PENGARUH KEBERFUNGSIAN KELUARGA TERHADAP SUBJECTIVE WELL-BEING REMAJA YANG SEDANG PERSIAPAN MASUK
TNI/POLRI
SKRIPSI
Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh:
MAGDALENA MAY HILLARIUS TAMPUBOLON 181301099
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERISTAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2022
i
ii
iii Pengaruh keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being remaja
yang sedang persiapan masuk TNI/Polri
Magdalena May Hillarius Tampubolon dan Indri Kemala Nasution
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri. Penelitian ini menggunakan subjek penelitian berjumlah 156 orang. Metode yang digunakan dalan penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan skala likert, yaitu skala Family Assessment Device yang disusun berdasarkan aspek oleh Epstein dkk., (2005) yang terdiri dari 60 aitem dan skala subjective well-being dengan 2 skala yaitu SWLS dan SPANE yang sudah diadaptasi oleh Ahtar (2019) berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Ed Dinner (2009) yang terdiri dari SWLS 5 aitem dan SPANE 12 aitem. Analisa data yang digunakan adalah metode regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri. Keberfungsian keluarga memberikan sumbangan hasil sebesar 0,20% dalam mempengaruhi tingkat subjective well-being remaja.
Kata kunci: keberfungsian keluarga, subjective well-being, remaja
iv The influence of family functions on the subjective well-being of adolescents
who are preparing to enter the TNI/Polri
Magdalena May Hillarius Tampubolon dan Indri Kemala Nasution
ABSTRACT
This study aims to examine the effect of family functioning on the subjective well- being of adolescents who are preparing to enter the TNI/Polri. This study used research subjects as many as 156 people. The method used in this study is a quantitative method with data collection using a Likert scale, namely the Family Assessment Device scale which was compiled based on aspects by Epstein et al., (2005) consisting of 60 items and a subjective well-being scale with 2 scales namely SWLS and SPANE which has been adapted by Ahtar (2019) based on the aspects proposed by Ed Dinner (2009) which consists of SWLS 5 items and SPANE 12 items. Analysis of the data used is a simple linear regression method. The results of this study indicate that there is no effect of family functioning on the subjective well-being of adolescents who are preparing to enter the TNI/Polri. Family functioning contributes 0,20% in influencing the subjective well-being of adolescents.
Keywords: family functioning, subjective well-being, adolescents
v KATA PENGANTAR
Puji sukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Pengaruh Keberfungsian Keluarga terhadap Subjective Well-Being Remaja Yang Sedang Persiapan Masuk TNI/Polri”. Penelitian ini disusun guna untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Strata 1 (S1) di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak hambatan serta rintangan yang saya hadapi. Keberhasilan dalam menyelesaikan penelitian ini tidak dapat terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak. Rasa terima kasih terbesar saya ucapkan kepada kedua orang tua saya, Bapak Syamsul Bahari Tampubolon dan Ibu Siti Mariaty Munthe, yang sudah senantiasa memberikan semangat, dukungan, fasilitas, dan doa yang tiada henti kepada saya sejak penelitian ini dimulai hingga selesai. Adapun pihak lain yang berperan penting dalam keberhasilan penelitian ini adalah:
1. Bapak Zulkarnain, Ph.D., Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi Univerisitas Sumatera Utara berserta Bapak Eka Danta Jaya Ginting M.A., Psikolog, Bapak Ferry Novliadi, M.Si, dan Ibu Hasnida, Ph.D, Psikolog selaku Wakil Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Indri Kemala Nasution, M.Psi, Psikolog selaku dosen pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bimbingan dan dukungan kepada saya selama masa
vi perkuliahan serta memberikan arahan yang sangat bermanfaat untuk membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini hingga selesai.
3. Ibu Debby Anggraini Daulay, M.Psi, Psikolog dan Dr. Rahmi Putri Rangkuti, M,Psi., Psikolog selaku dosen penguji yang telah bersedia menjadi dosen penguji saya dan juga memberikan masukan, serta arahan yang membuat penulisan skripsi ini menjadi lebih baik.
4. Seluruh Dosen dan Staff Fakultas Psikologi USU yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terimakasih atas segala ilmu, pengarahan dan bantuan yang telah diberikan kepada saya.
5. Bou-bou, kakak, abang dan adik saya, Ruth dan Trinadine yang selalu menyemangati, menghibur saya dan selalu mendukung saya.
6. Seluruh subjek dalam penelitian saya yang sudah bersedia memberikan waktunya untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini.
7. Teman-teman pejuang gelar sarjana saya (Febry, Mesra, Sabet) sudah mau membantu dan menemani dalam proses pengambilan data serta sudah mau mendengar keluh kesah saya dan menyemangati saya untuk tetap berjuang menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman kelebihan dopamine saya (Naomi, Grace, Septy, Blandina, Yemima), teman-teman seperjuangan saya (Cindy, Debora, Ihya, Ika, Lerian, Santri). Terima kasih karena selalu menyemangati dan mendoakan saya dalam proses pengerjaan skripsi ini. Terima kasih khususnya kepada Kak Tama, Kak Winda yang sudah membantu saya
vii untuk menjelaskan hal-hal yang kurang dimengerti dan selalu menyemangati serta mendoakan saya.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan guna menghasilkan penulisan ilmiah yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pelaksaan penelitian selanjutnya dan menambah wawasan bagi semua pihak.
Medan, Juli 2022
(Magdalena May Hillarius Tampubolon)
viii DAFTAR ISI
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG MASALAH ... 1
B. RUMUSAN MASALAH ... 9
C. TUJUAN PENELITIAN ... 9
D. MANFAAT PENELITIAN ... 10
E. SISTEMATIKA PENULISAN ... 11
BAB II ... 13
LANDASAN TEORI ... 13
A. Subjective Well-Being ... 13
1. Defenisi Subjective Well-Being ... 13
2. Komponen Subjective Well-Being ... 14
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Subjective Well-Being menurut Diener 2009: ... 15
B. Keberfungsian Keluarga... 18
1. Defenisi Keberfungsian Keluarga ... 18
2. Aspek-aspek Keberfungsian Keluarga ... 19
C. Remaja... 22
D. Remaja Yang Sedang Persiapan Masuk TNI/Polri ... 22
ix E. Pengaruh Keberfungsian Keluarga terhadap Subjective Well-Being remaja
24
F. Hipotesis Penelitian ... 25
BAB III ... 26
METODE PENELITIAN ... 26
A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN ... 26
B. DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL ... 26
C. POPULASI, SAMPEL, DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL .... 28
1. Populasi dan Sampel ... 28
2. Metode Pengambilan Sampel ... 28
D. METODE PENGAMBILAN DATA ... 30
1. Skala Subjective Well-Being ... 30
2. Skala Keberfungsian Keluarga ... 31
E. UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN ... 32
1. Validitas Alat Ukur ... 32
2. Uji Daya Beda Aitem ... 33
3. Reliabilitas Alat Ukur ... 33
F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR ... 34
1. Hasil Uji Coba Alat Ukur Keberfungsian Keluarga ... 34
2. Hasil Uji Coba Alat Ukur Subjective Well-Being ... 34
G. TAHAP-TAHAP PENELITIAN ... 35
1. Tahap Persiapan Penelitian... 35
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 36
x
3. Tahap Pengelolaan Data ... 36
H. METODE ANALISA DATA ... 36
BAB IV ... 38
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 38
B. Deskripsi Data Penelitian ... 39
1. Deskripsi Gambaran Umum Skor Keberfungsian Keluarga dan Subjective Well-Being ... 39
2. Kategorisasi Data ... 42
C. Hasil Uji Asumsi Penelitian ... 45
1. Hasil Uji Normalitas ... 45
2. Hasil Uji Linearitas ... 45
D. Hasil Penelitian ... 46
1. Hasil Utama Penelitian ... 46
E. Pembahasan ... 47
BAB V ... 52
KESIMPULAN DAN SARAN ... 52
1. KESIMPULAN ... 52
2. SARAN ... 53
DAFTAR PUSTAKA ... 55
LAMPIRAN ... 58
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap manusia pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masa hidupnya. Saat mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan, manusia akan mengalami sebuah proses peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya dan salah satu tahap yang akan dilewati manusia adalah masa remaja. Masa remaja merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan yang drastis pada perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial (Santrock, 2015).
