• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menakar Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Menakar Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

I

:2442

-

8620

(Online)

r*..

i.

I

l

I
(2)

CAKRAWALA

PENDIDIKAN

Jurnal

Ilmiah

Pendidikan

Fenerbit:

I-:lnLraga Pengembangan dan Penjaminan

Mutu

Pendidikan (LPPMP) Universitas Negeri

\-oglrkta

\ 1 .:-: - i

Redaktur Penyelia

Desain Sampul

Sekretariat

Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro

Profl

th.

Husaini Usman

Pnof. Slamet P.H. Ph.D. Prof- t)r- S-ax-an S. Suherman Prof-

th.

Sus-arna

Prof-

Ih-

Mrmdilarto

Prof- Dr. Suharjana

Prof. Sukirno, Ph.D.

Prof. Dr. Edi Purwanta

Dr. Slamet Suyanto

Dr. Sujarwo

Amika Wardana, Ph.D.

Dr. Mukhamad Murdiono

Endah Retnowati, Ph.D.

Dr. Anwar Efendi

Dr. Agus Widyantoro

Martono, M.Pd.

Dra. Sri

Ningsih

Sri

Ayati,

S.Pd.

Ganjar Triyono, S.Pd. Darsono, S.E.

Binar Winantaka, S.Pd.

Alamat Redaksi:

LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta,

Karangmalang,

Yogyakarta,5528l,

Telp. (0274) 586168

psw

263; (0214) 550838;

F ax. (027 4) 5 5 0 8 3 8, e-mail

:

calcr aw ala@uny. ac. id.

Tulisan

yang

dimuat

di Cakrawala Pendidikan

belum

tentu

merupakan

cerminan

sikap

dan

atat

pendapat

penyunting/redaktur

. Tanggung

jawab

terhadap

isi

(3)

ISSN

:0216-1370

(Cetak)

e-ISSN

z

2442-8620

(Online)

CAKRAWALA PENDIDIKAN

Jurnal Ilmiah

Pendidikan

Juni

2015,

Th.

XXXfV,

No"

2

Cukrawala

Pendidikun

terbit tiga

kali

setahun

pada edisi Februari, Juni, dan Oktober

memuat artikel hasil penelitian pendidikan

Berdasarkan SK

Dirjen

Dikti

Kemdikbud

Nomor:

80iDikti/Kep /2012,

tatggal

13

Desernber 2012, tentang Hasil Akreditasi Terbitan Berkala

Ilmiah

Periode

II

Tahun 2012, Nama

Terbitan

Cakrawala Pendidikan,

Jurnal Itniah Pendidikan

ISSN:

0216-1370 (cetak) dan e-ISSNz 2442-8620

(online),

Penerbit Lembaga

Pengembangan dan Penjaminan

Mutu

Pendidikan

UNY,

ditetapkan sebagai Terbitan Berkala

Ilmiah

Terakreditasi

sampai dengan Desember 2017

PENERBIT

Lembaga Pengembangan dan

Peniaminan

Mutu

Pendidikan

(LPPMP)

Universitas Negeri Yogyakarta

(4)

CAKRAWALA

PENDTDIKAN

Jurnal

Ilmiah

Pendidikan

Juni

2015,

Th.

XXXIV,

No.

2

Daftar

Isi

'

web-Based cooperative

Learning,

Learning

Styles

and

Student's Learning

Outcomes

Bambang

Hariadi,

STIKOM

Surabaya

' A

Reconstruction

of

the

Thinking

of

Primary School Civics

Education

Teaching

as

Yadnya

in

the

Realization

of

Dhar.ma

Agama

and Dharma

Negara...

I

Wayan

Kertih,

Llniversitas Pendidikan Ganesha

Pengembangan Desain Pembelajaran Berbasis Penilaian dalam Pembelajaran

Matematika...

Yoppy Wahyu Purnomo, Universitas Muhammadiyah

Prof.

DR.

HAMKA

Identifikasi

Profil

Budaya organisasi yang Mendukung Implementasi Sistem

Penjaminan

Mutu

Perguruan

Tinggi...

Debby Willar,

Jerry

Lintong, dan

Revleen

Kaparang,

Politelcnik

Negeri Manado

.

Menakar Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

di

SMP

Gendon Barus, Universitas Sanata

Dharma

Yogtaknrta

.

Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah,

Guru,

Orang Tua, dan Masyarakat

dalam Membentuk Karakter Siswa...

Ahmad Suriansyah dan

Aslamiah,

Universitas Lambung

Manglatrat

Banjar-masin

1lt

Measurement

of

the

Students'

Attitude

Toward

A

Whole-Language-App-roach-Based Lecture Using Score Questionnaires

...

203-Zl0

Nizamuddin Sadiq, Universitas Islam Indonesia

'

Motivasi Belajar

sebagai

Mediator

Hubungan

Kecerdasan

Adversitas

dan

Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang

Aktif

Berorganisasi

2tr-22t

Dwi Nur

Rachmah,

Marina

Dwi

Mayangsari, dan Suhna Noor

Akbar,

Univ er s it a s L ambung

M

an gkur

at

160-170

1 71-l 81

t82-191

t92-202

222-233

111

(5)

(

i

:

L 6

i--MENAKAR HASIL

PNNDIDIKAN KARAKTER. TERINTEGRASI

DI

SMP

Gendon Barus

Universitas Sanata Dharma Yrigyakarta

email: b [email protected]

''

itrak:

Penelitian ini bertujuan -.rntuk mengevaluasi keterlaksanaan pendidikan karakter terintegrasi

-i\IP

dan mengukur capaian hasilnya. Pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi pada lima kota

-

--'-donesia belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Selain berhenti hanya peda tatarun

.:itif,

muatan nilai-nilai karakter yang diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran sifainya hanya

,:,:e1an", sekadar ditulis di Rencana Pelaksanaan Pembeiajaran, tanpa eksplisitasi kongk"et dalam

:

:iS&Iloan. Sebagian besar guru maia pelajaran yang dititipi muatan pendidikan karaktel secara

ter-.-lesi

mengalami keterbatasan kemampuan mendeskripsikan, mengatr<tualisasikan, dan

membumi-- :elaksanaan misi itu. Pada sisi 1ain, kehadiran dan peran konselor yang secara khusus dibekali

un-:3ran transmitter pendidikan

"hati"

(pendidikan karakter) tidak dilibaikan sarna sekaii,

sebagai--

-.

tampak pada sebagian besar SMP di Indonesia tidak menyediakan jam layanan bimbingan klasi-jagasan penelitian

ini

diharapkan menginspirasi kerangka kerja riitemukannya model alternatif

,'--iikan

karakter yang berorientasi pada rerbangunnya keniitraan-kolaboratif profesional amtara

-,;-or,/Guru BK dengan g-trfli firala peiajaran daiam implementasi pendidikan karakter di

sekolah"

"

r

.a Kunci: pendidikan l<arakter, bimbingan klasikal, periln komselor

\IEASURING

TI{E

RESULT CIF'THE II'ITEGRATED CHARACTER. EDUCATION

IN

JUNIOR

HIGII

SCHOOLS

'

'

ract: This study was airned to

evaluate the irnplemeniation of the character education in Junior

-

School and to measure the result. The implementation of integrated character education in Junior

-

'

>chool in several cities in Indonesia has not shown satisfactory result. It was only at thecognitive

,

ihe

contents

of

character values integrated into a variety

of

subjects were just

like

"patches".

.:e only written in a lesson plan, without realization in the imptrementation. Most of the subject

'::s

who are entrusted v,,ith the content of character education integrated into

the learning process,

-

:::ted ability to describe, actaalize, and implement the mission. On the other hand, the counsellor ' .s specifically equipped with the transmitter role of character education was not involved at all.

