PotensidanPeluangInvestasiDaerah PotentialandLocalInvestmentOpportunities Tahun/Year2015

44 

Teks penuh

(1)

Direktorat Pengembangan Potensi Daerah Directorate Of Regional Potential Development

Potensi dan Peluang Investasi Daerah

Tahun/Year 2015

Potential and Local Investment Opportunities

KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Invest in

remarkable

BADAN KOORDINASI

(2)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

1

RINGKASAN EKSEKUTIF PELUANG INVESTASI DI KABUPATEN

LAMPUNG SELATAN : PETERNAKAN PENGGEMUKAN SAPI POTONG

EXECUTIVE SUMMARY INVESTMENT OPPORTUNITIES IN SOUTH

LAMPUNG: FATTENING BEEF CATTLE FARMS

Kabupaten Lampung Selatan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, terletak antara 105°14' sampai dengan 105°45' Bujur Timur dan 5°15' sampai dengan 6° Lintang Selatan. Kabupaten Lampung Selatan memiliki luas ± 2.007,01 km² dan merupakan daerah dataran dengan ketinggian dari permukaan laut yang bervariasi, dimana antara 17 m diatas permukaan laut sampai 102 m diatas permukaan laut. Kabupaten Lampung Selatan beriklim tropis dengan suhu udara berkisar 21,20°C sampai 34,10°C, sedangkan untuk kelembaban relatif berkisar 72% - 86%. Jumlah hari hujan yaitu 2–25 hari, dengan curah hujan 18,20 mm – 396,60 mm.

South Lampung is one of the district in Lampung Province, located between 105° 14' - 105° 45' East Longitude and 5° 15' - 6° South Latitude. South Lampung has an area of ± 2,007.01 km² and an flat land area with the vary altitude, range between 17-102 meters above sea level. South Lampung has tropical climate with temperature ranges from 21.20°C to 34.10 °C, while the relative humidity ranges from 72% - 86%. The number of rainy days of 2-25 days, with a rainfall of 18.20 mm - 396.60 mm.

Kabupaten Lampung Selatan memiliki potensi sektor peternakan dimana potensi tersebut yaitu unggas, kerbau, sapi, kambing, babi dan domba. Untuk populasi dari masing-masing ternak tersebut tahun 2013 sapi sebanyak 104.054 ekor, kerbau sebanyak 2.318 ekor, kambing sebanyak 354.740 ekor, domba sebanyak 7.087 ekor, babi sebanyak 6.495 dan unggas dimana terdiri dari ayam kampung sebanyak 2.808.999 ekor, ayam ras pedaging sebanyak 15.680.392 ekor, ayam ras petelur sebanyak 2.990.588 ekor, dan itik sebanyak 65.792 ekor.

South Lampung has the potential of livestock sector which are poultry, buffalo, cattle, goats, pigs and sheep. The populations of each livestock in 2013 were 104,054 of cattles, 2,318 of buffaloes, 354,740 of goats, 7,087 of sheeps, 6,495 of pigs and poultry which consisted with 2,808,999 of free-ranged chickens, 15,680,392 of broilers, 2,990,588 of laying hens, and 65,792 of ducks.

Sejalan dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk meningkatkan populasi ternak dalam rangka menjadikan daerah Kabupaten Lampung Selatan sebagai salah satu lumbung ternak sapi di Indonesia. Sehingga dalam hal ini peluang investasi yang ditawarkan pada Kabupaten Lampung Selatan yaitu peternakan penggemukan sapi potong.

In line with the South Lampung government to increase of cattle population in order to make South Lampung as one of the barns of cattle in Indonesia. So, the investment opportunities offered in South Lampung is fattening beef cattle farms.

Perkembangan peternakan penggemukan sapi potong di Indonesia didukung oleh berbagai faktor, di antaranya faktor harga, peningkatan kebutuhan, dan kebijakan pemerintah. Harga daging sapi, baik di tingkat produsen maupun konsumen tercatat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan kebutuhan daging sapi bagi masyarakat Indonesia juga menjadi salah satu peluang berkembangnya bisnis peternakan penggemukan sapi potong di

Fattening beef cattle farms development in Indonesia is supported by a variety of factors include the price, increased needs, and government policies. The beef price, both at the level of producers and consumers has increase from year to year. The increase in beef demand of Indonesian society is also become one of the growing business opportunities of fattening beef cattle in Indonesia. The beef demand continues to increase along with the increase of population, improvement of

(3)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

2

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

Indonesia. Kebutuhan daging sapi masyarakat Indonesia terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan gaya hidup serta peningkatan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi yang seimbang.

people's purchasing power, and lifestyle changes as well as increased awareness of the importance of a balanced nutrition.

Kebutuhan dana investasi untuk peternakan penggemukan sapi potong di Kabupaten Lampung Selatan diperkirakan 10,84 Milyar, dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) sekitar 31,73%, dan Payback Period selama sekitar 3 tahun 2 Bulan (3,2 tahun).

Investment fund for fattening beef cattle in South Lampung estimated 10.84 billion, with an Internal Rate of Return (IRR) of approximately 31.73%, and payback period for about 3 years and 2 months (3,2 years).

(4)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

3

1. GAMBARAN WILAYAH 1. DESCRIPTION AREA

1.1. Aspek Geografi Dan Administrasi 1.1. The Aspect Of Geographic And

Administrative

Kabupaten Lampung Selatan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, terletak antara 105°14' 0 - 105°45' Bujur Timur dan 5°15' - 6° Lintang Selatan. Kabupaten Lampung Selatan mempunyai daerah daratan ± 2.007,01 km² dengan kantor pusat pemerintahan di Kota Kalianda, yang diresmikan menjadi ibukota Kabupaten Lampung Selatan.

South Lampung is one of a district in Lampung Province, located between 105° 14'- 105° 45' East Longitude and 5° 15'- 6° South latitude. South Lampung has a land area of ± 2,007.01 km², with the central government is in Kalianda, that inaugurated as the capital of South Lampung.

Secara administratif Kabupaten Lampung Selatan berbatasan dengan :

 Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur  Sebelah selatan berbatasan dengan Selat

Sunda

 Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pesawaran

 Sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa.

Administratively the regency is bordered by:

Central Lampung and East Lampung Regency in North

Sunda Strait in South Pesawaran Regency in West Java Sea in East

Pulau-pulau yang terdapat di Kabupaten Lampung Selatan antara lain adalah Pulau Krakatau, Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Pulau Rimau dan Pulau Kandang. Kabupaten Lampung Selatan terbagi menjadi 17 Kecamatan, 248 desa, dan 3 kelurahan. Kecamatan dengan wilayah paling luas adalah Kecamatan Natar yang memiliki luas 213,77 km², sedangkan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Way Panji dengan luas 38,45 km².

The islands which located in South Lampung are Krakatau Island, Sebesi Island, Sebuku Island, Rimau Island and Kandang Island. South Lampung was divided into 17 sub-districts, 248 villages and 3 urban villages. The largest sub-district is in Natar which has an area of 213.77 km², while the smallest area is in Way Panji with an area of 38.45 km².

