• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN SUPPLY CHAIN PRODUK OLAHAN SUSU (STUDI PADA CV CITA NASIONAL GETASAN) TESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANAJEMEN SUPPLY CHAIN PRODUK OLAHAN SUSU (STUDI PADA CV CITA NASIONAL GETASAN) TESIS"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN SUPPLY CHAIN PRODUK OLAHAN SUSU

(STUDI PADA CV CITA NASIONAL GETASAN)

TESIS

Diajukan kepada

Program Pascasarjana Magister Manajemen Untuk Memperoleh Gelar Magister Manajemen

Oleh YULIYARTO

912014035

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2018

(2)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Dengan meningkatnya persaingan, peran manajemen rantai pasok menjadi penting. Dalam manajemen rantai pasok, perusahaan tidak hanya mengelola internal perusahaan, tetapi juga pasokan input serta distribusi outputnya. Tujuan utama manajemen supply chain adalah untuk memuaskan konsumen, mengurangi biaya dan waktu, meningkatkan hasil dari seluruh supply chain, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi. Artinya tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai pasok yaitu memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra dan Meindl, 2010).

Rantai pasok yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai pasok tersebut.

Manajemen supply chain merupakan solusi terbaik untuk memperbaiki tingkat produktivitas perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang baru (Watanabe, 2001).

Hal inilah yang menjadi alasan pentingnya manajemen rantai pasok yang berkaitan dengan seluruh rangkaian kegiatan mulai dari awal yaitu pemasok input sampai kepada konsumen akhir sebagai pelanggan suatu produk.

Turban et al. (2004) membagi komponen rantai pasok menjadi tiga kelompok yaitu: pertama, rantai pasok Hulu

(3)

2

(Upstream supply chain) yang meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para pemasoknya. Hubungan para pemasok dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material. Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan. Kedua, rantai pasok internal meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para pemasok ke dalam keluaran organisasi. Dalam rantai pasok internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan. Ketiga, rantai pasok hilir (downstream supply chain) meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam rantai pasok hilir, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after sales service. Penerapan manajemen rantai pasok sangat penting, karena sistem ini memiliki kelebihan mengelola aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasok. Model manajemen rantai pasok mampu mengaplikasikan bagaimana suatu jaringan kegiatan produksi dan distribusi dari suatu perusahaan dapat bekerja bersama- sama untuk memenuhi tuntutan konsumen.

Pentingnya manajemen rantai pasok pada perusahaan pengolahan susu adalah karena susu merupakan produk yang sangat rentan terhadap kerusakan, sehingga membutuhkan penanganan khusus mulai dari pengiriman oleh pemasok,

(4)

3

penanganan saat diterima perusahaan, penyimpanan, proses pengolahan hingga cara pengiriman kepada konsumen, untuk memastikan produk susu berada pada tempat dan waktu yang tepat untuk memenuhi permintaan konsumen tanpa menciptakan stok yang berlebihan atau kekurangan serta memberikan keuntungan besar bagi perusahaan. Sasaran dalam manajemen rantai pasok adalah memaksimumkan keseluruhan nilai rantai pasok yang diciptakan. Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan susu menyebabkan persaingan dalam industri tersebut semakin meningkat. Keunggulan kompetitif perusahaan akan menjadi penting untuk dapat bertahan dalam industri tersebut. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk mendapatkan keuntungan dari pengembangan organisasi dalam globalisasi adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi. Manajemen produksi dan persediaan sangat memainkan peranan penting dalam penciptaan keunggulan kompetitif dari industri karena mempengaruhi formulasi dari strategi- strategi bisnis industri.

Perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan susu dengan sistem pemasaran job order berdasarkan atas kesepakatan antara perusahaan dan konsumen. Kesepakatan itu mencakup jumlah produk yang dipasarkan, harga produk, kualitas produk, ragam produk, cara pendistribusian produk, dan cara pembayaran. Permasalahan dalam manajemen rantai

(5)

4

pasok produk olahan susu yaitu ketidakpastian permintaan atau pesanan, ketidakpastian dari supplier yang berupa lead time pengiriman, harga bahan baku atau komponen. Produksi yang dilakukan dengan sistem order harian, kuantitas produksinya diketahui secara mendadak, fluktuasi order tidak menentu.

Persediaan bahan baku dan kualitas selalu menjadi masalah karena membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan uji kualitas dan susu yang masuk dengan standar kualitas yang sesuai keinginan perusahaan belum tentu diterima, harus disesuaikan jumlah persediaan susu yang ada dengan jumlah order yang akan di produksi. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Budiyono (2009) sejalan dengan peradaban manusia dan perkembangan teknologi modern, manusia menemukan cara perlakuan dan praktik pengolahan terhadap susu, sehingga menghasilkan ragam produk susu yang tersedia di pasar bagi penduduk di seluruh dunia. Dengan adanya pengolahan terhadap susu, maka produk susu yang dihasilkan dapat disimpan lebih lama sebelum dikonsumsi, memungkinkan bagi konsumen menyesuaikan pembelian produk susu dengan fungsi kebutuhan, kegunaan, dan seleranya. Setiap produk susu memiliki daya simpan yang berbeda, sedangkan daya simpan produk susu dipengaruhi terutama oleh kualitas bahan baku susu yang digunakan.

(6)

5

Masalah yang juga sangat penting adalah kebutuhan bahan baku yang mendadak dengan jumlah yang sangat besar.

Ketidakpastian kualitas pada proses produksi di internal perusahaan bisa diakibatkan oleh kerusakan dan kinerja mesin yang kurang maksimal, kualitas bahan baku pendukung yang kurang baik, kurangnya kemampuan sumber daya manusia, keterlambatan proses distribusi kepada pelanggan. Sedangkan tidak seimbangnya kapasitas mesin proses produksi dengan mesin pengemasan, mesin yang sudah usang, kebocoran pada pompa dan pipa saluran sangat berpengaruh pada kecepatan produksi, lokasi antar bagian kerja yang berjauhan sehingga menyebabkan pemborosan waktu dan biaya.

Kegiatan ini melibatkan koordinasi antara pihak-pihak dalam rantai pasok, tidak hanya bagian persediaan saja, tetapi juga informasi tentang pasar yang berguna bagi perencanaan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Dengan demikian peran serta pemasok, perusahaan transportasi dan jaringan distributor sangat dibutuhkan. Dalam penelitian sebelumnya, Kartodinoto (2015) menjelaskan bahwa penanganan produk pertanian berupa susu sapi segar yang tergolong sebagai perishable produk membutuhkan perhatian, khususnya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan produk sepanjang pasokan fisik agar sebanding dengan standar negara-negara lain. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Septiani (2015) yang menyimpulkan

(7)

6

bahwa risiko rantai pasok agroindustri susu terletak pada karakteristik produknya yang mudah rusak yang disebabkan oleh penanganan susu yang tidak tepat. Risiko tertinggi yang teridentifikasi pada rantai pasok susu ini adalah risiko susu terkontaminasi bakteri dan antibiotik.

Sementara itu penelitian Simanjuntak (2013) menunjukkan bahwa kompleksitas yang tinggi dari jaringan rantai pasok dan karakteristik Manggis menjadikan buah Manggis lebih rentan terhadap munculnya risiko kerugian, sehingga belum dapat memberikan peningkatan kesejahteraan yang cukup bagi para pelaku atau mitra rantai pasok Manggis.

Pengembangan manajemen risiko rantai pasok Manggis yang berkelanjutan, dilakukan pengendalian risiko dengan melakukan peningkatan manajemen produk, manajemen pasokan dan manajemen informasi yang diutamakan pada proses pengadaan dan produksi buah Manggis.

