• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL Oleh: Al Anhar, S.Pd.I, M.Pd Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL Oleh: Al Anhar, S.Pd.I, M.Pd Abstrak"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBANGUN KECERDASAN SPIRITUAL Oleh: Al Anhar, S.Pd.I, M.Pd

Email : [email protected] Abstrak

Krisis multidimensi saat ini sangat memprihatinkan, dan jika dilihat dari latar kebelakang masalahnya bermuara pada pola pembangunan SDM saat ini yang terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan materialisme, tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih lagi SQ (kecerdasan spiritual). Pendidikan Islam merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan- insan kamil setelah proses pendidikan berakhir. Dengan menanamkan pendidikan Islam yang kuat dalam diri manusia, dengan cara menancapkan keimanan yang dicapai melalui akal dan proses berfikir yang cemerlang (fikru mustanir) yaitu senantiasa melihat keberadaan sang pencipta dibalik alam semesta dan isinya, maka akan terbangun kecerdasan spiritual pada diri seseorang yang akan berpengaruh pada kepribadiannya dalam menjalankan ibadah dan beretika soaial di masyarakat.

Keywords: Pendidikan Islam Kecerdasan Spiritual

(2)

Pendahuluan

Krisis multidimensi saat ini sangat memprihatinkan, dan jika dilihat dari latar kebelakang masalahnya bermuara pada pola pembangunan SDM saat ini yang terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan materialisme, tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih lagi SQ (kecerdasan spiritual). SQ (kecerdasan spiritual) merupakan kecerdasan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan, yaitu kesadaran sepenuhnya berhubungan dengan Tuhan dalam merealisasikan nilai-nilai agama pada seluruh aspek kehidupan untuk mencapai keridhoan-Nya. Dalam hal ini perlu sebuah pondasi untuk membangun kecerdasan spiritual tersebut agar berdiri dengan kuat dan kokoh, yaitu dengan menuangkan ajaran-ajaran Pendidikan Islam secara kaffah khususnya dalam moralnya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Islam merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan-insan kamil setelah proses pendidikan berakhir.1

Dengan menanamkan pendidikan Islam yang kuat dalam diri manusia, dengan cara menancapkan keimanan yang dicapai melalui akal dan proses berfikir yang cemerlang (fikru mustanir) yaitu senantiasa melihat keberadaan sang pencipta dibalik alam semesta dan isinya, maka akan terbangun kecerdasan spiritual pada diri seseorang yang akan berpengaruh pada kepribadiannya dalam menjalankan ibadah dan beretika soaial di masyarakat.

A. Kecerdasan Spiritual

Secara konseptual kecerdasan spiritual terdiri dari gabungan kata kecerdasan dan spiritual.

“Kecerdasan berasal dari kata cerdas yaitu sempurna perkembangan akal budi untuk berfikir dan mengerti.2 Sedangkan spiritual mempunyai arti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral.”3

1 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, Hlm.16.

2 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, Hlm. 164

3 Ibid, hlm. 857

(3)

Dalam ESQ, “Keecerdasan Spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ dan SQ secara komprehensif.”4

“Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan orang berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau niali-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal pikiran manusia.”5 “Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan suatu kecerdasan yang memberi kita makna, yang melakukan kontekstualisasi dan bersifat trasformatif.”6

Menurut Danah Zohar kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan diluar ego, atau jiwa sadar.7 Sedangkan menurut Sinetar Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi, theis-ness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian.8

Danah zohar dan Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau Value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna bila dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia 9

Selanjutnya Ary Ginanjar Agustian mendefinisikan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah pada setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah SWT10

4 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ 1 Ihsan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun islam, Arga Publishing, Cet-40, Jakarta, 2007, Hlm. 13

5 Ramayulis, Psikologi Agama, Kalam Mulia, Jakarta, 2009, Hlm. 97

6 Ibid, Hlm.93

7 Agus Nggermanto, Quantum Quotient,Cara Praktis Melejitkan IQ,EQ dan SQ, Nuansa, Cet, Ke-7, Bandung, 2008, Hlm. 117

8 Ibid, Hlm. 117

9 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual ESQ, Agra, Cet.

Ke-1, Jakarta, 2001, hlm. 57

10 Ibid, Hlm. 57

(4)

Dengan demikian berarti orang yang cerdas secara spiritual adalah orang yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Illahiyah sebagai manifestasi dari aktifitasnya dalam kehidupan sehari-hari dan berupaya mempertahankan keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupannya, sebagai wujud dari pengalamannya terhadap tuntutan fitrahnya sebagai makhluk yang memiliki ketergantungan terhadap kekuatan yang berada diluar jangkauan dirinya yaitu Sang Maha Pencipta dan selalu menyerahkan segala urusan hidupnya hanya kepada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam surat Al An’aam ayat 162:





















Artinya : Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS. Al An’aam : 162).11

Kebutuhan akan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan keyakinan, mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, serta untuk meyeimbangkan kemampuan intelektual dan emosional yang dimiliki seseorang, sehingga dengan kemampuan ini akan membantu mewujudkan pribadi manusia seutuhnya.

