• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Warsidi, S.Si SMP Negeri 1 Sambi Boyolali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh : Warsidi, S.Si SMP Negeri 1 Sambi Boyolali"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Metode Jigsaw Kelas IXE SMPN 1 Sambi Semester

Genap tahun Pelajaran 2019/2020

Oleh : Warsidi, S.Si SMP Negeri 1 Sambi Boyolali

[email protected]

Abstrak:Motivasi dan hasil belajar IPA Kelas IXE SMPN 1 Sambi sebelum dilakukan penelitin masih rendah. Guru dalam mengajar belum menggunakan metode jigsaw, sehingga muncul masalah dengan rendahnya motivasi dan hasil belajar. Masalah ini sangat mungkin disebabkan oleh belum tepatnya metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Maka untuk mengatasi hal ini dilakukan penelitianTindakan kelas (PTK).

PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari tiga pertemuan dengan alokasi waktu dua jam pelajaran untuk setiap pertemuan dan i jam untuk tes evaluasi. Pada Siklus I Peserta Didik bekerja dalam kelompok ahli dan kelompok asal, pemerataan kemampuan anggota kelompok berdasar pada data prasiklus ,perwakilan kelompok dipilih oleh kelompoknya mempresentasikan hasil diskusinya.

Pada Siklus II, sebelum Peserta Didik bekerja sama dalam kelompok, pemerataan kemampuan kelompok didasarkan pada refleksi data siklus I, presentasi perwakilan kelompok dipilih guru secara acak, guru lebih efektif membimbing dan membantu belajar dengan menampilkan beberapa tayangan slide show berkaitan dengan materi yang dibahas. KemudianPeserta Didik bekerja dalam kelompok ahli dan kelompok asal membahas materi yang diberikan. Pada tiap-tiap akhir siklus peneliti mengadakan evaluasi yang hasilnya kemudian dianalisis sebagai hasil tindakan.

Data penelitian menunjukkan bahwa selama tindakan, terjadi peningkatan motivasi Peserta Didik dalam mengikuti proses pembelajaran, yang ditunjukkan dalam cara mereka bekerja sama, berperan dalam kelompok, bertanya dan menjawab pertanyaan, juga sikap selama proses pembelajaran. Selain itu, data nilai tes Peserta Didik juga menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh Peserta Didik.

Nilai rata-rata meningkat dari nilai prasiklus 58,9 menjadi 67,2 pada akhir Siklus I, dan meningkat lagi menjadi 76,6 pada akhir Siklus II.. Nilai tertinggi naik dari 85 pada kondisi awal menjadi 90 pada akhir Siklus I dan naik lagi menjadi95 pada akhir Siklus II. Nilai terendah juga meningkat dari 40 pada kondisi awal menjadi 55 pada akhir Siklus I dan 70 pada akhir Siklus II. Jumlah Peserta Didik yang mencapai nilai KKM juga meningkat dari 8 Peserta Didik (33,3%) pada kondisi awal menjadi 18 (70%) pada akhir Siklus I, dan 32 Peserta Didik( 100%) sudah tuntas pada akhir Siklus II. Peningkatan dari kondisi awal hingga kondisi akhir untuk nilai terendah meningkat 30 poin ( dari 40 naik menjadi 70), untuk nilai rata- rata meningkat sebesar 17,7 ( dari 58,9 naik menjadi 76,6), sedangkan nilai tertinggi terjadi kenaikan sebesar 10 poin ( dari 85 naik menjadi 95). Jumlah Peserta Didik yang Tuntas meninggkat sebesar 66,7%

( dari 33% menjadi 100%).

Kata kunci: motivasi, hasil belajar, metode jigsaw, IPA PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.

MasaPendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam membangun dirinya membentuk dan mencetak pribadinya untuk menumbuh kembangkan semua potensi, kecakapan, serta keuniukan pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Melalui proses Pendidikan Peserta Didik mengembangkan apa yang secara potensial dan aktual telah dimiliki oleh peserta didik, sehingga mampu merealisisikan jati

dirinya tentunya dengan pendampingan dan interaksi aktif dengan guru .

Upaya nyata yang diltempuh adalah dengan diselenggarakan berbagai mata pelajaran dengan tujuan khusus yang sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Salah satu diantaranya adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud 2013) dilaksanakan untuk mengembangkan kepedulian terhadap kelestarian sumber daya

(2)

alam berdasarkan perspektif biologi, fisika, dan kimia”.

SMPN 1 Sambi menyelenggarakan pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA) dengan jumlah tapka 5 jam pelajaran di setiap pekannya dengan durasi waktu setiap satu jam pelajaran 40 menit . Kriteria ketuntasan Minimal ( KKM) sekolah yang telah tetapkan sebesar 70.Sebelum penelitian dilakukan bahwa pada tindakan awal (prasiklus) kondisi proses pembelajaran di SMP Negeri 1 sambibelum optimal.

Motivasibelajar IPA

bagiPesertaDidikmasihrendah.Situasi proses kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahua alam seperti berdamapak secara serius pada efektifitas dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam di kelas IX E SMP Negeri 1 Sambi. Pada kegiatan tindakan awal (Pra Siklus) motivasi yang telah diketahui memlalui angket motivasi belajar IPA kelas IXE, data yang diperoleh menunjukkan motivasi masih rendah dan kurang optimal. Rata rata motivasi sebesar 52,3 sedangkan nilai teringgi motivasi sebesar 68 dan nilai terendahnya untuk motivasi belajar IPA pada poin 45.

Demikian juga nilai prestasi hasil belajar Hasil belajar IPA Peserta Didik Kelas IXE SMP Negei 1 Sambi pada tindakan awal ( Pra siklus ) juga rendah.

jumlah Peserta didik didalam kelas seluruhnya 32 peserta didik, jumlah peserta didik yang tuntas hanya 8 Peserta didik atau 25%, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 24 peserta didik atau 75%

ini dapat dikatakan sangat banyak, nilai tertinggi tertinngi yang mampu dicapai sebesar 85, sedangkan nilai terendah sebesae 40, rata-rata nilai 58,9.

Belum tercapainya secara optimal tujuan mata pelajaran IPA di kelas ini sangat dimungkinkan disebabkan oleh kurangnya perhatian dan motivasi dan partisipasi Peserta didik dalam proses belajar mengajar. Kurangnya perhatian, motivasi, dan partisipasi Peserta didik dalam proses belajar mengajar tersebut dapat disebabkan olehbeberapahal dua diantaranyaadalah: Pertama, guru belum memanfaatkan media pembelajaran yang sesuai secara efektif. Kedua, guru belum menerapkan pendekatan dan metode

pembelajaran yang sesuai dengan karakter materi .

Ada beberapa metode pembelajaran yang sejalan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif satunya adalah metode jigsaw.

Metode ini mempunyai ciri selain pengembangan aktivitas berfikir, juga menumbuhkan perilaku-perilaku sosial yang positif yang dapat dikembangkan melalui diskusi dan kerja kelompok. Diharapkan, dengan penerapan model pembelajaran kooperative metode jigsaw ini, Peserta didik menjadi lebih aktif, lebih perhatian, lebih termotivasi dalam proses belajar mengajar pada giliranya hasil belajar meningkat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Sehubungan dengan itu maka penulis mengadakan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul:

“Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPA melalui Penerapan Model Pembelajaran Koopratif Metode Jigsaw Kelas IXE SMPN 1 Sambi Tahun Pelajaran 2019/2020”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Dari latar belakang masalah di atas dan maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:

1. Kualitas pendidikan di SMP Negeri 1 Sambi relatif rendah.

2. Masih banyak guru IPA yang belum menerapkan strategi dan metode pembelajaran secara tepat dan efektif.

3. Pembelajaran IPA di kelas pada umumnya bersifat komunikasi satu arah, guru mendominasi proses belajar mengajar dan kurang menekankan pada proses keterlibatan Peserta didik secara penuh.

