(%) 1 Tidak Pernah Gotong Royong 21 7,0
16. Analisis Efektivitas Pemberdayaan Ekonomi
Menurut Drucker (1978;44) efektivitas adalah suatu tingkatan yang sesuai antara keluaran secara empiris dalam suatu sistem dengan keluaran yang diharapkan. Efektivitas dapat digunakan sebagai suatu alat evaluasi efektif atau tidaknya suatu tindakan (Zulkaidi dalam Wahyuningsih D, 2005:22) yang dapat dilihat dari kemampuan memecahkan masalah dan pencapaian tujuan.
Di wilayah Alalak dan sekitarnya dari hasil kajian di lapangan, terlihat bahwa banyak program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang telah
dilaksanakan oleh pihak pemerintah maupun pihak perbankan serta lembaga lainnya. Namun permasalahannya berbagai program tersebut sering tidak saling terkoneksi antar satu lembaga dengan lembaga lainnya, serta kadang tidak seperti yang diharapkan oleh masyarakat setempat. Agar dapat berhasil dan efektif, pemberdayaan ekonomi masyarakat Alalak bukan saja dilihat dari aspek ekonomi semata namun harus memperhatikan unsur sosial budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat sehingga dapat tepat sasaran. Berikut adalah tanggapan responden mengenai efektivitas pemberdayaan ekonomi yang selama ini telah berjalan di wilayah Alalak dan sekitarnya.
Tabel 5.23 di bawah menjelaskan keberadaan program pemberdayaan masyarakat lokal yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam rangka memajukan perekonomian masyarakat setempat. Dari 300 responden, terlihat bahwa sebagian besar responden (51,0 %) menyatakan tidak pernah ada program pemberdayaan masyarakat lokal, 48 % responden lainnya menyatakan jarang ada kegiatan tersebut dan sisanya hanya sebesar 1 % yang menyakatan sering ada program pemberdayaan. Data tersebut dapat menunjukkan dua kemungkinan yang terjadi, pertama kurang tepatnya sasaran kegiatan program pemberdayaan untuk masyarakat lokal, karena dari hasil kunjungan ke instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Perikanan, Dinas Koperasi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan terlihat bahwa masing-masing dinas setiap tahunnya telah memiliki dan menjalankan program kerja mereka dalam rangka memberikan pengetahuan maupun keterampilan kepada masyarakat. Kedua, kurang pahamnya masyarakat setempat atas program
pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan oleh dinas terkait. Hal ini menjadi perhatian yang serius bagi kita semua untuk dapat mencarikan solusi agar tujuan yang diharapkan baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat setempat dapat tercapai.
Tabel 5.23
Keberadaan Program Pemberdayaan Masyarakat Lokal Dari Pemerintah Daerah
No Keberadaan Program Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Pernah 153 51,0
2 Jarang 144 48,0
3 Sering 3 1,0
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Selanjutnya adalah tanggapan responden mengenai peranan program pemberdayaan pemerintah daerah untuk SDM lokal dalam mendorong pengembangan ekonomi di wilayah Alalak dan sekitarnya. Dari 300 responden, sebagian besar responden (76,3 %) menyatakan tidak tepat sasaran, 4 % sangat tidak tepat sasaran, sedangkan hanya 18,7 % yang menyatakan tepat sasaran dan 1 % sangat tepat sasaran. Tabel 5.24 ini sejalan dengan tabel 5.23 di atas, yang menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah daerah tidak tepat sasaran dan masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat setempat.
Tabel 5.24
Ketepatan Program Pemberdayaan Masyarakat
No Ketepatan Sasaran Jumlah Persentase (%)
1 Sangat Tepat Sasaran 5 1,0
2 Tepat Sasaran 56 18,7
3 Tidak Tepat Sasaran 229 76,3
4 Sangat Tidak Tepat Sasaran 12 4
Total 300 100
Berikutnya adalah tanggapan responden mengenai bahan baku yang digunakan untuk kegiatan usaha mereka adalah bersumber dari sumber daya alam lokal (79.3 %) dan hanya 20,7 % sumber bahan baku usaha mereka yang berasal dari sumber daya alam lokal ditambah dengan luar daerah. Hal ini menunjukkan bahwa ada peluang industri hulu yang dapat dikembangkan oleh masyarakat setempat tentunya dengan bantuan dari pihak pemerintah daerah maupun pihak ketiga untuk dapat mendukung industri hilir. Dengan demikian akan tercipta kontinyuitas produksi dan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang akan berdampak terhadap meningkatnya pendapatan masyarakat setempat.
Tabel 5.25 Sumber Bahan Baku
No Sumber Bahan Jumlah Persentase (%)
1 SD. Alam Lokal 238 79,3
2 Lokal dan Luar Daerah 62 20,7
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 5.25 menunjukkan hasil yang sejalan dengan Tabel 5.24 di atas, yang mana kedua tabel tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar sumber kehidupan responden berasal dari sumberdaya lokal yang mereka miliki. Dari Tabel 5.25 terlihat bahwa sebagian besar (76,7 %) responden memenuhi kebutuhan hidup mereka bersumber pada sumberdaya lokal mereka, hanya sekitar 14,0 % yang berasal dari luar daerah dan 9,3 % dari hasil impor. Hal ini tentunya menguatkan analisis pada pembahasan Tabel 5.24 di atas.
