LAPORAN PENELITIAN
KAJIAN PENGEMBANGAN INDUSTRI KERAKYATAN
KERJASAMA
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
KOTA BANJARMASIN
DENGAN
LEMBAGA PENELITIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Tim Peneliti mampu merampungkan seluruh rangkaian kegiatan penelitian yang diwujudkan dalam bentuk Laporan Akhir.
Terwujudnya penelitian ini tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Daerah Kota Banjarmasin terutama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Banjarmasin, demikian pula halnya dengan Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat, Instansi Dinas terkait di Kota Banjarmasin termasuk Camat Banjarmasin Utara, para Lurah dan seluruh masyarakat Kota Banjarmasin yang ada di wilayah Banjarmasin Utara, khususnya para pelaku usaha UMKM yang secara keseluruhan telah memberikan dukungan positif dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini.
Berkenan dengan hal tersebut di atas, maka pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Bapak Walikota dan Bapak Wakil Walikota Kota Banjarmasin, demikian pula Bapak Kepala Bappeda Kota Banjarmasin beserta seluruh jajarannya dan juga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan penelitian ini. Semoga seluruh bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada kami mendapatkan limpahan pahala dari Allah SWT, Amin Ya Rabbal Alamin.
Selanjutnya Tim peneliti menyadari sepenuhnya bahwa kami sebagai manusia biasa tentu saja tidak terlepas dari berbagai kekurangan dan kehilapan dalam melaksanakan proses penelitian ini, untuk itu pada kesempatan ini pula, kami sepatutnya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak.
Secara khusus kami sampaikan pula bahwa Tim Peneliti merasa puas atas selesainya kegiatan penelitian ini, terutama dengan apresiasi yang sangat baik dari Pemerintah Kota Banjarmasin pada saat pelaksanaan seminar proposal maupun seminar akhir hasil penelitian yang dipimpin langsung oleh Bapak Kepala Bappeda Kota Banjarmasin.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati kami segenap Tim Peneliti dari Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, menaruh harapan besar agar kiranya hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi Pemerintah Kota Banjarmasin dalam pengambilan keputusan untuk kebijakan pembangunan terutama dalam Pengembangan Industri Kerakyatan di Kota Banjarmasin.
Banjarmasin, Desember 2012 Ketua Tim Peneliti,
DAFTAR ISI
E. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Yang Radikal 28 F. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Alalak Berbasis
Kearifan Lokal 31
G. .Peningkatan PAD dan Pembangunan Daerah 33
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN 41
BAB IV METODE PENELITIAN 44
A. Desain Penelitian 44
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 44
C. Populasi dan Sampel Penelitian 44
E. Teknik Pengumpulan Data 45
F. Metode Analisis Data 46
G. Prosedur Penelitian 47
H. Tim Peneliti 47
BAB V HASIL PENELITIAN 49
A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 49 B. Karakteristik Responden Penelitian 57 C. Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
di Wilayah Alalak dan Sekitarnya 60 D. Analisis Potensi dan Kompetensi Masyarakat Alalak dan
Sekitarnya Untuk Menjalankan Usaha 63 E. Analisis Peran Lembaga Ekonomi Masyarakat Alalak
J. Analisis Peluang Usaha Potensial di Wilayah Alalak dan
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Kecamatan Banjarmasin Utara Dalam Angka 4
Tabel 4.1 Sampel Penelitian 45
Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Umur dan Status Perkawinan 58
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan pekerjaan 60 Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Tanggungan
Keluarga 61
Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan 62 Tabel 5.5 Distribusi Pendidikan Anak 12 Tahun ke atas Pada
Wilayah Alalak dan Sekitarnya 64
Tabel 5.6 Distribusi Jumlah Anak Dalam Keluarga Masyarakat Alalak dan Sekitarnya Berdasarkan Usia 66 Tabel 5.7 Usaha Yang Telah Dijalankan Masyarakat Alalak dan
Sekitarnya 69
Tabel 5.8 Lamanya Menjalankan Usaha Bagi Masyarakat Alalak
dan sekitarnya 70
Tabel 5.9 Rata-rata Pendapatan Usaha Masyarakat Alalak dan
Sekitarnya 71
Tabel 5.10 Keterlibatan Tenaga Kerja Dalam Menjalankan Usaha 72 Tabel 5.11 Distribusi Rata-rata Pendapatan Keluarga Per Bulan
Masyarakat Alalak dan Sekitarnya 73 Tabel 5.12 Distribusi Rata-rata Pendapatan Keluarga Lainnya
Per Bulan Masyarakat Alalak dan Sekitarnya 74 Tabel 5.13 Distribusi Rata-rata Pengeluaran Keluarga Per Bulan
Masyarakat Alalak dan Sekitarnya 74 Tabel 5.14 Status Tempat Tinggal, Sumber Kebutuhan Air Bersih,
Tabel 5.15 Distribusi Bantuan Lembaga Ekonomi Yang Diterima 77 Tabel 5.16 Besarnya Bantuan Permodalan Yang Diterima
Responden 79
Tabel 5.17 Sumber Permodalan Responden 81 Tabel 5.18 Frekuensi Kegiatan Gotong Royong Masyarakat
Alalak dan Sekitarnya 83
Tabel 5.19 Aktivitas Kegiatan Gotong Royong Masyarakat Alalak 84 Tabel 5.20 Sikap Keterbukaan Masyarakat Terhadap Pendatang
85 Tabel 5.21 Kondisi Modal Sosial Masyarakat Alalak dan
Sekitarnya 87
Tabel 5.22 Kondisi Dukungan Infrastruktur Masyarakat Alalak
dan Sekitarnya 90
Tabel 5.23 Keberadaan Program Pemberdayaan Masyarakat
Lokal Dari Pemerintah Daerah 93
Tabel 5.24 Ketepatan Program Pemberdayaan Masyarakat 94
Tabel 5.25 Sumber Bahan Baku 94
Tabel 5.26 Pemenuhan Kebutuhan Hidup 95
Tabel 5.27 Keterlibatan Masyarakat Dalam Perencanaan 95 Tabel 5.28 Keterlibatan Masyarakat Dalam kegiatan
Pembangunan 96
Tabel 5.29 Keterlibatan Masyarakat Dalam Perencanaan
Pembangunan 97
Tabel 5.30 Proses Pendampingan Yang Berkelanjutan 98 Tabel 5.31 Keberlanjutan Usaha Yang Mendapatkan Bantuan 98 Tabel 5.32 Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Kayu 102 Tabel 5.33 Matriks Komparatif Potensi dan Preferensi
Masyarakat Wilayah Alalak dan Sekitarnya Terhadap
Tabel 5.34 Potensi Pariwisata Pada Wilayah Alalak dan Sekitanrnya Menurut Responden 110 Tabel 5.35 Hambatan Pengembangan Potensi Ekonomi Pada
Wilayah Alalak dan Sekitarnya Menurut Responden 116 Tabel 5.36 Usulan Usaha Pengembangan Potensi Ekonomi
Pada Wilayah Alalak dan Sekitarnya Menurut
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Kerangka Analisis Penelitian 43 Gambar 5.1 Peta Administrasi Kota Banjarmasin 51
Gambar 5.2 Peta Banjarmasin Utara 52
Gambar 5.3 Lokasi Penelitian 53
Gambar 5.4 Peta Sebaran Pasar Tradisonal Pada Wilayah Alalak
dan Sekitarnya 91
Gambar 5.5 Peta Sebaran Industri Kue Khas Banjar (Kue Kering)
Pada Lokasi Penelitian 108
Gambar 5.6 Peta Sebaran Industri Kerupuk Pada Lokasi
Penelitian 108
Gambar 5.7 Peta Sebaran Industri Tajau Pada Lokasi Penelitian 109 Gambar 5.8 Peta Sebaran Industri Tanggui Pada Lokasi Penelitian
109 Gambar 5.9 Peta Sebaran Industri Tikar Purun Pada Lokasi
Penelitian 110
Gambar 5.10 Peta Pariwisata Pasar Terapung 114 Gambar 5.11 Peta Pariwisata Makam Sultan Suriansyah 115 Gambar 5.12 Peta Pariwisata Masjid Sultan Suriansyah 115 Gambar 5.13 Peta Sebaran Industri Dok Kapal Pada Lokasi
Penelitian 118
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu mencerminkan distribusi pendapatan yang adil dan merata. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini hanya dapat dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat, seperti masyarakat perkotaan, sedangkan masyarakat pedesaan atau pinggiran mendapat porsi yang lebih kecil dan tertinggal. Kesenjangan pendapatan ini semakin diperburuk karena adanya kesenjangan pembangunan antar sektor, terutama pada sektor pertanian (basis ekonomi pedesaan) dan non pertanian (ekonomi perkotaan).
