• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Jenis bahan restorasi dibidang kedokteran gigi semakin banyak tersedia dengan berbagai macam karakteristik.Perkembangan bahan restorasi kedokteran gigi dimulai ketika Bowen (1960) mengembangkan suatu jenis bahan komposit baru.2,4 Bahan restorasi resin komposit merupakan material yang sering digunakan oleh dokter gigi karena menghasilkan estetis yang baik, selain itu resin komposit memiliki ikatan yang baik antara permukaan enamel dan dentin.6 Sistem adhesif saat ini juga sangat berkembang sejalan dengan perkembangan resin komposit. Sampai saat ini resin komposit terus berkembang baik dari segi estetik, pemakaian dan pemanipulasian. Namun masalah–masalah berupa daya tahan yang kurang terhadap stress akibat penggunaan dan sensitifitas teknik yang tinggi masih menjadi kekurangan resin komposit untuk gigi posterior serta sensitivitas pasca penambalan, sulit mengadakan kontrol proksimal serta shrinkage yang tinggi akibat polimerisasi tetap menjadi kelemahan terbesar dari resin komposit.10

2.1 Resin Komposit

Resin komposit merupakan bahan yang kompleks yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu komponen organik (resin) yang membentuk matriks, bahan pengisi (filler) anorganik dan bahan interfasial untuk menyatukan resin dan filler yang disebut coupling agent.3,5,6 Selain mengandung tiga komponen utama tersebut, resin komposit juga juga mengandung pigmen warna agar resin komposit dapat menyerupai warna struktur gigi, pigmen pewarna ini digunakan dalam jumlah kecil

(2)

untuk memberikan warna yang berbeda, yang biasa digunakan adalah metal oksida seperti titanium oksida dan aluminium oksida untuk meningkatkan opaksitas resin komposit. Inisiator dan aktivator berfungsi untuk mengaktifkan mekanisme pengerasan resin komposit, photoinisiator yang biasa digunakan adalah camphorquinone dimana polimerisasi dilakukan dengan panjang gelombang penyinaran berkisar 410-500 nm.3,6,8 Pada resin komposit juga terdapat kandungan inhibitor dan stabilizer. Inhibitor merupakan agen yang berfungsi mencegah terjadi polimerisasi yang terlalu dini pada restorasi dan meningkatkan kestabilan cahaya serta meningkatkan ketahanan bahan restorasi, contoh dari inhibitor adalah butylated hydroxyltoluene.2

Matriks pada resin komposit menggunakan monomer diakrilat aromatik atau alipatik. Bisphenol-A-Glycidyl Methacrylate (Bis- GMA), Urethane Dimethacrylate (UDMA) dan Trietilen Glikol Dimetakrilat (TEGDMA) merupakan dimetakrilat yang umum digunakan dalam resin komposit (Gambar 1). Monomer ini memiliki viskositas yang tinggi, terutama Bis-GMA pada temperatur ruang (250C). Monomer ini digunakan dalam berbagai rasio yang membantu mengurangi shrinkage polimerisasi, meningkatkan kekuatan mekanis, menurunkan penyerapan air, tahan terhadap degradasi hidrolitik dan oksidatif.2

Partikel bahan pengisi ditambahkan kedalam resin matriks secara signifikan meningkatkan sifat resin . Seperti shrinkage dan penyerapan air yang berkurang karena jumlah resin sedikit, , ekspansi koefisien panas, meningkatkan sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan dan modulus elastis. Faktor-faktor penting lain yang menentukan sifat dan aplikasi klinis komposit adalah jumlah bahan pengisi yang ditambahkan, ukuran partikel dan distribusi partikel, radiopak dan kekerasan.

