• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Efektivitas Proprioceptive Exercise dan Zig-Zag Run Exercise terhadap Peningkatan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbedaan Efektivitas Proprioceptive Exercise dan Zig-Zag Run Exercise terhadap Peningkatan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur."

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PROPRIOCEPTIVE EXERCISE

DAN ZIG-ZAG RUN EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN

KELINCAHAN PADA ANAK USIA 9-11 TAHUN DI SEKOLAH

DASAR NEGERI 4 SANUR

MADE DWI INDAH PERMATAHATI GITA

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

(2)

i

SKRIPSI

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PROPRIOCEPTIVE EXERCISE

DAN ZIG-ZAG RUN EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN

KELINCAHAN PADA ANAK USIA 9-11 TAHUN DI SEKOLAH

DASAR NEGERI 4 SANUR

Oleh :

MADE DWI INDAH PERMATAHATI GITA

NIM. 1202305004

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

(3)

ii

(4)

iii

(5)
(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat

dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul

“Perbedaan Efektivitas Proprioceptive Exercise dan Zig-Zag Run Exercise terhadap

Peningkatan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 4

Sanur”.

Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar

sarjana Fisioterapi. Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam penyusunan

skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu

dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan skripsi

ini, yaitu kepada:

1. Prof.Dr.dr. Putu Astawa, Sp.OT (K), M.Kes selaku dekan Fakultas

Kedokteran Universitas Udayana.

2. Prof.Dr.dr.I Nyoman Adiputra, MOH, PFK selaku ketua Program Studi

Fisioterapi Universitas Udayana.

3. Ni Luh Nopi Andayani, SSt.FT, M.Fis selaku pembimbing sekaligus

pengajar yang telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam

penyusunan skripsi ini.

4. dr. I Wayan Sugiritama, M.Kes selaku pembimbing sekaligus pengajar yang

telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan

(7)

vi

5. dr. Ida Ayu Dewi Wiryanthini, M.Biomed selaku penguji sekaligus pengajar

yang telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan

skripsi ini.

6. Dosen-dosen pengajar dan staf Program Studi Fisioterapi yang telah banyak

membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Ibu, Bapak dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan dan

semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.

8. Desak Ketut Ayu Juniantari, Mutiara Savrita, Isna Christianti, dan Dewi

Lestari yang selalu membantu dan memberikan semangat kepada penulis.

9. Seluruh teman-teman Axoplasmic yang selalu membantu dan memberikan

semangat terutama Sinta Puspita Dewi, Dwi Dayanti Martini, Firasti

Widyaratni, Angga Puspa Negara, dan Rama Wintara.

10.Seluruh kerabat dan sejawat yang tidak mungkin penulis sebutkan satu

persatu yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak penulis sangat

harapkan.

Denpasar, Mei 2016

(8)

vii

PERBEDAAN EFEKTIVITAS PROPRIOCEPTIVE EXERCISE DAN ZIG-ZAG RUN EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PADA ANAK

USIA 9-11 TAHUN DI SEKOLAH DASAR NEGERI 4 SANUR

ABSTRAK

Anak yang kurang melakukan aktivitas fisik dapat menyebabkan penurunan kebugaran jasmani. Salah satu komponen penting dari kebugaran jasmani adalah kelincahan. Kelincahan merupakan kemampuan seseorang merubah arah dan posisi tubuh dengan cepat, efektif, dan tepat dalam waktu singkat ketika sedang bergerak cepat tanpa kehilangan keseimbangan. Berdasarkan teori menyatakan bahwa Proprioceptive Exercise dan Zig-zag Run Exercise dapat meningkatkan kelincahan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan Proprioceptive Exercise dan Zig-zag Run Exercise dalam meningkatkan kelincahan anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur.

Telah dilakukan penelitian eksperimental dengan rancangan Pre and Post

Test Two Group Design. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling.

Sampel berjumlah 16 anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok Proprioceptive Exercise berjumlah 8 orang dan kelompok Zig-zag Run Exercise berjumlah 8 orang. Dilakukan uji normalitas dengan Saphiro-Wilk Test dan uji homogenitas dengan Levene’s Test. Hipotesis diuji dengan Paired Samples T-test. Rerata selisih peningkatan kelincahan pada kelompok Proprioceptive Exercise dan kelompok Zig-zag Run Exercise diuji dengan Independent Sample T-test.

Hasil analisis untuk peningkatan kelincahan pada anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur menunjukkan bahwa rerata selisih peningkatan kelincahan pada kelompok Proprioceptive Exercise dan kelompok Zig-zag Run Exercise (3,46 dan 4,98) diperoleh hasil p=0,003 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa intervensi Zig-zag Run Exercise menghasilkan peningkatan kelincahan pada anak usia 9-11 tahun lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan intervensi Proprioceptive Exercise.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian intervensi Zig-zag Run Exercise lebih baik dalam meningkatkan kelincahan daripada pemberian Proprioceptive Exercise pada anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur.

(9)

viii

DIFFERENCE IN THE EFFECTIVENESS OF PROPRIOCEPTIVE EXERCISE AND ZIG-ZAG RUN EXERCISE TOWARD AGILITY IMPROVEMENT IN CHILDREN AGED 9-11 YEARS OLD IN ELEMENTARY SCHOOL 4 SANUR

ABSTRACT

Children who are doing less physical activity can cause decrease in physical fitness. One of the important component of physical fitness is agility. Agility is a person's ability to change the direction and position of the body quickly, effectively, and accurately in a short time while moving without any sign of losing balance. Based on the theory that states Proprioceptive Exercise and Zig-zag Run Exercise can improve agility. This study was conducted to compare Proprioceptive Exercise and Zig-zag Run Exercise in improving the agility of children aged 9-11 years in Elementary School 4 Sanur.

This experimental research have aleardy conducted with Pre and Post Test Two Group Design. The sampling technique is purposive sampling. The amount of samples is 16 children aged 9-11 years in Elementary School 4 Sanur that divided to 2 groups, the first group are given Propriceptive Exercise consist of 8 children and the second group are given Zig-zag Run Exercise consist of 8 children. Normality test performed by Shapiro-Wilk and homogenity test performed by Levene's Test. The hypothesis was tested with Paired Sample T-test. The mean difference of agility improvement beetwen Proprioceptive Exercise group and Zig-zag Run Exercise tested by Independent Sample T-test.

Analitical result for agility improvement in children aged 9-11 years in Elementary School 4 Sanur showed that the average difference in agility improvement on the Proprioceptive Exercise group and Zig-zag Run Exercise group (3,46 and 4,98) obtained result p = 0,003 ( p <0,05). This indicates that the Zig-zag Run Exercise intervention resulting in significantly greater improvement of agility compared to Proprioceptive Exercise intervention.

It can be concluded that Zig-zag run exercise is better for improving agility than Proprioceptive exercise of children aged 9-11 years in Elementary School 4 Sanur.

(10)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... ii

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... v

2.1.1 Pengertian Kelincahan ... 7

2.1.2 Kelincahan Anak Usia 9-11 Tahun ... 8

2.1.3 Mekanisme dan Fisiologi Kelincahan ... 10

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelincahan ... 13

2.1.5 Pengukuran Kelincahan ... 21

2.2 Kajian Anatomi dan Fisiologi ... 22

2.2.1 Anatomi Otot Tungkai ... 22

2.2.2 Fisiologi Otot Rangka ... 29

(11)

x

2.3.1 Pengertian Proprioceptive Exercise ... 29

2.3.2 Mekanisme Fisiologis Pemberian Proprioceptive Exercise untuk Meningkatkan Kelincahan ... 35

2.3.3 Prosedur Proprioceptive Exercise ... 36

2.4 Zig-Zag Run Exercise ... 37

2.4.1 Pengertian Zig-Zag Run Exercise ... 37

2.4.2 Mekanisme Fisiologis Pemberian Zig-zag Run Exercise untuk Meningkatkan Kelincahan ... 39

2.4.3 Prosedur Zig-zag Run Exercise ... 41

2.5 Takaran Pelatihan... 42

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS ... 45

3.1 Kerangka Berpikir ... 45

3.2 Kerangka Konsep ... 48

3.3 Hipotesis ... 49

BAB IV METODE PENELITIAN ... 50

4.1 Desain Penelitian ... 50

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 51

4.3 Populasi dan Sampel ... 51

4.3.1 Populasi ... 51

4.3.2 Sampel ... 51

4.3.3 Besar Sampel ... 52

4.3.4 Teknik Pengambilan Sampel ... 53

4.4 Variabel Penelitian ... 54

4.5 Definisi Operasional Variabel ... 54

4.6 Instrumen Penelitian ... 56

4.7 Prosedur Penelitian ... 57

4.7.1 Prosedur Pendahuluan ... 57

4.7.2 Prosedur Pelaksanaan ... 58

4.8 Alur Penelitian ... 62

4.9 Teknik Analisis Data... 63

(12)

xi

5.1 Data Karakteristik Sampel ... 64

5.2 Uji Normalitas dan Homogenitas... 65

5.3 Pengujian Hipotesis ... 67

5.3.1 Efektivitas Proprioceptive Exercise terhadap Peningkatan Kelincahan Anak Usia 9-11 Tahun ... 67

5.3.2 Efektivitas Zig-zag Run Exercise terhadap Peningkatan Kelincahan Anak Usia 9-11 Tahun ... 68

5.3.3 Uji Komparasi Hasil Selisih Peningkatan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun pada Kedua Kelompok Perlakuan ... 68

