STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
PENGARUH HIPNORELAKSASI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENYANDANG HIPERTENSI PRIMER DI PEDUKUHAN VI SONOSEWU
NGESTIHARJO KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan STIKES Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
Disusun Oleh:
VERA LISTIANA NPM. 3209107
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA
2013
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
ii
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
iii
HALAMAN PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan atau kesarjanaan lain di suatu perguruan tinggi. Sepenjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut sebagai daftar pustaka.
Yogyakarta, Desember 2013
Vera Listiana
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rakhmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Hipnorelaksasi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penyandang Hipertensi Primer Di Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta”.
Penyusunan skripsi ini telah dapat diselesaikan, atas bimbingan, arahan, dan bantuan berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, dan pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati mengucapkan terima kasih dengan setulus-tulusnya kepada :
1. dr I Edy Purwoko, Sp.B selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
2. Dewi Retno Pamungkas. MNG selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Achmad Yani Yogyakarta.
3. Kepala Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta yang memberikan ijin untuk melakukan studi pendahuluan.
4. Ida Nursanti, S. Kep., MPH, selaku Ketua LPPM yang memberikan ijin untuk pelaksanaan usulan penelitian.
5. Wenny Savitri. S. Kep., Ns., MNS selaku dewan penguji yang telah memberikan masukan dan saran.
6. Paulus Subiyanto, Sp. KepMB selaku pembimbing I penyusunan penyusunan skripsi.
7. Ratna Lestari, S. Kep., Ns selaku Pembimbing 2 penyusunan penyusunan skripsi.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan kepada semuanya, sebagai imbalan atas segala amal kebaikan dan bantuannya. Akhirnya besar harapan penulis semoga penyusunan skripsi ini berguna bagi semua.
Yogyakarta, Juli 2013
Penulis,
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
v DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRACK... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Keaslian Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hipertensi ... 7
1. Pengertian hipertensi ... 7
2. Penyebab hipertensi ... 7
3. Jenis hipertensi... 9
4. Klasifikasi hipertensi ... 9
5. Patofisiologi hipertensi... 10
6. Tanda dan gejala hipertensi... 11
7. Faktor resiko hipertensi... 11
8. Penatalaksanaan hipertensi... 12
9. Komplikasi hipertensi... 15
10. Pemeriksaan penunjang hipertensi... 16
11. Teknik pengukuran darah... 17
B. Hipnorelaksasi... 17
1. . Pengertian hipnorelaksasi... 17
2. . Manfaat hipnorelaksasi bagi kesehatan... 18
3. . Proses hipnorelaksasi... 18
4. . Kesadaran dalam hipnorelaksasi... 19
Teknik terapi hipnorelaksasi... 19
5. . Proses hipnosis... 20
6. . Mekanisme hipnorelaksas... 22
C. Kerangka Teori... 24
D. Kerangka Konsep... 25
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
vi
E. Hipotesa... 25
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 26
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 26
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 27
D. Variabel Penelitian ... 28
E. Definisi Operasional... 29
F. Alat dan Metode Pengumpulan Data ... 29
G. Analisa dan Model Statistik ... 31
H. Etika Penelitian ... 33
I. Pelaksanaan Penelitian ... 33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 36
B. Pembahasan ... 40
C. Keterbatasan Penelitian ... 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 47
B. Saran. ... 48 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Untuk Dewasa Diatas 18 Tahun ... 9
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO 2003 ... 9
Tabel 2.3 Klasifikasi Hipertensi Menurut Hasil Konsesus Perhimpunan Hipertensi Indonesia ... 10
Tabel 3.1 Pretest-Postest With Control Group Design... 26
Tabel 3.2 Definisi Operasional ... ... 29
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden ... 36
Tabel 4.2 Tekanan Darah Sistol Pre-Post Hipnorelaksasi... 37
Tabel 4.3 Tekanan Darah Diastol Pre-Post Hipnorelaksasi... 37
Tabel 4.4 Tekanan Darah Pre-Post Sistol pada Kelompok Kontrol... 38
Tabel 4.5 Tekanan Darah Pre-Post Diastol pada Kelompok Kontrol... 38
Tabel 4.6 Perbedaan Tekanan Darah Pre-Post Sistol pada Kelompok Kontrol Dan Intervensi... 38
Tabel 4.7 Perbedaan Tekanan Darah Pre-Post Diastol pada Kelompok Kontrol dan Intervensi... 39
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian ... 24 Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian... 25
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
ix
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Teknik pengukuran darah
Lampiran 2. Script hipnorelaksasi untuk menurunkan tekanan darah Lampiran 3. Jadwal penelitian
Lampiran 4. Permohonan menjadi responden Lampiran 5. Informed consent
Lampiran 6. Lembar persetujuan menjadi asisten peneliti Lampiran 7. Surat ijin studi pendahuluan
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
x
THE INFLUENCE OF HYPNORELAXATION ON REDUCTION IN BLOOD PRESSURE WITH PRIMARY HIPERTENSION IN PEDUKUHAN VI SONOSEWU NGESTIHARJO
KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA Vera Listiana1, Paulus Subiyanto2, Ratna Lestari3
ABSTRACT
Background : Hypertension a serious problem because the increasing of prevalence on it. It is caused by life style change such as smoking, obesity, physical inactivity, psychosocial stress. Almost 90% prevalence of hypertension is primary hipertension, with no known cause. Hypertension can be treated with pharmacology and nonpharmacology, one of the nonpharmacoogy method is hypnorelaxation. Hypnorelaxation gives an impact on relaxing our mind, so high blood pressure in patiens with hypertension decreased. Hypnorelaxation is a methode to suggest the people‟s mind with alfa or theta wave, this wave produce the endorphin and give an impact in relaxing sensation.