Beberapa contoh bahan pengisi yang sering digunakan antara lain silicon dioxide, boron silicates dan lithium aluminium silicates. Ukuran yang lebih besar dari partikel filler akan mendapatkan hasil yang lebih baik pada restorasi.2,5,28

Bahan pengikat (coupling agent) berfungsi untuk mengikat partikel bahan pengisi dengan resin matriks. Agen ini merupakan molekul dengan gugus silane pada satu ujung dan gugus metakrilat pada ujung yang lain. Adapun kegunaan yaitu untuk

(3)

meningkatkan sifat mekanis dan fisik resin serta untuk menstabilkan hidrolitik dengan pencegahan air. Ikatan ini akan berkurang ketika komposit menyerap air dari penetrasi bahan pengisi resin. Bahan pengikat yang paling sering digunakan adalah organosilanes (3-metoksi-profil-trimetoksi silane) Zirconates dan titanates juga sering digunakan.2,3,5

Gambar 1. Ikatan matriks UDMA, TEGMA dan bis-GMA2

Pembagian resin komposit berdasarkan perbandingan volume matriks resin dan bahan pengisi yang mempengaruhi daya alir resin (viskositas)

1. Resin komposit packable

Resin komposit packable disebut juga komposit condensable. Bahan restorasi ini dikembangkan dengan tujuan untuk memproduksi resin komposit yang memiliki karakteristik seperti amalgam.23 Viskositas yang tinggi pada bahan ini bertujuan agar resin komposit dapat didorong masuk pada preparasi gigi posterior dan memiliki kontrol yang baik pada kontur proksimal terutama untuk restorasi pada kavitas klas I dan II. Resin komposit packable memiliki kandungan filler berkisar 48- 65%V serta memiliki ukuran filler yang besar sekitar 0,7-20 μm. Resin komposit packable diindikasikan sebagai stress-bearing area dan untuk memudahkan pembentukan titik kontak pada restorasi dan karena memiliki karakteristik seperti amalgam resin komposit ini dapat disinari dengan ketebalan mencapai 4mm. Namun kekurangan pada resin komposit packable ini adalah susah mengadaptasikan antara

(4)

satu lapisan dengan lapisan yang lain dan kurang estetis jika digunakan pada gigi anterior.23

2. Resin komposit flowable

Bahan resin komposit flowable diperkenalkan pertama kali pada pertengahan tahun 1990 dengan indikasi sebagai bahan tumpatan dalam prosedur restorasi adhesif.22 Bahan restorasi ini diformulasikan dengan ukuran partikel yang hampir sama dengan resin komposit hybrid. Perkembangan bahan restorasi ini seiring dengan prinsip minimal invasive dentistry. Resin komposit flowable merupakan resin komposit yang memiliki viskositas yang rendah sehingga direkomendasikan sebagai basis maupun liners di bawah resin komposit hybrid untuk mendapatkan adaptasi marginal yang baik dan pengurangan stres akibat polimerisasi. Karena memiliki viskositas yang rendah resin komposit flowable disarankan untuk digunakan pada kavitas klas II yang dalam.33 Selain itu resin komposit flowable memiliki modulus elastisitas yang rendah dan dapat diaktifasi dengan sinar, resin ini mengandung dimethacrylate resin dan anorganik filler dengan ukuran 0,4-3μm.23,32,33

Resin komposit flowable juga digunakan sebagai lapisan perantara dan sebagai lapisan yang mengurangi stress pada restorasi direct komposit.

Pengaplikasian ini dilakukan karena resin komposit flowable dipercaya dapat mengurangi ketegangan saat shrinkage akibat polimerisasi dan menghasilkan integritas ikatan yang baik dengan struktur gigi. Modulus elastisitas yang rendah juga menghasilkan kemampuan regang yang cukup tinggi serta dapat menghasilkan margin restorasi yang lebih kuat. Selain itu resin komposit flowable mempunyai ketahanan terhadap fraktur yang lebih tinggi karena modulus elastisitas yang rendah.20 Penggunaan bahan bonding dan resin komposit dengan viskositas rendah diindikasikan untuk memperbaiki kekuatan perlekatan, adaptasi marginal dan intervasial resin komposit terhadap dentin.33

2.1.1 Polimerisasi Resin Komposit

Meskipun sampai saat ini resin komposit terus berkembang dengan pesat, shrinkage yang tinggi akibat polimerisasi tetap menjadi kelemahan terbesar dari resin

(5)

komposit.9,10 Proses polimerisasi terjadi melalui tiga tahapan yaitu tahap inisiasi dimana molekul yang besar terurai karena panas menjadi radikal bebas yang terjadi dengan bantuan sinar tampak, kemudian tahap propagasi dimana pada tahap ini monomer yang diaktifkan akan saling berikatan sehingga tercapai polimer dengan jumlah monomer tertentu dan tahap yang ketiga adalah terminasi dimana rantai membentuk molekul yang stabil.31

