan arus kas untuk sensitivitas ini selengkapnya pada Lampiran 14 dan 15.
Analisis sensitivitas menurut Kemungkinan 3 dilakukan dengan asumsi terjadi penurunan pendapatan 5% dan kenaikan biaya variabel 5% serta 10%. Hasil analisis menunjukkan bahwa keadaan kombinasi memberikan pengaruh yang nyata akibat penurunan pendapatan meskipun kenaikan biaya variabel tidak memberikan dampak yang nyata. Nilai NPV, IRR, berturut-turut turun dalam kisaran 24,6 – 25,0% dan 14,0 – 14,2% untuk kenaikan biaya variabel 5 dan 10%, sedangkan B/C Ratio dan PBP sama yaitu turun 8,9% dan lebih lama 5 bulan (Tabel 5.12). Walaupun demikian, proyek ini masih dapat dianggap layak untuk kedua keadaan kombinasi tersebut. Batas toleransi untuk kombinasi kenaikan biaya variabel dan penurunan pendapatan 5% adalah kenaikan biaya variabel 20% dan penurunan pendapatan 5% yang masih menunjukkan kelayakan usaha.
Tabel 5.12. Analisis Sensitivitas Kombinasi : Skenario 1
No Kriteria Biaya Variabel Naik 5% dan Pendapatan Turun 5% Biaya Variabel Naik 10% dan Pendapatan Turun 5% ASPEK KEUANGAN
1. NPV (Rp) 542.162.223 539.185.748
2. IRR (%) 29,26 29,18
3. Net B/C Ratio 1,43 1,43
4. Pay Back Period (bulan) 44 44
5.2.8. Hambatan dan Kendala
Hambatan dan kendala yang dihadapi oleh pengusaha UBM adalah kebutuhan modal investasi awal yang cukup besar sekitar Rp 1,7 milyar. Sedangkan bank baru berani memberikan kredit apabila UBM telah beroperasi minimal 2 tahun. Dalam kasus yang dipelajari selama penulisan model ini, pengusaha UBM tidak sekaligus mengeluarkan modal investasi pada tahun ke nol, tetapi menambah modal investasi sedikit demi sedikit sampai tahun kedua. Setelah investasi mencapai puncak pada tahun kedua, UBM memperoleh kredit modal kerja dari bank dalam tahun ketiga.
5.3. Skenario 2: Kredit Investasi Untuk Perluasan Usaha
UBM yang telah beroperasi beberapa tahun dan ingin memperbesar volume usaha dan bengkelnya akan membutuhkan kredit investasi untuk membeli tanah, memperluas bangunan atau menambah peralatan yang baru. Besar permintaan kredit investasi dapat mencapai jumlah Rp 500 juta sampai Rp 1 milyar rupiah tergantung dari kebutuhan UBM. Hal ini sesuai dengan investasi UBM pada keadaan awal yang mencapai nilai sebesar Rp 1,7 milyar rupiah seperti yang diuraikan dalam Tabel 5.2.
Analisis keuangan skenario 2 menggunakan dasar-dasar yang sama dengan skenario 1 kecuali hal-hal yang diuraikan dalam sub-sub-bab berikut.
5.3.1. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan
USAHA BENGKEL MOBIL
periode proyek 7 tahun dan tingkat suku bunga 18%/tahun (Tabel 5.13). Penentuan usia proyek selama 7 tahun didasarkan atas pertimbangan perluasan usaha baru dilakukan pada tahun ke 3. Kredit investasi yang diambil dari bank (Rp 500 juta) pada awal tahun ke 3 dianggap membutuhkan waktu untuk berkembang selama 5 tahun, sehingga total lama proyek adalah 7 tahun sejak usaha UBM didirikan. Lampiran 15 memuat rincian asumsi dan parameter analisis keuangan.
Tabel 5.13. Asumsi Untuk Analisis Keuangan : Skenario 2
No Asumsi Satuan Nilai/jumlah
1 Periode proyek tahun 7
2 Bulan kerja tahun bulan 12
3 Spooring Rp/bulan 8.125.000
4 Balancing Rp/bulan 20.000.000
5 Pencucian mobil Rp/bulan 7.500.000
6 Perawatan mobil Rp/bulan 15.000.000
7 Perbaikan mobil Rp/bulan 15.000.000
8 Ganti oli Rp/bulan 2.100.000
9 Uji emisi Rp/bulan 5.250.000
10 Pendapatan dari penjualan suku cadang (15% total nilai penjualan) Rp/tahun 135.000.000
11 Suku Bunga per Tahun % 18
12 Jumlah Kredit Investasi Rp 500.000.000
13 Jangka Waktu Kredit(dievaluasi setiap tahun) tahun 5
5.3.2. Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional
Biaya investasi (Tabel 5.14 dan Lampiran 16) yang dibutuhkan UBM untuk perluasan usaha adalah sebesar Rp 1.500.000.000. Komponen terbagi rata antara pembelian tanah, pendirian bangunan dan pengadaan peralatan tambahan yang masing-masing besarnya Rp 500 juta.
