• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN DRAMA DI MESIR DAN SURIAH (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN DRAMA DI MESIR DAN SURIAH (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN DRAMA DI MESIR DAN SURIAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Maalah Diskusi Dirasat Masrahiyyah

Dosen Pembimbing: Rizqi Handayani, MA

Oleh:

Abdullah Maulani (1112021000049)

Nila Munasari (1112021000062)

Tubagus Wildanul Hakim (1112021000048)

PRODI BAHASA DAN SASTRA ARAB

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

2

PENDAHULUAN

Menurut Imam Suyono drama adalah suatu aksi atau perbuatan ( Bahasa Yunani).

Sedangkan dramatic jenis karangan yang dipertunjukan dalam suatu tingkah laku, mimik dan

perbuatan.1 Atau disebut juga sikap dan sifat manusia dengan gerak yang dipentaskan.

Dalam dunia Arab, misalnya memulai pertunjukan drama ini salah satunya pertunjukan

rakyat yang masih dapat ditemukan di Mesir , Khayaluz - zill (shadow play). Untuk

memainkannya dibutuhkan layar, pelakon dibuat dari kertas atau kulit dan lampu, sementara

yang memainkannya disebut babah.

Pertunjukan ini dimainkan dengan cara memasang kain putih tipis sebagai layar dan

tokohnya dimainkan babah dibelakang layar dan diterangi lampu , dan ditonton dari depan layar.

Babah juga harus melakonkan seluruh cerita2.

Perjalanan drama mengalami pergolakan panjang dalam perkembangannya di berbagai

Negara. Sedangkan masa kematangan drama Arab bermula pada 1930 hingga sekarang yang

melahirkan banyak dramawan dan karya-karya yang monumental dan fenomenal pada masanya

dengan corak yang berbeda-beda. Drama Arab merasakan proses panjang untuk mencapai

kejayaannya, Berikut akan kami ulas sejarah singkatnya dalam pembahasan ini.

1

www.academia.edu/11934839/makalah_jurnal_pengajaran_drama

2

(3)

3

PERKEMBANGAN DRAMA MESIR A. Perkembangan Drama Mesir

Jika kita melihat sejarah, bahwasannya teater (drama) Arab sudah lahir sejak tahun 1847

M, yang di gagas pertama kali oleh Marûn An-Nuqass dengan judul “al-Bakhīl” yang terinspirasi

oleh Muller yang ketika itu sementara menjadi hari kelahiran teater di negeri Arab. Aspeknya

hanya terikat pada wujud, dan seni ini di bawa oleh para cendekiawan Arab yang berada di ranah

Eropa, kemudian mereka mengembangkannya di daerah mereka.Terkait hal ini, Shakespeare

telah membuat drama sebanyak 37 kali, yang dia ambil dari masa Yunani dan Romawi kuno,

seperti musim semi yang menggugurkan negaranya.3

Mouliere berhaluan pada kesenian sirkus Komedi Italia yang menjadi populer masa itu.

Dan pada abad ke-20 Bernard Shoe menemukan kesalahan pada drama di lingkungan sastra

yang di dapat dari para pendahulunya. Ada beberapa macam drama tradisional seperti badut dan

akrobat, kemudian juga ada sirkus dalam drama “Androklees dan Singa”, Melodrama pada

“Murid Setan”, Ksatria, Berlsczk dan lain sebagainya. Selain itu pelopor drama Arab seperti :

Marwan An-Nuqas, Ahmad Abu Khalil al-Qabani, dan Ya‟kub Shunu‟ mereka telah meletakkan

pondasi utama dalam penulisan naskah drama. Mereka semua telah sepakat dalam menentukan

bentuk-bentuk drama yang berada di wilayah Arab. Drama di wilayah Arab tidak sepopuler

drama yang ada di Eropa, dikarenakan cikal bakal dari sebuah drama terdapat di wilayah Eropa.

Oleh sebab itu, banyak orang-orang Arab yang mengambil bentuk-bentuk drama yang ada di

Eropa.4

Menurut Zaki Tholimat, bahwasannya unsur seni drama yang di bawa oleh al-Qabani

lebih lemah daripada unsur-unsur yang di bawa oleh An-Nuqas. Karena bahasa sangatlah penting

dalam sebuah drama, guna mengetahui apakah bahasa yang di gunakan bahasa asing atau bukan.

Kemudian menurut Ya‟kub Shunu‟, bahwa sebuah drama yang di tampilkan haruslah terikat

dengan dua cabang asal drama (Prancis dan Italia) yang telah mengunjungi Mesir pada tahun

1870 M, yang di sajikan dalam bentuk komedi dan opera. Kemudian Shunu‟ membuat drama

3Alī al

-Rā‟iy, al-Masrah fī al-Wathan al-„Arabiy, (Kuwait: „Alim al-Ma‟rifah, 1979), h. 65. 4Alī al

(4)

4

sebanyak 32 macam drama, yang kebanyakan menceritakan tentang kondisi sosial Mesir pada

waktu itu. 5

Kemudian kelompok-kelompok pertunjukan Suriah dan Lebanon mulai memasuki

wilayah Mesir, dan kelompok ini sudah berkembang di Iskandariah sampai ke Mesir.

Kelompok-kelompok ini membuat novel-novel dengan menggunakan bahasa Perancis terjemahan, yang

menyuguhkan keindahan dan kenikmatan bagi para pembacanya. Lebih banyak menggunakan

bentuk-bentuk sajak dan puisi. Langkah awal yang di lakukan oleh gerakan ini adalah

pembaharuan di Mesir, sehingga orang-orang asing dapat hidup di lingkungan baru. Dan

pembaharuan di dalam drama lebih luas daripada pembaharuan di dalam cerpen, sehingga

memutuskan hubungan diantara orang-orang asing dan orang-orang mesir itu sendiri. Para

pembaharu Mesir meletakkan puisi-puisi pada drama, sampai para penonton merasa terpesona

dengan nyanyian-nyanyian yang di tampilkan seperti opera di Italia. Dan dewasa ini, banyak

drama yang di tampilkan berupa gerakan-gerakan dan nyanyian-nyanyian. Para pembaharu

banyak meniru para dramawan-dramawan Prancis Klasik seperti Roseen, Koerne dan Muller.