- ::1d be seen in most junior high schoois in Indonesia which did not provide a classical guidance

-

.

schedule. This stud.y is expected to inspire the finding of an alternative of the character

educa--, del oriented to proilessional collaborative partnership between the counsellors and teachers im-'-;-:1ng the character education.

'

-rds: churacter edacation, classroom guidance, the role otcaunsellor

]}\HII,UAN

:,.ementerian Pendidikan Nasional telah

-;

:rarrgkan grancl alesign pendidikan

ka-- ka--::uk

setiap

jalur,

jenjang, dan jenis

sa-:.-:.idikan. Grand design menjadi rujukan

:-

:i

dao operasional pengembangan,

pe--

'.:.

dan penilaian pada

setiap

jalur

dan

"

.

: endidikan. Konfigurasi karakter dalam

.

,otalitas proses psikologis dan

sosial--

:rsebut dikelompokan daiam olah hati

(spiritwal and emotional development), olah

pi-kk

(intellectual development), olah raga dan

ki-nestetik @hysical cnd kinestetic development),

dan olah rasa dan karca {affective and creativity development). Pengernbangan dan irnplemen-tasi pendidikan karakter dilakukan dengan

me-ngacu pada grand design tersebut dengan meli-batkan seluruh komponen sekolah.

Efekivitas

penolidikan karalder

terrnre-grasi yang dikemas dalnm Panduan Periidikan

222

_#

(6)

: :. :. = = = = F =. E c E E E E E E E E E F E E E E E E E E E tr E E E E E E E E E E E E E E E 223

Karaher

di

Sekolah Menengah Pertama

(Di-rektorat

Pembinaan

SMP,

Ditjenmandikdas-men, 2010) layak dipertanyakan" Berhasil, atau gagalkah? Jika berhasil, mengapa semakin ma-rak periiaku berkaralter buruk pada anak belas-an tahun ini? Jika gagal, bagian mana yang in-efektif dan apa hambatannYa?

Buchori

(20074)

mempertanyakan, apa

yang salah dengan pendidikan karakter kita?

" P endidikan watak" diformulasikan menj adi p

e-laj aran a garfla, p e laj aran kewargane g at aan., atav

pelajaran budi pekerti, YanE program utamanya

ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif

se-mata. Padahal, pendidikan karakter seharusnya

membawa peserta didik ke pengenalan nilai

se-cara kognitif, penghayatan

nilai

secara afektif,

dan akhim-va ke pengamaian nilai secara fiyata' Permasaiahannya adalah, pendidikan ka-rakter di sekolah, khususnya di SMP di seluruh tanah air selama ini baru menyentuh pada ting-katan pengenalan norma atau

nilai-nilai,

dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan

nyata dalam kehidupan sehari-hari (Suyanto,

20 1 1 : 8). Perlu dilakukan evaluasi komprehensif

tentang hal-hal seperti berikut. (1) Sejauh mana

keterlak-sanaan pendidikan karakter terintegrasi

di

SMP? (2) Hambatan-hambatan apa yang di-temukan dalam pelaksanaan pendidikan karak-ter terintegrasi di SMP? (3) Sejauh mana

capai-an hasil pendidikan karakter yang telah berlang-sung dengan sistem terintegtasi di SMP?

Permasalahari pendidikan karakter yang selama

ini

ada

di

SMP perlu segera

dikaji:

di mana kelemahannya, apa hambatannya, sebe-rapa jauh hasilnya; dan

jika

secara empirik di-ketahui belum memuaskan, maka perlu dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu

dikem-bangkan suatu model pelaksanaannya secara

lebih operasional dan efeLtif sehingga mudah

diimplementasikan

di

sekolah. Sekolah-sekolah

yang selama

ini

telah berhasil rnelaksanakan

pendidikan karakter dengan baik dapat dijadi-kan sebagai the best practices model yang

men-jadi

contoh untuk disebariuaskan

ke

sekolah-sekolah lainnYa.

Meskipun efektivitasnya masih jauh dari

hasil yang

diharapkan, kebijakan

untuk

me-mosisikan dan mernfungsikan semua guru mata

pelajaran sebagai "pengajar karakter" siswa

r

SMP tanpa melibatkan peran konselor sekola: saat

ini

masih harus terpaksa diterima sebag:' realitas (leriksa Buku Panduan Pendidikan

K:'

rakter

di

Sekolah Menengah Pertama, 201[i

Melepaskan guru dari peran sebagai agen

tran-'-mitter nilai-nilai karakter datram hal ini mema'-: sesungguhnya tidak disarankan, namun

men-i-optimalkan peran-fungsi konselor/guru

BK

s'-bagai mitra kolaboratif profesional dengan gr::-mata pelajaran dalam menjaiankan peran

tffsi

but adalah sebuah keharusan. Untuk itu, pei'-ditemukan model pelaksanaan pendidikan 'r;-rakter

di

SMP yang lehih efeldif dengan me::-fungsikan konseloriguru

BK

sebagai mitra

k--jasama profesional dengan guru mata pelaja:

-melaiui layanan bimbingan klasikal kolabor':-dengan pendekatan experiential learning se:

'-gaimana digagas dalam penelitian pengemba:5

an ini.

Penelitian

ini

bertujuan untuk

mengarl

lisis secara evaluatif tentang implementasi,

{

bagai hamb atan, darthasil-hasil pendidikan

{

rakter terintegrasi pada beberapa SMP di

rndl

nesia, sebag ai preliminary study untuk

mense{

bangkan sebuah

model

pendidikan

karatnl

yang lebih efektif dengan mengoptimalkan

{

ran konselor sekolah melalui layanan

bimbi{

an klasikal kolaboratif dengan Pendekatan

{

periential learning.Kajian ini sangat relevan

{

aklual dilaksanakan dalam koridor

ontimaB{

pelayanan BK di SMP (Permendikbud No'

t{

Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikr

20 1 3), p eningkatan profe sionalisrne guru

m'1*

ju

perbaikan mutu pendidikan dasar, schoc'

"-form movement, otafiafilipendidikan dalam

'

teks otonomi daerah, aktualisasi LtlFBS, srr': centred learning-oriented, kuatnya kebur-untuk revitalisasi nilai-nilai dalam dunia p dikan, tuntutan character education, dar' nyongsong implementasi kurikulum

20i3

''

syarat muatan pembentukan sikap dan

menuju pencapaian standar kompetensi p

didik sesuai amanah standar nasional

peni-an dalamupaya membangun manusia Ind seutuhnya dan peningkatarL daya saing

ban;*

(7)

:-.

--n:

?endidikan

Karakter Kolaboratif

Kolaborasi guru mata pelajaran dengan , ,:iselor/guru

BK

dalam mengoptimalkan

ke-.:-aksanaan dan hasil pendidikan karakter di

: l'IP di seluruh tanah air semakin mendesak

di-...:kan. Melalui layanan dasar bimbingan (satu

':-

empat komponen program BK

Komprehen-.

drharapkan sekolah dapat memadukan

pen--

-,kan intelektual dan pendidikan

nilai/karak-:r

Secor& lebih seimbang (Raybr;*y 2A04:67)

: -.

- :i_ego kebutuhan-kebufuhan p sikososial

pe-.-'

didik untuk menjamin kelancaran

tugas--..s

perkembangan dan penguatan karakter

:'di

secara

lebih

konrpreliensif harmonis,

,- . *ruh dapat lebih terlayani.

K-husus dalam korrteks pendidikan

ka--::

terintegrasi

di

SMF

ipanduan

pendi-,-.,: Karakter di Sekalah Menengah pertama,

i

yang

penyelenggaraannya dibebankan

: " : J,] gt]ru mata pelajaran, perlnasalahannya

-

.r

apakah para guru telah mengeksplisitkan

-.."n

karakter

ke

dalam pembelajaran?

