• Tidak ada hasil yang ditemukan

VOLUME I, No. 1, November 2017 E-ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VOLUME I, No. 1, November 2017 E-ISSN"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENYERAHAN NASKAH Naskah merupakan karya ilmiah atau hasil penelitian yang belum dipublikasikan atau diterbitkan. Naskah dapat dikirim melalui OJS, e-mail atau disampaikan ke kantor Redaksi baik langsung maupun melalui pos dalam bentuk hardcopy (2 eksemplar) dan softcopy (CD).

PEDOMAN PENULISAN NASKAH Format Naskah. Naskah diserahkan dalam bentuk hardcopy (2 eksemplar) dan softcopy (disket, CD atau email). Naskah yang berupa hasil penelitian disusun sesuai format baku: judul naskah, nama penulis, abstrak, pendahuluan, metode penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, daftar pustaka.

Judul Naskah. Judul naskah ditulis secara jelas dan singkat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang menggambarkan isi pokok, maksimum 20 kata.

Nama Penulis. Identitas penulis pertama ditulis lengkap tanpa gelar, disertai alamat institusi dan alamat email.

Abstrak. Ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bersifat utuh dan mandiri, yang mengandung latar belakang dan tujuan, metode, hasil dan kesimpulan. Panjang tulisan tidak melebihi 250 kata dan disertai kata kunci (keyword).

Pendahuluan. Menyampaikan informasi secara urut tentang latar belakang, maksud, dan tujuan, yang disajikan secara ringkas dan jelas.

Metode Penelitian. Menyampaikan keterangan waktu dan tempat penelitian yang disajikan pada bagian awal, selanjutnya desain dan teknik penelitian, teknik pengumpulan data, serta metode analisis.

Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian disajikan secara berkesinambungan mulai dari hasil penelitian utama hingga hasil

penunjang, dilengkapi dengan pembahasan, dapat dibuat dalam suatu bagian yang sama atau terpisah. Jika ada penemuan baru, hendaknya tegas dikemukakan dalam pembahasan.

Kesimpulan dan Saran. Kesimpulan dari hasil penelitian hendaknya dikemukakan secara jelas. Saran dicantumkan setelah kesimpulan, berisi masukkan yang dapat diperuntukkan kepada peneliti selanjutnya, pemerintah, dan masyarakat secara luas. Daftar Pustaka. Sumber pustaka yang dikutip, berupa majalah ilmiah, jurnal, buku, atau hasil penelitian (tesis atau disertasi) yang relevan. Sumber pustaka disusun mengikuti urutan alfabet, dan tahun penerbitan pustaka (tahun pustaka mundur 10 tahun dari waktu penelitian). Sumber pustaka (nama penulis) dalam daftar pustaka dimulai dari nama kedua (keluarga), kemudian diikuti nama pertama (dalam bentuk singkatan). Ini berlaku untuk semua sumber pustaka untuk orang pertama tetapi nama penulis kedua dan seterusnya tidak perlu dibalik. Cara pengutipan daftar pustaka adalah: Nama penulis. Tahun. Judul buku. Penerbit. Kota atau Negara. Halaman atau jumlah halaman.

Bahasa. Tata bahasa yang digunakan mengikuti kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Subyek-Predikat-Objek (SPO). Naskah ditulis dalam MS-Word (kertas A4, font: Times New Roman, size 11, normal). Gambar, ilustrasi, dan foto dapat dimasukkan dalam file naskah. Satuan Pengukuran. Satuan pengukuran yang digunakan dalam naskah hendaknya mengikuti sistem internasional yang berlaku (termasuk dalam pemberian tanda titik (.) untuk desimal (dua digit di belakang koma) dan koma (,) untuk ribuan.

(3)
(4)

JEPA adalah Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis yang berada di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

yang berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait.

SUSUNAN PENGURUS Ketua Redaksi Dr. Rosihan Asmara, SP. MP

Anggota Redaksi Dr. Sujarwo, SP. MP. M.Sc. Condro Puspu Nugroho, SP. MP.

Fahriyah, SP. MP Neza Fadia Reyasa, MP. MS. Penyunting Pelaksana dan Administrasi

Bagus Andrianto, SP.

ALAMAT REDAKSI Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya,

Jl. Veteran Malang -65145, Jawa Timur. Telp/Fax. (0341) 580054. Website: http://jepa.ub.ac.id E-mail redaksi [email protected] JADWAL PENERBITAN JEPA diterbitkan tiga kali setahun (bulan Pebruari, Juni, dan November). Frekuensi penerbitan akan ditambah bila diperlukan.

ISSN: 2598-8174 PENERBITAN NASKAH Naskah yang diajukan untuk diterbitkan

adalah karya ilmiah asli atau hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk baku.

Naskah yang layak untuk diterbitkan ditentukan oleh Redaksi setelah mendapat

rekomendasi dari Dewan Penyunting. Naskah yang memerlukan perbaikan menjadi tanggung jawab penulis. Naskah

yang belum layak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis, jika disertai

perangko secukupnya.

DAFTAR ISI

Pengaruh Pengambilan Keputusan Petani Pada Sistem Penjualan Padi (Oryza Sativa L.) Dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Usahatani (Studi Kasus Di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang)

Dewi Mardia Ulfa ... 1 Analisis Usahatani Padi dengan Inovasi dan Optimalisasi Mikroorganisme Lokal (Studi pada Desa Petiyintunggal

Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik)

Mutiara Novitaria Sipayung, ... 8 Analisis Daya Saing Ekspor Biji Kopi

Indonesia di Pasar Asean dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Rosfi Rahmania Effendi ... 22 Strategi Pengembangan Agroindustri

Sari Apel “Lestari” (Studi Kasus Di Koperasi Lestari Makmur, Desa

Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang)

Ghea Hapsari Anggraini ... 33 Analisis Keunggulan Komparatif

Usahatani Bawang Merah Di Desa Ponjanan Barat, Kecamatan

Batumarmar, Kabupaten Pamekasan

Maudina Nurdi ... 44 Faktor Kesesuaian Dengan Kebutuhan Petani Dalam Keputusan Adopsi Inovasi Pola Tanam Jajar Legowo

(Studi Kasus Petani Padi Di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban)

Dwi Monalisa Malahayatin ...

56 Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah Di Kabupaten Kediri

(5)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada Mitra Bestari yang diundang oleh redaksi Jurnal JEPA – Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, yaitu :

1. Prof. Dr. Ir. Moch. Muslich Mustadjab, MSc 2. Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS

3. Dr. Ir. Syafrial, MS

(6)

PENGARUH PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI PADA SISTEM PENJUALAN PADI (ORYZA SATIVA L.) DALAM UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN USAHATANI (STUDI KASUS DI DESA WATUGEDE, KECAMATAN SINGOSARI,

KABUPATEN MALANG)

FARMERS DECISION EFFECT ON RICE PLANT (ORYZA SATIVA L.) SALES SYSTEM TOWARD INCREASING AGRICULTURAL INCOME (CASE STUDY IN

WATUGEDE VILLAGE, SINGOSARI SUBDISTRICT, MALANG DISTRICT) Dewi Mardia Ulfa 1, Moch. Muslich Mustadjab2*

1Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang 2Dosen Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang

*penulis korespondensi: [email protected]

ABSTRACT

Farmers' income should be increased in various ways and a good strategy of farming systems, up to the sales system. In general, this study aimed to analyze the "extent to which the decision of farmers to choose how sales affect rice farming income level". The study was conducted in the village of Watugede in April-June 2016. The determination of the sample using cluster random sampling is sampling at farmers using tebasan system and farmers who use the system non tebasan. Furthermore, the sample size in each group is the determination of the sample Proportionate Stratified Random Sampling.

Multiple regression analysis, the influence of system sales revenue of rice farming is concluded that the positive effect on the sales system of rice farming income. Suggestions for the government or parties ie should the holding of savings and credit cooperatives or units of capital to farmers so that farmers can borrow money to finance the harvest and post-harvest. Keywords: Sales system, tebasan, tidak tebasan, rice, revenue

ABSTRAK

Pendapatan petani harus lebih ditingkatkan dengan berbagai cara dan strategi baik dari sistem usahatani yang dilakukan sampai dengan sistem penjualan. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis “Sejauh mana keputusan petani memilih cara penjualan berpengaruh pada tingkat pendapatan usahatani padi”. Penelitian dilakukan di Desa Watugede pada bulan April-Juni 2016. Penentuan besarnya sampel menggunakan Cluster Random

Sampling yaitu pengambilan sampel pada petani yang menggunakan sistem tebasan dan petani

yang menggunakan sistem tidak tebasan. Selanjutnya besarnya sampel pada masing-masing kelompok dilakukan penentuan sampel secara Proportionate Stratified Random Sampling.

metode analisis regresi berganda, pengaruh antara sistem penjualan dengan pendapatan usahatani padi diperoleh kesimpulan bahwa sistem penjualan berpengaruh positif terhadap pendapatan usahatani padi. Saran untuk pemerintah atau pihak terkait yaitu sebaiknya diadakannya koperasi simpan pinjam atau unit permodalan kepada petani sehingga petani dapat meminjam modal untuk pembiayaan panen dan pasca panen.