B. Hakikat Pendidikan Islam

Islam merupakan agama yang didalamnya terdapat petunjuk Ilahi serta mengandung implikasi kependidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia menjadi seorang mukmin, muslim, muhsin, dan muttaqin melalui proses tahap demi tahap. Islam sebagai ajaran mengandung system nilai dimana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten oleh manusia untuk mencapai tujuan.

“Pada garis besarnya, prinsip dasar agama Islam terdiri dari dua pilar. Pertama adalah niali-nilai spiritual tauhid, sedangkan yang kedua adalah nilai-nilai keadilan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.”12

“Esensi dari potensi dinamis dalam setiap diri manusia itu terletak pada keimanan atau keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlaq (moralitas) dan pengalamannya. Keempat potensi esensial diatas merupakan tujuan fungsional pendidikan islam.”13

11 Departemen Agama RI, Al Qur’an da Terjemahnya, Diponegoro, 2006, hlm. 119

12 M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era Multi Kultural Multi Religius, PSAP Muhammadiyah, Jakarta, 2005, hlm. 35

(5)

Konsepsi spiritual tauhid dalam Islam mengilhami dan menuntut para pengikutnya untuk meniru dan mempraktekkan sedapat-dapatnya sifat-sifat tuhan yang maha baik, maha pengasih, maha adil, dan seterusnya dalam kehidupan sehari-hari (Takhallaqu bi-akhlaq-i-Allah).14

Secara ideal, doktrin tauhid islam mengimplikasikan makna “kesatuan” dalam berbagai bidang kehidupan umat manusia. Kesatuan tujuan dan makna agama-agama, kesatuan ras dan kulit, kesatuan bahasa, kesatuan etnis, kesatuan budaya dan seterusnya. Spiritual tauhid sesungguhnya sangat bersifat toleran terhadap berbagai perbedaan yang melekat dalam budaya umat manusia.15

Berdasarkan penjelasan diataas dapat penulis pahami bahwa dalam strategi pendidikan islam, keempat potensi dinamis yang esensial dan kedua prinsip dasar agama islam tersebut menjadi titik pusat dari lingkaran proses kependidikan islam sampai kepada tercapainya tujuan akhir pendidikan dan merupakan hakikat pendidikan islam yang ingin mencetak manusia yang dewasa, mukmin, muslim, muhsin, mukhlisin, muttaqin dan walaupun memiliki keberagaman dalam masyarakat tetap memiliki interaksi sosial yang baik dilingkungan masyarakat.

C. Membangun Kecerdasan spiritual

Diatas telah dijelaskan bahwa orang yang ber-SQ tinggi mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Illahiyah sebagai manifestasi dari aktifitasnya dalam kehidupan sehari-hari serta mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialami. Dengan memberi makna yang positif, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif dalam interaksi sosial. Karena begitu pentingnya makna kecerdasan spiritual (SQ) tentunya tidak akan lepas dari bagaimana cara dalam membangun kecerdasan spiritual (SQ) dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengoptimalisasikan atau memfungsikan kecerdasan spiritual dapat dengan upaya sebagai berikut :

a. Menggunakan aspek spiritual dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan makna dan nilai.

13 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoretis da Praktis berdasarkan pendekatan Interdisipliner Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta, 2006, hlm. 22

14 M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era Multi Kultural Multi Religius, PSAP Muhammadiyah, Jakarta, 2005, hlm.36

15 Ibid, hlm. 37-38

(6)

b. Dengan melalui pendidikan agama

c. Melatih diri untuk melihat sesuatu dengan mata hati.16

Perubahan SQ dari yang rendah ke yang lebih tinggi melalui beberapa langkah utama sebagai berikut :

Langkah 1 : kita harus menyadari dimana kita sekarang, langkah ini akan menuntut kita untuk menggali kesadaran diri, yang pada gilirannya menuntut kita menggali kebiasaan merenungkan pengalaman.

Langkah 2 : jika renungan kita mendorong kita untuk merasa bahwa kita, pelaku, hubungan, kehidupan, atau hasil kerja kita dapat lebih baik, kita harus ingin berubah, berjanji dalam hati untuk berubah.

Langkah 3 : kini dibutuhkan tingkat renungan yang lebih mendalam. Kita harus mengenali diri sendiri, letak pusat kita dan motivasi kita yang paling dalam.

Langkah 4 : apakah penghalang yang merintangi kita? buatlah daftar hal-hal yang menghambat dan mengembangkan pemahaman tentang bagaimana kita dapat menyingkirkan penghalang-penghalang ini.

