(Tectona grandis L.f.)
Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur
ILYASA YANU NOVENDRA E14104017
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
KARAKTERISTIK BIOMETRIK POHON JATI (Tectona grandis L.f.)
Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo, Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur
ILYASA YANU NOVENDRA E14104017
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Jati (Tectona grandis L.f.) Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.
Dibimbing oleh ENDANG SUHENDANG
Salah satu jenis kayu yang telah memasyarakat dan dijadikan tanaman utama dalam pengelolaan hutan dalam wilayah kerja Perum Perhutani, khususnya Unit I Jawa Tengah dan Unit II Jawa Timur adalah kayu jati (Tectona grandis L.f.). Kayu jati termasuk ke dalam kayu yang memiliki kelas keawetan II dan kelas kekuatan II sehingga sangat cocok untuk segala jenis konstruksi bangunan. Dalam bidang ilmu perencanaan hutan, salah satu permasalahan penelitian yang berkembang saat ini adalah mengenai karakteristik biometrik suatu jenis pohon. Teknik biometrik adalah suatu cara untuk mengidentifikasi suatu individu berdasarkan karakteristik fisik ataupun tingkah lakunya. Untuk mengetahui karakteristik biometrik suatu jenis pohon diperlukan adanya data fisik pohon yang dapat diperoleh melalui pengukuran dimensi-dimensi pohon.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai berbagai macam karakteristik biometrik pohon Jati (Tectona grandis L.f.) pada berbagai tingkat umur dan hubungan antar karakteristik yang bersifat konsisten dan unik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan keilmuan dengan bertambahnya informasi baru tentang karakteristik biometrik pohon Jati. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan pula dapat bermanfaat dalam menguji keshahihan model penduga volume pohon jati yang telah ada sebelumnya.
Penelitian ini dilakukan di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur pada bulan Maret sampai dengan April 2008. Obyek penelitian adalah 40 pohon contoh jati berbagai kelas umur dan bonita dengan syarat pohon tersebut mempunyai diameter setinggi dada sebesar 20 cm dan dipilih dengan cara purposive sampling. Alat yang digunakan adalah phiband, haga hypsometer, SRB tipe wide scale, tali tambang, kamera, tally sheet, dan alat tulis. Dimensi pohon yang diambil meliputi : diameter pangkal, diameter setinggi dada, diameter bebas cabang, diameter tiap seksi, diameter tajuk, panjang seksi batang masing-masing 2 m, tinggi total, tinggi tajuk serta tinggi bebas cabang dari setiap pohon contoh. Volume pohon contoh dihitung dengan menggunakan rumus Smalian. Angka bentuk yang dicari yaitu angka bentuk absolut dan setinggi dada. Analisis data yang dilakukan yaitu mendeskripsikan secara statistik dimensi pohon, mencari rasio antar dimensi pohon, menganalisis korelasi antar dimensi pohon, mencari korelasi antara dimensi pohon dengan volume aktual, menganalisis angka bentuk batang, dan menganalisis korelasi antara angka bentuk batang dan volume pohon dengan rasio diameter.
Setelah diketahui korelasinya, maka dibuat model persamaan regresinya dengan menggunakan software Microsoft Excel dan Minitab versi 14.
Dari hasil analisis data diperoleh kisaran diameter setinggi dada : 21,02 - 84,08 cm, diameter pangkal : 24,84 - 102,87 cm, diameter bebas cabang : 10,00 - 60,00 cm, diameter tajuk : 7,75 - 21,50 cm. tinggi total : 12,50 - 31,50 cm, tinggi bebas cabang : 7,50 - 20,50 cm, dan tinggi tajuk : 4,50 - 21,00 cm. Rata-rata rasio antar dimensi pohon sebagai berikut : Dp/Dbh = 1,242 ; Dp/Dtk = 0,043 ; Dbc/Dtk = 0,019 ; Dbc/Dp = 0,461 ; Dbc/Dbh = 0,571 ; Dbh/Dtk = 0,034 ; Tbc/Tt = 0,553 ; Ttk/Tt = 0,447 ; Tbc/Ttk = 1,352. Koefisien bentuk batang pohon jati adalah 1,147. Dimensi diameter setinggi dada, diameter pangkal, diameter tajuk dan tinggi total merupakan ciri pohon yang berkorelasi tinggi dengan dimensi lainnya. Korelasi tertinggi antar dimensi pohon adalah antara diameter pangkal dengan diameter setinggi dada sebesar 0,994. Persamaan matematis untuk pohon jati adalah d/D = 1.02 - 0.192 h/H - 2.22 (h/H)2 + 1.99 (h/H)3. Angka bentuk absolut = 0,467 dan Angka bentuk setinggi dada = 0,759. Hubungan keeratan antara volume aktual dengan dimensi lainnya secara berurutan adalah diameter setinggi dada, diameter pangkal, diameter tajuk, diameter bebas cabang, tinggi total, tinggi tajuk, dan tinggi bebas cabang. Persamaan untuk pembuatan tabel volume lokal adalah log Vakt = - 3.56 + 2.25 log Dbh.
Kata kunci : Jati, Biometrik
SUMMARY
ILYASA YANU NOVENDRA. E14104017. Biometric Characteristic of Teak Tree (Tectona grandis L.f.) Study Case at Forest Division Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II East Java.
Under supervision of ENDANG SUHENDANG
One of each wood species what have most popular and to increase staple plant in forest management at work district Perum Perhutani, especially Unit I Cntral Java and Unit II East Java is teak wood (Tectona grandis L.f.). Teak wood inclusive of wood which have preserved class II and strength class II, so that’s fitting for any kind build construction. In the division from planning of forestry knowledge, one of problem research what have been develop is about biometric characteris tic from some trees. Biometric technic is some method to identification some of individual based on phisically character or from behaviour. Physical data achieved trough tree dimension measurements is needed in the process.
The objective of this research is to describe teak tree (Tectona grandis L.f.) biometric characteristics in various age level and relationship from this character what have consistently property and unique. Hopefull, this research will enrich science trough information on teak tree biometric characteristics. Beside that, result of this research hopefully can useful include to tarif or tabel local volume from teak trees after which advance, can useful in planning forestry knowledge and to increase a dendology knowledge.
The research was conducted at forest division Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II East Java in March until April 2008. The research object were 40 teak trees samples at various age level and bonita which the trees has diameter breast height minimum 20 cn and chosen by purposive sampling. Tools used were phiband, haga Hypsometer, Spiegel Relascop Bieterlich type wide scale, rope, tally sheet, camera, and write tools. Dimension measured were foot diameter (Dp), diameter breast high (Dbh), clear length bole diameter (Dbc), diameter each section, crown diameter (Dtk), tall stem which 2 meters for each section, total height (Tt), crown height (Ttk) and clear length bole height (Tbc) of each tree samples. Tree volume was measured using by Smalian formula. Form factor measured were breast high form factor and absolute form factor. Form quotients measured were normal form quotients and absolute form quotients. Data analysis was done by statistically describe tree dimension, measured the ratio between each dimension, analyzed the correlation between each tree dimension, between tree dimension and actual volume, stem form factors value and form quotients value, and analyzed the correlation between form factor and actual volume with diameter ratio. Regression equation model was made using all the related correlations. The data were analyzed using sotware Microsoft Excel and Minitab version 14.
The result were as follows range of diameter breast height : 21,02 - 84,08 cm; foot diameter : 24,84 - 102,87 cm; clear length bole diameter : 10,00 - 60,00 cm; crown diameter : 7,75 - 21,50 cm; total height : 12,50 - 31,50 cm; clear length bole height : 7,50 - 20,50 cm; and crown height : 4,50 - 21,00 cm. Mean ratio between dimension : Dp/Dbh = 1,242 ; Dp/Dtk = 0,043 ; Dbc/Dtk
= 0,019 ; Dbc/Dp = 0,461 ; Dbc/Dbh = 0,571 ; Dbh/Dtk = 0,034 ; Tbc/Tt = 0,553 ; Ttk/Tt = 0,447 ; Tbc/Ttk = 1,352. Teak stem coeficient is 1,147. Teak tree dimension with most correlation with other teak tree dimension were diameter breast high, foot diameter, crown diameter, and total height. The highest correlation achieved from foot diameter and diameter breast high with value is 0,994. The formula for teak is d/D = 1.02 - 0.192 h/H - 2.22 (h/H)2 + 1.99 (h/H)3. Absolute form factor of teak tree was o,497 and breast hig h form is 0,759. Normal form quotients of teak tree was 0,625 and absolute quotients is 0,728. Correlation between actual volume with their dimension were follows : diameter breast high, foot diameter, crown diameter, clear length bole diameter, total height, crown height, and clear length bole height. Local volume functions using logarithmic transformation is log Vakt = - 3.56 + 2.25 log Dbh.