(7)

I. PENDAHULUAN

Sektor pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Salah satu komoditas tanaman pangan di Indonesia adalah padi yang hasil produksinya menjadi bahan makanan pokok. Padi merupakan tanaman pertanian dan merupakan tanaman utama dunia. Produksi tanaman padi di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Produksi padi di Indonesia dari tahun 2011 sampai tahun 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 5,85 persen pertahun, dan luas panen dalam satuan hektar juga meningkat sebesar 2,79 persen pertahun (BPS, 2015).

Tingkat kesejahteraan petani sering dikaitkan dengan keadaan usahatani yang dicerminkan oleh tingkat pendapatan petani. Pendapatan petani harus lebih ditingkatkan dengan berbagai cara dan strategi baik dari sistem usahatani yang dilakukan sampai dengan sistem penjualan. Di lokasi penelitian di Desa Watugede telah ditemukan praktek jual beli secara tebasan dalam sistem penjualan padi. Tebasan adalah suatu cara penjualan hasil suatu jenis produk pertanian sebelum produk tersebut dipanen, di mana produk tersebut hasilnya sudah siap dipanen. Pada sistem tebasan biasanya transaksi jual beli sekitar satu minggu sebelum panen, petani bebas memilih kepada siapa komoditinya akan ditebaskan, serta bebas pula untuk tidak menebaskan hasil produksi pertaniannya (Windia, et al., 1988).

Dengan adanya sistem tebasan yang telah diterapkan muncul persepsi sisi positif dan juga sisi negatif. Sisi positif dari sistem penjualan dengan menggunakan tebasan yaitu petani tidak perlu mengeluarkan biaya panen, biaya tenaga kerja, dan juga petani mendapatkan hasil produksinya dalam bentuk uang secara langsung. Sedangkan untuk sisi negatifnya petani tidak mengetahui berapa hasil produksi, keuntungan yang diterima dan harga yang dipatok oleh tengkulak. Dalam sistem tebasan tersebut sebenarnya petani banyak mengalami kerugian dan pendapatan menurun karena terkadang harga yang dipatok oleh tengkulak dibawah harga pasar. Meskipun sistem tebasan tersebut dapat dikatakan merugikan tetapi petani di Desa Watugede masih melakukan sistem tebasan karena sudah menjadi tradisi dan juga petani tidak perlu mengeluarkan biaya panen.

Penelitian terkait hal tersebut pernah dilakukan oleh Dewi, R.K dan Sudiartini (1999) tentang faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani dalam sistem penjualan sayuran memiliki tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani dan juga perbedaan pendapatan petani dalam sistem penjualan yang dilakukan. Penelitian ini akan dilakukan analisis mengenai pengaruh pengambilan keputusan petani pada sistem penjualan padi dalam upaya peningkatan pendapatan usahatani padi yang dilakukan di Desa Watugede serta faktor-faktor yang mempangaruhi pengambilan keputusan petani dalam sistem penjulan padi.

Berdasarkan uraian berikut diperlukan kajian mengenai pengaruh pengambilan keputusan petani pada sistem penjualan padi dengan tebasan dan juga tidak tebasan untuk memperoleh masukan dalam upaya peningkatan pendapat usahatani padi di Desa Watugede agar dapat mensukseskan swasembada pangan yang dicanangkan oleh pemerintah. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan sistem penjualan padi yang berlaku di daerah penelitian, (2) Menganalisis tingkat pendapatan usahatani padi dengan sistem penjualan tebasan dan bukan tebasan di daerah penelitian, (3) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam memilih sistem penjualan padi di daerah penelitian, dan (4) Menganalisis pengaruh pengambilan keputusan petani dalam memilih sistem penjualan padi terhadap pendapatan usahatani.

(8)

II. METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Penetuan lokasi daerah penelitian tersebut dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa Desa Watugede yang berada di Kecamatan Singosari merupakan salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Malang.

Metode pengambilan sampel untuk penelitian ini menggunakan Cluster Random

Sampling yaitu kelompok petani yang melakukan sistem tebasan dan petani yang melakukan

sistem tidak tebasan. Selanjutnya besarnya sampel pada masing-masing kelompok dilakukan secara Proportionate Stratified Random Sampling, yaitu pengambilan sampel dari suatu populasi yang telah terbagi menjadi beberapa lapisan (strata) luas penguasaan lahan yaitu luas lahan sempit, sedang dan luas. Kemudian penentuan besarnya sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Parel, et al (1973)

n = ukuran sample minimum N = jumlah populasi

d = maksimum kesalahan yang ditoleransi sebesar 10% Z = nilai ditingkat kepercayaan tertentu 90%

= nilai varian populasi

Selanjutnya untuk mengetahui varians populasi dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Dimana :

X = luas lahan masing-masing populasi μ = rata-rata lahan masing-masing populasi i = anggota sampel.

Untuk menjawab tujuan pertama digunakan analisis deskriptif untuk mengetahui sistem penjualan yang berlaku di daerah penelitian. Tujuan kedua yaitu analisis tingkat pendapatan dengan membandingkan pendapatan petani yang menggunakan sistem tebasan dan petani yang menggunakan sistem tidak tebasan dengan menggunakan analisis beda rata-rata atau Uji T. Tujuan ketiga yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dengan menggunakan analisis regresi logistik dengan model sebagai berikut:

Yi = β0 + β1 X1 + β2 X2 +β3 X3 +β4 X4 +β5 X5 +β6 X6+ e

Dan tujuan keempat untuk melihat pengaruh sistem penjualan terhadap pendapatan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan model sebagai berikut:

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan 1: Mendeskripsikan Sistem Penjualan yang Berlaku di Desa Watugede

Terdapat dua sistem penjualan yang sering diterapkan di Daerah Penelitian diantaranya yaitu tebasan dan tidak tebasan.

(9)

Tabel 1. Distribusi sampel petani tebasan dan tidak tebasan Sistem

Penjualan

Penelitian Terdahulu Desa Watugede Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) Tebasan 44 68,75% 29 72,50% Tidak Tebasan 20 31,25% 11 27,50% Jumlah 64 100% 40 100%

Tabel 1 menunjukkan bahwa sistem penjualan padi di Desa Watugede sebagian besar dilakukan dengan sistem penjualan secara tebasan. Sistem tebasan sering dilakukan di Desa Watugede karena menurut petani sistem tebasan lebih praktis dan cepat mendapatkan uang. Menurut kondisi di lapang sistem tebasan lebih banyak diterapkan oleh petani yang luas kepenguasaan lahan kecil dikarenakan petani yang luas kepenguasaan lahan kecil mempunyai pengahasilan yang minim sehingga lebih memilih sistem penjualan tebasan karena keterbatasan modal dalam pembiayaan panen dan pasca panen. Sistem penjualan di daerah penelitian hampir sama dengan sistem penjualan di beberapa daerah pada umumnya. Sistem tebasan yaitu penjualan padi ketika sudah mendekati panen dan dijual secara langsung atau keseluruhan pada lahan sawah yang dimilik petani dengan tengkulak penebas. Sedangkan sistem tidak tebasan adalah penjualan padi yang dilakukan secara manual oleh petani tanpa adanya tengkulak penebas. Sistem tebasan lebih banyak dipilih oleh petani di daerah penelitian dengan persentase sebesar 72,5%, hal tersebut dikarenakan sistem tebasan lebih rendah resiko dan juga cepat mendapatkan keuntungan karena hasil usahatani secara langsung ditebaskan dalam bentuk gabah dan petani tidak mengeluarkan biaya panen. Sedangkankan untuk sistem tidak tebasan jarang dilakukan dengan prosentasae sebesar 27,5%, dikarenakan beberapa alasan antara lain yaitu hasil produksi untuk konsumsi, hasil usahatani dapat dijual dalam bentuk gabah ataupun beras.