4. Penerapan model pembelajaran yang kurang bervariasi menyebabkan motivasi belajar Peserta didik relatif masih rendah.

5. Prestasi belajar Peserta didik pada mapel IPA masih relatif rendah dibandingkan mata pelajaran lain.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas penelitian ini dibatasi pada:

1.Model pembelajarannya dibatasi pada model

(3)

pembelajaran kooperatif metode jigsaw pada mata pelajaran IPA. Materi yang digunakan sebagai eksperimen adalah materi IPA kelas IX semester 2 pada Kompetensi dasar: Mendeskripsikan Konsep Medan Magnet, induksi elektromagnet, dan penggunaannnya dalam produk teknologi serta pemanfaatan medan magnet dalam pergerakan/ navigasi hewan untuk mencari makanan dan migrasi

D. RumusanMasalah.

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu masalah yaitu:

1.Adakah peningkatan hasil belajar IPA pada Peserta didik dengan menggunakan model kooperatif metode jigsaw ?

2. Adakah peningkatan motivasi dan belajar IPA pada Peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw?

E. TujuanPenelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitianinibertujuanuntuk:1.Untuk

mengetahui peningkatan hasil belajar IPA pada Peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw. 2.

Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar IPA pada Peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw.

F. ManfaatPenelitian

Secara teoritis bahwa penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pemahaman pembelajaran IPA, khususnya penggunaan metode

Secara praktis manfaat penelitian ini diharapkan: 1. Bagi guru dapat memilih strategi pembelajaran yang lebih tepat sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. 2. Bagi Peserta Didik dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada pelajaran IPA 3. Bagi Sekolah dapat sumbangan pemikiran tentang pentingnya memilih dan menerapkan strategi dan metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar IPA di SMP Negeri 1 Sambi.

KAJIAN PUSTAKA 1. Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata “motif”

yang dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan

sebagai daya penggerak dari dalam dan berada di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai tujuan tertentu. Berawal dari kata “motif”

tersebut, motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang aktif mendorong seseorang melakukan sesuatu. (Sardiman A.

M, 2011: 73).

Menurut Oemar Hamalik (2011: 27)

“belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan, belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami”. Dalam proses pembelajaran, motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual yaitu mempunyai peranan yang khas dalam penumbuhan gairah, perasaan senang, dan semangat untuk belajar. Pendapat tersebut memperkuat bahwa motivasi dan belajar saling mempengaruhi. Dengan adanya motivasi yang kuat maka siswa akan melakukan kegiatan belajar. Dengan kata lain, motivasi dapat mendorong peserta didik untuk belajar. Motivasi Belajar pada siswa dapat berasal dari guru, teman, orang tua, buku-buku, media pembelajaran dan lingkungan dalam proses belajar.

Dari pendapat beberapa ahli seperti tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Motivasi Belajar adalah daya dorongan sebegai penggerak baik dari dalam diri atau luar Peserta didik untuk berbut dan bertindak untuk melakukan sesuatu aktifitas yang lebih baik yang berkaitan dengan kegiatan aktifitas pembelajaran untuk dalam mencapai tujuan belajarnya.

2. Hasil belajar

berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Dengan demikian tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrumen yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan data tersebut guru dapat mengembangkan dan memperbaiki program pembelajaran. Sedangkan, tugas seorang desainer dalam menentukan hasil belajar selain menentukan kriteria keberhasilan juga merancang cara menggunakan instrumen

(4)

beserta kriteria keberhasilannya. Hal ini perlu dilakukan sebab dengan kriteria yang jelas dapat ditentukan apa yang harus dilakukan siswa dalam mempelajari isi atau bahan pelajaran.( Wina Sanjatya2010).

Sedangkan Menurut Muhamad Afandi (2013:6) hasil belajar merupakan proses perubahan kemampuan intelektual (kognitif), kemampuan minat atau emosi (afektif) dan kemampuan motorik halus dan kasar (psikomotor) pada peserta didik. Perubahan kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran khususnya dalam satuan pendidikan dasar diharapkan sesuai dengan tahap pekembangannnya yaitu pada tahapan operasional kongrit.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat dipahami bahwa hasil belajar merupakan hasil pengukuran terhadap tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik setelah melaksanakan proses pembelajaran yang telah di desain dan direncanalan oleh guru, Pengukuran ini yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar selalu berkaitan dengan pengukuran (measurment) dan penilaian (evaluation).

Dengan pengukuran dan penilaian akan diperoleh suatu hasil yang dapat digunakan untuk dianalisis dan menyususun perencanaan dan melakukan tindakan dalam usaha lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas dan kuantitsa hasil belajar.

3. Hakekat IPA

IPA merupakan bagian kehidupan manusia dari sejak manusia itu mengenal diri dan alam sekitarnya. Manusia dan lingkungan merupakan sumber, obyek dan subyek IPA. IPA sebagai bidang ilmu ilmiah, dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada mahluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural science) seperti fisika, kimia dan biologi.

IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas terhadap gejala-gejala alam.

Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi oleh adanya metode ilmiah dari sikap ilmiah.

Dari beberapa pendapat tentang hakikat IPA maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat IPA yaitu kumpulan pengetahuan yang berhubungan dengan cara mencari tahu dan mendiskusikan tentang alam. Pendidikan IPA merupakan salah satu aspek pendidikan dengan menggunakan IPA sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya, dan tujuan pendidikan sains khususnya. IPA atau sains tidak hanya mencangkup kumpulan fakta (produk ilmiah) saja, tetapi juga mencangkup tentang sikap ilmiah dan proses ilmiah (metode ilmiah). Ketiga komponen tersebut dijabarkan sebagai berikut.

a. Sikap ilmiah misalnya hasrat ingin tahu, kerendahan hati, sikap keterbukaan, jujur, pendekatan positif terhadap kegagalan, dan sebagainya. Sikap ilmiah merupakan perilaku ilmuwan yang mereka ikuti dalam penelitian- penelitian ilmiah.

b. Proses ilmiah merupakan ketrampilan berpikir (thinking skill) yaitu suatu proses yang dilakukan oleh ilmuwan yang sering disebut sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah adalah metode yang biasanya diikuti oleh ilmuwan dalam memecahkan suatu masalah.

c. Produk ilmiah adalah konsep, prinsip, dan teori ilmiah. Dasar pembentukan produk sains adalah data observasi yang dapat ditiru.

Konsep adalah gagasan atau ide berdasarkan pengalaman yang relevan dan yang dapat digeneralisasikan. Teori adalah suatu generalisasi prinsip-prinsip ilmiah yang berkaitan, dan yang menjelaskan segala tentang ilmiah.

Pokok bahasan IPA adalah alam dengan segala isinya. Hal-hal yang dipelajari adalah sebab akibat atau hubungan dari kejadian- kejadian yang terjadi di alam. Karena aktivitas dalam IPA selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan ketrampilan, kerajinan, dan ketekunan, maka materi dalam pelajaran IPA tidak cukup diberikan sebagai kumpulan pengetahuan saja, tetapi menyangkut cara kerja, cara berfikir, dan cara memecahkan masalah.