Gambar 1.1 PersentaseLuas Wilayah per-Kecamatan Figure 1.1 Wide Area Per-Sub-district

(5)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

4

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

Gambar 1.2 Peta Adminitrasi Kabupaten Lampung Selatan Figure 1.2 Administration Map of Aceh Besar

(6)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

5

1.2. Topografi 1.2. Topography

Secara Topografi Kabupaten Lampung Selatan dibagi menjadi tiga bagian: dataran rendah umumnya terletak di daerah sekitar pantai; tanah rawa terletak di daerah-daerah pesisir pantai timur, dan pantai timur palas; dataran tinggi yang bergunung-gunung, terletak di sebelah Selatan. Dataran tertinggi berada di Kecamatan Merbau Mataram dengan ketinggian 102 meter dari permukaan laut.

Topography in South Lampung is divided into three parts: Low lands generally located in the area around the beach; Marsh land located in the coastal areas of East and East coast Palas; Highland mountainous, located in the South. The highest plateau is in Merbau Mataram with the altitude of 102 meters above sea level.

Tabel 1.1 Tinggi Wilayah Di atas Permukaan Laut (DPL) di Kabupaten Lampung Selatan Table 1.1 The Altitude (ASL) Area in South Lampung

No Kecamatan/ Sub-district Ketinggian (m dpl)/ Altitude

(masl)

1 Kalianda (Pusat Pemerintahan/ Central Government) 33,0

2 Kalianda (Pusat kota/ Central District ) 17,0

3 Penengahan 55,0 4 Palas 15,0 5 Sragi 9,0 6 Ketapang 1,2 7 Bakauheni 2,5 8 Rajabasa 6,2 9 Sidomulyo 40,0 10 Candipuro 35,0 11 Tanjung Bintang 75,0 12 Katibung 100,0 13 Natar 85,0 14 Merbau Mataram 102,0 15 Jati Agung 60,0 16 Karang Anyar 90,0 17 Branti 75,0

Sumber: Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kab. Lampung Selatan

(7)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

6

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

1.3. Kondisi Klimatologi 1.3. Climatological Condition

Berdasarkan klimatologi, Kabupaten Lampung Selatan memiliki suhu udara rata-rata berkisar 24,4 C – 27,70 C. Dengan kelembaban relatif berkisar 72-86%. Jumlah hari hujan di Kabupaten Lampung Selatan di tahun 2013 terbanyak terjadi di bulan desember yaitu 25 hari, dengan curah hujan 396,60 mm dan untuk jumlah hari yang terendah terjadi pada bulan September yaitu 2 hari dengan curah hujan 34,00 mm.

Based on climatology, South Lampung has an average temperature of 24.4 C-27.70 C. With relative humidity of 72-86%. The highest number of rainy days in South Lampung in 2013 that occurred in december was 25 days, with rainfall of 396.60 mm and the lowest number of rainy days that occurred in September was 2 days with rainfall of 34.00 mm.

Gambar 1.3 Rata-rata Suhu Udara di Kabupaten Lampung Selatan 2013 Figure 1.3 The Air Temperature Average in South Lampung 2013

Gambar 1.4 Jumlah Hari Hujan dan Curah Hujan (mm) di Kabupaten Lampung Selatan Figure 1.4 The Numbers of Rainy Days and Rainfall (mm) in South Lampung

(8)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

7

1.4. Kependudukan 1.4. Population

Jumlah penduduk Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 adalah 950.844 jiwa yang terdiri dari 488.637 laki-laki dan 462.207 perempuan. Dari hasil proyeksi jumlah kependudukan dari keseluruhan kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Natar (180.621 jiwa) dan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Kecamatan Way Panji (16.723 jiwa). Kepadatan penduduk di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 mencapai 473,76 jiwa per km² untuk seluruh kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, penduduk terpadat berada di Kecamatan Natar (844,93 jiwa per km²), sedangkan kepadatan penduduk terendah berada di kecamatan Rajabasa (214,86 jiwa per km²).

Population in South Lampung in 2013 was 950,844 inhabitants, made up of 488,637 male and 462,207 female. From the projected total population of all districts in South Lampung, the largest population is in Natar (180,621 inhabitants) and the fewest population is in Way Panji (16,723 inhabitants). The population density in South Lampung in 2013 reached 473.76 inhabitants per km². The densest population is in Natar (844.93 inhabitants per km²), while the rarest population density is in Rajabasa (214.86 inhabitants per km²).

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Lampung Selatan Table 1.2 Number of Populations Based On Gender inLampung Selatan

Kecamatan/

Sub-district Laki-Laki/ Male Perempuan/ Female Jumlah/ Total

Kepadatan Penduduk/ Km²/ Density/ Km²/ Rasio Jenis Kelamin/ Gender Ratio Natar 92.216 88.405 180.621 844,93 104,31 Jati Agung 56.020 52.259 108.279 658,35 107,20 Tanjung Bintang 36.693 35.281 71.974 554,84 104,00 Tanjung Sari 14.394 13.730 28.124 272,20 104,84 Katibung 33.160 31.228 64.388 366,32 106,19 Merbau Mataram 24.606 23.234 47.840 419,87 105,91 Way Sulan 11.308 10.667 21.975 472,17 106,01 Sidomulyo 29.579 28.058 57.637 470,39 105,42 Candipuro 26.863 25.650 52.513 620,06 104,73 Way Panji 8.417 8.306 16.723 434,93 101,34 Kalianda 44.238 40.480 84.718 524,89 109,28 Rajabasa 11.354 10.190 21.544 214,60 111,42 Palas 28.113 27.151 55.264 322,45 103,54 Sragi 16.632 15.911 32.543 397,25 104,53 Penengahan 18.913 17.638 36.551 274,86 107,23 Ketapang 24.677 23.308 47.985 441,85 105,87 Bakauheni 11.454 10.711 22.165 387,97 106,94 Jumlah/ Total 488.637 462.207 950,844 473,76 105,72

Sumber: BPS, Kabupaten Lampung Selatan dalam Angka 2014

Source: BPS, Lampung SelatanIn Figures 2014

Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Lampung Selatan di atas 100, ini berarti jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Lampung Selatan lebih banyak dari pada jumlah penduduk perempuan.

The gender ratio population of South Lampung is over 100, this means that the number of male larger than the female.

(9)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

8

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

Sedangkan menurut kelompok umur di Kabupaten Lampung Selatan sebagian besar termasuk dalam usia produktif termasuk dalam usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 623.275 jiwa dan selebihnya 282.307 jiwa berusia dibawah 15 tahun dan 45.262 jiwa berusia 65 tahun keatas.

According to age group, the population in South Lampung largely included in the productive age (15-64 years) of 623,275 inhabitants and the remaining 282,307 inhabitants was under the age of 15 years and 45,262 inhabitants in the aged 65 years above.