Tujuan 2: Analisis Tingkat Pendapatan Usahatani Padi

Secara statistik tidak ada perbedaan antara pendapatan petani yang menggunakan sistem tebasan dan juga petani yang tidak menggunakan sistem tebasan meski secara nyata keduanya memiliki perbedaan

Tabel 2. Cash Flow Usahatani Padi

Rincian Tebasan Bukan tebasan Keterangan

Produksi 47 52 Harga 430 460 Penerimaan 20.047.426 24.087.454 Biaya Tetap Pajak 130 130 Irigasi 180 180 Alsintan 3.115.959 3.058.763

Total Biaya Tetap (TFC) 3.425.959 3.368.763

Biaya Variabel

Benih 253.729 268.283

Obat-obatan 229.222 127.834

Pupuk 1.106.463 1.076.850

Tenaga Kerja 3.032.685 3.889.091

(10)

Total Biaya (TC) 8.048.058 8.730.821

Pendapatan 12.740.173 16.129.360 Berbeda nyata

Fhitung = 0,059 Sig F = 0,810 thitung = 2,123 ttabel = 2,024 pada df 38 (α=0,025) Sig (2-tail) = 0,040

Sumber: Hasil Olahan Primer, 2016

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, diperoleh rata-rata pendapatan petani yang melakukan sistem tebasan sebesar Rp. 12.740.173,-. Sedangkan pendapatan petani yang tidak melakukan sistem tebasan sebesar 16.129.360. pendapat petani yang menggunanakan sistem tebasan lebih rendah daripada petani yang tidak menggunakan sistem tebasan. Adanya perbedaan pendapatan tersebut dipengaruhi oleh harga output pada sistem tebasan sebagian besar ditentukan oleh tengkulak sehingga harga biasanya lebih rendah daripada harga dipasaran dan juga terdapat perbedaan dalam biaya yang digunakan, biaya panen pada sistem tebasan dan bukan tebasan lebih tinggi pada sistem bukan tebasan karena biaya panen ditanggung oleh petani sedangkan untuk biaya panen sistem ttebasan ditanggung oleh tengkulak penebas. Secara statistik terdapat perbedaan nyata antara pendapatan petani yang melakukan sistem tebasan dan petani yang tidak melakukan sistem tebasan. Diperoleh nilai t hitung sebesar 2,123 (dengan nilai t tabel pada α=0,025 dan df 38 adalah 2,024) t hitung >t tabelterima H1 yang berarti kedua komponen tersebut terdapat perbedaan nyata

Tujuan 3: Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani dalam Sistem Penjualan Padi dengan Tebasan dan Tidak Tebasan.

Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam sistem penjualan padi secara positif yaitu variabel umur, tingkat pendidikan, luas lahan, dan juga keaktifan dalam pertemuan kelompok tani.

Tabel 4. Hasil uji regresi logistik faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani pada sistem penjualan padi

Variabel Koefisien SE Wald Sig. Exp(B)

Umur 0.294** .178 2.746 0.097 1.342

Tingkat pendidikan 1.671 1.025 2.655 0.103 5.317

Luas kepenguasaan lahan 13.857** 8.990 2.927 0.087 1.042

Jumlah Tanggungan Keluarga -0.180 .584 .095 0.758 0.835

Pendapatan -0.865** .480 3.244 0.072 0.421

Frekuensi kehadiran poktan 3.264* 1.648 3.926 0.048 26.161

Konstanta -19.610 11.134 3.102 0.078 .000

Negelkerke R Square Chi-Square ( χ2) X2

tabel pada df 8 (α = 0,05) Log Likelihood block 0 Log Likelihood block 1

Wald Keterangan: **) nyata pada α 0,10 = 0.821 = 3,841 =15,507 = 54,572 = 47,399 = 3,926

(11)

*) nyara pada α 0,05

Sumber: Hasil Olahan Primer, 2016

Variabel pertemuan dalam kegiatan kelompok tani berpengaruh secara signifikan pada keputusan petani dalam sistem penjualan. Hal tersebut dikarenakan dalam kegiatan kelompok tani petani yang hadir cenderung petani yang menggunakan sistem tebasan karena hasil usahatani dijual ke kelompok tani, sedangkan untuk petani tidak tebasan menjual hasil usahatani ke pedagang atau pengecer.

Tujuan 4: Analisis Pengaruh Sistem Penjualan Padi terhadap Pendapatan Usahatani Tabel 5. Hasil uji pengaruh sistem penjualan terhadap pendapatan usahatani

Sumber: Hasil Olahan Primer, 2016

Sistem penjualan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan usahatani. Hal tersebut dibuktikan dari nilai α > nilai signifikans i yaitu 0,05 >0.000. Pada tabel nilai t hitung > ttabel sehingga tolak H0 (t hitung -4,454< t tabel -2,024) yang artinya system penjualan berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani. Variabel sistem penjualan merupakan variabel dummy dengan nilai 0= sistem penjualan tidak tebasan dan 1 =sistem penjualan tebasan. Nilai koefisien dari variabel sistem penjualan sebesar -6.139E6 yang artinya setiap petani yang melakukan sistem penjualan tebasan maka akan mengurangi pendapat sebesar Rp. 6.139.000.

Hal tersebut dikarenakan pada sistem tebasan harga output hasil usahatani dengan menggunakan sistem penjualan tebasan dipatok oleh tengkulak sehingga petani tidak banyak menerima keuntungan dari hasil usahataninya karena harga yang dipatok tengkulak cenderung lebih murah daripada sistem bukan tebasan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Sistem penjualan yang berlaku di daerah penelitian yaitu system penjualan tebasan an bukan tebasan. Sebagian besar petani melakukan sistem penjualan padi dengan tebasan (72% petani) dikarenakan petani menganggap sistem tebasan lebih praktis dan cepat mendapatkan keuntungan.

Variabel Koefisien t Sig. VIF

L.Kepenguasaan Lahan Tingkat Pendidikan 5.206E6 1.392E6* 0.981 2.802 0.334 0.008 9,730 1,399 Jumlah Produksi 781920.051* 9.680 0.000 9,042

Sistem Penjualan -6.139E6* -4.454 0.000 1,578

Harga Pupuk -12.994* -4.346 0.000 6,912 Harga Obat -15.236 -0.914 0.367 6,793 Konstanta -1.012E6 -0.666 0.510 R2 = 0,928 ttabel = 2,024 Fhit = 71,112 Keterangan: *) nyata pada α 0,05

(12)

2. Rata-rata tingkat pendapatan petani yang melakukan sistem penjualan bukan tebasan lebih besar dibandingkan dengan petani yang melakukan sistem tebasan. Rata-rata pendapatan petani yang menggunakan sistem tebasan sebesar Rp. 12.740.173 dan rata-rata pendapatan petani yang tidak menggunakan sistem tebasan sebesar Rp. 16.129.360.

3. Umur petani, tingkat pendidikan, luas penguasaan lahan dan juga frekuensi kehadiran kelompok tani berpengaruh positif terhadap keputusan petani yang artinya setiap peningkatan pada variable tersebut dapat meningkatkan keputusan petani terhadap sistem penjualan tebasan. Sementara itu, jumlah tanggungan keluarga dan juga pendapatan berepengaruh negatif yang artinya setiap peningkatan jumlah tanggungan keluarga dan juga pendapatan akan mengurangi keputusan petani terhadap sistem penjualan tebasan. Variabel umur, luas kepenguasaan lahan, pendapatan, frekuensi kehadiran kelompok tani berpengaruh pada keputusan petani dalam sistem penjualan. Sedangkan variabel tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga belum dapat memberikan pengaruh.

4. Keputusan petani memilih sistem penjualan tebasan berpengaruh negatif terhadap pendapatan yang artinya pendapatan petani yang melakukan sistem tebasan lebih rendah dibandingkan yang tidak melakukan sistem tebasan.

Saran

Berdasarkan kesimpulan, dirumuskan saran sebagai berikut:

1. Peningkatan pendapatan dapat dilakukan dengan diadakannya koperasi simpan pinjam atau unit permodalan kepada petani sehingga petani dapat meminjam modal untuk pembiayaan panen dan pasca panen.

2. Perlu dilakukan penyuluhan atau sosialisasi mengenai sistem penjualan dengan memberikan informasi harga pasar terbaru agar petani adapat mengetahui dan juga dapat benar-benar mempertimbangkan sistem penjualan yang dipilih.

3. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh variabel-variabel yang belum dapat disimpulkan pengaruhnya pada analisis dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anggarani, Satiti. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani

Padi. Skripsi Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. Universitas

Muhammadiyah Surakarta. Surakarta

Asmara, R., & Suryaningtyas, R. (2011). Analisis Usahatani Manggis Dan Faktor-Faktor

Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Keputusan Petani Memasarkan Hasil Usahatani Manggis Dengan Sistem Ijon. Agricultural Socio-Economics Journal, 11(2), 129.

Dewi, R. K. dan Sudiartini. 1999. Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Pengambilan

Keputusan Petani dalam Sistem Penjualan Padi. Jurnal Jurusan Sosial Ekonomi. FP

Universitas Udayana.Bali.

Prasetyo, A. Dkk. 2013. Studi Komparatif Sistem Penjualan Buah Durian (Durio Zibethinus

Murr) Secara Tebasan dan Tidak Tebasan Di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Surya Agritama. Fakultas Pertanian.

Windia, I W., A. Kusasi, I W. Widyantara, E. Lallo, dan I D. G. Agung, 1988, Dampak Sistem

Tebasan Terhadap Pengamanan Harga Dasar Kualitas Gabahdan Pendapatan Petani di Bali, Dalam Majalah Ilmiah FP Unud, Denpasar, No. 12 Tahun VIII.