Objective : This study aimed to know the influence of hypnorelaxation on reduction blood pressure with primary hypertension in Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta.
Methode : The methode used in this study was quasy experimental with pretest posttest in control group design. The subject was the patient with primary hypertension whose age 45-59 and 23 sampel were involved. The data collection was carried out through observation sheet, recording voice of hypnorelaxation in measuring blood pressure.
Results : The difference of blood pressure on intervension and control group, Mann-Whitney Test difference blood pressure systolic p value 0,000. And Mann- Whitney Test difference blood pressure diastolic p value 0,000.
Conclusion : The study showed that there was influence of hypnorelaxation on blood pressure reduction in primary hypertension patient.
Keywords : hypnorelaxation, blood pressure
___________________________________________________
1Nursing Science Student of STIKES Jenderal Achmad Yani
2Nursing Lecturer of AKPER Panti Rapih
3Nursing Lecturer of STIKES Jenderal Achmad Yani
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi menjadi masalah global karena prevalensi yang terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas, inaktivitas fisik, dan stres psikososial. Hampir di setiap negara hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling sering dijumpai. Di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang (26,4%) menderita hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta penderita hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 juta sisanya berada di negara sedang berkembang, temasuk Indonesia (Udjianti, 2010).
Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2008, prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi yaitu 89 per 1000 anggota keluarga. Prevalensi hipertensi pada laki-laki di Indonesia 13,6% bertambah menjadi 16,5% dari populasi penduduk, hipertensi pada perempuan 16,5% menjadi 17,6% dari populasi penduduk (Madina, 2013). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, menunjukkan sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosa. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat hipertensi (DepKes RI, 2007).
Hasil Survei Kesehatan Daerah (SuKesDa) menunjukkan bahwa propinsi DIY masuk dalam lima besar propinsi dengan kasus hipertensi terbanyak yaitu 31,7%, diperkotaan itu sendiri daerah Yogyakarta sebesar 47,7% dan perdesaan mencapai 51,7%. Hipertensi primer menempati urutan kedua pada penyakit tidak menular pada pasien rawat inap di rumah sakit (Profil Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2011).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
2
Menurut Ode (2012) hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas).
Tekanan yang abnormal tinggi pada pembuluh darah dapat menyebabkan peningkatan resiko terhadap stroke, gagal jantung, serangan jantung dan gangguan ginjal. Adib (2009) mengatakan tekanan darah yang ideal adalah sekitar 110- 120/80-90 mmHg, batasan ini berlaku bagi orang dewasa diatas 18 tahun.
Tekanan darah 120-139/80-89 mmHg dikategorikan prehipertensi dan perbaikan dalam gaya hidup dibutuhkan untuk menurunkan tekanan darah, sedangkan tekanan darah diatas 140/90 mmHg merupakan hipertensi yang membutuhkan pengobatan.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering disebut sebagai “ silent killer (pembunuh diam-diam)”, karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi yang memiliki prevalensi tinggi dan cenderung meningkat dimasa yang akan datang, dan karena tingkat keganasannya yang tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak, sehingga kejadian hipertensi pada kelompok dewasa muda akan sangat membebani perekonomian keluarga, karena pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup (Ananta, 2009).
Selain itu penanganan medis mempunyai banyak efek samping bagi kesehatan. Penanganan hipertensi secara nonfarmakologi belum begitu banyak diperkenalkan kepada para penderita hipertensi, dimasyarakat ataupun dirumah sakit. Cara nonfarmakologis dengan menurunkan berat badan pada penderita yang gemuk, diet rendah garam dan rendah lemak, mengubah kebiasaan hidup diantaranya olahraga, merilekskan pikiran dengan cara menggunakan hipnorelaksasi dan kontrol tekanan darah secara teratur (Ode, 2012). Beberapa macam terapi nonfarmakologi telah dibuktikan oleh ilmuan luar negri, salah satunya adalah APA (American Psychological Association) dalam buku Dictionary of Psychology, edisi 2007 bahwa hipnorelaksasi dapat menurunkan tingkat stres, dan membuat tubuh menjadi rileks, sehingga tekanan darah tinggi pada penderita hipertensi dapat diturunkan, dan tanpa adanya efek samping atau
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
3
kontra indikasi seperti pada penggunaan obat anti hipertensi, akan tetapi hipnorelaksasi belum begitu banyak diketahui oleh masyarakat luas (Gunawan, 2010).
