• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUU ADMI N ISTRASI PEMERINTAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RUU ADMI N ISTRASI PEMERINTAHAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

ADMI N ISTRASI PEMERINTAHAN

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

ARSIP DPR RI

(2)

RUUAP

Ketua MA Prof DR Bagir Manan

KLIPING

ndontsla Butuh UU Admlnlstrasl Pemerlntahan - :

:"::!.~:U~~

Pl:MllllNl'ABAN DAN RVU TATA IRJBllNGAN KmNANGAN PDIEROO'All Pl&T DAN DAllWI.

lM.ataiya Mmll lluuUll RUU Mnilnl PemerilUhaR - - - -danTala~ng11KtwenlnganPul8t·Daeiahdlileden

Ketua MA: Selama ini Administrator Negara Jalankan Tugas Tanpa Stamlar Baku

PE,RATURAN Pf:RUNDANGAN VANG MENDUKUNG REFORMA$1 BJRQKRASf

ARSIP DPR RI

(3)

KEDUDUKAN RUU AP DALAM PROSEDUR & PROSES

r---,---r---1

I Prosedur Pembuatan Keputusan I Prosedur Upaya l Gugatan l

1 l Admlnistratlf 1 1

r---

4

---r---1

l :

l'

l

l

J Aplikasl KAP

I!

I Keput~

!

I I L-~~: I

: : : I

I Mell hat l I I

l Dengar l Upaya ,'

l

,T11 .. ,

J

l

l Pendapat Dokumen l Admlnlstratlf

:wtPOO

& l

I

t :

I

I

l

: l I I

I - I

I I

I I

I I

I Bantuan Plhak-pihak yang Penarikan I

l Kedinasan dikecualikan I

, Revis! ,

I I

I: Ketentuan Tambahan . I~~

:,

I I

:I Pemberian alasan

I

.

:'

I I I

I I I I

I I I I

~---~---L---J

KEDUDUKAN UU AP DALAM HUKUM

Hutu.m Pidana

' , , ~ ' ' ' ' ' ~~,/'."' ' ' <!'

• UUD/Konstltusl HANUrnum

• UU tentang OPR/OPD

• UUParpol

UU PTUN (Peradllan Tata Usaha Negara) (Hukum Formal)

r

UUADMINISTRASI PEMERINTAHAN (Hukum Materlll) ..

• RUU 51stem Penuwasan Internal

Plfllll'l!lt!!h (ft)•••

~

• UU Kementerian Negara

• UU Pelayanan Publlk

• UUASN

• UU Pemerlntahan Oaerah

• UU Kepollslan

• RUU TitliB Hubungan

·~~~~:;

ARSIP DPR RI

(4)

TUJUAN RUU ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

GAGASAN PENTING RUU AP DALAM UPAYA MENDORONG PELAKSANAAN RB

1

Hubungan Antar lnstansi Pemerintah

Hubungan sinergis antar institusi Pemerintah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan.

2

Pemanfaatan Teknologi

Legitimasi pengiriman keputusan administrasi Pemerintahan dapat dilakukan melalui media elektronik

3

i

Kejelasan Tangguna Ja-,..vab Terhadap Kewenangan Kewenangan pejabat tierupa l<ewenangan atributit delegatit dan mandat

1

ARSIP DPR RI

(5)

CiACiASAN PENTINCi RUU AP DALAM

UPAYA MENDORONG PELAKSANAAN RB

Lanjutan

II

Prosedur Administrasi Pemerintahan

Tata cara penerbitan keputusan atau tindakan Pemerintah .

Keputusan Administrasi Pemerintahan Syarat sah keputusan dan batas-batas diskresi.

6

Upaya Administratif Terhadap Keputusan Administrasi Pemerintahan

Upaya administratif yang dilakukan terhadap Keputusan Administriasi Pemerintahan.

POKOK BAHASAN RUU AP

1

'.. 2

4

5

KEWAJIBAN MENERAPKAN ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK (AUPB)

KEWENANGAN PEMERINTAH

LARANGAN PENVALAHGUNAAN WEWENANG

DISKRESI

PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

ARSIP DPR RI

(6)

POKOK BAHASAN RUU AP

Lanjutan

6

PROSEDUR ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

7

~'.f$

KEPUTUSAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

UPAYA ADMINISTRATIF

9

GANTI RUGI

10

PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

11

SANKSI ADMINISTRATIF

a

KfWAJIBAN MENERAPKAN ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK {AUPB)

• Pejabat Pemerintahan berkewajiban untuk menyelenggarakan

Pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan, dan AUPB.

