1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat mempunyai karakteristik lingkungan sosial yang kompleks, sehingga masyarakat tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap konsep akuntansi (Kamran et al., 2012). Perspektif yang berbeda (misalnya bisnis, sosial atau budaya) maka akan melahirkan makna yang berbeda terhadap suatu objek (Mulyadi, 2005).
Hal ini seperti terdapat dalam konsep matching, perspektif organisasi nirlaba, tidak memiliki tempat sebagaimana dalam perspektif bisnis, karena fokus pelaporan organisasi nirlaba lebih ditekankan pada bagaimana sumberdaya dikelolah oleh manajemen dan keberlanjutan manajemen dalam memberikan layanan jasa-jasa kepada masyarakat (Suyudi, 2009).
Konsep biaya menurut (Mulyadi, 2014) biaya akuntansi adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan pengkajian biaya, pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu, sertas penafsiran terhadapnya. Menurut ilmu akuntansi, biaya adalah nilai pengorbanan terhadap proses produksi suatu produk yang dinyatakan dalam bentuk satuan atau berlakunya harga pasar. Hal ini diperkuat oleh (Sinurat et al., 2015), yang menyatakan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang memungkinkan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Biaya (cost) akan merefleksikan ukuran moneter atas sumber daya yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan, seperti menghasilkan suatu produk atau memberikan suatu pelayanan atau jawa (Raiborn & Michael R. Kinney, 2018). Sehingga berdasarkan definisi tersebut, yang menjadi unsur pokok biaya yaitu, pengorbanan sumber
2
ekonomi yang diukur dalam satuan uang atau ukuran moneter,yeng telah terjadi atau memungkinkan utuk terjadi, dan untuk mencapai tujuan tertentu.
Biaya tidak memiliki keterkaitan dengan penerimaan (pendapataan) yang akan diperolehnya, hal tersebut dikarenakan tujuan organisasi nirlaba bukan untuk memperoleh keuntungan dari aktivitasnya, namun bertujuan untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki demi keberlanjutan pelayanan jasa kepada masyarakat (IAI, 2010). Bukan hal yang baru (Randa & Daromes, 2015) dan menjadi penting karena akuntansi Demikian pula dengan konsep matching dilihat dari perspektif budaya memiliki makna berbeda karena disamping bersifat sosial juga memiliki interaksi yang lebih luas dari berbagai tingkatan dalam masyarakat (Tumirin & Abdurahim, 2015).
Seiring dengan konteks tersebut di atas, maka akuntansi yang dibentuk oleh masyarakat juga memiliki makna yang berbeda demikian pula dengan konteks biaya, hal ini karena biaya merupakan bagian dari akuntansi yang hanya mempunyai manfaat terhadap akuntansi ketika terjadinya pengeluaran tersebut. Selain itu, diskursus mengenai akuntansi dan budaya harus dipahami sebagai bentuk dari budaya dimana akuntansi tumbuh (Sukoharsono, 2010).
Akuntansi memiliki rasa sensivitas yang tinggi terhadap nilai-nilai sosial, ekonomi, politik dan budaya (Triwuyono, 2006). Dalam konteks “rasa sensivitas” ini, dapat dipahami bahwa akuntansi pada dasarnya bukan hanya sekadar instrumen laporan keuangan yang “mati rasa” (Aspiati, 2015). Akuntansi mengandung nilai-nilai budaya masyarakat yang membangun dan mempraktikkannya, tidak bebas dari nilai-nilai masyarakat (Triwuyono, 2006). Menurut Triwuyono, akuntansi mampu berinteraksi aktif dengan lingkungannya. Socially constructed sekaligus socially constructing. (Morgan,
3
2011) menyatakan akuntansi tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi membentuk pula realitas. Sejalan dengan pandangan tersebut, (Triwuyono, 2006) juga menyatakan bahwa akuntansi laksana pedang bermata dua. Ia dapat dibentuk oleh lingkungannya (social constructed) dan sekaligus membentuk lingkungannya (socially constructing). Ini akhirnya
dapat dijadikan sebuah kepastian bahwa akuntansi bukanlah suatu bentuk ilmu pengetahuan dan praktik yang bebas dari nilai (value-free), tetapi sebaliknya akuntansi adalah bentuk ilmu pengetahuan dan praktik yang sarat dengan nilai (Triwuyono, 2006).
Fenomena global yang diangkat pada penelitian ini adalah tradisi budaya seserahan masyarakat yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Masyarakat kepulauan Masalembu mengenal uang panai berupa sejumlah uang yang wajib diserahkan oleh calon mempelai suami kepada pihak keluarga calon istri, yang akan digunakan sebagai biaya dalam resepsi perkawinan dan belum termasuk mahar. Fungsi uang panai yang diberikan secara ekonomis membawa pergeseran kekayaan karena uang panai yang diberikan mempunyai nilai tinggi. Secara sosial wanita mempunyai kedudukan yang tinggi dan dihormati. Secara keseluruhan uang panai merupakan hadiah yang diberikan calon mempelai laki-laki kepada calon istrinya untuk memenuhi keperluan perkwainan. Jumlah uang panai yang bergantung dari tingkat strata sosial dan pendidikan calon mempelai wanita dilihat dari sisi peran keluarga calon mempelai wanita.