Key word : Teak, Biometric
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Karakteristik Biome trik Pohon Jati (Tectona grandis L.f.) Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur adalah benar- benar karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya tulis ilmiah pada perguruan tinggi dan lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal dari karya yang diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka pada bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juli 2008
Ilyasa Yanu Novendra NRP. E14104017
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Karakteristik Biometrik Pohon Jati (Tectona grandis L.f.) Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo, Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur
Nama : Ilyasa Yanu Novendra
NRP : E14104017
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Endang Suhendang, MS NIP. 130933588
Mengetahui,
Dekan Fakultas Kehutanan IPB
Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr NIP. 131578788
Tanggal Lulus :
SKRIPSI
KARAKTERISTIK BIOMETRIK POHON JATI (Tectona grandis L.f.)
Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur
ILYASA YANU NOVENDRA E14104017
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
i
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Rabb Semesta Alam karena telah melimpahkan nikmat berupa iman dan islam dalam kehidupan ini serta memberikan kemudahan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada pemimpin umat ini Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta pengikutnya sampai akhir jaman kelak. Amin.
Skripsi ini disusun untuk mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Dalam skripsi yang telah terselesaikan ini, penulis menganalisis hubungan antar dimensi pohon jati dengan mengambil contoh di KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.
Dengan terselesaikannya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Papa Yayan dan Mama Nurul serta kedua adikku (Yanuario Syahputra dan Triyoga Yusuf Novendra) atas cinta, kasih saya ng, canda dan tawa serta dukungan do’a maup un sumbangan yang tidak dapat dituliskan.
2. Prof. Dr. Ir. Endang Suhendang, MS selaku dosen pembimbing atas arahan, masukan, bimbingan dan semangat yang diberikan kepada penulis.
3. Dr. Lina Karlinasari, S.Hut, M.Sc.F selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan dan Ir. Rachmad Hermawan, M.Sc.F selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, atas masukan dan saran yang membangun demi penyempurnaan karya tulis ini.
4. Keluarga Besar Fahutan IPB khususnya angkatan 41 atas semangat persatuan dan kekompakannya.
5. Teman-teman terbaik selama penulis duduk di bangku perkuliahan, Topan, Nyoti, Watimut, Fitri, Nayu, Edo, Pujik, Vie, Yuli, Ustad Khalifah, Tina, Beh, Clanonk, Oma Fatah+ Iiz, Joz, Yumte dan semua teman di MNH 41 atas persahabatan yang tidak pernah hilang selama hidup.
6. Teman-teman seperjuangan di Laboratorium Biometrika Hutan, Priyo, Amri, Eko, Pamz, Pipit, Catur atas kerjasama dan semangat yang telah diberikan.
7. Teman-teman di DKM Ibaadurrahman, MR penulis, Mas Rendra, Papi Okta, Mbak Tuti. Teman seperjuangan DPM Fahutan dan Himpunan Mahasiswa Dept.MNH FMSC IPB periode 2006-2007 serta teman-teman pengurus KOPMA periode 2005-2008, Endah, Warid, Nita, Ganang, Andre. Terima kasih atas bantuan dan didikannya selama penulis aktif berorganisasi.
8. Teman-teman seperjuangan di Wisma Grozny, Galih, Aditya, Kiky, K’Fer serta keluarga di Wisma ini yang selalu memberikan semangat dan canda tawa selama penulis kuliah.
9. Semua pihak yang telah membantu penulis selama menyelesaikan studi di IPB.
Penulis sadar bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, diharapkan adanya masukan dan saran guna perbaikan skripsi ini. Harapan terbesar penulis adalah saat karya terkecil kita dapat memberikan manfaat yang besar bagi siapapun yang membutuhkannya.
Bogor, Juli 2008
Penulis
iii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kendal, Jawa Tengah pada tanggal 2 Novenber 1986, dari pasangan Bapak Hari Irianto dan Ibu Nurul Rahayuningsih Fatmawati, S.Pd., sebagai anak sulung dari tiga bersaudara.
Riwayat pendidikan penulis adalah sebagai berikut : lulus dari SDN Sidomulyo III Tuban tahun 1998, lulus dari SLTP Negeri 1 Tuban pada tahun 2001, dan lulus SMU Negeri 1 Tuban pada tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis juga diterima di IPB melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan.
Selama duduk di bangku kuliah, penulis aktif mengikuti beberapa organisasi baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus. Adapun beberapa keorganisasian tersebut antara lain : Agria Swara, Gema Almamater sebagai tim jurnalistik, International Forestry Student Association (IFSA) sebagai staf Kesekretariatan dan Agri FM sebagai penyiar radio kampus. Selain itu penulis juga dipercaya untuk menj adi staf Departemen Media Komunikasi Hub ungan Luar tahun 2005-2006 dan Badan Pengawas Himpro Forest Management Student Club (FMSC) tahun 2006-2007, menjadi staf di Departemen Budaya, Olahraga dan Seni (BOS) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) tahun 2005-2006, menjadi staf Komisi Eksternal Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Kehutanan (DPM-E) IPB tahun 2006-2007, menjadi staf dalam Departemen Pers dan Media DKM Ibaadurrahman tahun 2006-2007 serta menjadi Kepala Departemen Administrasi pada tahun 2006-2007 dan Badan Pengawas periode tahun 2007-2008 Koperasi Mahasiswa (KOPMA) IPB. Selain aktif dalam keorganisasian, penulis juga aktif dalam kepanitiaan seperti menjadi Ketua Pelaksana acara Pendidikan Dasar (Diksar) KOPMA IPB tahun 2005-2006 dan menjadi Wakil Ketua dalam Acara Campus Fair tahun 2007, dan sebagainya.
Semasa perkuliahan, penulis juga dipercaya untuk menjadi asisten mata kuliah Ilmu Ukur Tanah dan Pemetaan Wilayah (IUTPW) dan Teknik Inventarisasi Sumber Daya Hutan (TISDH). Penulis juga telah menyelesaikan
kegiatan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) yang bertempat di KPH Banyumas Barat, KPH Banyumas Timur dan KPH Ngawi selama dua bulan.
Selain itu, telah melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) bertempat di KPH Jatirogo, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.
Untuk menyelesaikan studi pada program pendidikan Sarjana Kehutanan di Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB, penulis melakukan penelitian tentang Karakteristik Biometrik Pohon Jati (Tectona grandis L.f.) Studi Kasus di Bagian Hutan Bancar KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Endang Suhendang, MS.