( Pasal 7 ayat (1) )

• AUPB yang dimaksud dalam undang-undang ini meliputi:

a. Asas kepastian hukum;

b. Asas kemanfaatan;

c. Asas ketidakberpihakan;

d. Asas kecermatan;

e. Asas tidak menyalahgunakan kewenangan;

f. Asas keterbukaan; dan g. Asas kepentingan umum.

(Pasal 10)

ARSIP DPR RI

(7)

II

KEWENANGAN PEMERINTAH

• Setiap Keputusan dan/atau Tindakan harus ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang berwenang.

• Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam menjalankan wewenangnya wajib berdasarkan:

1. peraturan perundang-undangan; dan 2. AUPB.

• Pejabat Administrasi Pemerintahan tidak boleh menyalahgunakan

kewenangan dan tidak boleh menguntungkan diri sendiri, atasan serta orang lain dalam mengambil Keputusan dan/atau Tindakan Adminlstrasi

Pemerintahan.

( Pasal 8 ayat (1), (2), dan (3) )

D

LARANGAN PENYALAHGUNAAN WEWENANG

Sadan dan/atau Pejabat Pemerintahan dilarang menyalahgunakan wewenang.

Larangan penyalahgunaan wewenang meliputi:

a. larangan melampaui wewenang;

b. larangan mencampuradukkan wewenang; dan/atau c. larangan bertindak sewenang-wenang.

( Pasal 17 ayat {1} dan (2))

Yang dimaksud melampaui wewenang, yaitu:

a. melampaui masa jabatan atau batas waktu berlakunya wewenang;

b. melampaui batas wilayah berlakunya wewenang; dan/atau c. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Yang dimaksud mencampuradukkan wewenang, yaitu:

a. di luar substansi atau materi wewenang yang diberlkan; dan/atau b. bertentangan dengan tujuan wewenang diberikan.

Yang dimaksud sewenang-wenang , yaitu:

a. tanpa dasar kewenangan; dan/atau.

b. bertentangan dengan putusan pengadilan yang berkekuatan tetap.

(Pasal 18 ayat (1), (2), dan (3)

ARSIP DPR RI

(8)

a

fJISKRESI

Diskresi hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan yang berwenang.

Penggunaan Diskresi Pejabat Pemerintahan bertujuan untuk:

a. kelancaran penyelenggaraan pemerintahan;

b. mengisi kekosongan hukum;

c. memberikan kepastian hukum; dan

d. mengatasi stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu guna kemanfaatan dan kepentingan umum.

( Pasal 22 ayat (1) d.ai:i (i) )

Ruang lingkup Diskresi, meliputi:

a. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang memberikan suatu pilihan Keputusan dan/atau Tindakan;

b. karena peraturan perundang-undangan tidak ada;

c. karena peraturan perundang-undangan tidak jelas; dan

d. karena adanya stagnasi pemerintahan guna kepentingan yang lebih luas.

( Pasal 23)

a

fJISKRESI

Pejabat Pemerintahan yang menggunakan Diskresi wajib memperhatikan:

a. tujuan Diskresi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 Ayat (2);

b. ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. AUPB;

d. berdasarkan alasan-alasan yang obyektif;

e. tidak menimbulkan konflik kepentingan; dan f. dilakukan dengan itikad baik

( Pasal 24)

ARSIP DPR RI

(9)

@: MMjiUUillN-M''l'h'iiiU@H'llM@•

• Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang berwenang membuat dan/atau melaksanakan Keputusan dan/atau Tindakan terdiri atas:

a. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam wilayah hukum dimana penyelenggaran pemerintahan itu terjadi; atau

b. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam wilayah hukum dimana seorang individu atau sebuah organisasi berbadan hukum melakukan aktivitasnya.

( Pasal 33)

a

PROSEDUR ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

• Pihak-pihak dalam proses Administrasi Pemerintahan terdiri atas:

a. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan; dan

b. Warga Masyarakat sebagai pemohon atau pihak yang terkait.