Hakikat IPA semata-mata tidaklah pada dimensi pengetahuan. Dengan dimensi inilah IPA hakikatnya mentautkan antara aspek logika-materil. Tujuan dari IPA itu sendiri sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006, tujuan dan lingkup pelajaran IPA sebagai berikut .

(5)

a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

d. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan .(http://yudi-

wiratama.blogspot.com/2014)

4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw membagi siswa ke dalam kelompok kecil dengan anggota 4-6 orang yang heterogen dan saling ketergantungan positif serta bertanggung jawab secara mandiri atas ketuntasan materi pelajaran yang menjadi tanggung-jawabnya selanjutnya untuk ditranfer dan ditularkan melalui diskusi kepada anggota kelompok asal (Isjoni, 2010:

79). Isjoni (2010: 77) menyatakan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw merupakan salah satu strategi yang dapat mendorong siswa aktif dan mencapai prestasi maksimal. Aronson (1978) dalam Adams Anthony menyatakan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ini menempatkan siswasiswa ke dalam tim untuk mengerjakan materi yang telah dibagi menjadi beberapa bagian. Jigsaw adalah salah satu dari metodemetode kooperatif yang paling fleksibel (Slavin: 2005: 246). Dari berbagai pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa pada kelompok dengan anggota 4-6 siswa dan setiap siswa bertanggung jawab atas penguasaan satu sub bab untuk kemudian diajarkan kepada anggota lain. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dapat digunakan untuk

membangun keterampilan penelitian dalam bekerja dengan data atau materi yang harus dikumpulkan peserta didik kemudian kumpulan data atau materi tersebut selanjutnya secara cermat dianalisis dan diubah ke dalam pemahaman yang sama.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.

Menurut Aronson dkk dalam Daryanto (2012:

243-244), langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw adalah sebagai

berikut:

1) Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4-6 siswa yang heterogen dengan kemampuan berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah serta jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, dan suku yang berbeda serta kesetaraan gender. Kelompok ini disebut kelompok asal.

2) Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ini, siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli

(Counterpart Group/CG).

3) Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.

4) Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik kelompok ahli maupun kelompok asal.

5) Setelah berdiskusi dalam kelompok ahli maupun asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan materi hasil diskusi yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.

6) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan aktivitas belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

KerangkaPemikiran

Masih ada beberapa Peserta Didik Beberapa kelas IXE SMPN 1 sambi yang belum memperoleh hasil belajar sesuai standar ketuntasan minimal (Kriteria Ketuntasan Minimal). Hal ini mungkin disebabkan oleh belum tepatnya metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru

(6)

dalam proses belajar mengajar di kelas.

Berdasarkan beberapa teori dan temuan-temuan penelitian terdahulu, model pembelajaran kooperatif metode jigsaw dipercaya bisa meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan melibatkan semua siswa kelas IXE SMPN Sambi. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan.

PadaSiklus I pesertadidik dikelompokkan berdasarkan hasil analisis kemampuan dari data pengamatan siklus awal ( prasiklus) dan selanjutnya diberikan keleluasaan dalam menentukan perwakilan presentasi dalam melaksanakan pembelajaran. Pertemuan pertama dari Siklus I diisi dengan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode jigsaw dengan materi “Konsep dasar kemagnetan dan pemanfaatan pada migrasi hewan”. Pada pertemuan kedua, peneliti menerapkanmetode yang sama dengan materi yang berbeda, yaitu “medan magnet dan kemagnetan bumi”. Pertemuan ketiga dari Siklus I digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar dan refleksi.

Pada pada siklus ke II ini guru lebih aktif mengamati, membimbing kelompok maupan personal, selalu mengingatkan agar semua anggota kelompok siap mewakili kelompoknya untuk presentasi. Pertemuan pertama dari Siklus II, kegiatan pembelajaran diisi dengan penerapan metode jigsaw pada materi “gaya magnet dan induksi elektromagnet”, sedangkan pertemuan kedua dari Siklus II diisi dengan kegiatan pembelajaran yamg menerapkan metode jigsaw pada materi

‘Transformator dan penerapan kemagnetan pada produk teknologi’.

Pertemuan ketiga dari Siklus II diisi dengan evaluasi tahap II, sekaligus evaluasi tahap akhir dari penelitian tindakan ini. Diharapkan, dengan penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw hasil belajar siswa dapat dan motivasi belajar peserta didik secara klasikal dapat

semangkit baik berkualitas dan meningkat Hipotesa Tindakan

Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian dan kerangka berpikir, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

Ada peningkatan motivasi dan hasil belajar IPA pada Peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw materi Kemagnetan

METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian

1. Waktu dan TempatPenelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK ) ini dilakukan di SMPN 1 Sambi Kabupaten Boyolali, dengan meneliti 32 Peserta Didik yang berasal dari kelas IXE SMPN Sambi.

Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020, mulai bulan Januari 2020 sampai April 2020.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah motivasi belajar dan hasil belajar dari Peserta Didik kelas IXE SMPN 1 Sambi, Kabupaten Boyolali pada tahun pelajaran 2019/ 2020. Peserta Didik di kelas ini berjumlah 32 orang.

Alasan pemilihan kelas ini adalah: 1) mata pelajaran IPA di Kelas IXE rata ratanya paling paling rendah bila disbanding nilai rata-rata Mata pelajaran lain di kelas tersebut; 2) dibanding kelas-kelas lain yang diajar oleh peneliti, di kelas ini paling banyak terdapat Peserta Didik yang belum tuntas.

B. Prosedur Penelitian

Dalam penelitian ini, rencana tindakan dilakukan tiga tahap yaitu:

1. Langkah Pertama: Menentukan Metode Penelitian

Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah menentukan metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode penelitian tindakan kelas.

2. Langkah Kedua: Menentukan Banyaknya Tindakan

Langkah kedua setelah menentukan metode penelitian, peneliti menentukan banyaknya tindakan. Dalam hal ini, peneliti menentukan tindakan akan dilaksanakan dalam dua siklus.

Pada siklus pertama, Peserta Didik diberi tindakan berupa pembelajaran kompetensi dasar menerapkan konsep kemagnetan, induksi elektromagnetik, dan pemanfaatan medan magnet dalam kehidupan sehari-hari termasuk pergerakan/navigasi hewan untuk mencari makanan dan migrasi dengan sub

(7)

materi pokok konsep dasar kemagnetan , medan magnrt pemanfaatan medan magnet bumi pada migrasi hewan, dengan penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw. Siklus pertama akan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, masing-masing dua jam pelajarandua kali pertamadansatu jam sekalipertemuan, dan pertemuan terakhir salamasatu jam pada Siklus I digunakan untuk melaksanakan tes pada akhir siklus pertama.

Pada siklus kedua, proses pembelajaran hampir sama, materi gaya magnet Induksi elektromagnetik dan transformator penerapan kemagnetan pada produk teknologi, dengan penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw.

Siklus kedua akan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, masing-masing dua jam pelajarandua kali pertemuandansatu jam sekalipertemuan, dan pertemuan terakhir salamasatu jam pada Siklus I digunakan untuk melaksanakan tes pada akhir siklus kedua.