v
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
RIWAYAT HIDUP ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Manfaat ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 3
2.1 Jati (Tectona grandis L.f.) ... 3
2.2 Parameter Individu Pohon ... 6
2.3 Korelasi Linier Antar Peubah ... 11
2.4 Bonita Lahan... 11
2.5 Perkembangan Penelitian Karakteristik Biometrik Pohon .. 12
BAB III. METODOLOGI ... 14
3.1 Lokasi dan Waktu Pengambilan Data... 14
3.2 Alat dan Obyek Penelitian ... 14
3.3 Metode Penelitian ... 15
3.4 Analisis Data... 17
BAB IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 25
4.1 Letak dan Luas KPH Jatirogo ... 25
4.2 Bagian Hutan di KPH Jatirogo……….……... .... 25
4.3 Keadaan Lapangan... 26
4.4 Pembagian Wilayah Kerja ... 27
4.5 Gangguan Keamanan Hutan ... 27
4.6 Penggunaan Lahan di Sekitar Hutan... 29
4.7 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat... 29
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31
5.1 Sebaran Pohon Contoh Menurut KU, Bonita dan Selang Diameter ... 31
5.2 Rasio Antar Dimensi Pohon ... 32
5.3 Korelasi Antar Dimensi Pohon ... 34
5.4 Persamaan Regresi Antar Beberapa Dimensi Pohon ... 37
5.5 Penyusunan Persamaan Taper ... 45
5.6 Korelasi Antara Dimensi Pohon Denga n Volume Aktual ... 47
5.7 Persamaan Regresi Antara Dimensi Pohon Dengan Volume Aktual ... 47
5.8 Angka Bentuk Batang Rata-Rata ... 49
5.9 Kusen Bentuk Batang ... 50
5.10 Korelasi Linier Antara Volume Dengan Angka Bentuk ... 50
5.11 Penyusunan Persamaan Regresi Rasio Diameter ... 51
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 53
6.1 Kesimpulan ... 53
6.2 Saran ... 54
DAFTAR PUSTAKA ... 55
LAMPIRAN ... 58
vii
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman 1. Persamaan umum batang pohon yang mendekati benda putar ... 7 2. Bentuk batang pohon yang mendekati benda putar ... 8 3. Peta wilayah kerja KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jatim ... 25
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Mata pencaharian masyarakat sekitar wilayah hutan KPH Jatirogo ... 29
2. Luas dan jenis penggunaan lahan masyarakat sekitar wilayah hutan KPH Jatirogo ... 30
3. Kelas umur dan selang diameter setinggi dada pohon contoh jati ... 31
4. Deskripsi statistik pohon contoh ... 32
5. Deskripsi statisitik rasio antar dimensi pohon jati ... 33
6. Deskripsi statistik rasio diameter pohon jati setiap ketinggian dua meter ... 33
7. Koefisien korelasi dengan nilai-p antar dimensi pohon jati ... 34
8. Persamaan regresi untuk hubungan antara diameter pangkal dengan dimensi pohon jati lainnya ... 37
9. Persamaan regresi untuk hubungan antara diameter setinggi dada dengan dimensi pohon jati lainnya... 39
10. Persamaan regresi untuk hubungan antara diameter bebas cabang dengan dimensi pohon jati lainnya... 40
11. Persamaan regresi untuk hubungan antara diameter tajuk dengan dimensi pohon jati lainnya ... 41
12. Persamaan regresi untuk hubungan antara tinggi total dengan dimensi pohon jati lainnya ... 42
13. Persamaan regresi untuk hubungan antara tinggi bebas cabang dengan dimensi pohon jati lainnya ... 43
14. Persamaan regresi untuk hubungan antara tinggi tajuk dengan dimensi pohon jati lainnya ... 44
15. Persamaan Taper ... 45
16. Persamaan regresi antara dimensi pohon dengan volume aktual ... 48
17. Deskripsi statistik angka bentuk pohon jati... 49
18. Deskripsi statistik kusen bentuk batang pohon jati ... 50 19. Persamaan regresi angka bentuk dan volume pohon dengan
ix
rasio diameter ... 51
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman 1. Rekapitulasi data pengukuran dimensi pohon contoh... 59 2. Grafik Normal Probability Plot ... 65 3. Persamaan regresi antar dimensi pohon ... 68 4. Korelasi antara diameter relatif dengan tinggi relatif dan
penyusunan persamaan taper... 81 5. Korelasi antar dimensi pohon contoh dengan volume aktual
dan penyusunan persamaan regresi ... 84 6. Penyusunan persamaan regresi angka bentuk dan volume pohon
dengan rasio diameter... 89
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Salah satu tujuan utama pengelolaan hutan adalah untuk memproduksi kayu secara lestari. Bagian terpenting dari pohon yang dapat dimanfaatkan kayunya adalah bagian batangnya yaitu batang pohon. Pemanfaatan batang pohon untuk berbagai keperluan sangat bervariasi dari daerah ke daerah maupun dari waktu ke waktu.
Salah satu jenis kayu yang telah memasyarakat dan dijadikan tanaman utama dalam pengelolaan hutan dalam wilayah kerja Perum Perhutani, khususnya Unit I Jawa Tengah dan Unit II Jawa Timur adalah kayu jati (Tectona grandis L.f.). Kayu jati termasuk ke dalam kayu yang memiliki kelas keawetan II dan kelas kekuatan II sehingga sangat cocok untuk segala jenis konstruksi bangunan. Oleh karena itu, kayu jati merupakan jenis kayu yang paling disukai dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan (Ditjen Kehutanan, 1976).
Dalam bidang ilmu perencanaan hutan, salah satu permasalahan penelitian yang berkembang saat ini adalah mengenai karakteristik biometrik suatu jenis pohon. Teknik biometrik adalah suatu cara untuk mengidentifikasi suatu individu berdasarkan karakteristik fisik ataupun tingkah lakunya (Anonim, 2004). Untuk mengetahui karakteristik biometrik suatu jenis pohon, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu data fisiologi pohon yang memiliki pola pertumbuhan yang unik, pola ini mempunyai kekonsistenan dan kestabilan yang tinggi. Informasi karakteristik setiap dimensi pohon pada berbagai tingkat umur mempunyai peranan penting untuk menggambarkan suatu jenis pohon. Karakteristik utama yang stabil dari suatu jenis pohon terletak pada bagian batang pohon tersebut. Penentuan bentuk batang pohon sangatlah penting, mengingat batang pokok pohon tidak hanya terdiri dari satu bentuk benda putar saja. Oleh karena itu, untuk dapat menggambarkan variasi bentuk batang pohon jati adalah dengan menggunakan pendekatan model
2
taper. Fungsi taper ini disusun dalam bentuk hubungan antara diameter batang relatif (d/D) dan tinggi batang relatif (h/H), dimana parameter D (diameter setinggi dada) dan H (tinggi pohon) dipengaruhi oleh tingkat umur, kesuburan tanah atau bonita dan kerapatan tegakan. Fungsi taper yang disusun oleh satu atau lebih pohon contoh pada suatu kelompok tegakan akan mampu menggambarkan pola bentuk batang lainnya di dalam kelompok tersebut.
Beberapa permasalahan yang berkenaan dengan karakteristik biometrik pohon jati seperti telah diuraikan di muka merupakan permasalahan penelitian yang diteliti pada penelitian ini.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai berbagai macam karakteristik biometrik pohon jati (T. grandis L.f.) dan hubungan antar karakteristik yang bersifat konsisten dan unik serta mengetahui hal-hal yang mempengaruhi ukuran dimensi dari karakteristik tersebut.
1.3. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan keilmuan dengan bertambahnya informasi baru tentang karakteristik biometrik pohon jati. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan pula dapat menjadi masukan atau referensi dalam pembuatan model penduga volume pohon jati yang telah ada sebelumnya untuk kepentingan praktek perencanaan hutan dan memperkaya khazanah ilmu dendrologi.
2.1. Jati (Tectona grandis L.f.) 2.1.1 Tata nama
Jati dengan nama ilmiah T. grandis L.f. termasuk ke dalam famili Verbenaceae. Jati dikenal pula dengan nama daerah sebagai berikut: deleg, dodokan, jate, jatos, kiati dan kulidawa. Di berbagai negara, jati lebih dikenal dengan nama gianti (Venezuela), teak (USA, Jerman), kyun (Birma), sagwan (India), mai sak (Thailand), teek (Perancis) dan teca (Brazil) (Martawijaya et al., 1981).
2.1.2 Habitus
Tinggi pohon jati dapat mencapai antara 25 sampai dengan 30 meter, namun apabila ditanam pada daerah yang subur dan mempunyai keadaaan lingkungan yang cocok, tingginya mampu mencapai 50 meter dengan diameter lebih kurang 150 cm. Batang jati pada umumnya berbentuk bulat dan lurus, batang yang besar berakar dengan warna kulit agak kelabu muda dan agak tipis beralur memanjang agak ke dalam (Ditjen kehutanan, 1976).
2.1.3 Penyebaran dan Habitat
Penyebaran pohon jati di Indonesia terdapat di beberapa daerah yakni pulau Jawa, pulau Muna, Maluku (Wetar) dan Nusa Tenggara sedangkan di luar Indonesia terdapat di India, Thailand dan Vietnam. Pertumbuhan pohon jati sangat baik pada tanah sarang yang mengandung kapur. Pohon jati tumbuh pada daerah dengan musim kering nyata. Umumnya pohon jati mempunyai pola pertumbuhan yang mengelompok. Pada daerah dengan tipe curah hujan C-F Schmidt and Ferguson dengan curah hujan rata-rata 1200 sampai dengan 2000 mm per tahun dan umumnya tumbuh pada dataran rendah yakni pada ketinggian 0 – 700 mdpl (Martawijaya et al., 1981).