Berdasarkan tahap perkembangan yang dikemukakan Erikson, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode perkembangan psikososial kelima yang mana remaja dihadapkan pada pencarian identitas.
Identitas adalah potret diri yang terdiri dari berbagai bagian, seperti karir, pendidikan, status hubungan, prestasi, orientasi seksual, budaya/etnis, minat, kepribadian, hingga ciri fisik. Salah satu tugas perkembangan pada masa remaja adalah memilih dan mempersiapkan karirnya di masa yang akan datang (Santrock, 2003).
Masa remaja yang sedang mempersiapkan karier berada pada masa remaja madya sampai masa remaja akhir yaitu dengan rentang usia 15-18 tahun (remaja madya) dan 18-21 tahun (remaja akhir) (Hurlock, 2004). Pada
2 masa ini seorang remaja ditandai dengan perkembangan kemampuan berpikir yang baru, mulai membuat keputusan awal yang berkaitan dengan sekolah dan pekerjaan yang kelak akan dicapai oleh remaja. Pada masa ini juga seorang remaja dalam masa peralihan karir dari karir yang bersifat subjektif menjadi realistis dan selama masa ini remaja dihadapkan pada proses eksplorasi karir serta menghadapi krisis dalam menentukan karirnya.
Persiapan karir yang dilakukan remaja dimulai dengan mengindentifikasi kemampuan, minat dan bakat yang mendukung karier yang mereka inginkan setelah lulus dari sekolah. Remaja yang sudah menentukan pilihan akan mempersiapkan dirinya terkait karir yang dipilih serta mencari informasi tentang kebutuhan kemampuan yang harus dimiliki untuk mencapai karir yang dicita-citakan (Tiara Sari dkk., 2016).
Saat ini salah satu karir yang paling diminati para remaja adalah menjadi seorang TNI/Polri. Hal ini terlihat pada data yang disampaikan oleh Kasubbagdiapers Bagdalpers Ro SDM Polda Sumut Kompol M. Afdal Junaidi menyatakan bahwa jumlah pendaftar anggota Polri di tahun 2019 ada 6.235 casis Polri dengan perincian Taruna Akpol sebanyak 586 peserta, Bintara PTU dan Brimob sebanyak 5.321 peserta. Perincian jumlah pria 5.265 peserta dan wanita 970 peserta (Lama, 2019). Dan data dari Dispenad tahun 2020, Waasperd Kasad Brigjen TNI Agus Setiawan, S.E mengatakan bahwa jumlah pendaftar hari pertama sejumlah 1.250 peserta, hari kedua 1.640 peserta dan dihari ketiga 1.750 peserta dengan rata-rata 200 s.d 250
3 peserta yang mendaftar langsung di stand pendaftaran setiap harinya (Barisan, 2020).
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa tingginya minat remaja untuk menjadi seorang TNI/Polri, namun hanya orang terpilihlah yang bisa bergabung menjadi seorang TNI/Polri. Menurut Pasal 5 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002 “Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri” (Arif, 2021). Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan bagian dari masyarakat umum yang dipersiapkan secara khusus untuk melaksanakan tugas pembelaan negara dan bangsa, memelihara pertahanan dan keamanan Nasional serta melindungi dari acaman militer. Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa.
Peran yang dimiliki TNI/Polri, terlihat bahwa untuk menjadi seorang TNI/Polri terdapat tantangan yang penuh resiko sehingga remaja yang memilih untuk berkarier sebagai TNI/Polri memiliki tantangan tersendiri karena terdapat syarat dan ketentuan yang sangat kompleks, mulai dari kemampuan fisik, kesehatan, psikologis, hingga bidang akademik. Oleh karena itu dalam proses seleksi TNI/Polri memakan waktu yang sangat
4 panjang sehingga remaja yang ingin berkarir menjadi seorang TNI/Polri harus memiliki persiapan diri yang cukup lama seperti menjaga kesehatannya dengan mengatur pola makannya, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, berusaha meningkatkan kemampuan fisik dengan olahraga dan selalu mengasah kemampuan akademiknya (Amaeliacn, 2014). Remaja yang sedang mempersiapkan dirinya untuk masuk TNI/Polri saat ini banyak yang melakukan segala proses persiapannya dengan menggunakan bantuan seorang pelatih yang dimana dengan bantuan seorang pelatih ataupun professional, mereka mendapatkan bimbingan dan informasi-informasi seputar tahapan tes masuk TNI/Polri serta dapat membantu memaksimalkan persiapannya untuk menghadapi segala rangkaian proses seleksi hingga lolos. Hal ini dilakukan sebagai upaya remaja untuk bisa lolos seleksi penerimaan TNI/Polri dan terhindar dari kegagalan dalam proses seleksi karena jika mengalami kegagalan maka remaja akan memikul beban moral seperti rasa malu, canggung, minder, dan menghindari pergaulan yang pada akhirnya akan kehilangan rasa percaya diri.
Proses seleksi penerimaan TNI/Polri sangatlah ketat, hal ini dikarenakan banyaknya jumlah pendaftar dan kuota yang diambil sangatlah sedikit dan hal itu berfungsi sebagai upaya untuk mendapatkan anggota yang terbaik dan handal nantinya. Oleh karena itu, remaja haruslah mempersiapkan mental yang kuat untuk menghadapi kemungkinan- kemungkinan yang terjadi seperti terjadinya kegagalan, yang mana
5 kegagalan inilah yang sering menjadi tekanan bagi remaja yang ingin menjadi TNI/Polri dan adanya perasaan takut gagal menjadi beban yang menyebabkan remaja yang ingin menjadi TNI/Polri memiliki kecemasan dan kecemasan ini dapat mempengaruhi kondisi psikologis yang akan mengganggu aktivitas mereka sebagai reaksi adanya sesuatu yang bersifat mengancam (S, 2014).
Pernyataan di atas sejalan dengan hasil penelitian Kusumayanti (2014) pada bintara TNI yang mengikuti seleksi Seskoad (Sekolah staf dan Komando Angkatan Darat), di mana calon peserta dalam proses seleksi harus melewati tiga tahapan seleksi yaitu seleksi satuan, seleksi daerah, serta seleksi pusat untuk dapat lulus Secapa TNI-AD. Selama proses seleksi para bintara menyatakan bahwa mereka merasa khawatir, takut gagal dan persaingan dengan sesama rekan serta tututan untuk menjalankan tugas tanpa mengenal waktu merupakan situasi yang dapat menimbulkan beban mental pada bintara yang mengikuti seleksi pendidikan Secapa TNI-AD dan juga mereka menganggap bahwa hal tersebut dapat memberikan tekanan tersendiri pada saat akan mengikuti seleksi Secapa TNI-AD (Kusumayanti, 2014).
