1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 menggemparkan seluruh dunia.
Begitu pula dengan Indonesia yang bergerak cepat untuk memutus rantai penyeberan Covid-19 dengan membatasi kegiatan diluar rumah atau disebut dengan lock-down. Salah satu yang terdampak sangat besar dari kebijakan lock-down adalah sektor pendidikan. Sektor pendidikan di Indonesia mengganti metode pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh. Meski kondisi pandemi memberikan tantangan dalam pendidikan, namun sektor pendidikan harus tetap berjalan karena sangat penting dalam mencerdaskan bangsa (Winarno, 2014, hal 3).
Penerapan kebijakan lock-down tentunya merubah proses pembelajaran di kelas menjadi pembelajaran dari rumah. Pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka, kemudian berubah secara tiba-tiba sehingga memberikan tantangan baru bagi lembaga pendidikan, guru, siswa, dan orang tua. Pihak-pihak ini harus memulai dan menggunakan teknologi untuk memastikan bahwa proses belajar mengajar terus berjalan sebagaimana mestinya. Belajar dari rumah adalah suatu kebijakan yang disarankan oleh pemerintah Indonesia selama pandemi Covid-19. Dalam kondisi masyarakat Indonesia saat ini, guru perlu menyiapkan berbagai strategi baru untuk menciptakan suasana belajar yang menarik (Rizaldi, 2020, hal 118).
Strategi pembelajaran yang cocok dalam memudahkan komunikasi antara guru dan siswa selama pembelajaran dari rumah salah satunya menggunakan handphone dan jaringan internet. Sekolah memberikan kebijakan kepada siswa untuk belajar menggunakan handphone dengan pengawasan orang tua. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui wawancara tidak terstruktur dengan guru mata pelajaran IPA di SMPN 2 Selajambe, diketahui bahwa selama pembelajaran daring guru menggunakan media whatsapp grup.
2 Penggunaan media whatsapp grup merupakan bentuk pembelajaran yang konvensional dengan metode pembelajaran lebih banyak dijelaskan oleh guru, Media pendukung yang digunakan selama pembelajaran yaitu youtube untuk memudahkan siswa memahami materi menggunakan video. Guru memberikan salinan link youtube terkait materi yang sedang dipelajari, kemudian siswa menganalisis video pembelajaran tersebut. Penggunaan media youtube dalam pembelajaran membantu siswa untuk menambah referensi materi, namun penggunaan media youtube terkendala konektivitas internet sehingga siswa kesulitan mengakses video youtube. Untuk memudahkan siswa mengakses materi pembelajaran maka dibutuhkan suatu media yang dapat diakses tanpa menggunakan jaringan internet. Menurut Setiyana (2021, hal 80) kekurangan penggunaan media youtube dalam pembelajaran yaitu pemakaian pulsa internet menjadi boros, menggunakan video dari pihak ketiga, dan banyak rekomendasi video yang menyebabkan konsentrasi siswa terganggu.
Guru biasanya memberikan penugasan berdasarkan buku paket yang digunakan disekolah. Sebelum pembelajaran daring siswa telah dibagikan buku paket sebagai pegangan untuk belajar, namun ketersediaan buku paket di sekolah tidak mencukupi jumlah siswa. Sehingga terdapat beberapa siswa yang harus bergantian buku paket dengan teman yang rumahnya dekat. Pembelajaran daring memaksa siswa untuk dapat memahami materi selayaknya pembelajaran di kelas dengan keterbatasan pengetahuan siswa yang hanya menyimak dan mendengarkan penjelasan melalui virtual. Guru memberikan penugasan setiap minggu untuk mengasah pemahaman siswa pada materi yang sedang dipelajari.
Berdasarkan hasil rekapitulasi penugasan yang dilakukan oleh guru mata pelajaran IPA didapatkan hasil belajar siswa yang menurun bahkan ada siswa yang tidak mengumpulkan tugas.
