• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MIND MAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MIND MAP"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

78

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MIND MAP

Yanti Nazmai Ekaputri1 Melni Rosari2

1,2STKIP Pesisir Selatan [email protected]

Abstrak

Judul ini diangkat karena peneliti menyadari dalam mengelola pembelajaran dikelas khususnya pada pembelajaran IPA belum menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, keadaan ini berdampak pada peserta didik yang terlihat tidak semangat selama pembelajaran sehingga hasil belajar peserta didik menjadi rendah atau belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).

Pokok persoalan dalam Penelitian ini adalah: Upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA;

kemampuan guru dan aktivitas peserta didik pada setiap siklus; dan hasil belajar peserta didik pada setiap siklus. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan model mind map. Model mind map adalah model pembelajaran yang merupakan cara untuk mendapatkan, menyimpan, dan mengakses informasi atau materi pembelajaran yang diperoleh peserta didik diolah oleh otak peserta didik. Model ini cara pembelajarannya menggunakan gambar, simbol dan warna yang sangat disukai anak-anak sehingga peserta didik aktif dan tertarik serta termotivasi dalam mengikuti pelajaran. Pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk lebih aktif dan kreatif dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui cara meningkatkan kemampuan guru dan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan model Mind Map di kelas V MIN 7 Pessel, Untuk mengetahui cara meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan model Mind Mapdi kelas V MIN 7 Pessel. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subjek penelitianya adalah peserta didik kelas V MIN 7 Pessel yang berjumlah 17 orang.Jenis datayang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis kemampuan guru, analisis aktivitas peserta didik, dan analisis hasil belajar peserta didik.

Teknik dan instrumen penelitian ini adalah tes dan observasi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada setiap siklus. Siklus I yaitu dengan persentase 71,15% (cukup), siklus II meningkat dengan persentase 82,69% (baik) dan siklus III meningkat hingga 98,07% (sangat baik). Sedangkan hasil penelitian aktivitas siswa dalam proses pembelajaran juga menunjukkan peningkatan pada setiap siklus, hasil persentase pada siklus I yaitu 57,14% (kurang), siklus II 82,14% (baik), dan siklus III 96,42% (sangat baik). Hasil belajar siswa melalui penerapan metode mind mappingpada tes awal adalah 29,41% pada siklus I meningkat yaitu 52,94%, siklus II 82,35%,dan siklus III 94,11% dan pada tesakhirmeningkathingga100%.Dengandemikiandapatdisimpulkanbahwa penggunaan model mind map dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V MIN 7 Pessel.

Kata kunci: metode mind map, aktivitas siswa, hasil belajar.

Abstract

This title was raised because researchers realized in managing classroom learning, especially in science learning that had not used a learning model that was centered on students, this situation had an impact on students who did not look enthusiastic during learning so that student learning outcomes were low or did not meet the Minimum Mastery Criteria ( KKM). The main issues in this study are:

Efforts to improve the activities and learning outcomes of Natural Sciences; teacher ability and student activity in each cycle; and student learning outcomes in each cycle. One effort to overcome these problems is to use the mind map model. Mind map model is a learning model that is a way to obtain, store, and access information or learning material obtained by students processed by the brains of students. This model is a way of learning using pictures, symbols and colors that are very liked by children so that students are active and interested and motivated in following the lessons. Learning that can stimulate students to be more active and creative can improve student learning outcomes.

(2)

79

The purpose of this study is: To find out how to improve the ability of teachers and activities of students in learning science by using the Mind Map model in class V MIN 7 Pessel, To find out how to improve learning outcomes of science by using the Mind Map model in class V MIN 7 Pessel. This type of research is a classroom action research (CAR) with the subject of the research being the students of class V MIN 7 Pessel totaling 17 people. The type of data used in this study is qualitative and quantitative data. Data analysis techniques used are the analysis of teacher ability, analysis of student activities, and analysis of student learning outcomes. The techniques and instruments of this study are tests and observations.