Langkah 5 : praktik atau disiplin apa yang harus kita ambil? Jalan apa yang seharusnya kita ikuti? Komitmen apa yang akan bermanfaat? Pada tahap ini kita perlu menyadari berbagai kemungkinan untuk bergerak maju.

Langkah 6 : kita harus menetapkan hati pada satu jalan dalam kehidupan dan berusaha menuju pusat sementara kita melangkah dijalan itu.

Langkah 7 : sementara kita melangkah di jalan yang kita pilih sendiri, tetaplah sadar bahwa masih ada jalan-jalan yang lain. Hormatilah mereka yang melangkah di jalan-jalan tersebut.17

16 Http:// www. Masbow.com/ Kecerdasan Spiritual. Html, 17/06/2021

17 Agus Nggermanto, Quantum Quotient,Cara Praktis Melejitkan IQ,EQ dan SQ, Nuansa, Cet, Ke-7, Bandung, 2008, Hlm.143-147

(7)

Sedangkan Menurut Ary Ginanjar Agustian dimensi spiritual (SQ) dibentuk oleh ihsan, dimensi mental (EQ) di bangun oleh 6 prinsip rukun iman (The Principle Of Faith) sedangkan aktivitas fisik dibimbing, diarahkan dan dikendalikan oleh 5 langkah rukun islam (The Principle Of Islam).18

Kemudian langkah-langkah yang ditawarkan oleh ary Ginanjar untuk dapat mengembangkan Emotional Spiritual Question (ESQ) dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Zero Mind Process (proses pengosongan diri), yaitu berusaha mengungkapkan

belenggu-belenggu pikiran dan mencoba mengidentifikasi paradigma itu. Sehingga dapat dikenali apakah paradigm tersebut telah mengkrangkeng pikiran. Jika hal itu ada, diharapkan dapat diantisipasi lebih dini sebelum menghujam kedalam benak. Hasil akhir yang diharapkan adalah lahirnya alam berfikir jernih dan suci, atau saya menamakannya God-Spot atau Fitrah, yaitu kembali pada hati dan pikiran yang berrsifat merdeka serta bebas dari belenggu.

2. Mental Building, kesadaran diri, yaitu arti pentingnya alam pikiran. Dijabarkan cara membangun alam pikir dan emosi secara sistematis berdasarkan Rukun Iman.

3. Personal Strength (ketangguhan pribadi), yaitu suatu langkah pengasahan hati yang telah terbentuk. Ini dilaksanakan secara berurutan dan sangat sistematis berdasarkan Rukun Islam.

4. Social strength (ketangguhan sosial), yaitu pembentukan dan pelatihan untuk melakukan aliansi, atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya.

Ini merupakan suatu perwujudan tanggung jawab sosial seorang individu yang telah memiliki ketangguhan pribadi diatas.19

Spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, dan moral yang akan memberikan arah dan arti pada kehidupan. Hidup menjadi lebih hidup, indah dan bergairah karena manusia memiliki hati dan pemikiran yang jernih. Setelah berhasil mengenali dan mengendalikan belenggu pikiran, yang selama ini menutupi potensi ihsan, maka hati menjadi jernih kembali. Inilah hasil dari Zero Mind Process (proses

18 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power Sebuah Inner journey melalui Al Ihsan, Agra, Jakarta, 2003, hlm. XII

19 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual ESQ, Agra, Cet.

Ke-1, Jakarta, 2001, hlm. Iv-Ivi

(8)

pengosongan diri). Kemudian dengan menanamkan nilai-nilai spiritual dan prinsip mental tauhid akan melahirkan mental building yang terbebas dari penyakit jiwa sehingga menjadi sosok yang berkepribadian tangguh (personal strength) serta makhluk sosial yang tangguh pula, maka out put yang dihasilkan adalah tingkat SQ dan EQ yang tinggi yang tercermin melalui akhlakul karimah.

Kemudian Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power Sebuah Inner Journy melalui Al ihsan” menitik beratkan ESQ pada esensi Ihsan atau pusat orbit yang berisikan drive dan value. Seperti kata Rasulullah SAW bahwa ihsan merupakan kristalisasi dari aspek pengabdian yang dilandasi oleh kearifan, “beribadahlah engkau seolah-olah engkau melihat-Nya sekiranya engkau tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia senantiasa memperhatikanmu”.20

Yang dimaksud proses ihsan dalam ZMP ini adalah sebuah usaha untuk menembus belenggu hitam yang menutupi God Spot atau fitrah kita, sehingga kita mampu melakukan Taqarrub, pendekatan atau Approach pada nilai-nilai Ilahiah yang terdapat dalam fitrah diri manusia.21 dan hasilnya luar biasa. Firman Allah :

















































Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran : 110)22

Good Corporate Governance, sebenarnya adalah sebuah upaya perusahaan untuk mendekati garis orbit menuju pusat spiritual seperti Transparency (keterbukaan), responsibilities (bertanggung jawab), accountabilities (kepercayaan), Fairness (keadilan) dan social awarenees (kepedulian sosial). Sikap kejujuran, bertanggung jawab, bias

20 Ibid, hlm. 43-44

21 Ibid, hlm. 131-132

22 Departemen Agama RI, Al Qur’an da Terjemahnya, Diponegoro, 2006, hlm. 50

(9)

dipercaya dan diandalkan serta kepekaan terhadap lingkungan ssosial, itulah yang menjadi tujuan dari Good Corporate Governance.23

Dari beberapa penjelasan diatas dapat penulis pahami bahwa kecerdasan spiritual (SQ) sangat urgen sekali dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu harus dibangun melalui kesadran diri, kita sebagai hamba Allah SWT yang tugasnya hanya untuk beribadah kepada-Nya, beriman dan bertaqwa, penuh optimis, disiplin, memiliki jiwa sosial yang baik, perduli dengan sesama, dan sadar bahwa setiap sesuatu hal yang kita kerjakan pasti Allah SWT mengetahuinya dan semua akan ada balasan dari Allah SWT sesuai dengan apa yang kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari.

D. Fungsi Kecerdasan spiritual

Sesuai dengan tujuan awal proses penciptaan manusia sebagai wakil Allah SWT dimuka bumi, manusia memiliki energi spiritual yang sangat luar biasa. Kecerdasan spiritual (SQ) terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danah Zohar dalam bukunya “Spiritual Capita” dan berbagai tulisan seperti “The Binding Problem” karya Wolf Singer. Dalam beberapa bagian bukunya Zohar dan Marsshall mencoba menyoroti hubungan antara agama dan SQ. Karena pada umumnya orang beranggapan bahwa SQ selalu berhubungan dengan agama. Padahal menurut kedua pengarang tersebut SQ berbeda dengan agama. Kalau agama merupakan aturan-aturan dari luar sedang SQ adalah kemampuan internal. Sesuatu yang menyentuh dan membimbing manusia dari dalam.

SQ mampu menghubungkan manusia dengan ruh esensi dibelakang semua agama.

Orang yang SQ-nya tinggi tidak picik dan fanatik atau penuh prasangka dalam beragama.24

Pengertian spiritualitas yang dikemukakan oleh Zohar dam Marshall di atas tidak selalu mengkaitkan dengan masalah kebutuhan. Bagi mereka, kecerdasan spiritual lebih banyak terkait dengan masalah makna hidup, nilai-nilai dan kebutuhan diri. Kesemuanya tidak perlu terkait dengan masalah ketuhanan. Orang dapat menemukan makna hidup dari

23 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual ESQ, Agra, Cet.

Ke-1, Jakarta, 2001, hlm. 51

24 Http:// Vitto Sandro. Blogspot. Com/Teori-EQ-n-SQ-html, 17/06/2021

(10)

bekerja, belajar, berkarya bahkan ketika menghadapai problematika dan penderitaan.

Disini tampak Bahwa Zohar dan Marshall menempatkan agama hanya sebagai salah satu cara mendapatkan SQ tinggi. Kecerdasan spiritual melibatkan kemempuan menghidupkan kebenaran yang paling dalam, itu berarti mewujudkan hal yang terbaik, utuh dan paling manusiawi dalam bathin, gagasan, energi, nilai, visi, dorongan dan arah panggilan hidup, mengalir dari dalam, dari suatu keadaan kesadaran yang hidup bersama cinta.25

Dengan demikian orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialami. Dengan memberi makna yang positif, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif dalam interaksi sosial. Manusia yang memiliki SQ tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup dari pada orang yang ber-SQ rendah. Banyak kejadian-kejadian bunuh diri karena masalah yang sepele, mereka yang demikian itu tidak bisa memberi makna yang positif dari setiap kejadian yang mereka alami dengan kata lain SQ atau Kecerdasan Spiritual mereka sangat rendah.

Sesuai dengan tujuan awal proses penciptaan manusia sebagai khalifah Allah SWT dimuka bumi, manusia memiliki energy spiritual yang sangat luar biasa dan bersifat mulia, dimana energy tersebut menghasilkan nilai-nilai yang bersifat universal, yang harus direalisasikan di muka bumi. Setelah ruh ditiupkan kedalam jiwa manusia, maka langkah berikutnya adalah ZMP (zero mind process), atau pembersihan belenggu yang menutupi God Spot. Maka pada langkah inilah dimulai suatu pembangunan prinsip yang dinamakan God sentries atau kegiatan yang terpusat atau mengorbit hanya kepada Allah.

