ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2. Identifikasi Permasalahan Rantai Pasok
4.2.1. Permasalahan Pada Rantai Pasok Internal
Permasalahan utama pada rantai pasok internal meliputi perbedaan rencana dan realisasi produksi, masalah
56
bahan baku yang masuk ke perusahaan untuk produksi, waktu pengujian lama, ketidakseimbangan kemampuan mesin pada tiap bagian produksi dan kemasan rusak.
a. Perbedaan Rencana dan Realisasi Produksi
Proses bisnis pada CV Cita Nasional dimulai sejak order masuk sampai produk akhir diberikan kepada konsumen. Order yang diterima dari agen dikirim ke bagian penerimaan order kemudian diinformasikan ke bagian perencanaan produksi, setelah itu dihitung berapa jumlah kebutuhan bahan baku dengan memperhitungkan sisa bahan baku yang sudah ada.
Pada rantai pasok internal, permasalahan muncul terkait dengan perbedaan rencana dan realisasi produksi.
Tabel berikut ini adalah contoh perbedaan rencana dan realisasi tahun 2016:
Tabel 4.2.
Rencana dan Realisasi Produksi Susu Tahun 2016
No Bulan Rencana Realisasi Selisih Order
Lt Krat Lt Krat Lt Krat Krat
1 Januari 1.066.075,43 55.537,95 747.478,6 55.152,18 7.017,035 385,75 53.313,68 2 Februari 949.789,01 49.445,54 950.151,98 49.147,39 4.268,528 298,16 47.719 3 Maret 1.121.496,35 60.353,73 1.123.673,62 59.109,78 4.707,733 243,95 56.113,196 4 April 1.096.437,35 57.909,3 1.097.141,46 57.778,11 4.889,418 269,64 56.135,197 5 Mei 1.230.598,31 65.328,23 1.236.594,51 64.858,9 8.689,18 469,33 62.902,787 6 Juni 1.056.033,94 56.040,73 1.061.456,81 55.624,38 8.178,22 416,35 54.039,893 7 Juli 850.579,77 44.860,97 841.436,4 44.332,24 9.143,369 528,74 44.060,157 8 Agustus 1.337.109,05 71.101,6 1.347.945,34 70.573,09 10.836,289 528,51 68.340,93 9 September 1.245.388,39 65.968,5 1.245.124,63 65.478,99 8.725,75 489,51 62.789,91 10 Oktober 1.300.841,74 69.849,36 1.325.811,17 68.564,24 24.969,405 1.285,11 65.020,61
57
11 November 1.182.689,02 64.042,22 1.217.517,69 62.246,27 34.828,67 1.795,95 58.617,33 12 Desember 1.205.372,1 64.678,66 1.228.394,91 63.489,96 23.022,81 847,98 60.342,84 Jumlah 13.642.410,5 725.116,79 13.422.727,1 716.355,53 149.276,41 7.558,98 689.395,53
Sumber: Dokumentasi Data Rencana dan Realisasi Produksi Susu CV Cita Nasional Tahun 2016
Berdasarkan tabel di atas nampak bahwa ada perbedaan antara rencana dan realisasi produksi susu di CV Cita Nasional yaitu rencana produksi sebanyak 725.116,79 krat, tetapi produk yang terealisasi sebesar 716.355,53 krat, sehingga ada selisih jumlah produksi sebesar 7.558,98 krat karena adanya permintaan secara mendadak yang disebabkan faktor cuaca. Perbedaan ini terjadi di semua bulan (januari sampai desember) dengan selisih terbesar di bulan november, dikuti bulan oktober, desember, juli, agustus, september, mei, juni, januari, februari, april dan selisih terkecil di bulan maret. Jadi dapat disimpulkan terjadi ketidaksesuaian antara rencana dan realisasi pada tiap kegiatan produksi yaitu jumlah produk yang terealiasasi selalu lebih kecil dari jumlah rencana produksi.
b. Masalah Bahan Baku yang Masuk ke Perusahaan Untuk Produksi
Permasalahan yang sering terjadi berkaitan dengan bahan baku yang masuk ke perusahaan adalah order yang tidak pasti dari bagian penjualan, kuantitas, kualitas dan jadual kedatangan yang tidak pasti sehingga mengganggu
58
proses produksi. Tentang masalah kuantitas dan kualitas akan dibahas pada rantai pasok hulu. Alur proses produksi susu pasteurisasi dan homogenisasi dilihat pada Gambar 4.2 berikut:
Gambar 4.2.
Diagram Alir Proses Produksi Susu Pasteurisasi dan Homogenisasi
59
Gambar di atas menjelaskan alur proses produksi susu pasteurisasi dan homogenisasi. Bahan baku yang datang ke pabrik dilakukan pengujian meliputi aspek kuantitas dan kualitas. Apabila telah lulus uji akan segera masuk ke dalam tangki untuk diolah dengan ditambahkan bahan pendukung lainnya. Oleh karena itu, penerimaan bahan baku harus didampingi oleh petugas pengawasan mutu agar segera dapat dilakukan pengujian fisik dan kimia pada bahan tersebut. Setelah itu dilakukan proses produksi, pasteurisasi dan homogenisasi, dilanjutkan pengemasan sebagai proses akhir. Produk yang sudah dikemas langsung ditampung ke mobil box berpendingin untuk dilakukan pengiriman ke agen pemasaran.
c. Lama Waktu Pengujian
Permasalahan lain berkenaan dengan bahan baku susu juga dapat diperhatikan dari lama waktu pengujian yang dibutuhkan. Dalam rangkaian pengujian susu untuk menyimpulkan apakah susu akan diterima atau ditolak membutuhkan waktu tunggu yang lama sehingga menyebabkan penurunan kualitas. Tujuan pengujian dan kebutuhan waktu dapat dilihat pada tabel berikut:
60 Tabel 4.3.
Kebutuhan Waktu dan Tujuan Pengujian CV Cita Nasional 2 Uji Total Solit Mengetahui kadar total padatan 11,20% 30 Menit
(Total Solid)Susu
3 Uji MBRT
Mengetahui banyaknya total bakteri
dalam susu 0,14-0,18
2 Jam
Organoleptik Mengetahui rasa, warna, bau susu Normal 1-2 Menit 5
Uji Berat
Jenis Mengetahui berat jenis susu 2-3 Menit
6 Uji Suhu Mengetahui suhu susu 4-6°C 1 Menit
7 Uji Alkohol
Mengetahui kerusakan susu secara
fisik 73% 1 Menit
(terjadinya dematurasi susu)
8 Uji PH Mengetahui keasaman kebasahan sus
Maks
6,7-6,85 3 Menit 9 Uji Karbonat
Mengetahui kadar pemalsuan penambahan
Maksimal
+3 1 Menit
bahan tambahan karbonat
Dalam tabel di atas, nampak bahwa dalam proses pengujian, permasalahan yang ada yaitu proses uji membutuhkan waktu tunggu yang lamanya sampai dua jam untuk melakukan salah satu uji kualitas bahan baku dan produk sehingga menyebabkan lambatnya proses penanganan lanjutan yang bisa mengakibatkan penurunan kualitas. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan melakukan penggantian mesin uji lama dengan mesin lebih canggih yang belum disediakan di CV Cita Nasional yaitu menggunakan
61
lactoscan yang hanya membutuhkan waktu dua puluh sampai tiga puluh menit saja untuk melakukan pengujian MBRT,
Usaha CV Cita Nasional dalam menjaga standar kualitas susu dengan cara melakukan beberapa uji susu yang diterima dan layak untuk diproduksi. Pengujian produk jadi dilakukan sebagai bentuk kontrol mutu sebelum produk dipasarkan ke konsumen dan dilakukan pada hari ke 0, sehingga dapat meminimalkan terjadinya komplain.
Pengujian volume pada produk dilakukan sebanyak tiga kali pengecekan. Pengujian ini meliputi uji organoleptik (warna, rasa, bau), uji pH, uji alkohol, uji tingkat kemanisan, uji kandungan lemak dan uji volume produk.
Tabel berikut ini menunjukkan rata-rata kualitas susu segar masuk yang diterima dan ditolak berdasarkan pemasok pada CV. Cita Nasional per bulan.
Tabel 4.4.
Rata-rata Kualitas Susu Segar Masuk di CV. Cita Nasional
No KUD Hasil Pengujian Standar
62 semua kualitas susu segar yang masuk sesuai dengan standar yang ditentukan CV Cita Nasional, kategori prosentase 1-25% = rendah, 26-50% = sedang, 51-75%= tinggi, 76-100%=
sangat tinggi. Nampak pada tingkat penolakan terbanyak terdapat di Koperasi Boyolali Kota dengan prosentase 36%
kategori sedang, Koperasi Wahyu Agung 26,6% kategori
63
sedang, Koperasi SK Pabelan 16% kategori rendah, Koperasi Andini Luhur dan Koperasi Cepogo 10% kategori rendah. Artinya, semakin besar tingkat penolakan maka semakin menghambat kegiatan produksi seperti yang direncanakan oleh CV Cita Nasional.
d. Ketidakseimbangan Kemampuan Mesin Pada Tiap Bagian Produksi
Seperti dikemukakan di depan, proses produksi bermula dari susu yang diterima dilakukan proses pencampuran kemudian dipanaskan dan di dinginkan kembali kemudian dialirkan ke tangki penampungan untuk selanjutnya dilakukan pengemasan. Permasalahan muncul karena terjadi ketidakseimbangan antar mesin, yaitu kemampuan mesin pada bagian proses produksi berkapasitas sebesar 4000lt/jam, sedangkan kapasitas mesin pada bagian pengemasan cup sebesar 6000lt/jam dan kapasitas mesin pada bagian pengemasan botol 3000lt/jam.
Yang artinya mesin untuk proses produksi tidak mampu mengimbangi kemampuan mesin pada bagian pengemasan, ditambah lagi jarak antar bagian yang letak gedungnya berjauhan yang semakin mengurangi kemampuan dari mesin tersebut.
64
Plant Layout dari mesin dapat dikaitkan dengan kapasitas dari masing-masing mesin pada CV Cita Nasional digambarkan sebagai berikut:
Plant Layout dan Kapasitas Mesin
Berdasarkan plant layout di atas dijelaskan bahwa jarak antar gedung pada masing-masing bagian pada CV Cita Nasional berkisar 70 meter sampai 100 meter, sehingga mengurangi kecepatan pemindahan produk susu dari mesin bagian proses produksi ke mesin bagian pengemasan.
Peralatan yang digunakan untuk pengemasan susu pasteurisasi dapat dikatakan sudah cukup modern. Peralatan untuk mengemas susu pasteurisasi cup yaitu 3 mesin filling flomatic cup yang kecil dan 1 mesin filling flomatic cup yang besar dan 4 mesin untuk mengemas susu pasteurisasi kemasan pack. Mesin filling flomatic cup yang kecil
Bagian pengemasan botol dengan kapasitas mesin 3000lt/jam
65
Walaupun peralatan yang digunakan sudah cukup modern namun jika dalam proses pengemasan tidak diawasi maka kemungkinan terjadinya kerusakan dan kecacatan pada kemasan seperti tanggal kadaluarsa yang tidak tercetak tidak diketahui. Mesin pengemasan susu pasteurisasi untuk kemasan pack memiliki kelemahan yaitu kurang presisi atau volume susu dalam kemasan kurang stabil sehingga dapat merugikan konsumen dan perusahaan.
Kapasitas bagian pengemasan lebih besar dibanding kemampuan bagian proses produksi yaitu 6000 lt/jam banding 4000 lt/jam, sehingga bagian proses produksi harus berjalan lebih dulu selama kurang lebih tiga puluh menit untuk menyiapkan produk susu sampai tertampung sekitar 2000 lt kemudian mesin pengemasan dioperasikan sehingga terjadi waktu tunggu pada bagian pengemasan untuk menyeimbangkan kemampuan mesin antar bagian tersebut.
Permasalahan berikutnya rata-rata pasokan susu lebih kecil dibanding jumlah kebutuhan produksi yaitu jumlah produksi 40000 lt/hari sedangkan rata-rata pasokan susu hanya sekitar 25000 lt/hari, sehingga memaksa CV Cita Nasional harus melakukan penyimpanan bahan baku susu dan menanggung resiko kerusakan akibat penyimpanan demi kelancaran dan pemenuhan permintaan dari agen-agen penjualan sebagai usaha memuaskan keinginan konsumen.
66
Permasalahan pada ketidakseimbangan kemampuan mesin pada tiap bagian produksi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.5.
Ketidakseimbangan Mesin Produksi CV Cita Nasional
Sumber : Dokumentasi Ketidakseimbangan Produksi CV Cita Nasional Tahun 2016
e. Kemasan Rusak
Kemasan susu terdiri dari kemasan primer berupa cup dan botol sedangkan susu pasteurisasi berupa cup saja, kemasan sekunder berupa krat plastik dan kemasan tersier berupa kontainer. Bahan pengemas cup terbuat dari plastik polyprophylene (PP). Kemasan yogurt berupa botol terbuat dari plastik berbahan polyethylene (PET). Proses pengemasan di CV Cita Nasional bertujuan untuk mengawetkan produk akhir susu pasteurisasi, terutama untuk mencegah kontaminasi oleh mikroorganisme dan mencegah
Bagian Proses Produksi Susu
Bagian Pengemasan Produk Susu
Bahan Baku
Susu Jarak
Kemampuan mesin 4000 Lt/Jam 6000 lt/Jam Rata-rata Produksi susu
Perhari _+ 40000 Lt/hari
Rata-rata Jumlah pasokan
susu perhari _+25000 lt/hari
67
kerusakan fisik. Kerusakan fisik yang mungkin terjadi pada produk susu pasteurisasi adalah kehilangan air yang disebabkan karena lamanya waktu proses produksi.
Permasalahan yang sering terjadi pada proses pengemasan susu adalah banyaknya kemasan yang kurang rata karena mesin pembungkus sudah aus sehingga setingan mesin berubah-ubah sendiri yang menyebabkan kurang rekatnya antara bagian atas cup dengan lidcup sehingga dilakukan dua kali sealing untuk menambah daya rekat kemasan untuk mengurangi kebocoran pada kemasan yang mengakibatkan pemborosan karena produk harus di buang.
Sebelum lidcup digunakan sebagai penutup pada bagian atas kemasan, pada lidcup dicetak tanggal kadaluarsa menggunakan coder. Proses pemberian tanggal kadaluarsa dilakukan pada suhu 150oC.
Berdasarkan permasalahan pada rantai pasok internal dapat disimpulkan bahwa pada CV Cita Nasional ada perbedaan antara rencana dan realisasi produksi, masalah bahan baku yang masuk ke perusahaan untuk produksi yaitu keterlambatan pasokan dan ketidakpastian bahan baku.
Proses uji membutuhkan waktu tunggu yang lama, ketidakseimbangan kemampuan mesin pada tiap bagian produksi dan kemasan rusak.
68