Setelah masa PPKM berakhir guru mengadakan kontroling ke 11 titik lokasi belajar siswa yang dibagi berdasarkan wilayah. Kontroling ini bertujuan untuk memantau penugasan siswa dan mengevaluasi kendala siswa dalam belajar. Berdasarkan hasil evaluasi guru SMPN 2 Selajambe diketahui bahwa
3 siswa yang kesulitan memahami materi IPA terkhusus pada materi Biologi dikarenakan beberapa faktor seperti kurangnya buku yang disediakan dari sekolah kemudian dengan pembelajaran whatsapp grup banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dengan alasan penjelasan guru tenggelam dengan respon siswa sehingga menyebabkan siswa malas untuk membaca ulang materi, faktor selanjutnya siswa kesulitan mencari sumber untuk mengerjakan tugas sehingga banyak siswa yang tidak mengumpulkan tugas, dan siswa keberatan apabila terlalu banyak menggunakan kuota internet dalam pembelajaran.
Menurut Kong (2020, hal 558) sistem pembelajaran jarak jauh dapat memberikan pengalaman baru terhadap siswa agar proses pembelajaran bertransformasi menjadi berbasis e-learning. Selain dapat meningkatkan keterampilan siswa, pembelajaran e-learning pada siswa mengarahkan siswa untuk belajar mandiri dibantu oleh guru sebagai fasilitator. Pembelajaran jarak jauh yang tepat disaat pandemi Covid-19 dapat menggunakan prangkat lunak yang dapat diakses di handphone. Perangkat lunak yang digunakan dapat memudahkan siswa dalam belajar disebut sebagai media interaktif. Keunggulan media interaktif dapat memungkinkan siswa mudah memahami dan cepat menyerap materi yang diajarkan.
Siswa yang mampu memanfaatkan multimedia interaktif merupakan keberhasilan guru dalam mengarahkan penguasaan IT pada proses pembelajaran.
Proses pembelajaran berbasis multimedia interaktif mengharuskan guru memahami kemajuan teknologi pada abad ini. Menurut Rohmah (2020, hal 171) kemajuan teknologi pada abad ke-21 ini sangat pesat mengikuti dengan kebutuhan masyarakat yang selalu membutuhkan teknologi. Begitu pula dengan kemajuan teknologi dalam sektor pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Kebutuhan siswa ini harus dipenuhi oleh guru sebagai fasilitaor dalam sarana dan prasarana pembelajaran. Saat pandemi Covid-19 sarana prasarana dalam belajar adalah internet dan media pendukung pembelajaran. Guru harus memiliki kemampuan dalam membuat media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam
4 memahami materi dan memudahkan guru dalam penyampaian materi. Penggunaan teknologi menggunakan media interaktif merupakan perkembangan ilmu pengetahuan dengan merubah starategi guru dalam mengajar agar lebih inovatif dan kreatif. Menurut Maryanti (2018, hal 27) guru dituntut untuk menciptakan pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi informasi dan komunikasi.
Penggunaan kertas akan semakin ditinggalkan demi menjaga kelestarian bumi, sehingga penggunaan media teknologi merupakan solusi paling tepat dalam pembelajaraan.
Media yang diakses melalaui handphone serta memudahkan siswa untuk belajar dari rumah yaitu menggunakan multimedia interaktif Articulate Storyline 3.
Menurut Yasin (2017, hal 170) Articulate Storyline 3 ini sangat menarik sebagai media pembelajaran interaktif. Program Articulate Storyline 3 mendukung fitur pembuatan animasi yang mudah digunakan seperti Power Point. Keberhasilan penggunaan media pembelajaran multimedia interaktif dalam pembelajaran terbukti dalam peneltian yang dilakukan oleh Thomas (2015, hal 207) bahwa pengembangan Articulate Storyline 3 telah berhasil mempengaruhi keterlibatan siswa serta penggunaanya lebih mudah diakses dalam pembelajaran.
