BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Umum
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kajian eksperimental yang dilakukan di :
1. Laboratorium Beton Fakultas Teknik Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara meliputi :
a. Pemeriksaan Bahan
b. Perendaman benda uji Curing tetap harus dilakukan mengingat bata beton ringan meggunakan semen di mana berlaku prinsip kekuatan beton mencapai 100% pada umur 28 hari.
c. Pengujian kuat tekan bata beton ringan pada umur 3, 7, 14, 21 dan 28 hari. Pengujian ini dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara faktor umur bata beton ringan dengan kuat tekan bata beton ringan.
d. Pengujian absorpsi bata beton ringan
2. Pabrikan bata beton ringan meliputi : a. Penyediaan bahan penyusun beton.
b. Perencanaan campuran bata beton ringan (Mix Design).
c. Pembuatan benda uji diagram alir dari proses pembuatan bata beton ringan.
3.2 Bahan Penyusun Beton Ringan
Bahan penyusun beton terdiri dari semen portland, agregat halus, foaming agent dan air. Sering pula ditambah bahan campuran tambahan yang sangat bervariasi untuk mendapatkan sifat-sifat beton ringan yang diinginkan. Biasanya perbandingan campuran yang digunakan adalah perbandingan jumlah bahan penyusun beton yang lebih ekonomis dan efektif.
3.2.1 Semen Portland
Semen Portland yang dipakai untuk struktur harus mempunyai kualitas tertentu yang telah ditetapkan agar dapat berfungsi secara efektif.
Sifat-sifat fisik semen yaitu : 1. Kehalusan Butir
Kehalusan semen mempengaruhi waktu pengerasan pada semen. Secara umum, semen berbutir halus meningkatkan kohesi pada beton segar dan dapat mengurangi bleeding (kelebihan air yang bersama dengan semen bergerak ke permukaan adukan beton segar), akan tetapi menambah kecendrungan beton untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut.
2. Waktu ikatan
Waktu ikatan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu tahap dimana pasta semen cukup kaku untuk menahan tekanan. Waktu tersebut terhitung sejak air tercampur dengan semen. Waktu dari pencampuran semen dengan air sampai saat kehilangan sifat keplastisannya disebut waktu ikat awal, dan pada waktu sampai pastanya menjadi massa yang keras disebut waktu ikat akhir. Pada semen portrland biasanya batasan waktu ikaran semen adalah :
• Waktu ikat awal > 60 menit. • Waktu ikat akhir > 480 menit.
Waktu ikatan awal yang cukup awal diperlukan untuk pekerjaan beton,yaitu waktu transportasi, penuangan, pemadatan, dan perataan permukaan.
3. Panas hidrasi
Silikat dan aluminat pada semen bereaksi dengan air menjadi media perekat yang memadat lalu membentuk massa yang keras. Reaksi membentuk media perekat ini disebut hidrasi.
4. Pengembangan volume (lechathelier)
Pengembangan semen dapat menyebabkan kerusakan dari suatu beon, karena itu pengembangan beton dibatasi sebesar ± 0,8 %. Akibat perbesaran volume tersebut , ruang antar partikel terdesak dan akan timnul retak – retak. Semen yang dipakai dalam penelitian ini adalah semen tipe I yang diproduksi oleh PT. SEMEN PADANG dalam kemasan 1 sak 50 kg.
3.2.2 Agregat Halus a. Tujuan Percobaan
Mengetahui tingkat kandungan bahan organik dalam agregat halus.
b. Peralatan
1) Botol gelas tembus pandang dengan penutup karet kapasitas 350 ml.
2) Gelas ukur kapasitas 1000 ml. 3) Timbangan.
4) Mistar.
5) Standar warna Gardner. 6) Sendok pengaduk. 7) Sampel splitter c. Bahan
1) Pasir dan Bottom Ash kering oven lolos ayakan Ø 4,75 mm. 2) NaOH padat.
3) Air
d. Prosedur Percobaan
1) Sediakan pasir secukupnya dengan menggunakan sampel splitter sehingga terbagi seperempat bagian;
2) Sampel dimasukkan ke dalam botol gelas setinggi ± 3 cm dari dasar botol;
3) Sediakan larutan NaOH 3% dengan cara mencampur 12 gram kristal NaOH kedalam 388 ml air menggunakan gelas ukur. Aduk hingga kristal NaOH larut;
4) Masukkan larutan tersebut sampai tinggi larutan ± 2 cm dari permukaan pasir (tinggi pasir + larutan = 5 cm);
5) Larutan diaduk menggunakan sendok pengaduk selama 7 menit; 6) Botol gelas ditutup rapat menggunakan penutup karet dan
diguncang-guncang pada arah mendatar selama 8 menit; 7) Campuran didiamkan selama 24 jam;
8) Bandingkan perubahan warna yang terjadi setelah 24 jam dengan standar warna Gardner.
e. Rumus/Standar
Pengelompokkan standar warna Gardner adalah sebagai berikut: 1) Standar warna no. 1: berwarna bening/jernih. 2) Standar warna no. 2: berwarna kuning muda. 3) Standar warna no. 3: berwarna kuning tua.