BAB VI PEMBAHASAN ... 70

6.1 Karakteristik Sampel ... 70

6.2 Intervensi Proprioceptive Exercise dapat Meningkatkan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur ... 71

6.3 Intervensi Zig-zag Run Exercise dapat Meningkatkan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur ... 73

6.4 Ada Perbedaan Efektivitas Proprioceptive Exercise dan Zig-zag Run Exercise dalam Meningkatkan Kelincahan Pada Anak Usia 9-11 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur ... 75

6.5 Kelemahan Penelitian ... 78

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 80

7.1 Simpulan ... 80

7.2 Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

LAMPIRAN ... 87

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses Fisiologi Terjadinya Keseimbangan ... 15

Gambar 2.2 Shuttle Run Test ... 22

Gambar 2.3 Grup Otot Quadriceps Femoris ... 23

Gambar 2.4 Grup Otot Hamstring ... 24

Gambar 2.5 Grup Otot Plantar Fleksor Ankle ... 25

Gambar 2.6 Grup Otot Dorsi Fleksor Ankle ... 26

Gambar 2.7 Otot Gluteus Maximus ... 28

Gambar 2.8 Otot Gluteus Medius dan Minimus ... 28

Gambar 2.9 Lintasan Proprioceptive ... 31

Gambar 2.10 Proprioceptive Exercise Closed Kinetic Chain Dilakukan dengan Mata Tertutup/ Terpejam (side to side, one foot, squat) ... 37

Gambar 2.11 Zig-zag Run Exercise ... 41

Gambar 3.1 Kerangka Konsep ... 48

Gambar 4.1 Desain Penelitian ... 50

Gambar 4.2 Aplikasi Proprioceptive Exercise Closed Kinetic Chain Dilakukan dengan Mata Tertutup/ Terpejam (side to side, one foot, squat) ... 60

Gambar 4.3 Aplikasi Zig-zag Run Exercise ... 61

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Panduan Produk Wobble Board ... 34

Tabel 4.1 WPRO 2000 IMT untuk Regional ASIA ... 58

Tabel 4.2 Normal Kelincahan (shuttle run) ... 59

Tabel 5.1 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 65

Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Peningkatan Kelincahan pada Anak Usia 9-11 Tahun ... 66

Tabel 5.3 Rerata Peningkatan Kelincahan Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Proprioceptive Exercise ... 67

Tabel 5.4 Peningkatan Rerata Kelincahan Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Zig-zag Run Exercise ... 68

Tabel 5.5 Perbandingan Peningkatan Kelincahan pada Kelompok Proprioceptive Exercise dan Zig-zag Run Exercise ... 69

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa anak-anak adalah masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan

kehidupan yang menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada dasarnya dunia

anak-anak adalah bermain. Bermain merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan

dari kehidupan dan cenderung merupakan kebutuhan dasar yang hakiki. Bermain

secara aktif melalui permainan tradisional mendorong anak mampu berubah

menyesuaikan diri saat bermain, gerakan menjadi lentur, dan mampu mengikuti

berbagai aturan yang dibuat dengan cara-caranya sendiri. Namun, dewasa ini

permainan tradisional kurang diminati anak-anak, mereka lebih tertarik dengan

permainan modern seperti play station, game online, dan game di handphone,

sehingga membuat anak cenderung kurang melakukan aktivitas fisik.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak pada zaman sekarang ini

lebih senang dan sering memainkan permainan game online hingga adiksi terhadap

game online tersebut. Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh Kaiser Family

Fondation terhadap 2.032 anak-anak pada usia antara 3 sampai 12 tahun mengenai

seberapa sering anak-anak tersebut bermain video games atau game di komputer.

Ternyata didapatkan 73% anak laki-laki berusia 8 tahun sampai 10 tahun rata-rata

bermain game satu jam per hari dan hampir 68% anak usia 12 tahun sampai 14

tahun rata bermain game 3 jam per hari dan untuk usia 17 tahun ke atas

(16)

2

(Sanditaria, 2012) di wilayah Jatinangor, Sumedang menghasilkan data sebanyak

71 responden, 62% diantaranya termasuk dalam kategori adiksi game online.

Responden dalam penelitian tersebut adalah anak usia sekolah yang memiliki

rentang usia 6-12 tahun. Hal ini sejalan dengan pendapat (Griffiths & Wood, 2000)

bahwa anak dianggap lebih sering dan rentan terhadap penggunaan permainan

game online daripada dewasa (Lemmens & Peter, 2009).

Kurang melakukan aktivitas fisik maupun olahraga pada anak menyebabkan

penurunan kebugaran jasmani. Terdapat 10 macam unsur kondisi fisik yang

menjadi komponen pendukung kebugaran jasmani, diantaranya: kekuatan

(strength), daya tahan (endurance), daya tahan otot (muscular power), kecepatan

(speed), daya lentur (flexibility), kelincahan (agility), keseimbangan (balance),

koordinasi (coordination), ketepatan (accuracy), dan reaksi (reaction) (Prasetyo,

2014).

Kelincahan termasuk salah satu komponen penting dalam peningkatan

kebugaran jasmani. Kelincahan adalah kemampuan untuk merubah posisi tubuh

dan arah gerakan, memberikan reaksi terhadap stimulus, serta siap untuk merubah

arah atau menghentikan gerakan dengan cepat, tepat dan efisien, tanpa kehilangan

keseimbangan (Ismaryati, 2008). Tingkat kelincahan anak dapat diketahui melalui

pengukuran dengan menggunakan shuttle run test. Pengukuran ini dilakukan

dengan lari cepat bolak balik sejauh 10 meter sebanyak 4 kali, dan dicatat waktu

tempuhnya ke tempat semula dalam detik (Nala, 2011). Berdasarkan survei

kelincahan pada siswa kelas IV–V di SDN 01 Mijan Kabupaten Kudus, 19% siswa

(17)

3

kurang. Sekitar lebih dari 20% anak usia 9-11 tahun memiliki kelincahan kurang

dan sangat kurang (Ariani, 2010). Hasil ini menunjukkan masih perlunya latihan

kelincahan pada anak usia 9-11 tahun.

Kurang berkembangnya kelincahan sebagai ciri khas seorang anak akan

berpengaruh pada keterampilan gerak dasar seperti berjalan, berlari, dan melompat.

Keterampilan gerak dasar yang menurun, menyebabkan anak tidak dapat

menyesuaikan aktivitas bermain dengan anak lain, berkurangnya kemampuan

berolahraga, dan anak menjadi mudah kelelahan. Hal ini mengakibatkan kebugaran

jasmani anak menurun, sehingga prestasi belajar mengajar di sekolah juga ikut

menurun (Purwanti, 2013).

Untuk mengatasi masalah diatas, dibutuhkan upaya dalam meningkatkan

kelincahan pada anak usia 9-11 tahun. Salah satu alternatif untuk memecahkan

masalah ini ialah dengan memberikan bentuk aktivitas fisik baru yang mampu

menarik minat dan membangkitkan semangat anak sehingga nantinya dapat berlatih

dengan bersungguh-sungguh dalam pelatihan olahraga bersama guru olahraga

(Winartha, 2015).

Ada berbagai macam bentuk latihan yang mempunyai karakter dan teknik

berbeda dalam meningkatkan kelincahan. Dimana dalam pelaksanaannya peneliti

akan menerapkan proprioceptive exercise dan zig-zag run exercise. Peneliti

tertarik mengangkat tipe latihan ini karena tipe latihan ini secara aplikatif

tergolong mudah diterapkan pada anak usia 9-11 tahun. Selain itu, latihan ini

juga secara tidak langsung dapat meningkatkan komponen biomotorik

(18)

4

koordinasi neuromuscular otot tungkai yang sangat diperlukan dalam

meningkatkan kelincahan anak usia 9-11 tahun.