Ga-.

.:- rni menawarkan suatu model pendidikan

,":rrer

di

SMP, terutama dengan

mengopti--

,

.r

keterlibatan konselor (guru BK) sebagai

-:"

kependidikan yang berbekal khusus

ke--.:

profesional

di

bidang helping profes-;-rrru BK telah dibekali kompetensi dalam -.sain dan melaksanakan program

pengem-.,:-

diri bidang-bidang pribadi, sosial,

bela-' -:r karier,

terrnasuk di dalamnya

kemahir-,,.m

mendesain dan meiaksanakan

pendi--

-

:ilai-nilai

atau pendidikan karakter

me-.

:\ anan bimbingan klasikal. Model ini

me--:an

misi

penyajian pendidikan karaker --i.rn secara kolaboratif (antara konselor/

. ,rK

dengan guru mata pelajaran) dengan

;.:

iikasikan pendekatan experiential

learn-l:iisit

kemampuan guru mata pelajaran

-

:endesain, mengoperasionalkan, dan

ex-.,-

pelaksanaan pendidikan karaker

ter-:...

dalam pembelajaran dapat diatasi

me--

, iiel kolaborasi ini.

,:rgnna

Baru

Pendidikan dan Urgensitas

:

likan

Karakter

di SMp

. :nerintah melalui Ken:enterian

pendi-:.:sional tengah menggalakkan kembali

224

pembangunan karakter bangsa. Undang-Undang

No 20 Tahun 2A03 bntang Sistem Pendidikan

Nasional pada Pasal

3,

sejatinya telah meng-amanatkan bahwa pendidikan nasional

berfung-si

mengembangkan kemampuan dan

memben-tuk karakter serta peradaban bangsa yang ber-martabat dalam rangka mencerdaskan

kehidup-an bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

naen-jadi

maousia yang beriman dan bertakwa ke-pada Tuhan Yang Maha Esa, beraHrlak mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

men-jadi

warga negara yang dernokratis serta

ber-tanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional,

jelas

bahwa pendidikan karakter

di

setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus

diselenggara-kan

secara sistematis guna mencapai tujuan

tersebut.

Pengembangan manusis sebagai mana

diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional tersebut menunjuk pada pernbentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, bereti ka, bermoral, sopan santun, menghargai

nilai-nilai kemanusiaan, dan mampu berinteraksi

de-ngan

rnasyarakat. Berdasarkan penelitian di

Harvard University Amerika

Serildt,

ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan

semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard

skill)

saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola

diri

dan orang lain (soft

sktll).pene-litian

ini

mengungkapkan bahwa kesuksesan

tnnya

ditentukan sekitar 20o/o oleh hard skitt

dan sisanya 80% oleh soft skill. Bahkag orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil

dikarena-kan lebih

banyak didukung kemampuan soft

skill

daripada hard skill (Sudrajat,

2}fi.2).

Hal

ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan ka-rakter peserta didik sangat penting untuk diting-katkan.

Peraturan Pemerintah

Nomor

17 Tahun

20 1 0 tentang Pengelolaan Penyelenggaraan

Pen-didikanpada Pasal 1 7 Ayat (3) menyebutkan bah-wa pendidikan dasar, tennasuk Sekolah

Mene-ngah Pertama

(SMP)

bertujuan membangun

landasan bagi berkembafignya potensi peserta

didik

agar menjadi manusia yang (1)

berimn

dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

Menakar Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMp

r :'

i:- --*fll'Ml .:: :-'iil[B

,:1

'"q

*l

:;ltrU

-r. : *:iS

1 *a'

: - ;llfu

(8)

)-225

(2) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (3) berilmu, cakap, kritis,

lreatif,

dan inovatif; (4) sehat, mandiri, dan percaya diri; (5) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggungjawab. Berdasarkan

hai

tersebut, jelas bahwa tujuan pendidikan

di

setiap jenjang, termasuk SMP sangat berkaitan dengan pembenfukan karakter

peserta didik.

Menyadari pentingnya karakter, dewasa

ini

banyak pihak menuntut peningkatan inten-sitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan ka-rakter pada lembaga pendidikan formal. Tun-tutan tersebut didasarkan pada i"enomena sosial yang berkem'oang,

yakni

rneningkatnya kena-kalan remaja dalam masyarakat, seperti perke-lahian massai, premanisme, tindak kekerasan, penipuan, pencurian, seks bebas, dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taruf yang sangat meresahkan. Terdapat kecenderungan bahwa emotional behavior tam-paknya meningkat di semua lapisan masyarakat kita (Astuti, 1999:93)" Oleh karena ifu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembi-naan generasi muda diharapkan dapat mening-katkan peranannya dalam pembentukan kepri-badian peserta didik melalui peningkatan

inten-sitas dan kualitas pendidikan karakter.

Tujuan Pendidikan

Karakter

di SMP

Pendidikan karal,(er berlujuan untuk

me-ningkatkan

mutu

penyelenggaraan

dan

hasil

pendidikan di sekolah yang mengarah pada pen-capaian pembentukan karakter dan akhlak

mu-lia

peserta

didik

secara utuh, terpadu, dan

se-imbang, sesuai standar kompetensi lulusan.

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta

didik

SMP mampu secara mandiri

meningkat-kan dan menggunakan pengetahuan, mengkaji

dan menginternalisasi serta mempersonalisasi

nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga

terwujud dalam perilaku sehari-hari (Suyanto, 2010:3).

Karakter dikembangkan

melalui

tahap

pengetahuan (.|*towing), pelaksanaan (acting), dan kebiasa an (habit). Dengan demikian, diper-lukan tiga komponen karaker yangbaik (com-ponents of good character), yaitu moral

lcnow-ing (pengetahuan tentang moral), moral feeling atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral.

dan

moral

action atau

perbuatan bermoral. Dimensi-dimensi yang termasuk dalam mora. knowing yang akan mengisi ranah kognitif

ada-lah kesadaran moral (moral awareness),

penge-tahuan tentang nilai-nilai mor al (l*towing m o r o.

values), penentuan sudut pandafig (perspectil €

taking), logika m.a';aI (rnoral reasoning),

kebe-ranian nrengambil sikap (.decision making),

dar-pengenalan diri (sef lcnowledge'). Moral feeling

merupakan penguatan aspek emosi peserta

di-dik

unruk menja<ii rnanusia berkarakter.

Pe-nguatan

ini

berkaitan tlengan bentukbentuk sikap yang harus dirasai<an oleh peserta didik-yaitu kesadaran akan

jati

diri (conscience), per-caya diri (self esteems, kepekaan terha;iap derita orang

lain

(.ernphaty), cinta kebenaran {loving the good). pengendalian dirt (self control), ke' rendahan hati {humility). Moral action

merupa-kan perbuatan atau tindakan moral yang me' rupakan

hasll

(outcome) dari dua komponen karakter lainnya.

Untuk memahami apa yang mendorons

seseorang dalam perbuatan yang baik (act mo'

rally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari

ka-rakler, yaitu komp et ensi ( c o mp et en c e), keingrn

-an (wil[),

dan

kebiasaan

(habit).

(Direkorat Pembinaan SMP, 2010:19-20). Tahapan

ini

se-jalan dengan pendapat Lickona (2014:74) yang mengemukakan

bahwa

komponen-komponen karakter yang baik terdiri dari tiga bagian yang saling terkait, yaitu pengetahuan tentang morai

(moral lonwing), perasaan moraT (moral

feel-ing),

dan aksi moral (moral behavior), Dalarn

kaitan itu, karakter yang baik bermula dari

rne-ngetahui kebaikail mencinfi,i atau mengingin-kan kebaimengingin-kan, dan akhirnya dengan tekad yang sungguh-sungguh orang berjuang untuk mela-kukan kebaikan.

Pelayanan bimbingan dan konseling

me-rupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Jika pendidikan karakter mendapatkan bobot perhatian serius dalam sistem pendidikan nasional, maka orientasi, tujuan, dan

pelaksana-an tsK juga seharusnya ditempatkan sehagai

ba-gian dari orientasi, tujuan dan pelaksanaan

pen-didikan karakter tersebut. Program bimbingan

(9)

/!'. .

-I

::-r:-,:

t'-r-:_:

\.- -; +

dan konseling di sekolah merupakan bagian inti

pendidikan karakter yang dilaksanakan dengan

rerbagai strategi pelayanan dalam upaya me-:rgembangkan potensi peserta didik untuk

men-:apai kemandirian, dengan

memiliki

karakter

:ribadi-sosial tangguh yang dibr:tuhkan saat ini ran masa depan"

Pekerjaan bimbingan dan konseling

ada-:h

pekerjaan berbasis

nilai,

layanan etis

nor-::tif,

dan bukan layanan bebas

nilai.

Seorang

,:onselor perlu memahami

betul

hakekat ma-.rsia dan perkembangan-nya sebagai makhluk

,:dar nilai dan perkembangannva ke arah

nor-.:tif-etis.

Seorang konselor harus memahami ..rkembangan

nilai,

natnun seorang konselor

iak

boleh memaksakan

nilai

yang dianutnya '.:oada konseli (peserla di<iik yang dilayani),

'n

tidak boleh meneladankan diri uniuk ditiru

"

,rselinya, melainkan memfasilitasi konseli

-..:uk menemukan makna

nilai

kehidupannya

Strategi pendidikan karakter melalui pe-: . rnan bimbingan dan konsetring dapat

dilaku-':

melalui: (1) layanan dasar; (2) layanan

res-:sif;

(3) perencanaan individual; dan (4) du--:-gan sistem. Strategi la-vanan dasar bimbing-merupakan

pintu

masuk

bagi

penyaluran

.

lidikan

karaker melalui proses dan

aktivi--,

:imbingan klasikal untuk membantu

peme-'-

-:n

kebutuhan semua siswa terhadap

pena-,::n

nilai-nilai

karakter. Perjumpaan

inter-- inter-- di

kelas antara konselor/guru

BK

dengan

.::irto

didik

secara rutin/teqadual sangat

di----:rkan dalam mana kesempatan

itu

sangat

:ri-na

untuk memberikan layanan preventif

--

lengembangan

diri.

Kehadiran konselor

'.:

dapat direduksi hanya sekedar untuk

me--

,.:takan layanan konseling bagi peserta didik ,-::asalah (Gysbers, 2004; Gysbers dan

Hen-,-,rr.

2000;

Sink

dan Stroh, 2003; Lapan,

, : Rowley, 2005), apalagi hanya sekedar

se--.- oenjaga tata tertib di sekolah.

r , anan

Bimbingan

Klasikal

Sebagai

Sa-.

'.n

Pendidikan

Karakter

di SMP

Layanan

bimbingan

klasikaVkelompok

'

:akekatnya memiliki fokus perhatian pada

::-:\'a

perubahan pengetahuan, sikap,

peri-226

lakq

dan nilai-nilai pada peserta yang dilayani. Kegiatan out-bound dan kegiatan pelatihan pe-ngembangan

diri

sangat kental berisi kurikulum bimbingan karakter. Semua kegiatan tersebut memuat aspek-aspek dan pelaksanaanrtya meng-ikuti prinsip-prinsip prosedur pelatihan pengem-bangan diri.

Layaran bimbingan Hasikal (classroom

guidance activities) yang dilaksanakan di dalam atau di luar kelas pada umumnya dilaksanakan

dalam satu

rangkaian kegiatan experiential

learning dengan prosedrlr: pengantar/inskulsi

tdinamika

keloryok/group

process*

refleksi pengalamanl sharing pengalaman

*perumus-an niat

(I

statemenl) untuk berubatr/perbaikan

diri. Prosedur ini bertujuan untuk mengembang-kan dimensi sosial-psikologis, keterampilan

hi-dup, Harifikasi

nilai,

dan

perubahan

sikap-perilaku individu dalam kelompok

Proses layanan bimbingan ldasikal atau bimbingan kelompok

memiliki ciri-ciri

kekhu-susan tertentu dalam pendekatan, metoda, dan

strategi penyampaiannya. Dalam layanan bim-bingan klasikal, pendekatan experiential

leam-ing

lebih ditekankan, mengingat layanan

bim-bingan

lebih

menonjol muatan aspek afetsi

(nilai,

sikap), perilaku, dan nilai-nilai karakter.

Pada layanan bimbingan klasikal, peserta ke-giatan diharapkan lebih banyak berproses, aktif,

reflektif

dan dinamis-group process or group

dynamic principles. Dalam layanan bimbingan klasikal bagi siswa SMP penekanan hasil lEbih pada aspek perubahan sikap, perilaku mandiri,

nilai-nilaikarakter,danketeranrpilarhidap(life

skills) yang mendukung pada sukses studi dan

sukses bergaul (penyesuaian diri).

METODE

Penelitian

ini

merupakan penelitian

pen-dahulun Qtreliminary

study) dari

rangtaian

penelitian pengembang an yang didesain dengan mengadopsi model research Development and Diffussion (the R,

D,

&

D

Modet) yang dikem-bangkan dengan mengikuti prosedur Educatio-nal R &

D

Cycle (Borg

&

Gall, 1983). Sebagai

fase

investigasi

awal,

desain penelitian

ini

menggunakan pendekatan deskriptif-evaluatif model mixing method. Evaluasi keterlaksanaan

Menakar Hasil Pendidikan Karaker Tenntegrasi di SMP o

i

1

(10)

227

dan

hambatan-hambatan pendidikan karakter terintegrasi

di

SMP didekati dengan cata'cara

kualitatif, sedangkan kajian hasil dan analisis

need assessment

nilai-nilai

karakter didekati

secara kuantitatif deskriPtif'

Tempat penelitian

ini

adalah beberapa

SMP

di

provinsi

DIY,

Jawa Tengah, Banten,

dan Jawa Timur, yang real punya konselor

se-koiah

dan melaksanakan pendidikan karakter

seaara terintegrasi dalam pernbelajaran. Daftar

SMP yang dilibatkan untuk penjajagan awal

adalah (1) SMP Stella Maris, Bumi Serpong D-amai, Tangerang Selatan; (2) SMP Negeri 4

Wa'

tes, Kulon Progo,

DI

Yogyakarta; (3) SMP Ne-geri 13 Yogyakarca; (a) SMP Negeri 6 Surakar-ta, Jana Tengah; dan (5) SMPK Santa Maria

II

Malang, Jawa Timur. Subjek rrenelitian

ini

ter-diri

atas Kepala Sekolah pada

5

SMP,

Konse-lor/Guru BK pada 5 SMP, Guru mata pelajaran

(4

orung dari setiap SMP), Para orang tua pe-serta didik Kelas

VII

dan

\{IIi

dari ke

5

SMP, dan Pesefia didik SMP kelas

MI

dan/atau

VIII

(N:650

orang).

Teknik pengumpulan data diperoleh

le-wat

wawancara mendalarg observasi, doku-mentasi,

focus group

discussion, daftar isian

atau angket, dan rekamproses dikenakan secara

langsung kepada para guru dan konselor

se-kolah melalui kegiatan collaborative

self-eva-luation untuk memotret kondisi awal

pra

pe-ngembangan, selama proses pengembangan,

dan akhir implementasi pengembaflgar model'

Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan

le-wat survei pendapat siswa, guru, kepala

seko-lah; observasi partisipan; pengisian kuesioner,

inventori, dan dokumentasi.

Untuk pengumpulan data penelitian

ini

digunakan berbagai instrumen. Panduan wa-wancara

untuk

mengases keterlaksanaan dan

hambatan-hambatan pendidikan karakter, skala semantic

dffirensial

untuk mengases hasil-ha-si1 pendidikan karakter terintegrasi

di

SMP, instrumen unfuk assessmen kebutuhan peserta

didik, orang tua, guru berkaitan dengan

kebu-tuhan-kebutuhan pendidikan karakter peserta

didik.

Uji

kualifikasi instrumen dilakukan

an-tar a

lain

dengan fo cus gr oup dis cus s io n, exp ert

judgment validatioru, dan

uji

reliabilitas Alpha

Cronbach. Ditemukan indeks reliabilitas 0,89' Untuk mengases keterlaksanaan, hambatan dan daya dukung pendidikan karakter terintegrasi (existing progrum)

di

SMP dikenakan analisis

kualitatif paradigma kuantitatif dengan teknik

deslaiptif yang disajkan dalam

form

matriks

model phrase malri'v, sedangkan untuk meng-analisis hasil pendidik-an karakter terintegrasi dikenakan analisirr kuantitatif

deskriptif-katego-rial

HASIL

DA]$ PEMEAHASAN

Pelaksanaan Pendidikan

Karakter

Terinte-grasi di SMF

Pada kelirca Sl'dF yang diobservasi, pen-didikan karakter tcflaksana dalam berbagai

va-riasi

sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1'

Keterlaksanaan pendidikan karakter berlang-sung dalam ragam variasi kegiatan yang ber-beda-beda pada sekolah satu dengan sekolah lainnya. Sekoiah-sekolah negeri cenderung

ha-nya

memedomani rambu-rambu peiaksanaan pendidikan karakter terintegrasi yang

dikeluar-kan

oleh pemerintah (Buku Pedoman

Pendi-dilan

Karakter

di

SMP, Direktorat Pembinaan

SMP, 2010) dengan berorientasi pada pengin' tegtasian pendidikan karakter ke dalam kegiat-an pembelajarkegiat-an

di

kelas sebagai satu-safunya

pedoman. Dalam perencanaan, setiap guru

ha-rus mencanturnkan

nilai-nilai

karakter (dipilih dari daftar 20 nilai karakter yang diprioritaskan t

yang relevan dengan pokok bahasan dalam RPP

pada setiap matapelajaran. Strategi ini, menuru: pengakuan hampir semlla guru mata pelaj menjadikan implementasi pendidikan

terhenti pada tatarun angar,-augarL Tertulis

i

dah dan rapi dalam RPP, tetapi miskin aksinya. Cara inilah yang disindir banyak

langan sebagai sistern pendidikan karakter

pelan". Kenyataan

ini

memPerkuat

Buchori QOAT), "Ungkapan character

kini

sudah klise kosong, nyaris tidak

Diucapkan para

politisi,

birokrat pendidi pemimpin organisasi pendidikan, ungkapan tidak meninggalkan bekas apa-apa."

Cakrauala Pendidikan,Iuni 2015, Th. X)(XV, No. 2

j frl{r

r{u IU

ru@

ilMm

(11)

9

rS:

- -T

l rL

_ :!- -,

als

-- "iffi -mm

: *,a;ifi.e --- tr

Tabel

1.

Pelaksanaan Pendidikan

Karakter

di SMP

Sekolah Manajemen PK Pelaksanaan PK

r"1P Ste11a

=s BSD, '-- Eerang

Terintegrasi dalam

,

12 tttlai learner

I

\ 4

Mengikuti Panduan pK. tadarus di sekolah

:'::.

dari pemerintah,

visi-

setiap pagi

.

:. hogo misi sekolah,

PK

r

Jumat bersih & sehat

tempelan di RPP, buku. Koperasi sekolah rapor kepribadian,

' \ 13

Terprogram dan

-

riarta insidental, mengikuti

pedoman PK dari

pe-merintah, PK

tempel-an di RPP,

implemen-tasi visi-misi sekolah, senyum salam sapa,

BK masuk kelas 1 jp,

film-fi1m karakter.

'

.

a

PK melalui

pembela--

:-i<

jaran, tetapi PK

tem--.-rah pelan di RPP,

pena-nganan kasus oleh BK, ada 18 "SPIRIT",

salam pagi dengan

guru piket

-

::

Enam pilar (dirancang

.

Ke 6 pilar diurai

bersama5lsekolah dalamprogram

-

Perkumpulan Dharma tahunan, tiap tahrur

-

-:

Putri, masuk RPP,

ada

tekanan bed4 mis: teamwork untuk

pro-

2014 "ketangguhan,,

gam, Sekolah Unggul

.

Tampung

keluh-sa-Berbasis Nilai, ran orangtua (kotak Spiritualitas

SPM,

masalah)

ISO 2001-2008

dari r

Tanggap masalah

Lustralia, (maks 3 hari)

.

Pembiasaan dan keteladanan

.

Doa pagr,

pembaca-an janji sisw4 mela-gukan Mars setiap

awal pelajaran pagi

.

Moving class

.

Tolon& maaf, terima kasih

.

Sabtu Solider

.

Siswa absen atau ter-lambat sekolah

menelpon

mapel tertentu,

pro-

profile

gram BK dan

ke- .

poin modifikasi giatan

spiritualitas.

perilaku

Kombinasi PK

dari .

mobile couweling pemerintah dan

visi-

.

LKDS, Reteet misi sekolah, edtrcare

.

Pendseksualitas

in caritatem, Guru BK

.

Pend Budi Pekerti

berperan

pokok. t

Moming Assenbling

r

Salampagi, doa

pagi, bacakitab suci

.

Ekskul, pramuka

r

Upacara be,lrdera

.

Peringatanhaxi-hari nasional dan agama

.

Classmeeting

r

Melayat, tilik guru/ teman sakit

.

GuruBKmasuk

kelas

.

PKmenernpel

da-Iam pembelajaran

'

Prakteknya masih

sekenanya saja

r

Tayangan film

karakter

228

Pada kasus penelitian

ini,

sekolah-seko-lah swasta nasional tampak lebih kaya dan

va-riatif

dalam ragam

aksi

implementasi pendi-dikan karakter

di

sekolah. Manajemen sekolah danparu guru di sana lebih kreatif dalam meng-eksplorasi bentuk-bentuk dan wahana imple-mentasi pendidikan karakter

di

sekolah mereka selain mengintegrasikan penanalnan nilai-nilai

karakter dalam pembelajaran mata pelajaran di latar kelas. Bentuk-bentuk dan saluran kegiatan penanalnan nilai karakter yang dipilih juga

ber-sifat

embided dalam aktivitas pesta sekolah

yang secara ftadisional dilestarikan. Untuk

men-jadi

seseorang yang berkarakter, para peserta

didik tidak harus dibawa ke suasana asing

de-.ngan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan da-dakan yang mengada-ada. Mereka membudaya-kan keberlangsungan retreet, rekoleksi, latihan kepemimpinan, perayaan ulang tahun sekolatr,

misa (ibadah) rutin bulanan, renungan pagi

se-tiap mengawali kegiatan kelas, pendidikan sek-sualitas, dan lain-lain sebagai sarana pembiasa-an. Sekolah-sekolah

ini

secara konsisten mene-gakkan semboyan, "all

for

character and then

character

for alf'.

Kenyataan bahwa pada sekolah-sekolah swasta nasional pelaksanaan pendidikan karak-ter berlangsung secara lebih bertanggung jawab dapat dipahami dalam konteks budaya moral komunitas. Bagaimana

kita

selanjutnya

memi-kirkan sekolah sebagai lingkungan moral dan

apa karakteristik lingkungan sekolah yang kon-dusif bagi perkembangan nilai dan moral. Itulah pertanyaafl yang selalu berkecamuk dalam be-r:ak para manajerial dan para guru

di

sekolah-sekolah

Katholik

Mereka menerima dan mem-beri tempat yang penuh bagi setiap peserta di-dik sebagai anggota komunitas.

Kekayaan bentuk-bentuk dan variasi ra-gam saluran pendidikan karakter yang dirnple-mentasikan pada sekolah-sekolah swasta nasio-nal dibandingkan dengan minimnya pilihan cara

penanaman nilai-nilai karakter di sekolah-seko-lah negeri juga dapat ditelusuri sebagai dampak positif pelibatan secara optimal peran guru

BK

atau konselor sekolah dalam perencanaan, pe-laksanaar5 dan pemantauan implementasi

pen-didikan karakter

di

sekolah. Peran

guru BK

Menakar Hasil Pendidikan Karakter Teriniemasi di SMp

[image:11.612.62.294.99.771.2]
(12)

<:--229

pada sekolah-sekolah negeri

tidak

dilibatkan

secara penuh dalam perencanaan dan imple-mentasi pendidikan karakter di sekolah" Hal

ini

bermula dari ketaatan membabi buta para

Inana-jerial dan stafsekolah negeri terhadap Pedoman

Pendidikan Karaker

di

SMP yang

diperintah-kan oleh

Direktorat Pembinaan

SMP

(2010)

sebagai standar minimal ketentuan pelaksanaan pendidikan karaker

di

sekolah yang

di

dalam-nya sama sekali tidak menuliskan sepenggal ka-tapun tentang keterlibatan gunr

BK

atau Kon-selor dalam pendidikan karakter di sekoiah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan

jika

dalam kasus penelitian

ini,

pada tiga SMP

ne-geri

pelaksanaan pendidikan karalder sangat

miskin dalam gagasan dan kering dalam

aksi-nya. Para guru berkilah bahwa implementasi

pendidikan karaker terintegtasi dalam pembe-lajaran dan

sulit

dalam penerapannya karena

panduan yang diberikan pemerintah untuk me-ngatur ha1

itu

sangat tidak operasional. Dalam

hal

ini,

tidak dapat disangkal sinyalemen

Su-yanto (2011) yang berkomentar bahwa

pen-didikan karakter di sekolah, khususnya di SMP

di seluruh tanah air selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau

nilai-nilai,

dan belum pada tingkatan internalisasi

dan tindakan nyata dalam kehidupan

sehari-hari. Para gurupun ramai-ramai membenarkan

bahwa

nilai

karakter yang dicantumkan dalam RPP itu masih berhenti di tataran ceramah dan memberi nasihat saja.

Hambatan Pelaksanaan Pendidikan

Karak-ter Terintegrasi di SMP

Berdasarkan data wawancara, hambatan-hambatan

umum yang dialami

oleh

kelima

SMP dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah: (1) Pedoman Pendidikan Karakter dari Direktorat Pembinaan SMP (2010) tidak opera-sional; (2) integrasi nilai karakter melalui pem-belajaran masih bersifat sekedar tempelan, sulit menerapkannya; (3) tidak tersedia alat dan cara evaluasi untuk mengukur ketercapaian karakter; (4) penanaman

nilai

karakter masih cenderung

p ada tataran kognitif/diceramahkan; (5) komit-men dan konsistensi para guru dalam menjaga sawang karakter tidak selalu sama, cenderung

rapuh; dan belum tercipta kolaborasi yang baik antara para guru dan konseloriguru

BK

dalam irnplementasi pendidikan karalder.

Takaran

llasil

Pendidikan

Karakter

Dengan menerapkan kriteria @AP): >7,0

:

Baik

6,0-6,9

:

Cukup; 5,0-5,9

:

Kurang

baik <

5,0

:

Buruk; pada skala

9,

mal<a

tet-gambar capaian hasil pendidikan karakter pada siswa kelas

VII

(N:327)

dan kelas

VIII (N:

326) pada kelima SMP ditunjukftan pada Tabel

2.

Tabel2.

Sebaran Subjek Berdasarkan

Kate'

gori Tingkat

CaPaian

Hasil

Pendi-dikan

Karakter

Kategori Kelas

VII %

Kelas

VIII

%

Buruk

Kurang Baik

Cukup Baik Baik Jumlah J 83 185 56 JZI 0,9 25,4 56,6 17,l 100 10 t42 150 24 326 ?I 43,4 45,9 17 100

Dengan menerapkan

kriteria

penilaian yang sama dengan Tabel2, tergambar distribus: capaian skor butir pendidikan karakter sebagai-mana dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel3. Sebaran Capaian Skor

Butir

Hasil

Pendidikan

Karakter

Kategori

Kelas VII

Buruk

Kurang Baik

Cukup Baik Baik Jumlah 5 10 20 15 50 5 20 16 9 50

Daftar butir pengukuran hasil karakter yang teridentifikasi capaian

pada kategori kurang baik dan buruk pada

kelas

VII

dan

MII,

misalnya

nyataan yang berbunyi sebagai berikut.

.

Saya berbohong disaat terdesak/kepepet'

r

Keteraturan waktu makan setiap hari.

r

Keteraturan saya berolahraga setiap hari.

T--..: anl tr TL VVVT\/ NT^ ' AW utf ueu mu![ mt[

5![

,uq rm@ mqftf mrEr IUrr l
(13)

&b-e+."

ILSL

:-"m

r: ; -flItrI

r.l

.

Saya menyesal

jika

melanggar tata tertib

se-kolah,

tapijika

dalam keadaan terdesak saya

melakukan hal itu (melanggar tata tertib).

'

Mengerjakan tugas piket kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

'

Mengerjakan tugas sendiri tanpa bantuan orang lain.

'

Membuat suatu hasil karya yang memiliki nilai tinggi.

Dilihat

dari hasilnya, implementasi

pen-:rdikan karaketr terintegrasi

di

SMP, efektivi-:snya belum menggembirakan. Temuan

eva--atif

secara

empirik

rnenunjukkan bahwa :5.4% dari 653 siswa SMP di 5 kota yang

dite-i masih berada pada kategori kurang baik dan :;berapa di antaranya buruk dalam capaian skor ':akternya. Hanya 12,30 dari 653 siswa

terse---:

yang masuk pada kategori baik dengan

ca-.,.an skor

7 7

pada skala stannine. Apa yang

-;nyebabkan hasil rendah ini? Selain pedoman

..-g tidak

operasional

dalam

implementasi

.:didikan

karakter terintegrasi dengan

pem-':

:iaran, para guru berhenti sekedar

"menem-;

.r,ar1" nilai karakter pada RPP tanpa aksi

nya-.

)enanarun

nilai

karakter masih berhenti

--:

tataran pengenalan kognitif dengan

cara--: Cer0fi]ilh.

Agrrng (2011:393) mensinyalir salah satu

,

.:

dari lemahnya proses pembelajaran

da--

.mplementasi pendidikan karakter

bersum--

--ari kekurangmampuan guru dalam

mencip-' -

proses pembelajaran yang mendukung.

'--sarkan

pengamatan

di

lapangan

ditegas---'.'a bahwa:

The current learning process at school does

not develop the students' creativity, particu-larly in the social studies (IPS). Many

educa-:ors are

still

implementing the conyentional

otethod in the learning process in class,

re-,iited

in

an uninteresting learning process

-;nd dominated by the teacher. The learning :,ocess implemented by most educators today

: only aimingto conclude the curriculum

ma-':rials, more to memorizing than

understan-::ng the concept. This can be seen

in

the

.aruing process in the class which is always : tminated by teachers. In conveying the ma-'=.lals, the teacher is usually using

the

lectur-':z method, which the students needs only to

230

sit, talce note, and listen to what the teacher says, and there is a little chance

for

the

stu-dents to ask

Irnplementasi pendidikan karakter belum menyentuh dimensi penghayatan

afektif

dan masih jauh dari tatxan pengamalan nilai secara

nyata dalam tindak perilaku hidup te,rpelajar

se-hari-hari. Konsep dasar yang dipergunakan

se-bagai orientasi pendidikan karakter di Indonesia

juga tidak jelas ujung pangkalnya. Dari rnana

berangkatnya dan mau ke mana pendidikan ka-rakter dibawa, landasan filosofisnya tidak mu-dah ditemukan.

Arthur

Q0ta:205) mengamati bahwa gerakan pendidikan karakter

ini

tidak

memiliki perspektif teoretis dan dasar praktek

bersama.

Penerapan sistem

poin

yang berasumsi

bahwapelanggararrpelanggarat'kejahatan'sis-wa harus dihifung, drcatat, dan ditakar sangat

tidak berakar dan tidak memanusiakan. Meng-ambil pandangan yang sepenuhnya negatifpada anak dengan menganggap bahwa anak dilahir-kan berdosa dan jahat dan tugas pendidikan un-tuk memperbaiki

ini

melalui hukuman dan

me-latih

ketaatan merupakan langkah awal

keke-liruan dalampenerapan sistem poin. Pendekatan

ini sering abstrak dan tidakbanyak menjelaskan pada guru tentang paktek pedagogis pemben-tukan karakter.

Kekurangberhasilan pendidikan karakter melalui sistem pengajaran langsung (terintegra-si) juga dapat disebabkan karena semakin

kuat-nya

relativisme

moral

masyarakat.

Praktek-praktek mafia peradilan adalah salah satu con-toh garnblang fenomena relativisme moral.

Te-levisi dan media lnassa mernpef,tontonkan

de-ngan telanjang bagaimana peflgacaru membela

seorang pembunuh agar dibebaskan dari

tuduh-an kejahatan. Akibatnya, Chapman Q01,I:L3)

menegaskan ; " Therefore, children are often con-fused and uncertain about appropriate or

inap-propriate behavior in a group seXing. Children

are raised

frotn

a young age

in

very different ways. Often,

their

views

of

what

is right

and

wrong

are

tampered

with by

the media and

other negative influences.

"

Menakar Hasil Pendidikan Karzkter Terinterasi .{i SMp

triE-d.i

(14)

231

Pada sisi lain, penyimpaflganrerwja dafi

'karakter baik' harus dilihat dalam konteks latar belakang perpecahan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan gempuran terus-menenrs tayangan kekerasan dan kenikmatan seksdi media dan internet. Dalam hal ini, Chap-man QAl,l : 13) menambahkan: "Unfortunately,

some children are never tmtght right from wrong

from

their parents. Parents are not disciplining

enough,but instead are trying to be their child's

best friend. Many parents do not recognize the importance of sound, thoughtful, and deliberate parenting choices. Thqt are afraid of upsetting

their child.

"

Sebagai akibat dari hal

ini,

semakin ba-nyak siswa yang berangkat ke sekolah dengan menunjukkan gejala kecemasan, kelabilan emo-si, dan perilaku agresif. Mereka tampaknya

ti-dak memiliki banyak keterampilan sosial dan

mengalami rendah diri. Semua inimemiliki efek umum mengurangi secara signifrkan

kemampu-an sekolah untuk mengembangkan watak karak-ter yang positif.

Sementara

itu,

teridentifikasi

25

dafi 50

butir

pernyataan

nilai

karakter (berdasarkan

skala pengukuran

hasil

pendidikan karakter

yang diterapkan dalam penelitian

ini)

yang ca-paian skornya kurang baik dan 5 butir

di

anta-ranya bahkan dalam kategori buruk. Jiwa kewi-rausahaan, kemandirian, rasa ingin tahu, patuh pada peraturan sosial, dan menghargai h,aryal

prestasi orang lain teridentifikasi sebagai 5 nilai

karakter yang capaiannya masih buruk Temuan

ini

agaknya dapat melengkapi hasil penelitian Nurgiyantoro dan Efendi Q0l3:382) yang me-nemukan nilai-nilai religius,

jujur,

cinta tanah air, peduli linglarngan, tanggung jawab, laeatif, gemar membaca, disiplin, dan mandiri sebagai

nilai

yang diprioritaskan oleh guru dalam

pe-nentuan

nilai

pendidikan karakter dalam pem-belajaran sastra di SMP. Agak mencengangkan, terdapat nilai karakter tertentu yang belum

ber-hasil dicapai oleh siswa kelas

MII

yang

ba-nyaknya hampir dua

kali lipat

dibandingkan pada siswa kelas

VII.

Artinya, dengan mening-katnya kelas, usia kognitif, dan penalaran moral tidak serta merta semakin meningkat kematang-an karakter siswa, bahkan dalam kasus

ini,

ca-paian

nilai

karakter siswa kelas

VII

lebih baik daripada capaian siswa kelas

\{III.

PENUTUP

Pelaksanaan pendidikan karakter terinte-grasi

di

SMP

di

tanah

ai

kita masih

menemu-kan banyak kendala, seperti panduan kurang operasional,

nilai

karakter dalam RPP sekedar

tempelan tanpa kongkritisasi, sistem penilaian

nilai

karakter yang belum ditemukan,

kurang-nya kesamaan komitmen dan konsistensi para

guru

dalam menegakkan

nilai-nilai

karakter,

dan

tidak

terjalinnya kolaborasi antara para

guru mata pelajarun dengan guru BK dalam im-plementasi pendidikan karakter di sekolah. Ke-adaan

ini

membar.va dampak pada efektivitas

hasil pendidikan karakter yang beium

meng-gembirakan. Beberapa nilai karakter masih

bu-ruk capaiannya. Oleh sebab itu, kehadiran kon-selor (guru BK) di SMP yang memiliki kornpe-tensi pendidikan khusus sebagai ahli perancang

dan pelaksana pendidikan nilai-nilai dan sikap

(karakter) sudah sewajarnya dilibatkan dan di-optimalkan peransertanya sebagai mitra

profe-sional

bagi

para

guru

mata pelajaran dalan:

mendesain dan melaksanakan pendidikan

ka-rakter terinte-grasi

di

kelas. Guru

BK

dalar.

masa pendidikan prajabatannya telah

dibekai-car a- cat a, strategi, pendekatan, metode p enya

m-paian, dan teknik-teknik yang spesifik yang

pa-dat nuansa psikologis dalam transformasi per-didikan karakter kepada peserta didik tentu

me-miliki

kompetensi yang unggul dalam

memfasr-litasi keterlaksanaan pendidikan karakter seca:: efektif, efisieq dan optimal.

Dibutuhkan kebijakan yang mendulc.r:; ke arah revitalisasi peran konselor tersebut ag.: para pemegang otoritas sekolah dapat mer:;-operasionalkan sinergi peran konselor dens,: para guru mata pelajaran dalam implement.=

pendidikan

karaker yang lebih

berlc.rali:=--Implementasi Kurikulum 2013 yang meletaLL: ranah sikap sebagai output yang harus

dipa'k-:

dalam

unjuk kerja

dunia pendidikan rasa:-:,' memberi tempat strategis, terhormat, dan

le:

-luas bagi penguatan peran konselor

di

seko-=

-Dengan demikian, optimalisasi pelaksanaan :

=-didikan karakter

di

sekolah haruslah

mer':l

-;l:tit ala Pendidikan,Iuni 2015. Th. XXXIV. No. 2

m

(15)

komitmen utama para konselor di sekolah,

khu-susnya pada jenjang pendidikan SMP.

UCAPAN

TERIMA KASIH

Terima kasih penulis ucapkan kepada

Di-:ektur Ditlitabmas, Ditjen Dikti, Depdiknas atas

:emberian dana penelitian Stranas tahun 2014 . ang memungkinkan berlangsungnya tahapan

::nelitian pengembangan ini. Artikel

ini

meru-::kan sepenggal kecil dari rangkaian proses dan

-'sil

penelitian

yang

dapat dikomunikasikan

:-=lalui

jurnal ini.

Terima kasih kami

sampai-'r

kepada Ketua LPPMP

UNY

dan Dewan

-

=daksi Calvawala Pendidikan yang berkenan

*.nberikan

ruang berbagi untuk

memublikasi-.:

artikel

ini

kepada khalayak akademis.

Se-- ,

*:a bermanfaat.

\TTAR

PUSTAKA

- -:-g. Leo. 2011. "Character Education Inte-gration in Social Studies Learning". HIS-TOfuIA: International Journal of History

E ducation, Vol. XII, No . 2, Dec., 392-403.

-:

1998. "Bimbingan Perkembangan:

Mo-:el

Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Jasar". Disertasi

(Tidak

Diterbitkan).

3andung: Program Pascasarjana Institut {eguruan dan Ilmu Pendidikan.

--

l.

dalam Larry P. Nucci

&

Darcia

Nar-" tez. 2014. Handbook Pendidikan Moral

.tan Karaher. Bandung:Nusa Media.

- .. Siti

L

1999. Reformasi Pendidikan

un-ruk Mengurangi Perilaku Anarki dan

Me-nuju

Masyarakat

Madani".

Caltrawala Pendidikan.

XVIII

(3), Juni,

hlrn

93-99.

= W.R.& Gall,M.D. 1983. Educational

Re-search:

An

Introduction.

New

York &

London: Longman.

-::i,

Mochtar.

2007. "Character Building

dan

Pendidikan

Kita".

http:llparamadi-ra.Word-press.com/ 2007 I 03

l04lcharac-:er-building-dan-pendidikan-kital

Diun-:uh 20 Mei2012.

232

Chapman,

A.M.

2011. "Implementing

Charac-ter

Education

into

School Curriculurn," ESSAI:

Vol.

9,

Article

11.

http://dc.cod--edr-/essai.

Gysbers, N.C.

&

Henderson, P. 2000. Develop-ing and Managtng Your School Guidance Program (3d ed.). Alexandria, VA: Ame-rican Counseling Association.

Gysbers,

N.C.

2004. 'oComprehensive Guidan-ce and Counseling Programs: The

Evolu-tion

of

Accountability".

Professional School Counseling, 8 (1),1-t4, Oct, 2004.

Lapaq R.T. 2001. "Results-Based Comprehen-sive Guidance and Counseling Programs:

A

Framework

for

Planning and Evalua-tion". Professional School Counseling, 4 (4),289-298.

Lickona, Thomas. 20L4. Pendidikan KaraWer, Panduan Lengkap Mendidik Siswa

Men-jadi

Pintar dan Baik Bandung: Nusa

Me-dia.

Nurgiyantoro, Burhan

&

Efendi, A:rwar. 2013.

"Prioritas

Penentuan

Nilai

Pendidikan

Karakter dalam Pembelajaran Sasffa Re-tnaja". Calvawala Pendidikan, Jurnal

Il-miah Pendidilcan, Th. )OO(IL Nov., hlm. 382-393.

Plomp,

T.

1999. Design Methodologt and De-velopmental Research

in/on

Education and training. Twente University. Nether-lands.

Rayburn, C.2004. "Assessing Students for

Mo-rality Education: A New Role for School

Counselors". Professional School Coun-seling,T

(5),

356-362.

Rowley,

W.J.

2005. "Comprehensive Guidan-ce and Counseling Programs Use of Gui-dance Curricula Materials:

A

Survey

of

National

Trends". Professional School

Counseling, 8 (3), 256-263.

Menalrar l{a<il DmdidiLqn V orok* Tprintamaai ;i SI\/D t!-+.

l,e.

ffi

ut@

S,Ur

!!CI@ 60.Idll

ru@

[ffi

tS

- -- a.ru[" 5H

: _--;tL

f-L!d@l'; :"{x;'illl0ll

-. - - rir!trfii : ::l'lltLtl

<r.,.. .lil0!fli

(16)

233

Sinb C.A.

&

Stroh, H.R. 2003" Raising

Achie-vement Test Scores of Early Elementary School Students through Comprehensive School Counseiing Programs".

Professio-nal

School Counseling,

6

(6),

350-357, Jun, 2003.

Sudrajat, Akhmad. 2011. "Pendidikan Karakter dalam Layanan Bimbingan dan

Konse-ling"

dalam http ://akhmad

sudrajat.word-press. com/20lll l0l 07 I Diunduh Tanggal

15 01(t 2011"

Supriyadi, Edy. 2009. "Pengembangan Pendi-dikan Karakter di SMP". Ma kal ah

Dislttsi

Pengembangan Panduan Pendidikan Ka-rakter Direktorat Pembinaan SMP

Depdik-nas.

Suyanto. 2010. Panduan Pendidikrtn Karaher

di

Sekolah Menengah Pertama. Jakarta:

Direklorat Pembinaan SMP,

Ditjenman-dikdasmen.

Winkel, W.S.

&

Hastuti, Sri. 2004. Bimbingar

dan Konseling di Institusi Pendidiknn. Ja'

karta: Media Abadi.

C,ikrau,ala Pendiilikan. Tuni 2015. Th. )fiXV. No. 2

l]l@ mm Hru

@

Gambar

Tabel 1. Pelaksanaan Pendidikan Karakter

Referensi

Dokumen terkait

Rata-rata nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan satu kilogram bahan baku jadi sebesar Rp5.232,18 per kilogram artinya setiap satu kilogram input (ubi kayu)

b) apabila semua harga penawaran atau harga penawaran terkoreksi di atas nilai total HPS, pelelangan dinyatakan gagal. 2) harga satuan yang nilainya lebih besar dari 110%

Menurut Iskandarwasid dan Sunendar (2013: 9), “Strategi pembelajaran baha- sa adalah tindak pengajaran melaksanakan rencana mengajar bahasa Indonesia.” Arti- nya, strategi

Sesuai dengan berlaku nya Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI), Akademi kebidanan Indragiri perlu

Bagi notaris yang meminta adanya persetujuan pasangan untuk jual beli saham yang termasuk dalam harta bersama, persyaratan ini mutlak diperlukan sebagai pemenuhan ketentuan

Sedangkan Pola asuh otoriter yang diterapkan oleh pengasuh terhadap anak usia dini di Panti Asuhan Samsah Kudus terbatas pada hal-hal yang sifatnya prinsip dan mempunyai

Hasil penelitian ini mendukun penelitian yang dilakukan oleh Jatmiko (2006) yang menyatakan pelayanan pembayaran berpengaruh signifikan dan positif bagi Wajib Pajak

Halaman diagnosa merupakan halaman inti dari sistem pakar diagnosa penyakit pada ayam ini terdapat pertanyaan bagi pengguna yang ingin melakukan proses diagnosa penyakit ayam