Media pembelajaran Articulate Storyline 3 dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran daring. Pada media tersebut dapat disertakan kompetensi pembelajaran, materi pembelajaran, evaluasi dalam bentuk soal-soal, dan game dengan animasi yang menarik. Penggunaan media interaktif diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sehingga lebih aktif dan mudah memahami materi yang diberikan. Menurut Ennis (1996) dalam Ningsih (2012, hal 47) terdapat beberapa indikator keterampilan berpikir kritis yang dapat diukur dalam penelitian ini, diantaranya memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, membuat kesimpulan, membuat penjelasan lebih lanjut, merancang strategi dan taktik. Media Articulate Storyline 3 dapat mengevaluasi pemahaman siswa secara langsung sehingga guru mudah dan cepat dalam memberikan solusi untuk memecahkan suatu masalah.
5 Penggunaan media Articulate Storyline 3 dalam mempelajari biologi dapat memberikan fasilitas kepada siswa untuk memudahkan belajar dalam bentuk deskripsi dan visualisasi dari suatu proses. Materi sistem ekskresi sulit dipahami oleh siswa karena berkaitan dengan konsep-konsep anatomi dan proses fisiologis yang tidak bisa dipahami dengan cepat. Begitu pula permasalahan yang muncul di SMPN 2 Selajambe yang terkendala dengan kurangnya inovasi media pembelajaran pada materi sistem ekskresi. Dengan adanya permasalahan tersebut maka dibuatlah suatu inovasi baru yang memberikan pengalaman lebih menarik untuk siswa dalam mempelajari materi sistem ekskresi dengan pengembangan media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3. Menurut Bakti (2013, hal 340) masalah yang sering terjadi dalam mempelajari materi sistem ekskresi adalah memahami konten biologi yang kompleks dan bersifat tidak bisa diindra serta kurangnya media pembelajaran yang mendukung dalam mengajarkan konten tersebut. Sistem ekskresi diartikan sebagai sistem yang berperan dalam pengeluaran zat sisa dalam tubuh. Zat-zat yang dikeluarkan berupa keringat, urin, CO2, dan empedu. Kulit, ginjal, paru-paru dan hati merupakan empat organ yang berperan sebagai alat dalam sistem ekskresi (Campbell, 2010, hal 124).
Dengan menggunakan media Articulate Storyline 3 pada materi sistem ekskresi maka siswa dapat mengakses melalui handphone masing-masing dari rumah. Media akan disebarkan dalam bentuk aplikasi yang dapat diunduh pada android sehingga siswa dapat membuka media kapan saja dan dimana saja. Materi yang disediakan pada media telah disesuaikan dengan buku ajar yang digunakan oleh sekolah. Maka dengan adanya media Articulate Storyline 3 dapat memecahkan masalah yang ada pada siswa. Adanya variasi dalam mengajar dilihat sebagai sesuatu yang energik, antusias, bersemangat, dan semuanya memiliki relevansi dengan keterampilan berpikir kritis siswa. Artinya, keterampilan guru dalam mengadakan variasi memiliki keterkaitan dengan keterampilan berpikir kritis siswa (Syahmina, 2020, hal 322).
Berdasarkan latar belakang masalah dimana pembelajaran daring terkendala oleh fasilitas buku pembelajaran sehingga berpengaruh terhadap keterampilan
6 berpikir kritis siswa maka penelitian ini berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Articulate Storyline 3 Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Sistem Ekskresi”.
Penggunaan media Articulate Storyline 3 dapat menggantikan buku cetak agar lebih memudahkan siswa untuk belajar. Inovasi dan kreativitas yang dikembangakan dalam media Articulate Storyline 3 diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa untuk menjawab tantangan kemajuan teknologi. Media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 ini dapat digunakan pada kondisi pembelajaran di sekolah maupun pembelajaran secara online.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, maka dapat dibentuk beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana langkah-langkah pengembangan media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 berbasis keterampilan berpikit kritis siswa pada materi sistem ekskresi?
2. Bagaimana validasi media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 berbasis keterampilan berpikit kritis siswa pada materi sistem ekskresi?