Berdasarkan preliminary yang peneliti juga lakukan terhadap 50 remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri menujukkan bahwa dalam menjalankan persiapan masuk TNI/Polri, 52% remaja merasa lelah, 44%
merasa capek, 30% merasa insecure, 24% merasa cemas, 22% merasa gelisah, 20% merasa takut, 10% merasa bosan dan 4% merasa tidak
6 menyenangkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam mengikuti seleksi untuk menjadi seorang TNI/Polri menimbulkan ketegangan dan perasaan cemas di mana hal itu merupakan gejala awal timbulnya stres. Stress ini timbul bila tuntutan yang luar biasa dan terlalu banyak mengancam, secara tidak langsung berdampak pada kesejahteran psikologis yaitu subjective well- being individu (Wicaksono, 2017).
Menurut Diener (2009) Subjective Well-Being adalah proses penilaian individu terhadap hidupnya, yang meliputi penilaian secara kognitif dan secara afektif, di mana tingginya kepuasan hidup, tingginya afek positif, dan rendahnya afek negatif. Seseorang memiliki tingkat subjective well-being tinggi apabila seseorang merasakan kepuasan dalam hidupnya yaitu kepuasan secara global atau secara menyeluruh dan kepuasan secara domain yaitu kepuasan terhadap kesehatan fisik, mental, pekerjaan serta hubungan sosial dan keluarga, sering merasakan emosi positif seperti kegembiraan dan kasih sayang dibandingkan dengan emosi negatif seperti kesedihan dan marah. Remaja yang memiliki tingkat subjective well-being tinggi akan merasa percaya diri, mampu menunjukkan performa yang baik dan juga dapat beradaptasi dengan baik. Sebaliknya jika tingkat subjective well-being rendah maka akan merasa kehidupannya tidak bahagia, selalu berpikir hal-hal yang negatif sehingga menyebabkan kecemasan, marah bahkan berisiko depresi serta tidak merasakan kepuasan secara menyeluruh dan tidak merasakan kepuasan terhadap kesehatan fisik, mental, pekerjaan, hubungan sosial dan keluarganya (Diener, 2009).
7 Hooghe dan Vanhoute (2011) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well-being remaja adalah usia, jenis kelamin, struktur keluarga, kondisi keuangan, hubungan sosial, struktur kepribadian dan aspek tingkat masyarakat. Salah satu faktor yang mempengaruhi remaja untuk meningkatkan subjective well-beingnya adalah keluarga. Hasil penelitian Nayana (2013) juga menyebutkan bahwa pada subjective well-being terdapat variabel-variabel seperti kepuasan hidup, tidak adanya depresi dan kecemasan, suasana hati dan emosi yang positif.
Subjective well-being dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya: faktor pendidikan, agama, penghasilan, kecerdasan, relasi dengan individu lainnya dan faktor yang sangat memengaruhi subjective well-being yaitu keberfungsian keluarga (Nayana, 2013).
Keberfungsian keluarga diartikan sebagai sejauh mana sebuah keluarga dapat melaksanakan tugas-tugasnya serta dapat mengupayakan kesejahteraan dan perkembangan fisik, sosial, dan psikologis bagi tiap anggota keluarga (Ryan dkk., 2005). Keluarga sebagai lingkungan pertama yang dikenali oleh remaja menjadi salah satu indikator bagi individu dalam menilai kehidupannya, baik secara positif maupun negatif.
Epstein, Baldwin, dan Bishop (2005) mengidentifikasi adanya tujuh aspek yang dimiliki oleh keluarga yang berfungsi dengan baik dan sehat yakni kemampuan untuk memecahkan masalah, komunikasi efektif, alokasi peran yang tepat, respon afektif, keterlibatan efektif, kontrol perilaku dan fungsi umum keluarga. Menurut pendekatan ini, remaja yang tumbuh pada
8 keluarga yang dapat memenuhi peran tersebut merasakan kepuasan terkait dengan terpenuhinya kebutuhan psikologis yang dibutuhkan oleh remaja (Ryan dkk., 2005).
Persiapan masuk Polisi/TNI membuat remaja mengalami perasaan- perasaan tidak menentu dan sikap yang tidak tenang sehingga disaat-saat seperti ini remaja membutuhkan keluarga yang dapat memberikan dukungan, memantau, dan menyediakan fasilitas yang berkaitan dengan kebutuhan remaja. Kondisi keluarga yang membuat para remaja merasa tidak nyaman, akan menyebabkan mereka lebih percaya dan merasa dihargai oleh teman sebaya daripada keluarga mereka. Hal ini sejalan dengan pernyataan Hurlock (2004) menjelaskan bahwa apabila interaksi antar anggota keluarga tidak berlangsung secara baik dapat berdampak pada tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah dan apabila interaksi positif dengan setiap anggota keluarga dapat mencegah remaja agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif atau masalah-masalah psikologis (Hurlock, 2004).
Oleh karena itu selama proses persiapan masuk TNI/Polri membuat orang tua bertanggung jawab atas karier anak, yang mana peran orang tua disini menjaga motivasi anak, memfasilitasi anak, melengkapi kebutuhan makanan sehatnya dan memberikan evaluasi terhadap usaha yang dilakukan anak dan keberfungsian keluarga akan keberadaan dan perhatian orang tua dapat menjadi salah satu faktor penentu kondisi subjective well-being yang mana hal ini sejalan pendapat Bano, Yousaf dan Batool (2016),
9 keberfungsian keluarga merupakan prediktor utama dan sumber dukungan bagi kesehatan psikologis remaja, karena keluarga mampu memberikan dukungan berupa cinta, perawatan, rasa aman, saling memiliki dan komunikasi antar anggota keluarga dan keberfungsian keluarga yang efektif merupakan elemen penting yang berpotensi memengaruhi upaya remaja untuk beradaptasi dengan kondisi yang tidak menyenangkan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti apakah ketika keluarga sudah menjalankan fungsi keluarga secara baik akan berpengaruh terhadap subjective well-being pada remaja yang sedang menjalani persiapan masuk TNI/Polri.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada pengaruh positif keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri?
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri.
10 D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
a. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi perkembangan dalam memahami pengaruh keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI//Polri. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana dalam ilmu psikologi sendiri mengenai keberfungsian keluarga dan subjective well-being.
b. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi, khususnya penelitian yang berhubungan dengan keberfungsian keluarga dan subjective well-being.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk mengetahui pengaruh Keberfungsian Keluarga terhadap Subjective Well-Being pada remaja khususnya pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri.
b. Memberikan gambaran mengenai Subjective Well-Being remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri.
c. Memberikan gambaran/informasi pentingnya Keberfungsian Keluarga pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri.
11 E. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan adalah struktur penulisan secara garis besar yang ada dalam penelitian.
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini berisikan uraian singkat mengenai latar belakang permasalahan serta fenomena yang terjadi di lapangan, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II: LANDASAN TEORI
Bab ini memuat tinjauan kritis yang menjadi acuan dalam pembahasan permasalahan. Bab II adalah landasan teori yang meliputi pembahasan tentang keberfungsian keluarga, subjective well-being, dan remaja.
BAB III: METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan penjelasan mengenai metode yang digunakan selama penelitian yang terdiri dari pendekatan penelitian, metode pengumpulan data, populasi dan sampel penelitian, teknik pengambilan sampel, alat ukur yang digunakan, prosedur pengumpulan data, lokasi dan waktu pengambilan data, dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV: ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian, interpretasi data dan pembahasan.