Titik berat pembangunan jangka panjang adalah pembangunan bidang ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dengan industri. Untuk mencapai ini diperlukan kekuatan dan kemampuan sektor pertanian guna menunjang pertumbuhan di sektor industri yang kuat dan maju. Kondisi tersebut dapat dilihat dari arah pembangunan oleh pemerintah, yakni membangun sektor pertanian yang tangguh. Hal tersebut sangat beralasan karena lebih dari 70% penduduk di pedesaan bergantung pada sumber pendapatan dari pertanian.
Program pembangunan jangka panjang memuat landasan pembangunan dengan kebijaksanaan ekonomi yang diarahkan kepada dua sektor kunci, yaitu sektor pertanian dan sektor industri dengan memperhatikan keterkaitan dengan sektor lain. Secara spesifik arah kebijaksanaan pembangunan untuk daerah pedesaan masih menitikberatkan pada sektor kunci. Arah pembangunan tersebut adalah untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi regional serta meningkatkan kontribusi dalam pembentukan PDRB di daerah.
pertumbuhan tertinggi pada tahun 2011 yang mencapai 10,32% (Kota Banjarmasin Dalam Angka, 2012).
Pembangunan daerah sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh suatu daerah, maka kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah daerah harus mengacu kepada potensi daerah yang berpeluang untuk dikembangkan, khususnya sektor pertanian. Pada umumnya setiap daerah memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi daerah. Potensi yang dimaksud sebagian besar berada di daerah pedesaan. Potensi tersebut antara lain 1) pengembangan tanaman hortikultura; 2) pengembangan tanaman perkebunan; 3) pengembangan usaha perikanan; 4) pengembangan usaha peternakan; 5) pengembangan usaha pertambangan; 6) pengembangan sektor industri; dan 7) potensi kepariwisataan.
Perjalanan sejarah manusia dari yang sangat primitif sampai pada perkembangan yang sangat modern sekarang ini tidak pernah lepas dari ketergantungannya pada sumber daya alam. Ketergantungan ini telah menghasilkan berbagai model pengembangan sumber daya alam yang tujuan utamanya adalah untuk menjaga kelestariannya. Model pengelolaan sumber daya alam tersebut sangat tergantung pada karakteristik sumber daya alam, karakteristik wilayah, dan karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya. (Irwansyah dan Maya, 2012)
kecamatan yang ada di kota Banjarmasin mempunyai potensi industri kerakyatan yang dapat dikembangkan. Kecamatan Banjarmasin Utara terdiri dari 9 kelurahan, berikut data mengenai Kecamatan
Antasan Kecil Timur 4.797 4.774 2.493 9.571
Jumlah 68.380 69.133 38.017 137.513 Sumber: Kecamatan Banjarmasin Utara Dalam Angka, 2012
Kecamatan Banjarmasin Utara terdiri dari 10 (sepuluh) kelurahan. Alalak adalah satu wilayah di Banjarmasin tepatnya di Kecamatan Banjarmasin Utara yang dulunya merupakan bagian dari Kelurahan Alalak Besar (Alalak Padang) yang telah dipecah menjadi 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Alalak Utara, Alalak Tengah dan Alalak Selatan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/502 tanggal 22 September 1980 tentang penetapan desa menjadi kelurahan. Wilayah Alalak Besar merupakan salah satu permukiman tertua di Banjarmasin. Nama kawasan ini sudah ada dalam Hikayat Banjar yang ditulis terakhir pada tahun 1963. Nama Alalak Besar dalam Hikayat Banjar disebut Halalak.
Sungai Alalak menjadi pusat penggergajian kayu (sirkel) dan band saw kayu.
Jauh berkurangnya sumber daya alam kayu sebagai primadona usaha bagi pelaku usaha di Kalimantan yang diakibatkan kelangkaan jumlahnya menjadikan masyarakat Alalak harus selalu menjadi kreatif dan inovatif dalam kegiatan ekonomi. Untuk itu sangat perlu dilakukan identifikasi kelayakan usaha masyarakat Alalak yang diperkirakan potensial untuk dijadikan proyek pengembangan pedesaan (kelurahan) dan juga jenis komoditas yang layak dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Sehingga dengan demikian masyarakat tidak selalu tergantung kepada sumber daya alam, melainkan dapat memanfaatkan kearifan lokal masyarakat setempat untuk dijadikan sumber usaha.
yang dapat dikembangkan melalui fasilitasi Pemerintah Daerah melalui keberpihakan berupa perencanaan yang tepat, regulasi yang tegas, konsistensi program, tanggung jawab lembaga (stake holders) serta peran aktif masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1) Bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah Alalak dan sekitarnya?
2) Bagaimana potensi dan kompetensi masyarakat Alalak dan sekitarnya untuk menjalankan usaha?
3) Bagaimana peranan lembaga ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya?
4) Bagaimana social capital masyarakat Alalak dan sekitarnya?
5) Bagaimana dukungan infrastruktur dalam pengembangan ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya?
6) Bagaimana efektivitas pemberdayaan ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya?
7) Bagaimana kondisi usaha pengolahan kayu masyarakat Alalak dan sekitarnya yang dijalankan saat ini?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai pada penelitian ini adalah untuk:
1. Untuk mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya.
2. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi potensi dan kompetensi masyarakat Alalak dan sekitarnya untuk menjalankan usaha.
3. Untuk mengetahui peranan lembaga ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya.
4. Untuk mengetahui social capital masyarakat Alalak dan sekitarnya. 5. Untuk mengetahui dukungan infrastruktur dalam pengembangan
ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya.
6. Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pemberdayaan ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya.
7. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi kondisi usaha pengolahan kayu pada masyarakat Alalak dan sekitarnya yang dijalankan saat ini.
masyarakat Alalak dan sekitarnya yang diperkirakan potensial untuk dijadikan proyek pengembangan pada masyarakat Alalak dan sekitarnya.
3) Sebagai bahan informasi bagi pemerintah daerah untuk pengambilan kebijakan dalam rangka menentukan jenis komoditas yang layak dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Alalak dan sekitarnya.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Permasalahan Pembangunan
Secara teoritis, kegagalan pasar akan selalu mucul manakala kompetisi sempurna tidak terjadi. Kegagalan pasar dapat menyebabkan kemunduran (berdampak negatif) kewenangan atau hak legal sebagai perencana dan pelaksana kepentingan-kepentingan publik. Publik sebagai terjemahan dari kepentingan-kepentingan publik. Perlunya lembaga publik juga didasari pemahaman bahwa beberapa bentuk fasilitas diyakini hanya dapat berfungsi dengan optimal jika diserahkan pada kelembagaan publik untuk menyediakannya. Kelembagaan pemerintah dibangun secara berhirarki dengan orientasi yang berbeda. Lembaga pemerintahan berskala nasional, sedangkan pemerintahan daerah memiliki kewenangan berskala daerah.
kelembagaan di bawahnya sehingga cenderung lambat di dalam mengantisipasi perkembangan-perkembangan lokal.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah selama lebih dari dua dekade mampu tumbuh dengan rata-rata 7,2 % per tahun. Sektor pertanian, khususnya sub sektor tanaman pangan berhasil dipacu produktivitasnya sehingga secara nasional pernah dicapai swasembada beras pada era 1984-1987. Namun demikian, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang utama sejauh ini adalah yang bersumber dari kegiatan-kegiatan eksploitasi sumberdaya alam (migas, kayu, dll).
Di lain pihak, selain berbasis sumberdaya alam domestik yang terbarui, pembangunan di masa datang perlu lebih menekankan pengembangan masyarakat lokal melalui upaya-upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat lokal. Sering dengan pemberlakuan otonomi daerah, pemerintah lokal yang akan memiliki kewenangan dan peranan perencanaan pembangunan yang lebih besar memiliki kemampuan yang lebih baik dan lebih berinisiasi dalam perencanaan pembangunan wilayah.
B. Pengertian Kawasan Strategis
Suatu kawasan strategis adalah suatu kawasan ekonomi yang secara potensial memiliki efek ganda (multiplier effect) yang signifikan secara lintas sektoral, lintas spasial (lintas wilayah) dan lintas pelaku. Dengan demikian, perkembangan wilayah strategis memiliki efek sentrifugal karena dapat menggerakkan secara efektif perkembangan ekonomi sektor-sektor lainnya, perkembangan wilayah di sekitarnya serta kemampuan menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas, dalam arti tidak terbatas ekonomi masyarakat kelas-kelas tertentu saja.
keterkaitan (linkages). Suatu kawasan dan komoditi dinilai strategis jika memiliki potensi kaitan ke belakang dan ke depan yang kuat. Ke arah belakang (backward) diharapkan pengembangan suatu kawasan strategis dapat menyerap tenaga kerja serta memacu pertumbuhan aktivitas-aktivitas penyedia input baik berupa produk-produk input (bahan mentah, bahan baku dan alat) maupun produk-produk jasa penunjang.