(Pasal 39)

• Pihak-pihak dalam proses Administrasi Pemerintahan dapat memberikan kuasa tertulis satu kali kepada penerima kuasa untuk mewakili dalam pros~

Administrasi Pemerintahan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang. ·

• Penerima kuasa harus dapat menunjukkan surat pemberian kuasa secara tertulis yang sah kepada Badan atau Pejabat Pemerintahan dalam proses Administrasi Pemerintahan.

( Pasal 40 ayat (1) dan ayat (2) )

ARSIP DPR RI

(10)

II

PROSEDUR ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

Surat kuasa sekurang-kurangnya memuat:

a. judul surat kuasa;

b. identitas pemberi kuasa;

c. identitas penerima kuasa;

d. pernyataan pemberian kuasa khusus secara jelas dan tegas;

e. tempat dan tanggal pemberian kuasa;

f. tanda tangan pemberi dan penerima kuasa; dan g. materai sesuai ketentuan yang berlaku.

Pencabutan surat kuasa kepada seseorang hanya dapat dilakukan secara tertulis dan berlaki.i pada saat surat tersebut diterima oleh Badan atau Pejabat Pemerintahan yang bersangktltan.

Dalam hal indivldu, badan hukum dan organisasi tidak memiliki wakil yang dapat bertindak atas namanya, maka Badan atau Pejabat Pemerintahan dapat menunjuk wakil dan/atau perwakilan pihak yang terlibat dalam prosedur Administrasi Pemerintahan.

Apabila Pejabat Pemerintahan menerima lebih dari satu surat kuasa untuk satu urusan yang sama, maka Badan atau Pejabat Pemerlntahan mengembalikan kepada pemberi kuasa untuk menentukan satu penerima kuasa yang berwenang mewakili kepentingan pemberi kuasa dalam proses Administrasi Pemerintahan.

( Pasal 40 ayat (3), (4) dan (S) )

II

KEPUTUSAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

• Keputusan Administrasi Pemerintahan yang juga disebut keputusan tata usaha negara atau keputusan administrasi negara yang selanjutnya disebut Keputusan adalah ketetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat. I Pemerintahan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

( Pasal 1 ayat (7) )

ARSIP DPR RI

(11)

II

UPAYA ADMINISTRATIF

Warga Masyarakat yang dirugikan terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dapat mengajukan upaya administratif kepada pejabat atau atasan Pejabat Pemerintahan yang mengeluarkan Keputusan dan/atau Tindakan.

Upaya Administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri darl : a. keberatan; dan

b. banding.

Upaya Administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menunda pelaksanaan Keputusan dan/atau Tindakan kecuali :

a. ditentukan lain dalam undang-undang; dan b. menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan wajib menyelesalkan upaya administratif yang berpotensi membebani keuangan negara secara efektif dan efisien.

Pengajuan Upaya Administratif tidak dibebani biaya

( Pasal 74)

llGANTIRUGI

• Penyelesaian Upaya Administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (2) berkaitan dengan batal atau tidak sahnya Keputusan, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan tuntutan administratif.

( Pasal 75 ayat (4})

ARSIP DPR RI

(12)

m

PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

• Pembinaan dan pengembangan Administrasi Pemerintahan dilakukan oleh Menteri dengan melibatkan Menteri Dalam Negeri

• Pembinaan dan Pengembangan Administrasi Pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi:

a. melakukan supervisi pelaksanaan Undang-Undang Administrasi Pemerintahan;

b. mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Administrasi Pemerintahan;

c. mengembangkan konsep Administrasi Pemerintahan; dan d. memajukan tata pemerintahan yang bail<.

m

SANKSI ADMINISTRATIF

( Pasal 78)

Pejabat Pemerintahan yang merupakan Pejabat karlr apabila melanggar dikenakan sanksi administratif.

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa :

a. Sanksi ringan terdiri atas teguran Jisan, teguran tertulis, atau · penundaan kenaikan pangkat, golongan dan/atau hak-hak jabatan;

b. Sanksi sedang terdiri atas pembayaran uang paksa dan/atau ganti rugi, pemberhentian percobaan dengan memperoleh hak-hak jabatan, pemberhentian sementara dengan memperoleh hak-hak jabatan; atau pemberhentian sementara tanpa memperoleh hak- ·

hak jabatan; ·

c. Sanksi berat terdiri atas pemberhentian tetap dengan memperoleh hak penslun, pemberhentlan tetap tanpa memperoleh hak pensiun, pemberhentlan tetap dengan memperoleh hak pensiun dan dipublikasikan di media massa; atau pemberhentian tetap tanpa memperoleh hak pension dan dipubllkasikan di media massa.