Penelitian lain juga dilakukan oleh Setiawan dkk (2011) menyimpulkan bahwa hasil analisis menghasilkan tiga komoditas sayuran terpilih yang mempunyai nilai tertinggi yaitu Paprika, Lettuce dan Brokoli. Analisis nilai tambah menunjukkan persentase nilai tambah petani masih lebih kecil dibandingkan pelaku yang lain. Persentase nilai tambah petani akan lebih besar jika terjadi pengalihan sebagian aktifitas pengolahan produk, peningkatan kualitas dan efektifitas peran kelembagaan petani. Pengukuran kinerja rantai pasok

(8)

7

komoditas sayuran menunjukkan bahwa kinerja efisiensi petani belum mencapai 100 %. Kinerja efisiensi perusahaan pada kasus komoditi lettuce dan sayuran segar potong telah mencapai 100%.

Kualitas hubungan sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi antar rantai pasok yang secara tidak langsung mempengaruhi daya saing koperasi susu secara umum melalui peningkatan kualitas hubungan. Hal ini sejalan dengan research gap yang dilakukan oleh Penelitian Pratiwi (2014) menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara koperasi susu dengan para stakeholdernya berpengaruh positif terhadap daya saing koperasi susu. Sedangkan kualitas hubungan sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi di antara mereka.

Penelitian di atas hanya membahas tentang manajemen rantai pasok secara parsial. Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai Manajemen Supply Chain Produk Olahan Susu (Studi pada CV Cita Nasional Getasan). Dalam penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya karena ingin mempelajari manajemen rantai pasok secara komprehensif mulai internal, hulu dan hilir. Distribusi yang optimal dapat dicapai melalui penerapan manajemen rantai pasok di CV Cita Nasional dengan mengintegrasikan manufaktur, pemasok, retailer dan penjual

(9)

8

secara efisien, sehingga barang dapat diproduksi dan didistribusikan dengan jumlah dan biaya yang tepat.

1.2. Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana manajemen Supply Chain produk olahan susu pada CV Cita Nasional Getasan

dalam mengoptimalkan rantai pasok perusahaan.

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah penelitian diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana permasalahan pada manajemen rantai pasok internal produk olahan susu di CV Cita Nasional?

2. Bagaimana permasalahan pada manajemen rantai pasok hulu produk olahan susu di CV Cita Nasional?

3. Bagaimana permasalahan pada manajemen pada rantai pasok hilir produk olahan susu di CV Cita Nasional?

4. Apa sajakah upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan manajemen rantai pasok produk olahan susu di CV Cita Nasional?

1.4. Tujuan Penelitian.

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui permasalahan pada manajemen rantai pasok internal produk olahan susu di CV Cita Nasional.

(10)

9

b. Untuk mengetahui permasalahan pada manajemen rantai pasok hulu produk olahan susu di CV Cita Nasional.

c. Untuk mengetahui permasalahan pada manajemen rantai pasok hilir produk olahan susu di CV Cita Nasional.

d. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan manajemen rantai pasok produk olahan susu di CV Cita Nasional.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah:

a. Dapat memberikan masukan dan pertimbangan dalam menjalankan operasional perusahaan, menjaga hubungan dengan pemasok dan pelanggannya, merencanakan strategi perusahaan untuk meningkatkan keunggulan bersaing.

b. Bagi peneliti, dapat mengenal lebih jauh tentang manajemen distribusi, pemasaran dan penjualan susu serta memberikan alternatif pemecahannya yang ada di CV Cita Nasional.

c. Dapat memberikan informasi kepada pengusaha yang akan memulai usaha baru di bidang industri susu.

(11)

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Rantai Pasok

Manajemen rantai pasok menurut Ling Li (2007) adalah sekumpulan aktivitas dan keputusan yang saling terkait untuk mengintegrasikan pemasok, manufaktur, gudang, jasa transportasi, pengecer dan konsumen secara efisien. Dengan demikian barang dan jasa dapat direalisasikan dalam jumlah, waktu dan lokasi yang tepat untuk meminimumkan biaya dan mengoptimalkan produksi demi meningkatkan surplus atau nilai perusahaan serta untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai pasok adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra dan Meindl, 2007). Rantai pasok yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. Hal yang paling mendasar dalam penerapan dari manajemen rantai pasok adalah bagaimana dapat memenuhi permintaan pasar yang sangat fluktuatif, tantangan operasional, dan menghadapi serta menyesuaikan terhadap perkembangan-perkembangan di dalam rantai pasok itu sendiri seperti isu lingkungan, dan seterusnya.

(12)

11

Menurut Chopra dan Meindl (2010), rantai pasok memiliki sifat yang dinamis namun melibatkan tiga aliran yang konstan, yaitu aliran informasi, produk dan uang.

Russell dan Taylor (2006) menjelaskan bahwa Manajemen rantai pasokan berfokus pada mengintegrasikan dan mengelola aliran barang dan jasa dan informasi melalui rantai suplai untuk membuatnya responsif terhadap kebutuhan pelanggan sambil menurunkan total biaya.

Manajemen rantai pasok dapat berjalan dengan sukses yaitu dibutuhkan perubahan dari mengelola fungsi individual menjadi suatu aktivitas yang berintegrasi ke dalam proses inti rantai pasok. Pada Gambar 2.1 memberikan ilustrasi sebuah rantai pasok yang sederhana. Sebuah rantai pasok akan memiliki komponen-komponen yaitu raw material, transportasi, manufaktur, pergudangan, distributor, retil, dan konsumen akhir (Hugos, 2006).

Gambar 2.1.

Model Rantai Pasok (Hugos, 2006)

Bahan baku dipasok oleh pemasok, diangkut oleh perusahaan transportasi menuju manufactur yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Barang jadi disimpan oleh

(13)

12

pergudangan dan didistribusikan oleh distributor kepada konsumen akhir melalui pengecer.

Pujawan (2005) menjelaskan rantai pasok merupakan jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau retailer, serta perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik.

Pada suatu rantai pasok biasanya ada 3 macam aliran yang harus dikelola antara lain:

1) Aliran barang yang mengalir dari hulu atau upstream ke hilir atau downstream. Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik. Setelah produk selesai di produksi, mereka dikirim ke distributor, lalu ke retailer, kemudian ke pemakai akhir.

2) Aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu. Contohnya adanya permintaan dari konsumen ke distributor, informasi serta biaya nya didasarkan pada peramalan permintaan konsumen tidak didasarkan pada strategi pemasaran produk.

3) Aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya. Informasi tentang ketersediaan kapasitas produksi yang dimiliki oleh supplier juga sering dibutuhkan oleh pabrik. Informasi tentang status

(14)

13

pengiriman bahan baku sering dibutuhkan oleh perusahaan yang mengirim maupun yang akan menerima untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.

Dalam konsep rantai pasok, Arnold dan Chapman (2004) menjelaskan tiga tahapan dalam aliran material. Bahan mentah didistribusikan ke manufaktur membentuk suatu sistem physical supply, manufaktur mengolah bahan mentah, dan produk jadi didistribusikan kepada konsumen akhir membentuk sistem physical distribution. Aliran material tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Perencanaan dan

Pengendalian Distribusi Fisik Produksi

Aliran Dominan dari Produk atau Jasa

Aliran Dominan dari Permintaan dan Informasi Desain

Gambar 2. 2.

Pola Aliran Material (Arnold dan Chapman, 2004) Syarat utama penerapan manajemen rantai pasok adalah dukungan manajemen. Manajemen semua tingkatan dari strategis sampai operasional harus memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, sampai pengendalian. Selain dukungan

P e m a s o k

Manufaktur Sistem

Distribusi

K o n s u m e n

Fisik Supply

(15)

14

manajemen, syarat lain merupakan syarat yang melibatkan faktor eksternal yaitu pemasok dan distributor.