Ke depan (foreward) pengembangan kawasan diharapkan berpotensi memicu berkembangnya aktivitas-aktivitas pengolahan dan pemanfaatan produk output kawasan. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan aktivitas-aktivitas pasca panen atau pasca penangkapan (aktivitas pengolahan/agroindustri hingga distribusi-pemasaran). Dalam dimensi spasial, keterkaitan ke belakang maupun ke depan yang tumbuh terutama dengan aktivitas ekonomi wilayah yang secara geografis berlokasi di sekeliling kawasan produksi/penangkapan sehingga pengembangan kawasan pada dasarnya adalah suatu bentuk pengembangan wilayah sasaran, dimana sistem agribisnis merupakan salah satu prime mover yang signifikan.
karena dapat memperkokoh posisi tawar pelaku-pelaku ekonomi lokal. Untuk itu di dalam perencanaan kawasan sangat diperlukan pemahaman mengenai struktur keterkaitan spasial antara kawasan wilayah dimaksud dengan wilayah lainnya/sekelilingnya.
C. Pemberdayaan Masyarakat
1. Pengertian Pemberdayaan
Dalam wacana pekerjaan sosial, istilah empowerment yang sekarang menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan bukanlah sesuatu yang baru. Pekerjaan sosial sebagai profesi mempunyai hakekat yaitu pada pertolongan dan pelayanan kepada individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan masyarakat yang mengalami disfungsi. Berdasarkan hal itu, sebenarnya sejak awal perkembangan pekerjaan sosial selalu menggunakan tema-tema seperti kemandirian, kepercayaan diri, kefungsian sosial, dan empowerment.
“empowerment” yang juga dapat bermakna “pemberian kekuasaan” karena power bukan sekedar “daya”, tetapi juga “kekuasaan”, sehingga kata “daya” tidak saja bermakna “mampu”, tetapi juga “mempunyai kuasa”. (Wrihatnolo & Dwidjowijoto, 2007, hal:1) Ife (1995) mengatakan empowerment aims to increase the power of disadvantaged (pemberdayaan bertujuan memberikan kekuatan atau kekuasaan kepada orang-orang yang tidak beruntung). Swift dan Levin (1987) cenderung mengartikan empowerment sebagai pengalokasian ulang mengenai kekuasaan (realocation of power). Rappaport (1984) mengartikan empowerment sebagai suatu cara dimana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar dapat berkuasa atas kehidupannya. (Fahrudin, 16)
Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat Indonesia umumnya dan Masyarakat Alalak khususnya yang dalam kondisi sekarang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan ketertinggalan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. (Wrihatnolo & Dwidjowijoto, 2007)
Pemberdayaan adalah sebuah “proses menjadi” bukan sebuah “proses instan”. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu, penyadaran, pengkapasitasan dan pendayaan. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut (Wrihatnolo & Dwidjowijoto, 2007):
a. Tahap pertama adalah penyadaran. Pada tahap ini target yang hendak diberdayakan diberi “pencerahan” dalam bentuk penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai “sesuatu”. Misalnya, target adalah kelompok masyarakat miskin. Kepada mereka diberikan pemahaman bahwa mereka dapat menjadi berada, dan itu dapat dilakukan jika mereka mempunyai kapasitas untuk keluar dari kemiskinannya.
b. Tahap kedua adalah pengkapasitasan. Inilah yang sering disebut dengan capacity building, atau dalam bahasa yang lebih sederhana memampukan atau enabling. Untuk diberikan daya atau kuasa, yang bersangkutan harus mampu terlebih dahulu. Misalnya, sebelum memberikan otonomi daerah, seharusnya daerah-daerah yang hendak diotonomkan diberi program pemampuan atau capacity building untuk membuat mereka “cakap” (skilfull) dalam mengelola otonomi yang diberikan. Proses capacity building terdiri atas tiga jenis, yaitu manusia, organisasi, dan sistem nilai.
c. Tahap ketiga adalah pemberian daya itu sendiri – atau empowerment dalam makna sempit. Pada tahap ini target diberikan daya, kekuasaan, otoritas, atau peluang. Pemberian ini ssuai dengan kualitas kecakapan yang telah dimiliki.
2. Pemberdayaan Mampu Menambah Daya Masyarakat
Program-program pembangunan di era 1990-an yang dimulai dari program IDT (Inpres Desa Tertinggal) telah menunjukkan tekad pemerintah untuk mengentaskan masyarakat miskin dan sekaligus sebagai bagian dari perwujudan pembangunan alternative yang melihat pentingnya manusia (masyarakat), tidak lagi sebagi objek, tetapi subjek pembangunan. Dalam konteks ini “partisipasi masyarakat sepenuhnya” dianggap sebagai penentu keberhasilan pembangunan.
Dalam pengertian konvensional, konsep pemberdayaan sebagai terjemahan empowerment mengandung dua pengertian, yaitu (1) to give power or authority to atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan, atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, (2) to give ability to atau to enable atau usaha untuk memberi kemampuan atau keberdayaan. Eksplisit dalam pengertian kedua ini adalah bagaimana menciptakan peluang untuk mengaktualisasikan keberdayaan seseorang. (Wrihatnolo & Dwidjowijoto, 2007)
3. Penerapan Pemberdayaan dalam Penanggulangan Kemiskinan
politik, dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh kesempatan seluas-luasnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan. Strategi pemberdayaan masyarakat dilakukan untuk memperkuat kelembagaan sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat, dan memperluas partisipasi masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Strategi peningkatan kapasitas dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dasar dan kemampuan berusaha masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan agar dapat memanfaatkan perkembangan lingkungan. Strategi perlindungan sosial dilakukan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kelompok rentan (perempuan kepala rumah tangga, fakir miskin, orang jompo, anak telantar, kemampuan berbeda/penyandang cacat) dan masyarakat miskin baru baik laki-laki maupun perempuan yang disebabkan antara lain oleh bencana alam, dampak negatif krisis ekonomi, dan kondisi sosial. (Wrihatnolo & Dwidjowijoto, 2007)
Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, dan Program Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil untuk menjalankan instrument pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, perluasan kesempatan berusaha, dan perlindungan sosial. Kedua, adanya satu program yang hanya mengadopsi salah satu dari strategi tersebut. Misalnya Program Bantuan Langsung Tunai kepada Rumah Tangga Miskin sebagai instrument strategi perlindungan sosial. Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak kepada Rumah Tangga Miskin melalui komponen pendidikan (Program Bantuan Operasional Sekolah, BOS) dan kesehatan (Program Asuransi Kesehatan untuk Keluarga Miskin, ASKESKIN) untuk menjalankan instrument strategi peningkatan kapasitas. (Wrihatnolo & Dwidjowijoto, 2007)
4. Pengembangan Ekonomi
tersebut juga terlihat pada jumlah kemiskinan yang semakin meningkat yang tercermin tidak saja dalam statistik garis kemiskinan, tetapi juga dalam angka ketergantungan pada pertolongan darurat seperti, bantuan makanan, uang tunai langsung, lumbung pangan dan sebagainya. Seluruh masyarakat dapat menjadi terpinggirkan secara ekonomi, seperti sebuah industri yang memindahkan logika pasar global dan “perdagangan bebas” dimana yang tersisa hanyalah tutupnya pabrik, hilangnya pekerjaan, masyarakat yang hancur dan keputusasaan personal. (Ife & Tesoriero, 2008)
Dari perspektif pengembangan masyarakat respon terhadap krisis ekonomi ini ditujukan bagi pengembangan pendekatan alternatif yang berupaya merelokasikan aktivitas ekonomi dalam masyarakat lokal serta memperbaiki kualitas kehidupan. Krisis ekonomi yang sedang berlangsung telah memaksa banyak orang dan masyarakat untuk mencari alternatif-alternatif tersebut. Dalam realisasinya, ekonomi mainstream tidak lagi berfungsi secara efektif untuk memenuhi kebutuhan mereka, yaitu kepentingan yang memuncak dalam pengembangan ekonomi masyarakat (Shragge, 1993).