12 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
13 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Subjective Well-Being
1. Defenisi Subjective Well-Being
Menurut Diener (2009) Subjective Well-Being adalah situasi yang mengacu pada kenyataan bahwa individu secara subjektif percaya bahwa kehidupannya adalah sesuatu yang diinginkan, menyenangkan dan baik.
Subjective well-being mengacu kepada evaluasi kognitif dan afektif seseorang terhadap hidupnya. Diener (2009) juga mendefenisikan Subjective Well-Being dan kebahagiaan dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu Pertama, subjective well-being adalah beberapa keinginan berkualitas yang ingin dimiliki setiap orang. Kedua, subjective well-being adalah peniliaian menyeluruh dari kehidupan seseorang yang merujuk pada berbagai macam kriteria yang sudah ditentukan. Ketiga, subjective well- being adalah perasaan positif yang lebih besar daripada perasaan negatif.
Seorang dikatakan memiliki subjective well-being tinggi apabila merasakan kepuasan hidup dan sering merasakan emosi positif seperti kegembiraan serta jarang mengalami emosi negatif seperti kesedihan dan marah.
14 2. Komponen Subjective Well-Being
Menurut Diener (2009), subjective well-being terdiri dari dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Di mana aspek kognitif merupakan kepuasan hidup dan aspek afektif merupakan afek positif dan afek negatif
a. Aspek Kognitif
Aspek ini merupakan evaluasi kepuasan hidup, yang didefinisikan sebagai penilaian kehidupan individu. Evaluasi ini dibagi menjadi dua yaitu kepuasan hidup secara global dan domain. Kepuasan hidup secara global adalah evaluasi terhadap kehidupan secara menyeluruh sedangkan kepuasan hidup secara domain adalah penilaian dalam mengevaluasi kehidupannya seperti kesehatan fisik dan mental, pekerjaan, rekreasi, hubungan sosial dan keluarga.
b. Aspek Afektif
Aspek ini merefleksikan pengalaman dasar dalam peristiwa yang terjadi di dalam hidup seseorang. Aspek tersebut ditunjukkan dengan tingginya afek positif dan rendahnya afek negatif. Positive affective merupakan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang dirasakan individu. Afek positif ini dapat dibagi menjadi emosi-emosi spesifik seperti kebahagian, kesenangan, kegembiraan, kepuasan hati, bersemangat, penuh tekad, kebanggaan, antusiasme dan perasaan kasih sayang.
Negative affective merupakan suasana hati dan emosi yang tidak
15 menyenangkan dan mewakili respon negatif pengalaman seseorang sebagai reaksi terhadap kehidupan mereka, kesehatan, peristiwa, dan keadaan. Hal ini dapat dibagi menjadi perasaan bersalah, malu, sedih, cemas, marah, kecewa, takut, serta perasaan cemburu
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Subjective Well-Being menurut
Diener 2009:
a. Kepuasan Subjektif (Subjective Satisfaction)
Penilaian kepuasan cenderung berkorelasi tinggi terhadap subjective well-being. Kepuasan dengan diri sendiri, menunjukkan bahwa orang harus memiliki harga diri untuk puas dengan kehidupan mereka.
b. Pendapatan
Terdapat hubungan yang kecil, namun signifikan antara pendapatan dan subjective well-being. Seperti yang bisa diduga, kepuasan dengan penghasilan juga terkait dengan kebahagiaan. Meskipun pengaruh pendapatan cenderung kecil ketika faktor-faktor lain dikendalikan. Faktor-faktor lain mungkin merupakan faktor yang di dalamnya penghasilan dapat memberikan dampak seperti, kesehatan yang lebih baik. Dalam setiap penelitian, orang dengan pendapatan yang banyak lebih bahagia daripada orang miskin dan efek ini cenderung kuat.
16 c. Usia
Campbell et al. menemukan bahwa orang yang lebih tua melaporkan kepuasan yang lebih besar di setiap domain kecuali kesehatan.
Tetapi pengaruh positif dan negatif dialami lebih intens oleh kaum muda. Dengan demikian, usia muda tampak mengalami tingkat sukacita yang lebih tinggi, tetapi orang yang lebih tua cenderung menilai kehidupan mereka dengan cara yang lebih positif.
d. Gender
Secara umum tidak terdapat perbedaan subjective well-being yang signifikan antara pria dan wanita. Namun wanita memiliki intensitas perasaan negatif dan positif yang lebih banyak dibandingkan pria.
e. Pendidikan
Data Campbell menunjukkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap subjective well-being di Amerika Serikat selama 1957–
1978. Namun, efek pendidikan pada Subjective Well-Being tampaknya tidak kuat.
f. Agama
Secara umum orang yang religius cenderung untuk memiliki tingkat well being yang lebih tinggi, dan lebih spesifik. Keyakinan agama, pentingnya agama, dan tradisionalisme agama umumnya berhubungan positif dengan subjective well being.
g. Pernikahan dan Keluarga
17 Sejumlah penelitian berskala besar mengindikasikan bahwa orang yang menikah melaporkan Subjective Well-Being lebih besar daripada kategori orang yang tidak menikah. Ketika seseorang beralih dari kenyataan objektif tentang pernikahan ke pentingnya kepuasan pernikahan dan kepuasan keluarga menjadi salah satu prediktor terpenting pada subjective well-being. Pasangan orang tua yang puas dengan kehidupan pernikahan mereka akan menjadi sosok yang hangat dan suportif terhadap anak-anak mereka.
Pasangan orang tua yang memiliki pribadi yang hangat dan suportif, mau mendengarkan pendapat anak dan memahaminya cenderung mendorong berkembangnya perhatian dan kepedulian anak-anaknya terhadap orang lain yang dimana hal ini menjadi salah satu penentu kondisi well-being seorang anak.
h. Kepribadian
Hasil penelitian Costa & McRae selaras dengan hasil penelitian Diener. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi SWB adalah kepribadian, terutama kepribadian esktrovert dan neurotis.
Ekstrovert lebih memungkinkan mempengaruhi SWB karena kepribadian ini berhubungan erat dengan perasaan yang lebih positif, dan memiliki ambang batas lebih rendah untuk mengaktifkan afek positif. Sedangkan kepribadian neurotis, herhubungan erat dengan perasaan negatif, dan memiliki ambang batas lebih rendah untuk mengaktifkan afek negatif.
18 B. Keberfungsian Keluarga
1. Defenisi Keberfungsian Keluarga
Keberfungsian keluarga diartikan sebagai sejauh mana sebuah keluarga dapat melaksanakan tugas-tugasnya serta dapat mengupayakan kesejahteraan dan perkembangan fisik, sosial, dan psikologis bagi tiap anggota keluarga (Ryan dkk., 2005).
Keluarga yang berfungsi secara efektif ditandai dengan adanya strategi pemecahan masalah yang baik, pembagian peran dan tanggungjawab yang jelas, kepekaan terhadap emosi, keterlibatan yang efektif dan adanya kontrol perilaku di dalam keluarga dan Walsh (2003) juga berpendapat bahwa keberfungsian keluarga merupakan interaksi yang ada di dalam keluarga yang mendukung integrasi unit keluarga dan pelaksanaan tugas-tugas penting pertumbuhan dan kesejahteraan masing- masing anggota keluarga (Walsh, 2003).
