54
Suruh dengan populasi 5 SD sebagai subjek penelitian yaitu SD N Kebowan 01, SD N Kebowan 02, SD N Plumbon 01, SD N Plumbon 02, dan SD N Plumbon 04. Jumlah siswa kelas 4 keseluruhan dalam Gugus Mawar sebanyak 88 siswa.
Sampel atau bagian dari jumlah populasi dalam penelitian ini antara lain SD N Plumbon 04, SD N Kebowan 02 serta SD N Plumbon 01. Jumlah siswa sebanyak 72 anak sebagai objek penelitian.
Instrumen penelitian dilakukan menggunakan lembar soal pretest dan postest berupa tes pilihan ganda serta lembar observsi guru dan siswa. Uji coba instrumen dilakukan melalui beberapa tahapan, anatara lain penyusunan kisi-kisi soal, uji coba instrumen soal di SD N Plumbon 02 dan uji validitas serta reliabilitas menggunakan aplikasi Anates V.4. Hasil uji instrumen penelitian menunjukkan 20 soal signifikan dari 40 soal yang diujikan, angka korelasi 0,71 yang berarti tingkat reliabilitas cukup baik. Daya pembeda mencapai 35,42 % serta tingkat kesukaran tes terdiri dari 7 soal mudah, 10 sedang dan 3 soal bertaraf sukar.
Penelitian dilakukan menggunakan variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas menggunakan model pembelajaran Insode-Outside Circle (X1) dan Bamboo Dancing (X2). Sedangkan variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS siswa, yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui penggunaan model Inside-Outside Circle (Y1) dan hasil belajar IPS melalui penggunaan model Bamboo Dancing (Y2).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dan teknik analisis statistik. Teknis analisis statistik terdiri dari teknik uji coba instrumen, teknik uji prasyarat analisis utama, dan teknik analisis utama.
Teknik deskriptif mencakup hasil Min, Max, Mean, Standar Deviasi, Distribusi Frekuensi bergolong dan grafik, baik kelompok eksperimen ataupun kontrol.
Bab IV dalam penelitian ini akan dipaparkan mengenai hasil pengolahan data penelitian serta pembahasan yang meliputi hasil penelitian pada implementasi pembelajaran menggunakan model pembelajaran IOC sebagai kelompok eksperimen 1/kelompok eksperimen, hasil penelitian pada penerapan model pembelajaran BD sebagai kelompok eksperimen 2/kelompok kontrol, deskripsi komparasi hasil pengukuran, hasil uji beda penelitian, hasil uji hipotesis, hasil pembahasan dan keterbatasan penelitian.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Implementasi Pembelajaran IPS Menggunakan Model IOC sebagai Kelompok Eksperimen/Eksperimen 1
Penelitian menggunakan model IOC pada kelas eksperimen dilakukan pada tanggal 24 dan 25 Maret 2016 di kelas 4 SD Negeri Plumbon 04 dengan julmah 16 siswa. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama 2×pertemuan dengan alokasi waktu 4×35 menit. Mata pelajaran yang digunakan sebagai penelitian adalah Ilmu Pengetahuan Sosial dengan topik atau materi pembelajaran yaitu Perkembangan Tekonologi. Materi yang digunakan didasarkan pada Standar Kompetensi 2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/ kota dan provinsi, Kompetensi Dasar 2.3 Mengenal perkembangan teknologi produksi komunikasi dan transportasi serta pengalaman menggunakannya. Sedangkan indikator pencapaian kompetensinya adalah membandingkan jenis teknologi produksi, komunikasi dan transportaasi, menunjukkan peralatan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi serta menyebutkan macam-macam teknologi produksi, komunikasi dan transportasi masa kini dan masa lalu. Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan observer guru kelas 4A SD Negeri Plumbon 04 yaitu ibu Sunarsih, begitu juga di SD Negeri Plumbon 01 perlakuan dilakukan oleh peneliti dengan observer gulu kelas 4 yaitu ibu Sri Hardati. Pelaksanaan penelitian di SD Negeri Plumbon 01 pada hari Rabu dan Kamis tanggal 30 dan 31 Maret 2016.
4.1.1.1 Hasil Observasi Proses Pembelajaran IPS Menggunakan Model IOC Kelompok Eksperimen/ Eksperimen 1
a. Pertemuan 1
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Maret 2016 di kelas 4 SD Negeri Plumbon 04 (SD Imbas). Pembelajaran diikuti oleh seluruh siswa kelas 4 yang berjumlah 20 siswa. Proses pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang meliputi salam, membimbing siswa untuk melakukan doa, mengabsen kehadiran siswa, memberikan soal pretest untuk mengukur pemahaman awal siswa mengenai materi perkembangan teknologi, memberikan apersepsi dan penyampaian tujuan pembelajaran.
Selanjutnya kegiatan inti adalah pembelajaran menggunakan model IOC yang terdiri dari sintagmatik yaitu penjelasan mengenai pelaksanaan model IOC.
Guru menjelaskan pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan dengan tujuan agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan sintak model. Setelah memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan pembelajaran, guru memberika motivasi kepada siswa, membimbing dalam pembentukan kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa. Pembentukan kelompok dilakukan dengan cara acak dengan kesepakatan dari siswa. Kegiatan mencari informasi yang dilakukan oleh siswa dilaksanakan untuk mengetahui materi tentang perkembangan teknologi. Siswa membaca materi yang telah diberikan oleh guru, mencatat hal-hal penting dan mengerjakan lembar kerja siswa. Kegiatan mencatat hal-hal penting, dimaksudkan untuk pembelajaran bertukar informasi dengan teman lainnya.