Kemudian orang-orang Suriah dan Lebanon yang bermukim di Mesir melakukan hal yang

serupa, seperti Salim Nuqas, Abi Khalil al-Qabbani dan Iskandar Farh. (Hal 213)

Orang-orang Mesir kemudian mengikuti jejak Suriah dan Lebanon dalam seni yang

baru ini, mereka mengembangkan aliran yang berbeda seperti aliran Abdullah „Akasyah dan

aliran Syeikh Salamah Hajazi (seorang penyanyi terkemuka) yang memperkuat drama dengan

nyanyian seperti pada aliran „Aziz „Aid yang menampilkan drama tragedi. Akan tetapi aliran ini

tidak berkembang lama sampai pada abad ke-20 George White seorang dramawan Paris datang

dengan membawa aliran baru dan mementaskan kaidah-kaidah drama yang lebih baik pada tahun

1912 M. Di tahun yang sama, para dramawan amatir membentuk sebuah kelompok bernama

Jam‟iyyah Anshar al-Tamtsil” bertujuan untuk meletakkan dasar-dasar kesenian yang benar. Kelompok ini terdiri dari Abdurahman Rusydi, Ibrahim Ramzi, Muhammad Taimur. Kemudian

Syekh Salamah Hijazi bergabung dengan George White dan mereka membentuk perkumpulan

yang baru pada tahun 1914, dua tahun setelahnya. Di tengah-tengah perang dunia pertama,

Abdurrahman Rusydi membentuk kelompok drama yang tidak berlangsung lama, kemudian

muncul Najib Raihan dengan karyanya yang berupa nyanyian dan ratapan dengan judul “Kasy

5Alī al

(5)

5

Kasy Bik” berdasarkan ketidaksetujuannya pada kekerasan, dan juga bersama Aziz Aid

membentuk kelompok yang menampilkan nyanyian pendek yang disebut Operet. Kelompok ini

secara keseluruhan menampilkan drama-drama yang diadaptasi dari barat dan mulai

menampilkan pertunjukkan dramawan-dramawan baik profesional maupun amatir yang

diadaptasi dari kisah Seribu Satu Malam dan kisah imajinatif lainnya baik dari sejarah Arab

Islam maupun cerita bentuk lokal. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan kecintaan terhadap

nasionalisme Mesir.6

B. Tokoh-tokoh Drama Mesir

Pelopor drama Arab modern di Mesir bernama Ya‟qûb Shunû‟. Dia mulai berkenalan

dengan dunia drama sejak pertunjukan drama dua kelompok drama Eropa yakni Perancis dan

Italia ketika keduanya mengunjungi Mesir pada 1870. Drama-drama yang ditampilkan

diantaranya komedi, dan opera yang membuat drama Arab terilhami kebangkitannya.

Orang-orang Arab kemudian mempelajari tooh-tokoh seperti Guldoni, Mouliere, dan Syiridan dalam

bahasa aslinya. Oleh karena itu, keberadaan Shunû‟ dan kelopoknya membentuk sebuah bentuk drama baru yakni drama musikal. Kemudian setelah itu Shunû‟ bersama para dramawan lain

mengarang drama-drama hingga jumlahnya mencapai 32. Mayoritas temanya bercerita tentang

gambaran realitas sosial masyarakat Mesir saat itu seperti fenomena perseteruan dan kelaliman di

masyarakat saat itu. Pengaruh nasionalisme dan Barat mengalir dalam drama-drama yang mereka

pentaskan.7

Kemudian Shunû‟ menggunakan setip unsur kesenian untuk menampilkan inti drama

yang berbentuk humor dalam setiap pertunjukannya, dia juga menggunakan aspek-aspek dialog

maupun peragaan, seperti penggunaan dalam drama komedi. Ya‟qub Shunû‟ mulai

menginspirasi munculnya penulis – penulis lokal Mesir. Pada tahun 1894 muncul drama Mesir

yang mengambil bentuk melodrama sosial, drama itu berjudul “Shidqul Ikhā” dan nama

pengarangnya Ismail Ashim, dimana drama ini mengungkapkan akan kemewahan dan

keglamoran hidup, juga dalam empat babaknya bercerita tentang urusan – urusan kerajaan pada

6Syauqī Dhaif,

al-Adab al’Arabiy al-Mu’āshir fī Mishr, (Kairo: Dār al-Ma‟ārif, 1961), h. 214. 7Alī al

(6)

6

saat itu, dimana terlihat jelas bahwa drama ini menceritakan Mesir. Selain itu drama ini bercerita

tentang perjuangan merebut kemerdekaan dan peradaban serta menjelaskan bagaimana

perpecahan orang – orang Mesir dapat membuat orang-orang Barat yang tamak itu dengan

mudahnya menduduki Mesir. Tujuan drama sebenarnya saat itu adalah untuk menampilkan baik

atau buruknya kehidupan sosial sang pengarang kemudian dipentaskan dalam bentuk karya dan

drama. Lalu tujuan berikutnya adalah untuk merepresentasikan aliran seni yang dianut.8

Bicara tentang drama Mesir, tidak terlepas dengan tiga tokoh berikut. Yakni, Farh Anton,

Ibrahim Ramzi, dan Muhammad Taimur. Mereka membuat drama pada tahun 1913 dengan judul

“Mesir Dulu dan Kini”. Drama ini merupakan drama sosial yang menggambarkan keburukan -keburukan sosial di sekitarnya dan membandingkannya dengan budaya barat pada masa itu.