3. Langkah Ketiga: Menentukan Tahapan dalam Tiap Siklus

Langkah ketiga yang dilakukan oleh peneliti adalah menentukan tahapan- tahapan dalam tiap-tiap siklus, yang masing-masing terdiri empat tahapan, yaitu:

a. Siklus Pertama

Tahapan pelaksanaan penelitian pada siklus pertama adalah:

1) Planning

Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan yang berkaitan dengan proses pembelajaran pada siklus pertama, yaitu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan skenario pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw.

2) Acting

Pada tahap ini, peneliti melakukan action atau tindakan, yaitu proses pembelajaran pada siklus pertama dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw. Materi pembelajaran pada siklus pertama ini adalah konsep dasar kemagnetan , medan magnet , induksi magnet setapemanfaatan medan magnet bumi pada migrasi hewan

Proses pembelajaran diawali dengan kegiatan awal yang berupa guru

menginformasikan tujuan pembelajaran pada hari itu, serta memberikan motivasi kepada Peserta Didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan penuh semangat dan dengan senang hati.

Selanjutnya guru membagi Peserta Didik ke dalam enam kelompok secara merata kemampuannya berdasarkan Prestasi hasil belajar pada pra siklus yang masing-masing terdiri dari lima atau enam anggota yang disebut kelompok asal, kemudian membagikan materi yang berbeda-beda untuk tiap -tiap anggota tersebut. Kemudian guru menginstruksikan Peserta Didik supaya bergabung dengan anggota-anggota dari kelompok lain yang memperoleh materi yang sama dan mendiskusikan materi tersebut sampai sefaham mungkin. Kelompok yang terbentuk sekarang ini disebut kelompo ahli.

Tahap berikutnya, Peserta Didik kembali bergabung dengan kelompok asal dan masing- masing anggota kelompok menjelaskan materi yang menjadi bagiannya kepada teman-teman lain dalam kelompoknya. Kelompok memilih salah satu anggota sebagi perwakilan untuk presentasi hasil diskusi perwakilan kelompoknya.

Proses pembelajaran pada hari itu diakhiri dengan membuat kesimpulan dan refleksi atas jalannya proses pembelajaran pada hari itu.

3) Observing

Pada tahap ini dua orang pengamat melakukan pengamatan terhadap jalannya proses pembelajaran pada siklus pertama, dengan fokus pengamatan pada seberapa besar Peserta Didik: 1) menunjukkan kerjasama dalam kelompok; 2) menunjukkan peran dalam kelompok; 3) menunjukkan aktivitas bertanya; 4) menunjukkan sikap antusias dalam mengikuti diskusi; dan 5) menjawab/

membahas masalah.

Dari pihak guru, fokus pengamatan adalah pada seberapa baik ketrampilan guru dalam: 1) memotivasi Peserta Didik untuk belajar; 2) menerapkanmodel pembelajaran kooperatif metode jigsaw dalam pembelajaran;3) mengelola kelas; dan 4) mengevaluasi hasil belajar Peserta Didik.

4) Reflecting

Pada tahap ini peneliti bersama para pengamat melakukan refleksi, menilai kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran pada siklus pertama. Hasil dari refleksi ini kemudian dijadikan bahan untuk

(8)

penentuan tindakan pada siklus II.

b. Siklus Kedua

Hasil analisis dan refleksi dari siklus pertama dijadikan dasar perbaikan untuk melaksanakan siklus kedua. Penelitian Tindakan pada Siklus II ini hampir sama dengan yang dilaksanakan pada Siklus I, tetapi terdapat perbedaan yakni: 1) Dalam proses pembentukan kelompok dalam pemerataan kemampuan tiap-tiap anggotanya dipertimbangkan berdasarkan hasil anailisis dan refleksi pada siklus I. 2) Penentuan perwakilan kelompok untuk presentasi ditunjuk Guru dengan harapan agar setiap anggota kelompok benar-benar mempersiapkan diri dan memahami apa yang telah dipelajari dan didiskusikan . 3) pada Siklus I sub pokok materinya adalah konsep dasar kemagnetan , medan magnet pemanfaatan medan magnet bumi pada migrasi hewan, pada Siklus II materinya adalah Induksi elektromagnetik ,transformator serta penerapan kemagnetan pada produk teknologi.

Hasil Tindakan dan Pembahasan A. Deskripsi Kondisi Awal Pra Siklus

Penelitian dilakukan di kelas IX ESMP Negeri 1 Sambi Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2019/2020, dengan jumlah Peserta Didik 32 orang.

Deskripsi kondisi awal ini membahas tentang keaktifan peserta didik di kelas selama proses pembelajaran sebelum dilakukan tindakan dan deskripsi hasil belajar peserta didik sebelum tindakan.

1. Deskripsi Tingkat Keaktifan Peserta didik Sebelum Tindakan

Berdasarkan catatan mengajar dari guru, diketahui bahwa mapel IPA pada materi ListrikDinamis masih menjadi kesulitan bagi beberapa pesertadidik SMPN 1 Sambi Kelas IXE. Hal ini terlihat dari masih banyak peserta didik yang nilainya belum mencapai KKM pada ulangan harian dengan materi pembelajaran rangkaian listrik dan sumber energi Listrik dalam Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan karakteristik rangkaian listrik, transmisi energi listrik, sumber-sumber energi listrik alternatif (termasuk bioenergi), berbagai upaya dalam menghemat energi listrik, serta serta penggunaan teknologi listrik di

lingkungan sekitar. Peserta didik juga terlihat tidak begitu antusias dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Sebagai catatan, pada saat itu guru menerapkan metode ceramah.

Pembelajaran didominasi oleh guru dengan ceramah, ditambah beberapa pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh guru dan peserta didik menjawab. Ketika guru sedang ceramah menyampaikan materi dan disela- sela melempar pertanyaan, tidak banyak peserta didik yang berusaha untuk menjawab pertanyaan dari guru, bahkan terlihat ada ketegangan pada diri peserta didik, swasana kelas menjadi hening sejenak setelah guru memberikan pertanyaan. Hal ini bisa dipahami karena Peserta didik panik, takut bila salah satu diantaranya ditunjuk untuk menjawab pertanyaan yang sedang diberikan guru didepan kelas, pada hal belum ada pemahaman pada diri mereka.

2. Deskripsi hasil belajar Kondisi Awal PesertaDidik

Berdasarkan data nilai ulangan harian, pesertadidik SMPN 1 Sambi Kelas IXE pada tahun pelajaran 2019/2020 tentang materi Listrik dinamis pada Kompetensi dasar Menerapkan konsep rangkaian listrik, energi dan daya listrik, sumber energi listrik dalam kehidupan sehari-hari termasuk sumber energi listrik alternatif, serta berbagai upaya menghemat energi listrik, diketahui bahwa penguasaan mereka terhadap KD tersebut masih terlalurendah.

Dari 32 PesertaDidik diperoleh modus ( nilai yang sering muncul) adalah 50, rata-rata nilai 58,9. Jika melihat KKM pada KD tersebut adalah 70, maka nilai rata-rata masih dibawah KKM. Dari sejumlah 32 peserta Didik, jumlah Peserta didik tuntas 8 atau 25%, belum tuntas 24 atau 75%, nilai tertinggi 85, nilai terendah 40. Tabel berikut hasil nilai ulangan harian peserta didik pada prasiklul.