Resin komposit mengeras melalui proses polimerisasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :3,29

a. Resin diaktivasi secara kimiawi

Pada resin komposit yang diaktifasi secara kimiawi terdiri dari dua bentuk pasta. Pasta yang pertama berisi inisiator benzoyl peroxide, sedangkan pasta yang lain berisi aktivator tertiary amine. Bila kedua pasta ini dicampurkan, amine akan bereaksi dengan benzoyl peroxide dan membentuk radikal bebas sehingga mekanisme pengerasan dimulai.

b. Resin diaktivasi sinar

Pada resin komposit yang diaktifasi oleh sinar hanya terdiri dari satu pasta. Sistem pembentukan radikal bebas dalam mekanisme pengerasan terdiri atas molekul–molekul photoinisiator dan aktifator amin dan bila disinari dengan panjang gelombang yang tepat maka akan merangsang foto-inisiator untuk bereaksi dengan amine dan membentuk radikal bebas. Secara umum light curing yang pertama digunakan yaitu light cure halogen quartz tungsten dengan panjang gelombang 410- 500 nm dan intensitas berkisar 400-900 Mw/cm2 dan dilengkapi dengan filter karena intensitas sinar yang tinggi akan berbahaya bagi retina. Lalu yang kedua Light cure plasma arc (PAC) yang merupakan sinar dengan intensitas yang tinggi. Panjang sinar sekitar 450-500 nm dan intensitas lebih dari 1800 Mw/cm2 biasa digunakan untuk pengerasan komposit dengan fotoinisiator dan yang ketiga adalah light cure Emiting diode (LED) dengan panjang sinar antara 400-500 nm dan intensitas 700-1000 Mw/cm2 efektif untuk pengerasan dengan bahan fotoinisiator camphorqiunone, dimana camphorquinone ini memiliki puncak penyerapan sinar pada 469 nm. LED ini memiliki kelebihan tidak memerlukan filter, tidak mengeluarkan panas dan

(6)

memiliki waktu pemakaian yang lama. Yang terbaru adalah argon laser curing unit, sinar argon laser memiliki panjang sinar 470 nm dan intensitas 200-300 Mw dan memiliki kelebihan yaitu polimerisasi yang seragam tidak terpengaruh jarak, lebih dalam ketebalan yang mampu dicapai dan derajat polimerisasi lebih tinggi dibandingkan sinar halogen konvensional.29

Polimerisasi yang sempurna pada resin komposit tergantung pada derajat konversi dari monomer menjadi polimer. Derajat polimerisasi dari resin komposit bervariasi, shrinkage yang terjadi berkisar 2,9-7,1 % volume.12 Shrinkage yang terjadi menyebabkan gangguan perlekatan antara restorasi dan dinding preparasi atau kegagalan kohesif. Stress yang dihasilkan selama polimerisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berhubungan dengan materi, teknik, preparasi kavitas dan interaksi masing-masing faktor.12 Pertimbangan klinis yang penting mengenai efek shrinkage polimerisasi adalah c-faktor, yaitu perbandingan permukaan resin komposi yang berikatan dengan permukaan bebas. Sehingga semakin luas permukaan terikat maka kontraksi semakin besar (Gambar 2).11,21 Stress shrinkage merupakan hal yang kompleks yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti viskositas resin, kandungan filler, C-factor dan modulus elastisitas. Oleh karena itu berbagai usaha dilakukan untuk mengurangi shrinkage polimerisasi seperti teknik layering dan penggunaan resin komposit flowable karena memiliki viskositas yang rendah dan fleksibilitas yang tinggi sehingga dapat mengurangi ketegangan yang terjadi akibat shrinkage saat polimerisasi.13

(7)

Gambar 2. C-factor untuk kavitas klas I,II,III, IV dan V.11

2.2 Sistem Adhesif

Secara terminologi, adhesif adalah proses perlekatan dari suatu substansi ke substansi yang lain. Permukaan atau substansi yang berlekatan disebut adherend.

