commit to user BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori 1. Tuberkulosis (TB)
a. Kuman Penyebab Penyakit Tuberkulosis
Kuman penyebab penyakit (TB) adalah kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kelompok ini dikenal juga dengan (BTA). Spesies lainnya adalah M. bovis, M. Africanum, M. Leprae dan sebagainya. Selain itu juga ada Mycobacterium Other Than Tuberculosis (MOTT) yang bisa menyebakan gangguan pernafasan dan sering mengganggu diagnosis dan pengobatan TB.
Adapun sifat Mycobacterium TB (Kemenkes RI, 2014) adalah
1) Berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron dan lebar 0,2-0,6 mikon.
2) Tahan terhadap asam pada pewarnaan menggunakan Ziehl Neelsen.
3) Media yang lazim yang digunakan untuk biakan bersifat khusus diantaranya adalah Lowenstain Jensen dan Ogawa.
4) Kuman Nampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan dibawah mikroskop.
5) Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada suhu antara 4oC sampai minus 70oC.
6) Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet.
7) Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman akan mati dalam waktu beberapa menit.
8) Dalam dahak pada suhu antara 30-37oC akan mati dalam waktu lebih kurang 1 minggu.
9) Kuman dapat bersifat dormant (tidur/tidak berkembang).
b. Cara penularan
Menurut Kemenkes RI (2014) cara penularan TB adalah:
1) Pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya.
Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan hasil pemeriksaan BTA negatif
commit to user
tidak mengandung kuman dalam dahaknya. Hal tersebut bisa saja terjadi oleh karena jumlah kuman yang terkandung dalam contoh uji ≤ 5.000 kuman/cc dahak sehingga sulit dideteksi melalui pemeriksaan mikroskpis langsung.
2) Pasien TB dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB. Tingkat penularan pasien TB BTA positif adalah 65%, pasien TB BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26% sedangkan pasien TB dengan hasil kultur negatif dan foto Toraks positif adalah 17%.
3) Infeksi akan terjadi apabila orang lain menghirup udara yang mengandung percik renik dahak yang infeksius tersebut.
4) Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei / percik renik). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
Hal lain yang mempermudah penularan TB menurut Kemenkes (2017) yaitu : 1) Hunian padat, misalnya di penjara dan tempat-tempat pengungsian.
2) Situasi sosial ekonomi yang tidak menguntungkan, misalnya kemiskinan dan pelayanan kesehatan yang buruk.
3) Lingkungan kerja, misalnya laboratorium klinik, rumah sakit.
c. Perjalanan alamiah penyakit
Menurut Kemenkes RI (2014) ada empat tahapan perjalanan alamiah penyakit TB. Empat tahapan tersebut adalah :
1) Paparan
Peningkatan peluang paparan berkaitan dengan:
a) Jumlah kasus menular di masyarakat b) Kontak langsung dengan pasien TB c) Banyaknya kuman pada percik dahak d) Intensitas batuk sumber penularan e) Kedekatan dengan penderita
f) Seberapa lama kontak langsung dengan penderita
2) Infeksi
Daya tahan tubuh akan mulai bereaksi setelah terifeksi kuman 6-14 minggu
commit to user
(1) Reaksi immunologi lokal terjadi pada saat kuman TB memasuki alveoli dan ditangkap oleh makrofag maka akan terjadi reaksi antigen dan antibodi.
(2) Reaksi imunologi umum akan terlihat apabila dilakukan test tuberculin.
(3) Lesi umumnya sembuh total tapi di mungkinkan kuman dapat tetap ada dan bersifat dorman suatu saat bisa kambuh lagi apabila daya tahan tubuh sedang menurun.
(4) Penyebaran ke aliran darah atau getah bening akan terjadi sebelum lesi sembuh.
3) Sakit
Faktor yang memengaruhi terjadinya sakit TB adalah : a) Banyaknya kuman TB yang terhirup
b) Lamanya waktu sejak terinfeksi TB c) Umur
d) Daya tahan tubuh seseorang dengan HIV/AIDS, mal nutrisi akan punya faktor risiko tertular yang lebih tinggi dari pada orang sehat
4) Meninggal dunia
Faktor yang memengaruhi kematian akibat TB diantaranya adalah a) Keterlambatan diagnosis
b) Pengobatan yang tidak adekuat c) Penyakit penyerta lain
2. Diagnosis Tuberkulosis
Diagnosis TB didasarkan atas keluhan dan hasil anamnesa serta pemeriksaan laboratorium.
a. Keluhan dan hasil anamnesa
Keluhan dan anamnesa pasien umumnya akan menyampaikan gejala – gejala sebagai berikut:
1) Batuk berdahak selama 2 minggu 2) Sesak nafas
3) Lemas
commit to user 4) Nafsu makan menurun
5) Berat badan menurun
6) Berkeringat pada waktu malam hari 7) Demam meriang lebih dari satu bulan
8) Pada penderita HIV positif batuk bukan merupajkan gejala ulang khas, sehingga gejala batuk tidak harus ada dalam 2 minggu atau lebih.
b. Pemeriksaan bakteriologi
1) Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung adalah pemeriksaan kuman TB dengan mikroskopis langsung. Pemeriksaan ini sangat efisien dilakukan di Indonesia saat ini karena sangat murah, tidak memerlukan peralatan khusus, sensitif, dan dapat dilakukan di setiap laboratorium fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai mikroskop dan tenaga terlatih (Kemenkes 2017).
Dalam Permenkes 67 tahun 2016 tentang penanggulangan tuberkulosis disebutkan bahwa pemeriksaan dahak mikroskopis selain digunakan untuk diagnosis juga digunakan untuk menentukan potensi penularan dan keberhasilan pengobatan. Untuk kepentingan diagnosa diperlukan 2 (dua) contoh uji dahak yaitu:
a) Sewaktu (S) : Dahak ditampung di Fasilitas Pelayanan Kesehatan pada waktu penderita datang pertama.
b) Pagi (P) : Dahak ditampung pada waktu pagi hari setelah penderita bangun tidur, ini bisa dilakukan dirumah atau Rumah Sakit bila penderita Rawat Inap.
2) Pemeriksaan Test Cepat Molekuler (TCM)
Pemeriksaan Tes Cepat Molekular (TCM) merupakan sarana untuk pemeriksaan diagnosis tapi tidak bisa digunakan untuk memantau hasil pengobatan.