Menurut Udiyana (2014) dalam jurnalnya menunjukkan hasil pelatihan

modifikasi zig-zag run sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kecepatan

dan kelincahan. Selain itu, berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Ismaningsih (2015) menunjukan hasil penambahan proprioceptive exercise lebih

baik daripada intervensi strengthening exercise tunggal dalam meningkatkan

kelincahan pada pemain sepak bola. Zig-zag run exercise merupakan metode

standar, sedangkan proprioceptive exercise merupakan metode baru terhadap

peningkatan kelincahan. Kedua penelitian tersebut membuat peneliti tertarik untuk

membedakan efektivitas proprioceptive exercise dan zig-zag run exercise dalam

meningkatkan kelincahan. Selain itu belum banyak penelitian terhadap kedua

latihan tersebut dalam meningkatkan kelincahan pada anak usia 9-11 tahun. Hal

tersebut yang mendasari peneliti ingin mengangkat judul “Perbedaan Efektivitas

Proprioceptive Exercise dan Zig-Zag Run Exercise terhadap Peningkatan

(19)

5

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka peneliti membuat

rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah proprioceptive exercise efektif dalam meningkatkan kelincahan pada

anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur?

2. Apakah zig-zag run exercise efektif dalam meningkatkan kelincahan pada anak

usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur?

3. Apakah ada perbedaan efektivitas proprioceptive exercise dengan zig-zag run

exercise dalam meningkatkan kelincahan pada anak usia 9-11 tahun di Sekolah

Dasar Negeri 4 Sanur?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran umum tentang proprioceptive exercise dan

zig-zag run exercise terhadap kelincahan pada anak-anak.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk membuktikan efektivitas proprioceptive exercise terhadap peningkatan

kelincahan pada anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur.

b. Untuk membuktikan efektivitas zig-zag run exercise terhadap peningkatan

kelincahan pada anak usia 9-11 tahun di Sekolah Dasar Negeri 4 Sanur.

c. Untuk membuktikan adanya perbedaan efektivitas proprioceptive exercise dan

zig-zag run exercise terhadap peningkatan kelincahan pada anak usia 9-11

(20)

6

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

a. Diharapkan penelitian ini menambah pengetahuan bagi para pembaca

(mahasiswa) tentang pengaruh proprioceptive exercise dan zig-zag run

exercise terhadap peningkatan kelincahan pada anak usia 9-11 tahun.

b. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan bagi para pembaca

(mahasiswa) dalam mengembangkan penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam memilih intervensi

(21)

7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kelincahan

2.1.1 Pengertian Kelincahan

Kata lincah memiliki arti bergerak merubah arah atau berputar secara cepat.

Kelincahan merupakan kemampuan melakukan sebuah gerakan yang singkat atau

cepat dalam waktu yang sesingkat mungkin (Sukadiyanto, 2005). Kelincahan

adalah kemampuan untuk mengubah arah atau posisi tubuh dengan cepat yang

dilakukan bersama-sama dengan gerakan lainnya (Widiastuti, 2011). Kelincahan

juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengubah kecepatan dan arah posisi

tubuh atau bagian-bagiannya dengan cepat dan tepat, sementara perpindahannya

dengan cepat tanpa kehilangan keseimbangannya (Ismaryati, 2008).

Kelincahan merupakan kemampuan untuk mengubah posisi tubuh atau arah

gerakan tubuh dengan cepat ketika sedang bergerak cepat, tanpa kehilangan

keseimbangan atau kesadaran orientasi terhadap posisi tubuh (Nala, 2011). Oleh

karena itu, seseorang yang memiliki kelincahan yang baik dapat dengan mudah

merubah posisi tubuhnya dengan tetap menjaga keseimbangan. Kelincahan

merupakan kombinasi dari kekuatan otot, fleksibilitas, kecepatan, keseimbangan,

kecepatan reaksi dan koordinasi neuromuskular (Ismaningsih, 2015).

Ditinjau dari keterlibatannya atau perannya dalam beraktivitas, kelincahan

dikelompokkan menjadi dua macam yaitu, kelincahan umum (General Agility) dan

(22)

8

sehari-hari atau kegiatan olahraga secara umum yang melibatkan gerakan seluruh

tubuh, sedangkan kelincahan khusus merupakan kelincahan yang bersifat khusus

yang dibutuhkan dalam cabang olahraga tertentu. Kelincahan yang dibutuhkan

memiliki karakteristik tertentu sesuai tuntutan cabang olahraga yang dipelajari dan

hanya melibatkan segmen tubuh tertentu (Ismaryati, 2008).

Maka berdasarkan beberapa definisi diatas kelincahan adalah kemampuan

seseorang merubah arah dan posisi tubuh dengan cepat, efektif, dan tepat dalam

waktu singkat ketika sedang bergerak cepat tanpa kehilangan keseimbangan.

2.1.2 Kelincahan Anak Usia 9-11 Tahun

Pada masa anak-anak, perkembangan fisik berada pada suatu tingkatan

dimana anak dapat melakukan beberapa macam gerak dasar dengan beberapa

variasinya. Bertambahnya ukuran fisik memungkinkan bagi anak lebih mampu

menjelajahi ruang yang lebih luas, serta menjangkau objek-objek yang berada

disekitarnya. Kemungkinan menjelajah tersebut memacu untuk melakukan

beberapa macam gerakan untuk meningkatkan kemampuannya (Samsudin, 2008).

Kelincahan bagi anak merupakan sesuatu yang khas sesuai dengan

kodratnya. Kelincahan anak merupakan kemampuan seorang anak untuk mengubah

arah dan posisi tubuhnya dengan cepat yang dilakukan bersama dengan gerakan

lain, tanpa kehilangan keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuhnya. Anak

identik dengan karakteristiknya yang lincah untuk melakukan gerakan-gerakan

tubuh. Kelincahan anak ini terlihat saat anak melakukan gerakan perpindahan

seperti saat anak berlari, meloncat, dan kegiatan lainnya dengan gerakan yang cepat,

(23)

9

jatuh. Seorang anak akan memiliki keterampilan motorik yang baik apabila dalam

keadaan bugar jasmaninya, sehingga kelincahan dianggap penting dalam melatih

perkembangan motorik kasar anak agar anak siap dalam menghadapi tugas-tugas

perkembangan selanjutnya (Purwanti, 2013).

Karakteristik anak usia 9-11 tahun ditinjau dari karakteristik fisik, mental

dan sosial/emosional yaitu (Muchtar, 1992):

1. Karakteristik fisik meliputi pertumbuhan tinggi badan lambat, pertambahan

berat badan lambat tapi mantap, perkembangan kekuatan meningkat,

temperatur tubuh sering berubah.

2. Karakteristik mental meliputi perkembangan kemampuan berdalih makin baik.

3. Karakteristik sosial/emosional meliputi suka bergaul dengan teman sejenis,

kagum pada sifat menantang pada orang dewasa dan otoriter, keberhasilan dan

kerapian dianggap sebagai sikap banci, berusaha menjadi pemain terbaik agar

diakui dan dikagumi kelompok, bermain lebih keras dan ribut, senang

berpetualang dan merusak, tidak suka dipanggil pengecut atau penakut.

Menurut Depdiknas, kelompok usia 9-11 tahun memiliki karakteristik

pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut(Yudanto, 2007):

1. Dalam periode ini pertumbuhannya lancar, otot-otot tumbuh cepat dan butuh

latihan, postur tubuh cenderung belum bagus, karena itu memerlukan

latihan-latihan pembentukan tubuh;

(24)

10

3. Timbul minat mahir dalam suatu keterampilan fisik tertentu dan

permainan-permainan yang terorganisir tetapi belum siap untuk mengerti peraturan yang

rumit, rentang perhatian lebih lama;

4. Senang/ berani menantang aktivitas yang agak keras;

5. Lebih senang kumpul dengan kawan yang sejenis dan yang sebaya;

6. Menyenangi kreativitas yang dramatis, kreatif imajinatif, dan ritmis;

7. Minat untuk berprestasi individual, kompetitif, punya idola;

8. Saat yang tepat untuk mendidik moral dan perilaku sosial yang baik, dan;

9. Membentuk kelompok-kelompok dan mencari persetujuan kelompok.

2.1.3 Mekanisme dan Fisiologi Kelincahan

Kelincahan merupakan salah satu komponen biomotorik yang didefinisikan

sebagai kemampuan mengubah arah secara efektif dan cepat. Kelincahan terjadi

karena gerakan tenaga eksplosif (Ruslan, 2012). Kelincahan juga merupakan

kombinasi antara power dengan flexibility. Besarnya tenaga dan kecepatan otot

ditentukan oleh kekuatan dari kontraksi serabut otot. Kecepatan kontraksi otot

tergantung dari daya rekat serabut-serabut otot dan kecepatan transmisi impuls saraf

(Pratama, et al., 2014).

Seseorang yang mampu mengubah arah dari posisi ke posisi yang berbeda

dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi gerak yang baik berarti kelincahannya

cukup tinggi. Elastisitas otot sangat penting karena makin panjang otot tungkai

dapat terulur, makin kuat dan cepat otot dapat memendek atau berkontraksi (Lestari,

(25)

11

Dengan diberikan latihan, otot-otot akan menjadi lebih elastis dan ruang

gerak sendi akan semakin baik sehingga persendian akan menjadi sangat lentur

sehingga menyebabkan ayunan tungkai dalam melakukan langkah-langkah menjadi

sangat lebar. Dengan otot yang elastis, tidak akan menghambat gerakan-gerakan

otot tungkai sehingga langkah kaki dapat dilakukan dengan cepat dan panjang.