3. Bagaimana keefektivitasan keterampilan berpikir kritis siswa setelah menggunakan media pembelajaran interaktif Articulate Storyline 3 pada materi sistem ekskresi?
4. Bagaimana respon siswa pada media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 berbasis keterampilan berpikit kritis siswa pada materi sistem ekskresi?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka terbentuklah suatu tujuan penelitian yaitu:
7 1. Mendeskripsikan langkah-langkah pengembangan media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 berbasis keterampilan berpikit kritis siswa pada materi sistem ekskresi.
2. Mengukur validasi media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 berbasis keterampilan berpikit kritis siswa pada materi sistem ekskresi.
3. Mengetahui keefektivitasan keterampilan berpikir kritis siswa setelah menggunakan media pembelajaran interaktif Articulate Storyline 3 pada materi sistem ekskresi.
4. Mendeskripsikan respon siswa pada media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 berbasis keterampilan berpikit kritis siswa pada materi sistem ekskresi.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk segala aspek dan berguna untuk perkembangan inovasi pendidikan, manfaat penelitian yaitu:
1. Bagi Siswa
Memberikan pengalaman belajar yang baru agar pelaksanaan pembelajaran tidak membosankan. Media pembelajaran yang beragam dapat menambah pengalaman siswa untuk terus meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya.
2. Bagi Guru
Mendapatkan inspirasi model pembelajaran yang baru untuk menunjang kebutuhan media pembelajaran di kelas. Media pembelajaran ini membantu guru untuk terus mengasah softskill dalam bidang teknologi yang dibutuhkan di era industri 4.0 ini.
3. Bagi Peneliti
Mendapatkan pengetahuan mengenai proses pembelajaran berbasis media interaktif Articulate Storyline 3 sehingga dapat mengembangkan media e-learning untuk pembelajaran dimasa pandemi
8 E. Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka di bentuk suatu batasan penelitian agar terfokus dan tidak menyebar terlalu luas.
Batasan penelitian sebagai berikut:
1. Media pembelajaran yang digunakan yaitu media interaktif menggunakan Articulate Storyline 3.
2. Indikator yang diteliti adalah keterampilan berpikir kritis siswa.
3. Materi yang dipelajari pada media pembelajaran interaktif yaitu sistem ekskresi.
F. Kerangka Pemikiran
Kurikulum 2013 revisi digunakan sebagai rujukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan. Kompetensi dasar (KD) dapat dijadikan sebagai pedoman ketika membuat tujuan pembelajaran. Hal ini diperkuat oleh pendapat Anggraena (2017, hal 33) penentuan tujuan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi (IPK), dan cakupan keluasan serta kedalaman materi dapat dilihat dari kompetensi dasar (KD). KD pada materi sistem ekskresi menurut Permendikbud 3 Tahun 2018 terdapat pada KD 3.9. Berdasarkan analisis kompetensi dasar (KD) IPA kelas VIII materi Sistem Ekskresi berbunyi “Menganalisis sistem ekskresi pada manusia dan memahami gangguan pada sistem eksresi serta upaya menjaga kesehatan sistem ekskresi”.
Kompetensi dasar (KD) 3.9 kemudian diturunkan menjadi indikator pencapaian kompetensi (IPK) diantaranya: (1) Menganalisis organ-organ penyusun sistem ekskresi pada manusia, (2) Menganalisi fungsi sistem ekskresi, (3) Mendiagnosis kelainan dan penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi, (4) Membangun berbagai pola hidup untuk menjaga kesehatan sistem ekskresi.
Terdapat juga tujuan pembelajaran yang berbunyi: melalui model pembelajaran R
& D berbasis media pembelajaran interaktif Articulate Storyline 3 siswa dapat menganalisis sistem ekskresi pada manusia dan memahami gangguan pada sistem ekskresi serta upaya menjaga kesehatan sistem ekskresi.
