• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN TINDAKAN MADRASAH (PTM)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENELITIAN TINDAKAN MADRASAH (PTM)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN TINDAKAN MADRASAH (PTM)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENENTUKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM) MELALUI METODE KERJA KELOMPOK BAGI GURU

MTs.S LEWAK KABUPATEN SIMEULUE

Penelitian Tindakan Madrasah

Oleh :

Icen Mili Utami.S.Pd.I NIP.-

Kepala Madrasah Tsanawiyah Swasta Lewak

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN SIMEULUE MADRASAH TsANAWIYAH SWASTA LEWAK

SIMEULUE 2019

(2)

i

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Madrasah dengan judul ” Meningkatkan Kemampuan Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Guru MTsS Lewak Kabupaten Simeulue” ini, beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko dan sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran atas etika keilmuan dalam karya saya ini, atau adanya kritikan terhadap keaslian karya saya ini.

Simeulue, 20 November 2019 Yang membuat pernyataan

Icen Mili Utami,S.Pd.I.

(3)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Penelitian Tindakan Madrasah ini disusun untuk

Salah Satu Syarat Kenaikan Pangkat Melalui Angka Kredit dari Golongan - Tahun 2019

Judul Penelitian Tindakan Madrasah : Meningkatkan Kemampuan Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Guru MTsS Lewak Kabupaten Simeulue

Nama Peneliti : Icen Mili Utami,S.Pd.I

NIP : -

Jabatan : Kepala MTsS Lewak Kab. Simeulue

Disahkan Oleh:

Kasi Pendidikan Madrasah Kabupaten Simeulue Tanggal 18 November 2019

(4)

iii

LEMBAR TANDA TERIMA PERPUSTAKAAN MADRASAH

Laporan Penelitian Tindakan Madrasah ini telah diterima menjadi salah satu koleksi perpustakaan MTsS Lewak Kab. Simeulue

Tahun 2019

Judul Penelitian Tindakan Madrasah : Meningkatkan Kemampuan Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Guru MTsS Lewak Kabupaten Simeulue

Nama Peneliti : Icen Mili Utami,S.Pd.I

NIP : -

Jabatan : Kepala MTsS Lewak Kab. Simeulue

Peneliti Kepala Perpustakaan MTsS Lewak

Kabupaten Simeulue

Icen Mili Utami,S.Pd.I, Fajri Amin,S.Pd

NIP. NIP. -

Mengetahui

Kepala MTsS Lewak, Kab. Simeulue Tanggal 25 November 2019

Icen Mili Utami,S.Pd.I, NIP. -

(5)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan Pencipta dan Pemelihara sekalian alam, dengan rahmat dan hidayah-Nya penulisan laporan penelitian ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kemudian, Salawat dan Salam atas junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw, yang dalam hadistnya, beliau telah menyampaikan mengenai wajibnya menuntut ilmu bagi kaum muslimin dan muslimat, sehingga memberikan semangat yang takkan pernah surut bagi penulis untuk menuntut ilmu, termasuklah untuk menyelesaikan Penelitian ini.

Penelitian Tindakan Madrasah yang berjudul ” Meningkatkan Kemampuan Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Guru MTsS Lewak Kabupaten Simeulue”, dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pelaksanaan tugas-tugas administrasi.

Sistematika penulisan laporan Penelitian Tindakan Madrasah ini, dibuat dalam lima bab dengan urutan penulisannnya sebagai berikut: Bab I sebagai bab pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi istilah. Bab II yaitu Kajian Teoretis dan Hipotesis Tindakan. Pada Bab III berisi Metode penelitian meliputi lokasi dan waktu penelitian, lamanya tindakan subjek dan objek penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan prosedur penelitian.

Dalam Bab IV berisi hasil penelitian dan pembahasan siklus I dan siklus II.

Selanjutnya Bab V merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti mengucapkan terima kasih disampaikan kepada :

1. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue 2. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kabupaten Simeulue

3. Bapak Pengawas tingakat Madrasah Tsanawiyah Kabupaten Simeulue 4. Seluruh dewan guru MTsS Lewak Kabupaten Simeulue

Yang telah banyak memberikan kontribusi kepada penulis dalam penyelesaian penelitian ini.

(6)

v

Selanjutnya penulis menyadari dalam penulisan laporan PTM ini masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritikan dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga dapat bermanfaat bagi seluruh guru dan bagi seluruh pembaca.

Simeulue, 20 November 2019 Penulis,

Icen Mili Utami,S.Pd.I

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa kurikulum pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Penetapan kriteria minimal ketuntasan belajar merupakan tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagai bagian dari langkah pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Penerapan kurikulum 2013 yang menggunakan acuan kriteria dalam penilaian, mengharuskan pendidik dan satuan pendidikan menetapkan kriteria minimal yang menjadi tolak ukur pencapaian kompetensi. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di satuan pendidikan.