Selain kegiatan mencari informasi dan mencatat hal-hal penting dari informasi yang diperoleh, siswa menyusun puzzle dengan kelompok. Penyusunan puzzle berkaitan dengan gambar teknologi produksi, komunikasi dan transportasi.
Kegiatan selanjutnya adalah tanya jawab tentang hal-hal yang belum dipahami, dan penjelasan materi secara garis besar.
Penelitian pembelajaran menggunakan model IOC juga dilakukan di SD Negeri Plumbon 01 sebagai SD Inti. Penelitian dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Maret 2016 di kelas 4A yang diikuti oleh seluruh siswa berjumlah 20 siswa.
Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan adalah sama dengan pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Plumbon 04.
b. Pertemuan 2
Pertemuan 2 dilaksanakan pada hari berikutnya yaitu hari Jumat, 25 Maret 2016 di SD Negeri Plumnon 04. Kegiatan pembelajaran diikuti oleh seluruh siswa yang ebrjumlah 16 siswa. Proses pembelajaran diawali dengan mengulas kembali pembelajaran yang telah dilaksanakan pada pertemuan 1 mengenai materi perkembangan teknologi, kemudian dilanjutkan dengan sintagmatik dari model Inside-Outside Circle yang belum dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya yaitu pembentukan kelompok menjadi 8 siswa. Pelaksanaan kegiatan bertukar informasi sesuai dengan model IOC yaitu siswa membentuk lingkaran kecil-lingkaran besar. Siswa yang berada di lingkaran kecil/ lingkaran dalam menghadap keluar, sedangkan siswa yang berada di lingkaran besar/ luar menghadap ke dalam. Siswa yang berada di lingkaran dalam dan luar saling berhadapan. Siswa memulai kegiatan bertukar informasi dengan arahan guru.
Siswa yang berada di lingkaran dalam memberikan informasi mengenai perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi yang diperoleh melalui kegiatan mencari informasi pada kelompok dan pertemuan sebelumnya.
Selanjutnya siswa yang berada di lingkaran luar berbagi informasi mengenai perkembangan teknologi yang telah didapat bersama kelompok sebelumnya. Siswa yang berada di lingkaran luar bergeser untuk bertukar informasi dengan teman lain dihadapannya. Perputaran posisi dihentikan setelah siswa kembali bertemu dengan pasangan pertama. Selanjutnya siswa mencatat hal-hal penting yang diperoleh dari kegiatan bertukar informasi.
Kegiatan berikutnya adalah tanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui oleh siswa. Guru bersama siswa meluruskan kesalahpahaman dan memberikan penguatan serta menyimpulkan hasil pembelajaran tentang perkembangan teknologi. Proses pembelajaran diakhiri dengan kegiatan penutup berupa pemberian soal posttest untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar.
Selanjutnya guru memberikan tugas rumah, memberikan motivasi untuk belajar dengan giat, dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa.
Penelitian menggunakan model pembelajaran IOC di SD Negeri Plumbon 01 pada pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Maret 2016 di kelas 4A yang diikuti oleh seluruh siswa dengan jumlah 20 siswa. Kegiatan yang dilakukan di SD Negeri Plumbon 04 kelas 4A sama dengan sintak pembelajaran di Sd Negeri Plumbon 04. Sintak pada pertemuan dua terimplementasi seluruhnya tanpa ada yang tidak dilakukan oleh guru.
4.1.1.2 Tingkat Hasil Belajar IPS Siswa Kelas 4 SD Negeri Plumbon 01 dan SD Negeri Plumbon 04 Menggunakan Model IOC sebagai Kelompok Eksperimen/ Eksperimen 1
Tingkat hasil belajar IPS siswa dipaparkan melalui statistik deskriptif dari hasil pretest dan posttest yang terdiri dari rata-rata (mean), nilai tertinggi (max), nilai terendah (min), standar deviasi, distribusi frekuensi dan penyajiannya dalam bentuk grafik.
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen 1
Kelompok Jumlah Siswa Minimum Maximum Mean Std. Deviasi
Nilai Pretest 36 25 75 52,916 13,751
Nilai Posttest 36 30 95 74,305 14,250
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen (nilai pretest) sebelum proses pembelajaran dengan perlakuan model Inside- Outside Circle sebesar 52,916 dengan standar deviasi 13,751. Setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model IOC didapatkan nilai rata-rata (nilai posttest) meningkat menjadi 74,305 dengan standar deviasi 14,250. Nilai tertinggi yang dicapai pada pretest adalah 75 dan nilai terendahnya adalah 25, sedangkan
pada posttest nilai tertinggi yang dicapai adalah 95 dan nilai terendahnya adalah 30. Jumlah siswa yang mengikuti pretest dan posttest sebanyak 36 siswa.
Jumlah data yang disajikan cukup banyak, sehingga peneliti menyusun data menggunakan tabel distribusi frekuensi agar penyajian lebih efisien.