Risiko rantai pasok merupakan ketidakpastian terjadinya suatu peristiwa yang bisa menjadi satu atau beberapa pasangan atau jaringan di dalam rantai pasok dan dapat mempengaruhi (umumnya dalam arti negatif) pencapaian tujuan bisnis perusahaan (Pinto, 2007).

Juttner (2003) menjelaskan bahwa risiko rantai pasok mengacu pada kemungkinan dan dampak ketidakcocokan antara demand dan supply. Sumber risiko adalah lingkungan, organisasi atau penyedia variabel rantai terkait yang tidak dapat diprediksi dengan pasti dan yang berdampak pada variabel hasil rantai pasok. Risk consequences adalah fokus variabel hasil rantai pasok seperti misalnya biaya atau kualitas, yaitu bentuk yang berbeda di mana berbagai macam risiko menjadi terwujud.

Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan rantai pasok adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat diantara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan (Indrajit dan Djokopranoto, 2002).

Menurut Turban et al., (2008) kesuksesan suatu manajemen rantai pasok tergantung pada:

(16)

15

a. Kemampuan semua mitra rantai pasokan untuk melihat mitra kolaborasi sebagai aset strategis.

b. Strategi rantai pasokan yang didefinikan dengan baik.

c. Visibilitas informasi sepanjang seluruh rantai pasokan.

d. Kecepatan, biaya, kualitas, dan layanan konsumen.

e. Mengintegrasikan rantai pasokan yang lebih erat

Kriteria sukses manajemen rantai pasok menurut Cohen and Roussel (2005) terdapat empat kriteria manajemen rantai pasok yaitu: 1) sesuai dengan strategi bisnis, 2) mampu memenuhi keinginan konsumen, 3) mampu memahami posisinya dalam jaringan, dan 4) adaptif.

Menciptakan kesesuaian antara karakteristik produk atau pasar dengan strategi rantai pasok sangatlah penting.

Kesesuaian ini yang disebut dengan strategic fit akan menyebabkan rantai pasok bertahan atau unggul di pasaran.

Strategic fit merupakan konsistensi antara prioritas pelanggan yang diharapkan mampu dipenuhi oleh strategi kompetitif dan kemampuan rantai nilai yang dapat dibangun dengan strategi supply chain. Hayati (2014) menjelaskan strategic fit dicapai dengan tiga tahap yaitu:

1) Memahami pelanggan dan ketidakpastian rantai pasokan.

Kebutuhan ini membantu perusahaan menemukan keinginan biaya dan permintaan jasa. Ketidakpastian rantai pasokan membantu perusahaan mengidentifikasi

(17)

16

tingkat ketidakmampuan dalam memprediksi permintaan, gangguan, dan keterlambatan.

2) Memahami kemampuan rantai pasokan. Terdapat beberapa jenis rantai pasok, masing-masing dirancang untuk pelaksanaan tugas yang berbeda. Perusahaan seharusnya mengetahui bagaimana rantai pasok didesign dengan baik.

3) Pencapaian strategi fit. Apabila terdapat persaingan yang tidak sebanding antara rantai pasok dengan kebutuhan pelanggan, perusahaan juga akan mengatur kembali rantai pasokan untuk mendukung strategi kompetitif atau mengubah strategi kompetitif.

Unsur-unsur pembuatan strategi manajemen rantai pasok menurut Siagian (2005) terdiri dari faktor primer yaitu keunggulan bersaing, fleksibilitas permintaan dan faktor sekunder yaitu kapabilitas proses, batas waktu proses, dan risiko strategi.

a) Faktor Primer

(1) Keunggulan Bersaing

Secara umum keunggulan bersaing dapat diperoleh melalui diferensiasi produk, kepeloporan biaya atau berusaha meminimalisasi biaya tanpa mengurangi nilai dan kualitas produk, respon yang cepat dimana ditandai dengan sifat fleksibel, reliabel, dan cepat tanggap terhadap perubahan-perubahan.

(18)

17 (2) Fleksibilitas Permintaan

Fleksibilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu produk itu sendiri, campuran produk, volume, dan tipe pengantaran. Pengukuran dan fleksibilitas dapat dilihat dari ketepatan pengantaran dan peramalan permintaan yang tepat.

b) Faktor Sekunder (1) Kapabilitas proses

Faktor kapabilitas berkaitan dengan sejauh mana perusahaan dapat menjalankan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan dan sangat tergantung pada tipe kegiatan.

(2) Kematangan proses

Faktor kematangan proses sangat berkaitan dengan tingkat kinerja proses, bagaimana proses ini dapat tangkap dan memenuhi penawaran pasar.

(3) Risiko strategi

Risiko strategi mencakup penyebaran risiko, yaitu risiko yang diterima perusahaan akibat adanya kebocoran informasi tentang produk dan layanannya, baik itu yang diterima atau diberikan pemasok, sehingga pesaing dapat mengetahui strategi-strategi perusahaan.

Salah satu strategi yang dikembangkan dalam menghadapi masalah produksi yang ada pada saat ini adalah melalui penerapan manajemen rantai pasok yang memberikan dampak dalam ketersediaan suatu barang bahan

(19)

18

baku yang akan diolah dan peningkatan keunggulan kompetitif terhadap produk maupun pada sistem yang dibangun itu sendiri. Penerapan manajemen rantai pasok, pengolahan susu dalam penelitian ini bertujuan untuk menciptakan kepuasan anggota yang ada dalam rantai pasok melalui pengembangan komitmen yang transparan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, manajemen rantai pasok yang komprehensif diterapkan untuk mengetahui dan mengevaluasi pelaksanaannya dan ketepatan suatu barang sampai yang menjamin persediaan bahan baku pengolahan susu. Langkah yang sangat penting dalam melakukan manajemen rantai pasokan pengolahan susu adalah menggalang dan memperbaiki komunikasi antar para pelaku supply dari hilir sampai hulu.

Berdasarkan penjelasan umum di atas, konsep manajemen rantai pasok yang telah digunakan bertujuan untuk menciptakan kolaborasi serta kerjasama di antara pelaku rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku. Manajemen rantai pasok dapat berjalan dengan sukses yang dibutuhkan perubahan dari pengelolaan fungsi individual menjadi suatu aktivitas yang berintegrasi ke dalam proses inti. Kelebihan penerapan manajemen rantai pasok yaitu perusahaan mampu mengatur aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasok. Adanya manajemen rantai pasok dalam perusahaan ini dimungkinkan meningkatkan

(20)

19

efektifitas dan efisiensi dalam proses pembelian bahan baku, pemenuhan pesanan serta proses distribusi barang jadi.

2.2. Manajemen Rantai Pasok Internal dan Permasalahannya Dilihat dari kegiatannya, logistik meliputi kegiatan seperti pergudangan distribusi barang, transportasi barang dan pengelolaan pesanan. Sementara, rantai pasok meliputi kegiatan logistik diatas, ditambah dengan beberapa kegiatan lagi seperti pembelian, pengadaan, perencanaan kapasitas produksi, perencanaan pasokan, dan perencanaan kebutuhan.

Kegiatan yang terpenting dalam rantai pasok adalah bagaimana cara untuk menyeimbangkan supply dan demand.

Pembahasan saat ini, akan lebih memperhatikan logistik dalam manajemen rantai pasok yaitu manajemen strategi pada aliran barang dalam rantai pasok. Ketika mencoba untuk mengoptimasi aliran total dalam rantai pasok, harus dijelaskan bahwa keuntungan perusahaan dalam pasokan dapat bertentangan dikarenakan oleh distribusi parsial dari biaya dan keuntungan diantara Perusahaan.