Tabel 1.3 Penduduk Menurut Kelompok Umur, per Jenis Kelamin di Kabupaten Lampung Selatan Table 1.3 Populations Based On Age Group of Gender in Lampung Selatan

Kelompok Umur/

Age Group Laki-Laki/ Male Perempuan/ Female Jumlah/ Total

0 – 4 51.122 48.641 99.763 5 - 9 48.104 45.352 93.456 10 – 14 45.997 43.091 89.088 15 – 19 44.488 40.321 84.809 20 – 24 40.476 37.712 78.188 25 – 29 41.470 39.722 81.192 30 – 34 40.580 38.986 79.566 35 – 39 38.501 36.310 74.811 40 – 44 33.219 31.600 64.819 45 – 49 27.936 26.964 54.900 50 – 54 23.715 22.414 46.129 55 – 59 18.210 16.189 34.399 60 – 64 12.629 11.833 24.462 65 – 69 8.864 8.883 17.747 70 – 74 6.434 6.621 13.055 75 + 6.892 7.568 14.460 Jumlah/ Total 488.637 462.207 950.844

Sumber: BPS, Kabupaten Lampung Selatan Dalam Angka 2014

Source: BPS, Lampung Selatan In Figures 2014

Gambar 1.5 Piramida Penduduk Kabupaten Lampung Selatan, 2013 Figure 1.5 Population Pyramid in Lampung Selatan, 2013

(10)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

9

1.5. Ketenagakerjaan 1.5. Employment

Pada tahun 2013 penduduk umur 15 tahun ke atas yang aktif bekerja dan mencari kerja sebesar 62,71% dari total keseluruhan penduduk usia 15 tahun keatas, disebut dengan tingkat Partisipasi angkatan kerja dari data tahun 2013 naik dibanding tahun sebelumnya 2012 (62,36%). Dan untuk penduduk berumur 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 yaitu di sektor pertanian terdapat 160.707 orang, sektor industri terdapat 51.691 orang, dan untuk sektor jasa-jasa terdapat 182.160 orang.

In 2013, the population aged 15 years above who are actively working and looking for work reached 62.71% of the total population of aged 15 years above, which called the Labor Force Participation Rate. Data from the 2013 showed the increase over the previous year 2012 (62.36%), and for the population aged 15 years above who worked in the industrial origin in South Lampung in 2013, that in the agricultural sector were 160,707 people, industry sectors, were 51,691 people, and the services sector were 182,160 people.

Tabel 1.4 Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama di Kab.Lampung Selatan Table 1.4 The Population In Age of 15 years Above Based on Primary Activity in Lampung Selatan

Jenis Kegiatan Utama/ Main Activity Type 2012 2013

I. Angkatan Kerja/ Labor Force 404.018 411.007

1. Bekerja/ Employee 379.497 384.469

2. Pengangguran/ Unemployment 24.521 26.538

II. Bukan Angkatan Kerja/ Not Labor Force 243.856 244.434

Jumlah/ Total 647.874 655.441

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja/ Labor Force Participation Rate 62,36 62,71

Tingkat Pengangguran/ Unemployment Level 6,07 6,46

Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Lampung Selatan (Dalam Angka 2014)

Source: Center Bureau of Statistic, South Lampung (In Figures 2014)

Gambar 1.6 Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Bekerja Menurut Lapangan Usaha2013 Figure1.6 Population Aged 15 years Above Who Worked Based on Industrial Origin 2013

(11)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

10

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

1.6. Pendidikan 1.6. Education

Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah tersedianya cukup Sumber Daya Manusia (SDM). Sarana dan prasarana pendidikan seperti sekolah dan tenaga pendidikan (guru) yang memadai menjadi penunjang keberhasilan pendidikan. Berikut data jumlah sekolah beserta jumlah murid dan guru di Kabupaten Lampung selatan.

The main factor of the successful development of a region is the availability of human resources (SDM). The good educational facilities, such as school and teachers, supporting educational success. The data of number of schools, teachers and students in South Lampung can be seen in the following table.

Gambar 1.7 Fasilitas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan Figure 1.7 Education Facilities in South Lampung

Tabel 1.5 Jumlah Sekolah di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2013 Table 1.5 Numbers of School in South Lampung 2013

Sekolah/ School

Jumlah (Negeri & Swasta)/

Total (Public and Private)

Murid/ Student

Guru/ Teacher

Taman Kanak - Kanak (TK)/ Kindergarten 182 6.949 695

Sekolah Dasar (SD)/ Elementary School 483 102.782 5.630

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP)/ Junior High School

136 31.888 2.705

Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Negeri (SLTA)/ Senior High School

80 29.646 2.506

Sumber: Dinas Pendidikan Lampung Selatan 2014

(12)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

11

1.7. KONDISI SARANA DAN PRASARANA 1.7. THE CONDITION OF FACILITIES AND

INFRASTRUCTURE

1.7.1. Transportasi 1.7.1. Transportation

Dalam pengembangan suatu wilayah, baik itu desa, kota/kabupaten kebutuhan akan adanya perencanaan pembangunan infrastruktur sangatlah mempengaruhi berkembangnya suatu wilayah. Hal ini dikarenakan dengan adanya kebutuhan infrastruktur yang semakin baik, maka akan semakin baik pula kinerja pemerintahan dan perekonomian suatu wilayah. Kabupaten Lampung Selatan dilalui oleh jalan nasional dan jalan provinsi. Dalam hal ini panjang jalan nasional pada tahun 2013 adalah 159,95 km. Panjang jalan provinsi tahun 2013 adalah 157,51 km. Untuk panjang jalan Kabupaten di Lampung Selatan pada tahun 2013 adalah 1.240,90 km. Untuk mengetahui kondisi jalan di Kabupaten Lampung Selatan, dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

In the development of an area, be it a village, town/county the need of infrastructure development planning is affecting the development of a region. This is due to the need of better infrastructure, the better performance of the government and the economy of a region. South Lampung passed by the National Road and Provincial Road. The length of national roads in 2013 was 159.95 km. The length of provincial roads in 2013 was 157.51 km. The length of county roads in South Lampung in 2013 was 1,240.90 km. The road conditions in South Lampung can be seen in the following tables.

Gambar 1.8 Kondisi Jalan di Kabupaten Lampung Selatan Figure 1.8 Roads Condition in South Lampung

Tabel 1.7 Panjang Jalan Menurut Pemerintah Yang Berwenang di Kabupaten Lampung Selatan, Table 1.7 The Length Roads According to Government Authority in South Lampung

Jenis Jalan/ Road Type 2011 2012 2013

Jalan Negara/ State Road 159,95 159,95 159,95

Jalan Provinsi/ Provincial Road 157,51 157,51 157,51

Jalan Kabupaten/ County Road 1.240,44 1.240,44 1.240,90

Jumlah/ Total 1.557,90 1.557,90 1.557,90

Sumber: BPS, Kabupaten Lampung Selatan dalam Angka 2014

Source: BPS, South Lampung In Figures 2014

Tabel 1.8 Panjang Jalan Kabupaten Menurut Jenis Permukaan di Kabupaten Lampung Selatan Table 1.8 The Length of Provincial Roads Based on Surface Type in South Lampung

Jenis Permukaan/ Surface Type 2011 2012 2013

Diaspal/ Asphalt 862,64 874,07 877,89

Kerikil/ Gravel 288,85 281,82 280,11

Tanah/ Dirt 87,98 84,56 82,44

Tidak Direvisi/ Unrevised 0,98 - -

Sumber: BPS, Kabupaten Lampung Selatan dalam Angka 2014

(13)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

12

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

Tabel 1.9 Panjang Jalan Kabupaten Menurut Kondisi Jalan di Kabupaten Lampung Selatan, Table 1.9 The Length of Provincial Road Based On Road Condition in South Lampung

