4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Sampel
Dalam penelitian ini, sampel yang akan digunakan adalah perusahaan sektor infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2013.
Menurut BEI perusahaan sektor infratsruktur yang terdaftar sebanyak 111 perusahaan yang dipilih setelah memenuhi beberapa kriteria tertentu. Daftar sampel yang digunakan dalam penelitian adalah seperti pada lampiran 1.
4.2 Penerapan IFRS terhadap Manajemen Laba dengan Variabel Kontrol Size, Leverage, dan Growth.
IFRS merupakan standar akuntansi yang telah berlaku secara global. IFRS dikembangankan oleh IASB dan telah dijadikan pedoman dalam menyusun standar akuntansi pada 120 negara. Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) telah mengumumkan rencana memulai konvergensi IFRS untuk Indonesia pada tahun 2008. Peraturan untuk menerapkan IFRS pada laporan keuangan perusahaan di Indonesia akan mulai diwajibkan pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012
Dalam penelitian ini, digunakan scoring dalam menentukan penggunaan standar akuntansi suatu perusahaan. Langkah pertama yang diambil oleh peneliti adalah mengumpulkan laporan keuangan seluruh perusahaan sektor infrastruktur pada periode 2008-2013. Selanjutnya, peneliti akan menganalisa laporan keuangan tersebut dan dilanjutkan dengan memberikan 1 poin pada setiap standar akuntansi berbasis IFRS (yang telah diwajibkan pada tahun 2008-2013) yang telah diterapkan pada laporan keuangan ditahun berjalan.
Manajemen laba merupakan tindakan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh manajer untuk memaksimalkan kepentingan pribadi atau perusahaan dengan memainkan kebijakan metode akuntansi. Peneliti akan menghitung nilai absolut dari akrual yang tidak normal menggunakan model jones (1991). Peneliti mengumpulkan data net income, account receivable, revenue¸CFO, dan PPE pada tahun 2008-2013. Khusus untuk account receivable dan revenue menggunakan data pada tahun 2007-2013.
Penelitian ini akan menggunakan variabel control size, leverage, dan growth yang merupakan variabel kontrol dinyatakan berpengaruh terhadap manajemen laba. Size diukur menggunakan logaritma natural dari total aset.
Financial leverage merupakan aktivitas pendanaan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menambah kas melalui hutang atau pinjaman pada pihak lain.
Financial leverage diukur menggunakan total Hutang dibagi dengan total aset.
Growth merupakan pertumbuhan penjualan satu perusahaan dan diukur dengan harga saham pada akhir periode dibagi dengan book value per share.
4.3 EPS dan BVPS terhadap Harga Saham
Relevansi nilai merupakan pelaporan angka-angka akuntansi yang memiliki suatu prediksi berkaitan dengan nilai-nilai pasar ekuitas. Menurut Latridis (2010) relevansi nilai informasi akuntansi dilihat melalui harga saham terhadap nilai buku dan laba bersih. Sehingga, relevansi nilai diukur menggunakan model Ohlson (1995) Pi,t = β0 + β1EPS + β1BVPSi,t + εi,t.. Langkah pertama yang akan dilakukan oleh peneliti adalah mengumpulkan data yang diantaranya rata-rata harga saham setelah 3 bulan diterbitkan laporan keuangan suatu perusahaan, nilai earning per share, dan nilai book value per share perusahaan. Earning per share merupakan perbandingan antara pendapatan yang dihasilkan (laba bersih) dibagi dengan jumlah saham beredar dan book value per share merupakan jumlah rupiah yang menjadi milik tiap-tiap lembar saham dalam modal perusahaan.
4.4 EPS dan BVPS terhadap Harga Saham dengan Moderasi IFRS
Tujuan penelitian model ke-3 adalah untuk mengetahui nilai BVPS dan EPS yang dimoderasikan dengan IFRS apakah berpengaruh terhadap harga saham. Model yang akan digunakan adalah model Ohlson (1995) Pi,t = α0 + α1EPSi,t+ α2BVPSi,t
+ α3EPSi,t x IFRS + α4BVPSi,t x IFRS + εi,t.. Data yang akan digunakan adalah Earning per share yang merupakan perbandingan antara pendapatan yang dihasilkan (laba bersih) dibagi dengan jumlah saham beredar dan book value per share merupakan jumlah rupiah yang menjadi milik tiap-tiap lembar saham dalam
modal perusahaan. Dan untuk IFRS adalah hasil scoring yang dilakukan pada tahun 2008-2013.