Tabel 5.14. Komposisi Biaya Investasi : Skenario 2 ASPEK KEUANGAN
No Komponen biaya Jumlah Biaya (Rp) Penyusutan Rp (5 tahun) Nilai sisa 1 Beli tanah (400 m2) 500.000.000 500.000.000 0 2 Bangunan (200 m2) 300.000.000 200.000.000 100.000.000 3 Peralatan bengkel 450.000.000 337.500.000 112.500.000 a. Lift cuci 35.000.000 b. Mesin semprot 10.000.000 c. Lift reparasi 120.000.000 g. ATF changer 30.000.000 h. Tyre changer 60.000.000 j. Injector cleaner 45.000.000 k. Kompessor 20.000.000 l. Tool kit 70.000.000 m. Genset 30.000.000 n. Komputer + jaringan 30.000.000 Jumlah 1.250.000.000 1.037.500.000 212.500.000 Biaya Operasional
Biaya operasional UBM meningkat setelah perluasan usaha (tahun ke 4) yaitu menjadi 125% dari tahun-tahun sebelumnya (tahun ke 1 s/d 3) dan kemudian menjadi 150% pada tahun ke 5, 175% pada tahun ke 6 dan 200% pada tahun ke 7 (Lampiran 17).
5.3.3. Kebutuhan Dana
Total kebutuhan biaya perluasan usaha (untuk investasi dan modal kerja) adalah sebesar Rp 1.690.200.000 pada tahun ke 4, yang terdiri dari biaya investasi Rp 1.250.000.000 dan biaya operasional sebesar Rp 440.200.000. Sebesar 40% dari total biaya investasi yaitu sebesar Rp 500.000.000 diproyeksikan diperoleh dari bank dalam bentuk kredit investasi (Tabel 5.15) dan selebihnya Rp 1.190.200.000
USAHA BENGKEL MOBIL
Rp 440.200.000 datang dari modal sendiri. Biaya operasional pada tahun ke 5 dan seterusnya akan meningkat lagi menjadi 125 - 200% dari biaya tahun ke 1 - 3 yaitu sebesar Rp 550.250.000 – 880.400.000.
Tabel 5.15. Komponen dan Struktur Biaya Proyek : Skenario 2
No Komponen Biaya Proyek Persentase Total Biaya (Rp)
1 Biaya Investasi 1.250.000.000
Kredit
a. 40% 500.000.000
Modal Sendiri
b. 60% 750.000.000
2 Biaya Modal Kerja (thn 4) 440.200.000
Kredit
a. 0%
Modal Sendiri
b. 100% 440.200.000
3 Total Biaya Proyek 1.690.200.000
Kredit
a. 29,6% 500.000.000
Modal Sendiri
b. 70,4% 1.190.200.000
Kewajiban pengusaha dalam melakukan angsuran pokok dan bunga sebesar 18% setahun dilakukan setiap bulan selama jangka waktu kredit (tahun 3 – 7) sesudah masa grasi 6 bulan. Rekapitulasi jumlah angsuran pokok ditambah bunga pertahun disajikan pada Tabel 5.16, sedangkan perhitungan jumlah angsuran bunga perbulan dan angsuran pokok selengkapnya ditampilkan pada Lampiran 19.
Tabel 5.16. Perhitungan Angsuran Bunga dan Kredit : Skenario 2
Tahun Angsuran Pokok Angsuran Bunga AngsuranTotal Saldo Awal Saldo Akhir
. . . 500.000.000 500.000.000 3 55.555.556 90.000.000 145.555.556 500.000.000 444.444.444 4 111.111.111 90.000.000 201.111.111 444.444.444 333.333.333 5 111.111.111 90.000.000 201.111.111 333.333.333 222.222.222 6 111.111.111 90.000.000 201.111.111 222.222.222 111.111.111 ASPEK KEUANGAN
7 111.111.111 90.000.000 201.111.111 111.111.111 0
5.3.4. Produksi Jasa dan Pendapatan
Produksi jasa dan pendapatan meningkat pada tahun ke 4 sebesar 125% produksi jasa dan pendapatan dari tahun-tahun 1- 3, dan kemudian meningkat 25% setiap tahun sampai tahun ke 4 mencapai 200% dari pendapatan tahun-tahun 1- 3 (Tabel 5.17 dan Lampiran 18).
Tabel 5.17. Proyeksi Pendapatan : Skenario 2
Tahun Pendapatan, Rp 1* 1.010.700.000 2* 1.010.700.000 3* 1.010.700.000 4 1.263.375.000 5 1.516.050.000 6 1.768.725.000 7 2.021.400.000
* Sama dengan skenario 1
5.3.5. Proyeksi Rugi Laba Usaha dan Break Even Point
Hasil proyeksi laba rugi usaha menunjukkan UBM telah menghasilkan laba (setelah pajak) pada tahun pertama (kapasitas 100%) sebesar Rp 332.554.000 dengan nilai profit on sales 32.9% dengan jumlah laba sama pada tahun kedua, menurun pada tahun ketiga dan keempat karena perluasan investasi usaha, tetapi meningkat lagi pada tahun ke 5 – 7, walaupun profit on sales masih lebih rendah yaitu sekitar 28 - 30% karena UBM baru melunasi kredit pada akhir tahun ke 7 (Tabel 5.18).
Tabel 5.19 menunjukkan UBM akan menghasilkan keuntungan bersih rata-rata selama kurun waktu 5 tahun proyek sebesar Rp 378.200.000 per tahun dan profit margin rata-rata 21,7%. Dengan membandingkan pengeluaran untuk biaya tetap terhadap biaya variabel dan total penerimaan, maka BEP usaha ini terjadi pada