Kenyataannya guru Semua Bidang Studi pada MTsS Lewak Kabupaten Simeulue yang berjumlah 12 orang terdiri dari 2 orang guru Baha Indonesia, 1 orang guru Matematika, 2 orang guru IPA, 3 orang guru Agama.2 orang guru IPS, 1 orang guru Bahasa Ingris dan 1 orang guru PJOK. Dari 12 orang guru bidang studi terdapat 8 orang (75%) yang belum mampu menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan benar sesuai dengan pedoman penetapan KKM Kurikulum 2013. Kondisi ini mengakibatkan ketidak teraturannya penetapan KKM tanpa pencarian yang benar. Seolah-olah penetapannya terkesan asal-asalan.

Realita yang terjadi tidak bisa dibiarkan, maka perlu perbaikan dengan tindakan yang lebih tepat. Salah satu yang dapat dilakukan adalah membimbing guru bidang studi yang belum memahami dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) melalui metode kerja kelompok yang sudah dapat memahami dengan baik dan benar. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu tindak lanjut hasil supervisi bagi guru bidang studi MTsS Lewak Kab. Simeulue.

Setelah kegiatan bimbingan menghitung KKM melalui metode kerja kelompok dilakukan, diharapkan dari 12 orang guru bidang studi yang 8 orang

(8)

2

2 (75%) tidak mampu dapat dibimbing oleh teman sejawatnya yang 4 orang telah memahami dengan baik dan benar. Sehingga diharapkan nantinya 12 orang (100%) guru bidang studi secara keseluruhan dapat menentukan Kriteria Keuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran..

Atas dasar latar belakang ini maka peneliti tertarik melaksanakan sebuah penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Guru MTsS Lewak Kabupaten Simeulue”.

B. Identifikasi Masalah

Dalam hal kemampuan menentukan KKM, terdapat 75 % guru bidang studi MTsS Lewak Kab. Simeulue tidak memahami langkah-langkah yang harus dilakukan, sehingga perlu dilakukan tindakan dengan metode kerja kelompok.

Apabila hal ini tidak dilaksanakan maka penilaian hasil belajar tidak memiliki pedoman ketuntasan.

C. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

“apakah dengan metode kerja kelompok akan meningkatkan kemampuan guru MTsS Lewak Kab. Simeulue dalam menentukan KKM ?

D. Tujuan Tindakan

Tujuan dari penelitian tindakan madrasah ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru MTsS Lewak Kab. Simeulue dalam menentukan KKM.

E. Manfaat Tindakan

Penelitian ini akan bermanfaat bagi seluruh guru bidang studi untuk melengkapi salah satu item dokumen penilaian yaitu KKM untuk semua mata pelajaran. Selain itu juga akan menjadi pedoman guru dalam melaksanakan penilaian hasil belajar dan menentukan ketuntasan belajar siswa.

(9)

3 BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kemampuan Guru

Kemampuan berasal dari kata “mampu” yang berarti kuasa, sanggup melakukan, atau dapat.1 Kartini Kartono dan Dali Dula dalam kamus psikologi menjelaskan tentang pengertian kemampuan yaitu istilah umum yang dikaitkan dengan kemampuan atau potensi menguasai suatu keahlian ataupun pemikiran itu sendiri.2

Kemampuan menurut Kunandar adalah suatu yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.3 Menurut Broker dan Stone dalam Cece Wijaya memberikan pengertian kemampuan guru adalah sebagai gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti.4

Berdasarkan definisi tersebut dapat penulis ambil kesimpulan bahwa kemampuan guru adalah potensi atau kesanggupan yang dikuasai guru untuk melakukan suatu aktifitas atau kegiatan.

B. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Pengertian KKM dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 20 tahun 2007 tertanggal 11 juni 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan adalah singkatan dari Kriteria Ketuntasan Minimal. KKM adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir satuan pendidikan merupakan ambang batas kompetensi.5 KKM

1 Hoetomo, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: PT. Mitra Pelajar, 2005, hal. 332

2 Kartini Kartono dan Dali Dula, Kamus Psikologi Pendidikan, Bandung: CV.

Pionerjaya, 1987, hal. 1

3 Kunandar,Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, akarta: Grafindo Persada, 2008, hal. 52

4 Cece Wijaya, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991, hal. 7-8

5 BSNP, Badan Standar Nasional Pendidikakan, Jakarta, 2008, hal. 96

(10)

4 menjadi standard penentuan kualitas sekolah sekaligus siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan guru kepadanya. KKM yang tinggi akan menunjukkan kualitas sekolah, sedang KKM yang rendah akan menunjukkan rendahnya kualitas peserta didik dan pendidiknya.

KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalammenyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama.

Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap.

Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi.

Tingkat kompleksitas, merupakan kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-masing sekolah berarti bahwa daya dukung untuk Indikator ini tinggi apabila sekolah mempunyai sarana prasarana yang cukup. Tetapi daya dukungnya rendah apabila sekolah tidak mempunyai sarana yang cukup untuk proses pembelajarannya. Sedangkan Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah yang bersangkutan didasarkan pada hasil seleksi pada saat penerimaan peserta didik baru, Nilai Ujian Nasional/Sekolah.

Jadi dapat disimpulkan yang dimaksud dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah nilai minimal yang harus dicapai oleh siswa dapat mata pelajaran tertentu yang dihitung dalam setiap indikator dengan memperhatikan

(11)

5 kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi. Prestasi siswa dikatakan baik apabila siswa dapat mencapai nilai sama dengan KKM atau melebihi nilai KKM. Apabila siswa tidak memiliki nilai minimal sama dengan KKM maka siswa dikatakan tidak tuntas.

C. Metode Kerja Kelompok dalam kegiatan Tindak Lanut Supervisi

Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitikberatpan kepada aianteraksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelopk guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama- sama.

Beberapa keuntungan kerja kelompok ialah:

1. Dapat memberikan kesempatan para guru untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.

2. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah.

3. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampailan berdiskusi.

4. Lebih leluasa dalam memberikan perhatian kepada guru sesuai dengan kebutuhannya.

5. Para guru lebih aktif bergabung dalam kelompok kerja, sehingga partisipasi mereka dalam kegiatan semakin tinggi.

6. Memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati, saling membantu dalam usahanya mencapai tujuan bersama.

Sedangkan kelemahannya metode kerja kelompok ialah:

1. Kerja kelompok sering-sering hanya melibatkan guru yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang.

2. Metode ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda bagi peserta.

(12)

6 3. Keberhasilan metode kerja kelompok ini tergantung kepada kemampuan

guru yang memimpin kelompok.

Dalam menerapkan metode kerja kelompok kepala madrasah dituntut untuk memiliki keterampilan dalam mengelompokkan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh guru. Kelompok dapat dibuat berdasarkan:

1. Adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya 2. Pengelompokan berdasarkan kemampuan belajar.

3. Pengelompokkan berdasarkan motivasi individu setiap guru untuk menyelesaikan tugasnya menentukan KKM

Kepala madrasah harus mampu dapat memberikan tugas yang sesuai dengan kemamuan dan kebutuhan guru. Namun sebelumnya, kepala madrasah sebaiknya memberikan bimbingan dan arahan yang menjadi petunjuk kerja bagi guru.

Prosedur pemakaian metode kerja kelompok sebagai berikut:

1. Pemilihan topik atau tugas kerja kelompok 2. Pembentukan kelompok sesuai tujuan

3. Pembagian topik atau tugas yang harus dikerjakan oleh kelompok 4. Proses kerja kelompok

5. Pelaporan hasil kerja kelompok 6. Penilaian pemakaian kerja kelompok6

Ada 6 langkah agar kerja kelompok dapat berhasil yaitu:

1. Menjelaskan tugas kepada guru

2. Menjelaskan apa tujuan kerja kelompok

3. Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kerja kelompok tersebu

4. Kepala madrasah berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung, bila perlu memberi saran/pertanyaan

5. Kepala madrasah membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

6 Moejiono, Strategi bbelajar Mengajar, ( Jakarta: Depdikbud, 1992), hal. 66

(13)

7 Petunjuk pelakanaan bekerja dalam kelompok untuk mencapai hasil yang baik yaitu:

1. Perlu adanya motif (dorongan) yang kuat untuk bekerja pada setiap anggota

2. Pemecahan masalah dapat dipandang, sebagai satu unit dipecahkan bersama-sama atau masalah dibagi-bagi untuk dikerjakan masing- masing secara individual, hal ini bergantung kepada kompleks tidaknya masalah yang akan dipecahkan.

3. Persaingan yang sehat antar kelompok bisanya mendorong anak untuk belajar.

4. Situasi yang menyenangkan antara anggota banyak menentukan berhasil tidaknya kerja kelompok.

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori di atas maka hipotesis tindakan adalah metode kerja kelompok akan meningkatkan kemampuan guru MTsS Lewak Kab.

Simeulue dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

(14)

7 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Madrasah. Dalam konteks penelitian tindakan ini peneliti bertindak sebagai pelaku utama sekaligus observer, sebab peneliti terlibat langsung dalam pelaksanaan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kemampuan menentukan KKM bagi guru MTsS Lewak Kab.