No Uraian Nila Ket

1 Nilai Tertinggi 85,0 2 Nilai

Terendah 40,0 3 Nilai Rata2 58,9

4 Modus 50,0

(9)

5 Nilai Tengah 55,0

Jumlah tuntas 8 25%

Jumlah belum tuntas 24 75%

B. HasilTindakan Pada Siklus I

1. .Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana tindakan pada siklus pertama dilakukan dalam tiga kali pertemuan, dengan alokasi waktu dua jam pelajaran untuk pertemuan pertama dan kedua dan satu jam untuk pertemuan ketiga. RPP untuk tindakan pada siklus pertama dapat dilihat pada lampiran.

2. Pelaksanaan Tindakan

Tindakan pada siklus pertama dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, yaitu pertemuan pertama, kedua, dan ketiga.

a. Pertemuan Pertama, Menjelaskan sifat-sifat magnet dan cara membuat magnet

Pertemuan pertama digunakan untuk pembelajaran materi “Pemanfaatan medan magnet pada migrasi hewan ”.

Sesuai dengan Standar Proses, pembelajaran dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu tahap kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Pada tahap kegiatan pendahuluan, guru menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran dengan senang hati dan penuh semangat, menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, serta menyampaikan cakupan materi kegiatan pada hari itu.

Kegiatan inti dibagi ke dalam tiga tahap juga, yaitu tahap eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada tahap eksplorasi, kegiatan pembelajaran ditujukan untuk menggali penguasaan peserta didik mengenai materi Pemanfaatan medan magnet pada migrasi hewan . Dalam hal ini, peserta didik yang sudah tergabung dalam kelompok asal dan sudah diberi materi yang berbeda-beda kemudian bergabung dengan anggota-angoota dari kelompok lain yang mendapatkan bagian materi yang sama, yang disebut kelompok ahli dan mendiskusikan materi yang menjadi bagian mereka.

Pada tahap elaborasi, masing-masing peserta didik kembali ke kelompok asal dan menjelaskan materi yang sudah dibahas di kelompok ahli kepada teman- teman anggota kelompok asal. Pada tahap konfirmasi, peserta didik dalam kelompok asal saling bertanya dan menjawab pertanyaan mengenai materi yang sudah dibahas. selanjutnya perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

Pertemuan pertama ditutup dengan kegiatan penutup, di mana guru bersama- sama peserta didik membuat kesimpulan tentang materi yang dipelajari, melakukan refleksi terhadap jalannya proses pembelajaran pada hari itu, serta menyampaikan rencana pembelajaran yang akan datang.

b. Pertemuan Kedua, Menjelaskan konsep dasar kemagnetan dan kemagnetan bumi

Kegiatan pada pertemuan kedua dilaksanakan hampir sama dengan pertemuan pertama, hanya saja materi untuk pertemuan kedua ini adalah konsep dasar kemagnetan dan Kemagnetan Bumi.

Intinya, pada tahap kegiatan inti, peserta didik berdiskusi dalam kelompok ahli membahas tentang konsep dasar kemagnetan dan Kemagnetan Bumi sesui dengan baian sub materi yang menjadi tugasnya, kemudian menjelaskan kepada teman-teman di kelompok asal mengenai materi yang sedah dibahas pada kelompok ahli tersebut.

c. Pertemuan Ketiga, Evaluasi (Test pada Akhir Siklus I)

Pertemuan ketiga dari siklus pertama dilakukan untuk evaluasi terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan pada dua pertemuan sebelumnya. Pada tes ini Peserta Didik mengerjakan soal yang telah disiapkan guru dengan durasi waktu yang telah di tentukan. Jumlah soal dan bentuk soal ditentukan guru dengan mengacu pada kisi kisi sola ulangan harian.

3. Pengamatan Pelaksanaan Tindakan Pengamatan tindakan dilaksanakan oleh dua orang pengamat. Dari sisi peserta didik , pengamatan tindakan pada siklus pertama difokuskan pada kerjasama dalam kelompok, peran dalam kelompok, aktivitas bertanya, sikap selama pembelajaran, dan menjawab pertanyaan.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh dua orang pengamat diketahui bahwa pada pertemuan pertama hari Jumat, tanggal 7 Pebruari 2020, peserta didik menunjukkan ketertarikan terhadap proses belajar mengajar yang ditunjukkan melalui cara mereka berinteraksi dengan teman-

(10)

teman dalam kelompok ahli dan dalam menyampaikan materi yang menjadi tanggung jawabnya kepada teman- teman pada kelompok asal. Hasil pengamatan Seperti tabel di bawah:

Hari/

tanggal Aspek yang

diamati Bobot O

1

O

2

Jumat, 7 Pebruari 2020

Kerjasama dalam kelompok

3 3

Peran dalam

kelompok 2 3

Aktivitas

bertanya 2 2

Sikap selama

pembelajaran 4 4 Menjawab

pertanyaan 3 3 Keterangan:

1. Bobot penilaian diberi skor 4-3-2-1, dengan penjelasan sebagai berikut:

1 = <25; 2= 25% - 50%; 3= 51% - 75%, 4= > 75%.

2. O1: Observer 1 3. O2: Observer 2

motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada pertemuan pertama pada Siklus I sudah lebih bagus, namun masih perlu ditingkatkan lagi. Selanjutnya, pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 10 Pebrari 2020, peserta didik menunjukkan peningkatan dalam hal ketertarikan terhadap proses belajar mengajar yang ditunjukkan melalui skor observasi yang meliputi lima aspek (kerjasama dalam kelompok, peran dalam kelompok, aktivitas bertanya, sikap, dan menjawab pertanyaan).

Hasil pengamatan Seperti tabel di bawah:

Hari/

tanggal Aspek yang

diamati Bobot O

1

O

2

Senin, 10Pebru ari 2020

Kerjasama dalam kelompok

3 3

Peran dalam

kelompok 2 3

Aktivitas

bertanya 2 2

Sikap selama

pembelajaran 4 4 Menjawab

pertanyaan 3 3 Keterangan:

1. Bobot penilaian diberi skor 4-3-2-1, dengan penjelasan sebagai berikut:

1 = < 25; 2= 25% - 50%; 3= 51% - 75%, 4= > 75%.

2. O1: Observer 1 3. O2: Observer 2

motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada pertemuankedua pada Siklus I sudah lebih bagus lagi dari pertemuan pertama, namun masih perlu ditingkatkan terus aspe aktifitas bertanya.

4. Analisis Data Hasil Tindakan

Hasil tindakan Siklus I diukur dengan evaluasiyang dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal12 pebruari 2020. Data hasil evaluasi menunjukkan bahwa 18 orang peserta didik sudah mencapai KKM ( tuntas), namun masih ada 14 peserta didik yang nilainya masih di bawah KKM ( belum tuntas). Data nilai hasil evaluasi tindakan sebagai berikut

No Uraian Nilai

Jml Peserta Didik

1 Jumlah Tuntas 18

2 Jumlah Belum

Tuntas 14

3 Nilai Tertinggi 90,0 1 4 Nilai Terendah 55,0 8 5 Nilai Rata-rata 67,2 6 Nilai sering muncul 70,0 9 7 Nilai Tengah 70,0

Dari data di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata yang berhasil dicapai oleh peserta didik adalah 67,2 artinya meningkat 8,3 poin.

Nilai maksimum adalah 90 naik 5 poin. Nilai terendah yang didapat oleh peserta didik adalah 55, sudah naik 15 poin atau hanya kurang 15 point lagi dari nilai KKM sebesar 70.