Caranya, dengan menanamkan Doktrin Tauhid ke dalam batin.26

ZMP adalah suatu upaya untuk mengenali dan menghapus apa yang menutupi potensi dalam God spot, sehingga spiritual power muncul. Itulah yang disebut ESQ Power atau fitrah. Jadi, fitrah itu bukanlah sekeedar orang yang sudah merasa tidak berbuat dosa lagi, tetapi sesungguhnya adalah ketika kekuatan spiritual murni manusia yang muncul kembali, menghalau bayang-bayang persepsi dan paradigma yang begitu melekat membungkusnya, dimana manusia telah benar-benar menjadi wakil dari sifat-

25 Http:// www. Masbow.com/ Kecerdasan Spiritual. Html, 17/06/2021

26 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual ESQ, Agra, Cet.

Ke-1, Jakarta, 2001, hlm. 202

(11)

sifat Allah. Konsep ini disebut dengan B 2 P, (dibaca Back to principle) atau kembali pada fitrah manusia, yang akan menjadi dasar dari Role based Competency atau “peran yang berdasarkan pada nilai kompetensi”.27

Seperti firman Allah SWT dalam Surat At Tiin ayat 4 :















Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS. At Tiin : 4)28

Out put yang kemudian dihasilkan adalah nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedamaian, kreativitas, kepercayaan, kasih sayang, kesucian hati, sifat pemelihara, pemaaf, sifat member, berilmu, empati, bijak, penyantun, sikap yang selalu bersyukur, kompeten, kebersamaan dan kesabaran, yang kesemuanya menjadi satu kesatuan karakter agung pada setiap pribadi. Inilah yang dinamakan rahmatan lil alamin, dimana manusia memiliki amanat sebagai khalifah bumi, sebagai pembawa

“kesejahteraan” di bumi. Ia memiliki predikat sebagai abdi allah, yaitu abdi/hamba yang senantiasa memulyakan sifat-sifat Allah nan Agung.29

Perlu diketahui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) didalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan.

Aplikasi keputusan dengan IQ, EQ dan SQ ini hanyalah satu dari sekian tak terhitung cara hidup, dan seperti kata Bruce Lee, strategi yang paling baik adalah strategi yang kita temukan sendiri didalam diri kita. “kalau kamu berkelahi hanya berpaku pada penggunaan strategi yang diajarkan buku di kelas, namanya bukan berkelahi (tetapi belajar berkelahi)30

27 Ibid, hlm. 139

28 Departemen Agama RI, Al Qur’an da Terjemahnya, Diponegoro, 2006, hlm 478

29 Ary Ginanjar Agustian, Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi &

Spiritual ESQ, Agra, Cet. Ke-1, Jakarta, 2001, hlm. 202

30 Http:// www. Masbow.com/ Kecerdasan Spiritual. Html, 17/06/2021

(12)

Kecerdasan klasik yang masih permanen sampai hari ini adalah pemisahan antara SQ, IQ, dan EQ, padahal ketiganya saling mempengaruhi. Dari literatur yang penulis baca salah satu diantaranya adalah ESQ karangan Ary Ginanjar dalam tulisannya menggabarkan bahwa hubungan IQ, EQ, dan SQ bagaikan segi tiga sama sisi, dimana ketiga sudutnya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Kecerdasan spiritual (SQ) memberi kita kemampuan membedakan, kecerdasan spiritual memberi kita moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku, dibarengi dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. Kita menggunakan kecerdasan spiritual untuk bergulat dengan ihwal baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri kita dari kerendahan.

“Moral yang tinggi hanya dimiliki oleh orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Artinya, mata nafsunya berhasil dilatih dan tidak lagi melihat kenikmatan tetapi melihat derita orang lain.”31

“Kesehatan mental dan moralitas merupakan interaksi dinamis, artinya moralitas berdampak terhadap kesehatan mental begitupun sebaliknya kesehatan mental berdampak terhadap jatuhnya/hilangnya moralitas.”32

Dari beberapa penjelasan diatas dapat penulis jelaskan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) yang merupakan kecerdasan yang berasal dari dalam hati dapat memberikan pengaruh terhadap diri kita diantaranya menjadikan mental dan moralitas yang baik, lebih kreatif ketika kita dihadapkan dengan masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung didalamnya, serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian hati. Kecerdasan spiritual membuat individu mampu memaknai setiap kegiatannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhan yang sangat dicintainya.Dengan demikian manusia memiliki kesadaran

31 Wieriyanto Prasojo, Kesehatan Mental Kajian Sudut Pandang Agama dan sosial Kemasyarakatan, Tsaqafah, Jakarta, 2005, hlm. 46

32 Ibid, hlm. 230

(13)

sepenuhnya berhubungan dengan Tuhan dalam merealisasikan nilai-nilai agama pada seluruh aspek kehidupan untuk mencapai nilai ibadah dan keridhoan-Nya.