Penyajian tabel distribusi frekuensi menggunakan kelas interval yang diperoleh dari selisih skor maksimal dikurangi skor minimal dibagi jumlah kelas. Penentuan jumlah kelas menggunakan rumus Sturges (Sugiyono, 2013: 35) yaitu K= 1+ 3,3 log n. K adalah jumlah kelas dan n adalah banyaknya data/siswa. Melalui rumus dapat diperoleh K= 1+ 3,3 .log 36 = 1+ 5,13 = 6,13 atau dibulatkan menjadi 6.
Interval kelas pretests didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas yaitu = 8. Hasil distribusi frekuensi nilai pretest dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Nilai Pretest
No Kelas Interval Nilai Pretest
Presentase Frekuensi
1. 25-32 4 11,12%
2. 33-40 2 5,55%
3. 41-48 3 8,33%
4. 49-56 14 38,89%
5. 57-64 4 11,12%
6. 65-72 6 16,66%
7. 73-81 3 8,33%
Jumlah 36 100%
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa nilai pretest terdapat 4 siswa yang mendapatkan nilai antara 25-32 dengan persentase 11,12%, 2 siswa yang mendapatkan nilai antara 33-40 dengan persentase 5,55%, 3 siswa mendapatkan nilai antara 41-48 dengan persentase 8,33%, 14 siswa mendapatkan nilai antara
49-64 dengan persentase 38,89%, 4 siswa mendapatkan nilai antara 65-72 dengan persentase 16,66% serta 3 siswa yang mendapatkan nilai 73-81 dengan presentase 8,33%.
Interval kelas pretests didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas yaitu = 11. Hasil distribusi frekuensi nilai posttest dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Nilai Posttest
No Kelas Interval
Nilai Postttest
Presentase Frekuensi
1. 30-40 1 2,78%
2. 41-51 1 2,78%
3. 52-62 6 16,67%
4. 63-73 5 13,89%
5. 74-84 12 33,33%
6. 85-95 11 30,55%
Jumlah 36 100%
Nilai posttest mengalami peningkatan yaitu hanya terdapat 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 30-40 dengan persentase 2,78%. Kemudian 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 41-51 dengan presentase 2,78%, 6 siswa mendapatkan nilai antara 52-62 dengan persentase 16,67%, 5 siswa yang mendapatkan nilai antara 63-73 dengan persentase 13,89%, sebanyak 12 siswa mendapatkan nilai antara 74-84 dengan persentase 33,33% serta 11 siswa memperoleh nilai antara 85-95 dengan presentase 30,55%. Untuk lebih memperjelas daftar distribusi frekuensi nilai pretest dan posttest maka disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4.1
Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen SD N Plumbon 01 dan SD N Plumbon 04
4.1.2 Hasil Implementasi Pembelajaran IPS Menggunakan Model BD sebagai Kelompok Kontrol/Eksperimen 2
Penelitian menggunakan model BD di SD Negeri Kebowan 02, dilaksanakan pada tanggal 21 dan 22 Maret 2016. Jumlah siswa kelas 4 adalah 16 siswa. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama 2× pertemuan dengan alokasi waktu 4 × 35 menit. Mata pelajaran yang digunakan sebagai penelitian adalah Ilmu Pengetahuan Sosial dengan topik atau materi pembelajaran yaitu Perkembangan Tekonologi.
Materi yang digunakan didasarkan pada Standar Kompetensi 2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/ kota dan provinsi, Kompetensi Dasar 2.3 Mengenal perkembangan teknologi produksi komunikasi dan transportasi serta pengalaman menggunakannya. Sedangkan indikator pencapaian kompetensinya adalah membandingkan jenis teknologi produksi, komunikasi dan transportaasi, menunjukkan peralatan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi serta menyebutkan macam-macam teknologi produksi, komunikasi dan transportasi masa kini dan masa lalu.
0 5 10 15 20
30-40 41-51 52-62 63-73 74-84 85-95
Nilai Pretest Nilai Postttest
Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti sendiri dengan observer guru kelas 4 SD Negeri Kebowan 02 yaitu bapak Marjoko, begitu juga di SD Negeri Plumbon 01 kelas 4B yang dilaksanakan pada tanggal 01 dan 02 April 2016.
Pemberian perlakuan dilakukan oleh peneliti dengan observer gulu kelas 4 yaitu ibu bapak Sujarwono.
4.1.2.1 Hasil Observasi Proses Pembelajaran IPS Menggunakan Model BD Sebagai Kelompok Kontrol/ Eksperimen 2
a. Pertemuan 1
Pertemuan 1 pada kegiatan pembelajaran IPS menggunakan model BD di kelas 4 SD Negeri Kebowan 02 dilaksanakan pada hari Senin, 21 Maret 2016.
Proses pembelajaran diikuti oleh seluruh siswa kelas 4 yang berjumlah 16 siswa dengan alokasi waktu 2 × 35 menit. Kegiatan pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam kepada siswa, membimbing untuk melakukan doa, presensi.
Selanjutnya guru memberikan soal pretes untuk dikerjakan siswa, dan memberikan apersepsi sebelum pelaksanaan pembelajaran serta penyampaian tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti dalam pembelajaran menggunakan model BD yang terdiri dari sintagmatik yaitu penjelasan mengenai pelaksanaan model BD. Guru menjelaskan pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan dengan tujuan agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan sintak model. Setelah memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan pembelajaran, guru memberika motivasi kepada siswa, membimbing dalam pembentukan kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa.
