Informasi Dokumen
- Sekolah: Universitas Negeri Yogyakarta
- Mata Pelajaran: Pendidikan
- Topik: Struktur Kurikulum
- Tipe: Buku
Ringkasan Dokumen
I. Struktur Kurikulum dan Asas-asasnya
Bab I membahas kompleksitas pengembangan kurikulum, yang dipengaruhi oleh berbagai asas dan komponen yang saling terkait. Kurikulum tidak memiliki definisi tunggal, melainkan beragam rumusan tergantung pada ahli kurikulum masing-masing. Konsep kurikulum juga dapat dipandang sebagai 'ideal' atau 'real', 'potensial' atau 'aktual', bahkan 'hidden curriculum'. Pengembangan kurikulum sangat kompleks karena melibatkan banyak faktor, termasuk asas filosofis (menentukan tujuan umum pendidikan), sosiologis (menentukan materi sesuai kebutuhan masyarakat), organisatoris (bagaimana pelajaran disusun), dan psikologis (prinsip-prinsip perkembangan dan cara belajar). Perbedaan pilihan pada masing-masing asas akan menghasilkan kurikulum yang berbeda pula, menekankan pentingnya pertimbangan matang dalam pengembangan kurikulum, khususnya dalam pembaharuan total yang berisiko tinggi.
1.1 Komponen-komponen Kurikulum
Komponen utama kurikulum meliputi tujuan, bahan pelajaran, proses belajar-mengajar, dan penilaian. Keempat komponen ini saling terkait erat; tujuan yang berbeda (kognitif, afektif, psikomotor) akan memerlukan bahan pelajaran, proses belajar-mengajar, dan penilaian yang berbeda pula. Ilustrasi diagram panah dua arah menunjukkan interrelasi kompleks antar komponen ini. Pengembangan kurikulum yang efektif memerlukan pertimbangan cermat atas interaksi dan hubungan fungsional antara semua komponen, terutama dalam ranah afektif yang lebih kompleks daripada ranah kognitif. Kesulitan dalam menentukan bahan pelajaran, metode pembelajaran, dan alat penilaian yang tepat untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi seperti pembentukan karakter, menjadi sorotan penting dalam analisis ini.
1.2 Urutan Pengembangan Kurikulum
Secara teoritis, pengembangan kurikulum idealnya dimulai dengan merumuskan tujuan, diikuti oleh pemilihan bahan pelajaran, proses belajar-mengajar, dan alat penilaian. Namun, terdapat alternatif pendekatan lain, seperti menentukan alat evaluasi setelah tujuan dirumuskan atau memulai dengan bahan pelajaran terlebih dahulu. Dalam praktiknya, semua unsur sering dipertimbangkan secara simultan tanpa urutan pasti, mencerminkan proses interaksi dan penyempurnaan yang dinamis. Fleksibelitas dalam proses pengembangan kurikulum ini penting untuk mengakomodasi kebutuhan dan perubahan yang mungkin terjadi selama proses berlangsung. Keberhasilan pengembangan kurikulum bergantung pada kemampuan mengintegrasikan berbagai aspek dan melakukan penyesuaian yang tepat.
1.3 Kurikulum sebagai Pilihan dan Realitas
Kompleksitas komponen kurikulum dan beragam tafsirnya menghasilkan berbagai alternatif pilihan. Kurikulum merupakan 'soal pilihan', dan seringkali pilihan tersebut dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkuasa, menjadikan kurikulum sebagai alat politik. Terdapat perbedaan antara 'ideal curriculum' (yang direncanakan) dan 'real curriculum' (yang direalisasikan), menunjukan adanya kesenjangan ('gap') yang perlu diperhatikan. Kurikulum juga dapat dilihat sebagai 'potential learning experiences' yang mungkin berbeda dari 'actual learning experiences'. Perlu pertimbangan yang matang dan melibatkan para ahli untuk meminimalisir kesenjangan antara rencana dan realisasi, memastikan kurikulum yang efektif dan relevan.
1.4 Definisi Kurikulum
Istilah 'kurikulum' berasal dari bahasa Latin yang berarti 'jalur perlombaan'. Definisi kurikulum beragam, mulai dari pengertian tradisional sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah hingga pengertian yang lebih luas sebagai keseluruhan usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Berbagai ahli, seperti Saylor & Alexander, Smith, dan Alberty, memberikan definisi yang beragam namun saling terkait. Kurikulum bukan hanya buku panduan, melainkan meliputi semua pengalaman siswa di bawah bimbingan sekolah, termasuk 'hidden curriculum' atau kurikulum tersembunyi. Perbedaan pandangan mengenai luasnya ruang lingkup kurikulum mencerminkan perbedaan perspektif dalam pendidikan dan tanggung jawab sekolah di masyarakat modern.