Dengan demikian dapat dimaknai bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual adalah kemampuan yang sempurna yang berasal dari perkembangan akal budi manusia untuk memikirkan hal-hal diluar alam materi yang bersifat ketuhanan yang memancarkan energi batin untuk memotivasi lahirnya ibadah dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

sedangkan pengertian pendidikan islam yaitu “sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya; beriman dan bertaqwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi, yang berdasarkan kepada ajaran Al Qur’an dan Sunnah, maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan-insan kamil setelah proses pendidikan berakhir.33

Tujuan keduanya adalah untuk mencetak sosok muslim yang tangguh, cerdas secara spiritual serta berkepribadian yang ideal atau sempurna (insan Kamil) yang mengamalkan nilai-nilai ajaran islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan yang terpancar dari aqidah dan moralnya serta untuk mencapai tujuan dari segala tujuan yakni keridhoan Allah SWT.

Dengan demikian berarti orang yang cerdas secara spiritual adalah orang yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Ilahiah yang terlihat dalam beberapa cirri-ciri yang dimiliki oleh orang tersebut. Dan penulis dapat memahami diantara ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah :

1. Memiliki tujuan hidup atau visi yang jelas 2. Memiliki prinsip hidup

3. Selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari 4. Cenderung kepada kebaikan

5. Berjiwa besar

6. Memiliki empati (perasaan)

Krisis moral yang hampir merambah diseluruh lingkungan kehidupan kita, sebenarnya berasal dan bermuara dari pada “krisis spiritual” yang melekat pada diri

33 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, hlm. 16

(14)

manusia. Terjadinya krisis spiritual bisa disimpulkan akibat dari kehendak manusia untuk memutuskan begitu saja hubungannya dengan Tuhan. Dan bahkan dengan sengaja melakukan pemberontakan dan pembangkangan terhadap Tuhan. Tragisnya lagi manusia tidak mau belajar dari sejarah masa silam, sejarah dimana Adam dan Hawa tercampakan dari surge sebagai akibat dari pelanggaran diri terhadap larangan Tuhan, yaitu untuk tidak memakan buah khuldi. Karena tidak mau mempelajari dari sejarah masa silam, manusia sering kali jatuh, menjatuhkan dan bahkan menjerumuskan diri ke lubang dosa dan nista (hina, rendah). Dan itulah awal dari keterperangkapan ke jurang neraka.

Banyak orang yang merasa sudah mencapai cita-cita atau mencapai puncak kesuksesan baik karier maupun materi, tetapi merasakan sesuatu yang hampa dan kosong.

Umumnya mereka baru menyadari bahwa mereka telah menaiki tangga yang salah, justru setelah mencapai puncak tertinggi anak tangga kariernya. Ternyata pada akhirnya uang, harta, kehormatan dan kedudukan bukanlah sesuatu yang mereka cari selama ini.

Disinilah barangkali letak kesenjangan pendidikan dalam kaitannya dengan pendidikan umum dan agama. Karena itulah seseorang harus menyadari dan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohaninya (spiritual).

Karena betapa pentingnya membangun kecerdasan spiritual, yang ditinjau dari segi sosiologisnya penulis mengajak kepada penulis khususnya dan pembaca pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan fitrahnya sebagai manusia, tidak hanya dari segi IQ dan EQ nya saja, tetapi SQ yang lebih diutamakan ditanamkan melalui pendidikan islam yaitu dalam hal aqidah dan moralnya.

Pendidikan Islam, yaitu dalam hal Aqidah dan moral selain mengembangkan kecerdasan intelektual, juga memperhatikan perkembangan kecerdasan emosi terutama kecerdasan spiritual yang akan mengarahkan agar kreativitas yang akan dimiliki manusia adalah kreativitas yang didasari oleh imajinasi ilahiah. Oleh karena itu, pendidikan Islam dalam hal aqidah dan moral dapat membangun kecerdasan spiritual dan meningkatkan kualitas individu-individu muslim untuk menjadi pribadi yang bersyakhsiyah Islam.

Karena dengan membina aqidah dan moral seseorang dalam interaksi sosial maka akan terbangun seluruh aspek kecerdasan yaitu selain kecerdaasan spiritual juga akan membentuk kecerdasan intelektual dan emosionalnya sehingga dapat menjadikan kehidupan sebagai sarana beribadah kepada Allah SWT.

(15)

Kondisi spiritual seseorang berpengaruh terhadap kemudahan dia dalam menjalani kehidupannya yaitu berfungsi untuk :

a. Mendidik hati menjadi benar b. Mengantarkan kepada kesuksesan

c. Membuat manusia memiliki hubungan yang kuat dengan allah SWT

d. Mengarahkan hidup manusia untuk selalu berhubungan dengan kebermaknaan hidup agar hidup manusia menjadi lebih bermakna.

e. Dalam pengambilan keputusan cenderung akan melahirkan keputusan yang terbaik f. Landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara secara efektif.