(13)

ANALISIS USAHATANI PADI DENGAN INOVASI DAN OPTIMALISASI MIKROORGANISME LOKAL (STUDI PADA DESA PETIYINTUNGGAL

KECAMATAN DUKUN, KABUPATEN GRESIK)

ANALYSIS OF RICE WITH INNOVATION AND OPTIMIZATION OF LOCAL MICROORGANISMS (CASE STUDY PETIYINTUNGGAL VILLAGE, DUKUN

DISTRICT, GRESIK)

Mutiara Novitaria Sipayung1*, Fitria Dina Riana2

1Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang 2Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang

*penulis korespondensi: [email protected]

ABSTRACT

Rice (Oryza sativa) is one of the most important food commodity in Indonesia. But the amount of production still can not meet demand. Agricultural potential in the village Petiyintunggal namely rice crops, corn, green beans, and some types of horticultural crops. Cropping systems of rice used by rice farmers in the village of Petiyintunggal most still use the system of rice cultivation in conventional, so the inputs used in the cultivation process is still much that costs too many objectives of this research are: (1) illustrates the differences in the technology used by farmers farming rice using a microorganism local farmers who do not use local microorganisms in the village Petiyintunggal, District Dukun, Gresik; and (2) to analyze the amount of production, of the cost, acceptance, and the income of farmers whose paddy farming using local microorganisms and farmers who do not use local microorganisms in the village Petiyintunggal, District Dukun, Gresik. The method used is the analysis of farming. The results of the research in the village Petiyintunggal, District Dukun, Gresik regency obtained as follows: (1) The activities undertaken in farming in the village Petiyintunggal, District Dukun, Gresik regency began in November 2015 and March 2016. The purpose of the local microorganisms on paddy rice farming is optimizing natural resources are there to maintain the stability of ecosystems and towards sustainable agriculture. (2) The use of local microorganisms in paddy rice farming provide significant income difference to farmers who do not use local microorganisms ie the difference between the revenue of Rp 4,550,504, -. Income of local farmers using micro-organisms higher in comparison with farmers who do not use local microorganisms.

Keywords: Local microorganisms, conventional, cost, revenue, revenue. ABSTRAK

Padi (Oryza Sativa) merupakan salah satu komoditas pangan yang paling penting di Indonesia. Namun jumlah hasil produksi masih belum dapat mencukupi permintaan yang ada. Potensi pertanian di Desa Petiyintunggal yaitu tanaman padi, jagung, kacang hijau, dan beberapa jenis tanaman hortikultura. Sistem tanam padi yang digunakan oleh petani padi di Desa Petiyintunggal kebanyakan masih mengunakan sistem budidaya padi secara konvensional, sehingga input yang digunakan dalam proses budidaya masih banyak sehingga biaya yang dikeluarkan juga banyak Tujuan penelitian ini adalah: (1) menggambarkan

(14)

perbedaan teknologi yang digunakan petani usahatani padi menggunakan mikroorganisme lokal dengan petani yang tidak menggunakan mikroorganisme lokal di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik; dan (2) Menganalisis jumlah produksi, besar biaya yang dikeluarkan, penerimaan, dan pendapatan petani usahatani padi yang menggunakan mikroorganisme lokal dan petani yang tidak menggunakan mikroorganisme lokal di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis usahatani. Hasil penelitian di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik diperoleh sebagai berikut: (1) Kegiatan usahatani yang dilakukan di di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik dimulai pada November 2015 hingga Maret 2016. Tujuan penggunaan mikroorganisme lokal pada usahatani padi sawah adalah mengoptimalkan sumber daya alam yang ada untuk menjaga kesetabilan ekosistem dan menuju pertanian yang berkelanjutan. (2) Penggunaan mikroorganisme lokal dalam usahatani padi sawah memberikan perbedaan pendapatan yang signifikan dengan petani yang tidak menggunakan mikroorganisme lokal yaitu dengan selisih pendapatan sebesar Rp 4.550.504,-. Pendapatan petani yang menggunakan mikroorganisme lokal lebih tinggi di bandingkan dengan petani yang tidak menggunakan mikroorganisme lokal.

Kata kunci: Mikroorganisme Lokal, konvensional, biaya, penerimaan, pendapatan.

I. PENDAHULUAN

Menurunnya produksi dan rendahnya laju peningkatan produksi pangan di Indonesia antara lain disebabkan oleh: (1) peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan dan terus menurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa; (2) produktivitas tanaman yang rendah dan terus menurun. Berdasarkan kedua faktor tersebut, dapat memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahun ketahun cenderung terus menurun.Untuk mengatasi kedua faktor tersebut maka perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan produksi untuk membangun pertanian (Rakhmad, 2010).

Pertanian Indonesia didominasi oleh pertanian konvensional. Penggunaan input yang sangat besar masih diterapkan. Penggunaan input ini masih bergantung pada penggunaan input buatan yang meliputi pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan dan tidak memerhatikan penggunaan pupuk berimbang sehingga dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak yang besar pada ekologi maupun ekonomi. Oleh karena itu, pada saat ini banyak sistem-sistem alternatif yang muncul untuk mengurangi bahkan menghilangkan dampak negatif dari penggunaan input secara besar-besaran (Reintjes at al, 2003).

Mengatasi masalah kesuburan tanah dapat memanfaatkan limbah organik yang berasal dari lingkungan sekitar karena pada dasarnya apa yang diambil dari tanah maka akan dikembalikan lagi ke tanah. Limbah yang berbahan organik tidak menimbulkan kontribusi negatif terhadap lingkungan (Sugito et al., 1995). Pemanfaatan limbah organik yang ada di sekitar dan di fermetasikan selama beberapa waktu sehingga memiliki kandungan unsur hara mikro dan makro serta mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, dan memacu pertumbuhan tanaman disebut sebagai mikroorganisme lokal (MOL) (Syaifuddin et al., 2009).

Dari paparan di atas, maka penting dilakukan penelitian tentang analisis usahatani padi dengan inovasi dan optimalisasi mikroorganisme lokal pada Kelompok Tani Jedis di Desa Petiyintunggal Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.Penelitian ini dilakukan pada petani Kelompok Tani Jedis di Desa Petiyintunggal Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.Untuk

(15)

responden petani ini menggunakan petani yang mengaplikasikan mikroorganisme lokal pada budidaya padi dan beberapa petani budidaya padi konvensional sebagai pembanding.

II. METODE PENELITIAN

Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive pada petani yang ada di Desa Petiyingtunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik dengan pertimbangan merupakan wilayah yang malakukan program demfarm pengujian teknologi inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal dalam budidaya padi. Penentuan responden pada penelitian Analisis Usahatani Padi Dengan Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik menggunakan cluster sampling karena mengelompokkan anggota Kelompok Tani Jetis menjadi dua kelompok. Dua kelompok yang akan dijadikan responden merupakan petani yang menerapkan mikroorganisme lokal dalam melakukan budidaya padi dan petani yang melakukan budidaya padi dengan menggunakan sistem konvensional.

Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan ngejukan pertanyaan langsung dengan responden. Metode tersebut dilakukan untuk memperoleh data primer yang diperoleh langsung dari sumbernya. Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu:

Analisis Deskriptif

Dalam analisis data kualitatif digunakan metode deskriptif yang mencoba menggambarkan dan menjelaskan secara sistematik dan akurat fakta serta karakteristik keadaan rill yang ada di lapang. Dalam hal ini berkaitan dengan proses penelitian usahatani padi dengan inovasi dan optimalisasi mikroorganisme lokal dan petani padi serta alasan petani usahatani padi dengan inovasi dan optimalisasi mikroorganisme lokal dengan petani konvensional.

Analisis Biaya Usahatani

Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut:

1. Biaya Total (Total cost)

Biaya produksi merupakan total biaya yang sikeluarkan dalam melakukan usahatani. Biaya yang dijumlah merupakan biaya tetap dan biaya variabel. Biaya total dapat dihitung menggunakan rumus: TC = TFC + TVC Dimana: TC : Biaya Total (Rp) TFC : Biaya tetap (Rp) TVC : Biaya variabel (Rp) a. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap adalah biaya yan tidak berkaitan langsung dengan jumlah produksi yang akan dihasilakan dari suatu kegiatan usaha. Biaya tetap terdiri dari sewa lahan, irigasi, penyusutan dan sewa alat pertanian. Besarnya biaya tetap dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

TFC = FC x n E-ISSN: 2598-8174

(16)

Dimana:

TFC : Total biaya tetap FC : Harga biaya tetap

N : Jumlah input biaya tetap (sewa lahan, irigasi, penyusutan dan sewa alat) Untuk menghitung biaya penyusutan digunakan rumus:

Biaya Penyusutan Alat = b. Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya variabel biaya yang berkaitan langsung atau mempengaruhi hasil produksi suatu kegiatan usaha. Biaya variabel terdiri atas pembelian bahan input (berupa benih, pupuk, pestisida, karung, dan bahan bakar) dan upah tenaga kerja. Besarnya biaya variabel dapat dihitung dengan rumus:

VC = Pxi . Xi Dimana:

VC : Biaya variabel (Rp) Pxi : Harga input usahatani (Rp) Xi : Jumlah input usahatani

Total biaya variabel dapat dihitung dengan menggunakan rumus: TVC = ∑VC

Dimana:

TVC : Total biaya variabel (Rp) ∑VC : Jumlah biaya variabel 2. Penerimaan

Penerimaan merutapah total yang diterima petani dari hasil penjualan hasil produksi yang dihasilkan. Besarnya biaya penerimaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

TR = P x Q Dimana:

TR : Total Penerimaan (Rp) P : Harga (Rp)

Q : Jumlah Produksi yang dihasilkan (Kg) 3. Pendapatan

Pendapatan adalah hasil bersih yang diterima oleh petani yang merupakan selih dari penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan. Besar pendapatan dapat dihitung menggnakan rumus:

Π = TR – TC Dimana:

Π : Pendapatan usahatani padi (Rp) TR : Total penerimaan usahatani padi (Rp) TC : Total biaya usahatani padi (Rp) 4. Uji Beda Rata-rata Pendapatan

Uji beda rata-rata dilakukan untuk membedakan secara statistik perbesaan pendapatan petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal dengan petani sistem konvensional. Berikut merupakan urutan pengujian beda rata-rata pada analisis usahatani padi:

(17)

Pada penelitian ini menggunakan taraf kepercayaan sebesar 95% (α = 0,05) yang berarti nilai kebenaran data dari penelitian ini adalah 95% sedangkan kesalahan yang dapat ditolerir adalah sebesar 5%.

b. Melakukan Uji Normalitas

Data hasil wawancara yang tealh ditabulasi dilakukan uji beda rata-rata dengan menggunakan software SPSS 17.0. sebelum melakukan uji t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data tersebut terdistribusi normal atau tidak.

c. Melakukan uji F

Untuk melihat apakah S12 dan S22 berbeda, dilakukan uji F dengan rumus: F hitung =

Dimana:

S12 = ragam produksi usahatanipadi menggunakan mikroorganisme lokal S12 = ragam produksi usahatanipadi konvensional

Dengan kriteria pengujian:

1) Fhit < Ftab : varian dari pendapatan usahatani menggunakan mikroorganisme lokal tidak berbeda nyata atau dianggap sama dengan varian dari pendapatan usahatani padi konvensioanal.

2) Fhit > Ftab : varian dari pendapatan usahatani menggunakan mikroorganisme lokal berbeda nyata atau sama dengan varian dari pendapatan usahatani padi konvensioanal. d. Melakukan uji t

Dalam melakukan uji t, apabila hasil uji F menunjukkan tidak ada beda keragaman, maka t hitung menggunakan rumus berikut:

t =

Kriteria pengujian hipotesis adalah sebaagai berikut:

1) thit > ttab tolak H0, artinya pendapatan usahatani menggunakan mikroorganisme lokal berbeda nyata dengan pendapatan usahatani padi konvensional.

thit < ttab tolak H1, artinya pendapatan usahatani menggunakan mikroorganisme lokal tidak berbeda nyata dengan pendapatan usahatani padi konvensional.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pelaksanaan Budidaya Padi

Inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal dalam budidaya padi sawah merupakan teknologi ramah lingkungan bagi pertanian yang mendukung keberlanjutan secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Tantangan budidaya padi di lahan pengujian teknologi adalah drainase yang buruk dan serangan hama penyakit tanaman. Drainase yang buruk menyebabkan tidak berjalannya reaksi kimia, serta minimnya pori-pori udara yang ada dalam tanah. Kondisi tersebut kurang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petani pada musim tanam ini, serangan hama dan penyakit tanaman di daerah Desa Petiyintunggal dan beberapa desa di sekitarnya mengalami serangan hama dan penyakit tanaman secara besar-besaran. Inilah yang mengakibatkan banyak

(18)

petani mengalami gagal panen dan mengalami banyak kerugian. Akan tetapi petani yang mengguanakan mikroorganisme lokal dapat tertolong karena sudah mengontrol atau meminimalisir terjadinya serangan dengan menggunakan mokroorganisme lokal.

1.1 Pelaksanaan Budidaya Padi Dengan Mikroorganisme Lokal

Tujuan dari Inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal dalam budidaya padi sawah adalah (1) mengenalkan dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam yaitu mikroorganisme lokal dalam meningkatkan dan menjada produktiviras padi yang berorientasi pada pertanian berkelanjutan, (2) meningkatkan kemampuan sumner daya manusia dalam memanajemen sumber daya alam dalam kegiatan usaha tani padi untuk meningkatkan dan menjaga produktivitas padi yang berorientasi pada pertanian berkelanjutan.

Perlakuan yang paling diutamakan adalah pengembalian sisa jerami hasil panen ke ekosistem tanah, penanaman bibit usia muda (7-10 hari setelah semai), tanam bibit dangkal, mengurangi aktivitas penggenangan, pola tanam Jajar Legowo, penggunaan pupuk yang berimbang, dan optimalisasi fungsi agens hayati (Dekomposer, PGPR, Fungisida, Bio-Insektisida).

1.2 Pelaksanaan Budidaya Padi Dengan Sistem Konvensional

Sistem tanam padi konvensional merupakan sistem budidaya tanam padi yang masih menggunakan atau memberikan input yang cukup besar. Penerapan budidaya konvensional (kontrol atau petani yang tidak menggunakan mikroorganisme lokal dalam proses budidaya) adalah sebagai berikut: (1) Jerami dibakar atau diangkut keluar lapangan; (2) Penanaman bibit, pada umumnya petani menanam bibit padi yang sudah relatif tua, yaitu sekitar 25-30 hari setelah benih padi disemai; (3) Pemupukan dengan dosis pupuk yang digunakan berdasarkan kebiasaan petani; (4) Monitoring dilakukan namun tidak secara rutin; (5) Pengendalian OPT dikendalikan terjadwal dengan mengandalkan produk pestisida kimia sebagai solusi utama.

2. Analisis Usahatani

2.1 Penerimaan Usahatani Petani

a. Penerimaan Usahatani Petani Yang Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal

Tabel 1. Penerimaan Usahatani Padi Yang Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Hasil Panen (Kg) Harga Jual (Rp) Penerimaan (Rp) 1 4.210,53 4.500,00 18.947.368,42 2 3.666,67 4.500,00 16.500.000,00 3 4.133,33 4.500,00 18.600.000,00 4 6.388,89 4.500,00 28.750.000,00 5 5.133,33 4.500,00 23.100.000,00 6 5.040,00 4.500,00 22.680.000,00 7 3.055,56 4.500,00 13.750.000,00 8 4.500,00 4.500,00 20.250.000,00 9 5.866,67 4.500,00 26.400.000,00 10 7.000,00 4.500,00 31.500.000,00

(19)

11 4.000,00 4.500,00 18.000.000,00 12 5.866,67 4.500,00 26.400.000,00 13 3.733,33 4.500,00 16.800.000,00 14 4.800,00 4.500,00 21.600.000,00 15 5.333,33 4.700,00 25.066.666,67 16 4.400,00 4.500,00 19.800.000,00 17 7.666,67 4.500,00 34.500.000,00 18 6.820,00 4.500,00 30.690.000,00 19 3.200,00 4.500,00 14.400.000,00 Jumlah 427.734.03,.00 Rata-rata 22.512.318,00

Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa hasil produksi produksi padi petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal mempunyai jumlah penerimaan sebesar Rp 427.734.035,00. Rata-rata penerimaan yang diperoleh oleh petani yang mengikuti adalah sebesar Rp 22.512.318,00.

b. Penerimaan Usahatani Petani Yang Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal

Tabel 2. Penerimaan Usahatani Padi Yang Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Hasil Panen (Kg) Harga Jual (Rp) Penerimaan (Rp) 1 1.833,33 4.500,00 8.250.000,00 2 4.111,11 4.500,00 18.500.000,00 3 5.500,00 4.500,00 24.750.000,00 4 4.000,00 4.500,00 18.000.000,00 5 6.547,62 4.500,00 29.464.285,71 6 5.000,00 4.500,00 22.500.000,00 7 5.555,56 4.500,00 25.000.000,00 8 5.333,33 4.500,00 24.000.000,00 9 2.750,00 4.500,00 12.375.000,00 10 1.666,67 4.500,00 7.500.000,00 11 2.133,33 4.500,00 9.600.000,00 12 4.033,33 4.500,00 18.150.000,00 13 3.166,67 4.500,00 14.250.000,00 14 3.208,33 4.500,00 14.437.500,00 15 1.333,33 4.500,00 6.000.000,00 16 4.000,00 4.500,00 18.000.000,00 17 2.750,00 4.500,00 12.375.000,00 18 6.233,33 4.500,00 28.050.000,00 19 2.750,00 4.500,00 12.375.000,00 20 3.911,11 4.500,00 17.600.000,00 21 3.333,33 4.500,00 15.000.000,00

(20)

