• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Umbu Tagela Orientasi ke dalam profesi keguruan Bab VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Umbu Tagela Orientasi ke dalam profesi keguruan Bab VII"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

123

BAB VII

KOMPETENSI GURU DAN PERAN KEPALA SEKOLAH

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional terus-menerus berupaya melakukan perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, merupakan kebijakan pemerintah yang di dalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Fullan yang dikutip oleh Law & Glover (2000) mengemukakan “Educational change depends on what teachers do and think… .” Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “ atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru.

Danim (2002) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajad penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.

(2)

124

7.1 Hakekat Kompetensi Guru

Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu? Moqvist (2003, dalam Sudrajat, 2008) mengemukakan bahwa “competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work. Holmes (1992, dalam Sudrajat, 2008) menyebutkan bahwa: ” A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.”

Dari kedua pendapat di atas diperoleh benang merah bahwa kompetensi merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.

Raka Joni (dalam Sudrajat, 2008) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu:

1)

Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.

2)

Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan

peserta didik, sesama guru, maupun masyarakat luas.

(3)

125

Pendidik dan guru dituntut memiliki seperangkat kompetensi seasas dengan Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 28 PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Empat jenis kompetensi guru yang tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu:

1)

Kompetensi pedagogik, terdiri dari 7 kompetensi yaitu:

(1) Mengenal karakteristik anak didik

(2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

(3) Pengembangan kurikulum.

(4) Kegiatan pembelajaran yang mendidik.

(5) Memahami dan mengembangkan potensi peserta didik. (6) Komunikasi dengan peserta didik.

(7) Penilaian dan evaluasi.

2)

Kompetensi kepribadian, terdiri dari 3 kompetensi yaitu:

(8) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

(9) Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan.

(10) Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru.

3)

Kompetensi sosial, terdiri dari 2 kompetensi yaitu:

(11) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif. (12) Komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidikan, orang tua

peserta didik, dan masyarakat.

4)

Kompetensi profesional, terdiri dari 2 kompetensi yaitu:

(13) Penguasaan materi struktur konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

(4)

126

Penguasaan empat kompetensi tersebut mutlak perlu dimiliki tiap guru untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional seperti yang disyaratkan Undang-Undang Guru dan Dosen. Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. Bahasan ini dikemukakan tanpa bermaksud mengabaikan salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Betapa kompetensi kepribadian perlu mendapat perhatian yang lebih. Sebab, kompetensi ini berkaitan dengan idealisme dan kemampuan guru untuk dapat memahami diri sendiri dalam kapasitasnya sebagai pendidik yang memimpin proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Mengacu kepada standar nasional pendidikan, kompetensi kepribadian guru meliputi: 1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, yang indikatornya bertindak sesuai dengan norma hukum dan norma sosial, merasa bangga sebagai pendidik dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma. 2) Memiliki kepribadian yang dewasa, dengan ciri-ciri menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja. 3) Memiliki kepribadian yang arif, yang ditunjukkan dengan tindakan yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. 4) Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani. 5) Memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan, dengan menampilkan tindakan yang sesuai dengan norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong) dan perilakunya yang konstruktif patut diteladani peserta didik.

(5)

127

pengaruh nyata pada keberhasilan tiap peserta didik dalam pembelajaran, apapun mata pembelajarannya.

Dalam penjelasan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian guru yang: 1) mantap; 2) stabil; 3) dewasa; 4) arif dan bijaksana; 5) berwibawa; 6) berakhlak mulia; 7) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; 8) mengevaluasi kinerja sendiri dan 9) mengembangkan diri secara berkelanjutan. Sudrajat (2007) menyatakan guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang mantap pada diri guru memberi teladan yang baik terhadap peserta didik maupun masyarakatnya, sehingga guru tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat, ucapan dan perintahnya) dan “ditiru” (dicontoh sikap dan perilakunya). Berarti kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar peserta didik.

(6)

128

Gumelar dan Dahyat (Sudrajat, 2007) merujuk pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengutarakan kompetensi pribadi meliputi: 1) Pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama. 2) Pengetahuan tentang budaya dan tradisi. 3) Pengetahuan tentang inti demokrasi. 4) Pengetahuan tentang estetika. 5) Memiliki apresiasi dan kesadaran sosial. 6) Memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan. 7) Setia terhadap harkat dan martabat manusia. Sedangkan kompetensi kepribadian guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri.

Johnson (Sudrajat, 2007) mengemukakan kemampuan personal guru, mencakup: 1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya. 2) Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut guru. 3) Kepribadian, nilai dan sikap hidup yang ditampilkan dalam upaya menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi peserta didik.

Di lain pihak, Arikunto (Sudrajat, 2007) mengemukakan kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi peserta didik dan patut diteladani oleh peserta didik. Dengan demikian, kompetensi kepribadian guru tercermin dari indikator sikap dan keteladanan guru di hadapan masyarakat terutama para peserta didik.

(7)

129

yang dirumuskan eksplisit dalam bentuk pernyataan tentang pengetahuan, bekal kepribadian/disposisi dan kinerja guru. The Intasc Standards secara tegas dan jelas menyatakan perlunya memperhatikan bekal kepribadian guru. Dalam hal ini hanya dibahas 2 standar yang menegaskan perlunya guru prospektif memiliki pemahaman tentang kepribadian, yaitu:

1) Intasc Standards, Principle 2: Student Development

Pendidik perlu memahami cara peserta didik belajar dan berkembang serta mampu menyediakan peluang belajar yang mendukung perkembangan intelektual, sosial dan pribadi peserta didik. Sebagai indikator kunci adalah bahwa pendidik mampu mengevaluasi kinerja peserta didik serta mampu merancang pembelajaran yang selaras dengan perkembangan sosial, kognitif dan emosional peserta didik.