Sanksi administratif ringan, sedang atau berat dijatuhkan dengan mempertimbangkan unsur proporsional dan keadilan.

Sanksi administratif ringan dapat dijatuhkan secara langsung, sedang sanksi administratif sedang atau berat hanya dapat dijatuhkan setelah melalul proses pemeriksaan internal.

( Pasal79)

ARSIP DPR RI

(13)

mSANKSI ADMINISTRATIF

• Pejabat pemerintahan yang merupakan pejabat politik apabila melanggar dikenakan sanksi administratif.

• Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa : a. Sanksi ringan terdiri atas teguran lisan; atau teguran tertulis;

b. Sanksi sedang terdiri atas pembayaran uang paksa dan/atau ganti rugi1 ,

pemberhentian percobaan dengan memperoleh hak-hak jabat~, pemberhentian sementara dengan memperoleh hak-hak jabatan, atau pemberhentian sementara tanpa memperoleh hak-hak jabatan.

c. Sanksi lainnya sesuai dengan perundang-undangan.

( Pasal 80}

KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI JI. Jend. Sudirman Kav. 69 Jakarta Selatan - 12190 Indonesia

ARSIP DPR RI

(14)

1 Profesor Sunaryati 1. Dalam RUU Administrasi Pemerintahan ini perlu dimasukkan Pasal untuk

Lembaga Ombudsman sebagai pengawas daripada kinerja Administrasi Pemerintahan terse but.

2. Apabila ada persoalan

malpraktek yang terkait dengan urusan administrasi negara sebelum ke PTUN perlu

disampaikan terlebih dahulu ke Ombudsman untuk diselesaikan atau apabila harus diselesaikan melalui PTUN perlu mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari Ombudsman.

3. Dengan demikian maka

rekomendasi Ombudsman perlu meniadi perhatian.

2 ~rofesor Benyamin Husein 1. Sebelum RUU Administrasi Pemerintahan ini dibentuk perlu dilihat kembali apakah ada landasan di UUD 1945 nya.

Mengingat pada UU

sebelumnya belum pernah menyebut UU Administrasi Negara atau Administrasi Pemerintahan. Dengan

demikian apakah RUU ini bisa lolos atau tidak, sebelumnya perlu ada perhatian lebih lanjut.

2. RUU Adminsitrasi Pemerintahan hanya untuk Pemerintah dan Presiden apakah tidak mengatur kinerja di Lembaga DPR RI, DPD RI, MA maupun BPK.

3. Terkait dengan RUU

Administrasi Pemerintahan ini landasan teori keilmuan yang digunakan sebagai referensi vaitu:

1

ARSIP DPR RI

(15)

maupun RUU Administrasi Negara tidak mengatur secara luas dan detil berbeda dengan apabila dibuat RUU Admnistrasi Publik yang mengatur lebih luas karena didalamnya mengatur hubungan antara negara, pemerintah dan warga negara, sehingga semua komponen tersanakut.

3 Profesor Miftah Toha

1.

Harus dipastikan kembali apakah RUU Adminsitrasi Pemerintahan sudah mengatur semua seperti yang tertuang dalam Pasal

4,

Pasal 20 dan Pasal

24

UUD

1945

atau hanya sebatas turunan dari Pasal

4

ayat

(1)

UUD

1945

saja.

2. Diharapakan kedepan

keberadaan UU Administrasi Pemerintahan tidak sebatas mengatur E-KTP, E-Voting, E- government dan sebagainya.

3. Penekanan RUU Administrasi Pemerintahan itu harus pada

"prosedur act" yaitu menyangkut hubungan antara negara,

Pemerintah dan negara. Di Amerika UU tersebut diberi nama UU tentang Administrasi Publik. Dengan demikian maka negara berupaya menjamin prosedur act yang tertuang di Pasal

4

ayat

1

dan ayat 2 UU

1945.

4

Wahyudi Kumorotomo

1.

Jangan sampai UU baru justru menjadi kendala bagi inovasi (hasil kunjungan kerja Komisi II DPR kebijakan I menambah prosedur RI ke UGM, Yogyakarta, 2 Juni 2014) yang tidak perlu.