Keseimbangan dinamis juga akan terlatih karena dalam pelatihan ini harus mampu

mengontrol keadaan tubuh saat melakukan pergerakan. Dengan meningkatnya

komponen-komponen tersebut maka kelincahan akan mengalami peningkatan

(Pratama, et al., 2014).

Aktivitas fisik yang teratur akan menyebabkan terjadinya hipertropi

fisiologi otot, yang dikarenakan jumlah miofibril, ukuran miofibril, kepadatan

pembuluh darah kapiler, saraf tendon dan ligamen, serta jumlah total kontraktil

terutama protein kontraktil myosin meningkat secara proporsional. Perubahan pada

serabut otot tidak semuanya terjadi pada tingkat yang sama, peningkatan yang lebih

besar terjadi pada serabut otot putih (fast twitch) sehingga terjadi peningkatan

kecepatan kontraksi otot. Sehingga meningkatnya ukuran serabut otot yang pada

akhirnya akan meningkatkan kecepatan kontraksi otot sehingga menyebabkan

peningkatan kelincahan (Womsiwor, 2014). Selain itu, terjadinya adaptasi

persyarafan ditandai dengan peningkatan teknik dan tingkat keterampilan seseorang

(Sukadiyanto, 2005).

Adanya latihan kelincahan yang terprogram akan memberikan penyesuaian

terhadap kerja fisik yang meningkat, baik dari segi fisiologis maupun psikologis.

(26)

12

adaptasi saraf. Mekanisme adaptasi saraf yang terjadi akibat latihan menyebabkan

meningkatnya gaya kontraksi otot karena meningkatnya aktivasi otot penggerak

utama, otot-otot sinergi berkontraksi lebih tepat, dan meningkatkan inhibisi otot

antagonis. Peningkatan aktivasi refleks otot-otot penggerak utama merupakan

peningkatan eksitasi jaringan motorneuron, yang pada gilirannya dapat

menghasilkan peningkatan masukan eksitatori, mengurangi masukan inhibitori atau

kedua-duanya (Ismaryati, 2008). Secara fisiologis peningkatan kelincahan dapat

terjadi pada 4-6 minggu latihan dengan intensitas tinggi dan progresif hal ini

menyebabkan CNS (Central Nerve System) mendapatkan stimulus yang cukup

tanpa adanya cidera olahraga atau kelelahan (Miller, et al., 2006).

Pemberian latihan fisik secara teratur dan terukur dengan takaran dan waktu

yang cukup, akan menyebabkan perubahan fisiologis yang mengarah pada

kemampuan menghasilkan energi yang lebih besar dan memperbaiki penampilan

fisik. Jenis pelatihan fisik yang diberikan secara cepat dan kuat, akan memberikan

perubahan yang meliputi peningkatan substrat anaereobik seperti ATP-PC, kreatin

dan glikogen serta peningkatan pada jumlah dan aktivitas enzim (McArdle, et al.,

2010).

Jadi, telah dibuktikan secara teoritis bahwa dengan dilakukan latihan fisik

maka unsur kebugaran jasmani seperti kekuatan otot tungkai, kecepatan,

fleksibilitas sendi lutut dan pinggul, elastisitas otot dan keseimbangan dinamis akan

mengalami peningkatan fungsi secara fisiologis sehingga akan berpengaruh

(27)

13

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelincahan

Kelincahan dipengaruhi oleh faktor kekuatan otot, fleksibilitas, kecepatan,

keseimbangan, kecepatan reaksi, dan koordinasi neuromuskular.

a. Kekuatan Otot

Kekuatan adalah kemampuan otot atau grup otot menghasilkan tegangan

dan tenaga selama usaha maksimal baik secara dinamis maupun statis (Kisner &

Allen, 2007). Kekuatan otot juga dapat diartikan sebagai kekuatan maksimal otot

yang di tunjang oleh cross sectional otot yang merupakan otot untuk menahan

beban maksimal pada aksis sendi. Otot dalam berkontraksi dan menghasilkan

tegangan memerlukan suatu tenaga atau kekuatan. Kekuatan mengarah kepada

output tenaga dari kontraksi otot dan secara langsung berhubungan dengan

sejumlah tension yang dihasilkan oleh kontraksi otot, sehingga meningkatkan

kekuatan otot berupa level tension, hipertropi, dan recruitment serabut otot

(Ismaningsih, 2015).

b. Fleksibilitas

Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk menggerakkan sendi-sendi

dalam jangkauan gerakan penuh dan bebas. Keluwesan otot dan kebebasan gerak

persendian sering dikaitkan dengan hasil pergerakan yang terkoordinasi dan

efisien. Kelenturan di arahkan kepada kebebasan luas gerak sendi atau ROM.

Fleksibilitas menjadi faktor yang juga penting dalam mempengaruhi kelincahan.

Semakin lentur jaringan otot atau jaringan yang secara bersama–sama bekerja

seperti sendi, ligamen, dan tendon maka juga akan di dapat peningkatan

(28)

14

saling keterkaitan. Secara otomatis, jika seseorang melakukan latihan penguatan

juga berpengaruh terhadap fleksibilitas, begitu juga sebaliknya, jika seseorang

melakukan latihan fleksibilitas juga akan berpengaruh terhadap kekuatannya.

Kekuatan dan fleksibilitas merupakan komponen dari kecepatan, sehingga dapat

mempengaruhi kelincahan (Ismaningsih, 2015).

c. Kecepatan

Kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang

sejenis secara beturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, atau

kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam

waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan tergantung dari faktor yang

mempengaruhinya, yaitu kekuatan, waktu reaksi, dan fleksibilitas (Witvrouw,

2004).

d. Keseimbangan

Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi

pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak(O’Sullivan, 2004). Selain itu,

keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam posisi

kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan

aktivitas otot yang minimal. Keseimbangan juga bisa diartikan sebagai

kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat

gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support).

Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di

(29)

15

merupakan integrasi yang kompleks dari sistem somatosensorik (visual, vestibular,

proprioceptive) dan motorik (musculoskeletal, otot, sendi jaringan lunak) yang

keseluruhan kerjanya diatur oleh otak terhadap respon atau pengaruh internal dan

eksternal tubuh. Bagian otak yang mengatur meliputi, basal ganglia, cerebellum,

area asosiasi (Batson, 2009).

Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan

postur oleh aktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan

sistem regulasi yang berperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan dari

tubuh mempertahankan keseimbangan adalah menyanggah tubuh melawan

gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar

seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian

tubuh lain bergerak (Ismaningsih, 2015).

Gambar 2.1 Proses Fisiologi Terjadinya Keseimbangan

(30)

16

e. Kecepatan Reaksi

Kecepatan reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk memberikan respon

kinetik setelah menerima suatu stimulus atau rangsangan. Karena melalui

rangsangan (stimulus) reaksi tersebut mendapat sumber dari: pendengaran,

pandangan (visual), rabaan maupun gabungan antara pendengaran dan rabaan

(Wahjoedi, 2001). Berdasarkan penjelasan diatas jelas bahwa kecepatan reaksi

sangatlah penting dalam kecepatan bergerak. Neurofisiologis melibatkan

potensiasi perubahan karakteristik kekuatan, kecepatan, komponen kontraktil otot

yang disebabkan oleh bentangan aksi otot konsentris dengan menggunakan refleks

regangan. Refleks regangan adalah respon paksa tubuh untuk stimulus eksternal

yang membentang pada otot. Apabila waktu yang diperlukan untuk memberikan

respon kinetik atas suatu stimulus atau rangsangan cepat, maka hal ini akan

mengakibatkan terjadinya kecepatan dalam melakukan suatu pergerakan, yang

akan meningkatkan kemampuan kelincahan (Ismaningsih, 2015).

f. Koordinasi Neuromuscular

Merupakan kemampuan untuk mengintegrasi indera (visual, auditori, dan

proprioceptive untuk mengetahui jarak pada posisi tubuh) dengan fungsi motorik

untuk menghasilkan akurasi dan kemampuan bergerak (Ismaningsih, 2015).

Selain itu masih ada faktor lain yang mempengaruhi kelincahan yaitu faktor

internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari genetik, tipe tubuh, usia,

jenis kelamin, berat badan, kelelahan, dan motivasi sedangkan faktor eksternal

terdiri dari, suhu dan kelembaban udara, arah dan kecepatan angin, ketinggian

(31)

17

1. Faktor Internal

a) Genetik

Genetik manusia, unit yang kecil yang tersusun atas sekuen

Deoxyribonucleic Acid (DNA) adalah bahan paling mendasar dalam menentukan

hereditas. Tubuh seseorang secara genetik rata-rata tersusun oleh 50% serabut otot

tipe lambat dan 50% serabut otot tipe cepat pada otot yang digunakan untuk

bergerak (Quinn, 2013).

b) Usia

Massa otot semakin besar seiring dengan bertambahnya umur seseorang.