Menurut Lemmens dan Soerienegara (2002), jati tumbuh paling baik dan mencapai dimensi-dimensi terbesar dalam suatu iklim tropika lembab,
4
tetapi pohon ini memerlukan satu musim kemarau yang jelas. Hutan jati umumnya terletak pada daerah berbukit-bukit atau bergelombang, tetapi juga dikenal pada dataran rata aluvial. Tanah yang paling cocok adalah tanah aluvial-koluvial subur berdrainase baik dan dalam, serta tanah tersebut mempunyai pH sekitar 6,5 – 8,0 dan kandungan Ca dan P yang relatif tinggi.
2.1.4 Sifat-sifat Umum Kayu Jati (T. grandis L.f.)
Jati merupakan kayu bobot-sedang yang agak lunak dan mempunyai suatu penampilan yang sangat khas. Kayu teras sering berwarna kekuningan kusam jika baru dipotong, tetapi berubah menjadi cokelat keemasan atau kadang cokelat keabuan tua setelah terkena udara. Sedangkan kayu gubalnya berwarna putih kekuningan atau cokelat kekuningan pucat. Jika diraba kayu terasa berminyak dan mempunyai bau seperti bahan penyamak yang mudah hilang. Lingkaran tumbuh nampak jelas, baik pada bidang transversal maupun radial serta seringkali menimbulkan gambar atau corak yang indah (Lemmens dan Soerienegara, 2002).
Pori-pori kayu jati sebagian besar atau hampir seluruhnya soliter dalam susunan tata lingkar. Kayu jati mempunyai berat jenis sebesar 0,67 kg/m3 termasuk ke dalam kelas kuat II dan kelas awet II. Kayu jati mudah dikerjakan, baik dengan mesin ataupun dengan alat tangan (Martawijaya et al., 1981).
2.1.5 Sistem Silvikultur
Menurut Martawijaya, permudaan alami hutan jati mudah terjadi dan dapat membentuk tegakan murni setelah mengalami kebakaran. Selain daripada itu mudah pula tumbuh tunas tunggak, tetapi permudaan semacam ini jarang dilakukan karena akan menghasilkan kayu yang berkualitas rendah.
Oleh karena itu, untuk jati pada umumnya berlaku sistem tebang habis dengan permudaan buatan.
Permudaan buatan dilakukan secara langsung dengan biji yang ditanam pada permulaan musim hujan dengan jarak tanam 3 m x 1 m sampai 3 m x 3 m tergantung pada kesuburan atau bonita tanah. Pohon jati berbunga
pada bulan Oktober – Juni dan buahnya masak pada bulan Juli – Desember.
Biji jati mempunyai daya kecambah yang rendah yaitu 35 – 58% namun terkadang jarang melebihi 50%.
Hama pohon jati yang banyak ditemukan antara lain adalah bubuk jati (Xyleborus destruens Bldf.) yang menyerang batang hingga berlubang, ulat daun jati (Hiblaea puera Cr.) yang memakan daun hingga gundul, rayap (Neotermes tectonae Damm.) dan oleng-oleng (Duomitus ceramicus Wlk.) yang menyerang batang melalui akar. Pencegahan hama dapat dilakukan dengan tindakan silvikultur seperti penjarangan dan pembersihan tumbuhan bawah yang menjadi sarang hama. Sedangkan penyakit yang lazim terdapat pada jati antara lain disebabkan oleh bakteri (Pseudomonas solanacearum smith), jamur upas (Corticium salmonicolor Berk and Br.) dan benalu (Loranthus spp.). Pemberantasan penyakit dapat dilakukan dengan jalan segera menebang dan membakar pohon yang terserang (Martawijaya et al., 1981).
2.1.6 Kegunaan Kayu Jati
Kayu jati merupakan jenis kayu yang paling banyak dipakai untuk berbagai keperluan terutama di Pulau Jawa karena sifat-sifatnya yang baik.
Kayu jati praktis sangat cocok untuk segala jenis konstruksi seperti untuk pembuatan tiang, balok dan gelagar pada bangunan rumah, jembatan, mebel dan sebagainya.
Meskipun kayu jati mempunyai kegunaan yang luas, tetapi karena sifatnya yang agak rapuh sehingga kurang baik untuk digunakan sebagai bahan yang memerlukan kelenturan yang tinggi seperti alat olah raga, tangkai perkakas dan lain-lain. Kayu jati merupakan kayu yang paling baik untuk pembuatan kapal dan biasa dipakai untuk papan kapal, terutama untuk kapal yang berlayar di daerah tropis serta mempunyai daya tahan terhadap berbagai bahan kimia (Martawijaya et al., 1981).
6
2.2. Pengertian Beberapa Macam Dimensi Pohon 2.2.1 Umur
Menurut Belyea (1950), umur adalah jarak waktu antar tahun tanam hingga kini dan yang akan datang. Umur pohon ini dapat diperoleh dari register tahun tanam, jumlah lingkar tahun, dan jumlah lingkar cabang. Untuk mengetahui jumlah lingkar tahun pada pohon berdiri dapat menggunakan alat ukur berupa bor riap.
2.2.2 Diameter Pohon
Diameter merupakan salah satu parameter pohon yang mempunyai arti penting dalam pengumpulan data tentang potensi hutan untuk tujuan pengelolaan. Di Negara-negara yang menggunakan sistem metrik, dalam mengukur diameter, yang lazim dipilih adalah diameter setinggi dada atau pada ketinggian 1,30 meter dari atas permukaan tanah. Untuk pohon-pohon yang mempunyai banir lebih dari 1,30 meter dari atas permukaan tanah, pengukuran diameter dilakukan pada 20 cm di atas banir (Belyea, 1950).
2.2.3 Tinggi Pohon
Setelah parameter berupa diameter pohon, tinggi pohon merupakan parameter lain yang mempunyai arti penting dalam penaksiran potensi hasil hutan. Dalam kegiatan inventarisasi hutan, terdapat tiga macam tinggi pohon, yaitu :
1. Tinggi total (Tt), yaitu tinggi dari pangkal pohon dari permukaan tanah sampai dengan puncak pohon.
2. Tinggi bebas cabang (Tbc) atau permulaan tajuk, yaitu tinggi pohon dari pangkal batang dari permukaan tanah sampai dengan cabang pertama yang membentuk tajuk.
3. Tinggi batang komersial (Tbk), yaitu tinggi batang yang pada saat itu masih laku untuk dijual dalam suatu perdagangan. (Anonim dalam Baroroh 2006).
2.2.4 Bentuk Batang
Menurut Husch (1963), ditinjau dari keadaan fisik atau bentuknya, ada dua macam tipe bentuk batang pohon, yaitu :
1. Excurrent yaitu bentuk batang pohon yang teratur dan lurus memanjang dari pangkal sampai ujung. Biasanya terdapat pada jenis koniferus (daun jarum) termasuk di dalamnya Pinus dan Agathis.
2. Deliquescent yaitu bentuk batang pohon yang tidak teratur, yang besar pada bagian pangkalnya dan pada ketinggian tertentu bercabang membentuk tajuk. Biasa terdapat pada jenis-jenis daun lebar, misalnya Jati, Mahoni, Sonokeling dan sebagainya.
Pada umumnya batang pohon mempunyai bentuk-bentuk yang mendekati benda putar (frustum) sebagai hasil grafik pada sumbu x dengan persamaan umum y2 = kxr, dimana y = jari-jari, x = tinggi, k = konstanta yang menunjukkan dimensi pangkal dan r = nilai dari eksponensial yang menunjukkan bentuk benda. Benda putar bergantung dari besarnya nilai r, dimana untuk nilai r = 0 adalah bentuk silinder, r = 1 adalah untuk bentuk paraboloid, r = 2 adalah bentuk kerucut dan r = 3 adalah untuk bentuk neloid (Husch et al, 2003).