Pemeriksaan ini menggunakan metode Xpert MTB/RIF.
3) Pemeriksaan biakan
Menurut permenkes 67 tahun 2016 tentang disebutkan bahwa untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan Mycobacterium tuberculosis media yang dapat digunakan adalah media padat dan media cair. Media padat yang
commit to user
direkomendasikan untuk progam TB di Indonesia adalah Lowenstein Jensen sedangkan untuk media cairnya adalah Mycobacteria Growth Indicator Tube.
4) Pemeriksaan penunjang lainnya a) Foto Toraks
b) Pemeriksaan histopatologi untuk kasus TB ekstra paru 5) Pemeriksaan uji kepekaan obat
6) Pemeriksaan serologis
3. Pemeriksaan Mikroskopis
a. Persiapan pengambilan contoh uji dahak 1) Persiapan pasien
Sebagai persiapan bagi pasien, pasien harus diberi tahu bahwa uji dahak sangat bernilai untuk menentukan status penyakitnya, karena itu anjuran pemeriksaan dahak Sewaktu (S), Pagi (P), Sewaktu (S) untuk pasien baru serta Sewaktu (S) dan Pagi (P) untuk pasien dalam pemantauan pengobatan harus dipenuhi. Dahak yang baik adalah yang berasal dari saluran nafas bagian bawah, berupa lendir yang berwarna kuning kehijauan (mukopurulen). Pasien berdahak dalam keadaan perut kosong, sebelum makan/minum dan membersihkan rongga mulut terlebih dahulu dengan berkumur dengan air bersih. Bila ada kesulitan berdahak, pasien harus diberi obat ekspektoran yang dapat merangsang pengeluaran dahak dan diminum pada malam sebelum mengeluarkan dahak (Kemenkes, 2012).
2) Persiapan alat yang diperlukan
Pot dahak harus bersih dan kering dengan diameter mulut pot ≥6cm, transparan, berwarna bening, bertutup ulir. Pot tidak boleh bocor. Sebelum diserahkan kepada pasien, pot dahak harus sudah diberi identitas sesuai identitas/nomor register (pada form TB 05); Formulir Permohonan Pemeriksaan Laboratorium (TB 05);
Label, pensil, spidol (Kemenkes, 2012).
3) Cara pengeluaran dahak yang baik
Pada saat berdahak, aerosol/percikan dapat menulari orang yang ada disekitarnya, karena itu tempat berdahak adalah ruang khusus yang jauh dari kerumunan orang,
commit to user
apabila di ruang terbuka harus dengan sinar matahari langsung dan apabila diruang tertutup harus dengan ventilasi yang baik.
b. Pengambilan spesimen 1) Waktu pengumpulan dahak
Untuk menegakkan diagnosis TB secara mikroskopis dibutuhkan tiga contoh uji dahak. Pengumpulan spesimen dahak dilakukan dalam waktu 2 hari yaitu Sewaktu – Pagi – Sewaktu (SPS)
a) Dahak Sewaktu hari -1 (A)
(1) Dahak pertama diambil SEWAKTU pada saat pasien berkunjung ke fasyankes
(2) Beri pot dahak pada saat pasien pulang untuk keperluan pengumpulan dahak pagi hari berikutnya.
b) Dahak Pagi (B)
Pasien mengeluarkan dahak kedua pada PAGI hari setelah bangun tidur dan membawa contoh uji dahak ke laboratorium.
c) Dahak Sewaktu hari -2 (C)
Kumpulkan dahak ketiga (dahak SEWAKTU) di laboratorium saat pasien kembali ke laboratorium pada hari kedua saat membawa dahak pagi (B).
2) Tempat pengumpulan dahak
Dahak adalah bahan yang infeksius, pada saat berdahak aerosol/percikan dapat menulari orang yang ada disekitarnya, karena itu tempat berdahak harus berada ditempat yang jauh dari kerumunan orang, misalnya didepan ruang pendaftaran ruang pemeriksaan ruang obat dll. Harus diperhatikan pula arah angin pada saat berdahak, agar droplet/ percikan dahak tidak mengenai petugas.
3) Cara pengumpulan dahak
Persiapan Pengumpulan contoh uji dahak a) Persiapan pasien
(1) Pasien diberitahu bahwa contoh uji dahak sangat bernilai untuk menentukan status penyakitnya, karena itu anjuran pemeriksaan SPS untuk pasien baru dan SP untuk pasien dalam pemantauan pengobatan harus dipenuhi.
commit to user
(2) Dahak yang baik adalah yang berasal dari saluran nafas bagian bawah, berupa lendir yang berwarna kuning kehijauan (mukopurulen). Pasien berdahak dalam keadaan perut kosong, sebelum makan/minum dan membersihkan rongga mulut terlebih dahulu dengan berkumur air bersih.
(3) Bila ada kesulitan berdahak pasien harus diberi obat ekspektoran yang dapat merangsang pengeluaran dahak dan diminum pada malam sebelum mengeluarkan dahak. Olahraga ringan sebelum berdahak juga dapat merangsang dahak keluar.
(4) Dahak adalah bahan infeksius sehingga pasien harus berhati-hati saat berdahak dan mencucu tangan.
(5) Pasien dianjurkan membaca prosedur tetap pengumpulan dahak yang tersedia di tempat/ lokasi berdahak
.
c. Pembuatan sediaan
1) Peralatan pemeriksaan sediaan dahak
Untuk pembuatan sediaan apus dibutuhkan peralatan sebagai berikut: BSC (Bio Safety Cabinet), kaca sediaan yang baru dan bersih, sebaiknya (frosted end slide), bambu/lidi, wadah pembuanga lidi bekas, desinfektan (lisol 5%, alkohol 70%, hipoklorit 0.5%).
2) Pemberian identitas
Sebelum melaksanakan pembuatan sediaan dahak, terlebih dulu kaca sediaan yang diberi identitas dengan menuliskan pada bagian frosted atau diberi label dengan nomor identitas sesuai dengan form TB 05.
3) Pemilihan contoh uji dahak yang berkualitas
Pilih dahak yang kental berwarna kuning kehijauan, ambil dengan lidi yang ujungnnya berserabut kira-kira sebesar biji kacang hijau.