Pembesaran otot ini erat sekali kaitannya dengan kekuatan otot, di mana kekuatan

otot merupakan komponen penting dalam peningkatan daya ledak. Kekuatan otot

akan meningkat sesuai dengan pertambahan usia (Kamen, 2000). Tes Shuttle Run

30 feet, menunjukkan bahwa anak laki-laki rata-rata makin bertambah baik mulai

usia 12 tahun, sedang anak wanita tidak lagi bertambah baik setelah usia 13 tahun

(Sajoto, 2002).

Selain ditentukan oleh pertumbuhan fisik, kekuatan otot ini ditentukan oleh

aktivitas ototnya. Laki-laki dan perempuan akan mencapai puncak kekuatan otot

pada usia 20-30 tahun. Kemudian di atas usia tersebut mengalami penurunan,

kecuali diberikan pelatihan. Namun umur di atas 65 tahun kekuatan ototnya sudah

mulai berkurang sebanyak 20% dibandingkan sewaktu muda (Nala, 2011).

(32)

18

c) Tipe Tubuh

Tipe tubuh umumnya diklasifikasikan berdasarkan tiga konsep utama atau

dimensi-dimensi tipe tubuh, yakni: muscularity, linearity, dan fatness. Tiga

komponen tersebut diistilahkan berturut-turut sebagai: mesomorf, ectomorf, dan

endomorph. Orang yang memiliki bentuk tubuh tinggi ramping (ectomorf)

cenderung kurang lincah seperti halnya orang yang bentuk tubuhnya bundar

(endomorf). Sebaliknya, orang yang bertubuh sedang namun memiliki perototan

yang baik (mesomorf) cenderung memiliki kelincahan yang lebih baik (Jensen &

Fisher, 1979).

d) Indeks Massa Tubuh

Indeks massa tubuh adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat

badan dan tinggi badan seseorang. Rumus menghitung IMT adalah, IMT = Berat

Badan (kg) / [Tinggi Badan (m)]2 (Arga, 2008). IMT normal sebesar 18,5-22,9

kg/m2. Berat badan yang berlebihan secara langsung akan mengurangikelincahan.

Dimana berat badan yang berlebihan cenderungmengakibatkan muscle imbalance

di bagian trunk (Ismaningsih, 2015).

e) Jenis Kelamin

Kekuatan otot laki-laki sedikit lebih kuat daripada kekuatan otot perempuan

pada usia 10-12 tahun. Perbedaan kekuatan yang signifikan terjadi seiring

pertambahan umur, di mana kekuatan otot laki-laki jauh lebih kuat daripada wanita

(Bompa, 2005). Pengaruh hormon testosteron memacu pertumbuhan tulang dan

otot pada laki-laki, ditambah perbedaan pertumbuhan fisik dan aktivitas fisik

(33)

19

Bahkan pada usia 18 tahun ke atas, kekuatan otot bagian atas tubuh pada laki-laki

dua kali lipat daripada perempuan, sedangkan kekuatan otot tubuh bagian bawah

berbeda sepertiganya (Nala, 2011).

f) Kelelahan

Kelelahan dapat mengurangi kelincahan, karena orang yang lelah akan

menurun kecepatan lari dan koordinasinya. Selain itu, penting memelihara daya

tahan jantung dan daya tahan otot, agar kelelahan tidak mudah timbul

(Ismaningsih, 2015).

g) Motivasi

Motivasi olahraga adalah keseluruhan daya penggerak (motif–motif) di

dalam diri individu yang menimbulkan kegiatan berolahraga, menjamin

kelangsungan latihan dan memberi arah pada kegiatan latihan untuk mencapai

tujuan yang dikehendaki. Dengan motivasi yang baik akan dicapai hasil latihan

maksimal (Gunarsa, 2004).

2. Faktor Eksternal

a) Suhu dan Kelembaban Relatif

Suhu sangat berpengaruh terhadap performa otot. Suhu yang terlalu panas

menyebabkan seseorang akan mengalami dehidrasi saat latihan. Dan suhu yang

terlalu dingin menyebabkan seorang atlet susah mempertahankan suhu tubuhnya,

bahkan menyebabkan kram otot (Widhiyanti, 2013). Pada umumnya upaya

penyesuaian fisiologis atau adaptasi orang Indonesia terhadap suhu tropis sekitar

(34)

20

b) Arah dan kecepatan angin

Arah dan kecepatan angin berpengaruh karena pelatihan berlangsung di

lapangan terbuka. Arah angin diukur dengan bendera angin/kantong angin

sedangkan kecepatannya dengan anemometer (Kanginan, 2000). Dalam penelitian

ini, arah dan kecepatan angin berada dalam batas toleransi, diharapkan

pengaruhnya dapat ditekan sekecil-kecilnya atau tempat pengambilan data berada

pada kondisi yang sama atau satu tempat (Lestari, 2015).

c) Ketinggian tempat

Setiap peningkatan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut terjadi

penurunan percepatan gravitasi sebesar 0,3 cm/dtk. Tempat yang percepatan

gravitasinya rendah akan lebih mudah mengangkat tubuh karena beratnya

berkurang sebanding dengan penurunan percepatan gravitasi. Keuntungan ini

dibayar dengan kerugian yang lebih besar (Shepard, 1978).

d) Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan sosial sekitar juga berpengaruh dalam pembentukan

kebiasaan hidup aktif. Komponen utama dalam lingkungan sosial ini adalah orang

tua dan saudara kandung. Orang tua mempengaruhi anak dalam membuat

keputusan. Demikian juga dalam kegiatan berolahraga atau menjalankan aktivitas

jasmani. Selain memberikan dorongan, orang tua juga bisa tampil sebagai model

dari anak-anaknya (Lestari, 2015).

Pelatih olahraga pada khususnya merupakan salah satu kekuatan inti dalam

pembentukan sikap dan kebiasaan hidup aktif. Olahraga yang rajin dan

(35)

21

Media massa merupakan sumber kekuatan yang tersembunyi, namun juga efektif

dalam mempengaruhi kesadaran dan sikap (Lestari, 2015).

e) Pelatihan

Pelatihan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam peningkatan

kelincahan. Pelatihan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperbaiki

sistem organ alat-alat tubuh dan fungsinya dengan tujuan untuk mengoptimalkan

penampilan atau kinerja atlet (Nala, 2011). Tujuan latihan fisik meningkatkan

fungsi potensial yang dimiliki atlet dan mengembangkan kemampuan

biomotoriknya sehingga mencapai standar tertentu (Nala, 2002).

2.1.5 Pengukuran Kelincahan

Kelincahan merupakan suatu kecepatan reaksi seseorang untuk merubah

arah gerakan. Hal ini berkaitan dengan kecepatan, keseimbangan dan koordinasi.

Untuk mengukur komponen kelincahan dilakukan pengukuran terhadap kecepatan

lari hingga ke tempat semula. Dalam penelitian ini digunakan shuttle run test yang

merupakan tes dengan cara lari cepat bolak balik sejauh 10 meter sebanyak 4 kali,

dan dicatat waktu tempuhnya ke tempat semula dalam detik (Berdejo, 2015). Jarak

antara kedua titik dipilih 10 meter agar jarak tidak terlalu jauh karena ada

kemungkinan setelah lari beberapa kali bolak balik dia tidak mampu lagi untuk

melanjutkan larinya, dan atau membalikkan badannya dengan cepat disebabkan

karena faktor kelelahan. Dan kalau kelelahan mempengaruhi kecepatan larinya.

Jumlah ulangan atau repetisi lari bolak balik jangan terlalu banyak sehingga

(36)

22

seperti diatas. Faktor kelelahan akan mempengaruhi waktu tempuh dari shuttle

run test tersebut (Harsono, 1996).