Pembentukan kelompok dilakukan dengan cara acak melalui kesepakatan dari siswa. Kegiatan mencari informasi yang dilakukan oleh siswa bertujuan untuk mengetahui materi tentang perkembangan teknologi. Siswa membaca materi yang telah diberikan oleh guru, mencatat hal-hal penting dan mengerjakan lembar kerja siswa. Kegiatan mencatat hal-hal penting, bertujuan untuk pelaksanaan kegiatan bertukar informasi dengan teman lainnya. Selain kegiatan mencari informasi dan mencatat hal-hal penting dari informasi yang diperoleh, siswa menyusun puzzle bersama kelompok. Penyusunan puzzle berkaitan dengan
materi gambar teknologi produksi, komunikasi dan transportasi. Kegiatan selanjutnya adalah tanya jawab tentang hal-hal yang belum dipahami, dan penjelasan materi secara garis besar.
Penelitian pembelajaran menggunakan model BD juga dilaksanakan di SD Negeri Plumbon 01 sebagai SD Inti. Penelitian dilaksanakan pada hari Jumat, 01 April 2016 di kelas 4B yang diikuti oleh seluruh siswa berjumlah 20 siswa.
Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan adalah sama dengan pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Kebowan 02.
b. Pertemuan 2
Pertemuan 2 dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Maret 2016 di SD Negeri Kebowan 02 yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 4 dengan jumlah 16 siswa.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan mengulas kembali pembelajaran yang telah dilaksanakan pada pertemuan 1 mengenai materi perkembangan teknologi, kemudian dilanjutkan dengan sintagmatik dari model Bamboo Dancing yang belum dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya yaitu pembentukan kelompok menjadi untuk bertukar informasi sesuai dengan berjajar di sela-sela bangku dan saling berhadapan.
Pertukaran informasi dilakukan setiap deret bangku. Dua siswa yang berpasangan saling berbagi informasi mengenai perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi yang diperoleh melalui kegiatan mencari informasi pada kelompok dan pertemuan sebelumnya. Dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi. Selanjutnya siswa mencatat hal-hal penting yang diperoleh dari kegiatan bertukar informasi.
Kegiatan berikutnya adalah tanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui oleh siswa. Guru bersama siswa meluruskan kesalahpahaman dan memberikan penguatan serta menyimpulkan hasil pembelajaran tentang perkembangan teknologi. Proses pembelajaran diakhiri dengan kegiatan penutup berupa pemberian soal posttest untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar.
Selanjutnya guru memberikan tugas rumah, memberikan motivasi untuk belajar dengan giat, dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa.
Penelitian menggunakan model pembelajaran BD di SD Negeri Plumbon 01 pada pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 April 2016 di kelas 4B yang diikuti oleh seluruh siswa dengan jumlah 20 siswa. Kegiatan yang dilakukan di SD Negeri Plumbon 01 kelas 4B sama dengan sintak pembelajaran di Sd Negeri Kebowan 02. Sintak pada pertemuan dua terimplementasi seluruhnya tanpa ada yang tidak dilakukan oleh guru.
4.1.2.2 Tingkat Hasil Belajar IPS Siswa Kelas 4 SD Negeri Plumbon 01 dan SD Negeri Kebowan 02 Menggunakan Model BD Sebagai Kelompok Kontrol/ Eksperimen 2
Tingkat hasil belajar IPS siswa dipaparkan melalui statistik deskriptif dari hasil pretest dan posttest yang terdiri dari rata-rata (mean), nilai tertinggi (max), nilai terendah (min), standar deviasi, distribusi frekuensi dan penyajiannya dalam bentuk grafik.
Tabel 4.4
Statistik Deskriptif Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol
Kelompok Jumlah Siswa Minimum Maximum Mean Std. Deviasi
Nilai Pretest 36 25 75 50,694 12,825
Nilai Posttest 36 35 95 72,361 13,389
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kelas kontrol (nilai pretest) sebelum proses pembelajaran dengan perlakuan model Bamboo Dancing sebesar 50,694 dengan standar deviasi 12,825. Setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model BD didapatkan nilai rata-rata (nilai posttest) meningkat menjadi 72,361 dengan standar deviasi 13,389. Nilai tertinggi yang dicapai pada pretest adalah 75 dan nilai terendahnya adalah 35, sedangkan pada posttest nilai tertinggi yang dicapai adalah 95 dan nilai terendahnya adalah 35. Jumlah siswa yang mengikuti pretest dan posttest sebanyak 36 siswa.
Jumlah data yang disajikan cukup banyak, sehingga peneliti menyusun data menggunakan tabel distribusi frekuensi agar penyajian lebih efisien.
Penyajian tabel distribusi frekuensi menggunakan kelas interval yang diperoleh dari selisih skor maksimal dikurangi skor minimal dibagi jumlah kelas. Penentuan jumlah kelas menggunakan rumus Sturges (Sugiyono, 2013: 35) yaitu K= 1+ 3,3 log n. K adalah jumlah kelas dan n adalah banyaknya data/siswa. Melalui rumus dapat diperoleh K= 1+ 3,3 .log 36 = 1+ 5,13 = 6,13 atau dibulatkan menjadi 6.