Gambar 1. Persamaan umum batang pohon yang mendekati benda putar
8
Gambar 2 : Bentuk-bentuk batang pohon yang mendekati benda putar.
2.2.5 Volume Batang
Volume adalah suatu besaran tiga dimensi dari suatu benda yang dinyatakan dalam satuan kubik yang didapat dari hasil perkalian satuan dasar panjang dengan luas penampang (Husch et al, 2003). Penentuan volume suatu benda dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu sebagai berikut :
1. Cara analitik yaitu cara penentuan volume benda dengan menggunakan rumus volume standar
2. Cara langsung yaitu cara penentuan volume yang dilakukan tanpa mengukur dimensinya. Alat yang digunakan adalah Xylometer, dimana menggunakan prinsip kerja dalil Archimedes yakni volume suatu benda sama dengan volume cairan yang dipindahkan.
3. Cara grafik yaitu cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume berbagai bentuk benda putar tanpa memandang ciri-ciri permukaannya.
Volume pohon dapat dihitung dengan cara menjumlahkan volume tiap- tiap seksi yang ada pada pohon tersebut (Spurr,1952). Menurut Husch (1963), volume yang diperoleh dari penjumlahan volume seksi pohon dapat digunakan
sebagai dasar penyusunan model penduga volume pohon berdiri atau sebagai pembanding keakuratan model pendugaan volume pohon yang dibentuk.
2.2.6 Angka Bentuk
Angka bentuk atau faktor bentuk (form factor) merupakan suatu nilai atau angka hasil perbandingan antara volume pohon dengan volume silinder yang besarnya kurang dari satu. Angka bentuk pohon dapat didefinisikan sebagai berikut :
• Merupakan konstanta untuk mengkoreksi volume silinder guna mendapatkan volume sebenarnya pohon pada dimensi tinggi dan diameter setinggi dada yang sama.
• Merupakan suatu angka pecahan kurang dari 1 yang didapatkan dari hasil pembagian antar volume sebenarnya pohon oleh volume silinder yang memiliki dimensi diameter setinggi dada dan tinggi yang sama.
Macam-macam angka bentuk pohon menurut dimensi pohon yang digunakan untuk perhitungan yaitu : angka bentuk pohon absolut, setinggi dada dan normal (Husch, 1963).
2.2.7 Kusen Bentuk
Pada umumnya setiap batang pohon tidak berbentuk silindris sehingga ada faktor keruncingan. Untuk mengetahui besarnya keruncingan tersebut, perlu ada perbandingan antara diameter atas dan diameter bawah. Nilai dari perbandingan ini yang disebut dengan kusen bentuk.
Macam kusen bentuk ada dua yaitu kusen bentuk normal dan kusen bentuk absolut. Kusen bentuk normal merupakan perbandingan antara diameter pada ketinggian setengah dari tinggi pohon dengan diameter setinggi dada. Sedangkan kusen bentuk absolut adalah perbandingan antara diameter pada ketinggian setengah dari tinggi pohon dengan diameter pada ketinggian 10% tinggi dari pangkal pohon (Husch et al, 2003).
10
2.2.8 Taper Pohon
Menurut Husch et al. (2003), taper adalah suatu bentuk yang meruncing sedangkan taper pohon adalah keadaan pohon yang diameternya semakin mengecil dari pangkal pohon hingga ujungnya. Taper pohon bervariasi tergantung dari jenis pohon, diameter, umur dan tinggi suatu pohon tersebut.
Fungsi taper merupakan suatu model alternatif untuk menduga volume pohon yang dilakukan berdasarkan bentuk batang yaitu dengan asumsi bahwa diameter sebuah pohon semakin mengecil dari pangkal hingga ujungnya.
Sedangkan menurut Chapman dan Meyer dalam Riandini 2005, taper merupakan resultan dimensi pohon yang disebabkan oleh pengaruh tinggi dan diameter pohon.
Bentuk kurva taper hampir sama pada pohon-pohon yang berbeda ukuran pada jenis pohon yang sama, sehingga memungkinkan model taper yang dibuat berdasarkan diameter relatif dan tinggi relatif. Bentuk persamaan umumnya adalah sebagai berikut :
( d/D ) = f ( h/H ) atau ( d/D ) = f {1-( h/H )}
Keterangan :
d = diameter ujung batang pada ketinggian h.
D = diameter setinggi dada (Dbh).
h = tinggi batang pada diameter d.
H = tinggi batang pohon total dari atas permukaan tanah.
2.2.9 Tajuk Pohon
Diameter tajuk adalah ukuran dimensi penampang melintang lingkaran tajuk sepanjang garis yang melalui titik pusat lingkaran dengan titik ujungnya pada garis lingkaran tajuk (Husch, 1963). Diameter tajuk dapat diukur dengan menggunakan alat bantu berupa meteran yaitu dengan cara mengukur proyeksi vertikal panjang garis yang melalui pangkal pohon dan dua titik pada proyeksi garis lingkaran tajuknya. Pengukuran ini dilaksanakan dua kali dengan posisi pengukuran yang saling tegak lurus dan hasilnya dirata-ratakan. Sedangkan
tinggi tajuk merupakan jarak antara awal percabangan tajuk dengan puncak pohon (Husch et al. 2003).
2.3. Korelasi Linier Antara Dua Peubah Atau Lebih
Koefisien korelasi linier adala h ukuran dari hubungan linier antara dua peubah acak X dan Y. Koefisien korelasi ini dilambangkan dengan r, nilai r digunakan untuk mengukur sejauh mana titik-titik data contoh menggerombol di sekitar sebuah garis lurus. Jika nilai rXY = 1, maka X dan Y berkorelasi positif sempurna dan mempunyai kemungkinan nilai X dan Y terletak pada satu garis lurus dengan kemiringan yang positif pada bidang-XY. Jika nilai rXY
= 0, maka kedua peubah dikatakan tidak berkorelasi. Sedangkan apabila nilai rXY = -1, maka kedua peubah berkorelasi negatif sempurna dan nilai X dan Y semuanya terletak pada bidang-XY dengan kemiringan yang negatif. Nilai korelasi ini hanya menunjukkan keeratan hubungan linier antar peubah.
Korelasi ini tidak mengimplikasikan adanya hubungan kausal atau sebab- akibat antar peubah (Draper dan Smith, 1992).
2.4. Bonita Lahan
Bonita adalah kemampuan tempat tumbuh bagi suatu jenis kayu dalam memberi hasil. Bonita tergantung pada tanah dan iklim serta ditentukan oleh perkembangan jenis kayu bersangkutan yaitu oleh tumbuh meningginya.
Pembagian bonita didasarkan atas peninggi tegakan-tegakan berumur 80 tahun (peninggi ini disebut indeks bonita)
Untuk jati terdapat bonita, dengan tingkatan setengah-setengah kelas.
Penetapan bonita menggunakan tabel bonita. Penetapan bonita dari tegakan yang muda (s/d 5 tahun) menurut tingginya kurang tepat, diperlukan perbandingan dengan bonita dari tegakan-tegakan yang lebih tua yang lebih berdekatan. Mulai dari umur 6 tahun peninggi merupakan petunjuk bonita yang baik. Keadaan tegakan yang tak merata menjadi tanda untuk bonita yang rendah.
Penetapan bonita dari lapangan-lapangan tidak menghasilkan dari kelas perusahaan tebang habis dan yang tidak ditumbuhi dengan Jati dilakukan
12
dengan jalan perbandingan keadaan tanahnya dengan keadaan tanah hutan- hutan Jati yang berbatasan, dengan memperhatikan tumbuhan yang ada.
Lapangan- lapangan bukan untuk penghasilan kayu Jati tidak ditetapkan bonitanya (Ditjen Kehutanan, 1974).