Gambar 2.2 Shuttle Run Test (Gilang, 2007)

2.2 Kajian Anatomi dan Fisiologi

2.2.1 Anatomi Otot Tungkai

Daerah tungkai memiliki beberapa grup otot besar yang dapat memberikan

kontribusi terhadap kelincahan. Beberapa grup otot besar yang terlibat adalah:

1. Grup Otot Ekstensor Knee dan Fleksor Hip (Quadriceps Femoris)

Otot quadriceps femoris adalah salah satu otot rangka yang terdapat pada

bagian depan paha manusia. Otot ini mempunyai fungsi dominan ekstensi pada

(37)

23

a) Otot Rectus Femoris

Terletak paling superfisial pada facies ventalis berada diantara otot

quadriceps yang lain yaitu otot vastus lateralis dan medialis. Berorigo pada Spina

Illiaca Anterior Inferior (caput rectum) dan pada os ilium di cranialis acetabulum

(caput obliquum) dan mengadakan insersio pada tuberositas tibia dengan

perantaran ligamentum patellae. Otot ini digolongkan ke dalam otot tipe 1 (lambat)

(Watson, 2002).

b) Otot Vastus Lateralis

Tipe otot ini adalah otot tipe II (cepat) yang berada pada sisi lateral yang

mengadakan perlekatan pada facies ventro lateral trochanter major dan labium

lateral linea aspera femoris (Watson, 2002).

c) Otot Vastus Medial

Melekat pada labium medial linea aspera (dua pertiga bagian bawah) dan

termasuk otot tipe II (cepat) (Watson, 2002).

(38)

24

d) Otot Vastus Intermedius

Mengadakan perlekatan pada facies ventro-lateral corpus femoris juga

merupakan otot tipe II (cepat) (Watson, 2002).

2. Grup Otot Fleksor Knee dan Ekstensor Hip (Hamstring)

Hamstring merupakan otot paha bagian belakang yang berfungsi sebagai

fleksor knee dan ekstensor hip. Secara umum hamstring bertipe otot serabut otot

tipe II (cepat) (Watson, 2002). Hamstring terbagi atas tiga otot yaitu:

a) Otot Biceps Femoris

Mempunyai dua buah caput. Caput longum dan breve, caput longum

berorigo pada pars medialis tuber Ichiadicum dan M. semitendinosus sedangkan

caput breve berorigo pada labium lateral linea aspera femoris, insersio otot ini pada

capitulum fibula (Watson, 2002).

b) Otot Semitendinosus

Otot ini berorigo pada pars medialis tuber ichiadicum dan berinsersio pada

facies medialis ujung proximal tibia (Watson, 2002).

(39)

25

c) Otot Semimembranosus

Melekat di sebelah pars lateralis tuber ichiadicum turun ke arah sisi medial

regio posterior femoris dan berinsersio pada facies posterior condylus medialis

tibia (Watson, 2002).

3. Grup Otot Plantar Fleksor Ankle

a) Otot Gastrocnemius

Otot ini merupakan serabut otot fast-twitch yang sangat kuat untuk plantar

fleksi kaki pada ankle joint. Otot gastrocnemius merupakan otot yang paling

superfisial pada dorsal tungkai dan terdiri dari dua caput pada bagian atas calf. Dua

caput tersebut bersamaan dengan soleus membentuk triceps surae. Bagian lateral

dan medial otot masih terpisah satu sama lain sejauh memanjang ke bawah pada

middle dorsal tungkai. Kemudian menyatu di bawah membentuk tendon yang besar

yaitu tendon Achilles (Hamilton, 2012).

(40)

26

b) Otot Soleus

Seperti otot gastrocnemius, otot soleus berfungsi pada gerakan plantar fleksi

kaki pada ankle joint. Otot ini terletak di dalam gastrocnemius, kecuali di sepanjang

aspek lateral dari ½ bawah calf, di mana bagian lateral soleus terletak pada bagian

atas dari tendon calcaneus. Serabut otot soleus masuk ke dalam tendon calcaneal

dalam pola bipenniform. Otot ini dominan memiliki serabut slow-twitch (Hamilton,

2012).

4. Group Otot Dorsi Fleksor Ankle

a) Tibialis Anterior

Otot ini terletak di sepanjang permukaan anterior tibia dari condylus lateral

kebawah pada aspek medial regio tarsometatarsal. Sekitar ½ sampai 2/3 ke bawah

tungkai otot ini menjadi tendinous. Tendon berjalan di depan malleolus medial

sampai pada cuneiform pertama. Otot ini berperan dalam gerakan dorsi fleksi ankle

dan kaki, serta supinasi (inversi dan adduksi) tarsal joint ketika kaki dorsi fleksi.

Dalam penelitian EMG, otot ini ditemukan aktif pada ½ orang yang berdiri bebas

dan ketika dalam posisi forward lean (Hamilton, 2012).

(41)

27

b) Extensor Digitorum Longus

Otot ini memanjang pada empat jari-jari kaki. Otot ini juga berperan pada

gerakan dorsi fleksi ankle joint dan tarsal joint serta membantu eversi dan abduksi

kaki. Otot ini berbentuk penniform, terletak di lateral dari tibialis anterior pada

bagian atas tungkai dan lateral dari extensor hallucis longus pada bagian bawahnya.

Tepat di depan ankle joint tendon ini membagi empat tendon pada masing-masing

jari-jari kaki (Hamilton, 2012).

c) Extensor Hallucis Longus

Otot ini berperan dalam gerakan ekstensi dan hiperekstensi ibu jari kaki.

Otot extensor hallucis longus juga berperan pada gerakan dorsi fleksi ankle dan

tarsal joint. Seperti otot diatas, otot ini juga berbentuk penniform. Pada bagian atas

otot ini terletak di dalam tibialis anterior dan extensor digitorum longus, tetapi

sekitar ½ bawah tungkai tendon ini menyebar diantara dua otot tersebut di atas

sehingga otot ini menjadi superfisial. Setelah mencapai ankle tendonnya ke arah

medial melewati permukaan dorsal kaki sampai pada ujung ibu jari kaki (Hamilton,

2012).

Selain otot tungkai, otot yang berperan dalam gerakan kelincahan adalah

otot gluteus maximus, gluteus medius dan minimus. Otot-otot ini berperan sebagai

pembentuk bokong (Hamilton, 2012).

a. Gluteus Maximus

Otot ini merupakan otot yang terbesar yang terdapat di sebelah luar ilium

membentuk perineum. Fungsinya, antagonis dari iliopsoas yaitu rotasi fleksi dan

(42)

28

belakang tubuh tetap tegap, atau untuk mendorong kedudukan pinggul ke posisi

yang tepat (Hamilton, 2012).

Gambar 2.7 Otot Gluteus Maximus (Watson, 2002)

b. Gluteus Medius dan Minimus

Otot ini terdapat di bagian belakang dari sendi ilium di bawah gluteus

maksimus. Fungsinya, abduksi dan endorotasi dari femur dan bagian medius

eksorotasi femur (Hamilton, 2012).

(43)

29

2.2.2 Fisiologi Otot Rangka

Karakteristik otot rangka secara fisiologis ada 4 aspek yaitu: contractility

yaitu kemampuan otot untuk mengadakan respon (memendek) bila dirangsang (otot

polos 1/6 kali; otot rangka 1/10 kali). Exstensibility (distensibility) yaitu

kemampuan otot untuk memanjang bila otot ditarik atau ada gaya yang bekerja pada

otot tersebut bila otot rangka diberi beban. Elasticity yaitu kemampuan otot untuk

kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah mengalami exstensibility atau

distensibility (memanjang) atau contractility (memendek). Exsitability electric

yaitu kemampuan untuk merespon terhadap rangsangan tertentu dengan

memproduksi sinyal-sinyal listrik disebut tindakan potensi (Tortora & Derrickson,

2009).

Otot rangka memperlihatkan kemampuan berubah yang besar dalam

memberi respon terhadap berbagai bentuk latihan (Sudarsono, 2009). Beberapa unit

organ tubuh akan mengalami perubahan akibat dilakukan pelatihan. Dengan latihan

yang teratur, akan memberikan beberapa efek positif terhadap otot, bahkan

perubahan adaptif jangka panjang dapat terjadi pada serat otot, yang

memungkinkan untuk respon lebih efisien terhadap berbagai jenis kebutuhan pada

otot (Wiarto, 2013).

2.3 Proprioceptive Exercise

2.3.1 Pengertian Proprioceptive Exercise

Proprioceptive exercise merangsang sistem saraf yang mendorong

(44)

30

umumnya didefinisikan sebagai kemampuan untuk menilai dimana masing-masing

posisi ekstremitas berada tanpa bantuan indera penglihatan. Proprioceptive diatur

oleh mekanisme saraf pusat dan saraf tepi yang datang terutama dari reseptor otot,

tendon, ligamen, persendiaan dan fascia (Lephart, et al., 2013).

Proprioceptive dapat juga diartikan sebagai keseluruhan kesadaran dari

posisi tubuh. Kesadaran posisi akan berpengaruh terhadap gerak yang akan

dilakukan, gerak yang timbul tersebut akibat impuls yang diberikan stimulus yang

diterima dari reseptor yang selanjutnya informasi tersebut akan diolah di otak yang

kemudian informasi tersebut akan diteruskan oleh reseptor kembali ke bagian tubuh

yang bersangkutan (Ismaningsih, 2015).