Interval kelas didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas yaitu = 8. Hasil distribusi frekuensi nilai pretest kelompok eksperimen 2 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Nilai Pretest Kelompok Kontrol (Eksperimen 2)
No Kelas Interval
Nilai Pretest
Presentase Frekuensi
1. 25-32 2 5,56%
2. 33-40 8 22,22%
3. 41-48 6 16,66%
4. 49-56 9 25%
5. 57-64 5 13,88%
6. 65-72 4 11,12%
7. 73-81 2 5,56%
Jumlah 36 100%
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai pretest terdapat 2 siswa yang mendapatkan nilai antara 25-32 dengan persentase 5,56%, 8 siswa yang mendapatkan nilai antara 33-40 dengan persentase 22,22%, 6 siswa mendapatkan nilai antara 41-48 dengan persentase 16,66%, 9 siswa mendapatkan nilai antara 49-56 dengan persentase 25%, 5 siswa mendapatkan nilai antara 57-64 dengan
presentase 13,88%, 4 siswa mendapatkan nilai antara 65-72 dengan presentase 11,12% serta 2 siswa mendapat nilai antara 73-81 dengan presentase 5,56%.
Interval kelas posttest didapatkan dari hasil rentang (skor maksimal-skor minimal) dibagi jumlah kelas yaitu = 10. Hasil distribusi frekuensi nilai posttest dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Nilai Posttest Kelompok Kontrol (Eksperimen 2)
No Kelas Interval
Nilai Posttest
Presentase Frekuensi
1. 30-39 1 2,78%
2. 40-49 0 0%
3. 50-59 3 8,34%
4. 60-69 10 27,78%
5. 70-79 10 27,78%
6. 80-89 7 19,44%
7. 90-99 5 13,88%
Jumlah 36 100%
Nilai posttest mengalami peningkatan yaitu hanya terdapat 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 30-39 dengan persentase 2,78%. Kemudian tidak ada siswa yang mendapatkan nilai antara 40-49, 3 siswa mendapatkan nilai antara 50- 59 dengan persentase 8,34%, 10 siswa yang mendapatkan nilai antara 60-69 dengan persentase 27,78%, sebanyak 10 siswa mendapatkan nilai antara 70-79 dengan persentase 27,78%, 7 siswa memperoleh nilai antara 80-89 dengan presentase 19,44% serta 5 siswa mendapat nilai antara 90-99 dengan presentase 13,88%. Untuk lebih memperjelas daftar distribusi frekuensi nilai pretest dan posttest maka disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut.
Gambar 4.2
Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol SD N Kebowan 02 dan SD N Plumbon 01
4.1.3 Deskripsi Komparasi Hasil Pengukuran
Deskripsi komparasi dalam penelitian ini memaparkan perbandingan hasil pengukuran dari kelompok eksperimen adn kontrol berdasarkan nilai pretest dan posttest. Deskripsi komparasi disajikan dalam bentuk tabel dan grafik berikut.
Tabel 4.7
Komparasi Hasil Pengukuran Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Tahap pengukuran Rerata skor (mean) kelompok Keterangan selisih skor
Eksperimen Kontrol
Pretest 52,916 50,694 2,22
Posttest 74,305 72,361 1,944
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan nilai rata- rata tahap pengukuran awal yang ditunjukkan oleh adanya selisih skor antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebesar 2,22 dimana rata-rata kelompok eksperimen lebih unggul. Pada tahap pengukuran akhir juga terdapat perbedaan nilai rata-rata yang ditnjukkan adanya selisih skor antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebesar 1,944 dimana nilai rata-rata kelompok
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 80-89 90-99
Nilai Pretest Nilai Postttest
eksperimen lebih unggul. Secara singkat deskripsi komparasi hasil pengukuran dapat dilihat pada grafik berikut.
Gambar 4.3
Grafik Deskripsi Komparasi Hasil Pengukuran Kelompok Eksperimen dan Kontrol
4.1.4 Hasil Uji Perbedaan Rerata Hasil Belajar IPS Menggunakan Model IOC dan BD
Hasil uji beda dalam penelitian ini memaparkan tentang teknik analisis data yang digunakan yaitu uji prasyarat dan uji hipotesis. Uji prasyarat terdiri atas uji normalitas dan uji homogenitas yang digunakan untuk mengetahui distribusi kenormalan dan tingkat kesetaraan data. Pengujian normalitas dan homogenitas data dianalisis menggunakan bantuan SPSS 20 for windows.
4.1.4.1 Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas
Uji normalitas dilakukan dengan cara klik analyze- descriptive statistic- esplore- memasukan data pada kolom dependent list-pilih plots-pilih normality test with plots-continue-ok. Pengujian normalitas menggunakan Kolmogorov- Smirnov, dengan ketentuan data dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi > 0,05. Hasil uji normalitas data-data yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 4.8
Hasil Uji Normalitas Nilai Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
pretest.IOC posttest.IOC pretest.BD posttest.BD
N 36 36 36 36
Normal Parametersa,b Mean 52.92 74.31 50.69 72.36
Std. Deviation 13.752 14.250 12.826 13.389
Most Extreme Differences
Absolute .166 .158 .116 .152
Positive .079 .073 .116 .098
Negative -.166 -.158 -.076 -.152
Kolmogorov-Smirnov Z .996 .950 .695 .914
Asymp. Sig. (2-tailed) .274 .328 .719 .374
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi hasil pretest dan posttest pada Kolmogorov Smirnov melebihi 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa populasi data hasil pretest-posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.