4.5 Hasil Pengujian Hipotesa 1, Hipotesa 2, dan Hipotesa 3 4.5.1 Daftar Perusahaan
Daftar perusahaan yang menjadi sampel untuk pengujian hipotesa 1 adalah sejumlah 144 perusahaan adalah sebagai berikut.(Lampiran 1)
Tabel 4.1 Penjelasan sampel hipotesa 1
Daftar perusahaan yang menjadi sampel untuk pengujian hipotesa 2 dan hipotesa 3 adalah sejumlah 162 perusahaan adalah sebagai berikut.(Lampiran 2)
Tabel 4.2 Penjelasan sampel hipotesa 2 dan hipotesa 3
Syarat Sampel Jumlah Sampel
Perusahaan yang terdaftar didalam BEI 111 Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan
keuangan pada tahun 2008-2013
(5)
Perusahaan yang tidak memiliki data lengkap (79)
Jumlah Sampel 27
6 tahun pengamatan hipotesis (2008-2013) 162
Data Outlier 0
Jumlah sampel yang digunakan 162
Syarat Sampel Jumlah Sampel
Perusahaan yang terdaftar didalam BEI 111 Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan
keuangan pada tahun 2008-2013
(5)
Perusahaan yang tidak memiliki data lengkap (79)
Jumlah Sampel 27
6 tahun pengamatan hipotesis (2008-2013) 162
Data Outlier (18)
Jumlah sampel yang digunakan 144
4.5.2 Statistik Deskriptif
Pengukuran statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai nilai minimum (min), nilai maksimum (max), nilai rata-rata (mean), dan standard deviasi masing-masing variabel dalam model 1 penelitian ini. Variabel dalam penelitian ini adalah discretionary accrual, IFRS, dan sebagai variabel kontrol growth,size, dan leverage. Tabel statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3 Statistik deskriptif hipotesa 1
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
DA 144 .00 .39 .1330 .10516
IFRS 144 .00 38.00 12.1667 13.57143
GROWTH 144 -88.50 24140.10 190.8134 2054.39831
SIZE 144 10.61 14.05 12.5113 .84943
LEVERAGE 144 .02 2.28 .5712 .30130
Valid N (listwise) 144
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel DA yang merupakan indikator dalam menilai manajemen laba memiliki nilai minimum 0.0000565423960893416 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Astra Graphia pada tahun 2013 dan nilai maksimum 0.39010917 yang dimiliki oleh perusahaan PT.
Arpeni Pratama. Sedangkan nilai rata-rata variabel DA adalah 0.1330 dengan standar deviasi 0.10516. Nilai standar deviasi lebih besar dari nilai rata-rata yang menunjukkan adanya besarnya variasi yang ada dalam variabel tersebut.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel IFRS dengan menggunakan scoring. Variabel IFRS memiliki nilai minimum 0,00 yang dimiliki oleh 41 perusahaan, dan nilai maksimum adalah 38 yang dimiliki 4 perusahaan.
Sedangkan nilai rata-rata variabel IFRS adalah 12.1667 dengan standar deviasi 13.57143. Nilai standar deviasi lebih besar dari nilai rata-rata yang menunjukkan adanya besarnya variasi yang ada dalam variabel tersebut.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel growth memiliki nilai minimum -88,50 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Arpeni Pratama dan nilai maksimum 24140,10 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat. Sedangkan nilai rata-rata variabel growth adalah 190.8134 dengan nilai standar deviasi 2054,39831.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel leverage memiliki nilai minimum 0.02 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat dan nilai maksimum sebesar 2.28 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Astra Graphia. Sedangkan nilai rata-rata variabel leverage adalah 0.5712 dengan standar deviasi senilai 0.30130
Pengukuran statistik deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai nilai minimum (min), nilai maksimum (max), nilai rata-rata
ini. Variabel independen dalam penelitian ini adalah EPS, BVPS, sedangkan untuk variabel independen adalah harga saham :
Tabel 4.4 Statistik deskriptif hipotesa 2
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PRICE 162 3.13 6550.00 960.6005 1458.04395
EPS 162 -714.73 998.00 34.8150 175.42159
BVPS 162 -956.48 3471.03 482.0475 700.35589
Valid N (listwise) 162
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel dependen price memiliki nilai maksimum 6550 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat dan nilai minimum pada variabel tersebut adalah 3.13 yang dimiliki oleh perusahaan PT.
telekomunikasi. Sedangkan nilai rata-rata variabel price adalah 960.6005 dengan standar deviasi senilai 1458.04395.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel independen EPS memiliki nilai maksimum 998 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Smartfren Telecom pada tahun 2010 dan nilai minimum pada variabel tersebut adalah -714,73 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Smartfren Telecom pada tahun 2009. Sedangkan nilai rata-rata variabel EPS memiliki nilai 34.8150 dengan nilai standar deviasi 175.42159.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel independen BVPS memiliki nilai maksimum 3471,03 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat dan nilai minimum variabel tersebut adalah -956,48. Sedangkan nilai rata-rata variabel BVPS adalah 482.0476 dengan nilai standar deviasi 700.35589.