besar dalam parameter konvensional. Sedangkan kategori kedua, pendekatan yang lebih radikal, yaitu berupaya mengembangkan ekonomi berbasis masyarakat alternatif. (Ife & Tesoriero, 2008)
D. Pengembangan Ekonomi Masyarakat yang Konservatif 1. Menarik Industri
Pendekatan yang lebih konservatif terhadap pengembangan ekonomi masyarakat berupaya menemukan cara-cara baru yang membuat masyarakat tersebut dapat lebih berpartisipasi dalam ekonomi mainstream dengan cara menghimpun inisiatif. Pendekatan ini mencoba menarik industri baru ke wilayah lokal dengan memberikan lingkungan yang bagus untuk berinventasi. Misalnya, mencari perusahaan untuk membangun pabrik di masyarakat tersebut dapat menyediakan kesempatan kerja secara langsung dan juga membuka lebih banyak peluang kerja dalam industry jasa. Untuk menarik industri baru ini, masyarakat lokal perlu mencari bantuan dari pemerintah pusat dalam menyediakan infrasktur (jalan, lintasan kereta api, dan lain-lain) dan mungkin perlu membuat penawaran lain yang lebih banyak pilihannya. Misalnya, pemerintah daerah mungkin memberikan bantuan lahan untuk menarik industri, atau memberikan kelonggaran kepada mereka melalui tarif lokal.
di dalam masyarakat lokal atau laba yang diperoleh akan diinventasikan ke wilayah tersebut. Untuk menarik industri di tempat yang pertama, masyarakat lokal yang menghadapi persaingan dengan masyarakat lainnya mungkin menawarkan konsepsi yang menarik sehingga keuntungan bersih yang diperoleh masyarakat sangat kecil. Setelah industri tersebut didirikan, ia akan berupaya sekuat tenaga untuk memperoleh konsesi yang lebih besar dari masyarakat tersebut dengan cara memberikan ancaman untuk menutup atau menarik usahanya. Stretegi ini jelas-jelas berupaya memecahkan problem ekonomi masyarakat dengan menyandarkan pada sistem ekonomi yang sama yang telah menyebabkan mereka di tempat pertama. Dalam banyak kasus, keuntungannya mungkin terbatas, berjangka pendek dan ilusif.
2. Memulai Industri Lokal
memutuskan apa jenis industri baru yang mungkin akan berhasil. Masyarakat lokal yang memiliki ide-ide untuk bisnis baru dapat dibantu mengubah impian menjadi kenyataan dengan bantuan keuangan (seperti dari pemerintah setempat) dan dengan saran mengenai cara-cara mengelola usaha kecil. Ada banyak contoh-contoh yang berhasil sekarang ini tentang pengembangan ekonomi masyarakat tersebut khususnya di wilayah-wilayah pedalaman dimana terdapat kepemimpinan dinamis dari pemerintah lokal dan masyarakat telah menghasilkan terbentuknya sejumlah usaha kecil yang beraneka ragam, seperti pembuatan brondong (popcorn), perbaikan perabot, pembuatan anggur dan pariwisata yang dapat memperbaiki ekonomi dan minat berprestasi serta solidaritas bagi masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan pembelanjaan yang relatif sedikit dengan memperhitungan sumber daya yang ada di wilayah tersebut dan berfungsi sebagai katalisator untuk mengubah ide-ide menjadi kenyataan (Dauncey, 1988)
Ketika bentuk pengembangan ekonomi masyarakat ini telah berhasil, terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan
3. Pariwisata
menjadi daya tarik yang potensial. Mempromosikan pariwisata dapat menjadi alternatif yang menarik, pariwisata akan menjadi sumber daya yang potensial yang dapat mendatangkan penghasilan, dan juga sebagai industri yang “bersih” yang tidak menimbulkan polusi serta dapat mendukung terbukanya tenaga kerja. Selain itu, pariwisata juga dapat mendatangkan keuntungan dari bisnis yang berbeda-beda yang menciptakan banyak pekerjaan dan dapat menempatkan masyarakat itu pada “peta” dan sebagainya. Oleh sebab itu banyak masyarakat berusaha memecahkan problem-problem ekonomi mereka dengan membentuk dewan-dewan pariwisata dan ingin menciptakan pasar wisata atau memperluas pasar yang sudah ada. Tujuan strategi pengembangan ekonomi tersebut, yaitu (i) menarik wisatawan yang lebih banyak untuk datang ke masyarakat tersebut, baik sebagai tempat tujuan utama ataupun sebagai rute ke tempat lain; (ii) untuk mendorong wisatawan tinggal selama mungkin di wilayah lokal (semakin lama mereka tinggal, semakin banyak uang yang akan mereka keluarkan); (iii) untuk membuat mereka membelanjakan uang sebanyak mungkin ketika mereka berada di sana.
wilayah yang begitu banyak yang menghendaki dolar dari wisatawan, terdapat masalah yang mudah muncul mengenai permintaan yang tidak memadai; bagaimanapun hanya terdapat begitu banyak wisataan untuk berkeliling dan masa ekonomi yang sulit dapat berarti bahwa akan terdapat lebih sedikit wisatawan daripada yang diharapkan, dan wisatawan tersebut mungkin akan membelanjakan uang mereka lebih sedikit. Misalnya, resesi dalam ekonomi Jepang, dapat berarti krisis ekonomi bagi banyak tujuan wisata yang popular.
wisatawan, tetapi juga budaya lokal, peninggalan berharga dan lingkungan itu sendiri menjadi alat untuk pengeruk keuntungan, bukan berpegang pada nilai secara tulus. Fitur yang paling positif diperjualbelikan dan dikemas untuk “konsumsi” wisawatan yang bertentangan dengan maksud terdalam yang menjadikannya istimewa di tempat pertama. Budaya lokal yang khas diubah menjadi kepalsuan sebuah museum yang tanpa makna. Budaya lokal yang unik harus dipsahkan secara cermat dengan dunia nyata tempat wisatawan bersinggah, karena industry pariwisata memerlukan “standar keramah-tamahan” yang berarti bahwa para wisatawan harus dapat tinggal dalam suatu lingkungan “Holiday Inn” dimana pun mereka berada (Nozick, 1992) jika masyarakat tidak memberikan pengalaman kultural yang dibuat homogeni untuk wisatawan “mainstream” yang dianggap ingin melihat pemandangan yang luar biasa hanya untuk makan dan tidur di lingkungan yang familiar, maka paket wisata dan bus-bus yang memuat para wisatawan yang membawa banyak uang tidak akan terwujud.
E. Pengembangan Ekonomi Masyarakat yang Radikal
keuntungan dengan mengorbankan orang lain disebabkan oleh sifat dasar pasar yang kompetitif.
Pendekatan yang lebih radikal terhadap pengembangan ekonomi masyarakat melibatkan upaya menemukan alternatif, yakni ekonomi berbasis lokal (Albert & Ahnel, 1991). Perspektif ini menjamin bahwa nilai surplus dari produktivitas lokal masih berada dalam masyarakat yang menciptakannya bukan dipindahkan ke masyarakat lain.
1) Koperasi
Pendirian koperasi merupakan satu acara yang dapat dicapai dan terbukti efektif di berbagai lokasi. Koperasi juga memiliki potensi untuk memperkuat bukan memperlemah solidaritas masyarakat dan pengalaman dari banyak koperasi sangat mendukungnya. Terdapat minat di seluruh dunia yang semakin besar dalam koperasi pekerja di Mondragon (Morison, 1991; Hyte & Whyte, 1988) dan terlihat bahwa koperasi menunjukkan alternatif yang sangat baik untuk struktur ekonomi yang lebih konvensional. Meskipun terdapat prinsipi-prinsip koperasi yang fundamental, koperasi dapat memiliki bentuk-bentuk yang berbeda tergantung pada kebutuhan lokal dan budaya lokal. Seperti halnya dengan semua pengembangan masyarakat, pemaksaan rencana yang disusun rinci tentang bagaimana melaksanakannya hampir pasti gagal karena setiap masyarakat perlu memiliki bentuk koperasi tersendiri untuk menyesuaikan denga situasi yang unik.