Jadi, kecerdasan spiritual sangat penting dalam kehidupan manusia dikarenakan sebagai berikut :

1). Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang paling tinggi, bahkan kecerdasan inilah yang dipandang berperan memfungsikan dari kecerdasan IQ dan EQ.

2). Kecerdasan spiritual memberikan kemampuan kepada manusia untuk membedakan yang baik dengan yang buruk, member manusia rasa moral dan memberi manusia kemampuan untuk mengetahui pusat orbit dan mengerti secara jelas meengapa ia mengorbit dan bergerak pada garis edarnya yaitu aturan-aturan yang berasal dari Sang pencipta.

3). Kecerdasan spiritual akan terrefleksi dalam kepribadian seseorang dalam kehidupan sehari-hari

4). Kecerdasan spiritual menjadi penuntut refleksi dan sekaligus praktis dalam kehidupan manusia sehari-hari. Hal ini menjadi panggilan intrinsic dalam etika sosial, karena sepenuhnya manusia sadar bahwa ada makna simbolik kehadiran Tuhan dalam keseharian hidup manusia, yang selalu melihat dan mengawasi segala gerak gerik manusia, kapan dan dimanapun manusia berada. Sebagai kaum beragama kita semakin yakin bahwa moral dan etika sosial merupakan inti agama.

5). Kecerdasan spiritual dapat mewujudkan ketenangan yang luar biasa. Sebagaimana firman Allah SWT :











 













(16)

Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra’ad : 28)34

Misalnya dalam mendirikan shalat. Dengan shalat seseorang bisa lebih dekat dan selalu mengingat allah SWT. Firman Allah :

























Artinya : Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS. Thaha : 14)35

Selain aktivtas ibadah mahdhoh, misalkan dalam menjalankan muamalah seperti jual beli yang jujur dan berakhlakul karimah kepada sesame manusia apabila dijalankan dengan menyertakan Ruh didalamnya juga akan menumbulkan ketenangan dan kebahagiaan yang sangat bermakna. Inilah yang disebut sebagai kecerdasan Ruh, dimana manusia senantiasa menyertakan seluruh aktivitas kehidupannya dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya dengan kesadaran hubungannya dengan Allah SWT yaitu menyandarkan diri pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Maka derajat manusia disisi Allah SWT adalah tergantung bagaimana ia memenuhi tuntutan fitrahnya. Apakah memenuhi sesuai dengan aturan Allah SWT atau sesuai dengan aturan manusia yang berdaasarkan hawa nafsu dan akal manusia yang terbatas.

Maka apabila Ruh diarahkan kepada Dzat Sang Maha Pencipta, ia akan meluncur secepat kilat. Ia akan merasa senag, tenang dan bahagia yang hakiki. Karena itulah inti dari perjalanan spiritual manusia.

Begitu pentingnya kecerdasan spiritual bagi manusia, oleh karena itu alangkah baiknya jika kecerdasan spiritual diajarkan sejak dini pada anak, yaitu diantaranya :

a. Mengajarkan Al Qur’an pada anak dan memberinya penjelasan tentang maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam mengajarkan Al Qur’an para orang tua, juru dakwah dan para pendidik hendaknya mendasarkan pengajarannya pada Al Qur’an dan Hadits yang berisi

34 Departemen Agama RI, Al Qur’an da Terjemahnya, Diponegoro, 2006, hlm 201

35 Ibid, h. 250

(17)

petunjuk-petunjuk penting Rasulullah SAW sebab yang akan diajarkan adalah firman Allah yang merupakan undang-undang dan pedoman hidup umat manusia. Kitab yang tidak sedikit pun menyimpan kebathilan dan mendapat jaminan keutuhannya langsung dari dzat yang menurunkannya (allah SWT).

Dengan mengajarkan Al Qur’an sejak dini kepada anak, berarti kita telah memulai pendidikan yang benar dan sesungguhnya. Sebab dengan seperti itu berarti kita telah mengajarkan hal-hal yang telah diwajibkan oleh Allah SWT, seperti ibadah serta kewajiban-kewajiban lainnya. Disamping itu, berarti kita telah memulai mengikat mereka dengan kitab Allah serta mendidik mereka untuk mengagungkan Al Qur’an untuk kemudian melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan yang tertuang di dalamnya.

b. Ceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul serta kisah teladan lainnya.

Anak-anak bahkan orang dewasa sangat terpengaruh dengan cerita, karena kita tentu tidak akan pernah mampu memperoleh kepercayaan dan kaitan dari mereka kecuali jika kita telah mampu memberikan kepada mereka contoh teladan yang tinggi dan nilai-nilai yang sudah barang tentu jauh dari berbagai kesalahan dan kekhilafan.