2) Intasc Standards, Principle 5: Motivation and Management

(8)

130

dalam upaya memahami perkembangan sosial, emosional dan kognitif peserta didik. Selanjutnya, wawasan pendidik tentang kepribadian juga sangat berguna untuk memahami motivasi manusia.

Sebagai pembanding, dari National Board for Profesional Teaching Skill (2002, dalam Sudrajat, 2008) telah merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do, di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:

1)

Teachers are Committed to Students and Their Learning yang mencakup: (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik, (c) perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik.

2)

Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students yang mencakup: (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).

3)

Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning yang mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik, (c) menilai kemajuan peserta didik secara teratur, dan (d) sadar tujuan utama pembelajaran.

(9)

131

5)

Teachers are Members of Learning Communities yang mencakup: (a) guru memberi kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan orang tua orang peserta didik, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.

Intisari ketiga pendapat di atas tidak menunjukkan adanya perbedaan yang prinsip, perbedaannya hanya pada cara pengelompokkannya. Isi rincian kompetensi pedagodik yang disampaikan oleh Depdiknas, menurut Raka Joni sudah teramu dalam kompetensi profesional.

Peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin komplek, sehingga menuntut guru untuk melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling menguasai informasi akurat terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di alam global. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.

(10)

132

dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

7.2 Konteks Tugas dan Ekspektasi Kinerja Kepala Sekolah, Guru dan Konselor Sekolah

Berikut dinyatakan pada Gambar 6, wilayah tugas managemen dan kepemimpinan kepala sekolah, guru mata pelajaran dan guru pembimbing dalam jalur pendidikan formal dipetakan dalam kurikulum 1975. Ketika itu bimbingan dan konseling dinamakan layanan bimbingan dan penyuluhan pendidikan (Depdiknas, 2008).

Gambar 6. Wilayah Tugas Managemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran dan Guru Pembimbing melalui Pelayanan

Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal

(11)

133

Gambar 7. Kerancuan Wilayah Layanan Konselor dengan Wilayah Layanan Guru dalam KTSP

(12)

134

Gambar 8. Keunikan Komplementalitas Wilayah Pelayanan Guru dan Konselor

Melalui pemahaman terhadap seluk-beluk perkembangan dan belajar peserta didik serta pemotivasian dan pengelolaan perilaku belajar peserta didik, dapat dilihat kepedulian pada perkembangan optimum peserta didik ditekankan pada segi-segi yang menuntut dikuasainya kompetensi guru, terutama kompetensi kepribadian yang bermuara dari penghormatan pada keunikan dan komplementaritas layanan.

7.3 Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru

(13)

135

materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi yang telah dipaparkan di atas.

Kepala sekolah dituntut mampu mempengaruhi, mendorong, menggerakkan, mengarahkan dan memberdayakan seluruh sumber daya pendidikan, terutama guru, untuk mencapai tujuan pendidikan. Depdiknas (2006) menyebutkan tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai: 1) educator; (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor; (5) leader; (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan. Sejalan dengan tujuh peran kepala sekolah, diutarakan hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru sebagai berikut:

1) Kepala Sekolah sebagai Educator (Pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan berusaha memfasilitasi dan mendorong agar guru dapat terus-menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2) Kepala Sekolah sebagai Manajer

(14)

136

3) Kepala Sekolah sebagai Administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

4) Kepala Sekolah sebagai Supervisor

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004, dalam Sudrajat, 2008). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.

(15)

137

5)

Kepala Sekolah sebagai Leader (Pemimpin)

Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Wiyono (2000, dalam Sudrajat, 2008) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.

Kepemimpinan seseorang berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin tercermin dalam sifat berikut: (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, (7) teladan (Mulyasa, 2003 dalam Sudrajat, 2008).

6) Kepala Sekolah sebagai Pencipta Iklim Kerja

(16)

138

sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran. Mulyasa (2003, dalam Sudrajat, 2008) tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator.

7) Kepala Sekolah sebagai Wirausahawan

Dalam menerapkan prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirausahaan yang kuat akan berani melakukan perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran peserta didik beserta kompetensi gurunya.

Gambar

Gambar 6. Wilayah Tugas Managemen dan Kepemimpinan Kepala
Gambar 7. Kerancuan Wilayah Layanan Konselor dengan Wilayah Layanan Guru dalam KTSP
Gambar 8. Keunikan Komplementalitas Wilayah Pelayanan Guru dan

Referensi

Dokumen terkait

Karenanya buku ini disusun untuk membantu mahasiswa calon guru dalam memperdalam dan memperluas wawasanya tentang profesi guru yang akan mewarnai tugasnya sebagai guru

5) Berorientasi pelayanan kepada klien, dan yang ia pentingkan adalah bagaimana dapat melayani siswa dengan sebaik-baiknya demi kemajuan siswa itu sendiri. Seorang

Menurut Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dosen merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, disebutkan “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

Pengertian guru dan tenaga kependidikan dalam Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

Penguasaan kompetensi bagi guru merupakan suatu hal yang mutlak dimiliki, dengan pengusaan kompetensi menurut Undang-undang RI No.14 tahun 2005 yang meliputi pengusaan

Dalam undang-undang guru dan dosen, disebutkan seorang guru harus memiliki 4 (empat) kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya, yaitu (1) kompetensi profesional,