Persediaan bahan baku juga mengalami perputaran yang berbeda–beda, tinggi rendahnya perputaran akan berpengaruh langsung terhadap besar kecilnya dana yang ditawari atau dibutuhkan dalam persediaan tersebut (Siagian, 2005).

Mengelola persediaan melibatkan berbagai jenis masalah karena mengelola persediaan tidak dapat ditangani dengan

(21)

20

menggunakan metode solusi tunggal. Perencanaan material handling di dalam perusahaan atau pabrik harus menyesuaikan dengan tata letak dari perusahaan karena tata letak yang baik dapat menangani sistem material handling secara menyeluruh. Apabila sistem material handling yang kurang sistematis menjadi masalah yang cukup besar dan mengganggu proses produksi (Simanjuntak et al, 2010).

Rochman et al (2010) mendefinisikan material handling merupakan pergerakan, penyimpanan, perlindungan, pengendalian material di seluruh proses manufaktur dan distribusi termasuk penggunaan dan pembuangannya atau sebagai penyediaan material dalam jumlah, kondisi, posisi, waktu dan tempat yang tepat untuk mendapatkan ongkos yang efisien.

Pratiwi (2015) dalam penelitiannya menjelaskan permasalahan penanganan bahan baku dalam pengambilan sampel untuk produk setengah jadi. Hasil temuannya adalah susu setengah jadi merupakan susu hasil mixing pada tangki mixing yang kemudian dilakukan pencampuran flavor maupun pewarna pada tangki. Susu dari tangki kemudian dialirkan ke balance tank, untuk dilakukan proses selanjutnya. Pengujian produk setengah jadi dilakukan sebagai bentuk kontrol mutu sebelum mengalami proses pengolahan lebih lanjut.

Pengambilan sampel untuk produk jadi dilakukan setelah proses pasteurisasi selesai. Sampel produk jadi yang sudah

(22)

21

dikemas dalam wadah cup diambil dari bagian filling dan packaging.

Dalam penelitian lain, Septiana (2015) juga menjelaskan bahwa tujuan penelitiannya adalah untuk merancang model performansi dan risiko rantai pasok agroindustri susu. Hasil temuannya yaitu menerjemahkan suatu besaran yang diekspresikan menggunakan bahasa. Ada tiga komponen yang dipertimbangkan dalam rancangan model yaitu profil performansi, profil risiko dan eksposur risiko dalam ukuran waktu, biaya dan kualitas.

Widodo et al (2011) menjelaskan bahwa salah satu kendala bahan baku susu adalah sifat bahan baku yang perishable atau mudah rusak atau tidak tahan lama. Selain menjaga kualitas bahan baku, penangan bahan baku berfungsi untuk menjaga agar bahan baku tidak rusak atau hilang dan mengalami penurunan nilai selama pergerakan fisik berlangsung.

Menurut Simanjuntak et al (2010), kendala yang dialami perusahaan dalam proses dan fasilitas produksi adalah dalam hal pemindahan bahan baku yang kurang efisien. Seperti dalam proses produksinya terdapat aliran pemindahan bahan yang berpotongan dikarenakan tata letak mesin yang kurang teratur sehingga dapat mengakibatkan proses produksi terganggu, jarak antar departemen produksi yang cukup jauh sehingga menimbulkan biaya material handling yang mahal.

(23)

22

Dalam rantai pasok internal, performansi rencana, persediaan bahan baku dan penanganan bahan baku adalah suatu komponen penting dalam perencanaan fasilitas, terutama dalam kaitannya dengan pengolahan susu yang bertujuan sebagai tindakan untuk menjaga kualitas dari bahan baku selama proses produksi susu berlangsung.

2.3. Manajemen Rantai Pasok Hulu dan Permasalahannya Aktivitas dalam rantai pasok dimulai dengan adanya permintaan dari konsumen dan diakhiri dengan aktivitas pembayaran oleh konsumen setelah permintaannya terpenuhi.

Elemen yang termasuk dalam rantai pasok meliputi seluruh perusahaan atau organisasi yang berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan baik sebagai pemasok bahan baku maupun konsumen.

Menurut Stock and Lambert (2001), seluruh perusahaan atau organisasi yang terkait tersebut dibagi menjadi dua, yaitu primary member dan supporting member.

Primary member atau anggota utama dari sebuah rantai pasok adalah semua unit bisnis yang secara nyata melakukan aktivitas operasional atau manajerial dalam sebuah proses bisnis. Sedangkan supporting member atau anggota pendukung dalam rantai pasok adalah perusahaan yang menyediakan bahan awal, ilmu, utilitas, atau aset lain yang penting tapi tidak langsung berpartisipasi dalam aktivitas

(24)

23

yang menghasilkan atau merubah sebuah input menjadi output untuk konsumen.

Menurut Zineldin dalam Rahardian (2011) kualitas sebuah hubungan merupakan fungsi dari beberapa elemen atau faktor-faktor tertentu di antaranya: kooperasi, kemampuan dan kinerja karyawan termasuk manajer, sumber daya fisik, kualitas, distribusi dan penentuan harga produk, pembagian informasi, pengalaman, harapan konsumen dan kepuasan. Hubungan antara supplier, customer, dan perusahaan, harus dikelola dengan baik dan selalu ditingkatkan agar terjalin hubungan yang berkelanjutan dan supplier ikut bertanggungjawab terhadap kualitas produk serta agar distribusi produk dari hulu ke hilir tepat pada waktunya sampai ke pengguna akhir. Maka peningkatan hubungan yang baik dalam jangka panjang serta saling adanya kepercayaan antara perusahaan, supplier dan customer sangat diperlukan agar mencapai efisiensi dalam kinerja perusahaan (Rahmasari, 2011).

Rantai pasok hulu dalam pengolahan susu memiliki permasalahan dalam aktor rantai pasok, dan ketidakpastian kuantitas terkait dengan perkiraan permintaan dan delivery times,, kualitas dan jadwal pasokan yang secara langsung menyebabkan tidak lancarnya produksi sehingga perlu adanya koordinasi berbagai aktivitas dalam unit internal serta partner bisnis.

(25)

24

Menurut Geary, et al. (2002), ketidakpastian dalam rantai pasok bersumber pada empat hal, yaitu: permintaan, pemasok, proses dan kontrol. Pertama, ketidakpastian permintaan adalah perbedaan informasi antara permintaan yang diantisipasi dan benar-benar diminta oleh pelanggan.

Ketidakpastian permintaan dari konsumen akan menyebabkan ketidakpastian distributor, semakin ke hulu, maka tingkat ketidakpastian permintaan akan semakin meningkat. Kedua, ketidakpastian pemasok berasal dari ketidakmampuan pemasok memenuhi spesifikasi permintaan baik dari sisi waktu maupun kualitas. Hal ini bisa berupa ketidakpastian pada leadtime pengiriman, harga bahan baku, atau komponen, ketidakpastian kualitas, serta kuantitas material yang dikirim.

Ketiga, ketidakpastian proses bersumber dari sumber daya internal yang meliputi fasilitas atau mesin. Hal ini bisa diakibatkan oleh kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidakhadiran tenaga kerja, serta ketidakpastian waktu maupun kualitas produksi. Besarnya ketidakpastian yang dihadapi berbeda-beda. Ketidakpastian kontrol terjadi karena adanya aliran informasi serta transformasi informasi permintaan konsumen menjadi target produksi.

Ketidakpastiaan merupakan sumber utama kesulitan pengelolaan suatu supply chain. Ketidakpastiaan menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap rencana yang sudah dibuat. Sebagai akibatnya, perusahaan sering

(26)

25

menciptakan pengaman di sepanjang supply chain. Pengaman ini bisa berupa persediaan, waktu ataupun kapasitas produksi maupun transportasi. Di sisi lain ketidakpastiaan sering menyebabkan janji tidak bisa terpenuhi. Dengan kata lain, customer service level akan lebih rendah pada situasi dimana ketidakpastian cukup tinggi.