Tabel 4.5 Statistik deskriptif hipotesa 3
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel dependen price memiliki nilai maksimum 6550 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat dan nilai minimum pada variabel tersebut adalah 3.13 yang dimiliki oleh perusahaan PT.
telekomunikasi. Sedangkan nilai rata-rata variabel price adalah 960.6005 dengan standar deviasi senilai 1458.04395.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel independen EPS memiliki nilai maksimum 998 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Smartfren Telecom pada
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PRICE 162 3.13 6550.00 960.6005 1458.04395
EPS 162 -714.73 998.00 34.8150 175.42159
BVPS 162 -956.48 3471.03 482.0475 700.35589
EPSXIFRS 162 -15871.07 15842.27 452.1503 3163.65128
BVPSXIFRS 162 -14347.18 107602.06 7304.3939 16923.59617 Valid N (listwise) 162
tahun 2010 dan nilai minimum pada variabel tersebut adalah -714,73 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Smartfren Telecom pada tahun 2009. Sedangkan nilai rata-rata variabel EPS memiliki nilai 34.8150 dengan nilai standar deviasi 175.42159.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel independen BVPS memiliki nilai maksimum 3471,03 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat dan nilai minimum variabel tersebut adalah -956,48. Sedangkan nilai rata-rata variabel BVPS adalah 482.0476 dengan nilai standar deviasi 700.35589.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel moderasi BVPSxIFRS memiliki nilai maksimum 107602,06 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat dan nilai minimum -14347,18 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Arpeni Pratama.
Sedangkan nilai rata-rata variabel moderasi tersebut adalah 7304.3939 dengan nilai standar deviasi 16923.59617.
Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa variabel moderasi EPSxIFRS memiliki nilai maksimum 15842.27 yang dimiliki oleh perusahaan PT. XL Axiata dan nilai minimum sebesar -15871.07 yang dimiliki oleh perusahaan PT. Indosat.
Sedangkan nilai rata-rata variabel moderasi tersebut adalah 452.1503 dan nilai standar deviasi adalah 3163.65128
4.5.3 Uji Asumsi Klasik 4.5.3.1 Uji Normalitas
Asumsi utama yang wajib dipenuhi pada analisis regresi adalah normalitas residual. Pendeteksian normalitas residual dilakukan dengan one sample kolmogorov smirniv test. Jika nilai signifikansi one sample smirnov test
>0,05(α=5%), maka dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal.
Tabel 4.6 Uji normalitas hipotesa 1 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 144
Kolmogorov-Smirnov Z 1.336
Asymp. Sig. (2-tailed) .056
Tabel 4.7 Uji Normalitas Hipotesa 2
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 162
Kolmogorov-Smirnov Z .715
Asymp. Sig. (2-tailed) .686
Tabel 4.8 Uji Normalitas Hipotesa 3
Dapat dilihat seperti pada tabel 4.3, tabel 4.4, dan tabel 4.5 bahwa ketiga model regresi tersebut telah lulus dari uji normalitas karena pada ketiga terdapat nilai signifikasi residual lebih besar dari 0,05 sehingga residual model regresi dapat dikatakan berdistribusi normal.
4.5.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinieritas menunjukkan bahwa terdapat kolerasi yang timbul antara variabel independen (bebas) dalam model regresi. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak menghasilkan adanya multikolinieritas. Hasil yang dapat mengetahui ada atau tidaknya multikolinieritas adalah dengan melihat nilai dari tolerance dan nilai VIF. Apabila nilai tolerance >0,1 dan nilai VIF <10, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut bebas dari multikolinieritas.
Tabel 4.9 Uji Multikolinieritas Hipotesa 1
Model Collinearity Statistics Keterangan
Tolerance VIF
1
(Constant)
IFRS .937 1.067 Bebas Multikolinieritas
GROWTH .953 1.050 Bebas Multikolinieritas
SIZE .946 1.057 Bebas Multikolinieritas
LEVERAGE .929 1.077 Bebas Multikolinieritas
Tabel 4.10 Uji Multikolinieritas Hipotesa 2
Model Collinearity Statistics Keterangan
Tolerance VIF
1
(Constant)
EPS .984 1.016 Bebas Multikolinieritas
BVPS .984 1.016 Bebas Multikolinieritas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz
ed Residual
N 162
Kolmogorov-Smirnov Z .895
Asymp. Sig. (2-tailed) .400
Tabel 4.11 Uji Multikoloneritas Hipotesa 3
Model Collinearity
Statistics
Collinearity Statistics
Keterangan
Tolerance VIF
1
(Constant)
EPS .416 2.405 Bebas Multikolinieritas
BVPS .427 2.344 Bebas Multikolinieritas
EPSxIFRS .429 2.333 Bebas Multikolinieritas
BVPSxIFRS .436 2.292 Bebas Multikolinieritas
Dilihat dari tabel 4.9, tabel 4.10, dan tabel 4.11 bahwa nilai tolerance >0,1 dan nilai VIF <10, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut bebas dari multikolinieritas. Sehingga data disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolonieritas pada variabel independen.