Kondisi Jalan/ Road Condition 2011 2012 2013

Baik/ Good 537,27 602,52 637,97

Sedang/ Moderate 4,48 24,31 20,77

Rusak/ Damaged 64,96 62,02 51,39

Rusak Berat/ Highly Damaged 633,73 551,59 530,32

Jumlah/ Total 1.240,44 1.240,44 1.240,45

Sumber: BPS, Kabupaten Lampung Selatan dalam Angka 2014

Source: BPS, South Lampung In Figures 2014

Kabupaten Lampung Selatan mempunyai sebuah pelabuhan yang terletak di Kecamatan Penengahan, yaitu pelabuhan penyeberangan Bakauheni, yang merupakan tempat transit penduduk dari pulau jawa ke sumatra dan sebaliknya. Dengan demikian, pelabuhan Bakauheni merupakan pintu gerbang pulau sumatra bagian selatan. Jarak antara pelabuhan Bakauheni (Lampung Selatan) dengan pelabuhan Merak (Provinsi Banten) kurang lebih 30 kilometer, dengan waktu tempuh kapal penyeberangan sekitar 1,5 jam.

South Lampung has a seaport located in Penengahan that is Bakauheni Crossing Port, which is a transit point for residents of the island of Java to sumatra and vice versa. Thus, Bakauheni Port is the gateway to southern part of sumatra island. The distance between the port of Bakauheni (South Lampung) with the port of Merak (Banten) approximately 30 kilometers, with a ships travel time of about one and half hours.

1.7.2. Sumber Energi Listrik 1.7.2. Electricity Source

Energi listrik sudah menjadi kebutuhan dimana sejalan dengan roda perekonomian daerah. Pasokan energi listrik berasal dari PLN. Pada tahun 2012 jumlah pelanggan listrik di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 179.154 pelanggan dengan distribusi tenaga listrik sebesar 302.141.670 KWh. Dalam hal ini jumlah pelanggan tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya 2011. Walaupun begitu untuk distribusi listrik tahun 2012 meningkat dibanding tahun sebelumnya 2011.

Electrical energy has become a necessity which is in line with the economy of the region. Electricity supply comes from PLN (State Electricity Company). In 2012, the number of electricity customers in South Lampung was 179.154 customers with the electricity distribution of 302.141.670 KWh. The number of customers in 2012 decreased compared to the previous year 2011. However, the electricity distribution in 2012 increased over the previous year 2011.

Gambar 1.9 Sumber Energi Listrik di Kabupaten Lampung Selatan Figure 1.9 Electricity Source in South Lampung

Tabel 1.10 Jumlah Pelanggan dan Produksi Listrik di Kab. Lampung Selatan Table 1.10 Numbers of Electricity Customers in South Lampung Tahun/ Year Jumlah Pelanggan/

Numbers of Customer

Distribusi Tenaga Listrik/ Electricity Distribution (Kwh)

2011 182.148 297.643.986

2012 179.154 302.141.670

(14)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

13

2. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH 2. THE REGIONAL DEVELOPMENT POLICY

2.1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

2.1. The Medium - Term Regional Development Plan

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Lampung Selatan dijelaskan bahwa visi :

“Terwujudnya Kabupaten Lampung Selatan yang Maju dan Sejahtera Berbasis Ekonomi

Kerakyatan”

Based on The Medium - Term Regional Development Plan of Lampung Selatan, the vision is:

“Realization of Developed and Prosperous South Lampung Based Economic Democracy”

Guna pencapaian visi yang telah ditetapkan, maka Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan merumuskan misi pembangunan sebagai upaya mengemban pencapaian visi pembangunan selama lima tahun kedepan adalah sebagai berikut:

In order to achieve the vision that has been set, the Government of South Lampung formulate a development mission as an attempt to carry out the achievement of the development vision for the next five years, as follows:

1. Mengembangkan infrastruktur wilayah untuk mendukung pengembangan infrastruktur skala tinggi, ekonomi, dan pelayanan sosial. 2. Meningkatkan kesejahteraan melalui

pengembangan ekonomi kerakyatan.

3. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial

4. Mengembangkan masyarakat berbudaya dan berakhlak mulia

5. Meningkatkan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan 6. Menegakkan supremasi hukum untuk

menciptakan masyarakat yang demokratis 7. Mewujudkan pemerintah yang bersih,

berorientasi kemitraan, dan bertatakelola yang baik.

1. Develop a regional infrastructure to support high-scale infrastructure development, economic, and social services.

2. Improve the welfare through the development of social economy.

3. Improve the quality of education, health and social welfare

4. Develop a civilized society and morality 5. Improve the preservation of natural resources

and environmental sustainability

6. Enforce the rule of law to create a democratic society

7. Create clean government, partnership-oriented, and good governance.

2.2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

2.2. The Spatial Plans Area

Kebijakan Penataan Ruang Kabupaten Lampung Selatan meliputi :

The spatial plan policies in South Lampung are: 1. Pengembangan kawasan budidaya berbasis

sumberdaya alam dan pengembangan agropolitan dengan tetap mempertimbangkan dan mengindahkan kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;

1. The development of natural resource-based cultivation area and agropolitan development by considering and heeding the conditions of supporting and carrying capacity of the environment;

2. Penciptaan peluang investasi pada kegiatan industri;

2. The creation of investment opportunities in the industrial activities;

(15)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

14

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

3. Penguatan fungsi lindung kawasan lindung secara berkesinambungan dan terintegrasi;

3. Strengthen the protected function of sustainable and integrated protected areas; 4. Pengembangan kegiatan pariwisata yang

berbasis pada potensi wisata alam;

4. The development of tourism activities based on natural tourism potential;

5. Penataan sistem perkotaan dan pusat distribusi yang mampu memacu pertumbuhan wilayah;

5. Arrangement urban systems and distribution centers that able to stimulate the growth of the region;

6. Penguatan pelayanan prasarana dan sarana wilayah yang mampu meningkatkan kondisi investasi dan perekonomian wilayah; dan

6. Strengthen infrastructure and facilities services of the area that can improve investment conditions and the region's economy; and

7. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara.

7. Improve area function of defense and state security.

Adapun strategi yang dilaksanakan sehubungan dengan penataan ruang adalah:

The strategy being pursued in connection with the spatial plans are:

1. Strategi pengembangan kawasan budidaya

berbasis sumber daya alam dan

pengembangan agropolitan dengan tetap mempertimbangkan dan mengindahkan kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, meliputi:

a. Meningkatkan produktivitas hasil pertanian melalui intensifikasi lahan;

b. Mengintegrasikan pengembangan kawasan– kawasan pertanian dengan mengoptimalkan fungsi kawasan agropolitan;

c. Mendorong tumbuhnya sektor–sektor sekunder dan tersier yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan minapolitan;

d. Meningkatkan kemampuan pelayanan prasarana dan sarana yang mampu mendorong investasi pada kegiatan industri; dan

e. Menjamin kelancaran aksesibilitas antara kawasan sentra dan pendukungnya dengan penyediaan sistem prasarana yang handal mendukung kegiatan pertanian, dan perikanan.