Hasil penelitian Hendriyanto (2011) terdapat pengaruh hipnoterapi terhadap tingkat stres, karena secara fisiologis saat seseorang masuk relaksasi hipnosis, gelombang pikirannya masuk ke gelombang alfa frekuensinya 7-14 hertz atau lebih dalam lagi ke gelombang theta frekuensinya 4-7 hertz. Ketika pikiran masuk ke gelombang ini, manusia menghasilkan zat endorphin alami yang menghasilkan sensasi nyaman. Pada tahap ini, sistem metabolisme tubuh menjadi jauh lebih baik dan tubuh bebas dari ketegangan.
Dari penelitian ditemukan satu fakta menarik, sekitar 75% dari semua penyakit fisik yang diderita banyak orang sebenarnya bersumber dari masalah mental dan emosi salah satunya adalah hipertensi. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat bermanfaat mengatasi hipertensi, asma, insomnia, bruxism, manajemen rasa nyeri akut maupun kronis, anorexia nervosa, makan berlebih, merokok dan gangguan-gangguan kepribadian (Gunawan, 2010).
Efek samping yang ditimbulkan oleh hipnorelaksasi sangat kecil yaitu pada tahap terminasi jika responden dibangunkan secara mendadak dari fase post hypnotic suggestion tanpa adanya kalimat sugesti positif maka responden akan mengalami kejutan psikologis ketika terbangun dari “tidur hipnotis”, dan akan membuat tekanan darah semakin tinggi. Terapi hipnorelaksasi tidak menggunakan obat yang diminum ataupun penggunaan alat kedokteran, terapi ini hanyalah menggunakan kekuatan sugesti yang langsung merelaksasikan kondisi seseorang, sehingga dapat menjadi lebih nyaman dalam waktu yang cukup singkat. Selain itu terapi hipnorelaksasi belum banyak dikenal dan dikembangkan sebagai terapi keperawatan di Indonesia.
Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi primer di Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul. Data yang diperoleh peneliti melalui wawancara dengan kader posyandu anggrek pada tanggal 28 mei 2013 bahwa jumlah penderita hipertensi yang tercatat sejmlah 35 orang, sedangkan pada tahun
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
4
2012 tercatat 32 orang yang menderita hipertensi. sampai saat ini penatalaksanaan pasien hipertensi di pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul masih berfokus pada penatalaksanaan medis, sedangkan penatalaksanaan non medis seperti hipnorelaksasi belum diterapkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah pengaruh hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah pada penyandang hipertensi di Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul”?.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Diketahui pengaruh hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah pada penyandang hipertensi di Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul.
2. Tujuan Khusus
a. Teridentifikasi karakteristik responden.
b. Diketahui rata-rata tekanan darah sistol dan diastol sebelum diberikan hipnorelaksasi pada kelompok intervensi.
c. Diketahui rata-rata tekanan darah sistol dan diastol tanpa diberikan hipnorelaksasi pada kelompok kontrol.
d. Diketahui rata-rata penurunan tekanan darah sistol dan diastol sesudah diberikan hipnorelaksasi pada kelompok intervensi.
e. Diketahui selisih tekanan darah sistol dan diasto pada kelompok kontrol dan intervensi.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
5
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi institusi pendidikan STIKES A. Yani.
Sebagai bahan referensi bagi para pengunjung perpustakaan STIKES A.
Yani Yogyakarta dalam menambah wawasan pengetahuan khususnya mengenai pengetahuan tentang hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah.
2. Bagi penderita hipertensi di pedukuhan VI Sonosewu.
Memberikan informasi tentang manfaat hipnorelaksasi untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi, serta sebagai bahan pertimbangan salah satu terapi nonfarmakologi untuk menurunkan tekanan darah tinggi.
3. Bagi peneliti selanjutnya.
Sebagai studi awal dimana data yang diperoleh dapat digunakan penelitian lebih lanjut, dalam mengetahui efektifitas hipnorelaksasi sebagai terapi lanjutan nonfarmakologi pada penderita tekanan darah tinggi, sehingga biaya yang mahal dan efek samping pemakaian obat anti hipertensi serta lamanya pengobatan dapat diminimalkan.
E. Keaslian Penelitian
1. Nugroho. (2012), meneliti tentang “ Efektifitas Refleksi Kaki Dan Hipnoterapi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi”. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan menggunakan rancangan penelitian two group pretest-postest design group metode pengumpulan sampel menggunakan accidental sampling dengan hasil mean rank pijat refleksi kaki lebih tinggi yaitu 40,00 pada sistol dan 35,50 pada diastol, sementara nilai mean rank pada hipnorelaksasi adalah 21,00 pada sistol dan 25,50 pada diastol analisa data statistik yang digunakan adalah Mann Whitney U-test.
Persamaan dengan peneliti yaitu variabel terikat dengan menggunakan responden penderita hipertensi, dan desain penelitian mengguanakan quasi eksperimen. Perbedaannya terdapat pada variabel bebas dimana pada peneliti hanya menggunakan hipnorelaksasi saja, rancangan penelitian peneliti
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
6
menggunakan pretest-postest with control group dan pengumpulan sampel menggunakan purposiv sampling.