Berdasarkan definisi-definisi yang diungkapkan para ahli di atas, keberfungsian keluarga adalah keluarga sehat yang mampu membentuk anggota-anggota keluarga sebagai individu yang mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, saling mendukung, mampu berkomunikasi positif, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, saling terikat, dan terbuka satu sama lain.
19 2. Aspek-aspek Keberfungsian Keluarga
Menurut McMaster family functioning model, terdapat tujuh aspek keberfungsian keluarga, yaitu (Ryan dkk., 2005):
a. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Aspek ini mengacu pada kemampuan anggota keluarga menyelesaikan masalah dalam keluarga. Suatu keluarga yang berfungsi baik dapat menyelesaikan permasalahan dengan baik, sebaliknya keluarga yang tidak berfungsi baik akan cenderung tidak dapat menyelesaikan atau hanya menyelesaikan sebagian dari masalah yang ada.
b. Komunikasi (Communication)
Komunikasi berfungsi sebagai jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi yang mana komunikasi memiliki peran yang penting dalam keluarga. Komunikasi sebagai jalan untuk mengkomunikasikan sikap dan perasaan pada anggota keluarga.
c. Peran (Role)
Pola perilaku yang berulang yang dilakukan oleh individu untuk memenuhi fungsi keluarga. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memiliki proses penyebaran dan pelaksanaan tanggung jawab yang jelas dan tepat. Terdapat beberapa fungsi di mana seluruh anggota keluarga dapat memahami fungsi tersebut untuk menciptakan keluarga yang sehat, yaitu:
20 1. Penyediaan sumber daya, meliputi tugas-tugas yang berkaitan dengan penyediaan makanan, pakaian, dan uang.
2. Pengasuhan dan dukungan, meliputi penyediaan kenyamanan, kehangatan, rasa aman dan dukungan untuk anggota keluarga.
3. Kepuasaan seksual dewasa, dimana pasangan suami istri secara personal merasakan kepuasan dalam hubungan seksual satu sama lain.
4. Pengembangan pribadi, merupakan tugas dan fungsi keluarga untuk mendukung dan membantu anggota keluarga dalam mengembangkan keterampilan pribadi, termasuk perkembangan fisik, emosi, sosial, pengembangan karir dan perkembangan sosial dewasa.
5. Pemeliharaan dan pengelolaan sistem keluarga, meliputi berbagai fungsi seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan dan mempertahankan standar keluarga.
Suatu keluarga yang berfungsi dengan baik dapat memenuhi semua peran dalam keluarga, bertanggung jawab, dan dapat berbagi peran dengan baik antar anggota keluarga.
d. Respon Afek (Affective Responsiveness)
Aspek ini merupakan kemampuan bereaksi terhadap stimulus yang ada dengan kualitas dan kuantitas afeksi yang tepat. Aspek ini lebih mengacu pada kapasitas anggota keluarga untuk
21 merasakan dan mengekspresikan emosi secara tepat. Keluarga yang berfungsi baik mampu mengekspresikan emosi secara baik dan tepat sesuai dengan kondisi yang terjadi.
e. Keterlibatan Afektif (Affective Involvement)
Dimensi ini merupakan sejauh mana anggota keluarga menunjukkan ketertarikan dan penghargaan kepada aktivitas dan minat anggota keluarga. Dimensi ini memfokuskan kepada seberapa banyak ketertarikan yang ditunjukkan oleh anggota keluarga satu sama lain.
f. Kontrol Perilaku (Behaviour Control)
Pola yang diadopsi keluarga untuk menangani perilaku dalam tiga situasi yaitu, situasi berbahaya secara fisik, situasi yang melibatkan pemenuhan kebutuhan dan dorongan psikobiologis serta situasi yang melibatkan perilaku bersosialisasi dengan keluarga maupun orang lain. Setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda tentang perilaku yang bisa diterima pada setiap anggota keluarga.
g. Fungsi Umum Keluarga (General Functioning)
Merupakan aspek yang menilai kondisi kesehatan fisik anggota keluarga, komunikasi, peran, dan lainnya dalam kondisi tertentu.
22 C. Remaja
Remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional (Santrock, 2003). Remaja menurut Hurlock (2004) dibagi menjadi 3 kelompok usia tahap perkembangan, yaitu remaja awal berada pada rentang usia 12-15 tahun, remaja madya pada rentang usia 15-18 tahun dan remaja akhir pada rentang usia 18-21 tahun (Hurlock, 2004).
Remaja madya berada pada tahap dimana individu melalui perkembangannya yang ditandai dengan kemampuan berpikir yang baru dan pada masa ini remaja mulai membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan sekolah dan pekerjaan yang kelak ingin mereka capai serta begitu juga dengan remaja akhir dimana pada masa ini remaja mulai memahami arah hidup dan menyadari akan karir yang akan dicapainya (Hurlock, 2004).
D. Remaja Yang Sedang Persiapan Masuk TNI/Polri
Masa remaja adalah masa seseorang yang sedang mencari identitasnya, dimana yang dijelaskan oleh Erikson sebagai konsepsi tentang diri, penentuan tujuan, nilai dan keyakinan. Pada masa remaja ini, mereka dituntut untuk mampu mempersiapkan dan menentukan karier dimasa yang akan datang (Santrock, 2003).
Masa remaja yang sedang mempersiapkan karier berada pada masa remaja madya sampai masa remaja akhir yaitu dengan rentang usia 15-18 tahun (remaja madya) dan 18-21 tahun (remaja akhir) (Hurlock, 2004).
23 Remaja madya berada pada tahap dimana individu melalui perkembangannya yang ditandai dengan kemampuan berpikir yang baru dan pada masa ini remaja mulai membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan sekolah dan pekerjaan yang kelak ingin mereka capai serta begitu juga dengan remaja akhir dimana pada masa ini remaja mulai memahami arah hidup dan menyadari akan karir yang akan dicapainya (Hurlock, 2004)
Remaja yang memilih untuk menjadi anggota TNI/Polri memiliki tantangan tersendiri karena terdapat syarat dan ketentuan yang sangat kompleks serta dalam proses seleksi penerimaannya sangatlah ketat dikarenakan banyaknya pendaftar dan kouta yang diterima sangatlah sedikit. Oleh karena itu, remaja yang ingin menjadi TNI/Polri butuh persiapan-persiapan latihan dan les akademik (Febrina, 2018)
Remaja yang sedang mempersiapakan diri untuk masuk TNI/Polri, banyak yang mampu melakukan persiapannya dengan mandiri. Namun saat ini banyak sekali remaja yang mempersiapkan dirinya dengan menggunakan bantuan profesional ataupun pelatih yang dapat membantu memaksimalkan persiapannya.
Persiapan ataupun pelatihan yang biasa dilakukan para remaja adalah olahraga latihan fisik mulai dari lari, renang, push up, pull up dan rutinitas pemeriksaan kesehatan. Bukan hanya itu aja, mengasah kemampuan akademik, menjaga kesehatan dan pola makannya merupakan hal yang penting juga untuk dipersiapkan. Hal ini dilakukan remaja untuk bisa lolos dalam proses seleksi dan mempersiapakan mental yang kuat untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
24 E. Pengaruh Keberfungsian Keluarga terhadap Subjective Well-Being
remaja
Masa remaja adalah masa seseorang yang sedang mencari identitasnya, dimana yang dijelaskan oleh Erikson sebagai konsepsi tentang diri, penentuan tujuan, nilai dan keyakinan. Pada masa remaja ini mereka dituntut untuk mampu mempersiapkan dan menentukan karier dimasa yang akan datang dan selama masa ini remaja dihadapkan pada proses eksplorasi karir serta menghadapi krisis dalam menentukan karirnya (Santrock, 2003). Selama proses pencarian identitas, remaja sering kali mengalami kebimbangan, ketidakpastian dan stres yang dimana stres secara tidak langsung dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis individu yaitu subjective well-being individu.