2.5. Perkembangan Penelitian Tentang Karakteristik Biometrik Pohon Baroroh (2006) telah melakukan penelitian mengenai Karakteristik Biometrik Pohon Shorea leprosula Miq. di Hutan Tanaman Haurbentes, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Pohon yang diteliti adalah pohon Shorea leprosula Miq. yang mempunyai umur 13 tahun, 20 tahun, 21 tahun, 37 tahun, 54 tahun dan 66 tahun. Penelitian ini mencari hubungan antara diameter pohon dengan dimensi yang lainnya, hubungan antara diameter batang relatif dengan tinggi batang relatif, angka bentuk rata-rata, dan hubungan antara rasio diameter dengan angka bentuk pohon. Penelitian ini menghasilkan hubungan antar dimensi pohon tererat dimiliki oleh hubungan antara diameter setinggi dada dengan diameter pangkal. Bentuk persamaan taper yang didapatkan dari penelitian ini adalah (d/D)2 = 1,06 – 0,436 h/H – 0,726 (h/H)2 + 0,627 (h/H)3. Angka bentuk absolut batang pohon Shorea yang diperoleh adalah 0,71 dan angka bentuk setinggi dada sebesar 0,77.
Maulidian (2007) telah melakukan penelitian serupa dengan obyek penelitiannya adalah pohon Belian (Eusideroxylon zwageri T.et.B.) pada Tegakan Hutan Sumber Benih Plomas, Kabupaten Sangau, Propinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini mencari hubungan antar dimensi pohon, hubungan diameter pohon dengan dimensi lainnya, hubungan diameter relatif dengan tinggi relatif dan angka bentuk dari pohon tersebut. Pohon yang diteliti mempunyai tahun tanam yang berbeda yaitu tahun 1939 dan tahun 1985. Pada penelitian ini menghasilkan hubungan antar dimensi pohon tererat dimiliki oleh hubungan antara diameter setinggi dada dengan diameter pangkal.
Bentuk persamaan taper yang dihasilkan adalah (d/D)2 = 1,01 – 0,277 h/H – 0,673 (h/H)2 + 0,481 (h/H)3. Angka bentuk absolut batang pohon Belian yang diperoleh sebesar 0,69 dan angka bentuk setinggi dada sebesar 0,80.
Wijayanti (2008) melakukan penelitian mengenai Karakteristik Biometrik Pohon Agathis loranthifolia R.A. Salisbury pada KPH Banyumas Timur, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik pohon pada berbagai tingkat diameter dan hubungan antar karakteristik serta mencari penciri pokok dari pohon Agathis loranthifolia R.A. Salisbury. Adapun hasil dari penelitian ini adalah dimensi pohon yang mempunyai korelasi tertinggi adalah diameter pangkal dengan diameter setinggi dada. Faktor keruncingan batang Agathis sebesar 1,181. Bentuk persamaan matematis taper untuk pohon Agathis adalah d/D = 1,04 – 1,22 h/H + 0,584 (h/H)2. Untuk angka bentuk absolut batang pohon Agathis sebesar 0,57 dan angka bentuk setinggi dada sebesar 0,78.
Wijaksana (2008) telah melakukan penelitian tentang Karakteristik Biometrik Swietenia macrophylla King. bertempat di BKPH Singaparna, KPH Tasikmalaya, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan antara dimensi kunci suatu pohon yang telah didapat dengan dimensi pohon yang lainnya sehingga dapat menggambarkan secara khas bentuk pohon tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa dimensi pohon berupa diameter pangkal mempunyai hubungan yang paling erat terhadap diameter setinggi dada. Persamaan taper yang dihasilkan untuk pohon Mahoni adalah d/D = 0,980 – 0,794 h/H + 0,364 (h/H)2. Adapun angka bentuk absolut dari pohon Mahoni adalah 0,60 dan angka bentuk setinggi dada sebesar 0,76. Faktor keruncingan yang dimiliki bentuk batang Mahoni adalah sebesar 1,126.
BAB III METODOLOGI
3.1. Lokasi dan Waktu Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan di Hutan Tanaman Jati (T. grandis L.f.) Bagian Hutan Bancar, KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur pada bulan Maret sampai dengan April 2008.
3.2. Alat dan Obyek Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini terbagi atas dua macam menurut fungsinya. Pertama adalah alat yang digunakan pada saat pengambilan data di lapangan, yakni terdiri dari :
1. Pita Ukur ( Phiband / Pita Meter) 2. Haga Hypsometer
3. SRB (Spiegel Relascop Bieterlich) tipe Wide Scale 4. Tali Tambang
5. Kamera Digital 6. Tallysheet 7. Alat Tulis
Sedangkan alat yang kedua adalah alat yang digunakan pada saat pengolahan data, yakni terdiri dari :
1. Kalkulator Scientific
2. Personal Computer (PC) dengan software Minitab versi 14 dan Microsoft Excel
Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pohon contoh jenis jati (T. grandis L.f.) pada berbagai diameter, bonita dan kelas umur (KU).
Terdapat dua macam data yang akan dikumpulkan pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berupa data dimensi pohon yang meliputi : diameter pangkal, diameter setinggi dada, diameter bebas cabang, diameter tiap seksi, diameter tajuk, panjang seksi batang, tinggi total, tinggi tajuk serta tinggi bebas cabang dari setiap pohon contoh. Sedangkan untuk
data sekunder yang diambil adalah keadaan umum dari lokasi pengambilan data penelitian.
3.3. Metode Penelitian
3.3.1 Pemilihan Pohon Contoh
Pemilihan pohon contoh dilakukan secara purposive sampling (pemilihan dengan adanya pertimbangan tertentu), yaitu dengan memperhatikan sebaran diameter, tinggi dan kondisi pohon sehingga dapat memenuhi keterwakilan data dan menghasilkan ragam yang sah.
Dasar pemilihan kondisi pohon adalah pohon tersebut haruslah sehat, bentuknya normal, mewakili ukuran dimensi penaksirnya serta mempunyai pertumbuhan yang normal pula (tidak tertekan). Hal ini dimaksudkan agar diperoleh besaran dimensi yang konstan. Pohon tersebut haruslah mempunyai diameter setinggi dada lebih dari 20 cm.
3.3.2 Pengukuran Dimensi Pohon
Pohon jati (T. grandis L.f.) yang diukur dimensinya pada berbagai kelas umur dengan memperhatikan keterwakilan diameter setinggi dadanya.
Dimensi pohon yang diukur meliputi diameter pangkal, diameter setinggi dada, diameter bebas cabang, diameter tiap seksi, diameter tajuk, panjang seksi batang, tinggi total, tinggi tajuk serta tinggi bebas cabang dari setiap pohon contoh.
3.3.3 Pembagian Batang
Setiap batang pohon contoh yang terpilih dibagi menjadi beberapa seksi (bagian). Pembagian batang ini dimulai dari pangkal batang hingga tinggi bebas cabang dengan panjang tiap seksi masing-masing yaitu 2 meter.
Diameter tiap seksi diukur mulai dari atas tunggak atau jika pohon berbanir maka pengukuran dimulai dari atas banir sampai dengan bebas cabang.
Pengukuran ini dilakukan untuk mencari hubungan antara diameter setinggi dada dengan diameter ujung seksi dan panjang batang dari tinggi bebas cabang dengan tinggi setiap seksi.
16
3.3.4 Perhitungan Volume Pohon Contoh
Menghitung volume aktual pohon contoh dihitung dengan cara menjumlahkan volume batang tiap seksi. Adapun persamaannya sebagai berikut :
Va =
∑
= n
i si
V
1
Keterangan : Va = Volume pohon sebenarnya
Vsi = Volume seksi batang ke-i, dimana i = 1,2,3,…,n Sedangkan untuk menghitung volume batang perseksi semua pohon contoh dalam kelompok validasi model dengan menggunakan rumus Smalian, yaitu :
Vs = 2
) (G+g
x L
Keterangan : Vs = Volume seksi batang
G = Luas bidang dasar pangkal seksi batang g = Luas bidang dasar ujung seksi batang L = Panjang seksi batang
3.3.5 Penentuan Angka Bentuk Batang Pohon
Angka bentuk batang (f) ditentukan dengan cara membandingkan volume aktual yang diperoleh dengan menggunakan rumus Smalian dengan volume silindernya, dimana :
f =
sl a
V V
Keterangan : Va = Volume aktual pohon
Vsl = Volume silindris, dengan asumsi bahwa bentuk pohon silinder.