Setelah uji normalitas berupa distribusi kenormalan ata terpenuhi, selanjutnya peneliti melakukanuji homogenitas untuk mengetahui tingkat kesetaraan. Uji normalitas dilakukan dengan cara klik analyze-noneparametric tests- legacy dialogs- 1 sample KS- pretest dan posttest digeser ke dalam test variable list-klik normal-OK.
Pengujian homogenitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov, dengan ketentuan data dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi > 0,05. Hasil uji homogenitas data-data yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 4.9
Hasil Uji Homogenitas Nilai Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic df1 df2 Sig.
pretest
Based on Mean .000 1 70 .984
Based on Median .000 1 70 1.000
Based on Median and with
adjusted df .000 1 67.014 1.000
Based on trimmed mean .000 1 70 .989
Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa hasil output test of homogeneity of variance nilai pretest menunjukkan angka signifikansi yang adalah untuk probabilitaas based on mean = 0,984, untuk based on median = 1,000, kemudian untuk based on median and with adjusted df = 1,000 dan probabilitas based on trimmed mean = 0,989. Kesimpulan dari data yang diperoleh adalah homogen, karena probabilitas populasi data > 0,05.
Homogenitas nilai pretest dapat diamati melalui tabel berikut.
Tabel 4.10
Hasil Uji Homogenitas Nilai Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Test of Homogeneity of Variance
Levene Statistic df1 df2 Sig.
posttest
Based on Mean .042 1 70 .838
Based on Median .020 1 70 .888
Based on Median and with
adjusted df .020 1 66.379 .888
Based on trimmed mean .013 1 70 .911
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa nilai posttest menunjukkan angka signifikansi pada based on mean = 0,838, based on median = 0,888, based on median and with adjusted df = 0,888 dan probabilitaas based on trimmed mean
= 0,911. Nilai probabilitas keseluruhan menunjukkan angka signifikansi > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa populasi data nilai posttest kelompok eksperimen dan kontrol memiliki varian yang sama atau homogen.
4.1.4.2 Hasil Uji Homogenitas Koefisien Regresi Linier
Berdasarkan hasil uji normalitas yang menunjukkan bahwa persebaran data pretest-posttest berdistribusi normal dan uji homogenitas menunjukkan bahwa data pretest adalah homogen serta data posttest adalah homogen, maka dengan demikian uji prasyarat telah terpenuhi. Selanjutnya populasi data pretest- posttest dilakukan uji homogenitas koefisien regresi linear sebagai acuan untuk menguji hipotesis yaitu ada/tidak perbedaan rata-rata nilai posttest yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol. Berikut tabel uji homogenites koefisien regresi linear.
Tabel 4.11
Hasil Uji Homogenitas Koefisien Regresi Linear
Parameter Estimates
Dependent Variable: postest
Parameter B Std. Error t Sig. 95% Confidence Interval Partial Eta Squared Lower Bound Upper Bound
Intercept 56.739 6.454 8.792 .000 43.865 69.614 .528
pretest .608 .120 2.577 .012 .070 .547 .088
[model=1] 1.260 3.146 .400 .690 -5.017 7.536 .002
[model=2] 0a . . . . . .
a. This parameter is set to zero because it is redundant.
Berdasarkan tabel 4.9 mengenai hasil uji homogenitas koefisien regresi linear pada beta sebesar 0,608 atau > 0,60, maka dapat disimpulkan data homogen dan dapat diuji menggunakan ANCOVA. Selanjutnya uji ANCOVA dapat diamati melalui tabel berikut.
Tabel 4.12 Hasil Uji ANCOVA
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: postest
Source Type III Sum of Squares
df Mean Square F Sig. Partial Eta Squared Corrected
Model 1243.338a 2 621.669 3.514 .035 .092
Intercept 14263.780 1 14263.780 80.628 .000 .539
pretest 1175.282 1 1175.282 6.643 .002 .088
model 28.357 1 28.357 .160 .690 .002
Error 12206.662 69 176.908
Total 400650.000 72
Corrected Total 13450.000 71 a. R Squared = ,092 (Adjusted R Squared = ,066)
Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa output SPSS hasil uji coba ANCOVA pada coorrected model nampak bahwa F hitung sebesar 3,514 dengan taraf signifikansi hitung 0,035 < 0,050, maka dampak variabel independen secara simultan terhadap veriabel dependen signifikan. Kesimpulan bahwa model pembelajaran IOC bersama-sama dengan kemandirian belajar simultan memiliki dampak yang berbeda secara signifikan terhadap kompetensi hasil belajar siswa, dibandingkan model pembelajaran BD.
Selanjutnya intercept menunjukkan bahwa F hitung sebesar 80,628 dengan taraf signifikansi 0,00 atau < 0,05. Nilai intercept adalah besaran konstanta besaran perubahan nilai variabel independen. Pada kovariat pretest diperoleh data F hitung 6,643 dengan taraf signifikan 0,12 < 0,02 sehingga dampak kovariat signifikan. Maknanya bahwa ada perubahan pengaruh pretest terhadap kompetensi hasil belajar siswa.