Subjective Well-Being adalah proses penilaian individu terhadap hidupnya, yang meliputi penilaian secara kognitif dan secara afektif yang ditandai dengan individu merasakan afek positif yang tinggi, afek negatif yang rendah, dan kepuasan hidup secara umum. Menurut Diener (2009), subjective well-being terdiri dari komponen afek positif, afek negatif dan kepuasan hidup. Di mana afek positif dan afek negatif merupakan aspek afektif, sedangkan kepuasan hidup merupakan aspek kognitif individu.
Seseorang memiliki tingkat subjective well-being tinggi apabila seseorang merasakan kepuasan dalam hidupnya, sering merasakan emosi positif seperti kegembiraan dan kasih sayang dibandingkan dengan emosi negatif seperti kesedihan dan marah. Remaja yang memiliki tingkat subjective well-being tinggi akan merasa percaya diri, mampu menunjukkan performa yang baik dan juga dapat
25 beradaptasi dengan baik. Sebaliknya jika tingkat subjective well-being rendah maka akan merasa kehidupannya tidak bahagia, selalu berpikir hal-hal yang negatif sehingga menyebabkan kecemasan, marah bahkan berisiko depresi (Diener, 2009).
Subjective well-being remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kepuasan subjektif, pendapatan, usia, gender, pendidikan, agama, pernikahan dan keluarga, dan kepribadian. Salah satu faktor yang berperan penting dalam subjective well-being ialah keberfungsian keluarga. Keberfungsian keluarga diartikan sebagai sejauh mana sebuah keluarga dapat melaksanakan tugas-tugasnya serta dapat mengupayakan kesejahteraan dan perkembangan fisik, sosial, dan psikologis bagi tiap anggota keluarga (Ryan dkk., 2005). Keberfungsian keluarga terdiri dari 7 aspek yaitu: problem solving, communication, role, affective responsiveness, affective involvement, behavioral control dan general functioning.
F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan oleh peneliti ialah adanya pengaruh positif keberfungsian keluarga terhadap subjective well-being pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri.
26 BAB III
METODE PENELITIAN
A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah :
i. Variabel terikat/dependen (Y) : Subjective Well-Being ii. Variabel bebas/independen (x) : Keberfungsian Keluarga
B. DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL
Definisi operasional merupakan suatu definisi mengenai variabel-variabel penelitian yang selanjutnya dirumuskan berdasarkan karateristik-karakteristik atau ciri-ciri dari variabel yang dapat diamati (Azwar, 2017). Adapun definisi operasional penelitian ini sebagai berikut:
1. Subjective Well-Being
Subjective Well-Being merupakan evaluasi subjektif individu mengenai kehidupannya baik secara kognitif maupun afektif. Subjective Well-Being akan diukur menggunakan dua skala yaitu Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) yang sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh (Akhtar, 2019) dari skala pengukuran subjective well-being yang disusun berdasarkan komponen yang dikemukakan oleh Ed Diener (2009) yaitu: Komponen kognitif yang merupakan kualitas hidup dan komponen afektif yang merupakan reaksi emosional dalam hidup, baik
27 afek positif maupun afek negatif. Skor yang didapatkan dari kedua skala ini menunjukkan tingkat subjective well-being individu, semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi pula subjective well-being yang dirasakan individu. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah pula subjective well-being yang dirasakan individu.
2. Keberfungsian Keluarga
Keberfungsian keluarga ialah suatu keadaan dalam keluarga di mana setiap anggota keluarga mampu menjalankan tugas-tugas dasar dalam kehidupan sehari-hari keluarga. Keberfungsian keluarga akan diukur menggunakan skala Family Assessment Device (FAD) yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang disusun berdasarkan teori dari Model Mc Master (Ryan dkk., 2005) dengan aspek-aspek sebagai berikut : problem solving, communication, role, affective responsiveness, affective involvement, behavioral control, dan general functioning. Skor yang didapatkan dari skala, semakin tinggi skor yang diperoleh oleh remaja maka menunjukkan semakin sehat keberfungsian keluarga remaja tersebut. Sebaliknya, semakin kecil skor yang diperoleh maka menunjukkan semakin tidak sehat keberfungsian keluarga yang dimiliki oleh remaja.
28 C. POPULASI, SAMPEL, DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL
1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah kelompok subjek yang akan dijadikan generalisasi hasil sebuah penelitian. Kelompok subjek tersebut harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang sama (Azwar, 2017). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah individu remaja yang berusia 16-21 tahun yang berada di kota Medan. Populasi dengan jumlah besar yang tidak memungkinkan peneliti melakukan penelitian kepada semua populasi, sehingga peneliti akan menggunakan sampel. Sampel merupakan suatu kelompok kecil bagian dari populasi yang dianggap dapat merepresentasikan populasi penelitian (Azwar, 2017). Oleh karena itu, sampel harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Berusia 16-21 tahun.
b. Berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.
c. Sedang persiapan masuk TNI/Polri dengan bantuan profesional atau pelatih.
d. Berlokasi di lapangan merdeka dan lapangan jasdam Kota Medan.
2. Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel adalah suatu cara yang representatif dari suatu populasi. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini mengunakan teknik non probability sampling. Teknik
29 pengambilan sampel ini tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi yang dipilih menjadi sampel.
Teknik ini menggunakan jenis purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan kriteria tertentu ataupun pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2017).
Peneliti memilih untuk melakukan pengambilan data di Kota Medan yaitu di lapangan merdeka dan jasdam dikarenakan dilihat dari kemampuan peneliti dari segi waktu, tenaga dan kemudahan peneliti yang bertempat tinggal di Kota Medan sendiri serta lapangan merdeka dan jasdam merupakan tempat yang selalu digunakan para remaja bersama pelatihnya untuk melakukan proses persiapan masuk TNI/Polri.
Untuk menentukan ukuran sampel dari populasi yang tidak diketahui jumlahnya, maka peneliti akan menggunakan rumus Isaac dan Michael sebagai berikut:
𝑛 = (𝑍𝛼/2)2𝑝. 𝑞 𝑒2
n = sampel
p = proporsi populasi (0.9) q = 1-p
Z = tingkat signifikan
e = perkiraan tingkat kesalahan 5%
30 α = 1-0,95 = 0,05
α/2 = 0,05/2 = 0.025
Z = 0.025 (berdasarkan tabel nilai z menjadi 1.96) p = 0.9
q = 1-0.9 = 0.1 e = 0.05
sesuai dengan rumus diatas maka diperoleh perhitungan sebagai berikut :
n = (1,96)
2.0,9.0,1
(0,05)2 = 138,30
Dari hasil di atas, maka jumlah sampel untuk penelitian ini adalah sebanyak 138 orang. Maka dari itu, peneliti memutuskan untuk menggunakan responden dalam penelitian ini adalah minimal 140 orang.
D. METODE PENGAMBILAN DATA
Metode pengambilan data dalam penelitian ini adalah menggunakan skala.