5. Data dari Hasil Wawancara dengan Responden

Wawancara diperlukan untuk mendapatkan data yang utuh.Enam orang peserta didik diambil sebagai sampel dan diwawancarai, dua orang mewakili peserta didik dari kelompok pandai, dua orang dari kelompok menengah, dan dua dari kelompok kurang pandai.Kepada keenam peserta didik tersebut peneliti mengajukan tiga pertanyaan, yaitu sebagai berikut: 1) Apakah Anda menyukai pembelajaran secara berkelopok seperti yang kita lakukan dua pertemuan sebelum ini?; 2) Apakah Anda merasa lebih menguasai materi tentang kemagnetan?; 3) Apakah Anda merasa kesulitan bekerja dalam kelompok dan harus menyampaikan materi bagian Anda kepada teman-teman Anda di dalam kelompok asal?

Dari wawancara ini, bisa diambil kesimpulan bahwa berdasarkan pengakuan peserta didik , pembelajaran dengan menggunakan metode

(11)

jigsaw relatif menyenangkan dan membuat peserta didik lebih mudah memahami materi pelajaran karena mereka belajar dalam suasana yang lebih santai. Namun demikian, masih ada beberapa masalah dengan penerapan metode ini, karena ada peserta didik yang kesulitan memahami materi yang disampaikan oleh teman mereka.

6. Refleksi Hasil Tindakan Siklus Pertama

Penampilan peserta didik pada saat kondisi awal dengan saat diberi tindakan menunjukkan perbedaan yang cukup berarti. Perbedaan terletak terutama pada tingkat keaktifan dan semangat peserta didik untuk belajar. Jika pada saat pembelajaran sebelum tindakan banyak peserta didik tidak begitu bersemangat mengikuti pelajaran, pada saat pelaksanaan tindakan tinggal sedikit saja peserta didik yang tidak bersemangat.

Jika dibandingkan dengan kondisi awal, hasil belajar peserta didik juga mengalami peningkatan setelah diadakan tindakan pada Siklus I. Jika sebelum tindakan terdapat 24 orang (75%) peserta didik yang belum mencapai KKM ( belum tuntas), setelah diadakan tindakan sudah berkurang tinggal 14 peserta didik (43,7%) ; nilai tertinggi naik dari 85 menjadi 90; nilai terendah meningkat dari 40 menjadi 55; nilai tengah naik dari 55 menjadi 70; nilai yang paling sering muncul jugameningkatdari 50 menjadi 70

sudah cukup bagus

(sudahsamadengangannilai KKM).

Pada Silus II

1. Perencanaan Tindakan

Berdasarkan refleksi dan analisis tindakan pada siklus pertama, peneliti beserta tim merancang tindakan pada siklus kedua sedikit berbeda dengan yang dilaksanakan pada siklus pertama. Perbedaan terutama terletak pada materi pelajaran dan pembagian kelompok, serta RPP pada bagian Kegiatan presentasi perwakilan kelompok petugasnya ditentukan guru/ditunjuk guru .

Rencana tindakan pada siklus kedua dilakukan dalam tiga kali pertemuan, dengan alokasi dua jam untuk setiap pertemuan, dan satu jam untuk tes evalusi.

2. Pelaksanaan Tindakan

Tindakan pada Siklus

Keduadilaksanakan dalam tiga kali pertemuan yang dimulai pada PertengahanbulanPebruari 2020.

a. Pertemuan Pertama,

Menjelaskan Konsep gaya lorentz, induksi elektromagnet, GGl Induksi.

dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 14Pebruari 2020. Demi kelancaran proses pembelajaran, peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang berupa lap top dan LCD projectordanchartacharta.

Proses pembelajaran dimulai dengan ucapan salam dari guru. Setelah itu, guru memotivasi para peserta didik supaya mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan senang hati dan penuh semangat, menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, serta menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan pada hari itu.

Kegiatan inti dimulai dengan guru menampilkan beberapa slide show yang berupa video tentang generator, kemudian guru memberi beberapa pertanyaan yang nantinya bisa dijawab oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi yang akan dibahas dalam kelompok.

Selanjunya, peserta didik dibentuk dalam kelaompok asal, berdasarkan hasil analisis prestasi hasil belajar dan keaktifan dari pengamatan selama pembelajaran siklus I.

Hal ini dimaksudkan agar kelompok al yang terbentuk benar-benar uniform dan merata kemampuan kelopaknya. Kemudian guru membagi materi tentang gaya lorentz, Induksi elektromagnet dan GGL induksi dalam 5 sub materi dan membaginya kepada setiap anggota kelompok asal. Pada dua kelompok yang anggotanya 6 peserta didik maka pembagian meteri dengan cara di undi sehingga ada dua peserta didik yang menadapat bagian sub materi yang sama pada kelompok ini. Selanjutnya, peserta didik yang sudah tergabung dalam kelompok asal dan sudah mendapat sub materi yang berbeda-beda bergabung dengan anggota- angoota dari kelompok lain yang mendapatkan bagian sub materi yang sama, yang disebut kelompok ahli, dan mendiskusikan materi yang menjadi bagian mereka. Pada tahap elaborasi, masing- masing peserta didik kembali ke kelompok asal dan menjelaskan materi yang sudah dibahas di kelompok ahli kepada teman- teman anggota kelompok asal. Pada tahap konfirmasi, peserta didik dalam kelompok asal saling bertanya dan menjawab pertanyaan mengenai materi yang sudah dibahas. Selanjutnya guru menunjuk salah satu anggota kelompok untuk mewakili kelompokknya mempresentasikan hasil diskusi dari kelompoknya. Guru menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta didik yang berhubungan dengan materi yang sudah mereka bahas dalam kelompok ahli dan kelompok asal yang masih mereka

(12)

berdebatkan dan belum ada kesimpulan . Sebagai penutup pembelajaran, guru menyampaiakn materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya dan memotivasi agar peserta didik lebih giat belajar lagi.

b. Pertemuan Kedua, Menjelaskan materi Trafo dan Kemagnetan pada produk teknologi

Pertemuan keduadilaksanakan pada hari Senin, 17 Februari 2020. Proses pembelajaran dimulai dengan ucapan salam dari guru. Setelah itu, guru memotivasi para peserta didik supaya mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan senang hati dan penuh semangat, menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, serta menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan pada hari itu.

Kegiatan inti dimulai dengan guru menampilkan beberapa slide show melalui LCD projector produk-produk teknologi yang memanfaatkan kemagnetan.

Kemudian guru memberikan beberapa pertanyaan yang nantinya akan bisa dijawab setelah peserta didik mempelajari materi yang akan dibahas dalam kegiatan kelompok.

Selanjunya, peserta didik dibentuk dalam kelompok asal seperti pada pertemuan pertama siklus II yakni: berdasarkan hasil analisis prestasi hasil belajar dan keaktifan dari pengamatan selama pembelajaran siklus I. Selanjutnya Guru membagi materi Trafo dan kemagnetan dalam produk produkteknologi ke dalam 5 sub materi. Tiap-tiap anggota kelompok mendapat bagian sub materi yang berbeda kecuali dua kelompok yang anggotanya 6 peserta didik , maka pembagian meteri dengan cara di undi. Kemudian, peserta didik bergabung dengan kelompok ahli dan mendiskusikan permasalahan- permasalahan yang terkait dengan sub materi yang menjadi bagiannya pada kelompok ahli. Pada tahap konfirmasi, peserta didik kembali kepada kelompok asal dan menyampaikan hasil diskusi mereka dengan kelompok ahli. Guru menunjuk asalah satu anggota kelompok secara acak umtuk mewakili kelompoknya mempresentasikan hasil diskusinya.