The results showed an increase in the ability of teachers to manage learning in each cycle. Cycle I am 71.15% (enough), cycle II increased by 82.69% (good) and cycle III increased to 98.07% (very good).

While the results of research on student activity in the learning process also showed an increase in each cycle, the percentage results in cycle I were 57.14% (less), cycle II 82.14% (good), and cycle III 96.42%

(very good). Student learning outcomes through the application of mind mapping method in the initial test was 29.41% in the first cycle increased by 52.94%, the second cycle 82.35%, and the third cycle 94.11% and the final test increased to 100%. Thus, it can be concluded that the use of mind map models can improve learning outcomes of students in class V MIN 7 Pessel.

Received: November 10, 2021 / Accepted: April 29, 2022 / Published Online: April 30, 2022

(3)

80

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah “Serangkaian kegiatan interaksi antara manusia dewasa dengan peserta didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media yang bertujuan untuk memberikan bantuan terhadap perkembangan peserta didik seutuhnya.” Pendidikan berlangsung dalam suatu pembelajaran atau lazimnya disebut proses belajar mengajar. Dengan belajar, manusia akan mampu berusaha untuk menemukan perubahan tingkah laku yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan.

Pendidikan di Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan langkah awal perolehan pengetahuan bagi peserta didik. Satu diantara mata pelajaran yang dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang merupakan mata pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari. Berbagai permasalahan kehidupan manusia dapat dipecahkan melalui pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA mampu menghasilkan generasi yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berfikir kritis, kreatif dan logis.

Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung memecahkan suatu masalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar mampu menjelajahi alam sekitar secara ilmiah. Oleh karena itu, pembelajaran IPA perlu diberikan sebaik mungkin kepada peserta didik, karena pembelajaran IPA diharapkan menjadi wadah bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Menurut Mulyasa, “Pembelajaran IPA di sekolah dasar selain mengembangkan aspek kognitif juga meningkatkan keterampilan proses, sikap, kreatifitas, dan kemampuan aplikasi konsep. Selanjutnya Winataputra mengemukakan,

“IPA tidak hanya merupakan kumpulan pengetahuan tentang benda dan makhluk hidup, tetapi merupakan cara kerja, cara berfikir, dan cara memecahkan masalah”.

Untuk itu, salah satu usaha yang dapat dilakukan guru dalam menciptakan pembelajaran IPA lebih baik adalah dengan mengupayakan menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan melalui penggunaan pendekatan yang tepat. Pembelajaran menggunakan pendekatan dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Oleh sebab itu, pembelajaran IPA di sekolah dasar sebaiknya tidak diajarkan melalui ceramah atau pemberian tugas saja, akan tetapi diajarkan dengan berbagai cara dan model pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk

(4)

81

menemukan dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan IPA dan ruang lingkupnya.

Dengan demikian masalah-masalah yang dihadapi akan dapat diatasi melalui proses berfikir menemukan jawaban sehingga memperoleh pengalaman yang dapat diimplementasikan di dalam kehidupan.

Berdasarkan hasil pengalaman selama ini di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 7 Pessel tempat peneliti mengajar, khususnya dalam pembelajaran IPA di kelas V, peneliti mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Peneliti menyadari dalam mengelola pembelajaran dikelas khususnya pada pembelajaran IPA belum menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, Peneliti masih cenderung menggunakan model pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan kurang bervariasi. Sehingga, pembelajaran lebih berpusat pada guru. Aktivitas peserta didik hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, artinya guru lebih banyak menguasai proses pembelajaran. Selain itu guru juga belum menggunakan media pembelajaran yang optimal.

Keadaan ini berdampak pada peserta didik yang terlihat tidak bersemangat selama pembelajaran.

Saat pembelajaran berlangsung, peserta didik tidak berani bertanya kepada guru, karena guru kurang memotivasi peserta didik untuk bertanya meskipun ada materi pembelajaran yang tidak dimengerti, menyebabkan kegiatan peserta didik lebih banyak mendengarkan dan menunggu penyajian guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan serta keterampilan yang mereka butuhkan. Hasilnya, pemahaman konsep IPA peserta didik rendah.