Skala merupakan perangkat pertanyaan yang tidak secara langsung mengungkapkan atribut melalui respon yang diberikan oleh responden (Azwar, 2017). Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala yang dibuat dalam bentuk google form. Penelitian menggunakan dua alat ukur penelitian yang sesuai dengan variabel-variabel yang akan diukur, yaitu:
1. Skala Subjective Well-Being
Skala subjective well-being yang digunakan ialah Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE)
31 yang sudah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh (Akhtar, 2019) dari skala pengukuran subjective well-being yang dikemukakan oleh Ed Dinner (2009). Skala ini disusun berdasarkan aspek kognitif yaitu kepuasan hidup dan aspek afektif yaitu afek positif dan afek negatif.
Instrumen yang digunakan pada skala pengukuran kognitif (SWLS) berupa pernyataan singkat yang terdiri dari 5 aitem dan dinilai dengan skala likert yang memiliki alternatif jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Agak Sesuai (AS), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), Agak Tidak Sesuai (ATS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS).
Instrumen yang digunakan pada skala pengukuran afektif (SPANE) berupa pernyataan singkat yang terdiri dari 12 aitem dan dinilai dengan skala likert yang memiliki alternatif jawaban yaitu Hampir Tidak Pernah (HTP), Jarang (J), Kadang-kadang (K), Sering (Sr), dan Hampir Setiap Saat (HSS)
Blueprint Skala Subjective Well-Being
Skala Jumlah Aitem
Kognitif (SWLS) 5
Afektif (SPANE) 12
Jumlah 17
2. Skala Keberfungsian Keluarga
Skala keberfungsian keluarga yang digunakan ialah Family Assessment Device (FAD) yang disusun oleh Epstein, dkk (2005) yang menghasilkan tujuh aspek yaitu problem solving, communication, role,
32 affective responsiveness, affective involvement, behavioral control, dan general functioning.
Instrumen yang digunakan berupa pernyataan singkat yang terdiri dari 60 aitem dan dinilai dengan skala likert yang memiliki alternatif jawaban yaitu Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS).
Blueprint Keberfungsian Keluarga
No Aspek Aitem
Favorable
Aitem Unfavorable
Jumlah 1 Problem Solving 2, 12, 24, 38,
50, 60
6 2 Communication 3, 18, 29,
43,59
14, 22, 35, 52 9 3 Role 10, 30, 40 4, 8, 15, 23, 34,
45, 53, 58
11 4 Affective
Responsiveness
49, 57 9, 19, 28, 39 6 5 Affective
Involvement
5, 13, 25, 33, 37, 42, 54
7 6 Behavior Control 20, 32, 55 7, 17, 27, 44,
47, 48
9
7 General
Functioning
6, 16, 26, 36, 46, 56
1, 11, 21, 31, 41, 51
12
Jumlah 60
E. UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN 1. Validitas Alat Ukur
Validitas berasal dari kata validity yang diartikan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
33 content validity yaitu validitas yang mana akan dilakukan pengujian terhadap isi instrumen alat ukur dengan analisis rasional atau melalui professional judgement (Azwar, 2017). Sehingga dalam hal ini, peneliti akan melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan aitem-aitem yang valid.
2. Uji Daya Beda Aitem
Pengujian daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang akan diukur. Sebagai kriteria daya beda aitem berdasarkan korelasi aitem total biasanya digunakan batasan ≥ 0,30. Semua aitem yang mencapai korelasi minimal 0,30 dinyatakan memenuhi syarat psikometrik sebagai bagian pengukuran (Azwar, 2017). Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment, yang di analisis dengan bantuan SPSS version 20.0 for Windows dan Microsoft Office Excel 2013.
3. Reliabilitas Alat Ukur
Reliabilitas adalah sejauh mana hasil dari pengukuran dapat dipercaya. Instrumen ukur yang dianggap reliabel akan menunjukkan hasil pengukuran yang relatif sama jika diambil berulang kali pada suatu kelompok subjek (Azwar, 2017). Uji reliabilitas yang digunakan dalam
34 penelitian ini adalah pendekatan konsistensi internal yaitu Cronbach’s Alpha Coefficient. Cronbach’s Alpha Coefficient digunakan untuk mengukur reliabilitas suatu tes yang mengukur sikap atau perilaku.
Secara umum bila nilai reliabilitasnya (rxx) ≥0,70 maka sudah dianggap sangat memuaskan. Semakin mendekati angka 1 maka menunjukkan semakin tinggi pula konsistensi internal reliabilitasnya (Azwar, 2017).
F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR
1. Hasil Uji Coba Alat Ukur Keberfungsian Keluarga
Terdapat 60 aitem yang sudah melewati uji validitas isi melalui professional judgement dan akan digunakan dalam uji coba pada skala keberfungsian keluarga. Berdasarkan uji reliabilitas yang dilakukan pada 60 aitem, diperoleh hasil uji reliabilitas sebesar 0,918.
Reliability Statistics Keberfungsian Keluarga Cronbach's Alpha N of Items
.918 60
2. Hasil Uji Coba Alat Ukur Subjective Well-Being
Terdapat 2 alat ukur yang sudah melewati tahap uji validitas isi oleh professional judgement dan akan digunakan dalam uji coba pada skala subjective well-being. Berdasarkan hasil uji coba pada skala SWLS, uji reliabilitas dilakukan pada 5 aitem yang daya beda dianggap memuaskan dan memperoleh hasil uji reliabilitas sebesar 0,737.
Sedangkan hasil uji coba pada skal SPANE, uji reliabilitas dilakukan
35 pada 12 aitem yang daya beda dianggap memuaskan dan memperoleh hasil uji reliabilitas sebesar 0.871.
Reliability Statistics SWLS Cronbach's Alpha N of Items
.737 5
Reliability Statistics SPANE Cronbach's Alpha N of Items
.871 12
G. TAHAP-TAHAP PENELITIAN 1. Tahap Persiapan Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan pencarian referensi yang berasal dari buku, artikel jurnal, serta informasi lain yang berkaitan dengan variabel keberfungsian keluarga dan subjective well-being serta informasi fenomena yang berkaitan dengan penelitian ini. Setelah itu peneliti menentukan kriteria subjek dan jenis penelitian yang akan digunakan. Pada tahap ini juga, peneliti akan meminta izin penggunaan skala kepada pemilik skala yaitu skala SWLS dan skala SPANE serta melakukan penerjemahan alat ukur keberfungsian keluarga. Skala SWLS terdiri dari 5 aitem dan SPANE 12 aitem sedangkan keberfungsian keluarga terdiri dari 60 aitem. Kemudian skala ini akan dinilai berdasarkan professional judgement untuk memastikan bahwa aitem-aitemnya telah sesuai dan layak untuk disebarkan.
36 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Pada tahap ini, peneliti akan melakukan uji coba pada skala, setelah itu peneliti akan mulia pengambilan data dengan menyebarkan skala yang bersifat online melalui google form. Penelitian ini secara keseluruhan melibatkan 158 orang subjek yang merupakan remaja berusia 16-21 tahun yang sedang persiapan masuk TNI/Polri. Namun, karena terdapat beberapa outliers dalam data penelitian, maka peneliti memutuskan untuk membuang subjek yang termasuk outliers sebanyak 2 orang dan jumlah subjek menjadi 156 orang.
3. Tahap Pengelolaan Data
Setelah peneliti mendapat data dari subjek penelitian, peneliti melakukan pengelolaan data dengan menggunakan program SPPS version 20.0 for Windows.
H. METODE ANALISA DATA
Teknik analisis data adalah sebuah metode atau cara yang dilakukan untuk mengelolah sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristik data menjadi mudah dipahami dan juga bermanfaat mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian. Analisa data adalah hal yang penting dilakukan setelah melaksanakan pengambilan data, karena dengan melakukan analisa terhadap data yang sudah didapat, maka akan diperoleh sebuah gambaran tentang subjek yang diteliti. Untuk menganalisa data yang dikumpulkan peneliti melalui kuisioner, digunakan teknik
37 analisis regresi linear sederhana dimana analisis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lain.