4) Standar warna no. 4: berwarna kuning kecoklatan. 5) Standar warna no. 5: berwarna coklat
Perubahan warna yang diperbolehkan menurut standar warna Gardner adalah standar warna no. 3. Jika perubahan warna yang terjadi melebihi standar warna no. 3 maka, pasir tersebut mengandung bahan organik yang banyak dan harus dicuci dengan larutan NaOH 3% kemudian bersihkan dengan air.
f. Hasil Percobaan
Warna material pasir adalah kuning muda (Standar no. 2)
Ukuran Lubang Ayakan (mm) Persentase Lolos Kumulatif (%)
9.5 100
4.75 95-100
2.36 80-100
0.6 25-60
0.3 10-30
0.15 2-10
Tabel 3.1 Susunan Besar Butiran Agregat Halus (ASTM, 1991) 3.2.3 Air
Air merupakan salah satu bahan yang dibutuhkan untuk campuran beton untuk mendukung reaksi kimia dengan semen. Air yang mengandung senyawa garam, minyak, bahan-bahan kimia lainnya dapat mengubah sifat semen. Dalam pembuatan bata beton ringan, air berfungsi untuk melunakkan campuran agar bersifat plastis, air yang terlalu banyak akan menyebabakan banyaknya gelembung udara setelah proses hidrasi selesai, sedangkan air yang terlalu sedikit akan menyebabkan tidak selesainya proses hidrasi sehingga mengakibatkan penurunan kekuatan bata beton tersebut. Dalam penelitian ini air yang dipakai adalah berasal dari PDAM Tirtanadi, di PT. Solid House Indonesia.
3.2.4 Abu Batu
Abu batu yang digunakan dalam penelitian ini adalah Abu batu yang dihasilkan dari pabrik AMP yang sudah melalui proses crushing pada mesin stone crusher, dimana Abu Batu yang digunakan adalah Abu Batu yang lolos saringan No.200 dan
tertahan di pan. Abu Batu ini memiliki berat jenis sebesar 2666 kg/m3 ..
Prosesedur percobaan berat jenis (specific gravity)
No. Percobaan I II
No. Piknometer 1 2
A Berat Piknometer (W1) 33,61 25,92
B Berar Piknometer + Tanah (W2) 65,52 52,91
C Berat Tanah (W2-W1) 28,91 26,99
D Berat Piknometer+Tanah+Air (W3) 101,21 92,45
E Berat Piknometer+Air sebelum
koreksi (W4)
83,19 75,58
F Temprature (ToC) 27 27
H Berat Piknometer+Air sebelum
koreksi (W4,)
83,15 75,54
I Isi Tanah (W2-W1+W4-W3) 10,85 10,12
Berat jenis 2,6649 2,6670
Berat jenis rata rata 2,6660
Alasan penggunan abu batu yang lolos saringan No.200 untuk dapat mengisisi atau menjadi filler pada bata beton ringan yang bertujuan dapat meningkatkan mutu dari beton
3.2.5 Foaming Agent
Foaming Agent pada saaat dicampur dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir dan air akan beraksi sehingga membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke atmosfir dan langsung digantikan oleh udara. Ronggarongga tersebutlah yang membuat bata beton menjadi ringan. Dalam pembuatan foam membutuhkan 28 ml foam dalam 1 liter air
Proses pembuatan foaming agent adalah sebagai berikut: 1. Persiapkan alat dan bahan.
2. Timbang dan ukur air dan foam sesuai rencana. 3. Masukan foam terlebih dahulu kedalam wadah. 4. Masukan air kedalam wadah.
5. Aduk menggunakan alat bor modifakasi selama 1 menit. 6. Ambil foam kedalam gelas ukur dan timbang
7. Hasil timbangan tersebut harus diantara 70-90 gram
8. Jika belum proses pengadukan dilakukan kembali hingga didapat berat jenis foam yang direncanakan
3.3 Perencanaan Campuran Bata Beton Ringan
Sampai saat ini, tidak ada pengaturan mix design yang baku untuk proses pembuatan bata beton ringan. Hal ini disebabkan densitas dari bata beton yang dihasilkan sangat bergantung kepada foaming agent untuk menghasilkan pori-pori pada bata beton ringan tersebut. Pada eksperimen ini, penulis membuat eksperimen dengan mengacu kepada hasil eksperimen Kausal Kishore, seorang material engineers yang berasal dari Jepang.