4) Pembuatan sediaan dahak sesuai standar
Pembuatan sediaan dahak sesuai standar terdiri dari:
a) Pembuatan sediaan dahak
commit to user
Ambil contoh uji dahak pada bagian yang purulen dengan lidi kemudian sebarkan di atas kaca sediaan dengan bentuk oval ukuran 2x3 kemudian ratakan dengan gerakan spiral kecil-kecil. Jangan membuat gerakan spiral bila sediaan dahak sudah kering karena akan menyebabkan aerosol.
b) Pengeringan
Pengeringan dilakukan pada suhu kamar kemudian masukan lidi bekas ke dalam wadah berisi desinfektan.
c) Fiksasi
Fiksasi dilakukan dengan memegang kaca sediaan dengan pinset, pastikan kaca sediaan menghadap ke atas. Lewatkan sediaan diatas api Bunsen yang berwarna biru 2-3 kali selama 1-2 detik (Kemenkes, 2012).
d. Pewarnaan sediaan
1) Pewarnaan metode Ziehl Neelsen
Pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN), juga dikenal sebagai pewarna tahan asam, pertama kali ditemukan oleh dua orang doktor Jerman Fraz Ziehl (1859 hingga 1926), pakar bakteria bakteriologi dan Friedrich Neelsen (1854 hingga 1894) ahli patologi. ZN merupakan pewarna bakteria khas yang digunakan organisme tahan asid, terutama Mycobacteria. ZN membantu mendiagnosa Mycobacterium tuberculosis karena dinding lipid yang banyak selnya.
Pewarnaan ZN merupakan pewarnaan diferensial, artinya pewarnaan yang menggunakan lebih dari satu macam zat warna, seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam, dapat membedakan bakteri tahan asam dengan bakteri yang bukan tahan asam. Pada dasarnya prinsip pewarnaan Mycobacterium yang dinding selnya tahan asam karena mempunyai lapisan lemak atau lilin, sehingga sukar ditembus cat. Oleh pengaruh phenol dan pemanasan, maka lapisan lilin dapat ditembus oleh cat Bassic Fuchsin. Pada pengecatan ZN setelah BTA mengambil warna basic fuchsin, kemudian dicuci dengan air mengalir, lapisan lilin yang terbuka pada waktu dipanasi akan merapat kembali, karena terjadi pendinginan pada waktu dicuci. Sewaktu dituangi dengan HCl dan alkohol 70%
commit to user
warna merah dari basic fuchsin pada BTA tidak akan dilepas atau luntur. Bakteri yang tidak tahan asam akan melepaskan warna merah, sehingga menjadi pucat atau tidak berwarna. Akhirnya pada waktu dicat dengan Methylene Blue, BTA tidak mengambil warna biru (Kumala, 2006).
e. Pemeriksaan Sediaan
Pemeriksaan mikroskopis harus dilaksanakan menggunakan mikroskopis binokuler yang sesuai standar. Agar hasil pemeriksaan mikroskopis bermuuu harus menggunakan mikroskop dengan kondisi dan fungsi yang baik. Petugas harus melakukan perawatan mikroskop secara teratur dan dnegan cara yang benar, yaitu dengan cara:
1) Pembersihan lensa 2) Penggantian bola lampu 3) Penyimpanan
Cara pembacaan mikroskopis dahak adalah:
1) Pemindahan 100 lapangan pandang
Pembacaan sediaan dahak menggunakan mikroskop dengan lensa objektif 100x dilakukan pembacaan di sepanjang garis horizontal terpanjang dari ujung kiri ke ujung kanan atau sebaliknya. Dengan demikian akan dibaca minimal 100 lapang pandang.
2) Pelaporan hasil pemeriksaan mikroskopis dengan mengacu kepada skala International Union Againts To Lung Disease (IUATLD)
a) Negatif : tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang panadang
b) Scanty : ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandanng (tuliskan jumlah BTA yang ditemukan)
c) 1+ : ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang
d) 2+ : ditemukan 1-10 BTA setiap 1 lapang pandang (periksa minimal 50 lapang pandang)
e) 3+ : ditemukan ≥10 BTA dalam 1 lapang pandang (periksa minimal 20 lapang pandang)
commit to user 3) Penilaian kualitas sediaan dahak
Sediaan dahak yang baik adalah sediaan yang memenuhi 6 syarat kualitas sediaan yang baik yaitu kualitas contoh uji, ukuran, ketebalan, kerataan, pewarnaan dan kebersihan.
f. Hasil Pemeriksaan
Laporkan hasil pemeriksaan mikroskopis dengan mengacu kepada skala International Union Against To Lung Disease (IUATLD) menurut (Kemenkes RI,2012)
Tabel 2.1 Laporan Hasil Pemeriksaan Mikroskopis
Apa yang terlihat Hasil Apa yang dituliskan
tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang
Negatif Neg
ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang (tuliskan jml BTA yang ditemukan)
Scanty Tulis jumlah BTA
Ditemukan 10 – 99 BTA dlm 100 lapang pandang
1+ 1+
ditemukan 1 – 10 BTA setiap 1 lapang pandang (periksa minimal 50 lapang pandang)
2+ 2+
ditemukan • 10 BTA dalam 1 lapang pandang (periksa minimal 20 lapang pandang)
3+ 3+
Sumber : Kementerian Kesehatan RI Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan Ditjen P2PL (2012). Modul Pelatihan Pemeriksaan Dahak Mikroskopis TB. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI
Penilaian hasil pembacaan dilakukan dengan membandingkan hasil pembacaan laboratorium fasyankes dan hasil pembacaan LRI menggunakan tabel korelasi (Kemenkes RI, 2012)
Melalui table korelasi tersebut penilaian kualiyas sediaan dilakukan sehingga kinerja fasyankes dapatbdiketahui dan dapat ditentukan kesalahannya, sehingga mempermudah dalam evaluasi
commit to user
Tabel korelasi yang dimaksud sebagaimana terdapat pada tabel dibawah ini Tabel 2.2 Laporan Hasil Pembacaan Laboratorium RUS Hasil lab RUS Negatif 1-9 BTA/
100LP
1+ 2+ 3+ Jum
lah Hasil lab Fasyankes
Negatif Benar NPR NPT NPT NPT
1-9 BTA/100LP PPR Benar Benar KH KH
1+ PPT Benar Benar Benar KH
2+ PPT KH Benar Benar Benar
3+ PPT KH KH Benar Benar
Jumlah
Sumber : Kementerian Kesehatan RI Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan Ditjen P2PL (2012). Modul Pelatihan Pemeriksaan Dahak Mikroskopis TB. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI
Benar : Tidak ada kesalahan
PPR : Positif Palsu Rendah/ Kesalahan kecil KH : Kesalahan hitung/ Kesalahan kecil NPT : Negatif Palsu Tinggi/ Kesalahan besar
NPR : Negatif Palsu Rendah/ Kesalahan kecil - PPT : Positif Palsu Tinggi/
Kesalahan besar Keterangan
Hasil pembacaan Rujukan Uji Silang (RUS) dianggap sebagai acuan.