Proprioceptive merupakan rasa sentuhan atau tekanan pada sendi yang

disusun oleh komponen pembentuk sendi dari tulang, ligamen dan otot serta

jaringan spesifik lainnya. Proprioceptive merupakan bagian dari somatosensoris

dimana proprioceptive bekerjasama dengan persepsi dan taktil untuk memberikan

informasi tentang daerah sekitar, kondisi permukaan sehingga dapat mengirimkan

sinyal ke otak untuk mengatur perintah kepada otot dan sendi seberapa

menggunakan kekuatan dan bagaimana menyikapi lingkungan. Proprioception

memberikan gambaran sama seperti sistem kerja visual, dimana memberikan

informasi tentang daerah sekitar, namun hal yang membedakannya adalah

proprioceptive bekerja saat sebuah sendi terjadi kontak langsung dengan

permukaan sebuah benda. Pada kondisi tanpa cahaya (visual gelap) tidak dapat

memberikan banyak informasi untuk tubuh, maka proprioceptive bekerja lebih

(45)

31

permukaannya. Saat mata tertutup kaki masih bisa merasakan dimana kita berdiri

sekarang, tempat miring, berbatu kasar atau datar, dan lain-lain. Dari informasi

yang diterima oleh golgi tendon dan muscle spindle terkumpul cukup baik

selanjutnya neuron akan meneruskan untuk dikirim ke sistem saraf pusat melalui

ganglion basalis hingga sampai ke sistem saraf pusat seperti perjalanan di gambar

kemudian otak menentukan bagaimana kita menyikapi terhadap permukaan

tersebut (Kisner & Allen, 2007).

Gambar 2.9 Lintasan Proprioceptive (Riemer, 2015)

Reseptor yang diterima neuron saat menerima rangsangan sendi dikirim ke

dua tempat yaitu ke korteks cerebri atau disebut dengan proprioceptive sadar karena

dapat dikontrol penuh oleh otak baik penerimaan maupun pengembalian impuls ke

(46)

32

bekerja otomatis. Neuron yang dikirim melalui lintasan ke korteks cerebri memuat

informasi lingkungan dikirim ke otak untuk mengatur kontraksi dan sistem tubuh,

sedangkan neuron yang melalui korteks cerebri memuat informasi yang akan

diberikan ke otak kecil untuk diolah sehingga hasil yang didapat adalah menjaga

keseimbangan tubuh. Cara penyampaian reseptor proprioceptive ke cortex cerebri

menggunakan tiga neuron berbeda, neuron I sel berada di ganglion spinal akan

dikirimkan melalui proprioception dihasilkan melalui respon secara simultan,

visual, vestibular, dan sistem sensorimotor, yang masing-masing memainkan peran

penting dalam menjaga stabilitas postural. Paling diperhatikan dalam meningkatkan

proprioception adalah fungsi dari sistem sensorimotor, meliputi integrasi sensorik,

motorik, dan komponen pengolahan yang terlibat dalam mempertahankan

homeostasis bersama selama tubuh bergerak, sistem sensorimotor mencakup

informasi yang diterima melalui reseptor saraf yang terletak di ligamen, kapsul

sendi, tulang rawan dan geometri tulang yang terlibat dalam struktur setiap sendi.

Mechanoreceptor sensorik khusus bertanggung jawab secara kuantitatif terhadap

peristiwa hantaran mekanis yang terjadi dalam jaringan menjadi impuls saraf

(Riemann & Lephart, 2002).

Proprioceptive merupakan bagian dari kontrol postural manusia yaitu

fungsi yang kompleks yang mencakup komponen seperti deteksi gerakan serta

respon otot bekerja menurut kesadaran untuk membangkitkan dan mengendalikan

saat terjadinya gerakan. Reseptor proprioceptive berada di kulit, otot, sendi,

ligamen dan tendon. Mereka memberikan informasi kepada CNS berkaitan dengan

(47)

33

mechanoreceptor ini maksimal di rangsang pada sudut sendi tertentu serta

menghubungkan sensasi posisi sendi dan perubahan posisi (Ismaningsih, 2015).

Proprioceptive berkaitan dengan dimana rasa posisi mekanoreseptor

berada. Hal tersebut meliputi dua aspek yaitu posisi statis dan dinamis. Dalam hal

ini statis di definisikan yaitu memberikan orientasi sadar pada satu bagian tubuh

yang lain sedangkan arti dinamis yaitu memberikan fasilitasi pada sebuah sistem

neuromuskular berkaitan dengan tingkat dan arah gerakan kelincahan.

Proprioceptive exercise sangat dianjurkan untuk meningkatkan proprioception

untuk meningkatkan keseimbangan dan koordinasi sehingga tercapainya

kelincahan yang baik (Laskowski, et al., 1997).

Dalam hal ini peneliti memilih latihan proprioceptive exercise dengan

wobble board berupa closed kinetic chain exercise dimana bahwa latihan closed

kinetic chain exercise memberikan umpan balik proprioceptive dan kinestetik lebih

besar daripada open kinetic chain exercise. Menurut teori saat bergerak beberapa

kelompok otot yang dilintasi untuk menerima impuls, sendi akan diaktifkan selama

latihan closed kinetic chain exercise berlangsung sedangkan selama latihan open

kinetic chain exercise reseptor sensorik, otot, jaringan intra artikular dan ekstra

artikular diaktifkan dalam mengendalikan gerak (Kisner & Allen, 2007).

Aktifitas closed kinetic chain exercise dilakukan untuk menumpu berat

badan, khusus untuk menstimulasi mechanoreceptor dan sekitar sendi maka latihan

ini lebih efektif daripada open kinetic chain exercise. Dengan demikian akan

menstimulasi kontraksi otot, menambah stabilitas sendi, keseimbangan, koordinasi,

(48)

34

Dalam penelitian ini penulis menggunakan wobble board (papan keseimbangan)

(Ismaningsih, 2015).

Papan keseimbangan atau lebih dikenal di dunia fisioterapi dan olahraga

yang disebut wobble board yaitu sebuah alat yang digunakan untuk melatih

proprioceptive ekstremitas atas atau bawah (Kisner & Allen, 2007). Wobble board

dapat digunakan sebagai alat ukur keseimbangan, stabilisasi, dan koordinasi

(Mattacola & Dwyer, 2002). Pengertian yang lain tentang wobble board adalah titik

tumpu dari semua wobble board berbentuk setengah lingkaran atau semi bola, hal

ini dapat memungkinkan papan bergerak ke segala arah, maju – mundur, kiri dan

kanan berputar 360 derajat. Wobble board banyak digunakan untuk perkembangan

anak, gymnasium, latihan olah raga, mencegah terjadinya cidera pada knee dan

ankle, proses rehabilitasi setelah cidera hip, knee, dan ankle serta biasa digunakan

sebagai salah satu alat fisioterapi (Waddington, et al., 2000). Latihan dengan

menggunakan wobble board ini merupakan latihan stabilisasi dinamis pada posisi

tubuh statis yaitu kemampuan tubuh untuk menjaga stabilitas pada posisi tetap.

Prinsip latihan ini adalah meningkatkan fungsi dari pengontrol keseimbangan tubuh

yaitu sistem informasi sensoris, central processing, dan affector untuk bisa

beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Fungsi dari latihan ini meningkatkan

proprioceptive, meningkatkan stabilitas tubuh, dan mengontrol postur alligment

(Ismaningsih, 2015).

Tabel 2.1 Panduan Produk Wobble Board

Produk Pengguna Aplikasi

Wobble board klasik 16”

• Dual level 14˚, 17˚

• Masyarakat umum.

(49)

35

• Tri-level canggih 15˚, 17˚, 20˚

• Tri-level menengah 10˚, 12˚, 15˚

2.3.2 Mekanisme Fisiologis Pemberian Proprioceptive Exercise untuk

Meningkatkan Kelincahan

Pada kelincahan salah satu komponen jaringan non-kontraktil yang

diperlukan adalah ligamen, pada saat pemberian proprioceptive exercise, ligamen

akan menstimulasi aktifitas biologi dengan cairan synovial yang membawa nutrisi

pada bagian avaskuler dikartilago sendi. Hal ini akan meningkatkan tingkat

keseimbangan dan kestabilan karena berefek langsung pada sistem neuromuskular

dan muskuloskeletal (mengaktifkan kontraksi otot). Gerakan yang berulang

(50)

36

cairan yang keluar akan lebih banyak sehingga kadar air dan matriks pada jaringan

dan jaringan menjadi lebih elastic dan kekuatan ligamen dalam mengikat sendi

meningkat maka akan menimbulkan stabilitas yang lebih baik, yang selanjutnya

juga akan meningkatkan performance seseorang dalam meningkatkan kemampuan

kelincahan (Ismaningsih, 2015).