Bank nasional ataupun bank transnasional yang besar merupakan bagian penting dari sistem ekonomi global, dan sudah pasti beroperasi khususnya untuk kepentingan kapitalis transnasional (jika mereka ingin mencoba hal yang sebaliknya, mereka tidak akan bertahan hidup pada level nasional atau global). Oleh karena itu, bank-bank tersebut tidak selalu ditempatkan secara strategis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan warganya. Kenyataannya, bank-bank tersebut memberikan mekanisme penting untuk memindahkanlaba dari masyarakat lokal dan penguasaan ekonomi lokal oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Untuk mendukung tujuan ini, beberapa inisiatif masyarakat telah membentuk struktur perbankan lokal sehingga masyarakat tersebut dapat memiliki penguasaan yang lebih besar atas ekonominya. Cara ini memberikan kontrol masyarakat lokal, misalnya atas jenis usaha yang seharusnya menerima pinjaman, penjadwalan ulang hipotek bagi bank-bank yang tidak tasi mampu membayar dan suku bunga atas investasi. (Dauncey, 1988; Meeker-Lowry, 1988)
yang kecil, yaitu kontrol dan operasi masyarakat atau keanggotaan yang efektif, khususnya memperjuangkan kepentingan para anggota.
Pelajaran yang dapat diambil dari hal ini yaitu dalam mendirikan bank masyarakat atau Credit Unions, sangat penting untuk menjamin bahwa basis masyarakatnya dipertahankan dan bank ini tidak dapat berkembang dan bergabung dengan ekonomi nasional atau internasional, tetapi tetap sebagai fitur sentral dari ekonomi lokal. Jika hal ini dapat dipertahankan, struktur perbankan yang memihak pada kepentingan lokal dapat menjadi komponen yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi alternatif.
F. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal
sebagian besar mereka bekerja dan menjalankan usaha pengolahan kayu, hal ini disebabkan karena kondisi daerah Alalak yang sebagian besar berada di pinggiran sungai, sehingga lebih mudah untuk mendapatkan bahan baku dan mengirim hasil olahan kayu. Akan tetapi adanya kebijakan pemerintah yang mengetatkan ilegal logging berdampak pada industri pengolahan kayu dimana supply bahan baku semakin langka. Kondisi tersebut memberikan dampak pada masyarakat sekitar terutama yang bekerja di kawasan industri kayu, tergolong dalam kategori rawan miskin (Radar Banjarmasin, 15 Mei 2012).
Sebenarnya banyak potensi yang bisa dimanfaatkan di kawasan Banjarmasin Utara, mengingat di kawasan tersebut terdapat beberapa tempat dan objek pariwisata yang menjadi andalan di Kota Banjarmasin, seperti bangunan bersejarah Masjid Sultan Suriansyah, Pasar Terapung, Pulau Kembang serta berbagai objek Pariwisata Sungai lainnya. Namun, hingga saat ini berbagai potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat yang berada disekitar objek tersebut. Padahal kalau dimanfaatkan dengan baik maka tidak hanya memberikan keuntungan bagi Pemerintah Kota Banjarmasin dalam hal peningkatan industri kerakyatan, tetapi juga memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di kawasan Banjarmasin Utara.
1. Pariwisata sungai
potensi ekonomi bagi masyarakat setempat. Konsep Wisata Seribu Sungai dapat ditawarkan untuk memberikan tambahan objek wisata kepada masyarakat. Dengan adanya konsep tersebut, masyarakat sekitar sungai yang menjadi tempat wisata dapat memanfaatkan sungai sebagai sarana untuk mendapatkan penghasilan melalui wisata sungai yang ditawarkan
2. Pariwisata religius
Salah satu bangunan bersejarah yang ada dikawasan Banjarmasin Utara adalah Mesjid Sultan Suriansyah. Selama ini sudah banyak wisatawan baik lokal maupun nasional bahkan internasional yang berkunjung ke mesjid tersebut, akan tetapi potensi wisata tersebut belum memberikan dampak yang berarti bagi masyarakat, padahal masyarakat sekitar dapat memanfaatkan objek tersebut untuk membantu perekonomian mereka. Misalnya mereka dapat menjual barang-barang baik dalam bentuk souvenir maupun dalam bentuk makanan khas daerah disekitar kawasan tersebut. Dampak dari kegiatan tersebut tentunya akan semakin banyak bermunculan industri kerakyatan untuk menghasilkan souvenir dan makanan khas daerah. Hal ini tentunya dapat dilakukan apabila ada kebijakan dari pengelola mesjid maupun pihak yang terkait memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melaksanakan aktivitas tersebut, misalnya dengan menyediakan tempat yang ditata secara rapi, sehingga memungkinkan bagi masyarakat untuk memanfaatkan peluang dan potensi tersebut.
Pasar terapung merupakan pasar tradisional yang berada di sungai Kuin, menampilkan kearifan lokal dalam bidang perekonomian masyarakat. Yang menarik di pasar terapung ini adalah dalam melakukan transaksi pembeli dan penjual berada diatas perahu masing-masing.
G. Peningkatan PAD dan Pembangunan Daerah
Diundangkannya UU No. 32 pengganti UU No. 22/1999 mengenai otonomi daerah telah mengisyaratkan semakin otonomnya peranan Pemerintah Daerah di dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. Kebijaksanaan pembangunan yang sentralistik dan tidak sesuai dengan sifat keragaman ekosistem dan budaya semakin bergeser ke pendekatan paradigma pembangunan yang baru yang lebih bersifat lokal. Otonomisasi sekaligus dapat dipandang sebagai semakin terbukanya peluang perencanaan pembangunan terpadu yang lebih berbasis ”Wilayah”, dalam arti keterpaduan sistem wilayah akan menjadi dominan dibanding dengan sistem pembangunan dengan pendekatan yang lebih menekankan pendekatan sektoral.
masih memiliki peluang pengembangan yang sangat besar. Harapan sektor perikanan dan kelautan dijadikan sektor yang dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan PAD telah sering diterjemahkan dengan peningkatan retribusi komoditas-komoditas pariwisata.
Namun sebagaimana dijelaskan pada paparan di atas, penerapan kebijakan resource rent tax yang tidak tepat pada gilirannya akan menurunkan daya kompetitif sektor tersebut di dalam pembangunan daerah. Sebaliknya ”sinyal” kebijakan mengembangkan yang tepat dapat meningkatkan daya kompetisi dan berbagai dampak ganda (multiplier) pembangunan secara lintas sektor, lintas regional dan lintas pelaku, yang pada gilirannya justru akan meningkatkan sumber-sumber pendapatan pemerintah secara lebih sustainable. Di lain pihak, perkembangan sektor-sektor yang berbasis pada sumber daya-sumber daya lokal sering diidentifikasikan secara tidak tepat.
Kegagalan pencapaian satu tujuan dapat menggagalkan pencapaian tujuan lainnya secara timbal balik.
Penekanan yang berbeda atas perubahan struktur yang dapat diamati dalam literatur pembangunan ekonomi adalah antara lain: kenaikan dalam tingkat akumulasi (Rostow, dan Lewis), pergeseran dalam komposisi sektoral pada suatu perekonomian (industrialisasi) dengan fokus awal pada aspek alokasi kesempatan kerja (Fisher, 1935, 1939; dan Clark, 1940), dan kemudian fokus pada perubahan produksi dan penggunaan faktor (Kuznets, dan Chenery); dan perubahan dalam alokasi aktivitas ekonomi (urbanisasi) serta berbagai aspek terkait lainnya dengan industrialisasi seperti transisi demografik dan distribusi pendapatan.
kemudian faktanya bahwa proses transformasi ekonomi banyak melahirkan situasi stagnasi, mendorong pula munculnya kembali sentimen dependency approach.
Kemudian, konsep utama pembagunan ekonomi sejak 1950an adalah versi dinamik model Keynesian yaitu Harror-Domar, dual-economy model (Lewis), demand complementarity, balanced growth, dan big-push dengan fokus perhatian pada dua komponen inti dari transformasi ekonomi yaitu: akumulasi dan komposisi sektoral. Pada waktu hampir bersamaan, muncul teori neo-classik sebagai respon terhadap model Harror-Domar dengan lebih supply side (Solow, 1956) dengan menyatakan bahwa tidak terdapat surplus tenaga kerja dan pertumbuhan jangka panjang adalah sesungguhnya independen terhadap tingkat tabungan.
Berbagai studi kemudian menunjukkan adanya stylized facts dari suatu proses pertumbuhan dan transformasi yaitu yang paling utama adalah menurunnya share output dan kesempatan kerja sektor pertanian dan tingginya total factor productivity (TFP) pada sektor industri (modern) dibanding sektor pertanian/perikanan.
dapat saja dianggap sebagai dampak ikutan. Dalam perpektif inilah mungkin, penentuan sektor pertanian dan perikanan sebagai basis pengembangan ekonomi KTI, menarik untuk lebih dicermati sehingga selanjutnya dapat dikaji bagaimana strategi dan proses transformasi yang akan dilakukan dalam sektor ini sendiri secara lebih tepat dengan mempertimbangkan aspek wilayah.