Selanjutnya guru menegaskan pertanyaan peserta didik yang masih menjadi perdebatan karena belum mantap dalam pemahamannya.

Sebagai penutup pembelajaran, guru menyampaikan bahwa pada pertemuan yang akan datang, guru akan mengadakan evaluasi, dan peserta didik harus

menyiapkan diri untuk evaluasi tersebut.

c. Pertemuan Ketiga, Evaluasi Hasil Tindakan pada Siklus II

Pertemuan ketiga dari siklus kedua dilaksanakan untuk melakukan evaluasi atas tindakan pada siklus kedua. Evaluasi pada pertemuan ketiga ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 19 Pebruari 2020.

3. Pengamatan Pelaksanaan Tindakan Pengamatan tindakan dilaksanakan oleh dua orang pengamat. Selama proses pembelajaran, pengamat mencatat hal-hal penting yang dilakukan oleh guru maupun peserta didik , dan memberikan penilaian.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh dua orang pengamat diketahui bahwa pada pertemuan pertama Jumat, 14 Pebruari 2020 peserta didik menunjukkan ketertarikan terhadap proses belajar mengajar yang ditunjukkan melalui cara mereka berinteraksi dengan teman-teman dalam kelompok ahli dan dalam menyampaikan materi yang menjadi tanggung jawabnya

Hari/

tanggal Aspek yang

diamati Bobot

O

1

O

2

Jumat, 14 Pebruari 2020

Kerjasama dalam

kelompok 4 4

Peran dalam

kelompok 3 4

Aktivitas

bertanya 3 3

Sikap selama

pembelajaran 4 4

Menjawab

pertanyaan 3 3

Keterangan:

1. Bobot penilaian diberi skor 4-3-2-1, dengan penjelasan sebagai berikut:

1 = < 25; 2= 25% - 50%; 3= 51% - 75%, 4= > 75%.

2. O1: Observer 1 3. O2: Observer 2

motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada pertemuan pertama pada Siklus II sudah lebih bagus lagi dari pada Siklus I, namun masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan.

Selanjutnya, berdasarkan observasi yang dilakukan oleh dua orang observers diketahui bahwa pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Senin, 17 Pebruari 2020 hampir seluruh peserta didik menunjukkan peningkatan dalam hal ketertarikan terhadap proses belajar mengajar yang ditunjukkan melalui skor observasi yang meliputi lima aspek (kerjasama dalam kelompok, peran dalam kelompok, aktivitas bertanya, sikap, dan menjawab pertanyaan).

(13)

Hari/

tanggal Aspek yang

diamati Bobot

O

1

O

2

Senin, 17 Pebruari 2020

Kerjasama dalam

kelompok 4 4

Peran dalam

kelompok 4 4

Aktivitas

bertanya 3 3

Sikap selama

pembelajaran 4 4 Menjawab

pertanyaan 3 3 Keterangan:

1. Bobot penilaian diberi skor 4-3-2-1, dengan penjelasan sebagai berikut:

1 = < 25; 2= 25% - 50%; 3= 51% - 75%, 4= > 75%.

2. O1: Observer 1 3. O2: Observer 2

hasil pengamatan tersebut dapat tampak bahwa motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada pertemuankedua pada Siklus II sudah sangat bagus dan lebih bagus dari pertemuan-pertemuan sebelumnya

4. Analisis Data Hasil Tindakan

Nilai rata-rata peserta didik adalah 76,6.

ini sudah melampaui KKM. Nilai maksimum yang berhasil dicapai oleh peserta didik meningkat dari 85 pada pra siklus menjadi 95 pada akhir tindakan siklus II. hasil inipun sudah bisa dikatakan cukup bagus. Nilai minimum peserta didik juga meningkat dari 40 padaprasiklus menjadi 70, nilaiinisudahmancapai nilai KKM yang ditetapkan sekolah. Data nilai hasil evaluasi tindakan sebagai berikut

No Uraian Nilai Jml Peserta Didik 1 Jumlah

Tuntas 32

2 Jumlah Belum

Tuntas 0

3 Nilai Tertinggi 95,0 1

4 Nilai

Terendah 70,0 6

5 Nilai Rata-

rata 76,6

6 Nilai sering

muncul 75,0 15

7 Nilai Tengah 75,0

1. Hasil Wawancara Setelah Siklus Kedua

Setelah tindakan dan evaluasi pada siklus kedua selesai dilakukan, peneliti

mewawancara lagi para peserta didik yang sudah diwawancara pada silklus pertama.

Berikut ini hasil wawancara dengan para peserta didik .

Kepada keenam peserta didik tersebut peneliti mengajukan tiga pertanyaan yang sama, yaitu sebagai berikut: 1) Apakah Anda menyukai pembelajaran secara berkelopok seperti yang kita lakukan dua pertemuan sebelum ini?; 2) Apakah Anda merasa lebih menguasai materi tentang Kemagnetan?; 3) Apakah Anda merasa kesulitan bekerja dalam kelompok dan harus menyampaikan materi bagian Anda kepada teman-teman Anda di dalam kelompok asal?

Untuk pertanyaan pertama lima orang peserta didik menjawab “Ya”, dengan alasan berbeda-beda. Lima orang peserta didik mengatakan karena pelajaran menjadi tidak membosankan, mereka bisa bersantai bersama teman-temannya, sedangkan seorang lagi beralasan karena dia bisa leluasa bertanya kepada teman, tidak malu. Seorang peserta didik yang menjawab “Tidak”

beralasan bahwa dia bingung dengan penjelasan dari temannya.

Untuk pertanyaan kedua, lima peserta didik menjawab “Ya”, sedangkan satu lainnya menjawab “Tidak”. Ini berarti bahwa menurut pengakuan peserta didik , hampir semuanya menguasai materi tentang Kemagnetan.

Untuk pertanyaan ketiga, hanya seorang peserta didik menjawab “Ya”, dengan alasan bahwa dia merasa tidak percaya diri untuk menjelaskan materi Kemagnetan kepada teman-temannya.

Dari wawancara ini, bisa diambil kesimpulan bahwa berdasarkan pengakuan peserta didik , pembelajaran dengan menggunakan metode jigsaw relatif menyenangkan dan membuat peserta didik lebih mudah memahami materi pelajaran karena mereka belajar dalam suasana yang lebih santai. Namun demikian, masih ada beberapa masalah dengan penerapan metode ini, karena masih ada peserta didik yang kesulitan memahami materi yang disampaikan oleh teman mereka.

2. Refleksi Hasil Tindakan

Berdasarkan temuan-temuan hasil tindakan pada siklus kedua sebagaimana dijabarkan di atas, peneliti membandingkan kondisi peserta didik pada akhir tindakan pertama dan setelah tindakan kedua (siklus kedua).

Penampilan peserta didik pada siklus pertama dengan penampilan mereka pada saat tindakan pada siklus kedua menunjukkan perbedaan yang cukup berarti, dan perbedaan utama masih terletak pada tingkat keaktifan dan semangat peserta didik untuk belajar. Pada saat pembelajaran pada siklus kedua peserta didik yang kurang

(14)

bersemangat mengikuti pelajaran sudah semakin berkurang lagi. Selain itu, pada siklus kedua tinggal sedikit peserta didik yang masih pasif dibanding pada siklus pertama.