4.5.3.2 Uji Heterokedastisitas
Heterokedastisitas menunjukkan akan adanya ketidaksamaan antara varian residual pengamatan satu dengan yang lainnya. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak menunjukkan adanya gejala heterokedastisitas. Dalam penelitian ini uji heterokedastisitas dilakukan dengan glejser test yaitu meregresikan variabel independen terhadap nilai absolute residual. Jika glejser test menghasilkan nilai signifikansi t>0,05, maka disimpulkan tidak terjadi heterokedastisitas.
Tabel 4.12 Uji Heterokedastisitas Hipotesa 1
Gambar 4.1 Hasil Uji Heteroskedastisitas Hipotesa 1
Tabel 4.13 Uji Heterokedastisitas Hipotesa 2
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) .369 .026 14.183 .000
EPS 1.077E-005 .000 .007 .088 .930
BVPS 3.803E-005 .000 .098 1.236 .218
Gambar 4.2
Hasil Uji Heteroskedastisitas Hipotesa 2
Tabel 4.14 Uji Heterokedastisitas Hipotesa 3
Gambar 4.3 Hasil Uji Heterokedastitas Hipotesa 3
Dapat dilihat pada gambar 4.1, gambar 4.2, dan gambar 4,3, grafik scatterplot terlihat adanya titik-titik yang menyebar secara acak dan merata baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Dengan adanya grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi tersebut. Untuk pengujian heterokedastisitas dapat dilihat pada tabel 4.12, tabel 4.13, dan tabel 4.14 bahwa nilai sig telah >0,05 maka disimpulkan tidak terjadi heterokedastisitas
4.5.3.3 Uji Autokorelasi
Autokorelasi mencerminkan bahwa adanya korelasi antar variabel pengganggu dengan variabel pengganggu lainnya. Model regresi dapat dikatakan baik jika regresi tersebut bebas dari autokorelasi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi maka digunakan Run Test . Jika nilai Run Test yang dihasilkan dari analisis regresi >0,05 maka dapat dikatakan tidak terdapat autokorelasi.
Tabel 4.15 Uji Autokorelasi Hipotesa 1
Runs Test
Unstandardized Residual Test Valuea -.02131 Cases < Test Value 72 Cases >= Test Value 72
Total Cases 144
Number of Runs 69
Z -.669
Asymp. Sig. (2-tailed) .503
Tabel 4.16 Uji Autokorelasi Hipotesa 2
Unstandardized Residual
Test Valuea .00288
Cases < Test Value 81
Cases >= Test Value 81
Total Cases 162
Number of Runs 82
Z .000
Asymp. Sig. (2-tailed) 1.000
Dapat dilihat seperti pada tabel 4.15 dan tabel 4.16 bahwa signifikansi menghasilkan angka 0,503 dan 1 yang artinya telah melebihi 0,05 sehingga model regresi ini telah lulus dari uji autokorelasi.
Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi pada hipotesa 3 maka digunakan durbin watson . Jika nilai durbin watson yang dihasilkan analisis regresi lebih besar dari dU dan kurang dari 4-dU maka disimpulkan tidak terdapat autokorelasi pada model regresi. Dapat dilihat pada tabel 4.17 bahwa nilai dari durbin Watson pada batas untuk k=5 dan n=162 adalah 1.8070 dan nilai dari durbin Watson lebih besar dari dU dan lebih kecil dari 4-dU.
Tabel 4.17 Uji Autokorelasi Hipotesa 3
4.5.4 Uji T
Signifikansi pengaruh dalam hasil pengujuan dapat ditentukan dengan nilai signifikansi uji t, jika nilai uji t lebih kecil atau sama dengan 0,1 maka dapat
disimpulkan bahwa variabel independen dan variabel kontrol yang diuji secara parsial berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan jika nilai uji t lebih besar dari 0,1 maka variabel independen dan variabel kontrol secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Tabel 4.18 Uji T Hipotesa 1
Variabel T hitung Sig. Keterangan
IFRS 0,812 0,418 H1 Ditolak
GROWTH -0,039 0,969 Tidak berpengaruh
signifikan
SIZE 2,935 0,004 Berpengaruh signifikan
LEVERAGE 1,593 0,113 Tidak berpengaruh
signifikan
Nilai uji t variabel IFRS pada tabel 4.18 adalah sebesar 0,812 dengan nilai signifikansi 0,418. Variabel IFRS dapat disimpulkan tidak memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap variabel dependen karena tingkat signifikansi 0,418 lebih besar daripada 0,1.