Baru pada dekade 1960an para pakar ekonomi pembangunan mulai secara serius melihat bagaimana peranan sektor pertanian bila dikaitkan dengan industri, dalam proses pembangunan ekonomi suatu negara atau wilayah. Sektor pertanian tidak dapat berkembang tanpa kaitan yang kuat dengan sektor industri dan jasa. Sejak itu perkembangan sektor pertanian selalu dikaitkan dengan sektor industri dan jasa. Namun, sejalan dengan teori neoklasik, terlihat bahwa sektor pertanian dan agro-industri di Indonesia, semakin dipinggirkan dari prioritas pembangungan ekonomi sejak pertengahan 1980an.
CPO. Turunnya harga riil tersebut menjadi alasan yang kuat oleh perumus kebijakan untuk tidak mengalokasikan dana yang besar di sektor pertanian. (iii) Pelebaran spread antara harga dunia dan harga domestik, atau harga ditingkat produsen dan konsumen. (iv) Rendahnya dana riset untuk mendukung pengembangan teknologi pertanian yang nilainya hanya 0,05% dari PDB pertanian. (v) Sebagian besar kredit dikucurkan oleh perbankan adalah ke sektor non-pertanian (Surono, 2005).
Sebenarnya, kebutuhan tingginya pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian dan perikanan bersamaan dengan menurunnya share baik dalam ouput maupun kesempatan kerja bukanlah hal yang kontradiktif. Namun, kondisi tersebut memang mendorong lahirnya kesalahan persepsi bahwa sektor pertanian menjadi tidak penting lagi, seperti bahwa tidak lagi membutuhkan pengalihan sumberdaya dan perlunya keberpihakan kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, paradigma beserta strategi dengan penurunan share pertanian demi sektor lain yang lebih dinamis akan selalu berhasil apabila dimulai sejak awal dengan pertumbuhan yang tinggi pula pada sektor pertanian (Jepang dan Eropa Barat).
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN
Pembangunan ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan ekonomi Kota Banjarmasin secara keseluruhan. Namun demikian secara empiris kondisi ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya yang dulunya sangat terbantu dengan adanya usaha-usaha kayu yang ada disekitar Alalak, sekarang relatif mulai harus mencari solusi baru untuk menggantikan usaha bidang perkayuan tersebut.
BAB IV
METODE PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini didesain dengan menggunakan pendekatan penelitian yang bersifat analisis deskriptif – kualitatif untuk menggambarkan dan mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelayakan usaha yang potensial untuk dikembangkan pada masyarakat Kecamatan Banjarmasin Utara pada umumnya dan Alalak sekitarnya pada khususnya.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banjarmasin Kecamatan Banjarmasin Utara dengan fokus pada masyarakat Alalak dan sekitarnya yang ada di Kelurahan Pangeran, Kelurahan Kuin Utara, Kelurahan Alalak Utara, Kelurahan Alalak Tengah dan Kelurahan Alalak Selatan. Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan.
3. Populasi dan Sampel Penelitian
memperhatikan potensi sektor ekonomi dan kelembagaan ekonomi
Lima kelurahan yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini dengan pertimbangan letak wilayah kelima kelurahan tersebut yang sangat strategis terutama kondisi perairan sungai yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai suatu kawasan ekonomi yang saling berintegrasi.
4. Jenis dan Sumber Data
a. Sumber data sekunder diperoleh dari dinas-dinas/instansi terkait di Kota Banjarmasin.
5. Teknik Pengumpulan Data
Data sekunder dan data primer dikumpulkan dengan menggunakan kombinasi teknik-teknik pengumpulan sebagai berikut: a. Daftar pertanyaan berupa kuesioner yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data secara langsung dari responden penelitian. b. Interview Mendalam, berupa wawancara mendalam yang dilakukan secara langsung dengan para responden dalam penelitian ini.
c. Observasi atau pengamatan yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengamati secara langsung kondisi sosial ekonomi masyarakat Alalak dan sekitarnya di lokasi penelitian.
6. Metode Analisis Data
Untuk menghasilkan keluaran penelitian yang akurat, relevan dengan tujuan penelitian, maka digunakan kombinasi peralatan analisis sebagai berikut:
b. Model matriks comparatif potensi antara beberapa sektor ekonomi berdasarkan preferensi masyarakat wilayah Alalak dan sekitarnya.
7. Prosedur Penelitian
Untuk mengarahkan kegiatan penelitian ini dengan baik, maka perlu diuraikan secara garis besar beberapa tahapan yang akan dilaksanakan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini, sebagai berikut: (rincian jadwal terlampir)
i. Penyusunan proposal penelitian, ii. Pengajuan proposal penelitian, iii. Seminar proposal penelitian, iv. Penyusunan instrumen penelitian,
v. Penentuan sampel dan obyek penelitian, vi. Uji validitas instrumen penelitian,
vii. Perekrutan dan seleksi enumerator, viii. Pelatihan enumerator,
ix. Pengumpulan data penelitian, x. Pengolahan data penelitian, xi. Analisa data penelitian,
xii. Penulisan draft laporan penelitian, xiii. Seminar hasil penelitian,
8. Tim Peneliti
Pelaksanaan kegiatan penelitian ini, dilaksanakan oleh Tim peneliti dari Lembaga Penelitian Unlam yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang sesuai dengan bidang keahlian. Adapun susunan tim peneliti adalah sebagai berikut :
Pengarah : DR. Ahmad Alim Bachri, SE, M.Si
Ketua : Irwansyah, S.Sos, M.Si
Anggota : Ahmad Rifani, SE, MM : Maya Sari Dewi, S.Sos, MM : M. Zainal Abidin, S.Sos, M.Si : Rusdayanti Asma, SE, M.Si : Rusniati, SE, M.Si
BAB V
HASIL PENELITIAN
9. Gambaran Umum Daerah Penelitian
Banjarmasin sejak dahulu memegang peranan strategis dalam lalu lintas perdagangan antar pulau, karena posisi wilayah yang terletak pada pertemuan antara Sungai Barito dan Sungai Martapura yang luas dan dalam. Dengan posisi 22 km dari laut Jawa, kedua sungai tersebut tentunya dapat dilayari kapal besar sehingga kapal-kapal Samudera dapat merapat hingga Kota Banjarmasin. Selain itu, posisi strategis dari kota Banjarmasin yang terletak di sekitar muara Sungai Barito, menyebabkan Banjarmasin menjadi pintu gerbang bagi berbagai kapal yang hendak berlayar ke daerah pedalaman di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Kota Banjarmasin memiliki kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dengan Sungai Barito beserta anak-anak sungainya. Penduduk kota Banjarmasin masih banyak yang tinggal di atas air, beraktivitas di sungai dan sekitarnya, serta bermukim di atas sungai dengan membangun rumah di atas tiang atau di atas rakit dipinggir sungai (rumah lanting).
wisata paling menarik adalah berjalan menyusuri sungai dan kanal di sekitar kota Banjarmasin. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Martapura dan Sungai Barito dengan menggunakan perahu klotok dan speedboat, untuk menyaksikan pemandangan alam sungai pinggiran kota yang masih asli.
Selain kegiatan wisata air, jenis wisata lainnya yang tersedia antara lain Makam Sultan Suriansyah, Masjid Sultan Suriansyah, dan Pasar Terapung yang berada di Kecamatan Banjarmasin Utara. Ketiga objek wisata ini dapat dikombinasikan dengan kegiatan wisata air karena posisinya yang berada di sepanjang bantaran Sungai Kuin.
Objek wisata yang tersedia di kawasan Kecamatan Banjarmasin Utara, khususnya daerah Alalak dan sekitarnya di sepanjang bantaran Sungai Kuin dapat dijadikan sebagai peluang usaha yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal ini juga sejalan denga salah satu tujuan dari Undang-undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan Pasal 3, dimana tujuan penyelenggaraan kepariwisataan antara lain memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Gambar 5.1
Gambar : 5.2 Peta Banjarmasin Utara
Sumber: Data Kecamatan Banjarmasin Utara, 2012.
Gambar: 5.3 Lokasi Penelitian
Sumber: Data Kecamatan Banjarmasin Utara, 2012.