22 3.300,00 4.600,00 15.180.000,00 23 5.133,33 4.500,00 23.100.000,00 24 5.280,00 4.500,00 23.760.000,00 25 3.750,00 4.500,00 16.875.000,00 26 2.383,33 4.500,00 10.725.000,00 27 6.000,00 4.500,00 27.000.000,00 28 3.466,67 4.500,00 15.600.000,00 29 4.125,00 4.500,00 18.562.500,00 30 2.640,00 4.500,00 11.880.000,00 31 4.766,67 4.500,00 21.450.000,00 Jumlah 540.309.285,71 Rata-rata 17.429.331,80 Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan table 2 dapat diketahui bahwa dari 31 orang petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal mempunyai jumlah penerimaan sebesar Rp 540.309.285,71. Rata-rata penerimaan yang diperoleh oleh petani yang mengikuti adalah sebesar Rp 17.429.331,80.

c. Rata-rata Penerimaan

Tabel 3. Rata-Rata Penerimaan Usahatani PadiYang Mengikuti Dan Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Keterangan

Petani yang Mengikuti

(Rp)

Petani yang tidak Mengikuti (Rp) Selisih (Rp) 1 Produksi (Kg/Ha) 4.990 3.871 1.119 2 Harga (Rp/Kg) 4.511 4.503 7 Penerimaan (Rp/Ha) 22.508.706 17.431.173 5.077.533 Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa hasil produksi rata-rata produksi padi antara petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal dengan petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal mempunyai perbedaan yang besar. Penerimaan yang diperoleh oleh petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal lebih tinggi Rp 22.508.706, sedangkan penerimaan pada petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal Rp 17.431.173 dengan selisih Rp 5.077.533.

2.2 Biaya Usahatani Petani

a. Biaya Usahatani Petani Yang Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal

Tabel 4. Biaya Usahatani Padi Yang Mengikuti Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Biaya Tetap (Rp) Biaya Variabel (Rp) Biaya Total (Rp)

(21)

2 3.307.899,01 14.860.833,33 18.168.732,35 3 3.319.151,22 10.166.666,67 13.485.817,88 4 5.169.874,32 17.452.777,78 22.622.652,10 5 5.239.997,78 12.236.666,67 17.476.664,44 6 6.504.442,22 13.715.000,00 20.219.442,22 7 4.328.557,45 7.115.555,56 11.444.113,00 8 6.900.442,11 6.349.000,00 13.249.442,11 9 7.051.757,04 9.650.000,00 16.701.757,04 10 4.599.374,68 11.755.333,33 16.354.708,02 11 6.214.177,67 4.200.666,67 10.414.844,34 12 3.717.819,13 18.853.777,78 22.571.596,91 13 4.158.458,20 7.716.111,11 11.874.569,31 14 3.882.742,88 21.030.000,00 24.912.742,88 15 5.001.111,11 14.535.555,56 19.536.666,67 16 7.370.370,37 9.426.666,67 16.797.037,04 17 3.651.680,32 17.716.666,67 21.368.346,98 18 7.276.386,56 4.492.250,00 11.768.636,56 19 4.921.973,09 15.284.444,44 20.206.417,53 Jumlah 95.539.282,07 227.869.024,85 323.408.307,00 Rata-rata 5.028.383,27 11.993.106,57 17.021.490,00 Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan data yang ada pada tabel 4 diketahui bahwa biaya total pada biaya yang dikeluarkan oleh petani memiliki jumlah sebesar Rp 323.408.307,00 untuk lahan seluas 19 Ha. Rata-rata biaya usahatani padi petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal di Desa Petiyintunggal adalah Rp 17.021.490,00.

b. Biaya Usahatani Petani Yang Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal

Tabel 5. Biaya Usahatani Padi Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016 No Biaya Tetap (Rp) Biaya Variabel (Rp) Biaya Total (Rp) 1 3.783.775,56 18.597.000,00 22.380.775,56 2 4.265.726,17 15.496.000,00 19.761.726,17 3 3.568.066,15 15.330.000,00 18.898.066,15 4 6.980.679,26 10.365.866,67 17.346.545,93 5 5.041.003,07 6.546.428,57 11.587.431,64 6 3.384.053,33 16.290.000,00 19.674.053,33 7 3.466.854,38 9.512.222,22 12.979.076,60 8 3.642.596,07 12.993.333,33 16.635.929,40 9 4.323.454,57 6.461.250,00 10.784.704,57 10 5.234.071,85 5.830.000,00 11.064.071,85 11 4.926.455,90 8.158.000,00 13.084.455,90 12 3.346.958,10 11.167.000,00 14.513.958,10 13 3.667.078,08 14.736.666,67 18.403.744,74

(22)

14 3.329.238,52 14.198.333,33 17.527.571,85 15 3.754.864,69 34.893.333,33 38.648.198,02 16 3.150.923,70 9.009.333,33 12.160.257,04 17 7.212.387,59 5.342.500,00 12.554.887,59 18 6.166.990,37 12.706.333,33 18.873.323,70 19 3.308.034,81 8.844.166,67 12.152.201,48 20 5.061.970,92 13.978.888,89 19.040.859,80 21 2.763.450,29 13.175.000,00 15.938.450,29 22 4.193.840,37 6.044.444,44 10.238.284,81 23 3.437.331,11 15.331.000,00 18.768.331,11 24 5.385.368,41 8.905.333,33 14.290.701,74 25 3.172.025,44 7.552.250,00 10.724.275,44 26 4.260.923,70 23.662.166,67 27.923.090,37 27 5.168.708,78 5.226.250,00 10.394.958,78 28 3.514.101,48 12.879.666,67 16.393.768,15 29 4.548.320,32 6.661.500,00 11.209.820,32 30 4.833.501,02 13.222.666,67 18.056.167,68 31 3.464.548,04 15.685.000,00 19.149.548,04 Jumlah 132.357.302,00 378.801.934,00 511.159.236,00 Rata-rata 4.269.590,00 12.219.417,00 16.489.008,00 Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan data yang ada pada tabel 5 diketahui bahwa biaya total pada biaya yang dikeluarkan oleh petani memiliki jumlah sebesar Rp 511.159.236,00. Rata-rata biaya usahatani padi dari 31 petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal adalah Rp 16.489.008,00.

c. Rata-rata Biaya

Tabel 6. Rata-Rata Biaya Usahatani PadiYang Mengikuti Dan Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Keterangan

Petani yang Mengikuti

(Rp)

Petani yang tidak Mengikuti (Rp) Selisih (Rp) 1 Biaya Tetap 5.028.383 4.269.590 758.793 2 Biaya Variabel 11.993.107 12.219.417 226.311

Total Biaya (Rp/Ha) 17.021.490 16.489.008 532.482 Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan data yang ada pada tabel 6 diketahui bahwa biaya total pada rata-raa biaya yang dikeluarkan oleh petani responden memiliki jumlah yang berbeda. Total biaya usahatani padi petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal adalah Rp 17.021.490,-, sedangkan petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal adalah Rp 16.489.008,- dengan selisih biaya Rp 532.482,-.

2.3 Pendapatan Usahatani

a. Pendapatan Usahatani Petani Yang Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal

(23)

Tabel 7. Pendapatan Usahatani Padi Yang Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Penerimaan (Rp) Biaya Total (Rp) Pendapatan (Rp) 1 18.947.368,42 14.234.119,56 4.713.248,86 2 16.500.000,00 18.168.732,35 -1.668.732,35 3 18.600.000,00 13.485.817,88 5.114.182,12 4 28.750.000,00 22.622.652,10 6.127.347,90 5 23.100.000,00 17.476.664,44 5.623.335,56 6 22.680.000,00 20.219.442,22 2.460.557,78 7 13.750.000,00 11.444.113,00 2.305.887,00 8 20.250.000,00 13.249.442,11 7.000.557,89 9 26.400.000,00 16.701.757,04 9.698.242,96 10 31.500.000,00 16.354.708,02 15.145.291,98 11 18.000.000,00 10.414.844,34 7.585.155,66 12 26.400.000,00 22.571.596,91 3.828.403,09 13 16.800.000,00 11.874.569,31 4.925.430,69 14 21.600.000,00 24.912.742,88 -3.312.742,88 15 25.066.666,67 19.536.666,67 5.530.000,00 16 19.800.000,00 16.797.037,04 3.002.962,96 17 34.500.000,00 21.368.346,98 13.131.653,02 18 30.690.000,00 11.768.636,56 18.921.363,44 19 14.400.000,00 20.206.417,53 - 5.806.417,53 Jumlah 104.325.728,00 Rata-rata 5.490.828,00

Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan tabel 7, diketahui barwa rata-rata pendapatan usahatani padi petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal sebesar Rp 5.490.828,00. Jumlah total pendapatan yang diperoleh oleh 19 petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal adalah sebesar Rp 104.325.728,00.

b. Pendapatan Usahatani Petani Yang Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal

Tabel 8. Pendapatan Usahatani Padi Yang Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