9 Kompetensi dasar (KD) dalam materi sistem ekskresi ini menggunakan kata kerja operasional “menganalisis”. Menurut Rofiah (2018, hal 286) kemampuan menganalisis berkaitan dengan keterampilan berpikir kritis, karena dalam menganalisis suatu permasalahan dibutuhkan adanya daya pikir kritis pada siswa.
Keterampilan berpikir kritis ini dapat memecahkan masalah melalui proses yang terarah sehingga siswa lebih peka terhadap permasalahan yang muncul. Terdapat 5 indikator keterampilan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Ennis (1996) dalam Ningsih (2012, hal 47) yaitu: (1) Memberikan penjelasan sederhana, (2) Membangun keterampilan dasar, (3) Menyimpulkan, (4) Membuat penjelasan lebih lanjut, (5) Merencanakan strategi dan taktik.
Penelitian ini bermaksud mengembangkan media pembelajaran berbantu media interaktif Articulate Storyline 3. Pengembangan media yang dilakukan dengan menggunakan model ADDIE yang merupakan perpanjangan dari Analysis, Design, Development, Implementation dan Evaluation. Permasalahan yang terdapat dilapangan, yakni kurangnya inovasi yang dilakukan guru dalam media pembelajaran. Guru hanya menggunakan media berupa whatsapp grup, zoom meeting, buku, media youtube dan power point. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti termotivasi mengembangkan media pembelajaran menggunakan aplikasi Articulate Storyline 3, yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa melalui visualisasi materi yang menarik dan game penyerta untuk mengurangi rasa jenuh saat siswa belajar.
Menurut Cennamo, Abel, dan Chung (1996) dalam Rayanto (2020, hal 30) penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE yaitu:
1. Tahap Analysis
Tahap analysis adalah tahap awal dalam pengembangan pada model ADDIE. Pada tahap ini dilakukan analisis pemasalahan dalam proses pembelajaran dan kebutuhan intruksional. Seperti tujuan pembelajaran dan batasan penelitian.
Proses analysis dilakukan dengan wawancara kepada guru mata pelajaran IPA di sekolah.
10 2. Tahap Design
Tahap design merupakan rancangan yang akan dikembangkan oleh peneliti berdasarkan hasil analisis. Hasil analisis pada tahap sebelumnya dibuat rencana yaitu akan membuat suatu media yang dapat membantu memecahkan kendala yang terjadi di lapangan
3. Tahap Develop
Tahap Develop merupakan tahap pengembangan terhadap media yang telah dirancang pada tahap design. Pada tahap ini berfokus pada pengembangan media untuk melihat pengoprasiannya agar sesuaian dengan kebutuhan.
4. Tahap Implementation
Produk yang dihasilkan pada tahap develop harus diuji berdasarkan tahapan yang ilmiah. Tahap ini bertujuan untuk menguji validasi media oleh beberapa ahli dan uji keefektivitasan untuk mengetahui keefektivitasan media yang telah dikembangkan. Uji keefektivitasan yang dilaksanakan di kelas harus memenuhi kebutuhan ilmiah dengan jumlah siswa 25-30 orang.
5. Tahap Evaluation
Tahap evaluation dilakukan pada proses akhir penelitian untuk mengetahui respon siswa terhadap media yang dikembangkan. Pada tahap ini akan dikatahui apakah tahapan dalam pembuatan media telah dibuat sesuai dengan kebutuhan atau belum memenuhi kebutuhan.
Penjelasan dalam kerangka pemikiran diatas dituangkan dalam bentuk skematis untuk memdahkan dalam penelitan. Berikut adalah skema dari kerangka pemikiran yang disajikan pada Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran.