Terkait dengan pelaksanaan penelitian Kajian Pengembangan Industri Kerakyatan di Wilayah Banjarmasin Utara, maka pelaksanaannya lebih difokuskan pada lima kelurahan yang dianggap paling refresentatif yaitu Kelurahan Pangeran, Kuin Utara, Alalak Selatan, Alalak Tengah dan Alalak Utara. Kelima kelurahan tersebut memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat strategis terutama kondisi perairan sungai yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai suatu kawasan ekonomi yang saling berintegrasi.
kondisi tersebut belum dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat yang berada di wilayah Alalak dan sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari angka kemiskinan pada Kecamatan Banjarmasin Utara dimana terdapat 3.999 rumah tangga miskin, terbanyak kedua di Kota Banjarmasin setelah Kecamatan Banjarmasin Selatan (Sumber: Basis Data Terpadu Untuk Program Perlindungan Sosial, Maret 2012).
Pembangunan kawasan ekonomi khusus secara langsung akan memberikan manfaat bagi masyarakat Alalak dan sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan integrasi pengembangan ekonomi yang berbasis potensi kearifan lokal, antara lain pengembangan wisata pasar terapung, industri kerajinan, pengembangan usaha budidaya perikanan dengan sistem keramba, serta lainnya. Berikut disampaikan profil wilayah masing-masing kelurahan.
Kelurahan Pangeran sebagai salah satu lokasi penelitian mempunyai luas wilayah 188,5 Ha yang terdiri dari Pemukiman (100 Ha), Pendidikan (55 Ha), Pertokoan (3 Ha), Perkantoran (4 Ha), Kuburan (8 Ha), Persawahan (4 Ha), dan lainnya (14,5 Ha). Adapun penduduk Kelurahan Pangeran hingga tahun 2011 berjumlah 10.861 jiwa dari sejumlah 2.722 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk laki-laki 4.937 jiwa dan penduduk wanita 5.924 jiwa.
Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Dinas maupun Instansi terkait di dalam wilayah kerja Kelurahan Pangeran tidak pernah melibatkan dan memberitahukan pihak Kelurahan akan adanya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan.
Kelurahan Kuin Utara memiliki luas wilayah 131,42 Ha, yang terdiri dari Pemukiman (62,67 Ha), Kuburan (31 Ha), Pekarangan (15,60 Ha), Taman (5,20 Ha), serta prasarana lainnya (16,95 Ha). Adapun penduduk pada wilayah ini hingga tahun 2011 berjumlah 10.281 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 5.232 jiwa dan penduduk wanita 5.049 jiwa.
Untuk kelembagaan ekonomi, kelurahan ini memiliki sebuah koperasi dengan tenaga kerja sebanyak 42 orang, 5 industri makanan dengan tenaga kerja sebanyak 25 orang, 5 industri kerajinan dengan tenaga kerja sebanyak 50 orang, 2 industri mebel dengan tenaga kerja sebanyak 14 orang, serta beberapa warung makan, toko kelontong, bengkel, percetakan sablon serta terdapat sebuah pasar. Sedangkan dari sarana pendidikan, kelurahan ini memiliki 7 buah Sekolah Taman Kanak-kanak, 7 buah Sekolah Dasar, dan 2 buah SMP serta 6 buah TPA Al Qur’an. Kemudian dilihat dari prasaran kesehatan, kelurahan ini memiliki 6 buah Posyandu, 2 buah tempat praktek dokter, sebuah apotik dan 7 buah toko obat.
sebanyak 6.115 jiwa dan penduduk perempuan 6.091 jiwa dengan jumlak kepala keluarga sebanyak 3.265 KK.
Dilihat dari sarana pendidikan, Kelurahan Alalak Selatan memiliki 2 buah Sekolah Taman Kanak-kanak, 4 buah Sekolah Dasar, dan sebuah SMP dengan jumlah guru sebanyak 64 orang. Sedangkan dari sarana kesehatan terdapat 1 buah Puskesmas, 9 buah Posyandu, dan sebuah tempat dokter praktek. Untuk kelembagaan ekonomi, Kelurahan ini memiliki sebuah Koperasi dengan jumlah anggota 66 orang, sebuah industri mebel dengan enam orang karyawan, serta beberapa warung makan, kios kelontong, bengkel, sablon dan lain-lain serta sebuah pasar.
Kelurahan Alalak Tengah adalah wilayah yang tingkat perkembangan penduduknya cukup tinggi sehubungan dengan tingkat pembangunan perumahan yang terus menerus meningkat setiap tahunnya. Kelurahan ini memiliki luas wilayah yang cukup besar yaitu 125 Ha, yang terdiri dari pemukiman (85,50 Ha), persawahan (4,40 Ha), perkebunan (5 Ha) dan lain-lain (30,1 Ha). Jumlah penduduk pada kelurahan berdasarkan pada data Juni 2012 tercatat sebanyak 8.316 jiwa yang terdiri atas penduduk laki-laki 4.234 jiwa dan perempuan 4.073 jiwa serta terdapat 2.531 jumlah kepala keluarga.
sarana kesehatan terdapat 1 buah puskesmas, 6 buah posyandu dan sebuah tempat praktek dokter.
Kelurahan Alalak Utara memiliki luas wilayah sebesar 330.000 Ha yang terdiri dari 46 RT dan 3 RW, dengan jumlah penduduk sebanyak 17.866 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki 8.906 jiwa dan perempuan 8.960 jiwa. Mata pencaharian pokok pada kelurahan ini sebagian besar adalah sebagai buruh harian lepas dan petani. Pada kelurahan ini terdapat sebuah pasar tradisional yang permanen serta adanya pasar mingguan yang beraktivitas setiap minggu malan dan rabu malam.
10. Karakteristik Responden Penelitian
Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner terhadap responden penelitian pada kelima wilayah Kelurahan yang ada pada Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut, maka dapat diketahui karakteristik responden menuntut jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, status perkawinan, pekerjaan dan tanggungan keluarga. Karakteristik responden tersebut dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang lebih komprehenship terhadap para responden yang menjadi sumber informasi utama dalam penelitian ini.
Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur dan Status Perkawinan wanita. Oleh karena itu, berdasarkan informasi tersebut di atas maka diketahui bahwa yang menjadi tulang punggung dalam keluarga pada kelima kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut adalah laki-laki terutama dalam membangun kehidupan ekonomi masyarakat.
dalam membangun kultur masyarakat yang lebih maju di masa yang akan datang melalui dukungan rumah tangga yang relatif baik.
Kemudian berdasarkan umur responden dalam penelitian ini diketahui bahwa persentase umur responden yang lebih muda atau kurang dari 30 tahun jumlahnya mencapai 9,7%, sementara yang berumur 31– 40 jumlahnya mencapai 23,0%, adapun yang berumur antara 41-50 tahun jumlahnya mencapai 27,0%, sementara yang umurnya lebih dari 50 tahun jumlahnya mencapai 40,3%. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa masyarakat pada lima kelurahan tersebut memiliki potensi yang cukup baik untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi daerah pada wilayah tersebut di masa yang akan datang, karena 59,7% kepala rumah tangganya dalam kategori usia produktif.
Status perkawinan responden pada wilayah Kelurahan Pangeran, Kelurahan Kuin Utara, Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan Alalak Tengah dan Kelurahan Alalak Utara berdasarkan Tabel 5.1 di atas maka responden yang berstatus kawin jumlahnya 89,0% dan yang berstatus belum kawin jumlahnya hanya 4,3%, sedangkan yang berstatus janda/duda jumlahnya 6,7%. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa kehidupan masyarakat pada kelima kelurahan di wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut pada umumnya memandang pentingnya hidup berkeluarga.
11. Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Wilayah Alalak dan Sekitarnya
yang menjadi tanggungjawab kepala rumah tangga dalam setiap rumah tangga responden. Pekerjaan sangat penting dianalisis untuk menggambarkan bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada di lima kelurahan yang diteliti terutama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Berdasarkan uraian di atas, maka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara pada Kelurahan Pangeran, Kelurahan Kuin Utara, Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan Alalak Tengah dan Kelurahan Alalak Utara dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 5.2
sehari-hari maupun perdagangan barang makanan. Dengan demikian untuk memberdayakan masyarakat berdasarkan mata pencaharian pada kelima kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Utara tersebut maka diperlukan stimulus kebijakan yang berbasis pada sektor perdagangan agar perekonomian masyarakat yang ada di wilayah Alalak dan sekitarnya dapat lebih dioptimalkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.