2. Hendriyanto. (2011), meneliti tentang “Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Tingkat Stres Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran angkatan 2011”. Jenis penelitian ini adalah eksperimen yang termasuk dalam pretest dan posttest one group design. Analisa data statistik yang digunakan adalah Wilcoxon Match Pairs Test. Pengumpulan data menggunakan instrumen SSI (student stress inventory) yang dijadikan alat ukur item stresnya. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah responden 30 orang dari jumlah populasi 156 orang.
Penurunan tingkat stres terbukti dari prosentase tingkat stres normal setelah dilakukan hipnoterapi yaitu sebanyak 16 responden (53;33%) dari 30 responden pada tingkat stres normal sebelum dilakukan hipnoterapi.
Berdasarkan penelitian ini hipnoterapi efektif menurunkan tingkat stres.
Persamaan dengan penelitian adalah terapi intervensi yang digunakan yaitu hipnorelaksasi dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Perbedaanya adalah peneliti menggunakan desain pretest-postest with control group design.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
37 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Posyandu Anggrek terletak di Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul, untuk menjangkau Posyandu Anggrek relatif lebih mudah karena Posyandu Anggrek terletak di tengah-tengah Pedukuhan. Sonosewu adalah salah satu wilayah di lingkup pemerintahan desa Ngestiharjo dibawah tata administrasi Dukuh VI yang merupakan lingkungan perumahan yang telah berdiri sejak tahun 1981. Dalam perjalanannya tata kelola administratif perumahan Sonosewu sempat mengalami perubahan, pada awalnya tata administrasi adalah berupa paguyuban, setelah itu dalam perkembangannya bergabung ke tata kelola administrasi dibawah RW 19 yang koordinasinya langsung kedukuh 6, dan dibawahnya ada RT 11. Wilayah Sonosewu berbatasan dengan kota dan desa, sehingga sebagian besar penduduk Sonosewu menyukai makanan siap saji, dan kebiasaan merokok pada laki- laki masih banyak ditemukan.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
38
2. Analisa Hasil Penelitian a. Analisa Univariat
1) Karakteristik Responden Penelitian Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, dan Derajat Hipertensi dengan n = 23 orang
Karakteristik Kelompok
Total
Prosent ase (%) Kontrol Prosentase
(%)
Intervensi Prosentase (%)
a. Usia 45-50 th 51-55 th 56-59 th b. Jenis
Kelamin Laki-laki Perempuan c. Derajat HT
HT derajat I HT derajat II
8 2 1
4 7 3 8
72,7 18,2 9,1
36,4 63,6 27,3 72,7
6 2 4
3 9
8 4
50,0 16,7 33,3
25,0 75,0
66,7 33,3
14 4 5
7 16
11 12
60,9 17,4 21,7
30,4 69,6
47,8 52,2
Sumber : Data primer, 2013
Berdasarkan hasil studi pustaka pada bab 2, ada beberapa faktor resiko yang berperan dalam kejadian hipertensi, diantaranya yaitu faktor usia, dan jenis kelamin. Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa responden dengan usia 45-59 tahun lebih banyak, yaitu 8 orang (72,7%) pada kelompok kontrol dan 6 orang (50,0%) pada kelompok intervensi, sedangkan untuk jenis kelamin sebagian besar perempuan sebanyak 7 orang (63,6%) pada kelompok kontrol, dan 9 orang (75,0%) pada kelompok intervensi. Dari variabel derajat hipertensi, sebagian besar kelompok kontrol mengidap hipertensi derajat II dengan jumlah responden 8 orang (72,7%) dan pada kelompok intervensi
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
39
sebagian besar mengidap hipertensi derajat I dengan jumlah responden 8 orang (66,7%).
2) Tekanan Darah Sebelum dan Setelah Diberikan Hipnorelaksasi Pada Kelompok Intervensi
Tabel 4.2
Tekanan darah sistol responden sebelum dan setelah diberi hipnorelaksasi pada kelompok intervensi
Mean N SD Correlation Sig
Pre test sistol Post test sistol
156.2258 151,5708
12 12
6,83074 7,08802
0,986 0.000
Sumber : Data primer, 2013
Dari tabel 4.2 menunjukkan hasil tekanan darah sistol sebelum dan setelah diberikan hipnorelaksasi, dimana terjadi perbedaan rata- rata penurunan tekanan darah sistol dengan hasil rata-rata pre test sistol 156,2258 dan rata-rata post test sistol 151,5708 dengan hasil p- value 0,000.
Tabel 4.3
Tekanan darah diastol responden sebelum dan setelah diberi hipnorelaksasi pada kelompok intervensi
Mean N SD Correlation Sig
Pre test diastol Post test diastol
92,5008 90,4292
12 12
4,06369 3,90011
0,984 0.000
Sumber : Data primer, 2013
Dari tabel 4.3 menunjukkan hasil tekanan darah diastol sebelum dan setelah diberikan hipnorelaksasi, dimana terjadi perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah diastol dengan hasil rata-rata pre test diastol 92,5008 dan rata-rata post test diastol 90,4292 dengan hasil p-value 0,000.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
40
3) Tekanan Darah Tanpa Diberikan Hipnorelaksasi Pada Kelompok Kontrol
Tabel 4.4
Tekanan darah pre dan post test sistol responden pada kelompok kontrol
Mean N SD Correlation Sig
Pretest sistol Post test sistol
165.1045 165.1182
11 11
6.34399 6.44719
0,999 0.847
Sumber : Data primer, 2013
Dari tabel 4.4 menunjukkan hasil tekanan darah sistol sebelum dan setelah diberikan hipnorelaksasi, dimana tidak terjadi perbedaan rata- rata penurunan tekanan darah sistol dengan hasil rata-rata pre test sistol 165,1045 dan rata-rata post test sistol 165,1182 dengan hasil p-value 0,847.