38 BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan membahas mengenai hasil penelitian yang telah dilaksanakan secara keseluruhan sesuai dengan data yang telah didapatkan.
Pembahasan akan diawali dengan gambaran mengenai subjek dalam penelitian, kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisa dan diakhiri dengan pembahasan terhadap hasil penelitian.
A. Gambaran Umum Subjek Penelitian
Penelitian ini secara keseluruhan melibatkan 156 orang subjek yang merupakan individu remaja yang sedang menjalani persiapan masuk TNI/Polri.
1. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase %
Laki-Laki 97 62,18%
Perempuan 59 37,82%
Total 156 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa subjek penelitian dengan kategori jenis kelamin laki-laki berjumlah 97 orang (62,18%) dan subjek penelitian dengan kategori jenis kelamin perempuan berjumlah 59 orang (37,82%). Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas subjek penelitian adalah laki-laki.
2. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase %
Remaja Madya 74 47,44%
Remaja Akhir 82 52,56%
39
Total 156 100%
Berdasarkan tabel di atas, subjek penelitian dibagi ke dalam dua rentang usia berdasarkan tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Hurlock (2004) yaitu 15-18 tahun (remaja madya) dan 18-21 tahun (remaja akhir). Subjek yang berusia 15-18 tahun dalam penelitian ini adalah sebanyak 74 orang (47,44%) dan subjek yang berusia 18-21 tahun adalah sebanyak 82 orang (52,56%).
3. Gambaran Subjek Berdasarkan Kategori Persiapan
Instansi Jumlah Persentase %
TNI 75 48,1%
Polri 81 51,92%
Total 156 100%
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa subjek penelitian dengan kategori persiapan masuk TNI berjumlah 75 orang (48,1%) dan kategori persiapan masuk Polri berjumlah 81 orang (51,9%). Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas subjek penelitian adalah kategori persiapan masuk Polri.
B. Deskripsi Data Penelitian
1. Deskripsi Gambaran Umum Skor Keberfungsian Keluarga dan Subjective Well-Being
Analisis data deskriptif dilakukan untuk memberikan deskripsi mengenai data dari variabel yang diperoleh dari kelompok subjek penelitian.
Analisis data deskriptif dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan uji hipotesis agar peneliti mengetahui dan memahami realitas data dari variabel yang terlibat secara empirik. Deskripsi data yang dilampirkan adalah perbandingan
40 nilai hipotetik (berdasarkan jumlah skor item secara keseluruhan) dan nilai empirik (berdasarkan jumlah skor dari subjek) data penelitian.
Perbandingan nilai Hipotetik Dan Nilai Empirik Skala Keberfungsian Keluarga dapat dilihat melalui tabel berikut:
Hipotetik Empirik
Variabel Min Max Mean SD Min Max Mean SD
Keberfungsian
Keluarga 60 240 150 30 75 184 127.59 22.028
Pada skala keberfungsian keluarga, terdapat 60 aitem dengan rentang skor penilaian 1-4 sehingga batas skor minimum hipotetik yang diperoleh untuk skala keberfungsian keluarga adalah 60 dan batas skor maksimal hipotetik yang diperoleh adalah 240. Mean hipotetik yang diperoleh adalah 150 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 30. Untuk nilai empirik, skor minimum yang diperoleh subjek adalah 75 dan skor maksimalnya adalah 184. Mean empirik yang diperoleh adalah 127.59 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 22.028.
Berdasarkan perbandingan yang diperoleh, pada skala keberfungsian keluarga, dapat dilihat bahwa mean hipotetik lebih besar daripada mean empirik (150 > 127.59). Hal ini menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri termasuk rendah daripada rata-rata keberfungsian keluarga secara umum.
Perbandingan nilai hipotetik dan nilai empirik pada skala subjective well-being berdasarkan komponen kognitif dan komponen afektif dapat dilihat melalui tabel berikut.
Hipotetik Empirik
Variabel Min Max Mean SD Min Max Mean SD
Kognitif 5 35 20 5 11 35 25.61 5.944
41 Afek Positif-
Negatif 12 60 36 8 -20 11 1.21 3.430
Pada skala subjective well-being terdapat 2 skala yaitu skala SWLS (Komponen Kognitif) yang terdapat 5 aitem dengan rentang skor penilaian 1-7 sehingga batas skor minimum hipotetik yang diperoleh untuk skala SWLS adalah 5 dan batas skor maksimal hipotetik yang diperoleh adalah 35. Mean hipotetik yang diperoleh adalah 20 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 5. Untuk nilai empirik, skor minimum yang diperoleh subjek adalah 11 dan nilai maksimalnya adalah 35. Mean empirik yang diperoleh adalah 25.61 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 5.944.
Pada skala SPANE yang terdiri dari afek positif – negatif yang terdapat 12 aitem dengan rentang skor penilaian 1-5 sehingga batas skor minimum hipotetik yang diperoleh adalah 12 dan batas maksimal hipotetik yang diperoleh adalah 60. Mean hipotetik yang diperoleh adalah 36 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 8. Untuk nilai empirik, skor minimum yang diperoleh subjek adalah -20 dan nilai maksimalnya adalah 11. Mean empirik yang diperoleh adalah 1.21 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 3.430.
Berdasarkan perbandingan yang diperoleh, pada skala subjective well- being, dapat dilihat bahwa pada skala SWLS mean empirik lebih besar daripada mean hipotetik (25.61 > 20) dan pada skala SPANE yang mean hipotetik lebih besar daripada mean empirik (36 > 1.21). Hal ini menunjukkan bahwa subjective well-being pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri termasuk rendah daripada rata-rata keberfungsian keluarga secara umum.
42 Perbandingan nilai hipotetik dan nilai empirik pada skala subjective well-being secara keseluruhan dapat dilihat melalui tabel berikut.
Hipotetik Empirik
Variabel Min Max Mean SD Min Max Mean SD
Subjective
well-being 17 95 56 13 10.68 77.49 50.0000 13.10027
Pada skala subjective well-being secara keseluruhan, terdapat 17 aitem yang terdiri dari 2 skala yaitu SWLS terdapat 5 aitem dengan rentang skor penilaian 1-7 dan skala SPANE terdapat 12 aitem dengan rentang skor penilaian 1-5 sehingga batas skor minimum hipotetik yang diperoleh adalah 17 dan batas skor maksimal hipotetik yang diperoleh adalah 95. Mean hipotetik yang diperoleh adalah 56 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 13. Untuk nilai empirik, skor minimum yang diperoleh subjek adalah 10.68 dan skor maksimalnya adalah 77.49. Mean empirik yang diperoleh adalah 50.0000 dan standar deviasi yang diperoleh adalah 13.10027.
Berdasarkan perbandingan yang diperoleh, pada skala subjective well- being, dapat dilihat bahwa mean hipotetik lebih besar daripada mean empirik (56
> 50.0000). Hal ini menunjukkan bahwa subjective well-being pada remaja yang sedang persiapan masuk TNI/Polri termasuk rendah daripada rata-rata subjective well-being secara umum.
2. Kategorisasi Data
Kategorisasi data penelitian dilakukan untuk menempatkan subjek ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut kontinum berdasarkan atribut yang diukur. Untuk menentukan skor kategorisasi pada