2. Teori Hukum Admnistrasi Negara bahwa kebijakan tidak dapat diadili artinva keoutusan

2

ARSIP DPR RI

(16)

diberikan oleh instansi dan administrasi pemerintahan sehingga apa yang

sesungguhnya akan diatur di RUU ini?

4.

Dalam RUU ini hanya memuat ketentuan umum dalam

penyelenggaraan pemerintahan dan bukan manajemen

substansi pelayanan, Apabila sekedar menerapkan AUPB (azas-azas umum pemerintahan yang baik), apakah perlu

dibentuk sebuah UU?

5. Apabila yang diutamakan

adalah perlindungan bagi warga negara dan pejebat

pemerintahan bukankah sudah ada PTUN?

5

1.

Frenadin Adegustara, SH., MH Frenadin Adegustara, SH., MH:

(Fakultas Hukum UNAD)

1.

Undang-undang ini tidak

2.

Dr. Ria Ariany, M.Si (Fakultas berlakukepada Sadan Usaha

llmu Sosial & llmu Politik, Milik Negara dan Daerah dan UNAD)

3. Dr. Yuslim, SH., MH (Fakultas atau UsahaUsaha Swasta yang

Hukum UNAD) menyelenggarakan Administrasi

Pernerintahan.

(hasil kunjungan Kerja Komisi II DPR 2. Gugatan terhadap Administrasi RI ke Universitas Andalas, Padang, 2. Pemerintahan yang

Juni2014)

diselenggarakan oleh Usaha - Usaha Milik Negara dan Swasta tidak berada dalam wilayah keberlakuan hukum Undang-Undang Prosedur Administrasi dan oleh sebab itu tidak dapat diajukan ke Peradilan Tata Usaha Negara.

3. Dalam berbagai uraian, sering menyebut dengan UU tentang Prosedur Administrasi

3

ARSIP DPR RI

(17)

Berdasarkan analisis sirigkat yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa beberapa poin bahasan pada Bab Ill tentang PRINSIP- PRINSIP TINDAKAN

ADMINISTRASI NEGARA, berdasarkan apa yang disajikan dalam naskah akademik ini telah diatur didalam Undang-undang No.

25/2009 tentang Pelayanan Publik.

Apakah makna yang terkandung dari apa yang disajikan dalam naskah akademik ini sama dengan makna yang terkandung dalam Undang-undang yang dimaksud, mungkin perlu mendapat

penjelasan lebih mendalam.

Dr. Yuslim, SH., MH:

Secara keseluruhan Naskah Akademik dan RUU-AP masih mentah, sehingga memerlukan proses pematangan terlebih

dahulu. Kalau Dewan memaksakan tanpa perubahan yang mendasar, diragukan UU ini hanya sekedar moment opname, untuk menjawab kebutuhan akan pencapaian target prolegnas, tetapi sarat dengan berbagai kekurangan, kelemahan dan kontradiktif diantara norma.

6

4

ARSIP DPR RI

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa beberapa perusahaan mengalami fenomena yang tidak wajar ketika nilai properti investasi mereka mengalami penurunan dan

Tesis ini menjadi acuan peneliti untuk menggambarkan peran Pelabuhan Tanjung Balai Asahan dalam melakukan ekspor hasil-hasil perkebunan yang terdapat di Sumatera Timur bagian

Sajoto (1988) menge- mukakan tentang pentingnya kecepatan reaksi untuk menunjang kecepatan gerakan, bahwa “kecepatan dipengaruhi oleh waktu reaksi, yaitu waktu mulai

Studi pendahuluan yang dilakukan tentang ritel modern dengan menyebarkan 50 kuesioner dapat terlihat bahwa Hardy’s Mall Gianyar menjadi pilihan favorit masyarakat

Sutabri (2012:116-120), “Secara umum Data Flow Diagram adalah suatu network yang menggambarkan suatu system automat/komputerisasi, manualisasi, atau gabungan dari

Guru masih kurang dalam menstimulus siswa untuk menemukan konsep berdasarkan fenomena yang ada (masalah yang harus dipecahkan).. Pemberian pertanyaan kepada siswa

Pada budidaya yang dilakukan dalam greenhouse, kondisi dari parameter-parameter tersebut dapat di kendalikan guna memperoleh kondisi yang optimum serta menciptakan lingkungan

Batasan masalah yang dikaji pada Proyek Akhir ini adalah: analisis kolom dan balok sesuai dengan keadaan di lapangan yaitu portal bergoyang, dan dihitung tanpa beban