Tabel 5.26
No Sumber Kebutuhan Jumlah Persentase (%)
1 Daerah Sendiri 230 76,7
2 Luar Daerah 42 14,0
3 Impor 28 9,3
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Selanjutnya adalah pembahasan mengenai keterlibatan masyarakat selama ini dalam rencana kegiatan ekonomi di wilayah ini. Dari 300 responden 68,0 % menyatakan setuju dan 11,0 % sangat setuju bahwa masyarakat selama ini telah dilibatkan dalam perencanaan kegiatan ekonomi. Hal ini sesuai dengan analisis pada bagian capital social masyarakat setempat, yang menunjukkan bahwa masyarakat memiliki keterbukaan dan selalu menanamkan pola kerjasama dalam kehidupan mereka, serta memiliki kepercayaan kepada pihak pemerintah. Hanya sekitar 20,0 % yang menyatakan tidak setuju dan 1 % sangat tidak setuju.
Tabel 5.27
Keterlibatan Masyarakat Dalam Perencanaan
No Keterlibatan Jumlah Persentase (%)
1 Sangat Setuju 33 11,0
2 Setuju 204 68,0
3 Kurang Setuju 60 20,0
4 Tidak Setuju 3 1,0
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Berikutnya adalah tanggapan responden terhadap keterlibatan masyarakat untuk menentukan kegiatan ekonomi. Tanggapan sejalan dengan Tabel 5.27 di atas yaitu 68,0 % menyatakan setuju dan 11,0 % sangat setuju bahwa masyarakat selama ini telah dilibatkan dalam kegiatan ekonomi. Hanya sekitar 20,0 % yang menyatakan tidak setuju dan 1 % sangat tidak setuju.
Keterlibatan Masyarakat Dalam Kegiatan Pembangunan
No Keterlibatan Jumlah Persentase (%)
1 Sangat Setuju 33 11,0
2 Setuju 204 68,0
3 Kurang Setuju 60 20,0
4 Tidak Setuju 3 1,0
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 5.29 di bawah ini hasilnya juga menunjukkan hasil yang sejalan dengan tabal 5.30 dan 5.31 bahwa 68,0 % menyatakan setuju dan 11,0 % sangat setuju bahwa masyarakat selama ini telah dilibatkan dalam perencanaan pembangunan di wilayah mereka. Hanya sekitar 20,0 % yang menyatakan tidak setuju dan 1 % sangat tidak setuju. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan kepada pemerintah dan kerukunan antar warga masih terjalin dengan baik. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi pembagunan wilayah, karena didukung oleh semua elemen masyarakat dan pemerintah.
Tabel 5.29
Keterlibatan Masyarakat Dalam Perencanaan Pembangunan
No Keterlibatan Jumlah Persentase (%)
1 Sangat Terlibat 33 11,0
2 Terlibat 204 68,0
3 Kurang Terlibat 60 20,0
4 Tidak Terlibat 3 1,0
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Selanjutnya adalah tanggapan responden atas proses pendampingan yang selama ini mereka dapatkan ketika ada program bantuan dari pemerintah. Dari 300 responden, 40,3 % menyatakan tidak pernah mendapatkan pendampingan, 8,3 % menyatakan ada pendampingan selama dan setelah
bantuan, 15,3 % mendapatkan pendampingan hanya selama program bantuan berjalan dan 4,3 % mendapatkan pendampingan hanya setelah program bantuan selesai, serta 31,7 % tidak memberikan jawaban karena ketidaktahuan mereka mengenai keberadaan pendampingan tersebut. Jawaban responden ini jika kita hubungkan dengan tabel mengenai ketepatan program pemberdayaan masyarakat akan terlihat benang merahnya. Karena kemungkinan terjadi ketidaktepatan sasaran program bantuan, sehingga masyarakat yang mendapatkan program tersebut ada yang tidak memahami mengenai esensi kegiatan tersebut. Sehingga ketika kegiatan selesai, kemungkinan mereka juga memiliki anggapan bahwa tugas mereka telah selesai. Hal ini tentunya menjadi perhatian yang serius bagi kita untuk mencari solusi agar antara pemberi progam dan penerima program dapat memiliki persepsi yang sama, sehingga hasilnya juga sesuai dengan apa yang diharapkan bersama.
Tabel 5.30
Proses Pendampingan Yang Berkelanjutan
No Proses Pendampingan Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Menjawab 95 31,7
2 Pendamping Selama dan Setelah Program Bantuan
25 8,3 3 Pendampingan Selama Program Bantuan 46 15,3 4 Pendampingan Setelah Program Bantuan 13 4,3
5 Tidak Ada Pendampingan 121 40,3
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Berikut adalah tabel yang menjelaskan bagaimana keberlanjutan usaha dari masyarakat setempat setelah selesainya pelaksanaan program bantuan dari pemerintah.
Tabel 5.31
Keberlanjutan Usaha Yang Mendapatkan Bantuan
No Keb1rlanjutan Usaha Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Menjawab 107 35,7
2 Ya 102 34,0
3 Tidak 91 30,3
Total 300 100
Sumber: Data Primer, 2012
Dari 300 responden, 34,0 % menyatakan usaha mereka yang telah mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah masih berjalan sampai dengan sekarang, sedangkan 30,3 % menyatakan usahanya tidak lagi berjalan, dan 35,7 % responden tidak menjawab apakah usaha mereka masih berjalan atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa hanya sekitar 30 % saja keberhasilan dari program bantuan usaha dari pemerintah sedangkan 70 % dapat dikatakan tidak berhasil. Hal ini selain berhubungan dengan kurang tepatnya sasaran penerima program bantuan, mungkin juga berhubungan dengan kemampuan manajerial dari para pelaku usaha untuk dapat terus bertahan hidup ditengah persaingan usaha yang semakin ketat.
17. Gambaran Kondisi Usaha Pengolahan Kayu yang Dijalankan Saat Ini Pada