1. The cultivation area development strategy based on natural resources and development agropolitan by considering and heeding the conditions of supporting and carrying capacity of the environment, includes:

a. Increase agricultural productivity through intensification of land;

b. Integrate the development of agricultural areas to optimize the function of agropolitan; c. Encourage the growth of the secondary and

tertiary sectors that integrated with minapolitan development;

d. Improve the ability of service infrastructure and facilities are able to encourage investment in industrial activities; and

e. Ensure smooth accessibility between central region and the supporting area with the provision of reliable infrastructure system that support the activities of agriculture and fisheries.

2. Strategi penciptaan peluang investasi pada kegiatan industri, meliputi:

a. Meningkatkan kemampuan pelayanan prasarana dan sarana yang mampu mendorong investasi pada kegiatan industri; b. Mendorong pertumbuhan industri pada

koridor jalan lintas pantai timur;

c. Mendorong pertumbuhan klaster industri yang berbasis pada sumber daya lokal;

d. Menjamin kelancaran aksesibilitas antara kawasan sentra dan pendukungnya dengan penyediaan sistem prasarana yang handal;

2. The creation of investment opportunities strategy in the industrial activitiy includes: a. Improve the ability of service infrastructures

and facilities that able to encourage investment in industrial activities;

b. Encourage the growth of the industry on the east coast highway corridors;

c. Encourage the growth of industrial clusters based on local resources;

d. Ensure smooth accessibility between central region and the supporting area with the provision of reliable infrastructure systems;

(16)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

15

3. Strategi penguatan fungsi lindung kawasan lindung secara berkesinambungan dan terintegrasi, sebagaimana dimaksud meliputi: a. Mengupayakan tercapainya kelestarian dan

keseimbangan lingkungan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pembangunan b. Memantapkan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya untuk melindungi kawasan dibawahnya, kawasan perlindungan setempat serta melindungi kawasan yang rawan bencana alam;

c. Melindungi daerah resapan air yang berfungsi hidrologis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air;

d. Mengendalikan dan memantau kegiatan budidaya pada kawasan lindung dankawasan hutan agar tetap terjaga kelestariannya; dan e. Merehabilitasi kawasan hutan agar dapat

berfungsi sebagaimana mestinya dan mengoptimalkan perlindungan pada kawasan bantaran sungai dan pantai.

3. Strengtheningstrategy of protected function of the sustainable and integrated protected areas, includes:

a. Strive to sustainability and balance environmental by considering the needs of development;

b. Strengthen the protected areas in accordance with its function to protect subordinates area, local protected areas and protect prone areas to natural disasters;

c. Protect watersheds hydrological function to ensure the availability of water resources; d. Control and monitor the activities of

aquaculture in protected areas and forest areas in order to maintain continuity; and e. Rehabilitate forest areas in order to working

properly and to optimize the protection of riverbanks and coastal areas.

4. Strategi pengembangan kegiatan pariwisata yang berbasis pada potensi wisata alam, meliputi:

a. Mengembangkan aktivitas wisata pada kawasan wisata alam dengan mengoptimalkan pemanfaatan pantai dan laut;

b. Memanfaatkan kawasan suaka alam sebagai obyek wisata minat khusus;

c. Menciptakan pusat pertumbuhan jasa sebagai pusat pendukung kegiatan wisata;

d. Memfungsikan secara optimal dermaga dan pelabuhan yang ada sebagai komponen pendukung aktivitas wisata;

e. Mendorong kegiatan industri cinderamata dengan basis industri kerajinan dan rumah tangga; dan

f. Menjamin kelancaran akses yang mampu mendukung terbentuknya pergerakan jalur – jalur wisata.

4. Development strategy of tourism activities based on natural tourism potential, includes: a. Develop tourist activity in the area of nature

tourism by optimizing the utilization of the beach and ocean;

b. Utilize natural spaces as an object of special interest tourism;

c. Create a center of services growth as a center of tourism supporting;

d. Optimize the fuction of ports and harbors as supporting component of tourism activities; e. Encourage industrial activity on the basis

souvenir craft industry and households; and f. Ensure smooth access that capable to support

the formation of the movement of tourism tracks.

5. Strategi penataan sistem perkotaan dan pusat distribusi yang mampu memacu pertumbuhan wilayah, meliputi:

a. Mengembangkan Kota Kalianda sebagai Kota

Modern untuk memicu pertumbuhan

beberapa kawasan perkotaan lainnya;

b. Menjamin kawasan-kawasan fungsional kota yang akan dikembangkan dengan sarana dan prasarana yang handal;

5. The arrangement of urban systems and distribution centers strategy that able to stimulate the growth of the region, includes: a. Develop Kalianda as Modern City to trigger the

growth of some other urban areas;

b. Ensure the functional areas of the city that will be developed with a reliable infrastructure;

(17)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

16

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

c. Menyiapkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai dalam mendorong tumbuhnya kawasan perkotaan; dan

d. Mempersiapkan sistem penyediaan perumahan dan permukiman yang handal guna mengantisipasi pertumbuhan kawasan perkotaan.

c. Set up support facilities and infrastructures that encourage the growth of urban areas; and d. Prepare their housing system that is reliable in order to anticipate the growth of urban areas.

6. Strategi penguatan pelayanan prasarana dan sarana wilayah yang mampu meningkatkan kondisi investasi dan perekonomian wilayah, meliputi:

a. Mengembangkan sistem transportasi antarmoda yang mampu menghubungkan sistem transportasi darat, laut, dan udara; b. Mendorong kelancaran lalu lintas pada

simpang susun (interchange) jalan tol pada kawasan dan pusat – pusat produksi;

c. Menjamin terciptanya pengelolaan persampahan yang terpadu dan terintegrasi dengan kawasan Metropolitan Bandar Lampung;

d. Menjamin kelancaran akses antar pulau untuk mengurangi disparitas dan mendukung kegiatan wisata;

e. Menjamin ketersediaan sumber daya air yang dapat mendukung kegiatan pertanian dengan mengoptimalkan jaringan irigasi, waduk dan bendungan yang handal;

f. Menjamin ketersediaan sumber daya energi untuk memacu tumbuhnya industri dan kawasan industri; dan

g. Menciptakan sistem pengelolaan limbah terpadu.

6. Infrastructures and facilities services of the area strengthening strategy that can improve the investment conditions and economic of the area are includes:

a. Develop intermodal transportation system that is capable of connecting the transport systems of land, water and air;

b. Encourage smooth traffic at the highway interchange (interchange) in the region and the center of production;

c. Ensure the creation of an unified waste management and integrated with the Metropolitan area of Bandar Lampung;

d. Ensure smooth access between islands to reduce disparities and supporting the tourist activities;

e. Ensure the availability of water resources that can support agricultural activities by optimizing irrigation networks, reliable reservoirs and dams;

f. Ensure the availability of energy resources to boost the growth of industry and industrial areas; and

g. Create an integrated waste management system.

7. Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara, meliputi: a. Mendukung penetapan kawasan pertanahan

dan keamanan di kabupaten;

b. Mengembangkan kawasan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan pertanahan dan keamanan negara untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; c. Mengembangkan kawasan lindung dan/atau

kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan dengan kawasan budidaya terbangun; dan

d. Turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan/TNI.