Tabel 4.5
Tekanan darah pre dan post test diastol responden pada kelompok kontrol
Mean N SD Correlation Sig
Pretest diastol Post test diastol
90.2736 92.3518
11 11
2.89132 2.91236
0,990 0.540
Sumber : Data primer, 2013
Dari tabel 4.5 menunjukkan hasil tekanan darah diastol sebelum dan setelah diberikan hipnorelaksasi, dimana tidak terjadi penurunan tekanan darah diastol dengan hasil rata-rata pre test diastol 90,2736 dan rata-rata post test diastol 92,3518 dengan hasil p-value 0,540.
b. Analisa Bivariat
1) Hasil Uji Normalitas Data Tekanan Darah pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi. Pengujian pengaruh hipnorelaksasi dalam menurunkan tekanan darah pada responden hipertensi menggunakan
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
41
uji dua sampel berpasangan sebelum dilakukan uji normalitas. Hasil uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasil uji normalitas pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi disajikan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.6
Hasil Uji Normalitas Data Tekanan Darah Sistol pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi.
Shapiro-Wilk statisti
c
Df Sig Perubahan sistol kontrol
Perubahan sistol intervensi
0,616 0.933
11 12
0,000 0.418 Sumber: Data Primer,2013
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukan hasil uji normalitas pada perubahan sistole kelompok kontrol dan kelompok intervensi p value
<0,05 artinya data tidak berdistribusi normal sehingga perlu dilakukan uji Mann-Whitney Test.
Tabel 4.7
Hasil Uji Normalitas Data Tekanan Darah Diastol pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi.
Shapiro-Wilk statistic Df Sig Perubahan Diastol kontrol
Perubahan Diastol intervensi
0,507 0.869
11 12
0,000 0.064 Sumber: Data Primer,2013
Berdasrkan tabel 4.7 menunjukan hasil uji normalitas pada perubahan diastol kelompok kontrol dan kelompok intervensi p value
<0,05 artinya data tidak berdistribusi normal sehingga perlu dilakukan uji Mann-Whitney Test.
2) Uji Mann-Whitney Tes untuk Perbandingan Selisih Tekanan Darah Sistole pada Kelompok Kontrol dan Intervensi.
Uji statistik mengunakan Mann-Whitney Test untuk mengetahui selisih analisa hasil pre-test dan pos-test dari penurunan tekanan darah
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
42
pada saat penelitian yang dilakukan selama 7 hari berturut-turut dan dilakukan pada masing-masing kelompok. Hasil uji Mann-Whitney Test pengaruh hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah pada penyandang hipertensi disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Uji Mann-Whitney Test Perbandingkan Selisih Tekanan Darah Sistol Pada Kelompok Kontrol Dan Kelompok Intervensi.
Mean Sd Sig (2-tailed) ket
kontrol 0,0136 0,22787
0,000 Bermakna intervensi -4,6550 1,18097
Sumber: Data Primer,2013
Berdasarkan tabel 4.8 menunjukan hasil uji Mann-Whitney Test perbedaan tekanan darah sistole diperoleh p-value 0,000 sehingga <
0,05 artinya ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistole pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sesudah pemberian hipnorelaksasi.
Tabel 4.9 Uji Mann-Whitney Test Perbandingkan Selisih Tekanan Darah Diastol Pada Kelompok Kontrol Dan Kelompok Intervensi.
Mean Sd Sig (2-tailed) ket
kontrol 0,0782 0,40855
0,000 Bermakna intervensi -2,0717 0,72410
Sumber: Data Primer,2013
Berdasarkan tabel 4.9 menunjukan hasil uji Mann-Whitney Test perbedaan tekanan darah diastol diperoleh p-value 0,000 sehingga <
0,05 artinya ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistole pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sesudah pemberian hipnorelaksasi.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
43
B. Pembahasan 1. Karakteristik
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan distribusi frekuensi responden pada tabel 4.1 diperoleh hasil sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu 69,6%. Jenis kelamin juga sangat erat kaitannya terhadap terjadinya hipertensi, pada masa muda da paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi pada laki-laki dan pada wanita lebih tinggi setelah usia 55 tahun, ketika seorang wanita mengalami menopause (Mayer, 2011).
Karakteristik lain adalah usia, dalam penelitian ini sebagian besar responden berusia 45-50 tahun 60,9%. Usia memiliki pengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya usia maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi. Insiden semakin meningkat dengan meningkatnya usia. Penyakit ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah didalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada usia yang kurang dari 35 tahun akan meningkatkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur (Mayer, 2011).