Berikut adalah hasil penelitiannya :
Perbandingan Semen : Pasir yang digunakan berkisar 1 : 1.9 hingga 1 : 2.2 dengan FAS bervariasi dari 0.40, 0.45, 0.50, dan 0.55. Pada eksperimen ini, perbandingan semen : pasir yang digunakan adalah 1 : 2 dengan FAS sebesar 0.55 dan densitas bata beton ringan yang dihasilkan berkisar antara <1900 kg/m3 serta mempunyai kekuatan
tekan minimal serta mempunyai kekuatan tekan minimal sebesar 3 Mpa. Dan berdasarkan SNI 3-0349-1989 yang mempunyai kuat tekan minimal sebesae 2 Mpa untuk mutu IV
Mutu Kuat tekan minimum (Mpa)
I 9,7
II 6,7
III 3,7
IV 2
3.4 Penyediaan Bahan Penyusun Bata Beton Ringan
Setelah dilakukan pemeriksaan karakteristik terhadap bahan pembuatan beton seperti pasir, semen dan bahan tambahan yang akan digunakan untuk mendapatkan
Brick type Cube strengt (Mpa) Crumbling coefficient
Slurried and twice burnt brick 10-12 0.23-0.3
High-strengt brick 8-10 0.50-0.6
mutu material yang baik sesuai dengan persyaratan yang ada. Kemudiaan bahan tersebut ditempatkan di ruangan tertutup, hal ini untuk menghindari pengaruh cuaca luar yang dapat merusak bahan ataupun mengakibatkan perbedaan kualitas bahan. Sehari sebelum dilakukan pengecoran benda uji bahan yang telah dipersiapkan tersebut ditimbang berapa beratnya sesuai dengan variasi campuran yang ada dan diletakkan dalam wadah yang terpisah untuk mempermudah pelaksanaan pengecoran yang dilakukan.
3.5 Pembuatan Benda Uji
Pembuatan benda uji terdiri dari 3variasi campuran dan 1 komposisi campuran sebagai perbandingan antara variasi yang ada.yaitu:
Variasi Semen Pasir Abu Batu
1 1 2 0
2 1 1,8 0.2
3 1 1,7 0.3
4 1 1,6 0,4
Setelah semua bahan dan alat sudah dipersiapkan dan sudah dibersihkan, hidupkan mixer (mesin molen) dengan memasukan pasir terlebih dahulu setelah itu masukan Abu Batu dan masukan semen dan biarkan beberapa saat. Kemudian dilakukan pembuatan Foaming Agent, setelah Foaming Agent siap untuk digunakan masukan air kedalam mesin molen. Setelah mortar sudah tercampur rata masukan Foaming Agent kedalam campuran mortar secara perlahan kemudian ambil campuran bata beton ringan tersebut dan masukan kedalam gelas ukur 1L dan timbang hingga mendapatkan berat jenis yang diinginkan, jika belum tambahkan kembali Foaming agent.
Adukan yang sudah tercampur rata, dituangkan kedalam cetakan yang sudah dilapisi oli pada dinding bagian dalamnya. Pindahkan cetakan ketempat yang terhindar dari sinar matahari. Setelah berumur 24 jam cetakan sudah boleh dibuka dan beton ditandai menggunakan spido kemudian beton dipisahkan menjadi 2 bagian yaitu yang direndam dan tidak direndam di bak perendaman.
3.6 Pengujian Sampel
Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kuat tekan beton, berat jenis dan absorpsi bata beton ringan.
3.6.1 Pengujian Kuat Tekan Bata Beton Ringan
Pengujian dilakukan pada umur beton 3, 7,14, 21 dan 28 hari untuk tiap variasi beton sebanyak 5 buah. Sehari sebelum pengujian sesuai umur rencana, silinder beton dikeluarkan dari bak perendaman. Sebelum dilakukan uji kuat tekan, benda uji ditimbang beratnya. Pengujian kuat tekan beton dilakukan dengan menggunakan mesin kompres elektrik berkapasitas 200 ton yang digerakkan secara elektrik.
𝑓′𝑐 =𝑃
𝐴
Dimana : f’c = Gaya tekan (kg/cm2)
P = Beban tekan (kN)
A = luas bidang permukaan (cm2)
3.6.2 Pengujian Absorpsi Bata Beton Ringan Absorpsi Bata Beton Ringan dapat dihitung dengan rumus :
𝐴 =𝑀𝑏−𝑀𝑘
𝑀𝑘 𝑥100%
Dengan : A = Absorbsi (%)
Mb = Berat benda uji dalam keadaan jenuh air (gram)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian bata beton ringan
4.1.1 Pengujian kuat tekan dan berat jenis
Pengujian kuat tekan bata beton ringan dilakukan pada umur 3, 7, 14, 21, 28 hari dengan maksud untuk mendapatkan gambaran perkembangan kekuatan tekan bata beton ringan dengan menggunakan Abu Batu sebagai bahan tambahan dan membandingkannya dengan kekuatan tekan bata beton ringan tanpa menggunakan Abu Batu.