Adhesif adalah bahan yang berupa zat cair yang kental yang menggabungkan dua substansi hingga mengeras dan mampu memindahkan suatu kekuatan dari suatu permukaan ke permukaan yang lain. Bahan perekat atau bonding agent adalah bahan yang bila diaplikasikan pada permukaan suatu benda dapat melekat, dapat bertahan dari pemisahan dan dapat menyebarluaskan beban melaui perlekatan (Gambar 3).28

Faktor yang efektif untuk membentuk perlekatan yang baik adalah permukaan yang bersih, kekasaran permukaan, sudut kontak, kelembaban yang sesuai, viskositas yang rendah dan daya alir yang kuat. Penurunan integritas marjinal adhesi dapat menyebabkan celah mikro, sensitivitas pasca restorasi, lepas restorasi, patologi pulpa serta menurunkan ketahanan restorasi.27

Gambar 3. Definisi terminologi sistem adhesif28

(8)

Berdasarkan jumlah tahapan dalam aplikasi klinis, sistem adhesif dibagi atas beberapa kategori, yaitu :26

1. Total-etch adhesive system a. Three-step total-etch adhesive

Three-step total-etch adhesive terdiri dari tiga tahap aplikasi yaitu tahap etching, dilanjutkan dengan tahap priming dan tahap bonding atau aplikasi dengan resin adhesif. Bahan primer dan adhesif berada dalam keadaan terpisah (two bottle)

b. Two-step total-etch adhesive

Bahan primer dan adhesif digabung dalam satu kemasan, sehingga hanya terdiri dari dua tahap aplikasi yaitu tahap etching dan rinsing yang menggunakan bahan gabungan primer dan adhesif.

Gambar 4.Mekanisme perlekatan total-etch system. A. Aplikasi etsa asam akan menghilangkan seluruh smear layer dan membuka tubus dentin. B.

Aplikasi bahan primer (merah). C. Aplikasi bahan adhesif (hijau) akan berdifusi dalam bahan primer dan masuk dalam tubulus dentin serta membentuk resin tag.32

2. Self-etch adhesive system a. Two-step self-etch adhesive

Terdiri dari dua tahap aplikasi yaitu tahap aplikasi self-etch primer kemudian dilanjutkan dengan tahap aplikasi resin adhesif.

b. One –step self-etch adhesive

Semua unsur bahan bonding dikombinasikan dalam satu botol, sehingga hanya terdiri dari satu tahap aplikasi (single aplication). Pengembangan sistem

(9)

adhesif ini merupakan sistem adhesif yang sangat sederhana, sistem ini dikembangkan untuk mempermudah pengaplikasian dan mempersingkat waktu kerja karena tidak membutuhkan waktu yang lama, tidak membutuhkan rinsing, dan dapat diaplikasikan pada enamel dan dentin secara simultan. Sistem adhesif generasi ke-7 ini merupakan perkembangan dari sistem adhesif self-etch yang menggabungkan bahan etsa, primer dan adhesif dalam satu botol tanpa ada tahap-tahap aplikasi maupun pencampuran bahan primer dan bahan adhesif, sistem ini dikenal dengan one-step self-etch system atau single solution, contoh Promp L-Pop (3M Dental Product) dan iBond™. Sistem adhesif ini juga memiliki ikatan yang baik dan dapat diaplikasikan dengan penggunaan basis atau liner pada kavitas yang dalam.

Pada sistem adhesif total-etch, seluruh smear layer akan disingkirkan dan serat kolagen akan terpapar akibat etsa asam sehingga dapat menciptakan kondisi yang baik untuk retensi mikromekanis melalui infiltrasi monomer resin, tetapi penyingkiran seluruh smear layer dari permukaan dentin menyebabkan jaringan kolagen yang terpapar menjadi kolaps.26 Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkanlah sistem adhesif self-etch. Sistem adhesif self-etch menggunakan asam primer untuk memodifikasi smear layer, mendemineralisasi permukaan dentin dan mengekspos kolagen. Aplikasi bahan adhesif akan berikatan dengan kolagen yang terekspos dan membentuk lapisan hybrid. Selain itu, asam primer akan menginfiltrasi smear plug dan mempersiapkan jalur bagi penetrasi bahan adhesif ke dalam smear plug dan kemudian berpolimerisasi membentuk resin tag (Gambar 4).25 Oleh karena terhalang oleh smear layer, maka asam primer tidak dapat merembes lebih dalam sehingga lapisan hybrid yang terbentuk lebih pendek dan reaksi hipersensitivitas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan sistem adhesif total- etch.