Hal ini terbukti ketika guru mengajukan pertanyaan peserta didik tidak bisa menjawab.

Keadaan pembelajaran seperti ini mempunyai dampak yang buruk terhadap hasil belajar IPA peserta didik. Terbukti hasil belajar IPA peserta didik di kelas V di MIN 7 Pessel masih belum memuaskan dan masih di bawah KKM yaitu 70 dan tidak mencapai indikator keberhasilan yang telah ditentukan. Hal Ini dapat dilihat dari nilai Rata-rata UH IPA Semester II di kelas V MIN 7 Pessel tahun pelajaran 2018/2019 dengan rata-rata UH 68,61 dengan persentase ketuntasan klasikal 25 % dari 17 siswa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan dengan tiga orang peserta didik yang bernama Disyatun Ikhlas, mengatakan “ pelajaran IPA ini sangat sulit untuk dipahami karena materinya banyak, sedangkan Galib Zahwan dan Hazizah mengatakan “ Materi IPA susah untuk di ingat apalagi dihafal. Dari penjelasan yang diperoleh dari peserta didik diatas, maka dalam hal ini peneliti telah berusaha untuk memberikan tugas/PR, bahkan telah memberikan pembelajaran remedi bagi peserta didik yang belum tuntas hasil belajarnya. Namun hal ini masih berdampak

(5)

82

belum baik atau belum tuntasnya hasil belajar peserta didik secara keseluruhan, dan ketuntasannya juga masih dibawah rata-rata.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata UH IPA Kelas V MIN 7 Pessel belum mencapai ketuntasan. Artinya KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70 belum mencapai target. Agar hasil pembelajaran IPA meningkat guru harus dapat memilih dan menggunakan model yang sesuai dengan materi pembelajaran yang diajarkan. Satu diantara model-model yang dapat diterapkan pada pembelajaran IPA di SD/MI adalah model Mind Map.

Model Mind Map menggunakan kemampuan otak untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Memakai kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung, Mind Map merangsang secara visual daripada metode pencatatan tradisional. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Buzan “Mind Map adalah sistem penyimpanan, penarikan data, dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa, yang sebenarnya ada dalam otak anda yang menakjubkan “.Selanjutnya Taufina menjelaskan “Mind Map merupakan cara untuk menetapkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke luar otak”.

Pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas terlihat jelas bahwa model Mind Map sengaja dikembangkan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berfikir, memunculkan ide-ide yang terpendam dalam pikiran peserta didik serta membantu peserta didik untuk memotivasi, mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan analitis sehingga dapat memunculkan budaya berfikir pada diri peserta didik.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka peneliti optimis dengan model Mind Map mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran, terutama pada kompetensi dasar IPA. Sesuai dengan kondisi yang ada di MIN 7 Pessel, penulis menyadari perlu dilakukan perubahan dalam gaya mengajar untuk berpindah kepada model Mind Map.

Dari itu peneliti tertarik untuk mengembangkan model Mind Map melalui suatu penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA dengan Menggunakan Model Mind Map (Studi di Kelas V MIN 7 Pessel)”.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (action reseach)

HASIL DAN PEMBAHASAN

(6)

83

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dari tanggal 6 Agustus sampai dengan tanggal 26 Agustus 2019 di MIN 7 Pessel, dengan melakukan penelitian terhadap kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi kemampuan guru dan aktivitas peserta didik serta memberikan soal tes awal, LKPD, dan tes akhir pada peserta didik kelas V MIN 7 Pessel. Proses belajar dilakukan selama 3 kali pertemuan.