7. Improvement strategy of function area for defense and state security are includes: a. Support the establishment of defense and

security area in the district;

b. Develop selective cultivation area in and around the area of defense and security of the state to maintain the function of defense and security;

c. Develop protected areas and / or areas of unawakened cultivation area around the defense and security area of the region with theawakened cultivation area; and

d. Participate, maintain and preserve the assets of the defense/military.

(18)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

17

3. PROFIL PEREKONOMIAN WILAYAH 3. PROFILE OF ECONOMIC REGION

3.1. Struktur Perekonomian 3.1. Economic Structure

Kontribusi suatu sektor dalam menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat menggambarkan peran sektor tersebut dalam kegiatan ekonomi suatu wilayah. Jika membandingkan kontribusi setiap sektor terhadap PDRB Kabupaten Lebak selama 5 tahun terakhir (2009-2013) terlihat jelas bahwa sektor pertanian masih mendominasi perekonomian Kabupaten Lampung Selatan.

The contribution of a sector in generating Gross Domestic Regional Product (GDRP) may describe the role of the sector in the economic activity of the region. If comparing the contribution of each sector to GDRP of South Lampung over the last 5 years (2009-2013), it is clear that the agricultural sector still dominates the economy of South Lampung.

Tabel 3.1 PDRB atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lampung Selatan 2009-2013 (Jutaan) Table 3.1 GDRP of South Lampung at Current Prices 2009-2013 (Million)

No Lapangan Usaha / Industrial Origin (sektor/Sector) 2009 2010 2011 2012 2013 1 Pertanian / Agriculture 4.274.623,00 4.727.608,5 5.113.797,8 5.926.707,3 6.503.070,00 2 Pertambangan dan Penggalian / Mining and Quarrying 78.663,00 85.134,3 104.948,3 120.490,6 128.673,30 3 Industri Pengolahan / Processing Industry 813.862,00 1.050.159,7 1.444.584,9 1.950.189,7 2.383.934,60 4

Listrik, Gas & Air Bersih / Electricity, Gas, Water Supply 41.531,00 48.861,5 57.070,7 66.534,5 82.916,00 5 Kontruksi / Construction 524.319,00 629.829,8 730.143,6 848.168,0 968.993,50 6 Perdagangan, Hotel & Restoran / Trade, Hotel, Restaurant 914.631,00 1.117.636,4 1.352.797,6 1.666.187,8 1.927.502,40 7 Transportasi & Komunikasi / Transportation & Communication 1.129.597,00 1.264.643,8 1.464.561,4 1.668.783,8 1.888.154,70 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan / Financial, Tenancy & Business Service 417.135,00 439.700,1 459.284,9 515.546,0 575.073,60 9 Jasa – jasa / Services 713.253,00 849.791,1 905.488,9 1.060.755,9 1.186.434,00 Jumlah 8.907.614,00 10.213.365,2 11.632.678,0 13.823.363,6 15.644.752,00

(19)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

18

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

Tabel 3.2 Rata-rata Kontribusi dan Pertumbuhan Sektoral (2009-2013) Table 3.2 The Average of Contribution and Growth Sector (2009-2013)

No Lapangan Usaha / Industrial Origin (sektor/Sector) Rata-Rata Kontribusi Sektoral / Average Contributions Sector Rata-Rata Pertumbuhan Sektoral / Average Growth Sector 1 Pertanian / Agriculture 44.54% 11.10%

2 Pertambangan dan Penggalian / Mining and Quarrying 0.86% 13.28%

3 Industri Pengolahan / Processing Industry 12.24% 30.96%

4 Listrik, Gas & Air Bersih / Electricity, Gas, Water Supply 0.49% 18.91%

5 Kontruksi / Construction 6.13% 16.62%

6 Perdagangan, Hotel & Restoran / Trade, Hotel, Restaurant 11.44% 20.52% 7 Transportasi & Komunikasi / Transportation &

Communication 12.36% 13.71% 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan / Financial, Tenancy

& Others 4.07% 8.41%

9 Jasa – jasa / Service 7.87% 13.67%

Sumber: Hasil Olahan 2015

Source: Processed Product 2015

Kontribusi PDRB Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2013, berdasarkan atas harga berlaku sektor Pertanian masih merupakan penyumbang terbesar dengan persentase 41,57% diikuti oleh sektor industri pengolahan non migas sebesar 15,24%, kemudian sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 12,32%. Nilai PDRB Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 sebesar Rp. 15,65 triliun, dengan penyumbang terbesar berasal dari sektor pertanian senilai Rp. 6,5 triliun. Selama periode 5 tahun terakhir, sektor pertanian tetap menjadi leading sector di Kabupaten Lampung Selatan, namun untuk kontribusinya terus menurun. Rata-rata pertumbuhan sektoral tertinggi PDRB Kabupaten Lampung Selatan selama 5 tahun terakhir berasal dari sektor industri pengolahan non migas sebesar 30,96%, sedangkan sektor pertanian, rata-ratanya hanya mencapai 11,10%.

GDRP contribution of South Lampung in 2013, at current prices of agriculture sector was still the largest contributor with 41.57%, followed by the non-oil processing industry sector of 15.24%, then by trade, hotel and restaurant sector at 12.32%. GDRP of South Lampung value in 2013 amounted to Rp. 15.65 trillion, with the largest contributor came from the agricultural sector reached to Rp. 6.5 trillion. During the period of last 5 years, the agricultural sector remains a leading sector in South Lampung, but the contribution continues to decrease. The highest average sectoral growth in GDRP of South Lampung during the last 5 years is derived from the non-oil processing industry sector for 30.96%, while the average of agricultural sector is only 11.10%.

Berdasarkan data Statistik Daerah Kabupaten Lampung Selatan 2014 (Badan Pusat Statistik). Pada tahun 2013, perekonomian Kabupaten Lampung Selatan mengalami pertumbuhan 13,18% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Terdapat tiga sektor/kegiatan ekonomi utama di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 yaitu:

Based on data from Statistics of South Lampung in 2014 (Center Bureau of Statistic), in 2013, the economy growth in South Lampung was 13.18% compared to the previous year. There are three sectors /main economic activity in South Lampung in 2013, were:

(20)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

19

1. Pertanian sebesar Rp. 6,5 trilyun (41,57%) 2. Industri Pengolahan, sebesar Rp. 2,38 triliyun

(15,24%)

3. Perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,93 triliyun (12,32%)

1. Agriculture of Rp. 6.5 trillion (41.57%)

2. Processing Industry of Rp. 2.38 trillion (15.24%)

3. Trade, hotels and restaurants of Rp. 1.93 trillion (12.32%)

Gambar 3.1 Struktur Perekonomian di Kabupaten Lampung Selatan, 2013 Figure 3.1 Economic Structures in South Lampung 2013

Penjelasan lebih rinci tentang struktur ekonomi Kabupaten Lampung Selatan dapat dilihat dari PDRB Kabupaten Lampung Selatan atas dasar harga berlaku berikut :

The detailed explanation of economic structure in South Lampung can be seen from the GDRP of South Lampung at current prices in the following:

a. Sektor Primer

Sektor primer terdiri dari sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan perekonomian Kabupaten Lampung Selatan. Kontribusi sektor primer pada PDRB selama lima tahun terakhir sebesar 45,4%. Besarnya kontribusi sektor primer didominasi oleh sektor pertanian yang memberikan andil sebesar 44,54% dari total PDRB Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013. Hal ini menunjukkan masih tingginya ketergantungan perekonomian terhadap sektor primer, khususnya sektor pertanian. Namun nilai pertumbuhannya relatif cukup kecil hanya mencapai 11,10%.

a. Primary sector

The primary sector is composed of agriculture, mining and quarrying that has an important role in the economic development of South Lampung. The contribution of the primary sector in GDRP over the last five years amounted to 45.4%. The amount of contribution of the primary sector is dominated by the agricultural sector that is responsible for 44.54% of total GDRP of South Lampung in 2013. This demonstrates the high economic dependence on the primary sector, particularly agriculture. However, the growth value is relatively small only reached 11.10%.