Sedangkan varian model pembelajaran, diperoleh nilai F hitung sebesar 0,160 dan taraf signifikansi sebesar 0,690 atau > 0,05. Nilai F hitung > 0,05 oleh sebab itu F tidak signifikan. Artinya bahwa dampak pembelajaran IOC tidak lebih tinggi dari model BD.
4.1.5 Hasil Uji Hipotesis
Hasil uji homogenitas regresi linear terhadap hasil nilai posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dijadikan acuan untuk menguji hipotesis.
Hipotesis yang telah dirumuskan adalah sebagai berikut.
1. H0: μIOC = μBD
Tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe IOC dan BD ditinjau dari hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus Mawar Suruh.
2. Ha: μIOC ≠ μBD
Ada perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe IOC dan BD ditinjau dari hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus Mawar Suruh.
Berdasarkan perolehan F hitung pada varian model pembelajaran sebesar 0,160, pada taraf signifikansi/probabilitas 0,690 > 0,05, maka H0 diterima yaitu tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan dalam penerapan model pembelajaran Inside-Outside Circle dan Bamboo Dancing ditinjau dari hasil belajar IPS siswa kelas 4 SD Gugus Mawar Suruh.
4.2 Pembahasan Penelitian
Penelitian telah dilakukan di SD gugus Mawar Suruh yaitu SD Negeri Plumbon 01 kelas 4a sebagai kelas eksperimen dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan model Inside-Outside Circle dan kelas 4B sebagai kelas kontrol dengan melaksanakan pembelajaran menggunakan model Bamboo Dancing berjalan lancar sesuai dengan sintak dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Penelitian yang dilakukan di SD Negeri Plumbon 04 sebagai kelompok eksperimen dan SD Negeri Kebowan 02 sebagai kelompok kontrol menggunakan model Inside-Outside Circle dan Bamboo Dancing.
Guru telah melaksanakan sintak pembelajaran sesuai dengan model.
Penelitian difokuskan pada rumusan masalah seperti yang telah diuraikan pada bab I yaitu apakah ada perbedaan hasil belajar IPS siswa kelas 4 SD Gugus Mawar Suruh yang signifikan dalam pembelajaran menggunakan model Inside- Outside Circle dan model Bamboo Dancing?.
Hasil uji prasyarat dari kedua kelompok penelitian adalah homogen karena Nilai pretest kelompok eksperimen dan kontrol sebesar 0,984 > 0,05 dan nilai posttest sebesar 0,838 > 0,05. Kesimpulan dari hasil uji prasyarat adalah kedua varian tersebut (kelas eksperimen dan kontrol) homogen. Sedangkan hasil uji normalitas pretest-posttest secara keseluruhan melebihi 0,05 sehingga dapat disimpulkan kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal.
Analisis deskriptif dari perolehan skor kelompok eksperimen dilihat dari hasil pretest sebesar 52,916 meningkat menjadi 74,305 dilihat dari hasil posttest.
Sedangkan pada kelompok kontrol juga mengalami peningkatan yaitu perolehan skor pretest sebesar 50,694 dan hasil posttest sebesar 72,361.
Distribusi frekuensi nilai pretest kelompok eksperimen menunjukkan terdapat 4 siswa yang mendapatkan nilai antara 25-32 dengan persentase 11,12%,
2 siswa yang mendapatkan nilai antara 33-40 dengan persentase 5,55%, 3 siswa mendapatkan nilai antara 41-48 dengan persentase 8,33%, 14 siswa mendapatkan nilai antara 49-64 dengan persentase 38,89%, 4 siswa mendapatkan nilai antara 65-72 dengan persentase 16,66% serta 3 siswa yang mendapatkan nilai 73-81 dengan presentase 8,33%.Sedangkan nilai posttest dapat diketahui hanya terdapat 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 25-40 dengan persentase 2,78%. Kemudian 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 41-51 dengan presentase 2,78%, 6 siswa mendapatkan nilai antara 52-62 dengan persentase 16,67%, 5 siswa yang mendapatkan nilai antara 63-73 dengan persentase 13,89%, sebanyak 12 siswa mendapatkan nilai antara 74-84 dengan persentase 33,33% serta 11 siswa memperoleh nilai antara 85-95 dengan presentase 30,55%.
Distribusi frekuensi kelompok kontrol dilihat dari nilai pretest diketahui terdapat 2 siswa yang mendapatkan nilai antara 25-32 dengan persentase 5,56%, 8 siswa yang mendapatkan nilai antara 33-40 dengan persentase 22,22%, 6 siswa mendapatkan nilai antara 41-48 dengan persentase 16,66%, 9 siswa mendapatkan nilai antara 49-56 dengan persentase 25%, 5 siswa mendapatkan nilai antara 57-64 dengan presentase 13,88%, 4 siswa mendapatkan nilai antara 65-72 dengan presentase 11,12% serta 2 siswa mendapat nilai antara 73-81 dengan presentase 5,56%. Sedangkan nilai posttest diketahui terdapat 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 30-39 dengan persentase 2,78%. Kemudian tidak ada siswa yang mendapatkan nilai antara 40-49, 3 siswa mendapatkan nilai antara 50-59 dengan persentase 8,34%, 10 siswa yang mendapatkan nilai antara 60-69 dengan persentase 27,78%, sebanyak 10 siswa mendapatkan nilai antara 70-79 dengan persentase 27,78%, 7 siswa memperoleh nilai antara 80-89 dengan presentase 19,44% serta 5 siswa mendapat nilai antara 90-99 dengan presentase 13,88%.