Simeulue.

Desain penelitian ini merupakan modifikasi dari model Hopkins. Secara lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

B. Tempat dan lamanya Tindakan

Penelitian tindakan ini dilakukan di MTsS Lewak Kab. Simeulue pada semester ganjil 2019/2020. Penelitian di mulai pada pekan kedua bulan Oktober sampai pekan pertama bulan Nopember 2019, yang dilaksanakan dalam 2 siklus

PERENCANAAN TINDAKAN KETIGA REFLEKSI

PELAKSANAAN TINDAKAN/OBSERVASI

PERENCANAAN TINDAKAN KEDUA

REFLEKSI KEDUA PERENCANAAN TINDAKAN

PELAKSANAAN TINDAKAN/OBSERVASI KEDUA

(15)

8

atau 4 kali kegiatan. Tiap siklus terdiri dari 2 kali kegiatan yang dilaksanakan setiap hari senin dan kamis. Setiap siklus terdiri atas 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Adapun laporan penelitian diselesaikan pada akhir bulan Nopember 2019.

C. Objek Tindakan

Objek tindakan dalam penelitian ini adalah semua guru Kontrak dan Honorer MTsS Lewak Kab. Simeulue yang 12 orang terdiri dari 2 orang guru Baha Indonesia, 1 orang guru Matematika, 2 orang guru IPA, 3 orang guru Agama.2 orang guru IPS, 1 orang guru Bahasa Ingris dan 1 orang guru PJOK.

D. Teknik dan Alat pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, tes dan kolaburasi dengan teman sejawat. Observasi dilakukan oleh kepala Madrasah dan teman sejawat menggunakan lembar observasi untuk mengamati kegiatan kerja kelompok guru MTsS Lewak Kab. Simeulue dalam kegiatan kerja kelompok. Adapun kolaburasi dilakukan dengan teman sejawat dengan menggunakan lembar catatan hasil wawancara.

Untuk mengetahui kemampuan guru MTsS Lewak Kab. Simeulue dalam menentukan KKM dipergunakan instrumen telaah hasil penghitungan KKM (instrument tes terlampir).

E. Metode Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan rumus distribusi frekuensi yaitu

P = x 100

Keterangan:

P =angka persentase

f = Jumlah guru yang mencapai tuntas

(16)

9

n = Jumlah objek tindakan

F. Indikator tindakan

Indikator kinerja sebagai berikut kemampuan menentukan KKM dikatakan berhasil apabila hasil penilaian telah mencapai rerata skor ≥ 70 dengan pencapaian persentase ketuntasan 85 %.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Krisyanto, Metode Kerja Kelompk,

https://krizi.wordpress.com/2011/09/13/metode-belajar-kerja-kelompok/ (online), diakses tanggal 4 Nopemer 2019.

Oemar Hamalik, Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 202 Moejiono, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Depdikbud, 1992

Nana Sudjana, Dasar-dasar proses elajar mengajar, Bandung: Algesindo, 2004

Roestiyah, Strategi belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1998.

Referensi

Dokumen terkait

Penyebab terjadinya keretakan pada beton terpasang disebabkan oleh (1) retak susut plastis (plastic shrinkage crack), retak susut plastis terjadi pada saat beton masih

Tutkimuksessa tarkasteltiin sitä, miten paljon vähemmän kotimaassa vapaa-ajan asunnon omistavat tekevät muita vapaa-ajan matkoja (poislukien matkat vapaa-ajan asunnolle) ja

Penelitian terdahulu terkait perencanaan obat yang dilakukan oleh Marissa Novi Rumondang Nst di Puskesmas Padang Matinggi Kota Padang Sidempuan pada tahun 2015, didapatkan

Identifier adalah alat untuk memantau, mengukur paparan radiasi dalam besaran Laju Dosis Ekivalen Ambien, dan untuk mengidentifikasi jenis radionuklida dari paparan

Dari hasil pengujian didapatkan bahwa telah berhasil diimplementasikan algoritma vigerene untuk mengenkripsi dan mendeskripsi pesan pada sistem pemantau pengangkutan zat radioaktif

Selanjutnya dipanaskan dengan autoclave selama 45 menit, dan langsung digiling menjadi bentuk pasta Direndam dengan larutan filtrat air abu sekam (FAAS) 20% selama 48 jam.

Judul Penelitian : Analisis Usaha Pemberian Imbangan Hijauan Daun Singkong (Manihot Utilisima) Dengan Konsentrat Terhadap Produksi Susu Ka mbing Peranakan

Kepala Dinas mempunyai tugas membantu Bupati dalam menyelenggarakan urusan bidang koperasi, usaha kecil menengah, perindustrian dan perdagangan serta pengelolaan pasar