Dari hasil yang terdapat pada tabel diatas menunjukan bahwa penggunaan Abu Batu dalam campuran batu bata beton ringan menunjukan hasil yang significant dalam hal kuat tekan.
Adapun hasil pengujian kuat tekan pada batu bata ringan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 4.1 kuat tekan dan berat jenis benda uji 1, benda uji 2, benda uji 3, benda uji 4
BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,450 8,083 8,363 118,300 98,400 88,300 8,299 101,667 5,756 1,566 7 7,636 8,156 8,051 138,000 139,000 128,500 7,948 135,167 7,653 1,500 14 7,562 7,449 7,682 159,800 158,000 154,300 7,564 157,367 8,910 1,428 21 7,553 7,410 7,610 162,300 165,400 160,000 7,524 162,567 9,204 1,420 28 7,507 7,398 7,590 163,400 165,800 161,200 7,498 163,467 9,255 1,415 BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,460 8,670 8,520 69,200 69,500 68,300 8,550 69,000 3,907 1,614 7 8,187 8,263 8,297 118,500 112,700 110,600 8,249 113,933 6,451 1,557 14 8,155 8,166 8,200 120,000 122,200 118,700 8,174 120,300 6,811 1,543 21 7,889 8,052 7,900 120,400 122,300 119,800 7,947 120,833 6,841 1,500 28 7,661 7,919 7,887 121,600 123,800 120,400 7,822 121,933 6,904 1,476 BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 7,353 7,460 7,822 46,600 43,300 39,800 7,545 43,233 2,448 1,424 7 7,340 7,327 7,497 46,900 48,700 41,100 7,388 45,567 2,580 1,394 14 7,280 7,316 7,390 57,200 56,200 50,900 7,329 54,767 3,101 1,383 21 7,220 7,310 7,380 57,400 56,700 51,300 7,303 55,133 3,121 1,378 28 7,308 7,294 7,393 58,100 57,300 52,300 7,332 55,9 3,165 1,384 BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,225 8,263 8,228 35,400 37,300 34,300 8,239 35,667 2,019 1,555 7 8,110 8,010 7,990 48,200 49,200 38,900 8,037 45,433 2,572 1,517 14 7,890 7,980 7,890 52,460 52,100 52,090 7,920 52,217 2,956 1,495 21 7,640 7,540 7,700 53,500 52,990 52,700 7,627 53,063 3,004 1,439 28 7,294 7,519 7,364 53,600 53,200 52,900 7,392 53,233 3,014 1,395 Berat jenis rata rata Kuat Tekan(KN)
Berat Kuat Tekan(KN)
0%
Berat jenis rata rata
Berat jenis rata rata
Berat jenis rata rata
Berat Rata-Rata Kuat Tekan Rata-Rata Kuat Tekan Rata-Rata Kuat Tekan Rata-Rata Kuat Tekan Rata-Rata Mpa Mpa Mpa
Berat Kuat Tekan(KN)
Berat Berat
Rata-Rata Berat Rata-Rata Mpa Benda Uji 4 Benda Uji 3 Benda Uji 1 Benda Uji 2 Berat Rata-Rata
Berat Kuat Tekan(KN)
10%
15%
Grafik 4.1 kuat tekan dan berat jenis benda uji 1 dan benda uji 2, benda uji 3, benda uji 4
Dimana dari tabel atas didapatkan hasil bahwa dengan penambahan Abu Batu dalam persen yang semakin besar akan menurunkan mutu batu bata ringan secara significant, seperti penambahan Abu batu sebesar 10% dari jumlah pasir yang digunakan.