1. Analisis Kemampuan Guru

Guru mengelola pembelajaran dengan menggunakan model mind map dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan yang jadi pengamat (observer) adalah guru IPA kelas 5 kelas lain di MIN 7 Pessel yaitu Buk Reni Afnita, S.Pd.I. Berdasarkan data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran mengalami peningkatan. Sesuai dengan kemampuan guru pada setiap siklus bahwa kemampuan guru memperoleh rata-rata dari pengamat siklus I adalah 71,15% (cukup), siklus II adalah 82,69% (baik) dan siklus III adalah 98,07% (sangat baik). Adapun faktor yang menyebabkan adanya peningkatan aktivitas guru dalam pembelajaran karena guru selalu melakukan evaluasi pembelajaran setelah berlangsungnya proses pembelajaran. Dimana guru dinilai oleh guru bidang studi IPA kelas lain melalui lembar observasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran saat berlangsungnya proses pembelajaran. Hasil observasi tersebut dijadikan tolak ukur guru untuk mempertahankan yang sudah baik dan meningkatkan pada aspek yang dianggap sangat baik.

Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses untuk menentukan manfaat dan peningkatan dari kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian. Jadi, berdasarkan hal demikian maka kemampuan guru akan meningkat dengan memperbaiki kekurangan- kekurangan dari evaluasi pembelajaran. Jika semua langkah pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru yang telah sesuai dengan lembar observasi maka ketercapaian pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan model mind map akan mengalami peningkatan pada

(7)

84

setiap siklus. Gambar peningkatan kemampuan guru pada siklus I, II, dan III dapat dilihat pada diagram batang dibawah ini:

Gambar 4.2: Diagram Batang Peningkatan Kemampuan Guru Pada Siklus I. II, dan III 2. Analisis Aktivitas Peserta Didik

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer terhadap aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran mengalami peningkatan sebagaimana yang terdapat pada tabel 4.3, 4.7, dan 4.11. Pada siklus I aktivitas peserta didik masih kurang aktif yaitu pada pengerjaan LKPD serta masih kurang berani mempresentasikan hasil kerja kelompoknya sendiri, akan tetapi aktivitas peserta didik mengalami perubahan pada siklus II dan siklus III peserta didik telah aktif dalam kerja kelompok serta telah berani mempresentasikan kerja kelompoknya.

Pada proses pembelajaran guru memberikan LKPD kepada peserta didik. Pada kegiatan yang ada di LKPD tersebut peserta didik diminta untuk membuat mind map yang bermanfaat untuk lebih mudah mengingat dan mamahami materi IPA yang telah di pelajari juga memberi manfaat tidak hanya untuk pembelajaran IPA saja namun peserta didik dapat menerapkan pada pembelajaran lainnya atau pada kegiatan- kegiatan yang ada disekolah.

Peserta didik menjadi lebih semangat belajar, aktif dan kreatif hal ini dapat kita lihat dari keseriusan dan kecepatan peserta didik dalam mengerjakan LKPD yang diberikan guru.

Peningkatan aktivitas peserta didik dari siklus I, siklus II, dan siklus III di sebabkan oleh adanya penggunaan model mind map, bahwa dengan menggunakan model mind map peserta didik sebagian besar aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.

0,00%

50,00%

100,00%

150,00%

Siklus ISiklus IISiklus III

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU

Series 3 Series 2 Series 1

(8)

85

Gambar peningkatan aktivitas peserta didik pada siklus I, II, dan III dapat dilihat pada diagram batang dibawah ini:

Gambar 4.3: Diagram Batang Peningkatan Aktivitas Peserta Didik Pada Siklus I. II, dan III

3. Hasil Belajar Peserta Didik

Untuk melihat peningkatan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model mind map pada materi IPA kompetensi dasar menjelaskan alat gerak dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan alat gerak manusia, maka peneliti mengadakan tes pada awal pertemuan yaitu tes awal ( pre- test), mengadakan tes siklus pada setiap akhir pertemuan yaitu (tes siklus) dan pada hari terakhir mengadakan tes akhir (post-test). Tes yang diberikan bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan kemampuan belajar peserta didik dalam memahami materi.