Nilai uji t variabel growth pada tabel 4.18 adalah sebesar -0,39 dengan nilai signifikansi 0,969. Variabel growth dapat disimpulkan tidak memiliki pengaruh negatif secara signifikan terhadap variabel dependen karena tingkat signifikansi 0,969 lebih besar daripada 0,1.
Nilai uji t variabel size pada tabel 4.18 adalah sebesar 2,935 dengan nilai signifikansi 0,004. Variabel size dapat disimpulkan memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap variabel dependen karena tingkat signifikansi 0,004 lebih kecil daripada 0,1.
Nilai uji t variabel leverage pada tabel 4.18 adalah sebesar 1,593 dengan nilai signifikansi 0,113. Variabel growth dapat disimpulkan tidak memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap variabel dependen karena tingkat signifikansi 0,969 lebih besar daripada 0,1.
Signifikansi pengaruh dalam hasil pengujuan dapat ditentukan dengan nilai signifikansi uji t, jika nilai uji t lebih kecil atau sama dengan 0,1 maka dapat
disimpulkan bahwa variabel independen yang diuji secara parsial berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai, sedangkan jika nilai uji t lebih besar dari 0,1 maka variabel independen secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai.
Tabel 4.19 Uji T Hipotesa 2
Variabel T hitung Sig. Keterangan
EPS 8.950 0,001 H2 Diterima
BVPS 11.014 0,000 H2 Diterima
Tabel 4.20 Uji T Hipotesa 3
Variabel T hitung Sig. Keterangan
EPS 0,722 0,001 berpengaruh
signifikan
BVPS 0,890 0,000 berpengaruh
signifikan
EPSxIFRS 0,772 0,441 H3 Ditolak
BVPSxIFRS 1,503 0,135 H3 Ditolak
Nilai uji t variabel EPS pada tabel 4.20 adalah sebesar 0,722 dengan nilai signifikansi 0,001. Nilai signifikansi uji t lebih kecil dari 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai.
Nilai uji t variabel BVPS pada tabel 4.20 adalah sebesar 0,890 dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai signifikansi uji t lebih kecil dari 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa BVPS berpengaruh signifikan terhadap relevansi nilai.
Sedangkan untuk nilai uji t variabel EPS yang dimoderasikan dengan IFRS nilainya sebesar 0,772 dengan nilai signfikansi 0,441. Nilai signifikan tersebut telah melebihi 0,1 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa EPS yang dimoderasikan dengan IFRS tidak berpengaruh signifikan dengan relevansi nilai sehingga H3 ditolak.
Kemudian untuk nilai uji t variabel BVPS yang dimoderasikan dengan IFRS nilainya sebesar 1,503 dengan nilai signfikansi 0,135. Nilai signifikan tersebut telah melebihi 0,1 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa BVPS yang
dimoderasikan dengan IFRS tidak berpengaruh signifikan dengan relevansi nilai sehingga H3 ditolak.
4.5.5 Uji F
Uji F digunakan dengan tujuan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersamaan apakah terdapat pengaruh signifikan. Jika uji F menghasilkan F hitung > F tabel atau nilai signifikansi F <0,05.
Tabel 4.21 Uji F Hipotesa 1
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression .180 4 .045 3.519 .009b
Residual 1.773 139 .013
Total 1.953 143
Tabel 4.22 Uji F Hipotesa 2
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 29.174 2 14.587 64.164 .000b
Residual 36.146 159 .227
Total 65.320 161
Tabel 4.23 Uji F Hipotesa 3
Hasil dari Uji F pada tabel 4.23 menunjukkan bahwa nilai signifikansi adalah 0,000 yang artinya adalah model regresi ini telah memenuhi uji F.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel IFRS, size,leverage dan growth secara serentak berpengaruh dengan manajemen laba.
Hasil dari Uji F pada tabel 4.23 menunjukkan bahwa nilai signifikansi adalah 0,009 yang artinya adalah model regresi ini telah memenuhi uji F.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel EPS dan BVPS berpengaruh terhadap harga saham.
Hasil dari Uji F untuk hipotesa 3 pada tabel 4.23 menunjukkan bahwa nilai signifikansi adalah 0,000 yang artinya adalah model regresi ini telah memenuhi uji F. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel EPS, BVPS, EPSxIFRS, dan BVPSxIFRS secara serentak berpengarh dengan relevansi nilai
4.5.5 Uji Koefisien Determinasi
Uji koefisien determinasi mempunyai tujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan yang dimiliki variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Jika nilai koefisien determinasi antara 0 sampai dengan 1. Jika nilai R2 kecil maka kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat kecil atau terbatas. Jika nilai R2 mendekati 1 maka variabel independen dominan dalam memberikan informasi yang dibutuhkan dalam menjelaskan variasi variabel dependen.