Kondisi yang tidak kalah pentingnya mendapatkan perhatian adalah tanggungan keluarga bagi setiap kepala rumah tangga dalam penelitian ini. Oleh karena itu, pada Tabel 5.3 berikut dapat dilihat jumlah beban tanggungan keluarga masyarakat yang ada pada lima kelurahan di wilayah Banjarmasin Utara, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.3
Distribusi Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga
No Tanggungan Keluarga Jumlah Presentase (%)
1 3 < 108 36,0
2 3 – 5 161 53,7
3 6 – 8 31 10,3
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
atas menunjukkan bahwa secara keseluruhan rata-rata kepala rumah tangga masyarakat pada wilayah Alalak dan sekitarnya memiliki tanggungan keluarga yang cukup besar. Oleh karena itu, beban hidup dan tanggung jawab kepala keluarga secara ekonomi bagi masyarakat Alalak dan sekitarnya juga relatif berat, sehingga memerlukan perhatian berupa kebijakan yang dapat membantu meningkatkan pendapatan rumah tangganya agar kehidupannya dapat lebih sejahtera. Adapun tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel: 5.4
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Tamat SD 10 3,3
1 Sekolah Dasar 83 27,7
2 SLTP 57 19,0
3 SLTA 126 42,0
4 Akademi/Diploma 22 7,3
5 Sarjana 2 0,7
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
SLTP jumlahnya 19,0% dan untuk pendidikan SLTA jumlahnya 42,0%, selanjutnya untuk pendidikan akademi/diploma dan sarjana hanya 7,3% dan 0,7%. Berdasarkan Tabel 5.5 di atas diketahui bahwa kompetensi masyarakat Alalak dan sekitarnya di Kecamatan Banjarmasin Utara masih terdapat kepala keluarga yang hanya mempunyai pendidikan tertinggi tidak tamat SD (3,35%), tamatan SD (27,7%) dan tamatan SLTP (19%). Kondisi tersebut merupakan salah satu hambatan dalam pengembangan ekonomi dan pembangunan wilayah Alalak dan sekitarnya secara umum. Oleh karena itu, masyarakat Alalak dan sekitarnya perlu senantiasa didorong untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, agar mereka memiliki kemampuan untuk bersaing dalam proses kehidupan yang semakin kompetitif dimasa datang.
12. Analisis Potensi dan Kompetensi Masyarakat Alalak dan Sekitarnya Untuk Menjalankan Usaha
Potensi sumberdaya manusia yang dimaksudkan adalah bukan hanya sekedar kuantitas semata, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah competency sumberdaya manusia yang tersedia untuk membantu melaksanakan proses pembangunan yang bertujuan untuk memajukan daerah dan sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Memperhatikan konsep tersebut di atas maka kondisi potensi sumberdaya manusia pada wilayah Alalak dan sekitarnya sebagai penopang pelaksanaan pembangunan ekonomi dan pembangunan daerah pada umumnya, terutama pada wilayah yang menjadi lokasi penelitian dijelaskan pada beberapa Tabel berikut:
Tabel 5.5
Distribusi pendidikan anak 12 tahun ke Atas Pada Wilayah Alalak dan Sekitarnya
No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase
(%) 1 Tanpa Anak / Blm 12 Thn 107 35,7
2 Tidak tamat SD 8 2,7
3 Tamat SD dan Sederajat 30 10,0
4 Tamat SLTP dan sederajat 51 17,0 5 Tamat SLTA dan Sederajat 77 25,7
6 Tamat Diploma 3 1,0
7 Tamat Sarjana (S1) 24 8,0
Total 300 100
Berdasarkan Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pendidikan generasi muda masyarakat Alalak dan sekitarnya secara umum relatif sudah baik. Pada kondisi anak usia 12 tahun ke atas, semestinya tingkat pendidikan yang sudah ditempuh minimal sudah tamat sekolah dasar / sederajat. Kondisi obyektif tersebut ditunjukkan oleh tingkat pendidikan bagi anak usia 12 tahun ke atas yang telah mengenyam pendidikan pada tingkat pendidikan sekolah dasar dengan jumlah 10,0%, tamat SLTP jumlahnya mencapai 17,0%, sedangkan yang berpendidikan SLTA jumlahnya mencapai 25,7%, dan untuk tingkat pendidikan Diploma hanya 1,0% dan sarjana strata satu (S1) jumlahnya mencapai 8,0%. Untuk anak usia 12 tahun ke atas yang tidak menamatkan SD jumlahnya hanya 2,7%.
Jika kondisi tersebut di atas dikaitkan dengan tuntutan pembangunan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka urusan pendidikan di wilayah Alalak dan sekitarnya sudah mendapatkan perhatian serius bagi berbagai pihak yang terkait. Hal ini dapat terlihat dari tingginya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
dalam rumah tangga masyarakat Alalak dan sekitarnya, maka dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.6
Distribusi Jumlah Anak Dalam Keluarga Masyarakat Alalak dan Sekitarnya Berdasarkan Usia.
No Distribusi anak dalamkeluarga Jumlah Persentase (%)
1 Tidak ada/tanpa anak 41 13,7
Tabel di atas memberikan gambaran bahwa pada umumnya jumlah anak dalam setiap keluarga bagi masyarakat Alalak dan sekitarnya sebanyak 1 sampai 2 anak atau 26,7% dan 29,3%. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses regenerasi masyarakat di wilayah Alalak dan sekitarnya perlu mendapatkan perhatian terutama dari sisi pendidikan untuk peningkatan kualitas generasi muda.
yang belum/tidak bersekolah, 649 jiwa yang tidak tamat SD/sederajat, 935 jiwa yang tamat SD/sederajat, 1.555 jiwa yang telah tamat SMP/sederajat, 3.511 jiwa yang telah tamat SMU/sederajat, 1.163 jiwa yang tamat Akademi/Diploma, serta 2.138 jiwa yang menamatkan pada tingkatan Sarjana S1 dan S2.
Potensi sumber daya manusia kelurahan Kuin Utara yang berjumlah 8.580 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 4.229 jiwa dan penduduk wanita 4.351 jiwa. Potensi sumberdaya manusia Kelurahan Kuin Utara dengan jumlah penduduk mencapai 8.580 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 4.229 jiwa dan penduduk wanita 4.351 jiwa. Kemudian yang penting diketahui adalah komposisi penduduk menurut umur yaitu 0 – 5 tahun sebanyak 1.045 jiwa, usia 6 – 12 tahun 1.540 jiwa, usia 13 - 18 tahun 1.130 jiwa, usia 19 - 24 tahun 1.103 jiwa, usia 25 - 40 tahun 1.778 jiwa, usia 41 - 50 tahun 869 jiwa, dan usia 51 - 58 tahun 702 jiwa, sedangkan sisanya 59 tahun keatas berjumlah 710 jiwa. Untuk jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan, terdapat 20 jiwa yang menyandang buta huruf, belum sekolah 425 jiwa, 57 jiwa usia 7 – 45 tahun yang tidak pernah sekolah, 550 jiwa pernah sekolah dasar namun tidak tamat, 1.257 jiwa yang telah tamat SD/sedarajat, 1.972 jiwa yang telah tamat SMP/sederajat, 1.351 jiwa yang telah tamat SMU/sederajat, 84 jiwa yang tamat Akademi/Diploma, serta 272 jiwa yang menamatkan pada tingkatan Sarjana S1 dan S2.
0 – 1 tahun sebanyak 484 jiwa, usia 1 – 5 tahun 1.005 jiwa, usia 5 - 6 tahun 582 jiwa, usia 7 - 15 tahun 2.218 jiwa, usia 16 - 21 tahun 1.589 jiwa, usia 22 - 59 tahun 5.344 jiwa, dan sisanya 60 tahun keatas berjumlah 372 jiwa. Untuk jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan, terdapat 3.013 jiwa yang telah tamat SD/sedarajat, 1.415 jiwa yang telah tamat SMP/sederajat, 1.389 jiwa yang telah tamat SMU/sederajat, 185 jiwa yang tamat Akademi/Diploma, serta 200 jiwa yang menamatkan pada tingkatan Sarjana S1 ke atas.
Potensi sumber daya manusia kelurahan Alalak Tengah berjumlah 8.316 jiwa dengan penduduk laki-laki sebanyak 4.234 jiwa dan penduduk perempuan 4.073 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 2.531 KK. Kemudian yang penting diketahui adalah komposisi penduduk menurut umur yaitu 0 – 1 tahun sebanyak 502 jiwa, usia 2 – 5 tahun 780 jiwa, usia 6 – 16 tahun 454 jiwa, usia 7 -21 tahun 2.100 jiwa, usia 22 – 59 tahun 1.719 jiwa, dan sisanya 60 tahun keatas berjumlah 2.760 jiwa. Untuk jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan, terdapat 2.122 jiwa yang telah tamat SD/sedarajat, 1.030 jiwa yang telah tamat SMP/sederajat, 1.185 jiwa yang telah tamat SMU/sederajat, 179 jiwa yang tamat Akademi/Diploma, serta 121 jiwa yang menamatkan pada tingkatan Sarjana S1 ke atas.