Terdapat dua macam angka bentuk yang akan dicari, yaitu : a. Angka Bentuk Setinggi Dada (fbh)
fbh =
bc 2 bh a
T D V
) ( 25 ,
0 π
b. Angka Bentuk Absolut (fabs) fabs =
bc p a
T D V
)2
( 25 ,
0 π
Keterangan : Va = Volume pohon sebenarnya Tbc = Tinggi bebas cabang
Dbh = Diameter setinggi dada (1,30 m dat) Dp = Diameter pangkal
3.3.6 Penentuan Kusen Bentuk Batang Pohon
Kusen bentuk pohon (q) ditentukan dengan cara membandingkan antara diameter pada ketinggian tertentu dengan diameter setinggi dada.
Terdapat dua macam kusen bentuk yang akan dicari, yaitu :
a. Kusen Bentuk Setinggi Dada atau Kusen Bentuk Normal (q0,5Tt) q0,5Tt=
bh Tt
D d0,5
b. Kusen Bentuk Absolut (qabs) qabs =
bh h
D d1/2( −4.,5)
Keterangan : d0,5Tt = diameter pohon pada ketinggian 0,5 Tt
d1/2(h-4,5) = diameter pohon pada ketinggian absolut
3.4. Analisis Data
3.4.1 Deskripsi Statistik Pohon Contoh
Untuk menggambarkan karakteristik biometrik pohon jati perlu diketahui deskripsi dari pohon contoh yang diukur. Data statistik yang diukur seperti banyaknya contoh (n), nilai minimum dan nilai maksimum data yang diukur, rata-rata atau nilai tengah (mean), dan simpangan baku (s).
3.4.2 Rasio Antar Dimensi Pohon
Untuk mengetahui pertumbuhan yang memiliki pola pertumbuhan yang konstan, perlu mengetahui nilai rasio antar dimensi pohon. Nilai ini
18
ditentukan dengan membandingkan dimensi satu dengan dimensi yang lain.
Adapun rasio dimensi-dimensi pohon jati yang diukur adalah sebagai berikut : a. Diameter pangkal (Dp) / Diameter setinggi dada (Dbh)
b. Diameter pangkal (Dp) / Diameter tajuk (Dtk) c. Diameter bebas cabang (Dbc) / Diameter tajuk (Dtk) d. Diameter setinggi dada (Dbh) / Diameter tajuk (Dtk)
e. Diameter bebas cabang (Dbc) / Diameter setinggi dada (Dbh) f. Diameter bebas cabang (Dbc) / Diameter pangkal (Dp) g. Tinggi tajuk (Ttk) / Tinggi total (Tt)
h. Tinggi bebas cabang (Tbc) / Tinggi total (Tt) i. Tinggi bebas cabang (Tbc) / Tinggi tajuk (Ttk)
Secara umum setiap batang pohon tidak berbentuk silindris sehingga terdapat faktor keruncingan. Untuk mengetahui besarnya nilai keruncingan tersebut, perlu ada perbandingan antara diameter atas dan diameter bawah.
Nilai rasio ini dicari pada setiap ketinggian 2 meter. Perhitungan rasio antara diameter atas dengan diameter bawah adalah sebagai berikut :
Rn =
+1 i
i
D D
Keterangan : Rn = Nilai rasio diameter ke-i Di = Diameter ke-i , i = 1,2,3,..n
3.4.3 Korelasi Antar Dimensi Pohon
Data dimensi pohon (diameter pangkal, diameter setinggi dada, diameter bebas cabang, tinggi total, tinggi bebas cabang, serta tinggi tajuk) yang didapatkan dari hasil pengukuran, akan dilakukan perhitungan secara sistematis. Setiap dimensi tersebut akan dicari korelasinya untuk menentukan dimensi mana yang paling menggambarkan karakteristik pohon jati. Tingkat keeratan hubungan antara dua peubah diukur dari besarnya nilai koefisien korelasi (r) dengan rumus :
r =
∑ ∑ ∑ ∑
∑ ∑ ∑
= = = =
−
−
−
n
i
n
i
n
i
n
i j j
i i
j i
ji i
n y y
n x x
n y x y
x
1 1 1 1
2 2 2 2
)}
/ ) ( }{(
/ ) ( {
/ ) )(
(
Keterangan :
xi = Dimensi pohon ke-i
yj = Dimensi pohon lainnya ke-j n = Jumlah pohon
Besarnya nilai r berkisar antara -1 sampai +1. Jika nilai r = -1 maka hubungan diameter dengan dimensi pohon lainnya merupakan korelasi negatif sempurna. Sebaliknya jika nilai r = +1 maka hubungan diameter dengan dimensi pohon lainnya merupakan korelasi positif sempurna. Bila r mendekati -1 atau +1 maka hubungan antara peubah itu kuat dan terdapat korelasi yang tinggi antara kedua peubah itu (Walpole, 1995).
3.4.4 Penyusunan Persamaan Regresi
Dalam penelitian ini, untuk memudahkan dalam penggambaran karakteristik biometrik pohon digunakan sebuah peubah bebas yaitu diameter pangkal pohon dan peubah tidak bebas yakni tinggi pohon. Hal ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya hubungan yang nyata antara kedua peubah ini.
Data hasil pengukuran dimensi yang lainnya seperti diameter setinggi dada, diameter bebas cabang, diameter tiap seksi, tinggi total, tinggi tajuk serta tinggi bebas cabang juga dianalisis secara statistik untuk mendapatkan suatu bentuk persamaan regresi hubungan analisis data tersebut.
Analisis ini dilakukan setelah terbukti bahwa antara diameter pohon dengan dimensi pohon lainnya terdapat hubungan yang nyata. Model-model persamaan yang dibuat, secara umum menggunakan hubungan peubah-peubah sebagai berikut :
D' = f (D) atau H = f (D)
Dari persamaan tersebut dapat dibuat suatu model persamaan regresi linearnya yaitu : Y = b0 + b1xi + ei
3.4.5 Penyusunan Persamaan Taper
Persamaan taper disusun berdasarkan hubungan fungsional antara diameter sepanjang batang (d) dengan panjang batang dari pangkal batang (h), yang secara matematis dapat dituliskan sebagai d = f(h).
20
Menurut Laasasenaho (1982), kurva taper dari jenis pohon yang sama tetapi berbeda ukuran dapat disusun dengan bantuan diameter relatif dan tinggi relatif. Adapun persamaan yang akan dianalisis adalah sebagai berikut : (d/D) = f (h/H) (d/D)2 = f {(h/H),(h/H)2}
(d/D)2 = f (h/H) (d/D) = f {(h/H),(h/H)2,(h/H)3} (d/D) = f {(h/H),(h/H)2} (d/D)2 = f {(h/H),(h/H)2,(h/H)3}
3.4.6 Penyusunan Persamaan Regresi Menggunakan Rasio Diameter Persamaan regresi ini menggunakan peubah bebas berupa rasio diameter dan peubah tidak bebas yaitu angka bentuk pohon dan volume aktual. Tujuan dari mencari persamaan regresi antara rasio diameter dengan angka bentuk ini adalah dalam hal keefisienan pengukuran, dimana hanya dengan menghitung rasio diameter dan mengetahui volume aktual maka kita dapat mengetahui angka bentuk pohon.
Model-model persamaan yang dibuat umumnya menggunakan hubungan peubah-peubah sebagai berikut :
f bh atau f abs = f (d/d') Va = f (d/d') Keterangan :
d = Diameter pohon
fbh = Angka bentuk setinggi dada fabs = Angka bentuk absolut
Dari persamaan tersebut dapat dibuat model persamaan regresi linearnya, yaitu : Y = b0 + b1xi + ei
3.4.7 Kriteria Ketepatan Model
Beberapa ukuran yang dipakai sebagai dasar dalam penilaian ketepatan sebuah model yakni koefisien determinasi (R2), koefisien determinasi yang terkoreksi (R2adj), besarnya peluang untuk menolak Ho padahal Ho benar berdasarkan kepada data yang ada pada pengujian koefisien regresi, bentuk sebaran sisa, koefisien dari keragaman serta penggunaan metode VIF (Variance Inflation Factor) pada persamaan regresi berganda.
Adapun kriteria yang dipakai untuk menguji sebuah model adalah sebagai berikut :
a. Uji tingkat kepentingan peranan peubah bebas
Uji tingkat kepentingan peranan peubah bebas dimaksudkan untuk mengetahui peranan masing-masing peubah bebas di dalam persamaan pada pembentukan model serta untuk mengetahui hubungan regresi signifikan antara peubah bebas dengan peubah tetapnya.
Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut : Ho : βi = 0 , untuk semua i
H1 : setidaknya terdapat satu βi ≠ 0 Adapun kriteria yang digunakan adalah : Jika nilai Fhit = F-tabel maka Ho diterima Jika nilai Fhit > F-tabel maka Ho ditolak
Apabila Ho tersebut ditolak, maka dapat dilakukan pengujian lanjutan dengan menggunakan Uji nilai-p pada tingkat nyata tertentu (a). Nilai-p yang didapat dari hasil pengolahan data dapat menunjukkan nilai resiko kesalahan terhadap pengambilan keputusan. Berikut adalah ketentuan yang digunakan : 1. Jika nilai-p < 0,01, artinya tolak Ho maka korelasi regresi antara peubah
peramal dengan peubah responnya yaitu bersifat sangat nyata.
2. Jika 0,01 < nilai-p < 0,05, artinya tolak Ho maka korelasi regresi antara peubah peramal dengan peubah responnya yaitu bersifat nyata.
3. Jika nilai-p > 0,05, artinya terima Ho maka korelasi regresi antara peubah peramal dengan peubah responnya yaitu bersifat tidak nyata.
b. Koefisien determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) adalah suatu ukuran dari besarnya keragaman peubah tidak bebas yang dapat diterangkan oleh keragaman peubah bebasnya. Perhitungan besarnya koefisien determinasi (R2) mempunyai tujuan untuk melihat tingkat ketelitian dan keeratan hubungan yang dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
R2 = x100% JK
JK
total regresi
22
Jika nilai koefisien determinasi sebesar 50% maka hal tersebut mengandung pengertian bahwa variasi peubah x (diameter pohon atau tinggi pohon) dapat menerangkan secara memuaskan variasi peubah Y (volume pohon), sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.
c. Koefisien determinasi yang terkoreksi (R2adj)
Koefisien determinasi yang terkoreksi (R2adj) adalah koefisien determinasi yang telah dikoreksi dengan derajat bebas (db) dari JKS dan JKTnya. Perhitungan determinasi yang terkoreksi (R2adj) menggunakan rumus sebagai berikut :
R2adj = 1 -
% 100 ) 1 (
)
( x
JKT n p JKS n
−
−
Keterangan :
JKS = Jumlah Kuadrat Sisa JKT = Jumlah Kuadrat Total (n-p) = Derajat Bebas Sisa (dbs) (n-1) = Derajat Bebas Total (dbt)
d. Simpangan baku (s)
Model dapat dikatakan layak apabila model tersebut mempunyai nilai simpangan bakunya kecil. Nilai simpangan baku (s) menunjukkan besarnya penyimpangan antara data aktual dengan dugaan model, yang akan makin terandalkan dengan nilai s yang semakin kecil.
Nilai simpangan baku (s) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
s = S2 =
) (
2
p n
ei
−
∑
Keterangan :
S2 = Kuadrat Tengah Sisaan ei = Sisaan ke-i
(n-p) = Derajat bebas sisaan
e. Koefisien Keragaman (CV)
Untuk membandingkan keragaman dua atau lebih kumpulan data, meskipun satuan pengukurannya tidak sama dapat digunakan nilai koefisien keragaman. Nilai ini merupakan ukuran keragaman relatif yang dinyatakan dalam bentuk persen. Nilai koefisien keragaman dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
CV = y syx
x 100%
Keterangan :
s yx = Simpangan baku y terhadap x y = Rata-rata y
f. Uji Tingkat Kepentingan Peranan Penambahan Peubah Peramal dalam Model
Khusus pada analisis regresi berganda, dapat menggunakan metode nilai VIF (Variance Inflation Factor) untuk kasus persamaan regresi yang diduga terdapat multikolinear dalam model.
Multikolinear adalah suatu keadaan dimana antarvariabel prediktor terdapat hubungan yang sangat erat. Adapun kriterianya sebagai berikut : Apabila nilai VIF > 1, maka terdapat korelasi antarvariabel prediktor Apabila nilai VIF = 1, maka tidak terdapat korelasi antarvariabel prediktor
Untuk melihat pengaruh peubah bebas secara parsial dapat diuji dengan menggunakan uji t-student. Pengujian ini akan digunakan jika pada pengujian analisis ragam diperoleh kesimpulan bahwa terdapat paling sedikit satu peubah peramal yang berpengaruh terhadap peubah respon. Sehingga pengujian t-student akan sangat bermanfaat untuk menunjukkan peubah peramal mana yang berpengaruh terhadap peubah respon.
Bentuk hipotesis parsialnya dapat dituliskan sebagai berikut : H0 : ßi = k
H1 : ßi ? k
24
Adapun penghitungannya adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
t = 2 i i
S k
β
β −
Jika nilai t-hitung = t-tabel (a /2), maka H0 diterima Jika nilai t-hitung > t-tabel (a /2), maka H0 ditolak
4.1. Letak dan Luas KPH Jatirogo
Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian data dan pelaporan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jatirogo, mempunyai wilayah dengan luas 18.763,7 Ha, secara administratif ketataprajaan sebagian besar berada di daerah Kabupaten Tuban dan sebagian kecil berada di Kabupaten Bojonegoro.
Berikut adalah batas hutan dari KPH Jatirogo : Bagian Utara : Laut Jawa
Bagian Timur : KPH Parengan, KPH Tuban Bagian Selatan : KPH Parengan
Bagian Barat : KPH Kebonharjo, KPH Cepu
Secara geografis wilayah KPH Jatirogo terletak pada 4°50’-5°10’ BT dan 6°30’-7°10’ LS. Adapun kantor KPH Jatirogo berkedudukan di Jatirogo.
Gambar 3. Peta Wilayah Kerja KPH Jatirogo Perum Perhutani Unit II Jatim
4.2. Bagian Hutan di KPH Jatirogo
Bagian Hutan adalah suatu areal yang telah ditetapkan sebagai suatu kesatuan produksi dan kesatuan eksploitasi. Dengan demikian, diharapkan
26
dapat menghasilkan kayu setiap tahun secara terus menerus dalam jumlah yang memenuhi syarat pengelolaan hutan yang baik dan sesuai dengan azas kelestarian hutan.
KPH Jatirogo dengan luas wilayahnya mencapai 18.763,7 Ha terbagi dalam tiga bagian hutan yakni : Bagian Hutan Bangilan dengan luas 5.826,7 Ha, Bagian Hutan Ngijo dengan luas wilayah mencapai 6.539,3 Ha dan Bagian Hutan Bancar dengan luas 6.397,7 Ha.
4.3. Keadaan Lapangan 4.3.1 Topografi
Topografi lapangan wilayah hutan KPH Jatirogo secara umum adalah datar sampai miring terutama pada daerah sebelah timur laut dengan kemiringan sebesar 0-8 %. Tanah yang berada di wilayah KPH Jatirogo secara umum baik untuk kelas perusahaan jati dan dengan kemiringan yang termasuk ke dalam kelas lereng E tersebut, maka KPH Jatirogo cocok dengan sistem tebang habis.
Bagian Hutan Ngijo dan Bancar mempunyai topografi lapangan yang berombak dan sebagian bergelombang. Daerah tersebut berbukit dan keadaan tanahnya berbatu sehingga menyebabkan pertumbuhan jati kurang begitu baik (Sekretariat PHL KPH Jatirogo).
4.3.2 Keadaan Tanah
Jenis tanah beserta penyebaran tanah berdasarkan hasil penelitian yang terdapat di KPH Jatirogo adalah Grumusol, Mediteran, Litosol dan Regosol.
Ketiga jenis tanah tersebut tersebar pada semua Bagian Hutan yang terdapat di KPH Jatirogo. Adapun jenis tanah yang mendominasi adalah jenis tanah Grumusol yang berasal dari batu endapan dan bekuan yang terdapat pada daerah bergelombang (Sekretariat PHL KPH Jatirogo).
4.3.3 Iklim
Wilayah hutan KPH Jatirogo terletak pada daerah dengan musim hujan dan musim kemarau yang jelas. Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schnidt