(21)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

20

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

b. Sektor Sekunder

Sektor sekunder yang terdiri dari sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, serta sektor konstruksi. Kontribusi sektor sekunder dalam pembentukan PDRB Kabupaten Lampung Selatan dalam lima tahun terakhir adalah 18,86%. Rata-rata pertumbuhan sektoralnya sebesar 30,96% untuk industri pengolahan, 18,91% untuk sektor listrik, gas, dan air bersih, dan 16,62% untuk sektor kontruksi.

b. Secondary sector

Secondary sector comprising processing industry, electricity, gas and clean water, as well as the construction sector. The contribution of the secondary sector in GDRP of South Lampung regency in the last five years was 18.86%. The sectoral average growth of 30.96% to the processing industry, 18.91% for electricity, gas and clean water, and 16.62% for the construction sector.

c. Sektor Tersier

Sektor tersier yang terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor transportasi dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa. Kontribusi sektor tersier dalam pembentukan PDRB Kabupaten Lampung Selatan mencapai 35.74% dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kontribusi pada sektor tersier ini didominasi oleh sektor transportasi dan komunikasi yang memberikan andil sebesar 12,36% dari total PDRB Kabupaten Lampung Selatan, dengan rata-rata pertumbuhan sektoralnya mencapai 13,71%.

c. Tertiary sector

The tertiary sector comprising trade, hotels and restaurants, transportation and communication sector, finance, tenancy and business services sector and the services sector. The contribution of the tertiary sector in GDRP of South Lampung reached 35.74% in the last five years. The contribution of the tertiary sector was dominated by the transportation and communications sector which were responsible for 12.36% of total GDRP of South Lampung with the sectoral average growth of 13.71%.

3.2. Laju Pertumbuhan 3.2. The Growth Rate

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai salah satu alat untuk menggambarkan kondisi perekonomian suatu wilayah menunjukkan besarnya PDRB Kabupaten Lampung Selatan atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 PDRB Kabupaten Lampung Selatan atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 8.907.614,00,- juta, pada tahun 2010 sebesar Rp. 10.213.365,2,- juta, pada tahun 2011 sebesar Rp. 11.632.678,0 juta, pada tahun 2012 sebesar Rp. 13.823.363,6 juta, dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 15.644.752,00 juta, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 15.14%.

Gross Domestic Regional Product (GDRP) as one of the tools to describe the condition of the economy of a region shows the extent of South Lampung GDRP at current prices increased. In 2009, South Lampung GDRP at current prices amounted to Rp. 8,907,614.00 million, in 2010 amounted to Rp. 10,213,365.2 million, in 2011 amounted to Rp. 11,632,678.0 million, in 2012 amounted to Rp. 13,823,363.6 million, and in 2013 amounted to Rp. 15,64,752.00 million, with an average growth of 15,14%.

(22)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

21

4. POTENSI PEREKONOMIAN 4. POTENTIAL ECONOMIC

4.1. Sektor Pertanian 4.1. Agricultural Sector

Gambar 4.1 Tanaman Pangan Kabupaten Lampung Selatan Figure 4.1 Food Crops in South Lampung

A. Tanaman Pangan A. Food Crop

Sebagian wilayah Kabupaten Lampung Selatan merupakan areal persawahan dengan luas 447,32 km² (22,28%). Total luas areal persawahan, 77,30% merupakan sawah tadah hujan. Produksi tanaman pangan di Kabupaten Lampung Selatan yang terbesar adalah produksi jagung dimana sebanyak 597.080 ton, disusul dengan padi (padi sawah dan ladang) sebesar 471.085 ton. Dari 7 produksi untuk tanaman pangan di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2013 produksi terendah yaitu kacang hijau sebesar 297 ton. Untuk lebih lengkap bisa dilihat pada tabel dibawah ini.

Most of the area in South Lampung is the rice fields with an area of 447.32 Km² (22.28%). the total area of rice fields, 77.30% is rainfed. The largest food crops production in South Lampung is the production of corn where reached 597,080 tons, followed by paddy (paddy and paddy fields) amounted to 471,085 tons. The lowest crop production in 2013 was the green beans reached 297 tons. The decan be seen in the below table.

Tabel 4.1 Luas Panen dan Produksi Tanaman Pangan 2013 Table 4.1Harvested Area and Food Crops Production 2013

No Uraian Luas Panen (ha)/ Harvested Area (ha) Produksi (ton)/ Production (ton) Wilayah/ Area

1 Padi Sawah/ Paddy 80.596 441.113

Tersebar diseluruh Kecamatan di

Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-district of South Lampung

2 Padi Ladang/ Paddy fields 9.086 29.972

Tersebar diseluruh Kecamatan di

Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-district of South Lampung

3 Jagung/ Corn 114.232 597.080

Tersebar diseluruh Kecamatan di

Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-district of South Lampung

4 Kedelai/ Soybeans 661 789

Kecamatan Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Meerbau Mataram, Sidomulyo, Candi Puro, Way Panji, Kalianda, Palas, Sragi,

Penengahan, Ketapang, Bakauheni

5 Kacang Tanah/ Peanuts 1.188 1.481

Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Kalianda, Palas, Sragi, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

(23)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

22

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

No Uraian Luas Panen (ha)/ Harvested Area (ha) Produksi (ton)/ Production (ton) Wilayah/ Area

6 Kacang Hijau/ Green Beans 331 297

Kecamatan natar, Jati Agung, Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sido mulyo, Candi Puro, Kalianda, Palas, Sragi, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

7 Ubi Kayu/ Cassava 9.718 210.175

Tersebar diseluruh Kecamatan di

Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-district of South Lampung

8 Ubi Jalar/ Sweet Potato 339 3.344

Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Kalianda, Rajabasa, Sragi,

Penengahan, Ketapang, Bakauheni Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura dan BPS, Kab. Lampung Selatan 2014

Source: Food Crops and Horticulture Department and BPS of South Lampung 2014

Gambar 4.2 Perkembangan Produksi (ton) Tanaman Pangan di kabupaten Lampung Selatan 2011-2013 Figure 4.2 Food CropsProduction Development (ton) in South Lampung 2011-2013

Gambar 4.3 Perekembangan Luas Panen (ha) Tanaman Pangan di kabupaten Lampung Selatan

2011-2013

(24)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

23

B. Hortikultura (Sayuran) B. Horticulture (Vegetables)

Gambar 4.4 Tanaman Sayuran Kabupaten Lampung Selatan Figure 4.4 Vegetable Crops in South Lampung

Tanaman hortikultura yang terdapat cabe merah, kacang panjang, ketimun, terung, kangkung, dan tomat. Berikut data luas panen dan produksi tanaman sayuran di Kabupaten Lampung Selatan.