Sebaliknya ia merupakan sosok yang sempurna dan terpelihara dari kesalahan dan kekhilafan tersebut. Sosok tersebut adalah Rasulullah SAW, sebagai panutan dan teladan terbaik umat islam. Kita mengambil contoh dari petunjuk dan akhlak yang dibawa oleh beliau yang mulia. Firman allah SWT :





































Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Ahzab : 21)36

Kisah teladan yang ada pada diri Rasulullah SAW tersebut bias kita ajarkan dan contohkan pada anak-anak kita, yang dibawanya dalam sikap dan kehidupan sehari-

36 Ibid, h. 336

(18)

hari. Kemudian apabila anak tertarik akan cerita itu, maka ceritakanlah berulang-ulang kepadanya sehingga dia menjadikan Rasulullah SAW sebagai tokoh idolanya.

c. Libatkan anak dalam kegiatan ritual keagamaan

Kegiatan agama adalah cara praktis untuk “tune in” dengan sumber dari segala kekuatan. Ambilah bola lampu listrik di rumah anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekuatan cahanya, voltasenya dan sebagainya. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan cahaya. Shalat dalam bentuk apapun mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritual yang kita lakukan. Shalat bukan sekedar kewajiban tetapi shalatt adalah kehormatan untuk menghadap allah SWT yang maha Pengasih dan Penyayang.

d. Ikut sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial

Keterampilan SQ seperti ini tidak cukup hanya dibicarakan. Jika anak usia pra sekolah mengalami sendiri bagaimana penderitaan yang dirasakan oleh orang lain, maka langkah inilah yang terbaik. Apabila orang tua bertekad untuk membantu orang lain, mereka hendaknya mengikut sertakan anak-anak meereka karena pengalaman ini tidak hanya akan mengajari mereka lebih peduli pada orang lain, tetapi juga mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial yakni pentingnya kerja sama, kesetiaan dan ketekunan.

Kegiatan-kegiatan sosial, seperti ikut serta dalam kerja bakti dilingkungan sekitar rumah, menghimpun bantuan untuk korban bencana alam, membantu anak-anak yang masih kecil dan lain sebagainya yang mungkin terkesan sederhana tetapi setelah di dalami dan menurut orang lain bahwa betapa perbuatan yang sangat sederhana itu mampu membuat orang lain bahagia. Apabila melakukan perbuatan baik ini sudah menjadi kebiasaan, pada akhirnya seorang anak akan ketagihan melakukan perbuatan- perbuatan baik tersebut dan mereka akan mencari jalan sendiri untuk melakukan lebih banyak lagi perbuatan-perbuatan baik.

Oleh karena itu, membangun kecerdasan spiritual sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini yaitu sejak masa kanak-kanak bahkan ketika masih berada dalam kandungan. Karena pada saat itu jiwa mereka masih dalam keadaan jernih sehingga apa

(19)

yang kita tanam pada saat itu akan tumbuh dengan subur dan nantinya akan tumbuh menjadi sosok muslim yang beriman, bertaqwa, cerdas, disiplin, bartanggung jawab, tanggunh dan berkepribadian baik dalam interaksi sosial serta muslim yang berprinsip kuat yang tidak mudah terpengaruh atau terombang-ambing mengikuti arah angin tanpa tujuan. Sehingga nantinya akan memperoleh ketenangan hidup, sukses, selamat dunia dan akhirat.

Jika dilihat dari uraian diatas, sangatlah jelas bahwasannya pendidikan islam yang sangat berperan penting dan sangat urgen dalam membangun kecerdasan spiritual (SQ) seorang muslim. Karena kecerdasan spiritual (SQ) adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) secara efektif.

Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan kecerdasan tertinggi kita,37 yang akan memberikan kemampuan kepada seorang muslim untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, akan terrefleksi dalam kepribadian seorang muslim, menjadi penuntun refleksi dan sekaligus praktis pada etika sosial dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat mewujudkan ketenangan yang luar biasa karena inilah inti dari perjalanan manusia yang sesuai dengan fitrah.

Peran pendidikan Islam merupakan hal yang paling efektif dalam pembentukan kepribadian seorang muslim yang sempurna, karena tujuan utama pendidikan Islam adalah menjadikan seseorang yang sempurna yaitu menjadi seorang muslim yang beriman, bertaqwa dan memiliki kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) secara sempurna. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang paling tinggi yang berperan memfungsikan kecerdasan intelektual IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) yang akan terrefleksi pada diri seorang muslim dalam kehidupan sehari- hari.

37 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ 1 Ihsan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun islam, Arga Publishing, Cet-40, Jakarta, 2007, hlm. 13

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti mempunyai gagasan untuk mengadakan penelitian tentang adakah korelasi kecerdasan spiritual dengan motivasi belajar siswa pada

22 terinspirasi, theis-ness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian.14 Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang paling tinggi baik secara langsung