2. Tekanan darah sebelum dan setelah diberikan hipnorelaksasi pada kelompok intervensi
Berdasarkan analisis data pengaruh hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah sebelum dan setelah dilakukan hipnoterapi didapatkan perbedaan rata-rata tekanan darah sistol sebelum dilakukan hipnorelaksasi sebesar 156,2258 dan setelah diberikan hipnorelaksasi rata-rata tekanan darah sistol 151,5708 dengan p sebesar 0,000 berarti signifikan artinya terdapat perbedaan yang bermakna. Sedangkan pada tekanan darah diastol didapatkan penurunan tekanan darah diastol dengan perbedan rata-rata tekanan darah diastol sebelum diberikan terapi 92,5008 dan rata-rata tekanan darah diastol setelah diberikan hipnorelaksasi 90,4292 dengan p sebesar 0,000 artinya terdapat perbedaan bermakna. Adanya pengaruh
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
44
hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Hendriyanto (2011) dengan judul pengaruh hipnoterapi terhadap tingkat stres mahasiswa fakultas ilmu keperawatan universitas padjajaran angkatan 2011, didapatkan penurunan tingkat stres terbukti dari prosentase tingkat stres normal setelah dilakukan hipnoterapi yaitu 16 responden dari 30 responden.
Adanya penurunan tekanan darah setelah diberikan hipnorelaksasi dipengaruhi penggunaan metode dalam pemberian hipnorelasasi. Pada penelitian ini, alat yang digunakan adalah rekaman suara, yang menggunakan teori Gunawan dengan teknik sugesti-post hipnosis dan imajinasi, teknik release, dan teknik pemahaman baru (relearning). Hal ini sesuai dengan pernyataan Gruzelier dalam Carol (2008) seorang pakar psikologi di Caring Cross Medical School, London, hipnotis berguna untuk menginduksi otak, dengan memerintahkan otak kiri untuk nonaktif dan memberikan kesempatan pada otak kanan untuk mengambil kontrol atas otak secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan dengan membantu otak fokus pada suatu hal secara monoton.
Penggunaan metode tersebut sesuai dengan tujuan dimana rekaman suara dengan intonasi datar merupakan cara penyampaian sugesti yang paling umum untuk membuat responden mudah berkonsentrasi.
Penggunaan teknik sugesti post hipnosis dan imajinasi langkah ini sangat efektif bila klien memiliki motivasi yang kuat untuk berubah, baik pada level pikiran sadar dan bawah sadar, sedangkan untuk teknik melepas dan teknik pemahaman baru terapi dilakukan untuk membentu klien untuk melepas perasaan atau emosi negatif dan membuat pemahaman baru , berdasarkan cara pandang dan kebijaksanaan orang dewasa, terhadap masalah yang dialami karna salah dan solusinya (Gunawan, 2010).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
45
3. Tekanan darah tanpa diberikan hipnorelaksasi pada kelompok kontrol
Menurut Listyani (2004) dalam Nugroho (2012), Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi yang sering terjadi pada usia lebih dari 30 tahun, dan kejadian ini akan meningkat pada lanjut usia. Sekitar 20% populasi orang dewasa mengalami hipertensi dan 90%nya merupakan hipertensi primer. Komplikasi yang sering terjadi pada penderita hipertensi apabila tidak terdeteksi secara dini antara lain komplikasi ginjal (10%), komplikasi otak/stroke (15%), dan komplikasi jantung (75%).
Menurut Pudiastuti (2011), terdapat beberapa penyebab hipertensi yaitu penggunaan garam dapur dan merokok. Selama penelitian peneliti menanyakan kepada responden laki-laki dan wanita tentang kebiasaan merokok dan konsumsi garam dapur secara keseluruhan, secara keseluruhan responden laki-laki merokok dan dalam sehari dapat menghabiskan setengah sampai satu bungkus rokok, sedangkan penggunaan garam dapur seluruh responden tidak mengetahui berapa banyak mereka menggunakan garam dapur.
Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat diubah, adapun hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan menyebabkan peningkatan tekanan darah karena nikotin akan diserap pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembuluh darah hingga ke otak, otak akan bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas efinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah, hal ini akan mengakibatkan tekanan darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup kedalam organ dan jaringan tubuh (Muhammadun, 2010).
Berdasarkan hasil analisa tidak terdapat perubahan tekanan darah sistol dan diastol pada kelompok kontrol dapat dilihat dari hasil analisa
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
46
yaitu rata-rata pre diastol yaitu 90,2736 sedangkan rata-rata post diastol 90,3518 dengan p-value 0,540 sedangakan pada rata-rata pre sistol 165,1045 dan rata-rata post diastol 165,1182 dengan hasil p-value 0,847.