Tabel 4.2 kuat tekan dan berat jenis benda uji 1 dan benda uji 2
BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,450 8,083 8,363 118,300 98,400 88,300 8,299 101,667 5,756 1,566 7 7,636 8,156 8,051 138,000 139,000 128,500 7,948 135,167 7,653 1,500 14 7,562 7,449 7,682 159,800 158,000 154,300 7,564 157,367 8,910 1,428 21 7,553 7,410 7,610 162,300 165,400 160,000 7,524 162,567 9,204 1,420 28 7,507 7,398 7,590 163,400 165,800 161,200 7,498 163,467 9,255 1,415 BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,460 8,670 8,520 69,200 69,500 68,300 8,550 69,000 3,907 1,614 7 8,187 8,263 8,297 118,500 112,700 110,600 8,249 113,933 6,451 1,557 14 8,155 8,166 8,200 120,000 122,200 118,700 8,174 120,300 6,811 1,543 21 7,889 8,052 7,900 120,400 122,300 119,800 7,947 120,833 6,841 1,500 28 7,661 7,919 7,887 121,600 123,800 120,400 7,822 121,933 6,904 1,476 Mpa Berat jenis rata rata
Benda Uji 2
10%
Berat Kuat Tekan(KN) Berat
Rata-Rata
Kuat Tekan Rata-Rata Mpa
Berat jenis rata rata Benda Uji 1
0%
Berat Kuat Tekan(KN) Berat
Rata-Rata
Kuat Tekan Rata-Rata 5.76 7.65 8.91 9.20 9.26 3.91 6.45 6.81 6.84 6.90 2.45 2.58 3.10 3.12 3.16 2.02 2.57 2.96 3.00 3.01 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 3 7 14 21 28 M Pa
Umur Benda Uji
KUAT TEKAN
Benda Uji 1 Benda Uji 2 Benda Uji 3 Benda Uji 4
Grafik 4.2 Nilai kuat tekan variasi 1, variasi 2
Pada tabel 4.2 diatas menunjukan penurunan kuat tekan dari benda uji 1 dan benda uji 2 yang siginificant. Peninjauan kuat tekan untuk dibandingkan pada umur 28 hari, dikarenakan pada umur 28 hari kenaikan kuat tekan beton sudah tidak terlalu significant lagi. Sehingga didapat jumlah penurunan dari benda uji 1 dan benda uji 2 sebesar 25,4%
Tabel 4.3 kuat tekan dan berat jenis benda uji 1 dan benda uji 3
BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,450 8,083 8,363 118,300 98,400 88,300 8,299 101,667 5,756 1,566 7 7,636 8,156 8,051 138,000 139,000 128,500 7,948 135,167 7,653 1,500 14 7,562 7,449 7,682 159,800 158,000 154,300 7,564 157,367 8,910 1,428 21 7,553 7,410 7,610 162,300 165,400 160,000 7,524 162,567 9,204 1,420 28 7,507 7,398 7,590 163,400 165,800 161,200 7,498 163,467 9,255 1,415 BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 7,353 7,460 7,822 46,600 43,300 39,800 7,545 43,233 2,448 1,424 7 7,340 7,327 7,497 46,900 48,700 41,100 7,388 45,567 2,580 1,394 14 7,280 7,316 7,390 57,200 56,200 50,900 7,329 54,767 3,101 1,383 21 7,220 7,310 7,380 57,400 56,700 51,300 7,303 55,133 3,121 1,378 28 7,308 7,294 7,393 58,100 57,300 52,300 7,332 55,9 3,165 1,384 Mpa Berat jenis rata rata
Benda Uji 3
15%
Berat Kuat Tekan(KN) Berat
Rata-Rata
Kuat Tekan Rata-Rata Mpa
Berat jenis rata rata Benda Uji 1
0%
Berat Kuat Tekan(KN) Berat
Rata-Rata
Kuat Tekan Rata-Rata
Grafik 4.2 Nilai Kuat Tekan variasi 1, variasi 3
Pada tabel 4.3 diatas menunjukan penurunan kuat tekan dari benda uji 1 dan benda uji 3 yang juga significant, terhadap 28 hari. Sehingga didapat jumlah penurunan dari benda uji 1 dan benda uji 3 sebesar 65,8%
Tabel 4.4 kuat tekan dan berat jenis benda uji 1 dan benda uji 4
BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,450 8,083 8,363 118,300 98,400 88,300 8,299 101,667 5,756 1,566 7 7,636 8,156 8,051 138,000 139,000 128,500 7,948 135,167 7,653 1,500 14 7,562 7,449 7,682 159,800 158,000 154,300 7,564 157,367 8,910 1,428 21 7,553 7,410 7,610 162,300 165,400 160,000 7,524 162,567 9,204 1,420 28 7,507 7,398 7,590 163,400 165,800 161,200 7,498 163,467 9,255 1,415 BU 1 BU 2 BU 3 BU 1 BU 2 BU 3 3 8,225 8,263 8,228 35,400 37,300 34,300 8,239 35,667 2,019 1,555 7 8,110 8,010 7,990 48,200 49,200 38,900 8,037 45,433 2,572 1,517 14 7,890 7,980 7,890 52,460 52,100 52,090 7,920 52,217 2,956 1,495 21 7,640 7,540 7,700 53,500 52,990 52,700 7,627 53,063 3,004 1,439 28 7,294 7,519 7,364 53,600 53,200 52,900 7,392 53,233 3,014 1,395 Mpa Berat jenis rata rata
Benda Uji 4
20%
Berat Kuat Tekan(KN) Berat
Rata-Rata
Kuat Tekan Rata-Rata Mpa
Berat jenis rata rata Benda Uji 1
0%
Berat Kuat Tekan(KN) Berat
Rata-Rata
Kuat Tekan Rata-Rata
Grafik 4.2 Nilai Kuat Tekan variasi 1dan variasi 4
Pada tabel 4.4 diatas menunjukan penurunan kuat tekan dari benda uji 1 dan benda uji 4 yang juga significant, terhadap 28 hari. Sehingga didapat jumlah penurunan dari benda uji 1 dan benda uji 4 sebesar 67,4%
4.1.2 Pengujian Absorbsi
Pengujian Absorbsi pada penelitian bata beton ringan dilakukan pada umur 14, 21, dan 28 hari. Pengujian nilai Absorbsi tidak dlakukan pada umur 3 dan 7 hari dikarenakan bata beton ringan dalam penelitian ini dapat menurunkan mutu dari beton tersebut. Pebgujian Absorbsi pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai daya serap dari bata beton ringan terhadap air. Dimana nilai Absorbsi semakin besar maka terdapat banyak rongga dalam bata beton ringan tersebut, yang besar kecilnya nilai Absorbsi menyatakan kepadatan dari bata beton ringan dalam penelitian ini.