11
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran
Analisis KI dan KD Materi Sistem Ekskresi Kompetensi Dasar:
3.9 Menganalisis sistem ekskresi pada manusia dan memahami gangguan pada sistem ekskresi serta upaya menjaga kesehatan sistem eksresi
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) 1. Menganalisis
organ-organ penyusun sistem ekskresi pada manusia
2. Menganalisis fungsi sistem ekskresi 3. Mendiagnosis
kelainan dan penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi
4. Membangun
berbagai pola hidup untuk menjaga kesehatan sistem ekskresi
Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran R & D berbasis media pembelajaran interaktif Articulate Storyline 3 siswa dapat menganalisis sistem ekskresi pada manusia dan dapat mendiagnosis penyakit pada sistem ekskresi serta membangun pola hidup sehat sistem ekskresi
Tahapan Pengembangan Media
Articulate Storyline 3 1. Analysis
2. Design 3. Develop
4. Implementation 5. Evaluation Sugiyono, 2019, hal 765 Tahapan Pembelajaran
1. Membuka format Articulate Storyline 3 2. Klik start untuk
memulai pembelajaran 3. Memilih ikon (siswa
perempuan atau laki- laki)
4. Menu utama yang berisi kompetensi, materi, evaluasi, game, profil, dan reveransi.
5. Klik menu materi 6. Klik menu evaluasi 7. Klik menu game 8. Log out
Khusnah, 2020, hal 202
Respon Peserta Didik
Produk Jadi Media Pembelajaran
Articulate Storyline 3 Uji Coba
Terbatas
Uji Validasi
Valid Tidak Valid
Revisi
12 G. Hasil Penelitian Yang Relevan
Menurut Yasin (2017, hal 171) dalam penelitiannnya mengenai kelayakan multimedia interaktif menggunakan Articulate Storyline didapatkan hasil kelayakan dengan skor sebesar 3,94 yang berarti sangat layak. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu sistem reproduksi manusia kelas XI SMA.
Validasi media interaktif ini diuji oleh dua dosen biologi dan satu guru biologi SMA. Terdapat dua aspek yang yang diuji yaitu format media dan isi materi.
Menurut Syabri (2020, hal 97) media pembelajran interaktif ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam proses belajar dengan penyajian yang lebih menarik. Materi yang disajikan yaitu dasar listrik dan elektronika yang didalamnya membahas kompetensi dasar sifat elemen pasif. Media pembelajaran ini diuji oleh guru mata pelajaran dan mendapatkan skor 4,2 yang termasuk ke dalam kategori setuju. Penyebaran hasil media pembelajaran interaktif ini dapat diakses oleh siswa melalui website dan aplikasi perangkat lunak yang diinstal pada komputer.
Menurut Habib (2020, hal 13) media pembelajaran interaktif Articulate Storyline 3 dapat digunakan dalam pembelajaran daring pada masa pandemik covid-19 secara optimal. Aplikasi Articulate Storyline 3 dapat diakses tanpa menggunakan jaringan internet sehingga memudahkan siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini diterapkan pada materi Biologi jenjang SMA sehingga dapat membantu siswa untuk meningkatkan motivasi belajar karena inovasi media ini dapat dioprasikan melalui smartphone, leptop, dan komputer.
Menurut Khusnah (2020, hal 200) dalam penelitiannya menggunakan Articulate Storyline pada mata pelajaran matematika kelas VIII materi bangun ruang sisi datar, statistika, dan peluang mendapatkan skor validasi 4,79. Dengan skor tersebut dinyatakan bahwa Articulate Storyline sangat valid. Materi dalam media pembelajaran ini disajikan dalam bentuk bentuk video dan latihan soal. Hasil dari evaluasi peserta didik dapat langsung diketahui oleh guru.
13 Menurut Rohmah (2020, hal 179) media pembelajaran interaktif menggunakan Articulate Storyline 3 merupakan solusi dari permasalahan pembelajaran di SMK yang belum menggunakan tekologi dalam kegiatan belajar mengajar. Media Articulate Storyline 3 ini diterapkan pada mata pelajaran korespondensi. Berdasarkan hasil validasi oleh ahli diperoleh skor 94% kelayakan isi. Dari hasil tersebut maka media pembelajaran interaktif berbasis Articulate Storyline 3 layak untuk digunakan pada sebagai media penunjang sarana pendidikan.