C. Pemberdayaan Masyarakat
4. Pengembangan Ekonomi
Globalisasi ekonomi yang dipengaruhi oleh ekonomi neoklasik dan kekuatan kapitalis transnasional telah membawa dampak pada banyak orang. Mereka merasakan bahwa ekonomi mainstream tidak lagi memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini terlihat pada angka pengangguran yang tinggi dalam masyarakat dan ditambah dengan “pengangguran tersembunyi” yaitu mereka yang tidak terhitung dalam statistik resmi. Mereka ingin memiliki pekerjaan tetap atau yang hanya bekerja part time tidak tetap dan menginginkan pekerjaan yang lebih bagus. Pengaruh globalisasi
tersebut juga terlihat pada jumlah kemiskinan yang semakin meningkat yang tercermin tidak saja dalam statistik garis kemiskinan, tetapi juga dalam angka ketergantungan pada pertolongan darurat seperti, bantuan makanan, uang tunai langsung, lumbung pangan dan sebagainya. Seluruh masyarakat dapat menjadi terpinggirkan secara ekonomi, seperti sebuah industri yang memindahkan logika pasar global dan “perdagangan bebas” dimana yang tersisa hanyalah tutupnya pabrik, hilangnya pekerjaan, masyarakat yang hancur dan keputusasaan personal. (Ife & Tesoriero, 2008)
Dari perspektif pengembangan masyarakat respon terhadap krisis ekonomi ini ditujukan bagi pengembangan pendekatan alternatif yang berupaya merelokasikan aktivitas ekonomi dalam masyarakat lokal serta memperbaiki kualitas kehidupan. Krisis ekonomi yang sedang berlangsung telah memaksa banyak orang dan masyarakat untuk mencari alternatif-alternatif tersebut. Dalam realisasinya, ekonomi mainstream tidak lagi berfungsi secara efektif untuk memenuhi kebutuhan mereka, yaitu kepentingan yang memuncak dalam pengembangan ekonomi masyarakat (Shragge, 1993).
Pengembangan ekonomi masyarakat dapat memiliki bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi bentuk-bentuk ini dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Pertama, pendekatan yang lebih konservatif berupaya mengembangkan aktivitas ekonomi masyarakat sebagian
besar dalam parameter konvensional. Sedangkan kategori kedua, pendekatan yang lebih radikal, yaitu berupaya mengembangkan ekonomi berbasis masyarakat alternatif. (Ife & Tesoriero, 2008)
D. Pengembangan Ekonomi Masyarakat yang Konservatif 1. Menarik Industri
Pendekatan yang lebih konservatif terhadap pengembangan ekonomi masyarakat berupaya menemukan cara-cara baru yang membuat masyarakat tersebut dapat lebih berpartisipasi dalam ekonomi mainstream dengan cara menghimpun inisiatif. Pendekatan ini mencoba menarik industri baru ke wilayah lokal dengan memberikan lingkungan yang bagus untuk berinventasi. Misalnya, mencari perusahaan untuk membangun pabrik di masyarakat tersebut dapat menyediakan kesempatan kerja secara langsung dan juga membuka lebih banyak peluang kerja dalam industry jasa. Untuk menarik industri baru ini, masyarakat lokal perlu mencari bantuan dari pemerintah pusat dalam menyediakan infrasktur (jalan, lintasan kereta api, dan lain-lain) dan mungkin perlu membuat penawaran lain yang lebih banyak pilihannya. Misalnya, pemerintah daerah mungkin memberikan bantuan lahan untuk menarik industri, atau memberikan kelonggaran kepada mereka melalui tarif lokal.
Adapun masalah dengan pendekatan tersebut adalah bahwa industri akan terus berpindah-pindah mengikuti keadaan pasar. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa industri baru akan tetap berada
di dalam masyarakat lokal atau laba yang diperoleh akan diinventasikan ke wilayah tersebut. Untuk menarik industri di tempat yang pertama, masyarakat lokal yang menghadapi persaingan dengan masyarakat lainnya mungkin menawarkan konsepsi yang menarik sehingga keuntungan bersih yang diperoleh masyarakat sangat kecil. Setelah industri tersebut didirikan, ia akan berupaya sekuat tenaga untuk memperoleh konsesi yang lebih besar dari masyarakat tersebut dengan cara memberikan ancaman untuk menutup atau menarik usahanya. Stretegi ini jelas-jelas berupaya memecahkan problem ekonomi masyarakat dengan menyandarkan pada sistem ekonomi yang sama yang telah menyebabkan mereka di tempat pertama. Dalam banyak kasus, keuntungannya mungkin terbatas, berjangka pendek dan ilusif.