Adapun hasil dari pengujian nilai Absorbsi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Nilai Absorbsi variasi 1, variasi 2, variasi 3, variasi 4
Grafik 4.5 Nilai Absorbsi variasi 1, variasi 2, variasi 3, variasi 4
14 7,682 8,0930 5,3502 21 7,610 8,2150 7,9501 28 7,590 8,3100 9,4862 14 8,200 8,5940 4,8049 21 7,900 8,7060 10,2025 28 7,887 8,9270 13,1863 14 7,390 7,8230 5,8593 21 7,380 7,9560 7,8049 28 7,393 7,9720 7,8317 14 7,890 8,1390 3,1559 21 7,700 8,2090 6,6104 28 7,364 8,1880 11,1896 0%
Variasi 1 Berat kering(Kg)Berat Basah (Kg) Nilai Absorbsi (%)
Variasi 2
Variasi 3
Variasi 4
Berat kering(Kg)
Berat kering(Kg)
Berat kering(Kg) Nilai Absorbsi (%)
Nilai Absorbsi (%) Nilai Absorbsi (%) 10% 15% 20% Berat Basah (Kg) Berat Basah (Kg) Berat Basah (Kg)
Dari hasil pengujian nilai Absorbsi pada penelitian ini menunjukan nilai Absorbsi variasi yang menggunakan Abu Batu semakin besar yang menunjukan hasil bahwa penggunaan Abu Batu dapat meningkatkan nilai Absorbsi pada bata beton ringan
Tabel 4.6 Nilai Absorbsi variasi 1, variasi 2
Grafik 4.6 Nilai Absorbsi variasi 1 dan variasi 2
14 7,682 8,0930 5,3502 21 7,610 8,2150 7,9501 28 7,590 8,3100 9,4862 14 8,200 8,5940 4,8049 21 7,900 8,7060 10,2025 28 7,887 8,9270 13,1863 Variasi 1 0%
Berat kering(Kg) Berat Basah (Kg) Nilai Absorbsi (%)
Variasi 2
10%
Berat kering(Kg) Berat Basah (Kg) Nilai Absorbsi (%)
Dari hasil pengujian Nilai Absorbsi pada umur 28 hari dalam penelitian ini menunjukan nilai Absorbsi dari variasi 1 dan varisi 2 menunjukan peningkatan nilai Absorbsi sebesar 39,005 %
Tabel 4.7 Nilai Absorbsi variasi 1, variasi 3
Grafik 4.7 Nilai Absorbsi variasi 1 dan variasi 3
14 7,682 8,0930 5,3502 21 7,610 8,2150 7,9501 28 7,590 8,3100 9,4862 14 7,390 7,8230 5,8593 21 7,380 7,9560 7,8049 28 7,393 7,9720 7,8317 Variasi 1 0%
Berat kering(Kg) Berat Basah (Kg) Nilai Absorbsi (%)
Variasi 3
15%
Dari hasil pengujian Nilai Absorbsi pada umur 28 hari dalam penelitian ini
menunjukan nilai Absorbsi dari variasi 1 dan varisi 3 menunjukan penurunan nilai Absorbsi sebesar 17,441 %
Tabel 4.8 Nilai Absorbsi variasi 1, variasi 4
Grafik 4.8 Nilai Absorbsi variasi 1, variasi 4
Dari hasil pengujian Nilai Absorbsi pada umur 28 hari dalam penelitian ini
menunjukan nilai Absorbsi dari variasi 1 dan varisi 2 menunjukan peningkatan nilai Absorbsi sebesar 17,956 %
4.2 Diskuisi
Foaming Agent dalam pembuatan bata beton ringan ini sangat berperan
14 7,682 8,0930 5,3502 21 7,610 8,2150 7,9501 28 7,590 8,3100 9,4862 14 7,890 8,1390 3,1559 21 7,700 8,2090 6,6104 28 7,364 8,1880 11,1896 Variasi 1 0%
Berat kering(Kg) Berat Basah (Kg) Nilai Absorbsi (%)
Variasi 4
20%
tekan dari bata beton ringan. Sehingga semakin banyak penggunaan Foaming agent dalam campuran bata beton ringan akan menurunkan kuat tekan bata beton ringan yang dibuat
Dalam percobaan ini didapatkan hasil bahwa penggunaan Abu Batu semakin besar akan menurunkan mutu dari batu bata beton ringan ini semakin turun hal bisa terjadi dikarenakan Abu Batu yang digunakan pada eksperimen ini memiliki berat
jenis sebesar 2666 kg/m3 yang berarti semakin banyak penggunaanya dalam campuran