Tabel 4.24
Uji Koefisien Determinasi Hipotesa 1 Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .303a .092 .066 .11294
Dapat dilihat pada tabel 4.24 nilai adjusted R square menunjukkan angka 0,066 maka besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah 6,6%. Untuk 93,4% sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak diuji oleh penulis.
Tabel 4.25 Uji koefisien determinasi hipotesa 2
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .668a .447 .440 .47680
Dapat dilihat pada tabel 4.25 nilai adjusted R square menunjukkan angka 0,440 maka besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen
adalah 44%. Untuk 56% sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak diuji oleh penulis.
Tabel 4.26 Uji koefisien determinasi hipotesa 3
Sedangkan untuk pengujian hipotesa 3 pada tabel 4.26 nilai adjusted R square menunjukkan angka 0,656 maka besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah 65,6%. Untuk 34,4% sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak diuji oleh penulis
4.6 Analisis
4.6.1 Temuan dan Interpretasi 1. Manajemen Laba
Penelitian ini memiliki tujuan untuk meneiliti pengaruh penerapan IFRS terhadap manajemen laba dengan variabel kontrol size, leverage, dan growth yang diukur dengan dengan menggunakan metode modified jones model. Variabel independen pada penelitian ini adalah penerapan IFRS (IFRS), sedangkan untuk variabel dependen pada penelitian ini adalah manajemen laba (DA), dan variabel kontrol pada penelitian ini digunakan size, leverage, dan growth. Penelitian dilakukan pada perusahaan sektor infrstruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2008- 2013, memiliki data laporan tahunan dan laporan keuangan yang telah lengkap mulai dari tahun 2008-2013, dan telah menggunakan satuan mata uang Rupiah dalam mensajikan laporan keuangan.
Hipotesis dari penelitian ini adalah penerapan IFRS berpengaruh terhadap manajemen laba yang diukur dengan absolute discretionary accrual dari model Jones (1991). Dari hasil uji F pada tabel 4.21, dapat ditarik kesimpulan bahwa model regresi telah layak digunakan untuk menguji hipotesis karena menghasilkan nilai signifikansi 0,009.
Selanjutnya dilakukan uji T dengan hasil tidak terdapat pengaruh penerapan IFRS terhadap manajemen laba dengan nilai hasil yaitu 0,418.
Model Summary Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .815a .664 .656 855.31297
2. Variabel Kontrol
a. Ukuran Perusahaan (Size)
Size adalah variabel kontrol yang dianggap akan mempengaruhi tindakan manajemen laba. Setelah dilakukan uji t ditemukan nilai signifikansi yaitu sebesar 0,004. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel size berpengaruh terhadap manajemen laba.
b. Pertumbuhan Perusahaan (Growth)
Growth adalah variabel kontrol yang dianggap akan mempengaruhi tindakan manajemen laba. Setelah dilakukan uji t ditemukan nilai signifikansi yaitu sebesar 0,969. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin bertumbuhnya perusahaan tidak membawa pengaruh terhadap manajemen laba.
c. Leverage
Leverage adalah variabel kontrol yang dianggap akan mempengaruhi tindakan manajemen laba. Setelah dilakukan uji t ditemukan nilai signifikansi yaitu sebesar 0,113. Sehingga dapat disimpulkan bahwa leverage tidak membawa pengaruh terhadap manajemen laba.
3. EPS dan BVPS terhadap Harga Saham
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah EPS dan BVPS dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga saham. Data penelitian ini diambil dari laporan keuangan perusahaan sektor infrastruktur pada tahun 2008-2013. Hipotesis dari penelitian ini adalah EPS dan BVPS berpengaruh terhadap harga saham dengan metode pengukuran price model yang ditemukan oleh Ohlson (1995). Hasil menunjukkan bahwa nilai signifikansi uji F 0,000 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa EPS dan BVPS secara bersamaan berpengaruh terhadap harga saham. Selanjutnya dilakukan uji T dengan hasil bahwa hipotesa 2 diterima.
4. EPS dan BVPS terhadap Harga Saham dengan dimoderasi oleh IFRS
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah EPS dan BVPS dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga saham dengan variabel moderasi IFRS. Penelitian dilakukan pada perusahaan sektor infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2008- 2013, memiliki data laporan tahunan dan laporan keuangan yang telah lengkap mulai dari tahun 2008-2013, dan telah menggunakan satuan mata uang Rupiah dalam mensajikan laporan keuangan.