Hal ini sama dengan hasil penelitian Aerni (2009), dengan judul perbedaan tekanan darah penderita hipertensi pada wanita dewasa yang melakukan senam yoga dan penderita hipertensi pada wanita dewasa yang tidak melakukan senam yoga. Didapatkan hasil bahwa pada kelompok kontrol dari 30 responden (100%), tidak ada yang mengalami penurunan tekanan darah baik sistol maupun diastol, hal ini di dukung dengan hasil penelitan Nugroha (2012) dengan judul efektifitas pijat refleksi kaki dan hipnoterapi terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Terdapat perbedaan keefektifan pengaruh pijat refleksi kaki dan hipnoterapi terhadap penurunan tekanan darah, hal ini terbukti dengan didapatkannya nilai signifikan (P) < 0,05. Pijat refleksi kaki lebih efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, hal ini dibuktikan dengan nilai mean rank pijat refleksi lebih tinggi yaitu 40,00 pada sistol dan 35,50 pada diastol, sementara nilai mean rank pada hipnoterapi adalah 21,00 pada sistol dan 25,50 pada diastol.
4. Selisih tekanan darah pada kelompok kontrol dan intervensi
Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat selisih penurunan tekanan darah sistol dan distol pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi, dimana hasil uji Mann-Whitney Test perbedaan tekanan darah sistole diperoleh p-value 0,000 sehingga < 0,05 artinya ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistole pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sesudah pemberian hipnorelaksasi.
Sedangkan hasil uji Mann-Whitney Test perbedaan tekanan darah diastol diperoleh p-value 0,000 sehingga < 0,05 artinya ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistole pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sesudah pemberian hipnorelaksasi.
Pada penelitian Hendriyanto (2011) mengungkapkan bahwa keadaan stres dapat mempengaruhi tingkat hipertensi, saat seseorang sedang berada
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
47
dalam kondisi stres, hipotalamus di otak mengirimkan pesan ke kelenjar endokrin dalam dua jalur besar. Sebagaimana yang diamati Selye dalam Carol (2007). Menurut Kemeny (2003 dalam Carol 2007) jalur pertama mengaktifkan bagian simpatetik pada sistem saraf otonom untuk melakukan respons “lawan atau lari”, hasilnya adalah pelepasan epinephrin dan norepinephrin dari bagian dalam medulla kelenjar adrenal.
Hipotalamus juga memicu aktivitas sepanjang aksis HPS (Hipotalamus Pituitary Adrenal cortex): hipotalamus melepaskan pesan- pesan kimiawi yang berkomunikasi dengan kelenjar pituitari, yang selanjutnya akan mengirimi pesan-pesan ke bagian luar (Korteks) dari kelenjar adrenal. Adrenal korteks mengeluarkan kortisol dan hormon- hormon lain yang meningkatkan gula darah dan melindungi jaringan tubuh dari peradangan jika terjadi luka. Hal yang menarik adalah, tidak semua stresor menghasilkan peningkatan kortisol. Kortisol paling mungkin dipicu oleh stresor psikologi. Salah satu hasil pengaktifkan aksis HPA adalah peningkatan energi, yang penting bagi respon jangka pendek terhadap stres. Namun jika kortisol dan hormon stres lain tetap tinggi dalam jangka waktu terlalu lama, hal ini akan membahayakan kesehatan karena berperan memunculkan tekanan darah tinggi, gangguan kekebalan tubuh.
Secara fisiologis saat seseorang masuk relaksasi hipnosis, gelombang pikirannya masuk ke gelombang alfa frekuensinya 7-14 hertz atau lebih dalam lagi ke gelombang theta frekuensinya 4-7 hertz. Ketika pikiran masuk ke gelombang ini, manusia menghasilkan zat endorphin alami yang menghasilkan sensasi nyaman. Pada tahap ini, sistem metabolisme tubuh menjadi jauh lebih baik dan tubuh bebas dari ketegangan (Hendriyanto, 2011).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
48
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki berbagai keterbatasan yang mengakibatkan hasilnya kurang sesuai dengan yang diharapkan. Keterbatasan tersebut meliputi :
1. Kesulitan penelitian
a. Jarak rumah setiap responden yang cukup berjauhan sehingga waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan data lebih lama
b. Terdapat beberapa responden yang mengalami kejenuhan dalam menjalankan terapi, sehingga peneliti harus terus memotivasi responden dengan memberitahukan tekanan darah sebelum dan setelah dilakukan pemberian hipnorelaksasi responden agar responden tetap ingin mengikuti terapi yang diberikan.
c. Beberapa responden tidak memenuhi jadwal yang telah disepakati karena adanya aktifitas tertentu yang tidak direncanakan sebelumnnya sehingga peneliti harus mencarikan jadwal pengganti dihari yang sama untuk responden tersebut
2. Kelemahan penelitian
a. Peneliti belum mengendalikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tekanan darah yaitu obesitas, riwayat keluarga, merokok, dan obat-obat hipertensi yang di gunakan.
b. Peneliti tidak mempertimbangkan perbedaan lamanya responden mengalami penyakit hipertensi, yang memungkinkan perbedaan responden dalam penurunan tekanan darah.
c. Spygmomanometer yang digunakan sebaiknya spygmomanometer digital.
d. Pemberian intervensi pada setiap responden berbeda-beda, ada yang dilakukan setiap hari dengan waktu yang sama dan ada yang dilakukan setiap hari dengan waktu yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi hasil data yang diperoleh.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
49 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan karakteristik responden sebagian besar usia pada kelompok kontrol dan intervensi yaitu berusia 45-50 tahun dengan jenis kelamin sebagian besar berjenis kelamin perempuan, dan untuk derajat hipertensi pada kelompok kontrol sebagian besar responden hipertensi derajat II dan pada kelompok intervensi sebagian besar responden hipertensi derajat I.