Analisis berikutnya yaitu uji homogenitas koefisien regresi linear dengan pemerolehan angka signifikansi pada beta sebesar 0,608 > 0,60, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh adalah homogen dan dapat dilanjutkan menggunakan model ANCOVA.
Hasil uji ANCOVA pada coorrected model nampak bahwa F hitung sebesar 3,514 dengan taraf signifikansi hitung 0,035 < 0,050, maka dampak variabel
independen secara simultan terhadap veriabel dependen signifikan. Kesimpulan bahwa model pembelajaran IOC bersama-sama dengan kemandirian belajar simultan memiliki dampak yang berbeda secara signifikan terhadap kompetensi hasil belajar mahasiswa, dibandingkan model pembelajaran BD.
Padaa intercept menunjukkan bahwa F hitung sebesar 80,628 dengan taraf signifikansi 0,00 atau < 0,05. Nilai intercept adalah besaran konstanta besaran perubahan nilai variabel independen. Pada kovariat pretest diperoleh data F hitung 6,643 dengan taraf signifikan 0,12 < 0,02 sehingga dampak kovariat signifikan.
Maknanya bahwa ada perubahan pengaruh pretest terhadap kompetensi hasil belajar siswa.
Varian model pembelajaran, diperoleh nilai F hitung sebesar 0,160 dan taraf signifikansi sebesar 0,6090 atau > 0,05. Nilai F hitung > 0,05 oleh sebab itu F tidak signifikan. Artinya bahwa dampak pembelajaran IOC tidak lebih tinggi dari model BD.
Penerapan model Inside-Outside Circle dalam pelaksanaan penelitian memiliki keunggulan memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan hasil belajar siswa dibanding model Bamboo Dancing model pembelajaran Inside- Outside Circle mempunyai sintak pembelajaran yang menarik sehingga siswa dapat memperoleh informasi mengenai materi pembelajaran dengan baik, selain itu kegiatan bertukar informaasi yang dilakukan bersama kelompok dapat memunculkan kekompakan. Berikut adalah sintak pembelajaran Inside-Outside Circle dalam Shoimin (2014: 88): 1) Kegiatan pendahuluan meliputi fase pertama yaitu persiapan yang meluputi apersepsi dan penjelasan mengenai pembelajaran Inside-Outside Circle. 2) Kegiatan inti yang berupa pelaksaan pembelajaran Inside-Outside Circle. 3) Kegiatan penutup berupa kesimpulan, pemberian soal mandiri dan tugas rumah.
Pembelajaran menggunakan model Inside-Outside Circle dapat meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi tidak kalah ampuhnya dengan model Bamboo Dancing karena selisih rata-rata dari kedua model hanyalah sedikit.
Model pembelajaran Bamboo dancing juga memiliki sintak pembelajaran yang hampir sama dengan model Inside-Outside Circle yang menarik dan dapat
memunculkan kekompakan antar kelompok dalam mencari maupun bertukar informasi. Suprijono (2013: 98) menyatakan bahwa pembelajaran Bamboo Dancing serupa dengan model inside-Outside Circle. Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Berikut sintak pembelajaran menggunakan model Bamboo Dancing menurut Lie (2003: 66-67) antara lain: 1) Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) berdiri sejajar. Jika ada cukup ruang, mereka bisa berjajar di depan kelaas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu yang relatif singkat. 2) Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama. 3) Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi. 4) Kemudian, satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran dapat dilakukan terus sesuai kebutuhan.
Tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati (2013) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata hasil belajar antara kelompok perlakuan pembelajaran menggunakan metode Inside Outside Circle (70,15) dan Bamboo Dancing (63,17). Nilai rata-rata metode Inside Outside Circle memperoleh keberhasilan tertinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata Bamboo Dancing.
Penelitian diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Thaibah (2015) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil yang signifikan terhadap perbandingan hasil belajar IPA dalam penerapan model Inside-Outside Circle dan Bamboo Dancing pada siswa kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Negeri Pandak Daun Daha Utara. Hasil belajar kelompok Inside-Outside Circle 76,52 pada nilai rata- rata posttest, sedangkan hasil belajar kelompok Bamboo Dancing 75,42 pada nilai rata-rata posttest, dengan selisih masing-masing hanya1,1.
Pemaparan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai awal dan akhir penggunaan model pembelajaran Inside-Outside Circle dan
Bamboo Dancing dalam pencapaian hasil belajar siswa kelas 4 SD Gugus Mawar Suruh semester 2 tahun ajaran 2015/2016 namun tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil akhir kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4.3 Keterbatasa Penelitian
Penelitian yang dilakukan di SD Gugus Mawar Suruh berjalan dengan lancar, namun peneliti mengalami beberapa kendala selama proses penelitian berlangsung. Adapun yang menjadi kendala dalam penelitian ini diantaranya pengembilan sampel yang tidak dilakukan secara random karena keterbatasan waktu dan biaya, tidak dapat mengontrol siswa yang diberi pengajaran khusus atau les diluar pembelajaran di sekolah serta kesulitan peneliti dalam mengontrol kelas yang terlalu ramai.