Hipotesis dari penelitian ini adalah laba per lembar saham dan nilai buku per lembar saham dengan moderasi IFRS berpengaruh terhadap harga saham. Hipotesis tersebut diukur dengan menggunakan price model yang ditemukan oleh Ohlson (1995). Hasil menunjukkan bahwa dengan variabel moderasi IFRS dari hasil uji F pada tabel pada tabel 4.20 dapat diambil kesimpulan bahwa model regresi telah layak digunakan untuk menguji hipotesis karena menghasilkan nilai signifikansi 0,000.
Selanjutnya dilakukan uji T variabel EPSxIFRS dengan hasil 0,441 dan BVPSxIFRS dengan hasil 0,135 yang artinya dengan ada atau tidak adanya penerapan IFRS, IFRS tidak mempengaruhi BVPS dan EPS.
4.6.2 Kaitan Temuan dengan Pengetahuan atau Teori 1. IFRS dan Manajemen Laba
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hipotesis H1 ditolak.
Penerapan IFRS tidak mempengaruhi manajemen laba. Berdasarkan penjelasan data yang telah dijelaskan sebelumnya, penerapan IFRS memiliki pengaruh dalam menurunkan praktik manajemen laba, namun angka penurunan praktik manajemen laba selama 6 periode penelitian hanya 6,6%. Implementasi IFRS dapat menimbulkan efek positif dan negative. Pendekatan dengan menggunakan fair value memperketat praktik income smoothing. Di sisi lain standar principle based yang mengacu pada professional judgement, akan membuat standar lebih
fleksibel dan subjektif dalam mengambil keputusan. Hal tersebut lebih memberikan kesempatan bagi manajemen untuk melakukan praktik manajemen laba.
Pengukuran dengan menggunakan fair value dapat mengurangi praktik manajemen laba karena perusahaan diharuskan untuk melakukan revaluasi. Dalam praktiknya, manajemen laba mengacu pada pencatatan asset dengan underestimate atau overestimate karena laba telah dicatat terlalu besar atau terlalu kecil dari seharusnya. Ketika asset direvaluasi, fair value dari asset tersebut akan diketahui, dan hal itu jelas dapat menunjukkan apakah perusahaan tersebut melakukan manajemen laba atau tidak melakukan manajemen laba. Dari hasil penelitian, penerapan IFRS tidak berpengauh terhadap manajemen laba, karena revaluasi di Indonesia dilakukan setiap 5 tahun sekali. Sehingga selama periode sebelum 5 tahun praktik manajemen laba tidak terlihat. Faktor lain yang dapat mempengaruhi adalah karakteristik perusahaan dengan penerapan IFRS.
Penerapan IFRS belum tentu menyediakan karakteristik khusus yang sesuai dengan suatu Negara. Hal tersebut terjadi karena IASB sebagai badan yang menciptakan standar dengan anggota yang sebagian besar adalah berasal dari Negara maju. Maka dari itu, IFRS belum tentu sepenuhnya sesuai apabila diterapkan di Negara yang memiliki karakteristik berbeda dengan Negara maju, sehingga adipsi IFRS harus diselaraskan dengan karakteristik suatu Negara agar proses harmonisasi dapat mengakomodasi perbedaan karakteristiksuatu Negara tersebut (Wardhani, 2009)
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sianipar & Marsono (2013) yangmeneliti kualitas informasi sebelum dan sesudah adopsi IFRS dan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Dan hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Murtini & Lusiana (2016) yang menyatakan bahwa IFRS tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
2. Variabel Kontrol
a. Leverage dan Manajemen Laba
Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage yang didapatkan melalui nilai total hutang dibagi total aktiva tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba Hasil penelitian ini sesuai dengan Indrayani (2009) yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
b. Size dan Manajemen Laba
Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan size menunjukkan bahwa ada pengaruh dengan manajemen laba yang diproksikan dengan DA. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Watt dan Zimmerman (1986) yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan, maka akan semakin besar pula melakukan political cost. Sehingga pada saat perusahaan besar memiliki kemampuan meraih profit yang tinggi, maka perusahaan akan melakukan political cost semakin besar.
c. Growth dan Manajemen Laba
Hasil penelitian ini menunjukkab bahwa variabel growth yang didapatkan dari harga saham dibagi dengan nilai buku per ekuitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningtyas (2012) yang menyatakan bahwa growth tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
1. EPS dan BVPS terhadap Harga Saham
Hipotesa kedua dalam penelitian ini adalah EPS dan BVPS berpengaruh terhadap harga saham, dan dari hasil pengujian diatas telah dinyatakan bahwa variabel independen dan dependen telah berpengaruh.