2. Memulai Industri Lokal
Terdapat potensi yang lebih besar dalam menggunakan sumber daya, inisiatif, dan tenaga ahli lokal untuk membangun industri lokal baru yang akan dimiliki dan dijalankan oleh orang-orang yang ada di masyarakat lokal. Banyak program pengembangan ekonomi masyarakat lokal menggunakan bentuk ini dan program-program tersebut dapat berhasil dalam mengembangkan aktivitas ekonomi serta menjadi kebanggan dalam prestasi lokal. Hal ini melibatkan pemanfaatan kekayaan sumber daya lokal, bakat, minat dan keahlian berserta penaksiran keuntungan-keuntungan alam dari lokalitas tertentu dan kemudian
memutuskan apa jenis industri baru yang mungkin akan berhasil. Masyarakat lokal yang memiliki ide-ide untuk bisnis baru dapat dibantu mengubah impian menjadi kenyataan dengan bantuan keuangan (seperti dari pemerintah setempat) dan dengan saran mengenai cara-cara mengelola usaha kecil. Ada banyak contoh-contoh yang berhasil sekarang ini tentang pengembangan ekonomi masyarakat tersebut khususnya di wilayah-wilayah pedalaman dimana terdapat kepemimpinan dinamis dari pemerintah lokal dan masyarakat telah menghasilkan terbentuknya sejumlah usaha kecil yang beraneka ragam, seperti pembuatan brondong (popcorn), perbaikan perabot, pembuatan anggur dan pariwisata yang dapat memperbaiki ekonomi dan minat berprestasi serta solidaritas bagi masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan pembelanjaan yang relatif sedikit dengan memperhitungan sumber daya yang ada di wilayah tersebut dan berfungsi sebagai katalisator untuk mengubah ide-ide menjadi kenyataan (Dauncey, 1988)
Ketika bentuk pengembangan ekonomi masyarakat ini telah berhasil, terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan
3. Pariwisata
Pada bagian ini, tempat pariwisata dalam pengembangan ekonomi masyarakat sangat penting diperhatikan. Masyarakat yang diterpa oleh krisis ekonomi, penutupuan industry lokal dan pengangguran yang tinggi akan sering mencari potensi pariwisata, khususnya jika tempat pariwisata itu menarik wisatawan karena alasan pemandangan yang ada, sejarah atau hal lainnya yang
menjadi daya tarik yang potensial. Mempromosikan pariwisata dapat menjadi alternatif yang menarik, pariwisata akan menjadi sumber daya yang potensial yang dapat mendatangkan penghasilan, dan juga sebagai industri yang “bersih” yang tidak menimbulkan polusi serta dapat mendukung terbukanya tenaga kerja. Selain itu, pariwisata juga dapat mendatangkan keuntungan dari bisnis yang berbeda-beda yang menciptakan banyak pekerjaan dan dapat menempatkan masyarakat itu pada “peta” dan sebagainya. Oleh sebab itu banyak masyarakat berusaha memecahkan problem-problem ekonomi mereka dengan membentuk dewan-dewan pariwisata dan ingin menciptakan pasar wisata atau memperluas pasar yang sudah ada. Tujuan strategi pengembangan ekonomi tersebut, yaitu (i) menarik wisatawan yang lebih banyak untuk datang ke masyarakat tersebut, baik sebagai tempat tujuan utama ataupun sebagai rute ke tempat lain; (ii) untuk mendorong wisatawan tinggal selama mungkin di wilayah lokal (semakin lama mereka tinggal, semakin banyak uang yang akan mereka keluarkan); (iii) untuk membuat mereka membelanjakan uang sebanyak mungkin ketika mereka berada di sana.
Pariwisata mungkin menjadi pilihan yang menarik, tetapi strategi tersebut dirasakan oeh masyarakat perlu dilakukan denga sangat hati-hati, karena dari persfektif masyarakat pariwisata menimbulkan banyak masalah. Pariwisata tidak dapat menjamin masa depan ekonomi seperti yang mungkin diharapkan. Dengan
wilayah yang begitu banyak yang menghendaki dolar dari wisatawan, terdapat masalah yang mudah muncul mengenai permintaan yang tidak memadai; bagaimanapun hanya terdapat begitu banyak wisataan untuk berkeliling dan masa ekonomi yang sulit dapat berarti bahwa akan terdapat lebih sedikit wisatawan daripada yang diharapkan, dan wisatawan tersebut mungkin akan membelanjakan uang mereka lebih sedikit. Misalnya, resesi dalam ekonomi Jepang, dapat berarti krisis ekonomi bagi banyak tujuan wisata yang popular.
Pariwisata mungkin menimbulkan efek yang membahayakan terhadap struktur masyarakat itu sendiri dan akan menjadi monster yang menghancurkannya bukan menjadi penyelamat pariwisata masyarakat lokal. Industri pariwisata sudah pasti memiliki hubungan eksploitatif dengan para wisatawan yang bertujuan untuk membelanjakan uang mereka sebanyak mungkin. Bersikap ramah tamah, sopan dan berkemauan untuk menolong kepada para wisatawan dilakukan demi menarik keuntungan secara ekonomi, bukan karena nilai untuk berbuat demikian. Hal seperti ini bukanlah persoalan kebanggaan terhadap masyarakat lokal seseorang, budaya, peninggalan berharga atau lingkungan alam dan ingin membagi kebanggaan tersebut dengan para wisatawan, tetapi sebaliknya dilakukan karena ingin memperoleh keuntungan dengan mengorbankan orang lain. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, seseorang tidak saja memasuki hubungan eksploitatif dengan
wisatawan, tetapi juga budaya lokal, peninggalan berharga dan lingkungan itu sendiri menjadi alat untuk pengeruk keuntungan, bukan berpegang pada nilai secara tulus. Fitur yang paling positif diperjualbelikan dan dikemas untuk “konsumsi” wisawatan yang bertentangan dengan maksud terdalam yang menjadikannya istimewa di tempat pertama. Budaya lokal yang khas diubah menjadi kepalsuan sebuah museum yang tanpa makna. Budaya lokal yang unik harus dipsahkan secara cermat dengan dunia nyata tempat wisatawan bersinggah, karena industry pariwisata memerlukan “standar keramah-tamahan” yang berarti bahwa para wisatawan harus dapat tinggal dalam suatu lingkungan “Holiday Inn” dimana pun mereka berada (Nozick, 1992) jika masyarakat tidak memberikan pengalaman kultural yang dibuat homogeni untuk wisatawan “mainstream” yang dianggap ingin melihat pemandangan yang luar biasa hanya untuk makan dan tidur di lingkungan yang familiar, maka paket wisata dan bus-bus yang memuat para wisatawan yang membawa banyak uang tidak akan terwujud.