Disamping ligamen, salah satu stabilisator tubuh yang juga berperan penting

terhadap peningkatan kelincahan adalah sendi. Sendi merupakan salah satu

stabilisator pasif yang diikat oleh ligamen. Pada kemampuan kelincahan diperlukan

suatu kondisi sendi yang stabil dan tanpa ada keluhan seperti nyeri, karena jika

terdapat keluhan tersebut akan mengurangi kemampuan sendi dalam melakukan

suatu gerakan. Gerakan yang dilakukan oleh sendi diperoleh melalui proprioceptive

pada sendi tersebut maka ketika melakukan exercise, sendi lebih akan stabil karena

ditunjang juga oleh kekuatan otot (penggerak sendi) dan stabilitas dari ligamen

sehingga adanya peningkatan kelincahan (Ismaningsih, 2015).

2.3.3 Prosedur Proprioceptive Exercise

Adapun teknik proprioceptive exercise closed kinetic chain dengan

menggunakan wobble board sebagai berikut (Ismaningsih, 2015):

1. Persiapkan wobble board di tempat latihan.

2. Posisi pasien berdiri kemudian instruksikan pada semua gerakan dilakukan

dalam keadaan mata tertutup.

3. Dengan kedua kakinya berdiri dan posisi badan tegak lurus diatas wobble board

kemudian anak tersebut diberikan penjelasan untuk menggerakkan kakinya ke

(51)

37

4. Lihat tingkat stabilitas anak tersebut dalam pertahanan posisinya.

Gambar 2.10 Proprioceptive Exercise Closed Kinetic Chain Dilakukan

dengan Mata Tertutup/ Terpejam (side to side, one foot, squat) (Pelletier,

2012)

2.4 Zig-Zag Run Exercise

2.4.1 Pengertian Zig-Zag Run Exercise

Zig-zag run exercise adalah suatu macam bentuk latihan yang dilakukan

dengan gerakan berkelok-kelok melewati rambu-rambu yang telah disiapkan,

dengan tujuan untuk melatih kemampuan berubah arah dengan cepat. Tujuan

zig-zag run exercise adalah untuk menguasai keterampilan lari, menghindar dari

berbagai halangan baik orang maupun benda yang ada di sekeliling (Saputra, 2002).

Sesuai dengan tujuannya zig-zag run exercise dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Zig-zag run exercise untuk mengukur kelincahan seseorang.

(52)

38

Keuntungan dan kerugian zig-zag run exercise, yaitu (Harsono, 1988):

1. Keuntungan:

a. Kemungkinan cidera lebih kecil karena sudut ketajaman berbelok arah lebih

kecil (45 dan 90 derajat).

b. Banyak membutuhkan koordinasi gerak tubuh, sehingga mempermudah dalam

tes kelincahan.

2. Kerugian:

a. Secara psikis arah lari perlu pengingatan lebih.

b. Anak tidak terbiasa dengan ketajaman sudut lari yang besar sehingga pada saat

melakukan tes kelincahan, anak menganggap sudut lari tes kelincahan lebih

sulit. Akibatnya konsentrasi terpusat pada arah belok dan bukan pada

kecepatan larinya.

Dalam zig-zag run exercise ini melibatkan otot tungkai untuk bisa

menyelesaikan semua beban yang diberikan pada saat latihan. Gerakan yang

dilakukan dalam latihan ini berlari kedepan dan berbelak-belok dengan secepatnya

sehingga pergerakan yang dilakukan tidak semata-mata menekankan pada gerakan

tungkai. Setiap kerja yang dilakukan oleh tubuh merupakan kontraksi yang terjadi

pada otot. Dalam setiap latihan, tubuh selalu memberikan respon dan dalam jangka

waktu tertentu tubuh akan mulai beradaptasi dengan latihan yang diberikan (Lestari,

2015).

Zig-zag run exercise ini akan membuat otot mengalami kontraksi sebagai

bentuk respon terhadap beban yang diberikan. Sebagai efek dari diberikan latihan

(53)

39

diberikan berupa peningkatan kemampuan kerja otot. Dengan diberikan latihan

akan memberikan pengaruh secara fisiologis bagi otot khususnya otot tungkai dan

dengan perubahan ini akan memberikan dampak terhadap peningkatan kecepatan

dan kelincahan (Nala, 1998).

2.4.2 Mekanisme Fisiologis Pemberian Zig-zag Run Exercise untuk

Meningkatkan Kelincahan

Dengan diberikan zig-zag run exercise maka unsur kebugaran jasmani seperti

kekuatan otot tungkai, kecepatan, fleksibilitas sendi lutut dan pinggul, elastisitas

otot dan keseimbangan dinamis akan mengalami peningkatan fungsi secara

fisiologis sehingga akan berpengaruh terhadap peningkatan kelincahan kaki.

Kekuatan merupakan kemampuan neuromuscular untuk mengatasi tahanan beban

luar dan beban dalam. Akan terjadi peningkatan kemampuan dan respon fisiologis

pada pelatihan ini yaitu terjadi hypertrophy (pembesaran otot), dan adaptasi

persyarafan. Terjadinya hypertrophy disebabkan oleh bertambahnya jumlah

myofibril pada setiap serabut otot, meningkatnya kepadatan kapiler pada serabut

otot dan meningkatnya jumlah serabut otot. Terjadinya adaptasi persyarafan

ditandai dengan peningkatan teknik dan tingkat keterampilan seseorang

(Sukadiyanto, 2005).

Kecepatan sebagai hasil perpanduan dari panjang ayunan tungkai dan jumlah

langkah. Fleksibilitas merupakan kemampuan persendian untuk bergerak dalam

ruang gerak sendi secara maksimal dan elastisitas merupakan kemampuan otot

untuk berkontraksi dan berelaksasi secara maksimal. Dengan diberikan pelatihan

(54)

40

baik dan persendian akan menjadi sangat lentur sehingga menyebabkan ayunan

tungkai dalam melakukan langkah-langkah menjadi sangat lebar. Keseimbangan

dinamis juga akan terlatih karena dalam pelatihan ini harus mampu mengontrol

keadaan tubuh saat melakukan pergerakan. Otot-otot sinergis berkontraksi lebih

tepat, dan meningkatnya inhibisi otot-otot antagonis. Dengan meningkatnya

komponen-komponen tersebut maka kelincahan akan mengalami peningkatan

(Lestari, 2015).

Elastisitas otot sangat penting karena makin panjang otot tungkai dapat

terulur, makin kuat dan cepat ia dapat memendek atau berkontraksi. Dengan otot

yang elastis, tidak akan menghambat gerakan-gerakan otot tungkai sehingga

langkah kaki dapat dilakukan dengan cepat dan panjang (Hanafi, 2010). Kecepatan

reaksi secara fisiologis ditentukan oleh tingkat kemampuan penerima rangsang

penghantaran stimulus ke sistem syaraf pusat, penyampaian stimulus melalui syaraf

sampai terjadinya sinyal, penghantaran sinyal dari sistem syaraf pusat ke otot, dan

kepekaan otot menerima rangsang untuk menjawab dalam bentuk gerak

(Sukadiyanto, 2005).

Semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk mereaksi stimulus maka

semakin baik kecepatan reaksinya. Waktu yang diperlukan untuk mereaksi stimulus

akan menjadi semakin singkat karena terlatihnya kepekaan saraf sensorik dalam

menghantarkan stimulus ke otak dan terlatihnya saraf motorik dalam

menghantarkan perintah/sinyal dari otak ke otot. Dengan meningkatnya komponen

kemampuan fisiologis tersebut maka akan menyebabkan peningkatan pada

Gambar

Gambar 2.1 Proses Fisiologi Terjadinya Keseimbangan
Gambar 2.2 Shuttle Run Test (Gilang, 2007)
Gambar 2.3 Grup Otot Quadriceps Femoris (Watson, 2002)
Gambar 2.4 Grup Otot Hamstring (Watson, 2002)
+7

Referensi

Dokumen terkait

meningkatkan kecepatan lari pemain futsal, maka peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Pelatihan Zig-zag Run Terhadap Kecepatan Lari Pemain

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada kelompok zig-zag run selama 18 kali pertemuan (3 kali pertemuan dalam seminggu) di sekolah sepakbola PERSADA Gresik

Sehingga hipotesis III yang menyatakan tidak ada perbedaan pengaruh zig zag run dengan side jump sprint terhadap peningkatan kecepatan tendangan pada pemain

Dengan hasil p=0,014 yang berarti Ha di terima dan Ho di tolak, Sehingga hipotesis III yang menyatakan ada perbedaan pengaruh zig zag run dengan lateral run terhadap

rancangan penelitian ini bersifat pre dan post test two group design yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan core stability pada latihan zig-zag run

rancangan penelitian ini bersifat pre dan post test two group design yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan core stability pada latihan zig-zag run

Berdasarkan data hasil uji independent sample t test di atas, terlihat bahwa hasil pengujian antara data peningkatan yang dialami kelompok pretest zig-zag run dengan data peningkatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan zig-zag run dan wind sprint terhadap peningkatan kelincahan pemain sepakbola Opek Junior kampung Pisang kabupaten Pasaman