Data hasil penelitian juga menunjukkan peningkatan nilai yang dicapai oleh peserta didik , dari hasil pada siklus pertama ke hasil pada siklus kedua.

Nilai rata-rata meningkat dari 67,2 pada siklus pertama menjadi 76,6 pada siklus kedua. Nilai paling sering muncul meningkat 5 poin dibanding siklus pertama, yaitu menjadi 75,0. Begitu juga untuk nilai tengahnya juga meningkat 5 poin dari 70,0 menjadi 75,0 Nilai maksimumnaik 5 poin menjadi 95. Nilai terendah juga meningkat dari 55 pada siklus pertama menjadi 70 pada siklus kedua. Semua peserta didik tidak ada yang nilainya masih di bawah KKM, ini artinya 100% peserta didik tuntas.

Berdasarkan data penelitian dan pembahasan di atas menunjukkan bahwa selama tindakan, terjadi peningkatan motivasi Peserta Didik dalam mengikuti proses pembelajaran, yang ditunjukkan dalam cara mereka bekerja sama, berperan dalam kelompok, bertanya dan menjawab pertanyaan, juga sikap selama proses pembelajaran. Selain itu, data nilai tes Peserta Didik juga menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang diperoleh Peserta Didik. Nilai rata-rata meningkat dari nilai prasiklus 58,9 menjadi 67,2 pada akhir Siklus I, dan meningkat lagi menjadi 76,6 pada akhir Siklus II.. Nilai tertinggi naik dari 85 pada kondisi awal menjadi 90 pada akhir Siklus I dan naik lagi menjadi95 pada akhir Siklus II. Nilai terendah juga meningkat dari 40 pada kondisi awal menjadi 55 pada akhir Siklus I dan 70 pada akhir Siklus II. Jumlah Peserta Didik yang mencapai nilai KKM juga meningkat dari 8 Peserta Didik (33,3%) pada kondisi awal menjadi 18 (70%) pada akhir Siklus I, dan 32 Peserta Didik( 100%) sudah tuntas pada akhir Siklus II. Peningkatan dari kondisi awal hingga kondisi akhir untuk nilai terendah sebesar 30 poin ( dari 40 naik menjadi 70), untuk nilai rata-rata meningkat sebesar 17,7 ( dari 58,9 naik menjadi 76,6), sedangkan nilai tertinggi terjadi kenaikan sebesar 10 poin ( dari 85 naik menjadi 95). Jumlah Peserta Didik yang Tuntas meninggkat sebesar 66,7% ( dari 33% menjadi 100%).

Penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar

peserta didik Kelas IX E SMPN 1 Sambi pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Menurut hipotesis ada peningkatan motivasi belajar IPA pada Peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw materi Kemagnetan, hal ini senada dengan hasil tindakan dalam penelitian ini yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat meningkatkan motivasi Peserta Didik untuk belajar yang ditunjukkan melalui tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Baik teoritik maupun empirik menyebutkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar yang ditunjukkan melalui tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

2. Menurut hipotesis ada peningkatan hasil belajar IPA pada Peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw materi kemagnetan , hal ini terbukti juga dengan hasil tindakan dalam penelitian ini yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar. Baik teoritik maupun empirik menyebutkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Pesaerta Didik dalam pelajaran IPA khususnya pada Kompetensi dasar “Menerapkan konsep kemagnetan, induksi elektromagnetik, dan pemanfaatan medan magnet dalam kehidupan sehari-hari termasuk pergerakan/navigasi hewan untuk mencari makanan dan migrasi”..

B. Saran

Berdasarkanhasil penelitian, analisis data, dan kesimpulan tersebut dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi para guru atau pendidik :

a. Mempelajari, menerapkan, dan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang tepat dan menarik sesuai dengan materi pelajaran, untuk meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa

b. Menerapkan model pembelajaran

(15)

kooperatif jigsaw Pembelajaran IPA khusunya pada materi Kemagnetan.

c. Memperhatikan aspek motivasi siswa dalam pembelajaran khususnya pelajaran IPA

2. Bagi peneliti atau calon peneliti a. Diharapkan agar supaya dapat

mengembangkan hasil penelitian ini atau yang sejenisnya, sehingga diharapkan hasil penelitian dapat dimanfaatkan di dunia pendidikan secara luas.

b. Untuk Peneli peneliti berikutnya diharapkan menjadi acuan untuk dapat lebih baik dengan

melengkapi dan

menyempurnakan segala kekurangan dalam penelitian ini.

(16)

DAFTAR PUSTAKA.

[1] Abdul Majid. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

[2] Afandi, Muhamad. dkk. 2013. Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah. Unissula Press.

[3] Arikunto, dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

[4] Daryanto, dan Mulyo Rahardjo. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta Gava Media.

[5] Depdiknas, 2003. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Sinar Grafika.

[6] Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineka Cipta.

[7] Eveline Siregar dan Hartini Nara. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

[8] Hamzah B.Uno, 2012, Model Pembelajaran , Jakarta: Bumi Aksara.

[9] http://yudi-wiratama.blogspot.com/2014/01/hakikat-ilmu-pengetahuan-alam-ipa.html 13 des 2019.

[10] Isjoni. (2010). Pembelajaran Kooperatif. Meningkatkan kecerdasan antar peserta didik.

Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

[11] Kamus Besar Bahasa Indonesia diakses dari http://kbbi.web.id/media pada taggal 10 November 2016 pukul 08.30 WIB.

[12] Nurdyansyah, EniFariyatulFahyuni 2016, Inovasi Model Pembelajaran, Sidoarjo ,Nizamia Learning Center.

[13] Oemar Hamalik. (2011). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara [14] Sardiman. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Yogyakarta: Raja

Grafindo Persada.

[15] Slameto. 2010. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta.

[16] Sagala, Syaiful., (2011), Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabet.

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahun akademik 2014/2015 Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim membuka Pendaftaran Gelombang II program D-IV Keperawatan dan Kebidanan dengan lama pendidikan 2 (dua)

Apabila konsumsi telur tersebut dibandingkan dengan standar nasional konsumsi telur adalah 3,5 kg/kapita/tahun maka masih akan ada peluang pasar pengembangan usaha peternakan ayam

Dari hasil penelitian optimasi proses ekstraksi neodimium dari konsentrat Nd(OH) 3 hasil olah pasir monasit dengan ekstraktan D 2 EHPA, diperoleh kesimpulan sebagai

Kaedah pembuatan emas yang ditatah dalam atau ‘gold inlay’ ini dijelaskan oleh Winstedt (1925) iaitu “where the base is a black oxydized metal, in which a pattern is chiselled

Metode percepatan yang digunakan adalah metode time cost trade off dengan proses crashing menggunakan alternatif penambahan tenaga kerja dan shift kerja.. Crashing

Maka dari itu,berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah media kreatif yang digunakan dalam memberikan materi pelajaran kepada

Kartu Tipe D, adalah bukti identitas Peserta yang diberikan kepada Penerima Pensiun PNS untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlakue. (3)

Pada akhir periode distribusi akan diperoleh persediaan sebesar stok pengaman di setiap unit pelayanan kesehatan.. Rencana tingkat ketersediaan di UPOPPK tiap akhir periode juga