Persaingan tidak hanya terjadi antar perusahaan, tetapi juga antara rantai pasokan yang satu dengan yang lain. Bagi banyak perusahaan rantai pasokan merupakan bagian yang sangat penting dalam kelancaran usahanya, juga dalam hal menentukan biaya dan kualitas produk. Aktivitas utama dari rantai pasokan dimunculkan dalam semua proses dan aktifitas utama yang memegang peranan yang sangat penting dalam suatu kesinambungan di dalam fungsi rantai pasokan.

Dalam penelitian Isnanto (2009) yang bertujuan untuk mengetahui proses aliran rantai pasok pada PT PJB Unit Pembangkitan Muara Karang yang menyediakan energi listrik untuk konsumen di wilayah Jawa dan Bali, hasil temuannya melibatkan distributor, transportir dan surveyor untuk memvalidasi volume transaksinya. Proses penyediaan pasokan energi listrik tersebut diperlukan bahan baku berupa minyak MFO yang harus tersedia terus-menerus sesuai dengan target produksi yang ditetapkan.

Widiyarto (2012) juga melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui penerapan manajemen rantai

(27)

26

pasok secara efektif. Hasil temuannya adalah perusahaan harus mampu menyediakan dan mengelola database terkait yang memadai serta membangun partnership dengan supplier maupun distributor yang terpilih. Manajemen rantai pasok secara menyeluruh dapat menciptakan sinkronisasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan aliran material di dalam maupun di luar perusahaan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen rantai pasok dapat berjalan dengan baik apabila seluruh aktor dalam rantai pasok mampu memaksimalkan peran dan fungsinya. Pengontrolan terhadap persediaan pasokan harus dilakukan sehingga lancar dalam produksi, misalnya dalam hal ini jumlah pasokan disesuaikan dengan jumlah produk pesanan yang menghasilkan kestabilan persediaan bahan baku dan tidak terjadi penumpukan stok yang berakibat pada peningkatan biaya penyimpanan.

2.4. Manajemen Rantai Pasok Hilir dan Permasalahannya Dalam penelitian ini rantai pasok hilir terdapat permasalahan yaitu pada distribusi, penanganan agen penjualan dengan sistem informasi dan transportasi. Ditinjau dari permasalahan yang dialami oleh pengolahan susu, maka saluran distribusi yang digunakan adalah dengan sistem distribusi fisik, yang terdiri dari empat komponen pokok yaitu

(28)

27

pengolahan pesanan, pergudangan, persediaan dan pengangkutan (Kotler, 2001).

Permasalahan dalam memilih saluran distribusi merupakan satu permasalahan yang ada dalam bidang pemasaran. Perusahaan perlu hati-hati di dalam memilih saluran distribusi, hal ini sangat penting guna menyampaikan barang dan jasa yang diperlukan oleh konsumen. Sistem distribusi adalah sumber daya eksternal yang utama, biasanya perlu bertahun-tahun untuk membangunnya dan tidak mudah untuk diubah (Kotler, 2001).

Menurut Magnuson (2007), distribusi susu merupakan proses penyaluran susu dari produsen ke konsumen.

Distribusi dapat dilakukan secara langsung maupun secara tak langsung, proses distribusi ini meliputi: pengangkutan susu ke tempat konsumen, dalam hal ini higienitas sangatlah penting untuk menjaga supaya susu tidak terkontaminasi banyak bakteri selama dalam perjalanannya. Higienitas dari susu harus dikontrol sejak dari proses pengepakan, pemindahan susu dari peternakan ke mobil pengangkut dan kebersihan dari alat transportasi itu sendiri.

Sukirno et al. (2004) mengatakan bahwa dalam menjalankan kegiatan distribusi dan pemasaran barang, setiap perusahaan perlu menentukan jenis saluran distribusi yang akan digunakan. Siahaya (2010) juga mengatakan bahwa saluran distribusi adalah serangkaian perusahaan yang saling

(29)

28

terkait dan terlibat dalam proses penyampaian atau penyaluran barang dari produsen ke konsumen. Jaringan atau saluran distribusi ini memiliki tujuan untuk mencapai pasar tertentu, dimana pasar merupakan tujuan akhir dari kegiatan jaringan distribusi.

Penanganan permasalahan agen penjualan dapat dilakukan dengan sistem informasi di dalam dunia bisnis yang sangat membantu proses rantai pasok dan keberlangsungan dalam dunia bisnis. Sistem informasi merupakan penerapan di dalam suatu organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. Informasi merupakan hal yang sangat penting bagi organisasi dalam memanajemen di dalam pengambilan keputusan (Sutabri, 2003).

Billah et al (2013) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk mengetahui saluran distribusi yang digunakan PT Susu Sehat Alami Jember dengan sistem distribusi fisik. Hasil temuannya adalah PT Susu Sehat Alami menggunakan dua saluran ditribusi, yaitu saluran distribusi langsung atau primer dimana perusahaan menjual produk langsung kepada konsumen dan saluran distribusi sekunder dimana perpindahan susu dari produsen ke gudang perantara lalu kepada toko pelanggan.

Penelitian Hutapea (2008), bertujuan untuk mengetahui distribusi produk perdagangan umum yang ada di PT

(30)

29

Rajawali Nusindo. Hasil temuannya mencakup analisis rantai pasok pada distribusi produk perdagangan umum, analisis penciptaan nilai dari produk perdagangan umum, dan pemberian alternatif strategi yang sesuai untuk mencapai visi dan misi perusahaan. PT Rajawali Nusindo perlu secara konsisten menerapkan strategi rantai pasok efisien sebagai langkah yang tepat untuk memposisikan diri di masa depan sebagai perusahaan distribusi dan perdagangan yang terpercaya.

Model jaringan transportasi pada suatu perusahaan mempengaruhi kinerja rantai pasoknya. Keputusan operasional mengenai transportasi dan rute perjalananan harus diperhitungkan dengan baik. Sebuah jaringan transportasi yang dirancang dengan baik dapat mengakibatkan tingkat responsif yang tinggi dengan biaya yang rendah. Menurut Chopra dan Meindl (2007), jaringan transportasi mempunyai berbagai macam model atau desain yaitu:

1. Direct Shipment Network.

Pada jaringan transportasi ini, perusahaan melakukan pengiriman langsung dari tiap pemasok ke tiap-tiap lokasi pembeli. Tipe ini mengeliminasi gudang dan menyederhanakan operasi dan koordinasi sehingga waktu pengirimannya singkat.

(31)

30 2. Direct Shipping With Milk Runs.

Pada jaringan transportasi ini, perusahaan mengirim ke banyak lokasi digabungkan menjadi satu dan menggunakan sebuah truk. Hal ini menyebabkan utilisasi truk menjadi lebih baik dan biaya yang lebih murah.

3. All Shipments Via Central DC.

Pada jaringan transportasi ini, jaringan transportasi perusahaan dibagi kedalam beberapa lokasi sesuai wilayah geografis dan DC atau Distribution Center, dibuat untuk masing-masing wilayah DC dapat melakukan cross-docking yaitu berhenti dulu di DC dan kemudian pengiriman diperkecil. Tipe ini cocok untuk produk-produk dalam jumlah besar dan permintaan yang terprediksi.

4. Shipping Via DC Using Milk Runs.

Tipe jaringan transportasi ini digunakan jika pengiriman dari DC ke pembeli dalam jumlah kecil, sehingga perlu penggabungan pengiriman.