2. Pada kelompok intervensi perbeadan rata-rata tekanan darah sistol responden sebelum diberikan interensi 156,2258, sementara untuk perdebaan tekanan darah diastol sebelum diberikan hipnorelaksasi 92,5008.
3. Pada kelompok kontrol perbedaan tekanan darah pre sistol 165,1045 dan perbedaan rata-rata post sistol 165,1182 dengan p-value 0,847, sementara perbedaan rata-rata pre diastol 90,2736 dan perbedan rata-rata post diastol 92,3518 dengan p-value 0,540.
4. hasil uji normalitas data tidak berdistribusi normal sehingga perlu dilakukan uji Mann-Whitney Test. hasil uji Mann-Whitney Test perbedaan tekanan darah ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan. Selisih tekanan darah sistol dan diastol pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol yaitu ada perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistole pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sesudah pemberian hipnorelaksasi.
5. Menurut hasil pengolahan data, Ho dalam penelitian ini diterima. Ho dalam penelitian ini adalah ada perbedaan bermakna antara tekanan darah sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi, sedangkan pada kelompok kontrol, Ho ditolak karena tidak terjadi perubahan bermakna tekanan darah pada kelompok kontrol.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
50
B. Saran
Bardasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi Responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu responden yang memiliki hipertensi derajat I dan II untuk menanggulangi atau mengurangi tekanan darah yang dialami melalui self hypnosis agar dapat mengatur tekanan darah dengan baik melalui hipnorelaksasi.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian tentang pengaruh hipnorelaksasi terhadap penurunan tekanan darah di Pedukuhan VI Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta dapat digunakan sebagai data awal untuk meneliti tekanan darah lebih lanjut, atau variabel terikat lainnya seperti menurunkan berat badan, menurunkan tingkat stres.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
DAFTAR PUSTAKA
Ananta. (2009). Waspada Gejala Penyakit Mematikan Jantung Koroner dengan 3 Jenis Penyakit yang Berkaitan: Hipertensi, Diabetes Melitus, Stroke.
Yogyakarta: TUGU Publisher.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Carol, W. (2008). Psikologi. Edisi 9, jilid 2: Jakarta. Salemba Medika.
Depkes RI. (2007). Masalah Hipertensi di Indonesia. http://www.depkes.go.id.
Diakses Jumat, 4 Januari 2013, pukul: 19.45 WIB.
Fachri, H. A. (2008). The Real Art of Hypnosis Kolaborasi Seni Hipnosis Timur- Barat. Jakarta: GagasMedia.
Gunawan, A. P. (2011). Peran Hipnoterapi Dalam Proses Pemulihan Penyalah Gunaan Narkoba Pada Remaja. Jurnal Perpustakaan Unika.
Gunawan, A.W. (2010). Hypnotherapy the Art of Subconscious Restructuring.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Hendriyanto. (2011). Pengaruh Hypnoterapi Terhadap Tingkat Stres Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Angkatan 2011. Media Ners, 1, 49-56.
Madina. (2013). Menkes: Prevalensi Hipertensi Di Indonesia. http://madina.co.id.
Diakses. senin, 25 Februari 2013. Pukul. 17:30 WIB.
Mary & Suswadi. (2008). Klien Gangguan Kardiavaskuler “Seri Asuhan Keperawatan”. Jakarta:Kedokteran EGC.
Mayer. (2012). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC
Muhammadun. (2010). Hidup Bersama Hipertensi. Yogyakarta: In-Book.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, A. P. (2012). Efektifitas Pijat Refleksi Kaki dan Hipnoterapi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 8, 57-50.
Nursalam. (2011). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
Ode, S. L. (2012). Asuhan Keperawatan Gerontik Berstandarkan NANDA, NIC, dan NOC di Lengkapi Teori dan Contoh Kasus Askep. Yogyakarta: Nuha Medika.
Pudiastuti, R. D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke, di Lengkapi dengan Posyandu Lansia dan Posbindu PTM. Yogyakarta: Nuha Medika.
Rafael, R. (2013). Bagaimana Mengatasi Stress.
http://Howtoovercomestress.Ind.com. Diakses, kamis 2 Mei 2013.
Santos, Y. (2010). Ebook Kumpulan Artikel Praktis Hipnoterapi.
http://yussantos.wordpress.com. Diakses, kamis 2 mei 2013.
Sudoyo, A.W. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 edisi 5. Jakarta:
Interna Publishing.
______. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Interna Publishing.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
______. (2010). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Syamsudin. (2011). Buku Ajar Farmakoterapi Kardiovaskular dan Renal. Jakarta:
Salemba Medika.
Udjianti, W. J. (2010). Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.
Underwood, J.C.E. (2000). Patologi Umum dan Sistemik. Edisi 2 volume 2.
Jakarta:EGC