Berdasarkan hasil tes pada siklus I, terdapat 8 peserta didik yang belum tuntas hasil belajarnya (47,05%) dan yang tuntas belajar 9 peserta didik (52,94%). kategori ketuntasan belajar peserta didik pada pembelajaran secara klasikal adalah jika mencapai 80% sehingga ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal pada siklus I belum tercapai. Tercapainya keberhasilan belajar ini tidak terlepas dari usaha guru dalam memotivasi untuk setiap kali pertemuan.

Pada setiap pertemuan guru menyiapkan berbagai keperluan peserta didik, serta guru selalu membimbing peserta didik pada setiap kelompok untuk membuat mind map bertujuan agar peserta didik lebih aktif ketika proses pembelajaran yang bisa menggali pengetahuan mereka terhadap apa–apa yang telah dipelajari. Pembelajaran dengan menggunakan mind map

0,00%

50,00%

100,00%

150,00%

Siklus I Siklus II Siklus III

PENINGKATAN AKTIVITAS PESERTA DIDIK

Column2 Column1

Hasil Analisis Aktivitas Peserta Didik

(9)

86

dilengkapi dengan media gambar dan warna – warna yang menarik sehingga peserta didik menjadi semangat dan tertarik dalam membuat mind map.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Tony bahwa model pembelajaran mind map yang secara otomatis memberikan semangat kepada peserta didik sehingga peserta didik tertarik menerima pembelajaran dan bekerja sama di dalam kelas. Model mind map ini juga dapat membuat pelajaran dan presentasi lebih spontan, kreatif, dan menyenangkan baik bagi guru maupun bagi peserta didik, mudah di pahami dan mudah di ingat sehingga peserta didik cenderung mendapat nilai yang baik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model mind map sangat cocok pada materi IPA kompetensi dasar menjelaskan alat gerak dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan alat gerak manusia, dan juga menjadi motivasi belajar peserta didik pada materi IPA selanjutnya.

Pada siklus II peserta didik yang tidak tuntas belajarnya adalah 3 orang (17,65%) dari 17 peserta didik dan yang tuntas belajarnya adalah 14 orang (82,35%), sedangkan pada siklus III peserta didik yang tidak tuntas adalah 1 orang (5,88%) dan peserta didik yang tuntas belajarnya adalah 16 orang (94,11%) kategori ketuntasan peserta didik dalam pembelajaran secara klasikal adalah mencapai 80%. Selanjutnya, untuk peserta didik yang tidak tuntas pada soal tes awal (pretest) adalah 12 orang (70,58%) dan yang tuntas adalah 5 orang (29,41%).

Setelah semua kegiatan pembelajaran pada siklus I, siklus II, dan siklus III berakhir, peserta didik menjawab soal tes akhir (post-test), peserta didik yang tuntas adalah 17 orang atau semua peserta didik mencapai ketuntasan (100%) .

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model mind map pada materi IPA kompetensi dasar menjelaskan alat gerak dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan alat gerak manusia dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V dengan ketuntasan tes akhir yaitu 94,11%.

(10)

87

Untuk lebih jelasnya lagi dapat kita lihat gambar diagram batang peningkatan hasil belajar peserta didik pada siklus I, siklus II, dan siklus III pada gambar 4.4 berikut:

Gambar 4.4: Diagram Batang Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik pada Siklus I, II, dan III

K E S I M P U L A N D A N S A R A N

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan perlu dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Guru diharapkan dapat menggunakan berbagai macam model pembelajaran yang sesuai dalam pembelajaran tematik khususnya IPA, sehingga minat peserta didik untuk belajar IPA semakin meningkat dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2. Penggunaan model Mind Map untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam belajar materi IPA dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Oleh karena itu guru bidang studi IPA agar dapat mempelajari secara lebih mendalam dan dapat menerapkan pembelajaran melalui model Mind Map dalam pelaksanaan belajar mengajar di dalam kelas.