5. Tailored Network.

Tipe ini merupakan sebuah kombinasi yang cocok dari tipe- tipe sebelumnya karena dapat mereduksi biaya transportasi dan mengembangkan responsivness dalam rantai pasok.

Tujuan dari tipe ini adalah menggunakan pilihan dari tipe- tipe yang ada sesuai dengan situasi. Hal ini membutuhkan investasi dalam infrastruktur informasi untuk memfasilitasi pengkoordinasian tersebut.

(32)

31

Septiani dan Arkeman (2013) telah merancang model penanganan risiko transportasi pada agroindustri susu dengan pendekatan logika fuzzy, pada paper ini, tahapan identifikasi risiko transportasi didasarkan pada risiko transportasi yang dikembangkan oleh Coyle dkk (2011) yang membagi risiko menjadi enam kategori yaitu risiko kehilangan produk, risiko kerusakan produk, risiko produk terkontaminasi, risiko keterlambatan pengiriman, gangguan rantai pasok, pelanggaran keamanan. Kategorisasi risiko transportasi yang dikembangkan oleh Coyle dkk (2011) dapat mewakili identifikasi risiko transportasi pada rantai pasok agroindustri susu.

Berdasarkan temuan penelitian tersebut disimpulkan bahwa dalam rantai pasok hilir, pendistribusian memegang peranan penting di dalam memasarkan produk dan menyalurkannya hingga sampai ke tangan konsumen. Saat melakukan pendistribusian barang, di tengah perjalanan akan memenuhi beberapa kendala yang dapat menghambat proses pendistribusian. Kegiatan transportasi dan distribusi menjadi semakin penting artinya bagi rantai pasok dengan semakin banyaknya perusahaan yang harus melakukan pengiriman langsung ke pelanggan. Dalam penelitian ini juga menerapkan arus distribusi dengan arus fisik, dimana pengolahan susu dilakukan dari bahan mentah sampai ke pelanggan akhir.

(33)

32

2.5. Integrasi Manajemen Rantai Pasok

Integrasi supply chain dalam penerapannya masih dipengaruhi oleh kelas perusahaan. Perusahaan berkelas internasional lebih cenderung berintegrasi kepada konsumen dan pemasoknya secara luas dan seimbang dibanding dengan kelas dibawahnya (Lajara, 2004). Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan performa perusahaan yang diwujudkan dengan peningkatan produktivitas dan kemampuan perusahaan membedakan diri dari para pesaingnnya atau value advantage (Setiawan dan Suhardi, 2005). Pengintegrasian proses bisnis yang terbentang antara pemasok sampai konsumen akhir sangat berdampak pada tingkat kepuasan konsumen dan perusahaan itu sendiri (Setiawan dan Santosa, 2006).

Tiga level struktur integrasi di dalam supply chain menurut Narasimhan (2001) antara lain: Pertama, level fungsional yaitu integrasi dalam beberapa fungsi perusahaan.

Misalnya integrasi dalam fungsi pembelian, persediaan atau pemasaran. Kedua, level internal yaitu integrasi di dalam berbagai fungsi perusahaan yang bertujuan agar internal perusahaan dapat menghasilkan produk atau jasa secara eifisen. Ketiga, level eksternal yaitu integrasi perusahaan baik kepada pemasok maupun konsumen agar aliran bahan mentah mengalir secara lancar dan produk jadi dapat dikonsumsi konsumen pada kualitas, waktu, jumlah dan lokasi yang diharapkan

(34)

33

Frohlich dan Westbrook (2001) berpendapat bahwa integrasi dioperasikan atas dasar 6 jenis aktivitas berbeda yang secara umum digunakan oleh suatu perusahaan untuk mengintegrasikan operasi perusahaan tersebut dengan pemasok dan konsumennya. Aktivitas tersebut adalah:

1) Akses pada sistem perencanaan

Variabel integratif ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya akses pemasok dan konsumen dalam sistem perencanaan perusahaan, karena perencanaan dan pengendalian operasi merupakan kunci untuk menggerakan suatu organisasi atau supply chain ke arah yang dikehendaki.

Perencanaan bersama atau joint planning ini akan memiliki dampak yang signifikan pada keberhasilan suatu supply chain.

2) Perencanan proses bersama

Struktur aliran kerja atau aktivitas mengindikasikan bagaimana perusahaan menjalankan tugas dan aktivitasnya.

Tingkat integrasi proses dalam supply chain merupakan suatu alat ukur bagi struktur organisasi perusahaan Akses EDI atau electronic data interchange. Penggunaan teknologi informasi untuk mengkoordinasikan seluruh elemen supply chain dari pemasok menuju konsumen dapat mencapai suatu tingkat integrasi yang disebut keuntungan kompetitif, yang tidak terdapat dalam sistem logistik tradisional. Oleh karena EDI dalam bisnis di Indonesia kurang dikenal maka istilah

(35)

34

tersebut diganti dengan penggunaan teknologi informasi bersama.

3) Pengetahuan tentang inventory mix level

Pengurangan persediaan menurunkan kebutuhan pergudangan atau warehousing. Perusahaan perlu menyimpan barang terutama barang jadi dalam jumlah yang proporsional karena persediaan barang jadi memakan biaya yang lebih besar dari pada persediaan barang setengah jadi.

Merasionalisasi jaringan supply chain akan memberikan implikasi bagi penurunan persediaan untuk hampir seluruh aktivitas perusahaan.

4) Packaging customization

Adanya perubahan dari push system ke pull system mendorong manufaktur selalu melakukan “push” terhadap barang-barangnya kepada konsumen melalui retailer.

Semakin banyak jenis barang dan jumlah perusahaan yang ditawarkan, maka semakin tinggi persaingan di pasar.

Penentu utama persaingan adalah para konsumen yang bebas menentukan pilihan dari berbagai pilihan barang dan jasa yang tersedia di pasaran. Oleh karena itu perusahaan membuat barang-barang yang dipilih, dikehendaki dan disukai konsumen.

5) Frekuensi pengiriman

Frekuensi pengiriman merupakan aktivitas primer dalam value chain. Aktivitas ini menyumbang dalam penciptaan

(36)

35

hasil produksi, penjualan dan distribusi kepada pembeli, meliputi efisiensi arus barang menuju pelanggan dan efisiensi kegiatan pergudangan. Value chain merefleksikan konsep bahwa barang dan jasa akan mengalami pertambahan nilai seiring dengan meningkatnya tahap yang dilaluinya dalam suatu supply chain. Penggunaan alat logistik atau common logistical equipment, keterkaitan dengan pihak pemasok maupun konsumen terlihat dari penggunaan berbagai alat-alat logistik untuk mempercepat perpindahan barang dan jasa, misalnya penggunaan kontainer.

6) Peran distribusi pihak ketiga common use of third – party logistic

Distribusi produk atau jasa lebih mudah dilakukan jika terjalin kerjasama dengan pihak ketiga dalam bentuk agen atau pengecer. Penggunaan pihak ketiga juga menekan distribusi lebih efisien daripada dilakukan oleh perusahaan sendiri.

Menurut Frohlich dan Westbrook (2001) terdapat lima pola integrasi yang menggambarkan arah dan tingkat integrasi perusahaan kepada pemasok atau konsumen yang diukur melalui tinggi atau rendahnya kuartil di mana perusahaan melakukan integrasi. :

(1) Cenderung internal perusahaan inward facing: integrasi perusahaaan berada dibawah kuartil integrasi baik terhadap konsumen maupun pemasok

(37)

36

(2) Agak cenderung kepada pemasok dan konsumen periphery facing : posisi perusahaan berada di atas kuartil bawah integrasi namun berada di bawah kuartil atas integrasi, bisa salah satu mengarah ke pemasok atau ke konsumen.

(3) Cenderung kepada pemasok supplier facing: perusahaan melakukan integrasi yang lebih luas kepada pemasok, melebihi kuartil atas integrasi namun kepada konsumen memiliki pola integrasi yang lebih sempit yaitu tidak melewati kuartil atas integrasi.

(4) Cenderung kepada konsumen customer facing: perusahaan memiliki pola integrasi yang luas kepada konsumen dengan melewati kuartil atas konsumen namun berada di bawah kuartil atas integrasi pemasok

(5) Cenderung kepada Pemasok dan konsumen outward facing:

perusahaan melakukan integrasi yang luas baik kepada pemasok maupun kepada konsumen, posisi perusahaan berada melewati kuartil atas integrasi baik pemasok maupun konsumen.

Said et al (2006), mengatakan bahwa kinerja rantai pasok adalah suatu performansi dari tiap bagian rantai pasok, mulai dari pemasok hingga konsumen. Pengukuran kinerja yang baik dapat meningkatkan kinerja rantai pasok perusahaan. Chopra dan Meindl (2007) mengatakan bahwa terdapat enam penggerak untuk meningkatkan kinerja rantai pasok. Perusahaan harus menempatkan penggerak tersebut ke

(38)

37

dalam kerangka untuk membantu memperjelas peran masing- masing penggerak dalam meningkatkan kinerja rantai pasok.

Peningkatan kinerja rantai pasok tentunya harus didukung dengan strategi rantai pasok yang baik. Perusahaan harus membuat kerangka dengan kombinasi yang benar dari 3 logistik dan 3 penggerak fungsional silang. Untuk setiap penggerak, manajer rantai pasokan harus melakukan trade-off atau membuat keputusan dari banyak pilihan antara ketanggapan dan efisiensi dengan penggerak lainnya.

Umumnya, perusahaaan memulai dengan strategi bersaing dan memutuskan strategi manakah yang akan digunakan.

Kerangka pembuat keputusan pada rantai pasokan dapat digambarkan dalam suatu bagan agar lebih mudah dipahami.

Bagan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.3.

Competitive Strategy

Supply Chain Strategy

Efficiency Responsiveness

Facilities Inventory Transportation

Information

Supply chain structure

Cross Functional Drivers

Sourcing Pricing

Logistical Drivers

Gambar 2.3.

Kerangka Pembuat Keputusan pada Rantai Pasok

(Chopra dan Meindl, 2007)

(39)

38

Penggerak manajemen rantai pasok menurut Chopra dan Meindl (2007), terdiri dari enam dimensi yaitu fasilitas, persediaan, transportasi, informasi, sumber pasokan dan penetapan harga. Pada buku tersebut juga dijelaskan bahwa strategi yang tepat untuk persaingan antar perusahaan adalah meningkatkan kinerja rantai pasoknya. Jika keenam penggerak tersebut dilaksanakan dengan efektif dan efisien, maka kinerja rantai pasok akan meningkat. Keenam dimensi tersebut adalah:

1. Fasilitas

Menurut Chopra dan Meindl (2007) fasilitas adalah tempat- tempat dalam jaringan supply chain dimana persediaan disimpan, dirakit atau diproduksi. Dua jenis umum fasilitas adalah tempat produksi dan tempat penyimpanan atau gudang. Keputusan dalam memilih fasilitas meliputi fungsi, lokasi, kapasitas dan fasilitas yang fleksibel berpengaruh terhadap kinerja rantai pasok. Keputusan pemilihan fasilitas dapat dilihat dari tujuan perusahaan yaitu efisiensi atau efektifitas. Apabila perusahaan mendirikan gudang yang banyak dekat dengan pelanggan, maka responsifitasnya cepat terhadap permintaan konsumen, tetapi biaya yang dikeluarkan tinggi atau kurang efisien.

2. Persediaan

Chopra dan Meindl (2007) mengatakan bahwa persediaan meliputi semua bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi dalam rantai pasokan. Perubahan kebijakan

(40)

39

persediaan sangat berpengaruh karena dapat merubah secara drastis tingkat responsifitas dan efisien rantai pasok.

Komponen dari keputusan mengenai persediaan adalah : a. Circle Inventory adalah jumlah rata-rata dari persediaan

yang digunakan untuk memenuhi permintaan dalam suatu waktu.

b. Safety Inventory dibuat untuk berjaga-jaga dan mengatasi ketidakpastian akan permintaan yang tinggi.

c. Seasonal inventory adalah persediaan yang dibuat untuk mengatasi keragaman permintaan yang dapat diprediksi.

Perusahaan sudah memprediksikan saat terjadinya lonjakan permintaan dengan memproduksi barang sebelum waktu yang diperkirakan dan menyimpannya di gudang untuk mengantisipasi permintaan tinggi.

3. Transportasi

Menurut Siahaya (2010), transportasi di dalam manajemen rantai pasok sangat penting dalam kegiatan mengangkut, memindahkan, menggerakkan dan mengalihkan aliran barang mulai dari pemasok bahan baku ke pabrik hingga pabrik mendistribusikan hasil produksinya kepada konsumen.

4. Informasi

Menurut Chopra dan Meindl (2007), informasi terdiri dari data dan analisis mengenai fasilitas, persediaan, transportasi, biaya, harga, dan pelanggan di seluruh rantai

(41)

40

pasokan. Informasi berpotensi sebagai pendorong terbesar kinerja dalam rantai pasokan karena langsung mempengaruhi masing-masing penggerak lain.

5. Sumber Pasokan

Chopra dan Meindl (2007) mengatakan sumber pasokan adalah serangkaian proses bisnis yang diperlukan untuk membeli barang dan jasa. Langkah pertama manajer harus memutuskan apakah bahan baku didapatkan dari sumber pemasok tunggal atau portofolio pemasok. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi seperangkat kriteria yang akan digunakan untuk memilih pemasok dan mengukur kinerja mereka. Manajer kemudian memilih pemasok dan melakukan negosiasi kontrak dengan pemasok.

6. Penetapan Harga

Chopra dan Meindl (2007) berpendapat bahwa harga adalah pemicu untuk menentukan seberapa banyak perusahaan akan menetapkan harga barang dan jasa yang terdapat pada rantai pasokan. Penetapan harga berpengaruh terhadap perilaku pembeli, dengan demikian dapat berdampak pada kinerja rantai pasokan.

2.6. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu sebagai dasar atau acuan dirangkum penulis dalam tabulasi data berikut:

(42)

41 Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Peneliti Judul Temuan Penelitian Mendatang

Setiawan dkk (2011)

Studi Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasok Sayuran Dataran Tinggi di Jawa Barat

bahwa strategi untuk peningkatan kinerja rantai pasok sayuran dengan penjadwalan penanaman dan pemanenan,

fleksibilitas dalam pemenuhan pesanan, dan penjaminan kualitas produk yang diterima oleh konsumen.

Penelitian lebih lanjut perlu untuk merancang

bangun sistem

pengukuran kinerja rantai pasok secara keseluruhan

Simanjuntak (2013)

Analisis Risiko Rantai Pasok Buah Manggis Dengan Metode Analytic Network Process Di PT Agung Mustika Selaras , Jawa Barat

bahwa jenis risiko tertinggi yang muncul pada rantai pasok buah Manggis adalah risiko pasar dengan

ketidakpastian harga dan permintaan serta produksi dengan ketidakpastian mutu dan cuaca.

Hasil penelitian dijadikan model referensi manajemen risiko rantai pasok untuk buah-buahan yang sejenis pada penelitian selanjutnya sebagai pembanding pada buah yang lebih baik lagi

Pratiwi (2014)

Hubungan Supply Chain dan Daya Saing Koperasi Dalam Rantai Pasok Susu di Jawa Timur,

Indonesia.

bahwa kualitas hubungan antara koperasi susu dengan para stakeholdernya berpengaruh positif terhadap daya saing koperasi susu.