No Penerimaan (Rp) Biaya Total (Rp) Pendapatan (Rp) 1 8.250.000,00 22.380.775,56 -14.130.775,56 2 18.500.000,00 19.761.726,17 -1.261.726,17 3 24.750.000,00 18.898.066,15 5.851.933,85 4 18.000.000,00 17.346.545,93 653.454,07 5 29.464.285,71 11.587.431,64 17.876.854,07 6 22.500.000,00 19.674.053,33 2.825.946,67 7 25.000.000,00 12.979.076,60 12.020.923,40

(24)

8 24.000.000,00 16.635.929,40 7.364.070,60 9 12.375.000,00 10.784.704,57 1.590.295,43 10 7.500.000,00 11.064.071,85 -3.564.071,85 11 9.600.000,00 13.084.455,90 -3.484.455,90 12 18.150.000,00 14.513.958,10 3.636.041,90 13 14.250.000,00 18.403.744,74 -4.153.744,74 14 14.437.500,00 17.527.571,85 -3.090.071,85 15 6.000.000,00 38.648.198,02 -32.648.198,02 16 18.000.000,00 12.160.257,04 5.839.742,96 17 12.375.000,00 12.554.887,59 -179.887,59 18 28.050.000,00 18.873.323,70 9.176.676,30 19 12.375.000,00 12.152.201,48 222.798,52 20 17.600.000,00 19.040.859,80 -1.440.859,80 21 15.000.000,00 15.938.450,29 -938.450,29 22 15.180.000,00 10.238.284,81 4.941.715,19 23 23.100.000,00 18.768.331,11 4.331.668,89 24 23.760.000,00 14.290.701,74 9.469.298,26 25 16.875.000,00 10.724.275,44 6.150.724,56 26 10.725.000,00 27.923.090,37 -17.198.090,3) 27 27.000.000,00 10.394.958,78 16.605.041,22 28 15.600.000,00 16.393.768,15 -793.768,15 29 18.562.500,00 11.209.820,32 7.352.679,68 30 11.880.000,00 18.056.167,68 -6.176.167,68 31 21.450.000,00 19.149.548,04 2.300.451,96 Jumlah 29.150.049,54 Rata-rata 940.324,18

Sumber: Data primer diolah, 2016

Berdasarkan tabel 8, diketahui barwa rata-rata pendapatan usahatani padi petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal sebesar Rp 940.324,18. Jumlah total pendapatan yang diperoleh oleh 31 petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal adalah sebesar Rp 29.150.049,54. c. Rata-rata Pendapatan

Tabel 9. Rata-Rata Pendapatan Usahatani Padi Yang Mengikuti Dan Tidak Mengikuti Inovasi Dan Optimalisasi Penggunaan Mikroorganisme LokalDi Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik Tahun 2016

Petani Yang Mengikuti Petani Yang Tidak Mengikuti Keterangan Total (Rp) Keterangan Total (Rp)

Penerimaan 22.512.318 Penerimaan 17.429.332

Pengeluaran 17.021.490 Pengeluaran 16.489.008

Biaya Tetap 5.028.383 Biaya Tetap 4.269.590

Biaya Variabel 11.993.107 Biaya Variabel 12.219.417 Pendapatan 5.490.828 Pendapatan 940.324 Sumber: Data primer diolah, 2016

(25)

Berdasarkan tabel 9, diketahui barwa pendapatan usahatani padi petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal jauh lebih besar dibandingkan petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal. Pendapatan yang diperoleh oleh petani yang mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal adalah sebesar Rp 5.490.828,-, sedangkan petani yang tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal sebesar Rp 940,324,-. Selisih pendapatan antara petani yang mengikuti dan petani yang tidak mengikuti adalah sebesar Rp 4.550.504,-.

2.4 Uji Beda Rata-rata

Berdasarkan output yang diperoleh dari hasil pengujian menggunakan software SPSS 17.0 for windowsuntuk uji beda rata-rata diperoleh nilai F hitung adalah sebesar 1,901 dengan nilai probabilitas 0,174 dimana nilainya lebih besar dari α = 0,05, maka didapatkan kesimpulan bahwa pendapatan usahatani petani yang mengikuti dan tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal memiliki variansi yang sama. Maka, analisis uji beda rata-rata (uji t) harus mengunakan asumsi equal variances assumed. Berdasarkan output SPSS diketahui bahwa nilai t pada equal variances assumedadalah 1,836. T hitung lebih besar dari t tabel yaitu 1,677. Hal ini menunjukkan bahwa menerima H1 dan menolak H0 yang berarti perbedaan pendapatan usahatani petani yang mengikuti dan tidak mengikuti inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal memiliki perbedaan yang nyata.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian analisis usahatani padi di Desa Petiyintunggal, Kecamatan dukun, Kabupaten Gresik dapat dismpulkan bahwa:

1. Penerapan mikroorganisme lokal menggunakan berbagai teknologi yang baik bagi ekosistem. Pengembalian sisa hasil panen (jerami) ke ekosistem tanah, penanaman bibit usia muda (7-10 hari setelah semai), tanam bibit dangkal, mengurangi aktivitas penggenangan, pola tanam Jajar Legowo, penggunaan pupuk yang berimbang, dan optimalisasi fungsi agens hayati (Dekomposer, PGPR, Bio-Fungisida, Bio-Insektisida) memberikan keuntungan bagi ekosistem. Sementara itu, budidaya padi dengan sistem konvensional menenerapkan sistem pembakaran sisa hasil panen (jerami) di ekosistem tanah sehingga beberapa makhluk mikro yang ada di tanah jadi mati karena terbakar, bibit langsung disemai, penanaman dengan cara manual, dan dosis pemberian pupuk dan obat-obat tanaman yang kurang memperhatikan dosis pemakaian sehingga dapat merusak ekosistem yang ada.

2. Tujuan penerapan inovasi dan optimalisasi penggunaan mikroorganisme lokal dalam budidaya padi sawah adalah mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk menjaga kestabilan ekosistem dan menuju pertanian yang berkelanjutan. Jika perlakuan ini dilakukan secara terus menerus dan melakukan pengurangan input dengan bahan kimia secara bertahap maka kesimbangan ekosistem akan terjaga dan pertanian akan berkelanjutan. Kegiatan usahatani padi dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal di Desa Petiyintunggal memberikan hasil yang baik.

3. Penggunaan mikroorganisme lokal dalam budidaya padi di Kelompok Tani Jetis Desa Petiyintunggal memberikan perbedaan pendapatan yang signifikan diantara petani yang mengikuti penggunaan mikroorganisme lokal dan petani konvensional. Pendapatan petani

(26)

yang mengaplikasikan mikroorganisme lokal dengan petani konvensional memiliki selisih sebesar Rp 4.550.504,-

Saran

Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi masukan dalam menjalankan usahatani antara lain:

1. Agroindustri Untuk petani yang menggunakan mikroorganisme lokal dalam melakukan budidaya padi sawah sebaiknya terus melnjutkan penggunaan mikroorganisme lokal sehingga semakin lama dapat menekan penggunaan input yang berlebih terutama input akan bahan kimiawi yang dapat merusak ekosistem. Penurunan input yang digunakan juga akan menurunkan biaya yang dikeluarkan dalam melakukan kegiatan usahatani. 2. Untuk petani dengan sistem budidaya padi secara konvensional sebaiknya mulai

menerapkan atau memanfaatkan mikroorganisme lokal dalam kegiatan budidaya padi. Dengan mengaplikasikan mikroorganisme lokal dapat memberikan banyak manfaat bagi petani, misalnya hasil produksi yang meningkat sehingga pendapatan petani juga meningkat dengan biaya yang dikeluarkan tidak jauh berbeda dengan tidak menggunakan mikroorganisme lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Fahriyah, F., & Salma, M. N. D. (2012). Analisis Efisiensi Biaya Dan Keuntungan Pada

Usahatani Jagung (Zea Mays) Di Desa Kramat, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Madura. Agricultural Socio-Economics Journal, 12(3), 171.

Rakhmad, P. 2010. Tahun 2010, Indonesia Tingkatkan Produksi Beras.

http://www.beritajatim.com. Diakses tanggal 12 Januari 2016.

Reintjes, Coen, Bertus H. dan Ann W. 2003. Pertanian Masa Depan – Pengantar Untuk

Pertanian Berkelanutan Dengan Input Luar Rendah. Kanisius. Jakarta.

Sugito, Y., Y. Nuraini dan E. Nihayati. 1995. Sistem Pertanian Organik. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

Syaifuddin, Achmad, Leny M. dan Endang. 2009. Pemberdayaan Mikroorganisme Lokal

Sebagai Upaya Peningkatan Kemandirian Petani.

http://le3n1.blog.uns.ac.id/files/2010/05/pemberdayaan-mikroorganisme-lokal-sebagai-upaya-peningkatan-kemandirian-petani.pdf..