Namun, pertunjukan ini minim akan bentuk drama. Pada tahun 1914 mereka mementaskan

drama sejarah yang berjudul “Sultan Salahuddin dan Kerajaan Yerusalem”. Drama ini sarat akan

muatan drama dan pembentukan penokohannya dan dialognya. Drama ini menggambarkan

konflik antara pahlawan muslim timur tengah para penjajah barat. Yang mempengaruhi akan

jiwa sosial dan nasionalisme. Sedangkan Ibrahim Ramzi sejak tahun 1892 M berusaha membuat

drama-drama, namun belum matang hingga dia kembali dari Inggris dan mempelajari kesenian

yang diadaptasi dari sebagian tema-tema Eropa. Meskipun drama yang berjudul “Abthal al-Manshurah” yang ditulisnya pada tahun 1915 M itu sudah lebih baik menurut kaidah drama secara keseluruhan, drama sejarah itu menampilkan bentuk kepahlawanan orang Mesir di tengah

perang Salib. Hal ini sejalan dengan Muhammad Taimur yang wafat di usia muda pada tahun

1921 M, setelah perjalanannya ke Prancis dan mendedikasikan hidupnya untuk belajar drama.

Kemudian dia berusaha untuk membangkitkan kesenian ini, dimana dia mengkritisi dan

menampilkan tak kurang dari 1004 jenis drama seperti “Burung dalam Sangkar”, “Abdu Satr Afandi”, “Jurang”, “Sepuluh Kebaikan” yang salah satunya diadaptasi dari drama Prancis, yang latar belakangnya berupa kerajaan Mesir. Dia menyadari bahwa dalam dramanya mengandung

unsur drama yang sensitif karena ditulis dengan bahasa Amiyyah.9

Pada saat terjadinnya perang dunia pertama, dia menghidupkan drama berbentuk ratapan

dan musikalisasi drama yang di adaptasi Yoseph Wahbi dramawan Italia dan mecampurkan

8Alī al

(7)

7

unsur tersebut ke dalam dramanya. Kemudian Aziz Aid dan Zaki Thalimat mencampurkan juga

ke drama-drama kelas elit. Lalu dikembangkan oleh kelompok Ramses dan diaktifkan juga oleh

kelompok George White. Buku-buku Muhammad Taimur juga banyak dikutip dalam

penyusunan drama sosial yang di populerkan oleh Anton Yazbik dengan bentuk drama radikal

seperti “Kekerasan dalam Rumahdan Pengorbanan”. Yoseph Wahbi mengkhususkan genre yang diaktifkan oleh Najib Raihan dan Ali Kisar dalam drama tragedi. Tidak sampai pada tahun

1928 M kelompok ini mengalami kemerosotan. Kemudian pemerintah mendirikan lemabaga

resmi yang berupa perguruan tinggi dram pada tahun 1934 M. Kelompok teater ini juga

mengalami kemerosotan karena munculnya bioskop.10

Pada seperempat abad ini, kebangkitan mulai terasa sejak munculnya Taufiq Hakim

yang mana belum pernah ada sebelumnya. Dia memperbaiki kaidah-kaidah dalam prosa seperti

yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi terhadap kaidah-kaidah puisi. Dia juga memperbaiki

moralitas manusia melalui drama, dan memadukan dua kebudayaan dengan esensi Mesir Arab.

Maka dari itu, bagi orang Mesir penulis drama merupakan profesi yang baik. Drama yang

disuguhkan oleh Taufiq Hakim dikenal luas sebagai drama yang menjaga aspek-aspek dasar seni

drama dan berisi tentang unsur-unsur yang menguatkan drama secara keseluruhan. Dia tidak

mengadaptasi dari penulis-penulis barat, akan tetapi memanfaatkan bakat menulisnya dan

lingkungannya serta jiwa arab Mesirnya. Tentu saja dia mendominasai penokohannya akan

filsafat abstrak dan instingnya ini berdasarkan pada realita kehidupan. Tulisan-tulisannya

mencakup filsafat hati dan akal. Filsafat Taufiq mendasar kepada iman dengan meminimalisir

akal dan kecenderungan seperti spritual yang dianut dalam kehidupan Timur dan meresap

kejiwaan mereka.11 Aspek bidang drama ini mulai diminati baik oleh kalangan akademis maupun

kalangan umum, dan yang paling di minati oleh Mahmud Taimur. Dia menulis drama pada

awalnya dengan menggunakan bahasa amiyyah seperti oleh saudaranya Muhammad, kemudian

dia mengalihbahasakan dari amiyyah ke fusha di beberapa bentuk dramanya. Mayoritas

drama-dramanya itu berkisah tentang aspek sosial di lingkungannya, dan juga mencakup kehidupan

para petani. Dia juga telah mengangkat tema sejarah Arab dalam dramanya. Dia juga selalu

dalam karyanya menyentuh ranah-ranah kemanusiaan dan juga konflik dalam dramanya selalu

berkutat anraea akal dan mental spritual.

(8)

8

Di samping itu, Taimur dan Taufik Hakim juga berperan banyak dalam perkembangan

kesenian Mesir modern. Banyak orang yang memuji hasil skill dan karya mereka berdua. Karena

mereka Mesir mampu mencapai kebangkitan seni secara matang. Maka dari itu, karya mereka

berdua banyak mempengaruhi kesusastraan besar di dunia dan juga banyak melahirkan banyak

seni dalam bentuk artikel, cerpen, drama, dan puisi drama serta diterjemahkan ke dalam berbagai

bahasa.12

(9)

9

PERKEMBANGAN DRAMA DI SURIAH

A. Sekilas Tentang Suriah

Republik Suriah sekarang dibatasi oleh Turki (utara), Irak (timur), Yordania (selatan),

Israel (barat daya), Libanon dan Laut Mediterania (barat). Luas tanahnya mencapai 185,180

Km2, penduduknya berdasarkan data tahun 1986 berjumlah 10.931.000; 59 orang per kilometer,

49% hidup di kota dan 51% di pedalaman.13

Suriah mengalami iklim Laut Tengah yang ekstrem dengan pengaruh gurun di bagian

timur dan selatan. Kira-kira sepertiga wilayah Suriah menerima lebih dari 125 mm hujan per

tahun; tetapi di sebelah barat di jalur yang melewati As-Suwayda, Damaskus, Hims, Hamah dan

Aleppo, curah hujan rata-rata 250-375 per tahun. Daerah pegunungan yang tinggi dan daerah

pantai menerima lebih dari 750 mm. musim hujan berlangsung dari September dan Mei, dan

hujan paling lebat turun pada bulan Maret. Gurun Suriah tidak terlalu kering untuk

tumbuh-tumbuhan. Pada musim semi, gurun itu tampak cerah denga bunga-bunga liar yang

berwarna-warni, tetapi ini tidak lama rumput-tumputan juga tumbuh sedikit, tetapi cukup untuk biri-biri,

kambing, dan unta. Suriah bagian barat ditumbuhi perdu yang pendek di sana-sini, dan hutannya

ditumbuhi pohon ek, pinus, cedar, zaitun liar, dan cypess (semacam cemara). Hutan lindung yang

baik terdapat di Pegunungan Ansariyah.14

B. Sosial, Budaya dan Antropologi Masyarakat Suriah

Suriah sekarang adalah bagian dari Negara-negara Arab modern yang nama negaranya

diambil dari istilah nama Negara kuno, yang dikenal sejak berabad-abad sebelum masehi,

terutama lagi pada masa kejayaan Romawi dimana wilayah ini masuk dalam kekuasaan Romawi

Timur, Byzantium. Wilayah ini menunjukkan keragaman warisan tradisi kuno dari mulai

Romawi Byzantium, Mesir Afrika, Aramaic, dan Israiliyyat sampai tradisi Arab Islam. Kesatuan

ragam budaya mereka telah dipadukan dengan proses arabisasi Islam; Umayah I di Damaskus

dan dinasti kecil Hamdaniyyah di Aleppo. Sekalipun pengaruh Turki Islam masa dinasti Usmani

13

Groiler Encyclopedia, Negara dan Bangsa, (Jakarta: Groiler International, 2003), h. 411. 14

(10)

10

cukup lama menguasai Suriah, tetapi tampaknya tidak memberi bekas yang cukup dominan

secara umum.15

Penduduk Suriah yang menggunakan bahasa Arab terdiri dari 85-90% dari keseluruhan

populasi Suriah. Bahasa Kurdi sebagai minoritas (9%), mereka juga memiliki komunitas kecil

seperti orang-orang Armenia, Circassia, Turki, dan mereka-mereka yang berbahasa Aramaic.

Minoritas-minoritas ini sebagian besar pandai dalam dua bahasa di kalangan mereka untuk

menunjukkan sebagai bagian dari Arab-nya. Dengan demikian, pembagian bahasa ini tidak

mempengaruhi integritas nasional Suriah. 85% dari orang-orang Syiria adalah muslim yang

terbagi ke dalam berbagai sekte. Kira-kira 75% orang Sunni dan yang lainnya Syiah;

Ismailiyyah, Alawites, dan kelompok Druz (perpaduan ideologi Syiah-Khawarij-Komunis) yang

baru muncul sekitar 1963. Alawites mempunyai peran penting dalam kancah politik karena

mereka menguasai militer dan partai Ba‟ath. Populasi nonmuslim terbanyak adalah Kristen

terutama Ortodok Yunani yang berpusat di Dmaskus dan Aleppo. Suriah juga terdiri dari

sekumpulan 260.000 orang pengungsi Palestina, dua pertiga dari mereka tinggal di provinsi

Damaskus.16

Penduduk berpendidikan cukup baik dalam standar Timur Tengah. Fasilitas pendidikan

di semua tingkatan telah ditingkatkan dengan baik sejak pertengahan tahun 1960-an, walaupun

buta huruf masih tersebar luas pada orang tua dan wanita di daerah-daerah pedesaan. Pelayanan

kesehatan pun ditingkatkan sebagai akibat dari kebijaksanaan pemerintah yang meningkatkan

jumlah dokter dan menyebarkan mereka dengan penuh kebijaksanaan, tetapi tidak sepadan

dengan andil rumah sakit dan personilnya yang masih berpusat di kota Damaskus saja.17

C. Situasi Politik di Suriah

Ketika penggalian di daerah Ebua ditemukan, eksistensi wilayah Syria mengindikasikan

sebagai bekas Negara besar di Millenium ketiga saat itu, di mana aktivitas sosial dan

perdagangannya berkembang dengan pesat yang menghubungkan antara aktivitas lembah

Sungai Nil dengan pusat peradaban Mesopotamia. Juga di Tell Ledia di sebelah utaranya telah

ditemukan pusat persenjataan yang cukup lengkap yang diduga persenjataan orang-orang

(11)

11

terdahulu atau mungkin para tentara zaman nabi Daud a.s., yang menunjukkan angka tahunnya

sekitar 5000 SM. Sejak penemuan itu pula akhirnya bisa dipastikan Damaskus akhirnya diklaim

termasuk sebagai kota tertua di dunia yang sekarang dijadikan sebagai ibukota Syiria.18

Pada tahun 1516, Syiria ditaklukkan oleh Sultan Selim I yang memerintah Turki Istanbul

dan akhirnya Syiria masuk sebagai bagian dari kekaisaran Ottoman sampai Perang Dunia

Pertama. Ketika nasionalisme Arab semakin kuat, oposisi mensponsori pemberontkan

Arab-Syiria terhadap Turki oleh Inggris sangat diperhitungkan sehingga terjadilah pengusiran terhadap

orang-orang Turki yang kemudian menghasilkan penegakan wilayah independen yang

dikehendaki oleh orang-orang Arab-Syiria sendiri atas dasar-dasar nasionalismenya. Ketika

tentara Inggris membagi-bagikan wilayah perbatasan Timur Tengah pusat, dan daerah-daerah

Timur Tengah sekitarnya, akhirnya telah menimbulkan Syiria dan daerah-daerah baru

membentuk Negara kesatuannya masing-masing. Perserikatan nasional-yang mungkin berada di

bawah tekanan-akhirnya menyetujui hak Perancis terhadap wilayah Syiria ada tahun 1922. Pada

tahun 1946, kemerdekaan telah tercapai setelah perjuangan yang panjang.19 Setelah peperangan

saudara di Syiria bergejolak, antara 1949 dan 1963, sering terjadi pergantian pemerintahan dan

kudeta tentara. Suriah juga hamper porak poranda akibat menangani daerah-daerah pedalaman,

tingkatan sekte, dan perpecahan ideologi. Ini merupakan manifestasi mereka dalam rentetan

konflik kekuatan dalam negeri yang sangat kompleks, sebagaimana juga terjadi di Negara-negara

yang baru muncul di dunia Islam lainnya.

D. Perkembangan Drama di Suriah

Sebagai genre kesenian dan satra yang diperagakan oleh aktor panggung, drama tidak

terlalu berkembang di dunia kesusasteraan Arab. Meskipun popularitas drama sudah naik sealma

tujuh abad yag lalu juga tidak memberi kontribusi yang berarti bagi perkembangan drama di

Suriah. Adapun pelopor drama modern yang bernama Marun al-Naqash (1917-1935), Kalil

Qabbani (1833-1902) dan lainnya menulis karya adaptasi Barat.20

18

Ajid Thohir, h. 122. 19

Ajid Thohir, h. 124. 20

Admer Gouryh, Recent Trends in Syirian Drama, artikel diunduh melalui

(12)

12

Peneliti yang tercatat memperhatikan secara khusus mengenai perkembangan drama di

Suriah adalah Adnan bin Dzaril. Hal ini didukung oleh faktor bahwa sahabat-sahabatnya

merupakan para seniman, musisi dan para penulis naskah drama dan puisi yang mayoritas

mendapatkan semangat berkarya dari Ahmad Abu Khalil al-Qabbani, yang berjuang demi

aktivitas teatrikal di Suriah dan aktivitas seni lainnya, hingga akhirnya ketetapan pemerintah

mengintervensi lapangan pertunjukan, demi memperkokoh dan memenuhi setiap sendi

kehidupan masyarakatnya pada tahun 1959. Adnan juga memperluas kesungguhan upayanya di

bidang teatrikal yang telah dimulainya pada tahun 1959, dimana pada tahun ini didirikan

lembaga kesenian yang berada di bawah komando kementerian kebudayaan dengan menyeru

seluruh pihak yang terkait dengan dunia teatrikal Suriah yang terdiri dari berbagai

macam-macam latar belakang untuk bergabung ke dalam komunitas pemula teatrikal saat itu, yang

meneliti tema-tema yang berkembang pada kelompok-kelompok teatrikal resmi Suriah.21

Adapun rincian-rincian yang dimaksud Profesor Adnan dalam bukunya “Drama Suriah,

Sejak Khalil Qabbani hingga Kini” menemukan banyak fakta mengenai kesungguhan para

seniman. Beberapa fakta itu diantaranya adalah kebangkitan dan perkembangan teatrikal tidak

akan menemui titik akhir, meskipun kesungguhan al-Qabbani saat itu belum membuahkan hasil,

namun di era berikutnya drama al-Qabbani mengalami perkembangan dan terkenal di sebagain

kalangan budayawan, ilmuwan, dan seniman Arab yang concern akan kebangkitan Arab dalam

perlbagai bidang. Misalnya dalam perkembangan drama yang berimbas munculnya drama yang

beraliran nasionalis Suriah tidak serta-merta menarik perhatian para seniman dan para pemerhati

kesusasteraan Arab disana yang beraktivitas di klub-klub dan akademi-akademi kesusasteraan

disana. Mereka juga yang berperan menjadikan dunia teatrikal Suriah menjadi dunia teatrikal

yang terpisah dari sisi komersilnya seperti yang disuguhkan pada era Qabbani dan masa setelah

kepergiannya. Mereka juga mendorong situasi dimana seorang penulis tidak merasa ketakutan

akan tulisan-tulisannya, dimana hal ini merupakan faktor keterbelakangan bagi dunia

pertunjukan di Suriah.22

Adnan juga menjelaskan dalam bukunya, bahwasanya ada satu jenis kesenian yang

beraliran teatrikal di Suriah yang dipentaskan di sebuah kafe di Karagoz bersama dengan suatu

21

Ali al-Rā‟ī, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabī, (Kuwait: Alim al-Ma‟rifat, 1979), h. 171. 22

(13)

13

tarian bagi orang-orang dermawan. Dari pentas Karakoz ini muncullah seorang seniman yang

bernama Muhammad Habib yang menampilkan bagian dari permainan dan tarian di lingkungan

kesenian Karagoz. Dia pun selalu menampilkan pertunjukan ini hingga menghilang dari kesenian

Karagoz. Terkadang dalam satu malam ia bisa menampilkan dua sampai tiga pertunjukan di dua

sampai tiga kafe yang berbeda. Hal semacam ini sebaaimana dimaksud oleh Adnan yang dikutip

dari pendapat penyair yang bernama Raghib Abu Rabbah disebabkan karena Muhammad Habib

merupakan satu-satunya orang yang mempunyai keterampilan itu di Damaskus dan setelah itu

diikuti oleh komunitas di kafe tempat berkumpulnya para pendongeng dan begitu juga di

Karakoz. Disamping itu pertunjukan ini juga untuk menyinggung konflik yang terjadi saat itu.

Selain itu pertunjukan ini juga sebagai alat untuk mengkritisi pemeritahan saat itu dan juga

kadangkala murni sebagai tarian.23

Di lingkungan Karakoz sendiri terdapat beberapa seniman drama tradisional seperti

George Dukhl yang masuk bersamaan dalam teater musikal di kafe-kafe atau pentas-pentas.

Adapun iramanya disadur dari nyanyian khususnya kasidah, tarian ala Timur serta nyanyian dari

tarian lama. Kemudian timbullah karakteristik humoris yang disuguhkan George yang berperan

sebagai pelawak. Dia jualah yang memperkenalkan kesenian tradisional Suriah ke seluruh

penjuru negeri yang menyatukan orang-orang kalangan terpelajar dan kalangan terbelakang

seraya menumbuhkan harapan mereka dalam situasi krisis saat itu, sehingga mereka dapat

terbebas dari krisis tersebut. Disamping George Dukhl, disana juga ada seniman lokal lain yang

bernama Jamil al-Urghuli yang terkenal dengan sebutan “Manusia Berbudi Luhur”. Dia juga

tercatat menyuguhkan beberapa drama komedi, seperti drama komedi keliling bayaran, dan juga

pertunjukan buduanitanya. Pertunjukan ini disuguhkan dengan kereta Suriah, permainannya

dengan kata-kata seperti gerakan mengolok-olok lalu tertawa terbahak-bahak. Terkadang Jamil

al-Urghuli menari-nari tarian yang disebut dengan tarian „Balishah‟, yaitu tarian masyarakat

kelas bawah yang menampilkan penari dari dua barisan penonton bukan dari panggung dan di

belakangnya menyerupai permainan yang menirukan gerakan orang yang tertawa.24

Seiring dengan fakta-fakta di atas, disana juga terdapat orang-orang dari bangsa Turki

yang menginvasi Suriah dari masa ke masa. Salah satu bangsa yang terkenal adalah kelompok

23

Ali al-Rā‟ī, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabī, h. 172 24

(14)

14

dari Urtughul Bek. Kelompok ini memiliki reputasi yang besar dan hanya memiliki sedikit tradisi

teatrikal. Namun dari Urtughul lah muncul semacam jenis teatrikal improvisasi dari kebiasaan

mereka dari segi gerakannya. Dan sisi humornya berasal dari ide atau gagasan jenaka yang

bersifat spontan namun tidak berlebihan. Namun pertunjukan ini perlahan lenyap setelah adanya

drama besar setelah Perang Dunia ke-2. Tak lama kemudian era Kesh Kesh Bek dari Rihan yang

menginvasi Suriah, dimana era itu mulai muncul pertunjukan seniman Hasan Hamdan yang

mempromosikan kepribadian Kesh Kesh Bek melalui pertunjukannya. Selain Hasan Hamdan

muncul juga Amin Atallah yang sealiran dengannya. Lalu ada seniman Muhammad Ali Abduh

yang mempertunjukkan melalui pementasannya kepribadian suku Barbarian. Sepanjang

demonstrasi kegiatan teatrikal yang mendominasi di Suriah pasca era al-Qabbani, Adnan tidak

banyak menyebut jurang pemisah antara drama mana yang berfilosofi drama untuk drama dan

drama untuk aspek komersial yang diadopsi para seniman yang berbeda-beda belakangan ini,

melainkan dengan jelas mengagungkan posisi drama untuk drama demi menghibur para sultan

dan disandingkan dengan tari-tarian, festival tradisional, dan ditampilkan dalam „drama adat‟

yang tidak memiliki bentuk baku.25

Selain itu jurang pemisah ini tidak akan ada apabila para seniman yang lebih terampil

muncul setelah al-Qabbani, kemudian drama Suriah juga tidak dalam posisi saduran: posisi

dimana drama tradisional Suriah lebih rendah.

Namun hal ini merupakan faktor rekonsiliasi antara seniman popular dengan

cendekiawan tidak tercapai. Hal inilah yang menjadikan faktor utama terpuruknya kegiatan

drama Suriah sepanjang tahun mulai masuknya pemerintah pada tahun 1959. Karena aktivitas

teatrikal tidak berjalan sepanjang tahun itu, praktis penulis drama yang yang menggambarkan

emosi kaumnya secara dalam dan pantas mewakili kaumnya tidak muncul. Meskipun sudah ada

penulis yang lebih dahulu eksis untuk menginspirasi sense of drama mereka, dan peka terhadap

kebutuhan akan kesenian drama bangsa Suriah.26

Berlawanan dengan Adnan, Ahmad Sulaiman al-Ahmad tidak menganggap bahwa

aktivitas drama di Suriah sebelum 1959. Dalam artikelnya di majalah al-Adab al-„Arab ia

menegaskan bahwa aktivitas drama sebelum era 60-an tidak terdapat naskah kesusasteraan yang

25

Ali al-Rā‟ī, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabī, h. 173. 26

(15)

15

ditulis untuk mengekspresikan jiwa seni mereka dalam sebuah pementasan. Lebih lanjut Ahmad

Sulaiman menyebut sejumlah drama yang ditulis di permulaan tahun 1936 ketika seorang

penyair yang bernama Abu Risyah menggubah puisi drama yang berjudul „Rayat Dzī Qār‟ yang

menjadi salah satu karya terpenting dalam khazanah drama Arab.27 Kemudian Ahmad Sulaiman

juga menyebutkan banyak drama lain yang dikarang saat itu. Dua diantaranya seperti Māmozain

(1945) dan al-Ma‟mûniyyah (1947) yang keduanya tidak dipentaskan secara teatrikal. Karena

pada saat itu, penulis naskah drama tidak memiliki kesempatan yang bagus untuk

mempertunjukkan hasil karyanya. Situasi semacam ini bertahan hingga era 60-an.28

Riyadh Ashmat menuturkan bahwa kebangkitan drama di Suriah dipelopori oleh dua

orang yakni Rafīq Shibbān dan Syarīf Khazandār. Keduanya telah mengembalikan dari drama ke versi Perancis ke versi Suriah setelah mereka dilatik oleh dua seniman besar yang bernama Jean

Louis Breau dan Jean Villar. Keduanya mempertunjukkan contoh drama yang berkembang di

dunia dan mencoba melatih dasar-dasar kesenian drama secara umum dan diwaktu yang

bersamaan masyarakat Suriah menerima akan hal ini. Kemudian Rafīq Shibbān membentuk kelompok teatrikal yang mejadi inti dari perjalanan perkembangan drama di Suriah dan diberi

nama „Nadwah al-Fikr wa al-Fann‟. Pemerintah pun tidak berpangku tangan untuk membantu wadah kesenian yang kecil ini. Ia pun mendirikan Lembaga Teatrikal Negeri pada tahun 1959

untuk menyokong kegiatan klub yang didirikan al-Shibbān. Kemudian pemerintah juga

mengirim seorang pemuda yang bernama Hānī‟ Shanubar ke Amerika untuk mempelajari seni teater disana. Setelah itu berbondong-bondong kelompok yang dikirim pemerintah Suriah untuk

mempelajari seni drama ke perguruan tinggi di Kairo itu kembali ke negeri asalnya. Faktor

inilah yang menjadikan dunia teatrikal Suriah mulai terbentuk dan menjadi pemacu semangat

para penulis naskah drama untuk menampilkan karyanya.29

Kemudian tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa salah satu penulis naskah drama

terkenal yang bernama Sa‟dallāh Wannûs yang mementaskan dramanya pada 1967 yang berjudul

Haflatu Samrin min Ajli 5 Hazīrān‟ menjadi pembuka era baru yang penting dalam dunia drama

(16)

-16

Zamān”. Lalu ia juga menulis seri drama yang terbagi ke dalam dua bagian yakni “Hikāyat Jauqatu al-Tamātsil” dan “al-Rasûl al-Majhûl fi Ma‟tam Antijûna”. Karyanya ini masih belum

banyak mengandung simbol-simbol tertentu dan masih mengambil bentuk drama Barat,

mengingat Wannûs mendapatkan pengetahuan tentang drama dari negeri Barat.30

Kemudian Wannûs menulis drama yang menjadi permulaan bentuk baru sebuah drama,

yakni bentuk drama spontanitas. Ketika mementaskan dramanya yang berjudul “Haflatu Samrin min Ajli 5 Hazīrān” yang mengikuti bentuk drama “Mughāmirah Ra‟su al-Mamlûk Jābir

dimana keduanya juga bercerita tentang pemecahan sebuah teka-teki. Pada tahun 1978, Sadallāh

Wannûs menerbitkan naskah dramanya yang berjudul “al-Mulk Huwa al-Mulk” yang mana di

dalamnya memuat hikmah seni yang memukau “Alfu Lailah wa Lailah” yang menceritakan

Harun al-Rasyid yang merasa jenuh dan memutuskan mengajak menterinya untuk berkeliling

malam. Hingga suatu saat dia mendengar seseorang berkata “Ah, jika aku seorang raja, maka aku

akan menegakkan keadilan di antara manusia dan akan melakukan ini itu dan seterusnya. Lalu

Harun al-Rasyid menjemput lelaki tersebut ke istananya dan menjadikanya khalifah dalam satu

hari… dan seterusnya. Wannûs juga mengangkat tema yang bermutu dari hikayat lain dari Alfu

Lailah wa Lailah yakni hikayat Harun al-Rasyid yang keluar bersama menterinya dan keduanya

menyamar menjadi seorang pengemis. Kemudian datanglah seorang laki-laki yang didampingi

oleh menteri dan algojo tanpa menyadari bahwa sang pengemis itu merupakan khalifah yang

sebenarnya.31

Salah satu penulis drama Suriah yaitu Mushtafa al-Hallāj yang menulis beberapa judul

seperti “al-Qatl wa al-Nadm” (1956), “al-Ghadab” (1959), “Lailī Khāshin fī Dresden” dan “ al -Darāwīs Yabhatsûna „ani al-Haqīqah” (1970). Drama yang pertama menceritakan tentang

perjuangan bangsa Tunisia dalam merebut kemerdekaannya. Sedangkan dalam drama yang

berjudul “al-Ghadab” al-Hallāj mengungkapkan perjuangan dan perlawanan bangsa Aljazair terhadap kaum penjajah Perancis. Adapun drama yang berjudul al-Darāwīs Yabhatsûna „ani al -Haqīqah (1970) pengarag mengambil tema situasi genting di pemerintahan negeri dunia ketiga. Dia juga mengungkapkan bagaimana para filsuf seperti Paul Sartre mengalami penyiksaan dan

situasi mencekam lainnya di abad ke-20. 180 Mushtafa al-Hallāj tercatat tidak terpaku pada suatu

30

Ali al-Rā‟ī, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabī, 175-176. 31

(17)

17

latar dan setting tertentu, tema yang ia ambil secara umum adalah kebebasan manusia di atas

kesewenang-wenangan.32

Penulis Suriah berikutnya yakni Mamdûh „Adwān yang menulis puisi drama “ al-Makhād”, “Muhākamatu al-Rijāl al-ladzī lam Yhārib”, “Kayfa Tarakta al-Sayf?”, “Laylu al-„Abīd”, dan drama “Hāmlat Yatiqidzhu Mutaakhiran”. Tiga judul drama terakhir cukup dikenal di kalangan seniman. Dalam drama “Kayfa Tarakta al-Syaf”, pengarang menyindir situasi politik

yang terjadi di zaman Abu Dzar al-Ghifārī dalam menegakkan keadilan dan kepedulian orang

-orang kaya terhadap -orang--orang miskin. Mamdûh juga melihat sosok Abu Dzar sebagai

manusia yang tulus, jujur dibalik sisi buruknya. Suatu saat Abu Dzar berada dalam situasi yang

mengharuskannya menyeru dengan pedang namun dia tidak melakukannya. Dari sinilah muncul

pertanyaan dalam drama “Abu Dzar, mengapa kau tanggalkan pedangmu?”. Selain itu Mamdûh juga dikenal sebagai penulis yang mengadopsi tema-tema drama kekayaan kebudayaan

Jahiliyyah, revolusi terhadap pemerintah sehingga muncul fitnah di zaman Khalifah Utsman bin

„Affan. Mamdûh juga menyuguhkan bentuk drama di dalam drama untuk menggambarkan

peristiwa fitnah yang terjadi di era Utsman bi „Affān sebagai tema utama dalam dramanya.33

32

Ali al-Rā‟ī, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabī, h. 183. 33

(18)

18

PENUTUP

Teater (drama) Arab sudah lahir sejak tahun 1847 M, yang di gagas pertama kali oleh

Marwan An-Nuqass dengan judul “al-Bakhil” yang terinspirasi oleh Muller yang ketika itu

sementara menjadi hari kelahiran teater di negeri Arab.

Drama Mesir, tidak terlepas dengan tiga tokoh berikut. Yakni, Farh Anton, Ibrahim

Ramzi, dan Muhammad Taimur. Mereka membuat drama pada tahun 1913 dengan judul “Mesir

Dulu dan Kini”. Drama ini merupakan drama sosial yang menggambarkan keburukan-keburukan sosial di sekitarnya dan membandingkannya dengan budaya barat pada masa itu.

Kebangkitan mulai terasa sejak munculnya Taufiq Hakim yang mana belum pernah ada

sebelumnya. Dia memperbaiki kaidah-kaidah dalam prosa seperti yang dilakukan oleh Ahmad

Syauqi terhadap kaidah-kaidah puisi. Dia juga memperbaiki moralitas manusia melalui drama,

dan memadukan dua kebudayaan dengan esensi Mesir Arab.

Salah satu penulis drama Suriah yaitu Mushtafa al-Hallāj yang menulis beberapa

judul seperti “al-Qatl wa al-Nadm” (1956), “al-Ghadab” (1959), “Lailī Khāshin fī Dresden” dan

“ al-Darāwīs Yabhatsûna „ani al-Haqīqah” (1970). Penulis Suriah berikutnya yakni Mamdûh

„Udwān yang menulis puisi drama “al-Makhād”, “Muhākamatu al-Rijāl al-ladzī lam Yhārib”, “Kayfa Tarakta al-Sayf?”, “Laylu al-„Abīd”, dan drama “Hāmlat Yatiqidzhu Mutaakhiran”. Tiga

judul drama terakhir cukup dikenal di kalangan seniman.

Demikianlah makalah yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok

pembahasan dalam makalah ini,namun tentunya masih banyak kekurangan dalam penyampaian

makalah ini, sebab “Tak ada gading yang tak retak.”

Pemakalah berharap semoga apa yang kami sampaikan dapat menjadi pencerah wawasan

(19)

19

DAFTAR PUSTAKA

Groiler Encyclopedia, Negara dan Bangsa, Jakarta: Groiler International, 2003.

Mauli, Betty, dkk, Sejarah Sastra Arab dalam Berbagai Perspektif Yogyakarta: Deepublish,

2015.

al-Rā‟iy,Alī, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabiy, Kuwait: „Alim al-Ma‟rifah, 1979. al-Rā‟ī, Ali, al-Masrah fī al-Wathan al-‘Arabī, Kuwait: Alim al-Ma‟rifat, 1979.

Gouryh, Admer Recent Trends in Syirian Drama, artikel diunduh melalui

http://pages.uoregon.edu/kthomas/MiddleEasternDrama/RecentTrendsInSyrianDrama-Gouryh.pdf

Redaksi Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedi Indonesia Seri Geografi; Asia, Jakarta: Ichtiar

Baru Van Hoeve, 1990.

Syauqī Dhaif, al-Adab al’Arabiy al-Mu’āshir fī Mishr, Kairo: Dār al-Ma‟ārif, 1961.

Thohir,Ajid, Studi Kawasan Dunia Islam Perspektif Etno-Linguistik dan Geopolitik, Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2009.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah melakukan analisis tentang model ini, yang dapat disimpulkan dari masalah ini adalah bahwa jika tidak adanya penambahan lahan makam disetiap tahunnya, maka

Pendidikan Nasional bertujuaan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang

UMUM BAPPEDA, LITBANG Berkas yang dikirim kurang atau salah dari persyaratan : Tidak Mengirimkan Berkas Sesuai Pengumuman PADA SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUP

Memiliki produk asuransi juga digolongkan sebagai pengalaman mengelola keuangan yang berkaitan dengan perencanaan dana pensiun, karena responden yang berpikir bahwa

suatu metodologi pemecahan masalah yang terstruktur, mulai tahapan menentukan permasalahan sampai menentukan solusi yang terkait langsung dengan penyebab permasalahan dan

Bercliri' melonrpat clen-qan keting'lian l0 cnr kedtra kaki simLrltan Bercliri: melompat diatas kaki kanan l0 kali didalarn lin-ekaran 60 CM. Beroiri: melompat diatas

Perdana menteri yang berperan sebagai pemimpin partai mayoritas dalam Majelis Rendah dan juga sebagai pimpinan (ketua) dari politisi-politisi partai yang duduk dalam badan

Dalam memberikan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kemampuan calistung bagi siswa memberikan pemahaman mengenai masalah yang dialami siswa yang tidak