(10)

Gambar 5. Mekanisme perlekatan self-etch primer A. Smear layer yang melekat pada permukaan dentin B. Aplikasi bahan primer (biru) akan berpenetrasi ke dalam smear layer dan smear plug. C. Aplikasi bahan adhesif.25

2.2.1 Perlekatan terhadap Enamel

Enamel merupakan jaringan yang paling keras pada tubuh manusia. Enamel terdiri dari 95% mineral anorganik, hidroksiapatit serta sedikit protein dan air. Pada tahun 1955 Buonocore memperkenalkan etsa asam pada enamel dengan menggunakan asam fosforik 85%. Konsep bonding dengan menggunakan etsa asam ini memodifikasi permukaan email dengan bahan yang bersifat asam. Proses etsa asam menghasilkan kekasaran mikroskopik pada permukaan email yang disebut mikroporositas. Ketika resin diaplikasikan pada permukaan enamel, resin akan melekat pada mikroporositas yang terbentuk melalui mekanisme mechanical interlocking sehingga ikatan fisik antara dental material dan email membentuk retensi mikromekanis.24,26,2 Asam dengan viskositas yang rendah akan dengan cepat berpenetrasi ke dalam miroporositas dan membentuk resin tag. Resin tag yang terbentuk antara prisma enamel disebut macrotags, sedangkan jaringan halus dari beberapa small tags terbentuk di tiap-tiap ujung rod ditempat larutnya kristal hidroksiapatit dikenal dengan microtag. Pembentukan resin mircotags dan macrotags dengan permukaan enamel merupakan mekanisme dasar dari perlekatan resin dan enamel (Gambar 6).28,29

(11)

enamel prism (rod)

Gambar 6. Scaning electron microscopy pandangan cross-sectional interface antara agen bonding enamel dengan enamel microtags diantara macrotags (A).

Gambar skematik pandanagn cross-sectional macrotags dan microtags (B).29

2.2.2 Pelekatan terhadap Dentin

Dentin berbeda dari enamel di mana dalam persen berat hanya terdiri dari 50% mineral anorganik dan lebih banyak mengandung air daripada enamel.28 Sehingga perlekatan resin terhadap dentin cenderung lebih sulit. Suatu perkembangan penting dalam bahan bonding dentin terjadi pada tahun 1978 ketika Fusayama mulai menggunakan asam fosforik 37% untuk melakukan etsa baik pada enamel maupun dentin, dimana etsa tidak hanya menyingkirkan smear layer tetapi juga mengekspos mikroporositas kolagen.4 Agen dentin bonding memiliki viskositas yang rendah sehingga mudah berpenetrasi dan membentuk hybrid layer.23,28 Penelitian lebih lanjut dari Nakabayashi menyatakan bahwa ketika bahan bonding diaplikasikan, sebagian akan berpenetrasi ke dalam mikroporus kolagen pada intertubular dentin yang dikenal

B

A

(12)

dengan penetrasi intertubular dan sebagian lain akan berpenetrasi ke dalam tubulus dentin yang disebut penetrasi intratubular. Agen bonding berpolimerisasi dengan monomer primer membentuk lapisan demineralisasi dentin dan infiltrasi monomer yan berpolimerisasi disebut dengan hybrid layer (Gambar 7).29 Kekuatan perlekatan bahan bonding yang optimal terhadap dentin maupun bahan tumpatan diperlukan agar dapat bertahan dari gaya-gaya intra oral yang dapat menyebabkan bahan restorasi terlepas dari kavitas.27

Gambar 7. SEM (Scanning Electron Micrograph) smear layer pada dentin.29 2.2.2.1 Tensile Bond Strength

Tensile bond strength atau kekuatan tarik perlekatan adalah besar beban tarik yang dapat diterima jaringan gigi dan tumpatan dihitung dengan alat uji tarik Torsee’s Electronic System Universal Testing Machine. Besar beban dalam Newton dihitung dari tumpatan dan jaringan gigi masih melekat hingga kedua komponen terlepas.

Nilai yang lebih besar memberikan gambaran tensile bond strength yang lebih baik.

Walaupun perlekatan mekanis terhadap dentin tidak dapat diperoleh dengan pengetsaan enamel oleh asam, bahan adhesif mempunyai kemampuan untuk menciptakan suatu perlekatan kimia terhadap permukaan dentin dengan penetrasi oleh resin terhadap dentin sampai terbentuk hybrid layer.

Salah satu cara untuk mengevaluasi tensile bond strength bahan kedokteran gigi adalah dengan menggunakan uji tensile bond strength. Meskipun nilai yang diperoleh tidak bersifat absolut, hasil uji tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu

(13)

untuk membandingkan efektivitas adhesi suatu bahan adhesif. Untuk menganalisa tensile bond strength suatu bahan adhesif ke substrat, harus diamati di daerah mana terjadi fraktur atau lepasnya perlekatan, jika bagian yang fraktur berada pada interface antara struktur gigi dan bahan bonding maka disebut adhesive failure dan jika bagian yang fraktur berada pada bagian adhesif atau pada substrat maka disebut cohesive failure. Oleh karena itu tensile bond strength didefinisikan sebagai beban mekanis inisial yang dapat mengakibatkan fraktur atau menghasilkan adhesive failure dan cohesive failure yang merupakan petunjuk untuk mengevaluasi kekuatan bahan bonding.15,26

2.3 Kekuatan Perlekatan pada Kavitas Klas II

Kavitas klas II merupakan kavitas yang terdapat pada permukaan aproksimal gigi posterior yang dapat mengenai bagian mesial dan distal atau hanya salah satu permukaan proksimal gigi. Kavitas pada permukaan halus atau lesi mesial dan atau distal biasanya berada di bawah titik kontak yang sulit dibersihkan.7 Salah satu masalah utama untuk merestorasi gigi posterior dengan resin komposit adalah adaptasi materi yang kurang baik pada struktur gigi, terutama pada tepi gingiva.1 Kegagalan dari sistem perlekatan sering terjadi karena terbentuk celah antara resin komposit dan jaringan gigi. Celah ini disebabkan karena kekuatan perlekatan yang kurang baik sehingga tidak mampu menahan stress dan shrinkage pada saat polimerisasi. Terjadinya celah merupakan salah satu penyebab utama kerusakan tepi sehingga terjadi kegagalan perlekatan antara resin dan dentin hingga restorasi terlepas dari kavitas .23 Resin komposit mengalami shrinkage pada saat pengerasan yang disebut sebagai pengerutan polimerisasi (polymerization shrinkage). Shrinkage polimerisasi berkaitan dengan configuration factor (C-factor).29 C-factor adalah perbandingan dari permukaan yang berikatan dan tidak berikatan pada permukaan gigi yang dipreparasi

Semakin besar C-factor semakin besar potensi kegagalan perlekatan dari efek polimerisasi. C-factor pada restorasi gigi antara 0,1-5 dengan nilai yang tinggi

>1,5. Pada kavitas klas II jumlah permukaan yang berikatan adalah 4 dan

(14)

permukaan yang bebas ada 2 sehingga nilai C-factor adalah 4:2 yang menunjukkan hanya dua permukaan yang berperan sebagai resevoir dimana kavitas klas II merupakan kavitas dengan C-factor yang tinggi sehingga memiliki potensi tinggi untuk terjadi shrinkage polimerisasi.23

Kekuatan ikat dari sistem perlekatan pada dentin gingival tidak cukup kuat untuk menahan stress yang ditimbulkan oleh shrinkage polimerisasi sehingga dapat mengurangi kerapatan resin komposit dengan gigi. Perlekatan yang kurang baik disebabkan karena daerah ini selalu basah dan cukup sulit untuk dikendalikan untuk prosedur bonding yang sempurna. berada dekat dengan daerah gingival. Setelah dipreparasi kavitas klas II, terdapat bagian email yang tidak terdukung oleh dentin.23

Shrinkage polimerisasi dapat diminimalisir dengan cara mengaplikasikan resin komposit flowable sebagai basis yang memiliki tingkat modulus yang rendah sehingga dapat melapisi setiap bagian kavitas secara lebih baik.4,10,21 Stress dan Shrinkage yang tinggi dapat menyebabkan sensitivitas pasca restorasi, celah mikro, kolonisasi mikroorganisme, karies sekunder dan gangguan perlekatan (Gambar 8).9

Gambar 8. Efek dari shrinkage polimerisasi.9 2.4 Stress Decreasing Resin

Akhir–akhir ini telah diperkenalkan Stress Decreasing Resin (SDR) yang merupakan generasi terbaru dari resin komposit.9 Stress Decreasing Resin merupakan

Keretakan Enamel

Hilangnya Perlekatan Perwarnaan Margin

Celah Mikro Karies Sekunder

Sensitifitas post restorasi

(15)

resin komposit flowable yang direkomendasikan sebagai pengganti dentin. SDR memiliki kandungan formula yang lengkap yaitu gabungan dari komponen terbaru dan konvensional (Tabel 1). SDR mengandung fluoride, diaktivasi dengan sinar dan merupakan bahan restorasi resin komposit yang memiliki sifat mampu beradaptasi dengan baik pada seluruh permukaan atau dinding kavitas. Selain itu SDR terdiri dari satu warna universal dan didesain sehingga dapat dilapisi oleh methacrylate berbasis komposit posterior untuk menggantikan bagian enamel oklusal dan fasial yang hilang. SDR juga dapat digunakan dengan berbagai sistem adhesif yang ada.20

Tabel 1. Komposisi dan fungsi spesifik kandungan bahan pada SDR.21

Komposisi Fungsi

• SDR™ patented urethane di- methacrylate resin

Shrinkage rendah,resin mengalami stress yang rendah

• Di-methacrylate resin Struktur resin

• Di- functional diluents Crosslinking resin

• Barium and Strontium alumino-fluoro- silicate glasses (68% by wt., 45% by vol.)

Kandungan Fluoride pada resin

• Photoinitiating System Visible light curing

• Colorants Warna universal pada resin

2.4.1 Kelebihan Stress Decreasing Resin (SDR)

Komposisi yang terkandung pada Stress Decreasing Resin (SDR) menyebabkan bahan ini memiliki banyak kelebihan yaitu dapat diaplikasikan dengan bulk system dengan ketebalan mencapai 4 mm, ini dikarenakan pada SDR terdapat Polymerization modulator yang merupakan struktur kimia yang memediasi foto- polimerisasi saat penyinaran dengan meningkatkan rantai cabang sehingga dapat menambah atau menyambungkan jalan sinar pada saat curing phase. SDR dapat dilakukan dengan penyinaran selama 20 detik namun tetap menghasilkan stress

(16)

polimerisasi yang minimal.9,11 Stress polimerisasi SDR lebih rendah dibandingkan resin komposit konvensional. Volume shrinkage sekitar 3,6% dan yang penting stress saat polimerisasi hanya sekitar 1,4 MPa, jika dibandingkan resin komposit flowable yang lain yaitu sekitar 4MPa.9

Pengembangan terbaru dari bahan restorasi menyebutkan bahwa efek SDR sebagai lapisan perantara di bawah resin komposit memberikan hasil yang baik.

Dalam beberapa penelitian perbandingan SDR dengan dua resin komposit flowable berbasis metakrilat menyatakan bahwa SDR memiliki tingkat shrinkage paling rendah. SDR berbeda dengan resin komposit tradisional dikarenakan SDR menggunakan teknologi Stress Decreasing Resin (SDR) sehingga SDR dapat mengurangi volum shrinkage sebesar 20% dan hampir 80% mengurangi stress polimerisasi dibandingkan dengan resin komposit tradisional.21

Selain itu teknologi terbaru dari SDR adalah kandungan urethane dimethacrylate yang berfungsi untuk mengurangi stress dan shrinkage akibat polimerisasi. Teknologi lain meliputi kombinasi unik dari struktur molekul besar dengan ikatan kimia yang disebut Polimeryzation Modulator. Polymerization modulator secara kimia tertanam ditengah SDR (Gambar 7). Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan polimeryzation modulator berinteraksi sinergis dengan foto-inisiator camphorquinone yang menghasilkan perkembangan modulus yang lebih lambat, sehingga memungkinkan mengurangi stress polimerisasi tanpa mengurangi tingkat polimerisasi atau konversi. Pada dasarnya seluruh proses foto- polimerisasi dimediasi oleh polymerization modulator terutama yang dibangun pada SDR yang memungkinkan lebih banyak rantai cabang propagasi tanpa banyak terbentuk cross-linking sehingga tidak hanya memaksimalkan derajat konversi tapi juga meminimalkan stress polimerisasi pada saat penyinaran.