3. Hasil penelitian ini hendaknya dapat menjadi masukan bagi guru IPA dan guru bidang studi lainnya yang pada umumnya dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dimasa akan datang.

4. Mengingat penelitian ini diperkirakan masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan, karena keterbatasan kemampuan penulis sebagai peneliti, maka

0,00%

10,00%

20,00%

30,00%

40,00%

50,00%

60,00%

70,00%

80,00%

90,00%

100,00%

Siklus I Pertemuan 1 (52,94 %)Siklus I Pertemuan 2 (82,35 %)Siklus I Pertemuan 3 (94,11 %)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR

(11)

88

diharapkan kepada teman-teman atau pihak lain yang berminat pada topik ini, untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut. Sehingga akan ditemukan hasil yang lebih baik lagi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

________, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2005

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Yogyakarta: Rineka Cipta, 2006

Benyamin S, Bloom, Taxsonomy of Educational Objectives Classification of Educational Goals London: David Mckay, Inc, 1959

Buzan, Tony, Buku Pintar Mind Map, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009

Depdiknas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Depdiknas, 2006

Dimiyati, dkk, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2009

Djamarah, Syaiful Bahri, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2000 Ghony, M.Junaidi, Penelitian Tindakan Kelas, Malang: UIN Malang Press, 2008

Hamalik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Bandung: Bumi Aksara, 2008

Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia, 2011

Idris, Zahara., dan Jamal, Lisma, Pengantar Pendidikan, Jakarta: Grasido, 1992

Khalidah, Noera, Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah mathematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di Kelas VIII MTsN COT Geuleumpang..,

Mall, Silberman, Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Pendidikan Islam, 2007

Moelong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006 Mulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Rosda, 2005

Nurcahyo, A., & Sudibyo, N. A. (2020). Eksperimentasi Model Pembelajaran Tai Afl Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Smp Pada Materi Bilangan. Jurnal Lebesgue: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, Matematika Dan Statistika, 1(2), 113-122.

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rakesarasin, 1996

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2010 Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosda

Karya, 2009

Sudjono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

SugiartoIwan, Mengoptimalkan Daya Kerja Otak Dengan Berpikir Holistik dan Kreatif, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004

Sugiyono, Statistik untuk Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010

Sukardi, Metodelogi Penelitian Kompetensi dan Prakteknya, Jakarta: Bumi Aksara, 2004 Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Rajawali, 1987

Suryanto, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, Surabaya: Masmedia Buana Pustaka, 2009 Taufik, Taufina, Model-Model Pembelajaran Efektif, Padang: Saka Bina Press, 2011

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif, Jakarta: Prenada Media, 2009 Wena, Made, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual

Operasional, Jakarta: Bumi Aksara, 2009

(12)

89

Winataputra, Strategi Belajar Mengajar, 2008

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan Catatan Mind Map Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SD Pada Mata Pelajaran IPA Materi Pokok Peristiwa Alam (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas V SDN Barunagri,Lemabang)

Kata kunci : metode mind map , kemampuan menganalisis, kemampuan mengevaluasi, mata pelajaran IPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mind

Apabila hasil penelitian tindakan kelas (PTK) ternyata memperlihatkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan strategi mind map dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta

Objek penelitian adalah teknik Peta-Pikiran (Mind-Map) untuk meningkatkan hasil belajar menulis teks narasi Peserta didik kelas VII-A SMP Negeri 200 Jakarta. Teknik

Secara khusus bertujuan untuk : (1) Mendiskripsikan aktivitas peserta didik; (2) Mendiskripsikan pengelolaan pembelajaran oleh guru; (3) Mengetahui hasil belajar peserta didik

Maka dari itu guru perlu menggunakan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar IPS peserta didik kelas IV SDN 2 Ruwung Buyung Kecamatan Cempaga

1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan mind map dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran IPA di Kelas. IV SD Negeri 1 Tiparkidul

Bahawa penggunaan model pembelajaran mind map ini dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik karena pembelajaran dengan menggunakan konsep ini lebih didasarkan pada