Horticultural crops in South Lampung are cayenne, long beans, cucumber, eggplant, kale, and tomatoes. The following table shows data of harvested area and production of vegetable crops in South Lampung.

Tabel 4.2 Luas Panen dan Produksi Sayuran di Kabupaten Lampung Selatan 2013 Table 4.2 Harvested Area and Vegetable Production in South Lampung 2013

No Jenis Tanaman/ Plant Type Luas Panen (ha)/ Harvested Area (ha) Produksi (kwt)/ Production (Qwt) Wilayah/ Area

1 Cabe Merah/ Chili 362 25.952

Tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten lampung Selatan/ Spread in all sub-district of South Lampung

2 Kacang Panjang/ Long Beans 263 25.211

Tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten lampung Selatan/ Spread in all sub-district of South Lampung

3 Ketimun/ Cucumber 194 22.100

Tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten lampung Selatan terkecuali Kecamatan Way Panji/ Spread in all sub-district of South Lampung except in Way Panji

4 Terung/ Eggplant 182 20.219

Tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten lampung Selatan terkecuali Kecamatan Rajabasa/ Spread in all sub-district of South Lampung except in Rajabasa

5 Kangkung/ Kale 155 13.654

Tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten lampung Selatan terkecuali Kecamatan Rajabasa dan Kecamatan Merbau Mataram/ Spread in all sub-district of South Lampung except in Rajabasa and Merbau Mataram

6 Tomat/ Tomato 172 18.116

Tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten lampung Selatan terkecuali Kecamatan Rajabasa dan Sidomulyo/ Spread in all sub-district of South Lampung except in Rajabasa and Sidomulyo

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura & BPS Kab. Lampung Selatan 2014

(25)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

24

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

C. Buah-Buahan C. Fruits

Gambar 4.5 Buah-Buahan di Kabupaten Lampung Selatan Figure 4.5 Fruits Crop in South Lampung

Tanaman buah-buahan di Kabupaten Lampung Selatan adalah mangga, durian, rambutan, pisang, papaya, melinjo, dan lainnya. Produksi terbesar adalah tanaman buah pisang yaitu sebesar 2.118.037 kwintal.

Fruit crops in South Lampung are mango, durian, rambutan, banana, papaya, gnetum, and others. The largest production is bananas which amounted to 2.118.037 quintals.

Tabel 4.3 Produksi Tanaman Buah-Buahan di Kabupaten Lampung Selatan Table 4.3 Fruits Crop Production in South Lampung

No Jenis Tanaman/ Plant Type Produksi (kwt)/ Production (Qw) Wilayah/ Area

1 Mangga/ Mango 38.308 Tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-districts of South Lampung

2 Durian/ Durian 63.319

Kecamatan Natar, Tanjung Bintang, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Kalianda, Rajabasa, Palas, Sragi, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

3 Rambutan/ Rambutan 21.843

Kecamatan natar, Jati Agung, Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Candi Puro, Kalianda, Rajabasa, Palas, Sragi, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

4 Pisang/ Banana 2.118.037 Tersebar diseluruh Kecamatan di kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-districts of South Lampung

5 Pepaya/ Papaya 17.165

Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung bintang, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Way Panji, Kalianda, Palas, Sragi, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

6 Melinjo/ Gnetum 27.586

Kecamatan Natar, Jati agung, Tanjung Bintang, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Way Panji, Kalianda, Rajabasa, Palas, Saragi, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

7 Lainnya/ Others 98.162 Seluruh Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-districts of South Lampung Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura & BPS Kab. Lampung Selatan

(26)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

25

Gambar 4.6 Peta Potensi Sektor Pertanian Hortikultura di Kabupaten Lampung Selatan Figure 4.6 Horticulture Sector Potential Map in South Lampung

(27)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

26

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah The Mapping Potential and Local Investment Opportunities Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Investment Coordinating Board

D. Perkebunan D. Plantation

Gambar 4.7 Beberapa Potensi di Sektor Pertanian Kabupaten Lampung Selatan Figure 4.7 Plantation Sector Potentials in South Lampung

Kabupaten Lampung Selatan adalah salah satu penghasil kelapa terbesar di Provinsi Lampung. Tahun 2013 luas panen kelapa di Kabupaten Lampung Selatan sebesar 27.240,8 ha dengan produksi 52.920,53 ton. Sektor perkebunan yang sangat berpotensi untuk tujuan investasi yaitu kelapa. Tidak hanya produksi kelapa, tanaman perkebunan di Kabupaten Lampung Selatan yang menyumbang produksi terbesar yaitu tanaman kelapa sawit dan kakao, dimana produksinya sebesar 15.787,57 ton dan 13.155,12 ton.

South Lampung is one of the biggest oil producers in Lampung Province. In 2013, coconuts harvested area in South Lampung was 27,240.8 hectares with the production of 52,920.53 tons. The plantation sector that has the potential for investment purposesis oil. Not only the production of coconut, plantation crops in South Lampung which accounts for the largest production oil palm with the production of 15,787.57 tons and cocoa of 13,155.12 tons.

Tabel 4.4 Luas Panen dan Produksi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Lampung Selatan, 2013 Table 4.4 Harvested Area and Plantation Crops Production in South Lampung 2013 No Tanaman Perkebunan/ Plantation Crop Luas Panen (ha)/ Harvested Area (ha) Produksi (ton)/ Production (ton) Wilayah/ Area 1 Karet/ Rubber 3.126,8 4.097,82

Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mataram, Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Way Panji, Rajabasa, Penengahan, Ketapang, Bakauheni

2 Kelapa/ Coconut 27.240,8 52.920,53

Tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan/ Spread in all sub-districts in South Lampung

3 Kelapa Sawit/ Oil Palm 6.768,3 15.787,57

Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mataram,Way Sulam, Sidomulyo, Candi Puro, Rajabasa, Sragi, Ketapang, Bakauheni

4 Kopi/ Coffee 847,3 924,21

Kecamatan Natar, Jati Agung, Tanjung Bintang, Tanjung Sari, Katibung, Merbau Mtaram, Sidomulyo, Candi Puro, Way Panji, Kalianda, Rajabasa, Sragi, Ketapang, Bakauheni

5 Lada/ Pepper 83,3 54,40

Kecamatan Jati Agung, Katibung, Merbau Mataram, Sidomulyo, Way Panji, Kalianda, Sragi, Ketapang, Bakauheni

6 Kakao/ Cocoa 11.291,0 13.155,12

Tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan / Spread in all sub-districts in South Lampung

7 Lainnya/ Others 17.514,3 2.091,62

Adapun tersebar diseluruh kecamatan di kabupaten lampung selatan/ Spread in all sub-districts in South Lampung

Sumber: Dinas Pekebunan Kab. Lampung Selatan 2014

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :