PERANAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKE HOLDER) DALAM MENINGKATKAN PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)
Studi pada Sekolah Menengah Pertama (SMP)di Kecamatan Binjai Utara.
T E S I S
OLEH
RITA SYAHYANA 187047004
PROGRAM STUDI PASCASARJANA SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
PERANAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKE HOLDER) DALAM MENINGKATKAN PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) Studi pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Binjai Utara.
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sosial dalam Program Studi Magister Sosiologi Pada Fakultas Ilmu Sosial
dan Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
RITA SYAHYANA 187047004
PROGRAM STUDI PASCASARJANA SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
ii LEMBAR PENGESAHAN
Judul Tesis : PERANAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKE
HOLDER) DALAM MENINGKATKAN
PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)
Studi pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Binjai Utara.
Nama Mahasiswa : Rita Syahyana Nomor Pokok : 187047004
Program Studi : Magister Sosiologi
MENYETUJUI Komisi Pembimbing,
(Prof. Dr. Drs. Humaizi MA) (Drs. Henry Sitorus M.Si)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Dekan,
Prof. Dr. Badaruddin M.Si Drs. Hendra Harahap M.Si., Ph.D NIP.196805251992031002 NIP. 1976710021994031002
Tanggal Lulus : 22 Desember 2021
iii Telah diuji pada
Tanggal : 22 Desember 2021
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Drs. Humaizi MA Anggota : 1. Drs. Henry Sitorus M.Si
2. Prof. Dr. Drs. Sismudjito M.Si 3. Dr. Bengkel Ginting M.Si
iv Judul Tesis
PERANAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKE HOLDER) DALAM MENINGKATKAN PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)
Studi pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Binjai Utara.
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sosial pada Program Studi Magister Sosiologi Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 22 Desember 2021 Penulis
Rita Syahyana
v
vi ROLES OF STAKEHOLDERS IN GLS (SCHOOL LOTERACY MOVEMENT)
PROGRAM
A Study of the Junior High Schools in Binjai Utara Sub-district
ABSTRACT
GLS (School Literacy Movement) program that is implemented in Indonesia has been in accordance with the directive of Permendikbud (Regulation of the Minister of Education and Culture) Number 23/2015, which states that the outcomes of the overall efforts involving all school members such as teachers, students, parents/guardians, and society, are not only reading and writing skills but also thinking and behavioral skills. These are a component of education ecosystem focusing on roles and completeness of the facilities and infrastructures of the school library. The objective of this research is to describe the implementation of GLS at the Junior High Schools in Binjai Utara Subdistrict, Binjai Municipality, North Sumatera Province. The data are collected based on qualitative research paradigm, which is through observation and in-depth interview supported with documentation studies. These data are sourced from all stakeholders, namely the school principals, teachers, School Committee, students, and library staff. The research findings demonstrate that the implementation of GLS at the SMP (Junior High Schools) in Binjai Utara Subdistrict inadequately meet the SNP (the National Standard of Education), for either public or private schools; thus, assertiveness of the local government and commitment of the stakeholders the local government are required in implementing GLS that will result in students of high achievement, good behavior, politeness, extensive knowledge, and excellent learning achievements.
Keywords: reading culture, library, role, stakeholder, School Literacy Movement, SMP (Junior High School)
vii PERANAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDER)
DALAMPROGRAMGERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) Studi pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Binjai Utara.
ABSTRAK
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diimplementasikan di Indonesia sesuai dengan arahan Peraturan Menteri Pendidikandan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2015, bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berfikir dan berperilaku, yaitu sebagai luaran dari ikhtiar menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orangtua/wali murid, dan masyarakat yang merupakan komponen dari ekosistem pendidikan yang bertumpu pada peranan dan kelengkapan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah. Tujuan penelitian ini, untuk mendeskripsikan penerapan GLS di Sekolah Menengah Pertama yang ada di Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan mengikuti paradigma penelitian kualitatif yaitu observasi, wawancara mendalam yang dilengkapi dengan studi dokumentasi. Data bersumber dari semua pihak pemangku kepentingan diantaranya Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, Murid, dan Petugas Perpustakaan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa implementasi GLS di SMP yang berada di Kecamatan Binjai Utara masih kurang memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP), baik sekolah negeri maupun swasta, sehingga perlu adanya ketegasan kebijakan pemerintah daerah dan komitmen pemangku kepentingan untuk penyelenggaran GLS yang berluaran siswa yang beprestasi, berperilaku dan berbudi pekerti yang baik, memiliki wawasan pengetahuan dan prestasi belajar yang unggul.
KataKunci: Budaya Membaca, Perpustakaan, Peran, Pemangku Kepentingan, Gerakan Literasi Sekolah, Sekolah Menengah Pertama (SMP).
viii KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat Rahmat dan kesehatan yang diberikan-Nya hingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik, shalawat dan salam pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya.
Alhamdulillah akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul Peranan Pemangku Kepentingan (stake holder) dalam Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS), studi kasus pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Binjai Utara. Tesis ini masih banyak terdapat kekurangannya, penulis mengharapkan masukan dan kritikan yang membangun demi kebaikan tesis ini agar lebih baik lagi. Penulis mengucapkan banyak terimakasih pada semua yang sudah memberi semangat dan motivasi penulis hingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga Allah SWT memberi kesehatan dan keselamatan bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
Tesis ini khusus saya persembahkan untuk orang tua saya, yaitu emak saya Almarhumah Hj. Ranggut br. Sitepu dan bapak saya Drs. Ikut Tarigan, atas doa dan semangat beliau hingga penulis bangkit kembali untuk menyelesaikan tesis ini. Tesis ini sempat terhenti karena ditengah kesibukan penulis menyelesaikan tesis ini, emak kami tercinta tiba-tiba sakit keras, opname di rumah sakit dan akhirnya meninggal tepat satu hari setelah adik kami laki-laki satu-satunya berulang tahun, yaitu tanggal 29 Nopember 2020 pukul 23.05 malam.
Terimakasih yang tidak terhingga juga saya sampaikan kepada semua yang sudah mendukung, memotivasi, membantu dan mendoakan penulis agar dapat menyelesaikan tesis saya ini, kepada:
ix 1. Prof. Dr. Drs. Humaizi MA sebagai dosen pembimbing I saya dan Drs.
Henry Sitorus Msi sebagai dosen pembimbing II saya. Terimakasih atas semua motivasi dan masukan yang sangat berharga buat penulis. Tak lupa dosen penguji saya, Prof. Drs. Sismudjito M.Si dan Dr. Bengkel Ginting M.Si. yang telah ikut memberi motivasi dan masukan-masukan yang sangat berharga untuk kebaikan penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Dan tak lupa Ketua Prodi S2 Sosiologi kami Prof. Badaruddin M.Si dan Prof. Drs. Rizabuana M.Phil, Ph.D dan juga kepada Dekan Fisip USU Bapak Drs. Hendra Harahap M.Si, Ph.D, terimakasih atas semua bantuan dan motivasinya. Semoga Allah SWT memberi kesehatan dan keselamatan bagi guru-guru kami, dosen-dosen kami. Aamiin.
2. Kepala-kepala sekolah, guru-guru dan siswa-siswa dari SMP Negeri 14 Binjai, SMP Negeri 11 Binjai, SMP Swasta Pesantren An Nadwa Binjai, SMP Swasta Melati Binjai dan SMP Swasta PAB 14 Binjai. Terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya selama ini. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan mereka.
3. Keluarga batih saya; Suami tercinta saya Yan Budiman, ST dan anak-anak tersayang saya yang shaleh dan shaleha, Mhd. Rayhan Nurfajrie, Nabila Amanda Farraswary dan Aisya Rameyza Alya Putri. Semoga Allah selalu meridhoi langkah kita untuk menjadi keluarga Sakinah, Mawadah dan Warahmah. Terimakasih atas semangat dan doa kalian, semoga anak-anak mama bisa melakukan lebih baik lagi dari yang sudah mama papa capai dan dapat menjadi motivasi bagi anak-anakku sekalian. Gapailah cita-
x citamu setinggi langit tapi tetap rendah hati, selalu ingat Tuhan, Allah SWT.
4. Keluarga besar saya; adik-adik saya tercinta Evi Yanti Tarigan, Rosmalina Tarigan, Jaya Syahputra Tarigan, Leli Afrida Tarigan dan Sri Emeninta Tarigan. Juga adik-adik ipar saya Helmi Nurijal, Sada Arih Bangun, Widya Pandia, Surya Ginting dan Rudi Iskandar Baros. Terimakasih yang tak terhingga juga buat ponakan-ponakan saya yang manis-manis dan lucu-lucu, Cecilia Khiaradiva, Rangga, si kembar Salma Pelisha dan Salwa Pelisha, jagoan-jagoan kecil saya yaitu Daffa, Jiodan Hafiz, si genit Ayra, si centil Maliqa dan si imut Adam. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada abang ipar dari suami saya, bang Adi Zakaria dan kak Imah serta ponakan saya Sarah Khairunisa dan Najla Hanan Fathin. Juga keluarga lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini.
5. Sahabat-sahabat saya dari TPQ Kaasyiful ‘Ulum Binjai; Abu Salman dan Umi Salman beserta keluarga. Sahabat-sahabat kecil saya yang manis- manis yang selalu menemani dan mendoakan saya, yaitu Indah Az Zahra Siregar yang dewasa dan penyabar, si tomboy Syafa ‘Atul Ikhwani Razali, si ceriwis Faridathul Husna, si manja Suci Khairunnisa br. Simbolon, si centil Sofia Nabila Siregar, dan si gendut nan lucu Chotib Hanafi Siregar, juga cucu-cucu cilik nenek dari umi Salman yang lucu dan lincah yang selalu jadi penghibur saya, Aisyah Humayrah dan Zainab. Terimakasih juga buat sahabat-sahabat baik saya yaitu kak Ida selalu sabar memotivasi saya, Marhayani polem yang manis, Devi, mbak Ade, Mbak Emmi, Risda,
xi Eka dan semua sahabat-sahabat baik saya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih atas semua dukungan dan doa kalian semua, hanya Allah SWT yang bisa membalasnya Semoga persahabatan kita diridoi Allah SWT hingga ke Jannah. Aamin ya Rabbal Aalamiin.
Medan, Desember 2021 Penulis
Rita Syahyana
xii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN... ii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii
LEMBAR PERNYATAAN... iv
ABSTRAK... vi
KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... xii DAFTAR TABEL... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 18
1.3 Tujuan Penelitian ... 19
1.4 Manfaat Penelitian ... 20
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 21
2.1 Pandangan Sosiologi tentang Pendidikan ... 21
2.1.1 Pendekatan dalam Sosiologi Pendidikan ... 23
2.2 Sekolah ... 31
2.3 Perpustakaan Sekolah ... 31
2.4 Sarana dan Prasarana Perpustakaan Sekolah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) ... 34
2.5. Literasi Sekolah ... 36
2.5.1. Pengertian Literasi Sekolah ... 36
2.5.2. Tujuan dan Manfaat Literasi ... 38
2.5.3. Literasi Digital ... 39
2.5.4. Penerapan Program Gerakan Literasi di Sekolah (GLS) ... 39
2.5.5. Penelitian Terdahulu ... 40
2.6. Kerangka Berpikir Penelitian ... 49
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 52
xiii
3.1 Jenis penelitian... 52
3.2 Lokasi Penelitian ... 54
3.3 Unit Analisis dan Informan ... 54
3.3.1 Unit Analisis ... 54
3.3.2 Subjek Penelitian ... 54
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 55
3.4.1 Data Primer ... 56
3.4.2 Data Sekunder ... 58
3.5 Teknik Analisis dan Interpretasi Data ... 60
3.6 Keterbatasan Penelitian ... 60
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 62
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 62
4.1.1 Gambaran Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Binjai Utara ... 67
4.2 Prasyarat Perpustakaan Sekolah sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan (SNP) ... 69
4.2.1 Kondisi Sarana Prasarana Perpustakaan dalam Program GLS di Kecamatan Binjai Utara. ... 74
4.2.2 Pola Peranan Stakeholders dalam Program GLS di SMP Kecamatan Binjai Utara. ... 78
4.3 Faktor-faktor yang menyebabkan Kendala dalam Penerapan Program GLS sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 di SMP Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai. ... 91
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 97
5.1 Kesimpulan ... 97
DAFTAR PUSTAKA... 100
LAMPIRAN... 104
xiv DAFTAR TABEL
Tabel 4 1. Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Menurut Kecamatan di Kota Binjai, tahun 2020 ... 64 Tabel 4 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia penduduk Kota Binjai ... 65 Tabel 4 3. Data Sarana dan Prasarana Perpustakaan Sekolah Sesuai SNP BAN S/M, tahun 2017 ... 71 Tabel 4 4. Gambaran Sarana Prasarana Perpustakaan dalam Implementasi Program GLS di SMP Negeri dan Swasta Kecamatan Binjai Utara. ... 73 Tabel 4 5. Gambaran Peranan Stakeholder (Pemangku Kepentingan) dalam Pengimplementasian Program GLS di SMP Negeri dan Swasta Kecamatan Binjai Utara. ... 90
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu upaya yang terencana secara rasional melalui proses belajar mengajar yang diikuti oleh peserta didik secara aktif dalam rangka meningkatkan kapasitasnya agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang melekat pada dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sesuai Pasal 1 ayat 1 dan 2 Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Pasal 13 ayat (1) termaktub bahwa tipe pendidikan yang dikembangkan di Indonesia terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dalam konteks aplikatif bahwa pendidikan nonformal terselenggara secara terstruktur dan berjenjang bagi masyarakat dan komunitas yang bermanfaat bagi penunjang pendidikan formal.
2 Pendidikan memiliki keterkaitan dengan ikhtiar pergeseran perilaku manusia yang mengalaminya. Pendidikan adalah proses transmisi pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspek perilaku yang ditempuh dengan proses mengajar dan belajar pola-pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat (Nasution, 2011:10). Perkembangan kemajuan dan pembangunan komunitas saat ini bergantung pada pendidikan yang terorganisir secara reguler oleh institusi sekolah dengan tidak mengurangi peranan sosialisasi yang diemban oleh orangtua dan masyarakat dalam mengisi dan mendewasakan anak-anaknya agar dapat adaptif di dalam masyarakat dan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya.
Kualitas sumber daya manusia merupakan sisi paling utama pembangunan yang sangat bergantung pada peran berbagai lembaga diantaranya pemerintah, lembaga pendidikan dan penyangganya. Sesuai dengan human capital theory (Karabel & Halsey; 1979) bahwa fungsi pendidikan merupakan ’black box’ yang dapat dipakai sebagai penjelas instrumen investasi pembangunan yang luarannya akan dapat mempercepat perubahan struktur masyarakat, serta kualitas sumber daya manusia yang membangunnya.
Salah satu permasalahan upaya peningkatan kualitas bangsa terkait dengan standar mutu pendidikan pada setiap tingkatan dan satuan pendidikan. Upaya dalam meningkatkan standar mutu pendidikan dapat dilakukan dengan pelatihan- pelatihan yang berdampak pada meningkatnya kompetensi dan kapasitas keterampilan guru, penyediaan dan pengadaan buku dan alat bantu belajar mengajar, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan kualitas
3 Kepala Sekolah sebagai manajer sekolah. Hal ini masih membutuhkan strategi yang adaptif dan transformatif. Saat ini, sudah mulai terlihat hasil dari aktivitas peningkatan mutu sekolah, terutama yang terjadi di sekolah-sekolah dan satuan pendidikan yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta di sejumlah kota dan kabupaten di Indonesia, dimana capaian prestasinya telah kompetitif dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain, khususnya di kawasan regional Asia Tenggara, meskipun sebahagian besar masih berkutat pada upaya moderasi dan pemutakhiran akibat ketertinggalan kurikulum, mutu lulusan dan masalah ketidaklengkapan sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah.
Misi dunia pendidikan adalah menghasilkan luaran sekolah yang berkualitas dan berprestasi mulai dari tingkat dasar, menengah dan tinggi yang terjadi karena telah memenuhi standar kompetensi pengetahuan dan keterampilan yang kompetitif, berkarakter gigih dan teruji di era modern saat ini. Keadaan luaran sekolah yang dicita-citakan ini berbeda dengan fakta sosial yang berada di tengah masyarakat, karena masih dijumpai data sumber daya manusia dan generasi terdidik yang mengalami demoralisasi yang mengkhawatirkan bagi tatanan kualitas bangsa dan integritas nasional Indonesia. Mengapa hal demikan terjadi?
Para analis pendidikan berpandangan bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah sebaran mutu pendidikan yang tidak seimbang atau merata mutunya diantara sekolah, perguruan tinggi, institusi pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, dibandingkan dengan yang dikelola oleh swasta maupun komunitas.
Manakala kita sejajarkan faktor kausalnya, maka dapatlah dideskripsikan sebagian permasalah tersebut terkait dengan hal-hal berikut ini: Pertama,
4 kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional yang masih dideterminasi oleh pendekatan educational production function atau analisa input-output yang tidak konsisten. Dalam konteks ini hanya menekankan fungsi lembaga pendidikan sebagai pusat produksi berbagai proses perubahan perilaku, yang luaran (output) diharapkan sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya.
Pendekatan ini berprinsip bahwa input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana prasarana perbaikan lainnya dipenuhi, maka akan memiliki efek linier terhadap tingkat mutu pendidikan yang terjadi. Kedua, adanya praktek aplikasi pendidikan yang birokratis sentralistik, yang menyebabkan fungsi sekolah menjadi bergantung pada pola kebijakan birokrasi. Perlakuan birokrasi yang bersifat red-tape dan sentralistik, menjadikan sekolah tidak mandiri, tidak berdaya kreatif dan rendah inovasi-motivasi. Ketiga, partisipasi masyarakat khususnya orang tua murid yang terbatas dalam mensupport berbagai kebutuhan dan anggaran sekolah, bahkan seringkali tidak berpartisipasi dalam monitoring, evaluasi kinerja sekolah, sehingga hasil pelaksanaan pendidikan menjadi kurang produktif dan berkualitas.
Keempat, adanya kekurangan ketersediaan personalia dan sumber daya manusia yang potensial dan memiliki kapasitas pemimpin dan manajer sekolah yang berperan sebagai kepala sekolah yang memiliki kemampuan mengayomi guru dan menyederhanakan birokrasi di sekolah.
Fungsi pendidikan dalam membangun karakter masyarakat sangat menentukan, karena arah pendidikan kita ditentukan oleh transformasi pengetahuan yang terbangun dari proses belajar mengajar di sekolah. Terkait
5 dengan hipotetika ini, Ratna Megawangi (Kompas, 11 Maret 2011) menganjurkan diimplementasikannya pendidikan holistik, dimana dalam konteks ini sekolah tidak hanya melakukan kegiatan belajar mengajar yang struktural, namun sekolah harus mengembangkan model pendididikan multi dimensi diantaranya pembentukan karakter, emosi dan spritual, kreativitas, kesehatan jasmani, dan kompetensi lainnya yang berfungsi dalam pembentukan masyarakat yang cerdas.
Masyarakat mendambakan dapat terpenuhinya layanan pendidikan yang berkualitas dan memuaskan. Kapitalisasi pendidikan yang berorientasi pasar meningkatkan persaingan antar sekolah-sekolah yang mengharuskan manajemen operasionalnya secara efisien, efektif dan produktif. Untuk menjawab tantangan ini, maka manajemen sekolah memerlukan perbaikan kinerja guru, perbaikan kurikulum, sistem, rekrutmen dan evaluasi mutu hasil belajar mengajar, dukungan dari sarana dan kelengkapan belajar diantaranya media baca dan perpustakaan.
Dengan demikan, sangat menentukan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang aplikatif berbasis berbagai mata pelajaran yang dikelola oleh para guru. Artinya manajemen berbasis sekolah menjadi menentukan untuk pengelolaan beragam potensi dan peluang yang melibatkan semua unsur pemangku kepentingan bertanggungjawab terhadap kualitas sekolah. Manajemen berbasis sekolah yang demokratis menjadi penting dikelola secara efektif dan efisien. Dalam hal ini peranan dan metode guru dalam proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menguasai meteri pelajaran dan perubahan perilakunya. Terkait dengan peran sentral guru dalam proses belajar mengajar di sekolah, maka pandangan
6 Neumann, Jones and Webb menyebutkan bahwa “Teachers are leaders in their school and local communities and, therefore, need to become cognizant of their leadership and its effects and develop deliberate commitments toward social justice” (http://dx.doi.org/10.1108/S1479-3660(2012)0000016004).
Di sisi lain, salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan berbasis sekolah adalah kualitas pendidik atau guru yang mumpuni dan berwawasan progresif dan futuristik. Kini peran guru sebagai sumber daya pendidikan diharapkan berkualitas mengampu mata pelajaran yang dikelolanya di kelas. Guru bertanggung jawab mendidik, mengajar dan melatih muridnya. Mendidik berarti mentransmisikan serta mengajarkan nilai dan norma dalam kehidupan, sedangkan mengajar bermakna sebagai upaya atau kegiatan mentransformasikan dan membudidayakan ilmu pengetahuan, serta melatih berarti mentransfer keahlian dalam berbagai hal agar siswa dapat memperagakan atau berperilaku yang sama bahkan lebih giat dan memiliki kompetensi (skill).
Dalam mengemban kewajiban dan tanggung jawabnya dalam mengajar, mendidik, dan melatih, maka setiap guru yang berperan sebagai pemandu belajar, pelatih, dan pengajar harus memiliki kompetensi, kapasitas dan keterampilan spesifik. Kapasitas dan skill merupakan indikator guru yang berkualitas dan mumpuni. Terkait dengan prakualifikasi tersebut diatas, Kunandar (2010) menganjurkan untuk para guru sebagai figur sentral bidang pendidikan diharuskan untuk menyesuaikan diri dan adaptif serta giat mengisi kompetensinya sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan teknologi yang pesat.
Sehingga tren fluktuasi pendidikan yang domainnya ada di setiap jenjang sekolah
7 menjadi bergantung atau dipengaruhi oleh partisipasi dan kinerja guru dalam proses belajar mengajar di sekolah (Sulthon, 2009). Karenanya kualitas pendidikan dan luaran (alumni) dari institusi sekolah seringkali berporos pada berperannya guru transfer ilmu pengetahuan dalam wujud-mata pelajaran atau bidang studi yang terdukung oleh bahan ajar yang up-to date (memutakhirkan), dan buku-buku pelajaran yang kontekstual dan spesifik yang dipakai dalam mendukung dinamika proses belajar mengajar di ruang kelas atau dalam media belajar lainnya.
Eksistensi guru sebagai pendidik yang berkapasitas mumpuni menjadi salah satu variabel yang paling signifikan dalam menghasilkan lulusan sekolah.
Kepribadian dan integritas guru menjadi indikator anutan murid yang diasuhnya.
Surya (2003) berargumen bahwa kepribadian seorang guru adalah cermin pemantul perilaku dan pelita pengetahuan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Perilaku positif dari pendidik akan sangat mempengaruhi bandul pendulum pengetahuan, serta proses dan luaran pendidikan.
Selain itu, pola interaksi internal siswa-siswi atau murid dengan rumpun belajarnya di dalam kelas, sesuai hasil penelitian Supatmawati (2013) justru mengarahkan agar fakta interaksi peserta didik dengan kelompok belajar selalu dalam lajur yang dikategorikan aktif, hal ini berlangsung manakala murid atau siswa selalu ikut serta dalam proses belajar secara kontinu di dalam rumpun belajar atau rombel-nya, serta selalu interaktif atau saling bertukar buah pikiran dan pengetahuannya atau kecerdasannya dalam berbagai diskusi dan tanya-jawab berbagai aspek, kasus dan subtansi dari mata pelajaran yang ingin diketahui yang
8 bersumber dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru di sekolah masing-masing.
Kontribusi bahan ajar yang diberikan oleh guru pada siswa memiliki signifikansi yang tinggi dalam menjawab semua keingintahuan siswa tentang heterogenitas, varietas serta ruang lingkup ilmu pengetahuan. Namun hal masih sangat kurang diperhatikan oleh institusi pendidikan khususnya pemerintah daerah karena terkait dengan upaya pemenuhan fasilitas pendidikan yang belum optimum karena keterbatasan anggaran terutama terjadi di daerah-daerah. Akibatnya keterbatasan sarana dan prasarana sekolah ini, berhubungan langsung dengan kualitas luaran pendidikan. Karena itulah, penerapan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sesuai dengan UUD RI nomor 23 tahun 2015, diharapkan mampu mendongkrak mutu sekolah dengan peran utama dari ketersediaan beragam buku- buku, dokumentasi dan sarana prasana perpustakaan, yang pada giliran berikutnya peran sekolah semakin mampu mencetak generasi bangsa yang tidak hanya cerdas tapi juga berkarakter dan berbudi pekerti yang baik. Tentu saja peranan perpustakaan di sekolah menjadi penentu dalam membantu dalam meningkatkan keberhasilannya melalui tingkat minat baca guru dan siswa yang tinggi.
Globalisasi memicu pendidikan untuk selalu adaptif agar mampu kompetitif dan berkesinambungan. Karena itu, setting hasil pendidikan di samping meningkatkan kapasitas rasional individu, harus pula mampu menghasilkan alumni yang siap masuk dunia kerja. Pendidikan menciptakan dan mereproduksi nilai-nilai global, dan proses pembelajaran berbagai kompetensi pembentukan jati diri dan kapasitas perilaku, keterampilan dan pengetahuan (Weiss, 2002).
9 Pendidikan sebagai suatu sistem, terdiri dari berbagai komponen kinerja yang saling mendukung satu dengan komponen lainnya. Sugandi (2007:28-30), menyebutkan komponen pembelajaran terdiri dari tujuan, subjek belajar, materi pelajaran, strategi pembelajaran (metode, model, teknik mengajar), media pembelajaran, serta penunjang (fasilitas, buku sumber, alat pelajaran, bahan pelajaran). Karena itu, penting untuk diingat oleh para pendidik bila mengajar di sekolah harus sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat kita. Selain itu, masyarakat kita lebih melihat keberhasilan siswa atau anaknya dari tingkat pengetahuan saja, padahal kecerdasan spiritual dan emosional anak didik juga sangat penting agar tidak terhindar dari sifat yang tidak berkarakter. Rossa Susanti (2013) memberi beberapa contoh dari perilaku yang tidak berkarakter, yaitu sering terjadinya tawuran antar pelajar, adanya pergaulan bebas, adanya kesenjangan sosial-ekonomi-politik di masyarakat, kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh pelosok negeri, terjadinya ketidakadilan hukum, kekerasan dan kerusuhan, korupsi yang mewabah dan merambah pada semua sektor kehidupan masyarakat, tindakan anarkis, dan konflik sosial. Siginifikansi peranan pendidikan dalam menumbuh-kembangkan sifat atau karakter perilaku dan akhlak budi baik generasi bangsa yang sedang dalam proses pendidikan menjadi sangat determinan untuk menghindari berlangsungnya krisis karakter bangsa di masa depan, karena corak dan pola transformasi character building sumber daya manusia menjadi pewarna karakter generasi muda dan bangsa yang lebih mandiri dan kompetitif dalam globalisasi.
10 Kualitas sistem pendidikan Indonesia dapat terpengaruh oleh adanya keterbatasan akses, kurangnya sarana dan prasarana vital dan penunjang proses belajar mengajar di institusi pendidikan. Salah satunya adalah fungsi dan kelengkapan yang tersedia sebagai sarana prasarana perpustakaan, karena perpustakaan sangat vital sebagai sumber referensi bagi para siswa dan guru dalam mengkaji ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu melalui buku-buku yang lengkap dan mutakhir.
Di dalam dunia pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah, untuk mengukur keberhasilan sekolah dalam menjalankan fungsinya di dunia pendidikan, terdapat delapan Standar Nasional Pendidikan (NSP) di Indonesia, baik untuk jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan sebagai penunjang akreditasi sekolah, yaitu 1) Standar Isi, 2) Standar Proses, 3) Standar Kompetensi Lulusan, 4) Standar pendidik dan Tenaga Kependidikan, 5) Standar Sarana dan Prasarana, 6) Standar Pengelolaan, 7) Standar Pembiayaan, dan 8) Standar Penilaian.
Dalam penelitian ini, perhatian terhadap standar dan kelengkapan sarana prasarana sekolah yang harus dipenuhi, salah satunya yaitu perpustakaan sekolah.
Perpustakaan sekolah sangat dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah manakala ditelaah Permendikbud no. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Gerakan Literasi Sekolah (GLS), merupakan upaya sistemik yang melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orangtua/wali murid, dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Tujuannya adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui
11 pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sasarannya adalah semua warga sekolah.
Saat ini banyak peserta didik masih rendah dalam hal minat baca dan menjadikan kebiasaan dikehidupannya sehari-hari. Dari data UNESCO tergambar bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi.
Rendahnya tingkat literasi anak usia sekolah di Indonesia yang terpaut jauh dari negara Singapura dan Malaysia (gurudigital.id). Terkait dengan data diatas, Milya Sari (2013), mengutip laporan perkembangan sains dan teknologi dari tahun 2005- 2010 dalam UNESCO Science Report 2010 di Paris, menyatakan bahwa Indonesia tidak termasuk negara yang diperhitungkan dalam perkembangan saintek. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan, mengapa Indonesia bisa seperti itu, apa penyebab dari semua itu? Berbagai pertanyaan pasti akan muncul dalam benak kita. Dari banyak hal yang dimunculkan, dunia Pendidikan merupakan satu hal yang paling tersakiti. Disinilah pemerintah, sekolah, komite sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat mencari solusi yang menarik dan menantang untuk usaha peningkatan Pendidikan di sekolah terutama pada profesional guru dan siswa- siswanya dengan menumbuhkembangkan belajar siswa dan guru dengan budaya membaca. Untuk itu sekolah dengan dibantu kebijakan pemerintah setempat agar mulai memperhatikan sarana prasarana perpustakaan sekolah sebagai salah satu syarat dari pembelajaran. Perpustakaan Sekolah berfungsi dalam mengumpulkan, mengelola, menyimpan dan memelihara bahan pustaka untuk diperlukan guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
12 Bagaimanapun, dalam dunia pendidikan, peranan guru sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar di kelas dan dalam penanaman budi pekerti yang baik pada siswanya. Keberhasilan sekolah tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kinerja menejerial kepala sekolah, pengawas sekolah dan stakeholder lainnya.
Milya Sari (2013:346), menyatakan bahwa rendahnya kompetensi kepala sekolah terlihat pada kapasitas laboratorium sekolah dan kelengkapan sarana prsarana perpustakaan sekolah yang ada. Perpustakaan sebaiknya tidak hanya menyediakan buku-buku guru dalam proses pembelajaran, ataupun buku untuk bahan bacaan untuk siswa yang sangat terbatas. Karena dengan sedikitnya pilihan buku yang dapat digunakan siswa dalam menambah wawasan pengetahuan mereka, maka berpengaruh pada kualitas pengetahuannya. Dalam hal ini peranan pemerintah dalam menambah khazanah ilmu siswa dengan membaca banyak buku kurang berperan, karena kebijakan pemerintah dalam pengadaan buku-buku di sekolah cenderung pada sekolah memiliki buku yang seragam, tidak bervariasai dan kurang memadai bagi bahan bacaan siswa.
Perpustakaan Sekolah adalah semua perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan. Pentingnya generasi muda untuk dapat memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku dan menjadikan membaca menjadi kebiasasan yang menyenangkan, maka pemerintah ikut peduli dan bertanggungjawab dengan digulirkannya Permendikbud nomor 23 tahun 2015. Zurni Zahara, 2003, menyatakan perpustakaan sekolah dibutuhkan sebagai salah satu penunjang dari Gerakan Literasi Sekolah sesuai dengan Permendikbud no. 23 tahun 2015 tentang
13 penumbuhan budi pekerti. Gerakan Literasi Sekolah bukan hanya lebih dari sekedar membaca dan menulis juga mencakup keterampilan berfikir sesuai dengan tahapan dan komponen literasi. Sedangkan dalam praktik yang baik perlu menekankan prinsip-prinsip gerakan literasi sekolah. Agar sekolah mampu menjadi garis terdepan dalam budaya literasi, maka perlu menggunakan beberapa strategi pelaksanaan. Ada beberapa cara yang dilakukan dalam mewujudkan kegiatan literasi di sekolah antara lain secara harian, mingguan, bulanan, persemester dan pertahun. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik agar pengetahuan dapat dikuasai secara baik. Materi baca harus berisi tentang nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional dan global yang disampaikan sesuai perkembangan peserta didik. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) juga harus menggunakan indikator pencapaian pada setiap tahapannya. Untuk itu maka kita perlu mengetahui sejauh mana kegiatan literasi ini dilaksanakan di sekolah-sekolah.
Mengingat pentingnya kegiatan ini, maka sekolah juga harus menyalurkannya melalui sarana dan prasarana perpustakaan sekolah yang menyediakan banyak buku sebagai sumber bacaan siswa.
Level minat baca yang rendah dan keterbatasan fasilitas baca berpengaruh pada kapasitas sumber daya manusia yang kurang kompetitif. Lemahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat terjadi karena lemahnya minat dan kemampuan membaca dan menulis. Sehingga sarana prasarana perpustakaan dan buku-buku yang tersedia menjadi kebutuhan utama dalam memenuhi tuntutan minat dan budaya membaca (Mulyo Teguh, 2017).
14 Kini, budaya membaca berbagai referensi diantaranya buku cetak mengalami penurunan seiring dengan merebaknya berbagai piranti gadget yang hadir di tengah masyarakat. Kehadiran gadget seperti telepon berpiranti Android ternyata belum mendorong minat baca masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan tehnologi. Masyarakat condong memanfaatkan piranti gadget yang ada justru lebih berporos pada sarana hiburan, komunikasi dan gaya hidup.
Karena itulah, Gerakan Literasi Sekolah menjadi penting untuk dibudayakan, yang bergantung pada kelengkapan sarana dan prasarana perpustakaan di sekolah.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah merupakan bagian dari program yang masuk sejak dalam kurikulum pendidikan 2013 hingga masa program Merdeka Belajar yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan anak-anak sekolah dalam membaca buku, majalah, dan lainnya. Kegiatan literasi sekolah dapat membiasakan anak-anak membaca menjadi sebuah kegiatan rutin yang menyenangkan.
Gerakan literasi sekolah yang diprogramkan oleh pemerintah bermanfaat dalam mengurangi ketertinggalan bangsa Indonesia dalam hal membaca. Menurut catatan UNESCO (Jessica, 2016), bahwa dari seribu orang Indonesia, hanya terdapat satu orang yang gemar membaca. Data ini merupakan kelemahan generasi muda Indonesia dalam mempersiapkan masa depannya sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan negara bila tidak digerakkan dengan Gerakan Literasi Sekolah. Solusi utamnya adalah kehadiran perpustakaan sekolah yang berfungsi karena kelengkapan sarana dan prasarana serta koleksi berbagai bahan bacaan yang dapat diakses secara mudah
15 sebagaimana mestinya untuk peserta didik maupun seluruh warga sekolah. Dalam memberhasilkan Gerakan Literasi Sekolah yang berporos pada eksistensi perpustakaan sekolah, dapat terjadi manakala sekolah menggandeng kerjasama dan kinerja yang positif berbagai pihak pengampu kepentingan diataranya komite sekolah, tokoh-tokoh masyarakat dan warga sekitar sekolah.
Disisi lain, masyarakat memandang keberhasilan sekolah dari keberhasilan peserta didiknya mendapatkan nilai-nilai tinggi pada setiap mata pelajaran yang tertera menjadi nilai rapornya. Kinerja membaca merupakan faktor yang sangat menentukan. Membaca, di samping memperkaya pengetahuan, memiliki signifikansi pula dalam membentuk kepribadian anak yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia, sesuai arahan Permendikbud nomor 23 tahun 2015. Terkait dengan pernyataan di atas, Rosa Susanti (2013: 482), menyatakan bahwa Pendidikan Karakter juga bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai- nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Di Provinsi Sumatera Utara masih terlihat banyak sekolah yang sarana dan prasarana perpustakaannya belum sesuai dengan standar nasional pendidikan, sementara program literasi sekolah harus diberlakukan sesuai himbauan pemerintah pusat. Pada umumnya masih terlihat sekolah menengah pertama baik
16 negeri maupun swasta belum semuanya memiliki sarana dan prasarana perpustakaan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan yang terdapat pada juknis instrumen akreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrarasah (BAN-S/M) Pusat. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan membaca guru dan siswa dan bagaimana dengan kegiatan literasi sekolah yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam rangka membudayakan membaca.
Dari rasa keingintahuan inilah membuat penulis mencoba mengangkat masalah program kegiatan literasi sekolah dan juga melihat sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah sehingga program literasi dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Binjai Utara sebagai lokasi yang diteliti mengingat di kecamatan ini didapati jumlah sekolah menengah pertama yang paling banyak dibandingkan di kecamatan lainnya di kota Binjai.
Sehingga diharapkan melalui pengumpulan dan fakta data yang diperoleh di lapangan menjadi perwakilan gambaran kondisi SMP di kota Binjai. Selain itu, sarana dan prasarana perpustakaan sekolah yang masih kurang lengkap, fungsi perpustakaan sebagai wadah kegiatan membaca siswa siswi juga belum dilakukan secara rutin. Ruang perpustakaan, yang jarang dikunjungi siswa atau guru disebabkan kondisi ruang perpustakaan yang kumuh atau tidak bersih lingkungannya karena kotor dan berdebu. Selain ruangnya yang sempit, buku- buku yang terpajang sangat minim jumlahnya, bahkan tidak layak untuk dilihat dan digunakan murid, karena keadaan perpustakaan kondisinya mirip seperti gudang buku yang sudah tidak terpakai lagi. Hasil dari pengamatan dan
17 monitoring yang dilakukan oleh pengawas sekolah juga menggambarkan, bahwa kegiatan literasi sekolah secara rutin belum terlihat dengan jelas, hanya berupa laporan kepala sekolah secara lisan dan tertulis tanpa dilengkapi bukti fisik berupa gambar dan rekaman video. Buku-buku yang dipajang di rak buku juga kebanyakan buku-buku mata pelajaran KTSP lama yang sudah tidak terpakai lagi, berdebu dan kotor. Dengan kondisi yang tidak layak ini bagaimana perpustakaan sekolah dapat difungsikan dengan benar. Dan dengan jumlah buku yang sangat terbatas bagaimana program literasi sekolah dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dan apakah program literasi yang sudah dicanangkan pemerintah dilakukan secara rutin, tentu hal ini harus dibuktikan dengan data dan telaah dokumen.
Dari latar belakang di atas, penulis merasa sangat perlu menggali informasi lebih dalam lagi mengenai kesadaran sekolah, komite, dan stakeholders bagaimana pentingnya perpustakaan sekolah dalam mempengaruhi berhasilnya program kegiatan literasi di sekolah tersebut. Penelitian ini belum pernah dilakukan terutama di wilayah kecamatan Binjai Utara dengan subjek penelitian adalah SMP baik negeri maupun swasta. Karena dianggap sangat penting dalam aktivitas di sekolah yang bertujuan membentuk karakter dan budi pekerti luhur peserta didik khususnya maka penulis mencoba untuk melakukannya. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dan temuan-temuan di lapangan dapat menambah wawasan dan perbaikan-perbaikan dalam melengkapi dan pemanfaaatan sarana prasarana perpustakaan serta mendorong kemajuan dalam kegiatan literasi sekolah yang dilaksanakan oleh semua sekolah di sekolah menengah pertama di
18 kecamatan Binjai Utara khususnya dan Kota Binjai umumnya. Disinilah perlu kesadaran para kepala sekolah, guru-guru, komite dan stakeholder bisa memahami arti penting sarana prasarana perpustakaan difungsikan dengan baik di sekolah, sehingga pembelajaran siswa tidak hanya berkisar di dalam kelas.
Bagaimana sekolah bisa menjalankan Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh pemerintah pusat sementara sekolah tidak menyediakan perpustakaan sekolah yang layak sebagai wadah menampung buku-buku yang ada? Bagaimana sekolah dapat membiasakan siswa-siswanya untuk lebih mencintai buku dan gemar membaca buku bila perpustakaan sekolah tidak difungsikan sebagaimana mestinya? Sangat disayangkan apabila sekolah tidak menyediakan buku-buku untuk bahan bacaan siswa yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan masa perkembangan mereka, dimana perpustakaan bermanfaat sebagai wadah yang tepat dalam pembiasaan siswa tersebut. Sayang sekali bila sarana perpustakaan ada dan buku-buku ada (walau belum sesuai jumlahnya) tetapi hanya sebuah pajangan sekolah saja, tetapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya, bahkan keadaanya sampai berdebu dan kotor, sehingga siswa bahkan guru pun enggan untuk masuk kedalamnya, apalagi memanfaatkannya sebagai tempat untuk menambah wawasan ilmu. Hal tersebutlah sebagai temuan lapangan yang dipaparkan dalam pembahasan penelitian ini.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka yang menjadi pokok masalah penelitian ini adalah:
19 1. Bagaimanakah pola penerapan Gerakan Literasi Sekolah pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kecamatan Binjai Utara oleh kesadaran sekolah, komite, dan pemangku kepentingan (stakeholder) sudah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan sesuai dengan Permendikbud no. 23 tahun 2015?
2. Faktor-faktor apakah yang menjadi kendala dalam penerapan Gerakan Literasi Sekolah pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kecamatan Binjai Utara?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan pola penerapan Gerakan Literasi Sekolah pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kecamatan Binjai Utara oleh kesadaran sekolah, komite, dan pemangku kepentingan (stakeholder) sudah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan sesuai dengan Permendikbud no. 23 tahun 2015?
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala dalam penerapan Gerakan Literasi Sekolah pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kecamatan Binjai Utara?
20 1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.4.1. Manfaat Teoritis
1. Untuk mengaplikasikan teori sosiologi pendidikan khususnya mengenai kajian relasi sarana dan prasarana perpustakaan yang dapat mendukung Gerakan Literasi Sekolah yang guna memenuhi Permendikbud no. 23 tahun 2015 di sekolah-sekolah tersebut sehingga perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh warga sekolah untuk meningkatkan prestasi sekolah dan belajar siswa.
2. Sebagai bahan referensi tambah untuk kajian program dan kebijakan yang diaplikasikan dalam dunia pendidikan menengah yang berfungsi sebagai bahan rujukan mahasiswa dan sarjana sosiologi dalam analisis dinamika dan signifikansi pendidikan pada komunitas pelajar SMP dan kinerja transfer ilmu pengetahuan dalam pengembangan perilaku dan prestasi belajar siswa.
1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa, komunitas sekolah, pemangku kepentingan (stakeholder) dan pemerintah kota Binjai dalam melengkapi sarana dan prasarana perpustakaan Sekolah Menengah Pertama dalam memenuhi Standar Pendidikan Nasional guna produktivitas program literasi sekolah dalam meningkatkan prestasi sekolah dan belajar siswa.
21 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pandangan Sosiologi tentang Pendidikan
Pendidikan adalah beragam aktivitas yang harus dikelola oleh organisasi atau kelembagaan yang mengaplikasikan suatu sistem yang terkendali untuk merubah perilaku masyarakat. Sosiolog Emile Durkheim (Tjipto Subadi, 2009), menyatakan bahwa persoalan-persoalan pendidikan bisa diselesaikan dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan sebaliknya permasalahan sosial juga bisa pecahkan dengan memanfaatkan pendekatan yang tepat. Dalam hal ini pandangan Maunah (2016), tentang makna sosiologi pendidikan sebagai ilmu yang mempelajari berbagai komponen pendidikan, dari aspek struktur, masalah-masalah pendidikan, dinamika pendidikan maupun sisi lainnya secara mendalam dapat menjadi pendekatan sosiologi yang relevan untuk diaplikasikan. Selanjutnya Durkheim berprinsip bahwa sosiologi tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan secara individu, hal ini berlaku karena hal utama luaran pendidikan adalah untuk mendapatkan peran sosial. Terkait dengan penjelasan itu, berikut ini pandangan Emile Durkheim yang dapat dipahami, yaitu:
1. Pendidikan adalah memungkinkan terjadinya interaksi antar individu dan kelompok, yang menyebabkan berlangsungnya proses adaptasi berbagai perilaku oleh individu di dalam masyarakat.
2. Pendidikan adalah metode kondensasi atau sosialisasi perilaku orang dewasa ke generasi muda. Orang muda harus mereproduksi berbagai norma sosial dan model kultural dari generasi sebelumnya yang
22 ditransmisikan dalam berbagai pola nilai dan perilaku kepada generasi muda.
3. Pendidikan sebagai metafora hipnotis. Dalam konteks ini, metafora ini bekerja kerena adanya kekuasaan atau otoritas. Durkheim membedakan metafora hipnotis sebagai kekuatan tindakan pendidikan dalam 2 dimensi lapisan yaitu dimensi pasif dan dimensi otoritas. Pertama, dimensi pasif menggambarkan pada kurangnya resistensi dari subjek yang terhipnotis.
Kedua, dimensi otoritas yang berada dibawah kewenangan hipnotis menggambarkan adanya penolakan untuk mematuhi bahkan tak dapat dibayangkan bahwa perbuatan tersebut harus dilakukan oleh individu dalam di masyarakatnya. Dalam pandangan Durkheim, kedua kondisi di atas dapat tergambar dalam hubungan antara guru dan murid-muridnya.
Peserta didik secara alami dalam keadaan pasif sebanding dengan yang artifisial yang dianggap dalam keadaan terhipnotis (Rakhmad Hidayat, 2014:91). Dalam pendidikan Durkheim, menyatakan bahwa guru memiliki peran sangat penting di dalam sekolah karena dia berperan sebagai pihak yang menanamkan cita-cita dan pengetahuan masyarakat pada siswa mereka. Durkheim percaya bahwa dengan penyampaian metode dan isi pengajaran yang menanamkan nilai, norma, kepercayaan kepada murid dapat menciptakan masyarakat yang harmonis dan tertib. Tujuan jangka panjangnya adalah menciptakan keteraturan sosial (social order) dalam masyarakat yang dicita-citakan. Keteraturan sosial (social order) dan ketidakteraturan (disorder) merupakan dua isu utama Emile Durkheim
23 dalam menjelaskan masyarakat (Elwell, 2005:84). Sehingga objek kajian sosiologi pendidikan adalah masyarakat yang mengalami pendidikan (formal, informal dan non-formal) serta permasalahan-permasalahan yang berlangsung di dalamnya, yang tidak terbatas hanya pada kajian dinamika interaksi guru dan murid-muridnya di sekolah, tetapi lebih jauh lagi hingga menjangkau kelembagaan sosial dengan lingkup persoalan trasnsmisi ilmu pengetahuan dan berbagi perilaku dalam masyarakat.
2.1.1 Pendekatan dalam Sosiologi Pendidikan 2.1.1.1 Teori Struktural Fungsional
Bagaimana pendidikan dapat merubah masyarakat? Durkheim menyebutkan bahwa masyarakat sama halnya dengan keluarga, dimana ada fase- fase masing-masing individu yang terikat sebagai satu kesatuan bagaikan sebuah sistem yang elemennya masing-masing bergerak sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing (Hidayat, 2014:92. Karena itu, pendidikan adalah sistem yang didalamnya tersusun fungsi-fungsi dari berbagai peran yang saling melengkapi. Dalam pandangan Durkheim, istilah fungsional memiliki dua makna, pertama adalah sebuah sistem dari pergerakan yang penting seperti pencernaan ataupun respirasi, dan kedua lebih mengarah pada relasi/keterkaitan dalam pergerakan tersebut termasuk dengan hubungan saling ketergantungan dalam setiap organisme (Jones, 1986:26).
Untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang tertib dari generasi ke generasi selanjutnya, maka masyarakat harus berbasis hukum yang dapat
24 ditegakkan dan berfungsi dengan peranan sistem pendidikan serta adanya sosialisasi utama keluarga. Menurut ahli fungsionalisme diantaranya Herbert Spencer, Emile Durkheim, Talcott Parsons dan Robert K. Merton, bahwa masyarakat adalah suatu suatu sistem yang memiliki bagian-bagian yang saling berhubungan dan bekerja secara harmonis untuk menjaga keseimbangan dari keseluruhan sistem sosial. Dengan demikian keberlanjutan masyarakat dapat berlangsung karena adanya fungsi dari berbagai kelembagaan yang membangun struktur sosial. Artinya masing-masing lembaga sosial tersebut berkontribusi bagi dinamika dan eksistensi masyarakat. Misalnya lembaga keluarga berperan dalam mereproduksi, memelihara dan mensosialisasikan berbagai perilaku, nilai dan norma serta pengetahuan kepada anak-anak di dalam rumah tangga. Pranata pendidikan menumbuhkan keterampilan masyarakat, pengetahuan, dan budaya untuk generasi muda. Demikian pula lembaga politik menyediakan sarana yang dapat mengatur kepentingan dan kebutuhan anggota masyarakat atas berbagai tatanan pemerintahan, administarsi dan barang publik. Lembaga ekonomi menyediakan kebutuhan atas berbagai barang dan jasa yang diproduksi, didistribusikan secara berjejaring. Lembaga agama memberikan bimbingan moral dan iman kepada manusia agar memiliki keyakinan yang kuat bahwa ada Illahi yang sangat akbar yang menciptakan bumi dan alam semesta, serta kehidupan yang ada didalamnya.
Sebagian penganut teori fungsional, Emile Durkheim menggambarkan bahwa kejahatan dapat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Mengapa demikian? karena meningkatnya kejahatan di tengah-tengah masyarakat akan
25 menimbulkan kesadaran bagi masyarakat pentingnya kesadaran yang tinggi atas adanya jalinan ikatan moral bersama dan meningkatkan kohesi sosial. Kondisi ini menyadarkan kita atas diperlukannya fungsi utama pendidikan di masyarakat yaitu kebutuhan atas solidaritas sosial yang tinggi di masyarakat, komitmen bersama, rasa memiliki dan perasaaan bahwa kepentingan sosial lebih penting daripada individu. Dengan demikian, pendidikan berperan dalam menjalin ikatan yang kuat antara individu dan masyarakat. Dalam perjalanan hidup manusia, manusia akan lahir sebagai pribadi yang kanak-kanak, tumbuh dan berkembang menjadi makhluk dewasa. Disinilah saling terkaitnya individu, masyarakat dan pendidikan, dimana anak-anak akan mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikisnya di tengah keluarga dan masyarakat, sembari mereka harus menguatkan rasa komitmennya terhadap kelompok sosialnya.
Di dunia pendidikan, peraturan yang dibuat sekolah sangatlah penting.
Ketika ada siswa yang melalukan kesalahan, mereka juga wajib diberikan sanksi dan hukuman (punishment). Sebaliknya ketika siswa melakukan perbuatan yang baik juga akan mendapatkan penghargaan (reward) dan pujian yang baik dari pihak sekolah. Durkeim percaya bahwa peraturan sekolah harus ketat dan hukuman yang dijalankan juga harus bisa menunjukkan keseriusan dalam hal pelaksanaan peraturan sekolah yang sudah dibuat, dan peraturan itu akan mengendalikan perilaku antisosial anak. Pendidikan juga mengajarkan orang agar memiliki keterampilan yang khusus yang dibutuhkan dalan dunia kerja mereka di masa depan, terutama pada masyarakat industri. Dalam masyarakat industri pentingnya pembagian kerja secara profesional dengan keahlian di bidang
26 masing-masing, karena solidaritas sosial pada masyarakat industri didasari oleh adanya saling ketergantungan keterampilan khusus. Misalnya dalam pembuatan satu produk akan membutuhkan keberhasilan dalam kerjasama dan solidaritas sosial. Menurut Durkheim, sekolah akan menyediakan nilai umum yang diperlukan untuk homogenitas dan kelangsungan hidup sosial dan juga keterampilam khusus yang menyediakan keragaman keterampilan yang dibutuhkan dalam kerjasama sosial. Bahkan peranan sekolah didalam masyarakat industri yang kompleks sangat diperlukan fungsinya, karena tidak dapat dikelola di dalam keluarga, kelompok sebaya, kelompok kekerabatan, keanggotaan masyarakat secara keseluruhan. Di sekolah, setiap individu atau anggota masyarakat menjadi siswa yang harus belajar, bekerjasama dengan mereka yang bukan teman-teman mereka, atau anggota keluarga dan kerabat mereka, artinya anak-anak akan berinteraksi dalam komunitas sekolah yang di dalamnya berlaku seperangkat aturan yang mengikat mereka. Menurut Durkheim, pendidikan juga mengajarkan orang agar memiliki keterampilan khusus yang dibutuhkan di masa depan anak-anak. Walaupun keterampilan dapat diturunkan dari orangtuanya tanpa melalui pendidikan formal, tetapi disini sekolah dapat mentransmisikan nilai umum untuk kebutuhan homogenitas dan kelangsungan hidup sosial, berupa keterampilan khusus yang diperlukan untuk kerjasama sosial.
27 2.1.1.2 Kurikulum dan Integrasi Masyarakat
Pendidikan dapat mencerminkan masyarakat yang ada dan dapat mengantisipasi dampak perubahan sosial yang dapat mengganggu stabilitas sosial.
Disini juga peran orangtua sangat membantu dalam mengajarkan anaknya tentang peran dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Sistem pendidikan sangat penting karena dapat mempertahankan eksistensi masyarakat melalui kurikulum yang diajarkan sekolah, Pendidikan akan mempersiapkan siswa-siswanya dalam mengantisipasi kondisi di masa mendatang. Dan melalui praktik kurikulum di sekolah akan menghasilkan pribadi yang dewasa yang diharapkan oleh masyarakat.
Dalam mentransmisikan berbagai mata pelajaran, guru berpedoman pada kurikulum, sehingga ia memiliki koridor panduan untuk mencapai target luaran perilaku dan pengetahuan yang akan dicapai sesuai tujuan yang direncanakan sebelumnya. Guru memiliki wewenang dalam melaksanakan kurikulum tersebut meskipun masih terbatas. Dalam buku L’Education Morale dan L’Education Pedagogoque en France, Durkheim menjelaskan konsep pendidikan humanis baru (d’une nouvelle education humaniste), dimana guru harus memiliki kurikulum yang humanis agar dapat mensosialisasikan norma dan cita-cita serta pengetahuan praktis yang dibutuhkan siswa untuk menjadi masyarakat yang dewasa. Sifat kurikulum yang restriktif sangat membatasi guru, karena guru jadi tergantung dengan kurikulum yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetapi sebagian guru senang dengan menerapkan kurikulum yang sudah ditetapkan tersebut. Guru
28 dalam pandangan Durkheim harus kreatif dan tidak harus menjadi robot kurikulum.
2.1.1.3 Sosialisasi dan Pendidikan
Sosialisasi adalah proses dimana individu belajar dan menginternalisasi nilai dan norma sepanjang hidupnya di lingkungan masyarakatnya dan membangun identitas sosialnya. Dari berbagai karya Durkheim, sosialisasi menjadi isu kajiannya untuk menggambarkan keterkaitan antara sosiologi, pendidikan dan masyarakat. Proses sosialisasi pada generasi muda menghasilkan kondisi dimana anak memperoleh beragam peranan yang untuk dapat menyesuaikan posisinya dalam berbagai hal di dalam masyarakat. Pendidikan merupakan metode sosialisasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam merupakan energi individu untuk mempertahankan keberadaannya. Proses sosialisasi dimulai sejak manusia lahir, menjadi bayi, dan bertumbuh besar dalam keluarga, serta secara sistematis berkembang menjadi diri dan individu yang memiliki ilmu pengetahuan dari sekolah. Disiplin ilmu dalam pendidikan sebagai tujuan dalam fakta sosial yang harus menempatkannya dalam konteks dinamis yang umum, dan hal ini dapat dijelaskan dengan menganalisa dari segi tahapan realitas sosial.
2.1.1.4 Peran Keluarga dalam Sosialisasi
Durkheim memandang bahwa dalam membentuk kondisi sosial, psikologi, moral dan emosi anak sangat dipengaruhi oleh peran dan fungsi keluarga di tengah-tengah masyarakat dalam proses sosialisasi individu. Keluarga terbentuk dalam hubungan pribadi yang intim dan sederhana, bukan berdasarkan keuntungan ekonomi sehingga dapat membentuk anak dalam kehidupan
29 sosialnya. Proses sosialisasi tidak terbatas pada pengaruh praktik pendidikan, seperti tindakan eksplisit dan spesifik orangtua dalam mendidik anak mereka dengan cara tertentu. Karakter dan pemikiran anak dipengaruhi oleh tindakan- tindakan kecil yang terjadi setiap saat baik di sekolah maupun di rumah. Faktor bahasa juga memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak. Durkheim memfokuskan pendidikannya tentang sosialisasi generasi muda di sekolah dalam sistem sekolah yang disebut mesin (machine) dan dipandang sebagai organ yang memenuhi fungsi dalam masyarakat. Sosialisasi dapat berjalan melalui sistem mentalitas dan sistem ide yang ada dalam individu. Sistem ide dapat berupa sentimen dan praktik-praktik yang diekspresikan dalam diri kita. Pendidikan dapat menanamkan pada anak tentang hubungan yang mendasar dalam masyarakat yang menyebabkan seseorang berubah dari makhluk individu (individual beings) menjadi makhluk sosial (social beings). Melalui pendidikan pula anak mampu belajar dan memahami aturan, nilai dan norma dalam masyarakatnya. Sosialisasi merupakan sebuah media utama dalam menciptakan integritas kolektif di masyarakat karena di dalamnya terdapat perhatian dan tanggung jawab utama dari keluarga, negara dan sekolah dalam transformasi anak-anak menjadi masyarakat dewasa (Haecht, 2006: 22). Kekuatan moral memiliki peran dalam perkembangan masyarakat yang bergerak secara positif dan melahirkan warna baru dari generasi baru. Generasi tua memiliki peran dan tanggung jawab mengajarkan kepada generasi muda tentang kehidupan sosial. Masih dalam pandangan Durkheim, sistem pendidikan menurutnya berkontribusi untuk eksisitensi sebuah masyarakat.
Melalui kurikulum yang diajarkan di sekolah, pendidikan akan mempersiapkan
30 peserta didik mengantisipasi kondisi di masa yang akan datang. Sosialisasi dan pendidikan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Pendidikan menurut Durkheim adalah sebagai sebuah pengaruh yang ditanamkan orang dewasa kepada anak-anak yang belum siap menghadapi kehidupan sosialnya.
Pendidikan menjadi wadah pembauran beragam perilaku yang ditanamkan ke dalam diri individu. Tujuannya untuk membangkitkan dan mengembangkan pada anak-anak sebagai generasi muda dalam kemampuan fisik, intelektual dan moral yang dituntut masyarakat dan lingkungan sosialnya. Dalam pandangan Durkheim, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mendorong kemampuan siswa dalam mengevaluasi praktik kehidupan kontemporer dalam ruang alternatif yang ada dalam budaya yang asing atau kehidupan masa lalu. Sekolah juga berperan dalam perkembangan baru dalam kehidupan kontemporer yang direalisasikan melalui praktik-praktik sosial (Cladis, 2008: 394). Dalam bukunya Education et Sosiology, Durkheim tertarik pada sosialisasi primer anak, dimana peranan pendidikan mengajarkan perilaku dalam suatu masyarakat tertentu, yang nantinya membawa anak masuk kedalam dunia modern. Untuk itu, pendidikan moral dianggap sangat penting bagi anak, menjadi bagian dari diseminasi secara ilmiah moralitas sekuler menuju masyarakat modern dan masyarakat sekuler (Ramp, 199:82). Melalui pendidikan dapat dikatakan bahwa keterampilan individu didapat diturunkan secara turun temurun.
.
31 2.2 Sekolah
Sekolah merupakan sebuah lembaga dimana peserta didik dapat memperoleh ilmu, wawasan, pengalaman belajar yang mendukung untuk memperoleh masa depan yang cerah. Melalui sekolah mereka berharap dapat memperbaiki kehidupannya baik secara ekonomi, sosial, serta mendapatkan posisi dalam masyarakat. Pendidikan di sekolah menyiapkan peserta didik untuk menjalani kehidupannya di masyarakat. Masyarakat menjadi yakin bahwa semua orang memiliki peluang yang sama dalam mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
2.3 Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan pada prinsipnya adalah sarana pajangan beragam kepustakaan yang berfungsi sebagai sumber saluran ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan untuk memperkaya kecerdasan bangsa dalam mendukung tujuan pembangunan nasional. Perpustakaan sekolah adalah sarana tersedia di dalam lingkungan sekolah, yang berada dalam tanggung jawab kepala sekolah sebagai manager sekolah. Ada beberapa jenis perpustakaan sekolah, yaitu perpustakaan sekolah di Taman Kanak-Kanak, perpustakaan sekolah di Sekolah Dasar, perpustakaan sekolah di Sekolah Menengah Tingkat Pertama dan perpustakaan sekolah di Sekolah Menengah Tingkat Atas.
Menurut Undang Undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan
32 pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para siswa pengguna perpustakaan. Dalam konteks ini, perpustakaan terdiri atas perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah/Madrasah, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan khusus.
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang letaknya berada di lingkungan sekolah, yang dikelola oleh kepala sekolah sebagai manajer sekolah, dan segala sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah. Kepala sekolah bekerjasama dengan warga sekolah termasuk komite sekolah dan stakeholder sekolah. Dalam buku Perpustakaan Sekolah (1992:10), termaktub bahwa perpustakaan memiliki tujuan khusus dan umum. Adapun tujuan umumnya, perpustakaan sekolah eksis dalam rangka penyelenggaraan pendidikan dengan perangkat belajar lainnya agar siswa dapat meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kecerdasan dan keterampilan, meningkatkan dan menumbuhkan budi pekerti, serta meningkatkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar bertumbuh menjadi manusia yang memberdayakan dirinya dan tanggung jawabnya pada pembangunan Nasional yang berazas pada Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan tujuan perpustakaan sekolah secara khusus adalah:
1. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca siswa yang akhirnya dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya.
2. Mengembangkan kemampuan siswa dalam mencari, mengolah dan memanfaatkan informasi yang ada.
33 3. Siswa dapat menjaga dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna
dan berhasil guna.
4. Siswa mendapatkan pembelajaran dalam proses belajar mandiri.
5. Siswa dapat memupuk minat dan bakat yang mereka miliki.
6. Menumbuhkan apresiasi siswa dalam pengalaman imajinatifnya.
7. Siswa dapat mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah dalam kehidupannya dan dapat bertanggungjawab atas dirinya sendiri.
Adapun yang menjadi sasaran dari perpustakaan sekolah itu adalah agar terwujudnya perpustakaan sekolah yang berdaya guna sehingga mendukung upaya pengembangan talenta dan motivasi guru serta peserta didik. Ketersediaan bahan pustaka dengan jumlah dan mutu yang cukup, membina peserta didik menjadi gemar membaca, memilki kebiasaan dan keterampilan membaca, pembelajar sepanjang hayat. Perpustakaan juga dapat berungsi sebagai poros aktivitas belajar mengajar di sekolah. Sasaran keberadaan perpustakaan sekolah secara prinsipil selaras dengan upaya atau ikhtiar untuk mencapai tujuan pendidikan yang pengendaliannya berada di dalam sekolah.
Peran dan fungsi perpustakaan sekolah sangat penting dalam prose belajar mengajar terutama dalam keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah. Mnurut Arif Surrahman (2010:1), bahwa perpustakaan berfungsi sebagai:
1. Pusat kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan seperti yang tercantum dalam kurikulum sekolah.
2. Pusat penelitian sederhana agar siswa dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.