Penelitian lebih lanjut perlu membahas lebih

dalam tentang

persaingan koperasi susu terhadap kualitas hubungan antar aktor rantai pasok

Septiani Rancangan bahwa risiko rantai Model performansi

(43)

42

(2015) Model Performansi Risiko Rantai Pasok

Agroindustri Susu

denganMenggu nakan

Pendekatan Logika Fuzzy

pasok agroindustri susu terletak pada karakteristik

produknya yang mudah rusak yang disebabkan oleh penanganan susu yang tidak tepat.

risiko dapat

dikembangkan lebih lanjut menjadi ukuran performansi dengan menggunakan model kuantitatif sehingga dampak risiko yang timbul dalam bentuk time, cost dan quality.

Kartodinoto (2015)

Manajemen Rantai Pasok Mengelola Penanganan Bahan Baku dan Transportasi Susu Segar oleh KUD dan KSU.

Menjelaskan bahwa penanganan produk pertanian berupa susu sapi segar yang tergolong sebagai perishable produk membutuhkan perhatian untuk meningkatkan kualitas pengelolaan produk sepanjang pasokan fisik

Penelitian berikutnya perlu melakukan pengujian kuantitatif terhadap teori mini dan menemukan sebuah fenomena tentang harga diantara koperasi dan pengumpul

2.7. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai hal yang penting. Dalam penelitian ini model kerangka pemikiran akan digambarkan sebagai berikut:

(44)

43

Hulu

Internal

Hilir Gambar 2.1.

Manajemen Rantai Pasok Pada CV Cita Nasional Getasan Peternakan Sapi Perah Milik Masyarakat

Koperasi Susu

Susu Import CV Cita Nasional Susu dari

Peternakan Sendiri Proses Produksi

Uji Bahan Mentah, Uji Bahan Setengah Jadi, Uji Bahan Jadi

Proses Pengemasan Cool Storage

Ruang Penyimpanan Produksi

Distributor / Agen Penjualan

Luper(Penjual Susu Keliling)

Konsumen

Tangki Penampungan Bahan Jadi Pembibitan

Ternak Sapi

Percontohan

Ternak Sapi

Formula Pakan Ternak Sapi

Pemeriksaan Kesehatan Ternak

Sapi

(45)

44

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang hasilnya berupa data deskriptif melalui pengumpulan fakta-fakta dari kondisi alami sebagai sumber langsung dengan instrumen dari peneliti sendiri (Moeloeng, 2005).

Penelitian kualitatif bersifat induktif, maksudnya peneliti mencari permasalahan yang muncul dari data untuk interpretasi. Kemudian data dihimpun dengan pengamatan yang seksama, meliputi deskripsi yang jelas disertai catatan- catatan hasil wawancara yang mendalam serta hasil analisis dokumen. Metode deskriptif yang digunakan adalah metode studi kasus sehingga kesimpulan yang diambil akan tetap terkait dengan perusahaan, dengan melakukan pengamatan tentang manajemen supply chain produk olahan susu pada CV Cita Nasional antara lain unit yaitu pelaku rantai pasok seperti supplier, manufaktur dan distributor pada CV Cita Nasional, Getasan, Kabupaten Semarang. Selain itu menganalisis sistem manajemen rantai pasok susu olahan sebagai suatu sistem bisnis mulai manajemen pada rantai pasok internal, hulu, hilir dan integrasi kinerja dalam mengoptimalkan surplus perusahaan.

(46)

45 3.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, dengan teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara:

a. Wawancara secara langsung atau tatap muka melalui nara sumber dengan menggunakan instrumen yang berupa pedoman wawancara. Teknik wawancara dilakukan secara mendalam dalam rangka memperoleh informasi yang lebih banyak. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi (Sugiyono, 2004).

b. Observasi yang dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan dan pencatatan gejala yang nampak serta hal-hal penting yang muncul pada unit pengamatan penelitian di lapangan dimulai dari peternak sapi perah ke pedagang pengumpul, pedagang pengumpul ke koperasi susu dan koperasi susu ke CV.Cita Nasional. Pada CV.Cita Nasional dimulai dari susu mentah masuk, penyimpanan, proses produksi, pegemasan, dan distribusi ke konsumen.

c. Melakukan dokumentasi berupa foto di lapangan, untuk mengetahui secara jelas keadaan yang ada di tempat penelitian.

(47)

46

2. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari laporan manajemen perusahaan dengan beberapa narasumber yang disebut informan. Narasumber dalam penelitian ini yaitu pihak-pihak yang berkaitan dengan manajemen supply chain pada produk olahan susu di CV Cita Nasional Getasan pada tiap-tiap rantai pasok:

a. Rantai pasok internal data diperoleh dari Manajer CV Cita Nasional, Supervisor proses produksi, Kepala Bagian Laboratorium, Kepala Supervisor Quality Control/ R&D, Asisten Supervisor Filling&Sealing, dan Kepala bagian gudang dan Pengadaan. yaitu hulu, internal dan hilir.

b. Rantai pasok hulu data diperoleh dari Manajer CV Cita Nasional, Kepala Bagian Laboratorium, Kepala Supervisor Quality Control/ R&D, dan Kepala bagian gudang dan Pengadaan.

c. Rantai pasok hilir data diperoleh dari Manajer CV Cita Nasional, Kepala Supervisor Quality Control/ R&D dan Asisten Supervisor Filling&Sealing.

3.3. Uji Validitas dan Reliabilitas

Pengujian keakuratan data penelitian, dapat menggunakan uji validitas dan reliabilitas yang dipaparkan dalam tabel berikut:

(48)

47 Tabel 3.1.

Uji Kualitas Studi Kasus

Pengujian Taktik Studi Kasus Tahapan

penelitian Validitas

Konstruk

Trianggulasi Data:

a. Penggunaan berbagai sumber bukti b. Membangun rangkaian bukti

c. Sumber informasi utama diminta untuk meninjau kembali rencana laporan studi kasus.

Contohnya: selain melalui wawancara dan observasi, peneliti menggunakan participant obervation, dokumen tertulis, arsif, sejarah, dan foto. Cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti.

Pengumpulan data

Penyusunan laporan

Reliabilitas (Keandalan)

1. Menggunakan protokol studi kasus 2. Membangun pangkalan data studi

kasus

Pengumpulan data

Sumber: Yin, Studi Kasus Desain dan Metode (2011)

Peneliti menggunakan uji validitas konstruk dan reliabilitas atau keandalan untuk menunjukkan keakuratan data hasil penelitian. Dalam uji validitas konstruk, peneliti menggunakan data yang diperoleh dari multi sumber data selama penelitian, kemudian data yang terkumpul dikelola dan didokumentasikan. Penggunaan multi sumber data memberikan multi ukuran secara esensial dari fenomena yang diteliti (Yin, 2011). Selain itu, menggunakan multi

Gambar

Gambar  aktor rantai pasok produk susu  di  atas dapat  dijelaskan  bahwa  rantai  pasok  di  mulai  dengan  peternak  sapi  perah  bertindak  sebagai  produsen  atau  penyedia  kebutuhan  susu  sapi  kepada  para  pengepul  susu/
Tabel  berikut  ini  adalah  contoh  perbedaan  rencana  dan  realisasi tahun 2016:
Gambar di atas menjelaskan alur proses produksi susu  pasteurisasi dan homogenisasi. Bahan baku yang datang ke  pabrik  dilakukan  pengujian  meliputi  aspek  kuantitas  dan  kualitas
Tabel berikut ini menunjukkan rata-rata kualitas susu  segar masuk yang diterima dan ditolak berdasarkan pemasok  pada CV
+4

Referensi

Dokumen terkait