Hasil yang dituliskan pada koordinat diagonal bergaris tepi tebal menyatakan kesesuaian pembacaan antara petugas mikroskopis fasyankes dan petugas laboratorium RUS.
Hasil yang berada di luar batas tebal menunjukan ketidaksesuaian/ discordance pembacaan antara keduanya. Hasil yang discordance diklasifikasikan sebagai Negatif Palsu (NP), Positif Palsu (PP), atau Kesalahan Hitung (KH).
NP dan PP terdiri dari kesalahan tinggi (PPT, NPT) dan kesalahan rendah (PPR, NPR).
4. Pemantapan Mutu Laboratorium Tuberkulosis a. Pemantapan Mutu Internal
Kegiatan Pemantapan Mutu Internal (PMI) laboratorium TB merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan laboratorium TB berupa kegiatan pengecekan,
commit to user
pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan secara terus menerus terhadap seluruh proses pemeriksaan laboratorium mikroskopis TB agar diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat dan teliti. Tindakan pencegahan dan pengawasan perlu dilaksanakan sejak tahap pra analitik, analitik dan paska analitik (Dirjen P2PL dan Bina Upaya Yan Kesehatan, 2012).
1) Tahap pra analitik adalah tahap mulai mempersiapkan pasien, pengambilan dan penanganan spesimen dahak, menerima spesimen dahak, memberi identitas spesimen sampai dengan menguji kualitas reagen Ziehl Neelsen.
2) Tahap analitik yaitu tahap mulai penyusunan prosedur tetap (Protap), mengolah dan memeriksa spesimen dahak sesuai prosedur tetap, memelihara mikroskop, penilaian pembuatan sediaan dengan penilaian terhadap 6 unsur menggunakan skala sarang laba-laba (Sediaan yang baik harus memperlihatkan sarang laba- laba yang penuh ,6 unsur penilaian tersebut meliputi kualitas specimen dahak, ukuran sediaan, pewarnaan, kebersihan, ketebalan dan kerataan sediaan), dan penyimpanan sediaan untuk uji silang metode LQAS.
3) Tahap paska analitik yaitu tahap mulai dari mencatat hasil pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan. Kegiatan tersebut harus dilaksanakan oleh semua petugas laboratorium secara rutin , terus menerus dan terekam dalam suatu laporan kegiatan Pemantapan Mutu Internal yang harus dilaporkan secara berkala. Penanggung jawab laboratorium puskesmas dalam hal ini adalah kepala puskesmas bertugas merencanakan dan mengawasi kegiatan mutu laboratorium yang telah dilkasanakan oleh petugas teknis laboratorium TB puskesmas (Kemenkes RI, 2012).
b. Pemantapan Mutu Eksternal
Pemantapan Mutu Eksternal (PME) laboratorium TB adalah kegiatan yang diselenggarakan secara periodik oleh pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam bidang pemeriksaan mikroskopis TB.
Penyelenggaraan kegiatan PME dilaksanakan oleh pihak pemerintah, swasta atau internasional. Kegiatan pemantapan mutu eksternal ini sangat bermanfaat bagi Laboratorium Puskesmas, karena dari hasil evaluasi yang diperoleh dapat
commit to user
menunjukkan penampilan (performance/proficiency) laboratorium yang bersangkutan dalam bidang pemeriksaan mikroskopis TB. Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak boleh diperlakukan secara khusus, harus dilaksanakan oleh petugas yang biasa melakukan pemeriksaan tersebut serta menggunakan peralatan, reagen dan metoda yang biasa digunakan, sehingga hasil PME tersebut benar-benar dapat mencerminkan penampilan laboratorium yang sebenarnya.
Setiap nilai yang diterima dari penyelenggara dicatat dan dievaluasi untuk mencari penyebab-penyebab dan mengambil langkah langkah perbaikan. Salah satu kegiatan PME laboratorium Tuberkulosis berupa PME mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) dapat dilakukan melalui Uji silang mikroskopis dahak (Cross check), Supervisi (On Site Evaluation/ On The Job Training) dan Tes Panel (Proficiency Test) (Dirjen P2PL dan Bina Upaya Yan Kesehatan, 2012).
1) Uji Silang
Prinsip uji silang: Pemeriksaan ulang sediaan mikroskopis oleh laboratorium rujukan tanpa mengetahui hasil laboratorium sebelumnya yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan dengan tujuan untuk peningkatan mutu (Kemenkes RI 2015)
Indikator keberhasilan uji silang : a) Cakupan 90%
Jumlah laboratorum yang mengikuti uji silang disbanding dengan jumlah seluruh laboratoriunm mikroskopis TB
b) Rutinitas 90%
Jumlah laboratorium peserta uji silang dengan frekwensi partisipasi 4 [empat}kali dalam setahun di banding dengan seluruh laboratorium mikroskopis TB
c) Kinerja Baik 80%
Jumlah laboratorium TB yang mengikuti uji silang dengan hasil pembacaan baik dibanding dengan jumlah laboratorium TB yang mengikuti uji silang.