II. Konsep-Konsep Kurikulum
Bab II mengeksplorasi berbagai konsep kurikulum. Eisner dan McNeil mengklasifikasikan konsep kurikulum berdasarkan pengembangan proses kognitif, teknologi, humanistik/aktualisasi diri, rekonstruksi sosial, dan akademik. Hilda Taba dan Miller & Seller menambahkan fungsi kurikulum sebagai transmisi kebudayaan, transformasi masyarakat, dan pengembangan individu. Kelima konsep tersebut memiliki persamaan dan perbedaan yang signifikan, seringkali saling terkait atau bahkan bertentangan.
2.1 Kurikulum sebagai Pengembangan Proses Kognitif
Konsep ini menekankan pengembangan kemampuan intelektual, khususnya kemampuan berpikir. Fokusnya pada 'how' bukan 'what', artinya kemampuan berpikir lebih diutamakan daripada isi materi. Konsep ini dipengaruhi oleh 'faculty psychology' dan 'transfer of learning', yang menekankan kemampuan berpikir logis dan sistematis melalui pelatihan, misalnya melalui matematika. Meskipun 'faculty psychology' telah ditinggalkan, ide transfer of learning tetap relevan. Pentingnya memahami struktur disiplin ilmu dan prinsip-prinsip umum untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan transfer pengetahuan ke berbagai bidang kehidupan ditekankan dalam sub-bab ini. Tokoh seperti Jean Piaget dan Jerome Bruner memberikan kontribusi signifikan terhadap konsep ini.
2.2 Kurikulum sebagai Teknologi
Konsep ini menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi pendidikan, baik 'hardware' maupun 'software'. Teknologi pendidikan bertujuan untuk memberikan dasar ilmiah dan empiris pada proses belajar-mengajar, menggunakan prosedur tertentu berdasarkan psikologi behaviorisme (stimulus-respons). Pendekatan ini menghasilkan prosedur yang sistematis, contohnya PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), namun belum sepenuhnya efektif dalam mencapai mastery learning dan tujuan pendidikan yang lebih luas, seperti tujuan afektif dan pengembangan kreativitas. Kendati demikian, teknologi pendidikan penting dalam menyusun kurikulum yang lebih sistematis dan empiris, serta meningkatkan evaluasi efektivitas kurikulum.
2.3 Kurikulum sebagai Aktualisasi Diri
Kurikulum humanistik ini mengutamakan perkembangan anak sebagai individu secara holistik, menekankan kreativitas, kemandirian, dan ekspresi diri. Berakar pada konsep 'child-centered', kurikulum ini mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, memberi kesempatan anak untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Ciri-cirinya meliputi partisipasi, integrasi, relevansi, eksplorasi diri, dan tujuan sosial untuk mengembangkan anak secara utuh dalam masyarakat. Konsep ini juga merupakan reaksi terhadap psikologi Freud dan menekankan hubungan guru-siswa yang baik dalam suasana saling percaya. Kendati demikian, kritik terhadap konsep ini antara lain kurangnya kejelasan definisi aktualisasi diri dan potensi dampak negatif terhadap masyarakat.
2.4 Kurikulum sebagai Rekonstruksi Sosial
Konsep ini memandang pendidikan sebagai alat untuk mengubah individu dan masyarakat, membina masa depan yang lebih baik. Dipengaruhi oleh Jhon Dewey dan George Counts, konsep ini melihat pendidikan sebagai 'social engineering' untuk mengarahkan transformasi sosial. Terdapat dua aliran, yaitu adaptif (mempersiapkan individu menghadapi perubahan) dan reformis (melibatkan individu dalam perubahan aktif). Tokoh seperti Ivan Illich, Harold G. Shane, dan Paulo Freire memberikan sumbangsih penting dalam konsep ini. Konsep ini menghadapi tantangan dalam mengarahkan perubahan sosial, terutama dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh media massa dan sistem pendidikan yang mempertahankan status quo.
2.5 Kurikulum sebagai Rasionalisasi Akademik
Konsep ini menonjolkan pengetahuan akademis sebagai inti kurikulum, terutama setelah era Sputnik. Dipengaruhi oleh Jerome Bruner, konsep ini menekankan pemahaman konsep dan prinsip-prinsip fundamental suatu disiplin ilmu melalui metode penemuan. Tujuannya menghasilkan ilmuwan yang bermutu dengan kemampuan berpikir ilmiah yang mendalam. Namun, penerapannya menghadapi kritik karena mengabaikan aspek afektif dan relevansi sosial, serta asumsi bahwa semua siswa mampu dan harus menjadi ilmuwan. Sebagai respon terhadap kritik tersebut, muncul pendekatan terpadu (interdisipliner) dan pendidikan fundamental (menekankan tokoh-tokoh besar dalam setiap bidang ilmu).
Referensi Dokumen
- ( Taylor )
- ( MacDonald )
- ( Kliebard )