suatu variasi akan meinggkatkan berat jenis dari variasi tersebut sehingga dalam praktik pembuatannya akan menggunakan Foaming agent yang semakin banyak untuk tetap mendapatkan berat jenis yang direncakan
Sebelum percobaan ini berlangsung dilakukan trial sebanyak 3 kali yaitu: 1. Trial I dilakukan pada tanggal 5 november 2016
Dengan menggunakan mix design:
SEMEN PASIR AIR ABU BATU
1 3 0,75 0
Tabel 4.9 Trial Mix Design 1
Dan dalam trial ini, pembuatan Foaming Agent menggunakan perbandingan 1:40 terhadap volume air yang digunakan dan dibentuk menggunakan foam generator berupa bor yang dimodifakasi mata bornya hingga mendapatkan density foam sebesar 80 gr/L, dimana interval density yang baik adalah 70-90 gr/L
Hasil pengujian benda uji trial mix 1 (umur 7 hari)
SAMPEL BERAT (KG) KUAT TEKAN
KN Mpa
SAMPEL 1 7,9 80 5,456
SAMPEL 2 8,1 77,5 5,2855
2. Trial II dilakukan pada tanggal 12 november 2016 Dengan menggunakan mix design :
SEMEN PASIR AIR ABU BATU
1 3 0,75 0
Tabel 4.11 Trial Mix Design 2
Dan dalam trial ini, pembuatan Foaming Agent menggunakan perbandingan 1:40 terhadap volume air yang digunakan dan dibentuk menggunakan foam generator yang dipinjamkan oleh salah satu alumni Teknik Sipil USU tetapi dikarenakan sampel yang dibuat tidak banyak sehingga proses pembuatan foaming agent tidak sempurna dan tidak mencapai density rencana yaitu sebesar 50 gr/L.
Hasil pengujian benda uji trial mix 2 (umur 7 hari)
SAMPEL BERAT (KG) KUAT TEKAN
KN Mpa
SAMPEL 1 8,2 63,5 4,3307
SAMPEL 2 8,0 65 4,433
Tabel 4.12 Hasil Trial Mix Design 2
3. Trial III dilakukan pada tanggal 26 november 2016 Dengan menggunakan mix design :
SEMEN PASIR AIR ABU BATU
1 2 0,75 0
SEMEN PASIR AIR ABU BATU
1 1.8 0,75 0.2
Tabel 4.13 Trial Mix Design 3
Dalam trial ini, pembuatan Foaming Agent menggunakan perbandingan 1:28 terhadap volume air yang digunakan dan dibentuk menggunakan foam generator berupa bor yang dimodifikasi mata bornya hingga mendapatkan density 80 gr/L.
SAMPEL BERAT (KG) KUAT TEKAN
KN MPa
SAMPEL tanpa Abu Batu 7,4 95,4 6,5062
SAMPEL BERAT (KG) KUAT TEKAN
KN MPa
SAMPEL dengan Abu Batu 7,6 61,5 4,1943
Tabel 4.14 Hasil Trial Mix Design 1
4.3 Biaya pembuatan Bata Beton Ringan Type CLC (Cellular Lightweight Concrete) Dalam pembuatan 1M3 Bata Beton Ringan ini memiliki Mix Design sebagai berikut: No Semen (Kg) Pasir (Kg) Abu Batu (Kg) Air (L) Foaming Agent (L)
1 471,875 878,75 0 96,663 1,352
2 471,875 790,875 87,875 96,663 1,352
3 471,875 746,9375 131,8125 96,663 1,352
4 471,875 703 175,75 96,663 1,352
Tabel 4.15 Mix Design
Tabel daftar harga satuan bahan penyusun pembuatan Bata Beton Ringan Type CLC menurut DAFTAR HARGA UPAH DAN BAHAN DINAS PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN KOTA MEDAN 2016 adalah sebagai berikut
No Bahan Penyusun Satuan Harga Satuan (Rp)
1 Semen Portland 40 Kg Zak 61.000
2 Semen portland Kg 1525
3 Pasir M3 125.000
4 Air L 3000
5 Abu Batu M3 150.00
6 Foaming Agent BASF L 40.000
Tabel 4.16 Harga Satuan Material Yang Digunakan
Biaya yang dikeluarkan untuk pembuat 1M3 untuk variasi yang pertama adalah sebagai berikut
No Bahan Penyusun Berat Harga Satuan (Rp) Biaya (Rp)
1 Semen 471,875 Kg 1.525 719.609,375
2 Pasir 878,75 Kg 50,6 44.464,75
3 Abu Batu 0 57 0
4 Air 96,663 L 3.000 289.989
5 Foaming Agent BASF 1.352 L 40.000 54.080
Biaya Total 1.108.143,12