(27)

ANALISIS DAYA SAING EKSPOR BIJI KOPI INDONESIA DI PASAR ASEAN DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) ANALYSIS OF INDONESIAN COFFEE BEAN EXPORT COMPETITIVENESS IN

ASEAN MARKET IN FACING ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) Rosfi Rahmania Effendi1*, Suhartini2

1Mahasiswa Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang 2Dosen Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang

*penulis korespondensi: [email protected]

ABSTRACT

The coffee beans is one of Indonesian agricultural products which have export potential in the ASEAN market in facing ASEAN Economic Community (AEC). This required level of coffee bean competitiveness are increasingly free competition and tight in the ASEAN market. The purpose of this study, are: 1) Analyze sepesialisasi trade coffee beans Indonesia in the ASEAN market in the face of the MEA; 2) Analyze the comparative competitiveness of Indonesian coffee beans in the ASEAN market in the face of the MEA; 3) Analyze the competitiveness on Indonesian coffee beans in the ASEAN market in the face of the MEA. Research methods using purposive method and method of data analysis using descriptive analysis, while the method of processing the data using analysis ISP, RCTA, and XCI. Indonesian coffee beans are analyzed compared with Vietnam and Thailand. The results of this study is the average value of the ISP in the next 20 years (1994-2013) Indonesia (0.68) and Thailand (0.19) tended as an exporter in the growth stage, while Vietnam (0.98) are in the stage of maturity , In 1994-2013 the average value RCTA Indonesian coffee beans (1.64) and Vietnam (7.09) which has the comparative competitiveness. In contrast to Thailand just -6.37 who do not have a comparative competitiveness. The average value of XCI Indonesia (1.16), Vietnam (1.06), Thailand (1.48). It is that these three countries have competitiveness on the coffee beans. Suggestion of this research is to improve the quality of Indonesian coffee beans, but still has a selling price which is equivalent to exporting countries other coffee beans and coffee cultivated in accordance Good Agricultural Product (GAP). In addition, Indonesia's coffee industry must also support domestic coffee farmers to prioritize the use of local coffee beans.

Keywords: Coffee beans, AEC, trade specialization, comparative advantage, and competitive

advantage

ABSTRAK

Biji kopi merupakan salah satu produk pertanian Indonesia yang memiliki potensi ekspor di pasar ASEAN dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal ini dibutuhkan tingkat daya saing biji kopi dalam persaingan yang semakin bebas dan ketat di pasar ASEAN. Tujuan penelitian ini, adalah: 1) Menganalisis spesialisasi perdagangan biji kopi Indonesia di pasar ASEAN dalam menghadapi MEA, 2) Menganalisis daya saing komparatif biji kopi Indonesia di pasar ASEAN dalam menghadapi MEA, 3) Menganalisis daya saing kompetitif biji kopi Indonesia di pasar ASEAN dalam menghadapi MEA. Metode

(28)

penelitian ini menggunakan metode purposive serta metode analisis data menggunakan analisis deskriptif, sedangkan metode pengolahan data menggunakan analisis ISP, RCTA, dan XCi. Biji kopi Indonesia yang dianalisis diperbandingkan dengan Vietnam dan Thailand. Hasil penelitian ini adalah rata-rata nilai ISP dalam kurun waktu 20 tahun (1994-2013) Indonesia (0,68) dan Thailand (0,19) cenderung sebagai eksportir pada tahap pertumbuhan, sedangkan Vietnam (0,98) berada di tahap kematangan. Pada tahun 1994-2013 rata-rata nilai RCTA biji kopi Indonesia (1,64) dan Vietnam (7,09) yang memiliki daya saing komparatif. Berbeda dengan Thailand yang hanya -6,37 yang tidak memiliki daya saing komparatif. Rata-rata nilai XCi Indonesia (1,16), Vietnam (1,06), Thailand (1,48). Hal ini bahwa ketiga negara tersebut memiliki daya saing kompetitif terhadap biji kopi. Saran dari penelitian ini adalah meningkatkan kualitas biji kopi Indonesia, namun tetap memiliki harga jual yang setara dengan negara eksportir biji kopi lainnya dan melakukan budidaya kopi sesuai Good

Agriculture Product (GAP). Selain itu, industri kopi Indonesia juga harus mendukung petani

kopi domestik dengan memprioritaskan penggunaan biji kopi lokal.

Kata kunci: Biji kopi, MEA, spesialisasi perdagangan, daya saing komparatif, dan daya saing kompetitif

I. PENDAHULUAN

Keberhasilan perdagangan internasional suatu negara dapat dilihat dari daya saingnya. Daya saing merupakan konsep umum yang digunakan untuk merujuk pada komitmen persaingan pasar terhadap keberhasilan suatu negara dalam persaingan internasional (Bustami dan Hidayat, 2013). Adanya perdagangan internasional juga mampu menciptakan suatu kebijakan ekonomi berupa perjanjian di suatu kawasan yang terdiri dari beberapa negara anggota. Salah satu perjanjian yang berkaitan dengan kebijakan perdagangan internasional adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC).

Pencapaian MEA 2015 akan memiliki arti penting bagi Indonesia karena ASEAN merupakan tujuan ekspor dan sumber impor bagi Indonesia. Indonesia dapat memanfaatkan ASEAN sebagai kebijakan perdagangan luar negeri dan kerjasama perdagangan internasional. Dalam kegiatan ekspor tersebut, sektor pertanian juga ikut berperan dalam MEA (Kemendag, 2013). Menurut Erwidodo (2015), manfaat MEA terkait dengan peningkatan daya saing sektor pangan. Selain itu, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan ekspor produk pertanian Indonesia ke pasar internasional. Nilai ekspor pada tahun 2009-2013 tertinggi merupakan subsektor perkebunan dengan rata-rata 94,89% (BPS, 2016). Pada subsektor perkebunan, komoditi yang memiliki potensi ekspor adalah kopi. Komoditi tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 27,7% (Kemendag, 2016).

Namun, perkebunan kopi di Indonesia juga mengalami permasalahan, seperti: belum digunakannya bibit unggul yang sesuai agroekosistem tempat tumbuh. Umumnya petani masih menggunakan bahan tanam dari biji berasal dari pohon yang memiliki buah lebat atau bahkan benih sapuan. Selain itu perubahan iklim juga telah berdampak terhadap penurunan produktivitas tanaman, termasuk kopi (Puslitbang Perkebunan, 2010).. Selain itu, paling tinggi merupakan perkebunan rakyat memiliki rata-rata luas lahan sebesar 1,18 juta hektar pada tahun 2009-2013 sehingga kurang diterapkannya teknologi budidaya kopi yang kurang modern (Pusdatin Pertanian, 2015). Penurunan produktivitas tanaman kopi akan berdampak pula terhadap kualitas biji kopi yang dihasilkan.

Gambar

Tabel 1 menunjukkan bahwa sistem penjualan padi di Desa Watugede sebagian besar  dilakukan  dengan  sistem  penjualan  secara  tebasan
Tabel  4.  Hasil  uji  regresi  logistik  faktor-faktor  yang  berpengaruh  terhadap  keputusan  petani  pada sistem penjualan padi
Tabel  1.  Penerimaan  Usahatani  Padi  Yang  Mengikuti  Inovasi  Dan  Optimalisasi  Penggunaan Mikroorganisme Lokal Di Desa Petiyintunggal, Kecamatan Dukun,  Kabupaten Gresik Tahun 2016
Tabel  2.  Penerimaan  Usahatani  Padi  Yang  Tidak  Mengikuti  Inovasi  Dan  Optimalisasi  Penggunaan  Mikroorganisme  Lokal  Di  Desa  Petiyintunggal,  Kecamatan  Dukun,  Kabupaten Gresik Tahun 2016
+7

Referensi

Dokumen terkait

Boyolali yang diharapkan mampu menciptakan out put siswa yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat.Untuk mewujudkan sekolah favorit,sekolah ini memanfaatkan media

b. stopmap warna kuning untuk Jabatan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian. Pada halaman depan stopmap ditulis Nama, NIP, Tempat Tanggal

Para ahli menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat membangun pengetahuan siswa, menemukan ide-ide dari suatu bacaan, meningkatkan kemauan siswa untuk

@ Diadaptasi untuk dari Buku Pedoman Pembelajaran Calistung, Depdikbud 2013., terbatas untuk kepentingan mahasiswa. (tidak

SQL ( Structure Query Language ) adalah sebuah bahasa pemrograman aras tinggi yang menjadi standar untuk pengolahan data pada sebagian besar

Sehingga dalam proses pembelajaran ini dapat berjalan berjalan sesuai dengan tujuan peneliti, guru perlu menerapkan suatu model pembelajaran dan metode pembelajaran

terhadap distribusi porositas meskipun masih terdapat celah poros yang cukup lebar pada permukaan sampel, Gambar 3(b) pada penambahan ion Cu 2+ , permukaan barium

The objectives of this papers are to conduct S-wave estimation by mean Biot-Gassman substitution method for running simultaneous AVO inversion of pre-stack seismic data in