Pokok informasi laba per lembar saham digunkan sebagai dasar pembuatan keputusan investasi. Keputusan investasi yang dibuat oleh investor juga menentukan komposisi saham-saham perusahaan go public yang akan menjadi objek investasi. Pembelian saham-saham tersebut akan
berdampak pada harga pasar saham perusahaan. Sehingga keberadaan pengaruh informasi laba per lembar saham akan berpengaruh terhadap harga saham
Menurut Susilawati (2005), dasar utama dalam menganalisis harga saham adalah book value per share dan earning per share, sehingga penelitian ini telah sesuai dengan teori tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wang et al. (2013) dan Hunjra et al. (2014) bahwa EPS dan BVPS berpengaruh terhadap harga saham.
2. EPS dan BVPS terhadap Harga Saham dengan Moderasi IFRS Kemudian dalam peneltian relevansi nilai akan diukur berdasarkan dari nilai buku per lembar saham dan laba bersih per lembar saham. Nilai buku per lembar saham (BVPS) merupakan salah satu pengukuran nilai suatu lembar saham yang dimiliki. Secara teori BVPS adalah nilai yang akan diperoleh pemilik saham apabila perusahaan mengalami kebangkrutan dan likuidasi. Kemudian, laba bersih per lembar saham (EPS) adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap lembar saham yang dicapai oleh perusahaan, dengan acuan EPS pimpinan perusahaan akan menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan. Laba dan nilai buku merupakan dua hal yang dapat mencerminkan laporan keuangan. Nilai buku adalah ukuran neraca atau aktiva bersih yang dapat menghasilkan laba, kemudian laba adalah ukuran laporan laba rugi yang merupakan hasil dari aktiva tersebut. Sehingga, jika nilai buku dan laba bersih suatu perusahaan meningkat maka perusahaan akan dikatakan memiliki relevansi nilai yang juga meningkat.
Pada penelitian ini hasil menggambarkan perilaku investor dalam pengambilan keputusan investasi. Ditemukan bahwa investor dalam proses pengambilan keputusan investasi tetap mempertimbangkan informasi akuntansi. Akan tetapi hal lain yang lebih dominan dalam pengambilan keputusan adalah faktor psikologi investor yang tercermin sebagai sinyal pribadi lebih mendominasi investor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis H3 ditolak.
Penerapan IFRS tidak berpengaruh terhadap relevansi nilai. Sehingga hasil ini menunjukkan bahwa penerapan IFRS yang menggunakan nilai wajar tidak mampu menggambarkan keadaan ekonomi suatu perusahaan yang sebenarnya, dan investor tidak melihat IFRS sebagai acuan mereka dalam pengambilan keputusan investasi, sehingga tidak berpengaruh terhadap harga saham. Investor hanya melihat nilai EPS dan BVPS suatu perusahaan dalam pengambilan keputusan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Murtini &
Lusiana (2016) yang menyatakan bahwa relevansi nilai tidak berpengaruh setelah adanya penerapan IFRS. Relevansi nilai setelah adopsi IFRS tidak memiliki pengaruh karena penggunaan nilai wajar di Indonesia mengalami berbagai kendala seperti dijelaskan di atas. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Anas Dwi Wahyuli (2010) dengan tujuan penelitian apakah penerapan IFRS berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi, dan ditemukan hasil penelitian bahwa penerapan IFRS tidak berpengaruh terhadap relevansi nilai.
Berdasarkan sisi dari perubahan standar akuntansi yang telah direvisi secara efektif dengan dibawahi program konvergensi IFRS.
Beberapa diantara PSAK tersebut berperan penting bagi perusahaan infrastruktur, yaitu PSAK No. 16 Aktiva Tetap dan PSAK No. 14 Inventaris. PSAK No. 16 (2011) Aset Tetap yang diadopsi dari IAS 16(2003) yang telah berlaku efektif pada 1 Januari 2012. Perubahan yang bersifat signifikan dalam standar ini adalah perusahaan diwajibkan menggunakan model revaluasi untuk mengukur asset tetap. Sebelum adanya revisi, seluruh perusahaan hanya diwajibkan dalam penggunaan model biaya saja. Namun seluruh perusahaan dalam sampel lebih memilih menggunakan model biaya dibandingkan dengan menggunakan model revaluasi. Sehingga, perubahan dalam standar PSAK ini tidak dapat menghasilkan perubahan yang signifikan dalam akrual diskrisioner manajemen laba.
Sedangkan untuk PSAK No. 14 (2008) tentang persediaan yang diadopsi dari IAS 2 (2003) yang telah berlaku efektif pada 1 Januari 2009.
Perubahan yang paling signifikan dalam standar ini adalah seluruh perusahaan dilarang menggunakan last in first out (LIFO). Namun pada kenyataannya meskipun sebelum efektifnya standar ini berlaku, seluruh perusahaan sampel tidak menggunakan metode LIFO. Sehingga, perubahan dari standar ini tidak menghasilkan perubahan yang signifikan dalam akrual diskresioner manajemen laba.