Biaya yang dikeluarkan untuk pembuat 1M3 untuk variasi yang Kedua adalah sebagai berikut
No Bahan Penyusun Berat Harga Satuan (Rp) Biaya (Rp)
1 Semen 471,875 Kg 1525 719.609,375
2 Pasir 790,875 Kg 50,6 40.018,275
3 Abu Batu 87,875 Kg 57 5.008,875
4 Air 96,663 L 3.000 289.989
5 Foaming Agent BASF 1.352 L 40.000 54.080
Biaya Total 1.108.705,52
Tabel 4.18 Biaya Produksi 1M3 Variasi 2
Biaya yang dikeluarkan untuk pembuat 1M3 untuk variasi yang Ketiga adalah sebagai berikut
No Bahan Penyusun Berat Harga Satuan (Rp) Biaya (Rp)
1 Semen 471,875 Kg 1525 719.609,375
2 Pasir 746,9375 Kg 50,6 37.795,0375
3 Abu Batu 131,8125 Kg 57 7.513,3125
4 Air 96,663 L 3.000 289.989
5 Foaming Agent BASF 1.352 L 40.000 54.080
Biaya Total 1.108.986
Tabel 4.19 Biaya Produksi 1M3 Variasi 3
Biaya yang dikeluarkan untuk pembuat 1M3 untuk variasi yang Keempat adalah sebagai berikut
No Bahan Penyusun Berat Harga Satuan (Rp) Biaya (Rp)
1 Semen 471,875 Kg 1525 719.609,375
2 Pasir 703 Kg 50,6 35.571,8
3 Abu Batu 175,75 Kg 57 10.017,75
4 Air 96,663 L 3.000 289.989
5 Foaming Agent BASF 1.352 L 40.000 54.080
Biaya Total 1.109.267,92
Tabel 4.20 Biaya Produksi 1M3 Variasi 4
Harga Rata rata pembuatan Bata Beton Ringan Type CLC dengan 4 Variasi diatas sebesar Rp 1.108.775,64
4.4 Perbandingan Harga dan Berat jenis antara bata beton ringan Type CLC dengan campuran Abu Batu, Batu Bata Merah Konvensional, Dan Bata Beton Ringan Type AAC Grand Elephant dalam 1M3
No Daftar Bata CLC Bata Merah Bata AAC
1 Harga (Rp) 1.108.775,64 600.000 620.000 2 Berat Jenis Kg/m3 1450 1700 595
Tabel 4.21 Perbandingan Harga dan Berat jenis
Dari data Harga dan Berat jenis diatas didapatkan hasil bahwa Bata CLC paling mahal dari antara Bata Merah dan Bata AAC akan tetapi bata CLC meiliki keuntungan memiliki berat jenis yang lebih kecil dari Bata merah
Akan tetapi bata CLC ini lebih murah alat pembuatannya sangat sederhana dibandingkan bata AAC teutama pada bagian pengembang, Dimana alat pengembang untuk beton CLC yang dimodidikasi seharga Rp 750.000 sementara pada Bata AAC peralatan yang digunakan sudah sangat spersifik dengan harga alat yang sangat mahal. Sehingga untuk industri menengah kebawah sangat memungkinkan memproduksi bata ringan Type CLC
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
a) Penggunaan abu batu sebagai subtitusi pasir pada bata beton ringan dapat menurunkan mutu bata beton ringan.
b) Penggunaan abu batu hingga 15% dari jumlah pasir masih dalam batas aman penggunaan.
c) Proses curing sebaiknya dilakukan ketika bata beton ringan berumur 7 hari.
d) Mutu bata beton ringan sangat bergantung dari foaming agent yang digunakan.
e) Sampel yang sudah dikeluarkan dari cetakan sebisa mungkin disimpan diruangan yang terhindar dari sinar matahari
f) Biaya produksi Bata Beton Ringan Type CLC ini paling mahal diantara Bata merah dan Bata Beton Ringan Type AAC Grand Elephant
g) 5.2 Saran
a) Pembuatan foaming dari eksperimen ini menggunakan bor yang sudah dimodifikasi untuk menyerupai foam generator, sebaiknya dalam percobaan berikutnya menggunakan foam generator yang sudah terstandarisasi.
b) Dalam pemilihhan foaming agent diharapkan menggunakan foaming agent yang berbeda dari yang digunakan dalam eksperimen ini.