Dalam hal ini kewajiban atau keharusan memberikan uang panai sama seperti kewajiban memberikan mahar. Hal ini terjadi karena antara uang panai dan mahar adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seorang calon suami yang memberikan uang panai kepada pihak keluarga calon istri bukan berarti secara langsung
4
telah memberikan mahar. Uang panaitersebut belum termasuk mahar, sehingga jika uang panai tidak ada maka perkawinan pun tidak akan pernah terjadi.
Penelitian terdahulu berdasarkan temuan penulis ada beberapa penelitian yang serupa dengan skripsi ini yaitu penelitian oleh Setiawan, Muhamad Budi, “Mengungkap Makna Biaya Haul Sunan Giri : Studi Fenomenologi”. Secara umum penelitian ini membahas mengenai makna biaya yang terdapat pada tradisi haul pada tahun (Setiawan, 2019).
Andi Asyraf mengkaji tentang “Mahar dan Paenre’ dalam adat Bugis”.
Penelitian terhadap permasalahan yang berkiatan dengan perihal pemberian uang panai ini dipandang urgen karena berdasarkan pada kenyataan yang ada dalam suku Bugis Makassar (Asyraf, 2015).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada lingkungan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dalam lingkungan masyarakat adat suku Bugis di Pulau Masalembu. Sedangkan penelitian terdahulu mengkaji tentang mahar dan penre’
dalam adat Bugis di Pulau Sulawesi. Penelitian terhadap permasalahan yang berkaitan dengan makna dan nilai tradisi uang panai dipandang urgen (mendesak sekali pelaksanaannya) karena berdasarkan pada kenyataan yang ada dalam suku Bugis Pulau Masalembu.
Adat istiadat, istilah tradisi dapat dimaknai sebagai warisan. Selain itu, istilah tradisi diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam masyarakat. Sifatnya sangat luas, meliputi segala kompleks kehidupan sehingga sukar disisihkan dalam pencarian yang tepat dan pasti (Miharja, 2017).
5
Berdasarkan konteks tersebut di atas, pengeluaran (biaya) yang di bentuk oleh biaya dalam kegiatan perayaan adat tidak memiliki keterkaitan dengan pereolehan pendapatan.
Hal ini karena pengeluaran (biaya) tersebut tidak memiliki dampak yang material terhadap penerimaan, namun memiliki makna biaya tersendiri sebagai bentuk untuk mengembangkan nilai-nilai sosial dan saling membantu (Tumirin & Abdurahim, 2015).
Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk menampilkan konteks biaya yang berbeda dari organisasi bisnis, dalam hal ini konsep akuntansi yang bingkai oleh matching (biaya dan pendapatan). Hal ini karena, akuntansi dalam perspektif budaya dilakukan untuk kegiatan perayaan adat yang tidak memiliki keterkaitan dengan perolehan pendapatan sebagai ikutannya, walaupun pengeluaran untuk perayaan tersebut membutuhkan pengorbanan biaya yang sangat besar, disamping itu bersifat sosial juga memiliki interaksi yang lebih luas dari berbagai tingkatan dalam masyarakat (Triwuyono, 2006). Sementara itu, biaya memiliki dampak yang material bagi ekonomi keluarga, dan masyarakat adat, padahal pengeluaran tersebut tidak memiliki dampak yang material terhadap penerimaan.
Terhadap realitas pola pikir dan kondisi yang demikian maka suatu kewajiban atau paling tidak jangan menjadi kajian yang terlupakan bagi sebagaian kalangan masyarakat itu sendiri tentang bagaimana adanya tradisi Bugis, karena pada zaman sekarang tradisi sudah banyak di lupakan atau ditinggalkan. Oleh karena itu penulis berkeinginan untuk mengkaji objek yaitu uang panai dalam makan pembiayaan menurut pandangan akuntansi.
Objek pada penelitian ini adalah masyarakat Suku Bugis di Pulau Masalembu.
Uang panai yang merupakan budaya perkawinan Bugis Makassar, melihatnya dari konsep dan mendeskripsikannya dalam konteks akuntansi, khususnya berkaitan dengan penetapan harga acara pernikahan, uang panai juga sebagai hadiah bagi mempelai wanita untuk bekal
6
kehidupannya kelak dalam menghadapi bahtera rumah tangga dan ini merupakan maslahat baik bagi pihak mempelai laki-laki dan mempelai wanita (Yansa Hajra, 2019). Alasan penulis memilih penelitian tentang adat uang panai adalah untuk mempelajari dan memaknai salah satu tradisi di Indonesia. Selain itu diharapkan penelitian ini dapat memberikan literasi tambahan mengenai adat uang panai suku bugis yang ada di Pulau Masalembu, supaya jika ada permasalahan terkait uang panai, maka penelitian ini akan dapat membantu mencari jalan penyelesaian masalah tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana analisis makna biaya pada tradisi seserahan dalam studi kasus uang panai suku bugis di Pulau Masalembu berdasarkan akuntansi sosial?.
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna biaya pada uang panai suku bugis di Pulau Masalembu berdasarkan akuntansi sosial.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Sebagai sumbangan pemikiran dan refrensi untuk ilmu pengetahuan dan dalam ilmu pendidikan di bidang akuntansi mengenai budaya atau kearifan lokal.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan menjadi pemahaman baru mengenai makna biaya dan akuntansi sosial pada budaya uang panai di Pulau Masalembu.