(17)

Gambar 9. Ikatan kimia SDR.21

SDR diindikasikan untuk digunakan sebagai basis pada restorasi klas I dan II dan sebagai liner dibawah restorasi direct dan dapat menjadi kontraindikasi pada pasien yang memiliki reaksi alergi pada resin metacrylate atau komponen lain yang terkandung di dalam SDR.Beberapa keuntungan lain dari SDR dibandingkan dengan resin komposit konvensional adalah prosedur yang digunakan cukup mudah dimana SDR tersedia dalam bentuk kompul dan dapat diaplikasikan kedalam kavitas dengan menggunakan gun (Gambar 10)21, hemat waktu, mengurangi shrinkage akibat polimerisasi yang mampu mengurangi resiko postoperative seperti sensitivitas pasca restorasi, diskrepansi marginal, celah mikro serta terlepasnya restorasi dari kavitas.19,28,29

Gambar 10. Compule dan gun untuk aplikasi Stress Decreasing Resin (SDR)

Monomer konvensional

Monomer SDR dengan modulator

• Pembentukan stress yang rendah selama polimerisasi

• Berat molekul tinggi

• Pembentukan fleksibilitas

(18)

2.5 Kerangka Teori

Restorasi Resin Komposit Klas II

adaptasi proksimal yang sulit dan sisa enamel yang sedikit  Kekuatan bonding yang kurang baik dan tidak mampu menahan stress shringkage pada saat polimerisasi

Kekuatan perlekatan menurun

Upaya pencegahan

Sistem adhesif self-etch one-step Self-etch dengan asam primer  modifikasi smear layer,

demineralisasi dentin dan ekspos kolagen. adhesif berikatan dengan kolagen tereksposlapisan hybrid.

- SDR memiliki konsistensi yang lebih flowable (self-leveling) jadi dapat mengisi setiap celah yang ada di bagian yang di preparasi, terdapat polymerization m odulator.

Kandungan filler yang rendah membuat bahan flowable lebih mudah diaplikasikan pada permukaan preparasi sebagai bahan pelapis yang meningkatkan adaptasi dari restorasi

Aplikasi Resin Komposit Flowable sebagai Basis

 Daya alir tinggi

 Membentuk lapisan elastis  mengimbangi tekanan pengerutan

 Sebagai stress breaker

Stress Decreasing Resin RK Flowable Konvensional

Stress dan shrinkage polimerisasi

Tensile bond strength dan pola fraktur

Gambar

Gambar 2. C-factor untuk kavitas klas I,II,III, IV dan V. 11
Gambar 4.Mekanisme perlekatan total-etch system. A. Aplikasi etsa asam akan  menghilangkan seluruh smear layer  dan membuka tubus dentin
Gambar 5. Mekanisme perlekatan self-etch primer A. Smear layer yang melekat pada  permukaan dentin B
Gambar  6. Scaning electron microscopy pandangan cross-sectional interface antara  agen bonding enamel dengan enamel microtags diantara macrotags (A)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini ditandai dengan kurang pahamnya siswa dalam hal pengetahuan tentang dampak bahaya konformitas negatif, selalu konformitas negatif secara diam-diam bersama

Menurut Sugiyono ( 2016: 15) ” Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada

Sehubungan dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tojo Una-Una (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 147, Tambahan

menunjukkan angka larva uji asal Sekotong 0,97; Batu Layar 0,89 dan Pasar Seni Senggigi 0,90 dengan kriteria yang telah ditetapkan maka larva uji asal Sekotong

Koreksi kesalahan yang tidak berulang yang terjadi pada periode sebelumnya dan mempengaruhi posisi kas, apabila laporan keuangan periode tersebut belum diterbitkan,

Siswa Pelamar, menggunakan NISN dan password yang diberikan oleh Kepala Sekolah pada waktu verifikasi data di PDSS, login ke laman SNMPTN http://snmptn.ac.id untuk

Pola pemasaran produk jambu mete yang dilakukan di Desa Kila memiliki tiga saluran yakni saluran pertama yaitu petani menjual hasil jambu mete melalui

Dengan adanya indikator utang luar negeri, dapat dilihat seberapa besar rasio kemampuan sebuah negara dalam membayar kembali kewajiban utang yang dimiliki (baik pokok dan