Pembacaan baik adalah pembacaan tanpa kesalahan besar dan kesalahan keci kurang dari 3
commit to user d) Kualitas sediaan baik 80%
Jumlah laboratorium TB yang mengikuti uji silang dengan 6 [enam] unsur kualitas sediaan dahak yang baik dibanding jumlah laboratorium yang mengikuti uji silang. 6 [enam] unsur kualitas sediaan baik adalah : kualitas ukuran, pewarnaan, ketebalan, kerataan, kebersihan dan kualitas dahak
2) Supervisi
Bimbingan tehnis yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dengan mempertahankan kompetensi dan motivasi petugas yang dilakukan secara langsung dan berjenjang mulai laboratorium tingkat nasional sampai fasyankes (Kemenkes RI 2015)
a) Perencanaan supervisi
(1) Supervise harus dilakukan teratur dan terencana
(2) Dalam keadaan tertentu dilakukan peningkatan supervisi diantaranya adalah : (a) Pelatihan selesai dilaksanakan
(b) Pada tahap awal pelaksanaan progam
(c) Bila ada kesalahan besar dan atau kesalahan kecil lebih atau sama dengan 3 (d) Apabila ditemukan salah satu komponen kualitas sediaan jelek lebih dari
10%
b) Petugas supervisi
Supervisi atau bimtek dilakukan oleh tenaga dengan kualifikasi minimal D3 analis kesehatan dengan pengalaman minimal 2 tahun di laboratororium TB dan masih aktif bekerja di laboratorium TB dengan telah mengikuti salah satu pelatihan : (1) TOT
(2) Pelatihan dasar TB DOTS (3) Pemantapan mutu laboratorium c) Frekuesi supervisi
(1) Supervisi /Bimbingan teknis (Bimtek) dari Rujukan Nasional ke Lab Rujukan Miroskopis Provinsi dilakukan 1 (satu) tahun sekali di lanjutkan ke Rujukan Uju Silang dan Fasyankes untuk memastikan kegiatan berjalan
(2) Bimtek dari Rus II ke RUS I dilakukan minimal setahun sekali dan dilanjutkan ke fasyankes
commit to user
(3) Bimtek dari RUS I ke fasyankes dilakukan minimal setahun sekali
(4) Bimtek dari FLM ke FLS dapat dilakukan pada saat petugas merujuk sediaan ke FLM
d) Pelaksanaan kegiatan supervisi
Pada saat bimbingan tehnis Supervisor harus
(1) Setiap supervisor harus bersikap sopan dalam memberikan usulan perbaikan dan jangan mencari-cari kesalahan
(2) Mengevaluasi perbaikan dari rekomendasi terdahulu
(3) Observasi dilakukan focus pada perbaikan mutu pemeriksaan mikroskopis TB (4) Pengamatan sumber daya laboratorium
(5) Pengamatan kinerja petugas : beban kerja petugas, implementasi standart operational prosedur
(6) Mengidentifikasi masalah tehnis dan administrative
(7) Petugas dan supervisor bersama sama menyusun rencana tindak lanjut e) Kegiatan pasca supervise
(1) Petugas bimbingan tehnis menganalisa hasil bimbingan tehnis
(2) Memberikan umpan balik dan rekomendasi pada laboratorium yang dikunjungi
(3) Melaporkan hasik supervise dan rekomendasi kepada pejabat yang berwenang
3) Tes Panel
Test panel merupakan bagian dari pemantapan mutu ekternal yang diselenggarakan untuk memeriksa slide mikroskopis yang dikirim oleh laboratorium dengan jejaring yang lebih tinggi (Kemenkes RI 2015)
Tes panel bukan sesuatu yang rutin tetapi dilakukan dalam kondisi tertentu bila a) Uji silang tidak berjalan dengan baik
b) Pasca pelatihan
c) Jika ingin mengetahui kinerja laboratorium TB yang akan di jadikan RUS d) Saat supervise/Bimtek
commit to user 5. Jejaring Laboratorium TB
Jejaring laboratorium TB merupakan suatu hubungan kerja antar laboratorium yang melaksanakan pelayanan kepada pasien TB sesuai jenjangnya mulai dari pemeriksaan sederhana sampai dengan yang canggih serta mampu melaksanakan rujukan pelayanan, pembinaan dan penelitian untuk menunjang P2TB (Kemenkes RI, 2015).
a. Struktur Jejaring Laboratorium Mikroskopis TB
: pembinaan dan pengawasan mutu : mekanisme rujukan
Gambar 2.1 Struktur Jejaring Laboratorium Mikroskopis TB
Semua laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan TB harus berada dalam jejaring laboratorium TB di wilayah kerjanya dan berfungsi sesuai dengan jenjangnya. Rujukan tertinggi untuk pemeriksaan mikroskopis TB adalah Laboratorium Rujukan TB Nasional. Rujukan tertinggi untuk uji silang dari laboratorium mikroskopis TB adalah Laboratorium Rujukan TB Provinsi (Kemenkes RI, 2015).
1) Laboratorium Rujukan TB Nasional.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1909/MENKES/SK/IX/2011 tentang Laboratorium Rujukan Tuberkulosis Nasional, BLK Provinsi Jawa Barat ditunjuk sebagai Laboratorium Rujukan TB Nasional untuk Pemeriksaan
LAB. RUJUKAN TB NASIONAL
LAB. RUJUKAN PROVINSI/
LABORATORIUM RUJUKAN UJI SILANG 2 LABORATORIUM INTERMEDIATE/
LABORATORIUM RUJUKAN UJI SILANG 1 FASILITAS LABORATORIUM MIKROSKOPIS
FASILITAS LABORATORIUM SATELIT
commit to user
Mikroskopis TB yang pembinaannya berada di bawah Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan.
2) Laboratorium Rujukan TB Provinsi
Penunjukan Balai Laboratorium Kesehatan/Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi sebagai Rujukan TB Provinsi ditetapkan dengan SK Kepala Dinas Kesehatan Provinsi terkait.
3) Laboratorium Rujukan TB Kabupaten/Kota
Penunjukan laboratorium tingkat Kabupaten/Kota sebagai Laboratorium Rujukan Uji Silang 1/Laboratorium Intermediate ditetapkan dengan SK Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota terkait. Apabila Laboratorium RUS 1 melaksanakan pembinaan untuk beberapa kabupaten/kota, maka penetapan laboratorium RUS 1 dengan SK Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
4) Laboratorium Mikroskopis TB di Fasilitas Pelayan Kesehatan
Laboratorium mikroskopis TB di Fasilitas Pelayan Kesehatan terdiri dari:
a) Fasilitas Laboratorium Mikroskopis (FLM)
Pembentukan FLM sesuai dengan ketentuan antara lain; wilayah, populasi, kondisi geografis, fasilitas transportasi, perkiraan beban kerja berdasarkan perkiraan CDR/CNR, diagnosis dan pemantauan pengobatan di wilayah tersebut.
Standar pembentukan FLM meliputi:
(1) Melayani minimal 150.000 populasi
(2) Beban kerja minimal 1-2 sediaan per hari untuk masing-masing tenaga. Syarat beban kerja minimal ini berguna untuk menjaga kemampuan teknis pemeriksaan mikroskopis oleh petugas.
(3) Memiliki minimal 1 analis laboratorium kesehatan/D3, terlatih laboratorium mikroskopis TB.
(4) Memiliki ruangan dan fasilitas yang memenuhi standar laboratorium mikroskopis TB.
(5) Pada daerah dengan populasi <150.000 diperbolehkan jika memiliki wilayah kerja yang luas dan kondisi geografis yang sulit.
b) Fasilitas Laboratorium Satelit (FLS)
Penentuan status laboratorium FLM dan FLS ditetapkan melalui SK Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Mekanisme perubahan status laboratorium
commit to user
mikroskopis TB Fasilitas Pelayan Kesehatan (FLS menjadi FLM) harus melalui mekanisme menjadi kandidat terlebih dahulu. Persyaratan sebagai FLM dalam hal beban kerja, tenaga, ruangan, populasi yang dilayani harus dipenuhi oleh FLS tersebut. Selama FLS menjadi kandidat FLM, FLS dapat melakukan pemeriksaan mikroskopis sampai pembacaan, tanpa mengeluarkan hasil. Sediaan yang sudah difiksasi tetap Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium TB 7 dikirim ke FLM induk dan hasil yang dikeluarkan adalah hasil pemeriksaan dari laboratorim FLM. Kinerja kandidat FLM akan dipantau melalui PME/Uji Silang.
Kandidat FLM diuji silang sebagai unit diagnostik tersendiri. Berdasar hasil uji silang dengan kriteria kelulusan, maka kandidat dapat berubah fungsi sebagai FLM. Perubahan status ini dapat dilakukan 1 tahun sekali, tetapi mekanisme penilaian dapat dilakukan mulai bulan ke-9.
Kualitas pemeriksaan mikroskopis TB harus diutamakan, tidak direkomendasikan membentuk lebih banyak FLM walaupun masing-masing laboratorium mikroskopis TB fasyankes memiliki tenaga analis laboratorium setara D3 apabila ruangan laboratorium atau beban kerja laboratorium tidak memenuhi syarat. Laboratorium RUS 1 harus memantau kualitas pelayanan laboratorium mikroskopis TB di wilayahnya. FLM yang tidak memenuhi syarat dapat diubah statusnya menjadi FLS (Kemenkes RI, 2015).
b. Komponen Jejaring Laboratorium Mikroskopis TB
1) Laboratorium Mikroskopis TB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Dalam layanan pemeriksaan mikroskopis, fasilitas pelayanan kesehatan dibagi berdasarkan kemampuannya melakukan pemeriksaan mikroskopis TB menjadi:
a) Fasilitas Laboratorium TB Satelit (FLS) merupakan laboratorium yang melayani pengumpulan dahak, pembuatan contoh uji, fiksasi dan kemudian merujuk ke Fasilitas Laboratorium Mikroskopis (FLM).
b) Fasilitas Laboratorium Mikroskopis (FLM) merupakan laboratorium yang mampu membuat sediaan contoh uji, pewarnaan dan pemeriksaan mikroskopis dahak, 8 Pedoman Jejaring dan Pemantapan Mutu Laboratorium TB menerima rujukan dan melakukan pembinaan teknis kepada FLS. FLM harus mengikuti pemantapan mutu eksternal melalui uji silang oleh Laboratorium Rujukan Uji Silang 1 (RUS 1) di wilayahnya.
commit to user
Dalam jejaring laboratorium mikroskopis TB semua fasilitas laboratorium kesehatan termasuk laboratorium Rumah Sakit dan laboratorium swasta yang melakukan pemeriksaan laboratorium mikroskopis TB dapat mengambil peran sebagai FLM dan FLS sesuai dengan kemampuan pemeriksaan yang dilaksanakannya (Kemenkes RI, 2015).
2) Laboratorium Intermediate/Laboratorium RUS 1
Laboratorium RUS 1 adalah laboratorium rujukan uji silang yang melakukan pembacaan ulang sediaan BTA yang telah diperiksa oleh FLM dalam rangka Pemantapan Mutu Eksternal (PME) (Kemenkes RI, 2015).
3) Laboratorium Provinsi/Laboratorium Rujukan Uji Silang 2 (RUS 2)
Laboratorium Provinsi/Laboratorium RUS 2 adalah laboratorium rujukan mikroskopis dengan wilayah kerja provinsi yang melakukan uji silang untuk sediaan BTA yang discordant (hasil pembacaan yang berbeda antara FLM dan RUS 1). Di provinsi yang kabupaten/kotanya tidak memiliki laboratorium RUS 1, laboratorium rujukan provinsi berperan sebagai laboratorium RUS 1, dan Laboratorium Rujukan TB Nasional Mikroskopis (LRN-M) berperan sebagai laboratorium RUS 2 bagi provinsi tersebut (Kemenkes RI, 2015).
4) Laboratorium Rujukan Tuberkulosis Nasional Mikroskopis LRN mikroskopis merupakan laboratorium rujukan tertinggi untuk pemeriksaan mikroskopis TB (Kemenkes RI, 2015).
c. Fungsi dan Tugas Laboratorium dalam Jejaring Laboratorium Mikroskopis TB 1) Fungsi dan Tugas FLS
a) Fungsi : sebagai fasilitas laboratorium satelit b) Tugas :
(1) Melakukan pemeriksaan mikroskopis mulai dari pengumpulan contoh uji, pembuatan sediaan dan fiksasi.
(2) Merujuk sediaan dahak yang sudah difiksasi ke FLM untuk dilakukan pewarnaan dan pembacaan.
(3) Melakukan pencatatan dan pelaporan TB 05 dan TB 06.
(4) Menindaklanjuti hasil pembacaan sediaan yang dirujuk ke FLM
commit to user
(5) Melaksanakan tindak lanjut terhadap rekomendasi atau saran teknis dari supervisor.
2) Fungsi dan Tugas FLM
a) Fungsi : sebagai fasilitas laboratorium mikroskopis b) Tugas :
(1) Melakukan pembuatan sediaan, pewarnaan dan pemeriksaan mikroskopis dahak.
(2) Menerima rujukan pewarnaan dan pembacaan sediaan mikroskopis dahak dari FLS.
(3) Melaksanakan penyimpanan sediaan sesuai dengan urutan nomor register TB 04.
(4) Melakukan pencatatan dan pelaporan TB 04, TB 05, dan TB 06.
(5) Menerima umpan balik dari wasor kabupaten/kota.
(6) Mempelajari umpan balik untuk melakukan tindak lanjut untuk peningkatan mutu.
(7) Melakukan pembinaan teknis kepada FLS di wilayahnya.
3) Fungsi dan Tugas Laboratorium RUS 1 a) Fungsi :
(1) Memastikan kualitas pemeriksaan laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya.
(2) Mengelola jejaring laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya.
b) Tugas :
(1) Melakukan pemantapan mutu eksternal (uji silang dan bimtek/supervisi laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya.
(2) Melakukan pengembangan jejaring laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya.
(3) Memantau kualitas reagensia yang digunakan di wilayah kerjanya.
(4) Melaporkan pelaksanaan pemantapan mutu eksternal kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota terkait dan RUS 2.
(5) Melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk menindaklanjuti hasil PME.
commit to user
(6) Melakukan penjenjangan laboratorium mikroskopis TB sesuai dengan kemampuannya (FLS dan FLM).
(7) Melakukan pendataan laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya.
4) Fungsi dan Tugas Laboratorium RUS 2 a) Fungsi :
(1) Memastikan kualitas pemeriksaan laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya
(2) Mengelola jejaring laboratorium mikroskopis TB di wilayah kerjanya b) Tugas :
(1) Menyelesaikan masalah discordance.
(2) Memantau kualitas reagensia yang digunakan di wilayah kerjanya.
(3) Membuat rekapitulasi laporan pelaksanaan PME dan melaporkannya ke LRN TB Mikroskopis.
(4) Melakukan pembinaan teknis dan manajerial ke laboratorium RUS 1
(5) Melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan provinsi untuk menindaklanjuti hasil PME dengan meningkatkan sumber daya laboratorium.
(6) Melakukan pengembangan jejaring laboratorium mikroskopis TB.
5) Fungsi dan Tugas Laboratorium Rujukan Nasional Mikroskopis (LRN-M)
a) Fungsi :
Sebagai pusat rujukan pemeriksaan mikroskopis TB tingkat nasional.
b) Tugas :
(1) Memetakan distribusi, jumlah dan kinerja laboratorium mikroskopis TB.
(2) Memfungsikan jejaring laboratorium mikroskopis TB.
(3) Menentukan spesifikasi alat dan bahan habis pakai untuk laboratorium mikroskopis TB.
(4) Mengembangkan pedoman teknis, prosedur tetap, PME dan pedoman pelatihan mikroskopis TB.
(5) Menyelenggarakan PME dalam jejaring laboratorium mikroskopis TB.
(6) Melaksanakan pelayanan rujukan pemeriksaan mikroskopis TB.
(7) Menyelenggarakan pelatihan pemeriksaan mikroskopis TB.
(8) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi data kegiatan jejaring.
commit to user
(9) Bekerjasama dalam jejaring laboratorium rujukan mikroskopis TB internasional.
(10) Melaporkan kegiatan PME ke Program Nasional Pengendalian TB.
(Kemenkes RI, 2015).
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Pembuatan sediaan mikroskopis TB
a. Masa Kerja
Menurut Robbins (2007) masa kerja atau sering disebut senioritas menunjukkan hubungan positif dengan produktifitas pekerjaan. Masa kerja yang diekspresikan sebagai pengalaman kerja menjadi dasar pikiran yang baik terhadap produktifitas karyawan. Seseorang yang telah lama bekerja akan mempunyai wawasan yang lebih luas dan berpengalaman lebih banyak dimana hal tersebut akan membentuk perilaku. Dari uraian tersebut dapat kita pahami bahwa semakin lama kerja petugas masa kerjanya maka semakin terampil dalam melaksanakan tugasnya karena memiliki banyak pengalaman.
Handoko (2010) menyebutkan lama kerja dibagi menjadi dua yaitu:
1) Masa kerja kategori baru ≤ 3 tahun;
2) Masa kerja kategori lama > 3 tahun.
Hasil penelitian Abu et al (2015) di Kabupaten Ngawi menyatakan ada hubungan antara masa kerja dengan kualitas kinerja petugas kesehatan. Iska (2010) menyatakan bahwa ada hubungan antara masa kerja dengan kualitas kinerja petugas kesehatan di Kabupaten Bogor. Fera (2010) menyatakan tidak ada hubungan masa kerja dengan kualitas kinerja petugas MTBS di Kota Madiun.
Dina (2010) menyatakan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kinerja bidan desa di Kabupaten Bantul.
b. Pelatihan
Pelatihan menurut Dessler adalah proses mengajarkan pegawai baru atau yang ada sekarang serta ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka. Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam dunia kerja. Pegawai, baik yang baru ataupun
commit to user
yang sudah bekerja perlu mengikuti pelatihan karena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah akibat perubahan lingkungan kerja, strategi, dan lain sebagainya. (Dessler, 2011).
Pelatihan yang baik juga membawa manfaat antara lain yang dikemukakan oleh Noe et al (2008) yaitu: meningkatkan pengetahuan para karyawan atas budaya dan para pesaing luar, membantu para karyawan yang mempunyai keahlian untuk bekerja dengan teknologi baru, membantu para karyawan untuk memahami bagaimana bekerja secara efektif dalam tim untuk menghasilkan jasa dan produk yang berkualitas, memastikan bahwa budaya organisasi menekankan pada inovasi, kreativitas dan pembelajaran, menjamin keselamatan dengan memberikan cara-cara baru bagi para karyawan untuk memberikan kontribusi bagi organisasi pada saat pekerjaan dan kepentingan mereka berubah atau pada saat keahlian mereka menjadi absolut, mempersiapkan para karyawan untuk dapat menerima dan bekerja secara lebih efektif satu sama lainnya, terutama dengan kaum minoritas dan para wanita (Noe et al, 2008) dalam Agusta (2013).
Fort dan Voltero (2004) dalam Uwaliraye (2013) menunjukkan bahwa pelatihan penggunaan alat yang diperlukan untuk kinerja pekerjaan sehari-hari berkorelasi dengan tingkat kualitas kinerja petugas kesehatan. Penelitian Dina (2010) menyatakan ada hubungan antara pelatihan dengan kualitas kinerja petugas kesehatan di Kabupaten Bantul. Penelitian serupa oleh Fera (2010) bahwa tidak ada hubungan antara pelatihan dengan kinerja petugas MTBS di Kota Madiun.
c. Akreditasi Puskesmas
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes 75, 2014). Pengertian Akreditasi Puskesmas adalah pengakuan yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggara Akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri setelah memenuhi standar Akreditasi (Permenkes, 2015).
Akreditasi Puskesmas bertujuan untuk:
commit to user
1) Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien;
2) Meningkatkan perlindungan bagi sumber daya manusia kesehatan, masyarakat dan lingkungannya serta Puskesmas.
3) Meningkatkan kinerja Puskesmas dalam pelayanan kesehatan perseorangan dan/atau kesehatan masyarakat.
Status Akreditasi Puskesmas menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 46 tahun 2015 terdiri atas: tidak terakreditasi, terakreditasi dasar, terakreditasi madya terakreditasi utama atau terakreditasi paripurna.
d. Standart Pelayanan Laboratorium Mikroskopis Tb
Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang penularannya melalui percikan bahan infeksius (airborne infection) sehingga diperlukan fasilitas pelayanan laboratorium yang sesuai standar. Oleh karena itu, setiap laboratorium TB yang memberikan pelayanan pemeriksaan TB secara mikroskopis, biakan, uji kepekaan, biomolekuler harus memenuhi ketentuan standar. Untuk menjamin pelaksanaan pemeriksaan laboratorium yang bermutu, perlu disusun suatu acuan/standar pelayanan laboratorium TB
Standart Ketenagaan Laboratorium Mikroskopis TB (Kemenkes RI,2015).
1. Penanggung jawab adalah seorang dengan kualifikasi minimal Tenaga 2. Ahli Laboratorium Medik terlatih laboratorium TB.
3. Petugas teknis adalah analis kesehatan yang terlatih mikroskopis 4. laboratorium TB, jumlah tenaga disesuaikan dengan beban kerja 15-20 5. slide/orang/hari.
6. Petugas teknis di faskes satelit minimal SMAK/SMU yang terlatih.
7. Petugas administrasi minimal SMU/sederajat
e. Kumpulan teori
Menurut James L Gibson (2009) bahwa perilaku dan prestasi individu memerlukan pertimbangan ketiga variabel yang langsung mempengaruhi perilaku individu dan hal yang dikerjakan pegawai bersangkutan. Ketiga variabel itu dikelompokkan :
commit to user
1) Variabel individu mencakup kemampuan dan ketrampilan, latar belakang dan demografis.
2) Variabel psikologis mencakup persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi.
3) Variabel organisasi mencakup sumber daya, kepemimpinan, imbalan,
Armstrong & Baron (1998) dalam Wibowo (2011) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi kerja seseorang adalah :
1) Personal factor ditunjukkan oleh ketrampilan, motivasi dan komitmen individu;
2) Leadership factor ditentukan oleh kualitas dorongan bimbingan, dan dukungan yang dilakukan manajer dan team leader.
3) Team factor ditunjukkan oleh dukungan yang diberikan oleh rekan kerja.
4) System factor ditunjukkan adanya sistem kerja dan fasilitas yang diberikan organisasi.
5) Contextual/ situational factor ditunjukkan oleh tingginya tingkat tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal.
Adaptasi konsep teori Parveen (2012) fakor-faktor yang mempengaruhi kinerja :
Gambar 2.2 Konsep Teori Praveen
Adaptasi dari teori Fort & Voltero (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain:
Faktor yang terkait pekerjaan:
• Harapan kerja yang jelas;
• Umpan balik;
• Insentif dan pengakuan hasil kerja;
• Pengetahuan dan ketrampilan terkait pekerjaan.
Background Variabels
Gender
Pendidikan
Umur
Pendapatan/
Income
Infrastuktur/
Fasilitas
Lingkungan kerja
Kinerja Karyawan
commit to user Kerangka Berpikir
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir Kualitas Sediaan dan Kualitas Pembacaan Pelatihan Pembuatan
Sediaan
Peningkatan Kemampuan Membuat
Sediaan
Akreditasi Puskesmas
Empat tingkat akreditasi Puskesmas
Peningkatan sarana prasarana
dan mutu pelayanan
Lama Bekerja petugas laboratorium
Bertambahnya pengalaman
petugas laboratorium
Kualitas Sediaan Mikroskopis
• Jenis Kelamin
• Pendidikan
• Umur
•
Kualitas Cat ZN Ketersediaan bahan habis pakai
•
Ketersediaan air bersih
commit to user B. Hubungan antar Variabel Penelitian
Gambar 2.4 Paradigma Penelitian Kualitas Pembuatan Sediaan Pelatihan petugas laboratorium TB
Kualitas pembuatan sediaan TB Lama kerja petugas laboratorium TB
Akreditasi puskesmas
commit to user C. Hipotesis
1. Ada pengaruh pelatihan petugas laboratorium terhadap kualitas pembuatan sediaan mikroskopis TB. Semakin sering pelatihan yang diikuti maka kualitas sediaan mikroskopis TB semakin baik.
2. Ada pengaruh lama bekerja petugas laboratorium terhadap kualitas pembuatan sediaan mikroskopis TB. Semakin lama lama masa kerja maka pengalaman yang didapat maka kualitas mikroskopis TB semakin baik.
3. Ada pengaruh akreditasi puskesmas terhadap kualitas pembuatan sediaan mikroskopis TB. Semakin baik akreditasi Puskesmas maka kualitas mikroskopis TB semakin baik.